Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN Tumor atau kanker ternyata bukanlah penyakit yang muncul belakangan ketika peradaban manusia semakin modern.

Penyakit ini ada sejak zaman prasejarah. Para ahli arkeologi menemukan berbagai macam tumor pada kerangka dinosaurus dan sejumlah mummi di Mesir. Tercatat sejak tahun 1600 SM sudah ada usaha untuk mengatasi penyakit ini. Kanker termasuk penyebab kematian tertinggi di dunia. Terapi radiasi bukanlah hal baru untuk menangani penyakit kanker. Publikasi penanganan kanker dengan cara ini telah dimulai sejak tahun 1900 mengikuti perkembangan sinar-x yang ditemukan sejak pada 12 November 1895. Penemuan tentang efek radiasi fisik dan biologi menjadikan radioterapi menjadi pionir dalam penanganan kanker. Radioterapi selain memanfaatkan sinar-x juga memanfaatkan radiasi sinar gamma, sinar beta, dan sinar alfa. Dalam aplikasinya, radioterapi harus dilakukan dengan prosedur yang tepat dan penghitungan dosis serta teknik yang akurat agar diperoleh distribusi dosis dimana dosis pada tumor lebih tinggi daripada dosis pada jaringan normal, atau dengan kata lain dosis pada jaringan normal harus ditekan seminimal mungkin atau tidak melewati nilai batas toleransi dosis jaringan tersebut. Teknologi radioterapi meliputi teleterapi dan brachyterapi. Teleterapi atau radiasi eksterna merupakan terapi jarak jauh atau sumber radiasi berada diluar tubuh yang memanfaatkan radiasi foton, elektron, proton, neutron dan ion berat, dimana penghitungan dosis dilakukan dengan menganggap sumber radiasi sebagai titik. Teknologi yang kedua adalah brachyterapi atau radiasi interna. Terapi ini tergolong baru di Indonesia dan merupakan terapi canggih dengan didukung sarana komputer.

PEMBAHASAN A. ALUR PASIEN DI INSTALASI RADIOTERAPI Alur pasien radioterapi secara umum : 1. Pasien/keluarga pasien/petugas rawat inap mendaftarkan di loket pendaftaran. Pada loket pendaftaran ini akan diinformasikan tentang biaya pemeriksaan, persiapan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan jalannya terapi. 2. Pasien diperiksa di poliklinik radioterapi untuk diketahui terapi apa yang cocok untuk pasien. 3. Pasien dibawa ke ruang simulator untuk lokalisasi tumor dan pembuatan alat bantu seperti bantal, bolus, masker dan lain-lain yang diperlukan selama proses terapi. 4. Hasil simulator dibawa ke TPS untuk penghitungan distribusi dosis, arah penyinaran dan pengaturan MLC jika diperlukan. 5. Setelah hasil dari TPS di setujui oleh dokter ahli radioterapi pasien dapat mulai dilakukan penyinaran pada hari hari yang telah ditentukan.

B. RADIOTERAPI 1. TREATMENT PLANNING ROOM (TPR) Tretment planning room merupakan tempat untuk membuat perencanaan pemberian dosis yang bertujuan untuk membuat, mengolah, merencanakan dan menganjurkan rencana penyinaran kepada radioterapis yang optimal dengan teknik teleterapi (eksternal radiasi), penghitungan dosis untuk brachyterapi (internal radiasi) dan pembuatan blok MLC. a. Pembuatan blok MLC Selain system kolimasi pembatas lapangan penyinaran yang dipasang secara manual, sekarang ini telah tersedia fasilitas Multi Leaf Collimator (MLC) yaitu system pembatas berbentuk lempengan-lempengan Pb secara automatic. MLC yang ada di RSCM yang digunakan pada pesawat LINAC 2100 C adalah MLC model 80 dengan diameter MLC 0,5 cm. Letak MLC ini ada pada gantry pesawat di bawah kolimator lapangan penyinaran disimpan dalam 2 buah carriage, yaitu carriage A yang berisi 40 dan carriage B yang berisi 40 leaf. Pembuatan MLC menggunakan alat yang disebut Shaper, yang kemudian hasilnya bisa ditransfer melalui system varis pada menu patient chart pada sesi treatment planning session edit MLC, sehinnga pada saat pelaksanaan penyinaran

