Anda di halaman 1dari 31

I.

PENDAHULUAN

1.1 ISOLASI BAKTERI PADA KULIT Beberapa lokasi pada tubuh kita termasuk pada kulit terdapat populasi flora normal. Di kulit umumnya dijumpai bakteri cocus gram positif, termasuk Staphylococccus epidermidis yang non patogen. Staphylococcus aureus merupakan flora normal pada membran mukosa nasal, tetapi dapat berpindah ke kulit sebagai flora transient. Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen karena dapat menyebabkan beberapa macam infeksi kulit. Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui bakteri yang terdapat pada permukaan kulit.

1.2 UJI EFEKTIVITAS HAND SANITIZER Bakteri dapat kita jumpai di tangan kita dalam jumlah banyak, baik golongan flora normal atau transient yang berasal dari lingkungan. Flora normal tidak berbahaya bagi tubuh kita, sedangkan golongan transient dapat menyebabkan penyakit. Salah satu cara yang sederhana dan efektif untuk mengurangi mikroorganisme transient penyebab penyakit adalah dengan mencuci tangan kita. Saat ini penggunaan hand sanitizer merupakan metode yang populer saat ini untuk membersihkan tangan. Produk-produk tersebut sangat populer karena dapat digunakan untuk membersihkan tangan ketika sabun,air,atau bahan pembersih lainnya tidak ditemukan. Bahan aktif yang terdapat pada produk hand sanitizer adalah etil alkohol 62%.
1

Eksperimen kali ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas hand sanitizer untuk menghilangkan bakteri dari tangan.

1.3 UJI BIOKIMIA UNTUK MENGIDENTIFIKAI BAKTERI Meskipun kultur dan teknik pewarnaan bakteri dapat memberikan informasi penting dalam pemeriksaan, namun kedua teknik tersebut tidak cukup untuk memberikan informasi yang lengkap dalam identifikasi bakteri. Hasil kultur dan pewaraan harus dikombinasikan dengan hasil uji biokimia untuk mengidentifikasi bakteri secara tepat. Uji biokimia bertujuan untuk melihat kemampuan metabolik isolat bakteri. Setelah sejumlah uji biokimia dilakukan, kombinasi hasilnya akan memperlihatkan pola biokimia untuk suatu isolat, yang menunjukkan kekhasan satu dengan lainnya.

Terdapat banyak uji biokimia digunakan di laboratorium Mikrobiologi, yang sering digunakan antara lain: 1. Uji Koagulase 2. Uji Katalase 3. Produksi H2S 4. Produksi Indol 5. Fermentasi laktosa dan gula-gula lainnya 6. Uji Methyl Red 7. Uji Citrat

Pada praktikum ini, akan dilakukan uji katalase dan koagulase dari hasil kultur bakteri.

1.4 IDENTIFIKASI BAKTERI COCCUS Bakteri merupakan salah satu makhluk hidup yang jumlahnya banyak disekitar kita. Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain

Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim.Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik (mikroskopis). Bentuk dasar bakteri terdiri atas bentuk bulat (kokus), batang (basil),dan spiral (spirilia) serta terdapat bentuk antara kokus dan basil yang disebut kokobasil. Dalam praktikum kali ini, akan dilakukan identifikasi bakteri coccus.

1.5 IDENTIFIKASI JAMUR MENGGUNAKAN MIKROSKOP

Banyak jamur yang menyebabkan penyakit-penyakit tumbuh-tumbuhan, tetapi hanya sekitar 100 dari beribu-ribu spesies ragi dan jamur yang dikenal menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang.

Infeksi mikotik manusia dikelompokkan dalam infeksi jamur superfisial (pada kuku, kulit, dan rambut), subkutan, dan profunda (sistemik). Mikosis superfisial disebabkan oleh jamur yang hanya menyerang jaringan keratin tetapi tidak menyerang jaringan yang lebih dalam. Jamur yang sering menimbulkan mikosis superfisial adalah golongan dermatofita. Salah satu spesies yang termasuk di dalamnya adalah Microsporum.

