Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM GEOLOGI TEKNIK DAN PROPERTI TANAH MODUL 7 PERMEABILITAS

KELOMPOK 9

Farid Askary Mohammad Bagus Prasetyo Melani Syafridhal Rahman Raeyani Kalele Rahmat Hidayat Rezaqul Khaq

1006674143 1006659741 1006674282 1006659760 1006771251 1006674383

Tanggal Praktikum Asisten Tanggal disetujui Paraf Asisten Nilai

: 25 Maret 2012 : Kika Pranika : : :

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2012

1.

PENDAHULUAN 1.1. Maksud danTujuan Percobaan Mencari nilai permeabilitas k dari suatu sampel tanah. 1.2. Alat alat dan Bahan a. Mould permeability b. Gelas ukur c. Penggaris d. Jangka sorong e. Stopwatch f. Timbangan dengan ketelitian 0.1 gram g. Tanah lolos saringan No.4 ASTM h. Pasir lolos saringan no.18 ASTM i. Alat Constant Head Test

1.3. Teori dan Rumus yang Dipakai Debit air yang mengalir q melalui tanah pada suatu cross-section area A adalah proporsional terhadap gradient l yaitu:

Koefisien k disebut sebagai koefisien permeabilitas Darcy atau koefisien permeabilitas atau permeabilitas tanah. Oleh sebab itu, permeabilitas adalah properti tanah yang menunjukkan kemampuan tanah untuk meloloskan air melalui partikel-partikelnya. Permeabilitas dapat digunakan untuk menyelesaikan masalahmasalah yang berhubungan dengan seepage (rembesan) di bawah bendungan, didipasi air akibat pembebanan tanah, dan drainase dari lapisan subgrade, bendungan, atau timbunan. Selain itu tegangan efektif yang diperlukan dalam perhitungan masalah-masalah di atas juga secara tidak langsung berkaitan dengan permeabilitas. Permeabilitas tergantung oleh beberapa faktor. Yang utama adalah sebagai berikut: a. Ukuran butiran. Secara proporsional, ukuran pori berhubungan dengan ukuran partikel tanah.

b. Properti aliran pori. Untuk air adalah viskositasnya, yang akan berubah akibat dipengaruhi perubahan temperatur. c. Void ratio d. Bentuk dan susunan pori-pori tanah e. Derajat saturasi. Kenaikan derajat saturasi pada tanah akan menyebabkan kenaikan nilai permeabilitas. Di dalam air tanah (diam atau mengalir) juga berlaku hukum-hukum hidrolika. Hukum Bernoulli :

p v2 hz w 2g
dengan : h z = tinggi tekanan total (m) = tinggi elevasi terhadap suatu bidang datum (m) (=tenaga potensial per satuan volume) p = tekanan hidrostatis (t/m3) w = berat volume air (t/m3)

p w
v g

= tenaga tekanan /volume = kecepatan aliran (m/s) = percepatan gravitasi (m/s2)

v2 = tenaga kecepatan/volume = tinggi kecepatan 2g


Khusus aliran air dalam tanah : p diganti u = tekanan pori v umumnya kecil .

v2 0 (diabaikan) 2g

Maka hukun Bernoulli untuk aliran dalam tanah :

hz

u w

sering ditulis h = z + hw

(tinggi elevasi + tinggi tekanan pori selalu konstan) dengan : hw = = tinggi tekanan pori

u w

u = hw .

h hw1 aliran 1 Tanah z1 1 bidang datum Gambar 1.1. Aliran rembesan dalam tanah 2 z2 hw2

Aliran air terjadi jika terdapat perbedaan tinggi tenaga antara dua tempat. h = h1 h2
h 1

Kecepatan aliran ditentukan oleh gradien hidrolik antara titik 1 dan 2.


i

(tanpa satuan)

(gradien hidrolik = selisih tinggi tenaga dibagi panjang lintasan). Aliran air dalam tanah pada umumnya berupa aliran laminer (aliran yang partikel-partikelnya bergerak secara teratur, lintasannya sejajar), sehingga berlaku Hukum Darcy v = kxi dengan : v = kecepatan (cm/detik) k = koefisien permeabilitas (cm/detik) i = gradien hidrolik. Besarnya debit (volume air yang mengalir per satuan waktu) q = Axv = Axkxi

dengan : q = debit (m3/s) luas tampang tanah yang dialiri air (m2) luas pori luas tampang tanah x kadar pori kecepatan aliran (m/s)

