Anda di halaman 1dari 49

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya berkat Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Akuntansi, yang didalamnya membahas tentang Akuntansi Syariah, yang merupakan salah satu bahasan yang terdapat pada bahan pengajaran Teori Akuntansi. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan sehingga perlu dibenahi. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang sifatnya membangun guna kesempurnaan makalah ini, agar makalah ini dapat berguna serta bermanfaat bagi pengembangan wawasan yang senantiasa dinamis. Akhir kata, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan penyusun pada khususnya.

Jakarta, 12 Januari 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................1 DAFTAR ISI....................................................................................................................2 PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH I. Perkembangan Umum Akuntansi ......................................................................4

II. Akuntansi Syariah: Antara Aliran Pragmatis dan Idealis..............4 III. Proyek Implementasi Shariate Enterprise Theory.....6 IV. Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, dan Pengungkapan Dalam Akuntansi Bank Syariah.... 6 A. PENGAKUAN DAN PENGUKURAN TRANSAKSI DALAM

AKUNTANSI BANK SYARIAH 1. Pengakuan dan Pengukuran Mudharabah.............................................. 7 2. Pengakuan dan Pengukuran Musyarakah................................................9 3. Pengakuan dan Pengukuran Murabahah...............................................12 4. Pengakuan dan Pengukuran Salam dan Salam Paralel........................15 5. Pengakuan dan Pengukuran Istishna dan Istishna Paralel................... 17 6. Pengakuan dan Pengukuran Ijarah dan Ijarah Muntahiyah Bittamlik..............................................................................18 7. Pengakuan dan Pengukuran Wadiah................................................... 19 8. Pengakuan dan Pengukuran Qardh...................................................... 20 9. Pengakuan dan Pengukuran Sharf........................................................20 10. Pengakuan dan Pengukuran Kegiatan Bank Syariah Berbasis Imbalan....................................................................... 21 2

B. PENYAJIAN DALAM AKUNTANSI SYARIAH........................................... C. BENTUK LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH................................. D. PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH........................22 E. BENTUK LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH................................. F. PENGUNGKAPAN DALAM AKUNTANSI BANK SYARIAH...................... G. PENGUNGKAPAN UNTUK SETIAP KOMPONEN

21 22

23 38

LAPORAN KEUANGAN.............................................................................39 V. Analisis Laporan Keuangan Bank Syariah...................................................... 42 VI. Keterbatasan-keterbatasan Laporan Keuangan............................................. 43 VII. Rasio-rasio Keuangan Bank Syariah di Indonesia.......................................... 44 VIII. Jenis-jenis Keuangan Rasio Keuangan Bank............................................44

DAFTAR PUSTAKA46

PERKEMBANGAN AKUNTANSI SYARIAH


I. Perkembangan Umum Akuntansi Barat. tanpa

Hampir seluruh peta akuntansi Indonesia merupakan by product Akuntansi konvensional (Barat) di Indonesia bahkan telah diadaptasi

perubahan berarti. Hal ini dapat dilihat dari sistem pendidikan, standar, dan praktik akuntansi di lingkungan bisnis. Kurikulum, materi dan teori yang diajarkan di Indonesia adalah akuntansi pro Barat. Semua standar akuntansi berinduk pada landasan teoritis dan teknologi akuntansi IASC (International Accounting Standards Committee). Indonesia bahkan terang-terangan menyadur Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements IASC, dengan judul Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dikeluarkan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). Perkembangan terbaru, saat ini telah disosialisasikan sistem pendidikan akuntansi baru yang merujuk internasionalisasi dan harmonisasi standar akuntansi. Pertemuan-pertemuan, workshop, lokakarya, seminar mengenai perubahan kurikulum akuntansi sampai standar kelulusan akuntan juga mengikuti kebijakan IAI berkenaan Internasionalisasi Akuntansi Indonesia tahun 2010.

II.

Akuntansi Syariah: Antara Aliran Pragmatis dan Idealis

Perkembangan akuntansi syariah saat ini menurut Mulawarman (2006; 2007a; 2007b; 2007c) masih menjadi diskursus serius di kalangan akademisi akuntansi. Diskursus terutama berhubungan dengan pendekatan dan aplikasi laporan keuangan sebagai bentukan dari konsep dan teori akuntansinya. Perbedaan-perbedan yang terjadi mengarah pada posisi diametral pendekatan teoritis antara aliran akuntansi syariah pragmatis dan idealis.

Akuntansi Syariah Aliran Pragmatis Aliran akuntansi syariah pragmatis lanjut Mulawarman (2007a)

menganggap beberapa konsep dan teori akuntansi konvensional dapat digunakan dengan beberapa modifikasi (lihat juga misalnya Syahatah 2001; Harahap 2001;Kusumawati 2005 dan banyak lagi lainnya).

Akuntansi Syariah Aliran Idealis Aliran Akuntansi Syariah Idealis di sisi lain melihat akomodasi yang terlaluterbuka dan longgar jelas-jelas tidak dapat diterima. Beberapa alasan yang diajukan misalnya, landasan filosofis akuntansi konvensional merupakan representasi pandangan dunia Barat yang kapitalistik, sekuler dan liberal sertadidominasi kepentingan laba (lihat misalnya Gambling dan Karim 1997; Baydoun dan Willett 1994 dan 2000; Triyuwono 2000a dan 2006; Sulaiman 2001;Mulawarman 2006a)

Komparasi Antara Akuntansi Syariah Aliran Idealis dan Pragmatis Kesimpulan yang dapat ditarik dari perbincangan mengenai perbedaanantara aliran akuntansi syariah pragmatis dan idealis di atas adalah, pertama akuntansi syariah pragmatis memilih melakukan adopsi konsep dasar teoritis akuntansi berbasis entity theory.
5

Konsekuensi

teknologisnya

adalah

digunakannya bentuk laporan keuangan seperti neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kasdengan modifikasi pragmatis. Kedua, akuntansi syariah idealis memilih melakukan perubahan-perubahan konsep dasar teoritis berbasis shariate ET. Konsekuensi teknologisnya adalah penolakan terhadap bentuk laporan keuangan yang ada;sehingga diperlukan perumusan laporan keuangan yang sesuai dengan konsep dasar teoritisnya. Untuk memudahkan penjelasan perbedaan akuntansi syariah aliran pragmatis dan idealis,

III.

Proyek Implementasi Shariate Enterprise Theory

Proses pencarian bentuk teknologis aliran idealis dimulai dari perumusan ulang konsep Value Added (VA) dan turunannya yaitu Value Added Statement (VAS). VA diterjemahkan oleh Subiyantoro dan Triyuwono (2004, 198-200) sebagai nilai tambah yang berubah maknanya dari konsep VA yang konvensional. Substansi laba adalah nilai lebih (nilai tambah) yang berangkat dari dua aspek mendasar, yaitu aspek keadilan dan hakikat manusia.

IV.

Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, dan Pengungkapan Dalam Akuntansi Bank Syariah

Dikeluarkannya pernyataan standar akuntansi keuangan no. 59 tentang akutansi perbankan syariah Indonesia apasi oleh bank Indonesia (bi) merupakan hal yang perlu kita syukuri keberadaannya. Adanya PSAK No. 59 dan PAPSI memiliki banyak makna. Dari sudut pandang perkembangan industri perbankan syariah PSAK dan PAPSI dapat diharapkansebagai instrument yang dapat meningkatkan kepercayaan publik dalam menabung dan berbisnis dengan bank syariah yang pada giliranya akan lebih memacu perkembangan industri bank syariah di Indonesia. Sementara itu juga dilihat dari iklim bisnis masyarakat Indonesia yang masih rendah tingkat integrasinya dengan nilai-nilai islam, PSAK No. 59dan PAPSI dapat diharapkan sebagai ujung tombak baik dalam proses pengembangan bisnis yang islami maupun
6

dalam pengembangan ilmu bisnis yang peduli pada moralitas, spirit agama, dan kepedulian sosial.

A. PENGAKUAN DAN PENGUKURAN TRANSAKSI DALAM AKUNTANSI BANK SYARIAH Dikeluarkannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 59 tentang Akuntansi perbankan Syariah oleh ikatan Akuntan Indonesia (IAI) bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi (pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan) transaksi khusus yang berkaitan dengan aktivitas bank syariah. Pernyataan ini diterapkan untuk bank umum syariah, bank pengkreditan rakyat syariah, dan kantor cabang syariah bank konvensional yang beroperasi di Indonesia. Hal-hal umum yang tidak diatur dalam pernyataan ini memacu pada pernyataan standar akuntansi yang berlaku umum sepanjang sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Pernyataann ini bukan nerupakan pengaturan penyajian laporan keuangan sesuai permintaan khusus (statutorial) pemerintah, lembaga pemerintah independent, dan bank sentral (Bank Indonesia). Laporan keuangan yang disajikan berdasarkan pernyataan ini tidak dimaksudkan untukmemenuhi peraturan perundangundangan tersebut.

1. Pengakuan dan Pengukuran Mudharabah

Karakteristik Mudharabah adaalah akad kerja sama usaha antara shahibul maal (pemilik dana) dan mudharib (pengelola dana) dengan nisbah bagi hasil menurut kesepakatan dimuka. Jika usaha mengalami kerugian, makaa seluruh kerugian ditanggung oleh pemilik dana, kecuali ditemukan adanya kelalaian atau kesalahan oleh pengelola dan, seperti penyelewengan, kecurangan, dan penyalahgunaan dana. Mudaharabah ada 2 jenis,yaitu mudharabah mutlaqah (investasi tidak terikat) dan mudharabah muqayyadah (investasi terikat).
7

1.1 Bank Sebagai Shabibul Maal (pemilik Dana) Pengakuan dan Pengukuran Pembiayaan Mudharabah Pengakuan mudharabah adalah sebagai berikut:
1. Pembiayaan mudharabah diakui pada saat pembayaran kas atau penyerahan

aktiva non kas kepada pengelola dana;


2. Pembiayaan mudharabah yang diberikan secara bertahap diakui pada setiap

tahap pembayaran atau penyerahaan. Pengukuran pembiayaan mudharabah adalah sebagai berikut:
1. Pembiayaan mudharabah dalam bentuk kas diukur sejumlah uang yang

diberikan bank pada saat pembayaran


2. Pembiayaan mudharabah dalam bentuk aktiva non kas diukur sebesar nilai

wajar aktiva non kas pada saat penyerahan dan selisih antara nilai wajar dan nilai buku aktiva non kas diakui sebagai keuntungan atau kerugian bank; dan beban yang terjadi sehubungan dengan mudharabah tidak dapat diakui sebagai bagian pembayaran mudharabah kecuali telah disepakati bersama.

1.2 Pengakuan Laba atau Rugi Mudharabah Apabila pembiayaan mudharabah melewati satu periode pelaporan:
1. Laba pembayaran mudharabah diakui dalam periode terjadinya hak bagi hasil

sesuai nasabah yang disepakati.


2. Rugi yang terjadi diakui dalam periode terjadinya rugi tersebut dan

mengurangi saldo pembayaran mudharabah.

1.3 Bank sebagai Mudharib (Pengelola Dana) Dana investasi tidak terikat diakui sebagai investasi tidak terikat pada saat terjadinya sebesar jumlah yang diterima. Pada akhir periode akuntansi, investasi tidak terikat diukur sebesar nilai tercatat. Bagi hasil investasi tidak terikat dialokasikan kepada bank dan pemilik dana sesuai dengan nisbah yang disepakati. Bagi hasil mudharabah dapat dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu bagi laba (profit sharing) atau bagi pendapatan (revenue sharing). Kerugian kesalahan atau kelalaian bank dibebankan kepada bank (pengelola dana).

1.4 Bank sebagai Agen Investasi Apabila bank bertindak sebagai agen dalam menyalurkan dana mudharabah muqayyadah dan bank tidak menanggung risiko (Chanelling Agent), maka pelaporannya tidak dilakukan dalam neraca tetapi dalam laporan perubahan dana investasi terikat. Sedangkan dana yang diterima dan belum disalurkan diakui sebagai titipan. Apabila bank bertindak sebagai agen dalam menyalurkan dana mudharabah atau investasi terikat tetapi bank menanggung risiko atas penyaluran dana tersebut (Executing Agent) maka pelaporanya dilakukan dalam neraca sebesar porsi yang ditanggung oleh bank.

2. Pengakuan dan Pengukuran Musyarakah Karakteristik Musyarakah adalah akad kerja sama antara para pemilik modal yang mencampurkan modal mereka untuk tujuan mencari keuntungan. Dalam musyarakah, mitra dan bank sama-sama menyediakan modal untuk membiayai suatu usaha tertentu,
9

baik yang sudah berjalan maupun yang baru. Selanjutnya mitra dapat mengembalikan modal tersebut berikut bagi hasil yang telah disepakati secara bertahap atas sekaligus kepada bank. Pembiayaan musyarakah dapat diberikan dalam bentuk kas, setara kas, atau aktiva non kas, termasuk aktiva tidak terwujud, seperti lisensi dan hak paten. Karena setiap mitra tidak dapat menjadi modal mitra lainnya, maka setiap mitra dapat meminta mitra lainnya untuk menyediakan jaminan atas kelalaian atau kesalahan yang disengaja. Beberapa hal yang menunjukan adanya kesalahan yang disengaja. Beberapa hal yang menunjukan adanya kesalahan yang disengaja adalah: pelanggaran terhadap akad antara lain penyalahgunaan dana pembiayaan, manipulasi biaya dan pendapatan operasional, serta pelaksanaan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah. Jika tidak terdapat kesepakatan antara pihak yang bersengketa, kesalahan yang disengaja harus dibuktikan berdasarkan badan arbitrase atau pengadilan. Laba musyarakah dibagi diantara para mitra dan bank secara proposional sesuai dengan modal yang disetorkan ( baik berupa kas maupun aktiva lainnya) atau sesuai dengan yang disepakati oleh semua mitra. Sedangkan rugi dibebankan secara proposional sesuai dengan modal yang disetorkan (baik berupa kas maupun aktiva lainnya). Musyarakah dapat bersifat permanen maupun menurun. Dalam

musyarakah permanen, bagi modal setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad. Sedangkan dalam musyarakah menurun, bagian modal bank akan menurun dan pada akhir masa akad, mitra akan menjadi pemilik usaha tersebut.

