Anda di halaman 1dari 11

SIMULASI ALIRAN DAYA PADA PENYULANG 2 GARDU INDUK RAWALO DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE ETAP 7.0

Unggul Dzackiy K 1 , Ir. Bambang Winardi 2

1 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, Indonesia Email : l2f007077@student.undip.ac.id

Abstrak Studi aliran daya merupakan penentuan atau perhitungan tegangan, arus, daya aktif maupun daya reaktif yang terdapat pada berbagai titik jaringan listrik pada keadaan operasi normal, baik yang sedang berjalan maupun yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Dengan studi aliran daya dapat mengetahui tegangan- tegangan pada setiap bus yang ada dalam sistem, baik magnitude maupun sudut fasa tegangan, daya aktif dan daya reaktif yang mengalir dalam setiap saluran yang ada dalam system, kondisi dari semua peralatan, apakah memenuhi batasbatas yang ditentukan untuk menyalurkan daya listrik yang diinginkan. Untuk menyelesaikan studi aliran daya, metode yang sering digunakan adalah metode Gauss-Seidel dan metode Newton Raphson. Metode Newton Raphson lebih cepat mencapai nilai konvergen sehingga proses iterasi yang berlangsung lebih sedikit. Pada Laporan kerja praktek ini, penulis akan membahas tentang simulasi aliran daya pada penyulang 2 Gardu induk rawalo dengan menggunaka software ETAP 7.0. Adapun metode aliran daya yang digunakan adalah metode newton-raphson. Kata kunci:Aliran daya, newton-raphson, ETAP

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Studi aliran daya merupakan penentuan atau perhitungan tegangan, arus, daya aktif maupun daya reaktif yang terdapat pada berbagai titik jaringan listrik pada keadaan operasi normal, baik yang sedang berjalan maupun yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Dengan studi aliran daya dapat mengetahui tegangan-tegangan pada setiap bus yang ada dalam sistem, baik magnitude maupun sudut fasa tegangan, daya aktif dan daya reaktif yang mengalir dalam setiap saluran yang ada dalam system, kondisi dari semua peralatan, apakah memenuhi batasbatas yang ditentukan untuk menyalurkan daya listrik yang diinginkan.

1.2 Tujuan

Mengetahui dan bisa menjalankan software ETAP Power Station untuk menganalisa aliran daya. Mengetahui losses dan drop tegangan pada penyulang 2 Gardu Induk Rawalo.

1.3 Pembatasan Masalah

Makalah ini membahas mengenai analisis aliran daya pada Gardu Induk Rawalo

dengan menggunakan ETAP Power Station 7.0.

Metode

Newton-Raphson.

aliran

daya

yang

digunakan

adalah

II. DASAR TEORI

2.1 Sistem Jaringan Distribusi

Ada tiga bagian penting dalam proses penyaluran tenaga listrik, yaitu: Pembangkitan, Penyaluran (transmisi) dan distribusi seperti pada gambar berikut :

(transmisi) dan distribusi seperti pada gambar berikut : Gambar 1 Tiga komponen utama dalam penyaluran tenaga

Gambar 1 Tiga komponen utama dalam penyaluran tenaga listrik

Jaringan Pada Sistem Distribusi tegangan menengah (Primer,20KV) dapat dikelompokkan menjadi lima model, yaitu Jaringan Radial, Jaringan hantaran penghubung (Tie Line), Jaringan Lingkaran (Loop), Jaringan Spindel dan Sistem Gugus atau Kluster.

