Anda di halaman 1dari 15

SIFILIS

PENDAHULUAN Latar Belakang Sifilis merupakan salah satu penyakit yang menahun dengan remisi dan eksaserbasi yang umumnya berhubungan dengan perilaku seksual secara bebas. Selain dari itu meskipun insidensi sifilis kian menurun atau telah berkurang jumlah penderita yang terjangkit, tetapi penyakit ini tidak dapat diabaikan, karena merupakan salah satu penyakit menular seksual yang berbahaya dan berat. Hal ini di karenakan hampir seluruh organ tubuh dapat diserang, termasuk system kardiovaskular dan syaraf. Penyakit sifilis ini tidak hanya ditularkan oleh laki laki atau wanita yang terkena kuman sifilis, tetapi wanita hamil yang menderita sifilis dapat juga menularkan penyakitnya ke janin sehingga menyebabkan sifilis kongenital yang dapat menyebabkan kelainan bawaan atau cacat bahakan dapat menyebabkan kematian. Istilah penyakit ini sering di sebut raja singa karena keganasannya. Sejarah dan penelitian tentang sifilis cukup banyak tetapi sampai sekarang asal penyakit ini masih tidak jelas. Kemungkinan penyakit ini timbul dari negara Amerika sekitar tahun 1945. perjalanan penyakit di masa yang lalu rupanya lebih berat dan prognosisnya lebih buruk dari keadaan sekarang. Penyakit sifilis ini dahulu pertama kali timbul atau mewabah banyak menyerang orang orang penting baik kalangan bangsawan, budayawan ataupun dari golongan agamis, sehingga penyakit ini mempengaruhi perkembangan sejarah, agama dan budaya.

Untuk mendiagnosa penyakit sifilis ini diperlukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang akurat dan teliti. Selain dari itu dalam memberikan terapi penyakit sifilis tiap pasien yang datang, harus juga diobati pasangannya agar mengobati secara tuntas. Penyakit sifilis biasanya mengalami penyembuhan sendiri terjadi dalam 2 6 minggu. Pada seperempat kasus sifilis akan relaps. Penderita tanpa pengobatan akan mengalami sifilis stadium lanjut, dimana sifilis III atau tersier 17 %, kardiovaskuler 10 %, neurosifilis 8 %.4,5 Definisi. Sifilis adalah penyakit infeksius dan kontagius yang kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual dan sering melibatkan kulit, serta berjalan secara kronis progresif dengan adanya remisi dan eksaserbasi, dapat menyerang semua organ dalam tubuh terutama system kardiovasikuler otak dan susunan saraf serta dapat terjadi kongenital. Etiologi. Treponema pallidum (Spirochaeta pallida) yang berbentuk spiral teratur dengan panjang 6 15 um, terdiri atas 8 sampai 24 lekukan. Gerakanya aktif dan memutar. Pembiakannya secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap 30 jam. Pembiakan umumnya tidak dapat dilakukan diluar badan, karena diluar badan kuman tersebut cepat mati sedangkan dalam darah untuk tranfusi dapat hidup 72 jam. Klasifikasi.

Pembagian sifilis menurut WHO ialah Sifilis Dini dan Sifilis Lanjut dengan waktu diantaranya 2 tahun, ada yang mengatakan 4 tahun. I. Sifilis Aquisita (didapat) A. Sifilis dini Sifilis primer (SI) Sifilis sekunder (SII) Sifilis laten dini B. Sifilis Lanjut Sifilis laten lanjut Sifilis tersier (SIII) Sifilis kardiovaskuler Neurosifilis II. Sifilis kongenital Sifilis kongenital dini Sifilis kongenital lanjut Stigmata Patogenesis Treponema dapat masuk (porte dentre) ketubuh calon penderita melalui selaput lendir yang utuh atau kulit dengan lesi. Kemudian masuk ke peredaran darah dari semua organ dalam tubuh. Infeksi bersifat sistemik dan manifestasinya akan tampak kemudian. Perkembangan penyakit sifilis berlangsung dari satu stadium ke stadium berikutnya.

Sepuluh sampai sembilan puluh hari (umumnya 3 4 minggu) setelah terjadi infeksi, pada tempat masuk T. pallidum timbul lesi primer yang bertahan 1 5 minggu dan kemudian hilang (sembuh) sendiri. Kurang lebih 6 minggu (2 6 minggu) setelah lesi primer terdapat kelainan selaput lendir dan kulit yang pada awalnya menyeluruh kemudian megadakan konfluensi dan berbentuk khas. Kadang kadang kelainan kulit hanya sedikit atau sepintas lalu. Gambaran penyakit dalam setiap stadium ditentukan oleh perubahan kondisi reaksi dari organisme, mula mula lokal (kompleks primer) dan kemudian reaksi pertahanan umum (kompleks sekunder), gambaran histologis berupa peradangan plasma seluler. Pada stadium tersier jumlah kuman berkurang, yang menonjol rekasi jaringan granulumatosa dengan lesi berbatas tegas atau pada organ. Selama masa infeksi terjadi imunitas, sesudah pengobatan yang memadai atau setelah penyembuhan spontan dapat terjadi reinfeksi. Manifestasi Klinis A. Sifilis dini 1. Sifilis Primer seperti Sifilis stadium I (Sifilis primer), timbul tiga minggu (10-90 hari) setelah terjadi infeksi, timbul lesi pada tempat T. Pallidum masuk. Lesi umumnya hanya satu, pertama berupa papula yang erosive, berukuran beberapa millimeter sampai 1-2 cm, berbentuk bulat atau bulat lonjong, dasarnya bersih, merah, kulit disekitarnya tidak ada tanda tanda radang, dan bila di raba ada pengerasan (indurasi) yang merupakan satu lapisan yang tipis. Kelainan ini tidak nyeri (indolen). Gejala tersebut sangat khas bagi sifilis stadium I primer. Erosi dapat 4

berubah menjadi ulkus berdinding tegak lurus, sedangkan sifat lainya gejala primer. Keadaan ini disebut ulkus durum, yang dapat menjadi vagedenik bila ulkusnya meluas kesamping dan kedalam. Kadang kadang hanya terdapat edema induratif pada pintu masuk T. Palidum, yang tersering pada labia mayora. Sekitar tiga minggu kemudian terjadi penjalaran ke kelenjar inguinal medial. Kelenjar tersebut membesar, padat, kenyal pada perabaan, tidak nyeri, soliter dan dapat digerakkan bebas dari sekitarnya. Keadaan ini disebut sebagai sifilis stadium I kompleks primer. Lesi umumnya terdapat pada genitalia, dapat juga ekstra genital seperti bibir, lidah, tonsil, jari tangan, anus dan puting susu. Tanpa pengobatan lesi dapat hilang spontan dalam 4 6 minggu, cepat atau lambat tergantung pada kecil besarnyua lesi. 2. Sifilis Sekunder (S II) Sifilis sekunder atau sifilis stadium II timbul setelah sifilis stadium I sudah sembuh, waktu antara sifilis stadium I dan II umumnya 6-8 minggu. Kadang kadang terjadi masa transisi yakni sifilis stadium I masih ada saat timbul gejala sifilis stadium II. Sifat yang khas pada sifilis stadium II jarang ada rasa gatal. Gejala konstitusi seperti nyeri kepala, demam subfebril, anoreksia, athralgia dan nyeri leher biasanya mendahului, kadang kadang bersamaan dengan kelainan pada kulit. Kelainan kulit yang timbul berupa macula, papula, pustula. Tidak terdapat vesikel dan bula, sifilis stadium II disebut sebagai The greatest imitator of all skin diseases. Selain kelainan kulit, pada stadium ini terdapat kelainan selaput lendir mulut dan genitalia, kelenjar getah bening yang generalisata dan alat dalam. 5

3. Sifilis Laten Dini Laten berarti tidak ada gejala klinis dan kelainan, termasuk alat alat dalam, tetapi infeksi masih ada dan aktif.

