Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

Cleft lip adalah suatu kondisi dimana terdapat celah pada bibir atas diantara mulut dan hidung. Kelainan ini dapat berupa celah kecil pada bagian bibir yang berwarna sampai pada pemisahan komplit satu atau dua sisi bibir memanjang dari bibir ke hidung. Celah pada satu sisi disebut labioschisis unilateral, dan jika celah terdapat pada kedua sisi disebut labioschisis bilateral. Kelainan ini terjadi karena adanya gangguan pada kehamilan trimester pertama yang menyebabkan terganggunya proses tumbuh kembang janin. Faktor yang diduga dapat menyebabkan terjadinya kelainan ini adalah kekurangan nutrisi, stres pada kehamilan, trauma, dan faktor genetik.(2,3) Permasalahan pada penderita celah bibir dan langit-langit sudah muncul sejak penderita lahir. Secara fisik adanya celah akan membuat kesukaran minum karena adanya daya hisap yang kurang dan banyak yang tumpah atau bocor ke hidung. Se1ain itu terjadi permasalahan dalam segi estetik atau kosmetik, perkembangan gigi yang tidak sempuma serta gangguan pertumbuhan rahang dan gangguan bicara berupa suara sengau. Penyulit yang juga mungkin terjadi pada penderita celah bibir adalah infeksi pada telinga tengah hingga gangguan pendengaran.(2)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. ANATOMI BIBIR Menurut The American Joint Committee on Cancer, bibir merupakan bagian dari cavum oris, mulai dari perbatasan vermilion-kulit dan meliputi seluruh vermilion saja. Tetapi para ahli bedah menyebutkan bahwa bibir atas meliputi seluruh area dibawah hidung, kedua lipatan nasolabialis, kemudian intraoral sampai sulcus gingivolabialis, dan bibir bawah meliputi vermilion, lipatan labiomentalis sampai sulcus gingivolabialis intraoral.(4) Bibir terdiri dari 3 seksi yaitu kutaneus, vermilion dan mukosa. Bibir bagian atas disusun 3 unit kosmetik yaitu 2 lateral dan 1 medial. Cupid bow adalah proyeksi ke bawah dari unit philtrum yang memberi bentuk bibir yang khas. Proyeksi linear tipis yang memberi batas bibir atas dan bawah secara melingkar pada batas kutaneus dan vermilion disebut white roll.(4,5) Bibir bagian bawah memiliki 1 unit kosmetik yaitu pada bagian mental crease yang memisahkan bibir dengan dagu. Vermilion merupakan bagian bibir yang paling penting dari sisi kosmetik. Lapisan sagital bibir dari luar ke dalam yaitu epidermis, dermis, jaringan subkutaneus, m. orbicularis oris, submukosa dan mukosa. Bibir atas yang normal mempunyai otot orbicularis oris utuh, 2 buah philthrum ridge yang sejajar dan sama panjang dengan di tengahnya terbentuk philthrum dimple. Disamping itu mempunyai cupid bow, dibagian permukaan mempunyai vermilion yang simetris.(4,5,6)

A. Vaskularisasi Vaskularisasi berasal dari a. labialis superior dan inferior, cabang dari a. facialis. Arteri labialis terletak antara m. orbicularis oris dan submukosa sampai zona transisi vemlilion-mukosa.

B. Inervasi Inervasi sensoris bibir atas berasal dari cabang n. cranialis V (n. trigeminus) dan n. infraorbitalis. Bibir bawah mendapat inervasi sensoris dari n. mentalis. Pengetahuan inervasi sensoris ini penting untuk mdakukan tindakan blok anestesi. Inervasi motorik bibir berasal dari n. cranialis VII (n. facialis). Ramus buccalis n.facialis menginervasi m. orbicularis oris dan m. elevator labii. Ramus mandibularis n. facialis menginervasi m. orbicularis oris dan m. depressor labii.(4)

