Anda di halaman 1dari 7

CATATAN SEJARAH PENGEMBARAAN PELAYAR DAN NELAYAN Dalam melakukan aktifitasnya, penduduk bahari, terutama nelayan dan pelayar

mempunyai mobilitas pengembaraan yang tinggi. Berbeda dengan pelayar yang tujuan dalam melaut adalah pelabuhan-pelabuhan di kota-kota pantai, nelayan yang memanfaatkan sumber daya hayati (ikan dan spesies biota lainnya) mempunyai tujuan yakni daerah-daerah penangkapan (fishing ground) di perairan pesisir maupun di perairan laut dalam. Tidak jarang para nelayan rela berlayar dalam jarak yang agak jauh dari tempat mereka bermukim demi hanya mendapatkan hasil tangkapan yang diinginkan dan dapat memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Kebanyakan kelompok nelayan dari jawa, madura dan bawean mencari ikan layang sampai di kepualauan Natuna. Padahal jika ditinjau lebih jauh, Kepulauan Natuna terletak begitu jauh dari pulau Jawa (Natuna adalah kepulauan yang terletak di sisi kiri atas pulau Kalimantan dan hampir berbatasan laut dengan Malaysia). Selain di kepulauan Natuna, Para nelayan dari pulau Jawa, madura dan Bawean tersebut menjadikan Selat Makassar, Laut Arafuru dan Laut banda sebagai sumber penangkapan ikan Layang yang lainnya. Beberapa Catatan pengembaraan nelayan Nusantara lainnya adalah sebagai berikut : Nelayan pencari telur ikan terbang dari Mandar sejak dahulu menjelajah laut dalam selama berbulan-bulan hingga ke laut Flores, dan Maluku. Nelayan pancing tongkol dan Tuna dari Sulawesi Selatan juga mendatangi Laut Flores, Maluku dan bahkan nelayan dari Sinjai menangkap ikan Tongkol sampai di perairan Cilacap Jawa Tengah. Adapaun catatan pelayaran dari nelayan Bugis dan Bajo (Kepulauan Sembilan Sinjai dan Teluk Bone), nelayan makassar (Baranglompo, Kodingareng) yang mencari teripang dan kerang-kerangan di seluruh perairan di Nusantara dan tidak jarang mereka harus tinggal di laut selama berbulan-bulan. Dalam pelayaran mereka ke kawasan Timur Indonesia, mereka berlayar ke NTT, Maluku, Biak, hingga Merauke. Dalam pelayaran mereka ke Selatan Indonesia, mereka

mendatangi NTB, bahkan ada beberapa kelompok nelayan yang kemudian menyebrang ke perairan pantai Utara Australia. Salah satu factor alasan para nelayan rela melaut sampai berbulan-bulan dan mengunjungi fishing Grounds yang bermil-mil jauhnya adalah tingginya nilai ekonomi dari hasil laut yang terdapat di daerah tujuan mereka. Sebagai contoh sekitar abad ke 17 nelayan Bugis dan Bajo yang apabila dalam rute kembali dari pantai utara Australia, para nelayan penyelam tersebut mengambil rute perairan pantai barat Papua Nugini yang kaya akan mutiara dan teripang. Tapi pada kurun waktu 1980-an, jumlah nelayan yang pengembara tersebut semakin berkurang jumlahnya akibat berkurangnya populasi teripang dan kerang-kerangan di daerah tersebut, padahal nilai ekonomi kedua komoditas tersebut sangatlah tinggi. Pemaparan diatas merupakan catatan perjalanan para nelayan Nusantara,

khususnya Sulawesi Selatan. Berbeda dengan nelayan yang tujuan pengembaraannya terpusat ke daerah-daerah penangkapan, kemudian ke pelabuhan atau pelelangan ikan untuk tangkapan, dan membeli perlengkapan. Pelayar dengan armadanya justru menjadikan pelabuhan kota-kota pantai sebagai pusat bongkar muat barang dan penumpang. Bagi mereka, lautan hanyalah merupakan prasarana dan rute-rute transportasi antarkota, antarpulau, antarnegara, dan bahkan antar benua. Semula, mungkin tidak percaya jika sebuah perahu kayu sederhana, mampu mengarungi lautan Samudra Hindia yang dikenal memiliki ombak besar. Adalah nelayan suku Bugis Makassar, yang dikenal sejak berabad-abad silam sebagai pelaut ulung, mengarungi lautan luas Samudra Hindia menggunakan perahu kayu (perahu layar). Suku asal Sulawesi Selatan ini memiliki catatan tersendiri dalam sejarah bahari, saat mengarungi ribuan kilometer lautan luas dari Indonesia hingga Madagaskar di Afrika Selatan. Mereka memiliki keberanian dan kemampuan mengarungi lautan dengan perahu layar, antarpulau di Indonesia maupun samudera yang memiliki hentakan ombak besar untuk menjaring ikan maupun berdagang hasil bumi.

