Anda di halaman 1dari 80

MAKALAH KLMPOK 5 BAB 1 PENDAHULUAN A.

Latar belakang Pada makalah ini, kelompok kami mengangkat masalah sehubungan dengan komunikasi terapeutik pada pasien dengan gangguan perkemihan, dan kelompok kami mengambil contoh bagaimana kita sebagai perawat mengkomunikasikan tindakan keperawatan kepada pasien. Sehingga tujuan dari asuhan keperawatan bisa terpenuhi. Pada makalah ini kami mengangkat kasus pasien Diabetus Mellitus sehubungan dengan inkontinensia urine. Diabetus mellitus adalah penyakit yang dalam tingkatan yang nyata memperlihatkan gangguan metabolisme karbohidrat, sehingga didapati hiperglitemi dan glukosuria. Gambaran klinis yang khas yaitu adanya poliuria ( diuresis 3-4 liter sehari ), polidipsi ( rasa haus yang terus menerus ), dan polifagi ( nafsu makan bertambah ). Inkontinensia urine bukan merupakan tanda tanda normal penuaan. Inkontinensia urine selalu merupakan suatu gejala dari masalah yang mendasari. Jutaan lansia mengalami beberapa kehilangan kendali volunteer. Masalah inkontinensia urinarius dibagi menjadi akut atau persisten dan dapat berkisar dari kehilangan control kandung kemih ringan sampai inkontinensia total. Inkotinensia akut terjadi secara tiba tiba biasanya akibat dari penyakit akut. Sering terjadi pada individu yang dirawat di rumah sakit, inkontinensia akut biasanya hilang setelah penyakit sembuh. Inkontinensia akut juga dapat akibat dari obat, terapi, dan factor lingkungan. Inkontinensia persisten diklasifikasikan menjadi inkontinensia urgensi,

inkontinensia stress, inkontinensia overflow, dan inkontinensia fungsional. Inkontinensia urine dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan endokrin, seperti hiperklasemia dan hiperglikemia. Keterbatasan mobilitas atau penyakit yang menyebabkan retensi urine dapat mencetuskan inkontinensia urine ata dapat akibat depresi pada lansia

B.

Perumusan masalah

1)

Bagaimana perawat berkomunikasi pada pasien untuk member asuhan keperawatan yang terapeutik?

2)

Bagaimana perawat bermain peran dalam berkomunikasi terapeutik pada pasien gangguan inkontinensia urin?

C.

Tujuan penulisan masalah Perawat mampu berkomunikasi dengan pasien yang mengalami gangguan inkotinensia urin

denngan tepat.

BAB II PEMBAHASAN A. ASUHAN KEPERAWATAN

1) Pengkajian Pengkajian factor risiko untuk inkontinensia dibantu dengan singkatan DRIP dari Ouslander untuk membantu mengingat penyebab inkontinensia sementara . Sistem DRIP ini juga berguna dalam mengidentifikasi factor risiko terjadinya inkontinensia. D adalah untuk delirium ( depresi harus ditambahkan untuk lansia ). R untuk retensi dan keterbatasan mobilitas ( restricted ). I untuk infeksi, inflamasi, dan impaksi, dan P untuk poliura ( seperti yang disebabkan oleh diabetes atau gagal jantung kongestif ) dan farmasetik atau obat obatan. Bila terdapat satu atau lebih factor DRIP, inkontinensia berisiko terjadi dan pencegahan harus dilaksanakan a. Riwayat penyakit dahulu: klien pernah mengatakan mempunyai penyakit diabetes mellitus b. Riwayat keperawatan

Data obyektif

Data subyektif

Data lab

1. Jumlah urin 3 / liter 2. Bau : khas, tajam 3. Konsistensi : cair 4. Umur : 75


th

1. Pasien mengatakan frek berkemih lebih dari 8x/sehari 2. Ps mengatakn mengkonsumsi teh di rumah 3. Ps byk makan makan dg kandungan garam&mineral 4. Ps sering pipis di waktu malam 5. Sering berkemih tanpa sadar

1. Kadar glukosa darah >160 mg/dl 2. Glukosa urin +

c. Pemeriksaan fisik 1. Abdomen Terlihat adanya distensi kandung kemih, nyeri tekan pada kandung kemih 2. Genitalia Tidak ada lesi, ada radang pada labia mayora 2) Diagnose keperawatan Inkontinensia urin sehubungan dengan perubahan degenerative pada otot-otot panggul KH : pasien akan melaporkan adanya penurunan frekuensi berkemih tiba-tiba 3) Intervensi Intervensi Rasionalisasi

a. Pantau pengeluaran urin meliputi jumlah, a. Untuk mengetahui intake dan output bau, konsistensi, dan warna keluaran air disesuaikan dengan keadaaan

b.Anjurkan pasien untuk merubah pola b. Diet makan terutama mengurangi lemak jenuh dan kolesterol

penderita. Lemak tetap dibutuhkan tetapi diganti dengan lemak tak jenuh

c. Bersihkan area genetalia secara berkala c. menghindari infeksi dan teratur d. Jadwalkan frekuensi berkemih dalam sehari sebanyak 4x/sehari e. Batasi asupan minuman diuretic, dang anti dengan air mineral biasa f. Anjurkan kegiatan olahraga pada pasien g. Evaluasi perasaan ps d. Ps diharapkan dapat menahan keinginanu/ berkemih bila belum waktunya. Lansia dianjurkan untuk berkemih padainterval waktu tertentu, mula-mula setiap jam, selanjutnya diperpanjangsecara bertahap sampai lansia ingin berkemih setiap 2-3 jam. e. minuman diuretic akan meningkatkan frekuensi berkemih f. olahraga dapat menurunkan kadar gula darah yang disebabkan oleh peningkatan penggunakan glukosa di daerah perifer g. pasien merasa nyaman

B. KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN DG GANGGUAN INKONTINENSIA URIN Pengkajian 1. Pra interaksi Pasien barnama Ny. Yuli umur 75th, pekerjaan sebagai petani masuk rumah sakit Dr. Suraji Tirtonegoro pada tanggal 26 maret 2012. Telah dirawat selama 3 hari ditanggani oleh dr.Rian, dirawat di ruang B2. Perawat telah membuat janji dengan klien untuk pertemuan pertama pada hari senin tanggal 30 maret 2012, pada pukul 08.00 WIB. 2. Orientasi Perawat Pasien Perawat Pasien Perawat : Selamat pagi mbah, Bagaimana kabar simbah? : Ya beginilah perawat/ suster : Apakah nama simbah Ny Yuli? :Betul mbk perawat/ suster. :Perkenalkan nama saya Nuring, saya praktikan dari Akademi Keparawatan Poltekes Surakarta yang kebetulan sedang bertugas di ruang simbah, dan nantinya saya yang akan bertanggung jawab selama simbah di rawat di rumah sakit ini. Baiklah mbah, saya akan melakukan pengkajian awal dulu, yang bertujuan untuk mengetahui rencana tidakan apa yang tepat untuk simbah. 3. Fase Kerja Perawat : maaf mbah, apakah sebelumnya simbah sudah pernah berobat ? dimana ? dan diberi obat apa? Pasien : Saya pernah berobat, dulu saya sempat berobat karena saya menderita gula (diabetes mellitus) 5

Perawat Pasien

: Apakah yang menyebabkan simbah sampai dirawat disini? : Begini mbak perawat/ suster, sebenarnya saya ini sudah lama sejak 3 minggu terakhir ini saya merasa sering pipis, sebentar-sebentar air kencing e keluar terus tanpa saya sadari, kalau malam saya juga sering pipis mbak, dan tidak bisa ditahan

Perawat Pasien

: Oh, jadi sudah 3 minggu terakhir simbah sudah merasakan gejala tersebut. : Iya mbak.

4. Fase terminasi perawat : Baiklah mbah saya sudah melakukan pengkajian pada simbah hasil yang saya dapatkan, simbah mengalami gangguan beser atau dalam istilah kesehatan disebut inkotinensia urin. Mungkin itu salah satunya karena simbah menderita diabetes. Baiklah mbah terima kasih atas waktu yang simbah berikan kepada saya setta kerja samanya, saya permisi dulu, nanti pada pukul 16.00 WIB saya akan kembali lagi keruangan simbah. Diagnosa Hal yang paling penting dalam menilai wanita dengan inkontinensia urine adalah dengan anamnesis dan pemeriksaa fisik yang lengkap. Pemeriksaan awal tidak selalu diagnostic, tetapi informasi yang didapar akan menuntun klinisi dalam memilih tes diagnosis Klien bernam Ny. Yuli masuk kerumah sakit dengan diagnosa medis diabetes mellitus. Dan perawat lalu membuat diagnose keperawatan inkotinensia urin s/d penurunan degenerative otot panggul, Data yang didapatkan sebagai berikut:

klien mengatakan sering geliah keluarnya kencing tidak dapat ditahan klien mengatakan sering pipis tanpa sadar klien berkemih lebih dari 8x sehari 6

berkemih 1kali/4jam sering pipis di waktu malam dan tak bisa ditahan

Dari keluhan-keluhan yang didapat saat pengkajian pertama msuk kerumah sakit ini simbah gangguan eliminasi urin. Intervensi Setelah dilakukan diskusi dengan tim kesehatan lainnya, NyYuli yang mendapat diagnosa keperawatan mengalami gangguan inkotinensia urin. dokter memberikan tindalan farmakologi dengan memberikan beberapa obat diuretikdan kolinegik. Obat ini dapat membantu untuk mengontrol keinginan buang air dg mengurangi kontraksi ototdi dinding kandung kemih Serta menetukan agar dapat memenuhi kebutuhan eliminasi dalam tubuh pasien. Tindakan intervensi yang direncanakan untuk pasien Ny. Yuli adalah: Intervensi a. Pantau pengeluaran urin meliputi jumlah, bau, konsistensi, dan warna b. Bantu ps untuk mengungkapkan rasa ingin berkemih dan ajari pasien untuk melatih gerakan otot panggul c. Bersihkan area genetalia secara berkala dan teratur d. Jadwalkan frekuensi berkemih dalam sehari sebanyak 4x/sehari e. Batasi asupan minuman diuretic, dan ganti dengan air mineral biasa f. Evaluasi perasaan pasien Rasionalisasi a. Untuk memantau haluaran intake dan output cairan b. pasien dapat berkemih sebelum secara tidak sengaja berkemih dan mengajarkan pasien untuk menahan desakan berkemih, secara bertahap. c. menghindari infeksi d. Pasien diharapkan dapat menahan keinginan untuk berkemih bila belum waktunya. Lansia dianjurkan untuk berkemih padainterval waktu tertentu, mula-mula setiap jam, selanjutnya diperpanjangsecara bertahap sampai lansia ingin berkemih setiap 2-3 jam. e. minuman diuretic akan meningkatkan frekuensi berkemih f. pasien merasa nyaman

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Pada pasien dengan penerita Diabetus Mellitus akan terjadi inkontinensia urin, karena tingginya kadar glukosa dalam darah akan mempengaruhi jalannya rangsang, sehingga menyebabkan terhambatnya rangsang syaraf yang menghubungkan otak dengan organ pengatur pengeluaran urine atau sphingter. Hal itu yang menyebabkan pasien tidak bisa mengontrol pengeluaran urine dengan baik.

B. SARAN dan KRITIK Pada pasien dengan penderita Diabetus Mellitus diharapkan pasien dapat mengatur pola makannya dengan baik, makanan yang rendah kalori dan rendah glukosa. Mengharapkan pasien dapat berolahraga dengan teratur. MAKALAH KLOMPOK 6

BAB I PENDAHULUAN

Manusia sebagai organisme multiseluler dikelilingi oleh lingkungan luar (milieu exterior) dan sel-selnya pun hidup dalam milieu interior yang berupa darah dan cairan tubuh lainnya. Cairan dalam tubuh, termasuk darah, meliputi lebih kurang 60% dari total berat badan laki-laki dewasa. Dalam cairan tubuh terlarut zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel untuk hidup, berkembang dan menjalankan tugasnya.

Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Semua pengaturan fisiologis untuk mempertahankan keadaan normal disebut homeostasis. Homeostasis ini bergantung pada kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan antara subtansi-subtansi yang ada di milieu interior. Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu: volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ektrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. Ginjal juga turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan asambasa dengan mengatur keluaran ion hidrogen dan ion karbonat dalam urine sesuai kebutuhan. Selain ginjal, yang turut berperan dalam keseimbangan asam-basa adalah paru-paru dengan mengekskresikan ion hidrogen dan CO2, dan sistem dapar (buffer) kimia dalam cairan tubuh.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Komposisi Cairan Tubuh

Telah disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang 60% total berat badan laki-laki dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu, sesuai dengan jenis kelamin dan umur individu tersebut. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dari total berat 9

badan. Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa dan lansia. Cairan tubuh menempati kompartmen intrasel dan ekstrasel. 2/3 bagian dari cairan tubuh berada di dalam sel (cairan intrasel/CIS) dan 1/3 bagian berada di luar sel (cairan ekstrasel/CES). CES dibagi cairan intravaskuler atau plasma darah yang meliputi 20% CES atau 15% dari total berat badan; dan cairan intersisial yang mencapai 80% CES atau 5% dari total berat badan. Selain kedua kompatmen tersebut, ada kompartmen lain yang ditempati oleh cairan tubuh, yaitu cairan transel. Namun volumenya diabaikan karena kecil, yaitu cairan sendi, cairan otak, cairan perikard, liur pencernaan, dll. Ion Na+ dan Cl- terutama terdapat pada cairan ektrasel, sedangkan ion K+ di cairan intrasel. Anion protein tidak tampak dalam cairan intersisial karena jumlahnya paling sedikit dibandingkan dengan intrasel dan plasma. Perbedaan komposisi cairan tubuh berbagai kompartmen terjadi karena adanya barier yang memisahkan mereka. Membran sel memisahkan cairan intrasel dengan cairan intersisial, sedangkan dinding kapiler memisahkan cairan intersisial dengan plasma. Dalam keadaan normal, terjadi keseimbangan susunan dan volume cairan antar kompartmen. Bila terjadi perubahan konsentrasi atau tekanan di salah satu kompartmen, maka akan terjadi perpindahan cairan atau ion antar kompartemen sehingga terjadi keseimbangan kembali. 2.2Perpindahan Substansi Antar Kompartmen Setiap kompartmen dipisahkan oleh barier atau membran yang membatasi mereka. Setiap zat yang akan pindah harus dapat menembus barier atau membran tersebut. Bila substansi zat tersebut dapat melalui membran, maka membran tersebut permeabel terhadap zat tersebut. Jika tidak dapat menembusnya, maka membran tersebut tidak permeabel untuk substansi tersebut. Membran disebut semipermeable (permeabel selektif) bila beberapa partikel dapat melaluinya tetapi partikel lain tidak dapat menembusnya.

10

Perpindahan substansi melalui membran ada yang secara aktif atau pasif. Transport aktif membutuhkan energi, sedangkan transport pasif tidak

membutuhkan energi. Difusi Partikel (ion atau molekul) suatu substansi yang terlarut selalu bergerak dan cenderung menyebar dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah sehingga konsentrasi substansi partikel tersebut merata. Perpindahan partikel seperti ini disebut difusi. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju difusi ditentukan sesuai dengan hukum Fick (Ficks law of diffusion). Faktor-faktor tersebut adalah:
1. Peningkatan perbedaan konsentrasi substansi. 2. Peningkatan permeabilitas. 3. Peningkatan luas permukaan difusi. 4. Berat molekul substansi. 5. Jarak yang ditempuh untuk difusi.

Osmosis Bila suatu substansi larut dalam air, konsentrasi air dalam larutan tersebut lebih rendah dibandingkan konsentrasi air dalam larutan air murni dengan volume yang sama. Hal ini karena tempat molekul air telah ditempati oleh molekul substansi tersebut. Jadi bila konsentrasi zat yang terlarut meningkatkan, konsentrasi air akan menurun.Bila suatu larutan dipisahkan oleh suatu membran yang semipermeabel dengan larutan yang volumenya sama namun berbeda konsentrasi zat terlarut, maka terjadi perpindahan air/zat pelarut dari larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi. Perpindahan seperti ini disebut dengan osmosis. Filtrasi 11

Filtrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara dua ruang yang dibatasi oleh membran. Cairan akan keluar dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Jumlah cairan yang keluar sebanding dengan besar perbedaan tekanan, luas permukaan membran dan permeabilitas membran. Tekanan yang mempengaruhi filtrasi ini disebut tekanan hidrostatik. Transport aktif Transport aktif diperlukan untuk mengembalikan partikel yang telah berdifusi secara pasif dari daerah yang konsentrasinya rendah ke daerah yang konsentrasinya lebih tinggi. Perpindahan seperti ini membutuhkan energi (ATP) untuk melawan perbedaan konsentrasi. Contoh: Pompa Na-K.

2.3 Keseimbangan Cairan dan Elektrolit


Pengaturan keseimbangan cairan perlu memperhatikan dua parameter penting, yaitu volume cairan ekstrasel dan osmolaritas cairan ekstrasel. Ginjal mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan abnormal dari air dan garam tersebut. 1. Pengaturan volume cairan ekstrasel.

12

Penurunan volume cairan ekstrasel menyebabkan penurunan tekanan darah arteri dengan menurunkan volume plasma. Sebaliknya, peningkatan volume cairan ekstrasel dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri dengan memperbanyak volume plasma. Pengontrolan volume cairan ekstrasel penting untuk pengaturan tekanan darah jangka panjang. Mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran (intake dan output) air. Untuk mempertahankan volume cairan tubuh kurang lebih tetap, maka harus ada keseimbangan antara air yang ke luar dan yang masuk ke dalam tubuh. hal ini terjadi karena adanya pertukaran cairan antar kompartmen dan antara tubuh dengan lingkungan luarnya. Water turnover dibagi dalam: 1. eksternal fluid exchange, pertukaran antara tubuh dengan lingkungan luar; dan 2. Internal fluid exchange, pertukaran cairan antar pelbagai kompartmen, seperti proses filtrasi dan reabsorpsi di kapiler ginjal. Memeperhatikan keseimbangan garam. Seperti halnya keseimbangan air, keseimbangan garam juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memeprthatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi, seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan. Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urine untuk mempertahankan keseimbangan garam. Ginjal mengontrol jumlah garam yang dieksresi dengan cara: mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate (GFR). mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal Jumlah Na+ yang direasorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na+ dan retensi Na+ di tubulus distal dan collecting. Retensi Na+ 13

meningkatkan

retensi

air

sehingga

meningkatkan

volume

plasma

dan

menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri.Selain sistem Renin-AngiotensinAldosteron, Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. Hormon ini disekresi leh sel atrium jantung jika mengalami distensi peningkatan volume plasma. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urine sehingga mengembalikan volume darah kembali normal. 2. Pengaturan Osmolaritas cairan ekstrasel. Osmolaritas cairan adalah ukuran konsentrasi partikel solut (zat terlarut) dalam suatu larutan. semakin tinggi osmolaritas, semakin tinggi konsentrasi solute atau semakin rendah konsentrasi solutnya lebih rendah (konsentrasi air lebih tinggi) ke area yang konsentrasi solutnya lebih tinggi (konsentrasi air lebih rendah). Osmosis hanya terjadi jika terjadi perbedaan konsentrasi solut yang tidak dapat menmbus membran plasma di intrasel dan ekstrasel. Ion natrium menrupakan solut yang banyak ditemukan di cairan ekstrasel, dan ion utama yang berperan penting dalam menentukan aktivitas osmotik cairan ekstrasel. sedangkan di dalam cairan intrasel, ion kalium bertanggung jawab dalam menentukan aktivitas osmotik cairan intrasel. Distribusi yang tidak merata dari ion natrium dan kalium ini menyebabkan perubahan kadar kedua ion ini bertanggung jawab dalam menetukan aktivitas osmotik di kedua kompartmen ini. Pengaturan osmolaritas cairan ekstrasel oleh tubuh dilakukan dilakukan melalui: a. Perubahan osmolaritas di nefron Di sepanjang tubulus yang membentuk nefron ginjal, terjadi perubahan osmolaritas yang pada akhirnya akan membentuk urine yang sesuai dengan keadaan cairan tubuh secara keseluruhan di dukstus koligen. Glomerulus menghasilkan cairan yang isosmotik di tubulus proksimal (300 mOsm). Dinding 14

tubulus ansa Henle pars decending sangat permeable terhadap air, sehingga di bagian ini terjadi reabsorbsi cairan ke kapiler peritubular atau vasa recta. Hal ini menyebabkan cairan di dalam lumen tubulus menjadi hiperosmotik. Dinding tubulus ansa henle pars acenden tidak permeable terhadap air dan secara aktif memindahkan NaCl keluar tubulus. Hal ini menyebabkan reabsobsi garam tanpa osmosis air. Sehingga cairan yang sampai ke tubulus distal dan duktus koligen menjadi hipoosmotik. Permeabilitas dinding tubulus distal dan duktus koligen bervariasi bergantung pada ada tidaknya vasopresin (ADH). Sehingga urine yang dibentuk di duktus koligen dan akhirnya di keluarkan ke pelvis ginjal dan ureter juga bergantung pada ada tidaknya vasopresis (ADH). b. Mekanisme haus dan peranan vasopresin (antidiuretic hormone/ADH) Peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel (>280 mOsm) akan merangsang osmoreseptor di hypotalamus. Rangsangan ini akan dihantarkan ke neuron hypotalamus yang mensintesis vasopresin. Vasopresin akan dilepaskan oleh hipofisis posterior ke dalam darah dan akan berikatan dengan reseptornya di duktus koligen. ikatan vasopresin dengan reseptornya di duktus koligen memicu terbentuknya aquaporin, yaitu kanal air di membrane bagian apeks duktus koligen. Pembentukkan aquaporin ini memungkinkan terjadinya reabsorbsi cairan ke vasa recta. Hal ini menyebabkan urine yang terbentuk di duktus koligen menjadi sedikit dan hiperosmotik atau pekat, sehingga cairan di dalam tubuh tetap dipertahankan. Selain itu, rangsangan pada osmoreseptor di hypotalamus akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel juga akan dihantarkan ke pusat haus di hypotalamus sehingga terbentuk perilaku untuk membatasi haus, dan cairan di dalam tubuh kembali normal. c. Pengaturan Neuroendokrin dalam Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

15

Sebagai kesimpulan, pengaturan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit diperankan oleh system saraf dan sistem endokrin. Sistem saraf mendapat informasi adanya perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit melalui baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus, osmoreseptor di hypotalamus, dan volume reseptor atau reseptor regang di atrium. Sedangkan dalam sistem endokrin, hormon-hormon yang berperan saat tubuh mengalami kekurangan cairan adalah Angiotensin II, Aldosteron, dan Vasopresin/ADH dengan meningkatkan reabsorbsi natrium dan air. Sementara, jika terjadi peningkatan volume cairan tubuh, maka hormone atriopeptin (ANP) akan meningkatkan eksresi volume natrium dan air. Perubahan volume dan osmolaritas cairan dapat terjadi pada beberapa keadaan.Faktor lain yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit di antaranya ialah umur, suhu lingkungan, diet, stres, dan penyakit.

2.4 Keseimbangan Asam-Basa


Keseimbangan asam-basa terkait dengan pengaturan konsentrasi ion H bebas dalam cairan tubuh. pH rata-rata darah adalah 7,4; pH darah arteri 7,45 dan darah vena 7,35. Jika pH <7,35 dikatakan asidosi, dan jika pH darah >7,45 dikatakan alkalosis. Ion H terutama diperoleh dari aktivitas metabolik dalam tubuh. Ion H secara normal dan kontinyu akan ditambahkan ke cairan tubuh dari 3 sumber, yaitu:

a. Pembentukkan asam karbonat dan sebagian akan berdisosiasi menjadi ion H dan bikarbonat. b. Katabolisme zat organik 16

c. Disosiasi asam organik pada metabolisme intermedia, misalnya pada metabolisme lemak terbentuk asam lemak dan asam laktat, sebagian asam ini akan berdisosiasi melepaskan ion H. Fluktuasi konsentrasi ion H dalam tubuh akan mempengaruhi fungsi normal sel, antara lain: a. Perubahan eksitabilitas saraf dan otot; pada asidosis terjadi depresi susunan saraf pusat, sebaliknya pada alkalosis terjadi hipereksitabilitas. b. Mempengaruhi enzim-enzim dalam tubuh c. Mempengaruhi konsentrasi ion K Bila terjadi perubahan konsentrasi ion H maka tubuh berusaha mempertahankan ion H seperti nilai semula dengan cara: Mengaktifkan sistem dapar kimia Mekanisme pengontrolan pH oleh sistem pernafasan Mekasnisme pengontrolan pH oleh sistem perkemihan

Ada 4 sistem dapar: 1. Dapar bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat 2. Dapar protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel 3. Dapar hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk perubahan asam karbonat 4. Dapar fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan intrasel.

17

Sistem dapar kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa sementara. Jika dengan dapar kimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan, maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akibat rangsangan pada kemoreseptor dan pusat pernafasan, kemudian mempertahankan kadarnya sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat dan amonia.
2.5 Komunikasi terapeutik

Menurut Purwanto komunikasi terapeutik merupakan bentuk keterampilan dasar untuk melakukan wawancara dan penyuluhan dalam artian wawancara digunakan pada saat petugas kesehatan melakukan pengkajian, member penyuluhan kesehatan dan perencanaan keperawatan.