C. Muskulus Muskulus utama bibir adalah m. orbikularis oris yang melingkari bibir. Muskulus ini tidak melekat pada tulang, berfungsi sebagai sfingter rima oris. Dengan gerakan yang kompleks, muskulus ini berfungsi untuk puckering, menghisap, bersiul, meniup dan menciptakan ekspresi wajah. Kompetensi oris dikendalikan oleh m. orbicularis oris, dengan musculus ekspresi wajah lainnya daerah otot ini dikenal dengan istilah modiolus. 1. Muskulus elevator terdiri dari m. levator labii superior alaeque nasi, m. levator labii superior, m. zygomaticum major, m. zygomaticum minor dan m. Levator anguli oris. 2. Muskulus retraktor bibir atas disusun oleh m. zygomaticum major, m. zygomaticum minor dan m. levator anguli oris. 3. Muskulus depresor meliputi m. depresor anguli oris dan m. depresor labii inferior. 4. Muskulus retraktor bibir bawah terdiri dari m. depresor anguli oris dan m. platysma, sedangkan m. mentalis berfungsi untuk protrusi bibir.(4)

Gambar 1. Anatomi bibir

II. EMBRIOLOGI Secara embriologik rangka dan jaringan ikat pada wajah (kecuali kulit dan otot), termasuk palatum, berasal dari sel-sel neural crest di cranial, sel-sel inilah yang memberikan pola pada pertumbuhan dan perkembangan wajah.

Pertumbuhan fasial sendiri dimulai sejak penutupan neuropore (neural tube) pada minggu ke-4 masa kehamilan; yang kemudian dilanjutkan dengan rangkaian proses kompleks berupa migrasi, kematian sel terprogram, adhesi dan proliferasi sel-sel neural crest.(4,7) Ada 3 pusat pertumbuhan fasial, yaitu : 1. Sentra prosensefalik Bertanggung jawab atas pertumbuhan dan perkembangan lobus frontal otak, tulang frontal. Dorsum nasal dan bagian tengah bibir atas, premaksila dan septum nasal (regio fronto-nasal). 2. Rombensefalik Membentuk bagian posterior kepala, lateral muka dan sepertiga muka bagian bawah (regio latero posterior). Ada bagian-bagian yang mengalami tumpang

tindih akibat impuls-impuls pertumbuhan yang terjadi, disebut diacephalic borders. 3. Diasefalik Diacephalik borders pertama yaitu sela tursika, orbita dan ala nasi, selanjutnya ke arah filtrum; dan filtrum merupakan penanda (landmark) satusatunya dari diacephalic borders yang bertahan seumur hidup. Diacephalic borders kedua adalah regio spino-kaudal dan leher.(4) Gangguan pada pusat-pusat pertumbuhan maupun rangkaian proses kompleks sel-sel neural crest menyebabkan malformasi berupa aplasi, hipoplasi dengan atau tanpa displasi, normoplasi dan hiperplasi dengan atau tanpa displasi. Pembentukan bibir atas melalui rangkaian proses sebagaimana berikut. Sisi lateral bibir atas, dibentuk oleh prominensi maksila kiri dan kanan; sisi medial (filtrum) dibentuk oleh fusi premaksila dengan prominensi nasal. Ketiga prominensi ini kemudian mengalami kontak membentuk seluruh bibir atas yang utuh. Gangguan yang terjadi pada rangkaian proses sebagaimana diuraikan diatas akan menyebabkan adanya celah baik pada bibir (jaringan lunak) maupun gnatum, palatum, nasal, frontal bahkan maksila dan orbita (rangka tulang). Berdasarkan teori ini, dikatakan bahwa bibir sumbing dan langit-langit, merupakan suatu bentuk malformasi (aplasi-hipoplasi) yang paling ringan facial cleft, yang mencerminkan gangguan pertumbuhan pada sentra prosensefaIik, rombensefalik dan diasefalik.(4,7)

III. EPIDEMIOLOGI Insiden celah bibir dan palatum terbanyak dalam suatu populasi sekitar 1 diantara 700 kelahiran. Paling banyak ditemukan sekitar 86% untuk dua celah, 68% untuk satu celah. Seperti yang kita ketahui ada 14 jenis cacat bawaan pada celah muka, namun celah bibir dan palatum yang paling sering dijumpai. Pada tipe unilateral, lebih banyak terjadi pada kiri daripada kanan dan lebih sering mengenai anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan. Pada populasi orang kulit putih ditemukan 1 diantara 1000 kelahiran celah pada bibir dan palatum atau

tanpa palatum. Pada orang Asia, dua kali lebih banyak dari orang kulit putih, setengah dari orang Asia ditemukan pada orang Afrika dan Amerika.(5,8)

