Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH POLIFARMASI PADA GERIATRI

Disusun Oleh : Santiko Restuadhi 108103000064

Pembimbing : dr. Nurul Hiedayati, Sp.FK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU GERIATRI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2013

BAB I STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN

Nama Usia Jenis kelamin Status perkawinan Alamat Pekerjaan Agama Suku Pendidikan Ruang rawat Masuk RS Waktu pemeriksaan

: Tn. D : 63 tahun : Laki-laki : Menikah : Kedaung, Pamulang. Tangerang selatan : Pedagang : Islam : Betawi : SD : Lt.2 RSUD Tangerang Selatan : 4 Januari 2013 : 7 Januari 2013

II. ANAMNESIS

A. Keluhan Utama Pasien dibawa ke RSUD karena badan terasa lemas 1 jam SMRS. B. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengeluhkan seluruh tubuhnya lemas sejak 1 jam SMRS. Lemas sudah dirasakan sejak 1 hari SMRS, semakin lama semakin memberat hingga 1 jam sebelum dibawa ke RS pasien tidak dapat berjalan sendiri. Sejak 1 hari SMRS pasien juga mengeluh mencret, hingga 7 kali sehari. BABnya cair, tidak berlendir, tidak berbau dan berdarah berwarna kehitaman. Bab dengan darah kehitaman sudah dialami pasien hilang timbul hanya sesekali sejak 1 minggu SMRS, namun sebelumnya tidak mencret dan sehari hanya 1 kali. Pasien juga merasakan nyeri perut di bagian ulu hati sejak 1 hari SMRS. Sejak +- 1 bulan SMRS pasien sering mengeluhkan mual dan perutnya terasa penuh, tapi tidak muntah. Pasien juga menjadi cepat lelah dan tidak nafsu makan. Keluhan sesak nafas disangkal, batuk disangkal, demam disangkal. pada saat dilakukan pemeriksaan pasien mengeluhkan perutnya membesar, pasien menjadi sulit BAB, dan nafasnya sesak sejak 2 hari sebelum pemeriksaan. Pasien juga merasa seluruh bagian perutnya sakit dan pasien menjadi sulit bergerak.

C. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak pernah mengalami sakit yang sama sebelumnya. Riwayat sakit kuning disangkal. Riwayat hipertensi (-), riwayat DM (-), riwayat asam urat (-), riwayat alergi (-), riwayat sakit paru (-), riwayat trauma (-). D. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat hipertensi , riwayat DM , riwayat alergi , riwayat sakit paru dan jantung disangkal pasien. E. Riwayat Kebiasaan Pasien merokok sejak usia muda sebanyak 1 bungkus/hari. Kebiasaan minum minuman beralkohol disangkal. Pasien sehari hari berjualan dipasar, makanan sehari-hari pasien didapat dari beli di warung. Pasien juga terkadang minum jamu jamuan karena dipercaya dapat meningkatkan kekuatan tubuh, namun tidak teratur.

III.

PEMERIKSAAN FISIK

A. Status Generalis

Keadaan umum Kesadaran TD berbaring Nadi berbaring Laju pernapasan BB: 50 Kg, TB: 165 cm Suhu Kepala Rambut Kulit Mata

: Tampak sakit berat : Compos mentis : 110/80 mmHg : 100 kali/menit, reguler, isi cukup : 24 kali/menit

: 36,5 o : Normochepali,tidak ada deformitas : Sebagian putih, tidak mudah dicabut : Kulit kering,CRT <2detik,erythema (-). : Pupil bulat isokor, R.Cahaya +/+, konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik +/+

THT Leher

: Dalam batas normal, : Trakea di tengah, tidak ada KGB pembesaran

Dada Paru

: Simetris, tidak teraba massa, deformitas (-) : Sonor, vesikuler kanan/kiri, ronkhi -/-, wheezing -/-

Jantung

: Batas jantung normal , S1-S2 murni, murmur (-), gallop (-)

Perut

: Buncit, keras, nyeri tekan (+), asites (+) bising usus (-), hepar & limpa tidak teraba