Selain Microsporum, terdapat jenis jamur-jamur lain yang bisa menginfeksi manusia, misalnya Aspergillus, Tinea rubrum, Penicillium. T. Mentagrophytes, dan

II. PROSEDUR PERCOBAAN

2.1 ISOLASI BAKTERI PADA KULIT ALAT DAN BAHAN Ose bulat Nutrient broth Nutrient agar Lidi kapas steril

CARA KERJA 1. Basahi lidi kapas steril dengan mencelupkan pada tabung berisi nutrient broth. Tiriskan pada bagian sisi tabung. 2. Tentukan lokasi yang akan diperiksa (tangan,kaki,atau wajah). Lakukan swab pada bagian kulit. 3. Inokulasi pada petri pada kuadran 1. Gunakan ose steril untuk menyebarkan inokulum pada kuadran 2,3, dan 4. 4. Inkubasi pada suhu 350C , 24-48 jam 5. Perhatikan koloni yang tumbuh. Berdasarkan morfologi koloni, hitung jumlah tipe yang berbeda. 6. Lakukan pewarnaan gram pada masing-masing tipe koloni yang berbeda. Apabila hasilnya menunjukkan bakteri cocus gram positif, lanjutkan dengan uji biokimia untuk identifikasi bakteri kokus (uji katalase).
5

2.2 UJI EFEKTIVITAS HAND SANITIZER ALAT DAN BAHAN Nutrient broth Nutrient agar Lidi kapas steril Hand sanitizer

CARA KERJA 1. Celupkan lidi kapas steril pada tabung berisi nutrient broth untuk membasahi lidi kapas. Tiriskan pada tepi tabung. 2. Swab telapak tangan kiri sbb: Mulai pada ujung distal telunjuk, swab ke arah proksima, putar lidi kapas, dan ulangi swab 2-3 kali. Inokulasi pada 1/2 bagian plate nutrient agar. Ulangi inokulasi pada daerah plate yang sama tetapi membentuk sudut 900. Putar lidi kapas dan pastikan bahwa seluruh bagian lidi kapas sudah diinokulasi pada plate. 3. Ulangi tahap no.2 untuk jari manis, dan inokulasi pada 1/2 bagian plate lainnya. 4. Ambil hand sanitizer, letakkan secukupnya pada telapak tangan kiri dan basuh bagian dalam telapak tangan dengan kedua tangan. Lakukan sampai cairan/gel tidak tampak dan tangan sudah kering. 5. Ambil lidi kapas steril, celupkan pada tabung berisi nutrient broth. Swab telapak tangan kiri seperti pada langkah no.2. lakukan pada jari tengan dan jari kelingking. Inokulasi masing-masing pada 1/2 bagian plate nutrient agar. 6. Inkubasi pada suhu 350C selama 48-72 jam.

7. Amati hasil pertumbuhan koloni pada plate. Hitung jumlah total koloni pada kedua plate, bandingkan. Hitung persentase bakteri yang dibunuh oleh hand sanitizer.

2.3 UJI BIOKIMIA UNTUK MENGIDENTIFIKAI BAKTERI ALAT DAN BAHAN Api bunsen Ose bulat Tabung reaksi Pipet Aquades steril Gelas objek Reagen : Hidrogen Peroksida (H2O2) 3% Latex aglutinasi kits Plasma darah

CARA KERJA 1. Uji katalase a) Metode 1 : Gunakan pipet Pasteur untuk meletakkan beberapa tetes H2O2 3% pada kultur miring di tabung. Perhatikan timbulnya gelembung-gelembung, jika ditemukan maka hasilnya positif. b) Metode 2 : Campurkan sedikit kultur bakteri dengan beberapa tetes aquades, kemudian tambahkan H2O2. Perhatikan timbulnya gelembung. 2. Uji koagulase

Campurkan 1 ose kultur ke dalam 0,5 ml plasma keinci pada tabung reaksi. Inkubasi pada suhu 350C selama 4 jam. Perhatikan apakah terdapat penggumpalan plasma

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. ISOLASI BAKTERI PADA KULIT

3.1.1 HASIL PERCOBAAN Jumlah Koloni yang ditemukan Hasil Pewarnaan Gram 64 Coccus gram (+)

Gambar bakteri coccus gram (+) pada percobaan isolasi bakteri pada kulit.

3.1.2 PEMBAHASAN Dalam praktikum ini kita menggunakan alat dan bahan yang terdiri dari ose bulat, api bunsen, nutrient broth, agar darah, dan lidi kapas steril. Pertama-tama, dilakukan pengambilan kultur dari kulit salah satu praktikan menggunakan lidi kapas yang telah disterilkan dengan cara mencelupkannya
9

