Anda di halaman 1dari 24

CBD TUNGGAL SEORANG ANAK DENGAN KEJANG DEMAM SIMPLEKS DAN STATUS GIZI BAIK

Pembimbing : dr. Hartono, Sp.A dr. Slamet Widi, Sp.A dr. Z. Hidajati, Sp.A dr. Lilia Dewiyanti, Sp.A

Disusun oleh : Nurdila Rahmayani (01.208.5739)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

2013 LAPORAN KASUS A. IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis Kelamin Pendidikan Agama Suku Alamat Nama Ayah Umur Pekerjaan Pendidikan Nama Ibu Umur Pekerjaan Pendidikan Bangsal No CM Masuk RS : Ny. S : 25 tahun : Ibu rumah tangga : SMA : Parikesit : 22.51.91 : 10 Maret 2013 : Islam : Jawa : Sendangguwo, Tembalang : Tn. A : 28 tahun : Buruh : SMA : An. FS : 1 tahun 4 bulan : Laki-laki :-

B. DATA DASAR 1. Anamnesis Alloanamnesis dengan ibu penderita dilakukan pada tanggal 11 Maret 2013 pukul 14.00 WIB di ruang Parikesit dan didukung dengan catatan medis.
2

Keluhan Utama Keluhan Tambahan

: Kejang : Demam, batuk, pilek

Riwayat Penyakit Sekarang : Sebelum masuk rumah sakit :

5 hari SMRS pasien mengeluh demam semlenget, demam

dirasakan terus menerus. Selain itu pasien juga batuk dan pilek. Oleh orangtua dibawa ke klinik 24 jam lalu diberi obat dan sembuh. Namun, demam muncul lagi. Buang air besar dan buang air kecil lancar, anak tidak rewel saat buang air kecil maupun besar. Anak tidak mual dan muntah, nafsu makan dan minum baik, anak tidak kehausan.

1 hari SMRS pukul 07.00 anak demam tinggi disertai

kejang. Anak mengalami kejang selama < 15 menit ( 3 menit), kelojotan dengan mata melirik ke atas, mulut tertutup rapat, tidak berbusa, saat kejang pasien tidak sadar, setelah kejang pasien sadar lalu menangis. Keluarga pasien segera membawa pasien ke RSUD Kota Semarang dan sesampainya di IGD pasien sempat kejang sekali selama 3 menit dengan kondisi sama seperti kejang sebelumnya, suhu 39,80C dan oleh dokter jaga disarankan untuk mondok.

Ibu pasien menyangkal pasien menderita batuk > 3 minggu

dan demam > 2 minggu, berat badan anak selalu naik, nafsu makan baik.

Ibu pasien menyangkal adanya mimisan, gusi berdarah, dan Ibu pasien mengatakan pasien tidak pernah mengalami Ibu pasien mengatakan pasien tidak pernah mengalami luka

munculnya bintik-bintik merah di kulit pasien. benturan keras di kepala. tusuk besi kotor maupun luka kotor akibat terjatuh.

Riwayat keluar cairan dari telinga yang didahului panas juga

disangkal. Setelah masuk rumah sakit :

1 hari setelah masuk rumah sakit, pasien masih mengeluh

badan teraba hangat, batuk, dan pilek. Kejang sudah tidak dialami pasien. Buang air kecil dan besar masih seperti biasa. Nafsu makan dan minum baik. Riwayat Penyakit Dahulu : Penyakit Diare DBD Batuk Kejang Malaria Pernah/Tidak Disangkal Disangkal Pernah Disangkal Disangkal Penyakit TBC Alergi Trauma Operasi Lain-lain Pernah/Tidak Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal Disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


Di keluarga tidak ada yang pernah sakit seperti ini. Riwayat penyakit epilepsi disangkal.