Ekstremitas

: Akral hangat, edema tungkai +/+, sianosis (-), clubbing finger (-),

Punggung

: Tidak ditemukan deformitas atau ulkus dekubitus

IV. Pemeriksaan penunjang Laboratorium Hb Ht Leukosit Trombosit LED


V. Diagnosis di RSUD

: 6,4 : 20 : 8.700 : 334.000 : 80

General weakness
5

Melena ec. Susp NSAID induced Gastropathy

VI. Tatalaksana di RSUD

IVFD RL Ceftriaxon Ranitidin 2x1 amp Paracetamol 3x500 mg Akita 3x2 tab Transfusi premedikasi lasix 1amp

BAB II PEMBAHASAN

I. Pembahasan diagnosis Di RSUD pasien didiagnosis dengan melena ec. Susp gastropati NSAID. Pada pasien didapatkan keluhan BAB berwarna kehitaman, yang mana hal ini menunjukan terdapatnya perdarahan pada saluran cerna bagian atas sehingga diagnosis Gastropati NSAID masih mungkin. Pada pasien juga terdapat keluhan
7

mual dan nyeri perut, tetapi belum dapat ditentukan secara pasti asal dari keluhan tersebut karena belum dilakukan endoskopi. Endoskopi dapat digunakan untuk melihat permukaan mukosa lambung, baru setelah itu diagnosis Gastropati bisa ditegakkan. Pasien memang memiliki riwayat mengonsumsi jamu jamuan, tetapi masih dalam frekuensi yang normal. Jamu jamuan tersebut juga tidak dapat ditentukan secara pasti apakah mengandung obat NSAID. Oleh karena penjelasan tersebut, dalam hal ini penulis cenderung untuk mendiagnosis pasien dengan Melena ec. Sirosis hepatis. Sirosis hepatis dapat memberikan gejala yang serupa dengan gastropati seperti mual dan rasa penuh diperut. Pemeriksaan fisik pada pasien juga mendukung diagnosis Sirosis Hepatis dengan ditemukannya asites pada perut pasien. Asites juga mengganggu pergerakan diafragma sehingga pasien merasa sesak. Anemia yang dialami pasien juga berhubungan dengan Sirosis Hepatis pasien. Perjalanan penyakit Sirosis Hepatis yang diderita pasien sudah berlangsung lama sehingga pasien juga mengeluhkan perlahan lahan semakin lemah dan tidak nafsu makan. Diare akut yang diderita pasien 1 hari SMRS membuat keadaan umum pasien semakin memburuk hingga pasien akhirnya dibawa ke RS. Namun pemeriksaan penunjang masih perlu dilakukan untuk memastikan diagnosis dan mencari kemungkinan etiologinya.

II. Pembahasan polifarmasi Pada pasien digunakan lebih dari 5 jenis obat sehingga merupakan masalah polifarmasi.

1. PARASETAMOL

Parasetamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek

antipiretik

ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal dengan nama parasetamol, dan tersedia sebagai obat bebas (Wilmana, 1995). Farmakokinetik Absorpsi Paracetamol cepat diabsorpsi di saluran pencernaan, juga diabsorpsi secara baik dari membrane mukosa rectum. Distribusi, Metabolisme,dan Ekresi Paracetamol didistribusikan secara luas dalam cairan tubuh dan dengan mudah. Setelah paracetamol dimetabolisme oleh liver, lalu dieksresikan oleh ginjal dan dalam jumlah kecil pada air susu ibu (ASI). Administrasi Paracetamol dapat diminum sebelum atau sesudah makan (tidak bergantung kepada makanan). Onset dari Paracetamol kurang dari 1 jam dengan waktu paruh sekitar 1-3 jam. Rute administrasi dari paracetamol : Oral Rectal Intravena Farmakodinamik Paracetamol mengurangi rasa sakit dan demam, tapi tidak seperti salicylate, Paracetamol tidak memberikan efek signifikan pada inflamasi dan fungsi dari trombosit. Efek analgesic dari paracetamol masih belum diketahui secara pasti mekanismenya. Obat ini mungkin bekerja di central nervous system (CNS) dengan menghambat sisntesis prostaglandin dan di pheriperal nervous system dengan mekanisme yang tidak diketahui. Paracetamol mengurangi demam dengan berkerja langsung pada heat regulating center di hypothalamus. Telah dibuktikan bahwa paracetamol mampu mengurangi bentuk teroksidasi enzim siklooksigenase (COX), sehingga menghambatnya untuk membentuk senyawa
9

