Anda di halaman 1dari 11

BAGAIMANA MENANGANI ORGANISASI DAN MEMBINA PEMAIN USIA DINI

Oleh : M. Achwani

MANAJEMEN SPORT UTAMA 2011


1

BAGAIMANA MENANGANI ORGANISASI DAN MEMBINA PEMAINUSIA DINI


OLEH : M. ACHWANI PENDAHULUAN Saat ini perkembangan sepakbola usia dini sebenarnya sudah berkembang cukup baik diberbagai daerah di Indonesia walau belum merata, tetapi didaerah-daerah tertentu seperti di Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat termasuk daerah yang pesat perkembangannya disamping beberapa daerah lainnya seperti Jawa Tengah, Jogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Riau, Sumatera Utara, NAD, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Papua. Terbukti dengan banyak bermunculannya kegiatan-kegiatan pertandingan Festival ataupun Camp Latihan Sepakbola di berbagai daerah tersebut yang diperuntukan bagi Pemain Usia Dini, yang biasa diikuti oleh Perkumpulan-Perkumpulan Sepakbola (PS), Sekolah-Sekolah Sepakbola (SSB) ataupun Akademi Sepakbola setempat. Dengan perkembangan seperti itu maka dipandang perlu adanya peningkatan didalam cara bagaimana Menangani Organisasi dan Membina Pemain Usia Dini, Memberikan Dasar Bermain Sepakbola Dengan Baik dan Benar, Berbagai Kegiatan Bagi Pemain Usia dini (Grassroots), Peranan Pelatih Usia Dini, Peranan Wasit Yang Memimpin Pertandingan Usia Dini dan Bimbingan Semua Unsur Pemain Sepakbola sangat diperlukan. MENANGANI ORGANISASI SEPAKBOLA PEMAIN USIA DINI Menangani Organisasi Sepakbola yang membina Pemain Usia Dini tidaklah sama dengan Organisasi Sepakbola yang membina Pemain Senior, menangani Pemain Usia Dini harus lebih hati-hati didalam memperlakukan para Pemain, karena mereka belum bisa mandiri dan belum banyak mengetahui tentang sepakbola, sehingga harus banyak dibimbing didalam memperkenalkan sepakbola kedalam kehidupannya, sedangkan Pemain senior sudah dewasa, telah mandiri dan sudah banyak mengerti tentang sepakbola.
2

Didalam struktur Organisasi Sepakbola yang menangani Pembinaan Pemain Usia Dini, baik dalam bentuk PS atau dalam bentuk SSB misalnya, disamping memiliki Ketua, Sekretaris, Bendahara, Pendidikan dan Latihan, Pertandingan, Perlengkapan, Kesehatan, Promosi, dll, dipandang perlu ada bagian yang khusus memperhatikan perkembangan pribadi dan kemajuan prestasi para Pemainnya, semacam Bimbingan dan konsultasi di Sekolah Formal. Serta sekaligus juga melakukan komunikasi dengan para orang Pemain, yang memiliki peranan penting didalam mendukung anak-anaknya untuk menjadikan sepakbola sebagai pilihan hidupnya. Kemudian jangan dilupakan ada bagian IT yang membuat data base guna merekam jejak prestasi Pemain, dicatat perkembangannya sejak memasuki Organisasi Sepakbola yang menangani Pembina Pemain Usia Dini, seperti PS, SSB maupun Akademi. Setiap Pemain harus memiliki data pribadi sendiri-sendiri, diikuti perkembangan prestasi ataupun kesehatannya selama menjadi Pemain dilingkungan PS, SSB maupun Akademi yang bersangkutan. Idealnya rekam jejak Pemain ini terus berlanjut ketika yang bersangkutan sudah dewasa dan bermain di Klub Sepakbola. Setiap Organisasi yang menangani Pembinaan Pemain Usia Dini harus memiliki kemampuan didalam menyusun Program kegiatan yang selaras dengan Program Latihan yang disusun oleh Pelatihnya, dengan memprogramkan mitra tanding didalam setahunnya idealnya bisa mencapai 25 kali, untuk memberikan pengalaman bertanding dan meningkatkan kemampuan setiap Pemain. Untuk mencapai sedikitnya 25 kali pertandingan, maka kegiatan mitra tanding dengan SSB lain misalnya setidaknya dua kali dalam sebulan, setiap tiga bulan melakukan mitra tanding bersama dengan 3 atau 4 SSB. Kemudian mengikuti atau mengadakan Festival Sepakbola sekurang-kurangnya dua kali dalam setiap tahun, satu diantaranya sebaiknya yang dilaksanakan dipenghujung tahun atau di bulan kedua belas, sehingga bisa disebut merupakan kegiatan puncak atau titik kulminasi dari pembinaan yang dilakukan disepanjang tahun. Dimana Pelatih bisa menilai atau mengevaluasi sejauh mana hasil dari program latihan yang diberikan kepada para Pemainnya.
3