IV. ETIOLOGI Penyebab terjadinya labioschisis belum diketahui dengan pasti.

Kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa labioschisis muncul sebagai akibat dari kombinasi faktor genetik dan faktor-faktor lingkungan. Di Amerika Serikat dan bagian barat Eropa, para peneliti melaporkan bahwa 40% orang yang mempunyai riwayat keluarga labioschisis akan mengalami labioschisis. Kemungkinan seorang bayi dilahirkan dengan labioschisis meningkat bila keturunan garis pertama (ibu, ayah, saudara kandung) mempunyai riwayat labioschisis. Ibu yang mengkonsumsi alkohol dan narkotika, kekurangan vitamin (terutama asam folat) selama trimester pertama kehamilan, atau menderita diabetes akan lebih cenderung melahirkan bayi/ anak dengan labioschisis.(4) Beberapa hipotesis yang dikemukakan dalam perkembangan kelainan ini antara lain :

Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional dalam hal kuantitas (pada gangguan sirkulasi feto-maternal) dan kualitas (defisiensi asam folat, vitamin C, dan Zn).

Penggunaan obat teratologik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal. Infeksi, terutama pada infeksi toxoplasma dan klamidia. Faktor genetik (4)

V. PATOFISIOLOGI Gejala patologis pada celah bibir mencakup kesulitan pemberian makanan dan nutrisi, infeksi telinga yang rekuren, hilangnya pendengaran, perkembangan pengucapan yang abnormal dan kelainan pada perkembangan wajah. Adanya hubungan antara saluran mulut dan hidung menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk mengisap pada bayi. Cacat terbentuk pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tak terbentuk mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu

(prosesus nasalis dan maksilaris) pecah kembali. Semua yang mengganggu pembelahan sel dapat rnenyebabkan ini: defisiensi, bahan-bahan obat sitostatik, radiasi. Problem yang ditimbulkan akibat cacat ini adalah psikis, fungsi dan estetik. Problem psikis yang mengenai orang tua dapat diatasi dengan penjelasan dan edukasi yang baik. Bila cacat terbentuk lengkap sampai langit-langit, bayi tak dapat mengisap. Karena sfingter muara tuba Eustachii kurang normal lebih mudah terjadi infeksi ruang telinga tengah. Sering ditemukan hipoplasia pertumbuhan maksilla sehingga gigi geligi depan atas atau rahang atas kurang maju pertumbuhannya. Insersi yang abnormal dari tensor veli palatini menyebabkan tidak sempurnanya pengosongan pada telinga tengah. Infeksi telinga rekuren menyebabkan hilangnya pendengaran yang dapat rnernperburuk pengucapan yang abnormal. Mekanisme veloparingeal yang utuh penting dalam menghasilkan suara non nasal dan sebagai modulator aliran udara dalarn produksi fonem lainnya yang membutuhkan nasal coupling. Maniputasi anatomi yang kompleks dan sulit dari mekanisme veloparingeal, jika tidak sukses dilakukan pada awal perkernbangan pengucapan dapat menyebabkan berkurangnya pengucapan normal yang dapat dicapai.(9)

VI. KLASIFIKASI Berdasarkan lengkap atau tidaknya celah yang terbentuk, cleft lip dibagi menjadi inkomplit dan komplit. Sedangkan berdasarkan lokasi atau jumlah kelainannya, dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Pembagian berdasarkan International Classification of the Diseases (ICD), mencakup celah anatomis organ terlibat, lengkap atau tidaknya celah, unilateral atau bilateral; digunakan untuk sistem pencatatan dan pelaporan yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO). Celah pada bibir dapat ditemukan tipe unilateral (satu sisi) atau bilateral (dua sisi), tipe komplit atau inkomplit. Kerusakan terjadi hingga pada daerah alveolar sehingga menjadi sebuah perencanaan dalam pembedahan sebagai

