Anda di halaman 1dari 24

PRESENTASI KASUS BRONKITIS KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT HUSADA FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

Topik

: BRONKITIS

Dokter Pembimbing : Penyaji NIM : :

I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Suku bangsa Tanggal masuk RS Tanggal keluar RS : An. D.A.S : 7 bulan 8 hari : Laki-laki : Pademangan Barat, JAKUT : Islam : Jawa : 11 Januari 2013 : 16 Januari 2013

II. IDENTITAS ORANG TUA Ayah Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan : Tn. B.P : 30 tahun : Islam : Tamat SMA : PNS : Rp 4.500.000/bulan Nama Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Ibu : Ny. Y.M : 29 tahun : Islam : Tamat D3 : Wiraswasta : Rp 3.000.000/bulan

III. ANAMNESIS Aloanamnesis dengan ibu pasien pada tanggal 11 Januari 2013 pukul 08:30 WIB Keluhan Utama : Sesak napas

Keluhan Tambahan : Demam, batuk dan pilek.


1

Riwayat Penyakit Sekarang : 4 hari SMRS pasien mulai batuk dan pilek, batuk berdahak, namun pasien belum bisa mengeluarkan dahaknya, pilek bersekret jernih dan cair. Demam, kejang, sesak napas dan muntah tidak ada, BAB dan BAK masih dalam batas normal, pasien juga masih mau makan. 1 hari SMRS pasien masih dengan keluhan yang sama disertai demam, demam timbul secara mendadak dan terus menerus, kejang, sesak napas dan muntah tidak ada, pasien sudah di bawa berobat ke klinik terdekat namun belum ada perubahan. BAB 4 x dengan konsistensi lunak tidak cair, BAK masih dalam batas normal, pasien rewel namun masih mau makan. 10 jam SMRS pasien mulai terlihat sesak napas, batuk pilek dan demam masih ada. Menurut ibu pasien di rumahnya sedang tidak ada renovasi, pasien juga dalam jangka waktu dekat ini tidak terkena debu-debuan, di keluarga pasien juga tidak ada riwayat penyakit paruparu maupun sesak napas. Keesokan harinya ibu pasien memutuskan untuk mebawa pasien ke RS Husada untuk mendapatkan perawatan.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien belum pernah dirawat di RS karena sakit dan belum pernah sakit seperti ini sebelumnya. Pasien hanya pernah mengalami batuk pilek dan demam saja.

Riwayat Penyakit Keluarga : Pasien adalah anak ke-2 daru dua bersaudara. Tidak ada anggota keluarga pasien yang sakit seperti ini saat ini.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran : Kehamilan Perawatan antenatal : Teratur, trimester I 1x, trimester II 1x, trimester III 2x Penyakit kehamilan : Tidak ada

Kelahiran Tempat kelahiran : RUMAH SAKIT

Penolong persalinan : dr. Sp.OG Cara persalinan Masa gestasi Keadaan bayi : SC a/i anak yang pertama SC : Cukup bulan (39 minggu) :
2

Berat badan lahir Panjang badan lahir Sianosis Ikterik Kejang Kelainan bawaan

: 3200 gram : 48 cm : (-) : (-) : (-) : Tidak ada

Kesan : Neonatus Cukup Bulan, Sesuai Masa Kehamilan.

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan : Pertumbuhan gigi pertama Psikomotor : : 4 bulan : 6 bulan : Belum : Belum : Belum : Belum : Belum : 6 bulan

Tengkurap Duduk Merangkak Berdiri Berjalan Berlari Berbicara

Membaca dan menulis : Belum Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan tidak ada gangguan

Riwayat Imunisasi No. 1 2 3 4 5 6. 7 8 9 10 Vaksin BCG Hepatitis B Polio DPT Campak HiB MMR Tifoid Hepatitis A Varisela

: Dasar (Usia) 1 bulan 1 bulan 1 bulan 2 bulan Belum Belum Belum Belum Belum Belum
3

2 bulan 2 bulan 3 bulan

6 bulan 3 bulan 4 bulan 4 bulan

Kesan

: Imunisasi dasar sesuai dengan usia. Imunisasi tambahan belum dilakukan.

Riwayat Makanan

Usia kurang dari 1 tahun Usia (bulan) 02 24 46 67 ASI / PASI Susu formula Bebelove 6x 100-120 ml/hari Susu formula Bebelove 6x 120-160 ml/hari Susu formula Bebelove 5x 160-200 ml/hari Susu formula Bebelove 4x 200-250 ml/hari Buah (1x) Buah (1x) , Milna (1x) 2x 1x Buah / Biskuit Bubur Susu Nasi Tim

Kesan : Kualitas dan kuantitas makanan cukup baik.

Corak reproduksi

Pasien anak ke-2 dari 2 bersaudara. Kakak pasien berjenis kelamin laki-laki dan berusia 5 tahun

Data perumahan

Pasien tinggal bersama kedua orang tua dan kakaknya. Status rumah milik sendiri. Luas 50m x 20m dengan 1 pintu depan, 3 kamar tidur, 2 kamar mandi,1 dapur, 1 ruang keluarga dan 1 ruang tamu. Ventilasi baik dengan 6 jendela sehingga cahaya matahari bisa masuk. Terdapat selokan di depan rumah, tidak berbau dan salurannya baik.