2.1 Bank Sebagai Mitra

Pengakuan dan Pengukuran Awal Pembiayaan Musyarakah

10

Pembiayaan musyarakah diakui pada saat pembayaran tunai atau penyerahan aktiva non kas kepada mitra musyarakah. Pengukuran pembiayaan musyarakah dalam bentuk: Pembiayaan musyarakah dalam bentuk:
1. Kas dinilai sebesar jumlah yang dibayarkan; 2. Aktiva non kas dinilai sebesar nilai wajar dan nilai buku aktiva non kas, maka

selisih tersebut diakui sebagai keuntungan atau kerugian bank pada saat penyerahan;
3. Biaya yang terjadi akibat akad musyarakah (misalnya, biaya studi kelayakan)

tidak dapat

diakui

sebagai

bagian

pembiayaan

musyarakah

kecuali

persetujuan dari seluruh mitra musyarakah.

2.2 Pengukuran bagi Bank atas Pembiayaan Musyarakah Setelah Akad Bagian pengukuran atas pembiayaan musyarakah permanen dinilai sebesar nilai historis (jumlah yang dibayarkan atau nilai wajar aktiva non kas pada saat penyerahan modal musyarakah) setelah dikurangi dengan kerugian, apabila ada. Bagian bank atas pembiayaan musyarakah menurun dinilai sebesar nilai historis setelah dikurangi dengan bagian pembiayaan bank yang telah dikembalikan oleh mitra (yaitu sebesar harga jual yang wajar) dan kerugian, apabila ada. Selisih antara nilai historis dan nilai wajar bagian pembiayaan musyarakah yang dikembalikan diakui sebagai keuntungan atau kerugian ban pada periode berjalan.
11

Jika akad musyarakah yang belum jatuh tempo diakhiri dengan pengembalian diakui sebagai laba atau rugi bank pada periode berjalan. Pada saat akad diakhiri, pembiayaan musyarakah yang belum dikembalikan oleh mitra diakui sebagai piutang jatuhtempo kepada mitra.

2.3 Pengakuan Laba atau Rugi Musyarakah Laba pembiayaan musyarakah diakui sebesar bagian bank sesuai dengan nisbahyang disepakati atas hasil usaha musyaraah. Sedangkan rugi pembiayaan musyarakah diakui secara proporsional sesuai dengan kontibusi modal. Apabila pembiayaan musyarakah permanen melewati satu periode pelaporan maka:
1. Laba diakui dalam periode terjadinya sesuai dengan nisbah bagi hasil yang

disepakati;
2. Rugi diakui dalam periode terjadinya kerugian tersebut dan mengurangi

pembiayaan musyarakah.

Apabila pembiayaan musyarakah menurun melewati satu periode pelaporan dan terdapat pengembalian sebagian atau seluruh pembiayaan, maka:
1. Laba diakui dalam periode terjadinya sesuai dengan nisbah yang disepakati; 2. Rugi diakui dalam periode terjadinya secara proporsional sesuai dengan

kontribusi modal dan mengurangi pembiayaan musyarakah. Apabila terjadi rugi dalam musyarakah akibat kelalaian atau kesalahan mitra pengelola usaha musyarakah, maka rugi tersebut ditanggung oleh mitra pengelola usahamusyarakah. Rugi karena kelalaian mitra musyarakah tersebut diperhitungkan sebagai pengurang modal mitra pengelola usaha, kecuali jika mitra mengganti kerugian dengan dana baru.

12

3. Pengakuan dan Pengukuran Murabahah Karakteristik Murabahah adalah akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa pesanan. Murabahah berdasarkan pesanan dapat bersifat mengikat atau tidak mengikat nasabah untuk membeli barang yang dipesannya. Dalam murabahah pesanan mengikat pembeli tidak dapat membatalkan pesanannya. Apabila aktiva murabahah yang telah dibeli bank (sebagai penjual) dalam murabahah pesanan mengikat mengalami penurunan nilai sebelum diserahkan kepada pembeli, maka penurunan nilai tersebt menjadi beban penjual (bank) dan penjual (bank) akan mengurangi nilai akad. Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau cicilan. Selain itu, dalam murabahah juga diperkenankan adanya perbedaan dalam harga barang untuk cara pembayaran yang berbeda. Bank dapat memberikan potongan apabila nasabah:
1. Mempercepat pembayaran cicilan 2. Melunasi piutang murabahah sebelum jatuh tempo.

Harga yang disepakati dalam murabahah adalah harga jual sedangkan harga beli harus diberitahukan. Jika bank mendapat potongan dari pemasok, maka potongan itumerupakan hak nasabah. Apabila potongan tersebut terjadi setelah akad, maka pembagian potongan tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian yang dimuat dalam akad. Bank dapat meminta nasabah menyediakan agunan atas piutang murabahah, antara lain, dalam bentuk barang yang telah dibeli dari bank. Bank dapat meminta kepada nasabah urban sebagai uang muka pembelian pada saat akad apabila kedua belah pihak bersepakat. Urban menjadi bagian pelunasan piutang murabahah apabila murabahah jadi dilaksanakan. Tetapi apabila murabahah batal, urban dikembalikan kepada nasabah setelah dikurangidengan kerugian sesuai dengan kesepakatan. Jika

13

uang muka itu lebih kecil dari kerugian bank maka bank dapat meminta tambahan dari nasabah. Apabila nasabah tidak dapat memenuhi piutang murabahah sesuai dengan yang diperjanjikan, bank berhak menggunakan denda kecuali jika dapat dibuktikan bahwa nasabah tidak mampu melunasi. Denda ditetapkan berdasarkan pada pendekatan tazir yaitu untuk membuat nasabah lebih disiplin terhadap kewajibannya. Besarnya denda sesuai dengan yang diperjanjikan dalam akad dan dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial ( Qardhul hasan).

3.1 Bank Sebagai Penjual Pada saat perolehan, aktiva yang diproleh dengan tujuan untuk dijual kembali dalam murabahah diakui sebagai aktiva murabahah sebagai biaya perolehan. Pengukuran aktiva murababahah setelah perolehan adalah sebagai berikut:
1. Aktiva tersedia untuk dijual dalam murabahah pesanan mengikat: 2. Dinilai sebesar biaya perolehan; 3. Jika

terjadi

penurunan

nilai

akiva

karena

usang,

rusak

atau

kondisi

lainnya, penurunan nilai tersebut diakui sebagai beban dan mengurangi nilai aktiva;

Apabila dalam murabahah tanpa pesanan atau murabahah pesanan tidak mengikat terdapat indikasi kuat pembeli batal melakukan transaksi, maka aktiva murabahah:
1. Dinilai berdasarkan biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi,

mana yang lebih rendah;


2. Jika nilai bersih yang dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan,

maka selisihnya diakui sebagai kerugian.


