Anda di halaman 1dari 35

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.

07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 1 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
MONITORING KINERJA WATERFLOOD


1. TUJUAN

Memperoleh kesuksesan dalam operasi waterflood dengan melakukan monitoring (pengawasan)
terhadap sumur injeksi dan sumur produksi menggunakan data-data di bawah ini yang dapat diperoleh
dari uji sumur produksi/injeksi :
1. permeabilitas formasi
2. kontinuitas antar sumur (interwell continuity), seperti : patahan, rekahan, barriers, dan lain-lain
3. profil tekanan antar sumur dari data tekanan sumur
4. evaluasi dari kerusakan formasi
5. integritas lubang sumur (kebocoran casing/tubing)
6. sifat-sifat fluida
7. evaluasi post-treatment
8. data untuk mengevaluasi efisiensi pembanjiran (flood efficiency)


2. SUMUR INJEKSI

Kinerja sumur injeksi harus dioptimalkan agar kinerja waterflood dapat dimaksimalkan. Beberapa
pertimbangan yang diperlukan adalah menyetel tekanan dan laju alir sumur injeksi.
Pengawasan sumur injeksi meliputi analisa laju alir dan tekanan menggunakan teknik plotting
pengawasan. Log injeksi dan cased hole digunakan untuk menyediakan informasi mengenai kinerja
dan kondisi mekanis sumur.
Skema dari sistemasi analisis sumur injeksi ditunjukkan pada Gambar 1. Flow chart tersebut tidak
dapat diasumsikan telah mewakili seluruh proyek waterflood karena setiap lapangan memiliki
persyaratan yang spesifik dan unik untuk pengujian dan analisisnya, untuk memastikan produksi yang
optimal.


TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 2 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 3 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

Survei tentang integritas mekanik dari setiap sumur harus sudah dilakukan sebelum mengubah
sumur menjadi sumur injeksi. Tingkat pelayanan dari seluruh komponen kepala sumur, tubing dan
casing harus dievaluasi untuk memastikan bahwa sumur memenuhi syarat untuk melaksanakan
waterflood. Masalah fill, junk, korosi dan scale harus diidentifikasikan. Ada kemungkinan diperlukan
workover atau dilakukan pekerjaan pemeliharaan dalam rangka perbaikan pada beberapa sumur
sebelum dilakukan flooding. Rekomplesi, plugbacks, deepenings, reperforasi, squeeze cementing dan
clean-outs perlu diselesaikan.
Sejarah stimulasi dari setiap sumur harus direview. Potensi untuk dilakukannya stimulasi di masa
mendatang harus dipertimbangkan. Jika kapasitas injeksi membutuhkan fill-up saturasi gas dan
pelaksanaan proses pemindahan dipertanyakan, maka ada kemungkinan dibutuhkan stimulasi. Jika
stimulasi perekahan hidraulik direkomendasikan, desain panjang dan arah rekahan harus
mempertimbangkan ukuran pola (well spacing), geometri dan arah. Stratifikasi vertikal dari reservoir
mengakibatkan perlunya kontrol terhadap perpanjangan vertikal dari rekahan dan memastikan bahwa
fluida injeksi hanya memasuki formasi yang menjadi target.

2.1. PERTIMBANGAN OPERASIONAL
Pertanyaan pertama yang muncul saat akan dilakukan injeksi air di sumur adalah berapa
laju dan tekanan injeksi yang harus dilakukan. Sekilas, mudah saja untuk mengasumsikan bahwa
laju injeksi yang paling besar merupakan yang terbaik karena semakin tinggi laju injeksi
mengacu pada semakin cepat terjadi fill-up dan lebih besar throughput. Sesungguhnya, untuk
melakukan injeksi pada laju maksimum, tekanan maksimum yang tersedia dari pompa injeksi
dapat digunakan. Tetapi tidak selalu mungkin atau bijaksana untuk melakukan hal tersebut.
Beberapa pertimbangan harus dilakukan dalam memutuskan bagaimana mengoperasikan proses
injeksi dari waterflood.
Ada keyakinan yang telah diketahui secara luas bahwa adanya rekahan akan menurunkan
daerah penyapuan secara universal karena terbentuknya channels dengan konduktivitas tinggi
antara injektor dan produsen. Juga diyakini bahwa injeksi yang dilakukan di atas harga tekanan
daerah formasi akan menurunkan efisiensi penyapuan vertikal karena fluida injeksi dapat masuk
ke dalam formasi yang tidak seharusnya. Pada kondisi tertentu asumsi ini benar, tetapi tidak
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 4 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
selalu menjadi alternatif terbaik untuk beroperasi pada tekanan injeksi yang terdesak oleh
tekanan daerah formasi.
Sumur injeksi air yang telah direkahkan secara hidraulik memungkinkan air diinjeksikan
pada laju yang lebih tinggi yang mengacu pada peningkatan jari-jari lubang bor efektif (r
w
) atau
melewati kerusakan lubang sumur. Jika diketahui arah dominan dari rekahan, mungkin dapat
ditunjukkan bahwa adanya rekahan dapat memperbaiki, daripada menurunkan, efisiensi
penyapuan.
Jika arah dominan dari rekahan mengindikasikan bahwa rekahan hidraulik yang terjadi di
sumur injeksi akan menyebar ke arah sumur produksi dan panjang rekahan akan melebihi sekitar
1/3 jarak antar sumur, maka efisiensi daerah penyapuan akan menurun. Terlepas dari arah
rekahan, proyek dengan well spacing yang lebih kecil dapat menurun karena perekahan sumur
injeksi.
Laju injeksi harus disesuaikan untuk menyesuaikan dengan kapasitas sumur produksi. Laju
injeksi air steady state diberikan oleh persamaan
(

+
|
|
.
|

\
|

=
S
r
r
B
P P h kk
i
w
e
w w
e iwf rw
w
ln 2 . 141
) (

(1)
Laju injeksi air dapat dikontrol dengan tekanan rekah formasi dan permeabilitas relatif air.
Jika tekanan reservoir meningkat, tekanan daerah formasi akan cenderung meningkat. Ketika
saturasi air di sekitar sumur injeksi meningkat, permeabilitas relatif air akan cenderung
meningkat. Kinerja sifat dinamik alami dari sumur injeksi inilah yang membuat pengawasan
secara kontinyu dari parameter kinerja sumur sangat penting. Tekanan daerah formasi dapat
ditentukan dengan melakukan uji step-rate.
Saat menentukan parameter operasi dari sumur injeksi air biasanya paling baik menentukan
tekanan kepala sumur injeksi maksimum. Ada kemungkinan tidak bijaksana untuk menentukan
laju alir kecuali rekahan hidraulik yang ada tidak dipertimbangkan. Dengan berlangsungnya
injeksi, suatu sumur dapat dan akan membentuk kerusakan formasi karena partikel materi yang
terlarut dalam air akan tersaring oleh sand face. Tekanan injeksi dasar sumur yang semakin
tinggi akan diperlukan untuk mempertahankan laju injeksi yang sudah ditentukan. Suatu ketika
tekanan injeksi dasar sumur akan melebihi tekanan daerah formasi dan sumur akan rekah.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 5 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu




2.2. KUALITAS AIR
Idealnya, air injeksi tidak boleh menyebabkan kehilangan injektivitas selama masa hidup
pembanjiran.
1)
Air injeksi tidak boleh menyebabkan korosi pada sistem injeksi. Masalah yang
berhubungan dengan menangani dan menginjeksikan sejumlah besar air dapat dikontrol dengan
membuat suatu spesifikasi untuk kualitas air injeksi. Beberapa masalah yang dapat ditimbulkan
oleh rendahnya kualitas air, antara lain
2)
:
a. Tersumbatnya formasi karena padatan terlarut.
b. Kerusakan formasi karena ketidakcocokan formasi dengan air injeksi.
c. Korosi dan scaling dari benda-benda tubular, bejana dan peralatan lainnya.
Masalah di atas biasanya saling terkait dan tidak berdiri sendiri. Sebagai contoh,
terbentuknya endapan besi biasanya merupakan akibat dari korosi pada tubular dan suatu ketika
akan menghancurkan sistem injeksi. Sebagai hasil dari proses korosi, partikel endapan besi akan
meluruh, masuk ke dalam air injeksi dan menyumbat pada sand face.
Pencemar dalam air injeksi dapat hadir pada sumber air, terbentuk karena sistem injeksi
atau ditambahkan pada sistem injeksi.
Kualitas air injeksi yang rendah dapat menimbulkan efek yang mengganggu pada reservoir.
Penyumbatan akan menurunkan laju injeksi dan efisiensi penyapuan yang pada akhirnya akan
menyebabkan kehilangan pada pendapatan. Pengeluaran operasional akan meningkat sejalan
dengan meningkatnya aktivitas workover dan perbaikan sistem.

2.2.1. Sensitivitas Formasi
Banyak reservoir batuan pasir mengandung clay yang akan mengembang jika kontak
dengan air bersih atau air dengan kadar garam rendah. Formasi karbonat tidak secara
tipikal mengandung clay dan tidak rentan terhadap masalah tersebut. Formasi harus
dievaluasi untuk melihat kecocokannya dengan air injeksi sebelum memulai proyek injeksi
apapun.

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 6 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
2.2.2. Padatan Terlarut
Ukuran, distribusi dan komposisi dari padatan terlarut merupakan faktor utama dalam
kontrol kualitas air injeksi.

2.2.3. Korosi
Dalam sebagian besar situasi, sifat korosif air dikontrol dengan kehadiran gas terlarut.
Gas yang paling umum menyebabkan sifat korosi air adalah karbon dioksida (CO
2
),
hidrogen sulfida (H
2
S) dan oksigen (O
2
).
Karbon dioksida hadir pada konsentrasi yang berbeda-beda pada hampir seluruh air
permukaan. Air dengan pH rendah (bersifat asam) bisa memiliki konsentrasi CO
2
yang
tinggi. Hidrogen sulfida dapat timbul secara alami atau sebagai hasil dari aktivitas bakteri.
Oksigen hadir pada seluruh air permukaan dan pada beberapa air dari reservoir dangkal.
Pada sistem logam baja, oksigen harus dipisahkan secara mekanis atau dengan proses
kimiawi. Sebagian besar pencegah korosi kimiawi tidak dapat mencegah korosi dengan
media oksigen. Bahkan sejumlah kecil oksigen dapat mempercepat laju korosi. Jika
oksigen dan bakteri dipisahkan dari air, korosi biasanya dapat dikontrol dengan pencegah
korosi kimiawi.

2.2.4. Endapan (Scale)
Endapan formasi dapat membatasi aliran dalam tubular, menjadi media dari korosi
yang parah dan menyumbat formasi. Endapan karbonat atau sulfat dari air biasanya dapat
dikontrol dengan proses kimiawi. Endapan besi biasanya merupakan tanda dari kehadiran
masalah kontrol korosi. Lapisan endapan dapat terbentuk saat dua atau lebih air yang tidak
cocok bercampur. Pencampuran air dapat terjadi di sumur sumber air dimana dua atau
lebih formasi terbuka, dalam tubular dan fasilitas dimana air dari sumber yang berbeda
tercampur dan pada sumur produksi dimana air sumber dan air konat dapat bercampur
setelah breakthrough.

2.2.5. Bakteri
Bakteri pada sistem injeksi dapat menyebabkan penyumbatan biomass pada formasi
dan masalah korosi. Bakteri memberikan kontribusi pada korosi dengan membentuk
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 7 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
hidrogen sulfida sebagai produk metabolik, menghasilkan asam organik, menghasilkan
enzim yang menjadi media proses korosi elektrokimia dan mengoksidasi serta
mengendapkan besi terlarut. Sebagai hasil langsung dari proses metabolik ini, biomass
bakteri terproduksi. Biasanya bakteri membentuk koloni pada material padat. Saat koloni
meningkat ukurannya, sebagian koloni lepas ke dalam aliran injeksi dan terpompa ke dasar
lubang. Jawaban terbaik untuk masalah bakteri adalah pencegahan. Eliminasi daerah yang
menggenang dan berkecepatan rendah dimana organisme dapat melekat pada substrat
dapat membantu proses kontrol. Pengawasan yang hati-hati pada aktivitas biologis dan
penanggulangan sejak dini juga penting dalam operasi yang berhasil.

2.2.6. Minyak
Kehadiran minyak yang terdispersi dan teremulsi dalam air akan menurunkan kualitas
air juga. Masuknya minyak mentah adalah hal yang tipikal pada air formasi yang
terproduksi. Minyak bukanlah padatan terlarut, tetapi dapat berperan pada pengendapan di
saringan.

2.2.7. Filtrasi
Proses filtrasi biasanya digunakan untuk memisahkan padatan terlarut dari air injeksi.
Yang biasanya digunakan adalah :
a. Disposable cartridge filters; paling baik digunakan pada volume rendah dengan
konsentrasi padatan terlarut yang rendah (< 50 mg/l).
b. Sand filters; digunakan pada konsentrasi padatan terlarut yang rendah (< 50 mg/l). Juga
disebut rapid sand filters dan cocok untuk laju yang lebih tinggi.
c. Diatomaceous earth filters; cocok untuk diaplikasikan pada air dengan padatan terlarut
> 50 mg/l.
Pemakaian sand filter dan diatomaceous earth filter lebih baik digunakan dengan
disposable cartridge filter karena kedua filter yang disebutkan terdahulu rentan terhadap
laju yang melebihi batasan dan proses backwash yang tidak tepat.