IV. PEMERIKSAAN FISIS Tanggal 11 Januari 2013 pukul 08:30 WIB Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : Tampak sakit berat : Apatis, kontak aktif (+) lemah : - Frekuensi nadi : 110 x / menit
4

- Frekuensi napas - Suhu aksila Data Antropometri Berat badan

: 40 x / menit : 39,7 0C

: 7,5 kg (berdasarkan kurva NCHS, perbandingan usia dan berat badan terletak di persentil 25).

Panjang badan

: 67 cm (berdasarkan kurva NCHS, perbandingan usia dan panjang badab terletak di persentil 25).

Lingkar kepala

: 42 cm

Kesan : Status gizi cukup baik

Pemeriksaan Sistematis Kepala : Bentuk normal ; rambut hitam terdistribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak mudah patah. Ubun-ubun besar belum menutup tidak cekung. Mata : Bentuk normal, palpebra superior et inferior tidak cekung, kedudukan bola mata dan alis mata simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, kornea jernih, pupil bulat dan isokor, diameter 2 mm, refleks cahaya +/+. Telinga : Bentuk normal, liang telinga lapang, sekret tidak ada, membran timpani utuh, refleks cahaya +/+, tidak hiperemis, tidak ada buldging. Hidung : Bentuk normal, deviasi septum tidak ada, sekret +/+ jernih, konka tidak hiperemis dan tidak menebal. Mulut : Bentuk tidak ada kelainan, bibir merah tidak kering, sianosis tidak ada, lidah tidak kotor, tidak ada tremor, tonsil T1-T1 tenang, faring tidak hiperemis, gigi geligi tidak ada karies I I I I Leher : Bentuk normal, kelenjar getah bening tidak teraba membesar, kaku kuduk tidak ada. Toraks : Paru-paru - Inspeksi : Tampak retraksi pernapasan.
5

- Palpasi - Perkusi - Auskultasi Jantung - Inspeksi - Palpasi

: Tidak dilakukan : Sonor pada kedua lapang paru. : Suara napas vesikuler, rhonki +/+, whizeeng +/+

: Tidak tampak pulsasi iktus kordis : Teraba pulsasi iktus kordis di sela iga V garis midklavikula sinistra

- Perkusi - Auskultasi Abdomen - Inspeksi - Palpasi

: Tidak dilakukan : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

: Datar, tidak tampak benjolan dan tidak ada gambaran vena : Supel, hepar tidak teraba, nyeri tekan (-), nyeri tekan epigastrium (-), lien tidak teraba.

- Perkusi - Auskultasi

: Timpani, shifting dullness (-) : Bising usus (+) normal

Genitalia eksterna : Laki-laki, tidak ada fimosis, tidak ada hernia scrotalis, tidak ada hidrocel, tidak ada undecendens testis. Anus dan rektum : Benjolan (-), fisura (-), tidak tampak kelainan dari luar Ekstremitas : Ekstremitas superior et inferior dextra et sinistra tidak ada deformitas, tidak ada edema, akral kaki hangat Kulit : Warna sawo matang, turgor baik.

Kelenjar getah bening : Retroaurikuler, submandibula, servikal, supra dan infra clavicula, aksila,inguinal, dan femoral tidak teraba membesar

Refleks

: - Refleks tendon +/+ - Reflek bisep +/+ - Reflek trisep +/+

- Refleks Achiles +/+ - Refleks patela +/+

- Refleks patologis Babinski (-) ,Chadock (-)

V. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Laboratorium tanggal 11 Januari 2013 Hematologi : - LED : 67 mm/jam* (0-20 mm/jam) (11-15 g / dl) (36-48 Vol %) (4,2-5,4 juta / l) (5-10 x 10 3 / l) (150-350 x 103 / l)

- Hemoglobin : 12,5 g / dl - Hematokrit : 36 Vol % - Eritrosit - Leukosit - Trombosit : 4,18 juta / l : 10.300 / l* : 406.000 / l

- Hitung jenis : Basofil Batang Segmen Limfosit Monosit - MCV - MCH -MCHC Lain-lain : - CRP Kuantitatif : 2,75 mg/dl (<0,5) :0 (0-1) (1-3) (2-6) (50-70) (20-40) (2-8) (80-100 fl) (26-32 pg) (31-36 %)

Eosinofil : 0* : 0* : 52 : 36 : 12*

: 81 fl : 25 pg : 31 %

VI. RESUME Telah diperiksa seorang anak laki-laki berusia 7 bulan 8 hari dengan keluhan sejak 4 hari SMRS pasien mulai batuk dan pilek, batuk berdahak, namun pasien belum bisa mengeluarkan dahaknya, pilek bersekret jernih dan cair.