penyebab inflamasi. Sebagaimana diketahui bahwa enzim siklooksigenase ini berperan pada metabolisme asam arakidonat menjadi prostaglandin H2, suatu molekul yang tidak stabil, yang dapat berubah menjadi berbagai senyawa proinflamasi. Kemungkinan lain mekanisme kerja paracetamol ialah bahwa paracetamol menghambat enzim siklooksigenase seperti halnya aspirin, namun hal tersebut terjadi pada kondisi inflamasi, dimana terdapat konsentrasi peroksida yang tinggi. Pada kondisi ini oksidasi paracetamol juga tinggi, sehingga menghambat aksi antiinflamasi. Hal ini menyebabkan paracetamol tidak memiliki khasiat langsung pada tempat inflamasi, namun malah bekerja di sistem syaraf pusat untuk menurunkan temperatur tubuh, dimana kondisinya tidak oksidatif. Mekanisme kerja Sebagai pereda nyeri, paracetamol bekerja dengan cara menghambat biosintesis prostagalandin tetapi berbeda dengan analgesic lain, paracetamol bekerja pada lingkungan yang rendah kadar peroksidnya seperti di hipotalamus. Sebagai pereda demam, paracetamol bekerja dengan cara menekan efek zat pirogen endogen yang merupakan zat yang pada keadaan patologis akan meningkatkan suhu tubuh. Indikasi Paracetamol digunakan untuk meredakan demam dan nyeri yang ringansampai sedang yang disebabkan oleh berbagai hal. Efek pereda nyerinya tidak terlalu tinggi namun efek pereda demamnya sangat bagus. Selain itu Paracetamoldigunaka untuk Post-Immunisation Pyrexia. Paracetamol, aman untuk wanita hamil dan anak-anak. Kontra Indikasi Perlu diperhatikan pemberian untuk pasien dengan alergi terhadap paracetamol, gangguan fungsi hati dan ginjal, serta pasien dengan ketergantungan terhadap alcohol. Efek samping

10

Mual

Reaksi hypersensitivitas, ruam pada kulit,


Acute renal tubular necrosis

Potensial Fatal : Sangat Jarang, dyscrasia darah (sepertithrombocytopenia, leucopenia, neutropenia, agranulocytosis), kerusakanliver.

Interaksi obat

Paracetamol dapat meningkatkan potensi kerusakan liver jika digunakan

bersama dengan barbiturates


Paracetamol dapat meningkatkan potensi kerusakan ginjal jika digunakan

bersama dengan NSAIDs atau salicylates


Paracetamol

jika

digunakan

bersama

dengan

tetracycline

akan

menurunkan absorpsi paracetamol Paracetamol dapat meningkatkan efek obat anti-koagulan

Dosis Dewasa: 325 650 mg tiap 4 jam, sampai 1 g q.i.dDaily dose 4 mg Anak-anak : 1-5 tahun: 120-250 mg setiap 4-6 jam (max 4 dosis dalam 24 jam); 6-12 tahun: 250-500 mg setiap 4-6 jam (max 4 dosis dalam 24 jam).

