Anda di halaman 1dari 7

PROSES PENYEMBUHAN TULANG Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menajubkan.

Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut. Pengertian tentang reaksi tulang yang hidup dan periosteum pada penyembuhan fraktur merupakan dasar untuk mengobati fragmen fraktur. Proses penyembuhan pada fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai tejadi konsolidasi. Factor mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam penyembuhan, selain factor biologis yang juga merupakan suatu factor yang sangat essential dalam penyembuhan fraktur. Proses penyembuhan fraktur berbeda pada tulang kortikal pada tulang panjang serta tulang kanselosa pada metafisis tulang panjang atau tulang pendek, sehingga kedua jenis penyembuhan tulang ini harus dibedakan. Proses penyembuhan fraktur terdiri dari beberapa fase, sebagai berikut : 1. Reactive Phase a. Fracture and inflammatory phase b. Granulation tissue formation Reparative Phase a. Callus formation b. Lamellar bone deposition Remodeling Phase a. Remodeling to original bone contour

2.

3.

Tahapan penyembuhan tulang terdiri dari: inflamasi, proliferasi sel, pembentukan kalus, penulangan kalus (osifikasi), dan remodeling. 1. Tahap Hematoma dan Inflamasi. Apabila tejadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli dalam system haversian mengalami robekan dalam daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah kedalam jaringan lunak. Osteosit dengan lakunannya yang terletak beberapa millimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskular tulang yang mati pada sisi sisi fraktur segera setelah trauma. Waktu terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi sampai 2 3 minggu. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cidera dan pembentukan hematoma di tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cidera kemudian akan diinvasi oleh magrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri. Dengan adanya patah tulang, tubuh mengalami respon yang sama bila ada cedera di tempat lain dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar) yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan, dan nyeri. Tahap inflmasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Tahap Proliferasi Sel. Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, sel endotel, dan sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan (osteoid). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak sruktur kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukkan potensial elektronegatif. Pada saat ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel sel osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagi aktivitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferansiasi sel sel mesenkimal yang berdiferensiasi kedalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi penambahan jumlah dari sel sel osteogenik yang memberi penyembuhan yang cepat pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologist kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah radioluscen.

2.

Pada fase ini dimulai pada minggu ke 2 3 setelah terjadinya fraktur dan berakhir pada minggu ke 4 8. 3. Tahap Pembentukan Kalus. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan, dan tulang serat matur. Setelah pembentukan jaringan seluler yang tumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblast dan kemudian pada kondroblast membentuk tulang rawan. Tempat osteoblas diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam garam kalsium pembentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk kalus dan volume dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis fargmen tulang tidak bisa lagi digerakkan. Bentuk tulang ini disebut moven bone. Pada pemeriksaan radiolgis kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur. Tahap Penulangan Kalus (Osifikasi). Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan lahan diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamellar dan kelebihan kalus akan di resorpsi secara bertahap. Pada fase 3 dan 4 dimulai pada minggu ke 4 8 dan berakhir pada minggu ke 8 12 setelah terjadinya fraktur. Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam dua sampai tiga minggu patah tulang, melalui proses penulangan endokondral. Patah tulang panjang orang dewasa normal, penulangan memerlukan waktu tiga sampai empat bulan. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras. Permukaan kalus tetap bersifat elektronegatif. Tahap Menjadi Tulang Dewasa (Remodeling). Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus stres fungsional pada tulang. Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru akan membentuk bagian yang meyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini perlahan lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetapi terjadi osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan lahan menghilang. Kalus intermediet berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi system haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk susmsum. Pada fase terakhir ini, dimulai dari minggu ke 8 12 dan berakhir sampai beberapa tahun dari terjadinya fraktur. Tulang kanselus mengalami penyembuhan dan remodeling lebih cepat daripada tulang kortikal kompak, khususnya pada titik kontak langsung. Selama pertumbuhan memanjang tulang, maka daerah metafisis mengalami remodeling (pembentukan) dan pada saat yang bersamaan epifisis menjauhi batang tulang secara progresif. Remodeling tulang terjadi sebagai hasil proses antara deposisi dan resorpsi osteoblastik tulang secara bersamaan. Proses remodeling tulang berlangsung sepanjang hidup, dimana pada anak-anak dalam masa pertumbuhan terjadi keseimbangan (balance) yang positif, sedangkan pada orang dewasa terjadi keseimbangan yang negative. Remodeling juga terjadi setelah penyembuhan suatu fraktur. (Rasjad. C, 1998) Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodelling memerlukan waktu berbulan-bulan samapai bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus , stress fungsional pada tulang. Tulang kanselus mengalami penyembuhan dan remodeling lebih cepat dari pada tulang kortikal kompak, khususnya pada titik kontak langsung. Ketika remodeling telah sempurna, muatan permukaan patah tulang tidak lagi bermuatan negatif.

4.

5.

Waktu penyembuhan fraktur bervariasi secara individual dan berhubungan dengan beberapa factor penting pada penderita, antara lain: 1. Umur penderita Waktu penyembuhan tulang pada anak anak jauh lebih cepat pada orng dewasa. Hal ini terutama disebabkan karena aktivitas proses osteogenesis pada daerah periosteum dan endoestium dan juga berhubungan dengan proses remodeling tulang pada bayi pada bayi sangat aktif dan makin berkurang apabila unur bertambah 2. Lokalisasi dan konfigurasi fraktur Lokalisasi fraktur memegang peranan sangat penting. Fraktur metafisis penyembuhannya lebih cepat dari pada diafisis. Disamping itu konfigurasi fraktur seperti fraktur tranversal lebih lambat penyembuhannya dibanding dengan fraktur oblik karena kontak yang lebih banyak. 3. Pergeseran awal fraktur

Pada fraktur yang tidak bergeser dimana periosteum intak, maka penyembuhannya dua kali lebih cepat dibandingkan pada fraktur yang bergeser. Terjadinya pergeseran fraktur yang lebih besar juga akan menyebabkan kerusakan periosteum yang lebih hebat. 4. Vaskularisasi pada kedua fragmen Apabila kedua fragmen memiliki vaskularisasi yang baik, maka penyembuhan biasanya tanpa komplikasi. Bila salah satu sisi fraktur vaskularisasinya jelek sehingga mengalami kematian, maka akan menghambat terjadinya union atau bahkan mungkin terjadi nonunion. 5. Reduksi dan Imobilisasi Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya. Imobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yang akan mengganggu penyembuhan fraktur. 6. Waktu imobilisasi Bila imobilisasi tidak dilakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum terjadi union, maka kemungkinan untuk terjadinya nonunion sangat besar. 7. Ruangan diantara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lemak. Bila ditemukan interposisi jaringan baik berupa periosteal, maupun otot atau jaringan fibrosa lainnya, maka akan menghambat vaskularisasi kedua ujung fraktur. 8. Adanya infeksi Bila terjadi infeksi didaerah fraktur, misalnya operasi terbuka pada fraktur tertutup atau fraktur terbuka, maka akan mengganggu terjadinya proses penyembuhan. 9. Cairan Sinovia Pada persendian dimana terdapat cairan sinovia merupakan hambatan dalam penyembuhan fraktur. 10. Gerakan aktif dan pasif anggota gerak Gerakan pasif dan aktif pada anggota gerak akan meningkatkan vaskularisasi daerah fraktur tapi gerakan yang dilakukan didaerah fraktur tanpa imobilisasi yang baik juga akan mengganggu vaskularisasi. Penyembuhan fraktur berkisar antara 3 minggu 4 bulan. Waktu penyembuhan pada anak secara kasar setengah waktu penyembuhan daripada orang dewasa. Perkiraan penyembuhan fraktur pada orang dewasa dapat di lihat pada table berikut : WAKTU PENYEMBUHAN LOKALISASI (minggu) Phalang / metacarpal/ metatarsal / kosta 36 Distal radius 6 Diafisis ulna dan radius 12 Humerus 10 12 Klavicula 6 Panggul 10 12 Femur 12 16 Condillus femur / tibia 8 10 Tibia / fibula 12 16 Vertebra 12 Penilaian penyembuhan fraktur (union) didasarkan atas union secara klinis dan union secara radiologik. Penilaian secara klinis dilakukan dengan pemeriksaan daerah fraktur dengan melakukan pembengkokan pada daerah fraktur, pemutaran dan kompresi untuk mengetahui adanya gerakan atau perasaan nyeri pada penderita. Keadaan ini dapat dirasakan oleh pemeriksa atau oleh penderita sendiri. Apabila tidak ditemukan adanya gerakan, maka secara klinis telah terjadi union dari fraktur. Union secara radiologik dinilai dengan pemeriksaan roentgen pada daerah fraktur dan dilihat adanya garis fraktur atau kalus dan mungkin dapat ditemukan adanya trabekulasi yang sudah menyambung pada kedua fragmen. Pada tingkat lanjut dapat dilihat adanya medulla atau ruangan dalam daerah fraktur. Problem Dalam Proses Penyembuhan Tulang 1. Compartment syndrome Setelah terjadi fraktur terdapat pembengkakan yang hebat di sekitar fraktur yang mengakibatkan penekanan pada pembuluh darah yang berakibat tidak cukupnya supply darah ke otot dan jaringan sekitar fraktur. Pada sindroma kompartemen, terjadi perdarahan disertai edema. Akibat dari edema ini, tekanan kompartemen osteofasial meningkat, sehingga sebagai akbiatnya kapiler di sekitar luka menurun, yang berujung pada iskemi otot. Karena iskemi otot, edema menjadi bertambah dan iskemik menjadi-jadi (sirkulus visiosus) dan akhirnya terjadi nekrosis otot dan saraf dalam kompartemen tersebut. Setelah terjadi nekrosis, jaringan otot yang mati akan digantikan dengan jaringan fibrosis yang sifatnya tidak elastis yang akan membentuk kontraktur atau lebih dikenal sebagai Volkmann ischaemic contracture. Biasanya sindroma kompartemen ini diakbiatkan balutan atau gips yang terlalu kencang.

Pada bagian yang mengalami sindrom kompartemen, komplikasi beresiko tinggi yang sering muncul ialah fraktur siku, lengan atas, dan tibia proksimal. Sindroma kompartemen ini ditandai dengan 5P: a. Pain (rasa nyeri) b. Paresthesia (mati rasa) c. Pallor (pucat) d. Paralisis (kelumpuhan) e. Pulselessness (ketiadaan denyut nadi) 2. Neurovascular injury Pada beberapa fraktur yang berat dapat mengakibatkan arteri dan saraf disekitarnya mengalami kerusakan. 3. Post traumatic arthritis Fraktur yang berhubungan dengan sendi (intra artikuler fraktur) atau fraktur yang mengakibatkan bertemunya tulang dengan sudut abnormal di dalam sendi yang dapat mengakibatkan premature arthritis dari sendi. 4. Growth abnormalities Fraktur yang terjadi pada open physis atau growth plate pada anak anak dapat menyebabkan berbagai macam masalah. Dua dari masalah ini adalah premature partial atau penutupan secara komplit dari physis yang artinya salah satu sisi dari tulang atau kedua sisi tulang berhenti tumbuh sebelum tumbuh secara sempurna. Jika seluruh tulang seperti tulang panjang berhenti tumbuh secara premature dapat mengakibatkan pendeknya salah satu tulang panjang dibandingkan tulang panjang lainnya, membuat salah satu tulang kaki lebih pendek dibandingkan tulang kaki lainnya. a. Malunion Malunion adalah keadaan dimana fraktur menyembuh pada saatnya, tetapi terdapat deformitas yang terbentuk angulasi, varus / valgus, rotasi, kependekan atau union secara menyilang misalnya pada fraktur radius dan ulna. Etiologi 1) Fraktur tanpa pengobatan 2) Pengobatan yang tidak adekuat 3) Reduksi dan imobilisasi yang tidak baik 4) Pengambilan keputusan serta teknik yang salah pada awal pengobatan 5) Osifikasi premature pada lempeng epifisis karena adanya trauma Gambaran klinis 1) Deformitas dengan bentuk yang bervariasi 2) Gangguan fungsi anggota gerak 3) Nyeri dan keterbatasan pergerakan sendi 4) Ditemukan komplikasi seperti paralysis tardi nervus ulnaris 5) Osteoarthritis apabila terjadi pada daerah sendi 6) Bursitis atau nekrosis kulit pada tulang yang mengalami deformitas Pemeriksaan radiologist Pada foto roentgen terdapat penyambungan fraktur tetapi pada posisi yang tidak sesuai dengan keadaan yang normal. Pengobatan Konservatif Dilakukan refrakturisasi dengan pembiusan umum dan imobilisasi sesuai dengan fraktur yang baru. Apabila ada kependekan anggota gerak dapat digunakan sepatu orthopedic. Operatif 1) Osteotomi koreksi (osteotomi Z) dan bone graft disertai dengan fiksasi interna 2) Osteotomi dengan pemanjangan bertahap, misalnya pada anak anak. 3) Osteotomi yang bersifat baji Delayed Union Delayed union adalah fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3 -5 bulan (3 bulan untuk anggota gerak atas dan 5 bulan untuk anggota gerak bawah) Etiologi Etiologi delayed union sama dengan etiologi pada nonunion Gambaran klinis 1) Nyeri anggota gerak pada pergerakan dan waktu berjalan. 2) Terdapat pembengkakan 3) Nyeri tekan

b.

4) Terdapat gerakan yang abnormal pada daerah fraktur 5) Pertambahan deformitas Pemeriksaan radiologist 1) Tidak ada gambaran tulang baru pada ujung daerah fraktur 2) Gambaran kista pada ujung ujung tulang karena adanya dekalsifikasi tulang 3) Gambaran kalus yang kurang disekitar fraktur. Pengobatan Konservatif Pemasangan plester untuk imobilisasi tambahan selama 2 3 bulan. Operatif Bila union diperkirakan tidak akan terjadi, maka segera dilakukan fiksasi interna dan pemberian bone graft. c. Nonunion Disebut nonunion apabila fraktur tidak menyembuh antara 6 8 bulan dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga didapat pseudoarthrosis (sendi palsu). Pseudoarthrosis dapat terjadi tanpa infeksi tetapi dapat juga terjadi sama sama dengan infeksi disebut infected pseudoarthrosis. Beberapa jenis nonunion terjadi menurut keadaan ujung ujung fragmen tulang. Hipertrofik Ujung ujung tulang bersifat sklerotik dan lebih besar dari normal yang disebut gambaran elephants foot. Garis fraktur tampak dengan jelas. Ruangan antar tulang diisi dengan tulang rawan dan jaringan ikat fibrosa. Pada jenis ini vaskularisasinya baik sehingga biasanya hanya diperlukan fiksasi yang rigid tanpa pemasangan bone graft. Atrofik (Oligotrofik) Tidak ada tanda tanda aktivitas seluler pada ujung fraktur. Ujung tulang lebih kecil dan bulat serta osteoporotik dan avaskular. Pada jenis ini disamping dilakukan fiksasi rigid juga diperlukan pemasangan bone graft. Gambaran klinis 1) Nyeri ringan atau sama sekali tidak ada 2) Gerakan abnormal pada daerah fraktur yang membentuk sendi palsu yang disebut pseudoarthrosis. 3) Nyeri tekan atau sama sekali tidak ada. 4) Pembengkakan bisa ditemukan dan bisa juga tidak terdapat pembengkakan sama sekali 5) Pada perabaan ditemukan rongga diantara kedua fragmen. Pemeriksaan radiologist 1) Terdapat gambaran sklerotik pada ujung ujung tulang 2) Ujung ujung tulang berbentuk bulat dan halus 3) Hilangnya ruangan meduler pada ujung ujung tulang 4) Salah satu ujung tulang dapat berbentuk cembung dan sisi lainnya cekung (psedoarthrosis) Pengobatan 1) Fiksasi interna rigid dengan atau tanpa bone graft 2) Eksisi fragmen kecil dekat sendi. Misalnya kepala radius, prosesus stiloid ulna 3) Pemasangan protesis, misalnya pada fraktur leher femur 4) Stimulasi elektrik untuk mempercepat osteogenesis. Penyebab Nonunion Dan Delayed Union 1. Vaskularisasi pada ujung ujung fragmen yang kurang 2. Reduksi yang tidak adekuat 3. Imobilisasi yang tidak adekuat sehingga terjadi gerakan pada kedua fragmen. 4. Waktu imobilisasi yang tidak cukup 5. Infeksi 6. Distraksi pada kedua ujung karena adanya traksi yang berlebihan 7. Interposisi jaringan lunak diantara kedua fragmen tulang 8. Terdapat jarak yang cukup besar antara kedua fragmen 9. Destruksi tulang misalnya oleh karena tumor atau osteomielitis (fraktur patologis) 10. Disolusi hematoma fraktur oleh jaringan sinovia (fraktur intrakapsuler) 11. Kerusakan periosteum yang hebat sewaktu terjadi fraktur atau operasi 12. Fiksasi interna yang tidak sempurna 13. Delayed union yang tidak diobati 14. Pengobatan yang salah atau sama sekali tidak dilakukan pengobatan 15. Terdapat benda asing diantara kedua fraktur, misalnya pemasangan screw diantara kedua fragmen.

PROSES OSIFIKASI, FAKTOR PERTUMBUHAN TULANG & SUPLAI DARAH PD TULANG A. Proses osifikasi Osifikasi adalah perubahan tulang rawan menjadi tulang keras atau perbaikan tulang yang rusak, proses ini terbentuk di dalam perikondrium. Proses osifikasi di mulai dengan terbentuknya sel-sel osteoblas yang terdapat dalam kartilago sedangkan kartilago tersusun dari sel-sel mesenkim, yakni sel-sel pembentuk tulang. 1. Pada tahap awal proses osifikasi, osteoblas akan membentuk suatu lapisan kompak sehingga perikondrium berubah menjadi periosteum (selaput tulang keras), setelah osteoblas mengisi jaringan sekelilingnya akan membentuk osteosit (sel-sel tulang). Bersamaan dengan proses tersebut, pada bagian tulang rawan di daerah diafisis atau pusat batang (pusat osifikasi primer), sel-sel kondrosit membesar akhirnya pecah. 2. Sel-sel tulang dibentuk secara bertahap dari arah dalam ke arah luar sehingga pembentukannya konsentris. Setiap sel-sel tulang ini melingkari suatu pembuluh darah dan saraf membentuk suatu sistem yang disebut sistem havers. Selain itu disekeliling sel-sel tulang ini terbentuk senyawa protein pembentuk matriks tulang dan akan mengeras karena adanya garam kapur dan garam fosfat. Hal ini mengganggu komponen nutrisi bagi sel-sel kondrosit akhirnya mati. 3. Perikondrium yang mengelilingi diafisis di pusat osifikasi berubah menjadi periosteum. Lapisan osteogenik didalam membentuk kolar tulang (klavikula), dan kemudian mengelilingi kartilago yang telah terkalsifikasi. 4. Kondrosit (sel-sel kartilago) yang nutrisinya telah di putuskan oleh kolar akan berdegenerasi dan kehilangan kemampuan untuk mempertahankan matrik kartilago. 5. Kuncup perioteal mengandung pembuluh darah dan osteoblas yang masuk ke dalam spikula kartilago terkalsifikasi melalui ruang yang di bentuk osteoklas pada kolar tulang. 6. Jika kuncup periosteal mencapai puncak pertumbuhan akan menyebar dua arah menuju epifisis. 7. Kemudian tumbuh pusat osifikasi sekunder dalam kartilago epifisis pada kedua ujung tulang panjang. 8. Semua elongasi tulang yang terjadi selanjutnya adalah hasil dari pembelahan sel-sel kartilago dalam lempeng epifisis. 9. Saat pertumbuhan seseorang penuh seluruh kartilago dalam lempeng epifisis menjadi tulang dan akan berhenti. Proses osifikasi dibagi menjadi 2 yaitu: 1. Osifikasi intramembranosa atau penulangan langsung (osifikasi primer) adalah proses jaringan penyambung padat digantikan oleh simpanan garam-garam kalsium untuk membentuk tulang. Misalnya pada tulang pipih seperti tulang-tulang tengkorak. Penulangan ini secara langsung tidak akan terulang lagi. 2. Osifikasi endokondral intrakartilaginosa adalah proses tulang rawan digantikan oleh tulang. Misalnya tulang pipa, osifikasi ini hanya akan membuat tulang semakin panjang. B. Factor yang mempengaruhi pertumbuhan tulang 1. Herediter (genetic) Tinggi badan anak secara umum bergantung pada orang tua, anak-anak dari orang tua yang tinggi biasanya mempunyai badan yang tinggi juga. 2. Factor nutrisi Suplai bahan makanan yang mengandung kalsium, fosfat, protein, vitamin A, C, D penting untuk generasi pertumbuhan tulang serta untuk memelihara rangka yang sehat. 3. Factor endokrin a. Hormone paratiroid (PTH) satu sama lain saling berlawanan dalam memelihara kadar kalsium darah. Sekresi PTH terjadi dengan cara: 1) Merangsang osteoklas, reapsobsi tulang dan melepas kalsium ke dalam darah. 2) Merangsang absorbsi kalsium dan fosfat dari usus. 3) Meresorbsi kalsium dari tubulus renalis. b. Tirokalsitonin, hormone yang dihasilkan dari sel-sel parafolikuler dari kelenjar tiroid, cara kerjanya menghambat resorbsi tulang. c. Hormone pertumbuhan yang di hasilkan hipofise anterior penting untuk proliferasi (bertambah banyak) secara normal dari rawan epifisealis untuk memelihara tinggi badan yang normal dari seseorang. d. Tiroksi bertanggung jawab untuk pertumbuhan tulang yang layak, remodeling tulang dan kematangan tulang.

4.

Factor persyarafan Gangguan suplai persyarafan mengakibatkan penipisan tulang seperti yang terlihat pada kelainan poliomyelitis. a. Factor mekanis Kekuatan dan arah dari tuberkula tulang ditentukan oleh gaya-gaya mekanis yang bekerja padanya. b. Penyakit Penyakit mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap pertumbuhan tulang.

C. Suplai Darah pada Tulang 1. Tulang-tulang panjang a. Arteri nutrisia : arteri tunggal yang berbelok-belok masuk foramen nutrisia oblik ke atas atau ke bawah menuju ke arah yang berlawwanan untuk pertumbuhan tulang, satu arteri disertai dengan 1-2 buah vena selama dalam korteks arteri memberikan cabang-cabang menuju kanalis havers. b. Arteri periosteale : arteri kecil yang menyuplai perousteum berjalan sepanjang perlengketan otot. c. Arteri metapisiale : rangkaian yang membentuk anastomosis di sekeliling sendi yang di sebut sirkulus vaskulosus, cabangnya masuk melalui foramina vaskularis tempat keluarnya vena-vena epifise. 2. Tulang-tulang gepeng. Arteri epifisiale sebuah arteri nutrisia tunggal dan bercabang-cabang, sejumlah cabang menyuplai substansia spongeosa dalam substansia kompakta tulang. 3. Tulang-tulang iga. Arteri nutrisia memasuki tulang distalis dari tuberkulum kosta dan membagi diri menjadi cabang-cabang anterior longus dan posterior brevis yang menyuplai seluruh bagian tulang iga. 4. Tulang-tulang vertebrae. Terdapat 2 arteri yang besar memasuki permukaan posterior korpus vertebrae. Arkus neuralis disuplai oleh pembuluh darah yang memasuki prosesus transversus, bercabang menuju prosesus spinosus foramina ke vena vertebralis pada permukaan posterior korpus vertebrae. Kata-Kata Istilah Perikondrium : Lapisan dan membran jaringan penyambung fibrosa irregular yang mengitari kartilago hialin dan elastik. Osteoblas : Sel pembentuk tulang yang berasal dari mesenkim embrionik, dan selama perkembangan awal tulang rangka, osteoblas berdiferensiasi dari fibroblast yang berfungsi dalam proses pembentukan jaringan tulang. Kartilago : Jaringan ikat penyokong yang padat dan non-vaskular yang tersusun atas kondrosit dan bermacam-macam serat atau zat dasar. Mesenkim : Sel pembentuk tulang.