Anda di halaman 1dari 4

RESTORASI MEIJI DAN PENGARUHNYA BAGI JEPANG

Politik luar negri Shogun Tokugawa dikenal dengan nama politik Sakoku (tutup Negara untuk hubungan internasional) dan hanya orang-orang Tionghoa dan belanda di perbolehkan dating dalam jumlah terbatas pada waktu-waktu tertentu untuk mengadakan perdagangan.akan tetapi pada pertengahan abad ke-19 ternyata bahwa dunia luar khususnya Inggris, Rusia dan Amerika ingin membuka Jepang untuk kepentingan perdagangan mereka. Dan hal ini menjelma dengan kedatangan Comodor Perry dari AS pada tahun 1853 untuk meminta Jepang supaya membuka Negaranya guna hubungan Internasional. Hal ini karena : a. Pemerintahan Bakufu berpegang pada politik isolasi, karena takut dengan masuknya pedagang-pedagang asing itu akan membawa Imprealisme asing. b. Pada tahun 1842 Tiongkok telah di buka untuk bangsa Asing oleh Inggris. Kemudian di bagi dlam daerah-daerah atas pengaruh Inggris, Prancis dan Rusia. Setelah Tiongkok habis di bagi tinggal Jepang saja yang belum Di singgung. c. U.S.A.(belum imprealistis) membutuhkan tempat transit di tengah jalan pelayaran antara pantai barat U.S.A. dan tiongkok. d. Kepulauan Jepang merupakan batu loncatan ke Tiongkok yang baik.

Dari isi perjanjian Shimoda, 30 Maret 1854 tersebut telah meyakinkan Jepang bahwa Negara-negara barat itu superior dalam persenjataan modern. Khususnya dalam perkapalan dan senjata api. Sehingga mau tidak mau Jepang harus memenuhi permintaan Negara-negara barat tersebut. Hal ini menyebabkan suatu krisis dalam pemerintahan dimana tokoh-tokoh yang anti Tokugawa menganjurkan untuk mengembalikan pemerintahan ketangan Tenno Heika. Dan pada tanggal 14 Desember 1867 terjadilah Restorasi Meiji yang berarti dikembalikan kekuasaan pada Tenno Heika pada waktu itu. Hal utama yang paling sulit adalah penghapusan kelas social lama dan hak-hak khusus bagi samurai. Hak-hak samurai di kurangi ( samurai kehilangan kedudukannya sebagai kaum birokrat yang turun temurun ) dan digantikan dengan wajib militer. Tahun 1876,golongan samurai tidak boleh memakai pedangnya dan tanda pangkat serta di kurangi gajinya. Sementara pemerintahan di moderenisasi oleh model barat pada abad ke-19.

kementrian keuangan, kementrian Angkatan darat, kementrian Angkatan Laut dan kementrian pendidikan ,pada 1878 menurut model Jerman. Peradilan, pertama-tama menurut model Prancis namun di ubah menurut jerman. Dalam bidang ekonomi di ciptakan suatu sistim perbankkan modern dengan YEN sebagai satuannya yang harganya setengah dari dollar Amerika. Mercusuar di bangun dan fasilits pelabuhan di tingkatkan. Seluruh wilayah di hubungkan dengan telegrap dan jalan kereta api mulai di bangun. Pembangunan industri modern mulai di bangun seperti pemintalan sutra secara mekanis. Pemerintah membangun Industri secara strategis seperti pabrik senjata dan mesin. Mahasiswa-mahasiswa di kirim ke luar negri untuk memperoleh keahlian-keahlian baru dan ahli-ahli barat di gaji besar untuk di datangkan ke Jepang. Hal ini bukan tanpa halangan, kaum samurai yang banyak kehilangan hak-hak merek memberontak pada tahun 1877 di Satsuma, namun berhasil di padamkan oleh tentara wajib militer.

Modernisasi Jepang Akibat dari Restorasi Meiji Restorasi Meiji ini dibarengi degan re-organisasi dalam pemerintahan dan pembaharuanpembaharuan dalam bidang sosial ekonomi dan kebudayaan. a. Pemerintahan 1. Tenno menjadi kepala negara (bersifat dewa abadi). 2. Dihapuskannya sistem feodalisme. 3. Daimnyo-daimnyo atau bangsawan dirubah kedudukannya dan dijadikan sebagai pegawai negeri dan tanah-tanah yang mereka kuasai diserahkan kepada Tenno. 4. Pemerintahan diatur secara barat dengan adanya kabinet dan parlemen. 5. Disahkannya UUD pada tanggal 11 Februari 1890 oleh Tenno.