kedalam tabung berisi nutrient broth. Setelah dilakukan swab pada bagian kulit praktikan, kemudian di inokulasi pada petri dengan kuadran 1 menggunakan ose steril untuk menyebarkan inokulum pada kuadran 2, 3, dan 4. Setelah itu, di inkubasi pada suhu 350C, selama 24-48 jam. Kemudian, dihitung jumlah koloni yang berbeda dan dilakukan pewarnaan gram. Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, didapatkan jumlah koloni berbeda yakni 64 koloni. Hal ini membuktikan bahwa, terdapat banyak sekali bakteri yang terdapat pada kulit kita yang meski secara kasat mata tampak bebas dari bakteri. Dan pada pewarnaan gram, dihasilkan bahwa bakteri ini adalah bakteri gram (-). Bakteri-bakteri yang hidup didalam kulit kita tersebut dinamakan flora normal. Flora normal, tidak hanya terdapat pada kulit kita, namun juga terdapat di dalam tubuh kita, misalnya pada organ-organ pencernaan kita. Flora normal atau mikrobiota adalah kumpulan organisme yang umum ditemukan secara alamiah pada orang sehat dan hidup rukun berdampingan dalam hubungan yang seimbang dengan host-nya. Flora normal dalam tubuh manusia terbagi menjadi 2, yaitu: 1. Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/indigenous). Mikroorganisme jenis tertentu yang biasanya ditemukan pada bagian tubuh tertentu dan pada usia tertentu dan pada usia tertentu. Keberadaan mikroorganismenya akan selalu tetap, baik jenis ataupun jumlahnya, jika ada perubahan akan kembali seperti semula. Flora normal/tetap yang terdapat pada tubuh merupakan organisme komensal. Flora normal yang lainnya bersifat mutualisme. Flora normal ini akan mendapatkan makanan dari sekresi dan produk-produk buangan tubuh manusia, dan tubuh memperoleh vitamin atau zat hasil sintesis dari flora normal. Mikroorganisme ini umumnya dapat lebih bertahan pada kondisi buruk dari lingkungannya.
10

Contohnya

Streptococcus

viridans,

S.

faecalis,Pityrosporum

ovale,Candida albicans. 2. Mikroorganisme sementara (transient flora).M Mikroorganisme nonpatogen atau potensial patogen yang berada di kulit dan selaput lendir/mukosa selama kurun waktu beberapa jam, hari, atau minggu. Keberadaan mikroorganisme ini ada secara tiba-tiba (tidak tetap) dapat disebabkan oleh pengaruh lingkungan, tidak menimbulkan penyakit dan tidak menetap. Flora sementara biasanya sedikit asalkan flora tetap masih utuh, jika flora tetap berubah, maka flora normal akan melakukan kolonisasi, berbiak dan menimbulkan penyakit. Flora normal pada manusia tidak tetap, selalu mengalami fluktuasi yang disebabkan oleh : 1.Nutrisi 2. Usia 3.Hormon 4.Kesehatan umum Flora yang hidup di bagian tubuh tertentu pada manusia mempunyai peran penting dalam mempertahankan kesehatan dan hidup secara normal. Beberapa anggota flora tetap di saluran pencernaan mensintesis vitamin K dan penyerapan berbagai zat makanan. Flora yang menetap diselaput lendir (mukosa) dan kulit dapat mencegah kolonialisasi oleh bakteri patogen dan mencegah penyakit akibat gangguan bakteri. Sebaliknya, flora normal juga dapat menimbulkan penyakit pada kondisi tertentu. Berbagai organisme ini tidak bisa tembus (non-invasive) karena hambatanhambatan yang diperankan oleh lingkungan. Jika hambatan dari lingkungan dihilangkan dan masuk le dalam aliran darah atau jaringan, organisme ini mungkin menjadi patogen.
11

3.2 UJI EFEKTIVITAS HAND SANITIZER

3.2.1 HASIL PERCOBAAN

Populasi bakteri yang banyak

Gambar sebelum diberikan handsanitizer

Populasi bakteri yang sedikit

Gambat setelah diberikan handsanitizer

Jumlah koloni total Sebelum menggunakan hand sanitizer 73 Setelah menggunakan hand sanitizer 5

Rata-rata persentase pengurangan jumlah bakteri pada tangan:


12

Sebelum

x 100% = 93 %

Sesudah

x 100% = 6,4 %

Persentase pengurangan

x 100% = 87 %

3.2.2 PEMBAHASAN Pada praktikum ini, akan dilakukan uji keefektivitas hand sanitizer untuk menghilangkan bakteri dari tangan. Alat dan bahan yang digunakan antara lain: o Nutrient broth o Nutrient agar o Lidi kapas steril o Handsanitizer o Api bunsen Pertama-tama lidi kapas steril dicelupkan ke dalam tabung berisi nutrient broth untuk membasahi dan menstarilkan lidi kapas, kemudian tiriskan pada tepi tabung. Kemudian dilakukan prosedur swab telapak tangan kiri sbb: Mulai pada ujung distal telunjuk, swab kearah proksimal, putar lidi kapas, dan ulangi swab 2-3kali. Inokulasi pada bagian plate nutrient agar. Ulangi inokulasi pada daerah plate yang sama tetapi membentuk sudut 90o. Putar lidi kapas dan pastikan bahwa seluruh bagian lidi kapas sudah di inokulasi pada plate. Ulangi tahap diatas untuk jari manis dan inokulasi pada bagian plate lainnya.

