Anda di halaman 1dari 106

DEPARTEMEN KEHUTANAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN


BALAI PENELITIAN KEHUTANAN SOLO

LAPORAN HASIL PENELITIAN


(LHP)

TAHUN ANGGARAN 2007

MODEL REHABILITASI LAHAN DAN


KONSERVASI TANAH PANTAI BERPASIR

Penanggung Jawab Kegiatan :

Ir. Beny Harjadi, MSc.

SURAKARTA, DESEMBER 2007

Beny Harjadi dkk di BPK Solo


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN HASIL PENELITIAN

MODEL REHABILITASI LAHAN DAN


KONSERVASI TANAH PANTAI BERPASIR

Tahun 2007

Surakarta, Desember 2007

Diperiksa oleh : Diperiksa oleh : Disusun oleh,


Kepala Seksi EP, Ketua Kelti KTA, Ketua Tim Pelaksana

Drs. Prapto Suhendro Ir. Sukresno, MSc Ir. Beny Harjadi, MSc
NIP. 710 000 452 NIP. 710 001 486 NIP. 710 017 594

Disahkan oleh :
Kepala BPK Solo,

Ir. Edy Subagyo, MP.


NIP. 710 008 439

Beny Harjadi dkk di BPK Solo ii


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

KATA PENGANTAR

Laporan kegiatan penelitian lahan pantai berpasir tahun 2007 yang berjudul
: Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir merupakan
kegiatan pengembangan dan sosialisasi hasil penelitian yang pernah dilakukan di
Samas, Yogyakarta. Judul tersebut merupakan bagian dari UKP Teknologi dan
Kelembagaan Rehabilitasi Lahan Terdegradasi.
Laporan ini berisikan informasi mengenai kegiatan pengembangan pada
lahan pantai berpasir dengan mengembangkan berbagai macam tanaman tanggul
angin yang terdiri dari cemara laut, tanaman buah-buahan dan tanaman kehutanan.
Disamping itu juga dengan tanam tanaman semusim dan kelengkapan sarana dan
prasarana untuk pengamatan berbagai macam fisik tanah dan iklim, meliputi
evaporasi, kecepatan angin, erosi tanah, dan lain-lain. Sehingga tujuan penelitian ini
adalah : untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai
berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif yang memuat
kegiatan-kegiatan antara lain :
1) Mengembangkan jalur TA dengan tanaman Casuarina equisetifolia.
2) Mengembangkan sarana pengairan berupa sumur bak renteng.
3) Mengembangkan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai.
4) Meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat
5) Meningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata.
Dengan selesainya laporan ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan acuan
untuk penelitian yang sejenis baik di rumah kaca maupun di lapangan. Selanjutnya
ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh Tim Peneliti, Pemimpin Proyek
serta rekan-rekan di BPK Solo yang telah memberikan saran dan kritik.
Surakarta, Desember 2007
Kepala Balai,

Ir. Edy Subagyo, MP


NIP. 710 008 439

Beny Harjadi dkk di BPK Solo iii


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir


Oleh :
Beny Harjadi, S.Andy Cahyono, Dona Octavia,
Gunawan, Arif Priyanto, dan Siswo

ABSTRAK

Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor


10/Men/2002 tentang pedoman umum perencanaan pengelolaan pesisir terpadu;
dan UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya; dan pentingnya pesisir pantai yang kaya akan SDA dan jasa
lingkungan, hendaknya pemanfaatan lahan pantai berpasir dilakukan secara baik dan
benar dan dapat berfungsi ganda, yaitu untuk mengendalikan erosi (angin) dan untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha budidaya tanaman semusim dan
tanaman keras serta buah-buahan yang sesuai dan bernilai ekonomis. Pada wilayah
pantai berpasir, dimana berlangsung erosi angin yang terjadi secara terus menerus,
kondisi lahannya marginal dan cenderung diabaikan. Peristiwa tersebut menjadikan
lahan pantai berpasir menjadi semakin kritis, baik untuk wilayah itu sendiri maupun
wilayah di belakangnya. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyediakan sarana
pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai. Pada wilayah
pantai berpasir berlangsung erosi angin yang terjadi terus menerus, kondisi lahannya
marginal dan tidak terurus. Peristiwa tersebut menjadikan lahan pantai berpasir
menjadi semakin kritis. Metode penelitian meliputi : (a) Kegiatan penetapan lokasi,
pembuatan rancangan, dan pemetaan lokasi antara lain : patok, meteran, kompas,
peta dasar. (b).Kegiatan pembuatan sarana penahan erosi pasir tanaman TA, antara
lain : Casuarina equisetifolia (cemara laut). (c) Bibit tanaman budidaya semusim untuk
ditanam di antara jalur tanaman TA antara lain : bawang merah dan jagung (Zea
mays L.). (d).Kegiatan perbaikan tanah berupa pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha
serta pupuk anorganik ZA, KCl, urea, TSP, insektisida, dan fungisida. (e).Kegiatan
pengembangan sarana pengairan tanaman budidaya antara lain berupa bak
renteng, pralon, gembor, selang, pompa air. (f).Kegiatan pengamatan perlakuan,
antara lain: Sand trap, evaporimeter, ombrometer, anemometer, termometer udara,
dan termometer tanah. tanaman tanggul angin yang dikembangkan di pantai
berpasir yaitu cemara laut (Casuarina equisetifolia). Tinggi cemara laut dari umur
satu tahun sampai 7 tahun tahun rata-rata ketinggiannya berurutan : 58,7; 126,4;
130; 125,2; 320, 530, 810 cm. Hasil produksi bawang merah tahun 2007 20,3
ton/ha dengan harga jual Rp. 96.425.000,- dan untuk cabe merah Rp 24 ton/ha
dengan harga jual Rp 96.000.000,-. Kondisi iklim pantai berpasir desa
Karanggadung, kecamatan Petanahan kabupaten Kebumen adalah : suhu udara 27-
36 oC,, suhu tanah 33-36 oC, evaporasi 0,9 mm/hari, kecepatan angin 12 km/jam
dan erosi angin 15,24 g/bulan. Curah hujan berlangsung selama 6 bulan dari bulan
Oktober sampai Maret dengan rata-rata 113 – 566 mm/hari.

Kata Kunci : Rehabilitasi, Konservasi Tanah, Pantai Berpasir, Erosi angin, Kebumen

Beny Harjadi dkk di BPK Solo iv


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... iii


DAFTAR ISI............................................................................................................... v
DAFTAR TABEL...................................................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. x
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................. xii
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................. xii
I. PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 2
C. Tujuan dan Sasaran UKP ................................................................................... 2
D. Tujuan dan Sasaran PPTP .................................................................................. 3
E. Tujuan dan Sasaran RPTP Tahun 2007 .............................................................. 3
F. Luaran Tahun 2007 ............................................................................................. 4
G. Ruang Lingkup Tahun 2007............................................................................... 4
H. Hasil yang Telah Dicapai ................................................................................... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................... 8
A. Lahan Kritis dan Upaya Rehabilitasi ................................................................. 8
B. Erosi Angin......................................................................................................... 9
1. Proses Erosi Angin......................................................................................... 9
2. Faktor-faktor Penyebab Erosi Angin ........................................................... 11
3. Erosi Angin Pada Lahan Pantai Berpasir ..................................................... 11
C. Model Pengendalian Erosi Angin..................................................................... 12
1. Metode Pengendalian Kecepatan Angin ...................................................... 12
2. Metode Pengendalian Faktor Tanah............................................................. 13
D. Teknik Budidaya Tanaman yang Dikembangkan ........................................... 15
1. Tanaman Tanggul Angin ............................................................................ 15
1.1. Cemara Laut (Casuarina equisetifolia).................................................. 15

Beny Harjadi dkk di BPK Solo v


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

1.2. Pandan (Pandanus tectorius) ................................................................. 16


2. Tanaman Tahunan........................................................................................ 17
2.1. Keben (Barringtonia asiatica) = Lecythidaceae/Barringtoniaceae ....... 17
2.2. Bintangur (Calophyllum inophyllum) = Guttiferae ................................ 17
2.3. Waru (Hibiscus tilliaceus) = Malvaceae ................................................ 18
2.4. Ketapang (Terminalia catappa) = Combretaceae .................................. 18
3. Tanaman Budidaya...................................................................................... 19
3.1. Semangka (Citrullus vulgaris) ............................................................... 19
3.2. Terong Ungu (Solanum melongena) ...................................................... 19
3.3. Bawang Merah (Allium cepa) ................................................................ 20
3.4. Cabe Merah Keriting (Capsicum annuum) ............................................ 20
3.5. Kacang Panjang (Vigna sinensis)........................................................... 21
E. Sosial, Ekonomi dan Budaya............................................................................ 21
1. Adopsi .......................................................................................................... 21
2. Pengertian Partisipasi ................................................................................... 23
3. Perencanaan Partisipatif ............................................................................... 25
III. BAHAN DAN METODE ................................................................................... 30
A. Lokasi Penelitian dan Tata Waktu .................................................................. 30
B. Bahan dan Metode.......................................................................................... 33
1. Jenis Kegiatan .............................................................................................. 33
2. Tahapan Kegiatan......................................................................................... 33
2.1. Pemeliharaan jalur tanaman TA permanen Casuarina equisetifolia di
Samas dan pengembangan jalur tanaman TA di Kebumen ................. 33
2.2. Pemeliharaan sarana pengairan berupa sumur bak renteng .................. 36
2.3. Pengembangan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai....... 36
2.4. Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat ...................................... 36
2.5. Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata.......................... 37
3. Parameter ..................................................................................................... 37
3.1. Tanaman TA sebagai Pengendali Erosi Pasir ........................................ 37
3.2. Pengembangan sarana pengairan berupa sumur bak renteng................. 37

Beny Harjadi dkk di BPK Solo vi


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

3.3. Pengembangan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai........ 37


3.4. Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat ......................................... 38
3.5. Peningkatan kenyamanan lingkungan sekitar wisata............................. 38
4. Pengambilan Data ........................................................................................ 39
4.1. Tanaman TA Casuarina equisetifolia.................................................... 39
4.2. Sarana Pengairan................................................................................... 39
4.3. Model Tanaman Budidaya .................................................................... 39
4.4. Tingkat Pendapatan Masyarakat ............................................................ 39
4.5. Kenyamanan Lingkungan Wisata ......................................................... 40
5. Pengolahan dan Analisa Data....................................................................... 41
5.1. Tanaman TA Casuarina equisetifolia................................................... 41
5.2. Sarana pengairan berupa sumur bak renteng ........................................ 41
5.3. Model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai................................ 41
5.4. Tingkat pendapatan masyarakat............................................................ 41
5.5. Kenyamanan lingkungan sekitar wisata................................................. 42
IV. BIAYA DAN ORGANISASI PELAKSANA .................................................... 43
V. HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................................... 45
A. Pengembangan Jalur TA dengan tanaman Casuarina equisetifolia ................ 45
a. Pertumbuhan Cemara Laut............................................................................ 45
b. Tanggul Angin Sementara............................................................................. 48
B. Pengembangan Sarana Pengairan Berupa Sumur Bak Renteng....................... 49
a. Kondisi Biofisik ............................................................................................ 49
i. Kesuburan Tanah ....................................................................................... 49
ii. Suhu Tanah ............................................................................................... 54
b. Perubahan Iklim ............................................................................................ 56
i. Evaporasi.................................................................................................... 56
ii. Curah Hujan .............................................................................................. 60
iii. Kecepatan angin....................................................................................... 60
iv. Suhu Udara............................................................................................... 61
c. Instalasi Air ................................................................................................... 62

Beny Harjadi dkk di BPK Solo vii


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

C. Pengembangan Model Pola Tanam Tanaman Budidaya yang Sesuai.............. 63


a. Tanaman Semusim ........................................................................................ 63
b. Teknik Budidaya Tanaman Semusim ........................................................... 65
i. PENANAMAN PADI GOGO ................................................................... 65
ii. PENANAMAN JAGUNG ........................................................................ 66
iii. PENANAMAN KACANG TANAH....................................................... 67
iv. PENANAMAN LOMBOK/CABE .......................................................... 68
v. PENANAMAN BAWANG MERAH....................................................... 69
D. Peningkatan Tingkat Pendapatan Masyarakat.................................................. 71
a. Kelompok Tani Pasir Makmur ..................................................................... 71
b. Masyarakat Karanggadung .......................................................................... 77
c. Kelembagaan ................................................................................................ 81
E. Peningkatan Kenyamanan Lingkungan Sekitar Wisata................................... 83
a. Kunjungan Wisata ........................................................................................ 84
b. Pendapatan Wisata ....................................................................................... 84
VI. KESIMPULAN................................................................................................... 85
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 87

Beny Harjadi dkk di BPK Solo viii


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perbandingan Evaluasi Konvensional dan Partisipatif ............................... 29

Tabel 2. Jadwal Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai
Berpasir 2007 .......................................................................................... 32

Tabel 3. Tim Pelaksana Kegiatan Tahun 2007 ......................................................... 44

Tabel 4. Tinggi Cemara Laut Tahun 2005 sampai 2007 di Karanggadung, Kebumen
................................................................................................................. 46

Tabel 5. Tinggi tanaman Cemara Tahun 1994 sampai 2003 di Samas, Bantul ....... 47

Tabel 6. Perbandingan Unsur Kandungan Unsur Hara Lahan Pantai Berpasir di


Kebumen dan Bantul............................................................................... 50

Tabel 7. Kriteria Tingkatan Kandungan Unsur Hara Tanah ..................................... 51

Tabel 8. Data Suhu Tanah Ke dalaman 15, 30 dan > 30 cm di Kebumen Tahun 2007
................................................................................................................. 54

Tabel 9. Data Evaporasi Dekat Pantai Tahun 2007 di Kebumen............................. 57

Tabel 10. Data Evaporasi Jauh dari Pantai Tahun 2007 di Kebumen...................... 58

Tabel 11. Data Kecepatan Angin Siang dan Malam Hari di Pantai Berpasir kebumen
................................................................................................................. 60

Tabel 12. Suhu Udara pada Siang dan Malam Hari Tahun 2007 di Kebumen........ 61

Tabel 13. Data Produksi tanaman Bawang Merah (Brambang) dan Cabe dari Tahun
2000 sampai 2007 di Bantul.................................................................... 64

Tabel 14. Anggota Kelompok Tani Pasir Makmur, Karanggadung, Petanahan....... 76

Tabel 15. Mata pencaharian utama penduduk Desa Karanggadung ........................ 79

Tabel 16. Kunjungan Obyek Wisata di Karanggadung Tahun 2006 dan 2007 ....... 83

Beny Harjadi dkk di BPK Solo ix


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Proses Penyusunan Rencana ................................................................... 26

Gambar 2. Lokasi Penelitian Lahan Pantai Berpasir di Samas, Bantul sejak Tahun
1994 dan Karanggadung, Kebumen Sejak Tahun 2005....................... 30

Gambar 3. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di desa Karanggadung,


Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Sejak Tahun 2005 ....... 31

Gambar 4. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di desa Srigading, Kecamatan


Samas, Kabupaten Bantul, Sejak Tahun 1994 ..................................... 31

Gambar 5. Layout Pengembangan Demplot Tanaman Budidaya dan Tanaman


Tanggul Angin ..................................................................................... 35

Gambar 6. Sebaran Probabilitas Normal Cemara Laut di Kebumen (KT0-KT2) dan


Bantul (KU1-KU4)............................................................................... 45

Gambar 7. Tinggi Cemara Laut dari Tahun 2005 – 2007 di Karanggadung,


Kebumen .............................................................................................. 46

Gambar 8. Tinggi Cemara Laut dari Tahun 1994 – 2003 di Samas, Bantul............ 47

Gambar 9. Tanaman Tanggul Angin dari Tanaman Jagung, sudah mengering...... 48

Gambar 10. Kadar Hara Lahan Pantai : N, K, DHL, K tertukar, Kadar Lengas dan
Fe total di Kebumen dan Bantul........................................................... 52

Gambar 11. Kadar Hara Lahan Pantai : Na ttk, Ca ttk, Mg ttk, KPK (Kapasitas
Pertukaran Kation), pH di Kebumen dan Bantul ................................. 52

Gambar 12. Kadar Hara Lahan Pantai : Cu total, Zn total, KB (Kejenuhan Basa),
Mn total dan P total di Kebumen dan Bantul....................................... 53

Gambar 13. Suhu Tanah pada Ke dalaman 0 - 15 cm Tahun 2007 di Kebumen..... 55

Gambar 14. Suhu Tanah pada Ke dalaman 15 - 30 cm Tahun 2007 di Kebumen... 55

Beny Harjadi dkk di BPK Solo x


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 15. Suhu Tanah pada Ke dalaman > 30 cm Tahun 2007 di Kebumen....... 56

Gambar 16. Evaporasi pada Pengamatan Siang dan Malam hari Dekat Pantai....... 59

Gambar 17. Evaporasi pada Pengamatan Siang dan Malam hari Jauh dari Pantai.. 59

Gambar 18. Data Hujan : Maximum Hujan, Rerata, Hari Hujan, Jumlah dan
Minimum.............................................................................................. 60

Gambar 19. Kecepatan Angin Siang dan Malam Tahun 2007 di Kebumen ............ 61

Gambar 20. Suhu Udara Tahun 2007 Malam dan Siang Hari di Kebumen............. 62

Gambar 21. Instalasi Air untuk Distribusi Kebutuhan Air Tanaman semusim. ...... 63

Gambar 22. Hasil Produksi Bawang Merah dari Tahun 2000 sampai 2007 di Samas,
Bantul ................................................................................................... 65

Gambar 23.. Hasil Produksi Cabe dari Tahun 2000 sampai 2007 di Samas, Bantul 67

Gambar 24. Studi Banding KT. Pasir Makmur di Lahan Berpasir Bantul .............. 71

Gambar 25. Ternak Besar sebagai pemasok Pupuk Kandang bagi Tanaman di pantai
Berpasir oleh KT. Mandiri, Srigading, Bantul..................................... 73

Gambar 26. Komposisi Tempat Tinggal Anggota Kelompok Tani......................... 74

Gambar 27. Komposisi Kelas Umur Anggota KT. Pasir Makmur ........................... 75

Gambar 28. Penggunaan Lahan di Desa Karang Gadung Kecamatan Petanahan . 77

Gambar 29. Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin Desa Karang Gadung78

Gambar 30 Komposisi penduduk berdasarkan usia produktif .................................. 78

Gambar 31. Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Karanggadung............................. 80

Gambar 32. Jumlah Pengunjung Wisata di Obyek Wisata Pantai Karanggadung... 84

Gambar 33. Pendapatan Dari Obyek Wisata Tahun 2006 dan 2007......................... 84

Beny Harjadi dkk di BPK Solo xi


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kerangka Logis Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi


Tanah Pantai Berpasir (RPTP 2007)................................................... 87

Beny Harjadi dkk di BPK Solo xii


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah pantai yang luas.
Bentuk lahan (landform) wilayah pantai secara umum dikelompokkan atas wilayah pantai
berlumpur (muddy shores), pantai berpasir (sandy shores), dan pantai berbatu karang atau
andesit (Bloom, 1979).
Pada wilayah pantai berpasir (bergisik), pola penggunaan lahan yang umum
merupakan pola berulang cekungan antara beting pantai (swale) dan punggung pantai
(beach ridge) yang berupa lahan kosong (tanpa taaman), bertekstur tanah kasar (pasir),
atau diusahakan untuk tegalan (Tim UGM, 1992). Wilayah ini bersifat dinamis dimana
terdapat hubungan antara pasokan butir-butir pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak
menuju pantai dan dari gisik yang merupakan hasil erosi angin kearah daratan, sehingga
pasokan pasir terjadi terus-menerus. Peristiwa tersebut menyebabkan lahan pantai berpasir
menjadi kritis, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah di belakangnya. Kondisi
lahan yang kritis tersebut disebabkan tidak hanya oleh faktor biofisik semata yang secara
alami telah kritis, tetapi juga upaya penanganan yang ada masih belum optimal, sehingga
bila tidak segera ditangani, dampak negatif yang akan terjadi akan semakin luas.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/Men/2002
tentang pedoman umum perencanaan pengelolaan pesisir terpadu; UU No.5 Tahun 1990
tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya; dan pentingnya pesisir
pantai yang kaya akan SDA dan jasa lingkungan, hendaknya pemanfaatan lahan pantai
berpasir dilakukan secara baik dan benar dan dapat berfungsi ganda, yaitu untuk
mengendalikan erosi (angin) dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui
usaha budidaya tanaman semusim yang sesuai dan bernilai ekonomis. Dengan model
pengelolaan tersebut dimana hasilnya dapat mengubah lahan yang tadinya terlantar
menjadi lahan yang potensial untuk dapat diusahakan sebagai lahan budidaya, maka perlu
dikembangkan dengan model demplot.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 1


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

B. Rumusan Masalah

Pada wilayah pantai berpasir, biasanya berlangsung erosi angin yang terjadi
secara terus menerus, kondisi lahannya marginal, dan cenderung diabaikan. Peristiwa
tersebut menjadikan lahan pantai berpasir menjadi semakin kritis, baik untuk wilayah itu
sendiri maupun wilayah di belakangnya. Dampak peristiwa erosi pasir yang nyata antara
lain : 1) tanah pada lahan pantai bertekstur kasar dan bersifat lepas sehingga sangat peka
terhadap erosi angin, 2) hasil erosi berupa endapan pasir (sand dune) dapat menutup
wilayah budidaya dan pemukiman di daerah di belakangnya, dan 3) butiran pasir bergaram
yang dibawa dari proses erosi angin dapat merusak dan menurunkan produktivitas
tanaman budidaya. Kondisi tersebut jika tidak segera ditangani dengan serius maka akan
berdampak buruk pada lingkungan dan pengaruh negatif yang terjadi akan semakin
meluas.
Adanya pemanfaatan lahan pantai berpasir secara baik dan benar akan berfungsi
ganda, yaitu untuk mengendalikan erosi (angin) dan untuk meningkatkan pendapatan
masyarakat melalui usaha budidaya tanaman semusim yang sesuai dan bernilai ekonomis.
Dengan model pengelolaan tersebut diharapkan hasilnya dapat mengubah lahan yang
tadinya terlantar menjadi lahan yang potensial sebagai lahan budidaya.