Kegiatan dipenghujung tahun juga bisa dijadikan sebagai persiapan menghadapi berbagai kegiatan Pertandingan festival, Camp Latihan, Coaching Clinic atau Seleksi Pemain yang diadakan berbagai pihak di tahun berikutnya. MEMBERIKAN DASAR BERMAIN SEPAKBOLA DENGAN BAIK DAN BENAR Peranan Pembina yang menangani Pemain Usia Dini sangatlah penting dan tanggung jawabnyapun sebenarnya lebih besar dari Pembina Pemain senior, karena diusia dini adalah saat memulai berkenalan dengan sepakbola, sehingga ia harus diberikan latihan dasar bermain sepakbola dengan baik dan benar. Tidak boleh salah didalam memberikan latihan dasar bermain sepakbola, karena kalau salah memberikan contoh saja bisa terbawa terus sampai ke usia dewasa atau membuat yang bersangkutan tidak akan pernah berkembang menjadi Pemain berkualitas. Pemain Usia Dini harus mendapatkan dasar bermain sepakbola baik dan benar, karena ini saat yang menentukan untuk masa depan sebagai Pesepakbola. Kalau yang bersangkutan ingin menjadi pesepakbola berkualitas, ia harus mendapat latihan sepakbola dengan benar dalam mengontrol, mengumpan, menanduk, menggiring dan menembak untuk Pemain lapangan. Dan untuk Penjaga Gawang, ia harus mendapat latihan yang benar dalam menangkap, mentip, meninju, memblok serta menendang. Pembinaan Pemain Usia Dini merupakan periode basis pembinaan dasar yang sangat strategis, karena saat usia ini adalah usia emas (golden age), usia 8 s/d 12 tahun, atau merupakan periodesasi pertama bila dilakukan sebuah rangkaian pembinaan selama 12 tahun, yang dijalani selama 3 priodesasi secara sistimatis, terarah, bertahap, berjenjang dan berkesinambungan dimana masing-masing periode berdurasi 4 tahun. Dalam periode pertama ini Pemain Usia Dini diperkenalkan terhadap berbagai dasar bermain sepakbola dengan baik dan benar, setahap demi setahap berbagai bentuk latihan diajarkan sesuai bobot dan porsi usianya, namun harus dikemas dengan cara menarik tetapi berbobot agar para Pemain dengan fun (Ceria,senang hati) dapat mengikutinya dengan baik atau jangan sampai membosankan. Oleh
4

karena itu Pelatih Pemain Usia Dini harus memiliki banyak variasi bentuk latihan disetiap jenis latihannya, dengan sasaran memberikan fondasi teknik bermain sepakbola yang kokoh bagi Pemain Usia Dini. Dari sejak mula Pemain Usia Dini harus diberikan latihan secara sistematik dengan pendekatan ilmiah sederhana, misalnya Pelatih harus memberikan bentuk latihan komprehensif (menyeluruh) dengan memanfaatkan seluruh anggota tubuh yang bisa dipergunakan untuk bermain sepakbola (biomekanika). Seperti menendang disamping mempergunakan kaki kanan juga harus bisa mempergunakan kaki kiri, begitu pula ketika menggiring bola atau menyetop bola bisa mempergunakan kaki kiri disamping kanan, kemudian juga dengan mempergunakan bagi kaki dalam, luar dan atas (kura). Bentuk latihan yang komprehensif itu termasuk menerapkan dalam bentuk latihan semua hal yang terjadi di Lapangan, seperti yang banyak luput dilakukan Pelatih seperti bagaimana cara merebut bola atau kapan saatnya merebut bola. Kemudian juga lemparan kedalam harus dilatihkan dalam sesi latihan tersendiri, akan banyak manfaatnya kalau Pemain bisa melakukan lemparan kedalam jauh kedalam Lapangan Permainan, seperti bila dilakukan lemparan kedalam dari sisi lapangan yang paralel dengan garis 16 misalnya, bisa membuat bahaya di daerah Gawang pertahanan lawan sama seperti bola yang berasal dari tendangan sudut. Semua bentuk latihan teknik dasar sepakbola harus diberikan dengan baik dan benar menurut pedoman yang didapatkan Pelatih ketika mengikuti Kursus Pelatih untuk mendapatkan Lisensi, setiap petunjuk dan peragaan materi latihan yang diberikan kepada Pemain harus jelas agar mudah dimengerti, termasuk dijelaskan maksud dan tujuan serta sasaran yang diinginkan dari sesi latihan yang diberikan. Setiap selesai memberikan sesi latihan sebaiknya dilanjutkan dengan mitra latih (game) diantara anak didiknya untuk mempraktekan hasil latihan sebelumnya, saat berjalan mitra latih seorang Pelatih harus teliti memperhatikan apakah anak didiknya sudah benar mempraktekannya atau belum. Bila diketahui ada kesalahan yang diperbuat anak didiknya, segera stop sementara permainan dan beritahu kesalahannya dan berikan kembali contoh bermain yang benar, termasuk bila ada
5