Jaringan Radial Sistem distribusi dengan pola Radial seperti gambar di bawah ini. Sistem distribusi yang paling sederhana dan ekonomis. Pada sistem ini terdapat beberapa penyulang yang menyuplai beberapa gardu distribusi secara radial.

yang menyuplai beberapa gardu distribusi secara radial . Gambar 2 Konfigurasi Jaringan Distribusi Radial Jaringan

Gambar 2 Konfigurasi Jaringan Distribusi Radial

Jaringan Hantaran Penghubung (Tie Line)

Sistem distribusi Tie Line seperti pada

gambar di bawah ini digunakan untuk pelanggan

penting yang tidak boleh padam (Bandar Udara,

Rumah Sakit, dan lainlain).

tidak boleh padam (Bandar Udara, Rumah Sakit, dan lainlain). Gambar 3 Konfigurasi Jaringan Tie Line Jaringan

Gambar 3 Konfigurasi Jaringan Tie Line

Jaringan Lingkar (Loop)

Pada Jaringan Tegangan Menengah

Struktur Lingkaran (Loop) seperti gambar di

bawah ini dimungkinkan pemasokannya dari

beberapa gardu induk, sehingga dengan

demikian tingkat keandalannya relatif lebih baik.

dengan demikian tingkat keandalannya relatif lebih baik. Gambar 4 Konfigurasi Jaringan Loop Jaringan Spindel Sistem

Gambar 4 Konfigurasi Jaringan Loop

Jaringan Spindel

Sistem Spindel seperti pada gambar di

bawah ini adalah suatu pola kombinasi jaringan

dari pola Radial dan Ring. Spindel terdiri dari

beberapa penyulang (feeder) yang tegangannya

diberikan dari Gardu Induk dan tegangan

tersebut berakhir pada sebuah Gardu Hubung

(GH).

tegangan tersebut berakhir pada sebuah Gardu Hubung (GH). Gambar 5 Konfigurasi Jaringan Spindel Sistem Gugus atau

Gambar 5 Konfigurasi Jaringan Spindel

Sistem Gugus atau Sistem Kluster

Konfigurasi Gugus seeperti pada gambar

di bawah ini banyak digunakan untuk kota besar

yang mempunyai kerapatan beban yang tinggi.

Dalam sistem ini terdapat Saklar Pemutus

Beban, dan penyulang cadangan.

Gambar 6 Konfigurasi Jaringan Gugus atau Sistem Kluster 2.2 Studi Aliran Daya listrik Studi aliran

Gambar 6 Konfigurasi Jaringan Gugus atau Sistem Kluster

2.2 Studi Aliran Daya listrik

Studi aliran daya merupakan penentuan atau

perhitungan tegangan, arus, daya aktif maupun

daya reaktif yang terdapat pada berbagai titik

jaringan listrik pada keadaan operasi normal,

baik yang sedang berjalan maupun yang

diharapkan akan terjadi di masa yang akan

datang (Stevenson,1996).

Adapun tujuan dari studi analisa aliran

daya antara lain (Sulasno,1993):

a. Untuk mengetahui tegangan-tegangan pada

setiap bus yang ada dalam sistem, baik

magnitude maupun sudut fasa tegangan.

b. Untuk mengetahui daya aktif dan daya

reaktif yang mengalir dalam setiap saluran

yang ada dalam sistem.

c. Untuk mengetahui kondisi dari semua

peralatan, apakah memenuhi batasbatas

yang ditentukan untuk menyalurkan daya

listrik yang diinginkan.

d. Untuk memperoleh kondisi mula pada

perencanaan sistem yang baru.

e. Untuk memperoleh kondisi awal untuk

studi-studi selanjutnya seperti : studi

hubung singkat, stabilitas, dan pembebanan

ekonomis.

Beberapa hal di atas inilah yang sangat

diperlukan untuk menganalisa keadaan sekarang

dari sistem guna perencanaan perluasan sistem

yang akan datang.

Persamaan umum untuk arus yang mengalir

menuju suatu bus adalah (Pai,1979) :

I 1 = Y 11 V 1 + Y 12 V 2 + Y 13 V 3 + … + Y 1n V n

I 2 = Y 21 V 1 + Y 22 V 2 + Y 23 V 3 + … + Y 2n V n

I 3 = Y 31 V 1 + Y 32 V 2 + Y 33 V 3 + … + Y 3n V n

 

.