C. Tujuan dan Sasaran UKP

Kegiatan ini merupakan bagian dari UKP Teknologi dan Kelembagaan Lahan
Terdegradasi yang bertujuan untuk menyediakan informasi dan teknologi tepat guna,
kajian sosial ekonomi serta rekomendasi kebijakan/kelembagaan rehabilitasi lahan
terdegradasi agar lahan terdegradasi dapat berfungsi kembali sebagai habitat flora,
fauna, dan secara keseluruhan sebagai penyangga kehidupan, termasuk didalamnya
dapat meningkatkan perekonomian rakyat dengan meningkatkan partisipasi masyarakat
dari mulai perencanaan, kegiatan pelaksanaan, dan pengelolaan pada pasca rehabilitasi
lahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model-model
rehabilitasi lahan terdegradasi yang tepat guna dengan pendekatan social forestry.
Adapun sasaran kegiatan ini adalah pengembangan model rehabilitasi lahan
pantai berpasir, dengan melibatkan peran masyarakat secara aktif. Dampak yang
diharapkan yaitu masyarakat sekitar pantai berpasir tetap dapat melanjutkan secara
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 2
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

mandiri pemanfaatan lahan pantai untuk usaha produktif sebagai upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian alam dan konservasi tanah
dan air.

D. Tujuan dan Sasaran PPTP

Tujuan kegiatan pada Proposal Penelitian Tim Peneliti (PPTP) adalah untuk
menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang
sesuai, berupa demplot yang representatif dan inovatif serta memuat kegiatan-kegiatan
antara lain :
1) Mengembangkan jalur tanaman tanggul angin
2) Mengembangkan sarana pengairan air tawar
3) Mengembangkan model pola tanam tanaman semusim dan tahunan
4) Meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat
5) Meningkatkan kenyamanan kawasan wisata dan sekitarnya.
Sasaran kegiatan adalah agar pelaksanaan Kepres No. 32 tahun 1990 tentang
kawasan lindung sempadan pantai yang ditentukan minimal 100 m dari titik tertinggi
pasang-surut kearah daratan maupun SKB Mentan dan Menhut No. 550/246/Kpts/4/1984
dan No. 082/Kpts-11/1984 tentang pengaturan penyediaan lahan kawasan hutan untuk
pengembangan usaha budidaya pertanian dan jalur hijau hutan pantai yang dipertahankan
lebarnya 200 m dapat terwujud, yaitu melalui pengembangan model tanaman tanggul
angin Casuarina equisetifolia (pembiakan dan pola tanam), model pengelolaan tanaman
budidaya (bawang merah, cabe, semangka, terong, dll) yang ditanam di antara tanaman
tanggul angin. Keluaran yang diharapkan adalah berupa demplot sesuai petunjuk teknis
seluas 1- 2 ha. Dampak yang diharapkan adalah masyarakat dapat menerima dan
melaksanakan teknik konservasi lahan pantai berpasir dengan model pengendali erosi
angin sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan terlantar.

E. Tujuan dan Sasaran RPTP Tahun 2007


Tujuan kegiatan dalam Rencana Penelitian Tim Peneliti (RPTP) adalah untuk
menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang
sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif.
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 3
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Sasaran kegiatan tahun 2007 antara lain :


1) Pemeliharaan jalur tanaman TA permanen di Samas dan pengembangan
jalur tanaman TA di Kebumen.
2) Pemeliharaan sarana pengairan berupa sumur bak renteng
3) Pengembangkan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai.
4) Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat
5) Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata.
Kegiatan penelitian pantai berpasir ini sesuai pelaksanaan Kepres No. 32 tahun
1990 tentang kawasan lindung sempadan pantai yang ditentukan minimal 100 m dari titik
tertinggi pasang-surut kearah daratan maupun SKB Mentan dan Menhut No.
550/246/Kpts/4/1984 dan No. 082/Kpts-11/1984 tentang pengaturan penyediaan lahan
kawasan hutan untuk pengembangan jalur hijau hutan pantai, yaitu melalui pengembangan
model tanaman tanggul angin Casuarina equisetifolia (pembiakan dan pola tanam) dan
model pengelolaan tanaman budidaya yang ditanam di antara tanaman tanggul angin
(bawang merah, cabe, semangka, terong, dll) yang dilakukan bersama masyarakat dan
instansi terkait.

F. Luaran Tahun 2007


Luaran yang diharapkan dapat dihasilkan antara lain :
1. Tersedianya informasi pertumbuhan tanaman C. equisetifolia sebagai tanaman
jalur TA dan informasi efektivitas jalur TA sebagai pengendali erosi pasir.
2. Tersedianya informasi sistem pengairan yang sesuai untuk lahan pantai pasir.
3. Tersedianya informasi pertumbuhan dan hasil jenis-jenis tanaman semusim
yang sesuai untuk lahan pantai berpasir.
4. Tersedianya analisis finansial model rehabilitasi lahan dan konservasi tanah
yang dikembangkan pada lahan pantai berpasir.
5. Tersedianya informasi kelembagaan, tingkat adopsi dan partisipasi
masyarakat terhadap upaya RLKT (Reboisasi Lahan dan Konservasi Tanah)
lahan pantai berpasir yang mendukung wisata lingkungan terpadu.

G. Ruang Lingkup Tahun 2007

Ruang lingkup pengembangan meliputi :


Beny Harjadi dkk di BPK Solo 4
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

1. Rehabilitasi lahan melalui perbaikan beberapa sifat tanah yang dimungkinkan


dicapai dalam waktu yang tidak terlalu lama.
2. Rehabilitasi lahan melalui perbaikan sistem pola tanam pada lahan marginal
pantai berpasir.
3. Rehabilitasi lahan melalui perbaikan sistem pola tanam lahan pantai, dengan
kombinasi antara tanaman TA: cemara laut, buah-buahan, dan kayu-kayuan
dengan tanaman hortikultura bawang merah, cabe, jagung, sorghum, melon
dll.
4. Analisis biaya dan pendapatan usahatani dari perlakuan yang dicoba.
5. Tingkat adopsi dan partisipasi masyarakat serta kelembagaan dalam kegiatan
rehabilitasi lahan dan konservasi tanah.

H. Hasil yang Telah Dicapai

Penanganan lahan pantai berpasir melalui upaya rehabilitasi lahan dan konservasi
tanah (RLKT) telah dilakukan uji coba oleh BP2TPDAS Surakarta (1997-2000), yaitu
dengan menerapkan model tanam tanaman tanggul angin (windbreak) dengan tanaman
budidaya (semusim) yang ditanam di antara jalur tanaman tanggul angin (TA). Hasil yang
diperoleh berupa Pedoman Teknis Pemanfaatan Lahan Pantai Berpasir, yang memuat
antara lain (Sukresno, 1996b) : 1) Jenis tanaman TA permanen yang sesuai adalah jenis
tanaman-tanaman bergetah seperti cemara laut (Casuarina equisetifolia), Glirisidae,
pandan, dan mete; 2) Jenis tanaman TA sementara yang sesuai adalah tanaman semusim
seperti jagung, ketela pohon dan sorghum; 3) Jenis tanaman budidaya yang sesuai untuk
ditanam di antara jalur tanaman TA adalah semangka, terong, bawang merah, cabe, dan
kacang panjang; 4) Penggunaan pupuk kandang sebanyak 20 ton/ha telah memberikan
hasil semangka sebanyak 20 ton/ha pada lahan pantai berpasir yang baru dibudidayakan,
21 ton/ha pada lahan tahun kedua, dan 25 ton/ha pada lahan tahun ketiga; 5) Lahan bekas
tanaman semangka yang ditanami terong hasil produksinya sebesar 26 ton/ha; 6) Produksi
bawang merah yang ditumpang gilirkan dengan cabe merah keriting dan kacang panjang,
hasilnya masing-masing sebesar 7.5 ton/ha, 5 ton/ha, dan 26 ton/ha; 7) Hasil analisis input-
output atau benefit cost per satuan luas pada tanaman-tanaman budidaya yang dicobakan,
pola bawang merah yang ditumpang gilirkan dengan kacang panjang dan cabe merah
hasilnya lebih tinggi dibanding dengan pola semangka-terong.
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 5
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Teknik Rehabilitasi Lahan Pantai Berpasir di Desa Sri Gading, Kecamatan


Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bagian Selatan, luas
daerah pengembangan + 1-2 ha untuk tanaman semusim dan 500 m untuk tanaman
tanggul angin dengan lebar jalur 15 m, yang dilaksanakan tahun 2003 antara lain :
a. Tanaman Casuarina equisetifolia terbukti efektif sebagai tanaman tanggul angin
permanen di lahan pantai berpasir, dimana bibitnya dapat dikembangkan sendiri oleh
masyarakat (petani) setempat dengan cara pembiakan vegetatif metode merunduk
(layering).
b. Tanaman tanggul angin dan tanaman budidaya yang dikembangkan, sangat nyata dapat
mengendalikan erosi pasir dan memperbaiki iklim mikro setempat (kecepatan angin,
suhu tanah, dan laju evaporasi lebih rendah). Secara finansial, kombinasi tanaman
budidaya yang paling layak dikembangkan adalah kombinasi bawang merah, terong
dan ketimun.
c. Teknik rehabilitasi lahan pantai berpasir ini akan sulit dikembangkan oleh
masyarakat sekitar secara swadaya. Salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya
untuk pembangunan sarana pendukung (infrastruktur) bagi penerapan teknik
rehabilitasi tersebut, sehingga perlu ada campur tangan pemerintah. Namun
demikian, sampai saat ini belum terbangun suatu pola pengembangan lahan pantai
berpasir yang komprehensif dari berbagai instansi terkait.
Jalur tanaman tanggul angin yang dikembangkan di Pantai Petanahan, Desa
Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen berupa Cemara laut cangkok
(69,5% hidup) dan biji (98% hidup) serta Pandan (100% hidup), dan tanaman kehutanan
Mahoni (100% hidup), Akasia (100% hidup), dan buah-buahan Rambutan (100% hidup),
Mangga (100% hidup). Curah hujan rata-rata di pasir berpantai Karanggadung, Petanahan,
Kebumen adalah 35 mm/hari. .Evaporasi berkisar antara 0,3 mm/hari (Desember) sampai
0,9 mm/hari (September). Suhu tanah semakin dalam maka semakin menurun, pada
malam hari suhu tanah 33 oC dan pada siang hari 36 oC. Suhu udara siang hari antara 27 –
36 oC dan pada malam hari 20 oC sampai 24 oC. Kecepatan angin antara 2 sampai 12
km/jam, dengan Erosi angin 0,5 sampai 3,5 g yang tertangkap pada diameter sandtrap 10
cm.
Anggota kelompok tani yang sebagian besar bermata pencaharian utama
petani mempunyai mata pencaharian sampingan sebagai penderes gula kelapa dan
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 6
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

tukang. Mayoritas anggota kelompok tani adalah tenaga produktif, sehingga tidak
selalu mempunyai banyak waktu untuk terlibat dalam kegiatan Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Tanah di lahan pantai bepasir. Pemahaman tentang konsep Rehabilitasi
Lahan dan Konservasi Tanah di lahan pantai berpasir perlu ditingkatkan, pendampingan
dari tenaga penyuluh maupun dari instansi pemerintah kabupaten yang terkait masih
sangat diperlukan. Kerjasama Dinas Pariwisata dengan kelompok tani dalam
pengelolaan lahan pantai berpasir yang berorientasi konservasi dan dapat meningkatan
pendapatan masyarakat, tetap perlu dilaksanakan dan dibina khususnya di sekitar lokasi
lahan pantai berpasir di desa Karanggadung, Petanahan.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 7


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Lahan Kritis dan Upaya Rehabilitasi

Lahan kritis menurut Departemen Kehutanan (2000) didefinisikan sebagai


lahan yang tidak mampu lagi berperan menjadi unsur produksi pertanian baik
sebagai media pengatur tata air maupun sebagai perlindungan alam lingkungan.
Lahan kritis disebabkan oleh proses degradasi pada lahan. Degradasi lahan
didefinisikan sebagai hilangnya atau berkurangnya kegunaan atau potensi kegunaan
lahan untuk mendukung kehidupan. Kehilangan atau perubahan kenampakan
tersebut menyebabkan fungsinya tidak dapat diganti oleh yang lain (Barrow,1991
dalam Widjajanto, 2003). Faktor-faktor utama penyebab degradasi lahan adalah: 1)
bahaya alami, 2) perubahan jumlah populasi manusia, 3) marjinalisasi tanah, 4)
kemiskinan, 5) status kepemilikan tanah, 6) ketidakstabilan politik dan masalah
administrasi, 7) kondisi sosial ekonomi, 8) masalah kesehatan, 9) praktek pertanian
yang tidak tepat, 10) aktifitas pertambangan dan industri. Erosi pantai yang
merupakan salah satu penyebab terjadinya degradasi biofisik sumberdaya pesisir
pantai disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya penambangan pasir, penebangan
bakau, energi gelombang dan pola arus pasang, degradasi DAS, dan meluasnya
DAS kritis.
Rehabilitasi adalah proses pengembalian ekosistem atau populasi yang
telah rusak ke kondisi yang tidak rusak, yang mungkin berbeda dari kondisi semula.
Salah satu upaya rehabilitasi lahan kritis adalah revegetasi. Tujuan revegetasi adalah
memperbaiki lahan yang labil, tidak produktif, dan mengurangi erosi. Dalam jangka
panjang rehabilitasi lahan diharapkan dapat memperbaiki iklim mikro,
meningkatkan biodiversitas dan memperbaiki lahan agar menjadi lebih produktif.
Upaya dengan revegetasi antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan reboisasi,
penghijauan, dan pembangunan hutan rakyat. Selain itu, ada juga upaya peningkatan
produktivitas lahan kritis melalui penambahan bahan organik berupa hijauan
tanaman maupun pupuk kandang yang telah banyak diteliti oleh Puslit Tanah dan
Agroklimat (Purnomo, dkk, 1992).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 8


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Menurut Setiadi dan Prematuri (1998), hal-hal yang perlu diperhatikan


dalam rehabilitasi lahan kritis adalah :
1. Pemilihan jenis pohon, hendaknya dipilih jenis pohon dengan karakteristik:
a. Adaptif (pohon sesuai dengan lingkungan setempat)
b. Cepat tumbuh, cepat menutup tanah (tajuk melebar), perakaran intensif
c. Teknik silvikultur diketahui
d. Ketersediaan bahan tanaman
e. Bersimbiosis dengan mikroba
2. Perbaikan kondisi tanah yang meliputi :
a. Perbaikan ruang tumbuh
b. Perbaikan top soil dan bahan organik
Namun demikian, upaya rehabilitasi lahan ini seyogyanya dikombinasikan
dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air terutama di lahan-lahan berlereng
curam, serta berbagai teknik tanam.

B. Erosi Angin
1. Proses Erosi Angin

Angin, seperti halnya jatuhan hujan dan aliran air, memiliki gaya yang dapat
melepaskan (detach) dan memindahkan (transport) butiran tanah dari satu tempat ke
tempat lain yang baru untuk diendapkan (deposition).
Kemampuan melepaskan butiran tanah oleh angin ini besarnya sangat dipengaruhi
oleh kondisi kekasaran permukaan tanah dan besar butiran partikel tanahnya. Adapun
kemampuan angin untuk memindahkan butiran tanah dipengaruhi oleh besarnya kecepatan
angin, bentuk agregat, dan komposisi ukuran partikel tanah. Sedang jarak tempuh
perpindahan partikel tanah hasil erosi tersebut besarnya dipengaruhi oleh kuat-lemahnya
kecepatan angin, ukuran, dan berat partikel dan agregat tanah.
Perpindahan partikel-partikel tanah oleh proses erosi angin secara prinsip adalah
sama seperti pada proses erosi tanah oleh jatuhan hujan, yaitu: 1) merayap (creep) untuk
partikel tanah berukuran 0,5 - 2,0 mm, 2) meloncat-loncat (saltation) untuk partikel tanah
berukuran 0,05 - 0,50 mm atau lebih umum antara 0,10 - 0,15 mm, dan 3) dalam bentuk

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 9


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

suspensi partikel tanah halus dengan ukuran < 0,1 mm dan untuk beberapa waktu tetap
dalam bentuk suspensi di udara karena aliran turbulen dan pusaran arus angin.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 10


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

2. Faktor-faktor Penyebab Erosi Angin

Seperti yang diperlihatkan dalam proses erosi tanah oleh gaya angin, maka
beberapa faktor utama yang berpengaruh terhadap terjadinya erosi angin adalah:
1) Faktor iklim, seperti: temperatur, distribusi hujan, kecepatan dan arah angin.
2) Faktor tanah, seperti: ukuran butir, kelengasan, dan kekasaran permukaan.
3) Faktor vegetasi, seperti: bentuk, tinggi, kerapatan, dan distribusi.

3. Erosi Angin Pada Lahan Pantai Berpasir

Berdasarkan prinsip yang umumnya berlaku pada proses erosi angin dan faktor-
faktor penyebabnya, maka proses erosi angin yang terjadi pada lahan pantai berpasir juga
mengikuti prinsip-prinsip tersebut. Contoh kasus adalah endapan pasir yang terjadi di
sepanjang pantai Kedu Bagian Selatan (Jawa Tengah) hingga pantai Parangtritis (DIY)
berasal dari pasir volkanik Gunung Merapi yang terbawa melalui Sungai Progo (Tim
UGM, 1992). Endapan pasir ini membentuk gisik dengan lebar antara 700 hingga 1500
meter yang diukur dari garis pantai. Hembusan angin laut di musim kemarau merubah
posisi endapan pasir dari kedudukannya semula sehingga membentuk bukit-bukit pasir
(sand dune). Daerah di belakang gisik biasanya berupa laguna, beting gisik dan dataran
aluvial pantai. Oleh karena permeabilitas lahan pantai berpasir ini sangat tinggi sehingga
seluruh air permukaan meresap ke dalam tanah, gisik dan bukit-bukit pasir pantai ini
miskin akan tumbuhan. Sedang daerah di belakangnya dimana tanah dan airnya
memungkinkan sebagai media tumbuh tanaman, banyak dimanfaatkan untuk tegal, sawah,
dan pemukiman yang suatu ketika dapat terkena dampak hasil erosi angin berupa endapan
pasir bersalinitas tinggi.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 11


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

C. Model Pengendalian Erosi Angin


Erosi angin berlangsung jika kondisinya memungkinkan untuk melepaskan dan
memindahkan partikel tanah untuk selanjutnya pasir tersebut diendapkan di tempat lain.
Besar erosi angin sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor erodibilitas tanah, kekasaran
permukaan tanah, kondisi iklim (kecepatan angin dan kelembaban), panjang permukaan
tanah terbuka, dan penutupan tanaman.
Metode pengendalian erosi angin melalui upaya rehabilitasi lahan dan konservasi
tanah (RLKT) di lahan pantai berpasir, secara umum yaitu:
1) Menurunkan kecepatan angin di atas permukaan tanah.
2) Menurunkan tingkat erodibilitas tanah.
3) Melindungi tanah permukaan dengan tanaman, mulsa, dan bahan tidak mudah
tererosi lainnya.
4) Meningkatkan kekasaran tanah permukaan.
Mengingat bahwa metode pengendalian erosi angin disini berkaitan dengan
permasalahan erosi angin di lahan pantai berpasir maka untuk selanjutnya yang dimaksud
'tanah' adalah lahan pantai berpasir (tanah berpasir).

1. Metode Pengendalian Kecepatan Angin

Laju kecepatan angin untuk berbagai ketinggian di atas permukaan tanah yang
homogen menunjukkan hubungan yang kwadratik. Dari persamaan ini dapat diketahui
bahwa laju kecepatan angin akan bertambah besar seiring dengan peningkatan posisinya di
atas permukaan tanah pada kondisi tanah yang homogen. Besar kecepatan angin yang
tinggi pada posisi tertentu di atas permukaan tanah adalah berkaitan dengan kondisi
kekasaran permukaan tanahnya.
Upaya pengendalian kecepatan aliran angin prinsipnya membuat bangunan
penahan aliran angin yang berupa tanggul angin (windbreak). Bentuk tanggul angin (TA),
yaitu model mekanis dan model vegetatif. Pada model mekanis bentuknya dapat berupa
anyaman bambu atau anyaman daun kelapa (perlindungan sementara). Pada model tanggul
angin vegetatif dimana lebih murah dibanding model mekanis, secara alami akan lebih
tahan. Ketahanan model vegetatif, efektivitasnya tergantung pada kondisi pertumbuhan
tanaman yang diterapkan sebagai jalur tanggul angin. Bentuk TA vegetatif yang umum

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 12


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

adalah berupa kelompok jalur-jalur tanaman baik yang bersifat sementara (dengan
tanaman semusim) maupun permanen (dengan tanaman pohon, semak atau perdu) harus
sesuai dengan kondisi setempat. Untuk lahan pantai berpasir jenis tanaman TA sementara,
yaitu jagung, ketela pohon, dan cantel. Sedang jenis yang permanen untuk tanaman pohon,
antara lain., Casuarina equisetifolia (cemara laut), Calophyllum inophyllum (nyamplung),
Terminalia catapa (ketapang), Barringtonia asiatica (rawang), Hibiscus tiliaceus (waru),
Glirisidae; untuk tanaman semak dan perdu, antara lain.: Pandanun tectorius (pandan),
Cyperus martima (teki laut), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola taccada (gabusan),
Thuarea involuta (rumput glinting), Ximenia americana (widuri) dan jenis-jenis tanaman
bergetah lainnya (Kartawinata, 1979).
Bentuk tanggul angin yang paling efektif dalam mengendalikan laju kecepatan
angin adalah menggunakan model vegetatif yang tidak terlalu rapat. Tanggul angin model
rapat menyebabkan arus balik (putar) di belakang tanggul angin dimana justru
menimbulkan erosi pasir. Bila model mekanis yang akan digunakan, dalam praktek harus
diupayakan agar bentuk tanggul angin (misal dengan anyaman bambu) harus diberi angin-
angin (permeabilitas angin) sebesar 35-40 %. Disamping itu beberapa faktor lain yang juga
berpengaruh terhadap efektivitas pengendalian laju kecepatan angin ini, antara lain.: 1)
lebar, 2) tinggi, dan 3) jarak antar tanggul angin.