perbaikan. Umumnya kelainan celah pada kelahiran terbagi dalam 2 kategori yakni: 1. Unilateral Komplit. Jika celah sumbing yang terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung atau dengan kata lain unilateral komplit memberikan gambaran keadaan dimana te1ah terjadi pemisahan pada salah satu sisi bibir, cuping hidung dan gusi. Unilateral komplit memiliki dasar dari palatum durum yang merupakan daerah bawah daripada kartilago hidung. 2. Unilateral Inkomplit. Jika celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung atau dengan kata lain bahwa unilateral inkomplit memberikan gambaran keadaan dimana terjadi pemisahan pada salah satu sisi bibir, namun pada hidung tidak rnengalami kelainan. 3. Bilateral Komplit. Jika celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung. Dapat terlihat adanya penonjolan pada daerah premaxilla. Oleh karena terjadi ketiadaan hubungan dengan daerah lateral dari palatum durum. 4. Bilateral Inkomplit. Jika celah ini terjadi secara inkomplit dimana kedua hidung dan daerah kedua premaxilla tidak mengalarni pemisahan dan hanya menyertakan dua sisi bibir.(10)

Gambar 2. Kiri: Cleft Lip tipe unilateral komplit. Kanan: Cleft Lip tipe bilateral komplit

Gambar 3. Cleft Lip tipe unilateral inkomplit

VII. DIAGNOSIS Pada saat dalam kehamilan, pemeriksaan celah dini pada janin dapat kita lihat dengan menggunakan transvagina ultrasonografi pada minggu ke-l1 masa kehamilan dan bisa juga dideteksi dengan menggunakan transabdominal ultrsonografi pada usia kehamilan minggu ke-16. Jika celah pada bibir dapat dideteksi, maka janin kemungkinan mengalami malformasi, gangguan kromosom atau kedua-duanya. Kurang dari 25% celah pada bibir dapat teridentifikasi melalui ultrasonografi. Bagaimanapun seorang dokter ahli dapat mendiagnosis sekitar 80% dari pemeriksaan prenatal jika mereka menggunakan 3-dimensi

ultrasonografi. Untuk mendeteksi celah pada langit-langit sepertinya agak sulit jika menggunakan ultrasonografi. MRI lebih memiliki ketelitian lebih baik dibandingkan ultrasonografi.(11)

VIII. SISTEM KODE LOKASI CELAH BIBIR Ada cara penulisan lokasi celah bibir dan langit-langit yang diperkenalkan oleh Otto Kriens, yaitu sistem LAHSHAL yang sangat sederhana dan dapat menjelaskan setiap lokasi celah pada bibir, alveolar, hard palate dan soft palate. Kelainan komplit, inkomplit, microform, unilateral atau bilateral. Bibir disingkat sebagai L (lips), gusi disingkat sebagai A (alveolar), langit- Iangit dibagi menjadi dua bagian yaitu H (hard palate) dan S (soft palate). Bila norrnal (tidak ada celah) maka urutannya dicoret, celah komplit (lengkap)

dengan huruf besar, celah inkomplit (tidak lengkap) dengan huruf kecil dan huruf kecil dalam kurung untuk kelainan microform. Pemakaian sistem LAHSHAL ini juga sesuai dengan ICD (International Code Of Diagnosis).(2)

LAHSAL SYSTEM L=Lip; A=Alveolus; H=Hard Palate; S=Soft Palate S selalu di tengah Yang mendahului S adalah bagian kanan dan sesudah S adalah bagian kiri Huruf besar menunjukkan bentuk ce1ah total Huruf kecil menunjukkan bentuk partial Di dalam kurung adalah bentuk microform Strip berarti normal atau intak.