Riwayat Persalinan dan Kehamilan : Anak laki lahir dari ibu usia 24 tahun G1P0A0, hamil 39 minggu, lahir secara spontan. Persalinan ditolong oleh bidan, anak lahir langsung menangis, berat badan lahir 3200 gram. Panjang badan 49 cm, lingkar kepala saat lahir ibu lupa, lingkar dada saat lahir ibu juga lupa. Kesan : neonatus aterm, vigorous baby, lahir secara spontan. Riwayat Pemeliharaan Prenatal : Ibu biasa memeriksakan kandungannya secara teratur ke bidan 2x setiap bulan sampai usia kehamilan 8 bulan. Setelah > 8 bulan ibu memeriksakan kehamilan 1x dalam 2 minggu. Selama hamil ibu mengaku mendapat imunisasi TT 2x di bidan. Tidak pernah menderita penyakit selama kehamilan. Riwayat perdarahan saat hamil disangkal. Riwayat trauma saat
4

hamil disangkal. Riwayat minum obat tanpa resep dokter ataupun minum jamu disangkal. Obatobat yang diminum selama kehamilan adalah vitamin dan tablet penambah darah. Kesan : riwayat pemeliharaan prenatal baik. Riwayat Pemeliharaan Postnatal : Pemeliharaan postnatal dilakukan di Bidan. Kesan : riwayat pemeliharaan postnatal baik. Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Pertumbuhan : Berat badan lahir 3200 gram, panjang badan 49 cm, berat badan sekarang 10 kg, panjang badan sekarang 76 cm. Perkembangan : Senyum Miring Tengkurap Duduk Merangkak Berdiri Berjalan Berlari Bicara Melompat : 2 bulan : 3 bulan : 4 bulan : 6 bulan : 6 bulan : 10 bulan : 1 tahun : 1 tahun : 1 tahun : 1 tahun

Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan umur.

Riwayat Makan dan Minum Anak : Ibu mengaku anak masih diberi ASI sampai sekarang usia 16 bulan. Anak mendapat ASI ekslusif sampai umur 6 bulan. Setelah usia 6 bulan ibu memberi ASI dan bubur susu. Mulai usia 12 bulan, anak diberi nasi dan sayur sop serta lauk (ikan, telur, tempe, tahu, dll). Kesan : Kualitas dan kuantitas makanan dan minum baik. Riwayat Imunisasi : BCG DPT Polio Hepatitis Campak Kesan : 1 x (umur 1 minggu, scar di lengan kanan atas) : 2 x (umur 2 bulan dan 4 bulan) : 2 x (saat lahir dan umur 4 bulan) : 2 x (saat lahir dan umur 4 bulan) : 1 x (umur 9 bulan) : Imunisasi dasar tidak sesuai jadwal pada KMS

Riwayat Keluarga Berencana : Ibu mengikuti program KB suntik setiap 3 bulan sekali. Riwayat Sosial Ekonomi : Ayah pasien bekerja sebagai buruh sedangkan Ibu pasien adalah ibu rumah tangga. Menanggung 1 orang anak. Biaya pengobatan menggunakan Jamkesmas. Kesan: sosial ekonomi kurang.

Data Keluarga : Perkawinan ke Umur saat menikah Agama Pendidikan terakhir Keadaan kesehatan Data Perumahan : Kepemilikan rumah : rumah sendiri Keadaan rumah : dinding rumah tembok, 2 kamar tidur, tiap kamar terdapat jendela dan lubang ventilasi, 1 kamar mandi, 1 ruang tamu, 1 dapur. Limbah dibuang ke selokan sekitar. Sumber air minum adalah air tanah yang direbus sendiri, sumber air untuk mencuci juga dari air tanah. Keadaan lingkungan : jarak antar rumah berdekatan kurang lebih setengah meter. Ayah 1 25 th Islam SMA Sehat Ibu 1 22 th Islam SMA Sehat

2. Pemeriksaan Fisik Tanggal 11 Maret 2013 pukul 14.00 WIB. Anak laki-laki, usia 1 tahun 4 bulan, berat badan 10 kg, panjang badan 76 cm. Keadaan umum : composmentis, tampak sakit sedang, kesan gizi baik, kejang (-) Tanda vital :
Tekanan darah HR (Nadi) RR (Laju Nafas) Suhu

: tidak dilakukan : 120x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup : 48x/menit, reguler : 37,5 o C (axilla)

Status Internus
Kepala

: mesocephale, ubun-ubun besar cekung (-)

