Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah modul 2 tentang Farmakologi Analgetik. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui dan mempelajari Tentang Farmakologi Analgetik secara umum. Dalam penyusunan makalah ini, kami mendapatkan banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing kami dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan di masa mendatang. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan semua pihak yang membacanya.

Batam,06 Oktober 2011

Penulis

DAFTAR ISI Kata penghantar Daftrar isi .............................. 1 .. 2

BAB 1 PENDAHULUAN 3 Latar belakang . 4

BAB II Pembahasan Sevent jump :

Skenario Kata sulit Kata kunci Key problem Pertanyaan Tujuan Sasaran Mind Map

...5 .. 6 .. 7 ... 8 ... 9 ... 10 ....... 11 12 13 ..14 ..15

Penggolonggan analgesik Bahan Aktif analgesik Mekanisme obat analgesik

Farmakodinamik analgesik . 16 Farmakokinetik analgesik Interaksi analgesik dengan obat lain Sediaan dan penyimpanan analgesik Cara pemberian dan dosis analgesik 17 18 .. 19 .. 20

Efek samping analgesik . 21 Kontra Indikasi analgesik 22

BAB III PENUTUP A.Kesimpulan DAFTAR PUSTAKA 23 24

BAB 1
PENDAHULUAN A.Latar belakang Analgetik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi analgetikantipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot. Obat analgesik - antipiretik serta obat anti - inflamasi nonsteroid (AINS) merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimia. Walaupun demikian obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototip obat golongan ini adalah aspirin, karena itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin (aspirin-like drugs).

B. Tujuan Untuk memenuhi tugas makalah farmakologi

BAB11 PEMBAHASAN

MODUL V
Skenario Tn Salut,usia 53 tahun,overweight ,mengeluhkan nyeri pada sendi lutut.Nyeri ini semakin berat bila pasien beraktivitas.Pada pagi hari pasien mengeluhkan sendinya sukar digerakkan.Untuk meredakan nyeri tersebut ,dokter merencanakan pemberian

analgetik.Bagaimana anda menjelaskan obat yang akan diberikan tersebut ?

Kata sulit Analgesik adalah obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.

Kata kunci Tuan salut berusia 53 tahun Mengalami overweight dan nyeri sendi lutut Nyeri semakin berat bila beraktivitas Pada pagi hari sendinya sukar digerakkan Untuk meredakan nyeri diberikan analgesik

Key problem Seorang laki-laki berusia 53 tahun mengalami overweight dan nyeri lutut diberikan analgesik oleh dokter. Pertanyaan

Bagaimana penggolongan dari obat analgesik ? Bagaimana bahan aktif dari obat analgesik ? Bagaimana Farmakodinamik obat analgesik? Bagaimana Farmakokinetik obat analgesik? Bagaimana mekanisme obat analgesik ? Bagaimana interaksi analgesic dengan obat lain ? Bagaimana sediaan dan penyimpanan obat analgesik? Bagaimana cara pemberian dan dosis obat analgesik ? Bagaimana efek samping obat analgesik? Bagaiman kontra indikasi obat analgesik?

Tujuan umum Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Farmakologi dari Analgetik.

Tujuan khusus

Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang penggolongan analgesik Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang bahan aktif analgesik Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang mekanisme analgesik Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang farmakodinamik analgesik Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang farmakokinetik analgesik Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang efek samping analgesik Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang kontra indikasi analgesik Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang interaksi analgesik dengan obat lain Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang sediaan dan penyimpanan obat analgesik Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang cara pemberian dan dosis obat analgesik

Mind Map
SEDIAAN

FARMAKO KINETIK

ANALGESIK

MEKANISME KERJA

FARMAKO DINAMIK

B.AKTIF

C.PEMBE RIAN

DOSIS

PENGGOLONGAN

KONTRA INDIKASI

EFEK SAMPING G

Cara penggolongan obat secara umum : 1. Obat daftar G Berbahaya. Hanya dapat diberikan dgn r/ dokter Bertanda : dot merah Opium
6

2. Obat daftar O

3. Obat daftar W

Peringatan Obat bebas terbatas Bertanda ; dot biru Bertanda ; dot hijau Tanaman obat herbal bertanda khusus Obat daftar G . Diberikan apoteker pd pasien