2. Metode Pengendalian Faktor Tanah

Prinsip pengendalian faktor tanah terhadap tekanan gaya erosif angin adalah:
1) Menurunkan tingkat erodibilitas tanah.
2) Melindungi tanah permukaan yang terbuka dengan tanaman, mulsa, dan bahan
tidak mudah tererosi lainnya.
3) Meningkatkan kekasaran tanah permukaan.

Upaya pengendalian faktor tanah dapat dilakukan dengan beberapa metode,


yaitu: metode konservasi lengas tanah dan metoda perbaikan agregat tanah lapisan atas
(top soil). Pengendalian lengas tanah dapat dilakukan dengan melindungi tanah
permukaan dengan penutupan oleh tanaman, mulsa, atau bahan tidak mudah tererosi
lainnya. Agar pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik (mudah dan cepat tumbuh),

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 13


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

sehingga lahan pantai berpasir yang arealnya banyak terbuka dan peka erosi angin menjadi
berkurang luasnya, dapat dilakukan dengan penerapan berbagai perlakuan ameliorasi tanah
dan pemilihan jenis-jenis tumbuhan yang sesuai dengan kondisi setempat (Sukresno,
1998).
Dalam praktek usaha pengendalian kelengasan tanah ini, antara lain, dilakukan
dengan usaha budidaya pada areal lahan di antara jalur tanggul angin (jalur tanaman
cemara dan pandan) dengan menanami tanaman semusim bernilai ekonomi tinggi
(semangka, mentimun, bawang merah, cabe keriting tampar, terong, dll). Upaya perbaikan
agregat tanah pasiran lapisan permukaan (top soil) di lahan pantai berpasir dilakukan
dengan metode pemberian ameliorat bahan organik (pupuk kandang) dan tanah liat ke
areal budidaya yang letaknya berada di antara jalur tanggul angin (Sukresno, 1998). Secara
teknis pemberian ameliorat pupuk organik dan tanah liat untuk perbaikan agregat adalah
untuk meningkatkan kesuburan tanah, pertumbuhan tanaman dan hasil tanaman.
Pelaksanaannya dilakukan dengan cara membenamkan ameliorat tersebut ke tanah
berpasir sedalam + 10 - 30 cm. Hal ini dimaksudkan agar kelengasannya tetap terjaga dan
beratnya yang ringan bila kering tidak mudah tererosi (Sukresno, 1998).
Berbagai upaya pengendalian erosi angin telah diuji oleh BTPDAS pada tahun
1997/1998 secara nyata hasilnya telah meningkatkan kondisi tanah dan produktivitas lahan
pasir pantai menjadi lebih baik (Sukresno, 1998), antara lain.:
1) Pertumbuhan tanaman tanggul angin (Casuarina equisetifolia, Glirisidae dan
Pandanun tectorius) mencapai > 60% sehingga bermanfaat untuk meningkatkan
produktivitas tanaman-tanaman budidaya (semangka, mentimun dan jagung),
2) Dampak penerapan jalur tanggul angin dan tanaman-tanaman budidaya secara
positip memperbaiki iklim mikro setempat (suhu tanah dan laju evaporasi yang lebih
rendah),
3) Perlakuan vegetatif yang diterapkan pada lahan pasir pantai memberikan dampak
yang baik pada perbaikan sifat-sifat fisik dan kimia tanahnya, antara lain.: bahan
organik tanah lebih tinggi, BV dan BJ lebih rendah, Na tersedia lebih tinggi sebagai
akibat dari tertangkapnya pasir bergaram oleh tanaman,
4) Hasil produksi tanaman semangka (jenis New Dragon) yang ditanam di antara
tanaman tanggul angin tertinggi sebesar 31,6 t/ha (perlakuan kombinasi tanah liat 45
t/ha dan pupuk kandang 36 t/ha) dengan rata-rata hasil antara 20-30 t/ha).
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 14
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Dari kegiatan kajian tahun 1998/1999, hasil yang dicapai (Sukresno, 1999), antara
lain.:
1) Tanaman Casuarina equisetifolia (cemara laut) sangat sesuai sebagai tanaman
tanggul angin di lahan pantai berpasir serta dapat dikembangkan melalui pembiakan
vegetatif cara merunduk.
2) Tanaman tanggul angin dan tanaman budidaya di antara jalur tanggul angin
bermanfaat sangat nyata baik dalam mengendalikan erosi pasir maupun memperbaiki
iklim mikro setempat.
3) Tanaman budidaya yang ditanam di antara jalur tanggul angin (semangka, terong,
bawang merah, cabe merah keriting tampar dan kacang panjang) secara nyata dapat
memberikan hasil seperti yang diharapkan bila beberapa perlakuan diterapkan,
seperti: pemakaian tanah liat sebagai alternatif pengganti pupuk kandang, pengaturan
jarak tanam, pengaturan waktu tanam yang sesuai, dan pengaturan pemberian air
yang sesuai.
4) Di antara tanaman-tanaman budidaya yang dicobakan di lahan pantai berpasir,
perlakuan model pertanaman bawang merah yang ditumpang gilirkan dengan cabe
merah keriting tampar dan kacang panjang atau model pertanaman terong,
memberikan prospek dampak yang positip baik pada aspek ekonomi (peningkatan
hasil per satuan luas) maupun lingkungan (pengendalian erosi pasir (dipanen secara
bertahap sampai 180-210 HST).

D. Teknik Budidaya Tanaman yang Dikembangkan


1. Tanaman Tanggul Angin

1.1. Cemara Laut (Casuarina equisetifolia)


Tanaman cemara laut (Casuarina equisetifolia) merupakan tanaman berumah satu
(monocious) yang dapat mencapai tinggi 50 m dan diameter batang 100 cm. Kulit kayu
berwarna hijau kecoklatan-coklat gelap. Spesies ini banyak diketemukan dekat dengan
wilayah pantai berpasir di Kalimantan. Kayunya sangat berat, sangat keras dengan BJ
1.04-1.18 g/cm3, kelas awet II-III, kelas kekuatan I-II, sehingga sesuai untuk bangunan,
lantai, dinding, bantalan, tiang listrik, perkapalan, dan arang. tanaman cemara laut
merupakan tanaman yang tahan terhadap garam, kekeringan, dan keasaman tanah.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 15


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

tanaman ini dapat mengikat N dari udara sebanyak 50-80% sehingga akumulasi hara pada
lantai hutan sangat tinggi, yaitu 1600 kg N/ha dan 85 kg P/ha.
Untuk pemanfaatan Casuarina equisetifolia sebagai tanaman TA yang terbaik,
tanaman cemara laut tersebut ditanam pada lahan pantai berpasir dengan jarak tanam 3 m x
3 m dengan sistem selang-seling (gigi belalang) dengan posisi tegak lurus menghadap arah
angin. Untuk mengembangbiakan tanaman yang dapat dilakukan sebelum tanaman
menghasilkan biji adalah melalui metode vegetatif, yaitu dengan cara merunduk (layering).
Untuk memperoleh bibit yang lebih cepat terbentuk, pada bagian batang yang dirundukkan
diberi perlakuan pengupasan secara melingkar, kemudian pada ujung kulit kayu terkupas
bagian atas diberikan pasta zat perangsang pertumbuhan jenis rootone-F (Sukresno, 2000).

1.2. Pandan (Pandanus tectorius)


Tanaman pandan adalah jenis perdu yang paling banyak tumbuh di daerah pantai
berpasir. Akarnya berupa akar tunjang yang tumbuh lurus mengikuti pangkal batang
sehingga bentuk tanaman seperti kerucut. Daunnya panjang-panjang dan berduri di tepi
kedua sisinya. Buah berupa buah majemuk yang berbentuk seperti bola panjang berwarna
kuning hingga merah jingga (Kartawinata, 1979).
Sebagai tanaman perdu untuk mengendalikan erosi pasir, maka tanaman ini
ditanam secara rapat menurut jalur yang tegak lurus arah angin. Untuk areal budidaya
tanam tanaman ini dilakukan pada jalur yang merupakan batas antar pemilik penggarap
(Sukresno, 1999b).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 16


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

2. Tanaman Tahunan

2.1. Keben (Barringtonia asiatica) = Lecythidaceae/Barringtoniaceae


Barringtonia asiatica KURZ (B. speciosa FORST.). Di Jawa dikenal dengan
nama: Butun, Keben.
Pohon dari Asia Tenggara,tinggi hingga 17 m dan gemangnya 50 cm, pada
umumnya agak bengkok, bercabang-cabang rendah dekat tanah, tumbuhnya berpencar-
pencar di pantai-pantai yang berpasir dan berkarang, kadang-kadang ditanam karena
daunnya yang bagus dan bunga-bunganya yang indah. Kayunya lunak dan tidak awet.
Namun di Kediri menurut pemberitahuan secara lisan, kayu ini dapat digunakan untuk
membangun rumah.
Buah-buahnya yang persegi empat dan sebesar kepalan tangan itu terdiri atas
kulit yang berserabut, dibawahnya yang tanpa tempurung terdapat sebutir biji yang juga
sedikit banyak bersegi empat. Biji ini keras, di dalamnya putih dan agak berlendir. Biji
ini, oleh masyarakat Ternate biasa digunakan untuk menangkap ikan-ikan di sungai.
Di Ternate, biji yang dilumatkan ini dioleskan pada ruam seperti kudis guna
membasmi parasit-parasit yang menjadi penyebabnya. Abu biji-bijinya yang dipirik
menjadi serbuk dicampur dengan ramuan-ramuan lain, digunakan sebagai obat dalam
maupun luar terhadap kolik/mulas (Rumphius dalam Heyne, 1987). Penemuan baru
membuktikan biji keben berupa obat tetes dapat dipakai untuk mengobati penyakit
katarak (Trubus No.434, Januari 2006 XXXVII).

2.2. Bintangur (Calophyllum inophyllum) = Guttiferae

Calophyllum inophylum LINN., di Indonesia dikenal dengan nama Bintangur


dan di Jawa dikenal dengan nama Nyamplung. Pohon agak tinggi mencapai 20 m
dengan diameter batang yang besar hingga 1.50 m, dengan batangnya sangat pendek,
bercabang rendah dekat permukaan tanah. Pohon ini tersebar di seluruh daerah tropis,
hampir khusus di sepanjang pantai dan biasanya tumbuh sedikit mengelompok.
Kayu memiliki berat agak ringan hingga sedang, tetapi padat dan agak halus
struktumya, berurat kusut, sehingga tak dapat dibelah. Karena kayu ini tidak membelah
maka baik digunakan untuk roda, poros dan alas meriam berat. Kayu juga dipakai
untuk memangkal perahu, karena bagian luarnya lebih awet di dalam air laut. Karena
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 17
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

keawetannya yang tinggi, kekuatan serta lukisan kayunya yang indah maka di Jawa
kayu ini bernilai tinggi.
Gelam kayu berpotensi sebagai obat. Jika dihilangkan lapisan luarnya, direbus
dalam air dengan gelam Intsia amboinensis, samama (Anthocephalus macrophyllus
HAVIL.) dan gayang laut serta rebusannya diminum, mempunyai khasiat pembersih
untuk wanita bersalin, mengobati kencing berdarah dan penyakit kencing nanah (Heyne,
1987). Pohon ini menghasilkan damar yang berguna mengobati rematik (encok), sendi-
sendi kaku dan pereda kejang yang mujarab. Air rendaman daun dapat dipakai untuk
mencuci mata yang meradang . Bijinya setelah disalai juga dapat dipakai untuk
mengobati ruam seperti kudis.

2.3. Waru (Hibiscus tilliaceus) = Malvaceae

Hibiscus tiliaceus LINN. Di Jawa dikenal dengan nama: Waru. Tumbuhan ini
ditemukan di daerah-daerah tropis, terutama tumbuh di pantai-pantai berpasir atau di
dekat pesisir, biasanya berkelompok. Di Jawa pohon ini ditanam di pekarangan dan di
pinggir-pinggir jalan daerah pesisir, namun jarang sekali di daerah pedalaman.
Tumbuhan ini dianjurkan agar dibudidayakan untuk menghasilkan kayu bakar pada
tanah-tanah tak berguna yang berpasir, kering dan asin, terutama sekali di sekitar pantai.
Rebusan akar Waru setelah dicampur dengan akar tapakliman (daun
mangkokan) dapat digunakan sebagai obat dalam untuk penurun panas (demam).
Di Madura, daun waru telah digunakan sebagai makanan ternak pada waktu
kekurangan makanan lain, sakit panas pada saat demam. Daun waru yang dilumatkan
dan ditaruh pada bisul menjadi obat pematang dan pemecah bisul tersebut. Kepala yang
dicuci dengan air remasan daun waru muda akan mendatangkan rasa sejuk serta
menambah kesuburan rambut. Rebusannya pun dianggap berkhasiat mengobati sulit
kencing.

2.4. Ketapang (Terminalia catappa) = Combretaceae

Terminalia cattapa LINN., di Jawa dikenal dengan nama Ketapang. Raksasa


rimba memiliki tinggi hingga 40 m dan gemang batangnya 2 m; tingginya 20 m dan
gemangnya 1 m, tumbuh liar di dataran rendah nusantara. Di Jawa hanya di pantai atau
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 18
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

di tanah masin dekat pesisir; pohon ini ditanam hingga kurang lebih 800 m di atas
permukaan laut, tetapi terutama sekali di daerah panas dan dekat pesisir.
Kulit kayu yang kaya akan damar sering digunakan sebagai obat penutup luka
sariawan dan dapat menyembuhkan radang selaput lendir usus. Biji buah ketapang yang
dibudidayakan dapat dimakan mentah seperti biji kenari, lebih kering dan rasanya lebih
enak.

3. Tanaman Budidaya

3.1. Semangka (Citrullus vulgaris)


Tanaman semangka termasuk dalam keluarga buah labu-labuan (Cucurbitaceae)
yang berasal dari Afrika tropika. Daya tarik budidaya semangka terletak pada nilai
ekonominya yang tinggi, berumur relatif singkat (70-80 hari). Keuntungan yang dapat
diperoleh dari budidaya semangka di lahan pantai berkisar antara 1-2 kali lipat dari
investasinya. Hasil rata-rata semangka jenis New Dragon per hektar di lahan sawah
mencapai 24 ton.
Tanaman semangka yang ditanam di antara jalur tanaman TA di pantai berpasir
Samas, DIY menggunakan bedengan dengan jarak tanam 4 m x 0.65 m dan jarak antar
bedeng 0.6 m. Dengan pemberian pupuk kandang sebanyak 20 ton/ha, ZA 500 kg/ha, urea
150 kg/ha, KCl 350 kg/ha, dan TSP 500 kg/ha dapat memberikan hasil pada tahun I, II,
dan III masing-masing sebesar 20 ton/ha, 21 ton/ha, dan 25 ton/ha (Sukresno, 1999a).

3.2. Terong Ungu (Solanum melongena)


Tanaman terong sudah lama dikenal dan dibudidayakan baik untuk lalapan
maupun sayuran karena banyak mengandung gizi, terutama vitamin A. Jenis dan varietas
terong mempunyai aneka bentuk, ukuran, dan warna buah dengan varietas lokal maupun
unggul. Varietas unggul yang banyak ditanam petani adalah jenis Farmers Long (Taiwan)
dan Money Maker No.2 (Jepang). Ciri-ciri jenis Farmer Long adalah umur tanaman
pendek, pertumbuhannya tegak, tahan penyakit layu Fusarium, buahnya panjang-lurus,
warna ungu-kemerah merahan, dan berserat halus. Produksi rata-rata terung hibrida adalah
30 ton/ha.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 19


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tanaman terong yang ditanam sebagai tanaman budidaya setelah semangka di


antara jalur tanaman TA di pantai Samas, DIY adalah jenis hibrida (ungu), jarak tanam
seperti semangka 4 m x 0.65 m dan jarak antar bedeng 0.6 m, hasil yang diperoleh 26.4
ton/ha (Sukresno, 1999a).

3.3. Bawang Merah (Allium cepa)


Tanaman bawang merah termasuk keluarga Liliaceae dengan ciri berumbi lapis,
berakar serabut, dan berdaun silindris. Umbi lapis tersebut berasal dari pangkal daun yang
bersatu dan membentuk batang-batang semu serta berubah bentuk dan fungsinya. Sebagai
tanaman semusim berbentuk rumput yang tumbuh tegak, tingginya dapat mencapai 15-20
cm dan membentuk rumpun. Karena sifat perakaran yang berbentuk serabut maka bawang
merah kurang tahan (peka) terhadap kekeringan. Dari satu umbi yang ditanam dapat
membentuk tunas-tunas lateral sebanyak 2-20 tunas, yang akhirnya akan menjadi umbi
sebagai hasil panennya. Hasil panen bawang merah yang pertumbuhannya baik dan
ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm dapat mencapai 10-15 ton/ha.
Tanaman bawang merah yang ditanam di lahan pantai berpasir di Samas, ditanam
dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm, pupuk kandang 30 ton/ha memberikan hasil 7.5 ton/ha
(Sutikno dkk., 1998).

3.4. Cabe Merah Keriting (Capsicum annuum)


Tanaman cabe adalah tanaman hortikultur, mudah dikenal, banyak manfaat, dan
merupakan tanaman semusim. tanaman berbentuk perdu dengan ketinggian antara 70-110
cm, memiliki banyak cabang dan pada setiap percabangan akan muncul buah cabe. Ukur
dan bentuk buah tergantung dari jenis dan varietasnya. Untuk jenis cabe cerah dengan
bentuk ramping-memanjang, umur dapat mencapai 115 HST, dan pedas adalah sesuai
untuk ditanam dari dataran rendah-dataran tinggi. Produksi rata-rata dari cabe hibrida
dengan pertumbuhan baik dapat mencapai 30 ton/ha dan untuk cabe lokal berkisar antara
10-15 ton/ha.
Pemanfaatan lahan pantai berpasir di Samas dengan tanaman cabe besar yang
ditanam dengan jarak tanam 15 cm x 25 cm, pupuk kandang 36 ton/ha, dan diberi mulsa
jerami 6 ton/ha, memberikan hasil sebesar 44.2 ton/ha (Sutikno dkk., 1998). Sedang pada
tanam tumpang gilir cabe merah keriting dengan kacang panjang yang ditanaman setelah
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 20
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

bawang merah dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm memberikan hasil 5 ton/ha (Sukresno,


1999a).

3.5. Kacang Panjang (Vigna sinensis)


Tanaman kacang panjang sudah umum dibudidayakan di antara kacang tunggak,
kacang uci dan kacang hibrida. Kacang panjang yang merupakan tanaman semusim jenis
merambat dan setengah membelit memiliki batang yang panjang, liat dan sedikit berbulu
serta berbuku-buku. Buah kacang panjang berbentuk polong dengan ukuran panjang dan
ramping, berwarna hijau keputih-putihan (muda) atau kemerah-merahan, namun menjadi
putih kekuning-kuningan atau hijau kekuning-kuningan (tua). Sistem perakaran Tanaman
ini dapat menembus lapisan olah tanah hingga ke dalaman 60 cm. Tanaman kacang
panjang termasuk jenis tanaman yang akar-akarnya dapat bersimbiosis dengan bakteri
Rhizobium untuk mengikat N dari udara. Unsur N terikat dari bintil-bintil akarnya dapat
mencapai 198 kg bintil akar/tahun atau setara dengan 440 kg urea. Produksi polong muda
kacang panjang dapat mencapai 20 ton/ha.
Tanam tanaman kacang panjang yang ditanam dengan cabe merah keriting pada
lahan pantai berpasir dengan jarak tanam 30 cm x 60 cm, memberikan hasil sebesar 19
ton/ha (Sukresno, 1999a).

