Anda di halaman 1dari 2

Sistem Hukum Indonesia Sumber :http://fellinkinanti-fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail-45642-Studi%20Strategis %20Indonesia%20I%20Negara%20Bangsa-Sistem%20Hukum%20Indonesia.

html Sistem hukum menurut Subekti adalah suatu susunan atau tatanan yanng teratur, keseluruhan yang berkaitan satu sama lain yang merupakan hasil dari suatu pemikiran untuk mencapai suatu tujuan, yang terpola dan menurut rencana. Sedangkan menurut Mariam Darus Badrulzaman, sistem sebagai sebuah kumpulan asas-asas yang terpadu, yang merupakan landasan dimana dibangunnya tertib hukum. Peraturan hukum di masyarakat merupakan suatu sistem hukum karena terkait dengan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Sistem hukum nasional dipengaruhi oleh 3 sistem hukum, yaitu sistem hukum Adat, sistem hukum Barat, dan sistem hukum Islam. Sebelum Belanda datang ke Indonesia, hukum adat menjadi sumber hukum yang berlaku di masyarakat pada umumnya. Hukum adat umumnya tidak tertulis dan berlaku sesuai norma dan ketentuan-ketentuan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dalam menjalankan kehidupan sehariharinya. Hukum adat bersifat komunal, dan merupakan cermin kehidupan suatu bangsa dari waktu ke waktu. Hukum adat di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Cornelis Snouck Hoorgronje di Indonesia dari bahasa Belanda Adatrecht yang selanjutnya oleh Van Vollenhoven diberikan istilah baru akan hukum adat tersebut yaitu hukum juridis. Snouck dalam bukunya menuliskan sebuah teori yang terkenal yaitu Receptie, dimana Snouck menyebutkan bahwa orang Indonesia yang telah diterima oleh hukum adatlah yang dapat dikenakan hukum Islam oleh Belanda pada zaman kolonialismenya. Snouck juga menunjukkan bagaimana hukum yang berkembang di Aceh adalah merupakan hukum adat yang mempunyai konsekuensi hukum. Hukum adat di Indonesia adalah hukum Statutair, yaitu hukum kebiasaan yang mengandung sebagian kecil hukum Islam. Van Vollenhoven kemudian mengelompokkan hukum di Indonesia dalam 19 lingkaran hukum adat yang terbagi menurut letak geografis Indonesia. Namun, hal itu berubah semenjak Belanda datang ke Indonesia dengan status kolonial. Pada zaman penjajahan Belanda, hukum yang berlaku di Indonesia bukan hanya hukum adat yang dipegang oleh masyarakat setempat, namun juga ditambahkan dengan hukum yang berlaku di negeri Belanda. Semua orang Indonesia dan orang Asia Timur lainnya yang tinggal di Indonesia dikenakan hukum adat sedangkan bagi golongan Eropa yang tinggal di Indonesia dikenakan hukum Belanda. Sistem hukum Barat bersifat individualistik dan berbeda dengan hukum adat. Pada zaman penjajahan Belanda, hukum Barat digunakan hanya untuk masyarakat Eropa yang tinggal di Indonesia. Contoh dari hukum Belanda ini adalah hukum privat atu hukum perdata di Indonesia atau Burgerlijk Wetboek. Berlakunya BW (singkatan Burgerlijk Wetboek) di Indonesia ini tercantum dalam pasal 131 IS yang menyatakan bahwa bagi setiap orang Belanda/Eropa yang menetap di Indonesia akan diberlakukan hukum perdata dari Belanda. Untuk hukum Pidana, pada masa penjajahan Belanda, terdapat 2 hukum pidana yang diterapkan oleh Belanda. Yaitu hukum pidana bagi orang-orang Eropa (Wetboek Van Strafrecht Voor Europeanen) yang diterapkan mulai 1 Januari 1867, dan (Wetboek Van Strafrecht Voor Inlander) yang mulai berlaku sejak 1 Januari 1873. Terdapat perbedaan dalam dua hukum pidana ini. Hukum pidana untuk orang-orang Eropa mempunyai ancaman pidana yang lebih ringan dari hukuman untuk orang-orang pribumi/inlanders pada masa itu. Pada masa pendudukan Jepang, hukum perdata Belanda ini masih digunakan karena Jepang sendiri hanya berada di Indonesia selama 3 tahun. Hukum Islam di Indonesia ada semenjak sebelum Belanda hadir di Indonesia dengan bukti adanya kerajaan Islam besar Samudra Pasai dengan ahli agama Islam Sultan Malikul Zahir. Selain itu masih banyak kerajaan-kerajaan Islam lainnya yang menggunakan hukum Islam ketika penjajah datang ke Indonesia. Contohnya adalah perlawanan pasukan pangeran Dipenogoro kepada Belanda yang dimaksudkan untuk mempertahankan hukum Islam di wilayahnya. Hal ini didukung oleh teori Receptio in Complexu yang ditemukan oleh pemikir-pemikir Belanda seperti Carel Frederik Winter dkk yang menyatakan bahwa dalam setiap kehidupan penduduk, berlaku hukum agama mereka masing-masing, hingga akhirnya teradapat teori eksistensi yang menjelaskan posisi hukum Islam

didalam hukum nasional Indonesia. Dari ketiga sistem hukum diatas, dapat dilihat bahwa ketiganya mempengaruhi sistem hukum nasional Indonesia semenjak kemeredekaannya dalam UUD 1945 hingga kini. Hukum adat mempengaruhi hukum nasional dalam ketatanegaraan, hukum adat mengenai warga (perwalian sanak, tanah, perhutangan dkk) dan hukum adat mengenai delik atau pidana. Sedangkan hukum Barat peninggalan kolonial sangat berpengaruh besar dalam hukum tertulis nasional Indonesia semenjak kemerdekaannya. Terutama dalam hukum perdata yang hingga saat ini masih menggunakan BW peninggalan Belanda dan diatur dalam Aturan peralihan Undang-Undang Dasar 1945. Hukum Islam juga berlaku di Indonesia dimana tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Karena hukum nasional Indonesia sendiri sangat kental kaitannya dengan kaidah-kaidah Islam yang bersumber kepada Al-Quran, Al Hadist, Ijmadan Qiyas serta mengenal sistem wajib, sunnah, haram, mubah dan makruh. Ketiga elemen sistem hukum tersebut kemudian membentuk sistem hukum nasional Indonesia yang berlaku di Indonesia hingga saat ini atau Ius Constitutum. Ius constitutum sendiri merupakan hukum positif yang berlaku pada waktu tertentu dan wilayah tertentu. Hukum positif Indonesia terdiri dari hukum tertulis dan hukum tidak tertulis. Menurut TAP MPR RI No.III/MPR/2000, sumber hukum nasional adalah Pancasila dan tata urutan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia antara lain UUD 1945, TAP MPR RI, UU yang dibentuk oleh DPR, Peraturan Pemerintah penganti Undang-Undang (perpu), Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, dan Peraturan Daerah. Namun, hal ini direvisi oleh UU No. 10 Tahun 2004 dimana susunan Hierarki peraturan perundang-undangan Indonesia menjadi UUD 1945, Undang-undang/ Peraturan pemerintah pengganti undang-undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, dan Peraturan Daerah. Sumber hukum formal di Indonesia pun dapat dibedakan menjadi 5 sumber utama, yaitu Undang-undang (Statute), Kebiasaan & Adat (Custom), Traktat (Treaty), Yurisprudensi (Case Law, Judge Made Law), dan Pendapat ahli terkenal (Doctrine). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sistem hukum yang ada di Indonesia dipengaruhi oleh 3 sistem hukum besar yaitu sistem hukum adat yang merupakan cerminan asli rakyat Indonesia, sistem hukum barat yang merupakan peninggalan Belanda dan penjajah yang masih digunakan hingga saat ini didalam hukum Indonesia, dan sistem hukum Islam yang pengaruhnya amat besar dalam sistem hukum nasional Indonesia dan tidak dapat dipisahkan keberadaannya dari hukum nasional Indonesia saat ini.