Anda di halaman 1dari 24

“Geriatri”

Bab.I Pendahuluan

I.1

Latar Belakang

Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun social yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lanjut usia.

Masalah kesehatan jiwa lanjut usia termasuk juga dalam masalah kesehatan yang dibahas pada pasien-pasien Geriatri dan Psikogeriatri yang merupakan bagian dari Gerontologi, yaitu ilmu yang mempelajari segala aspek dan masalah lanjut usia, meliputi aspek fisiologis, psikologis, social, cultural, ekonomi dan lain-lain.

Perkembangan kesehatan seorang lanjut usia antara yang satu dengan lainnya sangat bervariasi .Untuk itu penulis akan menyajikan suatu tulisan yang berhubungan dengan perawatan kesehatan bagi usia lanjut .

Untuk masalah perawatan kesehatan bagi usia lanjut perlu mendapat perhatian khusus karena bagi usia lanjut kesehatan sudah tidak dapat dihindarkan karena keadaan fisik dan psikologis yang sudah menurun. Menyikapi kondisi seperti tersebut diatas maka kita perlu mengetahui bagaimana perkembangan kesehatan usia lanjut dan bagaimana cara perawatan kesehatan bagi usia lanjut.

Bab.II Tinjauan Pustaka

II.1

Pengertian

Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari masalah kesehatan pada lanjut usia yang menyangkut aspek Promotof, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif serta Psikososial yang menyertai kehidupan lanjut usia. Sementara Psikogeriatri adalah cabang ilmu kedokteran jiwa yang mempelajari masalah kesehatan jiwa pada lanjut usia yang menyangkut aspek promotof, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta psikososial yang menyertai kehidupan lanjut usia.

Geriatric merupakan suatu istilah yang terdiri dari kata geros (usia lanjut) dan iatreia (merawat/merumat), geriatri sendiri mengacu pada cabang ilmu kedokteran yang berfokus pada penyediaan layanan kesehatan bagi manula. (Ignas Leo Vascher, 1909). Seseorang dikatakan lanjut usia, jika telah mencapai usia diatas 60 tahun. (depsos, 2007)

Untuk menangani penyakit geriatric pada lansia dibutuhkan pendekatan holistik yaitu, perhatian total terhadap pasien secara terpadu dengan mempertimbangkan keadaan lingkungan, sosial ekonomi, gaya hidup, diagnosis dan terapi penyakit dalam merawat penderita.

Sedangkan pasien Geriatri adalah pasien berusia lanjut (untuk Indonesia saat ini adalah mereka yang berusia 60 tahun ke atas) dengan beberapa masalah kesehatan (multipatologi) akibat gangguan fungsi jasmani dan rohani, dan atau kondisi social yang bermasalah.

Lansia banyak yang mengidap salah satu penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi jika, tidak ditangani dengan baik seperti, fraktur pada tulang yang dapat menyebabkan osteoporosis atau jika seseorang memiliki angka kolesterol yang tinggi saat lanjut usia dapat menjadi Penyakit Jantung Koroner (PJK), hipertensi, gagal jantung dan infark serta gangguan ritme jantung, diabetes mellitus, gangguan fungsi ginjal dan hati.

Beberapa masalah yang sering muncul pada usia lanjut disebut sebagai a series of I’s, yaitu immobility (imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh), incontinence

(inkontinensia), intellectual impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan tidur), dan immune deficiency (penurunan kekebalan tubuh).

Sifat penyakit pada lansia perlu untuk dikenali supaya tidak salah ataupun lambat dalam menegakkan diagnosis, sehingga terapi dan tindakan lain yang mengikutinya dengan segera dapat dilaksanakan. Hal ini akan menyangkut beberapa aspek, yaitu etiologi, diagnosis dan perjalanan penyakit.

Secara Etiologi, penyakit pada lansia lebih bersifat endogen daripada eksogen. Hal ini disebabkan oleh menurunnya berbagai fungsi tubuh karena proses menua, etiologi sering kali tersembunyi (Occult), dan sebab penyakit dapat bersifat ganda (multiple) dan kumulatif (penimbunan), terlepas satu sama lain ataupun saling mempengaruhi.

Sedangkan secara Diagnosis, penyakit pada lansia umumnya lebih sulit dideteksi dari pada remaja atau dewasa, karena gejala dan keluhan sering tidak jelas. Perjalanan penyakit, Pada umumnya perjalanan penyakit adalah kronik (menahun) diselingi dengan eksaserbasi akut, penyakit bersifat progresif (bertahap), dan sering menyebabkan kecacatan (invalide).

II.2

Ciri-ciri Geriatri

Dilihat dari segi kemunduran biologis, ciri-ciri geriatri yaitu :

  • 1. Kulit mulai mengendur dan wajah mulai keriput serta garis-garis yang menetap

  • 2. Rambut kepala mulai memutih atau beruban

  • 3. Gigi mulai lepas (ompong)

  • 4. Penglihatan dan pendengaran berkurang

  • 5. Mudah lelah dan mudah jatuh

  • 6. Gerakan menjadi lamban dan kurang lincah

Sedangkan dilihat dari segi kemunduran kognitif, ciri-ciri geriatri yaitu :

  • 1. Suka lupa (ingatan tidak berfungsi dengan baik)

  • 2. Ingatan pada hal-hal di masa muda lebih baik dari hal-hal yang baru terjadi

  • 3. Sering adanya disorientasi terhadap waktu, tempat, dan orang

  • 4. Sulit menerima ide-ide baru

  • 5. Keseimbangan antara badan, penglihatan, dan pendengaran berkurang.

II.3

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Pasien Geriatri

Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia. Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut :

  • 1. Penurunan Kondisi Fisik

Setelah seseorang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, enerji menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda.

Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya yang baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.

  • 2. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual

Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti :

  • Gangguan jantung.

  • Gangguan metabolisme, missal diabetes mellitus.

  • Vaginitis.

  • Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi.

  • Kekurangan gizi, karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang.

  • obat-obat

Penggunaan

tertentu,

seperti

antihipertensi,

golongan

stereoid,

tranquilier.

  • Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :

    • Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.

    • Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta di perkuat oleh tradisi dan budaya.

    • Kelelahan atau kebosanan karena kurang Variasi dalam kehidupannya.

    • Pasangan hidup telah meninggal.

    • Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya cemas, depresi, pikun, dsb.

  • 3. Perubahan Aspek Psikososial

Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan.

Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepabrikan lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat di bedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:

  • Tipe kepribadian konstruktif (Construction personality), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.

  • Tipe kepribadian mandiri (Independent personaliy), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak di isi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.

  • Tipe kepribadian Tergantung (Dependent personality ), pada tipe ini bisanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang di tinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedudukannya.

  • Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak di perhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.

  • Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate Personality), pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu oleh orang lain atau cenderung susah dirinya.

II.4

Masalah-masalah Yang Dialami Pasien Geriatri

Dengan semakin bertambahnya usia, semakin banyak masalah yang dialami. Usia lanjut adalah usia yang sangat rentan terhadap berbagai masalah , bukan hanya masalah Kesehatan tapi juga masalah Sosial-Budaya, Ekonomi dan Psikologi. Adapun masalah-masalah tersebut yaitu :

  • 1. Kesehatan.

Pada umumnya disepakati bahwa kebugaran dan kesehatan mulai menurun pada usia setengah baya.Penyakit-penyakit degeneratif mulai menampakkan diri pada usia ini. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa kebugaran dan kesehatan pada usia lanjut sangat bervariasi. Statistik menunjukkan bahwa usia lanjut yang sakit- sakitan hanyalah sekitar 15-25%, makin tua tentu presentase ini semakin besar. Demikian pula usia lanjut yang tidak lagi dapat melakukan "aktivitas sehari-hari" (Activities of Daily Living) hanya 5-15%, tergantung dari umur.