E. Sosial, Ekonomi dan Budaya


1. Adopsi

Adopsi dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku baik yang berupa
pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun ketrampilan (psychomotoric) pada
diri seseorang setelah menerima inovasi. Mengingat adopsi adalah suatu proses
perubahan maka ada beberapa tahapan yang dilalui (Pusat Penyuluhan Kehutanan,
1997) yaitu :
a) Awareness (kesadaran) yaitu sasaran mulai sadar tentang inovasi yang
ditawarkan
b) Interest yaitu tumbuhnya minat yang ditandai oleh keinginan untuk
mengetahui lebih banyak tentang hal-hal yang berkaitan dengan inovasi.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 21


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

c) Evaluation yaitu penilaian terhadap baik/buruk atau manfaat inovasi yang


meliputi aspek teknis, ekonomi, sosial budaya dan kesesuaiannya dengan
kebijaksanaan pembangunan.
d) Trial yaitu masyarakat mulai mencoba dalam skala kecil untuk lebih
meyakinkan penilaiannya.
e) Adoption yaitu menerima/menerapkan dengan penuh keyakinan berdasarkan
penilaian dan uji coba yang telah dilakukan sendiri.
Menurut Pusat Penyuluhan Kehutanan (1997), kecepatan masyarakat
mengadopsi suatu teknologi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu :
a. Sifat inovasi yang ditawarkan yaitu sifat intrinsik (yang melekat pada inovasinya)
antara lain keunggulan teknis, ekonomis dan budaya, mudah tidaknya
dikomunikasikan dan diamati, serta sifat ekstrinsik yang mencakup kesesuaian
lingkungan setempat dan tingkat keunggulan relatif dibanding teknologi yang sudah
ada.
b. Sifat sasaran yaitu cepat atau tidaknya sasaran mengadopsi suatu inovasi yang
menurut dibagi dalam 5 kelompok yaitu : (a) Golongan perintis; (b) Golongan
penerap dini/pelopor; (c) Golongan penganut dini; (d) Golongan penganut lambat
dan (e) Golongan kolot/penolak.
c. Cara pengambilan keputusan, dimana secara individu lebih cepat dibandingkan
secara kelompok.
d. Saluran komunikasi yang digunakan dapat berupa media masa, kelompok atau
media antar pribadi.
e. Keadaan penyuluh yaitu tergantung bagaimana kegigihan dan kerajinan penyuluh
dalam menyampaikan inovasi.
f. Sumber informasi yang antara lain media masa, penyuluh, teman, tetangga, serta
pedagang.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 22


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

2. Pengertian Partisipasi

Secara harfiah, partisipasi berarti turut berperan serta dalam suatu kegiatan;
keikutsertaaan atau peran serta dalam suatu kegiatan; peran serta secara aktif atau
proaktif dalam suatu kegiatan. Partisipasi dapat didefinisikan secara luas sebagai bentuk
keterlibatan dan keikutsertaan masyarakat secara aktif dan sukarela, baik karena alasan-
alasan dari dalam dirinya (intrinsik) maupun dari luar dirinya (ekstrinsik) dalam
keseluruhan proses kegiatan yang bersangkutan (Irfani, 2004).
Sedang menurut Keith Davis (1962) dalam Karyana (2004), participation can
be defined as mental and emotional involvement of a person in group situation which
encourages to contribute to group goals and share responsibility in them. Dalam
definisi tersebut terdapat tiga gagasan yang penting yaitu :
a) Dalam partisipasi bukan semata-mata keterlibatan secara jasmaniah, tetapi juga
keterlibatan mental dan perasaan.
b) Adanya kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha untuk mencapai
tujuan kelompok.
c) Adanya tanggung jawab bersama.
Partisipasi sebagai suatu proses dimana seluruh pihak terkait (stakeholder)
secara aktif terlibat dalam rangkaian kegiatan, mulai dari perencanaan sampai pada
pelaksanaan. Pelibatan semua kelompok tidak selalu berarti secara fisik terlibat, tetapi
yang penting adalah prosedur pelibatan menjamin seluruh pihak dapat terwakili
kepentingannya. Partisipasi harus sudah dimulai sejak evaluasi sumberdaya yang ada
sebelum perencanaan disusun.
Menurut Irfani (2004), pendekatan partisipatif lahir sebagai kritik terhadap
metode penelitian konvensional antara lain penelitian yang banyak menggunakan logika
sains dan penelitian etnometodologis. Penelitian konvensional dirasa mengandung
beberapa kelemahan antara lain : 1) hanya menghasilkan pengetahuan yang empiris-
analitis dan cenderung tidak mendatangkan manfaat bagi obyek (masyarakat) dan 2)
banyak bermuatan kepentingan teknis untuk melakukan rekayasa sosial (social
enginering). Sebagai alternatif muncul pendekatan partisipatif. Kepentingan pendekatan
ini adalah pelibatan masyarakat. Metode yang menggunakan pendekatan partisipatif
antara lain Participatory Rural Appraisal (RRA) dan Participatory Action Research

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 23


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

(PAR). Pendekatan ini menekankan pentingnya proses sharing of knowledge antara


peneliti dengan masyarakat di lokasi penelitian. Proses analisa dilakukan bersama
peneliti dan masyarakat. Hasil analisa langsung dikembalikan kepada masyarakat untuk
disusun rencana tindakan bersama. Oleh karena itu, pendekatan ini juga disebut riset
aksi, dimana ukuran dari pendekatan adalah terjadinya perubahan sosial. Melalui PAR,
pihak terkait menarik pelajaran dan pengalaman melalui observasi, perencanaan, aksi
dan refleksi secara bersama dan terus-menerus. Proses interaksi antara pihak terkait
melalui siklus belajar PAR dijadikan dasar observasi. Dalam hal ini, alat bantu
observasi utama adalah dokumentasi proses (Kusumanto, 2002).
Partisipasi dalam pembuatan keputusan berarti mendefinisikan permasalahan,
memilih alternatif pemecahan masalah yang memuaskan bagi masyarakat dan
menetapkan bagaimana melaksanakan keputusan tersebut. Pelibatan masyarakat dalam
suatu proses perencanaan perlu menganut prinsip dasar proses partisipatif, yaitu :
1. Partisipasi penuh (Full Participation), dimana proses pengambilan keputusan
melibatkan seluruh pihak terkait dan terkena program, termasuk pihak-pihak
yang selama ini diabaikan.
2. Saling pengertian ( Mutual Understanding) dimana kesepakatan kegiatan harus
bersifat awet. Para pihak yang terlibat dalam kegiatan perlu menerima secara
terbuka pikiran dan harapan yang berkembang dalam proses pengambilan
keputusan.
3. Solusi yang diterima semua pihak (Inclusive Solution) dimana solusi yang
diciptakan berangkat dari proses integrasi antara perspektif dan kebutuhan
semua pihak yang terlibat dalam suatu kegiatan. Dengan demikian solusi yang
diciptakan bisa sesuai dengan visi dan karakteristik yang terlibat dalam
kegiatan.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 24


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

3. Perencanaan Partisipatif

Perencanaan adalah suatu proses menyusun langkah-langkah untuk mencapai


suatu tujuan tertentu. Dalam konsteks suatu komunitas (masyarakat), perencanaan
berarti himpunan langkah untuk memecahkan persoalan dan kebutuhan komunitas
tersebut, guna mencapai maksud dan tujuan tertentu yang bisa diidentifikasikan sebagai
keadaan yang lebih baik. Sedang perencanaan partisipatif adalah perencanaan yang
dalam tujuannya melibatkan kepentingan rakyat dan dalam prosesnya melibatkan rakyat
(Abe, 2002).
Menurut Abe (2002), tahap-tahap untuk menyusun perencanaan dari bawah
adalah penyelidikan, perumusan masalah, menentukan tujuan dan target,
mengidentifikasi sumberdaya (daya dukung), merumuskan rencana kerja, dan
menentukan anggaran yang hendak digunakan dalam realisasi rencana.

1. Penyelidikan

Penyelidikan adalah sebuah proses untuk mengetahui, menggali dan mengumpulkan


persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat. Dalam proses ini, keterlibatan
masyarakat menjadi faktor kunci. Melalui proses ini, masyarakat diajak untuk
mengenali secara seksama problem-problem yang mereka hadapi.

2. Perumusan masalah

Perumusan masalah adalah tahap lanjut dari hasil penyelidikan. Untuk mencapai
perumusan perlu dilakukan suatu proses analisis atas informasi yang ada, untuk
menemukan keterkaitan antara satu fakta dengan fakta yang lain. Masyarakat harus
terlibat dalam proses, agar rumusan masalah dapat mencerminkan kebutuhan dari
komunitas dan bukan sekedar keinginan. (catatan : pendamping/petugas diharapkan
mampu menjadi teman diskusi/fasilitator yang baik sehingga perumusan masalah
yang diperoleh merupakan hal yang dapat dicarikan jalan keluarnya).
Pengorganisasian masalah perlu juga dilakukan untuk menyusun kembali masalah,
menyeleksi masalah, melihat hubungan sebab-akibat dari masalah tersebut,
mendiskusikan prioritas masalah dan menggalinya, menganalisis alternatif
pemecahan masalah, dan pengembangan potensi sosial. Pengorganisasian masalah
merupakan tahapan yang sangat kritis dalam proses pembangunan masyarakat,

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 25


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

karena apabila terjadi kesalahan dalam menganalisis dapat mengakibatkan


kebutuhan riil masyarakat tidak dapat diketahui (Hikmat, 2001).

3. Identifikasi daya dukung

Daya dukung bukan hanya sekedar dana konkrit, tetapi keseluruhan aspek yang
memungkinkan terselenggaranya aktivitas dalam mencapai tujuan dan target yang
telah ditetapkan. Daya dukung ini bisa merupakan daya dukung konkrit, aktual, ada
tersedia dan daya dukung yang merupakan potensi (akan ada atau bisa diusahakan).
Pemahaman mengenai daya dukung ini diperlukan agar rencana kerja yang disusun
tidak bersifat asal-asalan tetapi merupakan hasil perhitungan yang masak (Gambar
1).

Proses Perencanaan Rumusan Rencana


- Mendefinisikan masalah - Situasi, kondisi dan
- Menetapkan tujuan dan kebutuhan
target Diskusi - Perubahan yang
- Identifikasi sumberdaya intensif yang diinginkan
pendukung melibatkan - Peluang dan sumberdaya
- Merumuskan rencana masyarakat yang tersedia
tindakan - Rincian rencana kerja
- Menyusun anggaran - Anggaran

Gambar 1. Proses Penyusunan Rencana

4. Perumusan tujuan

Tujuan adalah kondisi yang hendak dicapai (suatu keadaan yang diinginkan) dan
karenanya dilakukan sejumlah upaya untuk mencapainya.

5. Menetapkan langkah-langkah

Proses membuat rumusan yang lebih utuh perencanaan dalam sebuah rencana
tindakan. Umumnya suatu rencana tindakan akan memuat : 1) apa yang hendak
dicapai; 2) kegiatan yang hendak dilakukan; 3) pembagian tugas atau pembagian
tanggung jawab; dan 4) waktu (kapan dan berapa lama kegiatan akan dilakukan).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 26


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

6. Anggaran

Perencanaan anggaran bukan berarti menghitung uang, melainkan suatu usaha


untuk menyusun alokasi anggaran atau sumber daya yang tersedia. Hal ini
sangat menentukan berhasil tidaknya sebuah perencanaan.
Dalam konteks perencanaan partisipatif (Abe, 2002), tahapan tersebut bisa
dikembangkan menjadi tahap-tahap berikut :
1) Melakukan identifikasi peserta, sehinga ada pengenalan yang lebih seksama
terhadap mereka yang ingin dilibatkan dalam proses perencanaan.
2) Melakukan identifikasi persoalan-persoalan desa, potensi dan masa depan yang
hendak dicapai. Sebaiknya tim awal telah mempersiapkan suatu penyelidikan.
3) Setelah bahan terkumpul dan dipilah-pilah bersama, apa yang menjadi masalah
terutama untuk keperluan menemukan sebab dasar dan kaitan antara satu
masalah dengan masalah lain.
4) Melakukan analisis tujuan. Disebut analisis karena dalam proses ini dilakukan
penggalian mengenai apa yang hendak dituju dengan menggunakan pohon
masalah. Tujuan bisa bermakna penyelesaian masalah atau rumusan yang ingin
dicapai.
5) Memilih tujuan untuk persoalan yang komplek sehingga diperlukan langkah-
langkah sistematik agar tujuan utama dapat tercapai. Memilih tujuan
mengandung maksud menetapkan apa yang paling mungkin dilakukan, dengan
mempertimbangkan sumberdaya.
6) Menganalisis kekuatan dan kelemahan.
7) Melakukan perumusan hasil-hasil dalam sebuah matrik program. Dalam matriks
telah disusun dengan lebih seksama yakni tujuan, target, jenis aktivitas, waktu,
tahap kerja, penanggung jawab, sampai pada biaya yang dibutuhkan. Matriks
sebaiknya juga dilengkapi dengan detail kegiatan yang akan dilakukan.
8) Menyiapkan organisasi kerja. Rumusan perencananan hanya akan menjadi
sekedar rencana bila tidak diikuti dengan kejelasan organisasi kerja. Untuk itu,
semua potensi yang terlibat diharapkan bisa menjadi bagian dari organisasi
kerja.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 27


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Partisipasi warga masyarakat dalam melaksanakan gerakan pembangunan


harus selalu didorong dan ditumbuhkembangkan secara bertahap, ajeg dan
berkelanjutan. Prinsip-prinsip penerapan partisipasi (Hikmat, 2001) yang harus
dilakukan adalah :
1) Masyarakat dipandang sebagai subyek dan bukan obyek
2) Praktisi berusaha menempatkan diri sebagai insider bukan outsider
3) Praktisi berperan sebagai fasilitator, sedang masyarakat yang harus
mengidentifikasi masalah, mendiskusikan, menganalisis, menyeleksi prioritas
masalah, menyajikan hasil dan merencanakan kegiatan aksi.
4) Pelaksanaan evaluasi termasuk penentuan indikator keberhasilan dilakukan
secara partisipatif.
Perencanaan partisipatif dapat dilaksanakan jika praktisi pembangunan tidak
berperan sebagai perencana untuk masyarakat tetapi sebagai pendamping dalam proses
perencanaan yang dilakukan oleh masyarakat. Masyarakat yang mempunyai peran
utama sebagai pengelola perencanaan dari mulai tahap identifikasi masalah dan
kebutuhan, identifikasi potensi lokal, pendayagunaan sumber-sumber lokal, penyusunan
dan pengusulan rencana hingga evaluasi dari mekanisme perencanaan. Menurut Hikmat
(2001), untuk menjadi pendamping yang baik, ada beberapa ketrampilan dasar yang
harus dimiliki dalam rangka untuk menciptakan kemampuan internal masyarakat antara
lain :
1) Kemampuan melakukan diskusi kelompok yang terarah
2) Kemampuan memfasilitasi analisis pola keputusan yang dilakukan masyarakat
dalam proses perencanaan.
3) Negosiasi yaitu keahlian meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
penawaran program, proyek dan kegiatan yang diusulkan kepada sumber-
sumber lokal.
4) Pengambilan keputusan yaitu keahlian meningkatkan kemampuan masyarakat
dalam mengambil keputusan secara demokratis, transparan dan memperhatikan
akuntabilitas masyarakat.
5) Pelibatan berbagai pihak (stakeholders) di tingkat lokal, yaitu keahlian
meningkatkan kemampuan mengidentifikasi semua untur masyarakat yang
seharusnya memiliki peran yang optimal dalam pembangunan. Stakeholders ini
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 28
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

harus diidentifikasi bersama masyarakat (siapa, apa perannya dan apa


kontribusinya terhadap pembangunan).
Dalam fungsi manajemen, monitoring dan evaluasi harus dilakukan dari mulai
penyusunan rencana sampai ke pelaksanaan kegiatan untuk memberi masukan pada
setiap tahap kegiatan. Ada beberapa perbedaan antara evaluasi konvensional dan
partisipatif (Tabel 1).

Tabel 1. Perbandingan Evaluasi Konvensional dan Partisipatif

Aspek Evaluasi Konvensional Evaluasi Partisipatif


Siapa Ahli dari luar Anggota masyarakat, staf proyek,
fasilitator
Apa Indikator keberhasilan, efisiensi Masyarakat mengidentifikasi
biaya dan keluaran hasil/produk sendiri indikator keberhasilan
yang telah ditentukan termasuk hasil yang dicapai
Bagaimana Fokus pada ”obyektivitas Evaluasi sendiri, metode sederhana
ilmiah”, ada jarak antara yang diadaptasi dengan budaya
evaluator dan partisipan, ada lokal, terbuka, ada diskusi hasil
pola seragam, prosedur dengan melibatkan partisipan
kompleks, akses terbatas pada dalam proses evaluasi
hasil
Kapan Biasanya tergantung jadwal, Bergantung pada proses
kadangkala juga ada evaluasi perkembangan masyarakat dan
midterm intensitas relatif sering
Mengapa Pertanggungjawaban biasanya Pemberdayaan masyarakat lokal
sumatif, menentukan biaya untuk inisiasi, mengontrol,
selanjutnya melakukan tindakan koreksi.
Sumber : Narayan, Deepa. 1993. Participation Evaluation. World Bank Technical
Paper Number 207. Washington, D. : The World Bank dalam Hikmat, H.
2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Humaniora Utama Press.
Bandung.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 29


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

III. BAHAN DAN METODE

A. Lokasi Penelitian dan Tata Waktu

Lokasi pengembangan adalah lahan pantai berpasir yang secara administratif


terletak di Desa Petanahan, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa
Tengah. Secara geografi berdasarkan peta topografi skala 1 : 25.000 terletak pada 109o
35’ 01,9” BT , 07o 46’ 31,3” LS sampai 109o 35’ 34,9” BT , 07o 46’ 39,1” LS (lihat
Gambar 2 sampai Gambar 4).. Kondisi Geologi berupa endapan alluvium pasiran dan
jenis tanah yang terbentuk adalah jenis tanah regosol yang berasal dari endapan pasiran
dengan topografi umumnya berombak. Puncak hujan pada bulan Oktober dan November
dengan curah hujan rata-rata 3378 mm, bulan basah 8.3 bulan dan bulan kering (hujan <
50 mm/bl) selama 3 bulan. Bulan kering pada bulan Juli, Agustus dan September, bulan
lembab Mei dan Juni, sedangkan lainnya adalah bulan basah mulai dari Oktober. Untuk
kegiatan pengembangan dipilih pantai berpasir yang letaknya berdekatan dengan garis
pantai pada areal seluas ± 11 Ha.

Gambar 2. Lokasi Penelitian Lahan Pantai Berpasir di Samas, Bantul sejak Tahun 1994
dan Karanggadung, Kebumen Sejak Tahun 2005

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 30


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 3. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di desa Karanggadung, Kecamatan


Petanahan, Kabupaten Kebumen, Sejak Tahun 2005

Gambar 4. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di desa Srigading, Kecamatan


Samas, Kabupaten Bantul, Sejak Tahun 1994

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 31


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir


tahun 2007 dilaksanakan dengan tata waktu sebagaimana disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Jadwal Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai
Berpasir 2007
No KEGIATAN
BULAN PELAKSANAAN
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
A. KEGIATAN KANTOR
1 Persiapan
- Pengadaan ATK dan
Opers. Komputer
- Bahan perlengkapan
lapangan
- Bahan penelitian

B. KEGIATAN LAPANGAN
2. Perjalanan Dinas
- Konsultasi/Koordinasi
- Orientasi lapangan
- Pelaksanaan lapangan
3. Pengamatan &
Pengukuran
- Pengumpulan data tanm
- Data erosi pasir dll
C. KEGIATAN LABORAT
4. Analisa data
- Analisa data
5. Penyusunan laporan
- Ft.copy/penggandaan
- Rapat intern

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 32


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

B. Bahan dan Metode

Bahan dan peralatan kegiatan pengembangan meliputi :


a. Kegiatan penetapan lokasi, pembuatan rancangan, dan pemetaan lokasi antara
lain : patok, meteran, kompas, peta dasar.
b. Kegiatan pembuatan sarana penahan erosi pasir tanaman TA, antara lain :
Casuarina equisetifolia (camara laut) dan jagung (Zea mays L.).
Bibit tanaman budidaya semusim untuk ditanam di antara jalur tanaman TA
antara lain : terong, bawang merah, cabe merah, dan ketimun, dll.
d. Kegiatan perbaikan tanah berupa pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha serta
pupuk anorganik ZA, KCl, urea, TSP, insektisida, dan fungisida.
e. Kegiatan pengembangan sarana pengairan tanaman budidaya antara lain
berupa bak renteng, pralon, gembor, selang, pompa air.
f. Kegiatan pengamatan perlakuan, antara lain: Sand trap, evaporimeter,
ombrometer, anemometer, termometer udara, dan termometer tanah.
g. Kegiatan sosialisasi masyarakat berupa blanko/kuisioner yang relevan.

1. Jenis Kegiatan

Kegiatan ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian lahan pantai di


Samas yang berlangsung sejak tahun 1997. Disamping itu juga merupakan sarana
sosialisasi pada masyarakat di Kebumen dan juga dicobakan tanam tanaman kehutanan
yang berfungsi sebagai tanggul angin sekaligus juga sebagai tanaman permanen yang
membuat kondisi lingkungan semakin nyaman dan iklim mikro semakin baik.

2. Tahapan Kegiatan

2.1. Pemeliharaan jalur tanaman TA permanen Casuarina equisetifolia di Samas


dan pengembangan jalur tanaman TA di Kebumen

Pemeliharaan dan pengamatan tanaman TA permanen cemara laut di Samas.


Sedangkan untuk kegiatan di Kebumen rancangan demplot pengembangan yang akan
dilakukan pada tahun dinas 2007. Upaya rehabilitasi lahan pantai berpasir dilakukan
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 33
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

untuk mengendalikan erosi angin, memperbaiki iklim mikro dan meningkatkan


produktivitas lahan. Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan pada lahan pantai
berpasir di Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen tanaman
yang tepat sebagai tanggul angin permanen adalah cemara laut (Casuarina equisetifolia),
lihat Gambar 5

Tanam tanaman Casuarina equisetifolia sebagai tanaman tanggul angin


permanen sepanjang 500 m searah garis pantai selebar 15 m. tanaman tersebut berfungsi
sebagai tanaman penghijauan untuk melindungi tanaman budidaya yang ditanam di
antara jalur tanaman tanggul dari pengaruh erosi pasir, tiupan angin dan kadar garam.
Metode tanam tanaman tanggul tersebut dilakukan dengan jarak tanam 5 m x 5 m
setiap jalurnya, dengan model ‘gigi belalang’ dengan 3 jalur tanam.

Tanaman tanggul angin sementara yang ditanam pada batas antar petak
digunakan tanaman-tanaman seperti: jagung (Zea mays L.), sorghum (Sorghum L.), atau
ubi kayu karet (Manihot utillisima).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 34


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 5. Layout Pengembangan Demplot Tanaman Budidaya dan Tanaman Tanggul


Angin

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 35


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

2.2. Pemeliharaan sarana pengairan berupa sumur bak renteng

Pemeliharaan sarana pengairan dengan menggunakan bak tampung dari buis


beton yang dipasang secara berentengan. Sumur renteng tersebut dipakai untuk persediaan
cadangan air tawar sepanjang waktu. Khususnya pada masa pertumbuhan tanaman
diperlukan penyiraman air tawar rutin sehari dua kali pagi dan sore.

2.3. Pengembangan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai

Sedang tanaman budidaya terdiri dari bawang merah, terong, cabe merah,
kacang panjang, ketimun, dan semangka dengan beberapa kombinasi. Oleh karena itu,
pola yang diterapkan dalam pembuatan demplot untuk upaya pengembangan rehabilitasi
lahan pantai berpasir di Desa Patanahan akan mengacu pada hasil uji coba yang telah
dilakukan.

Tanaman budidaya di antara jalur tanaman tanggul angin untuk sementara


adalah : bawang merah, terong, cabe merah, kacang panjang, ketimun, dan semangka.
Adapun kebutuhan bibit per hektar dari masing-masing tanaman budidaya tersebut,
yaitu: a) Terong sebanyak 10 bungkus (2 kg), b) Bawang merah sebanyak 200 kg, c)
Cabe merah keriting sebanyak 50 pak (5 kg), benih jagung 20 kg.

Dosis ameliorat pupuk kandang untuk meningkatkan produktivitas tanaman-


tanaman budidaya tersebut sebanyak 20 t/ha untuk MT I. Sedang dosis pupuk kimia per
hektar seperti ZA, urea, KCl, dan TSP masing-masing sebanyak 200kg.

2.4. Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat

Untuk tanaman budidaya terlebih dahulu akan dilakukan identifikasi untuk


mengetahui jenis yang relatif sesuai dengan kondisi fisik, minat masyarakat dan kebutuhan
pasar. Demplot akan dibangun pada lahan seluas ± 1 Ha yang akan dibagi dalam blok-blok
yang merupakan petak milik petani penggarap dengan luas masing-masing 1.000 m2.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 36


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

2.5. Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata

Menyediakan sarana terpadu dalam bentuk tempat-tempat berteduh para


wisatawan yang nyaman untuk menikmati pemandangan pantai dan juga hasil tanaman
yang dibudidayakan di sekitar pantai berpasir.

3. Parameter

3.1. Tanaman TA sebagai Pengendali Erosi Pasir


Pengembangkan jalur TA antara lain dengan tanaman Casuarina equisetifolia
dimaksudkan untuk mengendalikan erosi angin. Parameter biofisik yang dikumpulkan
adalah curah hujan, kecepatan angin, erosi pasir, evaporasi, kandungan garam, suhu
tanah, pertumbuhan dan daya tumbuh tanaman cemara laut, serta input dan produksi
tanaman budidaya.

3.2. Pengembangan sarana pengairan berupa sumur bak renteng


Agar perawatan tanaman dapat berjalan dengan baik perlu disediakan sarana
penyediaan air antara lain dalam bentuk pengembangkan sarana pengairan berupa sumur
bak renteng. Setiap tandon air dari bius beton akan diamati berapa kali sehari air harus
dipompa untuk mengisi bak-bak penampung, dan berapa volume air yang diperlukan
untuk menyirami tanaman tanggul angin, tanaman semusim dan tanaman kehutanan serta
buah-buahan setiap harinya. Kebutuhan air tersebut dibandingkan pada saat musim
kemarau (tidak ada hujan) dengan musim penghujan (ada tambahan air dari air hujan).
Sehingga perlu diketahui tinggi hujan setiap hari dengan memasang penakar hujan
ombrometer (manual).

3.3. Pengembangan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai


Pengembangkan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai dan untuk
meningkatakan produktivitas lahan. Parameter data yang dikumpulkan dari lapangan
tentang tanaman budidaya sebagai indikator perubahan tingkat produktivitas lahan,
antara lain dengan melakukan pengamatan baik secara : a). vegetatif pertumbuhan
tanaman dan 2). generatif dengan perhitungan dan penimbangan hasil panen.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 37


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

3.4. Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat


Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat lahan pantai berpasir antara lain
juga diamati perubahan kondisi ekonomi masyarakat, yaitu :
— Investasi awal pengembangan lahan pantai berpasir, jaringan irigasi sumur
renteng, pembangunan tanggul angin permanen dan sementara, pembangunan
site budidaya pertanian dan buah-buahan.
— Input output usahatani (tenaga kerja, bibit, pupuk, racun hama penyakit, output
usahatani pokok dan sampingan) dalam volume dan harganya.
— Kondisi ekonomi masyarakat pantai dan kondisi ekonomi rumah tangga petani
pelaksana plot pengembangan.
— Pemanfaatan lahan pantai selama ini.
— Minat masyarakat terhadap upaya rehabilitasi dan pemanfaatan lahan pantai
berpasir untuk usaha tani.
— Minat masyarakat terhadap jenis-jenis tanaman budidaya yang akan ditanam dan
potensi pasar bagi jenis-jenis tanaman budidaya tersebut.

3.5. Peningkatan kenyamanan lingkungan sekitar wisata


Peningkatan kenyamanan lingkungan sekitar wisata antara lain dapat ditinjau
dari iklim mikro, keberadaan kelembagaan dan kebijakan yang berlaku :
— Perubahan kondisi iklim mikro sekitar lokasi pengembangan
— Akses jalan menuju ke lokasi dalam bentuk sarana dan prasarana yang memadai
untuk memudahkan pengunjung wisata
— Institusi yang terlibat dalam pengembangan lahan pantai selama ini dan
peranannya dalam pengembangan lahan pantai.
— Potensi dan kendala yang dihadapi dalam pengembangan pantai berpasir.
— Rencana pengembangan lahan pantai berpasir yang ada.
— Peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan
lahan pantai berpasir.
— Status lahan pantai berpasir yang akan dikembangkan dan prediksi persoalan
yang timbul kedepan.
— Respon pemerintah daerah dalam pengembangan lahan pantai berpasir.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 38


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

4. Pengambilan Data

Data yang diambil berupa data primer dengan cara pengamatan langsung di
lapangan dan wawancara.

4.1. Tanaman TA Casuarina equisetifolia


- Prosentase daya tumbuh pembibitan tanaman tanggul angin, kayu-kayuan, dan
buah-buahan
- Prosentase daya tumbuh, pertumbuhan dan perkembangan tinggi tanaman
tanggul angin, kayu-kayuan, buah-buahan dan tanaman semusim.
- Produksi hasil tanaman semusim dengan cara ubinan ukuran 1 m2 diulang
masing-masing 3 kali.
- Pengamatan dilakukan selama lima tahun

4.2. Sarana Pengairan


- Pengukuran tinggi hujan (mm) harian melalui penakar hujan manual
(ombrometer) dan diamati pada setiap jam 07.00 pagi.
- kebutuhan air setiap jenis tanaman dalam satuan volume air cm3 (cc).
- Kecepatan angin, erosi angin, evaporasi, dan suhu tanah, kandungan garam dan
lain-lain faktor iklim diukur pada pagi dan sore setiap hari.

4.3. Model Tanaman Budidaya


- Pengamatan pertumbuhan tanaman semusim selama lima tahun.
- Produksi tanaman budidaya dikumpulkan setiap panen, dalam hal ini juga
dilakukan pemantauan terhadap volume dan frekuensi pemanenan dari masing-
masing jenis tanaman budidaya.
- Input tanaman budidaya dikumpulkan mulai tanam sampai dengan panen. Selain
itu, juga dihitung input untuk tanam tanaman TA.

4.4. Tingkat Pendapatan Masyarakat


Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat dengan mengamati kondisi sosial
dan budaya masyarakat. Data sosial budaya yang dikumpulkan berupa data primer dan
data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan survei, observasi, diskusi mendalam,
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 39
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

dan pendampingan/pengamatan terhadap kelompok tani. Survei dilakukan dengan


bantuan kuisioner pada masyarakat sekitar pantai dan petani plot. Pencatatan input
output usahatani dan investasi pengembangan lahan pantai dilakukan secara rutin pada
petani contoh. Data sekunder dilakukan dengan pengumpulan data, informasi,
perundangan dan sebagainya pada instansi terkait seperti BPS, pemerintah daerah,
intansi terkait dan sebagainya.

4.5. Kenyamanan Lingkungan Wisata


Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata dengan mengamati kondisi
ekonomi dan kelembagaan di masyarakat. Data ekonomi yang dikumpulkan berupa data
primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan survei, observasi, diskusi
mendalam, dan pendampingan/pengamatan terhadap kelompok tani. Survei dilakukan
dengan bantuan kuisioner pada masyarakat sekitar pantai dan petani plot. Harga input
dan output dilakukan dengan observasi dan wawancara di lapangan.
Minat masyarakat terhadap upaya rehabilitasi dan pemanfaatan lahan pantai
serta jenis yang akan ditanam dilakukan melalui focus group discussion dan wawancara
mendalam dengan masyarakat yang akan menjadi peserta dalam pembuatan demplot.
Pemantauan terhadap:
- dinamika kelompok tani (kehadiran, keaktifan, inisiatif)
- institusi yang terlibat dalam pengembangan lahan pantai selama ini dan peranannya
dalam pengembangan lahan pantai.
- Potensi dan kendala yang dihadapi dalam pengembangan lahan pantai berpasir
- Peraturan dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan lahan pantai berpasir.
- Status lahan pantai berpasir yang akan dikembangkan dan prediksi persoalan yang
timbul kedepan.
- Respon pemerintah daerah dalam pengembangan lahan pantai berpasir.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 40


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

5. Pengolahan dan Analisa Data

5.1. Tanaman TA Casuarina equisetifolia


Data biofisik akan dianalisis secara deskriptif untuk menunjukkan perlakuan
yang paling efektif. Dengan mengamati prosentase tumbuh tanaman TA cemara laut
(Casuarina equisetifolia) dan mengamati pertumbuhan setiap bulannya.

5.2. Sarana pengairan berupa sumur bak renteng


Menyiapkan instalasi saluran irigasi dalam bentuk sumur bak renteng untuk
mengairi tanaman semusim, tahunan dan tanaman TA dengan air tawar. Menyediakan
sarana penampungan air dan melengkapi peralatan penyiraman tanaman dengan
gembor, atau dengan selang plastik.

5.3. Model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai


Pengembangan pola tanam tanaman budidaya dengan tanam tanaman semusim
antara lain Semangka (Citrullus vulgaris), Terong Ungu (Solanum melongena),
Bawang Merah (Allium cepa), Cabe Merah Keriting (Capsicum annuum), Kacang
Panjang (Vigna sinensis) dan tanaman tahunan antara lain : Keben (Barringtonia
asiatica), Bintangur (Calophyllum inophyllum), Waru (Hibiscus tilliaceus), Ketapang
(Terminalia catappa). Mengamati prosentase tanaman yang tumbuh, dan pengamatan
pertumbuhan tanaman setiap bulannya. Setiap masa panen dilakukan pengkuran hasil
produksi dengan cara melakukan pengubinan yang berukuran 1 m2 dan diulang 3 kali.

5.4. Tingkat pendapatan masyarakat


Data sosial ekonomi dan budaya dianalisis secara deskriptif, sedang data input
dan output untuk sementara hanya akan dilakukan analisis biaya pendapatan. Data
sosek yang terkumpul selanjutnya ditabulasi dan dianalisis. Data disajikan dalam
bentuk tabel dan grafis. Data dianalisis secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif.
Analisis yang dilakukan antara lain analisis finansial, analisis kependudukan.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 41


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

5.5. Kenyamanan lingkungan sekitar wisata


Menyediakan kenyamanan rekreasi di sekitar lingkungan pengembangan
tanaman sekitar pantai berpasir sebagai sarana informasi kepada khalayak ramai yang
berkunjung ke pantai. Penyediaan sarana dengan melibatkan masyarakat sekitar pantai
berpasir, dinas pariwisata dan pemerintah daerah. Data yang dikumpulkan berupa tingkat
frekuensi kunjungan masyarakat ke tempat wisata dan lingkungan sekitarnya.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 42


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

IV. BIAYA DAN ORGANISASI PELAKSANA

Biaya penelitian tahun 2007 sebesar Rp. 74.600.000,- (Tujuh Empat Enam
Ratus Ribu Rupiah) dengan perincian biaya penelitian tahun 2007 sebagai berikut :
A. Belanja Barang Operasional Lainnya (Rp. 7.200.000,-)

No Jenis Kegiatan Satuan Volume Biaya Jumlah


Kebthn Satuan Biaya (Rp)
1 Analisa data LS 1 1.000.000 1.000.000

2 Pengumpulan data vegetasi LS 1 1.500.000 1.500.000

3 Pengumpulan data erosi LS 3 1.400.000 4.200.000

4 Rapat intern OH 20 25.000 500.000

B. Belanja Bahan (Rp. 29.650.000,-)

No Jenis Kegiatan Satuan Vol. Biaya Jumlah


Kebt Satuan Biaya (Rp)
1 Foto copy dan dokumentasi LS 1 750.000 750.000

2. ATK dan Operasional komputer LS 1 1.000.000 1.000.000

3 Bahan perlengkapan lapangan LS 1 2.900.000 2.900.000

4 Bahan penelitian LS 1 25.000..000 25.000..000

C. Belanja Perjalanan Biasa (Rp. 37.750.000,-)

No Jenis Kegiatan Satuan Vol. Biaya Jumlah


Kebt Satuan Biaya (Rp)
1 Perjalanan dalam rangka konsultasi OT 1 4.450.000 4.450.000
dan koordinasi ke Bogor

2 Perjalanan dalam rangka pelaksanaan OT 10 3.330.000 33.300.000


kegaitan ke Kebumen

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 43


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Susunan organisasi pelaksana tugas dalam rangka menyelesaikan kajian


tentang Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir tahun 2007
dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Tim Pelaksana Kegiatan Tahun 2007

No. Nama Jabatan Pendidikan Bidang Kedudukan


Keahlian dalam TIM

1. Ir. Beny Peneliti S2- Pedologi dan Ketua Tim/


Harjadi,MSc Madya Penginderaan Penginderaan Peneliti
Jauh Jauh

2. S.Andy Peneliti S2- Sosial Ekonomi Anggota/


Cahyono, Pertama Ekonomi Kehutanan Peneliti
MSi

3. Dona Calon S1 – Silvikultur Anggota/


Octavia, Peneliti Kehutanan Peneliti
S.Hut

4. Arif Priyanto Calon S1-Pertanian Pertanian Anggota


Teknisi

5. Gunawan Tek STM Pertanian Anggota


Litkayasa Pertanian
Pelaksana

6. Siswo Tek SKMA Kehutanan Anggota


Litkayasa Kehutanan
Pelaksana

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 44


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengembangan Jalur TA dengan tanaman Casuarina equisetifolia


a. Pertumbuhan Cemara Laut

Perbandingan Cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang ditanam di Samas,


Bantul dengan yang ditanam di Karanggadung, Kebumen menunjukkan pertumbuhan yang
sama karena kedua lokasi pantai berpasir sesuai untuk pertumbuhan tanaman cemara laut.
Di Samas, Bantul kegiatan telah dilakukan sejak tahun 1994 sampai 2003, sedangkan di
Karanggadung, Kebumen ditanam sejak tahun 2005 sampai 2007.
Dari sebaran probabilitas normal Cemara relatif lurus keatas tidak nampak
perbedaan antara satu tanaman dengan tanaman lainnya (KT0-KT2) di Kebumen (lihat
Gambar 6). Sedangkan di Bantul menunjukkan sebaran yang relatif beda antara
pertumbuhan satu dengan lainnya (KU1-KU4).

Gambar 6. Sebaran Probabilitas Normal Cemara Laut di Kebumen (KT0-KT2) dan


Bantul (KU1-KU4)

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 45


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tanaman cemara laut yang baru ditanam tahun 2007 tingginya 58,7 cm pada
umur bibit 6 bulan, tanaman cangkok (T1c) pertumbuhan lebih cepat dibandingkan
dengan tanaman dari bibit (T1b), keterangan yang lebih lengkap dapat dilihat pada
Tabel 4 dan Gambar 7.

Tabel 4. Tinggi Cemara Laut Tahun 2005 sampai 2007 di Karanggadung, Kebumen

Nomer 2007 2006 2006 2005


Tanaman T0 T1b T1c T2
1 40 109 103 152
2 63 147 100 170
3 55 141 122 92
4 73 105 143 159
5 66 148 99 148
6 41 99 182 121
7 81 135 114 161
8 41 127 136 67
9 63 129 159 138
10 64 124 142 44
Rerata 58,7 126,4 130 125,2
Keterangan : T1b = tanaman satu tahun dari biji
T1c = tanaman satu tahun dari cangkok

140 130
126,4 125,2
120
Tinggi Cemara Laut (cm)

100

80

58,7
60

40

20

0
2007 2006 b 2006 c 2005
Tahun Tanam Cemara di Kebumen

Gambar 7. Tinggi Cemara Laut dari Tahun 2005 – 2007 di Karanggadung, Kebumen

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 46


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tinggi cemara laut di Bantul yang ditanam sejak tahun 1994 atau tanaman
berumur 14 tahun rata-rata tingginya 8,1 m (Tabel 5 dan Gambar 8). Cemara laut di
Bantul yang ditanam berasal dari cangkok lebih cepat rimbun tapi tidak bisa tumbuh
meninggi.

Tabel 5. Tinggi Tanaman Cemara Tahun 1994 sampai 2003 di Samas, Bantul

Nomer 2003 2000 1997 1994


Tanaman KU1 KU2 KU3 KU4
1 2,9 6,2 6,1 7,6
2 2,05 6,15 5,65 8,15
3 3,35 4,05 5,35 8,25
4 3,5 5,06 6,4 8,1
5 3,9 5,45 4,85 7,9
6 2,65 4,45 4,1 8,05
7 3,9 5,1 4,35 8,5
8 4,25 5,55 4,1 8,3
9 3,4 6,15 5,35 8,2
10 2,45 4,4 4,2 7,9
Rerata 3,2 5,3 5,0 8,1

9,0

8,0

7,0
Tinggi Cemara Laut (m)

6,0

5,0

4,0

3,0

2,0

1,0

0,0
2003 2000 1997 1994
Tahun Tanaman Cemara di Bantul

Gambar 8. Tinggi Cemara Laut dari Tahun 1994 – 2003 di Samas, Bantul.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 47


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

b. Tanggul Angin Sementara

Tanggul angin sementara dapat secara mekanis ataupun vegetatif. Tanggul angin
sementara secara mekanis antara lain dengan daun kelapa, gedek bambu. Prinsip
pembuatan tanggul angin sementara angin dapat menembus tetapi tidak sampai merusak
tanaman, karena kecepatan angin sudah terhalang oleh tanggul, disamping itu juga mampu
mengurangi bahaya kadar garam yang dibawa oleh uap air (Gambar 9). Begitu juga
tanggul angin sementara dapat dilakukan dengan vegetatif tanaman semusim yang cepat
tumbuh dan lebih tinggi dari tanaman utamanya, misalnya : jagung, sorghum dll.