2.2.8. Pengawasan dan Kontrol
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 8 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Pencegahan dan deteksi sejak dini merupakan hal terpenting dalam pemeliharaan air
injeksi berkualitas tinggi. Data berikut ini harus disurvei dan dianalisa secara sistematis :
a. komposisi air
b. padatan terlarut
c. sifat korosif
d. bacterial titer
e. kandungan minyak
f. parameter sistem (tekanan dan temperatur)
2.3. PENGUKURAN DATA
a. Tekanan
Sumur-sumur injeksi air merupakan sumber utama untuk memperoleh data tekanan
reservoir.
Pada sumur injeksi air yang beroperasi dengan kolom penuh terisi air dalam lubang
sumur akan menghilangkan kerumitan aliran multifasa. Efek wellbore storage dapat
diminimumkan dan perhitungan kehilangan tekanan yang disebabkan oleh gesekan dalam
tubular disederhanakan menjadi korelasi satu fasa. Tekanan dasar sumur menjadi fungsi dari
tekanan kepala sumur, gradien hidrostatik, kedalaman dan gesekan. Gesekan dalam tubular
adalah fungsi dari ukuran tubing dan laju alir.
Sumur injeksi air juga memungkinkan untuk mengambil data dari kepala sumur, yang
akan digunakan pada uji dan analisa transien tekanan.

b. Laju alir
Data laju alir injeksi biasanya dapat diperoleh dari peralatan metering yang dipasang
pada sumur. Biasanya peralatan ini dapat diandalkan untuk merekam volume kumulatif yang
dapat digunakan untuk memperoleh data laju alir (volume per satuan waktu). Jika diperlukan
laju alir secepatnya dapat digunakan flowmeter turbine. Kalibrasi peralatan yang digunakan
untuk mengumpulkan data uji selalu direkomendasikan.

2.4. INDEKS INJEKTIVITAS
a. Teori
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 9 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Plot kartesian dari indeks injektivitas (I) sebagai fungsi dari waktu adalah alat yang
berguna untuk mengevaluasi kondisi dari sumur injeksi. Indeks injektivitas didefinisikan oleh
persamaan :

(

+
|
|
.
|

\
|
=

=
S
r
r
B
h k
P P
i
I
w
e
w w
w
e iwf
w
ln 2 . 141
) (

(2)
Penurunan rasio ini terhadap waktu menunjukkan masalah pada sumur injeksi. Sumber
masalah yang paling besar adalah peningkatan pada faktor skin (S).


b. Indeks Injektivitas Spesifik
Indeks injektivitas spesifik adalah cara yang mudah untuk membandingkan kinerja
injeksi dari sumur yang berbeda yang berada pada formasi yang sama. Indeks ini
menghilangkan efek dari variasi pada ketebalan bersih interval komplesi sumur. Metode
perbandingan ini memungkinkan evaluasi kinerja dengan membandingkan faktor seperti
permeabilitas, skin dan radius lubang sumur efektif pada kerangka sumur konstan yang
dirujuk.

) (
e iwf
w
s
P P h
i
I

= (3)
Contoh plot skematis indeks injektivitas dapat dilihat pada Gambar 2. Sumur A
mempertahankan indeks injektivitas yang relatif konstan. Sumur B mengalami decline pada
pertengahan periode waktu yang digambarkan. Decline tersebut bisa merupakan indikasi
adanya kerusakan (damage) pada formasi. Plot ini hanya contoh dan perbandingan langsung
pada plot ini akan memberikan hasil yang tidak valid.

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 10 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu


Gambar 2. Plot Skematik Indeks Injektivitas
2.5. HALL PLOT
Plot ini merupakan teknik yang berguna untuk mengevaluasi kondisi dari sumur injeksi.
3,4)
Hall plot merupakan metoda penggunaan data injeksi terhadap waktu untuk "menghaluskan"
efek dari laju alir dan tekanan yang bervariasi serta kelakuan transien dari tekanan dalam sistem
aliran radial yang mempersulit sebagian besar teknik uji sumur.
Untuk menggunakan teknik Hall ini dibuat plot kartesian dari

) ( t P
iwh
sebagai fungsi
injeksi air kumulatif (W
i
). Hubungan keduanya harus linier. Penyimpangan yang terjadi
merupakan kunci untuk diagnostik. Kemiringan garis lurus tersebut didefinisikan sebagai :

h k
S
r
r
B
m
w
w
e
w w (

+
|
|
.
|

\
|
=
ln 2 . 141

Bila kondisi sumur berubah, maka kemiringan Hall plot akan berubah juga. Pada awal masa
penyapuan, Hall plot akan menunjukkan bentuk yang melengkung ke atas. Hal ini disebabkan
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 11 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
oleh ekspansi r
e
dan kenaikan P
e
. Efek ini semakin kecil dengan bertambah besarnya r
e
. Jika
sumur distimulasi kemiringan Hall akan berkurang.
Gambar 3 adalah contoh skematik dari Hall plot yang digunakan untuk mendemonstrasikan
beberapa kondisi yang dapat didiagnosa dengan teknik ini. Bagian kurva yang berlabel A adalah
bentuk melengkung ke atas yang muncul pada masa awal injeksi. Selama periode waktu ini,
polanya menjadi terisi fluida, r
e
meluas dan P
e
meningkat. Pada titik B, proses fill-up selesai dan
r
e
serta P
e
konstan. Jalur ke titik C menunjukkan Hall plot untuk sumur yang mengalami
beberapa kerusakan formasi. Jalur ke titik D menunjukkan sumur dengan skin, r
w
dan kh
konstan. Jalur ke titik E dan F menunjukkan Hall plot untuk sumur yang distimulasi dengan
perekahan, pengasaman, dan lain-lain.



Gambar 3. Hall Plot Skematik

2.6. UJI FALL-OFF TEKANAN
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 12 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Uji Fall-off tekanan pada sumur injeksi air biasanya dilakukan untuk mengakses tekanan
reservoir interwell, sifat-sifat formasi dan skin sumur.
5,6)

Data-data mendasar yang diperlukan untuk analisa adalah :
1. Porositas, (fraksi)
2. Saturasi air konat, S
wc
(fraksi)
3. Saturasi minyak residual, S
or
(fraksi)
4. Viskositas fluida yang diinjeksikan pada kondisi reservoir,
w
(cp)
5. Faktor volume formasi dari fluida yang diinjeksi, B
w
(bbl/STB)
6. Ketebalan bersih interval, h (ft)
7. Kompresibilitas total sistem, c
t
(psi
-1
)
8. Densitas fluida yang diinjeksi,
w
(lb/gal)
9. Diameter dalam tubing injeksi, d (in)
10. Densitas perforasi, diameter dan kedalaman efektif dari penetrasi
Jika level fluida yang jatuh setelah shut-in merupakan masalah, akan tidak mungkin untuk
membuat analisa yang masuk akal untuk pengujian. Ada beberapa pilihan untuk memecahkan
masalah ini. Level fluida yang jatuh ada kemungkinan dapat disurvei menggunakan alat perekam
akustik (Echometer). Level fluida sebagai fungsi dari waktu shut-in dapat direkam. Ketika level
fluida jatuh, kepala sumur bisa berada pada kondisi vakum (tekanan absolut kurang dari tekanan
atmosfer atau gauge kurang dari nol). Ada kemungkinan perlu mengukur tekanan di dasar sumur
dan pada kasus level fluida jatuh dengan cepat, ada kemungkinan perlu menutup sumur di dasar
lubang.
Uji Fall-off tekanan ini merupakan cerminan dari uji build-up tekanan dan menggunakan
teknik penyelesaian yang sama. Untuk memperoleh penyelesaian yang tepat untuk sifat-sifat
reservoir, perlu dipilih periode aliran transien yang berhubungan dengan saturasi fluida yang
diasumsikan pada data masukan.


