Anda di halaman 1dari 6

STOPE SURVEY

Stope survey atau pengukuran pada stope, adalah pengukuran yang bertujuan untuk : Mendapatkan batas-batas yang jelas dari daerah kerja, yang digunakan untuk menghitung volume dan tonase (meskipun agak kasar). Mengetahui dimana suatu raise akan dimulai dan drif diarahkan di bawah atau di atas bijih. Menjaga melebarnya ukuran stope yang tak terkontrol hingga di luar batas properti. Perhitungan volume dan tonase dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : Menghitung luas penampang dikalikan dengan jarak masing-masing penampang dan densitas broken ore-nya. Menghitung Jumlah timber set (pada metode square set). Menghitung produksi tambang dari produksi alat angkut dan jumlah bahan peledak yang diguanakan.

Cara yang lebih akurat untuk mendapatkan tonase broken ore adalah menghitung produksi alat angkut per shifnya atau dari jumlah berat bahan peledak yang digunakan sesuai powder faktornya. Keraguan hasil survey kompas untuk broken ore adalah ketidakmungkinannya mengikuti secara tepat dalam hal penumpukan broken ore, misalnya pemadatan tumpukan broken ore yang mempengaruhi berat tiap ft3 -nya. Hal ini menyebabkan densitas broken ore berubahubah. Satu ft3 bijih di atas kendaraan pengangkut lebih
Nurkhamim, Stope Survey, 2007.

berat daripada satu ft3 ketika di dalam stope, dan dengan perbedaan waktu pengangkutan sampai di pabrik pengolah, satu ft3 -nya bahkan bisa lebih berat lagi. Tiga metode untuk pengukuran stope adalah dengan : Transit atau teodolit dan tali (tape) Swing compass (hanging compass) Menghitung jumlah timber set.

Metode transit dan tali umumnya digunakan untuk pengukuran pada shrinkage stope atau open stope yang besar. Cara ini cukup cepat dan akurat untuk pengukuran batas-batas stope. Transfer meridian ke dalam stope dilakukan sebelum survey di dalam stope dikerjakan. Bila raise vertikal, dua kawat (dengan dua plumb bob) digantungkan pada sebuah stull, diblok rapat pada suatu tempat yang terletak agak lebih tinggi daripada atap crosscut.

1. Perhitungan Luas
Setelah peta selesai, profil penampang untuk tiap-tiap garis koordinat digambar. Pilihan menggunakan garis koordinat NE atau SW tergantung bagaimana peta yang telah dibuat akan memberikan informasi yang terbaik. Untuk perhitungan luas penampang nakan beberapa cara, yaitu dengan : Planimeter Segmen bujur sangkar (square) Rumus trapezoidal Rumus Simpson 1/3
Nurkhamim, Stope Survey, 2007.

dapat menggu-

weighing the section Tinggi dikali lebar

1. 1. Planimeter Planimeter ada dua jenis, yaitu polar planimeter dan numonics electronic planimeter. Polar planimeter biasanya untuk pengukuran luas pada peta-peta yang lebih kecil, sedangkan jenis numonic untuk pengukuran luas yang lebih besar (Kavanagh, 1996). Cara ini cukup teliti apabila pengukuran dilakukan dengan benar dan hati-hati. Bila perbedaan hasil yang didapat dari dua kali pembacaan pengukuran alat tidak lebih dari 5 persen, maka hasilnya dapat langsung dirata-rata, tetapi bila lebih maka pengukuran harus diulang (Staley, 1964). 1.2. Segmen Bujur Sangkar (Square) Bila planimeter tidak tersedia, maka langkah-langkah berikut dapat diikuti; buat grid berbentuk bujur sangkar dengan skala tertentu pada kertas kalkir (hitung terlebih dahulu luas satu bujur sangkar yang dibuat), kemudian letakkan di atas gambar penampang yang dibuat. Hitung berapa jumlah bujur sangkar yang utuh yang ada di dalam peta penampang. Untuk bujur sangkar yang tidak penuh / terpotong, kombinasi-kan dengan potongan yang lain untuk mendapatkan bujur sangkar yang lebih kurang sama dengan bujur sangkar utuh. Jumlah keseluruhan bujur sangkar yang didapat merupakan luas penampang yang dihitung. 1.3. Formula Trapezoidal
Nurkhamim, Stope Survey, 2007.

