Anda di halaman 1dari 8

agustianto.niriah.

com

BAB 6
SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM EKONOMI ISLAM

7.1 Pengertian Sunnah

Sunnah dari segi bahasa adalah jalan yang biasa dilalui atau suatu cara yang senantiasa
dilakukan, tanpa mempermasalahkan, apakah cara tersebut baik atau buruk Arti tersebut bias
ditemukan dalam sabda Rasulullah SAW, yang artinya: “Barang siapa yang membiasakan
sesuatu yang baik di dalam islam, maka ia menerima pahalanya dan pahala orang-orang
sesudahnya yang mengamalkannya.” (Syafe’i, 1999:60)

Menurut istilah agama sunnah adalah perkataan Nabi, perbuatannya dan taqrirnya (yakni
ucapan dan perbuatan sahabat yang beliau diamkan dengan arti membenarkannya). Dengan
demikian sunnah nabi dapat berbentuk sunnah Qauliyah (perkataan), sunnah Fi’liyah
(perbuatan), dan sunnah Taririyah (ketetapan).

7.2 Jenis-jenis Hadist (Sunnah)

Dilihat dari segi sanadnya hadist terbagi menjadi:

a. Hadis Mutawatir
Hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang banyak dan tidak mungkin
mereka mufakat berbuat dusta pada hadis itu, mengingat banyaknya jumlah mereka.

b. Hadis Ahad
Hadis ahad adalah hadis yang tidak sampai ke derajat mutawatir, yaitu shahih, hasan dan
dhaif.

1) Hadis Shahih, ialah hadis yang berhubungan sanadnya, diriwayatkan oleh yang adil dan
dhbit dari orang yang eumpamanya, terpelihara dari mengganjil dan bersih dari cacat
yang memburukkan.
Contohnya:“Dari Ali bin Abi Abdullah dia berkata, telah meriwayatkan kepada kami
sofyan dia berkata, telah meriwayatkan kepada kami Az Zuhriy dari mahmud bin Rabi’
dari Ubadah bin Shamit bahwa sesungguhnya Rasullullah SAW telah bersabda “tidak
sah sembahyang orang yang tidak membaca Al-Fatihah” (H.R. Bukhari)

2) Hadis Hasan, ialah hadis yang berhubungan sanadnya diriwatkan oleh orang yang adil
yang kurang dhabitnya, terpelihara dari mengganjil dan bersih dari cacat yang
memburukkan. Contohnya: “Peliharalah dirimu terhadap azab Allah dimana saja kamu

1
agustianto.niriah.com

berada dan iringilah kejahatan dengan kebaikan supaya dihapuskan dan pergaulilah
manusia dengan budi pekerti yng baik” (H.R. Tarmizi).

3) Hadis Dhaif, ialah hadist yang kurang satu syarat atau lebih diantara syarat-syarat hadis
syahih dan hasan atau dalam sanadnya ada orang yang bercacat.
Contohnya: “Barangsiapa berkata kepada orang miskin “bergembiralah” maka wajib
untuknya syurga” (H.R. Ibnu ‘Adiy)

7.3 Kehujjahan Sunnah dan Pandangan Ulama Mazhab

A. Kehujjahan Sunnah

Sunnah merupakan sumber asli hukum syara’ yang menempati posisi kedua setelah Al-
qur’an. Ada beberapa alas an yang dikemukakan ulama ushul fiqh untuk mendukung pernyataan
tersebut, antara lain dengan Firman Allah:

a. Surat Ali Imran (3:31)

“Apabila kamu mencintai Allah, maka ikutilah Aku, Allah akan mencintaimu…”

b. Surat Al-Ahzab (33:21)

“sesungguhnya pada diri Rasulullah itu bagi kamu teladan yang baik, (yaitu) bagi orang-
orang yang mengharap (rahmat) Allah hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah’

c. Surat Al-Hasyr (59:7)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagimu,
maka tinggalkanlah’

d. Surat An Nisaa 59

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, Rasul dan uli al amri diantara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia pada Allah
(Al-qur’an) dan Rasul (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”

e. Sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya pada Saya telah diturunkan Al-qur’an dan yang semisalnya”

2
agustianto.niriah.com

A. Sunnah dan Pandangan Ulama Mazhab

a. Ulama Hadis

Kebanyakan ulama hadis menyepakati bahwa dilihat dari segi sanad, hadis terbagi atas:

1) Mutawatir

2) Ahad

a) masyur

b) ‘aziz

c) Gharib

b. Hanafiah

Menurut Hanafiah, Hadist terbagi atas 3 bagian, yaitu:

1) mutawatir

2) ahad

3) masyur

semua ulama telah menyepakati hadis mutawatir, namun berbeda pendapat dalam
menghukumi hadis ahad

C. Status Hadits Ahad & Mutawatir

a. Semua hadits ahad dan masyhur adalah zanniy ats-Tsubut

Hadits ahad/masyhur tidak bisa menghasilkan qat’iy ad-dilalah, sekalipun makna lapaznya
tunggal, karena yang Zhanniy tidak bisa menghasilkan kecuali yang zhanniy juga.

b. Setiap hadits mutawatir adalah qat’iy a-tsubut.

