Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS KUALITAS SPERMA IKAN

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Wina Pratiwi Nugrahani : B1J011019 :I :4 : Muhimatul umami

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERALSOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PANDAHULUAN

A. Latar Belakang

Spermatozoa merupakan sel gamet jantan yang sangat terdeferensiasi. Fungsinya adalah untuk mengantarkan material genetis jantan ke betina dan mengaktifkan program perkembangan telur. Analisis sperma dilakukan untuk mengetahui proses pada pembuahan, waktu pada setiap tahapan dan mengetahui serta menentukan rasio spermatozoa dan ovum dalam pembuahan. Analisis sperma yang dimaksud meliputi pemeriksaan jumlah milt yang dapat distriping dari seekor ikan jantan masak kelamin, kekentalan sperma, warna, bau, jumlah spermatozoa hidup, jumlah spermatozoa mati, motilitas, morfologi (ukuran dan bentuk kepala, ukuran ekor, berbagai penyimpangan) (Yatim,1982). Analisis sperma pada ikan Nilem dapat diaplikasikan pada spesies lain, contohnya pada mamalia, termasuk manusia, ikan mas, ikan paus, atau pada kelas lainnya. Kriteria kesuburan pria secara umum didasarkan pada jumlah spermatozoa motil per ml ejakulat. Spermatozoa diperoleh dari sperma hasil masturbasi atau dari koilus interuptus. Pria yang akan diperiksa biasanya dianjurkan untuk puasa tidak melakukan hubungan intim selama 3 hari sebelumnya dan harus segera diperiksa setelah ejakulasi (Yatim,1982). Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) dipilih sebagai bahan praktikum mengenai analisis sperma karena ukurannya yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan ikan tawes dan ikan mas sehingga dapat dirawat dan dipelihara dalam aquarium. Selain itu ikan nilem juga mudah diamati, mudah didapatkan dan harganya tidak terlalu mahal.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk analisis sperma dan menentukan kualitas spermatozoa hewan uji.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) termasuk ke dalam keluarga Cyprinidae seperti ikan mas dan ikan tawes. Bentuk badan mirip ikan mas, tetapi badannya lebih memanjang dengan sirip punggung relatif lebih panjang. Ikan nilem mempunyai dua pasang kumis (barbels) di bagian luar mulutnya. Umumnya ikan nilem mempunyai panjang sekitar 25 cm dengan berat badan 150 gram. Ikan nilem biasanya memijah pada akhir musim penghujan di perairan bebas dan pada daerah pesisir. Ikan nilem hidup pada ketinggian 150-800 m dpl. Ukuran tubuh ikan dewasa antara 15-20 cm dengan berat berkisar antara 100-200 gram. Ikan Nilem merupakan salah satu sumber protein bagi manusia (Yatim,1982). Ikan Nilem mempunyai organ reproduksi yaitu testis yang berwarna putih. Testis terdapat sepasang yang digantungkan oleh jaringan ikat yang disebut

meserchium, terletak pada rongga perut di depan gelembung renang. Testis mempunyai struktur yang terdiri dari saluran berongga (tubulus longitudinalis) yang banyak sekali terdapat pada ciste seminiferus. Ciste tersebut memiliki dinding yang berisi sel-sel spermatogonium yang disebut primordial germinal cell. Di luar tubulus terdapat sel interstitial (sel leydig) sebagai penghasil hormone androgen (hormon jantan). Hormon androgen yang paling kuat pengaruhnya adalah hormon testosteron yang berfungsi menentukan tanda-tanda kelamin jantan, menentukan tingkah laku kelamin jantan dan merangsang spermatogenesis (Partodihajo, 1990). Ikan Nilem jantan masak kelamin setelah berumur 8 bulan. Berat testis lebih ringan dibanding berat ovarium pada ikan yang sama umurnya. Sepasang testis dapat menghasilkan sekitar 1-1,5 ml milt dalam keadaan ejakulasi alami, tetapi pada striping hanya 1 ml. Setiap 1 ml milt mengandung 200-300 juta spermatozoa. Milt Ikan Nilem