Tahapinteraksi pada komunikasi terapeutik Wood mengatakan pada umumnya hubungan antar pribadi berkembang melalui tahap tahap yaitu :

1. Tahap awal / tahap orientasi 18

Pada tahap ini antara petugas dan pasien terjadi kontak dan tahap ini penampilan fisik begitu penting karena dimensi fisik paling terbuka untuk diamati.Kualitas kualitas lain seperti sifat bersahabat, kehangatan, keterbukaan, dan dimnamisme juga terungkap. Yang dapat dilakukan pada terapi ini menurut Purwanto ialah pengenalan, mengidentifikasi masalah, dan mengukur tingkat kecemasan diri pasien.

2. Tahap Lanjutan
Adalah tahap pengenalan lebih jauh, menurut Purwanto ( 1994 : 25 ) dilakukan untuk meningkatkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada, menurut De Vito ( 1997 : 24 ) komunikasi pada tahap ini meningkatkan pada diri kita untuk lebih mengenal orang lain dan juga mengungkapkan diri kita. Pada tahap ini, termasuk pada tahap persahabatan yang menghendaki agar kedua pihak harus merasa mempunyai kedudukan yang sama, dalam artian ada keseimbangan dan kesejajaran kedudukan. Argyle dan Henderson dalam Liliweri ( 1997 : 55 ) mengemukakan persahabatan mempunyai beberapa fungsi, yaitu : 1. Membagi pengalaman agar kedua pihak merasa sama-sama puas dan sukses 2. Menunjukan hubungan emosional 3. Membuat pihak lain menjadi senang 4. Membantu sesama kalau dia berhalangan untuk suatu urusan

19

Purwanto ( 1994 : 26 ) mengatakan pada tahap terapeutik ini harus : 1) Melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada 2) Meningkatkan komunikasi 3) Mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.Secara psikologis komunikasi yangbersifat terapeutik akan membuat pasien lebih tenang, dan tidak gelisah.

3. Tahap terminasi menurut Purwanto ( 1994 : 26 )


Pada tahap ini terjadi pengkajian antar pribadi yang lebih jauh, merupakan fase persiapan mental untuk membuat perencanaan tentang kesimpulan perawatan yang didapat dan mempertahankan batas hubungan yang ditentukan, yang diukur antara lain mengantisipasi masalah yang akan timbul karena pada tahap ini merupakan tahap persiapan mental atas rencana pengobatan, melakukan peningkatan komunikasi untuk mengurangi ketergantungan pasien padapetugas. Terminasi merupakan akhir dari setiap pertemuan antara petugas dengan klien. Menurut Uripni (1993: 61) bahwa tahap terminasi dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir. Terminasi sementara adalah akhir dari setiap pertemuan, pada terminasi ini klien akan bertemu kembali pada

20

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Komunikasi Pada Klien Dengan Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit di Gastrointestinal

3.1.1 Pengkajian Pola managemen kesehatan-persepsi kesehatan a. Keluhan utama Merupakan keluhan yang paling dirasakan mengganggu klien,alasan utama klien masuk rumah sakit. Contoh pertanyaan yang diajukan perawat: Apakah yang bapak/ibu rasakan saat ini ,yang sangat mengganggu kenyamanan? b. Riwayat Penyakit Sekarang Menanyakan keluhan klien pada saat terjadi serangan. Hal-hal yang perlu di identifikasi: 1. Menanyakan waktu terjadinya Kapan bapak/ibu mulai merasakan keluhan tersebut?

21

Apakah keluhan utama datangnya mendadak? 2. Menanyakan aktivitas yang dilakukan pada saat terjadi keluhan dan factor pencetusnya Apa yang bapak/ibu lakukan pada saat keluhan mulai terasa? 3. Pertanyaan lain Jika keluhan berulang,seberapa sering terjadinya? Apakah setiap merasakan keluhan dirasakan semakin bertambah atau berkurang? Apakah pada saat terjadinya keluhan dirasakan sakit pada tempat lainya?

c. Riwayat Penyakit Masa Lalu Apakah sebelum mendapatkan keluhan tersebut bapak/ibu pernah merasakan sakit yg lain ,seperti DM,hipertensi? d. Riwayat Penyakit Keluarga Apakah anggota keluarga bapak/ibu ada yg pernah menderita penyakit yang sama seprti bapak/ibu? e. Riwayat Psikososial Apakah dengan penyakit tersebut bapak/ibu terganggu interaksinya dengan orang lain,misalnya malu atau takut? f. Hal khusus yang perlu ditanyakan: Pola Metabolik-Nutrisi Hal yg perlu diidentifikasi: 1. Kebiasaan jumlah makanan dan makanan kecil. 2. Tipe dan banyaknya makanan dan minuman 3. Pola makan 3 hari terakhir atau 24 jam terakhir 4. Kebiasaan belanja dan memasak 5. Kepuasan akan berat badan 6. Pengaruh pada pemilihan makanan seperti,agama,etnis,budaya,ekonomi 7. Faktor-faktor yg berkaitan seperti,aktivitas,stress 8. Faktor-faktor pencernaan:

22

Nafsu makan,ketidaknyamanan,rasa,bau,gigi,mukosa mulut,mual atau muntah,pembatasan makan,alergi makan 9. Kebiasaan pola buang air kecil: Frekuensi,jumlah,warna,bau,nyeri,nokturia,kemampauan mengontrol buang air kecil. 10. Kebiasaan pola buang air besar: frekuensi,jumlah,konsistensi,warna,kemampuan mengontrol BAB. 11. Penggunaan bantuan untuk ekskresi:obat-obatan,enemia

3.2 Gastroenteritis

3.2.1 Pengertian Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996). Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965). Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinl yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam, virus dan parasit yang pathogen ( Whaley & Wongs,1995 ). Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers, 1995 ). Dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya isebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang pathogen . yang d

3.2.2 Etiologi

23

Penyebab dari diare akut antara lain : 1. Faktor Infeksi 1) Infeksi Virus * Retavirus + Penyebab tersering diare akut pada bayi, sering didahulu atau disertai dengan muntah. + Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin. + Dapat ditemukan demam atau muntah. + Di dapatkan penurunan HCC.

*Enterovirus + Biasanya timbul pada musim panas.

2) Adenovirus + Timbul sepanjang tahun. + Menyebabkan gejala pada saluran pencernaan/pernafasan.

3) Norwalk + Epidemik + Dapat sembuh sendiri (dalam 24-48 jam).

* Bakteri

4) Stigella + Semusim, puncaknya pada bulan Juli-September + Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun + Dapat dihubungkan dengan kejang demam. + Muntah yang tidak menonjol + Sel polos dalam feses + Sel batang dalam darah

5) Salmonella

24

+ Semua umur tetapi lebih tinggi di bawah umur 1 tahun. + Menembus dinding usus, feses berdarah, mukoid. + Mungkin ada peningkatan temperatur + Muntah tidak menonjol + Sel polos dalam feses + Masa inkubasi 6-40 jam, lamanya 2-5 hari. + Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan.

6) Escherichia coli + Baik yang menembus mukosa (feses berdarah) atau yang menghasilkan entenoksin. + Pasien (biasanya bayi) dapat terlihat sangat sakit.

7) Campylobacter + Sifatnya invasis (feses yang berdarah dan bercampur mukus) pada bayi dapat menyebabkan diare berdarah tanpa manifestasi klinik yang lain. + Kram abdomen yang hebat. + Muntah/dehidrasi jarang terjadi

8) Yersinia Enterecolitica + Feses mukosa + Sering didapatkan sel polos pada feses. + Mungkin ada nyeri abdomen yang berat + Diare selama 1-2 minggu. + Sering menyerupai apendicitis.

2. Faktor Non Infeksiosus * Malabsorbsi 1) Malabsorbsi karbohidrat disakarida (intoleransi, lactosa, maltosa, dan sukrosa), non sakarida (intoleransi glukosa, fruktusa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.

25

2) Malabsorbsi lemak : long chain triglyceride. 3) Malabsorbsi protein : asam amino, B-laktoglobulin. * Faktor makanan Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan (milk alergy, food alergy, down milk protein senditive enteropathy/CMPSE). * Faktor Psikologis Rasa takut,cemas.

3.3.3 Patofisiologi Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut. Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis

Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi intake kuran , output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.

3.3.4 Manifestasi KLinis

26

* Nyeri perut ( abdominal discomfort ) * Rasa perih di ulu hati * Mual , kadang - kadang sampai munta * Nafsu makan berkurang * Rasa lekas kenyang * Perut kembung * Rasa panas di dada dan perut * Regurgitasi ( keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).

3.3.5 Komplikasi

* Dehidrasi * Renjatan hipovolemik * Kejang *Bakterimia * Mal nutrisi * Hipoglikemia * Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus .

3.3.6 Tingkat derajat Dehidrasi

1. Dehidrasi ringan Kehilangan cairan 2 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.

2. Dehidrasi Sedang Kehilangan cairan 5 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam. 3. Dehidrasi Berat

27

Kehilangan cairan 8 - 10 % dari bedrat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.

3.3.7 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium yang meliputi : 1. Pemeriksaan Tinja * Makroskopis dan mikroskopis. * pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula. * Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.

2. Pemeriksaan Darah * pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit (Natrium, Kalium, Kalsium dan Fosfor) dalam serum untuk menentukan keseimbangan asama basa. * Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.

3. Doudenal Intubation Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

3.3.8 Penatalaksanaan Medis 1. Pemberian cairan. 2. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan : Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori,

protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih. 3. Obat-obatan. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Diare

28

A. Pengkajian

Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data,analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh

dengan cara intervensi, observasi, psikal assessment. Pengkajian data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah :

1. Identitas klien. 2. Riwayat keperawatan. * Awalan serangan : Awalnya anak cengeng, gelisah,suhu tubuh meningkat, an oreksia kemudian timbul diare. * Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung, Tonus dan turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.

3. Riwayat kesehatan masa lalu. Riwayat penyakit yang diderita,riwayat pemberian imunisasi.

4. Riwayat psikososial keluarga. Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kec emasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit anaknya,mereka akan

bereaksi dengan marah dan merasa bersalah. 5. Kebutuhan dasar. * Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.

29

* Pola nutrisi : diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien. * Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman. * Pola hygiene : kebiasaan setiap harinya. * Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.

6. Pemerikasaan fisik. * Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,kesadran compos mentis sampai koma,suhu tubuh tinggi,nadi cepat dan lemah,pernapasan agak cepat. * Pemeriksaan sistematik : 1) Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun besar,selaput lendir,mulut dan bibir kering,berat badan menurun,anus kemerahan. 2) Perkusi : adanya distensi abdomen. 3) Palpasi : Turgor kulit kurang elastis. 4) Auskultasi : terdengarnya bising usus. * Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang. Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun. * Pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan tinja,darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.

B Diagnosa Keperawatan 1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan. 2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubuingan dengan mual dan muntah. 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.

30

4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen. 5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan. 6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.

C. Intervensi

Diagnosa 1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubun gan dengan output cairan yang berlebihan.

Tujuan : Devisit cairan dan elektrolit teratasi

Kriteria hasil : Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang

Intervensi Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Ukur infut dan output cairan (balanc ccairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam

pemberian cairan rendah sodium.

31

Diagnosa 2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan dan muntah.

Tujuan : Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi

Kriteria hasil : Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada.

Intervensi : Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (palpasi,perkusi,dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.

Diagnosa 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.

Tujuan : Gangguan integritas kulit teratasi

Kriteria hasil : Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada

32

Intervensi : Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan

dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.

Diagnosa 4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen. Tujuan : Nyeri dapat teratasi Kriteria hasil : Nyeri dapat berkurang / hiilang, ekspresi wajah tenang

Intervensi : Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdoment. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.

Diagnosa 5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi

tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.

Tujuan : Pengetahuan keluarga meningkat

Kriteria hasil : Keluarga klien mengeri dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.

33

Intervensi : Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan keluarga

dalam pemberian tindakan pada klien.

Diagnosa 6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.

Tujuan : Klien akan memperlihatkan penurunan tingkat kecemasan

Intervensi : Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji faktor pencetus cemas. Buat jadwal kontak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga unrtuk selalu mendampingi klien.

D. Evaluasi 1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan. 2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhantubuh. 3. Integritas kulit kembali normal. 4. Rasa nyaman terpenuhi. 5. Pengetahuan kelurga meningkat. 6. Cemas pada klien teratasi

34

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembuatan makalah ini adalah : Gastroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang pathogen . Penyebab dari diare akut antara lain : 1. Faktor Infeksi 1) Infeksi Virus * Retavirus *Enterovirus 2. Faktor Non Infeksiosus * Malabsorbsi * Faktor makanan * Faktor Psikologis 7) Campylobacter

8) Yersinia Enterecolitica

2) Adenovirus

3) Norwalk * Bakteri

4) Stigella

5) Salmonella

6) Escherichia coli

35

Diagnosa Keperawatan 1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan. 2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah. 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan. 4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen 5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, prognosis dan pengobatan. 6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, prosedur

MAKALAH KLPOK 7 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti 'sama'. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (make to common). Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another). Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerakgerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.