Teknik trapezoidal mendasarkan asumsi bahwa garis yang menghubungkan bagian akhir dari offset line berupa garis lurus. Semakin pendek interval tiap segmen, hasil yang didapatkan lebih teliti. Untuk penampang yang tepi (paling ujung) dapat dihitung dengan rumus luas segitiga. Formula yang digunakan adalah sebagai berikut :

h + h2 A = x 1 + h2 + ... + hn 1 2
dimana : A = luas penampang yang dicari x = interval offset line h = pengukuran offset n = jumlah offset 1.4. Formula Simpson 1/3 Teknik perhitungan luas dengan formula Simpson 1/3 akan memberikan hasil perhitungan yang lebih teliti daripada teknik trapezoidal (Kavanagh, 1996), digunakan untuk menghitung batas luasan yang lebih tak beraturan (irregular). Asumsinya adalah offset line tiaptiap segmen didekati dengan persamaan fungsi parabolic. Rumus untuk menghitung luas dengan formula Simpson 1/3 adalah :

A=

int erval (h1 + hn + 2 hodd + 4 heven ) 3

1.5. Weighing the Section Pada metode ini, penampang dihitung beratnya. Untuk melakukannya harus menggunakan neraca analitik sampai ketelitian 0.0001 gr dan menggunakan kertas tracing paper. Satu unit luas tracing paper dipotong dan
Nurkhamim, Stope Survey, 2007.

ditimbang. Berat yang didapat dijadikan sebagai skala. Contoh, bila satu potong skala 20 yang dipakai, maka 20 x 20 = ft3. Penampang peta dengan hati-hati diletakkan di atas tracing paper, kemudian dipotong dan ditimbang. Perbandingan berat penampang yang dihitung dari tiap unit berat tracing paper akan memberikan luas penampang. 1.6. Tinggi Kali Lebar Stope Cara ini adalah cara perhitungan luas yang paling sederhana dan paling mudah, namun hasilnya kasar. Hanya cocok digunakan untuk menghitung penampang stope yang mendekati bentuk ideal bujur sangkar atau segi panjang. Perhitungan luas dilakukan dengan menghitung tinggi stope kemudian dikalikan dengan lebar stope. Pengukuran biasanya diambil di bagian tengah-tengah stope, baik tinggi maupun lebarnya.

2. Menghitung Volume dan Tonase


Untuk menghitung volume dan tonase dari data/peta hasil survey kompas, dapat dilakukan dengan menentukan jarak antar dua penampang dikalikan dengan nilai rata-rata luas kedua penampang tersebut. Cara ini tidak tepat sempurna, tetapi diperbolehkan. Kedua, dengan tanpa survey kompas dengan hanya menghitung jumlah timber-set. Metode ini dapat digunakan untuk pengukuran pada stope hanya apabila ukuran timber-set yang digunakan seragam. Caranya sederhana, yaitu dengan menghitung jumlah timber- set yang ada. Untuk perhitungan, ditentukan dulu volume satu timber-set-nya dan berat dihitung tiap satu feet kubik bijih (ore in place). Bila tonase satu timber set
Nurkhamim, Stope Survey, 2007.

sudah dapat dihitung, maka total tonase dapat diketahui. Cara ketiga yaitu dengan menghitung produksi tambang dari produksi alat angkut dan jumlah bahan peledak yang digunakan.

Pustaka : 1. Kavanagh, B.F. & Glenn Bird, S.J., (1996), Surveying, Principles and Applications, Prentice Hall Inc., New Jersey, p. 309 311. 2. Staley, W.W., (1964), Introduction to Mine Surveying, Oxford & IBH Publishing Co., Bombay, p. 186 193.

Nurkhamim, Stope Survey, 2007.