A = = = v Catatan: =

kadar pori = n =

Vv Av V A

Setidaknya ada empat metode di laboratorium untuk mencari nilai permeabilitas tanah, yaitu metode Capillarity Head Test, korelasi data konsolidasi untuk menghitung permeabilitas, Variable Head Test, dan Constant Head Test. Constant Head umumnya lebih sering digunakan pada tanah cohesionless daripada Variable Head karena instrumen yang lebih sederhana. Metode Constant Head Test Metode ini hanya digunakan pada tanah dengan permeabilitas tinggi. Oleh karena itu, pada percobaan yang akan dilakukan perlu ditambahkan pasir untuk memodifikasi permeabilitas tanah lempung yang sangat kecil. Prinsip pada percobaan ini dapat dilihat pada gambar.

Gambar 1.2 Susunan alat Constant Head Permeability Test

Penentuan nilai k dilakukan dengan cara mengukur penurunan tinggi muka air selama periode waktu tertentu dan pada saat ini tegangan air menjadi ridak tetep sehingga rumus Darcy dapat digunakan. Misalnya pada ketinggian air (h), penurunan (dh) akan membutuhkan waktu (dt), amak koefisien permeabilitas dapat diturunkan dari rumus Darcy sehingga menjadi:

q=kiA

i=

. .

=
Dengan: k = koefisien permeability A = luas sample tanah L = tinggi sampel tanah q = debit aliran air

Apabila air yang melalui sampel tanah sedikit seperti pada sampel tanah lempung murni dimana nilai k sangat kecil, maka metode ini tidak efektif lagi digunakan untuk mengukur nilai k.sehingga akan lebih baik menggunakan cara yang kedua, yaitu metode Variable Head.

Gambar 1.3 Susunan alat Variable Permeability Test

Jumlah air yang mengalir pada standpipe dalam waktu tertentu adalah : = . =

dengan : a dh/dt = luas cross-section standpipe = penurunan muka air

Sedangkan jumlah air yang merembes melalui tanah dalam waktu tertentu pada permeameter adalah: = . . Lalu dengan menyamakan jumlah air yang masuk = jumlah air yang keluar Dengan: a = luas cross-section standpipe L = panjang sampel di dalam permeameter A = luas cross-section permeameter t = jumlah waktu pada waktu pengukuran ho, h1 = tinggi head (lihat gambar 7.2) Koefisien permeabilitas pada suhu kamar (ToC) adalah KT sedangkan untuk suhu standar (20oC) perlu dikonversi menjadi: K20 = KT (T / 20) Dimana: T = viskositas cairan pada temperatur ToC 20 = viskositas cairan pada temperatur 20oC

Perbandingan viskositas dapat dilihat pada gambar 7.3 di bawah ini (tabel koreksi viskositas cairan)

Gambar 1.4 Grafik T / 20 (data International Critical Tables, Vol. V) Menurut Tabel Koefisien Permeabilitas BS 8004: 1986, nilai-nilai permeabilitas untuk berbagai jenis tanah pada suhu standar (20C) adalah sebagai berikut :

Koefisien Permeabilitas (m/s) (BS 8004: 1986)

Menurut Cassagrande pada tahun 1938, nilai-nilai permeability untuk berbagai jenis tanah pada suhu standar (20C) adalah sebagai berikut :

Koefisien Permeabilitas menurut Cassagrande

Menurut Wesley pada suhu standar (20C) :

Koefisien Permeabilitas menurut Wesley

Pengujian di laboratorium dengan menggunakan sampel kecil yang diambil di lapangan terkadang tidak mewakili tanah secara keseluruhan. Tanah di lapangan umumnya anisotropis, berlapis-lapis dan tidak homogen. Untuk proyek besar perlu pengujian k langsung di lapangan.

sumur uji

sumur observasi

muka air (MA) mula-mula

MA setelah dipompa y2 H y1 h

x1 x2 Gambar 1.5. Pengujian k di Lapangan.