36

Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa masalah yaitu : 1. Bagaimanakah proses Komunikasi Terapuetik pada pasien dengan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan kasus pencernaan dan endokrin? 2. Bagaimanakah tahapan dan tindakan perawat dalam Komunikasi Terapuetik pada pasien dengan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan kasus pencernaan dan endokrin? C. Tujuan Penulisan Makalah 1. Mempelajari dan memahami cara berkomunikasi pada pasien dengan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan kasus pencernaan dan endokrin. 2. Mengetahui tahap komunikasi terpeutik pada pasien dengan gangguan di atas. 3. Mengetahui jenis - jenis komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat pada pasien dengan masalah diatas. 4. Menambah wawasan dan pengetahuan berkomunikasi sebagai perawat dalam menghadapi pasien yang karakternya berbeda-beda. 5. Memenuhi tugas Matakuliah komunikasi keperawatan

37

BAB II KAJIAN TEORI

A. KOMUNIKASI TERAPUETIK Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.

Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Hamid, 1996), tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien meliputi : a. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri. b. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri. c. Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dengan kapasitas untuk mencintai dan dicintai. d. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik.

Tujuan komunikasi terapeutik adalah : a. Membantu klien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien pecaya pada hal yang diperlukan.

38

b. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya. c. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.

Tujuan terapeutik akan tercapai bila perawat memiliki karakteristik sebagai berikut (Hamid, 1998) : a. Kesadaran diri. b. Klarifikasi nilai. c. Eksplorasi perasaan. d. Kemampuan untuk menjadi model peran. e. Motivasi altruistik. f. Rasa tanggung jawab dan etik.

Komponen Komunikasi Terapeutik Model struktural dari komunikasi mengidentifikasi lima komponen fungsional berikut (Hamid, 1998) : a. Pengirim b. Pesan : yang menjadi asal dari pesan. : suatu unit informasi yang dipindahkan dari pengirim kepada penerima. c. Penerima : yang mempersepsikan pesan, yang perilakunya dipengaruhi oleh pesan. d. Umpan balik e. Konteks : respon dari penerima pesan kepada pengirim pesan. : tatanan di mana komunikasi terjadi.

Jika perawat mengevaluasi proses komunikasi dengan menggunakan lima elemen struktur ini maka masalah-masalah yang spesifik atau kesalahan yang potensial dapat diidentifikasi. Menurur Roger, terdapat beberapa karakteristik dari seorang perawat yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang terapeutik. Karakteristik tersebut antara lain : (Suryani,2005). a) Kejujuran (trustworthy). Kejujuran merupakan modal utama agar dapat melakukan komunikasi yang bernilai terapeutik, tanpa kejujuran mustahil dapat membina hubungan saling percaya. Klien hanya akan terbuka dan jujur pula dalam memberikan informasi yang benar hanya bila yakin bahwa perawat dapat dipercaya. 39

b) Tidak membingungkan dan cukup ekspresif. Dalam berkomunikasi hendaknya perawat menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh klien. Komunikasi nonverbal harus mendukung komunikasi verbal yang disampaikan. Ketidaksesuaian dapat menyebabkan klien menjadi bingung.

c) Bersikap positif. Bersikap positif dapat ditunjukkan dengan sikap yang hangat, penuh perhatian dan penghargaan terhadap klien. Roger menyatakan inti dari hubungan terapeutik adalah kehangatan, ketulusan, pemahaman yang empati dan sikap positif.

d) Empati bukan simpati. Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan keperawatan, karena dengan sikap ini perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan oleh klien. Dengan empati seorang perawat dapat memberikan alternatif pemecahan masalah bagi klien, karena meskipun dia turut merasakan permasalahan yang dirasakan kliennya, tetapi tidak larut dalam masalah tersebut sehingga perawat dapat memikirkan masalah yang dihadapi klien secara objektif. Sikap simpati membuat perawat tidak mampu melihat permasalahan secara objektif karena dia terlibat secara emosional dan terlarut didalamnya.

e) Mampu melihat permasalahan klien dari kacamata klien. Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat harus berorientasi pada klien, (Taylor, dkk ,1997) dalam Suryani 2005. Untuk itu agar dapat membantu memecahkan masalah klien perawat harus memandang permasalahan tersebut dari sudut pandang klien. Untuk itu perawat harus menggunakan tehnik active listening dan kesabaran dalam mendengarkan ungkapan klien. Jika perawat menyimpulkan secara tergesa-gesa dengan tidak menyimak secara keseluruhan ungkapan klien akibatnya dapat fatal, karena dapat saja diagnosa yang dirumuskan perawat tidak sesuai dengan masalah klien dan akibatnya tindakan yang diberikan dapat tidak membantu bahkan merusak klien.

f) Menerima klien apa adanya. Jika seseorang diterima dengan tulus, seseorang akan merasa nyaman dan aman dalam menjalin hubungan intim terapeutik. Memberikan penilaian atau mengkritik klien 40

berdasarkan nilai-nilai yang diyakini perawat menunjukkan bahwa perawat tidak menerima klien apa adanya.

g) Sensitif terhadap perasaan klien. Tanpa kemampuan ini hubungan yang terapeutik sulit terjalin dengan baik, karena jika tidak sensitif perawat dapat saja melakukan pelanggaran batas, privasi dan menyinggung perasaan klien.

h) Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri. Seseorang yang selalu menyesali tentang apa yang telah terjadi pada masa lalunya tidak akan mampu berbuat yang terbaik hari ini. Sangat sulit bagi perawat untuk membantu klien, jika ia sendiri memiliki segudang masalah dan ketidakpuasan dalam hidupnya.

Fase Hubungan Komunikasi Terapeutik. Struktur dalam komunikasi terapeutik, menurut Stuart,G.W.,1998, terdiri dari empat fase yaitu: (1) fase preinteraksi; (2) fase perkenalan atau orientasi; (3) fase kerja; dan (4) fase terminasi (Suryani,2005). Dalam setiap fase terdapat tugas atau kegiatan perawat yang harus terselesaikan. a. Fase preinteraksi Tahap ini adalah masa persiapan sebelum memulai berhubungan dengan klien. Tugas perawat pada fase ini yaitu : 1) Mengeksplorasi perasaan, harapan dan kecemasannya; 2) Menganalisa kekuatan dan kelemahan diri, dengan analisa diri ia akan terlatih untuk memaksimalkan dirinya agar bernilai terapeutik bagi klien, jika merasa tidak siap maka perlu belajar kembali, diskusi teman kelompok; 3) Mengumpulkan data tentang klien, sebagai dasar dalam membuat rencana interaksi; 4) Membuat rencana pertemuan secara tertulis, yang akan di implementasikan saat bertemu dengan klien.

b. Fase orientasi Fase ini dimulai pada saat bertemu pertama kali dengan klien. Pada saat pertama kali bertemu dengan klien fase ini digunakan perawat untuk berkenalan dengan klien dan merupakan langkah awal dalam membina hubungan saling percaya. Tugas utama perawat 41

pada tahap ini adalah memberikan situasi lingkungan yang peka dan menunjukkan penerimaan, serta membantu klien dalam mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Tugas-tugas perawat pada tahap ini antara lain : 1) Membina hubungan saling percaya, menunjukkan sikap penerimaan dan komunikasi terbuka. Untuk membina hubungan saling percaya perawat harus bersikap terbuka, jujur, ihklas, menerima klien apa danya, menepati janji, dan menghargai klien; 2) Merumuskan kontrak bersama klien. Kontrak penting untuk menjaga kelangsungan sebuah interaksi. Kontrak yang harus disetujui bersama dengan klien yaitu, tempat, waktu dan topik pertemuan; 3) Menggali perasaan dan pikiran serta mengidentifikasi masalah klien. Untuk mendorong klien mengekspresikan perasaannya, maka tehnik yang digunakan adalah pertanyaan terbuka; 4) Merumuskan tujuan dengan klien. Tujuan dirumuskan setelah masalah klien teridentifikasi. Bila tahap ini gagal dicapai akan menimbulkan kegagalan pada keseluruhan interaksi (Stuart,G.W,1998 dikutip dari Suryani,2005)

Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini antara lain : 1) Memberikan salam terapeutik disertai mengulurkan tangan jabatan tangan 2) Memperkenalkan diri perawat 3) Menyepakati kontrak. Kesepakatan berkaitan dengan kesediaan klien untuk berkomunikasi, topik, tempat, dan lamanya pertemuan. 4) Melengkapi kontrak. Pada pertemuan pertama perawat perlu melengkapi penjelasan tentang identitas serta tujuan interaksi agar klien percaya kepada perawat. 5) Evaluasi dan validasi. Berisikan pengkajian keluhan utama, alasan atau kejadian yang membuat klien meminta bantuan. Evaluasi ini juga digunakan untuk mendapatkan fokus pengkajian lebih lanjut, kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang terkait dengan keluhan utama. Pada pertemuan lanjutan evaluasi/validasi digunakan untuk mengetahui kondisi dan kemajuan klien hasil interaksi sebelumnya. 6) Menyepakati masalah. Dengan tehnik memfokuskan perawat bersama klien mengidentifikasi masalah dan kebutuhan klien. Selanjutnya setiap awal pertemuan lanjutan dengan klien lakukan orientasi. Tujuan orientasi adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini dan mengevaluasi tindakan pertemuan sebelumnya.

42

c. Fase kerja. Tahap ini merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik. Tahap ini perawat bersama klien mengatasi masalah yang dihadapi klien. Perawat dan klien mengeksplorasi stressor dan mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, perasaan dan perilaku klien. Tahap ini berkaitan dengan pelaksanaan rencana asuhan yang telah ditetapkan. Tehnik komunikasi terapeutik yang sering digunakan perawat antara lain mengeksplorasi, mendengarkan dengan aktif, refleksi, berbagai persepsi, memfokuskan dan menyimpulkan (Geldard,D,1996, dikutip dari Suryani, 2005). d. Fase terminasi Fase ini merupakan fase yang sulit dan penting, karena hubungan saling percaya sudah terbina dan berada pada tingkat optimal. Perawat dan klien keduanya merasa kehilangan. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau saat klien akan pulang. Perawat dan klien bersama-sama meninjau kembali proses keperawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan. Untuk melalui fase ini dengan sukses dan bernilai terapeutik, perawat menggunakan konsep kehilangan. Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat, yang dibagi dua yaitu: 1) Terminasi sementara, berarti masih ada pertemuan lanjutan; 2) Terminasi akhir, terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara menyeluruh. Tugas perawat pada fase ini yaitu : a. Mengevaluasi pencapaian tujuan interaksi yang telah dilakukan, evaluasi ini disebut evaluasi objektif. Brammer & Mc Donald (1996) menyatakan bahwa meminta klien menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan atau respon objektif setelah tindakan dilakukan sangat berguna pada tahap terminasi (Suryani,2005); b. Melakukan evaluasi subjektif, dilakukan dengan menanyakan perasaan klien setalah berinteraksi atau setelah melakukan tindakan tertentu; c. Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Hal ini sering disebut pekerjaan rumah (planning klien). Tindak lanjut yang diberikan harus relevan dengan interaksi yang baru dilakukan atau yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya. Dengan tindak lanjut klien tidak akan pernah kosong menerima proses keperawatan dalam 24 jam; d. Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya, kontrak yang perlu disepakati adalah topik, waktu dan tempat pertemuan. Perbedaan antara terminasi sementara 43

dan terminasi akhir, adalah bahwa pada terminasi akhir yaitu mencakup keseluruhan hasil yang telah dicapai selama interaksi.

Sikap Komunikasi Terapeutik. Lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik menurut Egan, yaitu : 1) Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah Saya siap untuk anda. 2) Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi. 3) Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu. 4) Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi. 5) Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon kepada klien.

Selain hal-hal di atas sikap terapeutik juga dapat teridentifikasi melalui perilaku non verbal. Stuart dan Sundeen (1998) mengatakan ada lima kategori komunikasi non verbal, yaitu : 1. Isyarat vokal, yaitu isyarat paralingustik termasuk semua kualitas bicara non verbal misalnya tekanan suara, kualitas suara, tertawa, irama dan kecepatan bicara. 2. Isyarat tindakan, yaitu semua gerakan tubuh termasuk ekspresi wajah dan sikap tubuh. 3. Isyarat obyek, yaitu obyek yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja oleh seseorang seperti pakaian dan benda pribadi lainnya. 4. Ruang memberikan isyarat tentang kedekatan hubungan antara dua orang. Hal ini didasarkan pada norma-norma sosial budaya yang dimiliki. 5. Sentuhan, yaitu fisik antara dua orang dan merupakan komunikasi non verbal yang paling personal. Respon seseorang terhadap tindakan ini sangat dipengaruhi oleh tatanan dan latar belakang budaya, jenis hubungan, jenis kelamin, usia dan harapan. Teknik Komunikasi Terapeutik. Ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi yang efektif (Stuart dan Sundeen, 1998) yaitu :

44

1. Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan. 2. Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan lebih dahulu sebelum memberikan saran, informasi maupun masukan.

Stuart dan Sundeen, (1998) mengidentifikasi teknik komunikasi terapeutik sebagai berikut : 1. Mendengarkan dengan penuh perhatian. Dalam hal ini perawat berusaha mengerti klien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan klien. Mendengar merupakan dasar utama dalam komunikasi. Dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien. Beri kesempatan lebih banyak pada klien untuk berbicara. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif. 2. Menunjukkan penerimaan. Menerima tidak berarti menyetujui, menerima berarti bersedia untuk

mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. 3. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan. Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa yang disampaikan oleh klien. 4. Mengulangi ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri. Melalui pengulangan kembali kata-kata klien, perawat memberikan umpan balik bahwa perawat mengerti pesan klien dan berharap komunikasi dilanjutkan. 5. Mengklasifikasi. Klasifikasi terjadi saat perawat berusaha untuk menjelaskan dalam kata-kata ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh klien. 6. Memfokuskan. Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti. 7. Menyatakan hasil observasi. Dalam hal ini perawat menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh isyarat non verbal klien. 8. Menawarkan informasi. Memberikan tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien yang bertujuan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan. 9. Diam. 45

Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisir. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri, mengorganisir pikiran dan memproses informasi. 10. Meringkas. Meringkas pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat. 11. Memberi penghargaan. Penghargaan janganlah sampai menjadi beban untuk klien dalam arti jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian dan persetujuan atas perbuatannya. 12. Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan. Memberi kesempatan kepada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan. 13. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan. Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan. 14. Menempatkan kejadian secara berurutan. Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif. 15. Memberikan kesempatan kepada klien untuk menguraikan persepsinya Apabila perawat ingin mengerti klien, maka perawat harus melihat segala sesuatunya dari perspektif klien. 16. Refleksi. Refleksi memberikan kesempatan kepada klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Hambatan Komunikasi Terapeutik. Hambatan komunikasi terapeutik dalam hal kemajuan hubungan perawat-klien terdiri dari tiga jenis utama : resistens, transferens, dan kontertransferens (Hamid, 1998). Ini timbul dari berbagai alasan dan mungkin terjadi dalam bentuk yang berbeda, tetapi semuanya menghambat komunikasi terapeutik. Perawat harus segera mengatasinya. Oleh karena itu, hambatan ini menimbulkan perasaan tegang baik bagi perawat maupun bagi klien. Untuk lebih jelasnya marilah kita bahas satu-persatu mengenai hambatan komunikasi terapeutik itu. 1. Resisten

46

Resisten adalah upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab ansietas yang dialaminya. Resisten merupakan keengganan alamiah atau penghindaran verbalisasi yang dipelajari atau mengalami peristiwa yang menimbulkan masalah aspek diri seseorang. Resisten sering merupakan akibat dari ketidaksediaan klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. Perilaku resistens biasanya diperlihatkan oleh klien selama fase kerja, karena fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaian masalah. 2. Transferens. Transferens adalah respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam kehidupannya di masa lalu. Sifat yang paling menonjol adalah ketidaktepatan respon klien dalam intensitas dan penggunaan mekanisme pertahanan pengisaran (displacement) yang maladaptif. Ada dua jenis utama reaksi bermusuhan dan tergantung. 3. Kontertransferens. Yaitu kebuntuan terapeutik yang dibuat oleh perawat bukan oleh klien. Konterrtransferens merujuk pada respon emosional spesifik oleh perawat terhadap klien yang tidak tepat dalam isi maupun konteks hubungan terapeutik atau ketidaktepatan dalam intensitas emosi. Reaksi ini biasanya berbentuk salah satu dari tiga jenis reaksi sangat mencintai, reaksi sangat bermusuhan atau membenci dan reaksi sangat cemas sering kali digunakan sebagai respon terhadap resisten klien. Untuk mengatasi hambatan komunikasi terapeutik, perawat harus siap untuk mengungkapkan perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawatklien (Hamid, 1998). Awalnya, perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan komunikasi terapeutik dan mengenali perilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Latar belakang perilaku digali baik klien atau perawat bertanggung jawab terhadap hambatan terapeutik dan dampak negative.

B. DIABETES MELITUS 1. Definisi Diabetes Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, dengan tanda tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. ( Askandar, 2000 ). 47

Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. (Askandar, 2001 ). Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai. ( Askandar, 2001).

2. Anatomi Fisiologi Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya kira kira 15 cm, lebar 5 cm, mulai dari duodenum sampai ke limpa dan beratnya rata rata 60 90 gram. Terbentang pada vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung. Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan ( kepala ) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak pada alat ini. Dari segi perkembangan embriologis, kelenjar pankreas terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus. Pankreas terdiri dari dua jaringan utama, yaitu : 1) Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum. 2) Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah. Pulau pulau Langerhans yang menjadi sistem endokrinologis dari pamkreas tersebar di seluruh pankreas dengan berat hanya 1 3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang terkecil adalah 50 , sedangkan yang terbesar 300 , terbanyak adalah yang besarnya 100 225 . Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1 2 juta. Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel utama, yaitu : 1) Sel sel A ( alpha ), jumlahnya sekitar 20 40 % ; memproduksi glikagon yang manjadi faktor hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai anti insulin like activity . 2) Sel sel B ( betha ), jumlahnya sekitar 60 80 % , membuat insulin. 3) Sel sel D ( delta ), jumlahnya sekitar 5 15 %, membuat somatostatin.

48

Masing masing sel tersebut, dapat dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah mikroskop pulau-pulau langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak mengandung pembuluh darah kapiler. Pada penderita DM, sel beha sering ada tetapi berbeda dengan sel beta yang normal dimana sel beta tidak menunjukkan reaksi pewarnaan untuk insulin sehingga dianggap tidak berfungsi. Insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5808 untuk insulin manusia. Molekul insulin terdiri dari dua rantai polipeptida yang tidak sama, yaitu rantai A dan B. Kedua rantai ini dihubungkan oleh dua jembatan ( perangkai ), yang terdiri dari disulfida. Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino. Insulin dapat larut pada pH 4 7 dengan titik isoelektrik pada 5,3. Sebelum insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar di dalam membrana sel. Insulin di sintesis sel beta pankreas dari proinsulin dan di simpan dalam butiran berselaput yang berasal dari kompleks Golgi. Pengaturan sekresi insulin dipengaruhi efek umpan balik kadar glukosa darah pada pankreas. Bila kadar glukosa darah meningkat diatas 100 mg/100ml darah, sekresi insulin meningkat cepat. Bila kadar glukosa normal atau rendah, produksi insulin akan menurun. Selain kadar glukosa darah, faktor lain seperti asam amino, asam lemak, dan hormon gastrointestina merangsang sekresi insulin dalam derajat berbeda-beda. Fungsi metabolisme utama insulin untuk meningkatkan kecepatan transport glukosa melalui membran sel ke jaringan terutama sel sel otot, fibroblas dan sel lemak.

3. Etiologi a. Diabetes Melitus DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu : 1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin. 2. Faktor faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan. 3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan 49

kerusakan sel - sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus. 4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.

b. Gangren Kaki Diabetik Faktor faktor yang berpengaruh atas terjadinya gangren kaki diabetik dibagi menjadi endogen dan faktor eksogen. Faktor endogen : 1. Genetik, metabolik 2. Angiopati diabetik 3. Neuropati diabetik Faktor eksogen : 1. Trauma 2. Infeksi 3. Obat

4. Patofisiologis a. Diabetes Melitus Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut: 1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel sel tubuh yang mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 1200 mg/dl. 2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah. 3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.

Pasien

pasien

yang

mengalami

defisiensi

insulin

tidak

dapat

mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yng parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 180 mg/100 ml ), akan timbul glikosuria karena tubulus tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua glukosa.

Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri 50

disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi. Hiperglikemia yang lama akan menyebabkan arterosklerosis, penebalan

membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren.

b. Gangren Kaki Diabetik Ada dua teori utama mengenai terjadinya komplikasi kronik DM akibat hiperglikemia, yaitu teori sorbitol dan teori glikosilasi. 1. Teori Sorbitol Hiperglikemia akan menyebabkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan tertentu dan dapat mentransport glukosa tanpa insulin. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan termetabolisasi habis secara normal melalui glikolisis, tetapi sebagian dengan perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol. Sorbitol akan tertumpuk dalam sel / jaringan tersebut dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi. 2. Teori Glikosilasi Akibat hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya glikosilasi pada semua protein, terutama yang mengandung senyawa lisin. Terjadinya proses glikosilasi pada protein membran basal dapat menjelaskan semua komplikasi baik makro maupun mikro vaskular. Terjadinya Kaki Diabetik (KD) sendiri disebabkan oleh faktor faktor disebutkan dalam etiologi. Faktor utama yang berperan timbulnya KD adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Neuropati merupakan faktor penting untuk terjadinya KD. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan 51

sensorik maupun motorik. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki, sehingga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulsetrasi pada kaki pasien. Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. Apabila sumbatan darah terjadi pada

pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin, nyeri kaki di malam hari, denyut arteri hilang, kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi, oksigen ( zat asam ) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh ( Levin,1993). Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai KD akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati, sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhadap penyembuhan atau pengobatan dari KD. 5. Klasifikasi Wagner ( 1983 ) membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan , yaitu : Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti claw,callus . Derajat I Derajat II Derajat III Derajat IV Derajat V : Ulkus superfisial terbatas pada kulit. : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang. : Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis. : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis. : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.

Sedangkan Brand (1986) dan Ward (1987) membagi gangren kaki menjadi dua golongan : 1. Kaki Diabetik akibat Iskemia ( KDI ) Disebabkan penurunan aliran darah ke tungkai akibat adanya makroangiopati ( arterosklerosis ) dari pembuluh darah besar ditungkai, terutama di daerah betis. Gambaran klinis KDI : a) Penderita mengeluh nyeri waktu istirahat. b) Pada perabaan terasa dingin. c) Pulsasi pembuluh darah kurang kuat. 52

d) Didapatkan ulkus sampai gangren.

2. Kaki Diabetik akibat Neuropati ( KDN ) Terjadi kerusakan syaraf somatik dan otonomik, tidak ada gangguan dari sirkulasi. Klinis di jumpai kaki yang kering, hangat, kesemutan, mati rasa, oedem kaki, dengan pulsasi pembuluh darah kaki teraba baik.

6.

Dampak masalah Adanya penyakit gangren kaki diabetik akan mempengaruhi kehidupan individu dan keluarga. Adapun dampak masalah yang bisa terjadi meliputi : a. Pada Individu Pola dan gaya hidup penderita akan berubah dengan adanya penyakit ini, Gordon telah mengembangkan 11 pola fungsi kesehatan yang dapat digunakan untuk mengetahui perubahan tersebut. 1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Pada pasien gangren kaki diabetik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gangren kaki diabetuk sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, oleh karena itu perlu adanya penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien. 2. Pola nutrisi dan metabolisme Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan penderita. 3. Pola eliminasi Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan pengeluaran glukosa pada urine ( glukosuria ). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.

53

4. Pola tidur dan istirahat Adanya poliuri, nyeri pada kaki yang luka dan situasi rumah sakit yang ramai akan mempengaruhi waktu tidur dan istirahat penderita, sehingga pola tidur dan waktu tidur penderita mengalami perubahan. 5. Pola aktivitas dan latihan Adanya luka gangren dan kelemahan otot otot pada tungkai bawah menyebabkan penderita tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal, penderita mudah mengalami kelelahan. 6. Pola hubungan dan peran Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan penderita malu dan menarik diri dari pergaulan. 7. Pola sensori dan kognitif Pasien dengan gangren cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada luka sehingga tidak peka terhadap adanya trauma. 8. Pola persepsi dan konsep diri Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Luka yang sukar sembuh, lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga ( self esteem ). 9. Pola seksual dan reproduksi Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi sek, gangguan kualitas maupun ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme. 10. Pola mekanisme stres dan koping Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain lain, dapat menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif. 11. Pola tata nilai dan kepercayaan 54

Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta luka pada kaki tidak menghambat penderita dalam melaksanakan ibadah tetapi mempengaruhi pola ibadah penderita. b. Dampak pada keluarga Dengan adanya salah satu anggota keluarga yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan muncul bermacam macam reaksi psikologis dari kelurga, karena masalah kesehatan yang dialami oleh seorang anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga. Waktu perawatan yang lama dan biaya yang banyak akan mempengaruhi keadaan ekonomi keluarga dan perubahan peran pada keluarga karena salah satu anggota keluarga tidak dapat menjalankan perannya.

BAB III PEMBAHASAN

55

Komunikasi Terapuetik pada Pemenuhan Nutrisi Pasien dengan gangguan Sistem Pencernaan dan Sistem Endokrin

1. Pengkajian Pra Interaksi : Identifikasi data awal Orientasi Kerja Terminasi 2. Diagnosa Pra Interaksi : persiapan berdasarkan diagnosa Kerja Terminasi 3. Intervensi Pra Interaksi : persiapan kolaborasi Orientasi Kerja Terminasi 4. Implementasi Pra Interaksi : persiapan tindakan Orientasi Kerja 5. Evaluasi Pra Interaksi : kriteria hasil Orientasi Kerja Terminasi : keadaan pasien, perasaan saat ini : berdasarkan kriteria hasil : kesedian pasien, kerjasama pasien : tindakan (infus, blood catheter, NGT,.), motivasi : perkenalan tim kolaborasi : tindakan kolaborasi (obat, makanan, kerjasama pasien) : rencana implementasi : kesesuaian keluhan dengan diagnosa : rencana intervensi dari diagnosa : Salam, perkenalan : Riwayat, keluhan, tindakan dasar (building trust) : Kontrak, tindak lanjut

Pola managemen kesehatan-persepsi kesehatan g. Keluhan utama Merupakan keluhan yang paling dirasakan mengganggu klien, alasan utama klien masuk rumah sakit. Contoh pertanyaan yang diajukan perawat : Apakah yang bapak/ibu rasakan saat ini, yang sangat mengganggu kenyamanan? h. Riwayat Penyakit Sekarang 56

Menanyakan keluhan klien pada saat terjadi serangan. Hal-hal yang perlu di identifikasi: 4. Menanyakan waktu terjadinya Kapan bapak/ibu mulai merasakan keluhan tersebut? Apakah keluhan utama datangnya mendadak? 5. Menanyakan aktivitas yang dilakukan pada saat terjadi keluhan dan factor pencetusnya Apa yang bapak/ibu lakukan pada saat keluhan mulai terasa? 6. Pertanyaan lain Jika keluhan berulang,seberapa sering terjadinya? Apakah setiap merasakan keluhan dirasakan semakin bertambah atau berkurang? Apakah pada saat terjadinya keluhan dirasakan sakit pada tempat lainya?

i. Riwayat Penyakit Masa Lalu Apakah sebelum mendapatkan keluhan tersebut bapak/ibu pernah merasakan sakit yg lain, seperti DM, hipertensi?

j. Riwayat Penyakit Keluarga Apakah anggota keluarga bapak/ibu ada yg pernah menderita penyakit yang sama seprti bapak/ibu?

k. Riwayat Psikososial Apakah dengan penyakit tersebut bapak/ibu terganggu interaksinya dengan orang lain, misalnya malu atau takut?

l. Hal khusus yang perlu ditanyakan: Pola Metabolik-Nutrisi Hal yang perlu diidentifikasi: 12. Kebiasaan jumlah makanan dan makanan kecil. 13. Tipe dan banyaknya makanan dan minuman 14. Pola makan 3 hari terakhir atau 24 jam terakhir 15. Kebiasaan belanja dan memasak 16. Kepuasan akan berat badan 17. Pengaruh pada pemilihan makanan seperti; agama, etnis, budaya, ekonomi 57

18. Faktor - faktor yang berkaitan seperti; aktivitas, stress 19. Faktor - faktor pencernaan: Nafsu makan, ketidaknyamanan, rasa, bau, gigi, mukosa mulut, mual atau muntah, pembatasan makan, alergi makan 20. Kebiasaan pola buang air kecil: Frekuensi, jumlah, warna, bau, nyeri, nokturia, kemampauan mengontrol buang air kecil. 21. Kebiasaan pola buang air besar : frekuensi, jumlah, konsistensi, warna, kemampuan mengontrol BAB.
22. Penggunaan bantuan untuk ekskresi : obat-obatan,enemia

MAKALAH KELOMPOK 8 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Menjadi tua adalah proses alamiah yang akan dihadapi oleh setiap mahluk hidup dan meninggal dengan tenang adalah dambaan setiap insan. Namun sering kali harapan dan dambaan tersebut tidak tercapai. Dalam masyarakat kita, umur harapan hidup semakin bertambah dan kematian semakin banyak disebabkan oleh penyakit-penyakit degeneratif seperti kanker dan stroke. Pasien dengan penyakit kronis seperti ini akan melalui suatu proses pengobatan dan perawatan yang panjang. Jika penyakitnya berlanjut maka suatu saat akan dicapai stadium terminal yang ditandai dengan kelemahan umum, penderitaan, ketidakberdayaan dan akhirnya kematian. Sebagin besar kematian di rumah sakit adalah kematian akibat penyakit kronis dan terjadi perlahan-lahan. Pada umumnya, dokter dan perawat lebih mudah menghadapi

58

kematian yang muncul secara perlahan-lahan. Mereka tidak dipersiapkan dengan baik untuk berhadapan dengan ancaman kematian. Namun kini telah mulai disadari untuk pasien terminal pun profesi medis masih dapat melakukan banyak hal. Jika upaya kuratif tidak dimunginkan lagi, masih luas kesempatan untuk upaya paliatif. Pada stadium lanjut, pasien dengan penyakit kronis tidak hanya mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas, penurunan berat badan, gangguan aktivitas tetapi juga mengalami gangguan psikososial dan spiritual yang mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya. Maka kebutuhan pasien pada stadium lanjut suatu penyakit tidak hanya pemenuhan atau pengobatan gejala fisik, namun juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan psikologis, sosial dan spiritual yang dilakukan dengan pendekatan interdisiplin yang dikenal sebagai perawatan paliatif atau palliative care. Dalam perawatan paliatif maka peran perawat adalah memberikan asuhan keperawatan pada pasien terminal untuk membantu pasien menjalani sisa hidupnya dalam keadaan seoptimal mungkin. Melalui komunikasi terapeutik, pasien belajar bagaimana menerima dan diterima orang lain. Dengan komunikasi yang terbuka, jujur dan menerima pasien apa adanya, perawat akan dapat meningkatkan kemampuan pasien dalam membina hubungan saling percaya. Keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus dimiliki oleh perawat,

59

karena komunikasi merupakan proses yang dinamis yang digunakan untuk mengumpulkan data pengkajian, memberikan pendidikan atau informasi kesehatan yang mempengaruhi pasien untuk mengaplikasikannya dalam hidup, menunjukan caring, memberikan rasa nyaman, menumbuhkan rasa percaya diri dan menghargai nilai-nilai pasien. Sehingga dapat juga disimpulkan bahwa dalam keperawatan, komunikasi merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan. Seorang perawat yang berkomunikasi secara efektif akan lebih mampu dalam mengumpulkan data, melakukan tindakan keperawatan (intervensi), mengevaluasi pelaksanaan dari intervensi yang telah dilakukan, melakukan perubahan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah terjadinya masalah-masalah legal yang berkaitan dengan proses keperawatan termasuk dalam hal ini adalah proses keperawatan pada pasien terminal.

B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari komunikasi ? 2. Bagaimana karakteristik seorang perawat dalam hubungan terapeutik ? 3. Apa yang dimaksud dengan pasien terminal ? 4. Bagaimana tahapan pada pasien terminal ? 5.Bagaimana tingkat kesadaran pada pasien terminal ? 6. Bagaimana tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien terminal ? 7. Bagaimana teknik komunikasi terapeutik pada pasien terminal ? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui pengertian komunikasi dan komunikasi terapeutik. 2. Untuk mengetahui karakteristik seorang perawat dalam hubungan terapeutik. 60

3. Untuk mengetahui pengertian pasien terminal. 4. Untuk mengetahui tahapan-tahapan pada pasien terminal. 5. Untuk mengetahui tingkat kesadaran pada pasien terminal. 6. Untuk mengatahui tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien terminal. 7. Untuk mengetahui teknik komunikasi terapeutik yang dilakukan pada pasien terminal. 8. Untuk mengetahui masalah komunikasi yang terjadi pada pasien terminal.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat atau perilaku secara keseluruhan baik secara langsung dengan lisan maupun tidak langsung melalui media. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh terapis memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada pasien. Stuart G.W (1998) menyatakan bahwa komunikasi terapeutik merupakan hubungan 61

interpersonal antara terapis dan pasien, dalam hubungan ini terapis dan pasien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional pasien. Sedangkan S.Sundeen (1990) menyatakan bahwa hubungan terapeutik adalah hubungan kerjasama yang ditandai tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman dalam membina hubungan intim yang terapeutik. Komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi pasien ke arah yang lebih positif atau adaptif dan diarahkan pada pertumbuhan pasien yang terminal, meliputi : a. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan diri. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan dalam diri pasien. Pasien

yang menderita penyakit kronis ataupun terminal umumnya mengalami perubahan dalam dirinya. Pasien tidak mampu menerima keberadaan dirinya, mengalami gangguan gambaran diri, penurunan harga diri, merasa tidak berarti dan pada akhirnya merasa putus asa dan depresi. b. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan saling bergantung dengan orang lain. Melalui komunikasi terapeutik, pasien belajar bagaimana menerima dan diterima orang lain. Dengan komunikasi yang terbuka, jujur dan menerima pasien apa adanya, perawat akan dapat meningkatkan kemampuan pasien dalam membina hubungan saling percaya. c. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan yang realistis. Terkadang pasien menetapkan ideal diri atau tujuan terlalu tinggi tanpa 62

mengukur kemampuannya. Individu yang merasa kenyataan dirinya mendekati ideal diri Kumpulan tugas, semoga bermanfaat mempunyai harga diri yang tinggi sedangkan individu yang merasa kenyataan hidupnya jauh dari ideal dirinya akan merasa rendah diri. d. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri. Pasien yang mengalami gangguan identitas personal biasanya tidak mempunyai rasa percaya diri dan mengalami harga diri rendah. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat membantu pasien meningkatkan integritas dirinya dan identitas diri yang jelas.

B. Karakteristik Seorang Perawat dalam Hubungan Terapeutik a. Kejujuran Kejujuran sangat penting, karena tanpa adanya kejujuran mustahil bisa terbina hubungan saling percaya. Seseorang akan menaruh rasa percaya pada lawan bicara yang terbuka dan mempunyai respon yang tidak dibuat-buat. Sebaliknya, perawat akan berhati-hati pada lawan bicara yang terlalu halus sehingga sering menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya dengan kata-kata atau sikapnya yang tidak jujur . b. Tidak Membingungkan dan Cukup Ekspresif Dalam berkomunikasi dengan pasien, perawat sebaiknya menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh pasien dan tidak menggunakan kalimat yang berbelit-belit. Komunikasi non verbal perawat harus cukup ekspresif dan sesuai dengan verbalnya 63

karena ketidaksesuaian akan menimbulkan kebingungan bagi pasien. c. Bersikap Positif Bersikap positif ditunjukkan dengan bersikap hangat, penuh perhatian dan penghargaan terhadap pasien. Untuk mencapai kehangatan dan ketulusan dalam hubungan yang terapeutik tidak memerlukan kedekatan yang kuat atau ikatan tertentu diantara perawat dan pasien akan tetapi penciptaan suasana yang dapat membuat pasien merasa aman dan diterima dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya. d. Empati Bukan Simpati Sikap empati sangat diperlukan dalam proses terapeutik, karena dengan sikap ini perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan pasien seperti yang dirasakan dan dipikirkan pasien. e. Sensitif Terhadap Perasaan Pasien Seorang perawat harus mampu mengenali perasaan pasien untuk dapat menciptakan hubungan terapeutik yang baik dan efektif dengan pasien. Dengan bersikap sensitif terhadap perasaan pasien, perawat dapat terhindar dari berkata atau melakukan hal-hal yang menyinggung privasi ataupun perasaan pasien. C. Pengertian Pasien Terminal Pasien terminal adalah pasien yang sedang menderita sakit, dimana tingkat sakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga pengobatan medis sudah tidak mungkin dapat menyembuhkan lagi. Untuk itu harus mendapatkan perawatan paliatif yang bersifat meredakan gejala penyakit, namun tidak lagi berfungsi untuk menyembuhkan. Jadi fungsi

64

perawatan paliatif pada pasien terminal adalah mengendalikan nyeri yang dirasakan serta keluhan-keluhan lainnya serta meminimalisir masalah emosi, sosial dan spiritual yang dihadapi pasien. Peran perawat sangat komprehensif dalam menangani pasien karena peran perawat adalah memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis, dan spiritual pasien. Namun peran spiritual sering kali diabaikan oleh perawat. Padahal aspek spiritual sangat penting untuk pasien terminal yang didiagnosa harapan sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut. Untuk memahami tentang pasien terminal maka butuh diketahui dimensi-dimensi : a. Dimensi biologis (fisik) yaitu berkaitan dengan kondisi atau penyakit terminalnya, seperti nyeri, perubahan berbagai fungsi sistem tubuh, dan perubahan tampilan fisik. b. Dimensi sosiologis yaitu isolasi dan keterasingan serta perpisahan. c. Dimensi psikologis yaitu ketidakberdayaan, seperti kehilangan kontrol, ketergantungan, kehilangan diri dan harapan. d. Dimensi spiritual yaitu dimana pada pasien terminal mereka mengalami insiden tinggi depresi dan gangguan mental. Tingkat depresi sebanding dengan tingkat keparahan penyakit dan hilangnya fungsi agunan. Sehingga dengan hiburan dalam agama biasanya akan memberi mereka kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi, sampai batas tertentu, dengan kehidupan. Pasien yang mengalami penyakit terminal dan menjelang sakaratul maut lebih banyak

65

mengalami penyakit kejiwaan, krisis spiritual, dan krisis kerohanian. Sehingga pembinaan kerohanian saat pasien menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian khusus. Pasien terminal biasanya dihinggapi rasa depresi yang berat, perasaan marah akibat ketidakberdayaan dan keputusasaan. Dalam fase akhir kehidupannya, pasien selalu berada di samping perawat. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan spiritual dapat meningkatkan semangat hidup pasien yang didiagnosa harapan sembuhnya tipis dan dapat mempersiapkan diri pasien untuk menghadapi alam yang kekal. Kondisi sakit tidak dapat dipisahkan dari peristiwa kehidupan. Pasien dan keluarganya harus menghadapi berbagai perubahan yang terjadi akibat kondisi sakit dan pengobatan yang dilaksanakan. Keluarga umumnya akan mengalami perubahan perilaku dan emosional, setiap orang mempunyai reaksi yang berbedabeda terhadap kondisi yang dialami. Penyakit yang berat, terutama yang dapat mengancam kehidupan, dapat menimbulkan perubahan perilaku yang lebih luas, ansietas, syok, penolakan, serta marah. Hal tersebut merupakan respon umum yang disebabkan oleh stres. Sebuah keluarga merupakan unit dasar dari masayarakat dimana anggotanya mempunyai suatu komitmen untuk memelihara satu sama lain baik secara emosi maupun fisik. Sebuah keluarga dapat dipandang sebagai sistem terbuka, suatu perubahan atau gangguan pada salah satu bagian dari sistem dapat mengakibatkan perubahan atau gangguan dari seluruh sistem. Stres atau cemas yang dihadapi dan dialami oleh salah satu anggota 66

keluarga mempengaruhi seluruh keluarga. Cemas merupakan perasaan internal yang sumbernya sering kali tidak spesifik dan mengancam keamanan seseorang dan kelompok. Cemas disebabkan oleh krisis situasi, tidak terpenuhinya kebutuhan, perasaan tidak berdaya dan kurang kontrol pada situasi kehidupan. Cemas bisa terjadi pada siapa saja baik orang sehat atau orang sakit. Bagi orang sakit kecemasan akan meningkat ketika yang bersangkutan didiagnosa menderita penyakit terminal, seperti stroke yang dipandang oleh masyarakat sebagai penyakit penyebab kematian. Pihak keluarga juga merasa cemas jika yang sakit adalah orang yang sangat dicintai, sebagai tulang punggung keluarga atau sumber dari segalanya bagi keluarga.

D. Tahapan-Tahapan pada Pasien Terminal Dr. Elisabeth Kublerr-Ross mengidentifikasi lima tahap berduka yang dapat terjadi pada pasien menjelang ajal : a. Denial atau Menolak (Pengingkaran) Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal dan dia tidak dapat menerima informasi sebagai kebenaran dan bahkan mungkin mengingkarinya. Denial berfungsi sebagai buffer setelah mendengar sesuatu yang tidak diharapkan, sehingga memungkinkan untuk membenahi diri. b. Anger atau Marah 67

Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa ia akan meninggal. Fase marah terjadi saat fase denial tidak lagi bisa dipertahankan. Rasa kemarahan sulit dipahami oleh keluarga/orang terdekat karena dapat terpicu oleh halhal yang secara normal tidak menimbulkan kemarahan. Rasa marah sering terjadi karena rasa tidak berdaya, bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja tetapi umumnya terarah kepada orang-orang yang secara emosional mempunyai kedekatan hubungan. c. Bergaining (Tawar-Menawar) Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien mencoba tawar-menawar dengan Tuhan agar terhindar dari kehilangan yang akan terjadi, bisa dengan diam atau dinyatakan secara terbuka. Secara psikologis, tawar menawar dilakukan untuk memperbaiki kesalahan atau dosa masa lalu.

d. Depression Merupakan tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa akan segera mati. Pasien merasa kesedihan yang mendalam sebagai akibat dari kehilangan (past loss & impending loss) karena memikirkan bahwa ia tidak akan lama lagi bersama keluarga dan teman-temannya. e. Acceptance (Penerimaan) Merupakan tahap selama pasien memahami dan menerima kenyataan bahwa akan meninggal. Pasien mulai menemukan kedamaian dengan kondisinya dan beristirahat untuk menyiapkan dan memulai perjalanan panjang, serta akan berusaha keras 68

untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum terselesaikan.

E. Proses Menuju Kematian Mansell Pattison dalam Papalia (1977) menyatakan bahwa proses menuju kematian adalah proses individual, artinya masing-masing individu akan mengalami perbedaan. Akan tetapi, secara umum mengajukkan 3 tahapan, yaitu : 1. Acute Phase yaitu dimulai ketika pasien menerima kenyataan bahwa sebentar lagi ia akan mati, sehingga menghasilkan dampak psikologis yaitu kecemasan yang akan diiringi dengan marah, takut, kesal dan menyesal. 2. Chronic living-dying interval yaitu redanya kecemasan yang diikuti dengan perubahan emosi yang bermacam-macam dan terkadang pasien sudah tidak dapat mengatakan apa yang dirasakan. a. Ketakutan yang tidak dapat didefinisikan Sebuah indikasi bahwa kematian sudah dekat, pasien takut akan apa yang akan terjadi, banyak ketakutan dan pertanyaan yang rasanya tidak dapat diungkapkan dan tidak ada yang bisa memberi jawaban. b. Kesendirian Pasien tidak ingin sendiri dan takut sendiri. Pasien ingin keluarga atau teman-temannya berada di dekatnya serta ingin orang-orang yang ada disekitarnya dapat merasakan ketakutannya. c. Duka cita mulai merasuki individu

69

Pasien ingin menangis, memberikan sesuatu, menyebutkan/mengatakan sesuatu kepada orang-orang yang dicintai tatapi waktunya terasa sangat sedikit, sehingga perilaku yang muncul adalah pasien tidak melakukan apapun kecuali menatap dan menangis tanpa mengatakan sepatah katapun. d. Kehilangan body Pasien mulai merasakan bahwa psikologisnya mulai terpisah dari bahannya. Pasien mulai merasakan sebagian dari badannya tidak dapat difungsikan meskipun pasien berupaya memfungsikan dan menyatukan dengan dirinya. e. Kehilangan self control Pasien mulai tidak mampu menyadari akan apa yang terjadi pada dirinya baik terkait dengan body atau fisiologisnya maupun dengan jiwanya atau psikologisnya.

f. Sakit dan menderita Sebagian besar orang yang akan mati mengalami fase sakit dan menderita yang tidak terkontrol dan tidak diketahui yang bercampur dengan hukuman, rasa bersalah dan rasa penyesalan. g. Kehilangan identitas Pasien mulai tidak bisa mengadakan kontak dengan orang-orang disekitarnya, keluarga ataupun teman-temannya. 3. Terminal phase yaitu pasien lepas dari orang-orang dan lingkungan. Tahapan menuju kematian dapat ditinjau dari beberapa faktor, yaitu umur, jenis kelamin, ras atau suku bangsa, budaya kelompok, latar belakang sosial dan personality atau

70

kepribadian. F. Tingkat Kesadaran pada Pasien Terminal Terhadap kondisi terminal, baik dari sisi pasien atau keluarga harus dikaji untuk menentukan bagaimana perawat harus berkomunikasi dengan pasien dan keluarga. Tingkat kesadaran ini meliputi : a. Clossed awareness, dimana pasien dan keluarga tidak menyadari datangnya kematian, tidak tahu mengapa sakit dan percaya akan sembuh. b. Mutual pretense, dimana pasien, keluarga dan team kesehatan tahu bahwa kondisinya terminal tetapi merasa tidak nyaman dan menghindari membicarakan kondisi yang dihadapi pasien. Hal tersebut berat bagi pasien karena tidak dapat mengekspresikan ketakutannya. c. Open awareness, dimana pasien dan orang disekitarnya tahu bahwa ia berada diambang kematian sehingga tidak ada kesulitan untuk membicarakannya. Pada tahap ini pasien dapat dilibatkan untuk proses intervensi keperawatan. Tingkat kesadaran pada pasien terminal dapat semakin memburuk dan tidak menutup kemungkinan terjadi kondisi yang dinamakan koma (tidak sadar). Walaupun pasien tidak sadarkan diri, proses konunikasi antara perawat dengan pasien harus dilakukan. Pada saat berkomunikasi dengan pasein yang tidak sadar, perlu diperhatikan hal-hal berikut, yaitu: 1. Berhati-hati melakukan pembicaraan verbal di dekat pasien, karena ada keyakinan 71

bahwa organ pendengaran merupakan organ terkhir yang mengalami penurunan penerimaan, rangsangan pada pasien yang tidak sadar. Pasien yang tidak sadar seringkali dapat mendengar suara dari lingkungan walaupun pasien tidak mampu meresponnya sama sekali. 2. Ambil asumsi bahwa pasien dapat mendengar pembicaraan perawat. Usahakan mengucapkan kata dan menggunakan nada normal dan memperhatikan materi ucapan yang perawat sampaikan dekat pasien. 3. Ucapkan kata-kata sebelum menyentuh pasien. Sentuhan diyakini dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi yang sangat efektif pada pasien dengan penurunan kesadaran. 4. Upayakan mempertahankan lingkungan setenang mungkin untuk membantu pasien fokus terhadap komunikasi yang perawat lakukan.

G. Tindakan Keperawatan yang Dilakukan pada Pasien Terminal Pada pasien terminal, pasien atau keluarga biasanya akan ketakutan kehilangan salah keluarganya (meninggal). Tindakan yang dilakukan perawat : 1. Membantu pasien untuk mengurangi ketakutannya. a. Memberikan kepastian dan kenyamanan pada pasien. b. Menunjukkan perasaan tentang pemahaman dan empati. c. Mendorong pasien untuk mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan dengan pengobatannya. d. Mengidentifikasi dan mendukung mekanisme koping yang efektif. Pasien yang cemas mempunyai penyempitan lapang persepsi dengan penurunan kemampuan untuk 72

belajar, ketakutan cenderung untuk memperburuk masalah. 2. Mengkaji tingkat ketakutan pasien kemudian merencanakan penyuluhan bila tingkatnya rendah atau sedang. Beberapa rasa takut didasari oleh informasi yang tidak akurat dan dapat dihilangkan denga memberikan informasi yang akurat. Pasien dengan ansietas berat atau parah tidak menyerap pelajaran. 3. Mendorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan-ketakutan mereka. Pengungkapan memungkinkan untuk saling berbagi dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki konsep yang tidak benar. 4. Memberikan kesempatan dan penguatan koping positif, yaitu dengan menghargai pasien untuk koping efektif karena dapat menguatkan respon koping positif yang akan datang.

H. Teknik Komunikasi Terapetik yang Dilakukan pada Pasien Terminal 1. Memberi Harapan Yaitu memberi harapan pada pasien untuk tetap hidup menjalani sisa kehidupan dengan amal dan ibadah yang baik. 2. Tidak Mengisolasi Pasien Tanpa kita ketahui pasien terminal biasanya merasa terisolasi menjelang akhir kematiannya karena faktor kejiwaan dan lingkungan. Maka perawat harus bisa menenangkan dan mendukung kesehatnnya bahwa perawatan akan tetap diberikan. 3. Memaksimalkan Kualitas Hidup Dalam komunikasi perawat dapat melakukan pada kejiwaan, spiritual, sosial dan fisik.

73

Dilakukan agar pasien tidak merasa tertekan pada akhir kehidupannya. Pasien merasa puas karena masih bisa menjadi orang berguna bagi orang lain dan melakukan apa yang bisa pasien lakukan, walau dalam keterbatasan. Selain itu, pasien ingin melakukan hal yang membuat pasien menjadi orang bermanfaat, bisa membantu orang lain karena pasien tidak ingin menjadi orang yang selalu merepotkan orang lain dengan keadaannya yang lemah dan terbatas. Kalau dalam hal spiritual, pasien merasakan kualitas hidup saat itu mulai bisa bertawakkal, menerima takdir dan makin dekat dengan Allah. Perawat bisa membantu pasien dengan berdoa atau membaca kalimat syahadat (menurut kepercayaan masing-masing). 4. Mempertahankan Ketenangan Mempertahankan ketenangan pada pasien terminal, perawat dapat menujukkan dengan kesabaran dalam merawat pasien. Ketenangan yang perawat berikan dapat membantu atau mendorong pasien menjadi lebih baik. Ketenangan perawat dapat ditunjukan kepada pasien yang terminal dengan komunikasi non verbal. Komunikasi non verbal dapat berupa sentuhan yang hangat. Sentuhan adalah transmisi pesan tanpa kata-kata, merupakan salah satu cara yang terkuat bagi seseorang untuk mengirimkan pasan kepada orang lain. Sentuhan adalah bagian yang penting dari hubungan antara perawat dan pasien. I. Masalah Komunikasi yang Terjadi pada Pasien Terminal 1. Gangguan bicara bisa terjadi karena kondisi fisiologis pasien yang melemah. 2. Halusinasi merupakan gangguan persepsi panca indera pada pasien terminal tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh atau baik. Penyebab dari 74

halusinasi adalah perubahan sensori perceptual, seperti menarik diri. Menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. 3. Penyempitan perhatian yaitu rasa tidak percaya diri seorang pasien kepada semua orang, dimana pasien takut ditinggal atau dijauhi oleh teman maupun keluraganya.

J. Contoh Penyakit Terminal yang Mudah Dijumpai a. Pengertian Leukemia adalah proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang tidak normal, jumlahnya berlebihan, dapat menyebabkan anemia, trombositopenia, dan diakhiri dengan kematian sering disebut kanker darah. Kanker darah merupakan penyakit dalam klasifikasi kanker (istilah medis: neoplasma) pada darah atau sumsum tulang yang ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid, umumnya terjadi pada leukosit (sel darah putih). Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal. Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita. Penyakit darah ini termasuk pula penyakit yang berbahaya,dapat digolongkan sebagai kanker. Penyakit ini disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel darah putih yang ganas, yang ada hubungannya dengan kelenjar limpa. Sel-sel darah putih itu yang terbentuk di dalam sumsum tulang yang bersangkutan.

b. Etiologi Penyebab leukemia tidak diketahui secara pasti, namun beberapa faktor dihubungkan dengan timbulnya leukemia. Faktor-faktor tersebut adalah radiasi pengion, zat kimia, obat, keluarga (genetik), infeksi virus, imunodefisiensi.

75

Kejadian leukemia meningkat pada orang yang terkena radiasi seperti yang terjadi di Hirosima dan Nagasaki setelah bom atom. Sedangkan obat-obatan adalah golongan alkilasi (sitostatika), kloramfenikol, fenilbutazon, heksaklorosiklokeksan. Menurut Leiss dan Savitz (1995), penggunaan pestisida di rumah berkaitan dengan kejadian keganasan pada anak. Faktor keluarga (genetik) dihubungkan dengan terjadinya leukemia karena pada kembar identik bila salah satu menderita leukemia maka kembarannya beresiko menderita leukemia pula dalam 5 tahun, dan insiden leukemia pada saudara kandung meningkat 4 kali bila salah satu saudaranya menderita leukemia. Leukemia banyak terjadi pada anak yang menderita kelainan kromosom seperti Sandroma Down, dan penyakit-penyakit genetik lainnya. Percobaan pada binatang menunjukan bahwa infeksi virus ribonucleic acid (RNA) berperan terhadap timbulnya leukemia, namun pada manusia masih perlu penyelidikan lebih lanjut. Beberapa kondisi perinatal merupakan faktor resiko terjadinya leukemia pada anak, seperti yang dilaporkan oleh Cnattingis dkk (1995). Faktor-faktor tersebut adalah penyakit ginjal pada ibu, penggunaan suplementasi oksigen, asfiksia post partum, berat badan lahir >4500 gram, dan hipertensi saat hamil. Sedangkan Shu daa (1996) melaporkan bahwa ibu hamil yang mengkonsumsi alkohol meningkatkan resiko terjadinya leukemia pada bayi, terutama LMA. Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk. Apabila tidak diobati segera, maka penderita dapat meninggal dalam hitungan minggu hingga hari. Sedangkan leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun bahkan ada yang mencapai 5 tahun.

c. Keluhan dan Gejala Hipertrofi gusi terutama terjadi pada LMA. Infiltrasi ke kulit, yang dapat terjadi pada kelompok resiko standar dan tinggi, sering terjadi di kulit kepala, dan dapat merupakan gejala dini dari leukemia. Pada anak laki-laki, infiltrasi ke testis menyebabkan pembesaran testis yang tidak nyeri pada salah satu atau kedua testis, hal ini nantinya akan mempengaruhi prognosis karena menyebabkan kambuh. Umumnya gejala pada anak yang menderita LMA merupakan akibat dari gangguan sumsum tulang, seperti pada LLA, dan infiltrasi pada organ. Pembengkakan jaringan lunak di orbita dan gusi lebih menonjol.

76

Seperti semua sel-sel darah, sel-sel leukemia mengalir ke seluruh tubuh. Tergantung pada jumlah sel-sel yang abnormal dan tempat sel-sel ini terkumpul, pasien leukemia mempunyai sejumlah gejala umum antara lain:

Demam atau keringat malam Infeksi yang sering terjadi Merasa lemah atau letih Sakit kepala Mudah berdarah dan lebam (gusi berdarah, bercak keunguan di kulit, atau bintikbintik merah kecil di bawah kulit)

Nyeri di tulang atau persendian Pembengkakan atau rasa tidak nyaman di perut (akibat pembesaran limpa atau kelenjar getah bening)

Pembengkakan, terutama di leher atau ketiak Kehilangan berat badan Gampang capek Sukar bernafas Pucat Denyut nadi cepat

Selain tersebut di atas, dalam pemeriksaan sel-sel darah akan menunjukkan keadaankeadaan yang abnormal dalam bentuk, besar, dan bilangan sel-sel darah. Sel-sel darah merah mungkin akan terdapat agak berkurang bilangannya. Sel-sel darah putih kadang-kadang bertambah seratus atau dua ratus kali dari pada bilangan biasa. Meskipun kadang-kadang bilangan itu normal atau di bawah normal, tetapi abnormal dalam jenisnya. Penemuan jenis atau bentuk sel-sel darah putih yang ada itulah yang paling banyak membantu mengenai keterangan tentang kemajuan penyakit. Lemas, mudah lelah, demam yang tidak terlalu tinggi (aksiler 38,5C), dan gizi terkesan kurang. Disebabkan oleh hipermetabolisme yang terjadi karena aktivitas proliferasi sel-sel leukemia. Semua cadangan energi tubuh dipergunakan oleh aktivitas sel-sel leukemik yang ganas, sehingga semakin lama cadangan lemak dalam jaringan adiposa semakin berkurang, akibatnya gizi pasien terkesan kurang, lemas, dan mudah lelah. Kemungkinan lain penyebab penurunan status gizi pasien adalah anemia dan gangguan oksigenasi jaringan. Peningkatan aktivitas seluler yang terjadi mengakibatkan peningkatan suhu inti, akibatnya 77

tubuh menjalankan mekanisme pengaturan suhu sehingga terjadi demam. Kemungkinan lain akibat terjadinya demam adalah adanya infeksi. Walaupun sel-sel leukosit yang berperan dalam sistem imunitas meningkat, tetapi sel yang terbentuk tidak berdiferensiasi dengan sel imun jenis apapun, sehingga tidak fungsional dalam menjaga kekebalan tubuh. Fenomena ini disebut dengan leukopenia fungsional. Perdarahan lewat hidung dan trombositopenia (trombosit 67 x 103/mm3 [normal 1,5-3 x 105/mm3]). Akibat dari terjadinya penekanan hematopoiesis lainnya di sumsum tulang, maka produksi trombosit menurun. Padahal, trombosit berperan penting dalam sistem hemostasis primer. Jika trombosit berkurang, maka akan terjadi perdarahan yang waktunya lebih panjang daripada jika kondisi dan jumlah trombositnya normal. Kapiler pada keadaan normal memang sering mengalami ruptur, tetapi hal ini dapat cepat diatasi oleh sistem hemostasis primer, yaitu trombosit. Jika terjadi trombositopenia maka salah satu gejala yang timbul adalah perdarahan hidung akibat pecahnya dinding kapiler. Takikardi (108x/menit [normal 60-100/menit]), konjungtiva anemis, papil lidah atrofi, dan anemia (Hb 7,5 g/dl [normal 12-16 g/dl]). Serupa dengan trombositopenia, anemia yang timbul terjadi akibat penekanan hematopoietik oleh sel-sel leukemik pada sumsum tulang. Akibatnya timbul manifestasi klinis khas anemia seperti di atas. Takikardi timbul akibat kerja keras jantung dalam memenuhi kebutuhan oksigen jaringan karena kuantitas hemoglobin (Hb) yang rendah dengan mekanisme mempercepat jalannya aliran darah. Kuantitas Hb yang rendah mengakibatkan central pallor eritrosit berwarna pucat. Hal inilah yang kemudian direpresentasikan oleh berbagai jaringan tubuh, misalnya konjungtiva, bantalan kuku, telapak tangan, serta membran mukosa mulut. Atrofi papil lidah mungkin saja terjadi akibat cedera sel papila akibat kekurangan oksigen yang terjadi akibat anemia yang diderita oleh pasien. Limfadenopati leher. Hiperplasia terjadi akibat kerja limfonodus yang berlebihan dalam memproduksi limfosit. Sehingga sel-sel limfonodus yang berlebihan menyebabkan timbulnya rasa sakit (pathy). Hepatomegali. Terjadi dapat disebabkan karena tiga hal terkait: 1) infeksi; 2) akibat anemia hemolitik; atau 3) akibat infiltrasi. Namun, dalam kasus ini, kaitan yang paling mungkin adalah hepatomegali terjadi akibat infiltrasi sel-sel leukemik ke dalam jaringan hepar. Splenomegali. Splenomegali yang terjadi dapat disebabkan karena tiga hal terkait: 1) infiltrasi; 2) infeksi; atau 3) sumbatan/gangguan aliran darah. Namun, dalam kasus ini,

78

kemungkinan yang paling besar splenomegali terjadi akibat infiltrasi sel-sel leukemia ke dalam limpa/spleen

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN 1. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. 2. Karakteristik seorang perawat dalam hubungan terapeutik yaitu harus mempunyai sifat kejujuran, tidak membingungkan dan cukup ekspresif, bersikap positif, empati bukan simpati, serta sensitif terhadap perasaan pasien. 3. Pasien terminal adalah pasien yang sedang menderita sakit, dimana tingkat sakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga pengobatan medis sudah tidak mungkin dapat menyembuhkan lagi. 4. Tahapan-tahapan pada pasien terminal yaitu denial atau menolak (pengingkaran), anger atau marah, bergaining (tawar-menawar), depression dan acceptance (penerimaan). 5. Tingkat kesadaran pada pasien terminal terdiri dari clossed awareness, mutual pretense, dan open awareness. 6. Tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien terminal yaitu dengan membantu pasien untuk mengurangi ketakutannya, mengkaji tingkat ketakutan pasien, mendorong 79

keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan-ketakutan mereka, serta memberikan kesempatan dan penguatan koping positif. 7. Teknik komunikasi terapetik yang dilakukan pada pasien terminal yaitu dengan memberi harapan, tidak mengisolasi pasien, memaksimalkan kualitas hidup, mempertahankan ketenangan. 8. Masalah komunikasi yang terjadi pada pasien terminal yaitu gangguan bicara, halusinasi, dan penyempitan perhatian. B. Kritik dan Saran Dengan terselesaikannya makalah ini, maka kami berharap tenaga kesehatan khususnya perawat mengetahui bagaimana teknik komunikasi yang baik dalam menghadapi pasien terminal contohnya : leukemia. Tak lupa kritik dan saran yang membangun kami harapkan dari teman-teman agar kedepanya kami bisa menyusun makalah selanjutnya dengan lebih baik.

80