11

Pembahasan Secara umum parasetamol merupakan obat yang realtif aman untuk digunakan karena minim efek sampingnya. Namun pada pasien ini penggunaan paraceamol kurang tepat karena ridak didapatkan keluhan demam pada pasien dan pada pemeriksaan fisik suhu tubuh pasien juga masih dalam batas normal. Pada pasien ini juga terdapat gangguan fungsi hati dan parasetamol merupakan obat yang dapat memperburuk keadaan tersebut. Maka sebaiknya penggunaan parasetamol dihentikan. 2. CEFTRIAXONE Farmakokinetik Ceftriaxone diabsorpsi lengkap setelah pemberian IM dengan kadar plasma maksimum rata-rata antara 2-3 jam setelah pemberian. Dosis multipel IV atau IM dengan interval waktu 12-24 jam, dengan dosis 0,5-2g menghasilkan akumulasi sebesar 15-36 % diatas nilai dosis tunggal. Sebanyak 33-67 % ceftriaxone yang diberikan, akan diekskresikan dalam uring dalam bentuk yang tidak diubah dan sisanya diekskresikan dalam empedu dan sebagian kecil dalam feses sebagai bentuk inaktif. Setelah pemberian dosis 1g IV, kadar rata-rata ceftriaxone 1-3 jam setelah pemberian adalah : 501 mg/ml dalam kandung empedu, 100 mg/ml dalam saluran empedu, 098 mg dalam duktus sistikus, 78,2 mg/ml dalam dinding kandung empedu dan 62,1 mg/ml dalam plasma. Setelah pemberian dosis 0,15-3g, maka waktu paruh eliminasinya berkisar antara 5-8 jam, volume distribusinya sebesar 5,70-13,5 L, klirens plasma 0,501,45 L/jam dan klirens ginjal 0,32-0,73 L/jam. Ikatan protein ceftriaxone bersifat reversibel dan besarnya adalah 85-95 %. Ceftriaxone menembus selaput otak yang mengalami peradangan pada bayi dan anak-anak dan kadarnya dalam cairan otak setelah pemberian dosis 50 mg/kg dan 75 mg/kg IV, berkisar antara 1,3-18,5 ug/ml dan 1,3-44 ug/ml. Dibanding pada orang dewasa sehat, farmakokinetik ceftriaxone hanya sedikit sekali terganggu pada usia lanjut dan juga pada pasien dengan gangguan

12

fungsi

ginjal/hati,

karena

itu

tidak

diperlukan

penyesuaian

dosis.

Farmakodinamik Efek bakterisida ceftriaxone dihasilkan akibat penghambatan sintesis dinding kuman. Ceftriaxone mempunyai stabilitas yang tinggi terhadap betalaktanase, baik terhadap penisilinase maupun sefalosporinase yang dihasilkan oleh kuman gram-negatif, gram-positif. Indikasi Ceftriaxone diindikasikan untuk pengobatan pada infeksi-infeksi dibawah ini yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif seperti : - Infeksi saluran napas bawah - Infeksi kulit dan jaringan lunak - Goneore tanpa komplikasi - Penyakit radang rongga panggu - Septikemia bacterial - Infeksi tulang dan sendi - Infeksi intra-abdominal - Meningitis Profilaksis operasi yaitu 1g dosis tunggal ceftriaxone dapat mengurangi angka kejadian infeksi pasca operasi pada pasien yang dioperasi dan dianggap terkontaminasi atau secara potensial terkontaminasi, misalnya : histerektoni vaginal atau abdominal dan pada pasien yang dioperasi dimana infeksi pada operasi tersebut menyebabkan risiko yang serius ( misal : selama operasi lintas arteri koroner ).

13

Kontraindikasi Ceftriaxone dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat alergi terhadap golongan cephalosporin. Efek Samping Secara umum ceftriaxone dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat ditemukan adalah : Reaksi lokal : Sakit, indurasi atau nyeri tekan pada tempat suntikan dan phlebitis setelah pemberian intravena. Hipersensitivitas Hematologik : Ruam kulit dan kadang-kadang pruritus, demam atau menggigil : Eosinofilia, trombositosis, lekopenia dan kadang-kadang anemia, anemia hemolitik, netropenia, limfopenia, trombositopenia dan pemanjangan waktu protrombia. Saluran cerna Hati : Diare dan kadang-kadang mual, muntah, disgeusia. : Peningkatan SGOT atau SGPT dan kadangkadang peningkatan fosfatase alkali dan bilirubin. Ginjal : Peningkatan dalam urin. Susunan saraf pusat : Kadang-kadang timbul sakit kepala atau pusing. Saluran kemih dan genital : Kadang-kadang dilaporkan timbulnya monitiasis atau vaginitis. Dosis Dan Cara Pemberian Ceftriaxone dapat diberikan secara intravena atau intramuskular.
14