2.7. UJI STEP-RATE
Uji step-rate (Step Rate Test - SRT) adalah metoda yang diterima secara umum untuk
menentukan tekanan bagian formasi pada sumur injeksi.
7,8)
Tekanan bagian formasi (Formation
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 13 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Parting Pressure - FPP) adalah tekanan yang akan menciptakan rekahan baru pada batuan yang
belum rekah atau menambah panjang rekahan yang sudah ada. Pada kasus tertentu, injeksi di
atas FPP dapat menimbulkan perolehan waterflood yang lebih rendah mengacu pada efisiensi
daerah penyapuan yang menurun (E
a
). Injeksi di bawah FPP dapat mengurangi laju throughput
dan menyebabkan laju produksi turun.
Untuk memulai prosedur pengujian sumur injeksi harus ditutup atau distabilkan pada laju
injeksi konstan (i
w
). Jika sumur ditutup, waktu penutupan harus cukup lama untuk
memungkinkan tekanan statik dasar sumur (P
iws
) untuk menurunkan tekanan statik reservoir.
Ada 2 metoda untuk menganalisa data SRT. Metoda pertama relatif langsung dan
merupakan teknik grafis yang didasarkan pada asumsi yang disederhanakan. Pendekatan
terhadap FPP dapat dibuat dari metoda ini. Teknik kedua adalah analisa yang lebih teliti, yang
didasarkan pada prinsip superposisi (analisa multi-rate). Pendekatan terhadap FPP,
permeabilitas-ketinggian (kh) dan skin dapat dihitung jika data reservoir yang dibutuhkan dapat
disediakan. Perlu dilakukan pengawasan dan pencatatan yang kontinyu terhadap data tekanan vs
periode waktu untuk setiap langkah laju alir. Minimum harus ada data tekanan yang dicatat pada
awal dan akhir setiap langkah laju alir.
Karena ada masalah yang kompleks dalam penggabungan data pada uji multi-rate, maka
prosedur uji step-rate yang lebih mudah, yang digabungkan dengan uji tekanan fall-off, menjadi
pilihan yang lebih ekonomis.
FPP tidak boleh dianggap konstan selama masa injeksi suatu sumur karena FPP cenderung
meningkat bila tekanan rata-rata pori-pori meningkat (setiap 1 psi peningkatan tekanan reservoir,
FPP naik 0.5 - 0.75 psi). Uji step-rate harus diulang setiap ada perubahan tekanan reservoir dan
kondisi operasi yang diberikan.
Sumur yang distimulasi dengan rekahan yang sudah ada tidak mungkin dianalisa dengan
teknik dan asumsi di atas, yaitu bahwa aliran adalah radial. Pemeriksaan terhadap data
menggunakan modifikasi teknik superposisi multi-rate yang persamaannya disubstitusi dengan
aliran linier mungkin cocok untuk kondisi ini.

2.8. LOG INJEKSI
Pengawasan (monitoring) sumur injeksi akan membutuhkan data yang dikumpulkan dengan
logging. Data log injeksi dan log cased hole dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 14 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
kinerja sumur yang spesifik. Data log produksi dan cased hole dapat dikumpulkan di bawah
kondisi dinamik (injeksi) atau statik (shut-in). Log injeksi dan cased hole dapat membantu untuk
menentukan dan mendefinisikan parameter berikut :
1. Integritas mekanik dari sumur.
2. Pergerakan yang ganjil dari fluida injeksi antara interval-interval.
3. Efisiensi injeksi dari komplesi sumur.
4. Desain dan evaluasi dari treatment stimulasi.
5. Tinjauan menyeluruh tentang bagaimana sumur injeksi harus diatur.
Log injeksi biasanya dijalankan bersama dengan peralatan penempat casing collar atau
tubing collar untuk menyediakan kontrol kedalaman yang akurat dalam sumur.

a. Flowmeter (Spinners)
Ada 2 macam jenis flowmeter yang biasa digunakan untuk logging sumur injeksi, yaitu :
1. Continuous spinner adalah centralized spinner velocimeter. Ini adalah peralatan impeller
yang mengukur profil injeksi secara kontinyu vs kedalaman terukur.
2. Fullbore spinner adalah collapsible blade velocimeter. Diameter impeller dapat dipilih agar
cocok dengan laju injeksi dan diameter pipa yang diminta.
Spinner flowmeter dapat digunakan untuk mengetahui di mana terjadi kebocoran tubing
dan casing dan menentukan profil injeksi ke dalam interval yang diperforasi.

b. Instrumen Temperatur
Instrumen temperatur adalah peralatan wireline yang digantungkan dalam lubang bor
yang mentransmisikan atau mencatat temperatur sumur. Survei temperatur lubang bor dapat
digunakan untuk :
1. Mengetahui di mana terjadi kebocoran tubing atau casing.
2. Mengetahui di mana channel aliran di belakang pipa.
3. Mengidentifikasi zona-zona dimana terjadi produksi atau injeksi.
4. Mengidentifikasi interval-interval yang dipengaruhi oleh treatment stimulasi.
Gambar 4 dan 5 adalah 2 contoh yang sudah disederhanakan dari profil sumur injeksi.
Log direkam dengan continuous flowmeter dan thermometer.

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 15 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
c. Survei Pemindai Radioaktif (Radioactive Tracer Surveys)
Log ini dijalankan untuk mendeteksi kebocoran tubing-casing atau suatu channel di
belakang pipa dan untuk menentukan profil injeksi dari zona perforasi tunggal atau antara
kumpulan beberapa perforasi di zona yang berlainan dalam reservoir.
Masalah mekanik yang paling umum adalah adanya channel di belakang casing karena
ikatan yang kurang kuat antara pipa dengan formasi oleh semen.
Untuk menentukan profil injeksi meggunakan pemindai radioaktif, suatu tembakan dari
material pemindai dilepaskan ke dalam aliran total di atas perforasi. Sebelumnya, dijalankan
base log untuk merekam radiasi yang sudah ada sebelum tembakan dilepaskan.









TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 16 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



Gambar 4. Skematik Survei Temperatur dan Spinner dari Injeksi Air ke Dalam Zona Tunggal







TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 17 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu



Gambar 5. Skematik Survei Temperatur dan Spinner dari Injeksi Air ke Dalam Dua Zona


d. Log Suara (Noise Logs)
Peralatan ini merekam amplitudo dari frekuensi suara audio vs kedalaman terukur. Log
ini dapat digunakan untuk mendeteksi kebocoran, aliran di belakang pipa dan kontribusi kotor
dari zona perforasi.


TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 18 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

e. Log Cased Hole Lainnya
Log evaluasi casing seperti log caliper dan peralatan magnetik dan sonik yang bervariasi
dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi casing dalam sumur. Informasi ini dapat
digunakan untuk menentukan kondisi dan pelayanan casing dan mengidentifikasi
kemungkinan adanya kebocoran dan kegagalan integritas sumur lainnya. Log evaluasi semen
dapat digunakan untuk mengevaluasi integritas casing terhadap ikatan semen formasi. Log
ikatan semen (cement bond log) dan peralatan evaluasi semen lainnya dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kemungkinan adanya channel di belakang pipa antara zona yang tidak
diisolasikan.

2.9. PEMINDAI INTERWELL (INTERWELL TRACERS)
Pemindai digunakan untuk menentukan asal dari air yang terproduksi, untuk
mengidentifikasikan dan menghitung permeabilitas berdasarkan arahnya, untuk menghitung
efisiensi penyapuan dan mendefinisikan penghalang permeabilitas. Beberapa hal yang harus
dipertimbangkan saat memilih pemindai adalah :
1. Keamanan - Material pemindai harus diperlakukan dengan hati-hati agar personil dan
lingkungan tidak terkontaminasi, terutama untuk pemindai radioaktif.
2. Non-adsorbent dan Chemical Inert - Pemindai tidak boleh "melapisi" formasi. Pemindai
tidak boleh bereaksi dengan formasi, minyak atau air formasi.
3. Kestabilan - Pemindai tidak boleh mengubah fasa atau karakter pada kondisi reservoir.
Terutama kritis untuk garam dan alkohol.
4. Kelarutan - Agar efektif, pemindai tidak boleh larut dalam minyak dan harus 100% larut
dalam air.
5. Kemampuan untuk Dideteksi - Pemindai harus dapat dideteksi pada level konsentrasi yang
aman.

a. Klasifikasi Pemindai Lapangan Minyak
Sebagian besar pemindai ini dapat diklasifikasikan menjadi 4 kategori utama, yaitu :
1. Water Soluble Alcohols : (Metanol, Etanol dan Isopropanol)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 19 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Pemindai ini relatif aman dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Masalah terbesarnya adalah
pemindai ini kadang bercampur dengan minyak atau membentuk lapisan dalam formasi.
2. Garam : (Amonium, Sodium dan Potasium)
Pemindai ini relatif aman dan tidak mahal, tetapi kadang terabaikan. Penting untuk
dilakukan uji kecocokan dengan air formasi sebelum pemompaan. Salah satu pemindai
terbaik untuk penentuan efisiensi penyapuan jika didesain dengan benar.

3. Fluorescent Dyes (Pencelup Fluorescent) : (Banyak macamnya)
Pemindai awal yang cukup dengan "mencelup" sehingga memungkinkan operator "melihat"
sumur mana yang memproduksi fluida yang diinjeksikan. Perlu diperiksa terhadap
timbulnya lapisan atau membentuk filter pada formasi jika material tidak terlarut
seluruhnya.
4. Pemindai Radioaktif : (Tritiated Water, Kobalt, Sodium, Nikel dan Stronsium)
Pemindai yang paling banyak digunakan karena dapat dideteksi pada konsentrasi yang
rendah. Pemindai, injeksi pemindai dan analisa air yang terproduksi mahal, maka jika
mungkin, gunakan pemindai selain pemindai ini.

2.10. UJI INTERFERENCE
Uji ini dapat membantu para teknisi dalam pendeskripsian reservoir, mengidentifikasi
kecenderungan arah permeabilitas, memperkirakan jarak ke muka pembanjiran (flood front) dan
mengindikasikan daerah minyak yang tidak tersapu.

2.11. DAFTAR KONTROL KUALITAS
Daftar kontrol kualitas yang disarankan telah dibuat untuk mengkonversi sumur produksi ke
pelayanan injeksi. Tentu saja daftar ini tidak mewakili secara keseluruhan. Banyak hal-hal yang
disarankan tidak cocok untuk setiap situasi, tetapi kewaspadaan mengenai masalah yang terjadi
di daerah lain bisa berguna dalam memastikan pelayanan sumur injeksi yang dapat diandalkan
selama "masa hidup" waterflood.
Memastikan ijin peraturan telah disimpan dan disetujui oleh agen pemerintah yang
bersangkutan.
Memastikan surat pemilihan rekanan pemilik telah disebar dan disetujui.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 20 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Memastikan bahwa perintah daerah injeksi telah selesai dan disimpan.
Mengevaluasi kualitas air injeksi untuk kecocokan dengan formasi, kandungan padatan
terlarut dan kontaminasi bakteri.
Mengevaluasi kondisi tubing dan casing.
Memastikan tingkat dan spesifikasi peralatan kepala sumur, tubing dan casing sudah tepat
untuk mengajukan pelayanan injeksi.
Membandingkan catatan perforasi sumur dengan log sumur untuk memastikan formasi
yang benar telah terbuka.
Tag fill dan bail atau clean-outs sesuai dengan yang diperlukan untuk membuka zona yang
akan diinjeksi.
Menarik peralatan permukaan yang tidak sesuai untuk pelayanan injeksi.
Menspesifikasi dan memasang peralatan metering air yang tepat untuk pelayanan yang
diharapkan.
Menspesifikasi dan memasang peralatan filtrasi untuk memastikan air yang diinjeksi masuk
ke dalam spesifikasi.
Menspesifikasi dan memasang peralatan untuk pengolahan air injeksi dengan penghalang
korosi, penghalang scale dan biocide yang diperlukan.
Menghubungkan aliran injeksi sumur dengan header atau pompa injeksi.
Mengikuti persyaratan peraturan pengujian dan pengawasan sumur.
Menyelesaikan pengujian step-rate untuk menentukan tekanan injeksi yang sesuai.
Menyetel program monitoring sumur yang sistematis untuk memastikan sumur yang sedang
dalam proses injeksi terus beroperasi pada efisiensi terbaik yang mungkin.


3. ANALISA SUMUR PRODUKSI

Kinerja sumur produksi harus dioptimalkan agar nilai suatu proses waterflood bisa
dimaksimalkan. Teknik pengawasan sumur produksi meliputi analisa laju alir dan rasio melalui
kegunaan teknik plotting pengawasan. Log produksi dan cased hole digunakan untuk menyediakan
data kinerja sumur. Uji transien tekanan dan data tekanan aliran juga menyediakan infomasi tentang
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 21 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
kinerja sumur dalam sistem reservoir. Contoh skema tentang sistemasi analisa sumur produksi
diberikan pada Gambar 6.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 22 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

G
a
m
b
a
r

6
.

