Anda di halaman 1dari 27

PRAKTIKUM SATUAN OPERASI 2 Distilasi Kontinyu

Mata Kuliah Praktikum Satuan Operasi 2

Disusun oleh Kelompok 3 :


Deri Permana M. Rasyid Ridha Nurul Afifah Rita Nur Anggraeni Sanny Febriany 12147003 12147007 12147015 12147008 12147020

Dosen Pembimbing : Dr. Shoeya S

D4 TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH-PPL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2013

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Selama ribuan tahun distilasi telah diterapkan, terutama untuk memekatkan minuman beralkohol. Tentu saja metode yang pertama kali dipakai adalah distilasi batch, baru kemudian dikembangkan distilasi secara kontinyu. Jejak sejarah distilasi kontinyu dapat ditelusuri dari penemuan kolom vertikal pertama untuk distilasi kontinyu, yang digunakan dalam penyulingan alkohol dan yang dikembangkan pada 1813 dan dipatenkan oleh seorang Prancis bernama JeanBaptiste Cellier Blumenthal. Pada 1822, Anthony Perrier dari Inggris mengembangkan sebuah versi awal dari bubble cap tray. Media packing berupa bola dari gelas berdiameter cm 2-3 glas telah digunakan oleh Nicolas Clement dari Prancis pada pengolahan alkohol. Alat ini disebut sebagai absorbante Colonne dan cascade Chimique. Pada 1831, Aneas Coffey yang lahir di Perancis dan dididik di Irlandia mengembangkan bisnis distilasi setelah karirnya sebagai inspektur cukai di Skotlandia selesai. Coffey mengembangkan kolom distilasi dengan tray berbentuk saringan, dan pertama kali dikenal sebagai Coffey, sesuai dengan nama penemunya. Alat distilasi ini kemudian digunakan cukup luas dalam penyulingan wiski Skotlandia. Banyak industri menggunakan distilasi untuk pemisahan penting dalam membuat produk yang bermanfaat. Industri-industri tersebut diantaranya adalah penyulingan minyak bumi, minuman, pemurnian bahan kimia, petrokimia, dan pengolahan gas alam. Distilasi etanol untuk konsumsi dan penggunaan lain adalah salah satu industri besar pertama yang pernah dikembangkan. Etanol sering dianggap sebagai bahan bakar, seperti yang telah dilakukan oleh F.B. Wright dan dipublikasikan pertama kali pada tahun 1906. Pengolahan gas alam mulai menggunakan distilasi di awal 1900an. Sebuah dokumen sejarah yang menarik berjudul Kondensasi Gas Alam Menjadi Bensin merupakan dokumen awal dalam industri gas alam dengan proses distilasi. Krisi energi pada tahun 1970 telah memaksa para ahli untuk kembali memusatkan perhatian pada pengguna energi yang efisien dalam industri. Distilasi adalah

konsumen energi utama, oleh karena itu selama krisis energi banyak upaya yang

dilakukan untuk membuat penyulingan lebih efisien. Sebuah contoh yang baik dari pekerjaan ini adalah seperti yang telah diringkas dalam Pedoman Operasi Distilasi dari Komisi Industri Texas.

1.2 Tujuan Pembelajaran a. Tujuan Pembelajaran Umum 1. Mahasiswa mengenal karakteristik distilasi kontinyu 2. Mahasiswa mampu mengoperasikan rangkaian alat distilasi berskala pilot yang dioperasikan secara kontinyu

b. Tujuan Pembelajaran Khusus 1. Mahasiswa mampu mengatur variabel operasi distilasi kontinyu dengan menjalankan alat sesuai prosedur 2. Mahasiswa dapat mencari data tentang sifat distilasi kontinyu 3. Mahasiswa dapat mengalurkan data distilasi kuntinyu dalam diagram McCabe-Thiele 4. Mahasiswa dapat menghitung jumlah pelat teoritis dan menentukan efisiensi operasi distilasi