Pemain yang bermain tidak fair harus diingatkan tidak boleh berlaku seperti itu dan ingatkan harus bermain fair. Ciptakan dalam sesi mitra latih sebuah simulasi yang mirip bahkan lebih dari situasi sebenarnya, dengan menciptakan berbagai macam tekanan atau kesulitan yang harus dapat diatasi dan sekaligus harus mampu keluar dari tekanan, dengan transisi merubah dengan cepat dari formasi bertahan ke formasi penyerangan. Dalam sesi mitra latih (game), tidak harus selalu menggunakan lahan Lapangan yang luas tapi juga programkan bermain di lahan Lapangan terbatas (small side game), karena program tersebut secara efektif dapat membantu percepatan meningkatkan kemampuan teknik bermain sepakbola bagi para Pemain termasuk untuk Pemain Usia Dini, terutama dalam hal bagaimana menggiring bola secara cepat untuk melewati lawan, kemudian kerjasama 1-2 sentuhan dengan kawan satu Tim untuk melewati lawan dengan cepat. Malah bila menggunakan Gawang, bisa juga menjadi latihan kesigapan Penjaga Gawang. Bermain sepakbola dilahan terbatas, memiliki derajat kesulitan lebih tinggi, jumlah sentuhan bola akan jauh lebih banyak, semua Pemain aktif dalam permainan dan dalam tempo tinggi, sehingga pergerakan Pemain akan lebih banyak pula. Pemain jadi dibiasakan berfikir dengan cepat (mengambil keputusan dengan cepat) dan bertindak dengan cepat sehingga akan bisa menjadikan Pemain Cekatan dan lugas ketika sedang bermain sepakbola. Kemudian untuk mendukung Program latihan yang sistemik perlu dilakukan pendekatan ilmiah berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, nutrisi gizi, medis, termasuk bio mekanika perlu dimanfaatkan walau dalam cara sederhana sekalipun, dengan tujuan untuk mendukung percepatan pencapaian prestasi bagi para Pemain. Secara psikologi Pelatih dan Pembina lainnya harus memahami bahwa pemain didalam usia 10-12 tahun, perlu mendapat perhatian dan pengakuan dari lingkungannya. Beri penghargaan dengan pujian bila mereka melakukan sesuatu dengan baik sesuai instruksi Pelatih, kemudian beri sanksi berupa peringatan secara mendidik bila mereka melalaikan instruksi yang diberikan Pelatih.
6