Caranya adalah sebagai berikut: 1. Dibuat sumur bor sebagai sumur uji dan beberapa sumur observasi. Bila ternyata tanahnya tidak mudah longsor digunakan pipa baja berlubanglubang. Sumur uji mencapai kedalaman lapisan tanah rapat air. 2. Air sumur uji dipompa dengan debit konstan. Muka air akan turun, ditunggu sampai stabil. Diamati tinggi air sumur observasi. air mengalir menuju sumur dari semua arah. Sesuai dengan hukum kontinuitas, debit menuju sumur lewat tiap silinder sama.

dx dy

Dipandang silinder jari-jari x, tinggi air y. Luas tampang tanah yang dilewati air = luas dinding silinder A = 2 . x . y Gradien hidrolik = kemiringan muka air i Maka q = tg. =
dy dx

= A.v = A . k . i = 2 . x . y . k .
dy dx

2 k dx y.dy q x

Ditinjau dua tempat dengan jari-jari x1 dan x2 yang tinggi airnya y1 dan y2

2 k q

y2

y dy

x2

y1

dx x x1

x 2 k 1 2 2 2 ( y 2 - y1 ) ln 2 q x1
x2 q ln ( 11 ) k efektif : k = 2 y 2 - y1 2

2.

PRAKTIKUM 2.1. Persiapan Percobaan Menyiapkan tanah kering yang lolos saringan No.4 ASTM sebanyak 1 kg dan pasir yang lolos saringan No. 18 ASTM sebanyak 1 kg. Mencampurkan tanah dan pasir tersebut dalam sebuah wadah hingga tercampur merata. 2.2. Percobaan Menyiapkan Mould Permeability, kemudian mencatat data diameter, tinggi, serta berat mould. Memasukkan campuran tanah dan pasir tersebut ke mould dengan tiga lapisan dengan ketinggian 1/3, 2/3 dan hingga penuh. Di setiap lapisan di padatkan dan filter pada bagian atas dan dasar mould harus selalu terpasang. Setelah itu, mould ditutup dan diletakkan pada alat permeability Selanjutnya setelah praktikan menaruh mould di alat permeability, praktikan memasang selang yang terdapat pada alat tersebut dengan urutan sebagai berikut. Selang warna kuning dihubungkan dengan sumber air (kran) Selang warna oranye dihubungkan dengan mould Selang warna merah dibiarkan terbuka dan diletakkan di bak pengeluaran Pada percobaan ini, metode yang digunakan adalah metode Constant Head Test, sehingga pertama-tama air dialirkan melalui selang, kemudian naik ke reservoir di atas dan masuk ke mould permeability hingga seluruh tanah di dalam mould jenuh sempurna

Air yang berada di reservoir dibuat tetap tingginya, dijaga agar tidak terjadi gelombang

Mengukur tinggi muka air dan reservoir ke mould (h) Air yang keluar dari mould diperhatikan, hingga tidak terjadi perubahan (konstan)

Kemudian air limpahan tersebut ditampung ke dalam gelas ukur Setelah 5 menit, praktikan mengukur volume yang tertampung di gelas ukur.

Mengulangi langkah tersebut setiap 5 menit dan berhenti hingga diperoleh waktu dimana volume yang tertampung sama.

2.3. Perbandingan dengan ASTM Percobaan yang dilakukan pada dasarnya menggunakan metode menurut cara ASTM. Ada beberapa perbedaan percobaan yang dilakukan, dengan cara ASTM D2434-65T, yaitu: 1. ASTM menggunakan a = 11.71 cm2 sedangkan percobaan yang dilakukan menggunakan a = 0.2123716 cm2 2. Suhu standar ASTM 20oC, sedangkan suhu kamar di laboratorium tercatat 29oC 3. Pemadatan tanah tidak sama dengan cara ASTM. Selain itu standar yang ditetapkan ASTM tidak dapat dipenuhi karena peralatan dalam laboratorium tidak memungkinkan. Misalnya, tidak adanya pengatur suhu ruangan yang dapat membuat suhu kamar menjadi 20oC

3.