II. TINJAUAN PUSTAKA


Distilasi kontinyu digunakan secara luas dalam industri kimia proses di mana sejumlah besar cairan harus disuling. Industri tersebut adalah pengolahan gas

bumi, produksi petrokimia , pengolahan tar batubara, produksi minuman keras, pencairan gas alam, produksi pelarut hidrokarbon dan industri sejenis. Aplikasi yang terluas dari distilasi kontinyu terjadi di kilang minyak bumi . Di kilang tersebut bahan baku minyak mentah yang merupakan campuran multikomponen sangat kompleks harus dipisahkan untuk menghasilkan berbagai jenis senyawa kimia. Kelompok senyawa dalam minyak bumi mempunyai titik didih dengan kisaran perbedaan yang relatif kecil dan biasa disebut fraksi. Fraksi adalah asal dari istilah distilasi fraksional atau fraksinasi. Pemisahan minyak bumi menjadi berbagai jenis fraksi disesuaikan dengan kegunaan dan nilai ekonominya. Sering terjadi, pemisahan komponen-komponen dalam setiap fraksi lebih lanjut menjadi tidak berharga berdasarkan persyaratan produk dan ekonomi. Industri penyulingan biasanya dilakukan dalam jumlah besar, dilakukan dalam kolom silinder vertikal yang dikenal sebagai "menara distilasi" atau "kolom distilasi". Diameter kolom ini mulai dari sekitar 65 sentimeter hingga 11 meter, dan tinggi berkisar dari sekitar 6 meter sampai 60 meter atau lebih.

Metode Perancangan Distilasi Kontinyu Metode McCabe-Thiele dipresentasikan oleh dua orang mahasiswa di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Warren L. McCabe dan Ernest W. Thiele in 1925. Teknik ini dianggap sebagai metode yang paling sederhana dan mungkin paling instruktif untuk menganalisa distilasi biner (Perry, 1984). Metode ini menggunakan fakta bahwa komposisi pada setiap pelat teoritis atau tahap kesetimbangan ditentukan sepenuhnya oleh fraksi mol salah satu dari kedua komponen. Jika asumsi tentang constant molar overflow tidak sahih, maka garis operasi tidak akan lurus. Dengan menggunakan data neraca massa dan energi ditambah data

kesetimbangan uap cairandan data entalpi-konsentrasi, maka garis operasi dapat dikonstruksi sesuai dengan metode PonchonSavarit.

Dalam praktikum ini selanjutnya hanya diperdalam Metode McCabe-Thiele. Metode ini didasarkan kepada asumsi tentang constant molar overflow yang mensyaratkan bahwa: 1) 2) 3) Panas penguapan molar dari komponen umpan adalah sama Untuk tiap mol cairan yang diuapkan, satu mol uap dikondensasi Efek panas seperti panas pelarutan, dan perpindahan panas ke dan dari kolom distilasi diabaikan

2.1. Konstruksi dan Penggunaan diagram McCabe-Thiele Sebelum mukai konstruksi dan penggunaan diagram McCabeThiele untuk distilasi dari suatu umpan biner, harus terlebih dahulu disediakan data kesetimbangan uap-cair (vapor-liquid equilibrium, VLE) untuk komponen di umpan dengan titik didih rendah. Komponen ini selanjutnya disebut komponen ringan.

Gambar 2.1. Tipikal diagram McCabeThiele untuk distilasi dengan umpan biner

Langkah Pembuatan Diagram McCabe-Thiele

Langkah ke-1. Gambar sumbu vertikal dan horizontal grafik dengan ukuran yang sama. Sumbu horizontal menunjukkan fraksi mol komponen dengan titik didih lebih rendah dalam fasa cair, yang diberi lambang x. Sumbu vertikal menunjukkan fraksi mol komponen dengan titik didih lebih rendah dalam fasa uap, yang diberi lambang y.