4. Obat bebas 5. Obat tradisional 6. Obat wajib apotik

Definisi dan Penggolongan Analgesik Analgesik adalah obat-obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran .Pada umumnya analgesik efektif untuk menghilangkan sakit kepala,nyeri otot,nyeri sendi dan nyeri lainnya.misalnya nyeri pasca bedah,pasca bersalin,disminore(nyeri haid) dan pada nyeri hebat yang sulit dikendalikan.Hampir semua analgesik memiliki efek antipiretik,dan efek antiinflamasi. Analgesik antiinflamasi diduga bekerja berdasarkan penghambatan sintesis prostaglandin(penyebab rasa nyeri).rasa nyeri sendiri dapat dibedakan dalam 3 kategori: 1.Nyeri ringan(sakit gigi,sakit kepala,nyeri otot,nyeri haid)dapat diatasi dengan asetosal,paracetamol,bahkan placebo. 2.Nyeri sedang(migran,sakit punggung,rheumatik)memerlukan analgesik kuat. 3.Nyeri hebat(kolik/kejang usus)harus diatasi dengan analgesik sentral atau analgesik narkotik. Penggolongan 1.Analgesik narkotik(analgesik sentral) Analgesik narkotik bekerja di SSP(susunan saraf pusat),memiliki daya penghalang nyeri yang hebat sekali.Dalam dosis besar dapat bersifat depresan umum(mengurangi kesadaran).mempunyai efek samping menimbulkan rasa nyaman.Hampir semua perasaan tidak nyaman dapat dihilangkan oleh analgesik narkotik kecuali sensasi kulit. Penggolongan analgesik-narkotik adalah sebagai berikut: Alkaloid alam : morfin,codein Derivat semi sintesis : heroin Derivat sintetik : metadon, fentanil
7

Antagonis morfin : nalorfin,nalokson dan pentazocil

Penggolongan analgetik narkotik


Obat generik indikasi Kontra indikasi Efek samping

Morfin

Analgetik selama dan setelah pembedahan,dan pada situasi lain

Depresi pernapasan akut,alkoholisme akut,cedera kepala

Mual.muntah.konstipasi,ketergantungan,pada over dosis menimbulkan keracunan

Kodein fosfat

Nyeri ringan s/d sedang

Sama dengan morfin

Sama dengan morfin

fentanil

Nyeri kronik yang sukar diatasi pada kanker

Sama dengan morfin

Sama dengan morfin

Petidin HCL

Nyeri sedang s/d berat

Sma dengan morfin

Sama dengan morfin

Tramadol HCL

Nyeri sedang s/d berat

Sama dengan morfin

Sama dengan morfin

2.analgesik non-Opioid (non-narkotik) Disebut sebagai analgesik perifer,karena tidak mempengaruhi susunan saraf pusat.semua analgesik perifer memiliki khasiat sebagai antipiretik (menurunkan suhu badan saat demam).Khasiatnya berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hipothalamus mengakibatkan vasodilatasi perifer di kulit dengan bertambahnya pengeluaran kalor disertai

keluar banyak keringat.Misalnya: paracetamol,asetosal.dll.dan berkhasiat sebagai anti inflamasi,anti radang/ anti flogistik. Penggolongan berdasarkan rumus kimianya ,analgesik perifer digolongkan menjadi:

1.Golongan salisilat Asam asetil salisilat yang dikenal sebagai asetosal/aspirin.obat ini diindikasi untuk sakit kepala,nyeri otot,demam.Sebagai contoh aspirin dosis kecil digunakan untuk pencegahan trombosis coroner dan cerebral.Asetosal adalah analgesik antipiretik dan anti inflamasi yang sangat luas digunakan dan digolongkan dalam obat bebas.Masalah efek samping adalah pe Farmakodinamik Salsilat merupakan obat yang paling banyak digunakan sebagai analgesik antipiretik dan anti inflamasi. aspirin bekerja cepat dan efektif sebagai antipiretik dengan dosis laju mekanisme meningkat rangsangan bahkan dapat menyebabkan iritasi lambung dan saluran cerna. 2 Golongan Para aminofenol Terdiri dari fenasitin dan asetaminofen.Di Indonesia lebih dikenal dengan nama Paracetamol,efek samping parasetamol dan kombinasinya pada penggunaan dosis besar/jangka lama dapat menyebabkan kerusakan hati. Farmakodinamik efek analgesik parasetamol dan fenasetin serupa dengan dalsilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyer ringan sampai sedang.efek anti inflamasi sangat lemah oleh karna itu parasetamol dan fenasetin tidak digunakan sebagai antireunatik. Farmakokinetik parasetamol dan fenasetin diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsetrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan masa paruh cairan tubuh plasma antara 1-3 jam obat ini tersbar keseluruh tubuh dalam plsma 25% parasetamo; dan 30% fenasetin terilkat protein plasma kedua obat ini dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. 3. golongan pirazolon(Dipiron) Fenilbutazon dan turunannya yang digunakan adalah dipiron sebagai analgetik antipiretik,karena efek inflamasinya lemah.efek sampingnya dapat menyebabkan agranulositosis,anemia aplastik dan trombositopenia. 4.golongan antranilat(asam mefenamat) Digunakan sebagai analgesik karena sebagai antiinflamasi kurang efektif dibandingkan dengan aspirin.efek samping seperti gejala iritasi mukosa lambung dan gannguan saluran cerna sering timbul.

ANALGESIK ANTI-INFLAMASI NON STEROID Beberapa ains dibawah ini umumnya bersifat anti-inflamasi, analgesic, dan antipiretik. Efek antipiretiknya baru terlihat pada dosis yang lebih besar dari pada efek anlgesiknya, dan ains relative lebih toksik daripada antipiretik klasik, maka obat-obat ini hanya digunakan untuk terapi penyakit inflamasi sendi seperti arthritis rheumatoid. Respon individual terhadap ains bisa sangat bervariasi walaupun obatnya tergolong dalam kelas atau derivate kimiwi yang sama. Semua ains merupakan iritan mukosa lambung walaupun ada perbedaan gradasi antar obat-obat ini. ASAM MEFENAMAT DAN MEKLOFENAMAT Asam mefenamat digunakan sebagai analgesic , sebagai anti inflamasi, asam mefenamat kurang efektif disbanding aspirin. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dyspepsia, diaresampai diare darah dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.dosis asam mefenamat ialah 2-3 kali 250-500 mg sehari. Sedangkan dosis meklofenamat untuk terapi penyakit sendi adalah 200-400 mg sehari. DIKLOFENAK Absropsi obat ini melalui saluran cerna sangat cepat dan lengkap. Obat ini terikat 99 % pada protein plasma dan mengalami efek metabolismelintas pertama sebesar 40-50%, walaupun waktu paruh singkat 1-3 jam. Efek samping yang lazim ialah mual, gastritis, eritema kulit dan sakit kepala sama seperti semua obat AINS, pemakaian obat ini harus berhati-hati pada pasien tukak lambung. Peningkatan enzim transaminase dapat terjadi pada 15 % pasien dan umumnya kembali normal. Pemakaian dosis kehamilan tidak dianjurkan. Dosis orang dewasa 100-150 mg sehari terbagi dua atau tiga dosis. FENBUFEN Berbeda dengan obat AINS lainnya, fenbufen merupakan suatu prrodrug. Zat ini memiliki waktu paruh lain. Pemakaian pada pasien tukak lambung harus berhati-hati. Pada gangguan ginjal, dosis harus dikurangi. Dosis untuk penyakit reumatik sendi adalah 2x 300 mg sehari dan dosis pemeliharaan satu kali sehari 600 mg sebelum tidur IBUPROFEN Merupakan derivate asam propionate yang diperkenalkan pertama kali dinayak Negara. Eek nalgesiknya sama seperti aspirin. Efek samping terhadap saluran cerna lebih ringan dibandingkan dengan aspirin, efek samping lainnya yang jarang ialah eritema kulit, sakit kepala trombosipenia. Dosis sebagai analgesic 4x 400 mg sehari, tetapi sebaiknya dosis optimal pada tiap orang ditentukan secara individual. Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh ibi hamil dan
10

menyusui. Dengan alas an bahwa ibuprofen relative lebih lama dikenal dan tidak menimbulkan efek samping serius pada dosis analgesik. KETOPROFEN Derivate asam propionate ini memiliki efektivitas seperti ibuprofen dengan sifat anti inflamasi sedang. Absorpsi berlansung baik dari lambung dan waktu paruh plasma sekitar 2 jam. Efek samping sama seperti AINS lain terutama menyebabkan gangguan saluran cerna, dan reaksi hipersensitivitas. Dosis 2x 100 mg sehari, tetapi sebaiknya ditentukan secara individual. ASAM TIAPPROFENAT Asam tiapprofenat memperlihatkan sifat sama seperti derivate asam propionate lainnya. Waktu paruh dalam plasma kira-kira 2 jam dan ekskresi terutama melali ginjal sebagai konjugat asilglukuronida. Efek samping sama seperti obat AINS lainnya. Dosis 3x 200 mg . ANALGETIKA NARKOTIK Analgetika narkotik, kini disebut juga opioida ( = mirip opiati) adalah obat-obat yang daya kerjanya meniru (mimic) opioid endogen dengan memperpanjang aktivasi dari reseptor-reseptor opioid (biasanya -reseptor). Zat-zat ini bekerja terhadap reseptor opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri dan respons emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi). Daya kerjanya diantagonir oleh a.1. nalokson. Minimal ada 4 jenis reseptor, yang pengikatan padanya menimbulkan analgesia. Tubuh dapat mensintesa zat-zat opioidnya sendiri, yakni zat-zat endorfin, yang juga bekerja melalui reseptor opioid tersebut. Endorfin (morfin endogen) adalah kelompok polipeptoda yang terdapat di CCS dan dapat menimbulkan efek yang menyerupai efek morfin. Zat-zat ini dapat dibedakan antara endorfin, dynorfin dan enkefalin (Yun. Enkephalos = otak), yang menduduki reseptor-reseptor berlainan. Secara kimiawi zat-zat ini berkaitan dengan hormon-hormon hipofisis dan berdaya menstimulasi pelepasan dari kortikotropin (ACTH), juga dari somatropin dan prolaktin. Sebaliknya, pelepasan LH dan FSH dihambat oleh zat-zat ini. -endorfin pada hewan berkhasiat menekan pernapasan, menurunkan suhu tubuh dan menimbulkan ketagihan. Lagi pula berdaya analgetik kuat, dalam arti tidak mengubah persepsi nyeri, melainkan memperbaiki penerimaannya. Rangsangan listrik dari bagian-bagian tertentu otak mengakibatkan peningkatan kadar endorfin dalam CCS. Mungkin hal ini menjelaskan efek analgesia yang timbul selama elektrostimulasi pada akupuntur atau pada stress, misalnya pada cedera hebat. Peristiwa efek plasebo juga dihubungkan dengan endorfin. Penggolongan Atas dasar cara kerjanya, obat-obat ini dapat dibagi dalam 3 kelompok, yakni : 1. Agonis opiat, yang dapat dibagi dalam

Alkaloida candu : morfin, kodein, heroin, nikomorfin


11

Zat-zat sintetis : metadon dan derivat (dekstromoramida, propoksiten, bezitramida), petidin dan derivatnya (fentanil, sufentanil ) dan tramadol.

Cara kerja obat-obat ini sama dengan morfin, hanya berlainan mengenai potensi dan lama kerjanya, efek samping dan risiko akan kebiasaan dengan ketergantungan fisik. 1. Antagonis opiat : nalokson, nalofin, fentazosin dan buprenofin (Temgesic). Bila digunakan sebagai analgetikum, obat-obat ini dapat menduduki salah satu reseptor. 2. Campuran : nalorfin, nalbufin (nubain). Zat-zat ini dengan kerja campuran juga mengikat pada reseptor opioid, tetapi tidak atau hanya sedikit mengaktivasi daya kerjanya. Kurva dosis/efeknya memperlihatkan plafon, sesudah dosis tertentu peningkatan dosis tidak memperbesar lagi efek analgetiknya. Praktis tidak menimbulkan depresi pernapasan. Potensi analgetik Khasiat analgetik dari morfin oral 30-60 mg dapat disamakan dengan dekstromoramida 5-10 mg, metadon 20 mg, dekstropropoksifen 100 mg, tramadol 120 mg, pentazosin 100/180 mg dan kodein 200 mg.Khasiat analgetik dari morfin subkutan/ i.m 10 mg adalah kurang lebih ekivalen dengan fentanil 0,1 mg, heroin 5 mg, metadon 10 mg, nalfubin 10 mg, petidin 75/100 mg, pentazosin 30/60 mg dan tramadol 100 mg. Undang-undang narkotika. Dikebanyakan negara, beberapa unsur dari kelompok obat ini, seperti propoksifen, pentazosin, dan tramadol tidak termasuk dalam Undang-undang narkotika karena bahaya kebiasaan dan adikisnya ringan sekali. Namun penggunaannya untuk jangka waktu lama tidak di anjurkan. Sejak tahun 1978 sediaan-sediaan dengan kandungan propoksifen di atas 135 mg di negeri Belanda dimasukkan dalam opiumwat (Undang-undang opiat). Mekanisme kerja Endorfin bekerja dengan jalan meduduki reseptor-reseptor nyeri di SSP, hingga perasaan nyeri dapat diblokir. Khasiat analgetik opiopida berdasarkan kemampuannya untuk menduduki sisasisa reseptor nyeri yang belum ditempati endorfin. Tetapi bila analgetika tersebut digunakan terus-menerus, pembentukan reseptor-reseptor baru distimulasi dan diproduksi endorfin di ujung saraf otak. Akibatnya terjadilah kebiasaan dan ketagihan. Penggunaan Rasa nyeri hebat (seperti pada kanker). Ada banyak penyakit yang disertai rasa nyeri, yang terkenal adalah influenza dan kejang-kejang (pada otot atau organ), artrose dan renal (pada sendi) dan migrain. Untuk gangguan-gangguan ini tersedia obat-obat khasiat (parasetamol, NSAIDs, sumatriptan) tetapi yang paling hebat dan mencemaskan adalah rasa sakit pada kanker, walaupun sebetulnya hanya k.1. dua per tiga dari penderita yang mengalaminya. Begitu pula hanya k.1. 70% disebabkan langsung oleh penyakit ganas ini, diluar ini perasaan sakit memiliki etiologi lain, misalnya artritis. Oleh karena itu prinsip untuk menghilangkan atau mengurangi rasa sakit berupa penelitian dengan saksama penyebabnya, obat-obat apa yang layak
12

digunakan sesuai tangga analgetika dan memantaunya secara periodik untuk mendapatkan cara pengendalian rasa sakit yang optimal. Rasa sakit merupakan suatu pengalaman yang rumit dan unik untuk tiap individu yang juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psikososial dan spiritual dari yang bersangkutan. Oleh karena itu untuk kasus-kasus perasaan nyeri yang tidak/sukar terkendalikan adalah penting untuk memperhitungkan faktor-faktor tersebut. Tangga anlagetika (tiga tingkat). WHO telahg menyusun suatu program penggunaan analgetika untuk nyeri hebat, seperti pada kanker, yang menggolongkan obat dalam tiga kelas, yakni : 1. Non-opiopida : NSAIDs termasuk asetosal, parasetamol dan kodein 2. Opiopida lemah : d-propoksifen, tramadol dan kodein, atau kombinasi parasetamol dengan kodein 3. Opiopida kuat : morfin dan derivatnya (heroin) serta opiopida sintetis. Menurut program pengobatan ini pertama-tama diberikan 4 dd 1 gram parasetamol, bila efeknya kurang, beralih ke 3-6 dd parasetamol-kodein 30-60 mg. Baru bila langkah kedua ini tidak menghasilkan analgesi yang memuaskan, dapat diberikan opioid kuat. Pilihan pertama dalam hal ini adalah morfin (oral, subkutan kontinu, intravena, epidural atau spinal)/. Tujuan utama dari program ini adalah untuk menghindarkan risiko kebiasaan dan adiksi untuk opioida, bila diberikan sembarangan. Efek-efek samping umum Morfin dan opiopida lainnya menimbulkan sejumlah besar efek samping yang tidak di inginkan, yaitu :

Supresi SSP, ,misalnya sedasi, menekan pernapasan dan batuk, mioisis, hipothermia dan perubahan suasana jiwa (mood). Akibat stimulasi langsung dari CTZ (Chemo Trigger Zone) timbul mual dan muntah. Pada dosis lebih tinggi mengakibatkan aktivitas mental dan motoris. Saluran napas : bronchokonstriksi, pernapasan menjadi lebih dangkal dan frekuensinya menurun. Sistem sirkulasi : vasodilatasi perifer, pada dosis tinggi hipotensi dan bradyacardia. Saluran cerna : motilitas berkurang (obstipasi), kontraksi sfingter kandung empedu (kolik babtuk empedu), sekresi pankreas, usus dan empedu berkurang. Saluran urogenital : retensi urin (karena naiknya tonus dari sfingter kandung kemih), motolitas uterus berkurang (waktu persalinan di perpanjang) Histamin liberator : urticaria dan gatal-gatal, karena menstimulasi pelepasan histamin Kebiasaan dengan risiko adiksi pada penggunaan lama. Bila terapi dihentikan dapat terjadi gejala abstinensi.

Kehamilan dan laktasi. Opiopida dapat melintasi plasenta, tetapi boleh digunakan sampai beberapa waktu sebelum persalinan. Bila diminum terus-menerus, zat ini dapat merusak janin
13

akibat depresi pernapasan dan memperlambat persalinan. Bayi dan ibu yang ketagihan menderita gejala abstinensi. Selama laktasi ibu dapat menggunakan opiopida karena hanya sedikit terdapat dalam air susu ibu. Kebiasaan dan ketergantungan Penggunaan untuk jangka waktu lama pada sebagian pemakai menimbulkan kebiasaan dan ketergantungan. Penyebabnya mungkin karena berkurangnya resorpsi opioid atau perombakan/eliminasinya yang dipercepat, atau bisa juga karena penurunan kepekaan jaringan. Obat menjadi kurang efektif, sehingga diperlukan dosis yang lebih tinggi untuk mencapai efek semula. Peristtiwa ini disebut toleransi (menurunnya response) dan bercirikan pula bahwa dosis tinggi dapat lebih baik diterima tanpa menimbulkan efek intoksikasi. Di samping ketergantungan fisik tersebut terdaapat pula ketergantungan psikis, yaitu kebutuhan mental akan efek psikotrop (euforia, rasa nyaman dan segar) yang dapat menjadi sangat kuat, hingga pasien seolah-olah terpaksa melanjutkan penggunaan obat. Gejala abstinensi (withdrawal syndrome) selalu timbul bila penggunaan obat dihentikan dengan mendaddak dan semula dapat berupa menguap, berkeringat hebat dan air mata mengalir, tidur gelisah dan kedinginan. Lalu timbul muntah-muntah, diare tachycardia, mydriasis (pupil membesar), tremor, kejang otot, peningkatan tensi yang dapat disertai dengan reaksi psikis hebat (gelisah, mudah marah, kekhawatiran mati). Efek-efek ini menjadi penyebab mengapa penderita yang sudah ketagihan sukar sekali menghentikan penggunaan opiat. Guna menghindari efek-efek tidak nyaman ini, mereka terpaksa melanjutkan penggunaannya. Ketergantungan fisik lazimnya sudah lenyap dua minggu setelah penggunaan obat dihentikan. Ketergantungan psikis sering kali sangat erat, maka pembebasan yang tun tas sukar sekali dicapai. Antagonis morfin Antagonis morfin adalah zat-zat yang dapat melawan efek-efek samping opiopida tertentu tanpa mengurangi kerja analgetisinya. Yang paling terkenal adalah nalokson, naltrekson, dan nalorfin. Obat ini terutama digunakan pada everdose atau intoksikasi. Khasiat antagonisnya diperikakan berdasarkan penggeseran opioida dari tempatnya di reseptor-reseptor otak. Antagonis morfin ini sendiri juga berkhasiat analgetik, tetapi tidak digunakan dalam terapi karena khasiatnya lemah dan efek samping tertentu mirip morfin (depresi pernapasan, reaksi psikotis). Zat-zat tersendiri 1. Morfin (F.L) : MST continus, MS contin, Kapanol.

14

Candu atau opium adalah getah yang dikeringkan dan diperoleh dan tumbuhan Papaver somniferum (Lat menyebabkan tidur). Morfin mengandung dua kelompok alkaloida yang secara kimiawi sangat berlainan. Kelompok fenantren meliputi morfin, kodein dan tebam; kelompok kedua adalah kelompok isokinolin dengan struktur kimiawi dan khasiat amat berlainan (a.1. non-narkotik) yakni papaverin, noskapin (=narkotin) dan narsein. 2. Kodein (F.L) : metilmorfin, *Codipront. Alkaloida candu ini memiliki khasiat yang sama dengan induknya, tetapi lebih lemah, misalnya efek analgetiknya 6-7 x kurang kuat. Efek samping dan risiko adiksinya lebih ringan, sehingga sering digunakan sebagai obat batuk, obat anti diare dan obat anti nyeri, yang diperkuat melalui kombinasi dengan parasetamol/asetosal. Obstipasi dan mual dapat terjadi terutama pada dosis lebih tinggi (di atas 3 dd 20 mg). *etilmorfin (Dionin) adalah derivat dengan khasiat analgetik dan hipnotik lebih lemah; penghambatannya terhadap pernapasan juga lebih ringan. Untuk menekan batuk, zat ini kurang efektif dibandingkan dengan kodein, tetapi dahulu banyak digunakan dalam obat sediaan batuk. *noskapin (narkotin, Longatin, Mercotin, Necodin) adalah alkaloida candu lain, tanpa sifat narkotik, yang lebih efektif sebagai obat batuk. Noskapin tidak termasuk dalam Daftar Narkotika karena tidak menimbulkan ketagihan. 3. Fentanil : Fentanyl, Durogesic, *Thalamonal. Derivat piperidin ini (1963) merupakan turunan dari petidin yang jarang digunakan lagi karena efek samping dan sifat adiksinya, lagi pula daya kerjanya singkat (3 jam) sehingga tidak layak untuk meredakan rasa sakit jangka panjang. Efek analgetik agonis-opiat ini 80 x lebih kuat dari pada morfin. Mulai kerjanya cepat, yaitu dalam 2-3 menit (i.v), tetapi singkat, hanya k.1. 30 menit. Zat ini digunakan pada anastesi dan infark jantung. Efek sampingnya mirip moefin, termasuk depresi pernapasan, bronchospasme dan kekuatan otot (thorax). *sufentanil (sufenta/forte) adalah derivat dengan daya analgetik k.1. 10 x lebih kuat. Sifat dan efek sampingnya sama dengan fentanil. Zat ini terutama digunakan pada waktu anastesi dan pasca bedah, juga pada waktu his dan persalinan (terkombinasi dengan suatu anastetikum) 4. Metadon : Amidon, Symoron Zat sintetis ini adalah suatu campuran rasemis, yang memiliki daya analgetik 2 x lebih kuat daripada morfin dan juga berkhasiat anastetik lokal. Umumnya metadon tidak menimbulkan euforia, sehingga banyak digunakan untuk menghindari gejala abstinensi setelah penghentian penggunaan opiopida lain. Khusus digunakan pada para pecandu sebagai obat pengganti heroin dan morfin pada terapi substitusi. Efek sampingnya kurang hebat dari morfin, terutama efek hipnotis dan euforianya lemah, tetapi bertahan lebih lama. Pengguanaan lama juga menimbulkan adiksi yang lebih mudah disembuhkan. Efek obstipasinya agak ringan, tetapi penggunaannya selama persalinan harus dengan beerhati-hati karena dapat menekan pernapasan.

15

5. Tramadol : Tramal Derivat-sikloheksanol sintetis ini adalah campuran resemis dari 2 isomer. Kasiat analgetiknya sedang dan berdaya menghambat reuptake noradrenalin dan bekerja antitussif (anti batuk). Zat ini tidak menekan pernapasan, praktis tidak mempengaruhi sistem kardiovaskuler atau motilitas lambung usus. Efek sampingnya tidak begitu serius dan paling sering berupa termangu-mangu, berkeringat, pusing, mulut kering, mual dan muntah, juga obstipasi, gatal-gatal, rash, nyeri kepala dan rasa letih. PENISILIN Penisilin diperoleh dari jamur Penicillium chrysogenum. Dari berbagai jenis yang dihasilkan, perbedaannya hanya terletak pada gugusan-samping-R saja. Perubahan-perubahan pada gugusansamping-R menghasilkan derivat-derivat dengan sifat berlainan. Misalnya terbentuknya derivate yang tahan asam dan dapat digunakan peroral (feniksimetilpenisilin dan penisilin-V). Memiliki cincin beta-laktam, cincin ini merupakan syarat mutlak untuk manfaatnya. Jika cincin ini dibuka, misalnya oleh enzim beta-laktamase (penisilinase atau sefalosporinase), maka zat menjadi inaktif. Pada umumnya penisilinase hanya dapat menginaktifkan penisilin dan tidak sefalosporin, kebalikannya berlaku untuk sefalosporinase. AKTIVITAS Penisilin-G dan turunannya bersifat bakterisid terhadap kuman gram-positif (khususnya cocci) dan hanya beberapa kuman gram-negatif. Penisilin termasuk antibiotika dengan spektrumsempit, begitu pula penisilin-V. Antibiotika bakterisid ini tidak dapat dikombinasikan dengan bakteri bakteriostatika seperti tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin dan asam fusidat. Hal ini dikarenakanzat-zat yang disebut terakhir menghambat pertumbuhan sel dan dindingnya. MEKANISME KERJA Dinding sel kuman terdiri dari suatu jaringan peptidoglikan, yaitu polimer dari senyawa amino dan gula yang salaing terikat satu dengan yang lain(crosslinked) dan dengan demikian memberi kekutan pada dinding. Penisilin dan sefanosporin menghalangi sintesa lengkap dari polimer ini yang spesifik bagi kuman dan disebut murein. Bila sel tumbuh dan plasmanya bertambah atau menyerap air dengan jalan osmosis, maka dinding sel yang tidak sempurana itu akan pecah dan bakteri musnah. Dinding sel manusia dan hewan tidak terdiri dari murein, maka antibiotika ini tidak toksis terhadap manusia. RESISTENSI Cara kuman melindungi diri terhadap efek mematikan dari antibiotika beta-laktam adalah pembentukan enzim beta-laktamase. Semula hanya stafilococci dan E. coli mampu membentuk penisilinase dalam plasmid, yang mengandung gen-gen untuk sifat ini. Tetapi gen-gen tersebut telah ditularkan ke kuman lain dengan jalan penggabungan(konyugasi). Maka kebanyakan
16

kuman memiliki kemampuan seperti ini dan resistensi telah disebarluaskan dengan pesat. Untuk mengatasi masalah resistensi kuman yang sangat serius ini, para peneliti telah mensintesa dua jenis senyawa penisilin, yaitu derivat yang tahan laktamase dan yang memblokir laktamase. a. Zat-zat tahan laktamase, antara lain metisilin dan turunannya (kloksasilin, flukloksasili) serta sefalosporin tertentu yang terdiri dari sefotaksim, seftizoksim, dan seftriakson. Molekul dari zat-zat ini megelilingi dan melindungi cincin beta-laktam. b. Laktamase blockers, antara lain asam klavunalat dan sulbaktam (Unasyn). Senyawa ini merintangi efek laktamase dengan jalan mengikatnya dengan kompleks. Namun zat ini tidak berdaya terhadap banyak sefalosporinase jenis tertentu. Kombinasinya dengan amoksisilin atau ampisilin adalah sangat penting dalam melawan kuman resisten. EFEK SAMPING Yang terpenting adalah reaksi alergi akibat hipersensitasi, yang(jarang sekali) menimbulkan shock anafilaktis dan kematian. Pada prokain-benzilpenisilin diduga prokain yang memgang peranan pada hipersesitasi tersebut. Pada penisilin broad spectrum agak sering terjadi gangguangangguan lambung-usus (diare, mual, muntah). PENGGOLONGAN Penisilin dapat dibagi dalam beberapa jenis menurutaktivitas dan resistensinya terhadap laktamase : a. Zat-zat dengan spektrum sempit : benzilpenisilin, penisilin-V dan fenestisilin. Zat-zat ini aktif terutama aktif terhadap kuman gram-positif dan diuraikan oleh penisilinase b. Zat-zat tahan laktamase : metisilin, kloksasilin, dan flukloksasilin. Zat ini hanya aktif terhadap stafilokok dan Streptokok. Asam klavulanat memblokir laktamase dan dengan demikian mempertahankan aktivitas penisilin yang diberikan bersamaan. c. Zat-zat dengan spek trum luas : ampisilin dan amoksisilin, aktif terhadap kuman-kuman gram positif dan sejumlah kuman gram negatif, kecuali antara lain Pseudomonas tidak tahan laktamase maka sering digunakan terkombinasi dengan suatu laktamase-blocker, umumnya klavulanat. d. Zat-zat anti Pseudomonas : Tikarsilin dan piperasilin. Antibiotika berspektrum luas ini meliputi lebih banyak kuman gram negatif, termasuk Pseudomonas. Tidak tahan laktamase dan umumnya digunakan bersamaan dengan laktamase blocker. ZAT-ZAT TERSENDIRI 1. Benzilpenisilin : penilin-G 2. Fenoksimetilpenisilin 3. Kloksasilin

17

4. Asam klavunalat 5. Ampisilin Bila suatu membaran sel mengalami kerusakan oleh suatu rangsangan kimiawi, fisik atau mekanis, maka enzim fosfolipase diaktifkan untuk mengubah fosfolipida yang terdapat disitu menjadi asam arachidonat. Kemudian sebagian diubah oleh enzim cyclo-oxygenase menjadi asam endoperoksida dan seterusnya menjadi zat-zat prostaglandin. Bagian lain dari arachidonat diubah oleh enzim lipoxygenase menjadi zat-zat leukotrien. Baik prostaglandin maupun lukotrien bertanggungjawab untuk sebagian besar dari gejala peradangan dan nyeri. Peroksida melepaskan radikal bebas oksigen yang juga memegang peranan pada timbulnya rasa nyeri. Cyclo-oxygenase terdiri dari dua iso enzim, yakni COX-1 dan COX-2, dengan berat molekul dan daya enzimatis yang sama. COX-1 terdapat dikebanyakan jaringan, antara lain di pelatpelat darah, ginjal dan saluran cerna. Zat ini berperan pada pemeliharaan perfusi ginjal, homeostatis vaskuler dan melindungi lambung dengan jalan membentuk bikarbonat dan lender, serta menghambat produksi asam. COX-2 dalam keadaan normal tidak terdapat di jaringan, tetapi dibentuk oleh sel-sel radang selama proses peradangan, kadarnya dalam sel meningkat 80 kali. Menurut perkiraan, penghambatan COX-2 lah yang memberikan NSAIDs efek antiradangnya.

Analgesik perifer
Golongan Aminofenazon (aminopyrin, amidopyrin, pyramidon) Fungsi Analgetik, antipiretis dan antiinflamasi farmakokinetik Resorpsi: diusus Kerjanya: 30-45 menit setelahnya T1/2: 1 jam Efek samping Agranulositosis, leucopenia. Dan aman untuk ibu hamol dan menyususi Asam asetilsasilat (asetosal, aspirin, cafenol, naspro) Fenilbutazon Antiinflamas Antipiretik dan menghambat agragasi trombosit Resorpsi: ada yang di lambung, di duodenum mulai kerja 3-6 jam, PP: 95% T : 15-20 menit 1/2

Dosis 3X setiap hari 300-600 mg, dengan maksimal 3 gr/hri Pada nyeri dan rema 4X sehari 0,4-1 gr, setelah makan

Iritasi lambung, alergi kulit, tinnitus(telinga berdengung) pada wanita hamil tidak dianjurkan Gangguan terhadap

Serangan rema

18

(butazolidin, pehazon/forte)

i, analgesic

darah dan lambung

secara rectal dan oral 2-3 setiap hari 200 mg

Glafenin (glaphen, glifanan)

Analgesic

Resorpsi : usus, ekresi: dirombak di hati menjadi asam glafeninat. T1/2: 1-2 jam

Gangguan lambung, usus, kantuk, anafilaksis, kerusakkan hati, dan anemia hemolitis

Permulaan 400mg, kemudian 3-4 setiap hari 200 mg, dengan maksimal 1 gr/hr

Paracetamol (asetaminofen, panadol,Tylen ol,)

Analgetik, antipiretis, antiinflamsi

Resorpsi usus, PP: 25%, T1/2: 1-4 jam, ekresi lewat urine

Hipersensitivitas dan kelainan darah, aman digunakan untuk ibu hamil dan laktasi

Nyeri demam oral 2-3 setiap hari 0,5-1 gr maksimal 4 gr /hri

Waktu Paruh
Waktu patuh (t ) Ialah waktu yang diperlukan untuk turunnya kadar obat dalam plasma atau serum pada fase eliminasi menjadi separuhnya. Laju eliminasi suatu obat bergantung pada laju biotransformasi obat dan/atau laju eksresi obat utuh oleh ginjal Contohnya yaitu :
Parasetamol : 1-3 jam,Diklofenak : 1-3 jam,Ibuprofen : 2 jam,Naproksen : 14 jam,Indometasi :2-4

jam,Piroksikam : lebih dari 45 jam. Sediaan dan cara pemberian : 1. Analgetik narkotik Morfin Pemberian Oral ( sirup 5mg/5ml,tablet 10,30,60 ml) Parateral ( injeksi 10mg/ml.20 mg/ml ) Oral ( tablet 10,15,20 mg ) Parateral (injeksi ) Parateral ( injeksi 50 ml) Oral ( tab 50mg)
19

Kodein fosfat Fentanin Petidin hcl

Tramadol hcl

Parateral (injeksi 50ml) Oral ( 50 mg )

2. Non narkotik Asetosal / aspirin Pct

Pemberian Oral (tab 100,500 mg ) Oral ( syrup 120 mg/5ml.tab100,500mg)

3. AINS Ibuprofen Diklofenak Indometasin Fenilbutazon Pirosikam

Pemberian Oral ( tab 200.400.600 mg) Oral ( tab 25,50 mg) Oral ( kapsul 25 mg ) Oral ( kaplet 200 mg ) Oral ( tab 10,20 mg )

BAB 3 PENUTUP Kesimpulan


Analgetik atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa meghalangi kesadaran. Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi suhu tubuh. Antiinflamasi adalah obat atau zat-zat yang dapat mengobati peradangan atau pembengkakan.

Daftar Pustaka
Sumber : Text Book Obat-Obat Penting- Drs. Tan Hoan Tjay dan Drs. Kirana Rahardja Sumber(rahardja), kirana.2007.obat-obat penting.elex media komoutindo:Jakarta Sumber: farmakologi dan terapi FKUI 2007
20