setelah diejakulasikan dan bersentuhan dengan air lalu menggumpal. Milt harus diencerkan dengan larutan NaCl sampai 1000 kali. Pengenceran ini dapat memperpanjang daya hidup spermatozoa Ikan Nilem (Partodihajo, 1990). Pengamatan mikroskopis sperma diantaranya adalah penghitungan jumlah spermatozoa. Hemositometer merupakan gelas objek yang berbentuk persegi panjang memiliki kotak-kotak berukuran dimana terdapat dua liang sebagai tempat cairan sperma. Haemositometer sangat diperlukan dalam praktikum analisis sperma karena dapat digunakan dalam menghitung jumlah sperma yang normal dan abnormal dan juga sperma yang motil dan non motil (Yatim, 1982). Sperma ikan terdiri dari tiga komponen utama yaitu kepala, leher dan ekor. Kepalanya terutama terdiri dari suatu nukleus padat yang dimahkotai dengan akrosom kecil berbentuk bulan sabit. Akrosomnya mengandung sejumlah enzim hidrolitik dan dianggap berperan dalam penembusan telur oleh spermatozoa (Paxton, 1986). Syarat hewan uji yang digunakan dalam analisis sperma menurut Yatim (1982) persyaratannya adalah: 1. Proses pembuahan yang terjadi diluar tubuh ikan betina. 2. Terdapat pada ikan atau katak. 3. Hewan yang mudah disadap telur maupun sperma masaknya. 4. Mudah dibedakan antara jantan dan betina. 5. Telurnya bersifat transparan. 6. Mudah dioviposisikan. 7. Siklus hidup ikan pendek. 8. Telur maupun sperma yang dihasilkan setiap siklus reproduksi cukup banyak.

III.

MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah object glass, cover glass, cavity slide, pipet tetes, mikroskop, kertas tissue, tusuk gigi, pengukur waktu, haemositometer, mikrometer, spuit 1 mL, beaker glass 50 mL, well plate, dan pengukur waktu. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum analisis kualitas sperma pada ikan adalah larutan NaCl fisiologis atau larutan ringer, akuades dan pewarna giemsa atau eosin.

B. Metode

1. Sperma Ikan Nilem dikeluarkan dengan cara stripping. 2. Milt ikan keluar disedot dengan alat suntik dan diletakkan dalam cawan Petri. 3. Kemudian dilakukan pemeriksaan Makroskopis Warna: a. Diperhatikan warna sperma yang sudah didapat dengan mata talanjang. b. Dicatat warna sperma. Bau: a. Sperma ikan dalam cawan Petri dipegang dengan tangan kiri dan tangan kanan dikipas-kipaskan agar bau sperma tercium. b. Dicatat bau yang tercium. Volume: a. Milt yang keluar diukur volumenya dengan gelas ukur 10 ml.

b. Dicatat volumenya. pH: a. Sepotong kertas pH diambil dan dicelupkan pada sperma. b. Setelah beberapa saat dicocokkan dengan tabel indikator. c. pH dicatat. Viskositas: a. Diletakkan sperma diatas object glass b. Digerakkan seperti menyendok dengan tusuk gigi 4. Dilakukan pemeriksaan mikroskopis Menilai Motilitas Sperma: a. Diambil sperma 0,1 ml diencerkan 100 kali dalam larutan NaCl b. Diteteskan beberapa tetes dengan pipet di atas gelas objek dan ditambah akuades lalu ditutup dengan gelas penutup. c. Dilihat dengan perbesaran 400 kali, dicatat motilitas sperma yang terlihat. Pemeriksaan Morfologi Spermatozoa a. Dibuat sediaan apus sperma. b. Diteteskan sperma pada gelas objek disalah satu ujungnya. c. Digunakan tepi ujung gelas objek yang lain yang diberdirikan dengan sudut 30 derajat. d. Dibiarkan kering udara selama 5 menit. e. Ditirsasi dengan larutan methanol (1:1) selama 5 menit. f. Ditetesi pewarna larutan eosin (pengencer 20 kali) selama 30 menit. g. Dibiarkan kering udara kemudian diamati di bawah mikroskop. Bilik Hitung (Haemositometer) a. Bilik hitung ditempatkan pada meja mikroskop

b. Digunakan lensa objektif perbesaran 400 kali. c. Diperhatikan 9 kotak besar. d. Diperhatikan kotak yang ditengah-tengah. e. Fokus ke dalam 5 kotak dan sperma yang terlihat ditandai binti-bintik dihitung dengan hand counter f. Dari kelima data dirata-rata dan ditambah data dari kelompok lain rumus: Total spermatozoa = rata-rata 5 kotak x 2,5. 105 x fp sel/ml

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Volume

: 1,26 ml/2 ekor ikan

2. Viskositas : 10 menit Table 1. Akumulasi Data Pengamatan Viskositas Rombongan I Kelompok 1 2 3 4 5 6 Viskositas (menit) 10 10 12 10 21,11 28

3. Bau 4. Warna 5. pH 6. Motilitas

: amis : Putih susu : 8,5 : a. sperma motil 0% b. sperma non motil 100%

Table 2. Akumulasi Data Pengamatan Motilitas Spermatozoa Rombongan I K1 K2 K3 K4 K5 K6 Ratarata Presentase sperma motil (%) Presentase sperma non motil (%) Keterangan: 75 25 10 90 100 0 0 100 60 40 70 30 52,5 47,5

K=kelompok 7. Pengamatan bilik hitung

Gambar 1. Bilik Hitung Haemocytometer 8. Jumlah total spermatozoa Table 3. Akumulasi Data Pengamatan Total Spermatozoa Rombongan I K1 K2 K3 K4 K5 K6 RataRata Total spermatozoa/ml 44,5. 109 Keterangan: K=kelompok Perhitungan: Diketahui: kotak 1 = 2 kotak 2 = 0 kotak 3 = 0 kotak 4 = 2 kotak 5 = 0 rata-rata = 4/5= 0,8 39. 109 4,9. 109 2. 109 61,5. 109 7,5. 109 26,57. 109

jawab: Total spermatozoa = rata-rata 5 kotak x 2,5. 105 x fp sel/ml = 0,8 x 2,5.105 x 104 = 2 x 109 sel/ml Normal Tidak Normal

(A) Keterangan Gambar : A. Gambar Skematis Morfologi Sperma B. Gambar Mikroskopis Morfologi Sperma 1. Kepala sperma 2. Ekor sperma 9. Kesimpulan/ diagnosa

(B)

Volume milt ikan yang dihasilka pada praktikum adalah 1,26 ml/2 ekor ikan. Viskositas dari milt ikan terjadi setelah pengamatan selama 10menit. Milt ikan memiliki bau amis, berwarna putih susu dan memiliki pH 8,5. Motilitas milt ikan yang diperoleh adalah presentase sperma motil sebesar 0% dan presentase sperma non motil sebesar 100%. Hal ini terjadi karena selama melakukan pengenceran waktu yang diperlukan terlalu lama dan milt ikan juga sudah terjadi kontak dengan cahaya, yang mengakibatkan spermatozoa dalam milt ikan mati.