Langkah ke-2. Gambar garis lurus dari titik (0,0) ke titik (1,1) dan garis inidinamakan garis y = x. Selanjutnya gambar garis kesetimbangan mengggunakan data kesetimbangan uapcair untuk komponen di umpan dengan titik didih rendah, mewakili komposisi

kesetimbangan fasa uap untuk setiap harga komposisi fasa cair. Juga gambar garis vertikal ke arah garis y = x untuk umpan dan komposisi distilat teratas yang dikehendaki sebagai produk, serta produk bawah yang sesuai.

Langkah ke-3. Gambar garis operasi di rectifying section (disebut juga enriching section) atau seksi di atas saluran masuk umpan dari kolom distilasi. Prinsip pembuatan garis ini adalah sebagai berikut: (a) (b) Diagram peralatan distilasi dapat digambarkan dalam skema alat distilasi. Tinjau neraca massa dari komponen ringan untuk menurunkan persamaan garis operasi,: Vn+1 yn+1 = Ln xn + D xD Asumsikan terjadi constant molal overflow: Vn+1 = Vn = ........ = V Ln = Ln-1 = ........ = L Selanjutnya garis operasi rektifikasi menjadi : V yn+1 = L xn + D xD Sekarang, dari Vn+1 = Ln + D, didapat V = L + D

(c)

Dengan mengganti V dan menyusun ulang, didapat :

Jika didefinisikan reflux ratio sebagai R = L/ D kemudian dihilangkan semua subskrip, didapat garis operasi distilasi batch sebagai berikut:

Garis operasi berupa garis lurus dengan kemiringan (R / R+1) dan intersep (xD / R+1).

Gambar 2.2. Skema alat distilasi pilot plant.

Langkah ke-4. Gambar q-line dimulai dari titik komposisi umpan sampai memotong garis operasi di rectifying section.

Gambar 2.3. Kemungkinan-kemungkinan penggambaran q-line.

Parameter q adalah fraksi mol dari cairan dalam umpan dan gradien dari q-line adalah q/(q-1). Jika umpan berupa cairan jenuh maka tidak ada uap dan q = 1 yang menyebabkan gradien q-line menjadi tak terhingga dan menghasilkan garis vertikal. Jika umpan berupa uap jenuh maka q = 0 sehingga gradien garis menjadi 0 yang menghasilkan garis horizontal.

Langkah ke-5. Gambar garis operasi di stripping section atau seksi di bawah saluran masuk umpan dari kolom distilasi. Garis ini dimulai dari titik komposisi komponen ringan di produk bawah kemudian ditarik lurus menuju titik perpotongan q-line dengan garis operasi rectifying section.

Langkah ke-6. Langkah ini merupakan langkah final, yaitu gambar tangga antara garis operasi dan garis kesetimbangan. Selanjutnya hitung jumlah anak tangga yang terbentuk. Jumlah tahapan berupa anak tangga ini menunjukkan jumlah pelat teoritis atau tahap kesetimbangan.

Dalam distilasi kontinyu dengan reflux ratio yang bervariasi, fraksi mol dari komponen ringan di bagian pucak (teratas) dari kolom distilasi akan berkurang jika reflux ratio berkurang. Setiap perubahan reflux ratio akan mengubah kemiringan garis operasi di rectifying section.

Pelat Kolom Distilasi dengan Bubble Cap Pelat atau piringan yang digunakan dalam kolom berskala distilasi industrial terbuat dari pelat bulat terfabrikasi dan buasanya berada di bagian dalam kolom dengan interval 60 sampai 75 cm (24 sampai 30 inci) sampai memenuhi ketinggian kolom. Jarak ini terutama dipilih untuk kemudahan instalansi dan kemudahan akses untuk perbaikan di masa mendatang.