Semua ulama telah menyepakati kehujahan hadis mutawatir, namun mereka berbeda
pendapat dalam menghukumi hadis ahad, yaitu hadis yang yang iriwayatkan oleh Rasulullah

3
agustianto.niriah.com

SAW, oleh seorang, dua orang atau jamah, namun tidak mencapai derajat mutawatir (Syafe’i,
1999:60).

7.4 Petujuk (Dilalah) Sunnah

Gambar 7.1 Dilalah Sunnah

Pandangan Asy-Syatibi, dalil syar’iy yang tunggal tidak bisa menjadi qat’hiy ad- dilalah
dengan sendirinya, meskipun ia telah qath’iy ats-tsubut. Makna Ayat ‫أﻗﻴﻤﻮا اﻟﺼﻼة‬ dengan
dirinya sendiri, tidak bersifat qat’h’iy, walaupun maknanya tegas tentang perintah Shalat. Karena
tidak setiap perintah menunjukkan wajib.

Keqath’iyan ayat tentang wajibnya shalat, dicapai karena didukung oleh sejumlah dalil
lain yang banyak jumlahnya yang mendukung wajibnya shalat, termasuk dukungan dari berbagai
hadits. Akumulasi berbagai dalil yang banyak itu menimbulkan ma’lum minad Din bi adh-
Dharurah.(diketahui dari agama secara taken for garanted

Konsep mutawatir ma’nawi yang digunakan Asy-Syatibi dalam memahami keqath’iyan


dilalah, merupakan analogi terhadap qat’iy tsubut.

a. Qath’iy tsubut terwujud karena periwayatannya dilakukan oleh orang banyak yang tak
mungkin berdusta, yang disebut dengan mutawatir.

b. Maka, jika dalam menciptakan keqath’iyan tsubut diperlukan adanya mutawatir al-wurud,
demikian pula halnya dalam mewujudkan qath’it ad-dilalah, dibutuhkan mutawatir ma’nawi.

4
agustianto.niriah.com

c. Untuk mencari qath’iy ad-Dilalah harus melalui Istiqra’ (penelitian mendalam) terhadap
seluruh nash syara’. Dalil yang dihasilkan melalui proses istiqra’ ini disebut Syabihu bil
mutawatiri al-ma’nawi, yaitu ditunjang oleh sejumlah dalil yang menunjuk kepada satu
pengertian yang sama

d. Jika sebuah dalil tidak didukung oleh sejumlah dalil yang banyak (dalil yang serupa
maknanya), maka dalil yang tunggal itu harus memenuhi 10 syarat, agar terwujud
keqath’iyannya (Ad-Dilalah). Dalil syara’ yang bersifat tunggal, tidak bisa menjadi qath’iy ad-
Dilalah, kecuali terpenuhinya sejumlah syarat berupa premis-premis, antara lain:

1) Bebas dari kaedah bahasa & ilmu Nahwu


2) Tidak isytirak
3) Tidak majaz
4) Bebas dari pemahaman tradisi (adat)
5) Penggunaan dhamir
6) Adanya takhsis terhadap lapaz ‘am
7) Adanya taqyid terhadp muthlaq
8) Bebas dari nasikh
9) Kejelasan taqdim dan ta’khir
10) Tidak bertentangan dengan pemikiran yang logis

Mengingat dalil syara’ yang dapat menunjukkan dilalah yang qath’iy hanya terwujud
dengan sepuluh premis di atas, maka menemukan dalil tersebut hampir tidak mungkin, jika pun
ada sangat jarang.

Al-Asnawi dalam kitab dalam Kitab an-Nihayah as-Sul, juga hampir sama dengan Asy-
Syatibi. Menurutnya, Sunnah mutawatirah, sebagaimana Al-Quran, adalah qath’iy, dipandang
dari segi wurud (jumlah perawinya) yang banyak. Sedangkan dilalahnya, zhanniy (jika dalil
tunggal). Kezhanniyan itu, karena terkait dengan Al-Ihtimalul Asyrah yang identik dengan sepuluh
premis versi Asy-Syatibi

7.5 Kedudukan Sunnah Terhadap Al-qur’an

A. Sunnah sebagai Penguat (Ta’qid) Al-qur’an

5
agustianto.niriah.com

Hukum Islam disandarkan pada dua sumber, yaitu Al-qur’an dan sunnah. Tidak heran
jika banyak sekali sunnah yang menerangkan tentang kewajiban shalat, zakat, puasa, larangan
musyrik, dan lain-lain.