1 hari SMRS pasien masih dengan keluhan yang sama disertai demam, demam timbul secara mendadak dan terus menerus. kejang, sesak napas dan muntah tidak ada, pasien sudah di bawa berobat ke klinik terdekat namun belum ada perubahan. BAB 4 x dengan konsistensi lunak tidak cair. 10 jam SMRS pasien mulai terlihat sesak napas, batuk pilek dan demam masih ada. KU : Tampak sakit berat Tanda vital : N: 110 x / m ; Kesadaran : Apatis ; S: 39,7 0C ; RR: 40 x / m

Thorax : Inspeksi di dapatkan retraksi pernapasan interkostal. Auskultasi didapatkan rhonki +/+, whizeeng +/+ Dari pemeriksaan laboratorium (11 Januari 2013) didapatkan : - LED - Leukosit - Eosinofil - Batang - Monosit : 67 mm/jam : 10.300 / l : 0 : 0 : 12 : 2,75 mg/dl

- CRP Kuantitatif

VII. DIAGNOSIS KERJA Bronkitis

VIII. DIAGNOSIS BANDING Asama Bronkhiale Bronkopnemonia

IX. ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG Thotak Photo Elektrolit Test alergi

X. PENATALAKSANAAN 1. Tirah baring 2. Kebutuhan cairan


8

Maintenance Koreksi suhu

: 7,5 x 100 cc : 2 x 12% x 1000 cc

= = =

750 cc / 24 jam 240 cc / 24 jam 990 cc / 24 jam

Total kebutuhan cairan / hari 3. Medikamentosa Parasetamol drop 4x0,6cc Cevtazidim IV 2x250mg Ventolin sir 3x1,25ml 4. Pernapasan O2 2L/menit Inhalasi 3x/hari : - Ventolin amp - Pulmicort amp - Bisolvon 10 tetes

X1. EDUKASI Hati-hati saat memberikan susu, hindari tersedak. Hindari dari debu dan asap. Jaga kebersihan botol susu dan makanan.

XII. PROGNOSIS Ad vitam : dubia ad bonam

Ad functionam : dubia ad bonam Ad sanationam : dubia ad bonam

FOLLOW UP 12 / 01 /13 13 / 01 /13 14 / 01 /13 15 / 01 /13 + sudah

S Demam +, sesak +, Demam +, sesak +, Batuk +, Sesak + Batuk batuk +, pilek +. batuk +, pilek +, tapi BAB 1x. berkurang, berkurang. O Ku: tampak sakit Ku: tampak sakit Ku:tampak sedang N : 100x/m S : 37,9C RR : 30x/m sedang N : 100x/m S : 37,7C RR : 30x/m ringan N: 100x/m S : 36,5C RR : 25x/m

sudah berkurang, sesak + pilek sedikit.

sakit Ku: tampak sakit ringan; N : 100x/m S : 36,5C RR : 25x/m

Retraksi interkostal Retraksi interkostal Retraksi interkostal Rh +/+, Wh +/+, +, Rh +/+, Wh +/+. Thorax Photo * A Bronkitis Bronkitis Bronkitis Th/ lanjutkan Infus 700 cc/24 jam Hentikan parasetamol Bronkitis Th/ lanjutkan Besok pulang rencana +, Rh +/+, Wh +/+. +, Rh +/+, Wh +/+. berkurang.

P IVFD KaEN 3A Th/ lanjutkan 800 cc/24jam Parasetamol 4x0,6cc Ceftazidime 2x250mg Ventolin 3x1,25ml O2 2L/menit Inhalasi 3x/hari : Ventolin amp Pulmicort amp Bisolvon 10 tetes sir IV drop

10

*Thorax Photo tanggal 12 januari 2013

Kesan: Peningkatan corak bronkovaskuler pada kedua lapang paru.

11

TINJAUAN PUSTAKA Pendahuluan Bronkitis ( bronchitis ) adalah peradangan (inflamasi) pada selaput lendir (mukosa) bronkus (saluran pernafasan dari trachea hingga saluran napas di dalam paru-paru). Peradangan ini mengakibatkan permukaan bronkus membengkak (menebal) sehingga saluran pernapasan relatif menyempit. Bronkitis terbagi atas 2 jenis, yakni: bronkitis akut dan bronkitis kronis. Perlu diingat bahwa istilah akut dan kronis adalah terminologi (istilah) berdasarkan durasi berlangsungnya penyakit, bukan berat ringannya penyakit. Bronkitis akut pada umumnya ringan. Berlangsung singkat (beberapa hari hingga beberapa minggu), rata-rata 10-14 hari. Meski ringan, namun adakalanya sangat mengganggu, terutama jika disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk berkepanjangan. Kebanyakan brokitis pada anak yaitu brokitis akut sedangkan bronkitis kronis terjadi pada usia dewasa. 2

12

Bronkitis akut Adalah batuk yang tiba-tiba terjadi karena infeksi virus yang melibatkan jalan nafas yang besar. Bronkitis akut pada umumnya ringan. Berlangsung singkat(beberapa hari hingga beberapa minggu), rata-rata 10-14 hari. Meski ringan, namunadakalanya sangat mengganggu, terutama jika disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk berkepanjangan.

