Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KEGIATAN LUAR DOKTER MUDA PSIKIATRI

KUNJUNGAN RUMAH

Oleh: Ni Luh Gede Sundhias Larashati (0802005086)

Pembimbing: dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, Sp.KJ

DALAM RANGKA MENJALANI KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI BAGIAN / SMF PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNUD / RSUP SANGLAH DENPASAR

2013 LAPORAN KEGIATAN LUAR DOKTER MUDA PSIKIATRI KUNJUNGAN RUMAH

Tanggal Kegiatan Pembimbing Dokter Muda Identitas Pasien Nama Pasien Jenis Kelamin Umur Alamat Tingkat Pendidikan Status Perkawinan Pekerjaan Agama Suku / Bangsa Diagnosis Rawat Jalan Alergi Tanggal Kunjungan

: 26 Januari 2013 : dr. Anak Ayu Sri Wahyuni, Sp.KJ : Ni Luh Gede Sundhias Larashati (0802005086)

: IBK : Laki-laki : 38 tahun : Jl. Gunung Bukit Tunggal No 55 Denpasar : Tamat SMA : Belum menikah : Tidak Bekerja : Hindu : Bali / Indonesia : Skizofrenia Hebefrenik (F.20.1) : 22 Januari 2013 : Tidak ada : 26 Januari 2013

Riwayat Sakit Pasien menjalani rawat jalan di RSUD Wangaya Denpasar. Pasien datang kontrol ke Poli Psikiatri RSUD Wangaya jika obat habis, saat itu pada tanggal 22 Januari 2012. Saat diwawancara di poli jiwa, pasien dalam posisi duduk di atas kursi dengan menggunakan baju kaos berwarna abu-abu dan celana pendek berwarna hitam

dan tampak kotor serta rambut tak disisir rapi. Roman mukanya tampak kekanakkanakan, dengan tinggi badan lebih kurang 175 cm. Pasien mampu menyebutkan nama, waktu, tempat, dan siapa yang mengantar ke rumah sakit. Pasien mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak ada keluhan, serta pikirannya biasa saja. Saat ditanya bagaimana perasaannya, pasien hanya menyahut biasa saja. Kemudian setelah diukur tekanan darahnya, pasien kemudian bertanya apakah perutnya bisa diukur tensi? Mengapa pasien ingin diukur tensi perutnya, dijawab niki nak wenten sekadi senjata mepuser driki sambil menunjuk perutnya. Pasien mengaku tidur seperti biasa, mulai tidur sekitar pukul 21.00 WITA bangun pukul 06.00 WITA. Makan dikatakan seperti biasa, 3 kali sehari. Pasien mengatakan mandi 1 x sehari pada sore hari saja. Saat kunjungan rumah, Ibu pasien mengatakan bahwa pertama kali pasien menunjukkan gejala yaitu pada saat pasien baru tamat SMA. Saat itu pasien mencoba-coba menggunakan obat yang diberikan oleh temannya, ibunya tidak mengetahui jenis obat tersebut. Saat itu dikatakan tiba-tiba pasien seperti tidak sadarkan diri dan ketika sadar pasien dikatakan mengamuk, menghancurkan barangbarang di rumah. Pasien dikatakan melihat leluhurnya saat itu. Pasien kemudian diajak berobat ke pengobatan tradisional, hingga sudah berobat ke seluruh Bali bahkan sampai ke Lombok, tetapi keadaan pasien tidak kembali normal. Pasien sudah berobat ke dokter spesialis saraf dan spesialis jiwa. Pada tahun 2006 pasien pertama kali dibawa ke RSJ Bangli karena orang tuanya sudah tidak bisa menanganinya di rumah. Sejak saat itu dikatakan sudah 6 kali keluar masuk RSJ Bangli. Setiap kali kambuh dikatakan gejalanya sama yaitu mengamuk, mengomel-ngomel, dan berkeliaran. Terakhir pasien dirawat sekitar bulan Agustus tahun 2012 dan diijinkan pulang pada awal September. Setelah itu pasien melanjutkan pengobatan di RSUD Wangaya. Di sana diberikan suntikan tiap bulan dan obat minum dua macam, yaitu obat berwarna oranye diminum pagi dan sore, serta obat berwarna putih kecil diminum pagi saja. Selama minum obat, dikatakan pasien bisa tenang seperti sekarang ini.

Riwayat keluarga yang memiliki gangguan atau keluhan yang sama dikatakan ada yaitu saudara laki-laki nenek dari pihak ayah. Riwayat sakit lain seperti sakit jantung, diabetes, dan sesak nafas disangkal. Pasien tidak pernah mengalami trauma kepala. Pasien merokok kurang lebih 2 bungkus sehari, minum kopi 1-2 gelas per hari, penggunaan obat-obatan lain di luar yang diberikan dokter disangkal.

Hasil Kunjungan Rumah Kunjungan rumah dilakukan pada hari Sabtu, 26 Januari 2013 di rumah kediaman pasien di Jl. Gunung Bukit Tunggal No 55 Denpasar. Satu hari sebelumnya saya menelepon untuk membuat janji untuk mengunjungi rumah pasien. Saya tiba di kediaman pasien pukul 15.00 wita. Saat sampai di depan rumah pasien, saya langsung dihampiri dan disambut oleh ibu pasien yang kebetulan sedang mempersiapkan banten karena hari itu bertepatan dengan hari raya Tumpek Landep. Pada saat kunjungan, keluarga yang sedang berada di rumah adalah pasien, ibu pasien dan ayah pasien. Kemudian saya dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu, dimana saat itu saya disambut oleh ayah pasien di dalam rumah yang juga sedang bersiap-siap untuk memulai persembahyangan. Ibu pasien kemudian memanggil pasien dan pasien pun muncul dari kamar tidur yang letaknya di belakang ruang tamu tersebut dan saya disambut hangat. Saya bersama pasien yang ditemani kedua orang tuanya kemudian melakukan obrolan santai di ruang tamu. Pertama-tama saya kembali memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kunjungan yaitu untuk mengetahui bagimana kondisi lingkungan tempat tinggal, lingkungan sosial dan aktivitas sehari-hari pasien di rumah. Saya memulai wawancara dengan menanyakan kabar dan perasaan pasien. Pasien menjawab dengan sambil tersenyum bahwa perasaannya saat itu biasa, dan kabarnya baik-baik saja hanya saja pasien mengatakan masih ada senjata yang berputar dalam perutnya. Makan, minum, dan tidur pasien pun dikatakan baik. Saat mengobrol tersebut pasien bercerita sambil merokok dan bila rokok sudah habis pasien selalu menyulut rokok baru.

Saya kemudian mencoba menanyakan riwayat gangguan yang dialami. Pasien mengatakan dulu pernah dirawat di Bangli. Saat ditanya mengapa pasien bisa dirawat di sana, dikatakan tidak tahu. Pasien merasa dirinya sehat-sehat saja, tidak ada keluhan. Selama wawancara, pasien hanya menjawab seperlunya dari apa yang ditanya, bersemangat bercerita panjang lebar mengenai banyak hal, misalnya tentang dimana bersekolah dahulu dan tentang orang-orang yang dikenalnya. Cerita pasien tidak putus-putus dan antara satu kalimat dengan kalimat berikutnya tidak nyambung. Saat ditanya tentang senjata yang beputar di perutnya, pasien mengatakan hal tersebut adalah pemberian dari Dewa Siwa, ketika ditentang pernyataannya, pasien hanya tertawa. Saya kemudian bertanya kepada ibu pasien, dibenarkan bahwa percakapan pasien memang sering tidak nyambung. Jika ada teman mengobrol, pasien tidak henti-hentinya bicara. Dikatakan oleh ibunya pasien masih sering menyebut-nyebut tentang senjata dewa Siwa. Sejak terakhir pulang dari RSJ, dikatakan keadaan pasien tetap seperti ini saja, dikatakan tidak pernah mengamuk lagi. Selama dilakukan wawancara dengan ibunya, pasien tampak mondar-mandir keluar masuk ruang tamu. Kegiatan yang biasa dilakukan pasien di rumah hanya megambel dan membantu pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan kamarnya, kamar mandi, dan mencuci bajunya sendiri. Pada pagi hari saat baru bangun tidur pasien selalu memulai kegiatan dengan sarapan, minum kopi, dan merokok kemudian mengatakan sering berkunjung ke rumah tetangga-tetangganya untuk mencari teman mengobrol. Merokok memang sudah mulai sejak masih sekolah di SMA. Saat ditanyakan mengapa pasien merokok, dikatakan memang dulu karena teman-temannya juga merokok. Sehari bisa menghabiskan kurang lebih 2 bungkus rokok. Pasien biasanya membeli rokok tersebut dengan meminta uang dari ibu atau ayahnya. Pasien akan meminta uang sedikit untuk membeli beberapa batang, kemudian setelah habis akan meminta lagi. Ibu dan ayah sudah berusaha menghentikan kebiasaan merokoknya dengan memberikan permen sebagai pengganti rokok, tetapi malah permennya habis, rokok tetap harus ada.

