Anda di halaman 1dari 3

_ _l> ,.l :,>' l,,l >, _.

> ,s > ',-l '-l



. ..... .
Pada kesempatan yang berbahagia ini khatib ingin mengajak kita semua untuk senantiasa
meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, takwa dalam arti yang sebenar-benarnya yaitu
menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya, dan semoga kita tetap menjaga
keislaman qita hingga tiba waktu yang memsisahkan kita dari belenggu dunia ini kita tetap dalam
keadaan memeluk agama islam.
Sidang jamaah jumat yang dirahmati oleh Allah,
Dalam al-Quran Allah berfirman:
_>l . _> :| ,l> l> `>!.`. s!. _`..1.`. __
tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat
mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
Dalam ayat lain Allah juga berfirman:
!. _,`. _. . !l> !. `>:.`., _
tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan (Nya).
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang kematian,
Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa kematian adalah sesuatu yang mutlak yang telah di
tentukan oleh Allah SWT dan tidak ada seorang manusiapun yang dapat mengelak jika memang sudah
tiba waktunya.
Namun apakah setelah mati itu semuanya telah berakhir????? Tidak, setelah itu akan ada lagi
kehidupan yang menuggu kita seperti kehidupan alam kubur, peniupan sangkakala, kiamat, hari
perhitungan amal buku catatan amal, surga dan neraka. Semua kehidupan ini tidaklah seperti kehidupan
manusia pada saat di dunia, semuanya merupakan kehidupan sebelum kita menghadap Allah SWT
untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita selam hidup di dunia. Orang yang di dunianya
banyak melakukan perbuatan baik dan saleh maka akan mendapatkan kenikmatan yang luar biasa,
namun sebaliknya orang yang di dunia hanya berbuat kejahatan akan mendapatkan sisksaan yang amat
pedih
Oleh sebab itu, kita yang masih diberikan oleh Allah kesempatan untuk menikmati kehidupan yang
penuh tipu daya ini, mari kita banyak-banyak mengingat kematian.
Rasulullah SAW bersabda:
Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian! (HR.
Tirmidzi)
Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian. Tak ubahnya seperti guru
yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur
kehidupan agar tak lagi menyimpang dari rel-rel yang telah ditetapkan.
Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan
menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.
1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga
Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu
selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan
berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya.
Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada
jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detik pun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah
swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1,
,. _!.ll ,!.> > _ s .-.
Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam
kelalaian lagi berpaling (daripadanya).
Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata. Tiba-tiba, lisan tergerak untuk
mengatakan, Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan
mengejar ketinggalan. Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan, kematian akan tetap
datang tanpa ada perundingan.
Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44,
.. _!.l , `,.!, ,.-l `_1, _ .lL !.`, !.> _|| _> , `> ,.s: _,..
_.l l .. ... _. `_, !. l _. _ __
dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada
mereka, Maka berkatalah orang-orang yang zalim: "Ya Tuhan Kami, beri tangguhlah Kami
(kembalikanlah Kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya Kami akan mematuhi
seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul". (kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah
bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?
Padahal Allah sudah jauh-jauh memperingatkan manusia melalui firmannya dalam Q.S Al-
munafiquun:
!!., _ `.., >l. >l. ..l _s : < _. _-, ,l: ,.l`! `>
..>l _ 1. _. !. >.. _. _, .!, `.> ,.l _1, , l _..>
_|| _> , ..! _ _. _,>l..l _l >`, < !.. :| ,l> !l> < ,,>
!., l.-.
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat
Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.
dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian
kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak
menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan
aku Termasuk orang-orang yang saleh?"
dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu
kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.
2. dari apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan. Kematian mengingatkan bahwa
kita bukan siapa-siapa
Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir
segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan habis,
usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.
Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikeras akan tetap selamanya menjadi
tokoh yang kita perankan. Hingga kapan pun. Padahal, sandiwara sudah berakhir.?
Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silahkan kita bangga
ketika dapat peran sebagai orang kaya. Silahkan kita bangga berperan sebagai orang berkedudukan
tinggi, silahkan kita bangga kita berperan sebagai orang yang memiliki mobil 4, motor 5, dan rumah-
rumah mewah. Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi,
bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan
dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.
Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya
dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita
selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.
3. dari apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.Kematian mengingatkan bahwa
kita tak memiliki apa-apa
Fikih Islam menggariskan kita bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat
kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan
masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu pun masih bagus.
Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang.
Lalu, masih layakkah kita mengatasnamakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan? Masih
patutkah kita membangga-banggakan harta, jabatan, kekuasaan? Kita datang dengan tidak membawa
apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga.
Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan
pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita
bukan apa-apa. Dan, bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah?. Setelah itu, kehidupan pun
berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.
4. Kematian mengingatkan bahwa hidup itu sementara
Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia
akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu
pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan dunia saat ini.
Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah
yang makin keriput, barulah ia tersadar. Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu
bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus berawal, berkembang, dan kemudian berakhir.
5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga
Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat
berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman. Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan
ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir,
ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.
Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia dengan menyebut, Ad-Dun-ya
mazraatul akhirah. (Dunia adalah ladang buat akhirat)
Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu.
Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti
kita sedang menghargai arti kehidupan.
Akhirnya, marilah kita senantiasa memperbanyak mengingat kematian dan menjadikannya sebagai
guru besar yang mengajarkan kita akan makna kehidupan di dunia ini.

. .