Rambut Mata

: hitam, terdistribusi merata : mata cowong -/-, pupil isokor +/+, konjungtiva : sekret -/- , nafas cuping hidung -/-, mukosa : discharge -/: bibir kering (-) , bibir sianosis (-) , trismus (-) : tonsil T1/T1, mukosa faring hiperemis (+), detritus : tidak ada pembesaran KGB : Jantung

anemis -/-, sklera ikterik -/-, edema palpebra -/ Hidung

hiperemis +/+
Telinga Mulut Tenggorokan

(-), granulasi (-)


Leher Thoraks

Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Paru - paru

: ictus cordis tidak tampak : ictus cordis teraba di ICS V 1 cm medial : batas jantung sulit ditentukan : bunyi jantung I-II reguler, murmur (-),

linea midclavicula sinistra o

gallop (-)

Inspeksi

: pergerakan dinding dada simetris saat

inspirasi dan ekspirasi, retraksi (-) Palpasi : tidak dilakukan Perkusi Auskultasi : sonor di seluruh paru : suara napas vesikuler di seluruh lapang

paru, rhonki -/-, wheezing -/ Abdomen

Inspeksi Auskultasi Perkusi

: datar : bising usus (+) normal : timpani di seluruh kuadran, nyeri ketok sudut

costovertebra -/-

Palpasi

: supel, turgor kembali cepat, hepar dan lien tidak : laki- laki, phimosis (-) : dalam batas normal, hiperemis (-) Superior -/-/-/<2 Inferior -/-/-/<2

teraba, nyeri tekan suprapubik (-) , nyeri tekan (-)


Alat kelamin Anorektal Ekstremitas :

Akral dingin Akral sianosis Oedem CRT Pemeriksaan Neurologis -

Pemeriksaan Refleks Fisiologis : o Bisep (+) o Trisep (+) o Patella (+) o Achiles (+)

Pemeriksaan Refleks Patologis : o Babinski (-) o Cadock (-) o Gordon (-) o Openheim (-)

Pemeriksaan Rangsang Meningeal o Kaku kuduk : (-) tidak terdapat tahanan


o

Brudzinsky I : (-) kedua tungkai tidak fleksi

o Brudzinsky II : (-) tungkai lain tidak fleksi


o

Kernig : (-) sudut > 135 0, tidak nyeri dan tidak terdapat hambatan

3. Pemeriksaan Penunjang

Darah rutin tanggal 10 Maret 2013 Hb : 9,9 g/dl

Ht Leukosit Trombosit

: 31,10 % : 8500/uL : 376.000/uL

4. Pemeriksaan Khusus Data Antropometri : Anak laki-laki, usia 16 bulan Berat badan : 10 kg Panjang badan : 76 cm Pemeriksaan status gizi (Z score) : WAZ = BB median = 10-11,1 = -0.9 (Normal) SD SD SD 1,20 3,00 0,8 HAZ = TB median = 76 80,4 = -1,4 (Normal) WHZ = BB median = 10 10,2 = -0,25 (Normal) Kesan : status gizi baik dan perawakan normal seusianya. C. RESUME Telah diperiksa seorang bayi laki-laki usia 16 bulan dengan berat badan 10 kg dan tinggi badan 76 cm. Keluhan utama kejang dengan durasi 2 menit, kelojotan dengan mata melirik ke atas, mulut tertutup rapat, tidak berbusa dan pasien tidak sadar selama kejang. Setelah kejang pasien sadar dan mengantuk. Keluhan disertai batuk pilek sejak 5 hari SMRS. Riwayat terbentur di kepala disangkal. Riwayat tertusuk benda tajam dan kotor disangkal, luka kotor akibat jatuh disangkal. Riwayat keluar cairan dari telinga yang didahului panas juga disangkal. Pada pemeriksaan fisik didapat: Keadaan Umum : compos mentis, tampak sakit sedang, kesan gizi baik, tidak terdapat tanda-tanda dehidrasi.