Epidemiologi Bonkitis akut paling banyak terjadi pada anak kurang dari 2 tahun, dengan puncak lain terlihat pada kelompok anak usia 9-15 tahun. Kemudian bronkitis kronik dapat mengenai orang dengan semua umur namun lebih banyak pada orang diatas 45 tahun. Lebih sering terjadi di musim dingin (di daerah non-tropis) atau musim hujan (didaerah tropis). 2

Gambar. Mukus klirens pada saluran napas yang normal 3

13

Mekanisme klirens saluran napas.3,4,5 Pertama, mukus didorong ke proksimal saluran napas oleh gerakan silia,yang akan membersihkan partikel-partikel inhalasi, patogen dan menghilangkan bahan-bahan kimia yang mungkin dapat merusak paru. Musin polimerik secara terus-menerus disintesis dan disekresikan untuk melapisi lapisan mukosa.Kecepatan normal silia 12 sampai 15x/detik, menghasilkan kecepatan 1mm/menit untuk membersihkan lapisan mukosa. Kecepatan mucociliary clearance meningkat dalam keadaan hidrasi tinggi. Dan kecepatan gerakan silia meningkat oleh aktivitas purinergik, adrenergik, kolinergik dan reseptor agonis adenosin,serta bahan iritan kimia. Mekanisme kedua, adalah dengan mengeluarkan mukus dengan refleks batuk. Ini mungkin dapat membantu menjelaskan mengapa penyakit paru yang disebabkan oleh kerusakan fungsi silia tidak terlalu berat dibandingkan dengan yang disebabkan dehidrasi, yang menghalangi kedua mekanisme klirens saluran napas. Meskipun batuk berkontribusi dalam membersikan mukus pada penyakit dengan peningkatan produksi mukus atau gangguan fungsi silia, ini dapat menyulitkan gejala. Etiologi 1 Bronkitis akut dapat disebabkan oleh :
3

Infeksi virus : influenza virus, parainfluenza virus, respiratory syncytialvirus (RSV), adenovirus, coronavirus, rhinovirus, dan lain-lain. Infeksi bakteri : Bordatella pertussis, Bordatella parapertussis, Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, atau bakteri atipik (Mycoplasma

pneumoniae, Chlamydia pneumonia, Legionella). Jamur Noninfeksi : polusi udara, rokok, dan lain-lain.

Penyebab bronkitis akut yang paling sering adalah infeksi virus yakni sebanyak 90% sedangkan infeksi bakteri hanya sekitar < 10%. 4 Belum ada bukti yang meyakinkan bahwa bakteri lain merupakan penyebab primer Bronkitis Akut pada anak. Di lingkungan sosio-

14

ekonomi yang baik jarang terdapat infeksi sekunder oleh bakteri. Alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas dapat memudahkan terjadinya bronkitis akut.

Patogenesis 2 Bronkitis akut terjadi karena adanya respon inflamasi dari membran mukosa bronkus. Pada orang dewasa, bronkitis kronik terjadi akibat hipersekresi mukus dalam bronkus karena hipertrofi kelenjar submukosa dan penambahan jumlah sel goblet dalam epitel saluran nafas. Pada sebagian besar pasien, hal ini disebabkan oleh paparan asap rokok. Pembersihan mukosiliar menjadi terhambat karena produksi mukus yang berlebihan dan kehilangan silia, menyebabkan batuk produktif. Pada anak-anak, bronkitis kronik disebabkan oleh respon endogen, trauma akut saluran pernafasan, atau paparan alergen atau iritan secara terus-menerus. Saluran nafas akan dengan cepat merespon dengan bronkospasme dan batuk, diikuti inflamasi, udem, dan produksi mukus. Apabila terjadi paparan secara kronik terhadap epitel pernafasan, seperti aspirasi yang rekuren atau infeksi virus berulang, dapat menyebabkan terjadinya bronkitis kronik pada anak-anak. Bakteri patogen yang paling banyak menyebabkan infeksi saluran respirasi bagian bawah pada anak-anak adalah Streptococcus pneumoniae . Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis dapat patogen pada balita (umur <5 tahun), sedangkan Mycoplasma pneumoniae pada anak usia sekolah (umur >5-18 tahun). Seperti disebutkan sebelumnya penyebab dari bronkitis akut adalah virus,namun organisme pasti penyebab bronkitis akut sampai saat ini belum dapat diketahui, oleh karena kultur virus dan pemeriksaan serologis jarang dilakukan. Adapun beberapa virus yang telah diidentifikasi sebagai penyebab bronkitis akut adalah virus virus yang banyak terdapat di saluran pernapasan bawah yakni influenza B, influenza A, parainfluenza dan respiratory syncytial virus (RSV). Influenza sendiri merupakan virus yang timbul sekali dalam setahun dan menyebar secara cepat dalam suatu populasi. Gejala yang paling sering akibat infeksi virus influenza diantaranya adalah lemah, nyeri otot, batuk dan hidung tersumbat. Apabila penyakit influenza sudah mengenai hampir seluruh populasi disuatu daerah, maka gejala batuk serta demam dalam 48 jam pertama merupakan prediktor kuat seseorang terinfeksi virus influenza. RSV biasanya menyerangorang orang tua yang terutama mendiami panti jompo, pada anak kecil yangmendiami rumah yang sempit bersama keluarganya dan pada tempat penitipananak. Gejala batuk biasanya lebih berat pada pasien dengan bronkitis akut akibatinfeksi RSV. 5
15

Virus yang biasanya mengakibatkan infeksi saluran pernapasan atas seperti rhinovirus, adenovirus dapat juga mengakibatkan bronkitis akut. Gejala yang dominan timbul akibat infeksi virus ini adalah hidung tersumbat, keluar sekret encer dari telinga (rhinorrhea) dan faringitis
4

Bakteri juga memerankan perannya dalam pada bronkitis akut, antara

lain,Bordatella pertusis, Bordatella parapertusis, Chlamydia pneumoniae dan Mycoplasma pneumoniae. Infeksi bakteri ini biasanya paling banyak terjadi dilingkungan kampus dan di lingkungan militer. Namun sampai saat ini, peranan infeksi bakteri dalam terjadinya bronkitis akut tanpa komplikasi masih belum pasti, karena biasanya ditemukan pula infeksi virus atau terjadi infeksi campuran(Sidney S. Braman, 2006).Pada kasus eksaserbasi akut dari bronkitis kronik, terdapat bukti klinis bahwa bakteri bakteri seperti Streptococcus pneumoniae, Moraxella catarrhalis dan Haemophilus influenzae mempunyai peranan dalam timbulnya gejala batuk dan produksi sputum. Namun begitu, kasus eksaserbasi akut bronkitis kronik merupakan suatu kasus yang berbeda dengan bronkitis akut, karena ketiga bakteritersebut dapat mendiami saluran pernapasan atas dan keberadaan mereka dalamsputum dapat berupa suatu koloni bakteri dan ini bukan merupakan tanda infeksi akut. 4 Penyebab batuk pada bronkitis akut tanpa komplikasi bisa dari berbagai penyebab dan biasanya bermula akibat cedera pada mukosa bronkus. Pada keadaan normal, paru-paru memiliki kemampuan yang disebut mucocilliary defence, yaitu sistem penjagaan paru-paru yang dilakukan oleh mukus dan siliari. Pada pasien dengan bronkhitis akut, sistem mukosiliar defence paru-paru mengalami kerusakan sehingga lebih mudah terserang infeksi. Ketika infeksi timbul, akan terjadi pengeluaran mediator inflamasi yang mengakibatkan kelenjar mukus menjadi hipertropi dan hiperplasia (ukuran membesar dan jumlah bertambah) sehingga produksi mukus akan meningkat. Infeksi juga menyebabkan dinding bronkhial meradang, menebal (sering kali sampai dua kali ketebalan normal), dan mengeluarkan mukus kental. Adanya mukus kental dari dinding bronkhial dan mukus yang dihasilkan kelenjar mukus dalam jumlah banyak akan menghambat beberapa aliran udara kecil dan mempersempit saluran udara besar.Mukus yang kental dan pembesaran bronkhus akan mengobstruksi jalan napasterutama selama ekspirasi. Jalan napas selanjutnya mengalami kolaps dan udara terperangkap pada bagian distal dari paru-paru. Pasien mengalamikekurangan 02, iaringan dan ratio ventilasi perfusi abnormal timbul, di manaterjadi penurunan PO2 Kerusakan ventilasi juga dapat meningkatkan nilai PCO,sehingga pasien terlihat sianosis.
6

Pada bronkitis akut akibat infeksi virus, pasien


16

dapat mengalami reduksinilai volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (FEV1) yang reversibel. Sedangkan pada infeksi akibat bakteri M. pneumoniae atau C. Pneumoniae biasanyamempunyai nilai reduksi FEV1yang lebih rendah serta nilai reversibilitas yang rendah pula 6 Virus dan bakteri biasa masuk melalui port dentre mulut dan hidung droppletinfection yang selanjutnya akan menimbulkan viremia/bakterimia dan gejala ataureaksi tubuh untuk melakukan perlawanan.

ALERGEN

Invasi kuman ke jalan nafas infeksi

Aktivasi IgE iritasi mukosa bronkus Peningkatan pelepasan histamin Penyebaran bakteri/virus keseluruh tubuh.