.

.

.

.

 

.

.

.

.

.

 

.

.

.

.

.

I n = Y n1 V 1 + Y n2 V 2 + Y n3 V 3 + … + Y nn V n

(1)

atau dapat juga ditulis dengan persamaan

berikut :

=

=1

; = 1,2,3, ,

(2)

Daya kompleks pada bus p tersebut adalah :

S p = P p + jQ p = V p I p *

(3)

dengan memasukkan Persamaan (2) ke

Persamaan (3) akan menghasilkan :

+ =

=1

Apabila

bagian

real

 

(4)

dan

imajiner

dari

Persamaan (4) dipisahkan maka akan diperoleh :

= =

=1

=1

(5)

(6)

apabila impedansi dinyatakan dalam bentuk

siku-siku maka :

Y pq = G pq + jB pq

sehingga persamaan daya pada Persamaan

(5) dan (6) akan menjadi:

=

=1

sin

=

=1

cos

cos

+

(7)

sin

+

(8)

Metode Newton Raphson

Pada metode Newton Raphson, slack bus

diabaikan dari perhitungan iterasi untuk

menentukan tegangan-tegangan, karena besar

dan sudut tegangan pada slack bus telah

ditentukan. Sedangkan pada generator bus , daya

aktif dan magnitude tegangan bernilai tetap,

sehingga hanya daya reaktif yang dihitung pada

setiap iterasinya. Dalam analisa aliran daya, ada

dua persamaan yang harus diselesaikan pada

tiap-tiap bus. Kedua persamaan itu adalah

seperti pada Persamaan (7) dan Persamaan (8).

Dalam penyelesaian iterasi pada metode

Newton Raphson, nilai dari daya aktif (P p ) dan

daya reaktif (Q p) yang telah dihitung harus

dibandingkan dengan nilai yang ditetapkan,

dengan persamaan berikut (Pai,1979):

=

=

+sin

=1

= 1,2,3, .

=

=

cos

=1

= 1,2,3, .

cos

(9)

sin

(10)

dimana superskrip spec berarti yang

ditetapkan (specified) dan calc adalah yang

dihitung (calculated).

Proses iterasi ini akan berlangsung sampai

perubahan daya aktif (ΔP p ) dan perubahan daya

reaktif (ΔQ p ) tersebut telah mencapai nilai

konvergen (ε ) yang telah ditetapkan. Pada

umumnya nilai konvergen antara 0,01 sampai

0,0001. (Sulasno,1993).

Matrik Jacobian terdiri dari turunan

parsial dari P dan Q terhadap masing-masing

variabel, besar dan sudut fasa tegangan, dalam

Persamaan (7) dan Persamaan (8). Besar dan

sudut fasa tegangan yang diasumsikan serta daya

aktif dan daya reaktif yang dihitung digunakan

untuk mendapatkan elemenelemen Jacobian.

Setelah itu akan diperoleh harga dari perubahan

besar tegangan, , dan perubahan sudut fasa

tegangan, Δδ.

Secara umum persamaan tersebut dapat

ditulis sebagai berikut (Pai,1979):

=

(11)

Submatrik H, N, J, L menunjukkan

turunan parsial dari Persamaan (7) dan (8)

terhadap |V | dan δ, dimana matrik tersebut

disebut matrik Jacobian. Nilai dari masing-

masing elemen Jacobian sebagai berikut

(Pai,1979):

a. Untuk p q

=

=

cos

sin

=

=

sin

=

=

cos

+

+

=

=

sin

cos

(12)

b.

Untuk p = q

=

=

=

= +

= +

2

=

=

=

2

2

2

(13)

dengan :

=

=1

sin

=

=1

cos

cos

+

sin

+

III. SIMULASI ALIRAN DAYA DENGAN

MENGGUNAKAN ETAP

Diagram Segaris (Single Line Diagram).

DAYA DENGAN MENGGUNAKAN ETAP Diagram Segaris (Single Line Diagram). Gambar 7. Single line diagram penyulang 2

Gambar 7. Single line diagram penyulang 2 GI Rawalo

Line Tabel 1 line data penyulang 2 GI Rawalo

ID

Connected Bus ID

Panjang

From Bus

To Bus

(m)

Line 01

BUS 02

BUS 03

100

Line 02

BUS 03

BUS 04

50

Line 03

BUS 04

BUS 05

150

Line 04

BUS 05

BUS 06

200

Line 05

BUS 06

BUS 07

650

Line 06

BUS 07

BUS 08

455

Line 07

BUS 08

BUS 09

65

Line 08

BUS 09

BUS 10

455

Line 09

BUS 10

BUS 11

150

Line 10

BUS 11

BUS 12

150

Line 11

BUS 12

BUS 13

50

Line 12

BUS 13

BUS 14

195

Line 13

BUS 14

BUS 15

65

Line 14

BUS 15

BUS 16

390

Line 15

BUS 16

BUS 17

325

Line 16

BUS 17

BUS 18

1040

Line 17

BUS 18

BUS 19

250

Line 18

BUS 19

BUS 20

2400

Line 19

BUS 20

BUS 21

260

Line 20

BUS 21

BUS 22

390

Line 21

BUS 22

BUS 23

1040

Line 22

BUS 23

BUS 24

150

Line 23

BUS 24

BUS 25

700

Line 24

BUS 25

BUS 26

325

Line 25

BUS 26

BUS 27

455

Line 26

BUS 27

BUS 28

50

Line 27

BUS 28

BUS 29

150

Line 28

BUS 30

BUS 29

65

Line 29

BUS 28

BUS 31

50

Line 30

BUS 31

BUS 32

390

Line 31

BUS 32

BUS 33

325

Line 32

BUS 33

BUS 34

200

Line 33

BUS 34

BUS 35

50

Line 34

BUS 34

BUS 36

50

Line 35

BUS 36

BUS 37

450

Line 36

BUS 36

BUS 38

200

Line 37

BUS 38

BUS 39

65

Line 38

BUS 39

BUS 40

390

Line 39

BUS 40

BUS 41

250

Kabel yang digunakan pada penyulang 2 GI Rawalo adalah kabel jenis AAAC luas penampang 240mm 2 dengan impedansi sebesar R 1 =R 2 = 0,1344 ohm/km, jX 1 =jX 2 =0,3158 ohm/km, R 0 = 0,2824 ohm/km, jX 0 = 1,6033 ohm/km.

Beban Adapun data beban sebagai berikut:

Tabel 2 data beban penyulang 2 GI Rawalo

Bus

Load

ID

kV

MW

Mvar

BUS 05

20,000

0.4713

0.2921

BUS 06

20,000

0.0428

0.0266

BUS 07

20,000

0.0428

0.0266

BUS 08

20,000

0.0214

0.0133

BUS 09

20,000

0.0428

0.0266

BUS 10

20,000

0.1500

0.0929

BUS 13

20,000

0.0425

0.0263

BUS 14

20,000

0.0214

0.0133

BUS 15

20,000

0.0214

0.0133

BUS 16

20,000

0.0428

0.0266

BUS 17

20,000

0.0643

0.0398

BUS 18

20,000

0.1500

0.0929

BUS 19

20,000

0.0214

0.0133

BUS 20

20,000

0.0428

0.0266

BUS 21

20,000

0.0129

0.0080

BUS 22

20,000

0.0214

0.0133

BUS 23

20,000

0.0214

0.0133

BUS 25

20,000

0.0428

0.0266

BUS 26

20,000

0.0214

0.0133

BUS 27

20,000

0.0428

0.0266

BUS 29

20,000

0.0214

0.0133

BUS 30

20,000

0.7713

0.4780

BUS 31

20,000

0.0428

0.0266

BUS 32

20,000

0.0428

0.0266

BUS 33

20,000

0.0214

0.0133

BUS 35

20,000

0.4071

0.2523

BUS 37

20,000

0.0428

0.0266

BUS 38

20,000

0.0428

0.0266

BUS 39

20,000

0.0428

0.0266

BUS 40

20,000

0.1071

0.0664

BUS 41

20,000

0.0214

0.0133

Hasil Simulasi dengan Menggunaka ETAP

Tabel 3 Daya yang mengalir pada bus

Bus

Generation

Load

 