Bukan hanya orang Bugis-Makassar yang memegang peranan penting dalam kehidupan maritime di Kedatuan Luwu (abad VIII- XX) boleh jadi imperium kuat sezaman dengan Sriwijaya (VII- XII), Majapahit (XII-XVI). Sejak abad-abad silam, orang-orang dari Luwu telah berperahu mengarungi lautan hingga ke Malaya. Ekspedisi Sawerigading yang bahkan sampai ke China dan India sudah menjadi legenda hidup. Penjelajahan orang Bugis-Makassar bukan saja menguasai Sulawesi (Celebes), Kalimantan (Borneo), Sumatera (Andalas), Timor, Maluku, Ternate, bahkan menancapkan pengaruh di sejumlah kawasan seperti China, Malaysia, Filipina, Kamboja, Afrika, Pasifik, dan Australia. Di masa Kerajaan Gowa (sejak abad XIII), terutama di masa antara Sultan Alauddin hingga cucunya, Sultan Hasanuddin, laut kawasan timur Nusantara selalu diramaikan orang-orang Bugis-Makassar. Di abad XVII, Makassar menjadi bandar yang amat ramai. Makassar menjadi titik tengah persilangan jalur perdagangan laut antara Malaka dan Maluku. tradisi mengarungi lautan itu tak lepas dari kultur yang subur di lingkungan masyarakat Sulsel yang dikenal sebagai pasompe. Secara harfiah bermakna merantau, biasanya kategori pelaut-pedagang. Menurut Prof. Abu Hamid, antropolog Universitas Hasanuddin, pasompe umumnya saudagar yang berdagang antarpulau. Biasanya pada musim kemarau (timo), mereka berlayar ke barat. Sedangkan pada musim angin dan hujan (bare) mereka kembali ke kampungnya (ke arah timur). Menurut Abu Hamid, dalam Pasompe, Pengembaraan Orang Bugis, sejak kejatuhan Gowa di abad XVII itu, kerajaan itu didesak untuk mengubah kegiatannya di daratan, berpaling dari aktivitas utamanya selama ini di laut. Gowa dipaksa menjadi kerajaan agraris, melepaskan kejayaan maritimnya. Sejak itulah, pasompe yang dilakukan penduduk mulai dilakukan karena terdesak di kampungnya.

Tak ubahnya di daratan, pasompe menjadi komunitas tersendiri. Perahu menjadi sebuah desa, yang memiliki aturan dan tata tradisi. Nakhoda adalah kepala desa. Setiap pasompe harus menghormati aturan-aturan yang diberlakukan. Mereka harus bekerja sama. Mereka pantang untuk bertengkar di lautan. Oleh karena itulah, peran seorang nakhoda (juragan) amat penting. Dia harus menjadi pemimpin yang berwibawa dan bisa menaungi semua sawi-nya (anak buah atau penumpang). Larangan berselisih ini juga berlaku untuk istri-istri pasompe yang ditinggal di kampung. Pasompe tak hanya punya keberanian menghadang badai di tengah lautan, tetapi juga harus dibekali ilmu pengetahuan menyangkut astronomi, sistem navigasi, dan ilmu kelautan. Ilmu astronomi mutlak dikuasai. Misalnya memahami posisi bintang-bintang di langit yang bisa memengaruhi perubahan alam, seperti angin badai, hujan, petir, dan sebagainya. Para pasompe juga harus menguasai pengetahuan kelautan. Tanpa alat-alat modern, mereka hanya mengandalkan pengetahuan tradisional, seperti penglihatan (pakkita), penciuman (paremmau), pendengaran (parengkalinga), firasat (penedding), dan keyakinan (tentuang). Dengan mengandalkan indera itu, pasompe bisa mengendus bahwa angin hitam di sebelah barat yang tiba-tiba menghilang dan cerah, itu pertanda datangnya angin kencang dan amat membahayakan. "Orang Bugis-Makassar zaman dulu sepertinya tidak pernah takut dengan apa pun yang terjadi di laut. Mungkin karena mereka dibekali dengan ilmu-ilmu alam untuk mengatasi bahaya di laut," kata Prof, Rahman.