Hal tersebut juga dilakukan setelah tangan yang akan diswab, dipakaikan handsanitizer. Dan dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil dimana pada plate agar yang memakai handsanitizer, jumlah koloni bakterinya jauh lebih sedikit diabndingkan pada agar nutrient yang tidak memakai handsanitizer.
13

Pemakaian

antiseptik

untuk

tubuh

sekarang

ini

banyak

ditawarkan

melalui beberapa produk seperti sabun mandi, shampo, semir rambut, atau pasta gigi. Pada hand sanitizer antiseptik yang sering digunakan adalah alkohol.

Pada hand sanitizer antiseptik yang sering digunakan adalah alkohol. Alkohol digunakan sebagai antiseptik karena kemampuannya dalam mendenaturasi protein. Alkohol telah digunakan secara luassebagai antiseptik kulit karena mempunyai efek menghambat pertumbuhan bakteri. Konsentrasi alkohol 70% dapat membunuh hampir 90% bakteri di kulitdalam waktu 2 menit.

Hand sanitizer adalah cairan dengan berbagai kandungan yang sangat cepat membunuh mikroorganisme yang ada di kulit tangan ( Benjamin, 2010). Hand sanitizer banyak digunakan karena alasan kepraktisan. Hand sanitizer mudah dibawa dan bisa cepat digunakan tanpa perlu menggunakan air. Hand sanitizer sering digunakan ketika dalam keadaan darurat dimana kita tidak bisa menemukan air. Kelebihan ini diutarakan menurut US FDA (Food and Drug Administration) dapat membunuh kuman dalam waktu kurang lebih 30 detik ( Benjamin, 2010). Hand sanitizer memiliki berbagai macam zat yang terkandung. Secara umum hand sanitizer mengandung : a) alkohol 60-95% b) benzalkonium chloride c) benzethonium chloride d) chlorhexidine gluconate e) chloroxylenol f) clofucarban g) hexachlorophene h) hexylresocarcinol i) iodine

14

Menurut CDC (Center for Disease Control) hand sanitizer terbagi menjadi dua yaitu mengandung alcohol dan tidak mengandung alcohol. Hand sanitizer dengan kandunga alcohol antara 60- 95 % memiliki efek anti mikroba yang baik dibandingkan dengan tanpa kandungan alcohol ( CDC, 2009). Hand sanitizer tanpa alcohol mengandungtriclosan dan benzalkonium chloride. Kedua kandungan tersebut juga efektif dalam membunuh bakteri dan kuman yang terdapat di kulit ((alcoholbasedhandsanitizer.com, 2011). Kandungan aktif yang sering ditemukan di hand santizer dipasaran adalah 62% etil alcohol (Liu, 2010). Kandungan tersebut bermanfaan dalam membunuh

bakteri. Damal penelitian yang dilakukan oleh Liu et al., menyatakan bahwa efektivitas dari suatu hand sanitizer ditentukan oleh berbagai faktor seperti, jenis antiseptic yang kita gunakan dan banyaknya, metode penelitian, dan target organisme. Hand sanitizer memiliki efektivitas pada virus yang kurang baik dibandingkan dengan cuci tangan menggunakan sabun. Kandungan sodium hipoklorite dalam sabun dapat menghancurkan integritas dari capsid protein dan RNA dari virus, sedangkan hand sanitizer dengan alcohol hanya berefek pada kapsid protein virus.

3.3 UJI BIOKIMIA UNTUK MENGIDENTIFIKAI BAKTERI 3.3.1 HASIL PERCOBAAN Jenis pemeriksaan Uji katalase Tujuan pemeriksaan
untuk mengetahui aktivitas katalase pada bakteri yang diuji

Hasil pemeriksaan (+), terdapat gelembung

3.3.2 PEMBAHASAN
15

Pada praktikum kali ini, dilakukan uji biokimia untuk mengidentifikasi bakteri. Uji biokimia yang akan digunakan adalah uji katalase metode 2. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu: o Api bunsen o Ose bulat o Tabung reaksi o Pipet o Aquades steril o Gelas objek o Reangen : Hidrogen peroksida (H2O2) 3 % Latex aglutinasi kits Plasma Darah