Gambar 6.4. Tipikal bubble cap trays yang digunakan dalam kolom distilasi pilot plant

III. PERCOBAAN
3.1Alat dan Bahan a. Alat yang digunakan : 1. Rangkaian alat distilasi-fraksionasi skala pilot plant dengan gambar skematik seperti gambar berikut. 2. Refraktometer 3. Beaker glass dari bahan plastik dengan volume 2 liter 4. Beaker glass dari bahan plastik dengan volume 1 liter 5. Beaker glass dari bahan plastik dengan volume 500 mililiter 6. Botol sampel distilat, 2 buah. 7. Gelas kimia, minimal 30 buah 8. Pipet tetes 9. Corong plastik b. Bahan yang digunakan : 1. Air kran 2. Alkohol teknis, sesuai petunjuk Pembimbing c. Alat pelindung diri : Dalam praktikum ini diharuskan pemakaian alat pelindung berupa: 1. Safety hat 2. Sarung tangan tahan panas 3. Sepatu dengan alas yang tidak licin

Gambar 3.1 Skema alat distilasi-fraksionasi skala pilot plant

Operasi Distilasi Kontinyu Operasi distilasi kontinyu dilakukan dengan memodifikasi alat yang ada. Modifikasi dilakukan dengan memutus sambungan antara pipa fleksibel poliethylene (HDPE, high density polyethylene) dengan saluran ke tangki umpan. Semula hubungan antara pipa (hose) tampak seperti dalam gambar di bawah ini,

Gambar 3.2 Koneksi hose sebelum dimodifikasi

selanjutnya dimodifikasi sehingga tampak sebagai gambar di bawah ini.

Gambar 3.3. Koneksi hose setelah dimodifikasi

Pengisian Feed Tank Pada tahap ini dilakukan pengisian tangki umpan (feed tank) dengan bahan berupa larutan etanol encer. Tahap yang harus ditempuh: 1) 2) Masukkan air kran sampai kira-kira dari tinggi tangki umpan Masukkan etanol teknis sesuai petunjuk pembimbing, sedapat mungkin tidak

kurang dari 40 liter 3) Masukkan lagi air kran, sampai batas bawah saluran masuk feed tank atau sesuai

dengan petunjuk Pembimbing

Homogenisasi Umpan Umpan dihomogenkan dengan cara sirkulasi menggunakan pompa umpan (feed pump). Tahap yang harus ditempuh: 1) Periksa bukaan valve di jalur sirkulasi saja, sehingga valve yang dilewati aliran

sirkulasi terbuka, lainnya tertutup. Valve diluar jalur sirkulasi ditutup dahulu

Gambar 3.4 Kondisi valve di sektor persiapan umpan.

1) Yang bertanda panah ( ) adalah valve yang harus dibuka 2) Nyalakan switch kontrol dan jalankan udara kontrol, selanjutnya nyalakan pompa P2 3) Biarkan proses sirkulasi berjalan 5 sampai 10 menit 4) Sambil menunggu, lakukan inspeksi terhadap valve di jalur sirkulasi reboiler sesuai petunjuk Pembimbing

Pengiriman umpan ke sump tank melalui preheater : Prinsip penyalaan alat pemanas harus dipegang dalam langkah ini. Tahap yang harus dilalui adalah: 1) Pastikan aliran pendingin ke condenser dan cooler di tangki produk distilat

telah menyala, sesuai petunjuk Pembimbing 2) 3) Buka valve ke preheater dan pastikan umpan mengalir ke sump tank Buka valve untuk mengalirkan steam ke preheater, atur hingga hanya

terjadi pendidihan sedikit di puncak pemanas. Ingat! Preheater tidak berfungsi untuk mendidihkan cairan. Hanya boleh ada pendidihan sedikit di puncak pemanas dengan timbulnya gelembung-gelembung kecil, dan dilarang keras membuat cairan dalam preheater sampai mendidih dan menggelegak. 4) Lakukan pengisian sump tank sampai puncak pelampung berada di batas

atas penanda permukaan cairan yang terletak di tengah.