Tanda Vital
Tekanan darah HR (Nadi) RR (Laju Nafas) Suhu

: : tidak dilakukan : 120x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup : 48x/menit, reguler : 37.5 o C (axilla) : dalam batas normal : : dalam batas normal : (-) : (-) : : 10 Maret 2013 9,9 g/dl 31,10 % 8500/ul 376.000/ul

Status Internus Pemeriksaan Neurologis


Refleks fisiologis Refleks patologis Rangsang meningeal

Pemeriksaan Penunjang didapat Darah Rutin

Hb Ht Leukosit Trombosit

Pemeriksaan Khusus didapat

: Status gizi baik

D. DIAGNOSIS BANDING Observasi kejang o Cerebral Akut sesaat Infeksi

o Ekstrakranial
o

Kejang demam simpleks Kejang demam kompleks

Intrakranial Meningitis Ensefalitis Meningoensefalitis

o Non cerebral

Gangguan elektrolit Gangguan metabolik Gangguan kardiovaskular Keracunan

Kronik berulang Epilepsi

Tetanus, Tetani

ISPA o Atas o Bawah BRPN Bronkiolitis Pneumonia Faringitis Tonsillitis Sinusitis Rhinitis

I. II.

Status Gizi Baik KDS Faringitis

E. DIAGNOSIS SEMENTARA

III.

Status gizi baik

F. TERAPI (MEDIKAMENTOSA dan DIETETIK)

Tx/

: O2 2-4 lpm (bila perlu) Infus RL 10 tpm Injeksi cefotaxim 3 x 250 mg iv Injeksi dexametason 2 x 1/3 amp (selama 2 hari) Injeksi diazepam 0,3 mg (iv) prn (bila kejang)

PO Diet

: Diazepam 5 mg PCT syr 3 x 3/4 cth : ASI, makan dan minum seperti biasa sama seperti sebelum anak sakit BBI Kalori Protein : 10,6 Kg : 1030 kkal/ hari : 21,2 g/ hari

Program

: Evaluasi KU, TTV, pantau kejang berulang

G. PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad sanam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

Quo ad fungsionam : dubia ad bonam H. USULAN Cek darah rutin ulang GDS Pemeriksaan elektrolit : Na, K, Ca, Mg Pemeriksaan EEG (atas indikasi) Pemeriksaan lumbal pungsi (atas indikasi)

I. NASEHAT Di rumah sakit :

Tirah baring Minum obat teratur. Di rumah :

Bila anak sakit, segera periksa ke pelayanan kesehatan terdekat Sedia obat penurun panas di rumah Sedia termometer dan obat anti kejang (diazepam) per rektal Bila anak demam, segera beri obat penurun panas dan dikompres dengan air biasa, di bagian lipat paha dan lipat ketiak. Jika menggigil kompres dengan air hangat.

Bila anak kejang, jangan panik, longgarkan pakaian anak, beri diazepam melalui dubur anak dengan posisi anak terlentang miring, bila tidak berhenti segera dibawa ke rumah sakit terdekat

TINJAUAN PUSTAKA

Kejang Demam Definisi Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan-5 tahun. Menurut ILAE, Commission on Epidemiology and Prognosis Epilepsi anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian mengalami kejang demam tidak termasuk dalam kejang demam dan kejang disertai demam yang terjadi pada bayi berumur kurang dari 1 bulan juga tidak termasuk dalam kejang demam. Saraf Anak sepakat bahwa anak yang berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang yang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. Manifestasi Klinis Bangkitan kejang pada bayi dan anak-anak sering terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, biasanya berkembang bila suhu tubuh mencapai 39C atau lebih, disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat (ISPA, OMA, dll). Serangan kejang biasanya terjadi 24 jam pertama sewaktu demam. Kejang dapat bersifat tonik-klonik, tonik, klonik, fokal, atau akinetik. Berlangsung singkat beberapa detik sampai 10 menit, diikuti periode mengantuk singkat pasca kejang. Kejang demam yang menetap lebih dari 15 menit menunjukkan adanya penyebab organik seperti infeksi atau toksik dan memerlukan pengamatan menyeluruh. Patofisiologi Sel dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam (lipid) dan permukaan luar (ion). Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dengan mudah dilalui oleh ion Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium (Na+) dan elektrolit lainnya kecuali Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi ion K dalam sel neuron tinggi dan ion Na rendah. Karena perbedaan jenis dan

konsentrasi ion di dalam dan luar sel maka terdapat potensial membran sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya: - Perubahan konsentrasi ion di ekstraseluler. - Rangsangan mendadak berupa mekanis, kimiawi, atau aliran listrik dari sekitarnya. - Perubahan patofisiologi dari membran sendiri dari penyakit atau keturunan.

Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1C akan menaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak

berusia 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu, dapat terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron,dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi ion K maupun Na melalui membran. Perpindahan ini mengakibatkan lepas muatan listrik yang besar, sehingga meluas ke membran sel lain melalui neurotransmitter, dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38C. Pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40C. Terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada anak dengan ambang kejang yang rendah, sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada suhu berapa penderita kejang.

Klasifikasi Kejang Demam

Unit Kerja Koordinasi Neurologi IDAI 2006 membuat klasifikasi kejang demam pada anak menjadi :
a.

Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile Seizure) merupakan 80% di antara seluruh kejang demam.

Kejang demam berlangsung singkat Durasi kurang dari 15 menit Kejang dapat umum, tonik, dan atau klonik Umumnya akan berhenti sendiri. Tanpa gerakan fokal. Tidak berulang dalam 24 jam Kejang lama dengan durasi lebih dari 15 menit. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial. Berulang lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

b. Kejang Demam Kompleks (Complex Febrile Seizure)

Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam. Selain klasifikasi diatas, terdapat juga klasifikasi lain, yaitu klasifikasi Livingston. Klasifikasi ini dibuat karena jika anak kejang maka akan timbul pertanyaan, dapatkah diramalkan dari sifat dan gejala mana yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita epilepsi. Livingston (1954) membagi kejang demam atas 2 golongan :
1. Kejang demam sederhana (simple febrile convulsion) 2. Epilepsi yang diprovokasi oleh demam (epilepsy triggered off by fever)

Modifikasi Livingston diatas dibuat untuk diagnosis kejang demam sederhana adalah: 1. Umur anak ketika kejang adalah 6 bulan dan 4 tahun 2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit 3. Kejang bersifat umum

4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam 5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal 6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan 7. Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali. Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteria modifikasi Livingston diatas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Kejang kelompok kedua ini memiliki kelainan yang menyebabkan timbulnya kejang, sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetus saja. Langkah Diagnostik Dari anamnesis yang harus ditanyakan adalah adanya kejang, kesadaran, lama kejang, suhu sebelum/ saat kejang, frekuensi, interval, keadaan pasca kejang, penyebab demam di luar susunan saraf pusat. Riwayat perkembangan anak, riwayat kejang demam dalam keluarga, epilepsi dalam keluarga. Pertanyaan juga harus menyingkirkan penyebab kejang lainnya, misalnya tetanus. Pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah kesadaran, suhu tubuh, tanda rangsang meningeal, refleks patologis, tanda peningkatan tekanan intrakranial, tanda infeksi di luar SSP. Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab kejang demam, di antaranya : a)
b)

Pemeriksaan darah tepi lengkap, gula darah, elektrolit, kalsium serum, urinalisis, biakan darah, urin atau feses. Pungsi lumbal sangat dianjurkan pada anak berusia di bawah 12 bulan, dianjurkan pada anak usia 12-18 bulan, dan dipertimbangkan pada anak di atas 18 bulan yang dicurigai menderita meningitis. Pemeriksaan ini pada KDS masih kontroversial karena masih belum ditemukan keefektifannya.

c)

Foto X-ray dan pencitraan seperti CT -Scan atau MRI diindikasikan pada keadaan riwayat atau tanda klinis trauma, kemungkinan lesi struktural otak (mikrocephal, spastik), adanya tanda peningkatan tekanan intrakranial,

adanya kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis), paresis N.VI, dan papiledema..
d) EEG dipertimbangkan pada kejang demam yang tidak khas. Misalnya kejang

demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal. Terapi Algoritma Penghentian Kejang Demam Kejang Diazepam rektal 0,5 mg/kgBB Boleh diulang setelah 5 menit Kejang (Ke RS) Diazepam IV 0,3-0,5 mg/kgBB

Kejang Fenitoin IV 10-20 mg/kgBB dengan kecepatan 1mg/kg/menit

Kejang berhenti Lanjutkan dengan dosis 4-8 mg/kg/hari dimulai 12 jam setelah dosis awal

Kejang tidak berhenti Rawat ICU

Jika pasien datang dalam keadaan kejang, berikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit dengan dosis maksimal 20 mg. Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua dirumah adalah diazepam rektal dengan dosis 0,50,75 mg/kg atau diazepam rektal untuk anak dengan berat badan kurang dari 10kg dan 10 mg untuk anak dengan berat badan lebih dari 10 kg. Atau diazpam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak dibawah 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak diatas usia 3 tahun.