Edema mukosa sel goblet di produksi

Bersihan jalan nafas tdk efektif

Peningkatan akumulasi sekret

hitertermi

Peningkatan laju metabolisme

Batuk produktif

Penyempitan jalan napas

Demam

melaise

nyeri Penggunaan otot-otot pernapasan

gambar: patogenesis bronkitis

17

Manifestasi klinis 2 Gejala utama bronkitis akut adalah batuk-batuk yang dapat berlangsung 2-3 minggu. Batuk bisa atau tanpa disertai dahak. Dahak dapat berwarna jernih, putih, kuning kehijauan,atau hijau. Selain batuk, bronkitis akut dapat disertai gejala berikut ini :

Demam (biasanya ringan) Batuk (berdahak ataupun tidak berdahak). Sesak napas, rasa berat bernapas, Bunyi napas mengi atau ngik Rasa tidak nyaman di dada atau sakit dada Kadang batuk darah

Gejala bronkitis akut tidaklah spesifik dan menyerupai gejala infeksi saluran pernafasan lainnya. Bronkitis akut akibat virus biasanya mengikuti gejala gejala infeksi saluran respiratori seperti rhinitis dan faringitis. Batuk biasanya muncul 3 4 hari setelah rhinitis. Batuk pada mulanya keras dan kering, kemudian seringkali berkembang menjadi batuk lepas yang ringan dan produktif. Karena anak anak biasanya tidak membuang lendir tapi menelannya, maka dapat terjadi gejala muntah pada saat batuk keras dan memuncak. Pada anak yang lebih besar, keluhan utama dapat berupa produksi sputum dengan batuk serta nyeri dada pada keadaaan yang lebih berat. Karena bronkitis akut biasanya merupakan kondisi yang tidak berat dan dapat membaik sendiri, maka proses patologis yang terjadi masih belum diketahui secara jelas karena kurangnya ketersediaan jaringan untuk pemeriksaan. Yang diketahui adalah adanya peningkatan aktivitas kelenjar mucus dan terjadinya deskuamasi sel sel epitel bersilia. Adanya infiltrasi leukosit PMN ke dalam dinding serta lumen saluran respiratori menyebabkan sekresi tampak purulen. Akan tetapi karena migrasi leukosit ini merupakan reaksi nonspesifik terhadap kerusakan jalan napas, maka sputum yang purulen tidak harus menunjukkan adanya superinfeksi bakteri. Pemeriksaan auskultasi dada biasanya tidak khas pada stadium awal. Seiring perkembangan dan progresivitas batuk, dapat terdengar

berbagai macam ronki, suara napas yang berat dan kasar, wheezing ataupun suara kombinasi. Hasil pemeriksaan radiologis biasanya normal atau didapatkan corakan bronkial. Pada umumnya gejala akan menghilang dalam 10 -14 hari. Bila tanda tanda
18

klinismenetap hingga 2 3 minggu, perlu dicurigai adanya infeksi kronis. Selain itu dapat pula terjadi infeksi sekunder. Diagnosis 5 Diagnosis dari bronkitis akut dapat ditegakkan bila; pada anamnesa pasien mempunyai gejala batuk yang timbul tiba tiba dengan atau tanpa sputum dan tanpa adanya bukti pasien menderita pneumonia,common cold , asma akut,eksaserbasi akut bronkitis kronik dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).Pada pemeriksaan fisik pada stadium awal biasanya tidak khas. Dapat ditemukanadanya demam, gejala rinitis sebagai manifestasi pengiring, atau faring hiperemis.Sejalan dengan perkembangan serta progresivitas batuk, pada auskultasi dadadapat terdengar ronki,wheezing , ekspirium diperpanjang atau tanda obstruksi lainnya. Bila lendir banyak dan tidak terlalu lengket akan terdengar ronki basah.
5

Dalam suatu penelitian terdapat metode untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia

pada pasien dengan batuk disertai dengan produksi sputum yang dicurigai menderita bronkitis akut, yang antara lain bila tidak ditemukan keadaan sebagai berikut: Denyut jantung > 100 kali per menit Frekuensi napas > 24 kali per menit Suhu > 38C Pada pemeriksaan fisik paru tidak terdapat focal konsolidasi dan peningkatan suara napas. Keadaan tersebut tidak ditemukan, kemungkinan pneumonia dapatdisingkirkan dan dapat mengurangi kebutuhan untuk foto thorax 5). Tidak ada pemeriksaan penunjang yang memberikan hasil definitif untuk diagnosis bronkitis. Pemeriksaan kultur dahak diperlukan bila etiologi bronkitis harus ditemukan untuk kepentingan terapi. Hal ini biasanya diperlukan pada bronkitis kronis. Pada bronkitis akut pemeriksaan ini tidak berarti banyak karena sebagian besar penyebabnya adalah virus. Pemeriksaan radiologis biasanya normal atau tampak corakan bronkial meningkat. Pada beberapa penderita menunjukkanadanya penurunan ringan uji fungsi paru. Akan tetapi uji ini tidak perlu dilakukan pada penderita yang sebelumnya sehat. 5 Pemeriksaan fisik 3 Keadaan umum baik: tidak tampak sakit berat, tidak sesak atau takipnea. Mungkin ada nasofaringitis