Pengaktifan reboiler Jika sump tank telah terisi paling tidak 2/3 bagian, reboiler boleh dinyalakan. Periksa kembali bukaan valve yang dilewati jalur sirkulasi reboiler, sehingga yang terbuka seperti gambar berikut.

Gambar 3.5Kondisi valve di sektor reboiler. Yang bertanda panah ( ) adalah valve yang harus dibuka

Selanjutnya lakukan langkah berikut: 1) Pastikan sekali lagi aliran pendingin ke condenser dan cooler di tangki produk distilat telah menyala, sesuai petunjuk Pembimbing. Atur (set) suhu condenser pada 20oC di panel kontrol. 2) Jaga valve pengatur steam ke preheater, agar jangan sampai terjadi pendidihan

melewati bagian dari panjang preheater. Selanjutnya jaga valve ke preheater sehingga laju alir pada skala 60 atau sesuai petunjuk Pembimbing. 2) Nyalakan pompa sirkulasi reboiler P3 dan pastikan sirkulasi telah berjalan lancar. Sebaiknya rotameter di atas pompa P3 menunjukkan skala 16. 3) 4) 5) Pastikan sekali lagi udara kontrol telah mengalir dengan baik Buka penuh valve untuk mengalirkan steam ke reboiler Atur tekanan kolom dengan mengatur pengendali di panel kontrol, sehingga

rotameter steam menunjukkan skala tengah lebih sedikit. Ikuti petunjuk Pembimbing

Setelah reboiler menyala, persiapkan langkah pengambilan sampel sambil terus mengawasi agar preheater tetap stabil, aliran ke preheater pada skala 60, dan jarum penunjuk laju alir steam ke reboiler tetap ditengah atau sedikit ke atas.

Pengaliran produk bawah Umpan bawah diatur agar alirannya konstan pada skala 20. Sampling Jika distilat telah dihasilkan, lakukan pengambilan sample di tiga titik, yaitu: feed, residu dan distilat. Lakukan dengan penuh kehati-hatian. Ulangi secara berkala sampling ini, setiap 5 menit sampai 5 kali.

Operasi distilasi kontinyu dengan refluks 1:1

Operasi distilasi dengan refluks dapat dilakukan jika distilat yang tertampung dalam tangki umpan telah terkumpul sampai batas garis hijau di tangki penerima distilat ( distillate receiving tank). Jika sulit tercapai, setengah dari jumlah ini cukup. Selanjutnya tempuh langkah berikut: 1) 2) 3) Tutup dulu semua valve di sekitar pompa distilat P1 Jalankan pompa P1 Buka penuh valve di posisi suction P1

4) Atur bukaan valve ke jalur refluks, dan pastikan cairan refluks telah mengalir ke kolom distilasi melalui puncaknya.Laju alir yang disarankan adalah skala 20 5) Atur bukaan valve ke jalur penampung distilat, dengan laju alir yang disarankan

adalah juga skala 20 6) Tunggu 15 menit kemudian lakukan samping dengan interval 5 menit sebanya 5

kali sampling

Operasi distilasi kontinyu dengan perbandingan refluks 1:3 atau lainnya Ulangi tahap 3.3 di atas dengan refluks sesuai petunjuk Pembimbing.

IV. DATA PENGAMATAN

Percobaan ke1 2 3

Kondisi Operasi Dengan pemanasan Tanpa refluks Dengan pengurangan pemanasan Tanpa refluks Dengan pengurangan pemanasan Dengan refluks

Laju Alir (L/jam) 170 180

Konsentrasi Umpan (%) 13 13

Konsentrasi Distilat (%) 56 70

Konsentrasi Bottom (%) 20 20

80

13

87

20

V. PENGOLAHAN DATA
Proses distilasi dengan proses pemanasan ( tanpa refluks) Menghitung konsentrasi (% mol) Larutan Mr Etanol : 46,08 g/mol Mr Air : 18 g/mol etanol air : 0,7935 g/ml : 1 g/ml