Lingkungan Keluarga Pasien dan keluarganya hidup berkecukupan. Pasien tinggal bersama dengan ibu dan ayahnya. Tinggal di bangunan rumah di belakang kawasan rumah keluarga, adalah kakak kedua pasien dan keluarganya. Pasien merupakan anak kelima dari lima bersaudara. Ia memiliki satu kakak perempuan yang sekarang sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Tabanan. Ketiga saudara lainnya yaitu kakak laki-laki yang semuanya sudah bekerja dan sudah menikah. Hubungan pasien dengan saudarasaudaranya dikatakan baik, tidak pernah ada masalah. Saudara-saudaranyapun dikatakan mendukung pengobatan pasien misalnya dengan mengantar pasien berobat jika orang tuanya tidak bisa mengantar. Pasien dikatakan bahwa ia lahir normal. Pasien dikatakan tidak pernah mengalami sakit seperti kejang demam, radang otak, kencing manis, hepatitis, atau asma sejak lahir hingga saat ini. Ayah pasien sudah tidak bekerja, sedangkan ibu pensiunan pegawai negeri. Ibu pasien mengatakan merasa berat jika harus melanjutkan pengobatannya dengan mengeluarkan uang sendiri karena pengobatannya harus lama, sehingga pasien menggunakan Jaminan Kesehatan Bali Mandara. Pasien dikatakan tidak pernah ada masalah dengan orang tua maupun saudarasaudaranya. Jika ada masalah kecil pasien dikatakan selalu memendam sendiri dan tidak mengutarakannya. Orang tua pasien terutama ibu selalu memperhatikan keadaan pasien, mengingatkan minum obat dan teratur mengajak pasien berobat ke poliklinik jiwa RSUD Wangaya.

Silsilah Keluarga
3 1 2 4 5 6 7 8

1 9 0 0

11

1 2

13

14

15

16

1 7

1 8

1 9

20

21

22

23

Keterangan

; Laki-laki Perempuan Mengalami gangguan jiwa Meninggal

1 2 3 4

= Saudara laki-laki kakek dari pihak ibu = Kakek dari pihak ibu = Saudara laki-laki kakek dari pihak ibu = Nenek dari pihak ibu
7

5 6 7 8 9

= Saudara laki-laki nenek dari pihak ibu = Kakek dari pihak ayah = Nenek dari pihak ayah = Saudara laki-laki nenek dari pihak ayah = Bibi

10 = Ibu 11 = Paman 12 = Bibi 13 = Paman 14 = Paman 15 = Ayah 16 = Paman 17 = Bibi 18 = Bibi 19 = Kakak 20 = Kakak 21 = Kakak

22 = Kakak 23 = Pasien

Lingkungan Sosial Pasien mengatakan mengenal tetangga di sekitar rumahnya karena pasien sudah tinggal di rumahnya sejak kecil. Hubungan pasien dengan tetangganya dikatakan

baik, karena sebagian besar tetangganya sudah mengetahui keadaan pasien sejak mulai sakit dan pasien dikatakan tidak pernah membuat masalah dengan tetangganya. Dikatakan oleh ibunya, tetangga-tetangga sudah mengetahui kondisi yang dialami pasien dan mau menerima apa adanya. Mereka pun tidak takut maupun canggung berinteraksi dengan anaknya. Saya sempat melakukan wawancara singkat dengan tetangga pasien yang kebetulan sedang berjualan canang di depan rumah. Pada saat saya tanya, dikatakan mengenal dan mengetahui kondisi pasien.

Lingkungan Rumah Pasien dan keluarganya tinggal di sebuah rumah yang bisa dikatakan bagus, berupa bangunan permanen, yang terdiri dari satu ruang tamu, lima kamar tidur, dan dua kamar mandi. Di seberang bangunan utama, terdapat bale dangin, dan di belakang kawasan rumah tersebut dikatakan masih terdapat bangunan rumah yang digunakan oleh kakak laki-laki kedua pasien, tetapi saya tidak diijinkan melihat kesana. Pada saat itu, terdapat dua buah mobil dan satu sepeda motor yang terparkir di halaman rumah pasien. Di sekitar rumah pasien sudah banyak terdapat bangunan. Di sebelah kiri rumah pasien terdapat mini market di mana pasien sering membeli rokok. Di depan rumah pasien terdapat kantor PLN dimana dikatakan keluarga yang tinggal di rumah dinas di kantor tersebut sangat ramah dan sering mengajak pasien mengobrol. Keadaan rumah pasien pada saat kunjungan secara umum tampak cukup bersih, rumah pasien memiliki halaman depan yang cukup luas dan bersih. Di dalam rumah terdapat cukup banyak barang yang tertata dengan cukup rapi. Ruang tamu tempat saya dipersilakan duduk bersebelahan dengan kamar tidur ayah dan ibu pasien dan kamar tempat menaruh alat persembahyangan, terdapat sofa yang mengelilingi sebuah meja rendah yang pada saat itu berisi banten, dan saya juga disuguhi air