Load Flow

ID

kV

MW

Mvar

MW

Mvar

ID

MW

Mvar

Amp

% PF

BUS 01

150

2.7773

1.8389

0

0

BUS 02

2.7773

1.8389

12.8205

83.3802

BUS 02

20

0

0

0

0

BUS 03

2.7747

1.7522

96.1541

84.5519

           

BUS 01

-2.7747

-1.7522

96.1541

84.5519

BUS 03

20

0

0

0

0

BUS 02

-2.7744

-1.7513

96.1541

84.5613

           

BUS 04

2.7744

1.7513

96.1541

84.5613

BUS 04

20

 

0

0

0

BUS 03

-2.7742

-1.7509

96.1541

84.5659

           

BUS 05

2.7742

1.7509

96.1541

84.5659

BUS 05

20

0

0

0.4569

0.2832

BUS 04

-2.7738

-1.7496

96.1541

84.5800

           

BUS 06

2.3169

1.4664

80.3946

84.4970

BUS 06

20

0

0

0.0415

0.0257

BUS 05

-2.3164

-1.4652

80.3946

84.5126

           

BUS 07

2.2749

1.4395

78.9625

84.5037

BUS 07

20

0

0

0.0414

0.0257

BUS 06

-2.2736

-1.4357

78.9625

84.5536

           

BUS 08

2.2322

1.4100

77.5321

84.5453

BUS 08

20

0

0

0.0207

0.0128

BUS 07

-2.2312

-1.4074

77.5321

84.5797

           

BUS 09

2.2106

1.3946

76.8174

84.5757

BUS 09

20

0

0

0.0413

0.0256

BUS 08

-2.2104

-1.3942

76.8174

84.5806

           

BUS 10

2.1691

1.3686

75.3883

84.5726

BUS 10

20

0

0

0.1444

0.0895

BUS 09

-2.1682

-1.3662

75.3883

84.6060

           

BUS 11

2.0238

1.2767

70.3904

84.5779

BUS 11

20

0

0

0

0

BUS 10

-2.0236

-1.2760

70.3904

84.5882

           

BUS 12

2.0236

1.2760

70.3904

84.5882

BUS 12

20

0

0

0

0

BUS 11

-2.0233

-1.2753

70.3904

84.5984

           

BUS 13

2.0233

1.2753

70.3904

84.5984

BUS 13

20

0

0

0.0409

0.0253

BUS 12

-2.0232

-1.2750

70.3904

84.6019

           

BUS 14

1.9823

1.2497

68.9749

84.5937

BUS 14

20

0

0

0.0206

0.0128

BUS 13

-1.9820

-1.2488

68.9749

84.6068

           

BUS 15

1.9614

1.2360

68.2615

84.6026

BUS 15

20

0

0

0.0206

0.0128

BUS 14

-1.9613

-1.2358

68.2615

84.6070

           

BUS 16

1.9407

1.2230

67.5482

84.6028

BUS 16

20

0

0

0.0411

0.0255

BUS 15

-1.9401

-1.2213

67.5482

84.6285

           

BUS 17

1.8990

1.1958

66.1225

84.6204

BUS 17

20

0

0

0.0616

0.0382

BUS 16

-1.8985

-1.1945

66.1225

84.6414

           

BUS 18

1.8369

1.1563

63.9851

84.6294

BUS 18

20

0

0

0.1434

0.0889

BUS 17

-1.8355

-1.1522

63.9851

84.6944

           