B. Pembahasan

Volume milt ikan yang dihasilkan pada praktikum adalah 1,26 ml/2 ekor ikan. Viskositas dari milt ikan terjadi setelah pengamatan selama 10 menit. Milt ikan memiliki bau amis, berwarna putih susu dan memiliki pH 8,5. Motilitas milt ikan yang diperoleh adalah presentase sperma motil sebesar 0% dan presentase sperma non motil sebesar 100%. Hal ini terjadi karena selama melakukan pengenceran waktu yang diperlukan terlalu lama dan milt ikan juga sudah terjadi kontak dengan cahaya, yang mengakibatkan spermatozoa dalam milt ikan mati. Berdasarkan dengan hasil praktikum yang telah dilakukan, volume sperma yang dihasilkan sebanyak 1,26 ml dan hal ini sama dengan pustaka, menyatakan bahwa sperma yang normal (normospermia) volumenya antara 1 s.d. 6 ml. Sehingga sperma yang dihasilkan ikan nilem tergolong hypospermia karena volumenya kurang dari 1 ml. Konsentrasi sperma sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi dan frekuensi pengambilan sperma. menyatakan bahwa protein yang tinggi dalam pakan dapat meningkatkan volume, konsentrasi dan jumlah spermatozoa yang hidup. Konsentrasi sperma yang rendah disebabkan kebutuhan nutrisi dalam sel sperma belum mencukupi karena nutrisi yang tersedia lebih banyak dipakai untuk kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Frekuensi pengambilan sperma mempengaruhi konsentrasi sperma, karena spermatozoa memiliki waktu tertentu untuk proses spermatogenesis sehingga jumlah spermatozoa berkurang jika frekuensi pengambilan sperma terlalu dekat (Condro,2012). Berdasarkan dengan hasil praktikum yang telah dilakukan, viskositas yang dihasilkan adalah 10 menit. Menurut pustaka, bahwa durasi motilitas terjadi dalam periode yang sangat pendek pada ikan air tawar, Pergerakan aktif spermatozoa ikan sekitar 1-2 menit dan tak ada lagi pergerakan setelah 5 menit. Semakin kental sperma tersebut semakin besar vikositasnya. Hal ini mungkin disebabkan karena sperma terlalu

banyak, cairannya sedikit, gangguan liquedaction, perubahan komposisi plasma sperma, dan pengaruh obat-obatan (Condro,2012). Berdasarkan dengan hasil praktikum yang telah dilakukan, bau yang dihasilkan adalah bau amis, warna putih susu dan pH 8,5. Berdasarkan pustaka, bau dan warna sudah sesuai. Namun ada perbedaan pada pH. Sperma yang normal mempunyai pH antara 7,2-7,8. pH lebih dari 8 menunjukkan adanya radang akut kelenjar kelamin atau epididymis. pH kurang dari 7,2 menunjukkan adanya penyakit kronis pada kelenjar atau epididymis. pH rendah sekali menunjukkan adanya gangguan atau aplasia pada vesicular seminalis atau ductus ejaculatorius. pH dapat berubah satu jam sesudah ejakulasi (Meirnawati, 2011). Berdasarkan dengan hasil praktikum yang telah dilakukan, motilitas sperma ikan Nilem adalah 0% untuk motil dan 100% untuk nonmotil. Hasil pengamatan tersebut menunjukkan sperma tidak memiliki kualitas yang baik secara mikroskopis. Menurut pustaka, sperma segar yang akan digunakan untuk pembekuan harus memiliki motilitas minimal 70%. Penggunaan hemositometer untuk menentukan jumlah spermatozoa dalam semen menurut pendapat terbaru dianggap kurang praktis, karena kecuali memerlukan sedikit keahlian dalam menghitung juga memerlukan waktu dalam menghitung dengan mikroskop. Sperma yang diteteskan di atas kotak hemositometer ditutup dan dihitung, hasilnya dicatat misalnya y. Y ini adalah jumlah sel-sel spermatozoa yang mati dan yang terlihat tidak bergerak dalam kotak-kotak. Spermatozoa yang tidak bergerak belum tentu mati Hal ini disebabkan selama melakukan pengenceran waktu yang diperlukan terlalu lama dan milt ikan juga sudah terjadi kontak dengan cahaya, yang mengakibatkan spermatozoa dalam milt ikan mati (Meirnawati, 2011).