Gambar 9. Tanaman Tanggul Angin dari tanaman Jagung, sudah mengering.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 48


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

B. Pengembangan Sarana Pengairan Berupa Sumur Bak Renteng


a. Kondisi Biofisik

i. Kesuburan Tanah
Kesuburan tanah yang diamati di dua lokasi Bantul dan Kebumen meliputi daerah
tepi pantai, pada tanaman tanggul angin cemara laut, dan tanaman semusim. Dari sampel
tanah yang diambil pada lapisan olah 0 – 30 cm dilakukan analisis untuk beberapa
parameter sifat fisik tanah antara lain : kadar lengas (KL), kemasaman tanah (pH), daya
hantar listrik (DHL), N total, P total, Fe total, Cu total, Mn total, Zn total, Kalium tertukar
(K ttk), Kalsium tertukar (Ca ttk), Natrium tertukar (Na ttk), Magnesium tertukar (Mg ttk),
Kapasias Pertukaran Kation (KPK), Kejenuhan Basa (KB), lihat Tabel 6 dan Tabel 7.
Sebagian besar ketersediaan hara dalam tanah sangat rendah (SR) sampai rendah
(R), hanya beberapa unsur hara memiliki kandungan hara yang tinggi yaitu untuk P total,
Mn total, Mg tertukar dan kejenuhan basa (KB). Pada lahan yang ditanami tanaman
semusim kandungan hara tanah relatif lebih tinggi, antara lahan pasir yang ditanami
cemara laut dengan lahan pasir yang terbuka kandungan unsur hara dalam tanah relatif
sama (keterangan yang lebih lengkap dapat dilihat pada Gambar 10, 11 dan
Gambar 12).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 49


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 6. Perbandingan Unsur Kandungan Unsur Hara Lahan Pantai Berpasir di Kebumen dan Bantul

KANDUNGAN KARANGGADUNG,PETANAHAN,KEBUMEN SRI GADING, SAMAS, BANTUL


HARA LAHAN Pantai Semusim Cemara Laut Pantai Semusim Cemara Laut
BERPASIR KP KS KC BP BS BC
KL% 0,5 0,5 mm 0,33 R 1,16 ST 0,4 S 0,27 R 0,56 S 0,22 R
KL% 2 2 mm 0,54 S 1,51 ST 0,38 R 0,28 R 0,46 R 0,49 R
pH H2O 7,3 S 6,1 R 7 S 6,8 S 6,1 R 6,3 R
DHL mS 0,07 SR 0,1 R 0,05 SR 0,05 SR 0,12 R 0,25 R
Ntotal % 0,01 SR 0,07 SR 0,01 SR 0,01 SR 0,05 SR 0,02 SR
Ptotal ppm 417,71 ST 462,99 ST 390,33 ST 355,29 ST 418,29 ST 748,69 ST
Ktotal % 0,06 SR 0,05 SR 0,05 SR 0,04 SR 0,03 SR 0,05 SR
Fe total % 0,81 R 0,45 R 0,97 R 0,47 R 0,85 R 0,37 SR
Cu total ppm 34,26 SR 38,16 SR 30,02 SR 27,68 SR 29,54 SR 32,47 SR
Mn total ppm 223,89 T 170,16 T 197,33 T 253,47 ST 279,87 ST 259,27 ST
Zn total ppm 76,34 R 74,14 R 73,8 R 96,36 R 100,97 S 92,3 R
K ttk me/100 g 0,16 R 0,13 R 0,13 R 0,14 R 0,18 R 0,13 R
Ca ttk me/100 g 2,66 R 1,76 SR 4,53 R 1,55 SR 3,53 R 3,41 R
Na ttk me/100 g 1,2 ST 1,09 ST 2,43 ST 1,42 ST 1,18 ST 1,36 ST
Mg ttk me/100 g 2,73 T 1,19 S 2,7 T 1,55 S 1,04 S 2,43 T
KPK me/100 g 7,21 R 5,4 R 18,23 S 5,25 R 6,68 R 8,61 R
KB % 93,62 ST 77,22 ST 53,7 T 88,76 ST 88,77 ST 85,13 ST

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 50


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 7. Kriteria Tingkatan Kandungan Unsur Hara Tanah

SR R S T ST
Sg.Renda
TINGKATAN h Rendah Sedang Tinggi Sg.Tinggi
KADAR HARA 1 2 3 4 5
K.Lengas (%)
0,5 < 0,1 0,1 - 0,3 0,4 - 0,5 0,6 - 1 >1
K.Lengas (%) 2 < 0,2 0,2 - 0,5 0,5 - 0,9 0,9 - 1,2 >1,2
pH 5 6 7 8 9
DHL (mS) < 0,1 0,1 - 0,3 0,4 - 0,5 0,6 - 1 >1
N total (%) <0,1 0,1-0,2 0,21-0,5 0,51-0,75 >0,75
P total (ppm) < 50 51 - 100 101 -150 151 - 250 > 250
K total (%) < 10 10 - 20 21 - 40 41 - 60 > 60
Fe total (%) < 0,4 0,4 - 1 1,1 - 2 2,1 - 6 >6
Cu total (ppm) < 50 51 - 100 101 -150 151 - 250 > 250
Mn total (ppm) < 50 51 - 100 101 -150 151 - 250 > 250
Zn total (ppm) < 50 51 - 100 101 -150 151 - 250 > 250
K ttk (me/100 g) < 0,1 0,1 - 0,3 0,4 - 0,5 0,6 - 1 >1
Ca ttk (me/100
g) <2 2-5 6 - 10 11 - 20 > 20
Na ttk (me/100
g) <0,1 0,1 - 0,3 0,4 - 0,7 0,8 - 1 >1
Mg (me/100 g) < 0,4 0,4 - 1 1,1 - 2 2,1 - 6 >6
KPK (me/100 g) <1 1 - 10 10 - 20 20 - 30 > 30
KB (%) <20 20 - 35 36 - 50 51 - 70 > 70

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 51


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

1,6
Ntotal

1,4
Ktotal
Kadar Hara Pantai Berpasir

1,2
DHL

1
K ttk

0,8
KL% 0,5

0,6 KL% 2

0,4 Fe total

0,2

0
KP KS KC BP BS BC
Kebumen (K) dan Bantul (B)

Gambar 10. Kadar Hara Lahan Pantai : N, K, DHL, K tertukar, Kadar Lengas dan Fe
total di Kebumen dan Bantul

20
Na ttk
18

16 Ca ttk
Kadar Hara Pantai Berpasir

14
Mg ttk
12

10
KPK
8

6 pH

0
KP KS KC BP BS BC
Kebumen (K) dan Bantul (B)

Gambar 11. Kadar Hara Lahan Pantai : Na ttk, Ca ttk, Mg ttk, KPK (Kapasitas
Pertukaran Kation), pH di Kebumen dan Bantul
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 52
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

800
Cu total
700

Zn total
Kadar Hara Pasir Berpantai

600

500
KB
400

300
Mn total

200
Ptotal
100

0
KP KS KC BP BS BC
Kebumen (K) dan Bantul (B)
Gambar 12. Kadar Hara Lahan Pantai : Cu total, Zn total, KB (Kejenuhan Basa), Mn
total dan P total di Kebumen dan Bantul.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 53


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

ii. Suhu Tanah


Suhu tanah semakin ke dalam semakin dingin yaitu dari 33 oC menuju ke 31
o
C, begitu juga untuk suhu tanah malam hari (32 oC) lebih rendah dibandingkan siang
hari (35 oC), (Tabel 8 dan Gambar 13 sampai Gambar 15).

Tabel 8. Data Suhu Tanah Ke dalaman 15, 30 dan > 30 cm di Kebumen Tahun 2007

Keterangan : nomer menunjukkan bulan ke- (10=Oktober, 11=November,


12=Desember, 1=Januari, 2=Februari, 3=Maret,4=April)

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 54


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

37

36

35
Suhu Tanah (0 - 15 cm)

MALAM
34
Max
33 Min
32 SIANG
Max
31
Min
30

29

28
10 11 12 1 2 3 4
Bulan Pengamatan

Gambar 13. Suhu Tanah pada Ke dalaman 0 - 15 cm Tahun 2007 di Kebumen

37
36
Suhu Tanah (15 - 30 cm)

35
MALAM
34
Max
33
Min
32
SIANG
31
Max
30
Min
29
28
27
10 11 12 1 2 3 4
Bulan Pengam atan

Gambar 14. Suhu Tanah pada Ke dalaman 15 - 30 cm Tahun 2007 di Kebumen

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 55


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

40

35
Suhu Tanah (> 30 cm)
30 MALAM

25 Max
Min
20
SIANG
15 Max
10 Min

0
10 11 12 1 2 3 4
Bulan Pengam atan

Gambar 15. Suhu Tanah pada Ke dalaman > 30 cm Tahun 2007 di Kebumen

b. Perubahan Iklim

i. Evaporasi
Evaporasi diamati pada waktu siang dan malam hari, dimana siang hari
merupakan proses penguapan pada waktu sepanjang pagi hari (06.00-12.00), sedangkan
pengamatan lama hari sebagai hasil penguapan sepanjang siang hari sampai sore (12.00
– 18.00). Oleh karena itu tinggi evaporasi malam hari (rata-rata 0,4 mm) selalu lebih
tinggi dari pada siang hari (rata-rata 0,3 mm), (Tabel 9 dan Tabel 10). Begitu juga yang
dekat pantai lebih tinggi penguapannya dibandingkan yang jauh dari pantai, karena
kecapatan angin membantu penguapan disamping panas mathari (Gambar 16 dan
Gambar 17).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 56


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 9. Data Evaporasi Dekat Pantai Tahun 2007 di Kebumen

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 57


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 10. Data Evaporasi Jauh dari Pantai Tahun 2007 di Kebumen

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 58


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 16. Evaporasi pada Pengamatan Siang dan Malam hari Dekat Pantai

Gambar 17. Evaporasi pada Pengamatan Siang dan Malam hari Jauh dari Pantai

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 59


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

ii. Curah Hujan


Curah hujan tertinggi pada bulan Februari (1400 mm) dan curha hujan terendah
pada bulan Oktober (30 mm), dengan bulan basah selama 6 bulan dari bulan Oktober
sampai Februari (Gambar 18).

Gambar 18. Data Hujan : Maximum Hujan, Rerata, Hari Hujan, Jumlah dan Minimum

iii. Kecepatan angin


Kecepatan angin siang hari (> 5 km/jam) lebih cepat dibandingkan malam hari
(< 1 km/jam), dan pada malam hari sering 0 km/jam karena saat itu berhembus angin
dari daratan ke lautan, pada siang hari ngin berhembus dari lautan (Tabel 11 dan
Gambar 19). Dengan bantuan ombak kecepatan angin di siang hari meningkat sampai
20 km/jam.

Tabel 11. Data Kecepatan Angin Siang dan Malam Hari di Pantai Berpasir kebumen

Kecepatan
Angin (km/jam) JAN FEB MRT APR SPT OKT NOV DES
SIANG
Maximum 20 10 8 5 10 12 9 10
Rerata 7,7 5,9 4,6 4,6 8,6 7,9 5,9 5,2
Minimum 5 3 3 4 5 6 5 2
MALAM
Maximum 20 10 8 5 2 0 0 0
Rerata 10,9 6,3 5,2 4,5 0,125 0 0 0
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 60
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Minimum 5 3 3 4 0 0 0 0

Gambar 19. Kecepatan Angin Siang dan Malam Tahun 2007 di Kebumen

iv. Suhu Udara

Suhu udara di pantai berpasir terendah 20 oC pada malam hari sampai tertinggi
36 oC pada siang hari, dengan rata-rata suhu pada malam hari 22 oC dan siang hari 34 oC
(lihat Tabel 12).

Tabel 12. Suhu Udara pada Siang dan Malam Hari Tahun 2007 di Kebumen

SPT OKT NOV DES JAN FEB MRT APR


MALAM
Maximum 24 23 24 24 23 23 23 22
Rerata 22,53 22,03 22,9 22,94 22,52 22,25 22,19 22
Minimum 20 22 20 22 20 22 22 22
SIANG
Maximum 34 34 36 35 36 35 34 38
Rerata 32,1 31,0 32,8 33,7 32,13 31,96 32,84 35,17
Minimum 28 30 30 32 24 27 31 34
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 61
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Suhu udara tertinggi pada bulan April karena saat itu sudah tidak ada turun
hujan lagi, padahal panas matahari dapat meningkatkan suhu uap air yang ada di dalam
tanah yang mengakibatkan suhu udara ikut naik di siang hari (Gambar 20). Sebaliknya
suhu terendah pada bulan November dan Januari, malam hari bisa turun sampai 20 oC.

Gambar 20. Suhu Udara Tahun 2007 Malam dan Siang Hari di Kebumen

c. Instalasi Air

Sumur di pantai berpasir pada ke dalaman 6 m sudah mengeluarkan air tawar,


selanjutnya dibuat saluran dengan pralon untuk instalsi distribusi air. Instalasi air dengan
menggunakan bius beton, dimaksudkan untuk memudahkan pengambilan air pada saat
penyiraman tanaman semusim (bawang merah dan jagung). Pengangkatan air sumur
dilakukan dengan diesel dengan bahan bakar bensin, yaitu untuk 1 liter dapat untuk
menyirami selama 2 jam, dengan debit 5 liter air/detik. Sehingga selama 2 jam air yang
diperlukan untuk menyirami tanaman kurang lebih = 2 x 60 x 60 x 5 l = 36000 l/2 jam =
36 m3/ 2 jam untuk 1 ubin (14 m2). Pada tanaman semusim kebutuhan penyiraman
dilakukan setiap hari, karena pada msuim hujan maupun kemarau tetap selalu disirami.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 62


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Apalagi pada saat sehabis hujan maka pagi harinya harus segera disiram air, untuk
mengurangi uap air panas dari tanah (Gambar 21).

Gambar 21. Instalasi Air untuk Distribusi Kebutuhan Air Tanaman semusim.

C. Pengembangan Model Pola Tanam Tanaman Budidaya yang Sesuai


a. Tanaman Semusim

Tanaman semusim yang dapat dikembangkan di pantai berpasir antara lain


bawang merah, cabe, jagung, semangka dan lain-lain. Data pencatatan hasil produksi di
Bantul dari tahun 2000 sampai 2007 menunjukkan hasil yang fluktuatif yaitu kadang
tinggi dan kadang menurun (Tabel 13). Hasil bawang merah tertinggi pada bulan
Januari 2007 (29 ton/ha) dan terendah pada bulan Januari 2000 (10 ton/ha). Hasil cabe
tertinggi pada bulan Mei 2002 (26,7 ton/ha) dan terendah pada bulan Januari 2003 (8
ton/ha). Begitu juga harga kedua komoditi tersebut juga fluktuatif naik turun, yaitu
untuk bawnag merah harga terendah Rp 2.500,-/kg dan harga tertinggi bis amencapai
Rp 6.000,-/kg, sedangkan harga cabe jauh lebih fluktuatif yaitu harga terendah Rp
2.500,-/kg dan harga tertinggi bisa mencapai Rp 10.000,-/kg (Gambar 22 dan 23).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 63


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 13. Data Produksi Tanaman Bawang Merah (Brambang) dan Cabe dari Tahun 2000 sampai 2007 di Bantul

TANAM HARGA HASIL HARGA TANAM HARGA HASIL HARGA


BRAMBANG Rp/kg Ton/Ha Rp/Ha CABE Rp/kg Ton/Ha Rp/Ha
10/01/2000 4000 10,0 40000 10/01/2000 3000 13,3 40000
10/07/2000 3500 16,7 58333 10/07/2000 6000 10,0 60000
05/01/2001 5000 16,7 83333 10/10/2000 4500 8,3 37500
05/07/2001 6000 21,7 130000 05/01/2001 4500 16,7 75000
05/10/2001 5500 16,7 91667 05/07/2001 7000 18,3 128333
10/01/2002 6000 20,0 120000 05/10/2001 9000 18,7 168000
10/05/2002 5000 21,7 108333 10/01/2002 3250 23,3 75833
10/07/2002 4000 26,7 106667 10/05/2002 7000 26,7 186667
05/01/2003 3500 20,5 71750 10/07/2002 4500 20,0 90000
05/07/2003 5000 22,5 112500 05/01/2003 2500 8,0 20000
10/10/2003 6000 19,0 114000 05/07/2003 4000 9,5 38000
10/01/2004 5000 24,0 120000 10/10/2003 9000 8,1 72900
10/07/2004 4500 26,0 117000 10/01/2004 3500 9,0 31500
10/10/2004 4000 23,0 92000 10/07/2004 7500 11,0 82500
05/01/2005 5000 18,0 90000 10/10/2004 8500 8,0 68000
05/07/2005 4000 19,0 76000 05/01/2005 3000 15,0 45000
05/10/2005 6000 19,5 117000 05/07/2005 2500 16,0 40000
10/01/2006 2500 16,0 40000 05/10/2005 10000 17,0 170000
05/10/2006 3000 22,0 66000 10/01/2006 2500 13,0 32500
05/01/2007 5000 29,0 145000 05/01/2007 4000 24,0 96000
10/07/2007 4750 20,3 96425 10/07/2007 3700 15,5 57350

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 64


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

30,0

25,0
Hasil Bawang Merah (ton/ha)

20,0

15,0

10,0

5,0

0,0
0 0 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 6 6 7 7
n-0 ul- 0 n-0 ul- 0 n-0 ul-0 n-0 ul- 0 n-0 ul- 0 n-0 ul-0 n-0 ul- 0 n-0 ul- 0
Ja J Ja J Ja J Ja J Ja J Ja J Ja J Ja J

Gambar 22. Hasil Produksi Bawang Merah dari Tahun 2000 sampai 2007 di Samas, Bantul
Beny Harjadi dkk di BPK Solo 65
08122686657, adbsolo@yahoo.com
Hasil Cabe (ton/ha)
Ja
n-
0

0
5
10
15
20
25
30

M 0
ei
-0
S 0

Beny Harjadi dkk di BPK Solo


ep
-0

08122686657, adbsolo@yahoo.com
Ja 0
n-
0
M 1
ei
-0
S 1
ep
-0
Ja 1
n-
0
M 2
ei
-0
S 2
ep
-0
Ja 2
n-
0
M 3
ei
-0
S 3
ep
-0
Ja 3
n-
0
M 4
ei
-0
S 4
ep
-0
Ja 4
n-
0
M 5
ei
-0
S 5
ep
-0
Ja 5
n-
0
M 6
ei
-0
S 6
ep
-0
Ja 6
n-
0
M 7
ei
-0
7
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

66
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 23.. Hasil Produksi Cabe dari Tahun 2000 sampai 2007 di Samas, Bantul

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 67


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

b. Teknik Budidaya Tanaman Semusim

i. PENANAMAN PADI GOGO


A. Persiapan Lahan
- Tegalan dibersihkan dari rumput dengan cara dicabut agar sampai pada
akar rumput
- Tanah tegalan dicangkul secara merata
- Tanah diratakan dengan garon
- Tanah yang sulit dipecah atau diratakan dengan garon dipecah dengan
alat pemecah tanah (gitik)
- Setelah tanah rata lalu dibajak tahap pertama
- Tanah diratakan lagi dengan garon
- Tanah dibajak tahap kedua
- Tanah diratakan lagi dengan garon
- Tanah diratakan dengan alat pemecah atau perata tanah (gitik)
- Tanah yang telah merata lalu ditebarkan pupuk dasar, yaitu pupuk
kandang per 100 ubin 2 sampai 3 colt atau 2-3 m3, ditambah pupuk NPK
20 kg, lalu tanah dibiarkan 1 minggu
- Satu atau dua hari sebelum disebar padi tanah disemprot dengan rondap
agar rumput tumbuh duluan.
- Tanah siap disebari dengan padi
B. Kebutuhan Bibit dan Pupuk
- Per 100 ubin diperlukan bibit 6 – 7 kg
- Pupuk kandang 2 sampai 3 colt
- Pupuk SP36 = 30 kg
- Pupuk Urea = 45 kg
C. Penyebaran Padi
- Tanah dibajak di belakang si pembajak, 1 orang penyebar padi dan 1
orang lain penyebar pupuk SP36 dan urea
- Setelah penyebaran biji selesai, tanah diratakan lagi dengan garon dan
tanah yang sulit dipecah dengan garon dipecah dengan alat pemecah
tanah atau gitik.
- Per 100 ubin dibutuhkan waktu pengerjaan 2 sampai 3 jam

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 65


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

D. Pemeliharaan
- Setelah umur 10-15 disampar, sambil mengatur barisnya padi yang
tumbuh
- Setelah padi umur 20-25 padi diatur jaraknya 20-22 cm
- Setelah selesai lalu didangir tahap I
- Kalau ada hujan dipupuk dengan urea sebanyak 25 kg
- Setelah padi umur 35-40 hari didangir tahap II
- Setelah padi umur 60 hari dilihat perkembangan pertumbuhan padi, kalau
diperkirakan butuh pemupukan tambahan diberikan maksimal 15 kg.
- Hasilnya 6 kw kering gabah per 100 ubin.

ii. PENANAMAN JAGUNG


A. Persiapan Lahan Tanah Tegalan
- Tanah dibersihkan dari rumput dengan cara dicabut
- Tanah dicangkul seperlunya (minimum tillage)
- Kalau perlu tanah dicangkul 2 kali agar tanah tidak menggumpal
- Tanah dibuat parit kecil untuk tempat pupuk dasar (kandang)
- Pupuk kandang disebar diparit-parit kecil yang telah tersedia sebanyak 2-
3 colt
- Pupuk kandang ditutup lagi dengan tanah dibiarkan selama 1 minggu
- Sehari sebelum jagung ditanam disemprot dengan rondap Gol
- Tanah siap ditanami jagung
B. Kebutuhan Bibit dan Pupuk
- Bibit jagung 8 kg per 100 ubin
- Pupuk kandang 3 colt
- Pupuk SP36 = 30 kg per 100 ubin
C. Tanam dan Pemeliharaan
- Jarak tanaman jagung 30 x 60 cm (atau 70 cm)
- Tanah dilubangi atau diceblok
- Per lubang ditanami 1 biji jagung
- Ditutup kembali dengan tanah
- Setelah tanaman jagung berumur 10 sampai 20 hari didangir sekitar
tanaman dan dipupuk urea tablet 1 per pohon

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 66


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

- Jagung berumur 30 – 40 hari tanaman jagung diurug dengan dengan


tanah secukupnya.
- Jagung dipancu bila kelobot (kulit jagung) kelihatan putih mengering
- Jagung siap dipancu dengan hasil 8 kwintal per 100 ubin.

iii. PENANAMAN KACANG TANAH


A. Persiapan Lahan
- tanah dibuat parit dengan ukuran 2 cangkul sedalam 50-60 cm, sebagai
urug lahan (urug bedengan)
- ukuran bedengan 2,25 m lebar dan panjang sepanjang tegalan
- disebar pupuk dasar dengan pupuk kandang secukupnya (1 ½ sampai 2
colt)
- tanah dibiarkan 2 – 3 hari
- Tanah siap ditanami
B. Kebutuhan Bibit dan Pupuk
- Pupuk kandang 1 ½ sampai 2 colt
- Pupuk Urea = 30 kg
- Pupuk SP 36 = 20 kg
- Bibit 26 kg kacang kering standard benih
C. Pemeliharaan
- Pupuk SP 36 40 kg diaduk dengan urea 15 kg terus disebar atau ditabur
secukupnya.
- Tanah dibuat lubang untuk menanam biji kacang. Diceblok dengan lebar
20 cm dan pajang sepanjang bedengan.
- Biji kacang ditanam dilubang yang telah tersedia dan diurug kembali
- Setelah kacang umur 15 – 18 didangir secukupnya untuk tahap I.
- Kacang umur 22 – 25 hari dipupuk urea 15 kg dengan cara ditebar merata
secukupnya.
- Kacang umur 30 hari didangir tahap II
- Kacang umur 78 – 83 hari siap dipanen
- Hasil yang diperoleh 4,5 kwintal/100 ubin.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 67