data MLC sudah termasuk sebagai kelengkapan pada penyinaran pasien. Lagkah-langkah pembuatan blok MLC : Hidupkan komputer, tunggu proses loading, lakukan instruksi komputer. Pada menu program pilih menu shaper, kemudian hidupkan shaper dengan menekan tombol on/off. Lakukan kalibrasi digitizer dengan cara menekan calibrate digitize pada meja shaper dengan menggunakan pen origin, setelah itu di titik tengah koordinat, lalu titik yang letaknya 10 cm diatas dan sebelah kanan koordinat dan diakhiri pada titik yang letaknya 10 cm di bawah titik tengah sebelah kiri koordinat. Pasang film atau printer simulasi dengan cara meletakkan centrasi lapangan pada titik tengah koordinat meja shaper. Masukkan data pasien, data field dan faktor pembesaran/pengecilan. Lakukan digitize dengan menggunakan pen digitizer lapangan penyinaran yang tidak terkena blok lalu tekan enter. Setelah di print dan disimpan dalam komputer agar bisa diproses ke dalam sistem verifikasi varis. b. Pembuatan Planning Penyinaran Teleterapi Langkah-langkah yang harus diperhatikan : Baca instruksi dokter , teliti data-data pada kontur baik dari CT simulik atau CT. Masukkan data kontur melalui pen digitizer, maupun scan langsung data dari CT-Scan atau MRI. Masukkan data pesawat, luas lapangan, teknik yang digunakan, modifikasi terus sehingga menghasilkan kurva isodosis yang baik. Dan memenuhi standar ICRU 50. Setelah itu print out dan simpan dalam komputer. c. Pembuatan Planing Penyinaran Brachyterapi. Langkah yang harus diperhatikan dan dilakukan adalah : Baca instruksi dokter, mulai membuat planing dengan memasukkan data nama dan nomor registrasi pasien. Pilih data pesawat yang digunakan. Masukkan data pemasangan aplikasi dari hasil foto simulasi pemasangan aplikator. Atur posis source atau dwell time dari masing-masing jarum agar menghasilkan distribusi yang diinginkan dengan memperhatikan dosis pada daerah yang dilindungi.

Laporkan hasil komputer ke dokter untuk diketahui atau disetujui Setelah ada persetujuan bisa lakukan penyinaran. 2. SIMULATOR Simulator adalah alat untuk membuat simulasi penyinaran eksternal yang bertujuan untuk menentukan lokalisasi lapangan penyinaran serta menutup organ-organ yang akan dilindungi. Hasil dari simulator dijadikan pedoman untuk penyinaran dan perencanaan lebih lanjut di TPS. Saat ini di Instalasi Radioterapi RSCM telah dioperasikan 2 unit pesawat simulator yang masing-masing adalah Unit Simulator Simscan Dan Unit Simulator Simulix Hp.Pengoperasian pesawat simulator tersebut telah dimulai sekitar awal tahun 2000 yang lalu sejalan dengan pengoperasian unit pesawat penyinaran Eksterna Varian I serta untuk mendukung pengoperasian TPS-ISiS dan Plato. Secara fungsi standar simulator, kedua pesawat simulator tersebut dapat dikatakan tidak memiliki perbedaan yang mendasar. Karena masing-masing dapat memberikan informasi data yang memadai sesuai kebutuhan standar yang diperlukan dalam pelaksanaan penyinaran. Akan tetapi dari segi fasilitasnya dapat dikatakan bahwa pesawat simulix HP jauh lebih lengkap dan lebih komputerized dibandingkan pesawat Simscan. Prosedur Tindakan dalam ruangan simulasi adalah sebagai berikut: a. Persiapan Simulasi : Perhatikan rencana penyinaran pada status pasien. Persiapkan alat bantu yang diperlukan. Masukkan data pasien ke dalam varis sistem Pasang marker pada bagian tubuh yang perlu diberi tanda. Atur posisi pasien dan lasr beam Siap lakukan proses simulasi. b. Proses Simulasi dan Pengolahan data. Lakukan fluoroskopi Lakukan penyesuaian posisi simulasi. Lakukan penyimpanan data gambar dan data posisi simulasi Buatlah gambar lapangan simulasi pada kulit pasien serta garis laser beam yang akan menjadi patokan pada saat penyinaran, kemudian diberi nitras agar tidak mudah hilang. Atur kembali peralatan dan pesawat kemudian pasien diturunkan, sebelumnya dilepaskan dulu marker yang masih menempel dan arahkan pasien untuk menuju ruangan lain yang terkait 3. MOULD ROOM Mould room adalah ruangan di instalasi radioterapi tempat untuk pembuatan alat bantu sebagai penunjang teknik penyinaran yang