B.Sunnah Sebagai Penjelas Al-qur’an

Sunnah sebagai penjelas terdapat pada Surat An-Nahl (44):

“Telah Kami turunkan kitab kepadamu untuk memberikan penjelasan tentang apa-apa yang
diturunkan kepada mereka, supaya mereka berfikir”

Hal ini menjelaskan bahwa sunnah berperan penting dalam menjelaskan maksud-
maksud yang terkandung dalam Al-qur’an, sehingga dapat menhilangkan kekeliruan dalam
memahami Al-qur’an. Dan sebagaimana diketahui bahwa shalat zduhur 4 raka’at, maghrib 3
raka’at, berasal dari sunnah.

Penejlasan sunnah terhadap Al-qur’an dikategorikan atas:

a) Penjelasan terhadap hal global

Seperti perintah shalat dalam Al-qur’an yang tidak diiringi dengan penjelasan rukun, syarat,
dan ketentuan-ketentuan shalat lainnya. Maka, dijelaskan oleh sunnah sebagaimana
Rasulullah bersabda: “ shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya shalat”

b) Penguat secara mutlak

Sunnah merupakan penguat terhadap dalil-dalil umum yang ada dalam Al-qur’an

c) Sunnah sebagai takhsis terhadap dalil-dalilAl-Qur’an yang masih umum

B. Sunnah Sebagai Pembuat Syari’at (Musyar’i)

Tidak diragukan lagi sunnah adalah penguat dalil-dalil umum yang ada dalam Al-qur’an,
misalnya zakat fitrah, aqiqah, dan lain-lain.

7.6 Sikap Para Ulama Ketika Zahiral-Qur’an Berhadapan Dengan Sunnah

A. Sunnah yang mentakhsish keumuman Al-Quran

a. Imam Syafi’I & Ibnu Hanbal

6
agustianto.niriah.com

Menurutnya pemahaman Al-quran mesti disesuaikan dengan penjelasan yang ada dalam
Sunnah, karena sunnah berfungsi sebagai:

(a) Penjelas/penafsir Al-Quran dan

(b) Pentakhshish keumuman Al-Quran

Maka, semua lapaz ‘amm yang ada dalam Al-Quran, jika ada keterangannya dalam
hadits yang mentakhshisnya, maka takhshis itu harus diperpegangi, meskipun terkesan
menyalahi zhahir ayat.

Contoh:

‫وأﺣﻞ ﻟﻜﻢ ﻣﺎ و راء ذاﻟﻚ‬

Artinya:

“Dan Allah menghalalkan (menikahi) selain yang telah disebutkan”

Ayat tersebut ditakhshish oleh hadits Nabi Saw :

‫ﻻ ﺗﻨﻜﺢ اﻟﻤﺮأة ﻋﻠﻰ ﻋﻤﺘﻬﺎ وﻻ ﺧﺎﻟﺘﻬﺎ‬

Artinya:

“Wanita yang tidak boleh dinikahi adalah bibinya, baik dari pihak ayah amaupun
pihak ibu”.

Ayat 14 Surah An-Nisaa di atas bersifat umum, maka selain yang disebutlkan Al-Quran
dalam Surah An-Nisak ayat 14 tidak haram, lalu ada penjelasan hadits yang menjelaskan
keharaman tambahan sebagai takhshis.

‫ﻓﺎﻗﺮأوا ﻣﺎ ﺗﻴﺴﺮ ﻣﻨﻪ‬

Artinya:

Maka bacalah ayat Al-Quran yang termudah bagimu

Ayat ini bersifat umum, sehingga dalam shalat, boleh membaca ayat apa saja, tidak
harus surah Al-Fatihah

‫ﻻ ﺻﻼة ﻟﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﻘﺮأ ﺑﻔﺎﺗﺤﺔ اﻟﻜﺘﺎب‬

Hadits ini mentakhshish keumuman ayat di atas, sehingga dalam shalat wajib
membaca al-Fatihah.

b. Hanafiyah

7
agustianto.niriah.com

Hanafiah tidak menerima takhshish hadits tersebut, karena status hadits tersebut adalah
hadits ahad.

c. Abu Hanifah

Menurut Abu Hanifah adalah lapaz umum yang ada dalam Al-Quran dijalankan sesuai
dengan kebutuhan terhadap keumumannya. Jika ada sunnah mutawatir dan masyhur
yang mentakhsishnya, maka sunnah itu bisa mentakhshisnya. Jika tidak, maka Al-quran
dipahami berdasarkan keumumannya. Hadits ahad tidak bisa mentakhshish keumuman
Al-Quran.

‫وأﺣﻞ اﷲ اﻟﺒﻴﻊ‬

Ayat ini umum, menghalalkan segala bentuk jual-beli. Selanjutnya ditakhshish oleh
berbagai hadits Nabi SAW . antara lain, Hadits yang melarang jual beli gharar, jual beli
najsy, jual beli al-’inah, talaqqi rukban, dsb.

d. Jumhur Ulama

Jumhur Ulama menerima hadits ahad sebagai pentakhshish ayat, sehingga mereka
mewajibkan bacaan surah Al-Fatihah