S
i
s
t
e
m
a
s
i

P
e
n
g
a
w
a
s
a
n

S
u
m
u
r

P
r
o
d
u
k
s
i

TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 23 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Pada awal proses waterflood, interval komplesi harus diperiksa untuk memastikan seluruh lapisan
yang dapat "dibanjiri" terbuka. Daftar yang berisi data komplesi sumur dari file sumur, log, uji,
catatan stimulasi, peta struktur, peta kontak fluida dan cross-sections dapat membantu pencapaian
kerja ini. Sebuah check-list, yang mirip dengan yang telah diajukan sebelumnya untuk konversi sumur
ke pelayanan injeksi, dapat berguna untuk kontrol kualitas dalam pemeliharaan sumur produksi.
Survei tentang integritas mekanik masing-masing sumur harus dilakukan. Tingkat pelayanan dari
seluruh komponen kepala sumur, tubing dan casing harus dievaluasi untuk memastikan bahwa sumur
memenuhi tingkat pelayanan yang diharapkan selama proses waterflood. Masalah fill, junk, korosi dan
scale harus diidentifikasi. Ada kemungkinan perlu dilakukan workover atau pemeliharaan remedial
pada beberapa sumur sebelum memulai pembanjiran. Rekomplesi, plugbacks, deepenings, reperforasi,
squeeze cementing dan clean-outs harus diselesaikan.
Kondisi dan tingkat pelayanan dari seluruh peralatan pengangkatan buatan harus diperiksa dan
didokumentasikan. Peralatan harus memenuhi tingkat sampai kapasitas yang diharapkan selama
proses pembanjiran. Kondisi dan kapasitas peralatan produksi permukaan harus memenuhi
persyaratan operasi yang diharapkan karena kinerja sumur produksi akan berubah mengacu pada
respon waterflood.
Sejarah stimulasi untuk tiap sumur harus direview. Potensi untuk dilakukan stimulasi di masa
mendatang harus dipertimbangkan. Di bawah kondisi produksi primer semi-depleted, stimulasi
mungkin tidak ekonomis. Di bawah kondisi reservoir yang diharapkan setelah fill-up, stimulasi
mungkin akan sangat menguntungkan. Jika stimulasi perekahan hidraulik direkomendasikan, desain
panjang dan arah rekahan harus mempertimbangkan ukuran pola (well spacing), geometri dan arah.
Akibat stratifikasi vertikal reservoir, mungkin diperlukan adanya kontrol terhadap perpanjangan
vertikal dari rekahan.

a. Laju Alir
Pengukuran dan analisa data laju produksi harus merupakan suatu rutinitas. Pengumpulan
data laju alir minyak, air dan gas yang akurat diperlukan untuk memastikan pengawasan
waterflood yang tepat waktu dan efisien. Kcenderungan yang tidak lazim, yang diidentifikasi oleh
rutinitas dan analisa sistematik dari data laju produksi, seringkali merupakan tanda pertama
tentang potensi timbulnya masalah.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 24 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Kumpulan grafik laju alir-waktu dan rasio-waktu yang lengkap merupakan dasar dari usaha
pengawasan sumur produksi.
b. Rasio Gas-Minyak (R
p
)
Di awal proses fill-up, rasio produksi gas-minyak yang naik dengan tajam bisa diamati
sebagai gas bebas yang pindah ke sumur produksi. Saat proses waterflood mengalami kemajuan
sampai fill-up, rasio produksi gas-minyak harus membentuk penurunan pada rasio campuran gas-
minyak reservoir. Pada dan setelah fill-up, rasio produksi gas-minyak harus sama dengan rasio
campuran gas-minyak reservoir. Penyimpangan apapun dari kecenderungan ini harus diwaspadai.
Meningkatnya rasio produksi gas-minyak menandakan penurunan pada tekanan reservoir,
mengikuti produksi di bawah tekanan gelembung dan kegagalan dalam mencapai proses
penyapuan dalam reservoir. Jika volume injeksi reservoir tidak memindahkan voidage, tekanan
akan turun dan rasio produksi gas-minyak akan meningkat.

c. Rasio Air-Minyak (F
wo
)
Kinerja produksi air adalah indikator kunci kinerja waterflood. Data rasio air-minyak dapat
digunakan untuk meramalkan kinerja waterflood di masa mendatang dan dapat diekstrapolasikan
menjadi limit ekonomik. Metoda yang diajukan oleh Ershaghi dan Omoregie mengasumsikan
bahwa perolehan dikontrol oleh kurva aliran fraksional yang didasarkan pada hubungan linier
antara log (k
ro
/k
rw
) dan saturasi air. Metoda lainnya adalah menggunakan log (WOR) vs laju alir
minyak yang konvensional, terutama pada water cut yang rendah. Kedua metoda cukup valid pada
water cut lebih dari 50%.
Breakthrough air yang prematur merupakan pertanda adanya potensi efisiensi penyapuan
yang rendah. Kenaikan dan penurunan water cut yang cepat harus dijadikan pertanda awal untuk
dilakukannya pemeriksaan terhadap kondisi sumur produksi. Kinerja produksi air yang tidak
diharapkan mungkin merupakan indikasi kesalahan dalam interpretasi parameter yang mengontrol
kinerja reservoir.

d. Tekanan
Pada sumur produksi biasanya lebih sulit untuk memperoleh data tekanan reservoir yang
berguna hanya dari pengukuran tekanan permukaan. Interpretasi dari data tekanan permukaan
untuk menentukan tekanan dasar sumur akan sulit karena adanya sistem fluida 3 fasa dalam sumur.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 25 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
Pada laju yang sangat rendah, sumur dengan rasio gas-minyak yang rendah, kerumitan di atas
menjadi sangat penting. Telah dibuat sistem yang memungkinkan pencatatan secara simultan dari
tekanan kepala sumur dan level fluida dengan teknik pengukuran akustik. Ketika data ini dianalisa,
ada kemungkinan untuk menghitung tekanan statik dan tekanan alir dasar sumur di beberapa
sumur produksi. Keandalan metoda ini memerlukan pengetahuan tentang gradien fluida (densitas)
dan karakteristik segregasi fluida dalam sumur. Dari data permukaan ini bisa dibuat analisa
transien tekanan yang berguna (pada beberapa situasi).
Pada laju alir yang lebih tinggi, gas cut yang tinggi atau water cut yang tinggi dari sumur
yang mengalir, membuat penentuan tekanan dasar sumur yang akurat dari data permukaan menjadi
tidak mungkin. Komponen hidrostatik dan friksi pada rezim aliran 3 fasa yang kompleks sangat
sulit untuk dianalisa dengan pasti. Tidak mungkin dilakukan analisa transien tekanan dengan data
ini karena data yang digunakan dalam analisa transien tekanan harus dicatat terhadap kedalaman.

3.1. ANALISA TRANSIEN TEKANAN
Prosedur uji transien tekanan biasanya dilakukan pada sumur produksi dalam proses
waterflood untuk mengakses karakteristik formasi dari sumur tertentu yang sedang diuji. Uji
buil-up dan draw-down tekanan dilakukan untuk menentukan permeabilitas-ketinggian (kh)
sumur dan faktor skin. Tekanan rata-rata daerah pengurasan untuk sumur juga dapat
diperkirakan.

a. Data Yang Diperlukan
Data-data yang diperlukan untuk analisa data tekanan build-up atau draw-down adalah :
1. , porositas (fraksi)
2. S
w
, saturasi air (fraksi)
3. S
o
, saturasi minyak (fraksi)
4. S
g
, saturasi gas (fraksi)
5.
o
, viskositas minyak pada kondisi reservoir (cp)
6.
w
, viskositas air pada kondisi reservoir (cp)
7.
g
, viskositas gas pada kondisi reservoir (cp)
8. B
o
, faktor volume formasi minyak (bbl/STB)
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 26 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
9. B
w
, faktor volume formasi air (bbl/STB)
10. B
g
, faktor volume formasi gas (scf/STB)
11. h, ketebalan bersih interval (ft)
12. c
t
, kompresibilitas total sistem (psi
-1
)
13. Densitas perforasi, diameter dan kedalaman efektif penetrasi
3.2. LOG PRODUKSI
Pengawasan sumur produksi terkadang membutuhkan data yang dikumpulkan melalui
logging. Data log produksi dan cased hole dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah
kinerja sumur yang spesifik dan menjawab pertanyaan tentang kinerja waterflood secara
keseluruhan. Data tersebut dapat dikumpulkan di bawah kondisi dinamik (mengalir) atau statik
(shut-in). Log produksi dan cased hole dapat membantu dalam penentuan dan pendefinisian
parameter berikut ini :
1. Integritas mekanik dari sumur.
2. Pegerakan fluida yang tidak lazim di antara interval.
3. Efisiensi dari komplesi sumur.
4. Desain dan evaluasi treatment stimulasi.
5. Tinjauan menyeluruh tentang bagaimana seharusnya mengatur reservoir.
Resolusi dari pertanyaan mengenai kinerja sumur dan reservoir biasanya memerlukan data
dari lebih satu alat. Data-data tersebut dikombinasikan dalam analisis untuk menyediakan
diagnosis yang akurat dari kondisi sumur produksi.
Peralatan logging produksi biasanya dijalankan bersamaan dengan peralatan penempat
casing collar atau tubing collar untuk menyediakan kontrol kedalaman yang akurat dalam
sumur.




a. Flowmeters (Spinners)
Ada 3 tipe flowmeters yang biasanya digunakan, yaitu :
1. Continuous spinner adalah centralized spinner velocimeter. Merupakan peralatan impeller
yang mengukur profil aliran yang kontinyu vs kedalaman terukur. Alat ini harus di-
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 27 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
centralized dan dikalibrasi terhadap keadaan di dasar lubang dengan benar agar hasilnya
berguna dan akurat. Alat ini mungkin tidak berfungsi pada tubing (casing) berdiameter
besar dan/atau pada sumur dengan laju alir rendah dimana kecepatan fluida berada di
bawah batas respon alat.
2. Inflatable atau Expandable Diverting Flowmeter (IDT) juga merupakan velocimeter tipe
impeller. Alat ini harus distop dan diset pada kedalaman yang bervariasi untuk mencatat
data kecepatan fluida. Alat ini tidak menyediakan profil kecepatan fluida yang kontinyu.
Alat ini paling baik digunakan pada aplikasi laju alir yang rendah.
3. Fullbore spinner adalah collapsible blade velocimeter. Diameter impeller dapat dipilih
untuk menyesuaikan dengan persyaratan laju alir dan diameter pipa. Seperti continuous
flowmeter, alat ini menyediakan profil kecepatan fluida yang kontinyu vs kedalaman
terukur. Alat ini memiliki resolusi yang lebih tinggi dan batas respon yang lebih rendah
daripada continuous flowmeter.
Analisa rezim aliran 3 fasa biasanya memerlukan pengetahuan tentang densitas atau
gradien fluida, gas slippage dan water hold-up.
Spinner flowmeter dapat digunakan untuk mendeteksi kebocoran pada tubing dan casing
dan untuk menentukan dari logika kasar, profil aliran dari interval yang diperforasi.

b. Peralatan Temperatur
Survei temperatur lubang bor dapat digunakan untuk :
1. Mengetahui di mana terjadi kebocoran tubing atau casing.
2. Mengetahui di mana terjadi channel aliran di belakang pipa.
3. Mengidentifikasikan zona-zona dimana terjadi produksi atau injeksi.
4. Mengidentifikasikan interval yang dipengaruhi oleh treatment stimulasi.
5. Mengidentifikasikan zona dengan gas cut yang tinggi.

c. Gradiomanometer
Alat ini merekam profil yang kontinyu dari gradien tekanan vs kedalaman. Pada sumur
produksi, alat ini paling berguna untuk mendefinisikan titik masuk dari zona dengan water
cut dan gas cut yang tinggi. Data alat ini biasanya dikombinasikan dengan data flowmeter
dan water hold-up untuk menentukan profil aliran 3 fasa.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 28 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu

d. Densimeter
Digunakan untuk mencatat densitas fluida vs kedalaman terukur. Alat ini paling berguna
untuk membedakan fasa gas dengan cairan.



e. Water-cuts Meters
Alat ini berguna untuk membedakan hidrokarbon dengan air dalam sistem aliran 3 fasa.
Alat logging produksi ini juga disebut capacitance meters atau water hold-up meters (HUM).
f. Pemindai Radioaktif (Radioactive Tracers)
Substansi pemindai radioaktif diinjeksikan dan kemudian dideteksi dalam sumur
produksi. Peralatan gamma ray dan spectral gamma ray dapat digunakan untuk menentukan
interval pemindai produksi dan kecepatan aliran fluida.

g. Log Suara (Noise Log)
Alat ini mencatat amplitudo dari frekuensi suara audio vs kedalaman terukur. Log ini
dapat digunakan untuk mengetahui di mana terjadi kebocoran, aliran di belakang pipa dan
kontribusi kotor dari zona yang diperforasi.

h. Log Pulsed Neutron (Pulsed Neutron Log)
Log ini mencatat laju dari kerusakan neutron termal yang diikuti dengan emisi dari
neutron berenergi tinggi. Laju tersebut dapat digunakan pada beberapa aplikasi untuk
menentukan saturasi minyak dan air. Log ini juga dapat digunakan untuk menentukan :
1. Pergerakan kontak air-minyak.
2. Lokasi zona yang tersapu air.
3. Perubahan pada saturasi fluida akibat channeling di belakang pipa.

i. Log Karbon-Oksigen
Log ini mengukur gamma ray yang diemisikan oleh neutron activated carbon dan
molekul oksigen dalam fluida di dekat lubang bor. Dapat diandalkan sebagai indikator
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 29 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
saturasi minyak. Tidak terpengaruh oleh kegaraman air atau kandungan clay. Terpengaruh
oleh kalsium karbonat.

j. Log Cased Hole Lainnya
Log evaluasi casing seperti log caliper dan peralatan magnetik dan sonik yang bervariasi
dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi casing dalam sumur. Informasi ini dapat
digunakan untuk menentukan kondisi dan tingkat pelayanan casing dan mengidentifikasi
kemungkinan terjadinya kebocoran dan kegagalan integritas sumur lainnya. Log evaluasi
semen dapat digunakan untuk mengevaluasi integritas casing terhadap ikatan semen formasi.
Log ikatan semen (CBL) dan peralatan evaluasi semen lainnya dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kemungkinan terjadinya channel di belakang pipa antara zona-zona yang
tidak terisolasi.



















TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 30 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu









TABEL 1
DEFINISI DAN ANALISIS MASALAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAJU PRODUKSI
FLUIDA YANG RENDAH

Masalah Kemungkinan Penyebabnya Definisi dan Analisis
1. Tekanan dasar sumur dengan
aliran tinggi.
Peralatan pengangkatan buatan
yang tidak sesuai atau tidak
efisien.
Dynamometer.
Sonolog.
Survei tekanan aliran.
Review desain pengangkatan
buatan.
2. Kapasitas aliran yang rendah. Ketebalan bersih dan kontak
fluida yang tidak terdefinisi
dengan benar.
Review evaluasi formasi dari
core, log open-hole, DST, dll.
Review data komplesi.
Komplesi dan/atau stimulasi
yang rusak.
Log produksi.
Uji transien tekanan untuk skin,
kh, dll.
Tersumbatnya perforasi karena
scale, proppent, fill, fines, korosi,
parafin atau aspaltin.
Analisis kualitas air.
Analisis kecocokan air.
Analisis Parafin/Aspaltin.
Tag fill.
Permeabilitas formasi yang Uji transien tekanan.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 31 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
rendah.
3. Tekanan reservoir yang
rendah.
Fill-up tidak tercapai. Analisis sumur injeksi.
Perhitungan pemindahan fill-up
dan voidage.
Diskontinuitas ketebalan. Studi kontinuitas ketebalan.
Uji interferensi.





TABEL 2
DEFINISI DAN ANALISIS MASALAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAJU PRODUKSI GAS
ATAU AIR YANG TINGGI

Masalah Kemungkinan Penyebabnya Definisi dan Analisis
1. Channel air atau gas. Profil injeksi yang buruk.
Tekanan ekstensi rekahan yang
berlebih pada injektor.
Analisis kualitas air.
Analisis kecocokan air.
Uji injeksi step-rate.
Coning Review data komplesi dan
stimulasi.
Kegagalan semen. Log produksi.
Log evaluasi semen.
Uji interferensi.
2. Kebocoran casing. Korosi internal atau eksternal. Review data komplesi.
Analisis air.
Casing yang buruk. Log inspeksi casing.
Casing yang rusak. Log produksi (temperatur, spinner,
suara).
Geologi untuk formasi plastis.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 32 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
3. Breakthrough air prematur. Profil injeksi yang buruk. Analisis sumur injeksi.
Tekanan ekstensi rekahan yang
berlebih pada injektor.
Uji injeksi step-rate.
Geometri pola yang salah. Studi kontinuitas ketebalan.
Studi arah permeabilitas.
Stratifikasi reservoir atau zona
"pencuri".
Uji interferensi dan log produksi.

Heterogenitas areal. Evaluasi geologi dan geofisika.




3.3. TEKNIK ANALISA GRAFIS
Pencocokan secara empiris dari data produksi sebagai fungsi dari beberapa faktor seperti
waktu adalah metoda yang umum digunakan untuk memperkirakan cadangan yang masih ada
dalam reservoir minyak.
Ekstrapolasi dari kurva penurunan (decline curve) empirik manapun ke dalam kondisi di
masa mendatang dibuat berdasarkan asumsi bahwa seluruh faktor yang mempengaruhi produksi
dari suatu sumur atau sekumpulan sumur akan terus memiliki efek kumulatif yang identik di
masa mendatang.
Untuk keterangan yang lebih lengkap mengenai decline curve dapat dilihat pada TR 03.04.









TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 33 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu














4. DAFTAR PUSTAKA

1. Patton, C. C. : "Water Quality Control and Its Importance in Waterflooding Operations", JPT
(Sep. 1988), 1123 - 1126.
2. Hensel, W. M. Jr., Sullivan, R. L., Stallings, R. H. : "Understanding and Solving Injection Well
Problems", Petroleum Engineering International (May 1981), 155 - 170.
3. Hall, M. N. : "How to Analyze Waterflood Injection Well Performance", World Oil (Oct. 1963),
128 - 129.
4. DeMarco, M. : "Simplified Method Pinpoints Injection Well Problems", World Oil (Apr. 1969), 92
- 100.
5. Abbaszadeh, M., Kamal, M. : "Pressure Transient Testing of Water Injection Wells", SPE
Reservoir Engineering (Feb. 1989), 115 - 121.
6. Kamal, M. : "The Use of Pressure Transients to Describe Reservoir Heterogenity", JPT (Aug.
1979), 1060 - 1070.
7. Felsenthal, M. : "Step-rate Tests Determine Safe Injection Pressures in Floods", Oil and Gas J.
(Oct. 1974), 49 - 54.
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 34 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
8. Singh, P. K., Agarwal, R. G., dan Krase, L. D. : "Systematic Design and Analysis of Step-rate
Tests to Determine Formation Parting Pressure", Paper SPE 16798, 1987.














5. DAFTAR SIMBOL

B
w
= faktor volume formasi air, bbl/STB
h = ketebalan formasi, ft
I = indeks injektivitas, bbl/psi
I
s
= indeks injektivitas spesifik, bbl/hari/psi-ft
i
w
= laju injeksi, bbl/hari
k = permeabilitas absolut, mD
k
rw
= permeabilitas relatif air, tidak berdimensi
k
w
= permeabilitas air, mD
m = kemiringan garis, psi-hari/bbl
P
e
= tekanan pada jari-jari eksternal daerah pengurasan, psia
P
iwf
= tekanan injeksi dasar sumur, psia
r
e
= jari-jari eksternal daerah pengurasan, ft
r
w
= jari-jari lubang bor, ft
TEKNIK RESERVOIR NO : TR 08.07

JUDUL : METODE EOR
SUB JUDUL : Monitoring Kinerja Waterflood

Halaman : 35 / 35
Revisi/Thn : 2/ Juli 2003



Manajemen Produksi Hulu
S = faktor skin, tidak berdimensi

w
= viskositas air, cp