19

Paru:ronki

basah

kasar

yg

tidak

tetap

(dapat

hilang

atau

pindah

setelah

batuk),wheezing dan krepitasi Pemeriksaan laboratorium 3,4,5 Pemeriksaan dahak dan rontgen dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa dan untuk menyingkirkan diagnosa penyakit lain. Bila penyebabnya bakteri, sputumnya akan seperti nanah. Untuk pasien anak yang diopname, dilakukan tes C-reactive protein, kultur pernafasan, kultur darah, kultur sputum, dan tes serum aglutinin untuk membantu mengklasifikasikan penyebab infeksi apakah dari bakteri atau virus. Untuk anak yang diopname dengan kemungkinan infeksi Chlamydia, mycoplasma,atau infeksi virus saluran pernafasan bawah, lakukan pemeriksaan sekresi nasofaringeal untuk membantu pemilihan antimikroba yang cocok. Serum IgM mungkin dapat membantu.Untuk anak yang diduga mengalami imunodefisiensi, pengukuran serum immunoglobulin total, subkelas IgG, dan produksi antibodi spesifik direkomendasikan untuk menegakkan diagnosis. Diagnosi banding 3,4,5

Batuk dengan atau tanpa produksi sputum dapat dijumpai pada commoncold. Common cold sendiri merupakan istilah konvensional dari infeksi saluran pernapasan atas yang ringan, gejalanya terdiri dari adanya sekret dari hidung, bersin, sakit tenggorok dan batuk serta bias juga dijumpai demam, nyeri otot danlemas. Seringkali common cold dan bronkitis akut memiliki gejala yang sama dan sulit dibedakan. Batuk pada common cold merupakan akibat dari infeksi saluran pernapasan atas yang disertai postnasal drip dan pasien biasanya sering berdeham. Batuk pada bronkitis akut disebabkan infeksi pada saluran pernapasan bawah yang dapat didahului oleh infeksi pada saluran pernapasan atas dan oleh sebab itu mempersulit penegakkan diagnosis penyakit ini. 5 Bronkitis akut juga sulit dibedakan dengan eksaserbasi akut bronkitis kronik dan asma akut dengan gejala batuk. Dalam suatu penelitian mengenai bronkitis akut, asma akut seringkali didiagnosa sebagai suatu bronkitis akut pada1/3 pasien yang datang dengan gejala batuk. Oleh karena kedua penyakit ini memiliki gejala yang serupa, maka satu satunya alat diagnostik adalah dengan mengevaluasi bronkitis akut tersebut, apakah merupakan suatu penyakit tersendiri atau merupakan awal dari penyakit kronik seperti asma.
5

Bronkitis akut merupakan penyakit saluran pernapasan


20

yang dapat sembuh sendiri dan bila batuk lebih dari 3 minggu maka diagnosis diferensial lainnya harus dipikirkan. Pasien dengan riwayat penyakit paru kronik sebelumnya seperti bronkitis kronik, PPOK dan bronkiektasis, pasien dengan gagal jantung dan dengan gangguan sistem imun seperti AIDS atau sedang dalam kemoterapi, merupakan kelompok yang beresiko tinggi terkena bronkitis akut dan dalam halini kelompok tersebut merupakan pengecualian. 5 Penatalaksanaan 3,4,5 Sebagian besar pengobatan bronkitis akut bersifat simptomatis (meredakan keluhan). Obat-obat yang lazim digunakan, yakni:

Antitusif (penekan batuk): DMP (dekstromethorfan) 15 mg, diminum 2-3 kali sehari. Codein 10 mg, diminum 3 kali sehari. Doveri 100 mg, diminum 3 kali sehari. Obat-obat ini bekerja dengan menekan batuk pada pusat batuk di otak. Karenanya antitusif tidak dianjurkan pada kehamilan dan bagi ibu menyusui. Demikian pula pada anak-anak, para ahli berpendapat bahwa antitusif tidak dianjurkan, terutama pada anak usia 6 tahun ke bawah. Pada penderita bronkitis akut yang disertai sesak napas, penggunaan antitusif hendaknya dipertimbangkan dan diperlukan feed back dari penderita. Jika penderita merasa tambah sesak, maka antitusif dihentikan. Penggunaan codein atau dekstrometorphan untuk mengurangi frekuensi batuk dan perburukannya pada pasien bronkitis akut sampai saat ini belum diteliti secara sistematis. Dikarenakan pada penelitian sebelumnya, penggunaan kedua obat tersebut terbukti efektif untuk mengurangi gejala batuk untuk pasien

dengan bronkitis kronik, maka penggunaan pada bronkitis akut diperkirakan memiliki nilai kegunaan. Suatu penelitian mengenai penggunaan kedua obat tersebut untuk mengurangi gejala batuk pada common cold dan penyakit saluran napas akibat virus, menunjukkan hasil yang beragam dan tidak direkomendasikan untuk sering digunakan dalam praktek keseharian (Lee P, Jawad M, Eccles R, 2008) Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa kedua obat ini juga efektif dalam menurunkan frekuensi batuk per harinya. Dalam suatu penelitian, sebanyak 710 orang dewasa dengan infeksi saluran pernapasan atas dan gejala batuk, secara acak
21

diberikan dosis tunggal 30 mg Dekstromethorpan hydrobromide atau placebo dan gejala batuk kemudian di analisa secara objektif menggunakan rekaman batuk secara berkelanjutan. Hasilnya menunjukkan bahwa batuk berkurang dalam periode 4 jam pengamatan (Pavesi L, Subburaj S, Porter ShawK, 2009).

Ekspektorant: adalah obat batuk pengencer dahak agar dahak mudah dikeluarkan sehingga napas menjadi lega. Ekspektorant yang lazim digunakan diantaranya: GG (glyceryl guaiacolate), bromhexine, ambroxol, dan lain-lain.

Antipiretik : parasetamol (asetaminofen), dan sejenisnya, digunakan jika penderita demam.

Bronkodilator , diantaranya: salbutamol, terbutalin sulfat, teofilin, aminofilin, dan lain-lain. Obatobat ini digunakan pada penderita yang disertai sesak napas atau rasa berat bernapas. Penderita hendaknya memahami bahwa bronkodilator tidak hanya untuk obat asma, tapi dapat juga digunakan untuk melonggarkan napas pada bronkitis. Selain itu, penderita hendaknya mengetahui efek samping obat bronkodilator yang mungkin dialami oleh penderita, yakni: berdebar, lemas, gemetar dan keringat dingin. Andaikata mengalami efek samping tersebut, maka dosis obat diturunkan menjadi setengahnya. Jika masih berdebar, hendaknya memberitahu dokter agar diberikan obat bronkodilator jenis lain. Dalam suatu studi penelitian dari Cochrane, penggunaan bronkodilator tidak direkomendasikan sebagai terapi untuk bronkitis akut tanpa komplikasi.Ringkasan statistik dari penelitian Cochrane tidak menegaskan adanya keuntungan dari penggunaan -agonists oral maupun dalam mengurangi gejala batuk pada pasien dengan bronkhitis akut (Hueston WJ, 2008). Namun, pada kelompok subgrup dari penelitian ini yakni pasien bronkhitis akutdengan gejala obstruksi saluran napas dan terdapat wheezing , penggunaan bronkodilator justru mempunyai nilai kegunaan.Efek samping dari penggunaan -agonists antara lain, tremor, gelisah dan tangan gemetar (Smucny J, Flynn C,Becker L,et al , 2007). Penggunaan antikolinergik oral untuk meringankan gejala batuk pada bronkitis akut sampai saat ini belum diteliti dan oleh karena itu tidak dianjurkan (Sidney S. Braman, 2006).

22

Dikarenakan pada penelitian ini disebutkan bahwa gejala batuk lebih banyak berasal dari bronkitis akut, maka penggunaan antitusif sebagai terapiempiris untuk batuk pada bronkitis akut dapat digunakan (Sidney S. Braman,2006).

Antibiotika. Hanya digunakan jika dijumpai tanda-tanda infeksi oleh bakteri.

Pemeriksaan penunjang 6 a. Foto Thorax : Tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia b. Laboratorium : Leukosit > 17.500. Prognosisi 6 Perjalanan dan prognosis penyakit ini bergantung pada tatalaksana yang tepat atau mengatasi setiap penyakit yang mendasari. Komplikasi 6 a. Bronkitis Akut yang tidak ditangani cenderung menjadi Bronkitis Kronik b. Pada anak yang sehat jarang terjadi komplikasi, tetapi pada anak dengan gizi kurang dapat terjadi Othithis Media, Sinusitis dan Pneumonia c. Pleuritis d. Bronkitis Kronik menyebabkan mudah terserang infeksi e. Bila sekret tetap tinggal, dapat menyebabkan atelektasisi atau Bronkietaksis Ringkasan Bronkitis akut adalah peradangan akut pada bronkus dan cabang-cabangnya, yang disebabkan sebagian besar oleh virus dan mengakibatkan terjadinya edema dan pembentukan mukus. Gejala yang paling menonjol adalah batuk dengan atau tanpa sputum, berlangsung tidak lebih dari 2 minggu. Untuk menegakkan diagnosis dari penyakit ini harus disingkirkan kemungkinan adanya penyakit pernapasan lainnya seperti pneumonia, common cold, asma akut,eksaserbasi akut bronkitis kronik dan PPOK. Pada penatalaksanaan bronkitis akut, antibiotik diperbolehkan bila dicurigai penyebabnya adalah bakteri. Pemberian bronkodilator diperbolehkan bila gejala batuk berbarengan dengan asma. Pemberian agen mukolitik tidak direkomendasikan dan pemberian antitusif dengan Dekstrometorphan terbukti dapat menekan gejala batuk.
23

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Buku Ajar respirologi Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta . 2010.hal.330-332 Ed. Nelson, waldo E. dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Vol.2 Ed 15. Jakarta: EGC. Hal. 1483 Fahy JV,Dickey BF. Review Artikel Airway Mucus Function andDysfunction. New England of Jurnal Medicine. Vol 363. No.23. Dec 2, 2010. Gonzales R, Sande M. Uncomplicated acute bronchitis.Ann Intern Med 2008;133: 981991 Sidney S. Braman. Chronic Cough Due to Acute Bronchitis :ACCP Evidence-Based Clinical Practice Guidelines. Chest Journal. 2006;129;95S-103S. Melbye H, Kongerud J, Vorland L. Reversible airflow limitation in adultswith respiratory infection. Eur Respir J 2009 7:12391245 http://ww.medicastore.com/med

3.

4.

5.

6.

7.

24