Contoh : 1. CLP/L-----L Cleft Lip dan Palate lokasi celah berada di bibir kanan dan kiri, celah komplit 2. CLP/-----SHAL CLP dengan lokasi celah komplit pada soft palate, alveolus dan bibir bagian kiri. 3. CLP/ I----CLP celah bibir sebelah kanan inkomplit (2)

IX. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis dari kelainan labioschisis antara lain : a. Masalah Asupan Makanan Merupakan masalah pertama yang terjadi pada bayi penderita labioschisis. Adanya labioschisis memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan pada payudara ibu atau dot. Tekanan lembut pada pipi bayi dengan labioschisis mungkin dapat meningkatkan kemampuan hisapan oral. Keadaan tambahan yang ditemukan adalah reflek hisap dan reflek menelan pada bayi dengan labioschisis tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat menghisap lebih banyak udara pada saat menyusu. Memegang bayi

dengan posisi tegak lurus mungkin dapat membantu proses menyusu bayi. Menepuk-nepuk punggung bayi secara berkala juga dapat membantu. Bayi yang hanya menderita labioschisis atau dengan celah kecil pada palatum biasanya dapat menyusui, namun pada bayi dengan labioplatoschisis biasanya membutuhkan penggunaan dot khusus. Dot khusus (cairan dalam dot ini dapat keluar dengan tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi dengan labio- palatoschisis dan bayi dengan masalah pemberian makan atau asupan makanan tertentu. b. Masalah Dental Anak yang lahir dengan labioschisis mungkin mempunyai masalah tertentu yang berhubungan dengan kehilangan, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada arean dari celah bibir yang terbentuk. Infeksi telinga anak dengan labiopalatoschisis lebih mudah untuk menderita infeksi telinga karena terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot mengontrol pembukaan dan penutupan tuba Eustachii. c. Gangguan Berbicara Pada bayi dengan labiopalatoschisis biasanya juga memiliki abnormalitas pada perkembangan otot-otot yang mengurus palatum mole. Saat palatum mole tidak dapat menutup ruang atau rongga nasal pada saat bicara, maka didapatkan suara dengan kualitas nada yang lebih tinggi (hypernasal quality of speech). Meskipun telah dilakukan reparasi palatum, kemampuan otot-otot tersebut diatas untuk menutup ruang atau rongga nasal pada saat bicara mungkin tidak dapat kembali sepenuhnya normal. Anak mungkin mempunyai kesulitan untuk menproduksi suara atau kata p, b, d, t, h, k, g, s, sh, and ch, dan terapi bicara (speech therapy) biasanya sangat membantu.(12) yang

X. PENATALAKSANAAN Penderita cleft lip mengalami berbagai permasalahan yang ditimbulkan akibat cacat ini adalah psikis, fungsi dan estetik dimana ketiganya saling berhubungan. Untuk fungsi dan nilai estetik baik untuk bibir, hidung dan

rahangnya diperlukan pembedahan. Disamping jasa seorang spesialis Bedah Plastik juga dibutuhkan sebuah tim dokter lain yang terdiri dari dokter THT, dokter gigi spesialis ortodentis, dokter anak, tim terapi bicara dan pekerja sosial. Penderita cleft lip paling utama terjadi gangguan dalam berbicara, penyakit pada telinga dan mungkin saja jalan nafas menjadi ikut terganggu. Oleh karena itu dibutuhkan seorang ahli THT untuk melihat gangguan yang terjadi ini.(13) Bayi yang baru lahir dengan cleft lip segera dipertemukan dengan pekerja sosial untuk diberi penerangan agar keluarga penderita tidak mengalami stress dan menerangkan harapan yang bisa didapatkan dengan perawatan yang menyeluruh bagi anaknya. Selain itu dijelaskan juga masalah yang akan dihadapi kelak pada anak. Menerangkan bagaimana memberi minum bayi agar tidak banyak yang tumpah. Pekerja sosial membuatkan suatu record psicososial pasien dari sini diambil sebagai bagian record cleft lip pada umumnya. Pekerja sosial akan mengikuti perkembangan psikososial anak serta keadaan keluarga dan lingkungannya. Berikut adalah beberapa tahapan terapi pada penderita cleft lip : 1. Operasi perbaikan terhadap bibir disebut Cheiloraphy atau Labioplasty. Dilakukan pada usia 3 bulan. Sebe1um dilakukan observasi pada penderita melihat kondisi bayi harus sehat, tindakan pembedahan mengikuti tata cara rule of ten, yakni : bayi berumur lebih 10 minggu, berat 10 pon atau 5 kg, dan memiliki hemoglobin lebih dari 10 gr% dan tak ada infeksi lekosit di bawah 10.000. 2. Perbaikan langit-langit disebut Palatorahy dilakukan pada usia 10 - 12 bulan, usia tersebut akan memberikan hasil fungsi bicara yang optimal karena memberikan kesempatan jaringan pasca operasi sampai matang pada proses penyembuhan luka sehingga sebelum penderita mulai bicara dengan demikian soft palate dapat berfungsi dengan baik. Jika operasi dilakukan terlambat sering hasil operasi dalam hal kemampuan mengeluarkan suara normal, tak sengau, sulit dicapai. 3. Speech therapy. Setelah operasi, pada usia anak dapat belajar dari orang lain, speech therapy dapat diperlukan setelah operasi palatoraphy yang akan meminimalkan suara sengau. Namun apabila masih saja didapatkan suara