b. Militer Dalam bidang militer pemerintahan yang baru membangun angkatan perangnya secara modrn, di mana angakatan darat dipegang oleh keluarga Chosu dan dibuat secara Jerman, dan angkatan Laut dipegang oleh keluarga Satsuma dibentuk secara Inggris. Disamping itu tiap-tiap warga negara yang berumur 20 tahun dikenakan wajib militer dan setelah itu untuk praktek mereka dikirim ke daerah-daerah perbatasan yang berbahaya. Kementerian pertahanan tidak bertanggung jawab kepada parlemen, tetapi kepada Tennno

dengan demikiankementerian pertahanan sangat kuat kedudukannya dan akhirnya menjelma menjadi Gunbatsu (pemerintahan dictator militer), Jepang pun memiliki angkatan pertahanan yang kuat karena setengah dari anggaran belanja negara dipergunakan untuk militer. Bersama dengan modernisasi angkatan perang ini timbul kemabali apa yang dikenal sebagai semangat Bushido sebagai dasar jiwa ketentaraan. Prajurit Jepang harus memegang teguh ajaran Bushido artinya menginsafi kedudukannya masing-masing di dalam hidup ini, mempertinggi derjat dan kecakapan diri, melatih dirinya lahir batin untuk menyempurnakan kecakapannya dalam ketentaraan, memegang teguh disiplin, menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan tanah air sampai titik darah yang terakhir. Mati untuk tenno adalah bentuk mati yang sempurna dan termulia. Bushido inilah yang memberi kekuatan lahir batin kepada tentara Jepang. Akibat dari modernisasi militer ini maka secara otomatis golongan Samurai dihapuskan dan ini menyebabkan timbulnya pemberontakan yaitu pemberontakan Satsuma. Pemberontakan Satsuma (Seinan Senso, Perang Barat Daya) adalah pemberontakan klan samurai Satsuma yang dipimpin Saigo Takamori terhadap Tentara Kekaisaran Jepang, yang berlangsung 11 bulan di awal era Meiji, dimulai pada tahun 1877. Perang saudara ini merupakan perang saudara terakhir dan terbesar di Jepang. Perang terjadi di Kyushu, tepatnya di tempat yang sekarang bernama Prefektur Kumamoto, Prefektur Miyazaki, Prefektur Oita, Prefektur Kagoshima. Pemberontakan Satsuma disebabkan oleh adanya perubahan sistem pada

pemerintahan, yang menyebabkan kekecewaan para samurai. Modernisasi Jepang telah menyebabkan hilangnya kekuasaan samurai dan penghancuran sistem tradisional. Peraturan Penghapusan Pedang Haito-rei yang melarang samurai membawa katana juga merupakan salah satu penyebab terjadinya pemberontakan ini. Pemberontakan ini dipimpin oleh Saigo Takamori, yang pada sepuluh tahun lalu memimpin pasukan Jepang untuk mengalahkan samurai klan Tokugawa. Mulanya, Saigo setuju dengan konsep Restorasi Meiji. Tapi, perlahan-lahan, ia jadi ikut membangkang, karena Restorasi Meiji menghapus segala bentuk samurai dan atributnya. Slogan para pemberontak adalah "Pemerintah Baru, Moralitas Tinggi" (Shinsei Kotoku). Mereka tidak meninggalkan atribut Barat, seperti memakai meriam dan senjata api. Saigo sebagai panglima perang juga memakai baju militer ala barat. Barulah di saat stok senjata mereka habis, mereka memakai katana dan panah.

Pertempuran berlangsung selama enam minggu, dan Saigo Takamori hanya memiliki 300-400 prajurit yang tersisa. Pada pertempuran terakhir, yaitu pertempuran Shiroyama, Saigo luka berat. Dalam keadaan hampir tertangkap pasukan pemerintah, Saigo melakukan seppuku pada 24 September 1877. Peperangan ini menghabiskan dana besar di pemerintah Jepang, sekaligus merupakan akhir dari kelas samurai di Jepang. Sepuluh tahun kemudian, Kekaisaran Jepang meminta maaf dan memberikan gelar kemuliaan kepada Saigo Takamori sebagai samurai yang terakhir.

c.

Industri Hal ini ditempuh dengan melakukan modernisasi pada mesin-mesin produksi yang

dibutuhkan bagi modernisasi perusahaan the, sutera, pertanian dan kemudian industri. Mesinmesin tersebut diekspor secara besar-besaran dari Inggris, berikut ahli-ahli tekniknya didatangkan dari luar negeri terutama Inggris untuk mendirikan pabrik-pabrik, dok-dok dan pusat-pusat listrik. Dengan timbulnya industri timbul juga golongan baru di Jepang yaitu kapitalis baru yang berkuasa di bawah militer.

d. Pendidikan Restorasi Meiji juga membawa perubahan pada bidang pendidikan, dimana anak-anak Jepang mulai endapatkan pendidikan secara barat hal yang tidak mungkin terjadi pada masa Shogun. Dalam system baru ini tiap anak yang berumur 6 tahun sudah dikenakan kewajiban belajar dan itu berlaku bagi semua penduduk. Untuk tiap 600 penduduk diadakan 1 sekolah rendah. Negara dibagi menjadi 8 daerah pendidikan, tiap daerah diberi 32 buaj sekolah menengah dan 1 buah universitas. Hal yang terpenting adalah pengiriman pelajar-pelajar keluar negeri untuk menyempurnakan ilmu pengetahuannya tenatang Barat. Sekembalinya ke Jepang mereka ditugaskan dalam pembangunan dan modernisasi Negara. Hal ini sangat berhasil karena dalam 50 tahun jepang sudah menjadi Negara modern.