diperlukan Alat bantu ini diperlukan untuk kenyamanan pasien dan ketepatan radiiasi (fiksasi organ). Alat bantu yang dibuat di mould room adalah : a. Masker Masker adalah alat fiksasi / immobilisasi didaerah kepala. Terdiri dari dua jenis yaitu ; masker kepala dan masker leher supraclavicula. Selain bertujuan untuk fiksasi, masker juga berfungsi dari segi etik kosmetis yaitu penggambaran lapangan sinar tidak dikulit pasien tetapi digambar pada masker. Pembuatan masker menggunakan bahan utama yaitu bahan ORFIT dan bak pemanas air (suspan water bath). ORFIT adalah suatu bahanthermoplastic yang mampu melunak pada suhu air 60o C 80o C dan mengeras kembali pada suhu kamar + 24o C dengan waktu + 5 menit, dan 5 menit waktu tambahan untuk kesempurnaan pengerasannya. ORFIT suatu bahan yang biodegradable yang artinya bisa diuraikan secara alami, sehingga dalam penyimpanannya harus tepat yaitu dalam suhu 10 oC 30 o C agar material dari ORFIT tidak mengalami perubahan / kerusakan secara alami. ORFIT memiliki kemampuan dilunakan dan kembali mengeras sebanyak empat kali, yang artinya apabila bahan ORFIT yang masih baru (belum pernah dilunakan) dibuat sebuah masker, maka kemampuan penggunaannya berkurang 25 %. Masker dibuat dengan cara sebagai berikut : Siapkan alat dan bahan yang diperlukan dan nyalakan Suspan Water Bath dan regulatornya diatur pada posisi 6080 0 C. Posisi pasien telentang atau prone sesuai teknik yang akan digunakan pada bantalan dan tatakan fiksasi yang sesuai. Masukkan bahan Raycast ORFIT kedalam air yang cukup panas di water bath. Setelah 3 5 menit bahan orfit tampak melentur, ditandai dengan perubahan warna fisiknya yang agak transparan, angkat bahan masker tersebut dan tiraskan airnya, keringkan kemudian tempelkan pada bagian tubuh yang akan difiksasi. Bentuklah daerah lekukan, tonjolan jika ada dengan memijat halus pada daerah tersebut, biarkan kaku agar jarak space antar kulit dan masker seminimal mungkin. Antara 10 15 menit, masker akan mengeras, angkat dan lepaskan dari tubuh pasien. Masker diberi identifikasi. b. Bolus

