BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Globalisasi merupakan tantangan, masalah dan sekaligus potensi untuk pembangunan nasional ada berwawasan terus bergulir komitmen kesehatan dengan di diikuti masa oleh seperti mendatang.Kondisi perkembangan yang

pelaksanaan

berbagai

Internasional

perdagangan bebas global, Millenium Development Goals dan agenda Internasional lainnya dibidang kesehatan, yang perlu diperhatikan dalam penetapan kebijakan dan penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Dengan adanya berbagai perubahan yang mendasar tersebut, maka, perlu diantisipasi secara serius dalam penyelenggaran pembangunan kesehatan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari tahun ke tahun senantiasa berupaya untuk melakukan perbaikan dan pembenahan pembangunan di segala bidang. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar masyarakat merasa lebih aman, nyaman, dan tentram dalam menjalani kehidupan serta dapat berkarya nyata dalam membangun wilayahnya. Pembangunan di bidang kesehatan tak luput dari perhatian gubernur terpilih, yang tentu saja menjadi salah satu prioritas pembangunan di Ibukota Jakarta. Hal ini bisa dilihat dalam visinya ”JAKARTA YANG NYAMAN DAN SEJAHTERA UNTUK SEMUA” layak, dan manusiawi. Begitu kompleksnya permasalahan kesehatan yang ada di DKI Jakarta dan antisipasi terhadap perubahan globalisasi maka diperlukan strategi yang tepat untuk mengatasinya. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta sebagai instansi pelaksana di bidang kesehatan perlu menyusun suatu perencanaan strategis yang menjadi acuan pembangunan kesehatan untuk lima tahun mendatang. yang mengandung arti bahwa sejahtera merupakan perwujudan derajat kehidupan penduduk Jakarta yang sehat,

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

7

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Rencana strategis Dinas Kesehatan DKI Jakarta 2007-2012 disusun dengan maksud untuk mensinergikan program-program pembangunan di daerah dalam rangka pelaksanaan RPJP DKI Jakarta Tahun 2005-2025. Tujuan penyusunan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta adalah sebagai pedoman bagi seluruh jajaran kesehatan di DKI Jakarta dalam menyusun perencanaan SKPD dan program serta kegiatan yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi DKI Jakarta maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam kurun waktu lima tahun ke depan. 1.3 LANDASAN HUKUM  UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;   UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;  UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;   UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;  UU No. 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia;  UU No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Penjang Nasional Tahun 2005-2025;    UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah;  Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah;  Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

8

Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal. Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Pemerintah Daerah. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004-2009. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Surat Edaran Mendagri No 050/20/SJ/2005 Tentang Petunjuk Penyusunan Dokumen RPJP Daerah dan RPJM Daerah. Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2005 tentang Pokok – Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah; Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2007 – 2012 Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Yakarta Nomor 956 Tahun 2008 tentang Struktur Program Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2007 - 2012

1.4 HUBUNGAN RENSTRA SKPD DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA Renstra Dinkes DKI Jakarta merupakan dokumen perencanaan 5 tahunan yang disusun berpedoman pada RPJMD, dan sebaliknya Renstra Dinas menjadi bahan masukan untuk RPJMD. Renstra Dinas ini merupakan acuan dan menjadi masukan dalam penyusunan rencana kerja (Renja) tahunan SKPD seperti yang tertera pada gambar berikut:

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

9

5. kebijakan. Dokumen Renstra SKPD yang telah ditetapkan kepala SKPD disampaikan ke Gubernur Provinsi DKI Jakarta melalui Bapeda Provinsi DKI Jakarta. Penyusunan Renstra SKPD melibatkan stakeholder sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD dan berkoordinasi dengan Bapeda/Bapeko /Bapekab. tujuan strategi. Penyempurnaan RENSTRA SKPD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 10 .RPJPD (20 Tahun) jadi pedoman RPJMD (5 Tahun) dijabarkan jadi pedoman menjadi masukan Renstra SKPD (5 Tahun) jadi pedoman jadi acuan RKPD (1 Tahun) menjadi masukan Renja SKPD (1 Tahun) 1. Subtansi utama memuat visi dan misi SKPD. 1.5 SISTEMATIKA PENULISAN 1.2 TAHAPAN PENYUSUNAN Penyusunan rancangan RENSTRA SKPD Acuan sementara yang digunakan adalah program indikatif tahun 2008. program.5. Renstra SKPD ditetapkan dengan peraturan kepala SKPD dengan persetujuan Gubernur. dilengkapi dengan kegiatan yang bersifat indikatif.1 PROSES PENYUSUNAN Setiap SKPD wajib menyusun Renstra dengan mengacu pada RPJMD Provinsi DKI Jakarta.

sasaran. landasan hukum.5. Program kegiatan disertai dengan tujuan. STRATEGI DAN KEBIJAKAN Berisi visi. Dalam melaksanakan sinkronisasi berkoordinasi dengan Bapeda. misi dan program yang ditetapkan ). sasaran dan indikator BAB V PROGRAM DAN KEGIATAN Menguraikan program kegiatan Dinkes DKI Jakarta 5 tahun ke depan yang mengacu pada program RPJMD Provinsi DKI Jakarta. program dan kegiatan. strategi. BAB VI PENYELENGGARAAN RENSTRA DAN PENILAIAN Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 11 . kebijakan. target pencapaian selama 5 tahun ke depan. tugas dan fungsi serta hal lainnya yang dianggap penting BAB III GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH Meliputi kondisi umum masa kini dan permasalahan dan Isu Strategis BAB IV VISI. tujuan. maksud dan tujuan. 1. Penyempurnaan/penyesuaian Renstra SKPD meliputi: visi.Rancangan Renstra disinkronkan dengan Perda tentang RPJMD (visi. susunan kepegawaian dan perlengkapannya.3 OUTLINE RENSTRA SKPD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta disusun dengan sistematika sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Berisi latar belakang penyusunan renstra. kegiatan-kegiatan untuk setiap bidang yang disertai dengan penanggung jawabnya. indikator sasaran. tujuan. strategi kebijakan. sasaran. misi. hubungan renstra dengan dokumen perencanaan lainnya serta sistematika penulisan BAB II TUGAS DAN FUNGSI SKPD Berisi struktur organisasi Dinkes DKI Jakarta. TUJUAN. MISI. misi.

Berisi tetntang bagimana penyelenggaraan Renstra yang dilaksanakan dan penilaian yang akan dilakukan terhadap indikator renstra yang ada BAB VII PENUTUP Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 12 .

10. Puskesmas Kelurahan. 3. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 13 . 13. Suku Dinas Kesehatan Masyarakat. Suku Dinas Pelayanan Kesehatan. 15. Subdinas Kesehatan Masyarakat. 18. Wakil Kepala Dinas. 8. 2. 11. Subdinas Pemasaran Sosial dan Informasi Kesehatan. Suku Dinas Kesehatan Kepulauan Seribu. 9. Subdinas Pelayanan Kesehatan. Subdinas Perencanaan dan Pembiayaan Kesehatan.BAB II TUGAS DAN FUNGSI SKPD 2. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan. yang terdiri dari : 1. 19. 5. 14. 17. Subdinas Kesehatan Gawat Darurat dan Bencana. 7. Puskesmas Kecamatan. 12.1 STRUKTUR ORGANISASI DINAS KESEHATAN Dinas Kesehatan dioperasionalkan dengan Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2001 tentang Bentuk Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Rumah Sakit Umum Daerah. Laboratorium Kesehatan Daerah. Kepala Dinas. Subdinas Sumber Daya Manusia Kesehatan. 6. Pelayanan Kesehatan Karyawan. 16. Bagian Tata Usaha. 4. Subdinas Manajemen Mutu Kesehatan.

KES SEKSI PENGGERAK-AN DAN PENGHARGAAN SEKSI PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL SEKSI SIAGA KESEHATAN SEKSI PENGEMBANG AN PRODUK KESEHATAN SEKSI PELATIHAN TENAGA KESEHATAN SEKSI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN MUTU SEKSI PELAYANAN FARMASI MAKANAN & MINUMAN SEKSI GIZI KOMUNITAS UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS SUKU DINAS KESEHATAN MASYARAKAT KOTAMADYA SUKU DINAS PELAYANAN KESEHATAN KOTAMADYA Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 67 . KEPALA DINAS KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SUBBAGIAN UMUM BAGIAN TATA USAHA SUBBAGIAN KEUANGAN SUBBAGIAN KEPEGAWAIAN SUBBAGIAN PERLENGKAPAN SUBDINAS PELAYANAN KESEHATAN SUBDINAS KESEHATAN MASYARAKAT SUBDINAS KESEHATAN GAWAT DARURAT DAN BENCANA SUBDINAS PEMASARAN SOSIAL & INFORMASI KESEHATAN SUBDINAS SDM KESEHATAN SUBDINAS PERENCANAAN PEMBIAYAAN KESEHATAN SUBDINAS MANAJEMEN MUTU KESEHATAN SEKSI SEKSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR SURVEILANS EPIDEMIOLOGI DASAR SEKSI PENYAKIT MENULAR SEKSI PENYAKIT TIDAK MENULAR SEKSI PENYEHATAN LINGKUNGAN & KESEHATAN KERJA SEKSI PENYIAPAN SEKSI PROMOSI KESEHATAN SEKSI PEMBINAAN PERANSERTA MASYARAKAT SEKSI PENDAYAGUNAAN & PENGENDALIAN NAKES SEKSI PEMBINAAN INSTITUSI PENDIDIKAN NAKES SEKSI PERENCANAAN PROGRAM SEKSI STANDAR MUTU SEKSI AKREDITASI & PENGUKURAN MUTU SEKSI PUSAT KESEHATAN MASYARAK AT SEKSI PELAYANAN KESEHATAN SPESIALISTIK SEKSI SATUAN TUGAS SEKSI PENGENDA-LIAN & PENILAIAN PROGRAM SEKSI KOMUNIKASI SEKSI PENGELOLAAN DATA SEKSI PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN KARIER SEKSI PEMBIYAAN KESEHATAN SEKSI JAMINAN PEMELIHA-RAAN KESMAS & AS.BAGAN SUSUNAN ORGANISASI DINAS KESEHATAN KEPALA DINAS WK.

BAGAN SUSUNAN ORGANISASI SUKU DINAS KESEHATAN MASYARAKAT KOTAMADYA SUKU DINAS KESEHATAN MASYARAKAT KOTAMADYA SUB BAGIAN TATA USAHA SEKSI PENDATAAN & PROGRAM SEKSI PENYAKIT MENULAR SEKSI PENYAKIT TIDAK MENULAR SEKSI PENYEHATAN LINGK. & KESEHATAN KERJA SEKSI GIZI & PEMBINAAN PERANSERTA MASYARAKAT SEKSI KESEHATAN JIWA MASYARAKAT DAN NAPZA PUSKESMAS KECAMATAN PUSKESMAS KELURAHAN Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 68 .

BAGAN SUSUNAN ORGANISASI SUKU DINAS PELAYANAN KESEHATAN SUKU DINAS PELAYANAN KESEHATAN KOTAMADYA SUB BAGIAN TATA USAHA SEKSI PENDATAAN & PROGRAM SEKSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR SEKSI PELAYANAN KESEHATAN SPESIALISTIK SEKSI PELAYANAN KESEHATAN TRADISIONAL SEKSI PELAYANAN FARMASI.2 SUSUNAN KEPEGAWAIAN DINAS KESEHATAN KOMPOSISI PEGAWAI Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta saat ini memiliki pegawai yang berjumlah 6512 personil. BENCANA & GAKIN 2. Distribusi pegawai per unit kerja dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini : Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 69 . yang tersebar di seluruh unit kerja organisasi kesehatan dengan berbagai tingkat pendidikan dan kompetensi. MAKANAN DAN MINUMAN SEKSI KESEHATAN GAWAT DARURAT.

S1 (dokter.00 Latar belakang pendidikan formal dari pegawai sangat bervariasi yaitu mulai dari pegawai yang memiliki pendidikan formal tingkat SLTP. Dokter Gigi Spesialis.Tabel 2.96 0.75 66.73 6.41 100. 2. 5. 4.30 14. radiology.76 0. 10 UNIT KERJA Dinas Kesehatan Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Suku Dinas Kesehatan Kepulauan Seribu Puskesmas Laboratorium Kesehatan Daerah Balai Kesehatan Karyawan Institusi Pendidikan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Departemen lain JUMLAH JUMLAH 294 243 430 49 4348 18 128 20 955 27 6512 % 4. SLTA/SMEA/SPK/SPRG.60 0. kesehatan lingkungan. bidan. sanitasi. Sarjana Ekonomi. 3. D3 (bidang keperawatan. Sarjana Kesehatan Masyarakat.. epidemiologi.1 Profil pegawai Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.66 0. Sarjana Hukum. 9. Asisten Apoteker). Magister Sience. 6. Komposisi tenaga pelayan kesehatan dapat dilihat pada Tabel 2 berikut: Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 70 . Magister Manajemen. Sarjana Pendidikan) dan S2 (Dokter Spesialis. 7.51 3. Sarjana Teknik.27 1. gizi. Magister Public Health. 8. dokter gigi. No 1. Magister Kesehatan) dan S3 (Doktor).

3 TUGAS DAN FUNGSI Sesuai dengan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta nomor 58 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang menetapkan.29 1. baik pelatihan dikelas. 4.55 9. Melalui keterbukaan yang dikembangkan maka reward sangat berarti bagi karyawan untuk meningkatkan motivasi kerjanya. 8.37 6.49 3. 2. yaitu internal proses dalam bentuk pembelajaran organisasi di tiap tingkatan.54 3. 9. Kesejahteraan karyawan Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta mendapat perhatian yang disesuaikan dengan kinerja. telah dilakukan berbagai upaya.54 15.71 4. 7. Upaya lain adalah dalam rangka pencapaian standarisasi tenaga Puskesmas sampai pada level D3 dilakukan pendidikan kelas khusus dan pengiriman pendidikan S1 dan S2 untuk public health. 6.83 8.87 25. 2. bahwa Dinas Kesehatan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 71 . 3. lapangan dan kalakarya dengan hasil yang diharapkan adalah adanya pola kerja sama di antara karyawan.42 17. 10 11 S2 / Doktor Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter gigi S1 Akper D3 Kesehatan Bidan/Perawat (SPK) Sarjana Kesehatan masyarakat SLTA ( Sejenis ) <SLTP JUMLAH PENDIDIKAN JUMLAH 214 89 445 556 252 1660 223 1143 621 1023 % 3.Tabel 2.39 286 6512 100.00 Dalam rangka peningkatan dan pemberdayaan SDM. 5.2 Komposisi Pegawai Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta No 1.

komunikasi dan menggerakan semua potensi masyarakat untuk menanggulangi bencana. pengendalian dan penilaian di bidang kesehatan masyarakat yang meliputi surveilans epidemiologi.pelatihan. Merumuskan kebijakan perencanaan program kesehatan dan pengalokasian biaya untuk program dan kegiatan Dinas Kesehatan 7. pelaksanaan. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 72 dan pengelolaan informasi .mempunyai tugas menyelenggarakan kegiatan dibidang kesehatan yang meliputi : 1. perlengkapan dan kerumahtangaan . membina institusi pendidikan tenaga kesehatan di provinsi DKI Jakarta. pengendalian dan penilaian peningkatan mutu pelayanan kesehatan. 3. Merumuskan kebijakan untuk merencanakan. 8. pelaksanaan. 6. Merumuskan kebijakan perencanaan. Untuk Menyelenggarakan tugas sebagaimana tersebut diatas maka Dinas Kesehatan mempunyai fungsi : 1. pelayanan kesehatan spesialistik. angka kredit pengendalian jabatan dan pengembangan SDM Kesehatan dan perencanaan kebutuhan . pengendalian dan penilaian pelayanan pemasaran sosial kesehatan. Kesehatan lingkungan. Merumuskan kebijakan perencanaan. Merumuskan pendayagunaan kebijakan . Merumuskan kebijakan perencanaan. menggerakan satuan tugas kesehatan bencana. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan. pelayanan farmasi. kepegawaian. pencegahan dan penanggulangan penyakit menular maupun penyakit tidak menular. penetapan fungsional. Melaksakan urusan umum . pendidikan . 5. pelaksanaan. penghargaan dan pemberian sangsi. kesehatan kerja dan gizi komunitas . 4. perencanaan. keuangan. mengendalikan dan menilai kesiapan penduduk untuk menghadapi bencana. pengembangan karier. pelayanan kesehatan tradisional. Merumuskan kebijakan perencanaan. makanan dan minuman 2. pelaksanaan pengendalian dan penilaian pelayanan kesehatan dasar termasuk Puskesmas.

11. 5. Pemberian ijin tertentu atau rekomendasi dan evaluasi di bidang kesehatan. Perencanaan. pengendalian dan pengembangan Jaringan Pelayanan Kesehatan yang berwawasan lingkungan. Perencanaan. 16. pengendalian dan pengembangan pelayanan kesehatan klinis. pengendalian dan pengembangan Sistem Manajemen Mutu Kesehatan. pengawasan. pengawasan. 12. Pemungutan retribusi dibidang kesehatan. pelayanan kesehatan bagi BAB III Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 73 . pengendalian dan pengembangan Pemasaran Sosial Kesehatan dan Isitem Informasi Kesehatan. pengendalian dan pengembangan pelayanan kesehatan Gawat Darurat dan Bencana. Perencanaan. pengawasan. Perencanaan.2. 14. Perencanaan. pengawasan. Pengelolaan dukungan teknis dan administratif. 10. pengendalian dan pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat. 6. Pemberian bantuan penyelenggaraan kesehatan. 13. Perencanaan. Pemeberian akreditasi jabatan fungsional tenaga kesehatan. pengawasan. Pembinaan teknis pelayanan kesehatan suku dinas. pengawasan. 15. pengawasan. 3. pengawasan. 9. Penyelenggaraan akreditasi dan standarisasi pada sarana pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta. 17. Perencanaan. pengendalian dan pengembangan Sumberdaya Manusia Kesehatan. 4. pengendalian dan pengembangan Sistem Perencanaan dan Pembiayaan Kesehatan. Penyediaan sarana dan prasarana masyarakat. Perencanaan. 8. 7.

90 142.1: Tabel 3.1 Luas Wilayah. Jakarta Selatan.11 1 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 74 .668 119 29. Jakarta Utara. Kelurahan.2 0 126. 106 ° 48’ Bujur Timur dan 7 m di atas permukaan laut.462 6.382 4.1.1 KONDISI UMUM DAERAH MASA KINI 3.52 km2. terletak pada 6 ° 12’ Lintang Selatan. Setiap Kotamadya atau Kabupaten terdiri atas beberapa Kecamatan dan setiap Kecamatan terdiri dari beberapa Kelurahan seperti dapat dilihat pada tabel 3. 52 Kec 8 6 8 10 10 2 44 Kel 44 31 56 65 65 6 267 RW 371 385 556 573 686 24 2.59 5 RT 4.7 3 11.117 6. Seribu Jumlah Luas 47.363 7.GAMBARAN UMUM KONDISI PROVINSI DKI JAKARTA 3. mempunyai luas 661.81 661. Jakarta Timur dan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu.1 ADMINISTRASI DAN GEOGRAFI Jakarta merupakan Ibukota Negara Indonesia. Sesuai dengan Keputusan Gubernur nomor 1986/200 tanggal 27 Juli 2000 pembagian wilayah Provinsi DKI Jakarta terdiri dari Kotamadya Jakarta Pusat.1 5 145. Jakarta Barat. Rukun Warga dan Rukun Tetangga Menurut Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 No 1 2 3 4 5 6 Kab/Kotamad ya Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kep. Jumlah Kecamatan.7 3 187.

906.027 *) 1. jumlah penduduk DKI Jakarta tahun 2006 mengalami penurunan menjadi 8.04 juta jiwa.385. 23% Jakarta Barat.285 2.3 juta jiwa.639 2005 861. 16% Jakarta Selatan. 0% Jakarta Pusat. 24% Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 75 .696 2.875 19.214 2.680 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta. Namun demikian berdasarkan data yang dikeluarkan BPS DKI Jakarta.362 8.3.130.023 8.9 juta jiwa. 27% Kepulauan Seribu.444.1.1 Komposisi Jumlah Penduduk DKI Jakarta Tahun 2006 Jakarta Timur.2 Jumlah Penduduk Menurut Kotamadya di DKI Jakarta Kotamadya / Kabupaten Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kepulauan seribu DKI Jakarta Jumlah Penduduk 2000 893.728 2.789.605 2006 891.446. *) Termasuk Kepulauan Seribu Grafik 3.232 1.778 1.322.413.531 1.452. Tabel 3.788 22.006 2.2 KEPENDUDUKAN Jumlah penduduk Jakarta terus mengalami peningkatan.393.198 1.385 1.112 9.684 2. dalam kurun waktu lima tahun jumlah ini meningkat mencapai 9.995.353. Pada tahun 2000 penduduk Jakarta sebesar 8. 10% Jakarta Utara.961.041.053.

831 784.301 430.455 385.000 400.478.59 60 .69 70 .001 Perempuan 369.2 Piramida Penduduk DKI Jakarta Tahun 2006 70 .283 73.258 72.54 40 .29 30 .242 617.74 60 .863 1.852 108.114 299.532 780.24 25 .025 135.557 345.269 372.64 50 .128 318.034.000 Laki-laki 0 200.315 370.933 1.339 42.685 338.483.4 600.778 313.34 35 .526 524.077 395.004 892.19 20 .777 108.841 538.335 658.961.49 50 .74 75+ TOTAL JUMLAH PENDUDUK Laki-laki 391.850 277.64 65 .680 Grafik 3.516 414.344 36.914 36.786 213.14 '1 .629 216.54 55 .012.679 LK+PR 760.34 20 .284 494.825 141.022 474.232 65.407 509.186 8.44 30 .000 Perempuan Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 76 .515 217.000 400.036 245.407 449.624 34.14 15 .963 77.44 45 .248 248.000 600.340 4.39 40 .3 Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Tahun 2006 KELOMPOK UMUR (TAHUN) <1 1-4 5-9 10 .Tabel 3.24 '10 .515 139.846 4.954 711.000 200.597 443.

46 -0.72 0.5 Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta Kotamadya Jakarta Pusat Jakarta Utara *) Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur DKI Jakarta 1980 .35 0.01 0.34 4.36 73.34 1.78 71.60 menjadi 73.58 75. berikut ini adalah data kepadatan penduduk DKI Jakarta lima tahun terakhir yang menunjukkan terjadinya peningkatan pada setiap tahunnya. ternyata Jakarta Barat menunjukkan pertumbuhan tertinggi dan Jakarta Pusat menunjukkan pertumbuhan terendah.961 juta jiwa dan luas sekitar 661. Tabel 3.90 64. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 77 .39 74.58 69.4 Estimasi Umur Harapan Hidup DKI Jakarta 1990 Laki-laki Perempuan Laki+Perempuan Nasional 1995 67. maka kepadatan penduduk Jakarta pada tahun 2006 mencapai sekitar 13 ribu jiwa per Km2.21 0.60 62. Tabel 3.97 1.39 3.03 2.Meningkatnya status kesehatan masyarakat dapat ditunjukkan oleh meningkatnya angka harapan hidup.25 2001 70.69 1.24 72.52 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta *) Termasuk Kepulauan Seribu Dengan penduduk sebanyak 8.90 73.35 3.54 2. UHH laki-laki sebesar 71.58 dan UHH perempuan sebesar 75.1990 -1.52 km2.92 3.53 pada tahun 2004.42 Laju Pertumbuhan Penduduk (%) 1990 .66 2000 69. Estimasi angka harapan hidup di DKI Jakarta meningkat setiap tahunnya mulai dari tahun 1990 sebesar 65.34 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta – Estimasi Parameter Demografi Jika diamati laju pertumbuhan penduduk selama periode 2000-2005 menurut Kotamadya.2005 -0.16 2000 .62 71.37 2004 71.55 0.2000 -2.36.53 65.

691 12.732 9. DKI Jakarta Tahun 2002.735 12.Bila ditinjau kepadatan penduduk menurut wilayah.874 10.267 12.617 10. sedangkan kepadatan penduduk terendah terdapat di Kabupaten Adm. Seribu Total Kepadatan Penduduk per km2 2002 17.253 15.547 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Grafik 2.426 11.157 1. Tabel 3.676 11.772 1.004 2004 18.497 12.000 0 2002 2003 2004 Jakarta Utara Jakarta Timur 2005 2006 Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Barat Kep.912 12. Kepulauan Seribu.408 13.000 8.616 13.616 13.092 12.000 10.197 18.750 1.000 6.353 9.198 12.6 Kepadatan Penduduk Menurut Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta Kotamadya Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kep.190 2005 17. maka Jakarta Pusat memiliki kepadatan penduduk terpadat mencapai sekitar 18 ribu jiwa per Km2 diikuti oleh Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.000 14.746 8.394 15.2006 20.965 1.858 1.2: Grafik Kepadatan Penduduk Menurut Kotamadya di Prov.000 12.872 13.691 2003 18. Seribu Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 78 .000 16.000 4.126 12.213 16.639 13.890 14.000 18.000 2.668 2006 18.

76 5.31 2.99 0.59 1.53 Persentase partisipasi sekolah tahun 2004 98. Pendidikan Persentase penduduk usia diatas 10 tahun yang buta huruf mengalami penurunan.53 3. Bila dirinci menurut wilayah maka persentase buta huruf tertinggi di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu.10 2.56 %.33 1.48 1.34 1.63 70.53 % sedangkan pada tahun 2004 persentase buta huruf 1.33 2. 13-15 tahun dan 16-18 masingmasing meningkat.19 0.33 3.78 2.36 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 79 .44 1.58 1. Tabel 3.01 2.7: Angka Buta Huruf Menurut Kotamadya di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2001 dan 2004 Kotamadya Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kab Kep Seribu Total Tahun 2001 2.81 2.40 92.97 1. Pada tahun 2001 persentase buta huruf 2.53 Angka Buta Huruf Penduduk 10 Tahun keatas Tahun 2004 Laki-laki Perempuan L+P 0.83 1.3 SOSIAL EKONOMI A.86 1. Partisipasi usia 7-12 tahun.8: Tingkat Partisipasi Sekolah Anak 2001 dan 2004 Usia 7-12 tahun 13-15 tahun 16-18 tahun Persentase partisipasi sekolah tahun 2001 98.76 1.12 2.69 66. Tabel 3.3.28 2.00 0.56 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Tingkat partisipasi sekolah selama kurun waktu 2001-2004 mengalami peningkatan.10 0.03 88.1.

9: Pendapatan Perkapita DKI Jakarta Indikator Pendapatan perkapita (juta) 2001 31.Distribusi Pendapatan dan Gini Ratio Bank Dunia menggolongkan penduduk menjadi tiga kelas yaitu 40% penduduk berpendapatan rendah. yang kemudian naik kembali menjadi 43. Pendapatan perkapita penduduk Jakarta pada tahun 2001 sebesar 31. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 80 . **) Angka Sementara a .B.12 2002 35.81%. berikut ini merupakan data lima tahun terakhir pendapatan per kapita penduduk DKI Jakarta atas dasar harga berlaku.92 juta pada tahun 2004 dan 2005 berturut-turut. Ketimpangan pendapatan penduduk melalui Gini Ratio selama periode 1990-2004 memperlihatkan kesenjangan yang membesar dari 0.33 juta dan 49.90 juta pada tahun 2003.18%. Data terakhir BPS Provinsi DKI Jakarta menunjukkan pendapatan yang diterima kelompok pendapatan rendah pada tahun 2004 sekitar 20.12 juta meningkat menjadi 35. Kondisi ini lebih buruk bila dibandingkan kondisi tahun 1990.17 juta pada tahun 2002 dan 38. Lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut. Tabel 3.92 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta *) Angka Perbaikan. sedang pendapatan yang diterima kelompok pendapatan tinggi 45.305 tahun 1990 menjadi 0.90 2004 *) 43.17 2003 38.363 tahun 2004. Pendapatan Pendapatan perkapita penduduk DKI Jakarta terus mengalami peningkatan selama periode tahun 2001-2005.33 2005 **) 49. 40% pendududuk berpendapatan sedang dan 20% penduduk berpendapatan tinggi.

Pola Pengeluaran Pada negara-negara berkembang seperti Indonesia.Tabel 3.47 2004 40.82 37. Pada tahun 2004 pola pengeluaran perkapita masyarakat DKI Jakarta adalah 40.81 56.84 51.311 0.56 21. pengeluaran untuk konsumsi makanan masih relatif besar (mendekati 50%) dari total pengeluaran rumah tangga.11: Distribusi Persentase Pengeluaran Rata-Rata Perkapita Sebulan Indikator Pengeluaran makanan Pengeluaran nonmakanan 1990 43.000 gram.62 50.305 0. Tabel 3. masih di bawah standart sebesar 2.81 Gini Ratio 0.89 20. Data terakhir pada tahun 2002 menunjukkan konsumsi kalori perkapita sehari penduduk DKI Jakarta sebesar 1.18 40% Pendapatan Sedang 36.10: Distribusi Pendapatan dan Gini Ratio Provinsi DKI Jakarta 1990-2004 Kelompok Penduduk Tahun 40% Pendapatan Rendah 22.16 2001 49.08 45.987 gram.99 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 81 .363 1990 2001 2004 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta b.01% untuk makanan dan 59. sudah lebih besar dari standart sebesar 45 gram.99% untuk non makanan.03 34.38 2002 40. dan konsumsi protein perkapita sehari sebesar 59 gram.81 20% Pendapatan Tinggi 40.62 41.53 59.01 59.19 2000 48.

212 370. Estimasi angka harapan hidup di DKI Jakarta setiap tahunnya meningkat. Kemiskinan Jumlah Rumah tangga miskin pada periode 2002-2005 mengalami peningkatan dari 83 ribu jiwa pada tahun 2002 menjadi 150 ribu jiwa pada tahun 1995.328 122.492 91.4 KONDISI KESEHATAN A.468 80.12: Jumlah Rumah Tangga Miskin dan Banyaknya Anggota Rumah Tangga Kotamadya Jakarta Pusat Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kepulauan Seribu Jumlah/Total Jumlah/Total 2004 Jumlah/Total 2003 Jumlah/Total 2002 2005 KK Anggota Prasejaht Rumah era Tangga 21.c.961 83.959 29.042 150. terlihat bahwa AHH pada perempuan selalu lebih tinggi disbanding AHH laki-laki dari tahun ke tahun. Diamati menurut jenis kelamin.702 291. angka ini meningkat menjadi 72 tahun pada tahun 2001 dan meningkat lagi menjadi usia 74 tahun pada tahun 2005.968 89. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 82 . Tabel 3.714 11.324 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta 3. pada tahun 1990 angka harapan hidup (AHH) penduduk DKI Jakarta mencapai usia 65 tahun. demikian pula dengan banyaknya anggota rumah-tangga miskin meningkat dari 291 ribu jiwa pada tahun 2006.021 1.738 163.898 314.1.514 48.049 3.254 205.169 38. UMUR HARAPAN HIDUP Meningkatnya status kesehatan masyarakat dapat ditunjukkan oleh meningkatnya angka harapan hidup.162 48.835 633.

70. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 83 .000 kelahiran Provinsi DKI Jakarta dari tahun ketahun. AHH perempuan mencapai usia 76 tahun sedangkan AHH laki-laki hanya hingga usia 71 tahun.7 76.9 73. Grafik 3.39 74. Berikut grafik estimasi kematian bayi per-1.5 74 Laki+ Perempuan Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta – Estimasi Parameter Demografi B.6 Laki-laki 1995 67.78 71.000 Kelahiran Hidup Angka kematian bayi di DKI Jakarta dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan.58 69.Data terakhir pada tahun 2005.62 71.4: Estimasi Umur Harapan Hidup DKI Jakarta 78 76 74 72 70 68 66 64 62 60 Laki-laki Perempuan Laki+ Perempuan 1990 65.000 kelahiran pada tahun 2006 sebesar 13.66 2000 69.37 2005 71. Angka Kematian Bayi per-1. Hal ini menunjukkan bahwa kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat telah mengalami kemajuan yang cukup berarti diiringi dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat DKI Jakarta.9 Perempuan 2001 70.24 72. MORTALITAS a. Data terakhir BPS Provinsi DKI Jakarta menunjukkan estimasi kematian bayi per-1.

angka kematian bayi per-1000 kelahiran hidup (yang dilaporkan) sebesar 1. b.2 dengan jumlah bayi meninggal sebanyak 176 bayi dari jumlah kelahiran bayi sebanyak 148. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 84 .000 Kelahiran Hidup Untuk kelompok balita. Angka Kematian Balita per-1.30 pada tahun 2001 menjadi 19.5: Estimasi Kematian Bayi per-1.000 kelahiran dalam kurun waktu 1990-2004 mengalami penurunan. yakni 24.70 Laki+Perempuan Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta – Estimasi Parameter Demografi Berdasarkan tabel Profil Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2006.Grafik 3.000 Kelahiran 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1990 1995 2000 2001 2002 2004 2005 2006 30 22 21 19 40 17 14. data dari tahun 1990 hingga 2006 menunjukkan tren yang sama dengan angka kematian bayi.78 pada tahun 2004.20 13.393. Data terakhir BPS Provinsi DKI Jakarta menunjukkan estimasi kematian balita per 1.

7.728 balita.78 Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta – Estimasi Parameter Demografi *) tahun 1995: tidak ada data Data Profil Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 menunjukkan.3 26.3 19.Grafik 3.3 24.6 : Estimasi Kematian Balita per-1.000 Kelahiran DKI Jakarta 30 25 20 15 10 5 0 1990 1995 1990 1995 2000 2000 2001 2001 2004 2004 24. Dengan demikian angka kematian balita per-1000 kelahiran pada tahun 2006 sebesar 0. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 85 . jumlah balita yang meninggal di lima wilayah provinsi DKI Jakarta (yang dilaporkan) sebanyak 108 balita dari jumlah balita yang ada sebanyak 810.

SERIBU JUMLAH PROVINSI ANGKA KEMATIAN (DILAPORKAN) JUMLAH BALITA MATI 30 1 Tidak Ada Data 77 108 1 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Grafik 3.759 141.604 3 JAKARTA BARAT 28.187207836 1 JAKARTA PUSAT 2 JAKARTA UTARA 3 JAKARTA BARAT 4 JAKARTA SELATAN 5 JAKARTA TIMUR 6 KAB.Tabel 3.13: Jumlah Kelahiran Dan Kematian Bayi Dan Balita Menurut Kotamadya JUMLAH LAHIR HIDUP 1 JAKARTA PUSAT 23.765 185. Seribu 34 29 18 30 86 77 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Keterangan: Angka Kematian (dilaporkan) tersebut di atas belum bisa menggambarkan AKB/AKABA yang sebenarnya di populasi.433 147.312 5 JAKARTA TIMUR 30.728 LAHIR MATI 28 38 11 49 20 146 JUMLAH BAYI MATI 34 29 9 18 86 0 176 1.727 181.044 810.762 2 JAKARTA UTARA 26.7: Jumlah Kematian Bayi dan Balita Prov. DKI Jakarta tahun 2006 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 9 0 Jml Bayi Mati Jakarta Pusat Jakarta Selatan Jakarta Utara Jakarta Timur 1 Jml Balita Mati Jakarta Barat Kep.754 4 JAKARTA SELATAN 38.815 6 KAB. KEP. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 86 .247 ANGKA KEMATIAN (DILAPORKAN) NO KOTAMADYA NO KOTAMADYA JUMLAH BALITA 154. KEP. SERIBU JUMLAH PROVINSI 148.

8: Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA+ Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 25000 20000 15000 10000 5000 0 Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Jakarta Pusat Utara Barat Selatan Tim ur 9004 713 8384 7086 4593 1389 2538 1453 1307 3909 2252 89 22798 2030 1013 Kep.593 kasus.C. Grafik 3. dari angka tersebut 12.062 diantaranya adalah penderita TB Paru Positif. Seribu 110 21 0 Klinis Positif (+) Sem buh Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 b.030 kasus. Jakarta Timur merupakan penyumbang angka terbanyak yakni sebesar 22.000 Penduduk Jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah provinsi DKI Jakarta sebanyak 59. menduduki peringkat ketiga setelah Jakarta Utara dan Jakarta Selatan. dengan demikian Angka Kesakitan DBD perRenstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 87 . Kep.798 kasus klinis. Seribu yakni 110 penderita klinis dengan 21 penderita TB Paru berstatus positif. diikuti oleh Jakarta Selatan sebesar 2.182 penderita dinyatakan sembuh. Penderita TB Paru Positif terbanyak terdapat di wilayah Jakarta Utara sebesar 4. MORBIDITAS Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA+ Jumlah penderita TB Paru (klinis) di Provinsi DKI Jakarta tahun 2006 sebesar 45. Jumlah penderita TB Paru terendah yang terdata pada Profil Kesehatan 2006 terdapat di Kabupaten Adm.429 kasus. namun demikian jumlah penderita TB Paru berstatus positif di wilayah ini hanya sebesar 2.445 kasus dimana 11.252 kasus.Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per-100.

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 88 .000 penduduk di Provinsi DKI Jakarta sebesar 0.15. Seribu Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 c. total jumlah penderita malaria tahun 2006 di Provinsi DKI Jakarta sebesar 689 penderita.08. Dengan demikan angka kesakitan Malaria per-1.192 kasus diikuti oleh Jakarta Utara sebanyak 18. Seribu 0 13097 18753 20192 Kasus Grafik 3.9 : Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 25000 20000 15000 10000 5000 0 Jakarta Pusat 13097 Jakarta Utara 18753 4717 2670 0 Jakarta Jakarta Jakarta Barat Selatan Timur 2670 20192 4717 Kep.10: Persentase Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 8% 0% 22% Jakarta Pusat Jakarta Utara 34% 4% 32% Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kep.000 penduduk di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2006 sebesar 663. Angka Kesakitan Malaria per-1.321 kasus. Grafik 3.100. Dari data tersebut diatas diketahui jumlah penderita terbanyak berada di wilayah Jakarta Selatan dengan 20. 552 diantaranya positif.000 Penduduk Berdasarkan data Profil Kesehatan yang berhasil dikumpulkan.

Jakarta Utara hanya melaporkan jumlah penderita dengan status klinis sebanyak 69. Seribu 0 1 Klinis Positif (+) Klinis Positif (+) Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 89 . Grafik3.11: Angka Kesakitan Malaria Provinsi DKI Jakarta tahun 2005 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 Jakarta Pusat 482 434 Jakarta Utara 69 0 Jakarta Barat 0 43 Jakarta Selatan 138 74 Jakarta Timur 0 0 Kep.Dari wilayah yang ada. yakni Jakarta Pusat dengan 434 kasus positif dari 482 kasus klinis serta Jakarta Selatan dengan 74 kasus positif dari 138 kasus klinis. dan Jakarta Barat hanya melaporkan penderita dengan status positifnya sebanyak 43. hanya dua wilayah yang melaporkan datanya secara lengkap.

Seribu 30% Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 90 . Dalam rangka menanggulangi masalah gizi buruk dan gizi kurang pada balita identifikasi maupun intervensi yang dilaksanakan oleh puskesmas. sehingga dapat diketahui bila ada kelainan pada balita. STATUS GIZI a.12 : Persentase Balita dengan Gizi Buruk Provinsi DKI Jakarta 16% 0% 15% Jakarta Pusat Jakarta Utara 19% 20% Jakarta Barat Jakarta Selatan Jakarta Timur Kep. Dengan melihat perkembangan status gizi balita.954 balita berada dibawah garis merah (BGM) dengan kata lain menderita gizi buruk. persentase balita dengan gizi buruk pada tahun 2006 sebesar 1. Persentase balita dengan gizi buruk pada tahun 2006 menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang sempat meningkat. Data yang didapat dari wilayah di provinsi DKI Jakarta menunjukkan dari sekitar 371. Grafik 3.. sebanyak 4. Salah satu upaya perbaikan gizi masyarakat adalah pemantauan status gizi balita.33%.112 balita yang ditimbang.D. Kegiatan pemantauan perkembangan status gizi balita dilaksanakan melalui penimbangan setiap bulan pada balita di posyandu. dilakukan berbagai Persentase Balita dengan Gizi Buruk upaya melalui pemantauan pertumbuhan balita. dapat diketahui perkembangan dan pertumbuhan anak. Dengan angka tersebut diatas.

33% sedangkan total persentase balita dengan gizi kurang atau dibawah garis titik (BGT) sebesar 0.727 181.003 58.6 1.603 137.5 1 0.525 67.5 % Jumlah 2 1.5 0 1999 2000 2004 Tahun 2005 2006 2.2006 Dari hasil penimbangan balita di posyandu tahun 2006 menunjukkan total persentase balita dengan status gizi buruk atau dibawah garis merah (BGM) di DKI Jakarta sebesar 1.00 1.13 : Persentase Balita dengan Gizi Buruk Provinsi DKI Jakarta Tahun 1999 – 2006 4 3.68 2.85 0.9 1.54 1.112 BGM (%) 2.62 0.68%).433 147. Persentase balita dengan gizi buruk tertinggi ada wilayah Jakarta Pusat (2.765 185.31 0.Grafik 3. Tabel3.526 80.83 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 91 .8 2.14: Persentase Balita dengan Gizi Buruk (BGM) dan Gizi Kurang (BGT) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP.00 0.33 BGT (%) 0.83%.25 1.00 0.455 0 371. DKI Jakarta telah mememenuhi target nasional yaitu dibawah 8%.33 3.5 3 2.62%) dan terendah di wilayah Jakarta Utara (0.8 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 1999 .759 141.00 4.00 0. Berdasarkan data profil kesehatan 2006 tersebut diatas maka persentase balita di bawah garis merah (BGM) di Prov.21 0.044 0 810.728 DITIMBANG 27. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) JUMLAH BALITA 154.

KEADAAN LINGKUNGAN a.400 0 15.44 91. Selain ketiga wilayah tersebut diatas.191 TAD 148.060 0 153.552 rumah atau sekitar 35% yang memenuhi syarat kesehatan. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) JUMLAH DIPERIKSA 4. berikut tabel persentase rumah sehat: Tabel3.15: Persentase Rumah Sehat Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP.25 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 92 . semakin luas rumah yang dihuni maka semakin luas ruang gerak penghuninya.466 RUMAH JUMLAH SEHAT 1.27 0. di Jakarta Barat dari 15.875 rumah yang diperiksa terdapat 145.00 46.E.552 0 7. menunjukkan di Jakarta Pusat dari 4.80 97. Luas lantai bangunan tempat tinggal menjadi salah satu indikator perumahan sehat. tidak terdapat data yang lengkap. Persentase Rumah Sehat Rumah yang nyaman adalah rumah yang relatif luas sehingga penghuninya tidak merasa berdesakan.400 rumah yang diperiksa hanya 1.722 % SEHAT 35.191 rumah yang diperiksa hanya 7.875 0 168. Hasil pemantauan petugas kesehatan lingkungan pada tahun 2006.060 rumah atau sekitar 97% memenuhi syarat kesehatan.110 TAD 145.110 rumah atau sekitar 46% yang memenuhi syarat kesehatan sedangkan di Jakarta Timur dari 148.

Hotel Dari sejumlah hotel yang ada di DKI Jakarta. melebihi target nasional sebesar 45%. Data tersebut dihimpun dari lima wilayah DKI Jakarta kecuali Jakarta Selatan (tidak melaporkan datanya). 2. melebihi target nasional sebesar 45%. Dari hasil pemeriksaan tersebut terdapat 76 atau sekitar 69% hotel masuk kedalam kategori sehat.01 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 93 .18 64.67 86.131 JUMLAH SEHAT 5 76 444 17 187 724 % SEHAT 6 69. terdapat 187 atau sekitar 86% TUPM lainnya yang dinyatakan sehat di DKI Jakarta. 3. 4. Persentase Tempat-tempat Umum Sehat Di Provinsi DKI Jakarta ada beberapa tempat-tempat umum yang dipantau kesehatannya antara lain: 1.b. Tabel3.09 60. Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) lainnya Dari 217 tempat umum dan pengelolaan makanan (TUPM) lainnya yang diperiksa.16: Persentase Tempat-tempat Umum Sehat Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 TUPM Hotel Restoran/R-Makan Pasar TUPM Lainnya Jumlah TUPM JUMLAH DIPERIKSA 4 110 729 75 217 1. telah diperiksa sebanyak 110 hotel.91 22. Restoran atau Rumah Makan Dari 729 restoran atau rumah makan yang diperiksa terdapat 444 atau sekitar 61% rumah makan yang tergolong sehat. Pasar Dari hasil pemeriksaan 75 pasar di DKI Jakarta diketahui hanya terdapat 17 pasar atau sekitar 23% yang dinyatakan sehat.

79 15.Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Salah satu indikator keberhasilan upaya kesehatan adalah dengan melihat apakah masyarakat telah melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. berapa banyak sekolah yang bebas Napza. Data Profil Kesehatan tahun 2006 menunjukkan dari 72. hanya empat wilayah yang melaporkan datanya (Jakarta Utara dan Kep.931 rumah tangga yang dipantau terdapat 11.539 atau sekitar 16% rumah tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). berapa banyak masyarakat mendirikan Posyandu Purnama. berapa banyak masyarakat memanfaatkan sarana kesehatan dan berapa banyak masyarakat terlindung asuransi kesehatan.79 34.090 0 64. berapa banyak masyarakat tidak merokok. Seribu tidak ada data).220 4. Tabel3.17: Persentase Rumah Tangga Ber-PHBS Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 RUMAH TANGGA NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP.F.82 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 94 .373 3. PHBS dapat dinilai dengan berapa banyak kelurahan yang masyarakatnya melaksanakan PHBS.818 1.028 3.250 0 11.539 % 8. Dari lima wilayah dan satu kabupaten administrasi di wilayah DKI Jakarta.99 0. PERILAKU HIDUP MASYARAKAT a.593 0 72.00 94.931 BER PHBS 98 0 6. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) JUMLAH DIPANTAU 1.

penanganan diare. Posyandu Pratama 504 (12. Grafik 3.56%). Jumlah posyandu aktif yang ada di lima wilayah Kota administrasi dan satu Kabupaten Administrasi di DKI Jakarta pada tahun 2006 seluruhnya 3.b. Posyandu Purnama 1. Pelaksanaan kegiatan posyandu dilaksanakan 1 kali dalam sebulan dengan sistem 5 meja dengan 4 meja dikelola oleh kader dan 1 meja (meja kelima) merupakan pelayanan kesehatan yang ditangani oleh perugas puskesmas atau tenaga kesehatan.77%).185 (29.94) serta Posyandu Mandiri 418 (10. Jumlah persentase posyandu purnama dan posyandu mandiri sebesar 40. KM dan KB. melebihi target nasional sebesar 25%.Persentase Posyandu Purnama & Mandiri Jenis UKBM (Usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat) yang paling memasyarakat adalah posyandu dengan kegiatan 5 program prioritasnya yaitu perbaikan gizi.14: Persentase Posyandu Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 30% 46% Pratama Madya Purnama 11% 13% Mandiri Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 95 .851 (46. Imunisasi.73%). Posyandu Madya 1.50%. Posyandu tersebut dibagi menjadi 4 strata yang masing-masing berjumlah.958 posyandu.

133.251. DKI Jakarta tahun 2006 sebesar 68.036 1.080 1.G. Seribu sebesar 3.116 kunjungan rawat inap dan 6.714 1. Jumlah kunjungan puskesmas di DKI Jakarta pada tahun 2006 sebanyak 6.396 kunjungan rawat jalan.512 68.610 97.429 1.710 699. SERIBU KUNJUNGAN PUSKESMAS Rawat Inap Rawat Jalan Jumlah 2.211.157. AKSES & MUTU PELAYANAN KESEHATAN a.080 kunjungan dan terendah di wilayah Kep.941 kunjungan.157.059 11.366 1. Wilayah dengan jumlah kunjungan puskesmas terbanyak ada di wilayah Jakarta Selatan sebesar 1. terdiri dari 97.254 1.968 3.233 701.680 jiwa (BPS Prov.630 1.71 JUMLAH (PROVINSI) PERSENTASE PDDK MEMANFAATKAN PUSKESMAS Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 96 . Dengan demikian persentase penduduk memanfaatkan puskesmas di Prov.71% lebih rendah dari tahun sebelumnya yakni 84.19 : Persentase Penduduk Memanfaatkan Puskesmas Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KAB ADM KEP. DKI Jakarta).060.610 3.610 kunjungan diikuti wilayah Jakarta Pusat sebesar 701.784.189.250.69%.795.060. Persentase Penduduk Memanfaatkan Puskesmas Penduduk Jakarta pada tahun 2006 berjumlah 8. Tabel 3.795.486 1.512 kunjungan.961.044 1.193.852 0 3.116 6.943 78.396 6.

Persentase Penduduk Memanfaatkan Rumah Sakit Jumlah kunjungan rumah sakit di DKI Jakarta pada tahun 2006 sebanyak 5. Jakarta Timur dan Kep.693 kunjungan rawat inap dan 5.35%.2006 *) tahun 2002 & 2003: jakarta timur tidak melaporkan datanya b. Seribu tidak melaporkan datanya. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 97 .522. terdiri dari 439.270 kunjungan rawat jalan.179 kunjungan dan terendah di wilayah Jakarta Barat sebesar 831. DKI Jakarta tahun 2006 sebesar 52.963 kunjungan.627 kunjungan. Dengan demikian persentase penduduk memanfaatkan RS di Prov. Wilayah dengan jumlah kunjungan rumah sakit terbanyak ada di wilayah Jakarta Selatan sebesar 1.083.767.Grafik 3.15: Jumlah Kunjungan Puskesmas Provinsi DKI Jakarta Tahun 2002-2006 9000000 8000000 7000000 6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0 2002 2003 2004 Tahun Rawat Inap Rawat Jalan Total 2005 2006 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 1999 .

SERIBU JUMLAH (PROVINSI) PERSENTASE PDDK MEMANFAATKAN RS KUNJUNGAN RUMAH SAKIT Rawat Inap Rawat Jalan Jumlah 38.308 59.16: Jumlah Kunjungan Rumah Sakit Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 Kep.152 1.482.Tabel 3.295.623 772.402.258 1. Seribu 0 Jakarta Timur 0 Jakarta Selatan 1533027 234152 Jakarta Barat 772004 59623 Jakarta Utara 1295258 107050 Jakarta Pusat 0 1482981 38868 2E+05 4E+05 6E+05 8E+05 1E+06 1E+06 1E+06 2E+06 2E+06 2E+06 Rawat Jalan Rawat Inap Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 98 .270 4.849 107.179 0 0 0 0 0 439.691.004 234.083.868 1.050 1.533.521.35 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Grafik3.767.693 5.027 1.981 1.19: Persentase Penduduk Memanfaatkan Rumah Sakit Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KAB ADM KEP.336 52.

98 Jakarta Barat 36922 28198 76. Persentase tertinggi persalinan oleh tenaga kesehatan ada di wilayah Jakarta Pusat sebesar 100%.63% telah melampaui target nasional sebesar 77%. Oleh Nakes Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 99 . dan terendah ada di wilayah Jakarta Barat sebesar 76.22 Kep.Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Total jumlah persalinan di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2006 sebanyak 192. PELAYANAN KESEHATAN a.479 persalinan.93 Jml Persalinan Persalinan oleh Nakes % Pers.98 Jakarta Timur 34335 29605 86.H.37%. Seribu 374 370 98. 170. dengan demikian persentase persalinan oleh tenaga kesehatan di DKI Jakarta sebesar 88.37 Jakarta Selatan 46732 38312 81.593 persalinan diantaranya dilakukan oleh tenaga kesehatan. Grafik 3.17: Persentase Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 50000 45000 40000 35000 30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 Jakarta Pusat 35832 35832 100 Jakarta Utara 38284 38276 99. Oleh Nakes Jml Persalinan Persalinan oleh Nakes % Pers.

Jumlah kelurahan yang terkena KLB pada masing-masing wilayah diantaranya Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan sebanyak 4 desa.82 38.131 bumil. SERIBU J UMLAH PROVINSI Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 c.92 67.79 96. d. Jakarta Utara menurut laporan tidak terdapat KLB sedangkan Kep.b. Seribu tidak melaporkan datanya. Persentase tersebut belum mencapai target nasional sebesar 86%.74 0. Kab. dan terendah ada di wilayah Jakarta Utara sebesar 38. Persentase tertinggi Desa yang mencapai UCI ada di wilayah Jakarta Selatan sebesar 96.00 70. Jakarta Barat dan Jakarta Timur sebanyak 3 Desa.08 1 J AKARTA PUSAT 2 J AKARTA UTARA 3 J AKARTA BARAT 4 J AKARTA SELATAN 5 J AKARTA TIMUR 6 KEP. Tabel 3. lebih besar dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 64%. Persentase Desa yang mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) Persentase kelurahan yang mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2006 sebesar 70%. persentase desa yang terkena Kejadian Luar Biasa (KLB) dan ditangani kurang dari 24 jam seluruhnya sebesar 100%. Jumlah ibu hamil yang mendapat tablet Fe1 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 100 . Kepulauan Seribu tidak melaporkan datanya.92%.71%.20: Persentase Desa yang mencapai “Universal Child Immunization” (UCI) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO KOTAMADYA J UMLAH DESA/KEL 44 31 56 65 62 6 264 DESA/KEL UCI % DESA/KEL UCI 25 12 43 63 42 0 185 56. Persentase Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Fe Total jumlah ibu hamil yang berhasil terdata di seluruh wilayah DKI Jakarta sebanyak 400.71 76. Persentase Desa Terkena Kejadian Luar Biasa (KLB) Yang Ditangani Kurang Dari 24 Jam Dari empat wilayah yang melaporkan datanya.

Angka ini belum mencapai target nasional sebesar 40%.131 Fe1 JML 12.220 10. Kabupaten Administrasi Kep.951 41.728 23.872 0 144.53 35.sebanyak 144.95 66.04 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 I .109 125.049 46.990 46.729 0 141.146 bayi yang ada.194 % 8. sedangkan ibu hamil yang mendapatkan tablet Fe3 sebanyak 141.123 28.58 76. Tabel 3.22: Persentase Bayi Yang Mendapat Asi Eksklusif Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KAB ADM KEP.52 143.984 bumil atau sekitar 36%.51 69.28 62.112 % 24.984 % 13.21: Persentase Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Fe Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP.31 36.203 0 400.64 61.Persentase Bayi Yang Mendapat Asi Eksklusif Jumlah bayi yang mendapat ASI eksklusif di DKI Jakarta pada tahun 2006 sebanyak 90. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) JUMLAH BAYI 21.55 72.264 7.230 13.620 35.961 JUMLAH BAYI YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF JML 5.85 42.44 61.14 10.29 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006 d.274 36.106 118.752 163.158 36.72 9.131 67.450 44.123 12.SUMBER DAYA KESEHATAN Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 101 .23 Fe3 JML 8.582 47.311 41. SERIBU JUMLAH (PROVINSI) JUMLAH IBU HAMIL 93.17 20. Seribu tidak melaporkan datanya.902 28.399 67.194 bumil atau sekitar 35%.463 bayi atau sekitar 36% dari 252. Tabel 3.08 78.106 67.

463 64. PUSTU dan POLINDES 1.45 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2006.02 3.336 tenaga kesehatan.51 0.Pada tahun 2006 total tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh unit kerja Provinsi DKI Jakarta dan terdata pada Profil Kesehatan 2006 sebanyak 19.97 INSTITUSI SARANA DINKES TOTAL DIKLAT/ KES. LAIN KAB/KOTA NAKES DIKNAKES 328 250 5.525 21.87 907 4.29 59 10. Perawat dan Bidan.88 63 4.21 135 19.488 67.13 152 29.98 100 328 30 519 63. persebaran tenaga kesehatan terdapat di Puskesmas.87 100 2 328 539 9.40 5.134 6. Gizi.73 156 28.68 100 328 27 679 48. Institusi Diklat.63 3.98 100 328 15 1.739 69.668 18.336 100 UNIT KERJA/ NAKES MEDIS PERAWAT & BIDAN FARMASI GIZI TEKNISI MEDIS SANITASI KESMAS TOTAL UNIT KERJA % JML % JML % JML % JML % JML % JML % JML % RUMAH SAKIT 3.78 763 60.20 5. Sarana Kesehatan lainnya serta di Dinas Kesehatan. Teknisi Medis.068 20.94 6.01 2.39 4.84 1. Seperti yang terlihat dalam tabel dibawah ini.296 11. dan Kesmas.10 2.38 9 1.22 142 11.23: Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 PUSKESMAS.31 3.049 21.16 100 2 0.89 2.69 19.78 100 328 12 555 59.11 12. Sedangkan Tenaga Kesehatannya sendiri meliputi Tenaga Medis.80 2.22 189 27.58 100 328 34 1. Rumah Sakit.657 0.267 25. Pendataan Puskesmas Tahun 2006 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 102 . Tabel 3.119 73.

APK. D ik la t S a rk esLa in D ink esK odya 64% Grafik 3. Dokter Gigi. Asisten Apoteker : Lulusan DI.18 : Persentase Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 5% 12% 0% 19% Pus k es m a s R uma hS a k it Ins t. DIII Gizi (SPAG dan AKZI) dan DIV : Analis. dan DIII Kesehatan Lingkungan : SKM.Grafik 3. Dr/Drg Spesialis : termasuk lulusan DIII dan S1 : Apoteker.19: Persentase Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Jenis Tenaga KesehatanProvinsi DKI Jakarta Tahun 2006 4% 7% 8% 3% 3% 26% 49% Medis G izi K es m a s P era wa t &B ida n T ek . TEM dan Penata Rontgen. MPH. dll Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 103 . Penata Anestesi. Fisioterapi : Lulusan SPPH. Medis F a rm a s i S a nita s i Keterangan: Medis Perawat & bidan Farmasi Gizi Teknisi Medis Sanitasi Kesmas : Dokter.

kelas C 1 orang dan kelas D tidak memerlukan tenaga ahli.35 0.Rasio Dokter Ahli dan Rumah Sakit Dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan serta makin bervariasinya jenis penyakit maka kebutuhan akan dokter spesialis juga meningkat.10: Rasio Dokter-Puskesmas Provinsi DKI Jakarta Tahun 2005 NO.40.53 2.62 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 104 . sedangkan rasio nasional 1. b. dokter umum 350 dan dokter gigi 486. 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA / KAB JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP SERIBU RATA-RATA JAKARTA DOKTER 145 118 164 247 207 3 884 PUSKESMAS 41 48 74 80 88 6 337 RASIO 3. Jumlah Rumah Sakit di Jakarta 109 buah dengan jumlah dokter spesialis 4. kelas B (non pendidikan) 1-3 orang. Rasio dokter dan puskesmas 2.13.80.45 2.22 3.Rasio Dokter dan Puskesmas Seluruh Puskesmas di Jakarta telah mempunyai Dokter.50 2. kelas B (pendidikan) 5 orang.62 meningkat dibandingkan lima tahun yang lalu pada tahun 2000 dengan rasio 1.08 2. Rasio Dokter-Puskesmas di masing-masing wilayah sebagai berikut: Tabel 4.404 orang sehingga rasio Dokter ahli dan Rumah Sakit sebesar 40. Sampai dengan tahun 2005 jumlah puskesmas di Jakarta sebanyak 337 puskesmas dan jumlah tenaga dokter Puskesmas 884 orang meliputi dokter spesialis 48.a. Standar kebutuhan tenaga ahli minimal rumah sakit kelas A 15 orang.

232 1.07.446.24: Rasio Dokter per-100.728 2.788 22. Tabel : 3. 1 2 3 4 5 6 KOTAMADYA / KAB JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR KEP SERIBU RATA-RATA JAKARTA DOKTER 145 118 164 247 207 3 884 PENDUDUK 861.000 pddk 16.041.73.16 7.25 Anggaran Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006-2007 No Sumber Tahun Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 105 .322.000 penduduk di Jakarta tahun 2005 sekitar 9.393. Sedangkan angka rasio nasional sebesar 10.78 naik dibandingkan tahun 2000 sebesar 7.112 9. ANGGARAN KESEHATAN Anggaran Kesehatan bersumber APBD di Provinsi DKI Jakarta masih belum optimal karena anggaran yang ditetapkan untuk Dinas Kesehatan sebagian besar diperuntukan bagi pelayanan kesehatan masyarakat miskin dan tidak mampu .531 1.Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2005 C Rasio Dokter Puskesmas /100.214 2.57 9.000 penduduk Gambaran mengenai kecukupan tenaga dokter Puskesmas dapat dilihat dari jumlah dokter /100.83 8.78 Sumber: Profil Kesehatan Kotamadya Tahun 2005 J .38 8.000 penduduk tahun 2005 NO.605 Dokter / 100. Rasio dokter /100.Sementara anggaran bersumber APBN juga cenderung menurun dari tahun ketahun. Tabel 3.06 12.000 penduduk.65 13.995.

550 297.178.232.747.502. Kurang optimalnya sistem manajemen dan regulasi kesehatan.561.097. Belum optimalnya pedataan kesehatan yang cepat.827.163.132.708 1. Masih tingginya insiden / prevalens penyakit menular yang berpotensi menjadi kejadian luar biasa. akurat dan valid yang berakibat terlambatnya penetapan kebijakan dan intervensi.2 PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kualitas Pelayanan Kesehatan Keluarga Miskin dan kurang mampu belum optimal.044.863.525. Masih rendahnya alokasi pembiayaan kesehatan.295.675.515 352.Jajaran Kes.000 1.528.106.105.637.893. Masih rendahnya pengawasan terhadap peredaran obat dan makanan.467.Anggaran 2005 2006 2007 1 APBD .966 2 APBN 3.000 Total 953.809. Belum diberlakukannya kebijakan tentang PSO bidang kesehatan Sumber anggaran sektor kesehatan yang belum mencukupi Pembiayaan pelayanan kesehatan gakin belum memadai Ketersediaan aset berupa lahan / tanah untuk pengembangan bangunan sarana kesehatan yang terbatas Kebijakan tatalaksana keuangan daerah yang selalu berubah Belum adanya penyeragaman pola tarif di RSD Kebijakan kemitraan dalam pembiayaan kesehatan belum ditetapkan Sinkronisasi perencanaan anggaran belum maksimal Ketersediaan tenaga kesehatan yang profesional masih kurang 106 dalam Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 .178 817.240.000 754.000 1.513. 192.778.258 16. Masih rendahnya kesadaran untuk hidup masyarakat lingkungan yang sehat.145.804.337 30.550 6.Dinas Kes . Belum semua kelurahan memiliki Puskesmas. Belum sesuainya standar kompetensi dan komitmen SDM Kesehatan.145.

Puskesmas kelurahan belum optimal.prov kurang optimal Ketersediaan sanpras kesehatan tk. dan Kec.Kel. Belum optimal Pengaturan terhadap srana pelayanan kesehatan swasta/asing belum baik Implementasi Binwasdal yang optimal Jejaring komunikasi kesehatan diantara instansi pemberi layanan kesehatan belum optimal Sistem informasi kesehatan belum terintegrasi Peningkatan kompetensi kesehatan masih kurang Implementasi sistem reward danpunishment belum berjalan Jumlah SDM kesehatan masih kurang Penempatan tenaga kesehatan belum sesuai kompetensi Kemitraan bidang kesehatan belum optimal Kajian masalah kesehatan masih kurang Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 107 . Implementasi program yang bersipat promotif dan preventif masih lemah Pemasaran pelayanan PPK di Tk.• • • • • • • • • • • • • • Penetapan program urusan kesehatan di tk.

sosial ekonomi dan lain sebagainya.1 VISI DINAS KESEHATAN DKI JAKARTA Visi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dalam mengemban amanah Pembangunan Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007 – 2012 yang digagaskan adalah : “ Jakarta Sehat Untuk Semua “ Penjelasan atas Visi adalah : Visi Dinas Kesehatan Provinsi DKI jakarta Tahun 2007 – 2012 mengacu pada Visi Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2007 – 2012 yaitu Jakarta yang Nyaman dan Sejahtera Untuk Semua. Pelayanan Kesehatan yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta kepada semua masyarakat DKI jakarta haruslah merupakan Pelayanan Prima. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta beserta jajarannya harus mampu menyelenggarakan Pembangunan Kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat ibukota yang beragam tersebut. agama. STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4. Jakarta sebagai Ibukota Negara dihuni oleh masyarakat yang sangat beragam. Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap rakyat ibukota adalah salah-satu hak azasi manusia tanpa perbedaan. ramah dan berkepastian hukum. TUJUAN. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta beserta jajarannya dalam menyelenggarakan Pembangunan Kesehatan harus berpihak kepada kepada rakyat Jakarta. Pelayanan Kesehatan di ibukota harus dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat di Jakarta. baik dari segi etnis. yang berarti harus bermutu. pendidikan. terutama untuk masyarakat miskin yang sangat rentan kesehatannya. sosial budaya. MISI. mudah diakses. murah.BAB IV VISI. cepat transparan. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 108 . efisien.

kesehatan masyarakat dan kegawatdruratan kesehatan dengan prinsip pelayanan Penjelasan makna atas pernyataan misi dimaksud adalah : 1. 2. 4. 7. Menyelenggarakan Peningkatan Manajemen Kesehatan. 5. 4. Meningkatnya kualitas dan respontime pelayanan kesehatan Gawat Darurat & Bencana. 5.Jakarta Sehat untuk Semua mempunyai arti : Dihuni oleh penduduk yang memiliki kesadaran dan kemandirian untuk hidup sehat. 8. Mempunyai akses pelayanan perorangan dan masyarakat. Meningkatkan kesehatan prima 3. Meningkatkan Kerjasama lintas sektor dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Dihuni oleh penduduk yang memiliki kesadaran dan kemandirian untuk hidup sehat. Terkendalinya penyakit degeneratif. Terkendalinya penyakit menular. 1. Meningkatkan Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. 2. Menyelenggarakan pembangunan kesehatan dengan kaidahkaidah “Good Governace” bermakna : Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 109 . 6. pelayanan kesehatan perorangan. Meningkatnya kesadaran Masyarakat terhadap lingkungan yang bersih dan terkendalinya pencemaran lingkungan. 3. Gizi yang seimbang. 4. Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan untuk keluarga miskin.2 MISI DINAS KESEHATAN DKI JAKARTA Dalam mewujudkan Visi yang telah ditetapkan. Menyelenggarakan pembangunan kesehatan dengan kaidah-kaidah “Good Governance”. maka Misi yang digagaskan adalah : 1.

Pengawasan. tenaga non kesehatan. Untuk menunjang “Core Bussines” tersebut diperlukan Manajemen Kesehatan yang terdiri dari Manajemen Pembiayaan Kesehatan. Evaluasi Program Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 110 . g. Menyelenggarakan Peningkatan Manajemen Kesehatan bermakna bahwa: “Core Bussines” Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Kesetaraan. efisien. Perencanaan Program Kesehatan.Kaidah-kaidah “Good Governance” dijalankan berdasarkan 10 prinsip yakni : a. kesehatan masyarakat dan kegawatdaruratan dan bencana. f. i. Berorientasi pada Visi. h. ramah dan berkepastian hukum. 3. Tegaknya Supremasi Hukum. d. Transparansi. e. b. mudah. transparan. sistem dan institusi kesehatan. Profesionalisme Pendekatan yang dilakukan untuk aktualisasi Misi ini melalui peningkatan kinerja tenaga kesehatan. Partisipasi masyarakat. murah. Misi ini akan menjamin efektivitas program dan kegiatan yang dijalankan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta beserta jajarannya. adalah Kesehatan Perorangan. Daya Tanggap kepada Stakeholders. Akuntabilitas. Meningkatkan pelayanan kesehatan perorangan. kesehatan masyarakat dan kegawatdaruratan kesehatan dengan prinsip pelayanan kesehatan prima. j. mempunyai makna : Pelayanan Prima adalah pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dengan mengutamakan norma pelayanan yakni : bermutu.pelayanan kesehatan masyarakat dan kegawatdaruratan kesehatan. Efektivitas & Efisiensi.Pelayanan prima dilaksanakan untuk semua jenis pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kesehatan perorangan. cepat. 2. c.

diperlukan peran sektor-sektor lain seperti Sektor Pendidikan.Kesehatan. (3) regulasi mikro yang menguntungkan kesehatan individu pada setiap organisasi. 4. (5) regulasi sektor lain yang melindungi kesehatan. Sosial. (2) peningkatan kapabilitas pemimpin informal pada komunitas / organisasi masyarakat. pengawasan maupun pelaksanaan dilapangan dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 111 . Untuk itu perlu : (1) peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan sehingga masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi bahwa kesehatan adalah tanggung jawab masing-masing individu. Dalam Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan tidak dapat dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI beserta jajarannya semata-mata karena masalah pada Pembangunan Kesehatan sangat luas dan komprehensif . Untuk itu perlu ditingkatkannya kerjasama dengan sektor-sektor tersebut mulai dari tingkat pembuat kebijakan. Meningkatkan Kerjasama Lintas Sektor dalam penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan. 5. SDM Kesehatan. Teknologi dan Informasi Kesehatan. Kebersihan. Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat di bidang kesehatan bermakna bahwa : Dalam menyelenggarakan Pembangunan Kesehatan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah daerah sendiri tapi harus didukung oleh masyarakat Jakarta. (4) regulasi sektor kesehatan. Pamong serta sektor-sektor lainnya. Tenaga Kerja. Pemasaran Sosial Program Kesehatan dan lain sebagainya.

memberikan Profesionalisme empati berbagai penyimpangan . yaitu : 1 Transparansi dalam sistem manajemen Berbagai proses manajemen dilakukan secara transparan. sesuai dengan tegas dan juga wewenang menyangkut yang dibebankan dalam kepadanya.3 BUDAYA KERJA DAN NILAI ORGANISASI Guna mewujudkan Visi “Jakarta Sehat untuk semua” dan misi yang ditetapkan .4. 3 Profesionalisme Seluruh jajaran Dinas Kesehatan dituntut untuk profesional. 6 Karyawan merupakan asset Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 112 . disamping menghindar dari baik.maka Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta menjunjung Budaya kerja dan nilai organisasi. keterbukaan akan dan memiliki kinerja yang mendorong manajemen tetap terkendali pelayanan yang meliputi keramahan. membantu dalam upaya mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan. kesopanan dan kepekaan akan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. 4 Partisipasi disetiap level Seluruh jajaran Dinas Kesehatan berpartisipasi tanpa kecuali dalam upaya mewujudkan visi dan misi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya secara profesional. Komunikasi yang lancar disetiap level akan mendorong terciptanya upaya saling mengendalikan . 2 Komunikasi/keterbukaan disetiap level Komunikasi dilakukan secara vertikal. horizontal bahkan diagonal pada setiap level. mengawasi dan mengoeksi. 5 Pemerataan berfokus pada pelanggan Seluruh jajaran Kesehatan memberikan focus yang besar terhadap pemberian pelayanan kepada masyarakat sebagai pelanggan.Komitmen memberlakukan masyarakat sebagai pelanggan adalah dalam memberikan pelayanan terbaik sehingga masyarakat berubah menjadi pelanggan setia ketika memerlukan pelayanan kesehatan.

Oleh karena itu manajemen internal memberikan perhatian kepada berbagai aspek yang berkaitan dengan karyawan. masyarakat dan semua pemangku kepentingan dalam rangka menyelesaikan masalah kesehatan menjawab tantangan masa depan dan memanfatkan potensi dan peluang yang dimilki. Pengembangan manajemen sehingga dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan dan dapat diselenggarakan dengan akurat. Terselenggaranyanya peningkatan kinerja aparatur. ramah lingkungan yang dilakukan oleh SDM kesehatan yang profesional dan ramah. murah dan transparan 4. efisiensi.4 TUJUAN Dalam rangka mewujudkan Visi dan Misi Dinas kesehatan provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang bertujuan : 1. Meningkatnya kualitas Pelayanan kesehatan perorangan. sistem. berasaskan keadilan. dan unit kerja kesehatan untuk mewujudkan efektivitas program dan kegiatan yang dilakukan 2. Meningkatnya kebersamaan antara pemerintah daerah. pelayanan kesehatan individu dan kejadian gawat darurat dan bencana. arif dengan skala prioritas. masyarakat dan kegawat daruratan sesuai prinsip-prinsip pelayanan prima 3. efektiv . mudah. Nilai-nilai yang dianut oleh Organisasi Dinas Kesehatan adalah perduli kepada masalah kesehatan masyarakat . melalui program kesehatan yang komprihensif dan bermutu. Meningkatnya upaya pembangunan kesehatan dengan ditunjang oleh lintas sektor terkait di setiap jenjang menyelenggarakan pembangunan kesehatan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 113 . 5. dilaksanakan secara terintregasi secara lintas program dan lintas sektor. 4.Karyawan merupakan unsur dalam memberikan pelayanan kesehatan. tapat waktu.

3. matriks ini merupakan alat formulasi untuk meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam area fungsi bisnis . Identifikasi SWOT Identifikasi SWOT menggambarkan secara internal kekuatan (strenghts) dan kelemahan (weaknesses) seluruh jajaran Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta dalam menangani bidang kesehatan di Propinsi DKI Jakarta. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 114 =1 =2 =3 =4 4. Ringkasan dari audit internal strategi manajemen membentuk matriks IFE.4.0 (tidak penting) sampai 1. kebijakan instuisi diperlukan untuk mengembangkan matriks ini sehingga penampakan dari pendekatan keilmuan tidak boleh diinterpretasikan sebagai tehnik yang sangat sempurna. dapat dilihat pada Lampiran . Kalikan bobot dengan rating untuk mendapatkan skor bobot masing . 2. Susun daftar faktor penentu sukses (Critical Succes Factor) sebagai identifikasi dari proses audit internal. Terdapat lima langkah penyusunan matriks IFE yaitu : 1.0 (sangat penting) pada masing masing faktor . B. Kemudian dipilih sepuluh sampai duapuluh faktor internal termasuk kekuatan dan kelemahan. kekuatan utama masing variabel. Matriks IFE ( Internal Faktor Evaluation Matrix ). kelemahan minor c. kekuatan minor d. kelemahan utama b. identifikasi juga menggambarkan peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Identifikasi SWOT di lingkungan Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta. Berikan nilai (Rating) antara 1 sampai 4 untuk masing masing faktor yang menggambarkan : a.5 ANALISIS SWOT A. Bobot faktor diberikan berdasarkan kepentingan untuk keberhasilan suatu organisasi. Berikan bobot antara 0. Secara eksternal.

politik. Nilai yang dicapai dari hasil pembobotan faktor-faktor eksternal adalah 2. Terdapat lima langkah dalam menyusun matriks EFE yaitu : 1. Matriks EFE sangat strategis untuk meringkas dan mengevaluasi ekonomi. sosial. Jumlahkan score bobot masing masing variabel. Secara lengkap table Matriks IFE dapat ilihat pada Lampiran .75 yang kemudian akan merupakan nilai sumbu vertikal. respon sangat baik c. Secara lengkap table Matriks IFE dapat ilihat pada Lampiran C. Matriks EFE (External Factor Evaluation Matrix). respon diatas rata rata atau sedang = 3 4.98 yang kemudian akan merupakan nilai sumbu mendatar. Berikan bobot 0. pemerintah. demografi. Nilai yang dicapai dari hasil pembobotan faktor-faktor internal adalah 2. pengaturan.0 sampai 1. tehnologi dan informasi kompetitif. lingkungan.0. Susun daftar faktor penentu sukses dari proses audit eksternal Susun sebanyak sepuluh sampai dua puluh faktor termasuk peluang dan tantangan yang mempengaruhi organisasi. Jumlahkan skor bobot masing masing variabel untuk menentukan total score bobot organisasi. respon sedang d. Indikasi pembobotan tergantung kepentingan relatif terhadap keberhasilan suatu organisasi. 3. Berikan nilai antara 1 sampai 4 terhadap masing masing faktor untuk indikasi efektifitas organisasi dalam merespon hal hal yang strategis : a. 2. =4 =2 =1 b. Dari hasil IFE = 2. Diagnosa Organisasi (Cell Diagnosa).5.86 maka apabila dimasukkan dalam Matriks Internal External atau disebut juga Cell Diagnosa maka strategi Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 115 . 5. Kalikan masing masing bobot faktor dengan nilai untuk menentukan skor D.61 dan EFE = 1. respon kurang baik bobot.

organisasi Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta berada pada cell V yaitu strategi Hold and Maintain yang penjabaran strateginya adalah

Pertumbuhan (Peningkatan Out Put), Integrasi Horizontal (Pengembangan Produk yang sudah ada penetrasi horizontal) dan N0n Profit Strategi (Pengembangan Internal Manajemen). Cell diagnosa ini dapat dilihat pada Lampiran .

E. Matriks TOWS. Dalam tahap penyesuaian (matching) dapat digunakan matriks TOWS sebagai alat diagnosis (matching tools) untuk menentukan alternatif stategi dengan melakukan identifikasi adanya suatu peluang atau hambatan dari faktor eksternal dan melihat faktor internal suatu organisasi berupa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki serta memperhatikan Visi, Misi, dan tujuan organisasi. Penyesuaian faktor-faktor penentu sukses eksternal dan internal ini merupakan salah satu kunci efektif untuk menghasilkan strategi alternatif dan resultan strategi yang dapat dikelompokkan menjadi empat strategi yaitu: 1. Strategi S – O (SO = Strength – Opportunity) 2. Strategi W – O (WO = Weakness – Opportunity) 3. Strategi S – T 4. Strategi W – T (ST = Strength – Threat) (WT = Weakness – Threat)

yang secara detail matriks TOWS dapat dilihat pada Lampiran .

F. Matriks Penyesuaian Strategi. Selanjutnya ketiga strategi tersebut diatas yaitu : Pertumbuhan (Peningkatan Out Put), Integrasi Horizontal (Pengembangan Produk yang sudah ada penetrasi horizontal) dan N0n Profit Strategi (Pengembangan Internal Manajemen) dijabarkan dengan memperhatikan faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

116

Hasil tabulasi penyesuain prioritas strategi dapat dilihat pada table penyesuaian strategi Lampiran .

G. Matriks QPSM. Tahap pengambilan keputusan dengan menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) adalah alternatif strategi yang didapat dari tahap penggabungan, untuk menentukan strategi mana yang menjadi prioritas. Cara melakukan perhitugan QSPM adalah sebagai berikut : 1. Buat daftar faktor analisis SWOT diambil dari matriks IFE dan matriks EFE; 2. Cantumkan bobot pada masing-masing faktor sesuai pada matriks IFE dan matriks EFE; 3. Dari hasil analisis SWOT dipelajari dan ditulis strategi alternatif; 4. Tentukan nilai Attractiveness Score (AS); a. Nilai 1 b. Nilai 2 c. Nilai 3 d. Nilai 4 : tidak ada keterkaitan : mungkin ada keterkaitan : ada keterkaitan : sangat terkait

5. Hitung Total Attractiveness Score (TAS) yaitu perkalian antara Bobot dengan AS (Bobot x AS); 6. Hitung jumlah dari seluruh TAS dan dibandingkan dengan strategi mana yang nilai TAS totalnya lebih tinggi, ini menunjukkan bahwa strategi tersebut lebih attraktif serta dapat mengatasi setiap factor internal dan eksternal. Selengkapnya dapat bdilihat pada tabel QSPM di Lampiran . 4.6 POSISI ORGANISASI Menunjukan pada posisi Strukturisi

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

117

MATRIKS I-E
PROGRAM
EFE= 1 ,8 6 IFE=2 ,6 1
4 Pertumbuhan/ Ekspansi 3 2 Stabilisasi/ Capacity building 1

3

Strukturisasi

IFE
2

1

Strukturisasi

Integrasi

EFE
4.7 STRATEGI Atas dasar analisi Matriks TOWS, maka strategi pencapaian tujuan dan sasaran meliputi: 1. Penyempurnaan sistem manajemen; 2. Peningkatan Pembiayaan Kesehatan; 3. Pengembangan Promosi dan Informasi Kesehatan; 4. Pengembangan sarana prasarana; 5. Pengembangan dan optimalisasi SDM kesehatan; 6. Pengembangan sistem perencanaan bidang kesehatan sehingga didapat efisiensi dan optimalisasi pembiayaan kesehatan;

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

118

11. kemudian dijabarkan dalam 24 substrategi sebagai berikut : 1. Meningkatkan akses layanan kesehatan untuk keluarga miskin melalui sistem Jaminan Pelayanan Kesehatan daerah. 3. Pengembangan kemitraan. Pendayagunaan SDM. 5. 11. Pengembangan sistem pemasaran social program kesehatan. Dalam manajemen perubahan gerakan dapat dibuat relatif terhadap standar yang ditetapkan. Dalam konteks perubahan performansi pelayanan dapat dibuat relatif terhadap indikator tujuan jangka panjang yan telah ditetapkan. Peningkatan sistem kepemimpinan. 4. 6. Pengembangan sistem informasi kesehatan. 9. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 119 .Yang dimaksud dengan Tahap performansi adalah masa untuk mengejar target yang telah ditetapkan oleh masing masing unit kerja. 12. 8. 10. 2. Pengembangan Kemitraan bidang kesehatan. 7. Peningkatan peran serta masyarakat. Pembinaan dan penegakan hokum kesehatan. Penerapan sistem manajemen mutu di jajaran kesehatan. Pembiayaan kesehatan. Strategi kreatif tersebut harus merupakan gerakan yang dapat diartikan sebagai perubahan adalah dengan berlangsungnya waktu. 10. Peningkatan Kualitas Pelayanan (Pelayanan kesehatan dan pelayanan masyarakat dan kegawatdaruratan). Peningkatan Binwasdal (pembinaan. Peningkatan sistem informasi manajemen. 9. Pendelegasian kewenangan sebagian kesehatan kepada Camat dan Lurah dalam menggerakan dan memberdayakan masyarakat dalam hidup sehat. pengewasan dan pengendalian). Perencanaan terpadu. 8.7. Strategi utama tersebut. Peningkatan sistem sangsi dan penghargaan.

18. Peningkatan kemandirian organisasi. Pengembangan produk kesehatan. Perluasan organisasi. maka faktor komunikasi menjadi sangat penting. serta rapat evaluasi midsemester dan forumforum lainnya. partisipasi total pada setiap tingkatan. Mapping sarana dan prasarana. forum-forum rapat mingguan. komunikasi/keterbukaan pada setiap tingkatan. menjadi modal utama dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi seluruh jajaran Dinas Kesehatan dalam upaya mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan. yaitu keseimbangan antara kepentingan masyarakat dan kepentingan pegawai yang kesemuanya tercakup dalam stakeholders. 16. Pengembangan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan. 22. Komitmen pimpinan untuk menerapkan budaya kerja dan nilai-nilai. Perwujudan visi dan misi sangat tergantung pada faktor-faktor kunci keberhasilan. Oleh karena itu. Sistem kepemimpinan senior memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan fokus dalam pencapaian visi dan misi. 23. pemerataan yang berfokus pada pelanggan. adalah sarana yang tepat untuk mendorong timbulnya inovasi-inovasi manajemen dalam upaya mewujudkan visi dan misi. dan karyawan merupakan aset. 15. Adapun faktor-faktor kunci keberhasilan dimaksud adalah sebagai berikut: 1. yang meliputi: transparansi dalam sistem manajemen.13. Pengembangan penelitian. Peningkatan pengelolaan sarana dan prasarana. Pengembangan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Penambahan sarana an prasarana. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 120 . Pengembangan kualitas gadar dan bencana. 17. Sistem kepemimpinan senior Kepemimpinan sangat memegang peranan penting dalam upaya mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan. Pengembangan kualitas pelayanan kesehatan klinis (individu). 19. 14. Pengembangan inovasi / manajemen mutu. 21. 24. 20. Senenan. Dalam kaitan tersebut. profesionalisme.

pengendalian profesionalisme tenaga dan pemberdayaannya serta pengendaliannya. kelemahan organisasi serta peluang dan tantangan yang muncul secara eksternal. Dalam kaitan ini. yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan tujuan dan sasaran yang secara optimal dapat diwujudkan sesuai dengan kemampuan organsasi serta sesuai dengan harapan pihak eksternal. juga melalui pengalokasian sumber-sumber daya secara efisien dan efektif. sistem penilaian kinerja individual. pengembangan kompetensi. Sistem kepemimpinan senior juga memegang peranan penting dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas Kesehatan secara efisien dan efektif. dengan demikian. sistem kerja. Profesionalisme Secara kelembagaan. disertai dengan perangkat-perangkat penilaian kinerja organisasi yang mengacu kepada tujuan dan sasaran. penjabaran visi dan misi ke dalam tujuan dan sasaran perlu didukung dengan data-data mengenai kekuatan. suku dinas berperan sebagai auditor/pengawasan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan dan pembinaan wilayah. pengalokasian budget dan pengawasannya. maka sistem rekruitmen. profesionalisme berarti bahwa organisasi didisain sedemikian rupa sehingga secara efisien dan efektif berjalan sesuai dengan kebutuhan organisasi dalam upaya mewujudkan visi dan misi. penyusunan kriteria-kriteria.Sistem kepemimpinan senior. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 121 . 2. pengembangan karier. 3. Disamping itu. RSUD dan UPT dalam pelaksanaan operasional dan didorong untuk mandiri dengan kebijakan swadana dan pelayanan prima. Profesionalisme juga menyangkut kapabilitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh Dinas Kesehatan sesuai dengan kebutuhan perwujudan visi dan misi yang telah ditetapkan. juga dapat mendorong organisasi yang learning. sedangkan Puskesmas. Ketepatan penjabaran visi dan misi kedalam tujuan strategis serta sasarannya Ketepatan penjabaran visi dan misi ke dalam tujuan strategis serta sasarannya sesuai dengan kemampuan internal organisasi serta harapan eksternal organisasi dalam jangka lima tahun mendatang. melalui konsistensi pelaksanaan peran dimana Dinas melaksanakan peran regulator dalam area tugas standarisasi. Oleh karena itu.

sistem reward and recognition, dan kesejahteraan, perlu searahkan dengan tujuan profesionalisme. 4. Fokus pada pelanggan dan core business Paradigma pelayanan yang berkembang saat ini mengetengahkan pelanggan sebagai fokus perhatian. Oleh karena itu, organisasi Dinas Kesehatan harus merupakan organisasi yang customers’ driven, dengan memperhatikan core business untuk meningkatkan kualitas pelayanannya. Perhatian kepada pelanggan, dalam hal ini, masyarakat DKI Jakarta, menunjukkan komitmen kuat untuk memberikan pelayanan terbaik. Komitmen ini menjadi modal bagi keberhasilan upaya perwujudan visi dan misi Dinas Kesehatan oleh seluruh jajarannya. 5. Sistem pembiayaan Keberhasilan perwujudan visi dan misi juga sangat ternatung pada sistem pembiayaan pelayanan kesehatan. Keseimbangan alokasi antara pelayanan kesehatan klinis dasar, rujukan dan kesehatan masyarakat, dimana subsidi diarahkan pada kesehatan masyarakat sedangkan dalam pelayanan klinis diharapkan masyarakat bisa mandiri secara gotong royong. Pembiayaan orang miskin ditanggung bersama masyarakat dan Pemerintah Daerah. Serta didukung oleh sistem asuransi kesehatan sosial maupun asuransi yang dikembangkan oleh pihak swasta. 6. Manajemen sistem informasi Kelengkapan manajemen sistem informasi sangat diperlukan dalam mendukung terwujudnya visi dan misi Dinas Kesehatan. Melalui dukungan ini, seluruh upaya dapat dilaksanakan secara sinergis melalui monitoring dan evaluasi yang terpadu sehingga diperoleh umpan balik bagi penyempurnaan/ perbaikan berbagai upaya yang telah dilakukan. Melalui dukungan ini, kinerja setiap unit di lingkungan Dinas Kesehatan beserta seluruh jajarannya dapat dipantau secara terus menerus, sehingga pelaksanaan berbagai kegiatan dapat pula dilihat efektivitas dan efisiensinya. 7. Global outlook Keberhasilan perwujudan visi dan misi juga tergantung kepada bagaimana organisasi dapat menyerap berbagai perubahan yang terjadi dalam lingkup lokal, regional bahkan global, untuk kemudian menjadikan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 122

berbagai perubahan tersebut sebagai peluang dan tantangan bagi kemajuan organisasi. Tuntutan peningkatan kualitas pelayanan tidak hanya merupakan tuntutan lokal tetapi juga global. Berbagai standarstandar internasional yang berkaitan dengan pelayanan tampaknya juga merupakan bagian yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi organisasi pelayanan kesehatan yang memiliki global outlook. organisasi menyesuaikan dengan keinginan global Kemampuan adalah cara

memenangkan persaingan sehingga eksistensinya dapat dipertahankan. Serangkaian faktor-faktor kunci keberhasilan tersebut di atas jika diramu dalam satu bentuk keseluruhan (totally), maka merupakan komitmen total dari pihak manajemen untuk meningkatkan kualitas, yang dalam bahasa teknis disebut sebagai Total Quality Management.

4.8 ARAH KEBIJAKAN Atas dasar identifikasi strategi di atas, maka dirumuskan kebijakan dan program di bidang pembangunan kesehatan di wilyah DKI Jakarta yang meliputi, sebagai berikut: 1. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, yang meliputi program: (1) pengembangan manajemen mutu pelayanan kesehatan dengan standar internasional, (2) pengembangan sistem penilaian kepuasan pelanggan dan sistem pengaduan keluhan pelayan kesehatan; (3) pengembangan produk-produk pelayanan kesehatan; 2. Peningkatan kualitas upaya kesehatan masyarakat untuk melindungi masyarakat dari resi dan penyakit, yang meliputi program: (1) Surveilans epidemiologi kesehatan masyarakat, (2) P2 Penyakit menular, P2PTM, P2PL dan KJ, dan (4) P2 Gizi. (3)

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012

123

3.

Pengembangan sistem informasi dan pemasaran sosial kesehatan, yang meliputi program: (1) pengembangan sistem informasi kesehatan, (2) pengembangan sistem pemasaran sosial kesehatan;

4.

Peningkatan kemandirian masyarakat dalam pembangunan kesehatan dan pengembangan sistem pembiayaan kesehatan kemitraan, yang meliputi program: (1) pemerataan pelayanan kesehatan, (2) pengembangan peran serta masyarakat dalam pelayanan kesehatan, (3) pengembangan sistem pembiayaan kesehatan kemitraan;

5.

Peningkatan profesionalisme bidang kesehatan, yang meliputi program: (1) pengembangan SDM kesehatan, (2) pengendalian tenaga kesehatan, (3) pengendalian institusi pendidikan kesehatan, (4) peningkatan pelayanan internal manajemen.

6.

Pengembangan sistem respon gawat darurat dan bencana, yang meliputi program: (1) Pengembangan Masyarakat yang sehat dan Aman (Safe Community) dengan Ujung Tombak Pelayanan Publik Safety Centre (118, 113, 110), (2) Pengembangan Sistem Gawat Darurat dan Bencana, (3) Pengembangan Sistem Gawat Darurat dan Bencana

7.

Pembinaan, pengawasan dan pengendalian, dengan program: (1) pengembangan dan penyerpurnaan produk hukum di bidang kesehatan, (2) pengembangan sistem perijinan pelayanan kesehatan, (3) pengembangan sistem penghargaan dan sanksi Pembangunan kesehatan Perda diarahkan 1 untuk 2008 mencapai tentang sasaran Rencana

sebagaimana tercantum dalam Arah Kebijakan Urusan Kesehatan yang tercantum dalam Nomor Tahun Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi DKI Jakarta tahun 2007 – 2012 yaitu sebagai berikut : 1. 2. Peningkatan Program penerapan kaidah good governance dalam penyelenggaraan urusan Kesehatan; Peningkatan Program sinkronisasi kebijakan pembiayaan, kelembagaan dan regulasi Kesehatan; Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 124

13. 4.3. 20. Peningkatan Program peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit. Peningkatan Program peningkatan sarana dan prasarana Puskesmas. Peningkatan Program peningkatan gizi masyarakat. 16. Peningkatan masyarakat. Peningkatan Program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Peningkatan Program pelaksanaan SPM lain urusan Kesehatan. 9. 18. 14. Peningkatan Program peningkatan kesehatan anak balita. 5. 11. Peningkatan Program pemberdayaan komunitas Kesehatan. Peningkatan Program pengembangan obat asli Indonesia. Program promosi kesehatan dan pemberdayaan 10. Peningkatan Program pengembangan lingkungan sehat. 8. Peningkatan Program peningkatan mutu pelayanan kesehatan. 15. Peningkatan Program peningkatan kemitraan kesehatan. 19. Peningkatan Program pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. Program pengawasan obat dan makanan. 17. 12. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 125 . Peningkatan Program pencegahan penyakit tidak menular. Program kesehatan jiwa masyarakat. Peningkatan Program penurunan angka kematian ibu dan bayi. Peningkatan Program peningkatan sarana dan prasarana Kesehatan. 7. 6.

Pengelolaan kesehatan semakin efisien dan akuntabel. Fungsi regulator Kesehatan ramping dan terpisah dari fungsi operator Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 126 . Pengelolaan urusan. informasi kesehatan menjadi lebih transparan dan melalui internet.Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta 5 tahun ke depan mengacu pada Program RPJMD DKI Jakarta Tahun 2007-2012. Program penerapan kaidah good governance dalam penyelenggaraan urusan Kesehatan Indikator terhadap mudah yang akan dicapai antara lain: SDM yang melaksanakan pelayanan kesehatan menjadi lebih responsif kebutuhan di akses masyarakat. Program Urusan Kesehatan. 5. Penegakan hukum dilaksanakan secara sistematik dan terprogram dengan baik.1 . urusan pelayanan. yang terdiri dari : 1.BAB V PROGRAM DAN KEGIATAN RENSTRA DINAS KESEHATAN DKI JAKARTA Berikut ini adalah program urusan kesehatan yang merupakan salah satu urusan wajib menurut Permendagri no 13 tahun 2006. Program kesehatan antisipatif terhadap perkembangan masa depan. Semua peraturan perundangan daerah tentang Kesehatan sudah dikaji ulang dan disempurnakan guna mendukung penyelenggaraan urusan Kesehatan.

serta dilengkapi dengan sistem dan prosedur kerja yang jelas. dan Meningkatnya Kelurahan Universal Child Immunization (UCI). Menurunnya kasus penyakit menular. Program penurunan angka kematian ibu dan bayi Indikator yang akan dicapai antara lain: Menurunnya angka kematian ibu melahirkan. Program peningkatan kesehatan anak balita Indikator yang akan dicapai antara lain: Berkurangnya angka balita yang menderita gizi buruk. Program sinkronisasi kebijakan pembiayaan. Berkurangnya angka kematian bayi. makanan pendamping ASI dan vitamin pada balita. Meningkatnya cakupan persalinan yang ditolong oleh bidan/tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. dan Penempatan SDM Kesehatan berdasarkan kompetensi. 5. Ditetapkannya yang regulasi bentuk efisien terhadap penyelenggaraan Kesehatan pembiayaannya. 4. masyarakat mengetahui Rumah Sakit mana dan bagaimana skema pembiayaannya. kelembagaan dan regulasi Kesehatan Indikator yang akan dicapai antara lain: Ditetapkannya peranan APBD dalam pembiayaan penyelenggaraan urusan Kesehatan kelembagaan secara dan keseluruhan. dan Informasi tentang Kejadian Luar Biasa dapat dideteksi lebih awal. Meningkatnya pemberian ASI eksklusif. Kesehatan. dan Meningkatnya kunjungan ibu hamil minimal 4 kali kunjungan selama masa kehamilan. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 127 . Fungsi surveillance epidemiologi dan penanggulangan awal untuk setiap penyakit menular berjalan baik. 2. Program menular Ditetapkannya komponen-komponen strategis dalam implementasi system pencegahan dan penanggulangan penyakit Indikator yang akan dicapai antara lain: Cakupan imunisasi untuk anak mencapai target nasional. Bila terjadi KLB. 4.

Program pengembangan obat asli Indonesia Indikator yang akan dicapai adalah meningkatnya kualitas pelayanan tradisional. 10. Meningkatnya industri dan tempat-tempat umum yang sehat. 7. 8. Program peningkatan mutu pelayanan kesehatan Indikator yang akan dicapai adalah meningkatnya jumlah fasilitas kesehatan yang mendapat sertifikasi dan pengakuan akreditasi. kanker cervix.6. dan Pemberdayaan kesehatan di tingkat RW dalam bentuk RW siaga. Menurunnya angka penyakit diare. Program pengawasan obat dan makanan Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya pengawasan obat dan makanan yang beredar bebas. 9. Promosi kesehatan jejaring terselenggara informasi di setiap di jenjang. dan kanker payudara. jajaran Berfungsinya kesehatan kesehatan. dan Meningkatnya jumlah Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang sehat dan aman. tenaga kesehatan dan pengawasan obat Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 128 . 11. Program pencegahan penyakit tidak menular Indikator yang akan dicapai adalah meningkatnya prosentase screening resiko cardio vascular. Program masyarakat promosi kesehatan dan pemberdayaan Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat. Program pengembangan lingkungan sehat Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat. dan Meningkatnya jumlah rumah/bangunan yang bebas jentik nyamuk aedes agepty.

Meningkatnya Jumlah Community Base Unit (CBU). dan Terpeliharanya sarana dan prasarana Puskesmas dan jaringannya. Program (JPKM) Indikator yang akan dicapai adalah meningkatnya akses pelayanan kesehatan bagi penduduk termasuk penduduk miskin. dan Berkurangnya anak dengan gizi kurang/buruk. Program peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit Indikator yang akan dicapai adalah bertambahnya jumlah Rumah Sakit Daerah. Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 129 .12. Program peningkatan gizi masyarakat Indikator yang akan dicapai antara lain: Terwujudnya masyarakat yang memiliki gizi seimbang. dan Ditetapkannya kriteria dalam memilih dan menentukan mitra maupun program pelayanan kesehatan dengan swasta. Meningkatnya jumlah Puskesmas yang mendapat sertifikat ISO. 15. 14. Program peningkatan kemitraan kesehatan Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya kemitraan antara pemerintah dengan pihak swasta dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Menurunnya angka urban mental health. 18. Program peningkatan sarana dan prasarana Kesehatan Indikator yang akan dicapai adalah terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana Kesehatan. Program kesehatan jiwa masyarakat Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya pelayanan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum. dan Meningkatnya cakupan deteksi gangguan jiwa oleh masyarakat. Program peningkatan sarana dan prasarana Puskesmas Indikator yang akan dicapai antara lain: Meningkatnya jumlah Puskesmas Kecamatan dengan fasilitas rawat inap. 17. 16. 13.

21. Program Lintas Urusan : Dengan tidak terakomodirnya salah satu core busines urusan kesehatan mengambil yaitu 3 Kegawatdaruratan Lintas Adm. Urusan Pemerintahan Daerah. maka Daerah. Program Kerja Sama Pengembangan Jaringan Pelayanan Kesehatan Regional. 5. 2.19. Terbentuknya Badan Usaha Milik Bersama Yang Membangun dan Mengoperasionalkan Sistem Jaminan Kesehatan Terselenggarannya Regional Upaya bersama pencegahan kerjasama penceghan dan dan penanggulangan KLB DBD dan Penyakit menular lain. Program pemberdayaan komunitas Kesehatan Indikator kinerja yang akan dicapai antara lain: Berfungsinya Dewan Kesehatan sebagai mitra penyusunan kebijakan Kesehatan. kepegawaian dan persandian) yaitu : 1. 20. dan Berfungsinya asosiasi usaha Kesehatan sebagai mitra penyusunan dan implementasi kebijakan Kesehatan. Program Penigkatan kemampuan penanggulangan kesehatan akibat bencana. Perangkat Program Umum. 3.Keuangan dan bencana (Otonomi Daerah. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 130 .2 . Program Menggalang seluruh sumber daya kesehatan dalam keadaan bencana. Program pelaksanaan SPM lain urusan Kesehatan Indikator yang akan dicapai adalah terpenuhinya SPM lain urusan Kesehatan. Indikator yang ingin di capai adalah :Terbentuknya jaringan kerjasama RS dan PKM. Program Peningkatan peran pusat pengendalian bencana (kesehatan). penanggulangan KLB dan Wabah se Jabotabekjur.

Untuk lebih jelasnya berikut diuraikan matriks berdasarkan program . tolok ukur program. kondisi tahun existing Tahuin 2007 beserta target pertahun dan kegiatan yang direncanakan dalam lima tahun kedepan sebagai berikut : PROGRAM DAN KEGIATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007 . target kinerja program.2013 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 131 .

PROGRAM DAN KEGIATAN RENSTRA DINAS KESEHATAN PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2007-2013 N O 1 PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM SDM Kesehatan lebih responsive terhadap kebutuhan masyarakat Pengelolaan urusan. informasi kesehatan menjadi lebih transparan dan mudah diakses melalui internet TARGET KINERJA PROGRAM Pencapaian kinerja aparatur kesehatan KONDISI Thn 2007 78% 2008 79% 2009 80% Target pertahun 2010 83% 2011 85% 2012 88% 2013 90% Program Penerapan Kaidah Good Governance dalam Penyelenggara an urusan Kesehatan Berfungsinya Sistem Informasi Kesehatan di Puskesmas 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Pengelolaan urusan kesehatan semakin efisien dan akuntable Tersedianya informasi Kesehatan berbasis Website Terlaksananya Operasionalisasi SKPD Urusan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 132 .pelayanan.

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM Kesehatan KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 Program kesehatan antisipatif terhadap masa depan Terlaksananya pengendalian dan evaluasi pelaksanaan kegiatan / program Uji coba efektifitas produk Baru pada daerah uji coba Tercapainya Cost Recovery Rate ( CRR) 60 % di Puskesmas Meningkatnya jumlah tenaga kesehatan yang terlatih 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 80% 12% 81% 34% 82% 46% 83% 57% 84% 69% 85% 80% 86% 96% 20% 30% 35% 40% 45% 50% 55% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 133 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Semua peraturan perundangan daerah tentang kesehatan sudah dikaji ulang disempurnakan guna memndukung penyelenggaraanurus an kesehatan Fungsi regulator Kesehatan ramping dan terpisah dari fungsi operator serta dilengkapi dengan sistem dan prosedur kerja yang jelas Penempatan SDM Kesehatan berdasarkan kompetensi. TARGET KINERJA PROGRAM Tingkat Kepatuhan petugas kesehatan terhadap penerapan kebijakan KONDISI Thn 2007 Belum ada data 2008 Belum ada data 2009 50% Target pertahun 2010 60% 2011 65% 2012 70% 2013 70% Ditetapkannya SISKESDA Prov DKI Jakarta 0% 0% 100% Terlaksananya Public Health Nurse di Kelurahan Terwujudnya penempatan SDM Kesehatan berdasarkan 0% 0% 0% 0% 25% 400% 50% 20% 25% 30% 32% 35% 38% 40% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 134 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM kompetensi KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 2 Program Sinkronisasi Kebijakan Pembniayaan. Kelembagaan dan Regulasi Kesehatan Ditetapkannya peranan APBD dalam pembiayaan Penyelenggaraan Urusan Kesehatan secara Keseluruhan Terlaksananya penyusunan perencanaan anggaran urusan kesehatan SKPD Jajararan Kesehatan dicover pada penyusunan dokumen pembiayaan kesehatan Terlaksananya Pengusulan Kelembagaan RSD ( LTD) 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Ditetapkannya Bentuk Kelembagaan Penyelenggara Kesehatan yang efisien Pembiayaannya 1 RSD 2 RSD 2 RSD 1 RSD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 135 .

4% 100% 100% 100% 100% 100% 100% >85% >85% >85% >85% >85% >85% 75% 80% 85% 90% 95% 95% 95% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 136 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Ditetapkannya regulasi terhadap komponen-komponen strategis dalam implementasi sistem Kesehatan TARGET KINERJA PROGRAM Tersusunnya regulasi terhadap komponenkomponen strategis dalam implementasi Sistem Kesehatan Cakupan UCI (Universal Child Immunization ) Kelurahan KONDISI Thn 2007 2008 7 Dokumen 5 Doku men 2009 5 Doku men Target pertahun 2010 5 Doku men 2011 5 Doku men 2012 5 Doku men 2013 5 Doku men 3 Program Pencegahan dan Penanggulanga n Penyakit Menular Cakupan Immunisasi untuk anak mencapai target nasional 75% 95% 98% 100% 100% 100% 100% Menurunnya kasus penyakit menular Kelurahan mengalami KLB ditangani <24 jam angka keberhasilan pengobatan penderita TB BTA positif ( Success Rate ) Penemuan kasus TB (CDR) 100% 87.

000 <1 % 250/ 100.0 00 <1 % 200/ 100.N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM Penemuan Kasus kusta anak Cakupan balita dengan Pneumonia yang ditangani Infeksi menular seksual yang diobati Terlaksananya pelayanan IMS untuk penanggulangan HIV/AIDS di Puskesmas Terlaksananya pelayanan ARV di RSD Prov DKI Jakarta Incident Rate ( IR) KONDISI Thn 2007 10% 7.84% 2008 9% 20% 2009 8% 35% Target pertahun 2010 7% 65% 2011 6% 75% 2012 <5% 100% 2013 <5% 100% 100% 11% 100% 20% 100% 34% 100% 56% 100% 79% 100% 95% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Penderita DBD yang ditangani 378 / 100.0 00 <1 % 100/ 100.27% 3 00/10 0.0 00 <1 % 150/ 100.000 0.0 00 <1 % 50/ 100.0 00 <1% Case Fatality Rate (CFR ) Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 137 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM Terlaksananya review/ penyempurnaan sistem PSN Pencegahan dan pemberantasan Penyakit Malaria yang diobati Pencegahan dan pemberantasan penyakit filariasis yang ditangani Re-new emerging disease (Kasus yang ditemukan ditindak lanjuti) Respontime investigasi dan tindakan penanggulangan awal dengan KLB < 24 jam sejak informasi diterima KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 100% 2011 2012 2013 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Fungsi Surveilans epidemiologi dan penanggulangan awal untuk setiap penyakit menular berjalan baik 83% 84% 85% 86% 87% 88% 89% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 138 .

000 2/100 .000 2/100 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam setelah mendapat informasi Penemuan Kasus Acute Flacid Paralysis (AFP) Rate ≥ 2 pada 100.000 2/100 . 000 Informasi tentang KLB dapat dideteksi lebih awal 100% 80% 100% 90% 100% 90% 100% 95% 100% 95% 100% 100% 100% 100% Tidak ada data Tidak ada data 60% 61% 62% 63% 64% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 139 .000 2/100.000 2/100 .000 anak usia < 15 tahun Penanganganan Re new dan neglated disease Ketepatan dan kelengkapan Laporan Surveilance Konfirmasi penderita DBD di RS berdasarkan pemeriksanaan KONDISI Thn 2007 100% 2008 100% 2009 100% Target pertahun 2010 100% 2011 100% 2012 100% 2013 100% 2\100.000 2/100 .

27 % 85% 87% 90% 93% 95% 97% 90.5 % 86% 85% 94% 75% 93% 87% 88% 95% 80% 93.N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM serology pada penderita KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 4 Program Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Menurunnya angka kematian ibu melahirkan Cakupan pertolongan persalinan oleh bidan / tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan kunjungan Ibu Hamil (K4) Cakupan Ibu Hamil dengan komplikasi yang ditangani Cakupan Ibu Nifas Cakupan Peserta KB Aktif Cakupan kunjungan bayi 84.85 % 60% 92% 85% 83% 92% 70% 92.5 % 88% 90% 96% 85% 94% 89% 93% 96% 90% 95% 90% 95% 96% 95% 96% 90% 97% Berkurangnya angka kematian bayi Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 140 .

bayi baru lahir dan Anak ( KIBBLA) Meningkatnya pemberian ASI Eksklusif.24 bulan keluraga miskin Cakupan pemberian 95% Vit A pada Balita Cakupan pelayanan Tidak ada untuk anak balita data Pembinaan 57% Kesehatan Lingkungan Institusi 95% 98% 100% 100% 100% 100% 96% 70% 60% 98% 80% 65% 100% 90% 70% 100% 90% 70% 100% 90% 70% 100% 90% 70% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 141 . makanan pendamping ASI dan vitamin pada balita Cakupan neonatal Tidak Ada dengan komplikasi Data yang ditangani Menurunnya jumlah 28 kematian ibu melahirkan 6 Program Pengembangan Lingkungan Sehat Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang Pola Hidup Bersih dan sehat Cakupan pemberian 90% Makanan Pendamping ASI pada anak 6 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM KONDISI Thn 2007 2008 75% 25 2009 80% 22 Target pertahun 2010 80% 20 2011 80% 18 2012 80% 16 2013 80% 14 5 Program Peningkatan Kesehatan Anak Balita Meningkatnya akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu.

36 % 40% 50% 60% 65% 67% 70% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 142 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Meningkatnya jumlah rumah/bangunan yang bebas jentik nyamuk aedes agepty Meningkatnya industri dan Tempattempat Umum yang Sehat TARGET KINERJA PROGRAM Angka bebas Jentik KONDISI Thn 2007 85% 2008 >95 % 2009 >95 % Target pertahun 2010 >95 % 2011 >95 % 2012 >95 % 2013 >95 % Cakupan tempattempat umum sehat Cakupan Rumah Tangga Sehat cakupan pelayanan kesehatan kerja pada pekerja sektor formal Penemuan penderita diare di Puskesmas yang ditangani Peningkatan PHBS 54% 60% 70% 80% 80% 80% 80% 48% 55% 50% 60% 60% 70% 65% 80% 65% 80% 65% 80% 65% 80% Menurunnya angka penyakit Diare 7 Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarkat Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pola Hidup Bersih dan Sehat 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 9.

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 Promosi Kesehatan terselenggara disetiap jenjang Berfungsinya jejaring informasi kesehatan di jajaran kesehatan Pemberdayaan Kesehatan ditingkat RW dalam bentuk RW siaga Terlaksananya Promosi Kesehatan terselenggara disetiap jenjang Berfungsinya jejaring informasi kesehatan di jajaran kesehatan Cakupan RW Siaga aktif Meningkatnya usaha Kesehatan Bersumber Masyarakat ( Posyandu Purnama dan Mandiri) Penjaringan Kesehatan Siswa 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 32% 33% 35% 40% 45% 50% 55% 65% 75% 80% 85% 90% 95% 100% 50% 55% 60% 65% 70% 75% 80% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 143 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM TARGET KINERJA PROGRAM SD dan setingkat KONDISI Thn 2007 2008 2009 100% Target pertahun 2010 100% 2011 100% 2012 100% 2013 100% 8 Program Pencegahan Penyakit Tidak Menular Meningkatnya prosentase screening resiko kardio vasculer. kanker servix dan kanker payudara Terkendalinya Faktor Resiko PTM 100% 100% 9 Program Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Meningkatnya jumlah fasilitas kesehatan yang mendapat sertifikasi dan pengakuan akreditasi Teridentifikasinya faktor resiko penyakit cardio vasculer Terlaksananya Deteksi dini Kanker Cerviks dan Payudara di Puskesmas Tersertifikasi SKPD Fungsi kesehatan 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 25% 30% 50% 55% 60% 70% 70% 73% 75% 80% 90% 100% 100% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 144 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Meningkatnya Kualitas pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit TARGET KINERJA PROGRAM Terlaksananya review system pengendalian mutu dan safety terhadap pasien yang dirawat di 127 RS Meningkatnya pemakaian Tempat Tidur ( BOR) di RSUD Prop DKI Jakarta Jumlah Sarana Farmakmin yang Terdaftar Sesuai dengan Peraturan Prosentase Obat Generik Yang digunakan di Puskesmas Cakupan TPM yang sehat dan aman KONDISI Thn 2007 0% 2008 0% 2009 20% Target pertahun 2010 40% 2011 60% 2012 80% 2013 100% 65.6 % 68% 70% 72% 74% 76% 78% 10 Program Pengawasan Obat dan Makanan Meningkatnya pengawasan obat dan makanan yang beredar bebas 60% 70% 80% 90% 100% 100% 100% 95% 95% 96% 96% 97% 97% 98% Meningkatnya jumlah tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang sehat 48% 50% 55% 60% 65% 70% 75% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 145 .

Bertambahnya Rumah Sakit Daerah Terlaksananya Binwasdal sarana Pengobatan Tradisional Tersedianya Puskesmas Kecamatan dengan rawat inap Sarana prasarana puskesmas dan jaringannya yang dipelihara Terlaksananya penambahan RSD 40% 45% 50% 55% 60% 65% 70% 0 5% (2) 5% 7% (3) 7% 12% (5) 12% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 13 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit 14 Program 0% 0% 0% 2% 60% 100% Meningkatnya akses Cakupan Pelayanan 100% 146 100% 100% 100% 100% 100% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 .N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM dan aman TARGET KINERJA PROGRAM KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 11 Program Pengembangan Obat asli Indonesia 12 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Puskesmas Meningkatnya kualitas pelayanan tenaga kesehatan dan pengawasan obat tradisional Meningkatnya jumlah Puskesmas Kecamatan dengan Rawat Inap Terpeliharanya sarana dan prasaranaPuskesmas dan Jaringannya.

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM pelayanan kesehatan bagi masyarakat khususnya bagi penduduk miskin dan kurang mampu TARGET KINERJA PROGRAM Kesehatan Dasar keluarga miskin KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 2011 2012 2013 Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Terjaminnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat melalui JAMKESDA Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Gakin 15 Program Peningkatan Kemitraan Kesehatan Meningkatnya kemitraan antara pemerintah dengan pihak swasta dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat Terlaksananya jejaring kemitraan Kesehatan 15% 25% 30% 35% 40% 45% 50% Belum ada data 70% 75% 80% 85% 90% 90% Terlaksana nya jejaring kemitraan Kesehatan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Terlak sanan ya jejarin g kemitr aan Keseh atan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 147 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Ditetapkannya kriteria dalam memilih dan menentukan mitra maupun program pelayanan kesehatan TARGET KINERJA PROGRAM Ditetapkannya kriteria dalam memilih dan menentukan mitra maupun program pelayanan KONDISI Thn 2007 2008 2009 Target pertahun 2010 100% 2011 2012 2013 dengan swasta 16 Program Terwujudnya Peningkatan masyarakat yang Gizi Masyarakat memiliki Gizi seimbang kesehatan dengan swasta Terlaksananya deteksi dini status gizi Balita melalui pemantauan pertumbuhan Cakupan Balita Gizi buruk mendapat perawatan 72.82 % 75% 78% 80% 82% 85% 85% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 148 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Berkurangnya anak dengan gizi kurang / buruk TARGET KINERJA PROGRAM Cakupan Balita BGM KONDISI Thn 2007 1.8% 17 Program Kesehatan Jiwa Masyarakat Meningkatnya Community Base Unit ( CBU) Meningkatnya pelayanan gangguan jiwa disarana pelayanan kesehatan umum Meningkatnya cakupan deteksi gangguan jiwa oleh masyarakat Jumlah CBU yang terbentuk 0% 0% 12% 24% 36% 48% 60% Cakupan pelayanan gangguan jiwa di sarana Pelayanan kesehatan umum Jumlah wadah/forum dimasyarakat yang melaksanakan upaya kesehatan jiwa 6% 7% 8% 9% 14% 15% 16% 0% 0% 14% 28% 50% 73% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 149 .6% 2009 1.2% 2011 1% 2012 0.8% 2013 0.7 % 2008 1.4% Target pertahun 2010 1.

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Terpenuhinya Kebutuhan sarana dan Prasarana Kesehatan TARGET KINERJA PROGRAM Terpenuhinya Kebutuhan sarana dan Prasarana SKPD Kesehatan Tersedianya Puskesmas Kelurahan di Kelurahan yang belum mempunyai Puskesmas KONDISI Thn 2007 2008 2009 40% Target pertahun 2010 80% 2011 100% 2012 2013 18 Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Kesehatan O O 2 PKL 5 PKL 5 PKL 5 PKL 7 PKL 19 Program Pemberdayaan Komunitas Kesehatan Berfungsinya Dewan Kesehatan Sebagai mitra penyusunan kebijakan Berfungsinya asosiasi usaha kesehatan sebagai mitra penyusunan dan implementasi kebijakan kesehatan Terbentuknya Dewan Kesehatan Tk Provinsi Berfungsinya asosiasi usaha kesehatan O 0% 0% 100% 100% 100% 100% Belum ada data 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 150 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Terpenuhinya standar pelayanan minimal (SPM) lain urusan kesehatan TARGET KINERJA PROGRAM Implementasi SPM SKPD Fungsi Kesehatan KONDISI Thn 2007 100% 2008 100% 2009 100% Target pertahun 2010 100% 2011 100% 2012 100% 2013 100% 20 Program Pelaksanaan SPM Lain Urusan Kesehatan 21 Program Peningkatan peran serta pengendalian bencana ( kesehatan ) Respon time pelayanan kegawatdaruratan menjadi lebih singkat Cakupan pelayanan gawat darurat level I di sarana kesehatan (RS) di Kab/Kota 52% 70% 80% 90% 95% 100% 100% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 151 .

N O PROGRAM TOLOK UKUR PRORAM Meningkatnya kemampuan masyarakat sadar bencana dalam penanggulangan kesehatan akibat bencana Terlaksananya penggalangan kesehatan dalam keadaan bencana TARGET KINERJA PROGRAM Meningkatnya tenaga awam terlatih gadar KONDISI Thn 2007 500 Orang 2008 600 Org 2009 900 Org Target pertahun 2010 1200 Org 2011 1500 Org 2012 1750 Org 2013 2000 Org 22 Program Peningkatan kemampuan penanggulanga n kesehatan akibat bencana 23 Program Menggalangn seluruh sumber daya daerah dalam kesdaan bencana Tersedianya penggalangan kesehatan dalam keadaan bencana Koordinasi di setiap jenjang Kesehatan 65 SKPD Keseh atan 65 SKPD Keseh atan 65 SKPD Keseh atan 65 SKPD Keseh atan 65 SKPD Keseh atan 65 SKPD Keseh atan Tersedianya sarana dan prasarana pelayanan kesehatan kegawatdaruratan 10% 10% 15% 20% 25% 30% 35% Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 152 .

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 153 .

71 8 3.653.00 0 978.8 20 2012 4.642.406.70 0 9.618.568.910.335.28 4 APBD +APB N 1.89 0 APBD 8.108.825.30 0 11.075.100.50 2 2013 KET 5.25 2 APBD Pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan Peningakatan pengelolaan urusan kesehatan yang dapat diakses melalui internet Optimalisasi operasional SKPD Urusan kesehatan 1.3 80 2.132.847.20 0 4.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 1 PROGRAM Program Penerapan Kaidah Good Governance dalam Penyelenggaraa n urusan Kesehatan KEGIATAN Upaya Peningkatan Kinerja Aparatur Kwesehatan 2008 3.13 0 12.431.71 3 1.8 30 1.2 00 2.680.00 0 2.332.14 3 14.687.70 0 880.30 0 1.006.301.95 7 APBD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 154 .183.80 0 2.00 0 10.277.80 0 2009 3.848.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 4.

22 6 APBD +APB N APBD 101.5 63 - 198.8 20 322.20 0 292.56 9 2013 KET 1.1 00 2009 900.90 0 1.00 0 266.7 00 217.3 03 - 149.48 APBD 2 - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 155 .10 2 354.62 0 - 218.22 6 164.00 0 242.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 988.7 90 2012 1.316.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya peningkatan CRR 60 % diPuskesmas Penyusunan Sistem Kesehatan Prov DKI Jakarta Upaya penempatan SDM Kesehatan berdasarkan Kompetensi Pengembangan Produk Kesehatan 2008 809.196.14 9 - 180.31 APBD 2 134.8 00 113.087.

8 00 700.2 00 550.162.4 80 740.25 2 2013 KET 1.20 0 832.9 00 961.00 0 600.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 2 PROGRAM Program Sinkronisasi Kebijakan Pembniayaan.72 8 814.187.02 9 APBD +APB N 1.8 10 1.00 0 APBD 864.10 0 1.279.09 1 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 156 .305.80 0 673.8 00 2009 850.20 0 1. Kelembagaan dan Regulasi Kesehatan KEGIATAN Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD 2008 802.5 20 915.97 7 APBD +APB N Penyusunan Laporan Kinerja & Akuntabilitas Upaya peningkatan informasi tentang pembiayaan kesehatan Upaya penyusunan regulasi kesehatan 619.57 2 1.00 0 756.00 0 1.407.007.079.3 20 2012 1.30 APBD 1 +APB N 896.057.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 981.

3 00 854.6 00 168.8 20 721.8 00 542.89 7 1.00 0 596.54 2 APBD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 157 .40 2 793.033.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 196.1 00 2009 179.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 3 PROGRAM Program Pencegahan dan Penanggulanga n Penyakit Menular KEGIATAN Peningkatan Imunisasi 2008 161.2 70 1.40 0 205.136.24 9 2013 KET 262.00 0 187.5 90 2012 238.70 0 1.90 0 216.20 0 655.00 0 939.78 7 APBD 487.07 4 APBD Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TBC Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit HIV/AIDS dan IMS Upaya penurunan dan pencegahan penyakit menular lainnya 768.34 1 APBD 273.67 4 248.250.3 40 226.

22 8 2013 KET 2.55 1 458.20 0 2009 1.277.80 0 2.000 611.669.905.95 5 416.00 0 313.290.5 00 281.188.7 00 305.70 0 4.7 30 405.4 00 565.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Peningkatan Surveilans Epidemiologi Antispasi dan penanggulanga n KLB Penyakit dan Bencana Flu Burung 4 Program Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Upaya penurunan angka kematian ibu melahirkan Upaya penurunan angka kematian bayi 2008 1.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 2.7 60 740.893.703.082.30 0 369.706.519.595.00 0 5.5 30 6.60 3 446.771.00 0 335.04 0 APBD +APB N Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 158 .58 3 6.30 0 5.60 0 672.75 1 274.26 3 APBD 500.03 6 814.54 1 APBD 7.0 50 378.50 0 344.4 80 2012 2.

INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya peningkatan akses dan cakupan kesehatan ibu.7 00 600.50 0 369.0 50 405.30 0 27.30 0 765.00 0 335.52 3 926. bayi baru lahir dan anak (KIBBLA) 5 Program Peningkatan Kesehatan Anak Balita Upaya peningkatan pemberian ASI eklusif.9 30 842.61 3 2013 KET 22.7 00 2009 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 25. makanan pendapmping ASI Dan Vitamin pada Balita Upaya penurunan Balita dengan Gizi kurang / buruk 569.77 5 APBD +APB N 274.00 0 2008 20.55 1 APBD +APB N Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 159 .67 4 APBD 696.95 5 446.000 33.5 00 255.8 30 2012 30.

3 20 1.05 0 - APBD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 160 .8 00 800.00 0 1.50 0 - 732.30 5 KET 6 Program Pengembangan Lingkungan Sehat Upaya peningkatan jumlah rumah / bangunan yang bebas jentik nyamuk Aidesaigepty Upaya peningakatan industri .20 0 958.537.00 0 550.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 1.159.0 00 - 665. tempat tempat umum dan tempat pengelolaan makanan yang sehat Upaya penurunan penyakit diare APBD 712.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN 2008 945.55 0 2013 1.00 0 - 605.0 00 - 500.0 00 2009 1.054.050.56 7 APBD +APB N 450.15 2 1.5 00 2012 1.397.155.270.00 0 871.

00 0 1.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang PHBS Upaya pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan (RW siaga) Upaya peningkatan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat Upaya pengenmbanga n informasi kesehatan melalui media 2008 1.354.2 00 118.85 7 3.839.00 0 1.100.0 00 1.05 8 172.76 4 APBD 900.60 0 2.751.70 0 2.30 0 2.8 70 3.00 0 129.210.590.80 0 142.24 3 APBD +APB N 106.0 00 1.140.946.13 9 KET 7 Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarkat APBD 2.10 0 APBD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 161 .00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 2.000.12 6 2013 2.40 0 2009 1.464.00 0 1.6 60 2012 2.112.331.849.581.436.7 80 157. 000 2.300.123.

7 90 131.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya Pengendalian Paktor Resiko PTM Upaya Pengendalian Deteksi Dini Kanker Servic dan Payudara 9 Program Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Pemeliharaan sistem manajemen mutu di SKPD Kesehatan Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di RS 1.09 5 APBD 1.77 7 2.833.56 2 KET 8 Program Pencegahan Penyakit Tidak Menular APBD 60.218.90 0 119.440.70 0 81.42 0 2013 1.17 7 98.017.500.200.30 0 1.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 902.0 70 2.1 00 99.76 9 144.70 0 2.667.00 0 2008 738.00 0 108.0 70 89.3 00 67.0 00 2009 820.2 00 2012 1.00 0 992.94 6 APBD - - - - - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 162 .00 0 73.091.65 5 APBD 89.

4 00 358.50 2 APBD +APB N - - - - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 163 .00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 432.5 30 2012 523.00 0 413.30 0 475.9 60 500.08 3 2013 KET 575.45 6 550.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 10 PROGRAM Program Pengawasan Obat dan Makanan KEGIATAN Peningkatan pengawasan obat dan makanan yang beredar bebas 2008 353.39 1 APBD +APB N 11 Program Pengembangan Obat asli Indonesia Peningkatan kualitas pelayanan tenaga kesehatan dan pengawasan obat tradisional 12 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Puskesmas Peningkatan jumlah puskesmas Kec dengan Rawat Inap 338.7 00 2009 390.60 0 454.

00 0 50.000.000.00 0 550.00 0 - 200.000.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Pemelihraan sarana dan prasarana dan jaringannya 13 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit 2008 2009 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 2012 2013 KET - - - - - - Meningkatnya jumlah RS daerah Upaya Peningkatan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat khususnya bagi penduduk miskin dan kurang mampu 280.000.000.000.00 0 25.00 0 APBD 14 Program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat 500.00 0 50.00 0 500.000.00 0 APBD Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 164 .000.00 0 500.000.00 0 500.

60 0 1.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya pelayanan kesehatan masyarakat melalui Jamkesda Peningkatan manajemen pelayanan kesehatan 15 Program Peningkatan Kemitraan Kesehatan Peningkatan kemitraan antara pemerintah dan pihak swasta dalam pelayanan bagi masyarakat 2008 511.0 00 360.2 80 2012 756.40 0 1.6 00 479.80 0 687.119.00 0 396.655.76 4 1.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 624.00 0 435.505.60 9 APBD 1.16 0 527.00 8 2013 KET 831.244.2 40 1.00 0 1.368.34 0 APBD 324.821.07 6 APBD - - - - - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 165 .2 00 2009 568.

09 7 APBD 508.01 5 Peningkatan CBU Peningkatan pelayanan gangguan jiwa disarana pelayanan kesehatan umum 223.08 8 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 166 .INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 16 PROGRAM Program Peningkatan Gizi Masyarakat KEGIATAN Upaya peningkatan masyarakat yang memiliki gizi seimbang Upaya penurunan balita dengan gizi buruk 17 Program Kesehatan Jiwa Masyarakat 2008 233.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 285.5 50 2009 163.0 80 330.21 7 APBD +APB N 363.9 95 2012 345.45 0 313.50 0 683.00 0 272.2 00 248.6 50 752.39 5 2013 KET 379.80 0 300.5 00 549.93 4 APBD +APB N 827.00 0 621.

325.175.50 0 100.25 0 110.823.905.00 0 83.657.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Upaya peningkatan cakupan deteksi gangguan jiwa oleh masyarakat 18 Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Kesehatan 2008 2009 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 2012 2013 KET - - - - - APBD Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasrana kesehatan Berfungsinya dewan kesehatan sebagai mitra penyusunan kebihjakan 68.00 0 75.57 5 APBD - - - - 19 Program Pemberdayaan Komunitas Kesehatan - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 167 .00 0 91.750.

7 70 49.70 0 44.3 00 37.24 7 54.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO PROGRAM KEGIATAN Berfungsinya asosiasi mitra kesehatan sebagai mitra penyusunan dan implementasi kebijakan kesehatan 20 Program Pelaksanaan SPM Lain Urusan Kesehatan 2008 2009 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 2012 2013 KET - - - - - Penyelenggaraa n Dukungan Pelaksanaan SPM 33.17 2 APBD - - - - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 168 .00 0 40.

293.8 40 2012 138.7 70 1.70 0 1.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 21 PROGRAM Program Kerjasama Pengembangan Jaringan Kesehatan Regional ( Keweilayahan ) KEGIATAN Peningkatan kerjasama pencegahan dan penanggulanga n KLB dan wabah seJabodetakebe kjur 2008 93.00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 114.6 00 2009 104.30 0 1.42 4 2013 KET 152.912.580.91 2 APBD - - - - - Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 169 .103.738.40 0 125.437.26 6 APBD 22 Peningkatan peran serta pengendalian bencana ( kesehatan ) Peningkatan Respontime pelayanan kegawatdarurat an 1.00 0 1.64 7 2.

404.00 3 758.747.00 0 2008 225.922.0 00 2009 250.70 0 1.49 9 701.65 3 624.INDIKASI PEMBIAYAAN Dalam ribuan rupiah NO 23 PROGRAM Peningkatan kemampuan penanggulanga n kesehatan akibat bencana KEGIATAN Peningkatan kemampuan masyarakat sadar bencana dalam penanggulanga n kesehatan akibat bencana 24 Menggalangn seluruh sumber daya daerah dalam kesdaan bencana Peningkatan upaya penggalangan kesehatan dalam keadaan bencana 1.262.716.22 6 637.5 00 2012 332.181.588.119.54 8 716.02 5 APBD 1.60 3 1.00 0 302.313.30 0 1.50 4 Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 170 .00 0 INDIKASI PEMBIAYAAN 2010 2011 275.36 3 APBD 392.444.545.848.7 30 1.75 0 2013 KET 366.

BAB VI PENYELENGGARAAN DAN PENILAIAN 6. peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak dalam rangka penurunan angka kematian ibu dan anak. pelaksanaan dan pengendalian. Penyelenggara Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta ini adalah semua unit utama/struktural Dinas kesehatan. serta pengawasan dan pertanggungjawaban. peningkatan pelayanan kesehatan gawat darurat dan bencana. merata. 3. Prioritas tinggi akan diberikan pada penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta ini merupakan acuan utama dalam Penyusunan Rencana Kerja (Renja SKPD) dan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA-SKPD) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mulai tahun 2008 sampai dengan 2013. penurunan angka penyakit tidak menular. Penyelenggara Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta memerlukan komitmen yang sangat tinggi dan dukungan serta kerjasama yang baik antara pelakunya yang ditunjang oleh tata penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang baik. 4. promosi dan sosialisai program kesehatan Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 171 . Penyelengaraan Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dilakukan melalui siklus perencanaan. penanggulangan masalah gizi buruk pada kelompok balita dan ibu hamil. dan terjangkau dengan pendekatan utamanya pada upaya promotif dan preventif yang dilaksanakan secara serasi dan seimbang dengan upaya kuratif dan rehabilitatif. 5. termasuk unit pelaksana teknisnya. peningkatan sistem informasi. penanggulangan penyakit menular. 2. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengutamakan terwujudnya pelayanan kesehatan yang adil.1 PENYELENGGARAAN RENSTRA DINAS KESEHATAN 1.

dan sinergisme. Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 172 . 2. Oleh karenanya rencana strategis ini perlu disosialisasikan. yang berupa sasaran Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. melalui penyusunan. 6. dilakukan pada tahun 2013 dengan menilai pencapaian indikator keberhasilan renstra ini. Penilaian dilakukan juga terhadap hasil pelaksanaan berbagai kegiatan masing-masing program pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. yang hanya dapat dicapai dengan kontribusi para pelaku pembangunan kesehatan lainnya.serta pendayagunaan tenaga kesehatan secara berhasilguna dan berdayaguna. maka perlu dikembangkan sistem pelaporan pelaksanaannya. Penilaian akhir Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta 2007-2013. 3. agar dapat mewujudkan keserasian. 6.. yang dipadukan dengan pengembangan sistem informasi kesehatan. Penilaian Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta bertujuan untuk menilai keberhasilan penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.2 PENILAIAN 1. Agar penilaian Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta ini dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. singkronisasi. dan pelaksanaan Rencana Strategis Satuan Kerja Pemerintah Kota administratif / Kabupaten. Dalam Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta termuat pula sasaran-sasaran pembangunan kesehatan.

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 173 . Penilaian hasil pelaksanaan tahunan dari Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta ini dilakukan dalam bentuk penyusunan laporan kinerja tahunan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta .4.

BAB VII PENUTUP Penyusunan Renstra Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2007 – 2012 ini merupakan penyesuaian dari Renstra Dinas Kesehatan sebelumnya yang mengacu kepada program Indikatif tahun 2008. oleh karenanya perlu adanya sosialisasi di lingkungan Dinas Kesehatan dan jajarannya. 2012 dan Standart Pelayanan Minimal bidang Kesehatan. pelaksanaan dan penilaian upaya Dinas Kesehatan dalam kurun waktu lima tahun ( 2007 – 2012 ) yang setiap tahunnya diterjemahkan dalam Rencana Kerja SKPD Dinas Kesehatan .Renstra disusun sedemikian rupa sehingga pencapaiannya dapat diukur dan dipergunakan dalam penyusunan laporan kinerja tahunan dan lima tahunan Dinas Kesehatan Proses penyusunan Renstra ini pun melibatkan partisipasi karyawan Dinas Kesehatan. semoga hal ini dapat memicu semangat dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan bersama Acuan pembuatan Renstra ini adalah RPJMD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2007 – Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 174 . Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak atas selesainya renstra Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Ini. Maksud dari penyusunan Renstra ini adalah menjadi acuan dalam perencanaan.

Renstra Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2007-2012 175 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful