Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Nyeri tenggorok dan demam yang disertai dengan terbatasnya gerakan membuka mulut dan leher, harus dicurigai kemungkinan disebabkan oleh abses leher dalam. Abses leher dalam terbentuk didalam ruang potensial diantara fasia leher dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher. Gejala dan tanda klinik biasanya berupa nyeri dan pembengkakan di ruang leher dalam yang terlibat. Anatomi dari abses leher dalam sangat komplek, sehingga sulit untuk menentukan lokasi infeksi. Untuk membuat diagnosis dari abses leher dalam cukup sulit karena abses ini ditutupi oleh beberapa jaringan lunak yang ada pada leher dan juga sulit untuk mempalpasi serta menginspeksi dari luar. Angka kejadian abses submandibula berada di bawah abses peritonsil dan retrofaring. Namun dewasa ini, angka kejadiannya menduduki urutan tertinggi dari seluruh abses leher dalam. 70 85% dari kasus disebabkan oleh infeksi dari gigi, selebihnya karena sialadenitis, limfadenitis, laserasi dinding mulut atau fraktur mandibula. Selain itu, angka kejadian juga ditemukan lebih tinggi pada daerah dengan fasilitas kesehatan yang kurang lengkap. Komplikasi yang paling tinggi mortalitasnya pada abses leher dalam adalah mediastinitis. Mortalitas mediastinitis di Amerika serikat bervariasi antara 19 - 47 %, pasien sering membutuhkan perawatan di ICU dan proses pemulihan yang lama. Mediastinitis akut dapat berkembang menjadi fulminan dan tak berespon walau dengan terapi yang adekuat.1

1.2

Batasan masalah Pada referat ini dibahas tentang abses leher dalam dan komplikasinya pada mediastinum.

1.3

Tujuan penulisan Untuk menambah wawasan penulis mengenai abses leher dalam dan komplikasinya pada mediastinum.

1.4

Metode Penulisan Referat ini merupakan tinjauan kepustakaan yang dirujuk dari berbagai literatur.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Abses leher dalam adalah kumpulan nanah (pus) yang terbentuk dalam ruang potensial di

antara fasia leher dalam sebagai akibat penyebaran infeksi dari berbagai sumber seperti gigi, sinus paranasal, leher, telinga dll.Penyebaran infeksi dapat terjadi secara langsung, hematogen, atau limfogen. Abses leher dalam dapat dibagi sesuai letak abses yaitu abses peritonsiler, parafaring, retrofaring, mastikator, submandibula, submental, sublingual dan sebagainya.1-4Abses leher dalam dapat mengenai salah satu ruang potensial atau lebih.2-4 Sejak ditemukan antibiotika angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) kasus abses leher menurun drastis, walaupun demikian abses leher dalam tetap merupakan salah satu kegawatan di bidang THT.Keterlambatan diagnosis atau terapi yang tidak sesuai dan tidak adekuat dapat mengakibatkan komplikasi membahayakan seperti mediastinitis yang akan menyebabkan risiko kematian sebesar 40 %.2-4 Diperlukan pengetahuan dan pemahaman tentang anatomi fasia dan ruang potensial leher secara baik, serta faktor penyebab abses leher dalam untuk dapat memperkirakan perjalanan penyebaran infeksi dan penatalaksanaan yang adekuat.2-4

2.2

Anatomi

Gambar

1.

Anatomi

ruang leher dalam1 Secara anatomi leher terdiri fasia terdiri servikal dari dan dari beberapa ruang fasia

potensial. Fasia servikal superficial

(superficial fascia) dan fasia servikal profunda (deep fascia) yang oleh Fasia superficial terdiri darah dari dan dipisahkan m.platisma. servikal leher, pembuluh saraf

terletak di bawah kulit

superficial.

Sedangkan fasia servikal profunda terbagi menjadi 3 bagian, yaitu lapisan luar (external layer), lapisan tengah (visceral/ pretracheal layer) dan lapisan dalam (posterior/ prevertebral layer).2-6 Ruang Retorfaring Ruang retrofaring merupakan ruang potensial yang terletak diantara lapisan media fasia servikal profunda yang mengelilingi faring dan esophagus disebelah anterior serta bagian alar lapisan fasia servikal profunda disebelah posterior. Di superior berbatasan dengan dasar tengkorak dan di inferior berbatasan dengan vertebra torakal pertama atau kedua. Ruang ini berisi kelenjar getah bening retrofaring.2-4
4

Ruang Parafaring Ruang parafaring disebut juga sebagai ruang faringomaksila, ruang faringeal lateral atau

ruang perifaring. Ruang parafaring dibagi dua yaitu ruang parafaring anterior dan posterior. Ruang parafaring anterior berbatasan dengan dasar tengkorak di bagian superior dan angulus mandibul dibagian inferior. Disebelah anteromedial berbatasan dengan fasia bukofaringeal sedangkan sebelah posterior berbatasan dengan fasia yang melapisis muskulus stiloid dan dinding anterior selubung karotis. Fasia yang melapisi muskulus pterigoid internus merupakan batas anterolateral sedangkan ligamentum stilomandibula merupakan batas posterolateral. Di bagian posteromedial berbatasan dengan fasia alar. Ruang parafaring anterior berisi kelenjar limfe dan jaringan ikat.2-4 Ruang parafaring posterior dibentuk oleh selubung karotis. Dasar tengkorak merupakan batas superior dan ruang leher visera merupakan batas inferior. Di sebelah lateral berbatasan dengan fasia parotis sedangkan disebelah medial berbatasan denagn fasia yang membatasi ruang retrofaring. Ruang parafaring posterior berisi a.Karotis interna, v.jugularis interna, a. faring asenden, n.hipoglosus, n.vagus dan n.glosofaringeus.2-4 Ruang Submandibula Ruang submandibula terdiri dari ruang sublingual, submental dan submaksila. Ruang sublingual dibatasi oleh mandibula dibagian anterior dan lateral. Lidah merupakan batas superior sedangkan muskulus milohioid merupakan batas inferior. Di dalam ruang sublingual terdapat kelenjar liur sublingual beserta duktusnya.2-4 Ruang submental berbatasan dengan fasia leher dalam dan kulit dagu di sebelah anterior. Batas superior adalah muskulus milohioid anterior dan batas inferior adalah tulang hioid. Muskulus digastrikus anterior merupakan batas lateral. Di dalam ruang submental terdapat kelenjar limfe submental.2-4 Di dalam ruang submaksila terdapat kelenjar liur submaksila atau submandibula beserta duktusnya yang berjalan ke posterior melalui tepi posterior muskulus milohioid kemudian masuk ke ruang sublingual. Batas superior ruang submaksila adalah muskulus milohioid dan muskulus hipoglosus. Di sebelah inferior berbatasan dengan lapisan anterior fasia leher dalam, kulit leher

dan dagu. Batas medial ruang submaksila adalah muskulus digastrikus anterior dan batas posterior adalah muskulus stilohioid serta muskulus digastrikus posterior.2-4 Ruang Parotis Fasia superfisial leher dalam melapisi kelenjar parotis dan berhubungan dengan kelenjar limfe membentuk ruang parotis. Fasia ini tidak menutup secara rapat pada bagian atas kelenjar sehingga terdapat hubungan langsung dengan ruang parafaring. Arteri karotis interna, v.fasialis serta n.fasialis melalui ruang ini.2,3

Ruang mastikator Ruang mastikator berisi ramus pterigoid dan badan mandibula, tendon muskulus

temporalis, muskulus maseter saraf serta pembuluh darah alveolaris anterior. Terletak di sebelah anterior dan lateral ruang parafaring serta sebelah inferior ruang temporal.2,3

Ruang peritonsiler Di sebelah medial, ruang peritonsil berbatasan dengan tonsil palatina dan disebelah

lateral berbatasan dengan muskulus konstriktor faring superior. Batas superior, inferior, anterior dan posterior adalah pilar anterior serta pilar posterior tonsil.2,3

Ruang Temporal Terletak di antara fasia temporalis dan tulang temporalis. Muskulus temporalis membagi

ruang ini menjadi 2 bagian yaitu bagian superfisial dan profunda. Di dalamnya terdapat a.maksilaris interna dan pembuluh darah serta saraf madibula.2,3 2.3 Epidemiologi Parhiscar dan Har-El7, melakukan penelitian retrospektif pada 210 kasus abses leher dalam dari tahun 1991-1998. Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan jumlah kasus
6

abses parafaring menempati urutan pertama(43%), diikuti abses mandibula(28%), Ludwigs Angina (17%) dan abses retrofaring (12%). Sethi dan Stanley8 melaporkan pada periode Januari 1991-juli 1989 terdapat 55 kasus abses leher dalam dengan angka kematian 22%. Fachruddin9 melaporkan 33 kasus abses leher dalam selama Januari 1991-Desember 1993 di Bagian THT FK-UI RSUPN-CM , usia berkisar antara 15-35 tahun terdiri dari 20 pasien laki-laki dan 13 wanita.Angka kekerapan abses leher dalam mulitipel belum diketahui secara pasti. Di poliklinik Sub-Bagian Laring Faring FK-UI RSUPN-CM, periode I Januari 2002 31 Maret 2002 didapat 6 kasus abses leher dalam dan 1 kasus diantaranya merupakan abses leher dalam multipel. 2.4 Etiologi Sebelum ditemukan antibiotik, tujuh puluh persen dari kasus abses leher dalam disebabkan oleh penyebaran infeksi yang berasal dari faring dan tonsil. Setelah ditemukan antibiotika , infeksi gigi merupakan sumber infeksi terbanyak yang merupakan infeksi leher dalam. Penyebab lain dari abses leher dalam adalah infeksi yang berasal dari kelenjar liur, saluran saluran nafas bagian atas, sinus paranasal , kelenjar tiroid, telinga tengah , trauma infeksi lokal rongga mulut dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril pada tonsilektomi dengan anastesi lokal. Dua puluh persen kasus abses leher dalam tidak diketahui penyebabnya. Pada anak-anak penyebab tersering adalah tonsilitis akut dan infeksi gigi.2-4,6,10 Sebagain besar abses leher dalam disebabkan oleh campuran beberapa jenis kuman aerob maupun anaerob. Dari golongan aerob penyebab terbanyak adalah kuman Streptokokus, Stafylokokus, Dipthteriodes dan Neiseria. Sedangkan dari golongan anaerob penyebab tersering adalah Bakterioides, Peptostreptokokus, Eubakterium, Fusobakterium dan Pseudomonas.2-4,11

2.5

Diagnosis Diagnosis abses leher dalam ditegakkan berdasarkan anamnesis yang cermat, gejala

klinik, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Gejala klinik yang ditimbulkan sesuai dengan letak ruang leher dalam yang terkena. Pada kasus demikian pemerikasan penunjang memegang peranan penting.2-5 Foto jaringan lunak leher anteroposterior dan lateral merupakan prosedur diagnostik yang terpenting. Pada pemeriksaan foto jaringan lunak leher pada kedua posisi tersebut dapat
7

diperoleh gambaran deviasi trakea, udara di daerah sub kutis, cairan di dalam jaringan lunak leher. Keterbatasan pemeriksaan foto polos leher adalah tidak dapat membedakan antara selulitis dan pembentukan abses. Pemeriksaan foto thoraks dapat digunakan untuk mendiagnosis adanya edema paru, pneumotoraks, pneumomediastinum atau pembesaran kelenjar getah bening hilus.2-5 Pemeriksaan Tomografi Komputer (CT-scan) dapat membantu menggambarkan lokasi dan perluasan abses. Pada gambaran CT-scan dapat ditemukan adanya daerah densitas rendah, peningkatan gambaran kontras pada dinding abses dan edema jaringan lunak sekitar abses. Pemeriksaan pencitraan magnetik resonans(MRI) memberikan gambaran peningkatan densitas pada jaringan yang mengalami inflamasi dibandingkan dengan jaringan normal. Pemeriksaan MRI relatif mahal dan tidak setiap rumah sakit mempunyai alat ini, sehingga pemeriksaan MRI pada kasus abses leher dalam bukan merupakan prosedur baku. Ultrasonografi (USG) adalah sarana penunjang diagnostik yang tidak invasif dan relatif murah. USG digunakan sebagai pemandu pada saat aspirasi atau drainase abses. Pemeriksaan kultur dan tes resistensi dilakukan untuk mengetahui jenis kuman dan pemberian antibiotik yang sesuai.2,3,12 Abses peritonsil Pada abses peritonsil didapatkan gejala demam, nyeri tenggorok, nyeri menelan dan hipersalifasi. Nyeri telinga dan sengau juga dapat terjadi pada abses ini. Pada pemeriksaan fisik terdapat trismus, uvula terdorong ke sisi yang sehat. Tonsil edema, hiperemis dan kadang-kadang terdapat detritus. Palatum edema dan hiperemis.Untuk memastikan diagnosis dilakukan pungsi dan aspirasi pus dari tempat yang paling menonjol atau berfluktuasi. 2-4

Abses retrofaring Abses retrofaring biasanya ditemukan pada anak yang berusia tiga bulan sampai lima

tahun. Pada bayi dan anak-anak ruang retrofaring mengandung kelenjar getah bening masingmasing 2-5 buah terletak di kanan dan kiri setinggi vertebra servikal dua tiga, yang terdapat aliran dari hidung, sinus paranasal, faring, tuba Eustachius dan telinga tengah.2-4

Penyebab abses retrofaring, sebagian besar kasus adalah penjalaran infeksi dari rongga mulut dan tenggorok. Gejala klinis berupa demam, pembengkakan di daerah leher,pergerakan leher yang terbatas, nyeri tenggorok, odinofagi dan disfagi. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan pembengkakan dinding posterior faring, pembesaran getah bening leher dan posisi kepala hiperekstensi serta miring sisi yang sehat. Pada kasus yang berat dapat disertai dengan sumbatan jalan nafas.2-4 Penelitian Wholey yang dikutip dari Scoot2, Shumrick3, Facruddin4 menyimpulkan bahwa foto jaringan lunak leher juga didapatkan penebalan jaringan lunak leher ukuran lebih dari 7 mm pada vertebra servikal ke dua (retrofaring) baik pada anak maupun dewasa. Tebal jaringan lunak setinggi vertebra servikal ke enam (ruang retrotrakea) lebih 14 mm pada anak dan 22 mm pada dewasa, menunjukan adanya proses patologik di retrofaring. Pemeriksaan CT-Scan membantu menentukan batas-batas dan perluasan abses.

Abses Parafaring Gejala klinik abses parafaring berupa demam, nyeri tenggorok, odinofagi dan disfagia.

Pada pemeriksaan fisik di dapatkan pembengkakan daerah perimandibula, trismus, pendorongan dinding lateral faring ke medial, edema uvula, palatum mole dan pilar tonsil. Tanda-tanda abses parafaring anterior dan posterior dapat dibedakan sebagai berikut : 1.Abses parafaring anterior a.trismus, karena iritasi pada muskulus pterigoid medialis/internus, b. Pembengkakan dan indurasi di belakang angulus mandibula atau di ujung bawah glandula parotis, c. Prolaps tonsil dan fossa tonsilaris karena terdesak ke arah medial.

2. Abses parafaring posterior Terutama ditandai dengan pembengkakan di posterior plika palatoglossus, pembengkakan pada lateral faring bagian posterior dan pembengkakan daerah parotis, tanpa trismus dan prolaps tonsil.10
9

Apabila terjadi komplikasi, di samping tanda-tanda tersebut di atas dapat dijumpai juga gejala-gejala meningitis, perdarahan dari a. Karotis interna, trombosis v. Jugular interna, sesak nafas atau asfiksi bila abses meluas ke laring atau terjadi mediastinitis.2-4 Pada pemeriksaan foto polos leher bisa didapatkan pergeseran trakea ke anterior an pembengkakan jaringan lunak leher. Penggunaan CT-Scan sangat membantu mendiagnosis abses leher dalam, karena dapat membedakan abses dengan massa tumor atau selulitis serta keterlibatan pembuluh darah. CT-Scan pada abses parafaring dapat berupa gambaran kistik tunggal atau multiokulasi, densitas rendah ,udara atau cairan pada abses dan pemeriksaan dengan kontras terdapat penyengatan pada dinding abses.2,3,9,10,12 Abses submandibula Pada abses submandibula terdapat gejala demam, nyeri tenggorok, sukar menelan dan trismus. Daerah submandibula edema,hiperemis dan nyeri tekan. Jika lidah terangkat dan terdorong ke posterior dapat terjadi sumbatan jalan nafas. Pemeriksaan foto polos leher terdapat gambaran penebalan jaringan lunak leher. Untuk memastikan diagnosis dilakukan pungsi dan aspirasi pus dari tempat yang paling berfluktuasi. 2-4 Abses parotis Infeksi ini sering terjadi pada pasien-pasien dehidrasi dan kebersihan mulut yang buruk. Terdapat nyeri di daerah nggulus mandibula tetapi tidak terdapat trismus.2-4 Abses mastikor Infeksi di ruang ini kebanyakan berasal dari infeksi gigi. Terdapat trismus akibat iritasi muskular maseter dan pembengkakan di daerah mandibula. Infeksi dapat menyebar ke ruang temporal, parotis dan parafaring.Selain gejala infeksi umum juga terdapat nyeri di daerah muskulus temporalis dan trismus. 2-4

2.6

Komplikasi Berbagai komplikasi dapat terjadi pada abses leher dalam sebagai akibat keterlambatan

diagnosis, penatalaksanaan yang tidak tepat dan tidak adekuat. Penjalaran infeksi ke daerah karotis dapat terjadi dan menimbulkan erosi sarung karotis dan menyebabkan perdarahan.
10

Adanya trombosis atau emboli v. jugularis interna dapat dikenali dengan adanya gejala demam, nyeri sepanjang muskulus sternokleidomastoideus, hiperpireksia dan tanda-tanda sepsis. Emboli dapat menyebar ke paru-paru dan menimbulkan abses paru. Jika infeksi menyebar ke rantai simpatis atau saraf kranial dapat terjadi sindroma Horner. Komplikasi lain yang dapat terjadi adalah osteomielitis mandibula, osteomielitis vertebra, mediastinitis, dan dehidrasi. Komplikasi pembedahan antara lain kerusakan sistem vaskuler, infeksi, aspirasi, septikemia dan pembentukan jaringan parut.2-4 2.7 Komplikasi ke mediastinum Mediastinum adalah ruang ekstrapleura yang dibatasi sternum di sebelah depan, kolumna vertebralis di sebelah belakang, pleura mediastinal di sebelah lateral kiri dan kanan, di superior oleh thoracic inlet dan di inferior oleh diafragma. Mediastinum terdiri dari tiga area : anterosuperior mediastinum, middle mediastinum, posterior mediastinum. Mediastinitis adalah peradangan di daerah mediastinum yang terdiri dari mediastinitis akut dan kronik. Mediastinitis akut adalah penyakit yang jarang dan diagnosis dini pada penyakit ini amat sukar. Mediastinitis akut dapat dibagi menjadi supuratif (abses) dan nonsupuratif. Mediastintis supuratif disebut juga mediastinitis flegmonia lebih sering didapatkan, penyebarannya dapat terlokalisasi atau difus dengan atau tanpa pembentukan abses.2-4 Komplikasi yang paling tinggi mortalitasnya pada abses leher dalam adalah mediastinitis. Mortalitas mediastinitis di Amerika serikat bervariasi antara 19 - 47 %, pasien sering membutuhkan perawatan di ICU dan proses pemulihan yang lama. Mediastinitis akut dapat berkembang menjadi fulminan dan tak berespon walau dengan terapi yang terbaik. Mediastinitis dapat berkembang menjadi Descending Necrotizing Mediastiniti (DNM) akibat infeksi orofaringeal yang menyebabkan sepsis di leher yang menyebar ke mediastinum melalui ruang ruang potensial di leher, pada jenis ini mortalitas dapat diatas 50%. Ruang potensial yang terpenting adalah retrofaringeal atau retroviseral dengan batas anterior lapisan tengah fasia leher dalam dan di posterior oleh fasia alar (lapisan dalam fasia leher), terletak di belakang hipofarings dan esofagus dari dasar tengkorak sampai dengan mediastinum superior. Ruang ini merupakan rute utama penyebaran infeksi orofaringeal ke mediastinum. Dinamika pernafasan mempengaruhi penyebaran infeksi melalalui fasia tersebut. Fluktuasi tekanan negatif introtoraks menarik udara, air liur, dan mikroorganisme tertarik ke dalam mediastinum menyebabkan infeksi
11

dan nekrosis, tetapi tidak seluruh infeksi mengikuti jalannya fasia leher dalam penyebarannya ke mediastinum.2-4 2.8 Penatalaksanaan Secara umum terapi abses leher dalam terdiri dari medikamentosa dan drainase. Barakate dkk(2001) secara lebih terinci mengatakan bahwa penatalaksanaan yang adekuat suatu abses leher dalam yang tergantung pada pengenalan proses sedini mungkin, pemberian antibiotik yang tepat, mencegah dan mengatasi sumbatan saluran nafas dan perawatan yang intensif. Terapi medikamentosa meliputi pemberian antibiotika baik untuk kuman aerob maupun kuman anaerob dan simtomatis sesuai keluhan serta gejala klinik yang timbul. Pemberian cairan untuk memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit sangat diperlukan.2-5,13 Pemberian antibiotik Secara garis besar, antibiotika digolongkan berdasarkan susunan senyawa kimianya, antara lain: golongan penisilin, tetrasiklin, kloramfenikol, aminoglikosida, makrolida, linkosamid, polipeptida, sulfonamid dan trimetoptrim, metronidazole, kuinolon, sefalosporin dan golongan lainnya.14-16 Pemilihan antibiotik yang ideal tentu saja harus didasarkan pemeriksaan mikrobiologi yang sudah pasti (definitif therapy), tetapi hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Pada sebagian besar kasus, diagnosis klinik dapat ditegakkan tetapi pemeriksaan mikrobiologi belum diperoleh hasil maka pemberian antibiotik dapat dimulai dengan perkiraan ilmiah (educated guess) atau secara empiris (empirical therapy).14 Di Sub-Bagian Laring Faring FK-UI RSUPN-CM, antibiotika harus segera diberikan dalam dosis adekuat secara parenteral. Sebelum ada hasil kultur dan resistensi, diberikan antibiotik berdasarkan pengalaman jenis kuman yang sering ditemukan yaitu untuk kuman aerob dan anaerob.14 Penisilin G 300.000-1.200.000 unit/hari atau amoksisilin 25-30 mg/kgBB/hari atau sefalosporin 25-50 mg/kgBB/hari atau gentamisin 20-80 mg 1-2 kali sehari. Metronidazol dapat diberikan per infus, per rektal atau oral 3x 62,5-500 mg/hari. Pada infeksi tuberkulosis diberikan tuberkulostatika.14 Drainase abses
12

Tindakan drainase dapat dilakukan dengan anestesi lokal atau umum. Pada abses peritonsil insisi dilakukan pada tempat yang paling berfluktuasi atau pada pertengahan garis yang ditarik dari uvula ke gigi molar tiga atas pada sisi yang sakit. Luka insisi dilebarkan dengan kuman dan pus dikeluarkan sebanyak-banyaknya. Bila infeksi sudah tenang dianjurkan untuk dilakukan tonsilektomi.2-5 Tindakan drinase pada abses parafaring dilakukan dengan pendekatan ekstraoral/eksterna. Insisi intraoral dapat dilakukan bila terdapat penonjolan ke dalalm rongga faring. Drainase eksterna dilakukan dalam narkosis. Dengan terdapatnya trismus dan edema faring akan menyebabkan kesulitan memasukkan pipa endotrakea sehingga mempersulit prosedur pemeberian anestesi umum. Pada kasus demikian diperlukan tindakan trakeostomi dngan anestesi lokal terlebih dahulu, untuk selanjutnya diberikan anestesi umum dan dilakukan eksplorasi abses.2-5 Insisi yang dianjurkan pada drainase eksterna abses parafaring adalah teknik Mosher (1929) yaitu insisi seperti huruf T yang dilakukan pada daerah kurang lebih 1-2 cm di bawah dan sejajar dengan mandibula sampai di batas anterior muskulus sternokleidomastoideus dilanjutkan dengan garis vertikal di sebelah anterior muskulus sternokleidomastoideus. Struktur anatomi yang penting dan harus diidentifikasi adalah selubung karotis (carotid sheat), hal ini disebabkan karena ketiga fasia leher dalam membentuk selubung karotis ini sehingga selubung karotis disebut sebagai Lincoln highway of the neck. 2-6 Pada abses retrofaring insisi dilakukan dengan anestesi lokal atau narcosis. Untuk mencegah aspirasi, posisi pasien tredelenberg dengan kepala hiperekstensi. Dilakukan pungsi dan aspirasi pada bagian yang paling berfluktuasi kemudian dilakukan insisi vertikal sepanjang daerah yang menonjol. Pasca tindakan yang sebaiknya dipasang pipa hidunglambung(nasogastric tube/NGT). 2-6 Insisi abses submandibula dilakukan pada garis tengah dibawah dagu sepanjang kurang lebih 3 cm. Eksplorasi dilakukan secara tumpul sampai mencapai ruang sublingual. Setelah tindakan dipasang salir. 2-4 Pada abses mastikator insisi dibuat dibawah mandibula dan dilakukan pelebaran secara tumpul hingga periosteum. Insisi pada abses parotis dilakukan di daerah yang paling menonjol sejajar dengan cabang n. Fasialis. Drainase juga dilakukan dengan cara aspirasi. Pada abses ruang temporal, insisi dibuat kurang lebih 3 cm di belakang kantus lateralis.2,3
13

14

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan 1. Abses leher dalam adalah kumpulan nanah (pus) yang terbentuk dalam ruang potensial di antara fasia leher dalam.
2. Abses leher dalam dapat mengenai salah satu ruang potensial di leher atau menyebar

mengenai ruang potensial leher lainnya sehingga terjadi abses leher dalam multipel.
3. Komplikasi yang paling tinggi mortalitasnya pada abses leher dalam adalah mediastinitis. 4. Penatalaksanaan yang adekuat tergantung pada pengenalan proses secara dini, antibiotika

yang tepat, mencegah dan mengatasi sumbatan saluran nafas, drainase abses serta perawatan yang intensif. 3.2 Saran Seorang dokter, merupakan kompetensinya untuk dapat mengetahui , mendiagnosis, dan mampu memberikan pertolongan pertama pada kasus kasus pasien abses leher dalam dengan komplikasi ke mediastinum

15

16