Bolus adalah suatu bahan yang memiliki daya serap radiasi sama dengan jaringan lunak bertujuan untuk menghomogenkan dosis radiasi. Bolus terdiri dari dua macam : yaitu bolus keras dan bolus lunak. Bolus Keras Bolus keras terdiri dari wax (lilin). Bolus keras dibuat pada organ-organ sinar yang mempunyai bentuk yang tidak homogen, artinya dari kristal ke proximal memiliki ketebalan yang berbeda. Sebagai contoh organ tungkai bawah normal yang tidak sama ketebalan jaringannya dari distal ke proximal. Bolus keras dibuat dengan prosedur sebagai berikut : Pasien tidur pada meja pemeriksaan Letakkan plastik sebagai alas pada daerah yang akan disinar. Balutkan gipsum yang sudah dibasahi dengan air pada seluruh organ yang akan dibuat bolusnya, kemudian ratakan dan keringkan. Bolus cetakan negatif selesai, kemudian cetak menjadi patung dengan menuangkan adonan alabaster dengan air. Lepaskan gypsum/cetakan negatif patung. Panaskan Wax (lilin) dalam bak tungku khusus. Masukkan patung kedalamnya, biarkan melayang sampai terbenam sendiri dan mengeras lalu angkat dari bak dan dinginkan. Belah bolus tadi menjadi 2 (dua) bagian ditengah-tengah. Bolus dicoba ke pasien sesuai dengan luas penyinaran dan beri identifikasi dan tanda acuannya. Pembuatan bolus selesai. Bolus Lunak Bolus lunak terbuat dari bahan paraffin (malam). Dibuat untuk menambah ketebalan jaringan lunak (konpensasi ketebalan) pada saat penyinaran yang menggunakan berkas sinar electron. Misalnya untuk kasus-kasus ; ca. mammae, basalioma, hemangioma, keloid, ca. telinga, ca. penis, ca. hidung, dll. Ketebalan pembuatan bolus lunak bervariasi ditentukan atas instruksi dokter konsulen. c. Kontur Kontur digunakan sebagai pembuatan pola atau dengan kata lain memindahkan bentuk potongan pasien dengan ukuran yang sebenarnya pada kertas untuk menentukan volume target penyinaran. Kontur menggunakan bahan utama yaitu lembaran

gips (gypsona). Prosedur Pembuatan Kontur adalah sebagai berikut: Pasien tidur dimeja pemeriksaan, letakkan plastik sebagai alas pada daerah yang akan dikonturkan. Gypsona dilipat 2 cm, dibantu dengan air, dilipat sepertipita dan diletakkan pada daerah kontur. Biarkan mengering kira-kira 10 menit beri tanda yang diperlukan. Letakkan kontur diatas kertas dengan posisi miring, kemudian gambar dalam kertas sesuai cetakan kontur lengkap dengan tanda dan batas. Pembuatan kontur selesai dan pasien diberi penjelasan. d. Individual Block Individual block adalah blok khusus untuk satu pasien yang dibuat bukan menggunakan program MLC (multi leaf collimator) dengan bentuk yang solid. Individual block dibuat apabila program MLC tidak memungkinkan untuk membentuk suatu block, dikarenakan bentuknya yang irregular/berbentuk kurva-kurva yang tidak beraturan atau letak block yangnya yang melayang ditengah lapangan penyinaran sehingga tidak bisa terjangkau oleh program MLC. Misalnya pada kasus lymphoma malignum. Individual block terbuat dari bahan utama cerrobend , yaitu bahan yang tersusun atas unsur Bi (bismuth) 50 %, Pb (timbal) 27 %, Sn (timah) 10 %, dan Cd (cadmium) 13 %. Dan memiliki titik lebur 80oC. 4. MICROSELEKTOR Micro selektron HDR (MHDR) merupakan peralatan brachiterapi standart yang baru dari nucletron dengan system remote afterloading HDR, yang dirancang untuk dapat digunakan pada hampir semua lokasi anatomi tubuh manusia yang secara klinis memungkinkan untuk aplikasi HDR Brachiterapi. Aplikasi klinis MHDR dapat dilakukan dengan berbagai cara : a. intra caviter. untuk vagina-vaginal aplikator set, cylindrical aplikator set, untuk endrometrium-fletcher Williamson aplikator set, untuk servixring aplikator complete set dan untuk rectum-novi inflatable rectal aplikator b. intra lumenal untuk bronchus-lumencath aplikator set dan untuk esophagus-esophageal aplikator set c. inter stitial untuk lidah-pipart-tongue template, untuk payudara-breas implant dan untuk prostate mupit aplikator set