Berdasarkan dengan hasil praktikum yang telah dilakukan, jumlah total spermatozoa untuk rombongan I adalah 26,57.109 spermatozoa/ml. Sehingga menurut Yatim (1982), konsentrasi spermatozoa tersebut termasuk dalam golongan

polyzoospermia karena jumlah spermanya lebih dari 250 juta/ml. Jumlah spermatozoa normal (normozoospermia) berada pada rentang antara 40 sampai 200 juta/ml. Konsentrasi spermatozoa yang tinggi akan dapat menghambat aktivitas spermatozoa, yang disebabkan berkurangnya daya gerak sehingga spermatozoa sukar menemukan atau menembus mikrofil sel telur yang mengakibatkan rendahnya fertilitas spermatozoa. Namun dalam kepentingan pemijahan buatan konsentrasi spermatozoa tidak begitu dipentingkan, tetapi yang sangat menentukan adalah motilitas spermatozoa dalam menuju sel telur (Putra, 2010). Pemeriksaan makroskopis sperma meliputi volume, warna, pH, viskositas dan bau sedangkan mikroskopis sperma meliputi motilitas, morfologi dan jumlah total spermatozoa (Melati, 2011). Penentuan jumlah total spermatozoa menggunakan haemositometer, dengan pengenceran 0,1 ml sperma menggunakan NaCl fisiologis. Pemeriksaan motilitas menggunakan mikroskop perbesaran 400 kali dengan meneteskan sperma pada object glass dan ditambahkan aquadest. Penilaian motilitas dilakukan dengan menduga persentase sperma yang pergerakannya progresif ke depan dibandingkan dengan total sperma yang diamati. Penentuan viabilitas dilakukan dengan pembuatan preparat ulas eosin negrosin, kemudian membandingkan jumlah sperma hidup dengan total sperma yang diamati dan dinyatakan dalam persen. Pemeriksaan morfologi menggunakan mikroskop dan melihat bentuk-bentuk (Meirnawati, 2011). Banyak macam bentuk spermatozoa yang abnormal yang mungkin dapat dilihat. Abnormalitas spermaatozoa dibagi menjadi 2 kelompok yaitu abnormalitas primer dan dari sperma

sekunder. Abnormalitas primer yaitu abnormalitas yang terjadi selama proses spermatogenesis. Sedangkan abnormalitas sekunder adalah abnormalitas yang terjadi karena pengaruh lingkungan. Keberadaan abnormalitas spermatozoa dalam jumlah tertentu (di bawah 5%) merupakan kondisi yang normal sebagai bentuk abnormalitas primer. Enam kelainan kepala (kepala besar, kepala kecil, pyriform kepala, kepala runcing, kepala ganda dan kepala amorf), dua kelainan dari bagian tengah (tetesan sitoplasma dan leher bengkok) dan empat kelainan ekor (digulung ekor, ekor membungkuk , ekor patah dan ekor ganda) dievaluasi dalam setiap kelompok laki-laki (Venkatesh, 2009). Penggunaan larutan fisiologis pada praktikum analisis kualitas sperma adalah larutan NaCl fisiologis dan pewarna eosin. Larutan fisiologis dapat menambah daya viabilitas dan motilitas spermatozoa. Penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit. Larutan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain larutan NaCl yang digunakan untuk pengenceran. Larutan eosin untuk mewarnai sediaan apus spermatozoa (Partodihajo, 1990). Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas sperma adalah temperature, kandungan zat makanan dan larutan fisiologis. Aktivitas metabolisme dan gerakan spermatozoa akan normal pada suhu tubuh dan akan meningkat kecepatannya jika suhunya meningkat. Kandungan zat makanan misalnya fruktosa merupakan substrat energi utama di dalam plasma sperma. Larutan fiologis dapat menambah daya viabilitas dan motilitas spermatozoa (Yatim, 1982) Daya fertilisasi sangat ditentukan oleh kualitas telur, sperma, media dan penanganan manusia. Telur yang terfertilisasi terlihat dari warna telur yang bening. Telur yang perkembangannya sehat adalah berwarna transparan dan bersih, sehingga