14

Potongan pembelian dari pemasok diakui sebagai pengurangan biaya perolehan aktiva murabahah. Pada saat akad, piutang murabahah diakui sebesar biaya perolehan aktiva murabahah ditambah keuntungan yang disepakati. Pada akhir periode laporan keuangan, piutang murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi, yaitu saldo piutang dikurangi penyisihan kerugian piutang. Keuntungan murabahah diakui:
1. Pada periode terjadiya, apabila akad berakhir pada periode laporan keungan

yang sama;
2. Selama periode akad secara proposional, apabila akad melampaui satu

periode laporankeuangan. Potongan pelunasan dini diakui dengan menggunakan salah satu metode berikut:
1. Jika potongan pelunasan diberikan pada penyelesaian, bank mengurangi piutang

murabahah dan keuntungan murabahah;


2. Jika potongan pelunasan diberikan setelah penyelesaian, bank terlebih dulu

menerima pelunasan membayar

piutang

murabahah kepada

dari

nasabah, kemudian dengan

bank

potongan pelunasan

nasabah

mengurangi

keuntungan murabahah. Denda dikenakan apabila nasabah lalai dalam melakukan kewajibannya sesuai denganakad. Pada saat diterima, denda diakui sebagai bagian dana sosial. Urban diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang diterima bank pada saat dterima, pada saat barang jadi dibeli oleh nasabah, maka urban diakui sebagai pembayaran piutang dan jika barang batal dibeli oleh nasabah, maka urban dikembalikan kepada nasabah setelahdiperhitungkan dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan bank.

4. Pengakuan dan Pengukuran Salam dan Salam Paralel

15

Salam adalah akad jual beli barang pesanan dengan penangguhan pengiriman oleh penjual dan pelunasannya dilakukan secara segera oleh pembelian sebelum barang pesanantersebut diterima sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi salam. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara salam maka hal ini disebut salam peralel. Salam parallel dapat dilakukan dengan syarat:
1. Akad kedua antara bank dan pemasok terpisah dari akad pertama antara

bank dan pembeli akhir, 2. Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.

4.1 Bank sebagai pembeli Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dilihat kepada penjual. Modal usaha salam dapat berupa kas dan aktiva non kas. Modal usaha salam dapat berbentuk kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan, sedangkan modal usaha salam dalam bentuk aktiva non kas diukur sebesar nilai wajar (nilai yang disepakati antara bank dan nasabah). Penerimaan barang pesanan diakui dan diukur sebagai berikut: 1. Jika barang pesanan sesuai dengan akad dilihat sesuai nilai yang disepakati
2. Jika barang pesanan berbeda kualitasnya, maka: a. Barang pesanan yang diterima diukur sesuai dengan akad, jika nilai pasar

(nilai wajar jika nilaii pasar tidak tersedia) dari barang pesanan yang diterima nilainya sama atau lebih tinggi dari nilai barang pesanan yang tercantum di dalam akad.

16

b. Barang pesanan yang diterima diukur sesuai nilai pasar (nilai wajar jika

nilai pasar tidak tersedia) pada saat diterima dan selisihnya diakui sebagai kelebihan jika nilai pasar dari barang pesanan lebih rendah dari barang pesanan yang tercantum dalam akad.
3. Jika bank tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada

tanggal jatuh tempo pengiriman, maka tanggal pengiriman diperpanjang nilai tercatat piutang salam sebesar bagian yang belum dipenuhi tetap sesuai dengan nilai yang tercantum dalam akad
4. Jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya, maka piutang salam

berubah menjadi piutang yang harus dilunasi oleh nasabah sebesar bagian yang tidak dapat dipenuhi.
5. Jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya dan bank mempunyai

jaminan atas barang pesanan serta hasil penjualan jaminan tersebut lebih kecil dari nilai tercatat piutang salam dan hasil penjualan tersebut diakui sebagai piutang kepadanasabah yang telah jatuh tempo. 6. Bank dapat menggunakan denda kepada nasabah.

4.2 Bank sebagai penjual Utang salam diakui pada saat bank menerima modal usaha salam yang diterima.Modal usaha salam yang diterima dapat berupa kas dan aktiva non kas. Modal usaha salam dalam bentuk aktiva non kas diukur sebesar nilai wajar.

5. Pengakuan dan Pengukuran Istishna dan Istishna Paralel Istishna adalah akad jual beli antara pembeli dan penjual. Berdasarkan akad tersebut, pembeli menugasi produsen untuk menyediakan barang pesanan sesuai spesifikasi yang disyaratkan pembeli dan menjualnya dengan harga yang disepakati.
17

Spesifikasi dan barang pesanan disepakati oleh pembeli dan penjual diawal akad. Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi teknis, kualitias dan kuantitas. Barang pesanan harus sesuai dengan karakteristik antara pembeli dan penjual. Jika barang pasanan yang dikirim salah satu cacat, maka penjual bertanggung jawab atas kelalaiannya. Bank dapat bertindak sebagai pembeli atau penjual dalam suatu transaksi istishna. Jika bank bertindak sebagai penjual kemudian memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan dengan cara istishna maka hal ini disebut istihna parallel. Istishna Paralel dapat Dilakukan dengan Syarat:
1. Akad kedua antara bank dan subkontraktor terpisah dari akad pertama antara

bank dan pembeli akhir.


2. Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.

Pada dasarnya istishna tidak dapt dibatalkan, kecuali memenuhi kondisi kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya,
3.

Akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang dapat menghalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad.

4. Pembeli mempunyai hak untuk memperoleh jaminan dari penjual atas jumlah

yang telah dibayarkan. 5. Penyerahan barang pesanan sesuai dengan spesifikasi dan tepat waktu.

5.1 Pengakuan Pendapatan dan Keuntungan Istishna Paralel Pendapatan istishna adalah total harga yang disepakati dalam akad antara bank dan pembeli akhir, termasuk margin keuntungan. Margin keuntungan adalah selisih antara pendapatan istishna dan harga pokok istishna. Pendapatan istishna diakui denganmengenakan metode persentase penyelesaian atau metode akad.
18

5.2 Bank Sebagai Pembeli Bank mengakui aktiva istihna dalam menyelesaikan sejumlah termin yang ditagiholeh penjual dan sekaligus mengakui utang istishna kepada penjual. Apabila barang pesanan terlambat diserahkan karena kelalaian atau kesalahan penjual dan mengakibatkankerugian bank, maka kerugian itu dikurangkan dari garansi penyelesaian proyek yang telahdiserahkan penjual. Apabila kerugian tersebut melebihi garansi penyelesaian proyek, maka selisihnya akan diakui sebagai piutang jatuh tempo kepada sub kontraktor.

6. Pengakuan dan Pengukuran Ijarah dan Ijarah Muntahiyah Bittamlik Ijarah adalah akad sewa menyewa antara pemilik sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas objek sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas objek sewa yang disewakan. Ijarah muntahiyah bittamlik adalah akad sewa menyewa antara pemilik objek sewadan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas objek sewa yang disewakannya dengan obsi perpindahan hak milik objek sewa pada saat tertentu sesuai dengan akad sewa. Perpindahan hak milik objek sewa kepada penyewa dalam ijarah

muntahiyah bittamlik dapat dilakukan dengan:


1. Hibah. 2. Penjualan sebelum akad berakhir sebesar harga yang sisa cicilan sewa. 3. Penjual pada akhir masa sewa dengan pembayaran tertentu yang disepakati

pada awal akad.