d. intra operatif untuk pancreas-panceatic flexsibleneedle set Brachiterapi yang bertujuan memberikan dosis tinggi pada tumor dan memperkecil dosis pada daerah sekitarnya terutama pada daerah yang dilindungi dalam hal ini memiliki kebijakan yang harus diperhatikan, yaitu : a. Pasien diberikan penjelasan tentang persiapan yang perlu dilakukan b. Pemeriksaan penunjang harus dipersiapkan. c. Membuat inform konsen d. Dibuat foto pengecekan aplikasi. e. Dibuat planning penyinaran untuk penghitungan dosimetri. f. Penyinaran dilakukan setelah ada persetujuan planning. Prosedur Pemeriksaan pada MHDR adalah sebagai berikut : a. Saat Tindakan: Pasien masuk ruang operasi Ukur tekanan darah, pernafasan, nadi dan suhu. Lakukan anastesi Lakukan desinfektan pada daerah penyinaran Lakukan pemasangan aplikator dan marker dan alat fiksasi Buat foto simulasi untuk mengecek pemasangan aplikator Dibuat perhitungan planning untuk perhitungan dosis Lakukan penyinaran. b. Selesai Tindakan Alat dibuka kembali Lakukan observasi ada tidaknya perdarahan Observasi tanda-tanda vital Lakukan pembersihan pada daerah tindakan. Penjelasan pada pasien apa yang boleh dan tidak dilakukan oleh pasien Anjurkan banyak minum. Pada radioterapi ada yang disebut Gammade yang merupakan pesawat brachiterapy yang berfungsi sebagai pengantar sumber radioaktif yang digunakan untuk penyakit kanker. Alat ini terdiri dari container/trolley yang berisi sumber radioaktif dengan kabel-kabel penghubung yang terpasang didalam ruangan treatment dan suatu set personal computer, digitizer dan panel console yang terpasang. Gammamed menggunakan sumber tunggal, tetapi mempunyai 24 saluran. C. KEGIATAN QUALITY ASSURANCE (QA) PESAWAT RADIOTERAPI

Program dan kegiatan QA ini secara fisik terbagi manjadi 2 program, yaitu : 1. Program dan Kegiatan Quality Control Pesawat. Program ini meliputi pemeriksaan dan penetapan parameter output radiasi (dosimeter radiasi) serta unjuk kerja sistim mekanik dan fasilitas keselamatan radiasi yang dimiliki pesawat radioterapi. Jenis-jenis pemeriksaan yang harus dikerjakan sesuai urutan bagian pesawat. a. Pesawat Varian I Clinac 2100 C dan Varian II Clinac 2100 C Jenis pemeriksaan sesuai urutan bagian pesawat diuraikan sebagai berikut: Panel Kontrol. Uji fungsi setiap macam modus penyinaran pesawat. Besaran-besaran display digit. Fungsi dari tombol, saklar dan kunci kontak pesawat. Besar energi dari fungsi tombol pemilihan energi. Fungsi lampu indicator sistim interlock. Meja Penyinaran. Ketepatan skala pada pergerakkan meja vertical, horizontal dan berputar, apakah ada perbedaan antara besaran digit pada display dengan skala mekanik. Kedataran posisi bidang meja untuk arah sagital dan frontal. Fungsi dari tombol emergensi yang ada pada meja pemeriksaan. Untuk kerja pergerakanpenyinaran. Mesin Penyinaran (head treatment) Jenis Pemeriksaan meliputi: Ketepatan jarak penyinaran dengan sistim FSD dan FID sesuai spesifikasi pesawat, dan fungsi alat Bantu penunjuk jarak. Ketepatan ukuran lapangan penyinaran, pada penunjuk besar digit display dan besaran mekanik disbanding dengan lapangan radiasi sebenarnya. Ketepatan letak lapangan penyinaran, caranya dengan membandingkan letak bayangan cermin dibandingkan dengan letak berkas radiasi. Ketapatan letak titik pusat lapangan penyinaran. Ketepatan letak titik centrasi depan dengan belakang. Ketepatan letak titik centrasi pada keadaan kolimator tetap dan berputar. Ketepatan skala penyudutan kolimator antara besaran digit dengan meaknik. Ketepatan skala penyudutan gantry antara besaran digit dengan mekanik.