Nutrisi gizi dengan asupan dalam jumlah kalori yang cukup untuk dapat mendukung aktivitas didalam bermain sepakbola. Rekaman medis setiap anak juga perlu diperhatikan apakah cukup sehat untuk mengikuti latihan dan pertandingan. BERBAGAI MACAM KEGIATAN BAGI PEMAIN USIA DINI (GRASS ROOT) Pembinaan Pemain Usia Dini yang dalam bahasa kerennya Grassroots, dalam bahasa Indonesianya memiliki arti akar rumput, atau dalam pengertian sepakbola berarti pembinaan sepakbola di tingkat paling dasar bagi Pemain Usia Dini, terutama untuk usia 12 tahun kebawah. Kini banyak cara yang diperkenalkan dalam membina Pemain di segmen usia ini, seperti ada yang melakukan mitra latih yang bisa dilakukan diantara 2 SSB sampai 4 SSB berkumpul sehari di sebuah Lapangan untuk melakukan mitra latih. Ada yang membuat acara Coaching Clinic dalam durasi 2 sampai 4 jam dengan mendatangkan Coach ternama atau mantan Pemain Sepakbola ternama. Ada yang membuat Camp Latihan Sepakbola yang dilakukan beberapa hari. Ada yang dalam bentuk rangkaian pertandingan seperti Festival Sepakbola yang diikuti oleh banyak SSB. Dan seperti yang dilakukan Manajemen Sport Utama (MSU) dengan mendisain menggabungkan antara kegiatan pelatihan dan pertandingan seperti Camp dan Festival Sepakbola yang juga diikuti oleh banyak SSB. Istilah Festival yang pada awalnya diperkenalkan oleh FIFA untuk bentuk rangkaian pertandingan khusus 14 tahun kebawah yang mempertemukan TimTim peserta berbagai kelompok usia, Kalau untuk Sepakbola muda (youth) atau dewasa (senior) biasa disebut Kompetisi atau Turnamen. Pertandingan dalam bentuk Festival, hasil akhir atau puncak dari rangkaian pertandingannya tidak disebut juara, tapi Tim Terbaik, atau bisa kita sebut Tim Terbaik satu dan seterusnya, atau untuk menyusun urutan peringkat dari semua peserta yang mengikuti Festival Sepakbola tertentu. Dalam perkembangan selanjutnya Festival juga dipergunakan untuk acara latihan bersama Pemain Usia Dini dalam satu hari penuh di sebuah Lapangan, yang bisa atau biasanya diikuti perseorangan yang kemudian baru dibentuk kelompok7

kelompok, atau tidak dalam bentuk Tim-Tim peserta, tetapi dalam sesi terakhir latihan bersama yang dipandu oleh Pelatih Pendidik (Coach Educator) ini bisa juga dilakukan mitra latih/mitra tanding antar kelompok peserta Festival yang mengikutinya, Festival semacam ini ada yang disebut Grassroots Footbal Festival. PERANAN PELATIH USIA DINI Dalam kegiatan Pembinaan Pemain Usia Dini harus dibangun suasana FUN (CERIA), Pemain Usia Dini harus didorong menjadi Pemain kreatif. Oleh karena Pelatih bisa berperan untuk mendampingi, membimbing, mengarahkan mereka, selebihnya Pemain Usia Dini harus diberi kebebasan atau keleluasaan untuk mengekpresikan diri dalam bermain sepakbola. Pelatih harus senantiasa berusaha mengarahkan anak didiknya menjadi Pemain yang memiliki disiplin pribadi tinggi, berkarakter, memiliki keinginan kuat untuk menjadi pesepakbola berprestasi, bersikap mandiri, menghargai dan menghormati orang lain, berperilaku sportif dan rajin berlatih sepakbola untuk mencapai cita-citanya. Ketika mengikuti pertandingan, Pelatih sebaiknya tidak memberikan instruksi tentang taktik strategi bermain secara panjang lebar dan rumit seperti untuk Pemain dewasa, Pelatih cukup memberikan instruksi sederhana atau pada garis besarnya saja, tetapi cukup jelas bagi para Pemainnya. Dengan demikian Pemain diberi kebebasan untuk mengembangkan permainan individu maupun kerjasama Tim, didik mereka agar menjadi Pemain kritis dan cerdas, agar mudah menyerap instruksi Pelatih baik pada saat latihan maupun pertandingan. Pelatih juga harus mengingatkan para Pemainnya disetiap pertandingan agar selalu bermain untuk menang tetapi dengan cara sportif. Peranan Pelatih ketika mengikuti pertandingan selain memberikan instruksi sederhana tetapi jelas dan memberikan evaluasi maupun koreksi saat jeda kepada para Pemain, selebihnya ia adalah pemberi semangat dan mengingatkan agar para Pemainnya bermain disiplin dan sportif sesuai arahan yang diberikan sebelumnya, tidak boleh berteriak-teriak memberikan instruksi apalagi marahmarah saat permainan berlangsung.
8

