Anda di halaman 1dari 44

BAB 1.

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Studi kelayakan investasi merupakan penelitian terhadap layak atau tidaknya suatu proyek investasi dilaksanakan, baik proyek tersebut merupakan proyek baru ataupun pengembangan dari proyek yang sudah ada. Apabila dari hasil perhitungan diketahui bahwa investasi sudah tidak layak untuk dijalankan, maka diperlukan suatu jalan keluar agar penanaman investasi ini tetap layak untuk dijalankan dari segi finansial. Studi kelayakan investasi juga menganalisis proyek saat dioperasionalkan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan. Mengingat bahwa kondisi yang akan datang dipenuhi dengan ketidakpastian, maka diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu karena di dalam studi kelayakan terdapat berbagai aspek yang harus dikaji dan diteliti kelayakannya sehingga hasil daripada studi tersebut digunakan untuk memutuskan apakah sebaiknya proyek atau bisnis layak dikerjakan atau ditunda atau bahkan dibatalkan. Studi kelayakan sangat diperlukan oleh banyak kalangan, khususnya terutama bagi para investor yang selaku pemrakarsa, bank selaku pemberi kredit, dan pemerintah yang memberikan fasilitas tata peraturan hukum dan perundang-undangan, yang tentunya kepentingan semuanya itu berbeda satu sama lainya. Investor berkepentingan dalam rangka untuk mengetahui tingkat keuntungan dari investasi, bank berkepentingan untuk mengetahui tingkat keamanan kredit yang diberikan dan kelancaran pengembaliannya, pemerintah lebih menitik-beratkan manfaat dari investasi tersebut secara makro baik bagi perekonomian, pemerataan kesempatan kerja, dan lain-lain. Saat ini banyak sektor usaha kayu didirikan, dikembangkan dan diperluas ataupun dilikuidasi yang selalu didahului dengan satu kegiatan yang disebut studi kelayakan. Studi kelayakan dapat dilakukan untuk menilai kelayakan investasi baik pada suatu proyek maupun bisnis yang sedang

berjalan.

Kekeliruan

dan

kesalahan

dalam

menilai

investasi

akan

menyebabkan kerugian dan resiko yang besar. Penilaian investasi termasuk dalam studi kelayakan yang bertujuan untuk menghindari terjadinya keterlanjuran investasi yang tidak menguntungkan karena usaha yang tidak layak/feasible. Tingkat kerumitan, kedalaman dan kompleksitas studi kelayakan bergantung pada objek kajian itu sendiri. Dalam pelaksanaannya, bentuk studi kelayakan disesuaikan dengan tujuan dan kepentingan bahwa untuk apa studi kelayakan dibuat. Studi Kelayakan mempunyai arti penting bagi perkembangan dunia usaha. Beberapa proyek gagal di tengah jalan, bisnis yang berhenti beroperasi, dan kredit yang macet di dunia perbankan, serta kegagalan investasi lainnya merupakan bagian dari tidak diterapkannya studi kelayakan secara konsisten. Studi kelayakan yang diterapkan secara benar akan menghasilkan laporan yang komprehensif tentang kelayakan proyek/bisnis yang akan didirikan/dikembangkan/didanai dan kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan dihadapi/terjadi. Maksud layak atau tidak layak disini adalah perkiraan bahwa proyek yang akan dapat atau tidak dapat menghasilkan keuntungan yang layak bila telah dioperasionalkan. Seperti halnya dalam usaha pemerahan susu sapi UD Umbul Jaya yang perlu dilakukan studi kelayakan untuk mengetahui apakah usaha tersebut menghasilkan keuntungan yang layak. B. Tujuan dan Kegunaan Praktikum Tujuan dilakukan praktikum Studi Kelayakan Investasi Agribisnis adalah : 1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi peluang-peluang investasi agribisnis yang layak untuk diusahakan. 2. Mahasiswa dapat menganalisis aspek-aspek studi kelayakan sehingga dapat menentukan atau memberikan rasionalisasi tentang kelayakan dari masing-masing aspek tersebut. 3. Mahasiswa dapat merancang dan mendesain sebuah studi kelayakan investasi agribisnis dengan kaidah-kaidah ilmiah.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Studi Kelayakan Investasi Agribisnis Studi kelayakan sangat diperlukan oleh banyak kalangan, khususnya terutama bagi para investor yang selaku pemrakarsa, bank selaku pemberi kredit, dan pemerintah yang memberikan fasilitas tata peraturan hukum dan perundang-undangan, yang tentunya kepentingan semuanya itu berbeda satu sama lainya. Investor berkepentingan dalam rangka untuk mengetahui tingkat keuntungan dari investasi, bank berkepentingan untuk mengetahui tingkat keamanan kredit yang diberikan dan kelancaran pengembaliannya,

pemerintah lebih menitik-beratkan manfaat dari investasi tersebut secara makro baik bagi perekonomian, pemerataan kesempatan kerja, dan lain-lain (Riyanto, 1995). Mengingat bahwa kondisi yang akan datang dipenuhi dengan ketidakpastian, maka diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu karena di dalam studi kelayakan terdapat berbagai aspek yang harus dikaji dan diteliti kelayakannya sehingga hasil daripada studi tersebut digunakan untuk memutuskan apakah sebaiknya proyek atau bisnis layak dikerjakan atau ditunda atau bahkan dibatalkan. Hal tersebut diatas adalah menunjukan bahwa dalam studi kelayakan akan melibatkan banyak tim dari berbagai ahli yang sesuai dengan bidang atau aspek masing-masing seperti ekonom, hukum, psikolog, akuntan, perekayasa teknologi dan lain sebagainya (Jakfar, 2003). Studi kelayakan biasanya digolongkan menjadi dua bagian yang berdasarkan pada orientasi yang diharapkan oleh suatu perusahaan yaitu berdasarkan orientasi laba, yang dimaksud adalah studi yang menitikberatkan pada keuntungan yang secara ekonomis, dan orientasi tidak pada laba (sosial), yang dimaksud adalah studi yang menitik beratkan suatu proyek tersebut bisa dijalankan dan dilaksanakan tanpa memikirkan nilai atau keuntungan ekonomis (Philip, 1995).

1. Aspek Pasar dan Pemasaran Aspek pemasaran menganalisa penawaran input (barang dan jasa) yang diperlukan proyek, baik pada waktu membangun proyek maupun pada waktu proyek sudah berproduksi, dan menganalisa pasaran output yang akan dihasilkan proyek (Kadariah, 1988). Analisis aspek-aspek komersial (pasar) ini terdiri dari rencana pemasaran output yang dihasilkan oleh proyek dan rencana penyediaan input yang dibutuhkan untuk kelangsungan dan pelaksanaan proyek. Dari sisi output, analisis pasar hasil proyek penting untuk meyakinkan bahwa terdapat suatu permintaan yang efektif pada harga yang menguntungkan. Dari sisi input, rencana-rencana harus dibuat diantaranya untuk meyakinkan adanya input, saluran distribusi, kapasitas, kontinuitas, dan tingkat harga. Inti dan tujuan dari aspek pemasaran adalah dapat memperkirakan jumlah permintaan konsumen terhadap produk yang ditawarkan oleh usaha yang akan dibangun ini, karena dari perkiraan ini akan didapatkan perkiraan pendapatan yang akan menjadi tolok ukur dari aspek keuangan (Gittinger, 1986). Peranan aspek pasar dalam pendirian maupun perluasan usaha pada studi kelayakan proyek maupun studi kelayakan bisnis merupakan variabel pertama atau yang utama untuk mendapatkan perhatian. Terdapat dua masalah utama dalam aspek pasar pengukuran pasar potensial saat sekarang dan pada saat yang akan datang, pengertian dari pasar potensial adalah keseluruhan jumlah produk atau sekelompok produk yang mungkin dapat dijual dalam pasar tertentu dalam priode tertentu (Husein, 2003). 2. Teknis dan Teknologis Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengopersiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun. Berdasarkan analisa ini pula dapat diketahui rancangan awal penaksiran biaya investasi termasuk biaya eksploitasinya. Aspek teknis mempelajari tentang: (1) lokasi proyek, yakni dimana suatu proyek akan didirikan baik untuk pertimbangan lokasi dan

lahan pabrik maupun lokasi bukan pabrik; (2) besar skala operasi atau luas produksi ditetapkan untuk mencapai suatu tingkatan skala ekonomis; (3) kriteria pemilihan mesin dan equipment yang digunakan; (4) proses produksi yang dilakukan dan layout pabrik yang dipilih termasuk layout bagunan dan fasilitas lain; dan (5) jenis teknologi yang digunakan (Husnan dan Suwarsono, 2000). Analisa secara teknis berhubungan dengan input proyek

(penyediaan) dan output (produksi) berupa barang-barang nyata dan jasajasa. Hal itu sangat penting, dan kerangka kerja proyek harus dibuat secara jelas agar analisa secara teknis dapat dilakukan dengan teliti. Aspek-aspek lain dari analisa proyek hanya akan dapat berjalan bila analisa secara teknis dapat dilakukan, walaupun asumsi-asumsi teknis dari suatu perncanaan proyek mungkin sekali perlu direfisi sebagaimana aspek-aspek lain diteliti secara terperinci (Gittinger, 1986). Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya, pelaksanaan aspek teknis dilakukan setelah evaluasi aspek pasar yang menunjukan adanya kesempatan pemasaran yang memadai untuk jangka waktu yang relatif panjang (Husein, 2003). 3. Aspek Finansial Keuangan merupakan salah satu fungsi bisnis yang bertujuan untuk membuat keputusan-keputusan investasi, pendanaan, dan dividen. Keputusan pendanaan difokuskan untuk mendapatkan usaha optimal dalam rangka mendapatkan dana/dana tambahan untuk mendukung kebijakan investasi. Masalah utama dalam mengoptimalkan keputusan pendanaan adalah menetapkan struktur modal (utang dan ekuitas) yang optimal sebagai asumsi dasar dalam memutuskan berapa jumlah dana dan bagaimana komposisi jumlah dana pinjaman dan dana sendiri yang ditambahkan untuk mendukung kebijakan investasi sehingga kinerja keuangan perusahaan dapat tumbuh. Suatu aktivitas bisnis tidak akan

dapat berjalan dengan baik bila tidak didukung oleh ketersediaan dana yang baik dan mencukupi (Anonim, 2010). Pada hakekatnya investasi pada aktiva tetap merupakan investasi untuk jangka panjang. Berbagai kiteria investasi sebenarnya ada sebagai dasar pengambilan keputusan dalam rangka investasi jangka panjang ini, akan tetapi orang biasa menggunakan dua metode pengukuran, yaitu metode nilai sekarang netto dan rate of return yang biasanya akan menghasilkan ranking yang sama (Sukanto, 1983). Pengertian biaya modal atau cost of capital adalah semua biaya yang secara riil dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka mendapatkan sumber dana. Biaya yang dikeluarkan ini bisa yang bersifat eksplisit seperti biaya bunga, juga yangbersifat implisit yakni biaya yang tidak dikeluarkan pada saat ini, tapi dikeluarkan di masa yang akan datang seperti selisih harga obligasi yang dikeluarkan pada saat jatuh tempo, tapi biaya ini diratakan pada tahun-tahun berlakunya obligasi. Biaya modal dihitung dari biaya yang riil dikeluarkan oleh perusahaan dibagi dengan modal pada dasarnya (Yanti, 2011). 4. Aspek Lingkungan Penyebab utama terjadinya kasus pencemaran lingkungan hidup ini adalah penyimpangan pelaksanaan etika bisnis. Dimana pengambilan keputusan bisnisnya memiliki nilai-nilai yang sangat jauh dari nilai filsafat etika. Etika bisnis yang dijalankan tidak selaras dengan teori nilai etika lingkungan. Penyebab paham penyimpangan antroposentrisme etika dan bisnis ini adalah dalam

berkembangnya

ekonomisme

memandang hubungannya dengan alam pada benak individu pelaku bisnis. Dengan demikian pelaksanaan etika bisnis masih berpaham pada falsafah kepedulian lingkungan yang dangkal (shallow edology). Etika bisnis yang masih jauh dalam pelaksanaan nilai-nilai etis-humanistis. Maka dari itu perlu dilakukan rekonstruksi paradigma etika bisnis untuk lebih selaras dengan lingkungan melalui pembelajaran nilai-nilai moral pada pelaku

bisnis dan adanya penegakan hukum serta penerapan kode etik perusahaan secara praktis (Fanny, 2011). Sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) menrupakan suatu kebijakan yang berisi persyaratan legalitas kayu yang dirancang dengan kurun waktu yang panjang dan melibatkan semua pihak (multi stakeholder). Berbagai verifier yang dinilai dalam konsep legalitas kayu, yang dapat di defenisikan bahwa legalitas kayu mencakup juga legalitas dan kepatuhan terhadap semua ketentuan instansi terkait dalam bidang perizinan industri, perdagangan, dan kehutanan (Napitu, 2012). Managemen yang diterapkan dalam bisnis harus dapat

memperkirakan faktor-faktor yang penting yang terjadi pada lingkungan perusahaan. Oleh karena itu konsentrasi pada faktor-faktor tertentu mutlak dilakukan karena seperti kita ketahui management bagaimanapun juga terbatas kemampuannya. Beberapa indikator ekonomi, seperti produk nasional, bruto, jumlah penduduk, angkatan kerja, konsumsi, investasi masyarakat serta investasi pemerintah, jumlah ekspor dan impor perlu mendapatkan perhatian managemen dan bila perlu managemen melakukan forecast sendiri atau dari sumber lain (Sukanto, 1983). 5. Aspek Eksternal Industri Ada banyak faktor ekstern yang mempengaruhi pemilihan arah dan tindakan suatu perusahaan dan akhirnya, struktur organisasi dan proses internalnya. Lingkungan eksternal dapat dibagi menjadi tiga faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor dalam lingkungan jauh, faktor dalam lingkungan industri, dan faktor dalam lingkungan operasional. Secara bersama-sama faktor-faktor ini merupakan landasan peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan dalam lingkungan bersaingnya

(Rangkuti, 2010). Persaingan dan lingkungan eksternal lainnya merupakan kondisi di luar perusahaan yang bersifat dinamis dan tidak dapat di kendalikan. Perusahaan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan ini. Perusahaan hendaknya memanfaatkan informasi aspek ini secara maksimal. Telah

disebutkan bahwa kondisi kondisi penting yang perlu diperhatikan adalah kondisi yurisis formal dan sistem informasi, iklan politik, situasi perekonomian, sistem nilai pada masyarakat, termasuk lingkungan hidup, perkembangan teknologi dan situasi persaingan bisnis. Bisnis yang

direncanakan kelayakannya hendaknya juga memiliki manfaat bagi kondisi eksternal ini, baik secara langsung maupun tidak langsung (Lingga, 2009). Kondisi luar yang semakin komplek secara tidak langsung memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlangsungan

perusahaan. Terdapat beberapa aspek dari luar perusahaan yang berpengaruh, yaitu : 1. Faktor Ekonomi Faktor ekonomi berkaitan dengan sifat dan arah dari sistem ekonomi tempat suatu organisasi beroperasi. Dalam perencanaan strategiknya, perusahaan harus mempertimbangkan kecenderungan ekonomi, seperti ketersediaan kredit secara umum, tingkat penghasilan yang dapat dibelanjakan, dan kecederungan belanja masyarakat. 2. Faktor Sosial Faktor sosial budaya yang mempengaruhi organisasi adalah kepercayaan, nilai sikap, opini, dan gaya hidup masyarakat di lingkungan ekstern perusahaan yang berkembang dari pengaruh kultur, ekologi, demografi, agama, pendidikan, dan etnik. Apabila sikap sosial berubah, maka permintaan akan berbagai jenis barang dan jasa akan berubah pula. 3. Faktor Politik Arah dan stabilitas keamanan politik merupakan pertimbangan penting untuk para manajer dalam merumuskan strategi perusahaan. Faktor-faktor politik menentukan parameter legal dan regulasi yang membatasi operasi perusahaan. Karena itu, perusahaan harus mampu meramalkan perubahan keputusan politik dalam lingkungan bisnis.

4. Faktor Teknologi Untuk menghindari keusangan dan mendorong inovasi, perusahaan harus mewaspadai perubahan teknologi yang terjadi yang mungkin mempengaruhi industrinya. Peramalan teknologi dapat membantu melindungi dan meningkatkan kemampulabaan perusahaan yang berada dalam industri yang sedang tumbuh. Kunci peramalan kemajuan teknologi terletak pad pendugaan yang akurat mengenai kemampuan teknologi di masa depan dan dampaknya yang mungkin terjadi. 5. Faktor Ekologi Ekologi mengacu pada hubungan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya, misalnya dengan tanah, air, dan udara, yang mendukung kehidupan mereka. (Haming dan Salim, 2008). 6. Aspek Ekonomi, Sosial dan Politik Perkembangan strata sosial kemasyarakatan di suatu daerah akan mempengaruhi organisasi perusahaan. Perkembangan politik negara yang secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan ekonomi merupakan faktor yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Organisasi perusahaan akan cenderung mengikuti perkembangan sosial politik yang terjadi guna antisipasi terhadap berlangsungnya stabilitas dan kebijakan di dalam organisasi perusahaan. Kepastian hukum di dalam suatu negara merupakan momen yang sangat mempengaruhi pelaku pasar. Kebijakan negara yang dituangkan dalam Peraturan Perundang-undangan secara tidak langsung akan menentukan arah strategi perusahaan. Kepastian hukum merupakan faktor yang tidak bisa ditawar dan pasti akan sangat mempengaruhi sebuah perusahaan (Gunawan, 2009). Aspek ekonomi menyelidiki apakah proyek itu akan memberi sumbangan atau mempunyai peranan yang cukup besar dalm

pembangunan ekonomi seluruhnya, dan apakah perananya cukup besar

untuk

membenarkan

penggunaan

sumber-sumber

yang

langka

(Kadariah, 1988). Pertimbangan pertimbangan harus dipikirkan secara cermat agar dapat menentukan apakah suatu proyek yang diusulkan tanggap terhadap keadaan sosial tersebut. Ada suatu pertanyaan mengenai penciptaan kesempatan kerja yang merupakan masalahyang paling dekat, walaupun tidak persis sama dengan masalah distribusi pendapatan, karena alasanalasan sosial banyak pihak pemerintah ingin menekankan pertumbuhan pada daerah-daerah tertentu dan menginginkan proyek-proyek yang dapat dilaksanakan di daerah-daerah tersebut. Analisa proyek akan selalu ingin mempertimbangkan secara teliti pengaruh yang akan merugikan suatu proyek pada golongan-golongan tertentu dalam daerah-daerah tertentu (Gittinger, 1986). 7. Aspek Bahan Baku
Usaha ternak sapi perah merupakan usaha yang menguntungkan dibandingkan dengan usaha ternak yang lain. Beberapa keuntungan usaha ternak sapi perah menurut Nurdin (2011) yaitu : 1) peternakan sapi perah termasuk usaha yang bersifat tetap, karena produksi susu dalam suatu usaha peternakan sapi perah tidak banyak bervariasi dari tahun ke tahun jika

dibandingkan dengan hasil pertanian lainnya (biasanya variasi tidak lebih


dari 2 persen), 2) sapi perah memiliki kemampuan untuk merubah bahan makanan menjadi protein hewani dan kalori dengan lebih efisien dibandingkan ternak lainnya, 3) jaminan pendapatan (income) dari usaha sapi perah adalah tetap, karena sapi perah akan berproduksi setiap hari secara terus menerus sepanjang tahun, 4) penggunaan tenaga kerja yang tetap dan tidak musiman, 5) pakan relatif mudah didapat dan murah, karena sapi perah dapat menggunakan berbagai jenis hijauan yang tersedia atau sisa-sisa hasil pertanian, 6) sapi perah ikut menjaga kesuburan tanah dan pelestarian lingkungan, karena kesuburan tanah dapat dipertahankan dengan

memanfaatkan kotoran sapi perah sebagai pupuk kandang, 7) pedet jantan

bisa dijual dan dijadikan sapi potong, sedangkan pedet betina bisa dipelihara hingga dewasa dan menghasilkan susu. Daryanto (2009) mengemukakan bahwa dalam peta perdagangan internasional produk-produk susu, saat ini Indonesia berada pada posisi sebagai net-consumer. Sampai saat ini industri pengolahan susu nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku susu. Jika kondisi tersebut tidak dibenahi dengan membangun sebuah sistem agribisnis yang berbasis peternakan, maka Indonesia akan terus menjadi negara pengimpor hasil ternak khususnya susu sapi. Menurut Sudono (1985) diacu dalam Heriyatno (2009) faktor faktor yang mempengaruhi produksi susu sapi perah dipengaruhi oleh keturunan sebesar 30 persen dan lingkungan sebesar 70 persen. Faktor faktor tersebut antara lain yaitu ; 1) Bangsa dan rumpun sapi, 2) Lama bunting ( gestation period), 3) Masa Laktasi, 4) Estrus, 5) Umur Sapi, 6) Interval beranak (calving interval), 7) Masa kering kandang, 8) Frekuensi pemerahan, 9) Besarnya ukuran sapi, 10) pakan dan tata laksana pemeliharaan.

BAB III. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

Aspek pasar dan pemasaran pada studi kelayakan investasi agribisnis berkaitan dengan adanya peluang pasar untuk suatu produk yang akan di tawarkan oleh suatu proyek tersebut. Dalam aspek pasar dan pemasaran yang harus dilakukan adalah mengetahui dan dapat memanfaatkan market potensial secara efektif agar produk yang dihasilkan mampu memberi keuntungan maksimal, memenuhi kebutuhan pasar dan proyek dapat terus berkembang. Pemasaran memiliki arti yang sama sekali berbeda dengan penjualan. Beberapa ahli di bidang pemasaran telah mengemukakan pendapat mereka

mengenai pengertian pemasaran, antara lain : a. Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok dalam memperoleh kebutuhan dan keinginan mereka, dengan cara membuat dan mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain. b. Pemasaran merupakan kegiatan usaha yang mengarahkan aliran barang dan jasa dari produsen kepada konsumen atau pemakai. c. Pemasaran adalah fungsi manajemen yang mengorganisasi seluruh kegiatan perusahaan menjadi permintaan yang efektif terhadap suatu barang dan jasa kepada konsumen akhir atau pemakai, sehingga perusahaan dapat mencapai laba atau tujuan lain yang telah ditetapkan Berbagai pengertian pemasaran yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, dapat dirumuskan bahwa pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan pada usaha untuk memenuhi kebutuhan serta keinginan seseorang untuk mencapai kepuasan melalui proses pertukaran nilai atas barang atau jasa yang telah diperoleh konsumen. 1. Tinjauan tentang Pasar Sasaran Penelitian pasar sasaran merupakan salah satu fungsi terpenting dalam pemasaran, dimana identifikasi pasar sasaran diperlukan untuk keperluan penyusunan strategi pemasaran dan program kampanye periklanan. Pasar sasaran utama UD Umbul Jaya ditujukan kepada konsumen susu segar.

2. Segmen Pasar Potensial Segmentasi pasar sebagai suatu proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompokkelompok pasar yang terdiri dari orangorang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa. Segmentasi pasar adalah suatu tindakan membagi pasar menjadi segmen segmen pasar tertentu yang dijadikan sasaran penjualan yang akan dicapai dengan marketing mix. Pasar terdiri dari pembeli dan pembeli berbeda-beda dalam berbagai hal yang bisa membeli dalam keinginan, sumber daya, lokasi, sikap membeli, dan kebiasaan membeli. Karena masing-masing memiliki kebutuhan dan keinginan yang unik, masing-masing pembeli merupakan pasar potensial tersendiri. Oleh sebab itu penjual idealnya mendisain program pemasarannya tersendiri bagi masing-masing pembeli. Segmentasi yang lengkap membutuhkan biaya yang tinggi, dan kebanyakan pelanggan tidak dapat membeli produk yang benarbenar disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk itu, perusahaan mencari kelaskelas pembeli yang lebih besar dengan kebutuhan produk atau tanggapan membeli yang berbeda-beda. Segmen pasar terdiri dari kelompok pelanggan yang memiliki seperangkat keinginan yang sama. Mengevaluasi daya tarik masing-masing segmen dengan menggunakan variabel-variabel yang dapat mengkuantifikasi kemungkinan permintaan dari setiap segmen, biaya melayani setiap segmen, dan kesesuaian antara kompetensi inti perusahaan dan peluang pasar sasaran pada UD Umbul Jaya. Memilih satu atau lebih segmen sasaran yang ingin dilayani berdasarkan potensi laba dari setiap segmen tersebut dan kesesuaiannya dengan strategi yang telah ditentukan oleh UD Umbul Jaya. Segementasi pasar potensial usaha susu segar UD Umbul Jaya adalah para konsumen susu segar. Dimana pasar potensial merupakan pasar yang benar-benar membutuhkan produk tersebut sehingga sangat berpotensial untuk membeli susu segar.

3. Segmentasi Pasar dan Penetapan Pasar Pengusaha yang melakukan segmentasi pasar akan berusaha

mengelompokkan konsumen kedalam beberapa segmen yang secara relatif memiliki sifat-sifat homogen dan kemudian memperlakukan masing-masing segmen dengan cara atau pelayanan yang berbeda. Seberapa jauh pengelompokkan itu harus dilakukan, nampaknya banyak faktor yang terlebih dahulu perlu dicermati. Variabel-variabel segmentasi Sebagaimana diketahui bahwa konsumen memiliki berbagai dimensi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan segmentasi pasar. Penggunaan dasar segmentasi yang tepat dan berdaya guna akan lebih dapat menjamin keberhasilan suatu rencana strategis pemasaran. Salah satu dimensi yang dipandang memiliki peranan utama dalam menentukan segmentasi pasar adalah variabel-variabel yang terkandung dalam segmentasi itu sendiri. Jenis-jenis variabel segmentasi sebagai berikut: a. Segmentasi Geografi Segmentasi ini membagi pasar menjadi unit-unit geografi yang berbeda, seperti negara, propinsi, kabupaten, kota, wilayah, daerah atau kawasan. Jadi dengan segmentasi ini, pemasar memperoleh kepastian kemana atau dimana produk ini harus dipasarkan. b. Segmentasi Demografi Segmentasi ini memberikan gambaran bagi pemasar kepada siapa produk ini harus ditawarkan. Jawaban atas pertanyaan kepada siapa dapat berkonotasi pada umur, jenis kelamin, jumlah anggota keluarga, siklus kehidupan keluarga seperti anak-anak, remaja, dewasa, kawin/belum kawin, keluarga muda dengan satu anak, keluarga dengan dua anak, keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan seterusnya. Dapat pula berkonotasi pada tingkat penghasilan, pendidikan, jenis pekerjaan, pengalaman, agama dan keturunan misalnya: Jawa, Madura, Bali, Manado, Cina dan sebagainya.

c. Segmentasi Psikografi Pada segmentasi ini pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan: a. Status sosial, misalnya: pemimpin masyarakat, pendidik, golongan elite, golongan menengah, golongan rendah. b. Gaya hidup misalnya: modern, tradisional, kuno, boros, hemat, mewah dan sebagainya. c. Kepribadian, misalnya: penggemar, pecandu atau pemerhati suatu produk. d. Segmentasi Tingkah Laku Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap, penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar. Segmentasi pasar dan penetapan pasar dari UD Umbul Jaya adalah konsumen susu segar dimana masyarakat lebih cenderung mengkonsumsi susu segar dibandingkan susu kaleng maupun susu bubuk. Susu segar dirasa lebih alami dan sehat dikarenakan tidak adanya penggunaan bahan pengawet. Segmentasi pasar dalam UD Umbul Jaya dari semua kalangan masyarakat terutama masyarakat yang menggemari susu segar, pedagang susu segar kaki lima dan beberapa usaha susu yang membutuhkan bahan baku susu segar sebagai produknya. 4. Luas dan Potensi Permintaan Permintaan terhadap susu segar dapat diketahui melalui jumlah pembelian masyarakat terhadap susu segar. Permintaan UD Umbul Jaya biasanya cenderung lebih stabil karena memiliki pelanggan yang cenderung tetap. Luas permintaan UD Umbul Jaya berasal dari daerah Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Klaten dan Surakarta. Luas permintaan segmen konsumen di UD Umbul Jaya masih kawasan lokal karena persediaan produk masih terbatas dan pemasaran susu segar yang lebih dipusatkan di daerah

sekitar. Pengangkutan susu segar dari tempat usaha ke konsumen membutuhkan biaya transportasi yang tidak terlalu tinggi sehingga tidak akan mengganggu harga secara signifikan. Potensi permintaan susu segar UD Umbul Jaya cukup tinggi karena peluang usaha susu segar di Surakarta dibandingkan dengan kota lain seperti Wonogiri, Sukoharjo, Klaten dan lain-lain. Karena didaerah Surakarta masih sedikit usaha kayunya di banding di kota-kota lain. 5. Analisis Permintaan Efektif Permintaan efektif usaha susu segar UD Umbul Jaya yang paling banyak dilihat dari perspektif luar adalah oleh konsumen pemborong atau untuk bahan baku pembuatan produk dari susu yang lainnya. Karena pengusaha susu segar Umbul Jaya setiap harinya membutuhkan stok susu segar yang banyak untuk memenuhi permintaan konsumen. 6. Analisis Penawaran Penawaran susu segar tergantung pada susu segar yang dihasilkan oleh sapi-sapi yang terdapat di Umbul jaya yang dikirim ke kios susu lainnya. Penawaran susu segar tidak dapat mengikuti dari permintaan susu segar yang ada. Hal tersebut disebabkan produksi dari susu segar dipengaruhi oleh kondisi dari sapi perah tersebut. 7. Analisis Luas Pasar (Market Share) Luas pasar susu segar Umbul Jaya pemasarannya itu masih dalam lingkup karisiden Surakarta dan sekitarnya, karena produk susu segar juga sangat terbatas untuk tiap harinya. 8. Strategi dan Program Pemasaran Strategi pemasaran adalah pendekatan pokok yang akan digunakan oleh unit bisnis dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Di dalamnya tercantum keputusan pokok mengenai target pasar, penempatan produk pasar, bauran pemasaran, dan tingkat pemasaran yang diperlukan. Strategi pemasaran adalah suatu kegiatan menyeleksi dan penjelasan suatu atau beberapa target pasar dan mengembangkan serta memelihara suatu bauran

pemasaran yang akan menghasilkan kepuasan konsumen dengan pasar yang dituju. Strategi pemasaran baru akan dapat ditetapkan apabila seluruh komponen atau variabel penunjangnya. Variabel penunjang tersebut seperti penetapan harga produk, melakukan promosi, menetapkan saluran distribusi yang akan digunakan telah ditentukan. Strategi pemasaran yang diterapkan oleh usaha kayu ini adalah mencari mencari usaha-usaha lain yg membutuhkan bahan baku susu. Susu segar banyak diminati apa bila sudah jadi produk yang beraneka ragam oleh karena itu saat ini didirikan kios yang menjual berbagai macam rasa susu segar.

BAB IV. ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGIS

A. Uraian Produk Susu segar merupakan produk dari Umbul Jaya milik Bapak Jumadi Dirjo Utomo. Susu segar yang dijual oleh Umbul Jaya adalah berupa susu segar yang biasanya digunakan untuk bahan baku pembuatan olahan susu lainnya. Sehingga produk susu segar tidak terlalu membutuhkan proses produksi yang rumit, proses produksi dari susu segar ini cukup sederhana. Produk dari susu segar diproduksi oleh sapi perah dimana susu segar tersebut diperah tiap harinya sehingga produknya selalu dalam keadaan segar. Susu segar diproduksi pada tiap harinya jika susu segar dijual ke pengecer harganya berkisar antara Rp. 5.000,- sementara yang dijual terhadap konsumen yang langsung membeli banyak dijual berkisar antara Rp 4.000,sampai dengan Rp 4.500,-. B. Teknologi Proses Produksi 1. Teknologi Susu segar Umbul Jaya merupakan kategori usaha berskala mikro kecil. Teknologi yang digunakan dalam proses perawatan dan pemerahan susu segar masih sangat tradisional. Alat-alat sederhana yang bisa digunakan untuk proses produksi susu segar adalah : a. Ember Digunakan untuk menampung susu yang baru diperah. b. Takaran Digunakan untuk menakar susu yang telah diperah. c. Lap/kain Direndam dengan air hangat guna sterilisasi susu sapi. d. Can/tempat susu Susu segar yang telah selesai diperah pada ember dipindahkan ke can/tempat susu agar lebih terjamin kebersihannya.

2. Proses Produksi Susu Segar Proses produksi susu segar sangat sederhana dan mudah dilakukan namun memiliki resiko yang cukup besar. Secara umum, proses produksi susu segar, mulai dari tahap pengadaan anakan sapi perah sampai tahap pemerahan susu. a. Pengadaan Anakan Sapi Perah Pengadaan anakan sapi perah sangat penting dilakukan guna adanya peremajaan terhadap sapi perah yang kelak akan mengalami penurunan produktivitas. Anakan sapi perah baiknya diadakan jauh hari agar produktivitas susu segar di Umbul Jaya tetap stabil, selain itu dengan membeli anakan sapi perah mendapat harga yang lebih murah. b. Pengadaan Sapi Betina dan Jantan Siap Kawin Ini merupakan salah satu alternatif pengadaan anakan sapi perah jika harga anakan sapi perah sedang meningkat. Hal ini tentunya menghemat biaya produksi dalam hal pengadaan pedet atau anakan sapi perah. Bagan Proses Reproduksi Sapi Perah Sapi Betina Siap Kawin Sapi Jantan Siap Kawin

Pedet / Anakan Sapi Perah c. Pemerahan Susu Segar pada Sapi Betina Siap Perah Sebelum sapi diperah atau diambil air susunya, terlebih dahulu sapi dibersihkan agar air susu yang diambil bersih dari kotoran dan tidak terkontaminasi bakteri. Setelah sapi dibersihkan, kemudian sapi diperah, diambil air susunya. Perlu diketahui bahwa tangan orang yang akan memerah sapi harus bersih agar hasil air susu sapinya juga bersih.

Begitu juga dengan ember untuk menampung air susu saapinya harus bersih dan harus berwarna putih,tidak boleh ember berwarna hitam. 3. Kondisi Lokasi Usaha Pertimbangan penetapan lokasi usaha didasarkan pada faktor kedekatan letak dari sumber bahan baku, akses pasar terhadap produk yang dihasilkan, ketersediaan tenaga kerja, sarana transportasi dan telekomunikasi dan peluang usaha. Lokasi Umbul Jaya berada di pinggir kota Surakarta yaitu di Jalan Mojo cukup dekat dengan akses Jalan Adi Sucipto. Sehingga memudahkan konsumen untuk melakukan pembelian secara langsung ke Umbul Jaya. Lokasi Umbul Jaya ini dipilih di daerah pinggir Surakarta karena peluang untuk usaha susu segar di daerah ini masih cukup besar dibandingkan dengan di daerah Boyolali dan daerah lain. UD Umbul Jaya yang awalnya hanya berupa pemerahan susu sapi skala kecil sekarang mulai berkembang dengan memiliki 54 sapi. Kondisi tempat Umbul Jaya yang terletak pada pinggir kota diharapkan agar tidak mengganggu kondisi lingkungan yang ada disekitarnya, selain itu tanah yang cenderung lebih luas memungkinkan usaha ini dapat berkembang lebih besar lagi.ulah, toko Johar Manik dipindah ke daerah luar pertokoan pasar.

4. Jadwal Pelaksanaan Usaha Proses produksi susu segar dilakukan secara tradisional. Karena proses produksi yang mudah sehingga bisa dilakukan dengan tenaga kerja sekitar 3 orang saja. Tabel 1. Pelaksanaan Produksi Kegiatan I 1. Pemerahan Susu Sapi 2. Perawatan dan Pemberian Pakan 3. Distribusi Susu Segar II III Hari keIV V VI VII

C. Uraian Singkat Rencana Usaha Pengertian dari rencana usaha adalah deskripsi masa depan bisnis, menjelaskan visi-misi, apa dan bagaimana (5W+1H) rencana bisnis, dengan kondisi, potensi, bahan baku yang ada, focus, cara menjalankan usaha dan memperoleh BEP. Kegunaan dari rencana usaha adalah untuk mencari calon investor, pinjaman modal dari bank, prospek bisnis baru, hubungan dengan supplier, jual saham/share, pengertian bagi pengelola usaha, rapat tahunan perusahaan/company yearly meeting, menarik manager inti (controlling tools) perjalanan bisnis masih dalam koridor yang benar. Business plan sering digunakan oleh skema distributor MLM, agen asuransi, member broker property, agen penjualan investasi bursa berjangka, sistem keagenan yang serupa, ataupun skema piramid (Andi, 2010). Komponen business plan adalah maksud dan tujuan bisnis, strategi pencapainya, masalah yang dihadapi dan cara mengatasi, struktur organisasi (jabatan dan tanggung jawab), modal pembiayaan, cara menjalankan bisnis

hingga mencapai break even. Fungsi dari business plan adalah mengolah potensi teknis seperti keahlian, produk, (technical input) menjadi keluaran ekonomi seperti proyeksi keuntungan, market, (economic output). Konten BP (Structure of Business Plan), diantaranya adalah executive summary, deskripsi bisnis, strategi pasar, analisis kompetitif, rencana desain dan pengembangan, rencana operasi dan manajemen, faktor-faktor keuangan (Lingga, 2009). UD Umbul Jaya telah berdiri sejak akhir tahun 2000. Bapak Jumadi Dirjo Utomo selaku pendiri dan pemilik UD Umbul Jaya ini juga punya usaha sapi perah di Boyolali. Beliau dibesarkan di Boyolali, Jawa Tengah, dimana di daerah tempat beliau tinggal banyak terdapat usaha sapi perah. Sehingga terbersit di benak Pak Jumadi Dirjo Utomo untuk mendirikan usaha sapi perah. Nama Umbul Jaya dipilih karena Pak Jumadi Dirjo Utomo berharap usahanya it uterus berkembang dan semakin bagus prospek ke depannya. Pak Jumadi Dirjo Utomo memulai usahanya dengan modal 10 ekor sapi dan hanya memiliki 1 orang pegawai. Secara bertahap Pak Jumadi Dirjo Utomo mengembangkan usahanya hingga kini beliau dapat mempekerjakan 3 pegawai. Hingga saat ini usaha sapi perah Pak Jumadi Dirjo Utomo dapat berkembang cukup baik dan telah di pasarkan di wilayah Solo, Karanganyar, Sukoharjo, Sragen, dan Wonogiri. Tidak ada struktur organisasi dalam UD Umbul Jaya ini, hanya Pak Jumadi Dirjo Utomo sebagai pemilik dan pengelolanya kemudian dibawahi oleh 3 karyawannya. Layout pabriknya berada tepat disamping rumah Pak Jumadi Dirjo Utomo, dengan seluruh peralatan yang ada di dalam tempat tersebut.

C. Lokasi Usaha 1. Nama perusahaan 2. Pemilik : Umbul Jaya : Bapak Jumadi Dirjo Utomo

3. Nomor yang bisa dihubungi : (0271)712016 4. Alamat dan denah : Jalan Mojo No.2, Karangasem, Laweyan Surakarta.
UMBUL JAYA

Tugu Adipura

Ursulin Jalan Adi Sucipto Solopos Manahan

Perum Fajar Indah

Gambar 2. Denah Lokasi UD Umbul Jaya

BAB V. ASPEK FINANSIAL

Studi kelayakan pada hakikatnya adalah untuk menetapkan layak atau tidaknya suatu gagasan usaha, dengan kata lain studi kelayakan harus dapat memutuskan apakah suatu gagasan usaha perlu diteruskan atau tidak. Untuk dapat memutuskan layak atau tidaknya suatu gagasan usaha, perlu dipertimbangkan aspek keuangan. Aspek finansial dalam studi kelayakan bukan hanya mempertimbangkan jumlah modal yang diperlukan, tetapi pertimbangan lainnya dalam aspek keuangan perlu pula dipertimbangkan, misalnya, tingkat rentabilitas, jangka waktu pengambalian modal, dan sebagainya. Usaha susu segar cukup potensial untuk dikembangkan mengingat peluang pasar saat ini masih besar. Sebagai minuman yang menjadi kegemaran masyarakat Indonesia, pantaslah usaha ini terus dikembangkan dan dipertahankan. Usaha susu segar ini juga tidak membutuhkan tingkat teknologi tinggi dan peralatan yang relatif mahal serta didukung dengan tersedianya bahan baku yang melimpah. Bahan baku yang berupa sapi perah dapat diperoleh dari sekitar kota Surakarta dengan harga yang terjangkau. Pada analisis aspek finansial usaha susu segar mengalami perubahan demi perubahan selama 32 tahun berdiri. Studi aspek keuangan ini bertujuan untuk mengetahui perkiraan pendanaan dan aliran kas proyek agribisnis susu segar, sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya rencana bisnis yang dikaji. A. Perincian Biaya Investasi Modal Tetap Dalam aspek finansial UD Umbul Jaya terdapat biaya investasi modal tetap yang berupa tanah dan bangunan. Sebab lokasi pembuatan susu itu sendiri berada di rumah pemilik UD Umbul Jaya yaitu Jumadi Dirjo Utomo. Berikut perincian biaya investasi untuk modal tetap di UD Umbul Jaya. Tabel 2. Perincian Biaya Investasi Modal Tetap
No. A B Uraian Tanah Bangunan Total Satuan m
2

Jumlah 7000 2300

Harga/satuan 1.000.000 1.500.000

Total (Rp) 7.000.000.000 3.450.000.000 10.450.000.000

m2

Sumber : Data primer

Dari tabel diatas telah dijelaskan bahwa biaya investasi modal tetap untuk tanah seluas 7000 m2 sebesar Rp 7.000.000.000,00. Sedangkan biaya investasi modal tetap untuk bangunan seluas 2300 m2 adalah sebesar Rp 3.450.000.000,00. 10.450.000.000,00. B. Perincian Biaya Investasi Alat Produksi Dalam memproduksi susu, Pak Jumadi menggunakan beberapa peralatan produksi. Alat produksi tersebut berupa ember, sabit, takaran susu, sekop, sapu, tempat susu/can, sikat, selang dan cangkul. Berikut akan dijelaskan perincian biaya investasi alat produksi di UD Umbul Jaya. Tabel 3. Perincian Biaya Investasi Alat Produksi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Uraian Ember Sabit Takaran susu Sekop Sapu Tempat susu/can Sikat Selang Cangkul Jumlah Satuan unit unit unit unit unit unit unit unit unit Jumlah 10 10 10 4 4 4 5 4 6 Harga/Satuan 12.000 15.000 10.000 28.000 8.000 500.000 4.000 130.000 22.000 Total 120.000 150.000 100.000 112.000 32.000 2.000.000 20.000 520.000 132.000 3.186.000 Sehingga total keseluruhannya adalah Rp

Sumber : Data primer Dari tabel diatas telah dijelaskan mengenai perincian biaya-biaya investasi untuk perlatan produksi. Biaya investasi untuk 10 unit ember adalah Rp 120.000,00, biaya investasi untuk 10 unit sabit adalah Rp 150.000,00, biaya investasi untuk 10 unit takaran susu adalah Rp 100.000,00, biaya investasi untuk 4 sekop adalah Rp 112.000,00, biaya investasi untuk 4 unit sapu adalah Rp 32.000,00, biaya investasi untuk 4 unit Tempat susu/can adalah Rp 2.000.000,00, biaya investasi untuk 5 unit Sikat adalah Rp 20.000,00, biaya investasi untuk 4 unit selang adalah Rp 520.000,00, biaya investasi untuk 6 unit cangkul adalah Rp132.000,00. Untuk total keseluruhan biaya investasi alat produksi didapatkan sebesar Rp 3.186.000,00.

C. Biaya Penyusutan Dari variabel-variabel biaya investasi modal tetap dan biaya investasi alat produksi, juga terdapat biaya penyusutan. Berikut akan dijelaskan dalam tabel biaya penyusutan. Tabel 4. Biaya Penyusutan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Uraian Ember Sabit Takaran susu Sekop Sapu Tempat susu/can Sikat Selang Sapi perah Cangkul Jumlah Harga Waktu pakai 12.000 0.5 tahun 15.000 1 tahun 10.000 1 tahun 28.000 1 tahun 8.000 0.5 tahun 500.000 10 tahun 4.000 0.5 tahun 130.000 1 tahun 15.000.000 5 tahun 22.000 1 tahun Penyusutan/tahun 24.000 15.000 10.000 28.000 16.000 50.000 8.000 130.000 3.000.000 22.000 3.303.000

Sumber : Data primer Dari tabel diatas, bahwa biaya penyusutan untuk ember selama 0.5 tahun adalah Rp 24.000,00, biaya penyusutan untuk sabit selama 1 tahun adalah Rp 15.000,00, biaya penyusutan untuk takaran susu selama 1 tahun adalah Rp 10.000,00, biaya penyusutan untuk sekop selama 1 tahun adalah Rp 28.000,00, biaya penyusutan untuk sapu selama 0.5 tahun adalah Rp 16.000,00, biaya penyusutan untuk tempat susu/can selama 10 tahun adalah Rp 50.000,00, biaya penyusutan untuk sikat selama 0.5 tahun adalah Rp 8.000,00, biaya penyusutan untuk selang selama 1 tahun adalah Rp 130.000,00, biaya penyusutan untuk sapi perah selama 5 tahun adalah Rp 3.000.000,00, dan biaya penyusutan untuk cangkul selama 1 tahun adalah Rp 22.000,00. Sehingga total biaya penyusutan selama satu tahun adalah sebesar Rp 3.303.000,00. D. Biaya Bahan Baku Dalam memproduksi roti pastinya dibutuhkan biaya untuk bahan baku susu itu sendiri. Berikut merupakan rincian untuk biaya bahan baku susu perah.

Tabel 5. Biaya Bahan Baku No 1 2 3 4 Jenis Bahan Anakan sapi Sapi betina siap kawin Sapi jantan Sapi siap perah Total Kebutuhan 24 ekor 10 ekor 6 ekor 20 ekor Harga Satuan (Rp) 4.000000 10.000.000 12.000.000 15.000.000 Biaya (Rp) 96.000.000 100.000.000 72.000.000 300.000.000 568.000.000

Sumber : Data primer Dari tabel diatas, total biaya yang dikeluarkan untuk bahan baku seperti Anakan sapi, Sapi betina siap kawin, Sapi jantan, Sapi siap perah adalah sebesar Rp 568.000.000,00. E. Biaya Tenaga Kerja Jumlah pekerja atau karyawan di UD Umbul Jaya pada tahun pertama dan kedua adalah sebanyak 1 orang. Sedangkan pada tahun ketiga hingga kelima sebanyak 3 orang. Berikut merupakan tabel rincian biaya untuk tenaga kerja. Tabel 6. Biaya Tenaga Kerja Tahun Jumlah orang 1 1 orang 2 1 orang 3 3 orang 4 3 orang 5 3 orang Sumber : Data primer gaji/bulan/orang 700000 700000 700000 700000 700000 total/bulan 700.000 700.000 2.100.000 2.100.000 2.100.000 gaji/tahun 8.400.000 8.400.000 25.200.000 25.200.000 25.200.000

Biaya produksi tidak terlepas dari jumlah dan biaya tenaga kerja yang dibutuhkan selama proses produksi berlangsung. Besarnya gaji tenaga kerja adalah Rp 700.000,00 per orang per bulan. Jumlah tenaga kerja hingga tahun 2012 adalah 3 orang. F. Rerincian Laba-Rugi Tingkat keuntungan atau profitabilitas dari usaha yang dilakukan merupakan bagian penting dalam analisis keuangan dari rencana kegiatan investasi. Keuntungan dihitung dan selisih antara penerimaan dan pengeluaran tiap tahunnya. Keuntungan dari usaha susu dari tahun ke tahun semakin

meningkat diakibatkan karena pasokan modal yang terjamin serta pemasaran yang sudah mempunyai jaringan luas, sehingga hasil dari produksi langsung dapat terjual habis. Kondisi fluktuatif disebabkan akibat kondisi iklim yang tidak menentu, dimana di saat musim hujan produksi sedikit terganggu akibat penyinaran kurang tetapi permintaan justru tinggi. Hal ini merupakan suatu tantangan untuk terus melanjutkan usaha ini dengan melakukan produksi yang terus-menerus di saat musim panas walaupun permintaan saat itu cenderung menurun. Tabel 7. Perincian Laba-Rugi
No. A Uraian
Pendapatan Hasil Harga (Rp) Pendapatan (Rp) 21.600 liter 3.000 64.800.000 47.700.000 17.100.000 21.600 liter 3.000 64.800.000 47.700.000 17.100.000 25.920 liter 4.000 103.680.000 80.592.000 23.088.000 25.920 liter 5.000 129.600.000 80.592.000 23.088.000 43.200 liter 5.000 216.000.000 172.500.000 43.500.000

tahun ke 1

Tahun ke 2

Tahun ke 3

Tahun ke 4

Tahun ke 5

B C

Biaya Operasi Laba Operasi/ Laba Kotor

Sumber : Data primer Hasil perhitungan proyeksi laba rugi menunjukkan bahwa laba operasi dari tahun ke-3 hingga ke-5 mengalami kenaikan dari Rp 23.088.000,00 menjadi Rp 43.500.000,00. Hal ini membuktikan bahwa perincian laba rugi
mengalami kenaikan dari tahun ke-3 hingga tahun ke-5.

G. Analisis Kelayakan Bisnis Hasil perhitungan kriteria investasi merupakan indikator dari modal yang diinvestasikan, yaitu perbandingan antara total benefit yang diterima dengan total biaya yang dikeluarkan dalam bentuk present value selama umur ekonomis. Keputusan yang timbul dari hasil analisis: menerima atau menolak, memilih satu atau beberapa proyek, atau menetapkan skala prioritas dari proyek yang layak. 1. Net Present Value (NPV) Net present value (NPV) adalah metode untuk menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dan nilai sekarang penerimaan kas bersih di masa yang akan datang pada tingkat bunga tertentu. Proyek dianggap layak

dan dapat dijalankan apabila NPV > 0. Jika NPV < 0, maka proyek tidak layak dan tidak perlu dijalankan. Jika NPV sama dengan nol, berarti proyek tersebut mengembalikan persis sebesar opportunity cost faktor produksi modal. Rumus untuk mencari NPV sebagai berikut: Net Present Value (NPV) dari Susu segar dapat dilihat dalam tabel 8. Tabel 8. Perhitungan NPV
t 1 2 3 4 5 tahun 2008 2009 2010 2011 2012 Benefit 17.100.000 17.100.000 23.088.000 23.088.000 43.500.000 cost 47.700.000 47.700.000 80.592.000 80.592.000 172.500.000 DF 0 % 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 PV benefit Rp 17.100.000,000 Rp 17.100.000,000 Rp 23.088.000,000 Rp 23.088.000,000 Rp 43.500.000,000 PV cost Rp 47.700.000,000 Rp 47.000.000,000 Rp 80.592.000,000 Rp 80.592.000,000 Rp 172.500.000,000 NPV Rp 30.600.000,000 Rp 29.900.000,000 Rp 57.504.000,000 Rp 57.504.000,000 Rp 129.000.000,000 Rp 304.508.000,000

Sumber: Data Primer Dari tabel diatas dapat diketahui NPV dari Susu segar adalah sebesar Rp 304.508.000,00. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa Susu segar layak untuk dijalankan karena hasilnya lebih dari 1. 2. Internal Rate of Return (IRR) Internal rate of return (IRR) adalah tingkat suku bunga pada saat NPV sama dengan nol dan dinyatakan dalam persen. Suatu proyek layak dijalankan bila nilai IRR lebih besar atau sama dengan dari nilai suku bunga yang berlaku. Berikut disajikan tabel hasil analisis untuk IRR. Tabel 9. Hasil Analisis dengan Tingkat Suku Bunga 0%
t 1 2 3 4 5 tahun 2008 2009 2010 2011 2012 Benefit 17.100.000 17.100.000 23.088.000 23.088.000 43.500.000 cost 47.700.000 47.700.000 80.592.000 80.592.000 172.500.000 Arus Benefit Neto 30.600.000 29.900.000 57.504.000 57.504.000 129.000.000 Df 0% 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 1,00000 NPV 1 30.600.000,00000 29.900.000,00000 57.504.000,00000 57.504.000,00000 129.000.000,00000 Rp 304.508.000 NPV 2 -30600000,000 -29900000,000 -57504000,000 -57504000,000 -129000000,000 Rp -304508000,000

IRR i1

NPV1 i2 i1 ( NPV1 NPV 2 )

IRR 0
= 0% 3.

304.508.000 0 00

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Net B/C adalah perbandingan antara net benefit yang telah didiskon positif (+) dengan net benefit yang telah didiskon negative. Berikut adalah perhitungan Net B/C dari Susu segar.
NetB / C PVBenefit () PVBenefit ()

NetB / C 8,951242

Berdasarkan hasil perhitungan net B/C adalah sebesar 8,951242 diketahui bahwa nilainya lebih dari 1 sehingga usaha ini layak untuk dijalankan. 4. Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C) Gross B/C adalah perbandingan antara benefit kotor yang telah didiskon dengan cost secara keseluruhan yang telah didiskon. Berikut adalah perhitungan gross B/C Susu segar: PVTotalBen efit GrossB / C PVTotalCost
GrossB / C 0,289

Berdasarkan hasil perhitungan Gross B/C adalah sebesar 0,289. Diketahui bahwa nilainya kurang dari 1 sehingga usaha ini tidak layak untuk dijalankan.

BAB VI. ASPEK LINGKUNGAN

Pada awal berdirinya, usaha UD Umbul Jaya ini mulai didirikan di pinggir perkotaan sekitar tahun 1980. Awalnya usaha ini berawal dari modal yang sedikit dan hanya dikerjakan oleh anggota keluarganya, lama kelamaan usahanya mulai dikenal banyak orang. Sehingga, banyak pesanan yang datang dari beberapa daerah yang datang secara langsung atau lewat telepon untuk memesannya. Oleh karena itu, pemilik memerlukan tenaga kerja tambahan agar dapat mencukupi pesanan. Dulu jumlah tenaga kerjanya 1 orang sekarang meningkat menjadi 3 orang. Berdirinya industri ini sangat menimbulkan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya, karena dengan adanya UD Umbul Jaya ini menjadi peluang bagi warga setempat untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Tetangga yang belum bekerja dapat direkrut untuk menjadi tenaga kerja sehingga mereka memperoleh penghasilan. Tenaga kerja di UD Umbul Jaya sebagian besar berasal dari kalangan bapak-bapak, karena dalam proses pemerahan susu segar dibutuhkan tenaga kerja yang teliti dan sabar. Kegiatan ini akan menambah rasa kekeluargaan antar tenaga kerja dan pemilik usaha. Upah karyawan di UD Umbul Jaya tidak dibedakan baik itu karyawan lama maupun karyawan baru karena meskipun karyawan baru tetapi jika terus bekerja secara tekun maka kemampuan dari karyawan tersebut akan dapat menyesuaikan kemampuan dari karyawan lama. Dalam UD Umbul Jaya ini, para karyawan mendapatkan upah sebesar Rp 700.000,- per orang dengan jam kerja mulai dari jam 8 pagi hingga jam 3 sore. Dalam usaha produksinya, UD Umbul Jaya ini kotoran sapi (feses) ataupun ternak lainnya sering menimbulkan benturan dengan kepentingan orang lain, di satu pihak kita sedang menggalakkan peternakan untuk dapat menghasilkan produk secara maksimal baik kualitas maupun kuantitasnya, di lain pihak akan mendapatkan protes dari penduduk sekitarnya jika penanganan feses tidak dilakukan secara baik, karena adanya pencemaran yang timbul dari kotoran ternak tadi. Peternakan Umbul Jaya ini merupakan peternakan skala kecil yang lokasinya tidak jauh dari lokasi pemukiman penduduk. Bahkan rumah

peternaknya sendiri berada di lokasi peternakan, dengan adanya lokasi peternakan yang dekat dengan pemukiman penduduk, maka pencemaran lingkungan pun tidak dapat dihindari. Pengambilan kotoran ternak sapi perah biasanya dilakukan pada pagi dan siang hari. Pengambilan kotoran di pagi dan siang hari ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu segera tercipta lingkungan yang bersih dan pemerahan susu dilakukan pada kondisi lingkungan yang bersih sehingga kebersihan susu lebih terjamin. Kotoran sapi perah di Umbul Jaya dialirkan ke lubang penimbunan dengan cara mengguyur atau menyiram kotoran sapi tersebut dengan air ke arah parit yang kemudian ditempatkan di lubang penimbunan. Kotoran yang ada pada lubang penimbunan, langsung dibuang ke sungai tanpa dilakukan pemrosesan lebih dulu, karena memang peternakan ini bersebelahan dengan sungai yang cukup besar. Penanganan feses yang kurang baik akan menganggu dan menimbulkan pencemaran daerah sekitarnya. Untuk mengurangi resiko

pencemaran lingkungan, peternak dapat memanfaatkan kotoran ternak tersebut untuk hal yang bermanfaat, misalnya diolah menjadi pupuk.

Pencemaran yang diakibatkan oleh limbah yang dihasilkan oleh perusahaan tidak begitu ditanggapi oleh warga sekitar dengan alasan bahwa perusahaan sapi perah tersebut sudah berdiri lama bahkan jauh sebelum terdapat pemukiman penduduk, di samping itu limbah yang dihasilkan berupa feses ataupun urine sapi tidak begitu mengganggu warga sekitar perusahaan.

BAB VII. ASPEK EKSTERNAL INDUSTRI

Dalam menjalankan bisnis, stakeholders memiliki pengaruh yang signifikan. Setiap perusahaan harus memiliki strategi tersendiri agar mampu bersaing di pasaran. Kemampuan dalam mengendalikan masuknya pendatang baru dan meningkatkan posisi tawar produk menjadi kunci eksistensi perusahaan. Umbul Jaya memiliki strategi tersendiri dalam menjaga dan mengantisipasi persaingan dari pesaing yaitu dengan menyediakan stock yang lebih sehingga keperluan pelanggan akan terpenuhi. Jika terjadi kekosongnan stock susu, maka pelanggan akan kecewa karena tidak ada pilihan ataupun karena barang yang di cari tidak ready. Selain itu, untuk menjaga pelanggan agar tetap setia yakni dengan menjaga kualitas susu dan memberikan harga yang relatif murah. Pada prinsipnya, jika pelayanan loyal maka pelanggan juga akan loyal terhadap perusahaan. Begitu pula yang telah terjadi pada Umbul Jaya telah mendapat kepercayaan dari para pelanggan. Umbul Jaya memberikan kemudahan dalam hal pembayaran kepada pelanggan. Seiring semakin berkembangnya usaha UD Umbul Jaya ini, pesaingpesaing pembuat susu segar sejenis mulai bermunculan di wilayah sekitar UD Umbul Jaya hingga di tingkat Karesidenan Surakarta. Usaha-usaha yang bermunculan tersebut merupakan ancaman pesaing-pesaing baru yang akan dapat merebut pangsa pasar yang selama ini menjadi milik UD Umbul Jaya ini. Pesaingpesaing tersebut melakukan persaingan dari mulai bahan baku sampai harga yang ditawarkan. Namun dalam persaingan tersebut dilakukan dengan persaingan yang sehat artinya tidak saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Dengan hadirnya pesaing tersebut maka UD Umbul Jaya harus mampu untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Dengan adanya pesaing yang banyak tentu juga mempunyai dampak positif bagi UD Umbul Jaya ini karena apabila suatu perusahaan mengalami keterpurukan dalam pemasaran hasil produksinya, tentu mereka harus selalu sigap dalam memantau peluang pasar yang ada dan menjalin kerjasama serta memberikan pelayanan yang baik pada konsumen. UD Umbul Jaya ini lebih mengutamakan keunggulan pada rasa rotinya sehingga pesaing lain

tidak bisa meniru keunggulan rasa ini karena UD Umbul Jaya mempunyai rahasia perusahaan tersendiri dalam menghasilkan susu dengan kualitas yang baik. Harga jual dari produk susu UD Umbul Jaya ini sudah ditentukan oleh UD Umbul Jaya sendiri dengan harga jual susu per liter sebesar Rp 5.000,00. Harga tersebut sudah disesuaikan dengan kualitas yang ada pada susu itu sendiri. Harga yang ditentukan merupakan standart harga di pasar. Konsumen menerima harga yang sudah ditetapkan perusahaan, mereka selalu percaya pada perusahaan karena perusahaan merupakan produsen langsung. Peran stakeholder lain seperti pemerintah, pemda, dan pemerintah desa pada kenyataannya tidak pernah ikut mendukung dalam pelaksanaan usaha susu segar Umbul Jaya tersebut. Padahal UD Umbul Jaya ini sangat mengharapkan peran pemerintah untuk semakin mendukung berkembangnya usaha susu segar ini untuk memperbaiki ekonomi masyarakat pedesaan. Karena hal tersebut mempengaruhi secara langsung dalam hal permintaan dan penawaran susu.

BAB VIII. ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK

A. Aspek Ekonomi Usaha susu segar Umbul Jaya tentu akan mendukung rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah Surakarta. Dengan adanya usaha ini tentu akan meningkatkan nilai barang yang beredar di pasar barang sehingga akan menggerakkan sektor riil dan mendukung upaya pemerintah dalam penurunan nilai inflasi. Nilai tambah yang diciptakan dalam usaha ini tentu akan meningkatkan nilai uang yang beredar di pasar barang dan dan meningkatkan kesejahteraan setiap orang yang terlibat dalam usaha ini mulai dari pemilik usaha hingga pekerja. Nilai investasi per tenaga kerja yang dikeluarkan tentu akan membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran dalam negeri. Keuntungan ekonomi nasional yang mungkin diciptakan dalam usaha ini adalah peningkatan devisa negara jika produk yang dihasilkan dapat menembus pasar ekspor. Dukungan dari pemerintah saat ini cukup menggembirakan bagi kalangan pengusaha susu karena regulasi usaha yang dianggap menguntungkan. Selain itu, kebutuhan negara akan gizi yang diadakan pemerintah juga menciptakan peluang menguntungkan serta persaingan yang memotivasi pengusaha untuk lebih meningkatkan kualitas usahanya. B. Aspek Sosial Aspek sosial yang ada pada usaha susu segar Umbul Jaya sebagai tempat bekerja bagi masyarakat sekitar yang menganggur. Selain itu, masyarakat juga diperbolehkan mengambil sisa-sisa limbah ternak ini untuk keperluan pupuk tanaman secara gratis. Keberadaan usaha ini juga tentu akan memotivasi masyarakat sekitar akan pentingnya kewirausahaan sehingga masyarakat banyak yang memulai usaha.

C. Aspek Politik Aspek politik yang ada berupa pemberian legalitas yang diberikan kepada usaha ini. Kepastian hukum yang diciptakan oleh pemerintah setempat terkait dengan dunia usaha tentu menjadi isu hangat yang mendapat tanggapan positif dari pengusaha. Slogan mencintai produk dalam negeri yang diserukan oleh pemerintah juga menjadi kabar gembira bagi dunia usaha sehingga mereka semakin meningkatkan produktivitas dan kualitas dalam pekerjaan.

BAB IX. ASPEK BAHAN BAKU

A. Bahan Baku Langsung Bahan baku langsung (Direct Material) merupakan faktor terpenting dalam melaksanakan usaha. Bahan baku langsung yang digunakan dalam usaha susu segar Umbul Jaya ini adalah sapi pedet, sapi pejantan, sapi dara, sapi siap perah. Bahan baku langsung ini didapatkan dari beberapa daerah penghasil ternak sapi seperti yang ada di Boyolali dalam bentuk pedet. Bahan baku langsung yang digunakan tentu akan mempengaruhi harga karena kualitasnya yang beragam. Bahan baku langsung yang digunakan haruslah berkualitas. Beberapa persyaratan sapi perah berkualitas yang harus dipenuhi diantaranya: 1) Kepala panjang, sempit, halus, sedikit kurus dan tidak banyak berotot 2) Leher panjang dan lebarnya sedang, besarnya gelambir sedadang dan lipatan-lipatan kulit leher halus 3) Pinggang pendek dan lebar 4) Gumba, punggung dan pinggang merupakan garis lurus yang panjang 5) Kaki kuat, tidak pincang dan jarak antara paha lebar 6) Badan berbentuk segitiga, tidak terlalu gemuk dan tulang-tulang agak menonjol 7) Dada lebar dan tulangtulang rusuk panjang serta luas 8) Ambing besar, luas, memanjang kedepan kearah perut dan melebar sampai diantara paha. Kondisi ambing lunak, elastis dan diantara keempat kuartir terdapat jeda yang cukup lebar, dan saat sehabis diperah ambing akan terlimpat dan kempis, sedangkam sebelum diperah gembung dan besar 9) Produksi susu tinggi 10) Umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak 11) Berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi, tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan tiap tahun beranak. Kualitas tertinggi dimiliki oleh sapi siap perah karena merupakan satu satunya sapi yang dapat menghasilkan susu segar sehingga sapi ini yang memiliki harga paling mahal dari sapi lainnya. Jumlah sapi yang siap perah pada UD Umbul Jaya ini berjumlah 20 ekor. Pasokan bahan baku langsung yang digunakan setiap tahunnya mengalami peningkatan karena usaha yang

dijalankan setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah dan nilai penjualan. UD Umbul Jaya yang awalnya hanya berupa pemerahan susu sapi skala kecil dengan modal awal lima sapi sekarang mulai berkembang dengan memiliki 54 sapi. B. Bahan Baku Tidak Langsung Bahan baku tidak langsung (Indirect Material) merupakan bahan baku yang penggunaannya mendukung proses produksi sehingga menghasilkan produk berkualitas. Contoh dari bahan baku tidak langsung ini adalah peralatan, pakan, kandang dan manajemen pemeliharaan lain sebagainya. Meskipun terlihat kecil tetapi keberadaan bahan baku penolong ini tidak dapat tergantikan. Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m atau 2,5 x 2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5 x 1 m per ekor, dengan tinggi atas 2-2,5 m dari tanah. Pakan sapi terdiri dari hijauan sebanyak 60% (Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja, daun jagung, daun ubi dan daun kacang-kacangan) dan konsentrat (40%). Umumnya pakan diberikan dua kali perhari pada pagi dan sore hari. Konsentrat diberikan sebelum pemerahan sedangkan rumput diberikan setelah pemerahan. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pemberian pakan pada sapi perah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu sistem penggembalaan, sistem perkandangan atau intensif dan sistem kombinasi keduanya. Alat-alat sederhana yang bisa digunakan untuk proses produksi susu segar adalah : Ember digunakan untuk menampung susu yang baru diperah. Takaran digunakan untuk menakar susu yang telah diperah. Lap/kain direndam

dengan air hangat guna sterilisasi susu sapi. Can/tempat susu segar yang telah selesai diperah pada ember dipindahkan ke can/tempat susu agar lebih terjamin kebersihannya.

BAB X. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari hasil praktikum studi kelayakan investasi agribisnis pada UD Umbul Jaya di Karangasem dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Dilihat dari aspek pasar dan pemasarannya, investasi yang dilakukan pada UD Umbul Jaya di Karangasem ini dapat dikatakan layak karena UD Umbul Jaya ini sudah mampu menjangkau pasar seluruh wilayah Karesidenan Surakarta dengan segmentasi konsumen yaitu semua kalangan usia penikmat susu. 2. Dilihat dari segi aspek teknis dan teknologis produksi rotinya, investasi yang dilakukan pada UD Umbul Jaya di Karangasem dapat dikatakan layak karena tingkat penggunaan teknologi pada UD Umbul Jaya ini sudah cukup tepat menggunakan sistem semi manual sehingga dapat menghasilkan susu yang berkualitas baik. Selain itu dengan teknologi yang pada pada UD Umbul Jaya tersebut, UD ini dapat menghasilkan susu sesuai target yang telah ditetapkan. 3. Dilihat dari segi aspek finansial, investasi yang dilakukan pada UKM Roti Mita di Colomadu ini dapat dikatakan layak karena dapat selalu menghasilkan profit dalam setiap usaha produksinya sehingga profit yang didapatkan tersebut dapat selalu digunakan dalam mengembangkan usaha roti ini. 4. Dilihat dari aspek lingkungan, investasi yang dilakukan pada UD Umbul Jaya ini dapat dikatakan ramah bagi lingkungan sekitar karena usaha pembuatan susu segar ini tidak menghasilkan limbah produksi yang berbahaya bagi lingkungan. 5. Dilihat dari aspek eksternal industri, investasi yang dilakukan pada UD Umbul Jaya ini dapat memberi manfaat dan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Hal ini terbukti dari pemberdayaan sebagian masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja dalam usaha produksi susu segar Umbul Jaya ini.

6. Dilihat dari aspek ekonomi, sosial, politik, investasi yang dilakukan pada UD Umbul Jaya ini dapat dikatakan mendukung dan bermanfaat bagi pembangunan ekonomi masyarakat sekitar dan dampaknya dapat

meningkatkan penghasilan dan daya beli masyarakat sekitar. 7. Dilihat dari aspek bahan baku, investasi yang dilakukan pada UD Umbul Jaya ini dapat dikatakan layak untuk dijalankan dan dikembangkan karena ketersediaan bahan baku sudah dapat memenuhi usaha susu segar ini. B. Saran Saran yang dapat diberikan untuk UD Umbul Jaya adalah sebagai berikut : 1. Perusahaan diharapkan tetap mempertahankan bahkan semakin

meningkatkan kualitas produknya untuk mempertahankan pangsa pasar yang ada selama ini. 2. Upaya pengembangan dalam hal teknologi sangat perlu dilakukan untuk dapat memperbesar jumlah produksi susu segar yang dapat dihasilkan UD Umbul Jaya ini. 3. Perlunya upaya memperbaiki sistem manajemen keuangan karena selama ini belum terdapat pembukuan yang rapi dan teratur. 4. Penggunaan bahan-bahan alami dan ramah lingkungan selama proses produksi sangat perlu diperhatikan untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar. 5. Hubungan dengan masyarakat sekitar perlu terus ditingkatkan untuk menjalin kerjasama yang erat dengan masyarakat ke depannya. 6. Perlunya selalu memperhatikan informasi-informasi yang berkembang pada bangsa dan negara ini agar dapat selalu sigap dengan isu-isu politik yang selalu berubah. 7. Pentingnya mencari distributor-distributor sebagai penyuplai bahan baku pembuatan susu segar untuk memperlancar proses produksi.

DAFTAR PUSTAKA Andi. 2010. Pengertian Studi Kelayakan Bisnis. blog.uad.ac.id/aftoni/files/2009/08/Materi-SKB.doc. Diakses tanggal 28 November 2012.

Anonim. 2010. Studi Kelayakan Bisnis Aspek Keuangan Dalam Studi Kelayakan Bisnis. http://murtaqicomunity.wordpress.com. Diakses pada hari selasa 10 November 2012 pukul 16.00 WIB. Fanny. 2011. PKMI Etika Bisnis dan Lingkungan. http://fanny.staff.uns.ac.id/. Diakses pada hari selasa 10 November 2012 pukul 16.00 WIB. Gittinger, Price. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Gunawan, B I. 2009. Studi Kelayakan Bisnis. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Haming, M dan Salim B. 2008. Studi Kelayakan Investasi Proyek dan Bisnis. Universitas Gunadarma Press. Bekasi. Husein, Umar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Husnan, S. dan Suwarsono. 2000. Studi Kelayakan Proyek. Edisi keempat. UPP AMP YKPN. Yogyakarta. Kadariah. 1988. Evaluasi Proyek Analisa Ekonomis. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kasmir, Jakfar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Prenada Media. Bogor. Kasmir dan Jakfar. 2007. Studi Kelayakan Bisnis Edisi 2. Kencana. Jakarta. Kettler, Philip. 1995. Marketing Management : Analysis, Planing, and Control, International Edition. Prantice Hail. New Jersy. Lingga, Purnama. 2009. Strategi Marketing Plan. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta Musyadar, Achmad. 2004. Studi Kelayakan Agribisnis, Universitas Terbuka ; Edisi Kesatu, Indonesia. Napitu. 2012. Legalitas Kayu. http://forestindonesia.wordpress.com/. Diakses pada hari selasa 10 November 2012 pukul 16.00 WIB. Rangkuti, Freddy. 2010. Business Plan. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta Riyanto B. 1995. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan Edisi Keempat. BPFE UGM.Yogyakarta. Rizal. 2011. Studi Kelayakan Teori dan Aplikasi. PT Elex Media Komputindo. Jakarta. Sukanto,1983. Dasar-Dasar Management. BPFE: Yogyakarta

Yanti. 2011. Pengertian Biaya Modal. http://lyantie.multiply.com. Diakses pada hari selasa 10 November 2012 pukul 16.00 WIB.

LAPORAN PRAKTIKUM STUDI KELAYAKAN INVESTASI AGRIBISNIS

STUDI KELAYAKAN INVESTASI UD UMBUL JAYA KARANGASEM, SURAKARTA

Oleh : Kelompok 18 1. Adik Nurul W 2. Anggit Purwanto 3. Canggih Jati N 4. Mad Lutfy Niam 5. Okky Ekawati 6. Yuni Restuningsih H 0709002 H 0709008 H 0709024 H 0709067 H 0709086 H 0709130

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012