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

iv. PENANAMAN LOMBOK/CABE


A. Persiapan Lahan
- Lahan pasir pantai diolah seperlunya dengan minimum tillage dan dibuat
bedengan dengan lebar 60 cm dan ketinggian 20 cm, sepanjang bedengan.
- Arah bedengan sebaiknya berganti-ganti arah dapat mengarah timur barat
atau utara selatan, hasilnya panennya sama saja.
- Tidak perlu menggunakan plastik mulsa, karena jika air pasang maka
suhu plastik akan meningkat drastis dan menyebabkan tanaman terbakar
dan bisa menyebabkan kekeringan permanen.
- Pemberian pupuk kandang dan ameliorat atau tanah liat agar tanah tidak
terlalu sarang.
- Tanah dibiarkan selama satu minggu untuk siap ditanami cabe.
B. Kebutuhan Bibit dan Pupuk
- benih cabe yang diperlukan sebanyak 500 gr per hektar
- Pupuk untuk tahap I yang diberikan pada saat 10 HST (Hari Setelah
tanam) untuk per hektarnya : 200 kg TSP, 100 kg Urea, dan 100 kg KCl.
- Pupuk untuk tahap II yaitu 20 HST untuk per hektarnya 100 kg TSP, 100
kg Urea, dan 100 kg KCl.
- Pupuk susulan jika diperlukan untuk pemupukan tahap III per hektarnya
yaitu : 50 kg TSP, 50 kg Urea dan 50 kg KCl.
- Racun HPT (Hama Penyakit Tanaman) yang harus diberikan antara lain
Scar untuk jamur atau fungisida dengan warna ada kuningnya.
- PPC Nuhgro (Gandasil), Konfidor, Renfik
C. Pemeliharaan
- Tanam cabe sebaiknya dilakukan pada bulan Januari atau Juli dengan
berselang-seling antara bawang merah dengan cabe.
- Tanam dengan jarak tanam 6 x 4 cm
- Penyiraman tanaman dilakukan sehari dua kali pagi dan sore
- Pemanenan dilakukan setiap 5 hari sekali dan dapat dipanen kurang lebih
9 kali, baru dilakukan tanam cabe yang baru.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 68


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

v. PENANAMAN BAWANG MERAH


A. Persiapan lapangan
− Areal lahan atau lokasi dibersihkan dari rumput atau tumbuhan yang tidak
berguna atau tumbuhan pengganggu, dan tanah pasir diolah atau
dicangkul ringan sambil diratakan.
− Pemberian pupuk kandang yang telah matang dengan cara disebar dan
dicampurkan dengan ameliorat tanah mineral masing-masing setiap 1000
m2 diberi 2000 kg ( 20 ton/ha).
− Pembuatan bedengan dengan ukuran 120 cm x 14 m (atau disesuaikan
dengan panjang lahan) untuk ukuran satu ubin dengan pemberian bibit
brambang 1 ½ kg. Buatlah parit antar bedengan dengan lebar 40 cm,
sambil membuat parit antar bedengan, tanah pasir diletakkan kekanan dan
kekiri. Selanjutnya tanah pasir dicangkul ringan dengan tujuan untuk
membenamkan pupuk kandang dan tanah yang sudah disebar.
Permukaan bedengan diusahakanmerata agar apabila kena air hujan tidak
mudah hanyut.
B. Penanaman
− Siapkan bibit brambang dengan baik yang diambil dari tempat
penyimpangan pada gantangan supaya brambang tetap kering udara.
Bibit dalam satu rumpun jangan dipisahkan dan biarkan bergerombol
sesuai aslinya.
− Sebelum ditanam pangkas ujung bibit brambang dengan pisau yang
tajam, brambang ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 15 cm dengan
mengusahakan setiap bedengan ditancapkan 6 bibit brambang. Bibit
brambang ditimbun dengan tanah seperlunya dimana ujungnya masih
nampak di atas tanah.
− Apabila tidak ada hujan bedengan disiram terlebih dahulu, sebelum bibit
brambang ditanam. Kondisi tanah sebelum tanaman umur 5 hari harus
selalu dalam keadaan lembab teurs agar tunas cepat keluar tunasnya.
C. Pemeliharaan Tanaman
− Pemupukan,
(1) Pemupukan I (Pupuk dasar), diberikan sebelum tanam dengan
cara menyebar pupuk NPK dicampur dengan tanah dan pasir

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 69


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

dengan alat cangkul atau sebilah bambu. Pupuk dasar per hektar :
SP36 = 500 kg, Urea = 100 kg, KCl = 100 kg dan ZA = 100 kg.
(2) Pemupukan II (Pupuk pertumbuhan/vegetatif), pupuk NPK 200
kg/ha diberikan 15 HST dengan disebar merata dalam tanah.
(3) Pemupukan III (Pupuk produksi/generatif), pupuk NPK 200 kg/ha
diberikan 25 HST.
− Penyiraman, dilakukan setiap hari dengan cara dibentuk regu
penyiraman dan perawatan tanaman dari KT Pasir Makmur. Apabila
terjadi hujan maka besuk paginya tetap dilakukan penyiraman dengan
tujuan untuk menetralisir suhu yang sangat panas dari penguapan
panas bumi, agar tanaman bawang merah tetap sehat.
− Penyemprotan HPT (Hama Penyakit Tanaman)
1. Umur kurang 2 HST (Hari Setelah Tanam) untuk pemberantasan
gulma atau rumput pengganggu, dengan GOAL 2 E sebanyak 1 ½
tutup untuk 1 tangki air .
2. Umur 15 sampai 25 hari, penyemprotan dilakukan setelah 15 hari
untuk interval waktu setiap 5 hari (15, 20 dan 25 hari), dengan :
a. PPC = 10 cc (1 tutup racun hpt)
b. Larvin = 1 sendok
c. Danvil 50 SC = 10 cc (1 tutup)
d. Barer = 10 cc (1 tutup)
3. Umur 25 sampai 45 hari
a. N-Balancer = 10 cc
b. Manzate 200 = 1 sendok makan
c. Puanmur 50 SP = 1 sendok sirup
d. Larvin+Danvil+Barer+N-Balancer+Manzate+Puanmur,
dicampur untuk 1 tangki (12-17 liter).
− Pemanenan
Pemanenan dapat dilakukan pada saat bawang merah (brambang)
umur 55 HST untuk dikonsumsi, jika brambang mau digunakan untuk
bibit dipanen setelah umur 60 hari.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 70


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

D. Peningkatan Tingkat Pendapatan Masyarakat


a. Kelompok Tani Pasir Makmur

Dalam rangka meningkatkan pengalaman para petani KT Pasir Makmur


Kebumen diadakan studi banding ke KT Srigading, Samas dengan melihat
keberhasilan tanaman tanggul angin, semusim dan peternakan (Gambar 24).

Gambar 24. Studi Banding KT. Pasir Makmur di Lahan Berpasir Bantul

Adanya kegiatan rehabilitasi lahan telah membangkitkan kembali


kelompok tani yang hampir mati (tidak ada aktivitas anggota). Pada awalnya
tingkat kehadiran cukup tinggi, namun setelah ada persoalan intern kelompok
tani dan waktu jeda yang berkaitan dengan keproyekan maka tingkat kehadiran
rendah. Hal ini disebabkan belum ada kegiatan pada lahan pantai pasir. Tingkat
kehadiran anggota kelompok tani cukup rendah sekitar 30—40% dari jumlah
anggota kelompok tani. Pada tahun kedua, kondisi tidak berubah. Sosialisasi
dan pengalaman petani yang telah berusahatani di pantai pasir pada tahun
pertama didengar pula oleh kelompok tani lain. Apalagi terdapat bantuan teknis
dan non teknis yang diberikan oleh BPK Solo. Hal tersebut mendorong
Kelompok Tani Ternak Bhakti Usaha untuk bergabung dengan Kelompok Tani
Pasir Makmur. Setelah pengabungan tersebut, tingkat kehadiran anggota
kelompok tani meningkat menjadi 70—80% per pertemuan. Selain itu, dinamika
dan aktivitas kelompok makin meningkat. Kelompok tani ternak Bhakti Usaha
memberi kekuatan baru bagi kegiatan rehabilitasi lahan pantai. Apalagi dengan

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 71


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

mengintegrasikan tanaman tanggul angin, tanaman semusim, agrowisata, wisata


pantai, dan ketersediaan ternak untuk konservasi lahan dan pendapatan maka
akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Adanya ternak
selain akan meningkatkan pendapatan juga menyediakan bahan untuk rehabilitasi
lahan pantai melalui kotorannya.
Penggabungan KT Pasir Makmur dengan KTT (Kelompok Tani Ternak)
Bhakti Usaha dapat semakin menggairahkan upaya pengelolaan lahan pantai
berpasri, hal tersebut karena memang komponen antara ternak, pertanian dan
tanggul angin saling mendukung. Gairah bekerja semakin meningkat setelah
Kelompok Tani (KT) diajak studi banding ke Samas, Bantul yang sudah mulai
maju dalam pertanian di lahan pantai berpasir. Salah satunya dengan upaya
mengupayakan KTT Mandiri yang dilakukan KTT di Samas, Bantul (Gambar
25).
Kelompok Tani dengan anggotanya sebagai pelaku utama dalam
merubah kebiasaan dan tata lingkungan sekitar pantai berpasir. Sehingga dalam
merencanakan RLKT pantai berpasir tidak hanya sekedar mengerahkan massa,
dana, dan layout rencana tanam, maka semua akan selesai. Permasalahan yang
paling utama merubah persepsi pola pikir anggota kelompok tani untuk
menyadari bahwa lahan pantai berpasir yang selama ini ditelantarkan dapat
dikelola dengan baik.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 72


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 25. Ternak Besar sebagai pemasok Pupuk Kandang bagi Tanaman di
pantai Berpasir oleh KT. Mandiri, Srigading, Bantul.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 73


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Peserta yang tergabung dalam anggota kelompok tani hampir merata


dibeberapa RT dan RW, yaitu meliputi 7 RT dari 3 RW yang ada (Gambar 26).
Oleh karena itu peserta yang menjadi anggota kelompok tani sudah dipilih
menjadi anggota kelompok tani adalah orang-orang yang memiliki kemamuan
keras untuk menciptakan kondisi nyaman disekitar wisata disamping untuk
mengusahakan produksi lahan pantai berpasir. Penyebaran anggota peserta
kelompk tani nantinya memudahkan dalam mensosialisasikan lahan pantai
berpasir pada saat pengembangan dalam skala yang lebih luas. Peserta yang
paling banyak menjadi anggota kelompok tani yaitu dari Rt 2/ Rw III (38%),
sebaliknya yang paling sedikit dari Rt 1/ Rw I dan Rt 3/ Rw II (3%).

KELOMPOK TEMPAT TINGGAL RT/RW

14
13
12
Jumlah Anggota KT

10
8
8
6
6

4 3
2
2 1 1

0
3/II 2/IIII 2/II 2/I 1/III 1/II 1/I
Alamat Tinggal Rt/RW

Gambar 26. Komposisi Tempat Tinggal Anggota Kelompok Tani

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 74


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Komposisi umur anggota kelompok tani mayoritas masih dalam usia


produktif yaitu berkisar di atas 30 tahun sebanyak 13 orang (38% ) dan yang
berumur di atas 40 tahun sebanyak 9 orang (26%). Keadaan tersebut dalam satu
sisi anggota kelompok tani mayoritas sebagai tulang punggung keluarga, namun
disisi lain mereka mempunyai kapasitas dan semangat kerja yang tinggi.
Kekurangan waktu yang harus dikorbankan dari anggota kelompok tani yang
produktif ditutupi dari beberapa anggota kelompok tani yang kurang produktif
dan tidak menjadi tulang punggung utama dalam keluarga, yaitu sebanyak 4
orang untuk yang berusia di atas 60 tahun (12%) dan sebanyak 5 orang untuk
yang berusia di atas 50 tahun (15%), lihat Gambar 27.

TINGKATAN UMUR KT. PASIR MAKMUR

14 13

12
Jumlah Anggota KT.

10 9

6 5
4
4
2
2 1

0
>60 >50 >40 >30 >20 >10

Kelompok Umur Anggota (Tahun)

Gambar 27. Komposisi Kelas Umur Anggota KT. Pasir Makmur

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 75


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Mata pencaharian masyarakat yang tergabung Kelompok Tani (KT)


Pasir Makmur sebagian besar petani dan buruh tani dengan mata pencaharian
sampingan pedagang dan penderes gula kelapa (lihat Tabel 14).

Tabel 14. Anggota Kelompok Tani Pasir Makmur, Karanggadung, Petanahan

NO NAMA UMUR PENDK JML MATA PENCAHARIAN RT/


LENGKAP (TH) TRKHR KEL UTAMA SAMPINGAN RW
1 Samikun 30 SLTA 5 Tani Pedagang 1/III
2 Hadi Warsito 48 SD 3 Tani Penderes 2/III
3 Mujiono 49 SD 5 Tani Pedagang 2/III
4 E.Prayim 49 SMP 2 PNS Pedagang 2/III
5 Suparman 50 SD 4 Tani Pedagang 2/III
6 Saring 40 SD 3 Tani Penderes 2/III
7 Tukimin 52 SD 3 Tani Penderes 2/III
8 Wiwit 30 SD 3 Tani Penderes 1/III
9 Hadiwarno 64 SD 2 Tani Penderes 1/III
10 Tukiran 52 SD 4 Tani Penderes 1/III
11 Wujiyo 47 SD 5 Tani Penderes 1/III
12 Agus Basuki 35 SLTA 4 Tani Pedagang 2/III
13 Darso Priyono 35 SMP 4 Tani Pedagang 2/III
14 Yusroni 52 SD 2 Tani Pedagang 2/III
15 Murgiyanto 32 SMP 3 Tani TKW (istri) 2/III
16 Wigiyatno 30 SD 4 Tani Penderes 1/II
17 Atmo Suwito 48 SD 6 Tani Pedagang es 1/II
18 Sarno 26 SD 3 Tani Pedagang tahu 1/II
19 Mahmudin 33 SD 4 Tani Pedagang 1/II
20 Sarwono 38 SMA 4 KaDes - 2/I
21 Sugeng 35 SMP 5 Tani Penderes 2/II
22 Dawal 34 SMP 3 Tani Penderes 1/III
23 Parwito 32 SMP 4 Tani Penderes 1/II
24 S.Puji Prayitno 58 SLTA 5 PNS - 2/IIII
25 Yasa Wikromo 65 SD 4 Tani - 2/IIII
26 Rusmono 64 SLTA 2 Tani - 2/IIII
27 Purwadi 30 SMP 3 Tani - 1/II
28 Marsidi 45 SD 4 Tani - 3/II
29 Sacan 49 SD 4 Tani Tukang kayu 1/III
30 Sudirdjo 62 SD 4 Tani - 1/III
31 Muji Mukson 45 SD 4 Tani - 2/I
32 Rokandi 28 SD 5 Tani - 2/II
33 Dalwono 30 SD 3 Tani - 2/II
34 Agung 19 SLTA - Tani - 1/I

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 76


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

b. Masyarakat Karanggadung

Desa Karanggadung Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen


Propinsi Jawa Tengah merupakan lokasi kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Tanah Pantai Berpasir. Desa Karanggadung merupakan salah satu
dari 3 desa di Kecamatan Petanahan1 yang berada dipinggir Pantai Laut Selatan.
Desa Karanggadung terletak 2 km dari Kecamatan Petanahan, 23 Km
dari ibukota Kabupaten Kebumen dan 199 dari ibukota Jawa Tengah. Luas Desa
Karanggadung adalah 287 Ha dan sebagian besar merupakan lahan kering. Luas
penggunaan lahan Desa Karanggadung disajikan pada Gambar 28.

Gambar 28. Penggunaan Lahan di Desa Karang Gadung Kecamatan Petanahan

Penduduk Desa Karanggadung berjumlah 2.254 orang dengan perincian


1.179 pria dan 1.075 wanita. Jumlah rumah tangga di desa tersebut sebanyak
561 keluarga dengan 25 keluarga berbatasan dengan pantai. Kepadatan
penduduk sebesar 791 jiwa/km2. Komposisi penduduk berdasarkan jenis
kelamin di Desa Karang Gadung disajikan Gambar 29 berikut:

1
Kecamatan Petanahan memiliki 21 desa, 3 desa yaitu Desa Karanggadung, Karangrejo dan
Tegalretno berada di pinggir pantai. Ketiga desa tersebut bertopografi datar dengan ketingian 6,3
di atas permukaan laut.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 77


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Gambar 29. Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin Desa Karang


Gadung

Penduduk di Desa Karanggadung terdiri dari penduduk yang berusia


produktif dan penduduk berusia tidak produktif. Dilihat dari usia produktif,
sebagian besar penduduk di Desa Karanggadung berusia produktif (Gambar 30).

Gambar 30 Komposisi penduduk berdasarkan usia produktif

Berdasarkan Gambar di atas, maka terdapat potensi yang besar untuk


mengelola lahan pantai berpasir dengan prinsip rehabilitasi lahan dan konservasi
tanah. Usia penduduk yang sebagian besar produktif merupakan potensi tenaga
kerja untuk kegiatan rehabilitasi lahan. Matapencaharian penduduk di sekitar
lahan pantai akan menentukan keikutsertaan dan antusiasme dalam mengelola
lahan. Mata pencaharian penduduk di Desa Karanggadung disajikan Tabel 15.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 78


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Tabel 15. Mata pencaharian utama penduduk Desa Karanggadung

MATA PENCAHARIAN JUMLAH PERSENTASE


(Orang) (%)
Buruh petani 1055 35.97
Petani 1686 57.48
Pedagang 32 1.09
Pengrajin 6 0.20
PNS 5 0.17
Tukang kayu 65 2.22
Tukang batu 65 2.22
Guru swasta 6 0.20
Penjahit 4 0.14
Sopir 3 0.10
Karyawan swasta 6 0.20
Total 2933 100

Meskipun di Desa Karanggadung tidak terdapat sawah baik teknis


maupun semi teknis, namun banyak penduduknya yang bermatapencaharian
sebagai petani. Lebih dari 57% penduduk bermatapencaharian sebagai petani di
lahan kering. Bagi yang tidak memiliki lahan mereka menjadi buruh tani atau
mencari pekerjaan lainnya. Banyaknya penduduk yang mengantungkan
hidupnya dari pertanian merupakan potensi bagi rehabilitasi lahan yang dikaitkan
dengan tanam tanaman semusim ataupun tanaman pertanian. Perlu dibuat
sebuah ketergantungan bahwa rehabilitasi lahan sangat penting bagi kehidupan
mereka. Sebuah simbiosis mutualisme antara rehabilitasi dan upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Tanpa adanya tanggul angin dan rehabilitasi lahan
maka mereka tidak akan mendapatkan tambahan penghasilan dari usahataninya.
Tidak ada penduduk di desa tersebut yang bermatapencaharian utama sebagai
nelayan meskipun penduduk berada di sekitar pantai. Hal ini disebabkan ombak
di Laut Pantai Selatan yang besar sehingga sulit untuk melaut.
Dalam merubah pola pikir persepsi masyarakat perlu pendekatan secara
individual maupun dalam bentuk kelompok. Pendekatan secara individual
dengan mendekati para TOGA (Tokoh Agama) TOMAS (Tokoh Masyarakat).
Sedangkan pendekatan secara kelompok perlu melihat tingkat pendidikan dalam
kelompok tani Pasir Makmur. Dari 34 anggota kelompok tani 65% lulusan SD
(22 orang), 21% lulusan SMP (7 orang), dan 15% lulusan SMA (5 orang).

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 79


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Komposisi perbandingan yang berpendidikan setelah SMA hanya sedikit, maka


perlu ada penjelasan secara berulang-ulang pada saat pertemuan kelompok tani,
minimal seminggu sekali. Disamping dalam memberikan teori tidak usah terlalu
rumit dan detil, tetapi lebih banyak persiapan untuk pelaksanaan lapangan
(Gambar 31).

Tingkat pendidikan penduduk Desa


Karanggadung
1400
1200
Jumlah (org)

1000
800
600
400
200
0
Tidak Tamat SLTP SLTA D1 D2 D3 S1
tamat SD
SD
Pendidikan

Gambar 31. Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Karanggadung

Tingkat pendidikan seseorang umumnya mempengaruhi cara berfikir


dan bertindak. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin
responsif dan lebih terbuka terhadap inovasi dan wawasan baru. Sebagian besar
masyarakat di Desa Karanggadung tidak tamat sekolah dasar dan tamat sekolah
dasar. Tingkat pendidikan yang relatif rendah akan membuat penerimaan
terhadap informasi yang sulit menjadi relatif membutuhkan waktu lama. Kondisi
ini mengimplikasikan bahwa, untuk itu penyampaian informasi dan inovasi harus
mempergunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, berulang-ulang
serta mengandalkan praktik lapangan.
Setiap pagi dan sore hari petani menderes manggar kelapa, rata-rata per
orang 10-15 kelapa. Satu kelapa 2 sampai 3 manggar dan setiap manggar dideres
selama 1 bulan. Deresan pagi diambil sore hari (12 jam) dan deresan sore
diambil pagi hari (12 jam). Deresan pagi dan sore dimasak pada siang hari
selama 1 jam dan dicetak sampai keras selama setengah jam dengan setengah
batok kelapa. Perolehan hasil deresan rata-rata 5 kg/hari dengan harga lokal Rp
3.500,- dan harga di pasar Rp.5.000,-, sehingga setiap bulan pemasukkan dari

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 80


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

menderes = 30 hari x 5 kg x Rp.3.500,- = Rp. 525.000,-. Kualitas kelapa deres


lebih baik pada musim kemarau dari pada musim penghujan, namun kuantitas
menurun pada musim kemarau yaitu hany 2-3 kg/hari sedangkan musim
penghujan 3-5 kg/hari. Kelapa yang di deres ada yang milik sendiri, milik
oranglain dengan sistem maro, dan milik wisata dengan cara minta ijin dengan
Kepala Wisata, dengan biaya sewa per pohon Rp 1500,-. Untuk 20 pohon harus
bayar pemilik pohon kelapa sebanyak 20 pohon x Rp 1.500,- = Rp. 30.000,-.
Kelapa legen deresan ada yang berwarna hitam coklat yang berasal dari
asli kelapa saja, putih untuk campuran pasir gula, dan basah untuk kecap.
Kegiatan rutin muslim setiap malam jum’at ada yasinan dari rumah ke rumah
secara bergiliran. Setiap yasinan yang hadir 20-30 orang mulai jam 08.30 sampai
11.00 WIB, dipimpin oleh Kyai Barnawi. Khusus malam jum’at kliwon banyak
pengunjung yang datang dari luar kota yang datang ke tempat wisata
(Punden/Makam) dengan membayar secara sukarela, dengan juru kunci Pak
Manten Abdur Rachman.

c. Kelembagaan

Belum ada kelembagaan yang mapan dalam pengembangan dan


rehabilitasi lahan pantai berpasir. Kelembagaan yang ada di Desa Karanggadung
merupakan tipikal kelembagaan desa yang ada di Pulau Jawa. Kelompok
yasinan, pengajian dan kelompok informal lainnya cukup berperan dalam
mempererat silaturahmi antar warga. Institusi formal desa cenderung mengatasi
persoalan administrasi dan yang berkaitan dengan pemerintahan. Tidak ada
kelembagaan yang lahir dari bawah berkaitan dengan pengelolaan dan
rehabilitasi lahan pantai. Kondisi tersebut dikarenakan batas juridiksi lahan
pantai berpasir merupakan kewenangan Dinas Pariwisata yang memfokuskan
kegiatannya pada pengembangan wisata pantai.