Massa Aliran % Volume ethanol (g) Umpan Distillate Bottom product 13 56 20 0.1032 0.4444 0.1587

Massa air (g)

Mol etanol

Mol air

% Mol etanol

% Mol Air

0.8700 0.0022 0.0483

4.4266

95.5734

0.4400 0.0096 0.0244 28.2895 71.7105 0.8000 0.0034 0.0444 7.1917 92.8083

Proses distilasi dengan pengurangan pemanasan (tanpa refluks)

Menghitung konsentrasi (% mol) Larutan Mr Etanol : 46,08 g/mol Mr Air : 18 g/mol etanol air : 0,7935 g/ml : 1 g/ml

Massa Aliran % Volume ethanol (g) Umpan Distillate Bottom product 13 70 20 0.1032 0.5555 0.1587

Massa air (g)

Mol etanol

Mol air

% Mol etanol

% Mol air

0.8700 0.0022 0.0483

4.4266

95.5734

0.3000 0.0121 0.0167 41.9699 58.0301 0.8000 0.0034 0.0444 7.1917 92.8083

Proses distilasi dengan pengurangan pemanasan ( dengan Menghitung konsentrasi (% mol) Larutan Mr Etanol : 46,08 g/mol Mr Air : 18 g/mol etanol air

refluks)

: 0,7935 g/ml : 1 g/ml

Massa Aliran % Volume ethanol (g) Umpan Distillate Bottom product 20 0.1587 13 87 0.1032 0.6903

Massa air (g)

Mol etanol

Mol air

% Mol etanol

% Mol air

0.8700 0.0022 0.0483

4.4266

95.5734

0.1300 0.0150 0.0072 67.4728 32.5272 0.8000 0.0034 0.0444 7.1917 92.8083

Perhitungan efisiensi Menggunakan Data pada run 1 Keadaan awal Aliran Umpan (xf) Distillate (xd) Bottom product (xw) % Mol etanol 4.4266 % Mol air 95.5734

28.2895 71.7105 7.1917 92.8083

R = Tanpa refluks, maka garis enriching menjadi : y = xd y= 0,2829 Data, xf, xd, dan xw di plot ke kurva kesetimbangan ethanol air

0.9

0.8

0.7

0.6

0.5

0.4
q line

0.3

0.2

0.1

0 0 0.1 0.2

Xd

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

0.8

0.9

Dari kurva kesetimbangan didapatkan jika jumlah tahap teoritis = 1

Jumlah tahap nyata = 13-0, (tanpa reboiler) Sehingga efisiensi tray adalah

Menggunakan Data pada run 2 Pengaruh Penurunan Laju Alir Steam Heater (penurunan temperatur) Aliran Umpan (xf) Distillate (xd) Bottom product (xw) % Mol etanol 4.4266 % Mol air 95.5734

41.9699 58.0301 7.1917 92.8083

R = Tanpa refluks, maka garis enriching menjadi : y = xd y= 0,4196 Data, xf, xd, dan xw di plot ke kurva kesetimbangan ethanol air

Dari kurva kesetimbangan didapatkan jika jumlah tahap teoritis = 2 Jumlah tahap nyata = 13-1, (tanpa reboiler) Sehingga efisiensi tray adalah

Menggunakan Data pada run 3 Pengaruh Refluks Aliran Umpan (xf) Distillate (xd) Bottom product (xw) % Mol etanol 4.4266 % Mol air 95.5734

67.4728 32.5272 7.1917 92.8083

R = 1,2 y= y= y = 0,545x + 0,307 misal: x = 0 0,307 Data, xf, xd, dan xw di plot ke kurva kesetimbangan ethanol air

0.9

0.8

0.7
2

0.6
3

0.5
4 4 5
q line

0.4

0.3

0.2

0.1

0 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6

Xd

0.7

0.8

0.9

Dari kurva kesetimbangan didapatkan jika jumlah tahap teoritis = 5 Jumlah tahap nyata = 13-4, (tanpa reboiler)

Sehingga efisiensi tray adalah

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan proses distilasi kontinyu. Data dari plant didapat bahwa tray actual adalah 12 ditambah dengan 1 reboiler dan kondensor dengan plat jenis buble cap. Dalam praktikum ini umpan yang dipakai berasal dari reaktor destilat yang sebelum masuk ke menara distilasi, dipanaskan di dalam pre-heater dan masuk pada tray 4. Persen konsentrasi metanol pada umpan adalah 13%. Pengukuran konsentrasi produk dilakukan menggunakan alkohol meter. Pada saat praktikum dilakukan variasi penggunaan refluks dan juga penurunan temperatur. Dari variasi variabel tersebut dilakukan pengamatan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap konsentrasi produk distilat dan produk bottom. Operasi pertama dilakukan adalah pemanasan umpan yang dialirkan pada preheater dan diatur temperature valve untuk masukan steam. Run pertama hanya dilakukan proses pemanasan tanpa menggunakan refluks, didapat konsentrasi distilat 56 % mol. Kemudian dilanjutkan dengan run 2 dengan penurunan suhu namun tetap tidak menggunakan refluks dan didapatkan konsentrasi destilat 70% mol. Dari kedua data tersebut dapat dilihat bahwa suhu yang terlalu tinggi memungkinkan adanya air yang ikut menguap dan terbawa destilat sehingga pada pemanasan awal run 1 destilat yang didapat lebih kecil dibandingkan run ke-2. Untuk run ke-3 digunakan refluks. Besar refluks yang digunakan adalah 1,2. Pada run ini terjadi kenaikan konsentrasi distilat menjadi 87 %. Hal ini menunjukan bahwa refluks mempengaruhi penambahan konsentrasi destilat yang terbentuk pada destilat. Dari data yang didapat dapat digunakan dalam menghitung effisinsin dengan membandingkan perhitungan secara teoritis berbanding dengan plat aktual. Dari data tersebut dilakukan perhitungan tray teoritis melalui kurva kesetimbangan. Dari kurva kesetimbangan didapatkan jika tray teoritis adalah untuk run 1, 2, 3 berturut-turut adalah 1, 2, dan 5. Data ini kemudian dibandingkan dengan data tray nyata yaitu 13. Jumlah ini termasuk dengan jumlah reboiler, sedangkan pada run ini reboiler belum dioperasikan maka jumlah tray nyata adalah 12. Efisiensi tray total yang didapat untuk run 1, 2, dan 3 berturut-turut adalah 7,69%; 16,67%; dan 55,56%. Kondisi ini menunjukan bahwa dengan temperatur pemanasan yang lebih rendah dan penggunaan refluks menghasilkan destilat

dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Akan tetapi proses destilasi yang dilakukan masih belum optimum, hal ini dimungkinkan karena beberapa faktor seperti terjadinya kebocoran pada steam, boiler utama yang digunakan menghasilkan steam yang fluktuatif, laju alir dari air dan tekanan yang tidak sesuai dengan pengaturan digital, tidak adanya blowdown dan lain-lain.

Kesimpulan 1. Run ke-3 (penggunaan refluks) menghasilkan konsentrasi destilat yang paling banyak dibandingkan run sebelumnya (tanpa refluks) 2. Efisiensi tray maksimum dengan penggunaan refluks yang didapat adalah 55,56 % 3. Tidak sesuainya data hasil praktikum dengan teori disebabkan tidak dilakukannya blowdown pada reboiler sebelum praktikum, masih terdapatnya produk sisa hasil praktikum sebelumnya, dan fluktuatifnya laju alir distilat serta aliran yang dikembalikan ke dalam produk.