HASIL PRAKTIKUM 3.1. Data Hasil Praktikum No 1 2 3 4 5 6 Data Diameter Mould (D) [meter] W pasir [gram] W tanah [gram] Tinggi Sampel (L) [m] Luas (A) = d2 [m2] Tinggi Constant Head (h) [m] Besaran 7.57 102 1000 1000 0.23 4.498 103 1.07

No

t (s)

V (ml)

T (C)

300 290 29 1 300 270 29 2 300 260 29 3 300 255 29 4 300 255 29 5 Di dalam perhitungan, Q yang digunakan adalah Q yang stabil saja, sehingga: Q=V/t Q= 255/300 Q= 0,85 ml/s = 8,5 x 10-7 m3/s

3.2. Perhitungan Koefisien permeabilitas pada suhu kamar (29C)

K 29 =
Karena Q=V/t, maka :

Q. L

A. h

K 29 = V. L A. h. t
K 29 = 255x106 x 0,23 4,498 x 103 x1,07x300

K 29 = 4,062 x105 m S 2

Untuk konversi ke suhu standard, nilai 29 dapat di cari dari persamaan grafik
20

vs T

0.814

= 0.814 = 29
20

Sehingga nilai 20 : 20 = 29 29 20

20 = 4,062 105 0.814 20 = 3,306 105 2 Nilai-nilai k yang didapat kemudian disajikan pada tabel dibawah ini : K29 (m/s) 4,062 105 K20 (m/s) 3,306 105

4.

ANALISA 4.1. Analisa Percobaan Praktikum permeability bertujuan untuk mencari besarnya koefisien permeabilitas (k). koefisien permeabilitas dipergunakan untuk menyelidiki karakteristik dari suatu tanah. Berdasarkan teori yang telah dipaparkan dalam sub bab teori dasar, permeabiltias adalah properti tanah yang menunjukkan kemampuan tanah untuk meloloskan air melalui partikel-partikelnya. Sehingga koefisien permeabilitas adalah besaran angka yang menunjukkan kemampuan suatu tanah untuk meloloskan air melalui pori-pori partikelnya. Untuk mendapatkan koefisien permeabilitas, praktikan terlebih dahulu mempersiapkan sample tanah yang ingin digunakan. Pada praktikum ini, praktikan menggunakan campuran tanah dan pasir dengan perbandingan 1 : 1. Pasir yang digunakan adalah pasir yang lolos saringan 18 seberat 1000 gram dan tanah yang lolos saringan No.4 seberat 1000 gram. Berhubung tanah dan pasir yang terdapat di laboratorium belum sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan, maka praktikan terlebih dahulu menyaringnya secara manual hingga didapatkan pasir dan tanah yang sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Setelah memperoleh pasir dan tanah dengan berat dan spesifikasi yang diinginkan, kemudian praktikan mencampurnya di dalam sebuah wadah dan mengaduknya hingga tercampur merata. Persiapan praktikum ini dilakukan satu hari sebelum praktikum dengan tujuan untuk mengefektifkan waktu praktikum keesokan harinya dan menjadikan campuran tanah dan pasir tecampur merata. Keesokan harinya, praktikan mengambil sample tanah yang telah dipersiapkan sebelumnya. untuk memastikan tanah dan pasir telah tercampur merata, praktikan mengaduk kembali campuran tersebut selama beberapa menit. Setelah dipastikan bahwa tanah dan pasir telah tercampur merata, praktikan kemudian mengambil mould permeabiltias yang akan digunakan. Pertama, praktikan mengukur dimensi-dimensi dari mould tersebut seperti tinggi mould dan diameter mould. Pengukuran tinggi mould di asumsikan sebagai tinggi dari sample tanah yang digunakan dan diameter digunakan

untuk mencari luas alas mould yang diasumsikan sebagai luas dari sampel tanah yang digunakan. Setelah semua dimensi yang dibutuhkan telah diukur, praktikan kemudian memasang saringan di dasar mould tersebut. Saringan ini bertujuan agar saat air dimasukkan ke dalam mould permeabilitas, yang keluar hanya air sehingga tidak mengurangi berat dari tanah yang digunakan. Setelah saringan terpasang, praktikan mulai memasukkan sampel tanah tersebut kedalam mould permeabilitas. Praktikan memasukkan tanah tersebut secara bertahap. Pertama praktikan memasukkan tanah tersebut sebanyak 1/3 bagian dari tinggi mould. Batas penentuan 1/3 bagian berdasarkan asumsi praktikan dan asisten praktikum. Setelah tanah dimasukkan, praktikan memadatkan tanah tersebut dengan bantuan tongkat pemadat. Pemadatan ini bertujuan agar tidak ada rongga udara pada tanah tersebut sehingga koefisien permeabilitas yang dihasilkan lebih akurat. Pemadatan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya angka koefisien permeabiltias yang dihasilkan nantinya. Setelah di anggap padat, praktikan kembali melakukan hal yang serupa untuk 2/3 bagian dan penuh. Setelah penuh, praktikan meletakkan saringan dan menutup mould permeabiltias dengan bantuan asisten praktikum. Selanjutnya, praktikan meletakkan mould tersebut pada alat pengujian permeabilitas dengan metode constant head. Setelah terpasang, kemudian praktikan memasang 3 selang (selang kuning, selang oranye, dan selang merah) yang terdapat pada alat pengujian tersebut. Selang kuning dihubungkan dengan sumber air (kran) yang digunakan untuk mengalirkan air dari sumber air ke reservoir. Selang oranye dihubungkan dengan mould permeabiltias untuk mengalirkan air dari reservoir ke mould permeabiltas dan selang merah dibiarkan terbuka dan ditempatkan di dalam kolam pembuangan air. Kemudian praktikan membuka kran air dan menunggu hingga tanah berada pada kondisi jenuh sempurna/terisi air. Setelah itu, praktikan melihat kestabilan air pada reservoir. Kestabilan yang dimaksud adalah tidak ada gelombang-gelombang air yang terdapat pada reservoir. Setelah air stabil, praktikan mengukur tinggi constant head. Tinggi constant head adalah jarak