Belum ada rencana secara khusus untuk pengembangan lahan pantai


berpasir di Kebumen. Pemda baru mengembangkan tanaman kelapa disekitar
pantai untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penderesan pohon
kelapa untuk dijadikan gula kelapa. Belum ada upaya yang dilakukan
pemerintah daerah untuk mengatasi degradasi lahan pantai berpasir. Rehabilitasi

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 81


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

lahan masih dianggap sebagai cost center yang belum menjadi prioritas dalam
program pembangunan.

Kelembagaan rehabilitasi lahan pantai berpasir membutuhkan


dukungan peraturan perundangan yang menjadi dasar pengambil keputusan dan
aturan main dalam pengembangan dan rehabilitasi lahan pantai. Belum terdapat
peraturan daerah yang secara khusus mengatur dalam pengelolaan dan
pengembangan lahan pantai berpasir. Rancangan Tata Ruang dan Tata Wilayah
hanya menyebutkan bahwa daerah tersebut merupakan lahan pantai yang dapat
dikembangkan untuk wisata tanpa memberi penjelasan menyeluruh bagaimana
operasionalisasinya.

Kepres No 32 tahun 1990 tentang kawasan lindung sempadan pantai


yang ditentukan minimal 100 meter dari titik tertinggi pasang-surut kearah
daratan maupun SKB Mentan dan Menhut No 550/246/Kpts/4/1984 dan No
082/Kpts-11/1984 tentang pengaturan penyediaan lahan kawasan hutan untuk
pengembangan usaha budidaya pertanian dan jalur hijau hutan pantai yang
dipertahankan lebarnya sebesar 200 meter. Peraturan perundangan ini belum di
tindaklanjuti dengan peraturan dibawahnya.

Pengembangan rehabilitasi lahan pantai berpasir akan lambat dilakukan


apabila hanya dilakukan oleh masyarakat sekitar pantai secara swadaya.
Tingginya biaya pembangunan sarana infrastruktur, cukup tingginya resiko dan
ketidakpastian hasil, sehingga perlu ada campur tangan pemerintah. Namun,
campur tangan pemerintah yang terlalu dominan akan mematikan aspirasi dan
daya juang masyarakat. Sehingga perlu dikembangkan system sharing antara
masyarakat dan pemerintah baik berbagi biaya, berbagi peran, berbagi
tanggungjawab dan berbagi hasil. Pemerintah daerah (Dinas Kehutanan
Kebumen) cukup responsive terhadap pengembangan lahan pantai berpasir. Hal
ini dikarenakan pengambangan lahan pantai berpasir pada dasarnya merupakan
permintaan Dinas Kehutanan Kebumen, namun dukungan yang diberikan baru
sebatas pendampingan dan pengikutsertaan Penyuluh Kehutanan Lapang. Belum
ada dukungan program dan anggaran yang jelas untuk membantu berbagi biaya
dalam rehabilitasi lahan pantai.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 82


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

E. Peningkatan Kenyamanan Lingkungan Sekitar Wisata


Gairah wisatawan yang berkunjung di pantai Karanggadung, Petanahan
Kebumen dari tahun 2006 sampai 2007 mengalami peningkatan. Peningkatan
semakin memuncak pada bulan Oktober bersamaan dengan bulan puasa dan hari
libur idul fitri yaitu bulan Oktober, tahun 2006 pengunjung 5000 orang dan tahun
2007 meningkat menjadi 11000 orang (Tabel 16). Pengunjung menurun pada
bulan Januari 2007 dibandingkan Januari 2006, karena pada saat itu baru saja ada
bencana Tsunami sepanjang pantai selatan, termasuk juga di lokasi wisata
Karanggadung, Kebumen.

Tabel 16. Kunjungan Obyek Wisata di Karanggadung Tahun 2006 dan 2007

KUNJUNGAN WISATA 2006 KUNJUNGAN WISATA 2007


OBYEK Pengunjung Harga Pendapatan Pengunjung Harga Pendapatan
WISATA Orang Tiket-Rp (Rp) Orang Tiket-Rp (Rp)
Januari 4000 1500 6000000 2100 1500 3150000
Februari 500 1500 750000 700 2000 1400000
Maret 1000 2000 2000000 1000 2000 2000000
April 1300 2000 2600000 1400 2000 2800000
Mei 1500 2000 3000000 1300 2000 2600000
Juni 1200 2000 2400000 2800 2000 5600000
Juli 1100 2000 2200000 2750 2000 5500000
Agustus 300 2000 600000 750 2000 1500000
September 400 2000 800000 600 2000 1200000
Oktober 5000 2000 10000000 11000 4000 44000000
November 3000 3000 9000000 700 2000 1400000
Desember 1800 4000 7200000

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 83


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

a. Kunjungan Wisata

Kunjungan wisata tertinggi bulan Oktober dan terendah pada bulan


agustus, karena sebagian besar sedang memeriahkan hari kemerdekaan di
kampungnya masing-masing (Gambar 32).

12000

10000
Jumlah Wisatawan

8000 2006
6000 2007
4000

2000

0
I
T

T
R
B

KT
N

ES
L

V
N

S
R

JU
FE

SP
JU
AP

O
M
JA

AG
M

D
N
Bulan Kunjungan Wisata

Gambar 32. Jumlah Pengunjung Wisata di Obyek Wisata Pantai Karanggadung

b. Pendapatan Wisata

Pendapatan dari wisatawan tertinggi pada bulan Oktober 2007 (44 juta)
dan terendah pada bulan Agustus 2006 (600 ribu), lihat Gambar 33.

45000000
40000000
Pendapatan Wisata (Rp.)

35000000
30000000 2006
25000000 2007
20000000
15000000
10000000
5000000
0
I
T

T
R
B

KT
N

ES
L

V
N

S
R

JU
FE

SP
JU
AP

O
M
JA

AG
M

D
N

Bulan Kunjungan Wisata

Gambar 33. Pendapatan Dari Obyek Wisata Tahun 2006 dan 2007

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 84


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

VI. KESIMPULAN

Pengembangkan jalur TA dengan tanaman Casuarina equisetifolia.dapat


meningkatkan produksi tanaman semusim dibelakangnya, seperti bawang merah
dari 11,2 ton/ha di Kebumen menjadi 20,3 ton/ha di Samas, atau terjadi peningkatan
hasil 81,25%. Begitu juga kondisi tanaman cemara laut yang umurnya lebih tua
akan rindang dan membuat iklim mikro semakin baik, yaitu menurunkan
penguapan evaporasi dan suhu udara, sehingga suasana menjadi sejuk dan
ketersediaan air tanah cukup bagi tanaman. Penanaman cemara laut disarankan
pada bulan Desember saat lahan sudah lembab karena hujan turun mulai bulan
Oktober dan masih ada guyuran hujan selama 3 bulan lagi. Bibit dari biji dengan
umur bibit antara 6 sampai 10 bulan dengan diameter batang berkisar 0,5-1 cm.
Pengembangkan sarana pengairan berupa sumur bak renteng, telah
dilakukan dengan membuat sumber air yang terbuat dari bius beton dan pralon.
Penyediaan air sumur renteng untuk tanaman semusim, karena tanaman semusim
seperti bawangmerah dan cabe yang ditanam selalu butuh air tambahan baik pada
musim hujan (Januari) maupun pada bulan kemarau (Juli).
Pengembangkan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai, tanam
tanaman budidaya berupa bawang merah dan cabe sangat cocok untuk lahan
berpasir, terutama jika fungsi cemara laut sebagai tanaman tanggul angin sudah
nyata. Pengaruh cemara laut antara lain dapat menghalangi uap air yang
mengandung garam-garaman, mengurangi penguapan evaporasi air, dan
mengurangi erosi angin.
Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat antara lain dari pendapatan
tanaman bawang merah dan cabe, serta kunjungan wisatawan. Dengan
berkembangnya tanaman tanggul angin cemara laut pantai berpasir di belakangnya
dapat diusahakan untuk budidaya tanaman semusim. Disamping itu peningkatan
pendapatan masyarakat juga dapat diperoleh dari banyaknya pengunjung wisata,
yaitu dengan kondisi iklim yang teduh dan sejuk akan menciptakan suasana yang
nyaman pada lingkungan wisata, para pengunjung dapat tinggal berlama-lama di
lokasi wisata. Dengan demikian usaha jualan makanan dan perparkiran serta MCK
(Mandi Cuci Kakus) semakin menggairahkan bagi masyarakat.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 85


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata dilakukan dengan


membuat suasana sekitar lokasi wisata indah, sejuk dan nyaman sehingga para
wisatawan berkunjungnya tidak hanya pada bulan Ramadhan dan hari raya saja,
tetapi juga pada hari-hari libur biasa. Selama ini puncak kedatangan pengunjung
hanya pada hari-hari besar dan bulan Ramadhan saja.

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 86


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

DAFTAR PUSTAKA

Abe, A. 2002. Perencanaan Daerah Partisipatif. Pondok Edukasi. Solo.

Bloom, A. L. 1979. Geomorphology: A Systematic Analysis of Late Cenozoic


Landforms. Prentice-Hall of India, ND 110001.

Departemen Kehutanan. 2000. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah


Aliran Sungai. Ditjen RLPS, Dep. Kehutanan, Jakarta

Heyne, K., 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan . Jakarta.

Hikmat, H. 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Humaniora Utama Press.


Bandung.

Irfani, R. 2004. Partisipasi Manipulatif : Catatan Refleksi tentang Pendekatan


PRA dalam Pembangunan Masyarakat.

Kartawinata, K. 1979. The Classification and Utilization of Forests in Indonesia.


Dalam Capenter, R. A. (ed). Assessing Tropical Forest Lands: Their
Suitability for Sustainable Uses. Tycooly Int. Pub. Ltd., Dublin, Ireland.

Karyana, A. 2004. Pembangunan Partisipatoris dalam Pengelolaan DAS.


akaryana@yahoo.com

Kusumanto, Y. 2002. Sebuah Perjalanan Bersama dalam Pengelolaan Hutan :


Konsep, Penelitian Partisipatoris dan Praksis. Langkah. Warta
Penelitian Aksi Bersama ACM CIFOR. Bungo-Jambi.

Purnomo. Y., Mulyadi. I., Amien dan H. Suwardjo. 1992. Pengaruh Berbagai
Bahan Hijau Tanaman Kacang-Kacangan terhadap Produktivitas
Tanah Rusak. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk No. 10 : 61 –
64. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Pusat Penyuluhan Kehutanan. 1997. Buku Pintar Penyuluhan Kehutanan.


Departemen Kehutanan.

Setiadi, Y dan R. Prematori. 1998. Prospek Pengembangan Cendawan Mikoriza


Arbuskula untuk Rehabilitasi Lahan Kritis. Kumpulan Makalah

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 87


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Ekspose Hasil Penelitian Teknik Rehabilitasi dan Reboisasi Lahan


Kritis, Wanariset II Kuok, Balai Penelitian Pematang Siantar.

Sukresno. 1998. Pemanfaatan Lahan Terlantar di Pantai Berpasir Samas-Bantul


DIY dengan Budidaya Semangka. Prosiding. Seminar Nasional dan
Pertemuan Tahunan Komisariat Daerah Himpunan Ilmu Tanah Indonesia,
HITI Komda Jawa Timur, Malang.

Sukresno. 1999a. Model Pemanfaatan Lahan Tidur Berkelanjutan Melalui


Pengembangan Beberapa Tanaman Konservasi dan Tanaman Budidaya
di Lahan Berpasir Pantai Selatan DIY. Prosiding Seminar Sehari Kongres
Ilmu Pengetahuan Nasional VII: Teknologi Pengembangan Lahan dan Air
untuk Peningkatan Produktivitas Pertanian. HATTA dan FOPI, Puspitek
Serpong, Serpong.

Sukresno. 1999. Kajian Konservasi Tanah dan Air pada Kawasan Pantai Berpasir
di DIY, Proyek P2TPDAS KBI, BTPDAS, Badan Litbang Kehutanan,
Surakarta.

Sukresno, 2000. Kajian Pengembangan Pemanfaatan Lahan Pantai Berpasir


dalam Rangka Peningkatan Produksi Tanaman Pangan di Pantai
Selatan DIY. Laporan Penelitian BTP-DAS Surakarta. Badan Litbang
Kehutanan.

Sutikno, S. Padmowiyoto, dan Sukresno. 1998. Model Konservasi Terpadu dan


Pemanfaatan Mikorisa sebagai Upaya Pengamanan dan Peningkatan
Produktivitas Lahan Berpasir di Wilayah Pantai Selatan DIY. Laporan
Riset, Riset Unggulan Terpadu (RUT) III, Bidang Teknologi
Perlindungan Lingkungan (1994-1997). Kantor Menristek, DRN,
Serpong.

Tim UGM. 1992. Rencana Pengembangan Wilayah Pantai Jawa Tengah. F.


Geografi UGM Yogyakarta-BRLKT Wilayah V, Ditjen RRL, Dephut,
Semarang.

Trubus, 2006. Karena Keben Sembuh Katarak. Trubus No.434 Januari,


XXXVII.

Widjajanto, D. 2003. Degradasi Lahan di Kawasan Taman Nasional Lore-Lindu


dan Sekitarnya. rudyct.tripod.com/sem2_023/danang_widjajanto.pdf

Beny Harjadi dkk di BPK Solo 88


08122686657, adbsolo@yahoo.com
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

KERANGKA LOGIS PENELITIAN


Lampiran 1. Kerangka Logis Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir (RPTP 2007)

NARASI INDIKATOR-INDIKATOR CARA VERIFIKASI ASUMSI


SASARAN
Tujuan :
Untuk menyediakan sarana pengembangan Tersedianya demplot teknik Kenampakan di lapangan Sumber dana
teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir rehabilitasi lahan terdegradasi lahan tersedia, ada
yang sesuai, berupa demplot yang representatif pantai berpasir yang tepat guna dan pertisipasi
serta inovatif dapat diadopsi oleh masyarakat. masyarakat
Sasaran : Tersedianya :
1) Pemeliharaan jalur tanaman TA permanen 1. Informasi kondisi tanaman TA dan
1. Plot-Plot
di Samas dan pengembangan jalur tanaman pembibitan tanaman TA
Pengembangan Perlakuan
TA di Kebumen. 2. Sarana pengairan air tawar untuk
2. Pengukuran dan pengembangan yang
2) Pemeliharaan sarana pengairan berupa penyiraman tanaman pagi dan sore
Pengamatan lapangan dicobakan berhasil
sumur bak renteng 3. Informasi model pola tanaman
3. Survey dan evaluasi dan sesuai dengan
3) Pengembangkan model pola tanam tanaman budidaya yang sesuai
terhadap masyarakat kondisi setempat
budidaya yang sesuai. 4. Informasi peningkatan pendapatan
dan lembaga terkait
4) Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat
5) Peningkatkan kenyamanan lingkungan 5. Informasi sarana untuk wisata dan
sekitar wisata. lingkungan secara terpadu
Output :
1. Tersedianya informasi pertumbuhan
1. Rehabilitasi lahan melalui 1. Plot-Plot 1. Dana dan tenaga
tanaman C. equisetifolia sebagai tanaman
perbaikan beberapa sifat tanah Pengembangan tersedia
jalur TA dan informasi efektivitas jalur TA
dalam waktu yang tidak lama. 2. Evaluasi kondisi 2. Koordinasi
sebagai pengendali erosi pasir .
2. Tersedianya informasi sistem pengairan 2. Rehabilitasi lahan melalui lapangan berjalan baik
perbaikan sistem pola tanam
yang sesuai untuk lahan pantai pasir.
3. Rehabilitasi lahan dengan

87
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

3. Tersedianya informasi pertumbuhan dan tanaman hortikultura bawang


hasil jenis-jenis tanaman semusim yang merah, cabe, jagung, sorghum,dll.
sesuai untuk lahan pantai berpasir. 4. Analisis biaya dan pendapatan
4. Tersedianya informasi kondisi sosial usahatani dari perlakuan yang
budaya masyarakat pantai berpasir dicoba.
5. Tersedianya analisis finansial model 5. Tingkat adopsi dan partisipasi
rehabilitasi lahan dan konservasi tanah masyarakat serta kelembagaan
yang dikembangkan pada lahan pantai. dalam kegiatan rehabilitasi lahan
6. Tersedianya informasi kelembagaan, dan konservasi tanah.
tingkat adopsi dan partisipasi masyarakat
terhadap upaya RLKT (Reboisasi Lahan
dan Konservasi Tanah) lahan pantai yang
mendukung wisata lingkungan terpadu.
Aktivitas :
1.1. Pengembangkan model rehabilitasi lahan 1. Perlakuan Rehabilitasi lahan pantai 1. Plot Rehabilitasi lahan
1.2. Pengamatan prosen tumbuh dan berpasir Data, dana dan
2. Pengukuran dan tenaga tersedia
pengukuran pertumbuhan tanaman TA 2. Data kecepatan angin & erosi angin Pengamatan lapangan
2.1. Penyediaan air tawar untuk perawatan
tanaman dengan penyiraman 3. Data evapotranspirasi 3. Survey terhadap
2.2. Pengumpulan data iklim 4. Data suhu tanah masyarakat dan lembaga
3.1. Pengukuran pertumbuhan tanaman kayu- terkait
kayuan dan buah-buahan 5. Data curah hujan & kadar garam
4. Diskusi kelompok
3.2. Pengukuran produksi tanaman semusim 6. Data pertumbuhan tanaman
4.1. Data primer dan sekunder kondisi sosial 5. Temu lapang dengan
ekonomi masyarakat 7. Data produksi tanaman petani
5.1. Melakukan wawancara, kuisioner, dll 8. Analisa biaya dan pendapatan
6.2. Pengumpulan data partisipasi
9. Data tingkat adopsi masyarakat
masyarakat dalam rahabilitasi lahan
6.3. Pengumpulan data kelembagaan upaya 10. Data partisipasi masyarakat
rehabilitasi lahan 11. Kelembagaan rehabilitasi lahan

88
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

BIODATA BENY HARJADI


Data Diri :
Nama : Ir. Beny Harjadi, MSc.
Tempat/Tanggal Lahir: Surakarta, 17 Maret 1961
NIP/Karpeg : 19610317.199002.1.001/ E.896711
b
Pangkat/Golongan : Pembina / IV
Jabatan : Peneliti Madya
Riwayat Pendidikan :
TK : TK Aisyiyah Premulung, Surakarta (1967)
SD : SD Negeri 94 Premulung, Surakarta (1973)
SMP : SMP Negeri IX Jegon Pajang, Surakarta (1976)
SMA : SMA Muhammadiyah I, Surakarta (1980)
S1 : IPB (Institut Pertanian Bogor), Jurusan Tanah/Fak.Pertanian,BOGOR (1987)
Kursus LRI (Land Resources Inventory) kerjasama dengan New Zealand selama 9 bulan
untuk Inventarisasi Sumber Daya Lahan (1992), INDONESIA-NEW ZEALAND
S2 : ENGREF (École Nationale du Génie Rural, des Eaux et des Forêst), Jurusan
Penginderaan Jauh Satelit/ Fak.Kehutanan, Montpellier, PERANCIS (1996)
PGD : Post Graduate Diplome Penginderaan Jauh, di IIRS (Indian Institute of Remote
Sensing) di danai dari CSSTEAP (Centre for Space Science & Technology Education
in Asia and The Pasific) Affiliated to the United Nations (UN/PBB : Perserikatan
Bangsa-Bangsa), Dehradun – INDIA (2005).
Riwayat Pekerjaan :
1. Staf Balai Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), Surakarta (1989).
2. Ajun Peneliti Madya Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BTPDAS-WIB
(Balai Teknologi Pengelolaan DAS – Wilayah Indonesia Bagian Barat), 1998.
3. Peneliti Muda Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BTPDAS-WIB (Balai
Teknologi Pengelolaan DAS – Wilayah Indonesia Bagian Barat), 2001.
4. Peneliti Madya Bidang Konservasi Tanah dan Air pada BP2TPDAS-IBB (Balai
Litbang Teknologi Pengelolaan DAS - Indonesia Bagian Barat), 2005.
5. Peneliti Madya Bidang Pedologi dan Penginderaan Jauh pada BPK (Balai
Penelitian Kehutanan) Solo, 2006
Riwayat Organisasi :
1. Menwa Mahawarman, Jawa Barat (1980 – 1985)
2. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), (1980 – 1983)
3. Ketua ROHIS BP2TPDAS-IBB, 2 periode (2000-2006)
Penghargaan :
1. Satya Lancana Karya Satya 10 tahun, No. 064/TK/Tahun 2004
Alamat Penulis :
1. Kantor : BPK SOLO, d/a Jl.Ahmad Yani Pabelan, Po.Box.295, Surakarta. Jawa
Tengah, Telp/Fax : 0271–716709, 715969. E-mail: bpksolo@indo.net.id
2. Rumah : Perumahan Joho Baru, Jl.Gemak II, Blok T.10, Rt 04/ Rw VIII,
Kel.Joho, Sukoharjo, Jawa Tengah. Telp : 0271- 591268. HP : 081.22686657
E-mail : adbsolo@yahoo.com

89