Anda di halaman 1dari 3

No. ID dan Nama Peserta : 61.2.1.100.1.11.117776, dr. Rusdianto No. ID dan Nama Wahana : RSUD dr.

Rubini Topik : Retensio Urin + Vesicolithiasis Tanggal (kasus) : 14 Agustus 2011 Nama Pasien : An. A No. RM Tanggal Presentasi : Pendamping : dr. Hartati Budiarsi Tempat Presentasi : Obyektif Presentasi : Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil Deskripsi : anak, 11 tahun, tidak bisa buang air kecil, vesicolithiasis Tujuan : Penanganan Retensio urin dan vesikolitiasis pada anak, mengetahui faktor risiko urolithiasis pada anak Bahan Bahasan : Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit Cara Membahas: Diskusi Presentasi dan Diskusi E-mail Pos Data Pasien : Nama : An. A No. Registrasi : Nama Klinik : Telp Terdaftar Sejak : Data utama untuk bahan diskusi 1. Diagnosis/Gambaran Klinis: Retensio Urin, Vesicolithiasis, riwayat konsumsi softdrink hingga 3 kali sehari 2. Riwayat Pengobatan: 3. Riwayat Kesehatan/Penyakit: sering mengeluh nyeri saat BAK, sering mengeluh BAK terputus 4. Riwayat Keluarga: tidak ada riwayat batu saluran kemih di anggota keluarga pasien 5. Riwayat Pekerjaan: pelajar 6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik: 7. Lain-lain: Daftar Pustaka: a. Purnomo, BB., 2007, Dasar-dasar Urologi, Jakarta, Sagung Seto
b. NIDDK, 2010, Diet for Kidney Stone Prevention, tersedia pada website: http://kidney.niddk.nih.gov/kudiseases/pubs/kidneystonediet/, dikunjungi pada 7 Januari 2012 c. Clayton,DB., Pope, JC., 2011, The Increasing Pediatric Stone Disease Problem, Ther Adv Urol, 3: 3-12

Hasil Pembelajaran: 1. Diagnosis Vesikolitiasis 2. Penanganan Retensio Urin 3. Penanganan Vesikolitiasis 4. Komplikasi tindakan seksio alta 5. Upaya preventif untuk mencegah berulangnya batu saluran kemih

RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO : 1. SUBYEKTIF: Pasien datang dengan keluhan tidak bisa buang air kecil perlu dipikirkan beberapa penyebab terutama pada anak kecil, di antaranya vesikolitiasis, batu uretra, penyebab neurogenik (spinal cord injury), trauma (striktur uretra, rupture uretra), inflamasi local (balanophosthitis), atau infeksi saluran kemih. Pada pasien, terdapat riwayat nyeri saat BAK sejak 1 tahun yang lalu, hilang timbul, riwayat BAK terputus-putus, mengarahkan kepada kemungkinan batu di saluran kemih terutama buli-buli. 2. OBYEKTIF: Pada pemeriksaan urinalisis didapatkan urin makroskopik berwarna kuning keruh. Pada pemeriksaan didapatkan gambaran radioopak di buli-buli dengan kesan vesikolithiasis. Pada kasus ini, diagnosis vesicolithiasis ditegakan dengan: Gejala klinis (tidak bisa kencing, riwayat nyeri saat BAK, riwayat BAK terputus-putus dan lancar dengan perubahan posisi) Gambaran radiologis (gambaran massa radioopak di bulibuli) 3. ASSESSMENT (PENALARAN KLINIS): Keluhan tiba-tiba tidak bisa buang air kecil (retensio urin) terjadi akibat sumbatan batu bulibuli di ostium urethrae internum yang menghambat aliran urin. Sumbatan teratasi setelah dipasang kateter urin yang mendorong batu yang menyumbat. Dari hasil radiologi memastikan diagnosis batu buli, oleh karena itu diperlukan tindakan evakuasi batu buli tersebut melalui tindakan seksio alta (vesikolitotomi). Berhubung keterbatasan fasilitas rumah sakit maka tidak dilakukan analisis lebih lanjut terhadap jenis batu buli pada pasien. Kebiasaan mengkonsumsi minuman ringan dapat menjadi factor risiko terjadinya batu bulibuli pada pasien. Dari hasil anamnesis diketahui bahwa pasien memang memiliki kebiasaan mengkonsumsi minuman energy hingga 2 atau 3 kali dalam sehari. Terdapat sejumlah penelitian yang menghubungkan antara konsumsi minuman ringan dengan kejadian urolithiasis. Factor lainnya yang turut berperan adalah faktor lingkungan. Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk dalam kawasan stone belt yang memiliki insiden batu saluran kemih cukup tinggi 4. PLAN : Diangosis : vesicolithiasis, berdasarkan gejala klinis dan gambaran radiologis Pengobatan : tatalaksana kedaruratan dengan pemasangan dower catheter untuk mengatasi retensio urin. Setelah itu dilakukan evakuasi batu buli melalui tindakan seksio alta. Pada kasus vesicolithiasis yang besar penangan pilihan yang dapat dilakukan adalah seksio alta. Sedangkan pada vesicolithiasis yang kecil dapat dilakukan dengan ESWL. Pendidikan : Meningkatkan asupan air putih untuk mencegah kekambuhan dari batu saluran kemih di kemudian hari. Menghindari minuman bersoda yang dapat menjadi faktor risiko terbentuknya batu saluran kemih.

Konsultasi : (-) Rujukan : (-)

Kontrol : Kegiatan Pelepasan kateter urin Pelepasan benang jahitan Kontrol pasca operasi

Periode 6 hari post operasi 7 hari post operasi 2 minggu, kontrol berikutnya tiap 3 bulan Setiap kali kunjungan

Nasihat

Hasil yang Diharapkan Os dapat buang air kecil spontan Kondisi luka operasi baik Tidak ditemui komplikasi operasi; tidak terbentuk batu saluran kemih ulang Menghindari faktor risiko terjadinya batu saluran kemih