Pendidikaan karakter bermain sepakbola dimulai disaat usia dini, agar ia tumbuh dan berkembang maju bila dimulai dengan diberi keleluasaan mengembangkan permainan sepakbola dari sejak awal, tetapi bila sejak awal didikte harus menuruti saja apa kata Pelatih, maka ia dalam pertumbuhan selanjutnya akan menjadi seorang Pemain tanpa karakter dan memiliki ketergantungan terhadap Pelatih. PERANAN WASIT YANG MEMIMPIN PERTANDINGAN USIA DINI Dalam Pembinaan Pemain Usia Dini, Wasit yang memimpin mitra latih/mitra tanding atau yang memimpin pertandingan Festival harus juga ikut membina dan membimbing para Pemain Usia Dini di Lapangan permainan, agar mereka memahami dan mentaati Peraturan Permainan, tunduk pada keputusan Wasit dan menghormati Pemain dan Ofisial lawan (respek terhadap lawan bermain). Setiap ada pelanggaran yang dilakukan seorang Pemain terhadap Pemain lawannya, maka Wasit harus memberi tahu apa kesalahan yang diperbuat oleh yang bersangkutan, kemudian mengingatkannya agar kesalahan tersebut tidak boleh diulangi kembali, yang bersangkutan juga harus menyalami Pemain lawannya atau menolong lawannya bangun bila terjatuh, baru setelah itu bola dimainkan kembali (play on). Wasit yang memimpin pertandingan juga harus mengingatkan kepada Pelatih, bila ada Pemain sebuah Tim diusir dari Lapangan permainan karena melakukan pelanggaran serius, agar menasihati Pemain yang bersangkutan selama diberi sanksi selama tiga menit. Kemudian pastikan Pemain yang bersangkutan sudah diberi nasihat yang diperlukan oleh Pelatih sebelum masuk kembali ke Lapangan permainan (bisa dilakukan oleh Wasit kedua). Disamping itu Wasit harus memberikan Kartu Hijau kepada Pemain, sebagai bentuk penghargaan atas perilaku sportif atau fair play yang diperlihatkan seorang Pemain, yang menghomati peraturan, mentaati keputusan Wasit, menghormati Pemain dan Ofisial lawan bertandingnya. Seperti dengan kesadarannya sendiri menyesali atas perbuatan tak disengaja melakukan pelanggaran terhadap Pemain lawannya, dengan segera menyalami yang
9

bersangkutan dalam kesempatan pertama, begitu juga menolong berdiri lawannya yang terjatuh atau yang cedera, mensegerakan membuang bola keluar Lapangan permainan manakala diketahui lawan bertandingnya ada yang cedera, menenangkan kawannya bila terlihat emosional. Kepada Ofisialpun Wasit dapat memberikan kartu Hijau seusai pertandingan, bila dinilai telah memperlihatkan sikap positif selama pertandingan berlangsung yang melibatkan Timnya, kemudian Pemainnya tidak ada yang terkena Kartu Kuning apalagi Kartu Merah, berlaku tertib di Bangku Cadangan dan perilaku sportif lainnya yang patut mendapat penghargaan. BIMBINGAN SEMUA UNSUR PEMBINA SEPAKBOLA SANGAT DIPERLUKAN Melihat pesatnya kegiatan sepakbola usia dini saat ini yang tampak pesat, maka sangat diperlukan Bimbingan Semua Unsur Pembina Sepakbola, seperti Pengurus Sepakbola disemua tingkatan mulai dari PSSI sampai ketingkat PS, SSB ataupun Akademi Sepakbola, Pelatih disemua jenjang, Wasit disemua tingkatan didalam melaksanakan Program Pembinaan Pemain Usia Dini. Pemain di usia emas ini memerlukan penanganan yang lebih baik lagi dari sekarang, karena saat ini umumnya baru merupakan kegiatan hangat-hangat dingin, datang dan pergi atau muncul kemudian menghilang berbagai kegiatan latihan maupun pertandingn, yang jauh dari harapan karena nyaris banyak yang tidak dilakukan secara teratur, terarah dan berkesinambungan. Kini Kita harus memiliki tekad bersama bersama untuk memajukan sepakbola usia dini Indonesia, dengan cara yang lebih baik, membuat program yang menyeluruh, terpadu dan terintegrasikan antara satu kegiatan Pemain Usia Dini (Grassroots) dengan kegiatan lainnya, terutama untuk membangun sistim data base (sistim IT) Pemain yang sangat penting sebagai dasar untuk memajukan sepakbola di Indonesia.

10

PENUTUP Demikian begitu banyak cara untuk menangani dan banyak pilihan untuk melakukan Pembinaan Pemain Usia Dini, seperti kata pepatah orang Romawi jaman dahulu banyak jalan menuju Roma, nah demikian pula didalam melakukan kegiatan Pembinaan Pemain Usia Dini, kita semua yang peduli dan terpanggil harus meningkatkan kreativitas dengan berbagai cara yang terpadu secara bersama-sama mencari jalan memajukan Sepakbola Usia Dini Indonesia. Bandung, 11 Desember 2011. M. ACHWANI

11