BUS 19

1.6921

1.0634

59.0053

84.6685

BUS 19

20

0

0

0.0205

0.0127

BUS 18

-1.6918

-1.0626

59.0053

84.6829

           

BUS 20

1.6713

1.0499

58.2942

84.6790

BUS 20

20

0

0

0.0407

0.0252

BUS 19

-1.6686

-1.0422

58.2942

84.8160

           

BUS 21

1.6279

1.0170

56.8765

84.8114

BUS 21

20

0

0

0.0122

0.0076

BUS 20

-1.6276

-1.0162

56.8765

84.8259

           

BUS 22

1.6154

1.0086

56.4514

84.8246

BUS 22

20

0

0

0.0203

0.0126

BUS 21

-1.6150

-1.0074

56.4514

84.8462

           

BUS 23

1.5947

0.9948

55.7431

84.8442

BUS 23

20

0

0

0.0202

0.0125

BUS 22

-1.5936

-0.9918

55.7431

84.9011

           

BUS 24

1.5734

0.9792

55.0359

84.8998

BUS 24

20

0

0

0

0

BUS 23

-1.5732

-0.9788

55.0359

84.9079

           

BUS 25

1.5732

0.9788

55.0359

84.9079

BUS 25

20

0

0

0.0404

0.0250

BUS 24

-1.5725

-0.9768

55.0359

84.9458

           

BUS 26

1.5321

0.9518

53.6229

84.9443

BUS 26

20

0

0

0.0202

0.0125

BUS 25

-1.5318

-0.9509

53.6229

84.9615

           

BUS 27

1.5116

0.9384

52.9167

84.9610

BUS 27

20

0

0

0.0403

0.0250

BUS 26

-1.5112

-0.9372

52.9167

84.9846

           

BUS 28

1.4709

0.9122

51.5050

84.9842

BUS 28

20

0

0

0

0

BUS 27

-1.4708

-0.9121

51.5050

84.9867

           

BUS 29

0.7457

0.4622

26.1102

84.9946

           

BUS 31

0.7251

0.4498

25.3949

84.9787

BUS 29

20

0

0

0.0202

0.0125

BUS 28

-0.7457

-0.4622

26.1102

84.9984

           

BUS 30

0.7255

0.4497

25.4045

84.9984

BUS 30

20

0

0

0.7255

0.4496

BUS 29

-0.7255

-0.4496

25.4045

85.0000

BUS 31

20

0

0

0.0403

0.0250

BUS 28

-0.7251

-0.4498

25.3949

84.9799

           

BUS 32

0.6848

0.4248

23.9834

84.9787

BUS 32

20

0

0

0.0403

0.0250

BUS 31

-0.6847

-0.4246

23.9834

84.9880

           

BUS 33

0.6444

0.3996

22.5722

84.9872

BUS 33

20

0

0

0.0201

0.0125

BUS 32

-0.6444

-0.3994

22.5722

84.9944

           

BUS 34

0.6242

0.3870

21.8667

84.9942

BUS 34

20

0

0

0

0

BUS 33

-0.6242

-0.3869

21.8667

84.9985

           

BUS 35

0.3826

0.2371

13.4024

84.9993

           

BUS 36

0.2416

0.1498

8.4643

84.9973

BUS 35

20

0

0

0.3826

0.2371

BUS 34

-0.3826

-0.2371

13.4024

85.0000

BUS 36

20

0

0

0

0

BUS 34

-0.2416

-0.1498

8.4643

84.9977

           

BUS 37

0.0403

0.0250

1.4108

84.9994

           

BUS 38

0.2013

0.1248

7.0535

84.9973

BUS 37

20

0

0

0.0403

0.0250

BUS 36

-0.0403

-0.0250

1.4108

85.0000

BUS 38

20

0

0

0.0403

0.0250

BUS 36

-0.2013

-0.1248

7.0535

84.9987

           