antara tinggi permukaan air yang terdapat pada reservoir dengan lapisan tanah yang paling atas pada mould permeabiltias. Setelah mengukur tinggi constant head, air yang keluar dari mould permeabilitas ditampung dalam gelas ukur selama 5 menit. Setelah 5 menit, praktikan mengukur volume yang tertampung dalam gelas ukur tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengetahui debit yang terjadi selama 5 menit tersebut. Praktikan melakukan kembali hal tersebut hingga diperoleh debit yang sama pada interval waktu yang berbeda. Pada praktikum ini, debit tersebut diperoleh saat menit ke-25 dan setelah mendapatkan debit yang sama, praktikan merapihkan alat-alat yang digunakan dan melakukan pengolahan data dari data percobaan yang telah didapatkan.

4.2. Analisa Hasil Besarnya koefisien permeabilitas (k) yang dihasilkan dari percobaan ini merupakan penerapan dari hukum darcy hingga dihasilkan persamaan:

K=
Persamaan diatas diperoleh dari : Hukum dasar darcy : Keterangan : V = kecepatan k = koefisien permeabilitas i = gradien hidrolik karena =

Q. L

A. h

= .

(1)

, maka persamaan (1) dapat diubah menjadi: = .


(2)

Di dalam fluida, = . dimana Q adalah debit aliran air, A adalah luas permukaan dan V adalah kecepatan aliran. Jika V pada persamaan = . diganti dengan V pada persamaan (2), maka diperoleh : = . .

(3)

Karena pada praktikum ini yang hendak dicari adalah koefisien permeabilitas (k), maka berdasarkan persamaan 3, diperoleh :

. .

(4)

Karena = , dimana adalah volume air dan t adalah waktu, sehingga persamaan (4) dapat diubah menjadi :

=
Keterangan : K L A h = koefisien permeabilitas

. . .

= volume air yang keluar dari mould = panjang (tinggi sampel) = luas mould = tinggi constant head (jarak antara muka sampel dengan permukaan air pada reservoir)

= waktu

Koefisien permeabilitas yang dihasilkan dari percobaan adalah koefisien permeabilitas pada suhu kamar (29C), sedangkan untuk membandingkan hasil koefisien permeabilitas tersebut dengan standar koefisien permeabilitas seperti menurut cassagrande, BS 8004, dan Wesley adalah koefisien permeabilitas pada suhu standar (20C), sehingga diperlukan pengkonversian dari koefisien permeabilitas pada suhu 29C (K29) menjadi koefisien permeabilitas pada suhu 20C (K20) dengan rumus sebagai berikut : 29 20 = 29 20 Keterangan : K29 = koefisien permeabilitas pada suhu 29C K20 = koefisien permeabilitas pada suhu 20C
29 20