B. Sifilis lanjut 1. Sifilis Laten Lanjut

Sifilis laten lanjut biasanya tidak menular. Lama masa laten dapat bertahun tahun bahkan seumur hidup. Perlu diperiksa pula, apakah ada sikatrik bekas stadium I pada alat genitalia atau lekoderma pada leher yang menunjukan bekas sifilis II (collar of venus). Kadang kadang terdapat pula banyak kulit hipotrofi lentikular pada badan bekas papul papul sifilis II. Perbedaan antara sifilis sekunder dini dan sifilis sekunder lanjut, dimana pada sifilis sekunder dini terdapat kelainan kulit generalisata, simetrik, dan lebih cepat hilang beberapa hari sampai beberapa minggu. Pada sifilis sekunder lanjut tidak generalisata lagi, melainkan setempat setempat, tidak simetrik dan lebih bertahan lama yaitu beberapa minggu hingga beberapa bulan. 2. Sifilis Tersier (S III) Sifilis tersier atau sifilis stadium III terjadi lesi yang khas berbentuk guma dapat terjadi 3-7 tahun setelah infeksi. Guma umumnya satu, dapat multipel ukuran milier sampai berdiameter beberapa centimeter. Guma dapat timbul pada semua jaringan dan organ mula mula tidak menunjakan tanda tanda radang akut dan dapat digerakkan. Setelah beberapa bulan mulai melunak biasanya dimulai dari tengah dimana tandatanda radang 6

mulai tampak, kulit menjadi eritematosa dan livid serta melekat terhadap guma tersebut kemudian terjadi perforasi dean keluar cairan seropurulen, kadang kadang sanguinolen dan dapat terjadi jaringan nekrotik sentral dikelilingi jaringan granulasi dan pada bagian luarnya terdapat jaringan fibrosa, sifatnya destruktif. Guma mengalami supurasi dan memecah serta meninggalkan suatu ulkus dengan dinding curam dan dalam, dasarnya terdapat jaringan nekrotik berwarna kuning putih. Sifilis stadium ini dapat merusak semua jaringan, tulang rawan pada hidung dan palatum. Guma juga dapat ditemukan pada organ dalam seperti lambung dan hepar, lien, paru dan lain lain. 3. Sifilis Kardiovaskuler Sifilis kardiovaskuler bermanifestasi 10-20 tahun setelah infeksi, umumnya mengenai usia 40 50 tahun, insidensi pada pria tiga kali lebih banyak daripada wanita. Terutama yang terkena adalah jantung, pembuluh darah besar dan sedang. Kebanyakan kematian pada sifilis ini disebabkan karena kelainan system kardovaskuler. Kelainan kardiovaskuler biasanya disebabkan oleh nekrosis aorta yang berlanjut kearah katup. Tandatanda sifilis kardiovaskuler adalah insifusiensi aorta atau aneurisma. Sifilis pada jantung jarang ditemukan dan dapat menimbulkan miokarditis difus atau guma pada jantung. Pada pembuluh darah besar, lesi dapat timbul di aorta, arteri pulmonalis dan pembuluh darah besar yang berasal dari aorta. Aneurisma umumnya terdapat pada aorta asendens, selain itu juga pada aorta torakalis dan abdominalis. Pembuluh darah sedang, misalnya a.serebralis

dan a.medulla spinalis paling sering terkena. Selain itu a.hepatitis dan a.femoralis juga dapat diserang . 4. Neurosifilis Neurosifilis umumya bermanifestasi dalam 10 20 tahun setelah infeksi, walaupun T. palidum langsung bergerak setelah infeksi ke system otot dan syaraf. Neurosifilis ini dibagi menjadi tiga jenis yaitu tergantung pada tipe dan tingkat kerusakan susunan syaraf pusat: 1. Neuorsifilis asimtomatik Tidak ada tanda dan gejala kerusakan susunan saraf pusat. Pada pemeriksaan sumsum tulang belkang menunjukan kenaikan sel, protein total dan tes serologis reaktif. 2. Neurosifilis meningovaskular.

Terdapat tnda dan gejala kerusakan susunan saraf pusat, berupa kerusakan pembuluh darah serebrum, infark dan ensefalo malaisia dengan tanda tanda adanya focus neorologis sesuai dengan ukuran dan lokasi lesi. Pada pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukan kenaikan sel, protein total dan tes serologis reaktif 3. Neurosifilis parenkimatosa Neurosifilis ini terdiri dari paresis dan tabes dorsalis. Tanda dan gejala paresis sangat banyak dan selalu menunjukan penyebaran kerusakan parenkimatosa. Perubahan sifat ini dapat terjadi mulai dari yang ringan sampai sikotik. Terdapat tanda tanda focus neurologis. Sedangkan tanda dan gejala pertama tabes dorsalis akibat degenerasi kolumna posterior adalah parestesia, 8