4. Penjual secara bertahap sebesar hraga tertentu yang disepakati dan

tercantum dalam akad.


19

6.1 Bank Sebagai Pemillik Objek Sewa Objek sewa diakui sebesar biaya perolehan pada saat perolehan objek sewa dan disusutkan sesuai dengan:
1. Kebijakan

penyusutan pemilik objek sewa untuk aktiva sejenis jika

merupakan ijarah.
2. Masa sewa jika merupakan transaksi ijarah muntahiyah bittamlik

Pendapatan ijarah dan ijarah muntahiyah bittamllik diakui selama masa akad secara proporsional kecuali pendapatan ijarah muntahiyah bittamlik memulai penjualan secara bertahap maka besar pendapatan setiap periode akan menurun secara progresif selama masaakad karena adanya pelunasan bagian per bagian objek sewa pada periode tersebut.

7. Pengakuan dan Pengukuran Wadiah Wadiah adalah titipan nasabah yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat apabila nasabah yang bersangkutan menghendaki. Bank bertanggung jawab atas pengembalian ttitpan. Wadiah terbagi atas wadiah yad-dhamanah adalah titipan yang selama belum dikembalikan kepada penitip dapat dimanfaatkan oleh penerima titipan, dan wadiah yad-amanah apabila dari hasil pemanfaatan tersebut diperoleh keuntungan, maka seluruhnya menjadi hak penerimaan titipan. Sedangkan dalam prinsip wadiaah yad-amanah, penerimaan titipan tidak boleh memanfaatkan barang titipan tersebut sampai diambil kembali oleh penitip.

20

Penerimaan titipan dalam transaksi wadiah dapat:


1. Meminta ujrah (imbalan) atas penitipan barang/uang tersebut;

2. Memberikan bonus kepada penitip dari hasil pemanfaatan barang/uang titipan (wadiahyad-amanah) namun tidak boleh diperjanjikan sebelumnya dan besarnya tergantung pada kebijakan penerima titipan.

8. Pengakuan dan Pengukuran Qardh Pinjaman Qardh adalah penyediaan dana atau tagihan yang dapat disamakan denganitu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara peminjam dan pihak yangdipinjamkan. Bank syariah disampingkan memberikan pinjaman qard juga dapat menyalurkan pinjaman dalam bentuk qardhul hasan. Qardhul Hasan adalah pinjaman tanpa pinjaman yang memungkinkan pinjaman untuk menggunakan dana tersebut selam jangka waktu tertentu dan mengembalikan dalam jumlah yang sama pada akhir periode yang disepakati. Sumber dana qardhul hasan berasal dari eksternal dan internal. Sumber dana eksternal meliputi dana qardh yang diterima bank syariah dari pihak lain (misal dari sumbangan, infaq, shadaqah, dan hasil pendapatan nonhalal). Sumber dana internal meliputi hasil tagihan pinjaman qaldhul hasan.

9. Pengakuan dan Pengukuran Sharf Sharf adalah akad jual beli suatu valuta denan valuta lainnya. Transaksi valuta asing pada bank syariah hanya dapat dilakukan untuk tujuan lindung nilai dan dibenarkan untuk tujuan spekulatif. Pendapatan Sharf yaitu selisih antara kurs yang diperjanjikan dalam kontrak dan kurs tunai pada tanggal penyerahan valuta diakui sebagai keuntungan/kerugian pada saat penyerahan/penerimaan dana.

21

10. Pengakuan dan Pengukuran Kegiatan Bank Syariah Berbasis Imbalan Kegiatan-kegiatan yang menghasilkan ujrah (imbalan ) antara lain:
1. Wakalah adalah akad pemberian kuasa dari pemberi kuasa /nasabah kepada

penerimakuasa /bank untuk melaksanakan suatu tugas atas nama pemberi kuasa/. Akad wakalah tersebut dapat digunakan antara lain dalam pengiriman transfer, penagihan utang baik melalui kliring maupun inkaso, dan realisasi L/C.
2. Hiwalah adalah pemindahan pengalihan hak dan kewajiban, baik dalam

bentuk pengalihan piutang maupun utang, dan jasa pemindahan/pengalihan dana dari suatu etnis kepada etnis lain.
3. Kafalah adalah akad pemberian pinjaman yang diberikan oleh penerima

jaminan dan peminjam bertanggung jawa atas pemenuhan kembali suatu kewajiban yang menjadi hak penerima jaminan. Kafalah dapat digunakan untuk pemberian jasa bank antara lain garansi bank, standy by L/C, pembukaan L/C impor, dan lain-lain.

B. PENYAJIAN DALAM AKUNTANSI SYARIAH Penyajian laporan akuntansi bank syariah telah diatur dengan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia(PABSI). Oleh karena itu laporan keuangan harus mampu memfasilitasi semua pihak yang terikat dengan bank syariah. Laporan keuangan bank syariah yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut: Neraca Laporan laba rugi Laporan Arus Kas
22

Laporan Perubahan Ekuitas Laporan Perubahan Dana Infestasi Terikat Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat Infaq dan Shadaqah Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan Catatan atas Laporan Keuangan

C. BENTUK LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH Berdasarkan KDDPPLK Bank Syariah dijelaskan, maka laporan keuangan bank syariah harus disusun berdasarkan kerangka dasar penyususunan dan penyajiannya. Sebab laporan keuangan bank syariah tentunya memiliki perbedaan, meskipun ada beberapa aspek yang mungKin sama dengan bentuk laporan keuangan pada umumnya.

D. PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH Seperti halnya dengan perusahaan lainnya, bank syariah secara umum dalammelakukan penyusunan laporan keuangan melalui beberapa tahapan antara lain: Bukti transaksi Jurnal Buku Besar Neraca Saldo Jurnal Penyesuain
23

Laporan Keuangan

E. BENTUK LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH

1. Laporan posisi keuangan (Neraca) (Nama Bank) Laporan Posisi Keuangan Konsolidasi Pada Bulan xx Tahun 20xx xxxx (tahun) Uraian Aktiva Kas dan setara kas Piutang Penjualan Investasi Investasi dalam surat-surat berharga 8 9 xx.xxx.xxx x.xxx.xxx xx.xxx.xxx xxx.xxx Catatan Unit Moneter xxxx (tahun) Unit Moneter

24

Investasi mudharabah Investasi Musyarakah Penyertaan Modal Persediaan Investasi pada real estate Aktiva yang disewakan Istishna Investasi lain-lain

10 11 12 13 14 15 16 17

xx.xxx.xxx xx.xxx.xxx -xxx.xxx.xxx -xx.xxx.xxx xx.xxx.xxx --

xx.xxx.xxx x.xxx.xxx x.xxx.xxx xxx.xxx.xxx x.xxx.xxx xx.xxx.xxx xx.xxx.xxx x.xxx.xxx

----

----

----

Total Investasi Aktiva lainnya Aktiva tetap (neto)

18 19 20 xxx.xxx.xxx xxx.xxx xx.xxx.xxx

xxx.xxx.xxx xx.xxx.xxx xx.xxx.xxx

Total Aktiva

xxx.xxx.xxx

xxx.xxx.xxx

25

(Nama Bank) Laporan Posisi Keuangan Konsolidasi Pada Bulan xx Tahun 20xx xxxx (tahun) Uraian Kewajiban Rekening koran dan tabungan Rekening koran bank dan lembaga keuangan Utang Dividen yang diusulkan Kewajiban lainnya xx.xxx.xxx 22 23 21 xx.xxx.xxx x.xxx.xxx xxx.xxx x.xxx.xxx x.xxx.xxx xx.xxx.xxx x.xxx.xxx xxx.xxx x.xxx.xxx x.xxx.xxx Catatan Unit Moneter xxxx (tahun) Unit Moneter

xx.xxx.xxx

26

Total Kewajiban x.xxx.xxx Rekening investasi tidak terbatas Saham minoritas xx.xxx.xxx Total Kewajiban, Rekening Investasi Tidak Terbatas dan Saham Minoritas 24,34 Ekuitas pemilik Modal disetor xxx.xxx.xxx Cadangan x.xxx.xxx Laba ditahan x.xxx.xxx xx.xxx.xxx xxx.xxx.xxx x.xxx.xxx x.xxx.xxx xx.xxx.xxx x.xxx.xxx x.xxx.xxx x.xxx.xxx

Total Ekuitas Pemilik xxx.xx.xxx 25 Total Kewajiban, Rekening Investasi Tidak Terbatas, Saham Minoritas dan Ekuitas Pemilik 26 xxx.xxx.xxx

xxx.xxx.xxx

27

2. Laporan Laba Rugi (Nama Bank) Laporan Laba Rugi Untuk Tahun Yang Berakhir xxxx (tahun) dengan xxxx (tahun lalu) Uraian Catatan xxxx (tahun) Unit Moneter Pendapatan Penjualan tangguhan Investasi 29A 29B 28,29 Dikurangi Keuntungan rekening investasi tidak terbatas sebelum bagian bank sebagai
28

xxxx (tahun) Unit Moneter

xx.xxx x.xxx.xxx x.xxx.xxx

xx.xxx x.xxx.xxx x.xxx.xxx

mudharib Bagian bank sebagai mudharib Keuntungan terhadap rekening investasi tidak terbatas sebelum pajak Bagian bank pada pendapatan dari investasi (sebagai mudharib dan sebagai pemilik dana) Pendapatan bank dari investasi Bagian keuntungan bank dari rekening Investasi terbatas sebagai mudharib Fee bank sebagai agen investasi untuk investasi terbatas Pendapatan dan jasa-jasa perbankan Pendapatan lain-lain Total pendapatan bank Biaya umum dan administrasi Depresiasi Pendapatan neto sebelum pajak dan pajak Provisi untuk zakat Pendapatan neto sebelum saham minoritas (saham minoritas)
29

xxx.xxx (xxx.xxx)

xxx.xxx (xx.xxx)

(xxx.xxx)

(xxx.xxx)

x.xxx.xxx xx.xxx.xxx

x.xxx.xxx xx.xxx.xxx

29B

xxx.xxx

xxx.xxx

xxx.xxx x.xxx 30 x.xxx xx.xxx.xxx (x.xxx.xxx) (x.xxx.xxx) x.xxx.xxx (x.xxx.xxx)

xxx.xxx x.xxx x.xxx xx.xxx.xxx (x.xxx.xxx) (x.xxx.xxx) x.xxx.xxx (x.xxx.xxx)

x.xxx.xxx

x.xxx.xxx

Pendapatan neto

(x.xxx)

(x.xxx)

x.xxx.xxx

x.xxx.xxx

3. Laporan Arus Kas

(Nama Bank) Laporan Arus Kas Untuk Tahun yang Berakhir xxxx (tahun) dengan xxx (tahun lalu) xxxx (tahun) Uraian Arus kas dari operasi Pendapatan neto Penyesuaian terhadap pendapatan neto Kas neto dari kegiatan operasional Depresiasi
30

xx (ta xx hun) Unit Moneter

Catatan

Unit Moneter

x.xxx.xxx --x.xxx.xxx xx.xxx

------

Provisi rekening ragu-ragu Provisi untuk zakat Provisi untuk pajak Zakat yang dibayarkan Pajak yang dbayarkan Keuntungan dar rekening investasi tidak terbatas Keuntungan dari penjualan aktiva tetap Depresiasi dari aktiva yang disewakan Provisi untuk penurunan nilai investasi pada surat-surat berharga Piutang ragu-ragu Pembelian aktiva tetap

x.xxx.xxx -(xxx.xxx) -xxx.xxx -x.xxx.xxx

--------

xxx.xxx (x.xxx) (xxx.xxx)

----

xx.xxx.xxx --

---------

Arus kas neto dari operasi Arus kas dari kegiatan investasi Penjualan real estat yang disewakan Pembelian real estat yang disewakan
31

-xx.xxx.xxx -(x.xxx.xxx) x.xxx.xxx x.xxx.xxx

Penjualan real estat Investasi pada surat-surat berharga Kenaikan pada investasi mudharabah Penjualan persediaan Penjualan Istishna Kenaikan neto pada piutang

(x.xxx.xxx)

--

x.xxx.xxx

--

xxx.xxx x.xxx.xxx

---------

Arus kas neto dari kegiatan investasi

x.xxx.xxx xxx.xxx (xx.xxx)

Arus kas dari kegiatan keuangan Kenaikan neto pada rekening investasi tidak terbatas Kenaikan neto pada rekening koran Dividen yang dibayarkan Kenaikan pada saldo kredit dan biaya-biaya (Penurunan) pada biaya yang masih harus dibayar Kenaikan pada saham
32

xxx.xxx xx.xxx.xxx xx.xxx.xxx

xx.xxx.xxx xx.xxx.xxx xx.xxx.xxx

----

minoritas Penurunan pada aktiva lain Penurunan arus kas dari kegiatan pembiayaan

Kenaikan/penurunan uang kas dan setara kas Kas dan setara kas pada awal tahun Kas dan setara kas pada akhir tahun

33

34

4. Laporan Perubahan Modal atau Laporan Laba Ditahan

(Nama Bank) Laporan Perubahan Modal Untuk Tahun yang Berakhir xxxx (tahun) dengan xxxx (tahun lalu) Modal Disetor Unit Uraian Saldo per xxxx (tahun) Emisi ( ) saham Pendapatan neto Keuntungan dibagikan Transfer ke cadangan xxx.xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx x.xxx.xxx x.xxx.xxx xxx.xxx.xxx x.xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx Moneter xxx.xxx.xxx -x.xxx.xxx Cadangan Unit Moneter Yang Sah --Unit Moneter Umum -Laba Ditahan Total xxx.xxx.xxx -x.xxx.xxx

(x.xxx.xxx) (x.xxx.xxx) (x.xxx.xxx) --

(x.xxx.xxx) (x.xxx.xxx) xxx.xxx xxx.xxx x.xxx.xxx --

35

xxx.xxx.xxx Neraca per xxxx (tahun) Pendapatan neto Keuntungan dibagikan Transfer ke cadangan

x.xxx.xxx

x.xxx.xxx x.xxx.xxx

xxx.xxx.xxx

Saldo per xxxx (tahun)

36

5. Laporan Sumber-sumber dan Penggunaa Dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah

(Nama Bank) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq dan Shadaqah Untuk Tahun yang Berakhir xxx (tahun) dengan xxx (tahun lalu) Uraian xxxx (tahun) Unit Moneter Catatan Sumber-sumber Zakat dan Sumbangan Zakat jatuh tempo dari bank Zakat jatuh tempo dari pemilik rekening Sumbangan x.xxx.xxx -x.xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx ---xxxx (tahun) Unit Moneter

Total Sumber Zakat xxx.xxx Penggunaan Zakat dan Sumbangan


37

---

xxx.xxx

Zakat untuk fakir dan miskin Zakat untuk Ibnu Sabil Zakat untuk Gharimin dan membebaskan budak Zakat untuk muallaf Zakat untuk fisabilillah Zakat untuk amil zakat (biaya administrasi dan umum)

xx.xxx xxx.xxx xxx.xxx

----

xxx.xxx

--

x.xxx.xxx

--

x.xxx.xxx

--

x.xxx.xxx

--

Total Penggunaan Dana

x.xxx.xxx

--

Kenaikan (penurunan) sumber-sumber terhadap penggunaan Zakat dan sumbangan yang belum dibagikan pada awal tahun Zakat dan sumbangan yang belum diberikan
38

pada akhir tahun

6. Laporan Sumber-sumber dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan

(Nama Bank) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan Untuk Tahun yang Berakhir xxx (tahun) dengan xxx (tahun lalu) xxxx (tahun) Uraian Saldo Awal Pinjaman kebajikan Sumber-sumber dana qardhul hasan Alokasi dari rekening koran Alokasi dari pendapatan yang dilarang syariah (haram) Sumber di luar bank xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx xxx.xxx Catatan Unit Moneter xxxx (tahun) Unit Moneter

Total Sumber Dana xxx.xxx


39

Selama Tahun Ini

xxx.xxx xxx.xxx

xxx.xxx xxx.xxx

Penggunaan Qardhul Hasan Pinjaman kepada para pelajar Pinjaman kepada para pengrajin Penyelesaian rekening koran

xxx.xxx xxx.xxx

xxx.xxx

xxx.xxx xxx.xxx

xxx.xxx Total Penggunaan Selama Tahun ini xxx.xxx

Saldo Akhir Tahun Pinjaman Kebajikan Dana tersedia untuk pinjaman

F. PENGUNGKAPAN DALAM AKUNTANSI BANK SYARIAH Bank Syariah harus mengungkapkan hal-hal berikut:

40

1. Jenis aktiva produktif, sektor ekonomi, dan jumlah aktiva produktif masing-

masing.
2. Jumlah aktiva produktif yang diberikan kepada pihak yang mempunyai

hubungan istimewa.
3. Kedudukan bank dalam pembiayaan bersama dan besarnya porsi yang di

biayai. 4. Jumlah aktiva produktif yang telah direktrukturisasidan informasi lain tentang aktiva produktif yang direktrukturisasi selama periode berjalan
5. Klasifikasi aktifa produktif menurut jangka waktu, kwalitas aktiva produktif,

valuta dan tingkat bagi hasil rata-rata.


6. Ikhtisar perubahan penyisihan kerugian dan penghapusan aktiva produktif

yang diberikan dalam tahun yang bersangkutan yang menunjukan saldo awal, penyisihan selama tahun berjalan, penghapusan selama tahun berjalan, pembayaran aktiva produktif yang telah dihapus bukukan dan saldo penyisihan pada akhir tahun.
7. Kebijakan

dan

metode

akuntansi

penyisihan

(penghapusan

aktiva

produktif bermasalah). 8. Metode yang digunakan untuk menetukan penyisihan khusus dan umum.
9. Kebijakan, manajemen dan pelaksanaan pengendalian resiko portofolio

aktiva produktif.
10. Besarnya aktiva produktif bermasalah dan penyisihannya untuk setiap sektor

ekonomi. 11. Saldo aktiva yang sudah diaktifkan.

G. PENGUNGKAPAN UNTUK SETIAP KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN 41

Neraca
Pengungkapan pembiayaan mudharabah mencakup:

1. Jumlah pembiayaan mudharabah kasdan non kas.


2. Kerugian atas penurunan nilai aktiva mudharabah, apabila ada. 3. Persentase kepemilikan dana pada investasi tidak terikat yang signifikan

berdasarkan kepemilikan perorangan dan/atau badan hukum

Pengungkapan transaksi Istisna: 1. Pendapatan dan keuntungan dari kontrak istisna selama periode berjalan.
2. Jumlah akumulasi biaya ataskontrak berjalan serta pendapatan dan

keuntungan sampai dengan akhir periode berjalan.


3. Jumlah sisa kontrak yang belum selesai menurut spesifikasi dan syarat

kontrak. 4. Klaim tambahan yang belum selesai dan semua denda yang bersifat kontijan sebagaiakibat keterlambatan pengiriman barang.
5. Nilai kontrak Istisnaparalel yang sedang berjalan rentang periode

pelaksanaannya.
6. Nilai kontrak istisna yang telah ditanda tangani bank selama periode

berjalan tetapi belum dilaksanakan dan rentang periode pelaksanaannya.

Pengungkapan transaksi ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik mencakup :


1. Sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan ijarah.

42

2. Jumlah piutang cicilan ijarah yang akan jatuh tempo hingga dua tahun

terakhir.
3. Jumlah objek sewa berdasarkan jenis transaksi (ijarah dan ijarah

muntahiyah bittamlik), jenis aktiva, dan akumulasi penyusutannya apabila bank syariah sebagai pemilik objek sewa.
4. Jumlah utang ijarah yang jatuh tempo hingga dua tahun yang akan datang

apabila bank syariah sebagai penyewa .


5. Komitmen yang berhubungan dengan perjanjian ijarah muntahiyah

bittamlik yang berlaku efektif pada periode laporan keuangan berikutnya.

Pengungkapan transaksi wadiah mencakup:


1. Jumlah dana /barang yang mengikuti prinsip wadiah yad-amanah.

2. Jumlah dana wadiah yang di blokir sebagai jaminan pembiayaan atau transaksi perbankan lainnya.

Laporan Laba Rugi Pendapatan,beban, keuntungan, dan kerugian harus diungkapkan berdasarkan jenis menurut karakteristik transaksi. Sejauh biasa dilaksanakan, hal-hal tersebut dibawah ini yang berasaldari investasi yang dibiayai bersama oleh bank dan para pemilik dana investasi tidak terikat dan investasi yang hanya dibiayai oleh bank harus diungkapkan secara terpisah:
1. Pendapatan dan keuntungan investasi. 2. Beban dan kerugian investasiLaba(rugi) investasi. 3. Bagian para pemilik dana investasi tidak terikat pada pendapatan (kerugian )

dari investasi sebelum bagian pengelola dana.


43

4. Bagian bank pada pendapatan (kerugian) investasi. 5. Bagian bank pada pendapatan dana investasi tidak terikat sebagai pengelola

dana.

Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat Pengungkapan hal-halyang berkaitan dengan laporan perubahan dana investasi terikat dalam catatan atas laporan keuangan mencakup:
1. Periode yang dicakup laporan perubahan dana investasi terikat. 2. Secara terpisah saldo awal, keuntungan (kerugian) dan saldo akhir dana

investasi terikat yang berasal dari evaluasi dana investasi tidak terikat.
3. Sifat dari hubungan antara bank dan para pemilik dana investasi terikat, baik

bank sebagai pengelola dana maupun sebagai agen investasi.


4.

Hak dan kewajiban yang dikaitkan dengan masing-masing jenis dana investasi terikatatau unit investasi.

Laporan Sumber dan Penggunaan Zakat, infak, dan Shadaqah Pengungkapan hal-hal yang berkaitan dengan sumber dan penggunaan dana zakat, infak,dan shadaqah dalam catatan laporan keuangan mencakup:
1. Periode yang dicakup oleh laporan sumber dan penggunaan dana zakat,

infak dan shadaqah.


2. Dasar penentuan zakat para pemegang saham jika bank diharuskan

membayar zakat atas nama para pemegang saham.


3. Rincian sumber dana zakat,infak, dan shadaqah. 4. Dana zakat, infaq, dan shadaqah yang disalurkan bank selama periode. 44

5. Dana zakat,infaq, dan shadaqah yang belum disalurkan pada akhir periode laporan.

Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan Pengungkapan hal-hal yang berkaitan dengan laporan sumber dan penggunaan dan qardhul hasan dalam catatan atas laporan keuangan mencakup:
1. Periode yang dicakup laporan sumber dan penggunaan dana qardhul hasan. 2. Rincian saldo qardhul hasan pada awal dan akhir periode berdasarkan

sumbernya.
3. Jumlah dana yang disalurkan dan sumber dana yang diterima selama periode

laporan berdasarkan jenisnya.

V. Analisis Laporan Keuangan Bank Syariah Gambaran kinerja suatu bank baik umum maupun syariah biasanya tercermin dalam laporan keuangannya. Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusanekonomi seperti : Pemilik dana/ shahibul maal Pihak-pihak yang memanfaatkan dan menerima penyaluran dana Pembayar zakat, infak dan shadaqah Pemegang saham Otoritas pengawasan

45

Bank Indonesia Pemerintah Lembaga penjamin simpanan Masyarakat.

VI. Keterbatasan Keterbatasan Laporan Keuangan

Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-mata didasarkan atas informasiyang terdapat dalam laporan keuangan. Hal ini disebabkan karena laporan keuangan memiliki keterbatasan, antara lain: 1. Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa yang telah lampau. 2. Bersifat umum, baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak pengguna.
3. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian . Apabila terdapat

beberapakemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.
4. Lebih menekankan pada penyajian suatu peristiwa atau transaksi sesuai

substansinya dan realitas ekonomi daripada bentuk hukumnya (formalitas).


5. Disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis akuntansi dan pemakai

laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan. 6. Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan taksiran.Hanya melaporkan informasi yang material.

46

7. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan sehingga

menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber daya ekonomis dan tingkat kesuksesan antar bank.
8. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikualifikasikan

umumnya diabaikan.

VII.

Rasio Rasio Keuangan Bank Syariah di Indonesia Hingga saat ini analisis rasio keungan bank syariah msih menggunakan aturan yang berlaku di bank konvensional. Jenis analisis rasio keuangan dapat dilakukan melalui duacara, yaitu: 1. Perbandingan internal. Analisis dengan membandingkan rasio periode sekarang dengan periode yang lalu dan yang akan datang untuk perusahaan yang sama.
2. Perbandingan eksternal. Analisis dilakukan dengan membandingkan rasio

perusahaandengan perusahaan lain yang sejenis dengan rata-rata industri pada suatu titik yang sama.

VIII.

Jenis Jenis Rasio Keuangan Bank

Rasio Likuiditas, adalah ukuran kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, meliputi :
Rasio Lancar (current ratio), adalah kemampuan bank untuk membayar

utangdengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki. Rasio lancar = Kas + Penempatan / Utang lancer.
Rasio Cepat (quick ratio), adalah ukuran untuk mengetahui kemampuan

bank dalam utang jangka pendeknya dengan aktiva lancar yang lebih likuid. Rasio cepat = Kas / Utang lancer.
47

Rasio Pembiayaan terhadap Dana Pihak Ketiga (financiang Deposit Ratio),

menunjukkan kesehatan bank dalam memberikan pembiayaan. Rasio Pembiayaan Terhadap Pihak Ketiga = Total Pembiayaan / Total DPK.

Rasio Aktivitas, adalah ukuran untuk menilai tingkat efesiensi bank dalam memanfaatkan sumber dana yang dimilikinya, rasio ini meliputi :
Perputaran Aktiva Tetap, adalah kemampuan aktivitas (efesiensi) dana

yangtertanam dalam keseluruhan aktiva tetap bank dalam suatu periode tertentudengan jumlah keseluruhan aktiva. Perputaran aktiva tetap = Aktiva tetap / Total aktiva.
Perputaran Aktiva Total, adalah rasio yang menunjukkan kemampuan dana

yangtertanam dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentuatau kemampuan bank dalam mengelola sumberdana dalam menghasilkan pendapatan. Perputaran aktiva total = Pendapatan operasional / Total aktiva. Rasio Profitabilitas, adalah rasio yang menunjukkan tingkat efektivitas yang dicapai melalui usaha operasional bank, yang meliputi :
Margin laba (profit margin), adalah gambaran efesiensi suatu bank dalam

menghasilkan laba. Margin laba = Laba / Total pendapatan.


Pengembalian

atas

aktiva

(return

on

asset),

adalah

rasio

yang

menggarkankemampuan bank dalam mengelola dana yang diinvestasikan dalamkeseluruhan aktiva yang menghasilkan keuntungan. Pengembalian atas aktiva = Laba / total aktiva. Rasio Biaya, adalah menunjukkan tingkat efesiensi kinerja operasional bank. Penentuan besarnya rasio ini dihitung dengan rumus sebagai berikut :Rasio biaya = Biaya opersional / Pendapatan operasional

48

DAFTAR PUSTAKA

ajidedim.wordpress. 2008. Akuntansi Syariah (Pengantar 1) diakses pada tanggal 11 Januari 2013 dari http://islamic-accounting.blogspot.com/2008/02/akuntansi-syariahpengantar-1.html imanph.wordpress. 2009. Kumpulan Artikel Akuntansi Syariah diakses pada tanggal 11 Januari 2013 dari http://imanph.wordpress.com/materi-kuliah/akuntansi-syariah/ Mulawarman, Aji Dedi. 2007c. Menggagas Laporan Keuangan Syariah Berbasis TrilogiMaisyah-Rizq-Maal. Simposium Nasional Ekonomi Islam 3. Unpad. Bandung.1415 Nopember.

49