Ketepatan titik pergerakan isocenter pesawat penyinaran. Fungsi sistim interlock penggunaan aplikator electron dan saringan wedge. Ketepatan posisi wedge, aplikator dan tray block radiasi. Simetri jaw dan intensitas lampu lapangan penyinaran Pengancing wedge dan Tray block. Kontrol penggerak dengan tangan (hand switch control). Uji fungsi setiap tombol penggerak lapangan penyinarasn, gantry, lampu lapangan penyinaran. Uji fungsi tombol emergensi. Pemeriksaan Dosimetri Out Put Radiasi. Jenis pemeriksaan meliputi : Penetapan nilai dosis serap berkas radiasi foton dan electron dari out put radiasi pesawat radioterapi. Penetapan besaran monitor unit pada panel pengendali dengan kesetaraan nilai dosis serap yang diukur. Penetapan nilai energi berkas radiasi foton dan electron (PDD dan TMR) Penetapan nilai homogenitas berkas radiasi foton dan electron (flatness dan simetri) Penetapan faktor koreksi luas lapangan penyinaran. Penetapan factor koreksi aplikator electron Penetapan factor transmisi filter Wedge. Penetapan factor transmisi alat Bantu penyinaran lainnya. Penetapan faktor off axis b. Pesawat Cobalt-60 Alycyon II Panel control. Uji fungsi setiap macam modus penyinaran pesawat Besaran besaran display digit. Fungsi tombol, saklar, dan kunci kontak pesawat. Besaran energi dan fungsi tombol pemilihan energi. Fungsi lampu-lampu indicator sistim interlock Meja Penyinaran. Jenis pemeriksaan meliputi : Ketepatan skala pada pergerakan meja vertical, horizontal dan berputar, apakah ada perbedaan anatara besar digit pada display dengan skala mekanik. Kedataran posisi bidang meja untuk arah sagital dan frontal. Fungsi dari tombol emergensi yang terdapat pada meja penyinaran. Untuk kerja pergerakan meja penyinaran. Mesin Penyinaran Pemeriksaan meliputi :

Ketepatan jarak penyinaran dengan sisitim FSD dan FID sesuai spesifikasi pesawat, fungsi alat Bantu penunjuk jarak. Ketepatan ukuran lapangan penyinaran, pada penunjukan besaran digit dan besaran mekanik dibandingkan dengan lapangan radiasi yang sebenarnya. Ketepatan letak lapangan penyinaran. Ketepatan letak titik pusat lapangan penyinaran Ketepatan letak titik centrasi depan belakang Ketepatan letak titik centrasi pada keadaan kolimator tetap dan berputar. Ketepatan skala penyudutan kolimator antara besaran digit dengan mekanik. Ketepatan skala penyudutan gantry Ketepatan titik pergerakan isocenter pesawat penyinaran Fungsi sistim interlock penggunaan aplikator electron dan saringan wedge Ketepatan posisi wedge, aplikator, dan tray block radiasi. Simetri jaw dan intensitas lampu lapangan penyinaran. Pengancing wedge dan tray block. Pemeriksaan Dosimetri Out Put Radiasi. Jenis pemeriksaan meliputi : Penetapan nilai dosis serap berkas radiasi foton dan electron daro out put radiasi pesawat radioterapi. Penetapan besaran monitor unit pada panel pengendali dengan kesetaraan nilai dosis serap yang diukur. Penetapan nilai energi berkas radiasi foton dan electron ( PDD dan TMR) Penetapan nilai homogenitas berkas radiasi foton dan electron. (Flatnes dan simetri) Penetapan faktor luas lapangan, aplikator electron, dan transmisi filter wedge. Penetapan faktor transmisi alat Bantu penyinaran lainnya. c. Pesawat Simulator. Panel Kontrol Jenis pemeriksaan meliputi : Uji fungsi macam modus, besaran digit display, fungsi tombol, saklar dan kunci kontak pesawat. Besar energi dari fungsi tombol pemilihan energi. Dan fungsi lampu indicator sisitim interlock. Meja penyinaran : Ketepatan skala pergerakan meja vertical, horizontal, dan berputar. Kedataran posisi bidang meja untuk arah sagital dan frontal.

Fungsi dari tombol emergensi. Mesin Penyinaran Jenis pemeriksaan meliputi : Ketepatan jarak penyinaran dengan sistim FSD dan FID, Ketepatan ukuran lapangan penyinaran. Ketepatan letak titik pusat lapangan penyinaran, centrasi depan belakang, dan centrasi pada keadaan kolimator tetap dan berputar. Ketepatan skala penyudutan gantry dan kolimator antara besaran digit dengan mekanik. Pemeriksaan Dosimetri Out Put radiasi. Jenis pemeriksaan meliputi : Penetapan dosis serap berkas radiasi foton dan electron dari out put radiasi. Penetapan besaran monitor unit dengan kesetaraan nilai dosis serap. Penetapan nilai energi berkas radiasi foton dan electron (PDD dan TMR) Penetapan nilai homogenitas berkas radiasi foton dan electron Penetapan faktor koreksi luas lapangan, aplikator electron, dan faktor transmisi filter wedge. Penetapan faktor off axis. Brachyterapi Kegiatan Quality Control terdiri dari program Harian, mingguan, kwartalan, tahunan. Harian meliputi : Sistim pengaman interlock, panel control, pemeriksaan visual dan kebenaran data persiapan dari printer. Mingguan, meliputi : Kebenaran pemuatan sumber aktif pada posisi sumber tiruan dengan simulasi. Penetapan sumber aktif. Kwartalan, meliputi : Kalibarsi Fungsi timer Kebenaran pemeriksaan terhadap pemandu sumber dan penghubung Kesatuan mekanik Tahunan, meliputi : Algoritma perhitungan dosis. Peragaan kondisi kecelakaan. Pemeriksaan terhadap sumber. d.

2. Program dan Kegiatan Pemeliharaan Pesawat. Kegiatan ini dimaksudkan agar selalu terawat dan terjaga keakuratan pesawat yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu : a. Pesawat Varian Harian meliputi : Cet laser, field size, dan lain-lain. Mingguan meliptui : Kalibrasi out put, cek kabel conection, Cek kabel conection, cek accessories pesawat Bulanan meliputi : Cek bateray, fan operator, dan membersihakan filter Udara, Modulator cabinet, stand, dan lain-lain.

b. Pesawat Co-60 meliputi : Mekanik pesawat CO-60, yaitu : FSD dan FID Keselamatan radiasi, yaitu : Fungsi interlock dan alat monitoring.

PENUTUP Dewasa ini radioterapi merupakan salah satu cabang dunia kedokteran yang masih handal dalam menangani penyakit kanker. Namun pemanfaatannya harus dengan estimasi dosis yang tepat agar terapi kanker tidak menimbulkan kanker baru pada jaringan normal, dengan cara memberikan dosis semaksimal mungkin terhadap jaringan kanker dan seminimal mungkin terhadap jaringan normal sesuai toleransi dosis jaringan, dan juga perlu dilakukan jaminan kualitas secara berkala terhadap semua perangkat radoterapi agar dosis yang dihasilkan tepat sesuai dengan kalkulasi.