Anda di halaman 1dari 8

E. MELAKUKAN UJI PROTEIN URIN DENGAN ASAM ASETAT Tujuan 1.

Mengetahui beberapa cara sederhana untuk menguji protein urin 2. Melakukan pengujian protein yang terdapat pada urin Dasar Teori Penetapan kadar protein dalam urin biasanya dinyatakan

berdasarkantimbulnya kekeruhan pada urin. Karena padatnya atau kasarnya kekeruhan itumenjadi satu ukuran untuk jumlah protein yang ada, maka menggunakan urin yang jernih menjadi syarat yang penting.Salah satu uji protein urin yang cukup peka adalah dengan melalui pemanasan urin dengan asam asetat. Pemberian asam asetat dilakukan untuk mencapai atau mendekati titik iso-elektrik protein, sedangkan pemanasan bertujuan untuk denaturasi sehingga terjadilah presipitasi. Cara penilaian uji protein urin adalah sebagai berikut:

NILAI Negatif Positif +

SIMBOL 1+

DESKRIPSI Tidak ada kekeruhan sedikitpun Kekeruhan ringan tanpa butir-butir; kadar protein kira-kira 0,010,05% Kekeruhan mudah terlihat dan nampak butir-butir

Positif + + 2+

dalam kekeruhan tersebut; kadar protein kira-kira 0,05-0,2%

Positif + + +

3+

Jelas keruh dengan

kepingan-kepingan;

kadar

protein kira-kira 0,02-0,5% Sangat keruh dengan kepingan-kepingan besar atau

Positif + + + + 4+

bergumpal-gumpal atau memadat; kadar protein kira-kira lebih dari 0,5%. Jika terdapat lebih dari 3% protein akan membeku.

Proteinuria yaitu urin manusia yang terdapat protein yang melebihi nilai normalnya yaitu lebih dari 150 mg/24 jam atau pada anak-anak lebih dari 140 mg/m2. Dalam keadaan normal, protein didalam urin sampai sejumlah tertentu masih dianggap fungsional. Sejumlah protein ditemukan pada pemeriksaan urin rutin, baik tanpa gejala, ataupun dapat menjadi gejala awal dan mungkin suatu bukti adanya penyakit ginjal yang serius. Walaupun penyakit ginjal yang penting jarang tanpa adanya proteinuria, kebanyakan kasus proteinuria biasanya bersifat sementara, tidak penting atau merupakan penyakit ginjal yang tidak progresif. Lagipula protein dikeluarkan urin dalam jumlah yang bervariasi sedikit dan secara langsung bertanggung jawab untuk metabolisme yang serius. Adanya protein di dalam urin sangatlah penting, dan memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan adanya penyebab/penyakit dasarnya. Adapun proteinuria yang ditemukan saat pemeriksaan penyaring rutin pada orang sehat sekitar 3,5%. Jadi proteinuria tidak selalu merupakan manifestasi kelainan ginjal. Biasanya proteinuria baru dikatakan patologis bila kadarnya diatas 200mg/hari pada beberapa kali pemeriksaan dalam waktu yang berbeda. Ada yang mengatakan proteinuria persisten jika protein urin telah menetap selama 3 bulan atau lebih dan jumlahnya biasanya hanya sedikit diatas nilai normal. Dikatakan proteinuria massif bila terdapat protein di urin melebihi 3500 mg/hari dan biasanya mayoritas terdiri atas albumin. Dalam keadaan normal, walaupun terdapat sejumlah protein yang cukup besar atau beberapa gram protein plasma yang melalui nefron setiap hari, hanya sedikit yang muncul didalam urin. Ini disebabkan 2 faktor utama yang berperan yaitu: 1. Filtrasi glomerulus 2. Reabsorbsi protein tubulus Patofisiologi Proteinuria Proteinuria dapat meningkat melalui salah satu cara dari ke-4 jalan yaitu:

1. Perubahan permeabilitas glumerulus yang mengikuti peningkatan filtrasi dari protein plasma normal terutama abumin. 2. Kegagalan tubulus mereabsorbsi sejumlah kecil protein yang normal difiltrasi. 3. Filtrasi glomerulus dari sirkulasi abnormal, Low Molecular Weight Protein (LMWP) dalam jumlah melebihi kapasitas reabsorbsi tubulus. 4. Sekresi yang meningkat dari mekuloprotein uroepitel dan sekresi IgA dalam respon untuk inflamasi. Derajat proteinuria dan komposisi protein pada urin tergantung mekanisme jejas pada ginjal yang berakibat hilangnya protein. Sejumlah besar protein secara normal melewati kapiler glomerulus tetapi tidak memasuki urin. Muatan dan selektivitas dinding glomerulus mencegah transportasi albumin, globulin dan protein dengan berat molekul besar lainnya untuk menembus dinding glomerulus. Jika sawar ini rusak, terdapat kebocoran protein plasma ke dalam urin (proteinuria glomerulus). Protein yang lebih kecil (100 kDal) sementara foot processes dari epitel/podosit akan memungkinkan lewatnya air dan zat terlarut kecil untuk transpor melalui saluran yang sempit.Saluran ini ditutupi oleh anion glikoprotein yang kaya akan glutamat, aspartat, dan asam silat yang bermuatan negatif pada pH fisiologis. Muatan negatif akan menghalangi transpor molekul anion seperti albumin. Mekanisme lain dari timbulnya proteinuria ketika produksi berlebihan dari proteinuria abnormal yang melebihi kapasitas reabsorbsi tubulus. Ini biasanya sering dijumpai pada diskrasia sel plasma (mieloma multipel dan limfoma) yang dihubungkan dengan produksi monoklonal imunoglobulin rantai pendek.Rantai pendek ini dihasilkan dari kelainan yang disaring oleh glomerulus dan di reabsorbsi kapasitasnya pada tubulus proksimal.Bila ekskersi protein urin total melebihi 3,5 gram sehari, sering dihubungkan dengan hipoalbuminemia, hiperlipidemia dan edema (sindrom nefrotik). Proteinuria Fisiologis Proteinuria sebenarnya tidak selalu menunjukkan kelainan/penyakit ginjal. Beberapa keadaan fisiologis pada individu sehat dapat menyebabkan proteinuria.

Pada keadaan fisiologis sering ditemukan proteinuria ringan yang jumlahnya kurang dari 200 mg/hari dan bersifat sementara. Misalnya, pada keadaaan demam tinggi, gagal jantung, latihan fisik yang kuat terutama lari maraton dapat mencapai lebih dari 1 gram/hari, pasien hematuria yang ditemukan proteinuria masif, yang sebabnya bukan karena kebocoran protein dari glomerulus tetapi karena banyaknya protein dari eritrosit yang pecah dalam urin akibat hematuri tersebut (positif palsu proteinuria masif). Proteinuria Patologis Sebaliknya, tidak semua penyakit ginjal menunjukkan proteinuria, misalnya pada penyakit ginjal polikistik, penyakit ginjla obstruksi, penyakit ginjal akibat obatobatan analgestik dan kelainan kongenital kista, sering tidak ditemukan proteinuria. Walaupun demikian proteinuria adalah manifestasi besar penyakit ginjal dan merupakan indikator perburukan fungsi ginjal. Baik pada penyakit ginjal diabetes maupun pada penyakit ginjal non diabetes.

Alat Tabung reaksi Alat pembakar Penjepit tabung Pipet Senter

Bahan Urin sewaktu Asam asetat 3-6%

Cara Kerja

Memasukkan urin ke dalam tabung reaksi hingga 2/3 penuh

Menjepit tabung pada bagian bawah, memiringkan sekitar 45 derajat diatas api hingga mendidih selama 30 detik

Memberikan penyinaran pada tabung sehingga sinar terpantul

Menetesi larutan asam asetat 3-5 tetes untuk menentukan kekeruhan yang terjadi apakah karena kalsium fosfat. Jika kekeruhan hilang maka diakibatkan oleh kalsium fosfat. Jika tetap atau bertambah keruh maka uji protein tersebut positif.

Memperhatikan terjadinya kekeruhan di lapisan atas urin tersebut. Membandingkan kejernihannya dengan urin yang tidak dipanasi di bagian bawah tabung

Memanasi sekali lagi bagian atas tabung hingga mendidih lalu mencatat dan memberikan penilaian pada hasilnya.

Hasil Pengamatan USIA (tahun) 53 NILAI Negatif PRESPITASI PROTEIN SIMBOL DESKRIPSI Tidak ada kekeruhan sedikitpun. 2. Wahyu Fitria N. 21 Negatif Tidak ada kekeruhan sedikitpun. 3. Hafidza Istianah 20 Negatif Tidak ada kekeruhan sedikitpun. 4. Tahyatul Bariroh 20 Negatif Tidak ada kekeruhan sedikitpun. 5. Bapak M. H. Hersien 52 Positif++ 2+ Kekeruhan mudah

NO. 1.

NAMA OP Bapak Ubadi

terlihat dan nampak butir-butir kekeruhan kadar dalam tersebut; kira-

protein

kira 0,05-0,2% 6. Bapak Priyono 55 Negatif Tidak ada kekeruhan sedikitpun.

Pembahasan Pada praktikum kali ini kami menggunakan uji asam asetat sebagai pembukti ada tidaknya protein di dalam urin keenam OP. Tiga dari enam OP yang kami uji urinnya menderita penyakit diabetes mellitus, di antaranya Bapak Ubadi, Bapak Hersien, dan Bapak Priyono. Setelah kami uji, urin dari kelima OP tidak menunjukkan adanya kekeruhan sama sekali pada bagian atas yang terkena panas. Hanya urin yang dimiliki oleh Bapak Hersien saja yang menunjukkan adanya kekeruhan pada nilai Positif + + yang

mendeskripsikan keadaan kekeruhan mudah terlihat dan nampak butir-butir dalam kekeruhan tersebut; kadar protein kira-kira 0,05-0,2%. Fungsi ginjal yaitu untuk membuang sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh dan mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit tubuh. Setiap saat, secara teratur, darah yang beredar di tubuh kita akan melewati ginjal untuk menjalani proses filtrasi di ginjal. Proses filtrasi tersebut akan menghasilkan urin yang membawa serta sisa metabolisme tubuh yang tidak diperlukan lagi. Sedangkan zat-zat yang berguna bagi tubuh, seperti protein, tidak terfiltrasi dan tidak keluar di urin. Proses metabolisme protein di dalam sistem pencernaan akan menghasilkan asam amino yang kemudian ikut dalam peredaran darah. Di dalam sel akan disintesa dan sebagai hasil akhir adalah asam urat. Asam urat merupakan suatu zat racun jika ada di dalam tubuh maka hepar akan dirombak sedikit demi sedikit menjadi urea dan dikeluarkan ginjal. Jika urine mengandung protein biasanya berupa asam amino, keadaan demikian menunjukkan adanya kelainan pada hepar dan ginjal. Proteinuria sebenarnya tidak selalu menunjukkan kelainan atau penyakit pada ginjal. Beberapa keadaan fisiologis pada individu sehat dapat menyebabkan proteinuria. Karena pada keadaan fisiologis sering ditemukan proteinuria ringan yang jumlahnya kurang dari 200 mg/hari dan bersifat sementara sedangkan proteinuria baru dikatakan patologis bila kadarnya diatas 200mg/hari pada beberapa kali pemeriksaan dalam waktu yang berbeda.

Kesimpulan 1. Kelima OP menunjukan nilai Negatif yang menunjukan tidak ada kekeruhan sedikitpun dalam uji protein. Hanya OP yang bernama Bapak Hersien yang menunjukan nilai Positif + +. 2. Dalam keadaan normal, walaupun terdapat sejumlah protein yang cukup besar atau beberapa gram protein plasma yang melalui nefron setiap hari, hanya sedikit yang muncul di dalam urin. Ini disebabkan 2 faktor utama yang berperan yaitu proses filtrasi pada glomerulus dan reabsorbsi protein pada tubulus.

3. Proteinuria tidak selalu menunjukkan kelainan atau penyakit pada ginjal. Karena

pada keadaan fisiologis sering ditemukan proteinuria ringan yang jumlahnya kurang dari 200 mg/hari dan bersifat sementara.
4. Proteinuria baru dikatakan patologis bila kadarnya diatas 200mg/hari pada

beberapa kali pemeriksaan dalam waktu yang berbeda.

Daftar Pustaka Armstrong, Frank B. 1995. Buku Ajar Biokimia. Edisi ketiga. Jakarta : EGC. Arthur C. Guyton dan John E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed. 11. Jakarta : EGC. Lehninger, A. 1988. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Erlangga.