ataksia, arefleksia, ganguan kandung kemih, impotensi dan perasan nyeri seperti terpotong - potong . C. Sifilis kongenital Sifilis kongenital pada bayi terjadi, jika ibunya terkena sifilis, terutama sifilis dini oleh karena banya T. Pallidum beredar dalam darah. Treponema masuk secara hematogen ke janin melalui plasenta yang sudah dapat terjadi pada masa kehamilan 10 minggu. Sifilis congenital dibagi menjadi sifilis kongenital dini, lanjut dan stigmata. Batas antara dini dan lanjut ialah 2 tahun, yang dini bersifat menular sedangkan yang lanjut berbentuk guma dan tidak menular, sedangkan stigmata berarti jaringan parut atau deformitas akibat penyembuhan kedua stadium tersebut. 1.Sifilis Kongenital Dini Gambaran klinis sifilis kongenital dini sangant bervarasi, dan menyerupai sifilis stadium II. Karena infeksi pada janin melalui aliran darah maka tidak dijumpai kelainan sifilis primer. Pada saat lahir bayi dapat tampak sehat dan kelainan timbul setelah beberapa minggu, tetapi dapat pula kelainan sudah sejak lahir. Pada bayi dapat dijumpai kelainan berupa : 1. Pertumbuhan intrauterine yang terlambat 2. Kelainan membra mukosa : mucous patch dapat ditemukan di bibir, mulut, farings, larings dan mukosa genital. Rinitis sifilitika (snuffles ) dengan gambaran yang khas berupa cairan hidung yang mula-mula encer kemudian menjadi bertambah pekat, purulen dan hemoragik.

3. Kelainan kulit : makula, papula, papuloskuamosa dan bula. Bula dapat sudah ada sejak lahir, tersebar secara simetris, terutama pada telapak tangan dan kaki. Makula, papula atau papuloskuamosa tersebar secara generalisata dan simetris. 4. Kelainan tulang : osteokondritis, periostitis dan osteitis pada tulang-tulang panjang merupakan gambaran yang khas. 5. Kelenjar getah bening : limfadenitis generalisata. 6. Alat-alat dalam. 7. Mata : korioretinitis, glaukoma dan uveitis. 8. Susunan saraf pusat : meningitis sifilitika akuta. 2. Sifilis Kongenital lanjut Kelainan umumnya timbul setelah 7 20 tahun. Kelainan yang timbul berupa : 1. Keratitis interstisial 2. Guma 3. Neurosifilis 4. Kelainan sendi : yaitu artralgia difusa dan hidatrosis bilateral (cluttons joint). 3. Stigmata Lesi sifilis congenital dapat meninggalkan sisa, berupa jaringan parut dan deformitas yang karakteristik yaitu : 1. Muka : saddle nose terjadi akibat gangguan pertumbuhan septum nasi dan tulang-tulang hidung. Buldog jaw akibat maksila tidak berkembang secara normal sedangkan mandibula tidak terkena. 10

2. Gigi : pada gigi seri bagian tengah lebih pendek dari pada bagian tepi dan jarak antara gigi lebih besar (Hutchinsons teeth). 3. Rhaegade : terdapat disekitar mulut 4. Tulang : osteoperiostitis yang menyembuh akan menimbulkan kelainan klinis dan radiologis, pada tibia berupa sabre tibia dan pada daerah frontal berupa frontal bossing. 5. Tuli : kerusakan N.VIII akibat labirintitis progresif 6. Mata : keratitis interstisialis. Diagnosis. Dalam menegakkan diagnosis sifilis yang penting dilakukan adalah 1. Anamnesis : Adanya riwayat kontak hubungan seksual atau senggama tersangka Adanya gejala gejala sistemik seperti demam, sakit kepala dan nyeri sendi , ini umumnya terjadi pada sifilis sekunder. Adanya keluhan tanda-tanda kelainan pada kulit (UKK), genitalia, rambut dan alat lainnya. 2. Pemeriksaan fisik : Pada sifilis primer bentuk kelainan berupa erosi yang selanjutnya menjadi ulkus durum yang tunggal, keras, bulat atau lonjong, bersih, tidak nyeri, kemudian dapat atau tidak disertai pembengkakan kelenjar getah bening regional serta tidak sakit.

11

Pada sifilis sekunder bentuk kelainan berupa roseola, papulo skuamosa, kondiloma lata, pustula, sifilis bentuk varisela atau bentuk plak mukosa. Pada sifilis tersier bersifat destruktif berupa guma dan nodus dikulit ataupun alat alat dalam dan kardiovaskuler serta neurosifilis 3. Pemeriksaan laboratarium : Pemeriksaan T. Palidum, pembuktianya secara langsung menggunakan mikroskopik lapangan gelap. Pemeriksaan dilakukan tiga hari berturut turut, jika hasil hari pertama dan kedua negatif, maka lesi di kompres dengan larutan garam faal kemudian diperiksa kembali, hasilnya kuman berbentuk spiral berwarna putih dengan latar gelap dan pergerakanya berputar terhadap sumbunya, dan menekuk tajam. Sedangkan pemeriksaan lain dengan pewarnaan menurut Buri kuman tidak bergerak karena treponema tersebut telah mati, jadi hanya tampak bentuknya saja Pemeriksaan serologis Pemeriksaan serologis untuk sifilis pada dasarnya adalah : I. Test Antigen NonTtreponema A. Test Flokulasi 1. V.D.R.L, titer VDRL > 1 : 8 (Primer), > 1 :16 (sekunder) 2. K a h n B. Test Fiksasi Komplemen 1. Wasserman 2. Kolmer 12

C. Test Aglutinasi Rapid Plasma Reagin (RPR) II. Test Treponema A. Test Fiksasi Komplemen 1. R.P.C.F. (Reiter Protein Complement Fixation). 2. T.P.C.F. (Treponema Pallidum Complement Fixation) B. Test Aglutinasi 1. T.P.A. (Treponema Pallidum Aglutination) 2. T.P.H.A. (Treponema Pallidum Haemaglutination Assay) C. Test Immobilisasi T.P.I (Treponema Pallidum Immobilisation) D. Test Immuno Fluoresence 1. F.T.A. Abs (Fluoresence Treponemal Antibody)

Penatalaksanaan Penisilin tetap merupakan obat pilihan utam, karena murah dan efektif. Berbeda dengan gonokokus, belum ditemukan resistensi treponema terhadap penisilin. Konsentrasi dalam serum sejumlah 0,03 UI/ml sudah bersifat treponemasidal namun harus menetap dalam darah selama 10-14 hari pada sifilis menular, 21 hari pada semua sifilis lanjut dan laten. Stadium IKHTISAR PENATALAKSANAAN SIFILIS Pengobatan Pemantauan Serologi

13

Sifilis Primer

1.

Penisilin G Benzathine. Dosis Pada bulan I,III,VI dan XII 4,8 unit secara I.M (2,4 juta) dan setiap enam bulan pada dan diberikan satu kali tahun ke II.

seminggu 2. Penisilin Prokain in Aqua.

Dosis total 6 juta unit, diberi 0,6 juta unit/hari selama 10 hari. 3. P.A.M (Prokain Penisilin + 2 % Aluminium Monostreat). Dosis total 4,8 juta unit. Diberikan 1,2 juta unit/kali 2 kali seminggu. Sifilis sekunder sama seperti sifilis primer Sifilis Laten 1. Benzathine Penisilin. Dosis total 7,2 juta unit. 2. Prokain Penisilin G in aqua. Dosis total 12 juta unit (0,6 juta unit/hari). 3. PAM dosis total 7,2 juta unit (1,2 juta unit/kali 2 kali

seminggu).

14

Sifilis S.III

1.

Benzathine Penisilin G Dosis total 9,6 juta unit.

2.

Prokain Penisilin G in aqua. Dosis total 18 juta unit (0,6 juta unit/hari).

3.

PAM dosis total 9,6 juta unit (1,2 juta unit/kali 2 kali

seminggu).

Pada penderita sifilis yang alergis terhadap penisilin dapat diberikan pada sifilis S.I dan S.II : 1. 2. Tetrasiklin 4 x 500 mg per oral selama 15 hari Eritromisin 4 x 500 mg per oral selama 15 hari

Pada Late laten sifilis (> 1 tahun) sama seperti dosis diatas selama 4 minggu 1. 2. Prognosis Prognosis sifilis tergantung stadium, apabila sudah terjadi stadium lanjut akan mempersulit penyembuhan, selain itu tergantung juga dengan pengobatan yang di berikan apabila pengobatan sempurna prognosis baik. Tetrasiklin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari Eritromisin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari

15