sengau, maka dapat dilakukan phayngoplasty. Operasi ini akan membuat 3 bendungan pada faring untuk memperbaiki fonasi, biasanya dilakukan pada usia 5-6 tahun ke atas. 4. Alveolar Bone Graft. Pada usia 8-9 tahun dilakukan operasi penambalan tulang pada celah alveolar atau maxilla untuk tindakan bone graft dimana ahli orthodonti yang akan mengatur pertumbuhan gigi caninus kanan-kiri celah agar normal. Bone graft ini diambil dari bagian spongius crista iliaca. 5. Advancement Osteotomy Le Ford I. Evaluasi pada perkembangan selanjutnya pada penderita cleft lip sering didapatkan hipoplasia pertumbuhan maxilla sehingga terjadi dish face atau muka cekung. Keadaan ini dapat dikoreksi dengan cara operasi advancement ostetomi Le Fort I pada usia 17 tahun dimana tulang-tulang muka telah berhenti pertumbuhannya. Hal ini dilakukan oleh bedah ortognatik, memotong bagian tulang yang tertinggal

pertumbuhannya dan merubah posisinya maju ke depan. 6. Ahli THT untuk mencegah dan menangani timbulnya otitis media dan kontrol pendengaran. Penderita cleft lip mengalami gangguan pada tuba Eustachii dimana akan terjadi kelumpuhan otot levator palatine dan tensor vili palatine yang terinsersi dengan daerah tepi pada langit-langit keras. Dengan bertambahnya usia maka insiden terjadi kegagalan fungsi tuba Eustachii semakin tinggi pula. Evaluasi dilakukan setiap 3-4 bulan hingga ada perbaikan. Indikasi untuk dilakukan miringotomi dan insersi pada tuba sangat konduktif untuk mengatasi kehilangan pendengaran dan otitis media yang tidak kunjung sembuh.(2,13) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, dalam penanganan penderita cleft lip diperlukan kerjasama para spesialis dalam suatu tim yang akan diatur dalam sebuah protokol, yakni : (2) a. Pasien umur 3 bulan (the over tens) Operasi bibir dan hidung Pencetakan model gigi Evaluasi telinga Pemasangan grommets bila perlu

b.

Pasien umur 10 - 12 bulan Operasi palatum Evaluasi pendengaran dan telinga

c.

Pasien umur 1 - 4 tahun Evaluasi bicara, dimulai 3 bulan pasca operasi, follow up dilakukan oleh speech pathologist. Evaluasi pendengaran dan telinga

d.

Pasien umur 4 tahun Kalau bicara tetap jelek dipertimbangkan repalatografy atau

pharyngoplasty. e. Pasien umur 6 tahun f. g. Evaluasi gigi dan rahang, pembuatan model Melakukan nasoendoskopi bagiyangmemerlukan Evaluasi pendengaran

Pasien umur 9-10 tahun Alveolar bone graft

Pasien umur 12 -13 tahun Final touch untuk operasi-operasi yang dulu pernah dilakukan, bila masih ada kekurangannya.

h.