mudah dibedakan dengan telur yang mati. Morfologi (bentuk dan struktur) sperma juga tak kalah pentingnya dalam menentukan keberhasilan pembuahan. Bila sepertiga dari jumlah sperma yang dihasilkan memiliki bentuk dan struktur yang normal maka kemungkinan terjadinya pembuahan juga makin tinggi. Jika ada bagian dari sepasang kromosom homolog tidak bergerak memisahkan diri pada waktu mitosis, satu gamet menerima dua jenis kromosom yang sama dan gamet lainnya tidak mendapatkan kromosom. Jika salah satu gamet yang menyimpang bersatu dengan gamet normal pada waktu pembuahan, maka keturunannya akan memiliki jumlah kromosom yang abnormal. Bila organisme tersebut mampu bertahan hidup, organisme tersebut akan memperlihatkan sejumlah gejala yang disebabkan oleh abnormalnya jumlah gen yang terletak pada kromosom tambahan atau kromosom yang hilang. Abnormalitas terjadi diduga saat pemberian kejutan suhu panas ada sebagian telur yang belum bisa mengembalikan jumlah kromosom yang berkurang pada saat proses perkembangan telur yang diinginkan, yaitu menghasilkan sigot diploid (2n) dan telah mengalami modifikasi kromosom, sehingga sebagian telur yang menetas pada tiap perlakuan ada yang menghasilkan larva abnormal (Subekti,2009).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Volume sperma yang dihasilkan adalah 1,26 ml. 2. Viskositas sperma yang dihasilkan adalah 10 menit 3. Bau sperma yang dihasilkan adalah bau amis 4. Warna sperma yang dihasilkan adalah putih susu 5. pH sperma 8,5 yang berarti basa. 6. Persentase sperma motil adalah 0 % dan sperma non motil adalah 100 %. 7. Jumlah total spermatozoa adalah 2x109 sel/ml. 8. Kualitas dan kuantitas spermatozoa kurang baik sebab berdasarkan pengamatan terdapat beberapa hasil yang tidak sesuai dengan pustaka diantaranya yaitu persentase spermatozoa motil dan non motil dan pH sehingga tingkat keberhasilan spermatozoa untuk membuahi sel telurnya adalah kecil.

B. Saran

1. Sebaiknya pengamatan motilitas spermatozoa segera setelah dilakukan pengenceran supaya masih dapat terlihat sperma yang motil. 2. Sebaiknya penghitungan jumlah total spermatozoa menggunakan alat bantu yang lebih akurat sehingga tidak salah dalam penghitungannya.

DAFTAR REFERENSI

Condro, Herdianto Sapto. 2012. Pengaruh Penambahan Madu Pada Media Pengencer NaCl Fisiologis Dalam Proses Penyimpanan Sperma Terhadap Kualitas Sperma Ikan Komet (Carassius auratus auratus). Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Surabaya. Meirnawati, setyana, dkk. 2011. Daya Fertilisasi Sperma Beku Ikan Tawes (Puntius javanicus) Setelah Disimpan Dengan Fruktosa Dan Tris Aminomethan. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Surabaya. Melati. 2011. Penggunaan Larutan Elektrolit Pada Suhu Yang Berbeda Untuk mempertahankan Motilitas dan viabiltas sperma Ikan Mas (Cyprinus carpio). IPB. Bogor. Partodiharjo, Soebadi. 1990. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara Sumber Widya, Surabaya. Paxton, M. J. W. 1986. Endocrinology, Biologycal and Medical Prespective. Wm. C. Putra, Ridwan Manda. 2010. Pengaruh Kombinasi Penyuntikan hCG Dan Ekstrak Kelenjar Hipofisa Ikan Mas Terhadap Volume Semen Dan Kualitas Serma Ikan Pantau (Rasbora lateristriata Blkr). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Riau. Subekti. 2009. Pengaruh Kejutan Suhu Panas Dan Lama Waktu Setelah Pembuahan Terhadap Daya Tetas Dan Abnormalitas Larva Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Surabaya. Venkatesh, S. Singh, G, Gupta N.P, Kumar. R, Deecaraman. M, Dada R. 2009. Correlation of sperm morphology and oxidative stress in infertile men. Iranian Journal of Reproductive Medicine. 7 (1): 29-34. Yatim, W. 1982. Reproduksi dan Embriologi. Tarsito, Bandung.