BUS 39

0.1611

0.0998

5.6428

84.9984

BUS 39

20

0

0

0.0403

0.0250

BUS 38

-0.1611

-0.0998

5.6428

84.9988

           

BUS 40

0.1208

0.0749

4.2320

84.9983

BUS 40

20

0

0

0.1007

0.0624

BUS 39

-0.1208

-0.0749

4.2320

85.0000

           

BUS 41

0.0201

0.0125

0.7053

84.9998

BUS 41

20

0

0

0.0201

0.0125

BUS 40

-0.0201

-0.0125

0.7053

85.0000

 

TOTAL

2.7598

1.7104

         

Dari tabel di atas dapat dilihat daya yang mengalir pada tiap bus. Besarnya daya yang mengalir tergantung pada beban yang terpasang pada bus tersebut. Pada beberapa bus besarnya nilai beban sebesar 0 (nol), hal ini disebabkan karena daya yang masuk pada bus tersebut sama dengan daya yang keluar dari bus tersebut.

Tabel 4 Losses dan drop voltage

   

Losses

% Vd

ID

Type

   

in

kW

kVar

Vmag

Trafo

Trafo

2.6002

86.6385

1.4781

Line 01

Line

0.3120

0.8757

0.0220

Line 02

Line

0.1560

0.4378

0.0110

Line 03

Line

0.4681

1.3135

0.0329

Line 04

Line

0.4363

1.2243

0.0367

Line 05

Line

1.3678

3.8384

0.1172

Line 06

Line

0.9231

2.5904

0.0805

Line 07

Line

0.1295

0.3633

0.0114

Line 08

Line

0.8728

2.4491

0.0783

Line 09

Line

0.2508

0.7039

0.0241

Line 10

Line

0.2508

0.7039

0.0241

Line 11

Line

0.0836

0.2346

0.0080

Line 12

Line

0.3131

0.8786

0.0307

Line 13

Line

0.1022

0.2869

0.0101

Line 14

Line

0.6006

1.6853

0.0601

Line 15

Line

0.4796

1.3458

0.0490

Line 16

Line

1.4370

4.0326

0.1517

Line 17

Line

0.2938

0.8244

0.0336

Line 18

Line

2.7526

7.7243

0.3186

Line 19

Line

0.2839

0.7966

0.0336

Line 20

Line

0.4195

1.1771

0.0501

Line 21

Line

1.0907

3.0606

0.1318

Line 22

Line

0.1533

0.4303

0.0188

Line 23

Line

0.7156

2.0081

0.0875

Line 24

Line

0.3154

0.8851

0.0396

Line 25

Line

0.4300

1.2067

0.0546

Line 26

Line

0.0448

0.1256

0.0058

Line 27

Line

0.0345

0.0969

0.0089

Line 28

Line

0.0109

0.0305

0.0029

Line 29

Line

0.0142

0.0397

0.0037

Line 30

Line

0.0757

0.2125

0.0212

Line 31

Line

0.0559

0.1568

0.0166

Line 32

Line

0.0323

0.0906

0.0099

Line 33

Line

0.0030

0.0085

0.0015

Line 34

Line

0.0012

0.0034

0.0010

Line 35

Line

0.0003

0.0008

0.0014

Line 36

Line

0.0034

0.0094

0.0032

Line 37

Line

0.0007

0.0020

0.0008

Line 38

Line

0.0024

0.0066

0.0037

Line 39

Line

0.0000

0.0001

0.0004

 

Total

17.5173

128.4993

 

Tabel 5

Hasil simulasi tegangan pada tiap bus

Bus

Voltage

ID

kV

%Mag

Ang.

BUS 01

150

100.0000

0.0000

BUS 02

20

98.5219

-1.2363

BUS 03

20

98.4999

-1.2463

BUS 04

20

98.4890

-1.2513

BUS 05

20

98.4560

-1.2664

BUS 06

20

98.4193

-1.2831

BUS 07

20

98.3020

-1.3366

BUS 08

20

98.2215

-1.3735

BUS 09

20

98.2101

-1.3787

BUS 10

20

98.1318

-1.4146

BUS 11

20

98.1077

-1.4257

BUS 12

20

98.0836

-1.4367

BUS 13

20

98.0756

-1.4404

BUS 14

20

98.0449

-1.4545

BUS 15

20

98.0348

-1.4592

BUS 16

20

97.9747

-1.4868

BUS 17

20

97.9256

-1.5094

BUS 18

20

97.7739

-1.5794

BUS 19

20

97.7403

-1.5949

BUS 20

20

97.4217

-1.7427

BUS 21

20

97.3881

-1.7584

BUS 22

20

97.3380

-1.7818

BUS 23

20

97.2063

-1.8434

BUS 24

20

97.1875

-1.8522

BUS 25

20

97.1000

-1.8933

BUS 26

20

97.0605

-1.9119

BUS 27

20

97.0058

-1.9376

BUS 28

20

97.0000

-1.9404

BUS 29

20

96.9911

-1.9446

BUS 30

20

96.9874

-1.9463

BUS 31

20

96.9971

-1.9417

BUS 32

20

96.9759

-1.9517

BUS 33

20

96.9592

-1.9596

BUS 34

20

96.9493

-1.9643

BUS 35

20

96.9478

-1.9650

BUS 36

20

96.9484

-1.9647

BUS 37

20

96.9469

-1.9654

BUS 38

20

96.9452

-1.9662

BUS 39

20

96.9443

-1.9666

BUS 40

20

96.9406

-1.9684

BUS 41

20

96.9402

-1.9686

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa, semakin jauh/panjang saluran maka tegangan akan semakin turun dan perbedaan sudut akan semakin besar. Akan tetapi profil tegangan masih dalam batas toleransi ± 5% yaitu sebesar 96,9402% dari tegangan base (20 kV) atau sebesar 19.3880 kV.

IV. KESIMPULAN

1. Besarnya tegangan pada ujung bus (BUS 41) yaitu sebesar 96.9402% masih dalam batas toleransi yaitu sebesar ±5%.

2. Semakin besar beban maka lossesnya akan semakin besar pula, hal itu dikarenakan pada saat beban bertambah maka arus akan bertambah pula sehingga rugi-rugi saluran

(I 2 R) akan semakin besar pula.

3. Total beban pada penyulang 2 Gardu Induk Rawalo sebesar 2.7598 MW dan 1.7104 Mvar

4. Total losses pada penyulang 2 Gardu Induk Rawalo sebesar 0.0175 MW dan 0.1285 Mvar.

DAFTAR PUSTAKA [1] John J. Grainger, William D. Stevenson, Jr., Power System Analysis”, McGraw-Hill Inc, 1994 [2] Hadi Saadat, “Power System Analysis”, McGraw-Hill Inc, 1999

[3]

Turan

Gonen,

Modern

Power

System

Analysis”, John Wiley & Sons, 1988

[4]

Sulasno,

Ir.

Analisis

Sistem

tenaga”,Semarang:

Badan

Penerbit

Universitas Diponegoro, 1993

[5]

Sulasno,

Ir.

Sistem

Distribusi Tenaga

Listrik”,Semarang: Satya Wacana, 1993

BIODATA PENULIS

Unggul Dzackiy Kurniawan, lahir di Cilacap 10 April 1989. Menempuh pendidikan di SD Negeri Kalisabuk 03, SMP Negeri 2 Maos, SMA Negeri 1 Purwokerto dan sekarang sebagai mahasiswa Teknik Elektro Universitas Diponegoro

sebagai mahasiswa Teknik Elektro Universitas Diponegoro Semarang, November 2011 Mengetahui, Dosen Pembimbing Ir.

Semarang, November 2011 Mengetahui, Dosen Pembimbing

Ir. Bambang Winardi 19610616 199303 1 002