mineral kemasan dan roti dalam kaleng. Di pojok ruang tamu terdapat satu buah gangsa yang biasa dimainkan pasien. Dalam rumah terdapat 5 kamar, yaitu 2 kamar yang digunakan secara bergiliran oleh pasien, kamar ibu dan ayah pasien, satu kamar tidur kosong tempat menaruh pakaian, dan satu lagi untuk menaruh alat-alat persembahyangan. Kamar pasien yang lebih di tampak kurang bersih dengan ventilasi yang kurang dan tidak terdapat banyak perabotan. Terdapat satu kasur dalam kamar yang terletak di atas dipan, terbungkus sprai yang agak kotor. Terdapat satu meja di sebelah tempat tidur, di atasnya terdapat beberapa pakaian pasien yang akan dicuci pada saat pasien mandi sore. Terdapat juga satu meja rias yang banyak dipajang foto-foto Sai Baba dan gambar-gambar dewa lainnya. Kamar pasien yang satunya lagi tampak agak kotor dan ventilasinya kurang. Di dalam kamar hanya terdapat tempat tidur dan di tembok kamarnya juga terpasang foto Sai Baba dan gambar-gambar dewa. Wawancara tersebut berlangsung dengan santai, selama sekitar 2 jam. Saya kemudian meminta ijin kepada pasien dan ibunya untuk mengambil foto pasien bersama keluarganya, meskipun akhirnya ibu pasien tidak bersedia, hanya diijinkan mengambil foto rumah dan tempat pasien sering beraktivitas setiap harinya. Saya akhirnya kembali mengajak ngobrol singkat dan kemudian pamit pulang sekitar pukul 16.30 WITA setelah mengucapkan terima kasih kepada pasien dan keluarganya atas kesediaannya menerima kunjungan. Sebelum meninggalkan kediaman pasien saya kembali mengingatkan mengenai pentingnya kepatuhan minum obat serta dukungan dari keluarga untuk menunjang kesembuhan pasien.

10

Simpulan
1. Cara berbicara pasien masih tidak nyambung (asosiasi longgar) dari proses serta

hasil wawancara dengan pasien terlihat bahwa kondisi pasien saat ini sudah membaik, namun pasien masih memikirkan ide aneh.
2. Keluarga tampak sangat mendukung kesembuhan pasien. Hal ini terlihat dari

bagaimana ibunya selalu mengawasi pasien dalam minum obat dan selalu mengantar pasien kontrol ke poli jiwa RSUD Wangaya.
3. Pasien kurang mengerti mengenai penyakitnya dan kurang patuh minum obat,

tetapi apabila disuruh minum obat oleh ibunya selalu menurut.


4. Pasien sudah mulai mampu melakukan aktivitasnya sehari-hari, walaupun

pikirannya masih dipenuhi ide bizarre.


5. Lingkungan sosial cukup mendukung kesembuhan pasien. Tetangga-tetangga

telah mengetahui kondisi pasien dan mau menerima keadaannya. Saran


1. Pasien disarankan tetap kontrol secara rutin ke Poliklinik Jiwa ataupun Puskesmas

terdekat serta tetap meminum obat secara teratur, jangan sampai putus obat.
2. Keluarga diharapkan tetap dapat memberi semangat dan dukungan bagi pasien

dapat mandiri, menjaga insight (relasi dan limitasi diri terhadap lingkungan), yaitu antara lain dengan mengingatkan pasien agar minum obat, mengingat jadwal kontrol, serta memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan, dan tentunya tetap bersabar dan optimis bahwa pasien akan baik-baik saja seterusnya.
3. Segera datang ke rumah sakit apabila terdapat gejala-gejala gangguan tidur atau

yang mengganggu lingkungan atau mengancam diri pasien. 4. Lingkungan rumah diharapkan tetap dijaga kebersihan dan kerapiannya sehingga pasien dapat merasa nyaman dan akan mendukung proses pemulihan pasien.
5. Keluarga diharapkan dapat mencoba membantu mengurangi kebiasaan merokok

pasien, sehingga kesehatan fisik pasien dapat ditingkatkan.


11

Denah Rumah Pasien

Sanggah

Tempat alat persembahyan gan Kamar ayah dan ibu pasien

Toilet

Tempat menaruh pakaian

Ruang Tamu

Bale Dangin

Kamar Pasien

Kamar pasien

12

DOKUMENTASI KEGIATAN

Gambar 1. Bersama pasien

Gambar 2. Kamar tidur pasien

Gambar 3. Kamar mandi pasien

13