Bila pada pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, diazepam dapat diberikan lagi dengan interval 5 menit. Bila masih gagal dianjurkan ke RS dan diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg. Bila masih belum berhenti berikan fenitoin secara IV dengan dosis awal 10-20 mg/kg/ kali dengan kecepatan 1mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/ hari dimulai 12 jam setelah dosis awal. Bila belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif. Bila kejang berhenti, tentukan apakah anak termasuk dalam kejang demam yang memerlukan pengobatan rumatan atau hanya memerlukan pengobatan intermiten bila demam. Pengobatan rumatan adalah pengobatan yang diberikan terus menerus untuk waktu yang cukup lama, yaitu 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan. Pengobtan rumatan diberikan bila kejang demam menunjukkan salah satu atau lebih gejala berikut : kejang lama >15 menit anak mengalami kelainan neurologis yang nyata sebelum dan sesudah kejang misalnya hemiparesis, Cerebral Palsy, retardasi mental. Kejang fokal Bila ada keluarga sekandung atau orang tua yang mengalami epilepsi Pengobatan rumatan dipertimbangkan bila:
-

Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam Kejang demam yang terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan Kejang demam 4 kali pertahun.

Pengobatan rumatan yang diberikan adalah: Asam valproate 15-40 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis atau fenobarbital 34 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis. Pengobatan intermiten adalah pengobatan yang diberikan pada saat anak mengalami demam, untuk mencegah terjadinya kejang demam. Terdiri dari pemberian antipiretik ( parasetamol 10-15 mg/kgBB/ kali diberikan 4 kali sehariatau ibuprofen 5-10 mg/kgBB/kali diberikan 3-4 kali) dan antikonvulsan (diazepam oral 0,3mg/kgBB setiap 8 jam pada saat demam atau diazepam rektal 0,5 mg/kgBB setiap 8 jam pada suhu >38,5 C).

Tatalaksana di Emergensi :

Komplikasi Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lebih lama (>15 menit) biasanya disertai apnoe, hipoksemia, hiperkapnea, asidosis laktat, hipotensi artrial, suhu tubuh makin meningkat, metabolisme otak meningkat. Prognosis Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang awalnya normal. Kejang demam dapat berulang di kemudian hari atau dapat berkembang menjadi epilepsi di kemudian hari. Faktor resiko berulangnya kejang pada kejang demam adalah:

a. Riwayat kejang demam dalam keluarga. b. Usia di bawah 12 bulan. c. Suhu tubuh saat kejang yang rendah. d. cepatnya kejang setelah demam Faktor resiko terjadinya epilepsi di kemudian hari adalah: a. kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama. b. Kejang demam kompleks. c. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung. Edukasi pada Orang Tua Sebagai seorang dokter sebaiknya kita mengurangi kecemasan orang tua dengan cara : - Menyakinkan bahwa kejang demam umumnya memiliki prognosis yang baik - Memberitahukan cara penangan kejang - Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali - Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek samping obat. Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang 1. 2. 3. Tetap tenang dan tidak panik Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah trgigit, jangan memasukkan sesuatu kedalam mulut. 4. 5. 6. 7. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang. Tetap bersama pasien selama kejang Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti Bawa kedokter atau Rumah Sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih

DAFTAR PUSTAKA 1. Soetomenggolo, Buku ajar neurologi, 1999, Ismael S. KPPIK-XI, 1983;
2. http://www.infokedokteran.com/info-obat/diagnosis-dan-penatalaksanaan-

pada-disentri-basiler.html 3. Provisional commission on epidemiology and prognosis. Epilepsia 1993;34;592-74 4. Konsensus Penanganan Kejang Demam, Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005 5. Knudsen, Febrile seizures-treatment and outcome. Epilepsia 2000;41;2-9 6. Sodium valproate, Phenobarbital and placebo. Neuropediatrics 1984;15;37-42