Di samping faktor keturunan dan lingkungan, nampaknya perilaku (hidup sehat) mempunyai peran yang cukup besar. Perilaku hidup sehat harus dilakukan sebelum usia lanjut (bahkan jauh-jauh sebelumnya). Perilaku hidup sehat, terutama adalah perilaku individu, dilandasi oleh kesadaran, keimanan dan pengetahuan. Menjadi tua secara sehat (normal ageing, healthy ageing) bukanlah satu kemustahilan, tapi sesuatu yang bisa diusahakan dan diperjuangkan. Seyogyanya dianut paradigma, mencegah dan mengendalikan faktor-faktor risiko sebaik mungkin, kemudian menunda kesakitan dan cacat selama mungkin.

  • 2. Sosial

Secara sosial seseorang yang memasuki usia lanjut juga akan mengalami perubahan-perubahan. Perubahan ini akan lebih terasa bagi seseorang yang menduduki jabatan atau pekerjaan formal. la akan merasa kehilangan semua perlakuan yang selama ini didapatkannya seperti dihormati, diperhatikan dan diperlukan.

Bagi orang-orang yang tidak mempunyai waktu atau tidak merasa perlu untuk bergaul di luar lingkungan pekerjaannya, perasaan kehilangan ini akan berdampak

pada semangatnya, suasana hatinya dan kesehatannya. Di dalam keluarga, peranannya-pun mulai bergeser. Anak-anak sudah "jadi orang", mungkin sudah punya rumah sendiri, tempat tinggalnya mungkin jauh. Rumah jadi sepi, orangtua seperti tidak punya peran apa-apa lagi.

  • 3. Ekonomi.

Memasuki usia lanjut mungkin sekali akan berdampak kepada penghasilan. Bagi mereka yang menduduki jabatan formal, pegawai negeri atau ABRI, pensiun menyebabkan penghasilan berkurang dan hilangnya fasilitas dan kemudahan- kemudahan. Bagi para profesional, pensiun umumnya tidak terlalu menjadi masalah karena masih tetap dapat berkarya setelah pensiun.

Namun bagi "non profesional" pensiun dapat menimbulkan goncangan ekonomi. Oleh karena itu, pensiun seyogyanya dihadapi dengan persiapan-persiapan untuk alih profesi dengan latihan-latihan keterampilan dan menambah ilmu, baik dengan pengembangan hobi maupun pendidikan formal.

Bagi mereka yang mencari nafkah melalui sektor nonformal, seperti petani, pedagang dan sebagainya, memasuki usia lanjut umumnya tidak akan banyak berdampak pada penghasilannya, sejauh kebugarannya tidak terlalu cepat mengalami kemunduran dan kesehatannya tidak terganggu.

Terganggunya kesehatan berdampak seperti pisau bermata dua. Pada sisi yang satu menjadi kendala:Untuk mencari nafkah, pada sisi lain menambah beban pengeluaran. Oleh karena itu, jaminan hari tua, asuransi kesehatan, tabungan, dan sebagainya akan sangat membantu pada kondisi ini.

  • 4. Psikologi.

Masalah-masalah kesehatan, sosial dan ekonomi, sendiri-sendiri atau bersama- sama secara kumulatif dapat berdampak negatif secara psikologis. Hal-hal tersebut dapat menjadi stresor, yang kalau tidak dicerna dengan baik akan menimbulkan masalah atau menimbulkan stres dalam berbagai manifestasinya. Sikap mental seseorang sendiri dapat menimbulkan masalah.

Usia kronologis memang tidak dapat dicegah, namun penuaan secara biologis dapat diperlambat. Rambut yang memutih, kulit yang mulai keriput, langkah yang tidak lincah lagi dan sebagainya, harus diterima dengan ikhlas. Namun janganlah penuaan secara psikologis terjadi lebih cepat daripada usia kronologis. Untuk itu diperlukan sikap mental yang positif terhadap proses penuaan.

Menua tidak harus sakit-sakitan, juga tidak harus loyo dan jompo. Kehidupan spiritual mempunyai peran yang sangat penting. Seseorang yang mensyukuri nikmat umurnya, tentu akan memelihara umurnya dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti kata sebuah hadis : "sebaik-baik manusia adalah yang umurnya panjang dan baik amal perbuatannya". Kalau mensyukuri nikmat sehat, maka akan memelihara kesehatan kita sebaik-baiknya. Kalau silaturachmi itu memperpanjang umur, kita sebaiknya memelihara kehidupan sosial selama mungkin.

II.5

Lansia (Geriatri) Sehat dan Ciri-cirinya

Usia lanjut sehat adalah usia lanjut yang dapat mempertahankan kondisi fisik dan mental yang optimal serta tetap melakukan aktivitas sosial dan produktif. Di Indonesia batasan usia lanjut yang tercantum dalam Undang-undang No.12/1998 tentang Kesejahteraan Usia Lanjut adalah sebagai berikut : Usia lanjut adalah seorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Depsos,1999); batasan ini sama dengan yang dikemukakan oleh Burnside dkk.

Adapun Ciri-ciri usia lanjut sehat adalah :

  • Memiliki tingkat kepuasan hidup yang relatif tinggi karena merasa hidupnya bermakna, mampu menerima kegagalan yang dialaminya sebagai bagian dari hidupnya yang tidak perlu disesali dan justru mengandung hikmah yang berguna bagi hidupnya.

  • Memiliki integritas pribadi yang baik, berupa konsep diri yang tepat dan terdorong untuk terus memanfaatkan potensi yang dimilikinya.

  • Mampu mempertahankan sistem dukungan sosial yang berarti, berada di antara orang-orang yang memiliki kedekatan emosi dengannya, yang memberi perhatian dan kasih sayang yang membuat dirinya masih diperlukan dan dicintai.

  • Memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, didukung oleh kemampuan melakukan kebiasaan dan gaya hidup yang sehat.

  • Memiliki keamanan finansial, yang memungkinkan hidup mandiri, tidak menjadi beban orang lain, minimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

  • Pengendalian pribadi atas kehidupan sendiri, sehingga dapat menentukan nasibnya sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Hal ini dapat menjaga kestabilan harga dirinya.

II.6

Karakteristik Kasus Penyakit Lansia (Geriatri) di Indonesia

  • 1. Penyakit persendian dan tulang, seperti rheumatik, dan osteoporosis.

  • 2. Penyakit Kardiovaskuler, seperti hipertensi, kholesterolemia, angina, cardiac attack, stroke, trigliserida tinggi, anemia, dan PJK.

  • 3. Penyakit Pencernaan seperti gastritis, dan ulcus pepticum.

  • 4. Penyakit Urogenital, seperti Infeksi Saluran Kemih (ISK), Gagal Ginjal Akut/Kronis, dan Benigna Prostat Hiperplasia.

  • 5. Penyakit Metabolik/endokrin, seperti diabetes mellitus, dan obesitas.

  • 6. Penyakit Pernafasan, seperti asma, dan TB paru.

  • 7. Penyakit Keganasan, seperti carsinoma atau kanker.

  • 8. Penyakit lain, seperti senilis/pikun/dimensia, alzeimer, dan parkinson.

II.7

Upaya Kesehatan Pada Lansia (Geriatri)

Untuk mencapai usia lanjut sehat, tua berguna, bahagia dan sejahtera ialah dengan mengaktifkan fisik, mental dan sosial ditujukan pada usia 45-59 tahun. Banyak hal yang harus dilakukan baik dari lansia itu sendiri atau dari petugas kesehatan maupun dari pihak keluarga lansia. Pelayanan dari petugas kesehatan sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu :

1. Promosi

Peran petugas kesehatan sebagai penyuluh bagi individu yang berada pada usia pertengahan (middle adult) antara lain dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :

  • Mendapatkan data-data yang berkaitan dengan keadaan saal itu, minimal diketahui berat dan tinggi badan, denyut nadi, tekanan darah, keluhan fisik dan penyakit yang diderita.

  • Mendapatkan data mengenai pola dan cara hidup mereka, Mendapatkan data- data kondisi psikologis, yang mungkin tertampil dalam keluhan fisik yang diungkapkan. Berdasarkan data-data tersebut petugas kesehatan memberikan informasi dan penyuluhan pada keluarga dan masyarakat tentang hal-hal yang perlu diketahui tentang usia lanjut. Bila ada masalah fisik dan psikologis yang memerlukan penanganan lebih lanjut, petugas kesehatan perlu memberikan rujukan pada ahli sesuai dengan kondisi dan keperluan usia lanjut. Petugas kesehatan dapat melakukan tindakan-tindakan promotif yang bersifat preventif sebagai berikut :

    • Mensosialisasikan tentang persiapan sebelum memasuki usia lanjut sebagai berikut :

      • Menjadi tua diterima dengan ikhlas dan realistis.

      • Menjadi tua dihadapi dengan sikap mental yang positif dan optimistik.

      • Berperilaku hidup sehat, mencegah penyakit dan tetap memelihara kebugaran.

      • Membangun, membina, dan memelihaia hubungan sosial.

      • Meningkatkan terus ilmu dan keterampilan sebagai bekal menjalani hidup yang bermanfaat sosial ataupun ekonomi.

  • Apa yang telah terjadi diterima sebagai takdir.

  • Tetap aktif, jasmani dan rohani, sebab kehidupan yang "pasif' akan mempercepat proses penuaan.

  • Berusaha menjadi subyek selama mungkin dalam kehidupan.

  • Meningkatkan kehidupan spiritual dengan mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa.

  • Untuk membantu mengatasi, mengurangi perasaan yang negatif, maka petugas kesehatan sebaiknya berperilaku sebagai berikut :

    • Bersikap ramah, lembut dan sabar mengahadapi usai lanjut.

    • Mau mendenganr keluhan.

    • Mau membantu dan melayani keperluannya.

    • Mau meberikan informasi yang membuatnya merasa tenang.

    • Mau memberikan dorongan, bujukan, petunjuk dan saran yang membesarkan hatinya.

    • Mau memahami dan dapat menghayati perasaannya serta bersikap menerima apa adanya.

2.

Prevensi

  • a. Meningkatkan Pengertian dan Perhatian Petugas Kesehatan Diharapkan agar petugas kesehatan dalam melaksanakan kegiatan pelayanannya pada usia lanjut tidak hanya memperhatikan keluhan-keluhan yang dikemukakan oleh meraka tapi juga mempertimbangkan adanya faktor- faktor- lain yang mendasari keluhan tersebut seperti masalah psikologis, sosial, budaya atau kemungkinan adanya masalah mental emosional. Tersedianya loket khusus dan sarana lainnya di fasilitas pelayanan kesehatan bagi usia lanjut merupakan hal yang perlu diperhatikan terutama bagi usia lanjut dengan alat bantu seperti kursi roda. Penanganan secara holisitik dengan sikap yang ramah, sopan dan hormat merupakan pelayanan yang diidamkan oleh usia lanjut.

  • b. Mensosialisasikan Usia Lanjut Sejahtera Yang dimaksud dengan sejahtera adalah terpenuhinya kebutuhan lahir dan batin. Kebutuhan batin disebut juga "basic needs" bersifat immaterial dan universal, kebutuhan lahir disebut juga "instrumental need" bersifat material dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, budaya, ekonomi dan sebagainya. Menurut Abraham H.

Maslow

kebutuhan

manusia,

dari

jenjang

yang

paling

rendah

hingga

jenjang yang paling tinggi adalah kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial

penghargaan dan aktualisasi diri.

Kesejahteraan usia lanjut, pada dasamya menjadi "concern" para pralanjut usia atau usia lanjut sendiri, keluarga/masyarakat,organis asiorganisasi masyarakat dan pemerintah. Oleh karena masalahnya menyangkut banyak pihak, perlu ada landasan berpijak yang disepakati bersama.

  • c. Paradigma Usia Lanjut Sejahtera, terdiri dari lima butir sebagai berikut

    • 1. Positif, Menanamkan pengertian dan membangkitkan kesadaran bahwa :

      • Menjadi tua tidak perlu diikuti oleh sakit-sakitan, tapi dapat terjadi secara normal.

      • Tua tidak identik dengan "pensiunan" puma segalanya dan tidak berguna, tetapi tetap dapat menjadi anggota masyarakat yang dapat memberikan sumbangan kepada kehidupan dan pembangunan.

  • 2. Proaktif, Menjemput persoalan dan mengambil langkah antisipasi supaya masalah yang tidak dikehendaki tidak menjadi kenyataan :

    • Berperilaku sehat, meningkatkan kebugaran, mencegah penyakit dan kecacatan.

    • Kebiasaan menabung untuk hari tua.

    • Sistem pensiunan dan jaminan hari tua.

    • Meningkatkan ilmu dan keterampilan.

    • Menjalin dan membina jaripgan sosial.

Meningkatkan kehidupan spiritual dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta. 3. Non Diskriminasi, Tidak mengucilkan atau

Meningkatkan kehidupan spiritual dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta.

  • 3. Non Diskriminasi, Tidak mengucilkan atau mengotakkan usia lanjut hanya karena usianya, tetapi tetap menganggap sebagai bagian integral dari satu masyarakat yang hak dan kewajibannya dinilai atas dasar kemampuan dan kondisi serta keterbatasannya.

  • 4. Akomodatif/Kondusif, Tetap memberikan peluang dan kesempatan untuk bekerja mencari nafkah atau melakukan kegiatan-kegiatan secara sukarela, serta berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, sesuai keinginan dan kemampuannya. Memberikan peluang, dorongan dan kesempatan untuk menambah ilmu serta keterampilan untuk meningkatkan perannya, baik secara ekonomi maupun sosial. Memberi suasana dan semangat untuk menjalani hidup yang bermanfaat.

  • 5. Supportif, Memberikan dukungan, bantuan maupun pelayanan untuk meningkatkan kesejahteraannya, serta memberikan santunan maupun perawatan bagi mereka yang sakit dan tidak berdaya.

  • d. Mencapai Usia Lanjut Sehat, Tua Berguna, Bahagia dan Sejahtera Merupakan kendala yang cukup besar karena usia lanjut mempunyai ciri khas tersendiri dan akibat proses penuaan usia lanjut sulit untuk menerima perubahan-perubahan yang cepat. Di lain pihak pelayanan kesehatan, masalah gizi dan kesehatan lingkungan berjalan lebih baik, yang memungkinkan usia penduduk cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Untuk itu perlu diterapkan suatu program terpadu yang dilaksanakan sedini mungkin untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang dapat menimbulkan permasalahan pada usia lanjut agar dapat mencapai usia lajut yang sehat, tua berguna, bahagia dan sejahtera.

Bab.III Pembahasan

III.1

Pengertian Osteoporosis

Salah satu penyakit yang umum terjadi pada pasien Geriatri adalah Osteoporosis. Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang.

Epidemiologi, Sementara ini diperkirakan 1 dari 3 wanita dan 1 dari 12 pria di atas usia 50 tahun di seluruh dunia mengidap osteoporosis.

III.2

Jenis-jenis Osteoporosis

Osteoporosis terbagi menjadi 2 jenis yaitu Osteoporosis primer dan sekunder. Osteoporosis primer sering menyerang wanita pascamenopause dan pada pria usia lanjut dengan penyebab yang belum diketahui. Sedangkan osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan :

  • Hyperthyroidism

  • Hyperparathyroidism

  • Hypogonadism

  • Kelainan hepar

  • Kegagalan ginjal kronis

  • Kurang gerak

  • Kebiasaan minum alkohol

  • Pemakai obat-obatan/corticosteroid

  • Kelebihan kafein

III.3

Penyebab Osteoporosis & Pengobatan

Penyebab terjadinya osteoporosis beraneka ragam, seperti berikut

Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen, yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia diantara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lambat.

Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.

Osteoporosis

senilis

kemungkinan

merupakan

akibat

dari

kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan di antara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut, biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita.

Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, adrenal, dan paratiroid) dan obat-obatan (kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan.

Tabel 1. Perbedaan osteoporosis tipe pascamenepouse dan senilis

 

Tipe pascamenepouse

 

Tipe senilis

 

Usia terjadi

 

51-75 tahun

> 70 tahun

Rasio

jenis

kelamin

   

(W:P)

6:1

2:1

Hilangnya tulang

 

Terutama trabekuler

 

Trabekuler dan kortikal

Derajat hilang tulang

Dengan percepatan

 

Tanpa percepatan

 
 

Vertebral

(crush)

dan

Vertebral

(multiple,

Letak fraktur

 

radius (distal)

wedge)

dan

pinggul

 

(femur)

Penyebab utama

 

Faktor yang berhubungan dengan menopause

Faktor yang berhubungan dengan proses menua

Gejala osteoporosis, kepadatan tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis), sehingga pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala. Beberapa penderita tidak memiliki gejala.

Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi kolaps atau hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami kolaps secara spontan atau karena cedera ringan.

Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan.

Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan ketegangan otot dan sakit.

Tulang lainnya bisa patah, yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah

persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Selain itu, pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan.

Pada seseorang yang mengalami patah tulang, diagnosis osteoporosis ditegakkan berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik dan rontgen tulang. Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk menyingkirkan keadaan lain yang bisa menyebabkan osteoporosis.

Untuk mendiagnosis osteoporosis sebelum terjadinya patah tulang dilakukan pemeriksaan yang menilai kepadatan tulang. Pemeriksaan yang paling akurat adalah DXA (dual-energy x-ray absorptiometry). Pemeriksaan ini aman dan tidak menimbulkan nyeri, bisa dilakukan dalam waktu 5-15 menit.

DXA sangat berguna untuk:

  • Wanita yang memiliki risiko tinggi menderita osteoporosis.

  • Penderita yang diagnosisnya belum pasti.

  • Penderita yang hasil pengobatannya harus dinilai secara akurat. Berdasarkan

densitas

massa

tulang

(pemeriksaan

massa

tulang

dengan

menggunakan alat densitometri), WHO membuat kriteria sebagai berikut :

Normal

:

Nilai T pada BMD > -1

Osteopenia

:

Nilai T pada BMD antara -1 dan -2,5

Osteoporosis

:

Nilai T pada BMD < -2,5

Osteoporosis Berat

:

Nilai T pada BMD , -2,5 dan ditemukan fraktur

Mekanisme yang mendasari dalam semua kasus osteoporosis adalah ketidakseimbangan antara resorpsi tulang dan pembentukan tulang. Dalam tulang normal, terdapat matrik konstan remodeling tulang hingga 10% dari seluruh massa tulang mungkin mengalami remodeling pada saat titik waktu tertentu.

Tulang diresorpsi oleh sel osteoklas (yang diturunkan dari sumsum tulang), setelah tulang baru disetorkan oleh sel osteoblas.

Tujuan pengobatan adalah meningkatkan kepadatan tulang. Semua wanita, terutama yang menderita osteoporosis, harus mengkonsumsi Ca (kalsium) dan vitamin D dalam jumlah yang mencukupi.

Wanita pascamenopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen (biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat, yang bisa memperlambat atau menghentikan penyakitnya. Bifosfonat juga digunakan untuk mengobati osteoporosis.

Alendronat berfungsi untuk mengurangi kecepatan penyerapan tulang pada wanita pascamenopause, meningkatakan massa tulang belakang dan tulang panggul, dan mengurangi angka kejadian patah tulang. Supaya diserap dengan baik, alendronat harus diminum dengan segelas penuh air pada pagi hari dan dalam waktu 30 menit sesudahnya tidak boleh makan atau minum yang lain.

Alendronat bisa mengiritasi lapisan saluran pencernaan bagian atas, sehingga setelah meminumnya tidak boleh berbaring, minimal selama 30 menit sesudahnya. Obat ini tidak boleh diberikan kepada orang yang memiliki kesulitan menelan atau penyakit kerongkongan dan lambung tertentu.

Kalsitonin dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang menderita patah tulang belakang yang disertai nyeri. Obat ini bisa diberikan dalam bentuk suntikan atau semprot hidung. Tambahan fluorida bisa meningkatkan kepadatan tulang. Tetapi tulang bisa mengalami kelainan dan menjadi rapuh, sehingga pemakaiannya tidak dianjurkan.

Pria yang menderita osteoporosis biasanya mendapatkan kalsium dan tambahan vitamin D, terutama jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuhnya tidak menyerap kalsium dalam jumlah yang mencukupi. Jika kadar testoren rendah, bisa diberikan testosteron.

Patah tulang karena osteoporosis harus diobati. Patah tulang panggul biasanya diatasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips atau diperbaiki dengan pembedahan. Pada kolaps tulang belakang disertai nyeri punggung yang hebat, diberikan obat pereda nyeri, dipasang supportive back brace dan dilakukan terapi fisik.

III.4

Pencegahan Osteoporosi

Pencegahan osteoporosis dapat dilakukan dengan beberapa cara, yakni :

  • Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dengan mengkonsumsi kalsium yang cukup.

  • Melakukan olah raga dengan beban.

  • Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu).

Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (±umur 30 tahun). Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium. Olahraga beban (misalnya berjalan dan menaiki tangga) akan meningkatkan kepadatan tulang. Berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang.

Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause, tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi risiko patah tulang.

Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif dari pada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim.

Untuk

mencegah

osteroporosis,

bisfosfonat

(contohnya

alendronat),

bisa

digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.

Bab.IV Penutup

IV.1

Kesimpulan

Proses menua (aging) adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun social yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lanjut usia.

Di Indonesia batasan usia lanjut yang tercantum dalam Undang-undang No.12/1998 tentang Kesejahteraan Usia Lanjut adalah sebagai berikut : Usia lanjut adalah seorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Depsos,1999); batasan ini sama dengan yang dikemukakan oleh Burnside dkk. Proses penuaan pada seseorang sebenarnya sudah mulai terjadi sejak pembuahan/konsepsi dan berlangsung sampai- pada saat kematian.

Menurut pasal 1 UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Usia Lajut bahwa yang dimaksud dengan kesejahteraan adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial baik material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketenteraman lahir dan batin yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan pemenuhan kebutuhan jasmani, rohani dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak dan kewajiban asasi manusia sesuai dengan Pancasila.

Kesejahteraan ini hanya dapat tercapai jika ada jaminan sosial terutama dalam bentuk pensiun, asuransi pensiun dan asuransi kesehatan dari pemerintah ataupun swasta, jaminan dari anak-anaknya atau keluarganya atau yang bersangkutan sendiri. Usia Lanjut Potensial adalah usia lanjut yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan atau jasa.

IV.2

Saran

Manusia yang telah memasuki usia lanjut tidak bisa berdiri sendir, membutuhkan bantuan dari berbagai pihak tertutama pihak keluarga tapi tidak menutup kemungkinan membutuhkan bantuan dari pemerintah terutama dalam pelayanan kesehatan.

Bagi keluarga lebih memperhatikan kesehatan orang tua yang telah memasuki usia lanjut karena semakin berkurangnya umur mereka semakin banyak membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang terdekat.

Bagi pemerintah lebih memperhatikan masyarakat yang telah memasuki usia lanjut dengan memberikan jaminan kesehatan bagi Lansia terutama bagi veteran- veteran perang yang tidak diperhatikan.