Sebelum melakukan uji katalase, praktikan membuat kultur bakteri pada agar darah sehari sebelum melakukan uji katalase ini. Setelah kultur terbentuk, campurkan sedikit kultur bakteri tersebut dengan beberapa tetes aquades, kemudian tambahkan H2O2. Dan hasil yang didapat adalah timbul gelembunggelembung pada kultur bakteri tersebut. Hal ini menandakan bahwa di dalam agar tersebut terdapat bakteri katalase (+). Katalase adalah enzim yang mengatalisis penguraian hidrogen peroksida (H2O2) menjadi H2O dan O2. Hidrogen peroksida bersifat toksik terhadap sel karena bahan ini dapat menginaktivasikan beberapa jenis enzim dalam sel. Hidrogen peroksida terbentuk sewaktu metabolisme aerob, sehingga mikroorganisme yang tumbuh dalam lingkungan aerob harus menguraikan bahan toksik tersebut. Katalase merupakan salah satu enzim yang digunakan mikroorganisme untuk menguraikan hidrogen peroksida, enzim lainnya yang dapat menguraikan hidrogen peroksida adalah peroksidase. Pada penguraian hidrogen peroksida oleh
16

peroksidase tidak dihasilkan gas atau gelembung oksigen. Penentuan adanya katalase diuji dengan larutan 3% H2O2 pada koloni terpisah. Pada bakteri yang bersifat katalase-positif terlihat pembentukan gelembung udara sekitar koloni.

Pada uji katalase, hasil positif ditunjukkan dengan adanya gelembung-gelembung udara kecil yang terdapat pada preparat setelah bakteri ditambahkan satu tetes H2O2. Enzim katalase memecah H2O2 saat melakukan respirasi, bakteri akan menghasilkan berbagai macam komponen salah satunya H2O2. Bakteri yang memiliki kemampuan memecah H2O2 dengam enzim katalase maka akan membentuk suatu system pertahanan dari toksik H2O2 yang dihasilkannya sendiri. Dengan enzim katalase, H2O2 diurai dengan reaksi 2H2O2 2H2+O2

Berdasarkan data dan hasilpengamatan uji katalase menunjukkan hasil positif karena terdapat gelembung udara.Hal ini berarti menunjukkan bahwa bakteri pada sample bersifat katalase. Uji katalase berguna dalam identifikasi kelompok bakteri aerobik dan anaerobik aerotoleran dengan bakteri anaerobik fakultatif. Pada bakteri bentuk kokus, uji katalase digunakan untuk membedakan Staphylococcus dan Streptococcus. Kelompok Streptococcus bersifat katalase-negatif, sedangkan Staphylococcus bersifat katalase-positif.

3.4 IDENTIFIKASI BAKTERI COCCUS 3.4.1 HASIL PERCOBAAN Jenis pemeriksaan Pewarnaan gram Hasil pemeriksaan Bakteri basil gram (-)

17

Gambar bakteri basil gram (-)

3.4.2 PEMBAHASAN Praktikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri coccus yang terdapat di dalam sebuah kultur. Namun, setelah melakukan percobaan, hasil yang didapat ialah bakteri basil gram (-), sehingga praktikum ini selesai setelah ditemukannya bakteri basil tersebut melalui pewarnaan gram. Berdasarkan bentuknya, bakteri dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:

Kokus (Coccus) adalah bakteri yang berbentuk bulat seperti bola dan mempunyai beberapa variasi sebagai berikut:[19][20]
o o o

Mikrococcus, jika kecil dan tunggal Diplococcus, jka berganda dua-dua Tetracoccus, jika bergandengan empat dan membentuk bujur sangkar

o o o

Sarcina, jika bergerombol membentuk kubus Staphylococcus, jika bergerombol Streptococcus, jika bergandengan membentuk rantai

Basil (Bacillus) adalah kelompok bakteri yang berbentuk batang atau silinder, dan mempunyai variasi sebagai berikut:[19][20]
o o

Diplobacillus, jika bergandengan dua-dua Streptobacillus, jika bergandengan membentuk rantai


18

Spiral (Spirilum) adalah bakteri yang berbentuk lengkung dan mempunyai variasi sebagai berikut:[19][20]
o

Vibrio, (bentuk koma), jika lengkung kurang dari setengah lingkaran (bentuk koma)

o o

Spiral, jika lengkung lebih dari setengah lingkaran Spirochete, jika lengkung membentuk struktur yang fleksibel.[20]