= perbandingan viskositas cairan pada suhu 29C dan 20C

Untuk mengetahui nilai dari

29 20

dapat dilihat pada grafik 1.4 dan

persamaan yang dihasilkan dari grafik tersebut. berdasarkan grafik tersebut, diperoleh persamaan : y=-0,4963 ln (x) + 2,4848

sehingga, untuk mengetahui perbandingan viskositas antara suhu 29C dengan 20C, tinggal mengubah variabel x menjadi 20, sehingga diperoleh : y = 0,814 angka tersebut merupakan perbandingan viskositas antara suhu 29C dengan 20C. sehingga K20 adalah hasil dari perkalian K29 dengan 0,814. Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan, diperolehlah koefisien permeabilitas pada suhu kamar (29C) sebesar 4,062x10-5 dan koefisien permeabilitas pada suhu 20C sebesar 3,306x10-5 Nilai koefisien permeabilitas tersebut kemudian dibandingkan dengan standar koefisien permeabilitas baik menurut BS 8004, cassagrande, ataupun Wesley untuk mengetahui jenis tanah dari sampel uji. Setelah dibandingkan, diperoleh hasil sebagai berikut : Menurut BS 8004, disimpulkan bahwa sampel tanah tergolong tanah dengan spesifikasi pasir halus, lanau dan lempung-lanau berlapis-lapis karena nilai K20 yang dihasilkan dari percobaan berada pada rentang 10-4 sampai 10-7

Koefisien Permeabilitas (m/s) (BS 8004: 1986)

Menurut Cassagrande, tanah uji termasuk dalam tanah dengan spesifikasi pasir/campuran pasir-kerikil.

Koefisien Permeabilitas menurut Cassagrande

Menurut Wesley, tanah uji tergolong tanah denga spesifikasi pasir halus

Koefisien Permeabilitas menurut Wesley

Berdasarkan ketiga hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tanah yang digunakan memiliki sifat mayoritas berupa pasir halus meskipun pada awalnya merupakan campuran antara tanah dan pasir dengan perbandingan yang sama. hal ini membuktikan bahwa komposisi atau jumlah perbandingan tidak dapat digunakan sebagai penentu dari sifat suatu tanah yang diuji sifat kepermeabilitasannya. Faktor yang menyebabkan tanah uji cenderung dominan mengarah kepada pasir dapat dikarenakan faktor poripori rongga udara pada pasir yang relatif lebih besar dibandingkan dengan tanah. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi nilai koefisien permeabilitas saat percobaan adalah faktor pemadatan yang dilakukan oleh praktikan. Idealnya, pemadatan yang dilakukan bersifat menyeluruh, dalam artian seluruh bagian dari tanah mampat. Namun, dikarenakan tanah yang dimasukkan ke dalam mould terlalu banyak, sehingga pemadatan yang dilakukan oleh praktikan tidak merata, sehingga terdapat bagian yang mampat dan bagian yang kurang mampat. Bagian yang mampat menghasilkan poripori rongga udara yang kecil sehingga mengakibatkan air sulit untuk mengalir sedangkan bagian yang kurang mampat memiliki pori-pori rongga udara yang lebih besar dibandingkan dengan bagian yang mampat sehingga air lebih mudah mengalir. Disamping faktor pemadatan tanah pada mould, faktor lain yang mempengaruhi nilai koefisien dari permeabilitas yang dihasilkan adalah debit air yang digunakan dalam percobaan ini. Pada percobaan ini, debit aliran yang dipergunakan hanya berdasarkan perkiraan dan asumsi praktikan yang dibantu dengan asisten tanpa adanya batasan khusus yang telah ditetapkan.

4.3. Analisa Kesalahan Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan dalam praktikum permeability yaitu: a. Pencampuran tanah dan pasir yang tidak merata. b. Kurang tanggapnya praktikan saat mengambil jumlah air pada selang waktu 5 menit sehingga terdapat kelebihan atau kekurangan jumlah air. c. Tanah yang kurang padat ketika di masukkan ke dalam mold, sehingga mengakibatkan lamanya mencapai saat aliran yang mengalir stabil. d. Tidak diukurnya suhu ruangan secara langsung pada saat pelaksanaan percobaan, akan tetapi menggunakan temperatur dari percobaan specific gravity. e. Pengukuran tinggi air kurang tepat karena pengaruh dari permukaan air yang bergelombang. f. Debit air yang berasal dari sumber air (kran) yang tidak konstan sehingga mengakibatkan air pada reservoir tidak cepat stabil.