BUN

dan

kadang-kadang

peningkatan kreatinin serta ditemukan silinder

Dewasa : Dosis lazim harian untuk orang dewasa adalah 1-2g sekali sehari (atau dibagi dalam 2 dosis) tergantung dari jenis dan beratnya infeksi. Dosis total harian tidak boleh melebihi 4g. Untuk pengobatan infeksi gonokokal tanpa komplikasi, dosis yang dianjurkan adalah 250 mg intramuskular sebagai dosis tunggal, untuk profilaksis opersai, dosis yang dianjurkan adalah 1g sebagai dosis tunggal dan diberikan 0,5-2 jam sebelum operasi. Anak-anak : Untuk pengobatan infeksi kulit dan jaringan lunak, dosis total harian yang dianjurkan adalah 50-75 mg/kg sekali sehari (atau dibagi 2 dosis), dosis total harian tidak boleh melebihi 2g. Untuk pengobatan meningitis dosis harian adalah 100 mg/kg dan tidak boleh melebihi 4g, dosis diberikan dengan atau tanpa dosis muat 75mg/kg Keterangan Umum Dosis : Secara umum terapi dengan ceftriaxone harus dilanjutkan paling tidak 2 hari setelah tanda dan gejala infeksi menghilang. Lama pengobatan terapi umumnya adalah 4-14 hari, dimana pada infeksi yang disertai dengan komplikasi terapi yang diperlukan akan lebih lama. Pembahasan Pada pasien ini tidak jelas apa tujuan dari diberikannya pengobatan ceftriaxone. Karena tidak sesuai dengan diagnosis. Penggunaan ceftriaxone sebagai profilaksis juga tidak diperlukan karena pasien tidak di operasi. 3. RANITIDIN Ranitidin merupakan antihistamin paenghambat reseptor Histamin H2 yang berperan dalam efek histamine terhadap sekresi cairan lambung. Berdasarkan dari mekanisme kerja kedua obat tersebut kita akan melihat profil dari masing-masing obat tersebut. Farmakodinamik Ranitidine menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversible. Reseptor H2 akan merangsang sekresi cairan lambung srhingga pada pemberian ranitidine sekresi cairan lambung dihambat. Pengaruh fisiologi cimetidin dan ranitidine
15

terhadap reseptor H2 lainnya, tidak begitu penting.walaupun tidak lengkap ranitidine dapat menghambat sekresi cairan lembung akibat rangsangan obat muskarinik atau gastrin. Ranitidine mengurangi volume dan kadar ion hydrogen cairan lambung. Penurunan sekresi asam lambung mengakibatkan perubahan pepsinogen menjadi pepsin menurun. Farmakokinetik Bioavailabilitas ranitidine yang diberikan secara oral sekitar 50% dan meningkat pada pasien penyakit hati. Masa paruhnya kira-kira 1,7 -3 jam pada orang dewasa, dan memanjang pada orang tua dan pasien gagal ginjal. Pada pasien penyakit hati masa paruh ranitidine juga memanjang meskipun tidak sebesar pada ginjal.Pada ginjal normal, volume distribusi 1,7 L/kg sedangkan klirens kreatinin 25-35 ml/menit. Kadar puncak plasma dicapai dalam 1-3 jam setelah penggunaan ranitidine 150 mg secara oral, dan terikat protein plasma hanya 15 %. Ranitidine mengalami metabolism lintas pertama di hati dalam jumlah yang cukup besar setelah pemberian oral. Ranitidine dan matabolitnya diekskresi terutama melalui ginjal, sisanya melalui tinja. Sekitar 70% dari ranitidine yang diberikan IV dan 30 % yang diberikan secara oral diekskresi dalam urin dalam bentuk asal. Indikasi Digunakan untuk mengobati tukak lambung dan tukak duodenum. Akan tetapi manfaat terapi pemeliharaan dalam pencegahan tukak lambung belum diketahui secara jelas. Efek penghambatannya selama 24 jam, Cimetidin 1000 mg/hari menyebabkan penurunan kira-kira 50% dan Ranitidin 300 mg/hari menyebabkan penurunan 70% sekresi asam lambung; sedangkan terhadap sekresi malam hari, masingmasing menyebabkan penghambatan 70% dan 90%. Interaksi obat Ranitidin lebih jarang berinteraksi dengan obat lain dibandingkan dengan simetidin. Nifedin, warfarin, teofilin dan metoprolol dilaporkan berinteraksi dengan ranitidin. Selain menghambat sitokrom P-450, Ranitidin dapat juga
16

menghambat absorbsi diazepam dan mengurangi kadar plasmanya sejumlah 25%. Sebaiknya obat yang dapat berinteraksi dengan ranitidin diberi selang waktu minimal 1 jam. Ranitidin dapat menyebabkan gangguan SSP ringan , karena lebih sukar melewati sawar darah otak disbanding obat sejenis seperti simetidin.

Pembahasan Pemberian ranitidin pada pasien ini masih rasional, karena ranitidin dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual dan nyeri perut yang dirasakan pasien. Pada diagnosis gastropati, pemberian ranitidin juga tepat untuk melindungi mukosa lambung yang terluka dari asam lambung yang berlebih. Namun pada diagnosis Sirosis Hepatis kurang tepat karena perdarahan terjadi karena varises esofagus bukan karena terdapat luka pada lambung. Mual yang dirasakan pasien bukan diakibatkan oleh peningkatan asam lambung sehingga penggunaan ondanetron lebih tepat.

4. FUROSEMID Farmakokinetik
o Absorbsi o Distribusi o Metabolisme o Ekskresi

: Baik secara oral maupun intravena : Terikat protein plasma secara ekstensif : Hepar : Sebagian besar melalui ginjal, sebagian kecil melalui hati

Farmakodinamik Menghambat reabsorbsi elektrolit Na+/K+/2Cl- di ansa Henle asendens bagian epitel tebal (loop diuretics). Selain itu, akan meningkatkan ekskresi K+/Ca++/Mg++. Interaksi Obat
17

Meningkatkan resiko aritmia pada pasien yang mendapat digitalis atau obat antiaritmia. Pemberian bersama aminoglikosida. sefalosporin dan antikanker sisplatin akan meningkatkan resiko nefrotoksisitas. Probenesid mengurangi sekresi diuretik ke lumen tubulus sehingga efek diuresisnya berkurang. AINS terutama indometasin dan kortikosteroid melawan kerja furosemid.

Efek samping Dapat memicu gangguan cairan dan elektrolit (hiponatremi, hipokalemi, hipokalsem, dll), hipotensi, ototoksisitas, efek metabolik (hiperurisemia, hiperglikemia) dan nefritis intersisialis alergi. Makna Klinis Pada pasien ini diberikan sebagai terapi gagal jantung dengan cara menurunkan volume cairan ekstraseluler dengan cepat menurunkan aliran balik vena. Pemberian furosemid sebagai diuretik kuat tepat karena pada pasien ini ditemukan tanda bendungan berupa edem di kedua tungkai. Efek samping furosemid adalah hipokalemi, oleh karena itu pasien perlu mendapatkan preparat kalium. Pembahasan pada kasus Pada pasien ini pemberian furosemid ditujukan hanya untuk premedikasi transfusi. Perlu berhati hati resiko hipotensi dan gangguan elektrolit.