Pasien umur 17 tahun Evaluasi tulang-tulang muka Operasi advancement osteotomy Le Fort I

Teknik Pembedahan Celah Bibir 1. Teknik untuk unilateral cleft lip Beberapa prosedur bedah untuk memperbaiki unilateral cleft lip telah dikemukakan dengan variasi yang beragam antara lain Rose-Thompson Straight Line Closure, Randall-Tennison triangular flap repair, Mulard rotation-advancement repair, LeMesurier quadrilateral flap repair, Lip adhesion, and Skoog dan Kernahan-Bauer upper dan lower lip Z-plasty

repair. Dan masih banyak lagi teknik- teknik yang lain seperti teknik Delaire dan teknik Poole. Setiap teknik tersebut bertujuan untuk mengembalikan kontuinitas dan fungsi dari musculus orbicularis dan menghasilkan anatomis yang simetris. Kesemuanya mencoba untuk memperpanjang pemendekan philtrum pada bagian bercelah dengan melekatkan jaringan dari elemen bibir lateral ke elemen bibir medial, dengan menggunakan berbagai kombinasi antara lain merotasi, memajukan. dan mentransposisikan penutup.(10) Teknik Rose-Thompson straight line closure merupakan teknik untuk penyambungan linear defek minimal tanpa distorsi lantai nostril diawali dengan pertimbangan mengenai titik anatomis yang ada. Dua teknik yang sering digunakan yaitu teknik rotasi Millard dan teknik triangular. Teknik Millard membuat dua flap yang berlawanan di mana pada sisi medial dirotasi ke bawah dari kolumella untuk menurunkan titik puncak ke posisi normal dan sisi lateral dimasukkan ke arah garis tengah untuk menutupi defek pada dasar kolumella.(10) Keuntungan dari teknik rotasi Millard adalah jaringan parut yang terbentuk berada pada jalur anatomi normal dari collum philtral dan batas hidung. Teknik triangular dikembangkan oleh Tennison dan kawan-kawan dengan menggunakan flap triangular dari sisi lateral, dimasukkan ke sudut di sisi medial dari celah tepat di atas batas vermillion, melintasi collum philtral sampai ke puncak cupid. Triangle ini menambah panjang di sisi terpendek dari bibir. Teknik ini menghasilkan panjang bibir yang baik tetapi jaringan parut yang terbentuk tidak terlihat alami.(10) Teknik Milliard Rotation Advancement adalah teknik yang

dikembangkan oleh Milliard dengan perbaikan bertahap cocok untuk memperbaiki baik cleft lip komplit maupun inkomplit. Teknik ini sederhana, tapi diperlukan mata yang baik dan tangan yang bebas karena merupakan teknik-teknik cut as you go bagian nasal rekonstruksi harus didudukkan pada posisi anatomi sphincter oral, rotasi seluruh crus lateral dan medial dari kartilago lateral, rekonstruksi dasar hidung (baik lebar dan tingginya) dengan koreksi asimetris maksila yang hipoplastik untuk meninggikan ala bawah

yang mengalami deformitas dan penempatan kolumella dan septum nasi ke midline untuk memperoleh nostril yang simetris. Bagian bibir yang normal disiapkan untuk menerima bagian sisi yang sumbing pada teknik Miliard, untuk itu maka sisi yang sehat dengan cupids bow harus diiris sepanjang bawah kolumella dan dibebaskan ke bawah, ke arah estetika normal. Bagian bibir yang sumbing harus diiris sedemikian rupa untuk mengisi gap celah yang telah disiapkan pada bibir yang sehat.(1,10) 2. Teknik untuk complit dan incomplit bilateral cleft lip Apabila celah bilateral komplit pada satu sisi dan inkomplit pada sisi yang lain tidak hanya terjadi defisiensi bilateral tapi juga asimetris dari distorsi. Adaptasi prinsip rotation advancement terbagi kepada dua tahap, cleft komplit dirotasi dan diangkat untuk menutupi supaya suplai darah ke prolabium dialirkan ke incomplete. Jika kolurnella terdapat pemendekan, unilateral flap digunakan untuk pemanjangan. Satu bulan lebih kemudian, sisi yang kedua dirotasi dan ditarik supaya simetris.(12) 3. Teknik untuk complete bilateral cleft lip Complete bilateral cleft terdapat tiga masalah tambahan yang biasanya tidak terdapat di incomplete cleft (1) premaksilla yang menonjol; (2) kolumella yang inadekuat atau tidak ada; (3) satu-satunya suplai darah ke prolabium adalah melalui kolumella dan premaksilla.(10)