Bentuk tubuh/morfologi bakteri dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, medium, dan usia. Walaupun secara morfologi berbeda-beda, bakteri tetap merupakan sel tunggal yang dapat hidup mandiri bahkan saat terpisah dari koloninya. Contoh bakteri coccus ialah Streptococcus. Streptococci dapat diisolasi dari saluran pencernaan, pernafasan dan saluran genital sebagai bagian dari bakteri komensal atau flora normal. Beberapa spesies dapat bersifat patogen, antara lain adalah Streptococcus pyogenes (Streptococcus grup A) yang merupakan patogen utama pada manusia dan Streptococcus agalactiae (Streptococcus grup B) dapat menyebabkan infeksi pada neonatus. Beberapa metode identifikasi : Pengecatan Gram Kokus (coccus) Gram positif dengan susunan berpasangan seperti rantai (chains).

Tes katalase negatif. Jika katalase positif, lihat pada bab Staphylococcus aureus dan

Staphylococcus sp

3.5 IDENTIFIKASI JAMUR MENGGUNAKAN MIKROSKOP 3.5.1 HASIL PERCOBAAN

19

Gambar

Spesies Aspergillus sp.

M. canis

20

M. gypserum

Penicilium sp.

21

T. mentagrophytes

T. rubrum

3.5.2 PEMBAHASAN Jamur merupakan organisme eukariotik yang peda umumnya multiseluler atau bersel banyak. Adapun ciri-ciri dari jamur ini adalah: 1. Struktur Tubuh
22

Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnya khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnyojamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.

2. Cara Makan dan Habitat Jamur Jamur bersifat heterotrof namun tidak memangsa dan mencerna makanan melainkan menyerap zat organik dari lingkungannya melalui hifa dan miselliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh itu jamur sangat bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.

a) Parasit obligat, merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya, sedangkan di luar inangnya tidak dapat hidup. Misalnya, Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS). b) Parasit fakultatif, adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang sesuai, tetapi bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang cocok. c) Saprofit, merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yangmati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu tumbang dan buah jatuh. d) Simbiosis mutualisme, selain menyerap makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis
23

mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza, yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken.

3. Pertumbuhan dan Reproduksi Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai, jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa. Reproduksi secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Akhimya inti sel melebur membentuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis. Secara filogenik, jamur diklasifikasikan menjadi empat kelas, yaitu: a. Zygomycota Tubuh Zygomycota tersusun atas hifa senositik yang tidak bersekat. Sekat hanya ditemukan pada hifa bagian tubuh yang membentuk alat reproduksi. Zygomycota memiliki tiga jenis hifa, yaitu Stolon (hifa yang menjalar di permukaan substrat), Rizoid (hifa yang menembus ke dalam substrat), dan Sporangiospor (hifa yang menjulang ke atas membentuk sporangium). Ciri khas dari jamur jenis ini ada pada cara reproduksi sek-sualnya, yaitu melalui peleburan gamet yang membentuk zigospora. Sedangkan, reproduksi asek-sualnya dengan sporangium. Contoh:

24

1. Rhizopus stolonifer, pengurai bagian sisa organik pada tanaman ubi jalar dan dimanfaatkan pada proses pembuatan tempe. 2. Mucor mucedo, hidup secara saprofit pada roti atau kotoran hewan. b. Ascomycota Tubuh tersusun atas miselium dengan hifa yang bersekat (bersepta). Pada umumnya, hidup di lingkungan berair, bersifat parasit pada tumbuhan dan saprofit pada sampah. Ascomycota memiliki spora yang terdapat pada kantung-kantung penyimpanan yang disebut askus (konidia). Ciri khas pada jamur jenis ascomy adalah pada reproduksi sek-sual membentuk askospora. Reproduksi asek-sualnya dilakukan dengan membentuk konidium, tunas dan fragmentasi. Jenis jamur ascomycota ada yang uniseluler, yaitu Saccharomyces cereviceae atau dikenal dengan (yeast). Berdasarkan bentuk askokarp yang dihasilkan, jamur ascomycota terbagi menjadi empat, yaitu: 1. Kleistotesium, yaitu kelompok jamur ascomycota yang memiliki askokarp berbentuk bulat tertutup (ciri dari kelas Plectomyces). Contoh: jamur dari genus Penicillium dan Aspergillus. 2. Peritesium, yaitu kelompok jamur yang memiliki askokarp berbentuk botol (ciri dari genus Pyrenomycetes). Contoh: Neurospora, Roselinia arcuata, dan Xylaria tabacina. 3. Apotesium, yaitu kelompok jamur ascomycota yang askokarpnya berbentuk seperti cawan atau mangkok. Contoh: Peziza aurantia (hidup sebagai saprofit di sampah), Marshella esculenta dan Tuber sp. yang dimanfaatkan sebagai makanan. 4. Askus te-lanjang, yaitu golongan jamur ascomycota yang tidak memiliki askokarp (tidak membentuk badan buah) dan merupakan ciri dari kelas Protoascomycetes. Contoh: Saccharomyces cereviceae, Candida albicans,
25

dan Contoh jamur jenis ascomycota beserta peranannya, yaitu:


o o

Tricoderma.

Aspergillus oryzae, sebagai pelunak adonan roti. Penicilium notatum dan Penicilli chrysogenum sebagai penghasil antibiotik penisilin.

o o

Aspergillus wentii, yang dimanfaatkan dalam pembuatan kecap. Candida albicans, penyebab penyakit kandidiasis, yaitu penyakit pada selaput lendir mulut vagi-na dan saluran pencernaan.

c. Basidiomycota Ciri umum jamur ini adalah hifanya bersekat dikariotik (setiap sel memiliki inti sel yang berpasangan). Bentuk tubuh makroskopis sehingga dapat dilihat langsung, bentuk tubuh buahnya (basidiokarp) yang menyerupai payung dan terdiri atas batang dan tudung. Bagian bawah tudung terdapat lembaran-lembaran bilah sebagai tempat terbentuknya basidium. Reproduksi asek-sual ditandai dengan pembentukan konidium. Sedangkan, fase reproduksi sek-sualnya dengan pembelahan

basidiospora yang terbentuk pada basidium yang berbentuk ganda. Sebagian besar jamur jenis ini dimanfaatkan sebagai makanan karena mengandung nilai gizi yang tinggi. Contoh:

Jamur merang (VoIvarieIIa volvaceae), hidup pada lingkungan dengan kelembapan tinggi dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan.

Jamur kuping (Auricularia polytricha), tubuh berwarna cokelat kehitaman, hidup sebagai saprofit pada kayu lapuk, dan umumnya digunakan sebagai campuran sup.

Jamur shitake, hidup pada batang kayu dan banyak dibudidayakan di Jepang dan Cina sebagai bahan makanan.

Puccinia graminis, merupakan parasit pada rumput.


26

Ganoderma applanatum, penyebab kerusakan pada kayu.

d. Deuteromycota Ciri umum jamur ini adalah hifa bersifat membentuk konidia dan belum diketahui fase reproduksinya sehingga sering disebut sebagai fungi imperfecti (jamur tidak sempurna). Hidup sebagai parasit. Contoh:

Tinea versicolor, yaitu penyebab penyakit panu pada kulit. Microsporium, yaitu penyebab penyakit pada rambut dan kuku. Epidermophyton floocossum, yaitu penyebab penyakit pada kaki atlet.

Aspergillus tumbuh baik pada substrat dengan konsentrasi gula dan garam tinggi, oleh karena itu dapat tumbuh pada makanan dengan kadar air rendah. Grup ini mempunyai konidia berwarna hijau, dan membentuk askospora yang terdapat didalam aski erithesia berwarna kuning sampai merah.

Ciri-ciri spesifik Aspergillus adalah : a. Hifa septat dan miselium bercabang, biasanya tidak berwarna, yang terdapat dibawah permukaan merupakan hifa vegetatif sedangkan yang muncul diatas permukaan adalah hifa fertil. b. Koloni kelompok c. Konidiofora septat dan nonseptat, muncul dari foot cell (yaitu sel miselium yang bengkak dan berdinding tebal). d. Konidiofora membengkak menjadi vesikel pada ujungnya, membawa sterigmata dimana tumbuh konidia e. Sterigmata atau fialida biasanya sederhana berwarna atau tidak berwarna f. Konidia membentuk rantai yang berwarna hijau, coklat atau hitam g. Beberapa spesies tumbuh baik pada suhu 37 0 C atau lebih.

Penicillium sering menyababkan kerusakan pada sayuran, buah-buahan dan serealia.


27

Penicillium juga digunakan oleh dalam industri untuk memproduksi antibiotik. Beberapa ciri spesifik Pencicillium adalah : a. Hifa septat, miselium bercabang, biasanya tidak berwarna b. Konidiofora septet dan muncul di atas permukaan, berasal dari hifa dibawahpermukaan, bercabang atau tidak bercabang c. Kepala yang membawa spora berbentuk seperti sapu, dengan sterigmata atau fialida muncul dalam kelompok d. Konidia membentuk rantai karena muncul satu per satu dari sterigmata e. Konidia pada waktu masih muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kebiruan atau kecoklatan

Microsporum canis memiliki konidia yang besar, berdinding kasar, multiseluler, berbentuk kumparan, dan terbentuk pada ujung-ujung hifa. Konidia yang seperti ini disebut makrokonidia. Spesies ini membentuk banyak makrokonidia yang terdiri dari 8-15 sel, berdinding tebal dan sering kalu mempunyai ujung-ujung yang melengkung atau kail berduri. Pigmen kuning-jingga biasanya terbentuk pada sisi berlawanan dari koloni.

Penyebab umum infeksi pada kulit dan rambut kucing, anjing, dan hewan lain. Selain itu menyebabkan tinea kapitis pada anak-anak. Jamur ini menyebar secara radial pada lapisan kulit mari berkeratin dengan pembentukan cabang hifa dan kadang-kadang artrospora. Peradangan jaringan hidup di bawahnya sangat ringan dan hanya terlihat sedikit bagian yang bersisik kering. Biasanya terjadi iritasi, eritema (merah-merah menyebar pada kulit), edema (akumulasi berlebihan zat alir serum di dalam jaringan), dan terbentuk gelembung pada bagian tepi yang menjalar; lingkaran berwarna merah jambu ini menimbulkan nama ringworm (kadas). Lokasi lesi di daerah rambut kepala. Gambaran kliniknya adalah daerah botak bulat dengan rambut pendek-pendek atau potongan rambut dalam folikel rambut.

28

Microsporum gypseum merupakan jamur imperfecti (jamur tidak sempurna) atau deuteromycotina karena perkembangbiakannya hanya secara aseksual. Jamur ini berdinding kasar, multiseluler, dan berbentuk kumparan, dan terbentuk pada ujung-ujung hifa. Microsporum gypseum mempunyai banyak makrokonidia yang terdiri dari 4 sampai 6 sel, berdinding lebih tipis dalam koloni yang berwarna kekuning-kuningan sampai kecoklat-coklatan. Jamur ini sering menginfeksi kulit dan rambut (Jawetz, 1982). Trichophyton mentagrophytes merupakan fungus penyebab tinea kruris, tinea pedis, dan tinea unguium. Fungus ini memiliki habitat di kulit, kuku, rambut, dan jaringan lain yang mengandung sel tanduk. Epidemiologi dari fungus ini yaitu di daerah iklim sedang dan iklim dingin serta pada daerah tropis. Trichophyton mentagrophytes menginfeksi penderita melalui paparan langsung dari hewan atau koloni fungus di permukaan kulit, kuku, dan rambut. T. rubrum, merupakan salah satu jamur yang sering menyebabkan penyakit pada manusia, seperti Tine pedis, Tinea corporis, dll. Pada jamur ini, mikrokonidia adalah bentuk spora yang paling banyak. Mikrokonidia berdinding halus, berbentuk tetesan air matasepanjang sisi- sisi hifa, pada beberapa strain terdapat banyak mikrokonidia bentuk ini. Koloni sering menghasilkan warna merah pada sisi yang sebaliknya. Beberapa strain dari T. rubrum telah dibedakan yaitu : T. rubrum berbulu halus dan T. rubrum tipe granuler. T. rubrum berbulu halus memiliki karakteristik yaitu produksi mikrokonidia yang jumlahnya sedikit, halus, tipis, kecil, dan tidak mempunyai makrokonidia. Sedangkan karakteristik T. rubrum tipe granuler yaitu produksi mikrokonidia danmakrokonidia yang jumlahnya sangat banyak.

29

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum-praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Terdapat floranormal dalam tubuh kita yang tidak berbahaya, namun bisa menjadi pathogen bila terdapat di tempat yang seharusnya tidak dijumpai flora normal tersebut. 2. Penggunaan handsanitizer terbukti efektif dalam membunuh bakteri yang ada di kulit kita. 3. Uji Katalase akan menunjukkan gelembung pada kultur bakteri jika hasilnya positif terdapat bakteri katalase. 4. Salah satu metode identifikasi bentuk bakteri dapat dilakukan dengan pewarnaan gram. 5. Jamur yang dapat menginfeksi kulit manusia adalah T. Rubrum, M. Canis, Aspergillus, T. Mentagrophytes, dan Penicillium.

30

DAFTAR PUSTAKA

Jawetz, Melnick and Adelbergs, 2005. Mikrobiologi Kedokteran (Medical Microbiology). Jakarta: Salemba Medika. Michael J. Pelczar and E.C.S Chan. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2. Jakarta: UI-Press Waluyo, L. 2007.Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang www.scribd.com

31