5. Attapulgite Mekanisme kerja Mengabsorpsi nutrisi, racun, obat dan cairan pada saluran pencernaan. Indikasi Diare.

18

Farmakologi Mula kerja obat: respon inisial: oral: 12-19,5 jam. Absorpsi: Attapulgit tidak diabsorpsi oleh saluran cerna. Kontraindikasi: 1. Hipersensitivitas terhadap attapulgit 2. Dugaan obstruksi usus. Efek Samping Efek samping yang sering terjadi: Saluran cerna: konstipasi, kembung, gangguan pencernaan, mual. Efek samping yang serius: Metabolik endokrin: elektrolit tidak normal. Dosis Pemberian : Dosis: Oral: Dewasa: 1,2-1,5 g setiap setelah diare (dosis maksimum: 9 g per hari). Lama pemberian adalah 48 jam.. Untuk penatalaksanaan diare pada anak usia 3-<6 tahun, dosis lazimnya adalah 300 mg setiap setelah diare, dosis tidak boleh melebihi 2,1 g per hari. Anak usia 6-12 tahun dengan diare akut, dosis oral yang direkomendasikan untuk sediaan suspensi adalah 600 mg setiap setelah diare; dosis tidak boleh melebihi 4,2 g per hari. Anak usia 6-12 tahun: dosis yang direkomendasikan untuk tablet biasa adalah 750 mg setiap setelah diare; dosis tidak boleh melebihi 4,5 g per hari. Keterangan penting: Adsorben antidiare, termasuk attapulgit, tidak direkomendasikan untuk anak usia dibawah 3 tahun karena risiko kehilangan cairan dan elektrolit; anak usia dibawah 3 tahun harus dirujuk ke dokter. Cara pemberian: Satu dosis attapulgit diminum setiap setelah diare. Untuk bentuk sediaan tablet, telanlah seluruh tablet secara utuh. Untuk bentuk sediaan sirup, kocoklah terlebih dahulu sebelum digunakan. Pembahasan pada kasus Pada kasus ini, pemberian atapulgit sudah terlalu lama. Atapulgit masih diberikan hingga hari ke 3 pasien dirawat padahal diare sudah berhenti sejak hari pertama, saat ini pasien justru mengeluh sulit BAB.

19

III. Pembahasan interaksi obat

Menurut literatur pada kombinasi obat yang didapatkan oleh pasien, terapat 2 interaksi obat.

1. ceftriaxone dengan furosemid Menurut literatur, pada penelitian terdahulu data yang terbatas menunjukkan furosemide dapat meningkatkan efek nefrotoksik dari beberapa obat golongan sefalosporin. Mekanisme yang pasti dari interaksi tersebut masih belum diketahui, meskipun furosemide telah terbukti dapat meningkatkan konsentrasi plasma dan/atau mengurangi clearance dari beberapa obat golongan sefalosporin seperti cephaloridine dan ceftazidime. Penelitian menunjukan adanya hubungan antara penggunaan diuretik dan angka kejadian gagal ginjal akut selama pengobatan dengan cephaloridine. Secara khusus, 9 dari 36 pasien yang mengalami gagal ginjal akut saat dalam masa pengobatan dengan cephaloridine ternyata juga menerima pengobatan dengan diuretik (terutama furosemid). Faktor riesiko lain diantaranya shock, infeksi, dosis cephaloridine yang belebihan, dan penggunaan bersamaan dengan obat lain yang juga memiliki efek nefrotoksik. MANAJEMEN: Meskipun data terutama terbatas pada cephaloridine, yang tidak lagi dipasarkan secara komersial, hal ini perlu diperhatikan pada pasien yang menerima diuretik loop dalam kombinasi dengan sefalosporin lainnya. Fungsi ginjal harus dipantau, terutama ketika dosis tinggi digunakan atau ketika obat ini diberikan pada orang tua atau pasien dengan gangguan ginjal yang sudah ada sebelumnya. Pada kasus ini interaksi ini tidak berbahaya karena diuretik hanya diberikan sebagai premedikasi sebelum transfusi.

20

2. Paracetamol dengan ranitidin

Penelitian terhadap hewan menunjukkan bahwa ranitidine dapat mempotensiasi hepatotoksisitas dari acetaminophen, namun penelititan lebih lanjut gagal mengonfirmasi penemuan tersebut pada manusia.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Departemen Farmakologi FKUI. Farmakologi dan Terapi. Jakarta : FKUI, 2007.

2. Katzung BG (1986) Basic and Clinical Pharmacology, 3rd edition. Lange

Medical Book, California.

21

3. Speight TM (1987) AverysDrug Treatment: Principles and Practice of

Clinical Pharmacology and Therapeutics, 3rdedition. ADIS Press, Auckland. 4. WHO (1985) Drugs for the Elderly. WHO-Europe, Copenhagen.

22