Sekarang ini persoalannya apakah spirit dan kultur pasompe itu masih tersisa? Semangat melaut orang Bugis-Makassar, ujar Rahman, kini lebih banyak diterjemahkan dengan bahasa menjadi nelayan.

BAB V MASYARAKAT BAHARI A. KONSEP MASYARAKAT Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri, perasaan, keinginan dsb, manusia memberi reaksi dan melakukan interaksi dengan lingkungannya. Pola interaksi sosial dihasilkan oleh hubungan yang berkesinambungan terjadi dalam suatu masyarakat. Berikut ini adalah pandangan para ahli mengenai defenisi dari masyarakat: 1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. 2. Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi. 3. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suatu kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya. 4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut. 5. Menurut koentjadiningrat, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu system adapt-aistiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Jadi dapat kita simpulkan bahwa defenisi dari masyarakat adalah sekumpulan individu yang berinterkasi satu sama lain dalam waktu yang cukup lama dan terikat

oleh suatu kebudayaan yang bersifat kontinyu sehingga dan terikat oleh rasa identitas bersama. Kesatuan hidup manusia yang disebut masyarakat adalah berupa kelompok,

golongan, komunitas, kesatuan suku bangsa (ethnic group) atau masyarakat Negara bangsa (nation state). Sedangkan interaksi secara kontinyu berarti hubungan antarwarga dari komunitas, hubungan antarwarga dalam satu suku bangsa atau antar warga negara bangsa. Sedangkan adat istiadat dan identitas ialah kebudayaan masyarakat itu sendiri. Faktor-Faktor / Unsur-Unsur Masyarakat Menurut Soerjono Soekanto dalam masyarakat setidaknya memuat unsur sebagai berikut ini : 1. Berangotakan minimal dua orang. 2. Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan. 3. Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-aturan hubungan antar anggota masyarakat. 4. Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat. Konsep kelompok sebagai satu kesatuan hidup manusia dicontohkan pada kelompok kekerabatan (keluarga inti, keluarga luas, keluarga sepersusuan, marga dll.), kelompok kerja produktif (dalam bentuk profesi dan bidang yang digelutinya), dan lain-lain. Contoh dari konsep kelompok ini adalah golongan pemuda, agamawan, dan budayawan. Konsep komunitas mengacu pada kesatuan hidup manusia dengan jumlah anggota besar dan keterikatan pada wilayah geografi tertentu seperti komunitas petani, nelayan, dab. Bahkan penggunaan istilah komunitas sudah tidak menjadikan komponen sebagai prasyarat konsep sebuah komunitas, hal ini dapat kita temukan pada istilah komunitas akademisi, komunitas agama, dll.

Konsep kesatuan suku bangsa mengacu pada kesatuan hidup manusia yang memiliki dan dicirikan serta sadar akan kesamaan budaya (system-sistem pengetahuan, bahasa, organisasi social, pola ekonomi, teknologi, seni, kepercayaan). Contoh dari kesatuan hidup manusia yang disebut suku bangsa seperti suku bangsa jawa, minangkabau, bugis, bali, dsb.. Interaksi kontinyu yang menandai masyarakat adalah system pergaulan dan hubungan kerjasama yang terus-menerus menurut pola-pola social budaya atau adat istiadat yang dianut dalam berbagai bentuk kesatuan hidup manusia tersebut, baik secara alamiah maupun secara social yang berkaitan dengan kebudayaa. Hal yang mendasar dari suatu masyarakat bahwa masyarakat tak dapat dipisahkan dengan kebudayaan. Karena keduanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan meskipun dapat diuraikan untuk dpahami kesatuan fungsionalnya. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusianya. Budaya adalah isi kesatuan hidup itu berupa pikiran dan perasaan sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Dengan demikian, manusia dapat menjadi masyarakat yang beradab/manusiawi.