4.4. Aplikasi Percobaan Permeabilitas dalam ilmu Geoteknik Percobaan permeabilitas yang dilakukan di laboratorium dengan hasil berupa nilai koefisien permeabilitas memiliki beberapa manfaat dan kegunaan yang dapat diaplikasikan di lapangan khususnya yang berhubungan dengan disiplin ilmu geoteknik. Salah satu kegunaan dan pengaplikasian di lapangan dari percobaan ini yaitu saat melakukan pekerjaan timbunan terhadap suatu luasan daerah. Seperti yang telah diketahui, terkadang kontur atau permukaan tanah yang akan digunakan dalam sebuah pembangunan tidak sesuai dengan yang direncanakan semisal terdapat lubang atau penurunan permukaan tanah sehingga diperlukan suatu pekerjaan timbunan agar daerah yang mengalami penurunan tersebut memiliki ketinggian yang sama dengan datum yang telah ditetapkan. Tentu saja, untuk melakukan timbunan pada daerah tersebut diperlukan tanah tambahan yang berasal dari tempat lain. Saat melakukan timbunan diperlukan tanah dengan karaktertistik yang sulit dilewati oleh air. Hal ini bertujuan agar permukaan tanah hasil timbunan tidak kembali turun akibat adanya rembesan dari air. Salah satu

langkah untuk mengetahui sukar tidaknya suatu tanah untuk dilewati oleh air adalah dengan mengetahui nilai permeabiltias dari tanah tersebut. Dengan mengetahui nilai permeabilitas dari tanah tersebut, seorang pekerja teknik sipil dapat menerka atau memprediksi ketahanan dari tanah yang digunakan untuk menimbun tersebut. Pengaplikasian lain dari percobaan permeabilitas adalah dalam pembuatan bendungan. Dalam pembuatan bendungan banyak faktor yang harus diperhatikan. Salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah aliran rembesan (see pages) dari air yang ada di bendungan tersebut. Rembesan ini sangat mempengaruhi umur pakai dan kualitas dari suatu bendungan dikarenakan adanya rembesan dapat mengganggu kestabilan dari struktur tanah yang ada di bawahnya. Salah satu hal yang mempengaruhi dari rembesan tersebut adalah sifat kepermeabiltiasan dari tanah tersebut. Sehingga, dengan adanya percobaan permeabilitas yang menghasilkan nilai koefisien permeabilitas tanah, kita dapat memperkirakan bagaimana rembesan yang terjadi pada bendungan tersebut. Tentunya, tanah dengan angka permeabilitas yang tinggi akan menyebabkan rembesan yang terjadi tinggi pula dan sebaliknya. Disamping itu, nilai koefisien permeabilitas dari suatu tanah juga dapat digunakan dalam menentukan besarnya debit aliran air rembesan. Meskipun saat dilapangan, pengujian untuk mencari nilai koefisien permeabilitas tanah memiliki perbedaan dari yang dilakukan di laboratorium. Kegunaan lain dari percobaan ini adalah saat kita hendak menyelidiki karakteristik dari suatu tanah yang kemungkinan akan digunakan sebagai landasan suatu bangunan. Dengan melakukan percobaan

permeabilitas dan hasil akhir berupa nilai koefisien permeabilitas, kita dapat memprediksi sifat kerembesan dari tanah tersebut jika dilewati oleh air. Hal ini penting untuk diketahui, karena nantinya akan berpengaruh terhadap bentuk dan struktu bangunan seperti apa yang cocok dibangun diatas tanah tersebut.

5. KESIMPULAN Setelah melakuka percobaan, maka diperolehlah beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Tujuan dari percobaan permeabilitas berupa mencari nilai koefisien permeabilitas (k) tercapai 2. Nilai koefisien permeabilitas yang dihasilkan dari percobaan adalah sebagai berikut: K29 (m/s) 4,062 105 K20 (m/s) 3,306 105

3. Berdasarkan nilai koefisien permeabilitas yang didapat, maka dapat disimpulkan bahwa tanah uji termasuk dalam golongan campuran pasir/pasir halus dan sifat dominan kepermeabilitasan dari sampel tanah yang digunakan adalah dari pasir 4. Pada percobaan ini, masih ditemui beberapa kesalahan baik yang berasal dari praktikan ataupun alat yang digunakan 5. Aplikasi dari percobaan permeabilitas antara lain dalam pembangunan bendungan, timbunan, dan rembesan dari suatu tanah.

6. REFERENSI Modul I praktikum mekanika tanah.Departemen Teknik Sipil UI: 2012. Budhu, M.Soil Mechanics and foundations 3rd Edition.John Wiley & Sons, Inc.United States of America : 2010.

7. LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai