Anda di halaman 1dari 11

Kata pengantar

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT,atas rahmat dan karunia-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang “Penyertaan dan Pembantuan”yang
mungkin dapat dijadikan acuan untuk lebih memahami tantang Penyertaan dan
Pembantuan.

Saya sadar banyak kekurangan dari penyajian makalah ini,sekiranya saya akan
menerima kritikan,saran untuk menyempurnakannya.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi seluruh pembaca,serta dengan harapan akan
menjadi setitik sumbangan keilmuan di antara limpahan ilmu pengetahuan yang beragam.

Penulis

Perdana Yosa Putra CSH

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar 1

Daftar isi 2

Bab I Pendahuluan 3

A.Latar Belakang 3

B.Tujuan penulisan 4

Bab II Pembahasan 5

Penyertaan dalam bentuk pidana 5

A.Perlunya penyertaan di pidana 5

B.Pembebanan tanggung jawab pidana 6

C.Bentuk-bentuk penyertaan 7

Pembantuan 9

Kesimpulan 10

Daftar pusaka 11

2
Bab I

Pendahuluan

A.Latar Belakang Masalah

Penyertaan atau dalam bahasa Belanda “DEELNEMING” di dalam hukum Pidana


DEELNEMING di permasalahkan karena berdasarkan kenyataan sering suatu delik
dilakukan bersama oeleh bebrapa orang,jika hanya satu orang yang melakukan
delik,pelakunya disebut Alleen dader.
Prof.Saochid Kartanegara mengartikan Deelneming apabila dalam satu delik
tersangkut beberapa orang atau lebih dari satu orang,
Menurut doktrin,deelneming menurut sifatnya terdiri atas:
a. deelneming yang berdiri sendiri,yakni pertanggung jawaban dari setiap
peserta dihargai sendiri-sendiri
b. deelneming yang tidak berdiri sendiri,yakni pertanggungjawaban dari peserta
yang satu digantunggkan dari perbuatan peserta yang lain.
KUHP tidak menganut pembagian deelneming menurut sifatnya,dalam KUHP
deelneming atau penyertaan diatur dalam pasal 55 & 56 KUHPidana.
Selain penyertaan atau deelneming pembantuan juga di kenakan pidana yang diatur
dalam pasal 56,57,& 60 KUHPidana,Penyertaan dan Pembantuan dalam Pidana sangat
sulit untuk dimengerti apabila kita sebagai mahasiswa Hukum tidak memahaminya
dengan jelas apa itu Penyertaan dan apa itu Pembantuan dalam pidana.

3
B.Tujuan Penulisan.

Mahasiswa Fakultas Hukum tentu harus memahami apa itu pidana dan apa itu
perbuatan melanggar pidana,salah satunya yang saya bahas dalam makalah saya yaitu:
Penyertaan atau dalam Bahasa Belanda disebut Deelneming,dan pembantuan.
Untuk itu sekiranya saya perlu membahas Penyertaan dan Pembantuan agar kita
sebagai calon aparat penegak hukum khususnya yang ingin berkecimpung dalam masalah
pidana bisa mengerti apa yang dimaksud dengan Penyertaan atau deelneming dan
Pembntuan.

4
Bab II
Pembahasan

Penyertaan (Deelneming) Dalam Tindak Pidana


A. Perlunya Penyertaan di Pidana.
Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh undang-undang dinyatakan dilarang
yang disertai ancaman pada barang-barang siapa yang melanggar larangan
tersebut,wadah tidak pidana ialah undang-undang,baik berbentuk kodefikasi yakni KUHP
dan diluar kodefikasi yang tersear luas dalam berbagai peraturan perundang-undangan.
Subjek hukum yang disebutkan dan dimaksudkan dalam rumusan tindak pidana
adalah hanya satu orang, bukan beberapa orang.Prehatiakn rumusan pasal 338 KUHP
yang menyatakan”barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang
lain,diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara setinggi-tingginya lima belas
tahun.
Jelas yang dimaksud dengan barang siapa adalah satu orang,bukan banyak orang
atau beberapa orang,Apabila berdasarkan rumusan pasal 338,pada kasus si otong
membunuh si gina dimana si ucup memegangi tangan si gina maka si ucup tidak dapat di
kenakan hukuman pidana,hanya si otonglah yang dikenakan pidana,Hal ini jika
berdasarkan pasal 338 KUHP,sementara si ucup ikut andil dalam melakukan pembunuhan
terhadap si gina,Maka itu dalam pasal 55 dan 56 KUHPidana diatur tentang penyertaan.

5
B. Pemebanan Tanggung Jawab Pidana
Persoalan pokok dalam ajaran penyertaan :
1. mengenai diri orangnya,ialah orang yang mewujudkan perbuatan yang
bagaimanakah dan yang bersikap batin bagaimana yang dapat
dipertimbangkan dan ditaentukan sebagai terlibat atau bersangkut paut
dengan tindak pidana yang di wujudkan oeleh kerjasama lebih dari satu
orang,sehingga ia patut dibebani tanggung jawab pidana dan di pidana.
2. mengenai tanggung jawab pidana yang dibebannya masing-masing ialah
persoalan mengenai; apakah mereka para peserta yang terlibat itu akan
dipertanggung jawabkan yang sama ataukah akan dipertanggung jawabkan
secara bebeda sesuai dengan kuat tidaknya keterlibatan atau andil dari
perbuatan yang mereka lakukan terhadap terwujudnya tindak pidana.
Syarat Penyertaan;
1. dari sudut subjektif;
a.adanya hubungan batin (kesengajaan) dengan tindak pidana yang
hendak diwujudkan,artinya kesengajaan dalam berbuat diarahkan pada
terwujudnya tindak pidana,Di sini sidikit atau banyak ada kepentingan
untuk terwujudnya tindak pidana.
b.adanya hubungan batin (kesengajaan,seperti mengetahui) antara
dirinya dengan peserta lainnya,dan bahkan dengan apa yang di perbuat
peserta lainnya.
2. Dari sudut obektif ; ialah bahwa perbuatan orang itu ada
hubungannya dengan terwujudnya tindak pidana .

6
2 Sistim pembebanan pertanggung jawaban pidana;
1. yang mengatakan bahwa setiap orang yang terlibat bersama-sama ke dalam
suatu tindak pidana dipandang dan dipertanggungjawabkan secara sama dengan orang
yang sendirian (dader) melakukan tindak pidana,tanpa dibeda-bedakan baik atas
perbuatan yang dilakukannya maupun apa yang ada dalam sikap batinnya.
2. masing-masing orang yang bersama-sama terlibat ke dalam suatu tindak pidana
dipandang dan dipertanggungjawabkan berbeda-beda,yang berat ringannya sesuai dengan
bentuk dan luasnya wujud perbuatan masing-masing orang dalam mewujudkan tindak
pidana.Dalam pelaksanaannya di Indonesia di terapkan sisti yang pertama.

C. Bentuk-bentuk Penyertaan

Bunyi pasal 55 dan 56 KUHPidana:


Pasal 55
(1). Dipidana sebagai pelaku tindak pidana:
1. mereka yang melakukan,yang menyuruh melakukan dan yang turut
serta melakukan perbuatan;
2. mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan
menyalahgunakan kekuasaan atau martabat,dengan kekerasan,ancaman atau
penyesatan,atau dengan memberi kesempatan,sarana atau keterangan,sengaja
menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

(2).Terhadap penganjur,hanya perbuatan yang disengaja dianjurkan sajalah yang


diperhitungkan,beserta akibat-akibatnya.

Pasal 56
Dipidana sebagai pembantu kejahatan:

7
1. mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan:
2. mereka yang sengaja memberi kesempatan,sarana atau keterangan untuk
melakukan kejahatan.
Berdasarkan rumusan pasal 55 dan 56 KUHP maka terdapat lima peranan pelaku
yaitu:
1. orang yang melakukan (dader)
2. orang yang menyuruh melakukan (doenpleger)
3. orang yang turut melakuakan (mededader)
4. orang yang sengaja membujuk (uitlokker)
5. orang yang membantu melakukan (medeplichtige)
Orang yang melakukan (dader)
Orang yang memenuhi semua unsur delik sebagaimana di rumuskan oleh undang-
undang,baik unsur subjektif maupun objektif,Umumnya pelaku dapat diketahui dari jenis
delik yakni delik formil dan delik materil.

Orang yang menyuruh melakukan (doenpleger)


Seseorang berkehendak melakukan suatu delik tapi tidak melakukannya sendiri
melainkan menyuruh orang lain yang tidak dapat di pertanggung jawabkan karena
berdasarkan pasal 44 KUHP.

Orang yang turut melakuakan (mededader)


Menurut Prof,Satochid Kartanegara syarat mededader ada 2;
a. harus ada kerja sama secara fisik
b. harus ada kesadaran kerja sama

Orang yang sengaja membujuk (uitlokker)


Hal inio diatur dalam pasal 55 ayat (1) Sub 2 (ke 2) yang berbunyi;
“Mereka yang dengan pemberian,perjanjian,salah memakai kekuasaan atau
Derajat(martabat)dengan paksaan,ancaman,atau tipu,atau dengan memberikan
kesempatan,ikhtiaratsau keterangan dengan sengaja membujuk membujuk supaya
perbuatan itu dilakukan.”

8
Menurut doktrin ,orang yang menggerakkan orang lain di sebut actor intelectualis
atau intelektual dader,atau provocateur,atau uitlokker.

Pembantuan (MEDEPLICHTIGHEID)
Mengenai pembantuan diatur dalam tiga pasal,ialah pasal 56,57,dan 60
Pasal 56 merumuskan tentang unsure subjektif dan unsure objektif,pasal 57 memuat
tentang batas luasnya pertanggung jawaban bagi pembuat pembantu,sedangkan pasal 60
mengenai penegasan pertanggungjawaban pembantuan itu hanyalah pada pembantuan
dalam hal kejahatan tidak dalam hal pelanggaran.

A. Pasal 56 KUHP
Dipidana sebagai pembantu kejahatan :
1. mereka yang dengan sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan
dilakukan.
2. mereka yang sengaja memberi kesempatan,sarana atau keterangan untuk
melakukan kejahatan.
Menurut pasal 56,bentuk pembantuan atau pembuat pembantu dibedakan antara:
1. pemberi bantuan sebelum dilaksanakannya kejahatan;dan
2. pemberi bantuan pada saat berlangsungnya pelaksanaan kejahatan.
Syarat Pembantuan ada dua;
1. Subjektif.
2. Objectif
B. Pasal 57 KUHP
Dalam pasal ini memuat tentang sejauh mana luasnya tanggung jawab
bagi pembuat pembantu, yang rumusannya sebagai berikut;
1. Dalam hal pembantuan,maksimum diancam dengan pidana pokok terhadap
kejahatan dikurangi sepertiga.
2. Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur
hidup,di jatuh kan pidana paliang lama 15 Tahun.
3. Pidan tambahan bagi pembantuan sama dengan kejahatannya sendiri.

9
4. Dalam memnentukan pidana bagi pembantu,yang diperhitungkan hanya
perbuatan yang sengaja dipermudah atau di perlancar olehnya,beserta
akibatnaya.

Kesimpulan

1. Penyertaan adalalah perbuatan tindak pidana yang dilakukan oleh lebih dari satu
orang yang saling terkait dan secara sadar menegetahuai apa yang
dilakukan,tetapi ada juga yang dikarenakan unsure paksaan,penyertaan diatur
dalam pasal 55 dan 56 KUHPidana,sedangkan Pembantuan diatur dalam pasal
56,57 dan 60 KUHPidana.
2. Menurut Pasal 55 KUHPidana ada 4 pelaku penyertaan:
1. orang yang melakukan (dader)
2. orang yang menyuruh melakukan (doenpleger)
3. orang yang turut melakuakan (mededader)
4. orang yang sengaja membujuk (uitlokker)

10
Daftar Pustaka

Pelajaran Hukum Pidana Bagian 3 Drs.Adami Chazawi,S.H.Rajawali Pers

Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana Leden Marpaung.Sinar Grafika

KUHPidana Pustaka Yustisia

11