Anda di halaman 1dari 29

Bantalan (Bearing)

Bantalan merupakan salah satu bagian dari elemen mesin yang memegang peranan cukup penting karena fungsi dari bantalan yaitu untuk menumpu sebuah poros agar poros dapat berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebihan. Bantalan harus cukup kuat untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. Berikut ini adalah gambar jenis-jenis bantalan Deep groove ball bearings dan Angular contact ball bearing :

Gambar 1. Gambar perbedaan antara dua bearing yang dipergunakan

Deep groove ball bearing(1), Angular contact ball bearing (2).

Pada umumya bantalan dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu : a. Berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros Bantalan luncur Pada bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan perantaraan lapisan pelumas. Bantalan gelinding Pada bantalan ini terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti bola, rol, dan rol bulat.

b. Berdasarkan arah beban terhadap poros Bantalan radial


1

Arah beban yang ditumpu bantalan ini adalah tegak lurus sumbu. Bantalan aksial Arah beban bantalan ini sejajar dengan sumbu poros. Bantalan gelinding khusus Bantalan ini dapat menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus sumbu poros. Meskipun bantalan gelinding menguntungkan, banyak konsumen memilih bantalan luncur dalam hal tertentu, contohnya bila kebisingan bantalan menggangu, pada kejutan yang kuat dalam putaran bebas.

1. Bantalan Luncur
Bantalan luncur adalah suatu elemen mesin yang berfungsi untuk menumpu poros berbeban, sehingga putaran atau gerakan bolak-baliknya dapat berlangsung dengan halus dan aman. Jenis bantalan ini mampu menumpu poros dengan beban besar. Atas dasar arah beban terhadap poros maka bantalan luncur dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Bantalan Radial atau disebut jurnal bearing, dimana arah beban yang ditumpu bantalan adalah tegak lurus terhadap sumbu poros. 2. Bantalan aksial atau disebut trust bearing, yaitu arah beban yang ditumpu bantalan adalah sejajar dengan sumbu poros. 3. Bantalan luncur khusus adalah kombinasi dari bantalan radial dan bantalan aksial.

Gambar 1. Contoh dari Bantalan Luncur

1.1 Jenis dan fungsi dari bantalan luncur: 1. Bantalan luncur silinder penuh, digunakan untuk poros-poros yang ukuran kecil berputar lambat dan beban ringan. 2. Bantalan luncur silinder memegas, digunakan pada poros-poros mesin bubut, mesin frais dan mesin perkakas lainnya. 3. Bantalan luncur blah, digunakan pada poros-poros ukuran sedang dan besar seperti bantalan pada poros engkol, bantalan poros pada roda kendaraan dan lain-lain.

4. Bantalan inside, digunakan untuk poros dengan beban yang sering berubah, misalkan bantalan poros engkol dari poros-poros presisi. 5. Bantalan luncur sebagian, digunakan untuk poros yang berputar lambat, beban berat tetapi tidak berubah-ubah. Misalkan bantalan pada mesin-mesin perkakas kepala cekam. 6. Bantalan bukan logam, digunakan untuk leher-leher poros yang memerlukan pendingin zat cair dan tidak mendapat beban berat. Pada lapisan juga berfungsi sebagai pelumas, bahan lapisan yang digunakan yaitu karet, plastik dan ebonit. 7. Bantalan luncur tranlasi, digunakan untuk blok-blok luncur gerak lurus, seperti blok luncur pada batang torak mesin uap dan blok luncur pada mesin produksi. 1.2 Bahan-bahan bantalan luncur: - Besi cor (BC 14 : BC 22), beban dan kecepatan rendah. - Brons, dibuat dari tembaga (Cu), timah putih (Sn), timah hitam (Pb) dan aluminium (Al). - Babit, dibuat dari timah putih dan timah hitam dengan bahan dasar antimon. - Logam bubut (metal powder), dibuat dari serbuk brons dan grafit yang dipadatkan dengan lapisan luar dari baja lunak. - Bahan bukan logam, dibuat dari kayu keras, karet plastik dan bahan sintesis lainnya. Karena gesekannya yang besar pada saat mulai jalan, maka bantalan luncur

memerlukan momen awal yang besar. Pelumasan pada bantalan ini tidak begitu sederhana, karena gesekan yang besar akan menimbulkan panas pada bantalan, sehingga memerlukan pendinginan khusus. Pada umumnya, konstruksi bantalan luncur berbentuk silinder atau silinder yang dibelah dua yang pada bagian dalamnya biasanya dilapisi oleh bahan yang mempunyai sifatsifat seperti : 1. Mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan beban statis dan beban dinamis 2. Tahan aus 3. Mampu membenamkan kotoran atau partikel-partikel halus 4. Dapat menyesuaikan diri terhadap lenturan poros atau geometri poros 5. Tahan korosi 6. Koefisien gesek yang rendah 7. Mempunyai ketahanan terhadap pengelupasan lapisan
3

Ada beberapa jenis bahan yang biasa digunakan sebagai lapisan pada rangka bantalan, yaitu paduan timah putih (Tin base alloy) dan paduan timah hitam (Lead base alloy). Paduan ini biasa disebut logam putih (white metal) atau logam Babbitt. Logam Babbitt ini relatif lunak, sehingga untuk meningkatkan kemampuannya dalam menumpu beban maka harus ditumpu oleh rangka bantalan (bearing shell) yang lebih kuat. Rangka bantalan biasanya terbuat dari Baja, Besi cor atau paduan Tembaga. Logam Babbitt ini kemudian dilapiskan pada permukaan dinding dalam dari rangka bantalan dengan cara pengecoran, pengelasan, metal spray atau elektro plating. Lapisan babbit ini harus dapat melekat dengan kuat pada rangka bantalan. Kekuatan ikatan antara logam babbit dan rangka bantalan dapat dicapai dengan baik jika preparasi dari permukaan rangka bantalan dilakukan dengan sempurna.

2. Bantalan Gelinding
Bantalan yang sering digunakan adalah bantalan gelinding atau disebut juga bantalan anti gesek. Keuntungan dan kerugian bantalan gelinding : a. Bantalan gelinding pada umumnya lebih cocok untuk beban kecil daripada bantalan luncur, tergantung pada bentuk elemen gelindingnya. b. Putaran pada bantalan ini dibatasi oleh gaya sentrifugal yang timbul pada elemen gelinding tersebut. c. Karena konstruksinya yang sukar dan ketelitiannya yang tinggi, maka bantalan gelinding hanya dapat dibuat oleh pabrik-pabrik tertentu saja. d. Harganya pada umumnya le bih mahal daripada bantalan luncur e. Untuk menekan biaya pembuatan serta memudahkan pemakaian, bantalan gelinding diproduksi menurut standar dalam berbagai ukuran dan bentuk f. Dengan gesekan yang sangat rendah pelumasannya pun sangat sederhana, cukup dengan gemuk, bahkan pada jenis tertentu yang memakai sil sendiri tidak perlu pelumasan lagi g. Meskipun ketelitiannya tinggi, namun karena adanya gerakan elemen gelinding dan sangkar, pada putaran tinggi bantalan ini agak gaduh dibandingkan dengan bantalan luncur. Macam macam bantalan gelinding adalah sebagai berikut : a. Bantalan gelinding dengan bola (ball bearing) - Bantalan gelinding bola radial (radial ball bearing) - Bantalan gelinding bola kontak menyudut ( angular contact ball bearing)
4

- Bantalan gelinding bola aksial ( thrust ball bearing) b. Bantalan gelinding dengan roll ( roller bearing) - Bantalan gelinding rol silinder (cylindrical roller bearing) - Bantalan gelinding rol jarum (needle roller bearing) - Bantalan gelinding rol tirus (tapered roller bearing) - Bantalan gelinding rol lengkung (spherical roller bearing) Walaupun bantalan gelinding disebut juga sebagai bantalan anti gesekan (anti friction bearing), tetapi karena adanya beban dan putaran maka akan timbul slip, sehingga menimbulkan gesekan antara komponen bantalan, yaitu : ring luar, bola atau rol, dan ring dalamnya.

Gambar 2. Contoh dari Bantalan Gelinding

2.1 Kerusakan Bantalan Gelinding Kerusakan bantalan gelinding dapat disebabkan karena: Kesalahan bahan (faktor produsen) yaitu retaknya bantalan setelah produksi baik retak halus maupun berat, kesalahan tolransi, kesalahan celah bantalan. Kesalahan pada saat pemasangan. Pemasangan yang terlalu longgar yang akibatnya cincin dalam atau cincin luar yang berputar yang menimbulkan gesekan denga housing/poros. Pemasangan yang terlalu erat yang akibatnya ventilasi atau celah yang kurang sehingga pada saat berputar suhu bantalan akan cepat meningkat dan terjadi konsentrasi tegangan yang lebih. Terjadi pembenjolan pada jalur jalan atau pada roll sehingga bantalan saat berputar akan tersendat-sendat.
5

Kesalahan operasi seperti. Bahan pelumas yang tidak sesuai akibatnya akan terjadi korosi atau penggumpalan pelumas yang dapat menghambat berputarnya bantalan. Pengotoran dari debu atau daerah sekitarnya yang akibatnya bantalan akan mengalami keausan dan berputarnya dengan bushing. Pemasangan yang tidak sejajar maka akan menimbulkan guncangan pada saat berputar yang dapat merusak bantalan. 2.2 Pembacaan nomor nominal pada bantalan gelinding. Dalam praktek, bantalan gelinding standart dipilih dari katalog bantalan. Ukuran utama bantalan adalah : - Diameter lubang - Diameter luar - lebar - Lengkungan sudut Nomor nominal bantalan gelinding terdiri dari nomor dasar dan nomor pelengkap. Nomor dasar yang ada merupakan lambang jenis, lambang ukuran(lambang lebar, diameter luar). Nomor diameter lubang dan lambang sudut kontak penulisannya bervariasi tergantung produsen bearing yang ada. Bagian Nomor nominal ABCD A menyatakan jenis dari bantalan yang ada. Jika A berharga : 0 maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, double row. 1 maka hal tersebut menunjukkan jenis Self-aligning ball bearing. 2 maka hal tersebut menunjukkan jenis spherical roller bearings and spherical roller thrust bearings. 3 maka hal tersebut menunjukkan jenis taper roller bearings. 4 maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, double row. 5 maka hal tersebut menunjukkan jenis thrust ball bearings. 6 maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, single row. 7 maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, single row. 8 maka hal tersebut menunjukkan jenis cylindrical roller thrust bearings.
6

B menyatakan lambang diameter luar. Jika B berharga 0 dan 1 menyatakan penggunaan untuk beban yang sangat ringan. Jika B berharga 2 menyatakan penggunaan untuk beban yang ringan. Jika B berharga 3 menyatakan penggunaan untuk beban yang sedang. Jika B berharga 4 menyatakan penggunaan untuk beban yang berat.

C dan D menyatakan lambang diameter dalam Untuk bearing yang berdiameter 20 - 500 mm, kalikanlah 2 angka lambang tersebut untuk mendapatkan diameter lubang sesungguhnya dalam mm. Nomor tersebut biasanya bertingkat dengan kenaikan 5 mm tiap tingkatnya.

3. Penyebab-penyebab kerusakan pada bearing:


1. Kesalahan bahan

faktor produsen: yaitu retaknya bantalan setelah produksi baik retak halus maupun berat, kesalahan toleransi, kesalahan celah bantalan. faktor konsumen: yaitu kurangnya pengetahuan tentang karakteristik pada bearing.

2. Penggunaan bearing melewati batas waktu penggunaannya (tidak sesuai dengan petunjuk buku fabrikasi pembuatan bearing). 3. Pemilihan jenis bearing dan pelumasannya yang tidak sesuai dengan buku petunjuk dan keadaan lapangan (real). 4. Pemasangan bearing pada poros yang tidak hati-hati dan tidak sesuai standart yang ditentukan. Kesalahan pada saat pemasangan, diantaranya:

Pemasangan yang terlalu longgar, akibatnya cincin dalam atau cincin luar yang berputar yang menimbulkan gesekan dengan housing/poros. Pemasangan yang terlalu erat, akibatnya ventilasi atau celah yang kurang sehingga pada saat berputar suhu bantalan akan cepat meningkat dan terjadi konsentrasi tegangan yang lebih.

Terjadi pembenjolan pada jalur jalan atau pada roll sehingga bantalan saat berputar akan tersendat-sendat.

5. Terjadi misalignment, dimana kedudukan poros pompa dan penggeraknya tidak lurus, bearing akan mengalami vibrasi tinggi. Pemasangan yang tidak sejajar tersebut akan menimbulkan guncangan pada saat berputar yang dapat merusak bearing. Kemiringan dalam
7

pemasangan bearing juga menjadi faktor kerusakan bearing, karena bearing tidak menumpu poros dengan tidak baik, sehingga timbul getaran yang dapat merusak komponen tersebut. 6. Karena terjadi unbalance (tidak imbang), seperti pada impeller, dimana bagian-bagian pada impeller tersebut tidak balance (salah satu titik bagian impeller memiliki berat yang tidak seimbang). Sehingga ketika berputar, mengakibatkan putaran mengalami perubahan gaya disalah satu titik putaran (lebih terasa ketika putaran tinggi), sehingga berpengaruh pula pada putaran bearing pada poros. Unbalance bisa terjadi pula pada poros, dan pengaruhnya pun sama, yaitu bisa membuat vibrasi yang tinggi dan merusak komponen. 7. Bearing kurang minyak pelumasan, karena bocor atau minyak pelumas terkontaminasi benda asing dari bocoran seal gland yang mempengaruhi daya pelumasan pada minyak tersebut.

4. Proses pemasangan bearing


- Proses balancing. Pemasangan bearing pada komponen mesin, komponen tersebut pertamatama harus benar-benar balance agar bearing dapat bertahan dengan baik. - Alignment (pengaturan sumbu poros pada mesin harus benar-benar sejajar). - Proses pemberian beban. Pemberian beban ini harus sesuai dengan jenis bearing yang digunakan apakah itu beban radial atau beban aksial. - Pengaturan posisi bearing pada poros. - Clearance bearing. Metode pemasangan dan peralatan yang digunakan. - Toleransi dan ketepatan yang diperlukan. Pada saat pemasangan bearing pada poros, maka toleransi poros pada proses pembubutan harus diperhatikan karena hal tersebut mempengaruhi keadaan bearing.

5. Cara mengatasi kerusakan pada bearing:


1. Melakukan penggantian bearing sesuai umur waktu kerja yang telah ditentukan. 2. Mengganti bearing yang sesuai dengan klasifikasi kerja pompa tersebut.

3. Melakukan pemasangan bearing dengan hati-hati sesuai standar yang telah ditentukan. 4. Melakukan alignment pada poros pompa dan penggeraknya. 5. Melakukan tes balancing pada poros dan impeller. 6. Memasang deflektor pada poros dan pemasangan rubber seal pada rumah bantalan dan perbaikan pada seal gland, untuk mengantisipasi kebocoran.

Flexible Machine Elements


1. Sabuk (Belt)
Sabuk (belt) adalah elemen mesin fleksibel yang bisa digunakan dengan mudah untuk mentransmisikan torsi dan gerakan berputar dari suatu komponen ke komponen lainnya. Sabuk dililitkan pada puli yang melekat pada poros yang akan berputar. Belt digunakan karena jarak antara poros dan motor penggerak relatif jauh. Jika menggunakan roda gigi bisa menjadi masalah dalam pembuatan maupun biaya sebab pembuatan roda gigi relatif lebih mahal dibandingkan dengan pembuatan puli. Lagi pula, bermacam-macam ukuran puli banyak tersedia di pasaran. Sebagian besar transmisi sabuk menggunakan sabuk V, karena harganya murah, penanganan mudah, cara kerjanya lebih halus, dan tak bersuara. Sabuk V terbuat dari karet dan mempunyai penampang trapesium. Sabuk ini dibelitkan di sekeliling alur puli yang juga berbentuk V. Bagian sabuk yang membelit pada puli akan mengalami lengkungan, sehingga lebar bagian dalamnya bertambah besar. Gaya gesekan juga bertambah karena pengaruh bentuk baji, yang menghasilkan transmisi daya yang besar pada tegangan relatif rendah. Ini merupakan salah satu keunggulan sabuk V ketimbang sabuk rata. Transmisi sabuk hanya dapat dihubungkan poros-poros dengan arah putaran yang sama. Secara umum, sabuk dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis : 1. Flat Belt , Sabuk datar banyak digunakan di pabrik dan bengkel(tempat kerja), dimana tenaga di transmisikan dari puli satu ke puli lain. Yang mana kedua puli tidak boleh terpisah lebih dari 10 meter
9

2. V-Belt , banyak digunakan di pabrik dan bengkel(tempat kerja) yang mana baik digunakan untuk mentransmisikan tenaga dari puli satu ke puli lain. Yang mana kedua puli sangat dekat atau berdekatan satu sama lain. 3. Circular Belt , banyak digunakan di pabrik dan bengkel(tempat kerja), dimana tenaga di transmisikan dari puli satu ke puli lain. Yang mana kedua puli tidak boleh terpisah lebih dari 5 meter .

Gambar 3. Jenis-jenis sabuk (belt)

Koefisien gesek sabuk bergantung dari bahan sabuk, bidang permukaan puli, slip sabuk, dan kecepatan sabuk. Kecepatan sabuk harus diperhitungkan karena semakin besar kecepatan sabuk, makin besar gaya sentrifugal sabuk yang mengakibatkan tegangan sabuk semakin besar pula. Besarnya gaya sentrifugal dipengaruhi oleh massa jenis (density) sabuk. Jika sabuk terusan (tak berujung) tidak tersedia, maka sabuk potong harus disambung di kedua ujungnya dengan pengikat. Macam-macam sambungan sabuk terdiri atas : Semen (cemented joint) Laced joint Kait ( hinged joint) Sambungan semen adalah sambungan pada sabuk terusan dari pabrik pembuat yang lebih kuat sehingga lebih disukai.

Sambungan laced joint dibuat dengan melubangi sabuk sedemikian sehingga diikat dengan pelat pengikat (raw hide strip) Sambungan dengan cara metal laced dapat digunakan untuk mengikat sabuk
10

Gambar 4. Metal Laced Joint

Sambungan kait (hinged joint) dibuat dengan memasang sejumlah kait pada ujungujung sabuk. Dengan sebuah ujung kait dihubungkan.

Gambar 5. Hinged Joint

1.1 V- Belt Transmisi V-Belt V- belt terbuat dari karet dengan inti tenunan tetoron atau semacamnya dan mempunyai penampang trapezium. V-belt dibelitkan di sekeliling alur puli yang membentuk V pula. Bagian sabuk yang sedang membelit pada puli ini mengalami lengkungan sehingga lebar bagian dalamnya akan bertambah besar. Gaya gesekan juga akan bertambah karena pengaruh bentuk baji, yang akan menghasilkan transmisi daya yang besar pada tegangan yang relatif rendah. Hal ini merupakan salah satu keunggulan V-belt dibandingkan dengan flat belt. V-belt memiliki konstruksi yang hanya dapat menghubungkan poros-poros yang sejajar dengan arah putaran yang sama dibandingkan dengan transmisi roda gigi atau rantai, V-belt bekerja lebih halus dan tak bersuara.

11

Dimensi pada V-belt dan Puli Dimensi yang penting dalam perencanaan V-belt dan puli meliputi diameter puli, panjang V-bely, dan karakter-karakter operasi lain seperti : rasio kecepatan, kecepatan sudut, besarnya putaran, sudut kontak, jarak antar sumbu poros dan di bawah ini adalah gambar konstruksi V-belt dan berbagai penampang belt

Gambar 6. Konstruksi V-Belt

Gambar 7. Ukuran penampang V-belt

Gambar 8. Profil Alur V-Belt

Rasio transmisi (i) pada puli didefinisikan sebagai perbandingan antara kecepatan puli penggerak dengan puli yang digerakkan atau merupakan perbandingan diameter puli yang digerakkan dengan diameter puli penggerak dan dapat dirumuskan sebagai berikut :
12

i = n1n2 = Dpdp
dimana : i = rasio transmisi pada puli n1 = putaran puli pada motor atau penggerak (rpm) n2 = putaran puli yang digerakkan (rpm) dp = diameter puli pada motor atau penggerak (mm) Dp = diameter puli yang digerakkan (mm) 1.2 Flat Belt Flat belt umumnya dipakai pada crowned pulleys, sabuk ini lebih tenang dan efisien pada kecepatan tinggi, dan juga mampu mentransmisikan sejumlah daya yang besar pada jarak pusat pulley yang panjang. Flat belt ini dapat dibeli dalam bentuk rol dan potongan yang nanti ujungnya disambung dengan special kits furnished oleh pabriknya. Daya yang ditransmisikan ditentukan oleh:
Kecepatan sabuk Tarikan oleh sabuk pada pulley Sudut kontak antara sabuk dengan pulley yang kecil

Kondisi pemakaian Agar transmisi daya berlangsung sempurna, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Poros harus lurus agar tarikan pada belt uniform Jarak poros tidak terlalu dekat agar sudut kontak pada roda yang kecil sebesar

mungkin
Jarak poros jangan terlalu jauh agar belt tidak terlalu berat Belt yang terlalu panjang akan bergoyang, dan bagian pinggir sabuk cepat rusak Tarikan yang kuat supaya bagian bawah, dan sabuk yang kendor di atas agar sudut

kontak bertambah besar\


Jarak antar poros maksimum 10m, dan jarak minimum adalah 3,5 kali diameter roda

yang besar Bahan sabuk:


Kulit Anyaman benang

Karet

13

Macam-macam konfigurasi transmisi flat belt:


Open Belt drive, untuk poros sejajar dan berputar dalam arah yang sama

Gambar 9. Open Belt Drive Crossed or twist belt drive, untuk poros sejajar dan berputar berlawanan arah.

Karena belt saling bergesekan maka belt menjadi cepat aus dan sobek. Jarak poros dibatasi maksimum 20 kali lebar belt dan kecepatan maksimim 20 meter/s.

Gambar 10. Twist Belt Drive Quarter turn belt drive, untuk poros yang bersilangan tegak lurus dan berputar

dalam arah tertentu. Lebar pulley harus lebih dari 1,4 kali lebar sabuk.

14

Gambar 11. Quarter turn belt drive Belt drive with idler pulleys, untuk memperbesar sudut kontak jika jarak poros

cukup panjang. Dengan cara ini dapat digunakan untuk perbandingan kecepatan tinggi, dan untuk menambah tarikan belt.

Gambar 12. Belt Drive with idler pulleys

Dapat juga digunakan jika beberapa poros perlu mengambil daya dari sebuah poros penggerak

Gambar 13. Gabungan beberapa poros 15

Compound belt drive, digunakan untuk transmisi daya dari dari sebuah poros ke

beberapa roda

Gambar 14. Compound belt drive Stepped or cone pulley drive, digunakan untuk mengubah putaran poros yang

digerakkan sementara putaran poros penggerak tetap

Gambar 15. Cone pulley drive Fast and loose pulley drive, digunakan jika poros yang digerakkan dapat dihentikan

atau diputar

16

Gambar 16. Fast and loose pulley drive

Pemilihan Flat Belt Pemilihan flat belt ditentukan berdasarkan kapasitas daya yang dapat diteruskan per satuan lebar belt untuk jenis belt dari bahan tertentu. Kapasitas daya masih dikoreksi dengan faktor pemakaian, faktor koreksi untuk dimensi pulley, dan faktor koreksi sudut kontak. Daya desain belt menjadi:

Dayadesain=

KapasitasD ayaxsf f d xf

Dengan : sf = faktor pemakaian fd = faktor diameter f = faktor sudut kontak


Tabel 1. kapasitas daya untuk belt dari kulit (HP/cm lebar)

Tabel 2. kapasitas daya untuk belt dari kanvas berlapis karet (HP/cm lebar)

Kapasitas daya untuk belt dari bahan terpal (kecepatan 10 m/s)


17

Untuk beban ringan: 0,23 kw (0,34 HP) per cm lebar puli Untuk beban berat: 0,289 kw (0,392 HP) per cm lebar puli

Tabel 3. faktor pemakaian flat belt

Tabel 4. faktor koreksi untuk dimensi puli yang kecil

Tabel 5. faktor sudut kontak

18

2. Rantai ( Chain )
2.1 Roller Chain Roller Chain adalah rantai yang dapat digunakan langsung dan dengan cara yang efisien untuk mentransmisikan daya antara poros-poros yang paralel.

Gambar 17. Konstruksi dari roller chain Cara kerja roller chain :

Rol akan memutar bushing yang terpasang ketat pada bagian dalam pelat penghubung Pin akan mencegah plat penghubung bagian luar berputar dengan pemasangan yang sangat ketat
Rantai akan mengait pada gigi sproket dan meneruskan daya tanpa slip dan menjamin

perbandingan putaran yang tetap Fungsi dan kelebihan roller chain : Mampu meneruskan daya yang besar karena kekuatannya yang besar Tidak memerlukan tegangan awal Keausan kecil pada bantalan Pemasangannya mudah dan harganya murah
19

Variasi ukuran banyak sehingga dapat dipakai untul daya besar maupun kecil Tidak menimbulkan bahaya kebakaran Tidak terpengaruh temperatur tinggi karena adanya oli dan grease
Dipakai bila diperlukan transmisi positif dan kecepatan sampai 60 m/min

Kekurangan roller chain : Variasi kecepatan yang tidak dapat dihindari karena lintasan busur pada sproket yang mengait mata rantai Suara dan getaran karena tumbukan antara rantai dan dasar kaki gigi sproket
Perpanjangan rantai karena keausan pena dan bushing yang diakibatkan oleh gesekan

dengan sprocket Aspek desain roller chain : Bahan pena, bushing dan rol dipergunakan baja karbon atau baja khrom dengan pengerasan permukaan Pelumasan adalah hal yang sangat penting untuk desain roller chain Untuk horsepower tinggi dapat digunakan lebih dari satu lapis rantai (Multistrand) Umumnya rantai memiliki penutup dari logam untuk melindungi dari debu dan untuk memungkinkan pelumasan

Tipe pelumasan roller chain : Manual Lubrication : dioleskan secara periodik dengan kuas atau penyemprot sekurangnya sekali tiap 8 jam Drip Lubrication : Tetesan oli diteteskan secara kontinu ke sela-sela pelat penghubung Bath Lubrication : Tapi bawah dari lintasan rantai melewati suatu bak oli dalam rumah penggerak. Tingkat oli harus mencapai pitch line dari rantai pada titik terendah
Oil Stream Lubrication : Pelumasan diberikan dengan mensirkulasikan rantai dalam aliran

oli yang kontinyu Perumusan/kalkulasi roller chain Pitch diameter : D = s i n ( D R = 2 p 1 8 0 n


o

)
20

D= pitch diameter (inch), R= jari-jari pitch (inch), p= pitch rantai (inch), n= jumlah gigi sproket Panjang Rantai :

z1+z 2 [( z 2 z1 ) / 6,28 ]2 Lp = + 2C p + 2 Cp

Lp = Panjang Rantai (Jumlah mata rantai) Z1 = Jumlah gigi sproket kecil Z2 = Jumlah gigi sproket besar

C = jarak sumbu poros dinyatakan dalam jumlah mata rantai Kecepatan rantai ( v ) :

p z1 n1 v = 1 0 0 0 6 0

P = Jarak pitch rantai (mm) Z1 = jumlah gigi sproket kecil N1 = putaran sproket kecil

Gambar 18. Contoh dari Roller Chain

2.2 Silent Chain Disebut silent chain karena suara dan getaran yang ditimbulkan bila dibandingkan dengan tipe-tipe rantai lainnya lebih kecil, tergantung dari kecepatan, beban, pelumasan, besar sproket dan perangkat tambahan. Hal ini disebabkan dari keunggulan dalam desain sambungan dan jalur dari silent chain itu sendiri. Desain jalurnya menyebabkan gigi sproket menderita lebih sedikit impact dan desain sambungannya yang menyebabkan rantai bekerja dengan gesekan yang minimum serta keausan yang sama saat pemakaian. Silent chain bertujuan untuk meneruskan daya dari sambungan sebelumnya yang didesain untuk mengangkut bahan-bahan material dan dioperasikan dengan getaran yang minimum.
21

Keuntungan : Tidak berisik Getaran kecil Tumbukan impact saat akan berputar kecil Tahan lama Tenaga yang diteruskan lebih besar Memiliki efisiensi yang tinggi Mudah dalam pemasangan

Keuntungan Silent Chain dibandingkan Roller Chain : Bisa beroperasi dalam kecepatan yang lebih tinggi dan kapasitas tenaga yang lebih besar Suara yang dihasilkan silent chain lebih halus Getaran yang dihasilkan lebih kecil Beban impact yang terjadi lebih kecil selama pemasangan sprocket Efisiensinya lebih tinggi mendekati 99% Umur sprocket lebih tahan lama

Hal yang diperhatikan saat mendesain Silent Chain : Tipe sumber power Diameter poros dan ukuran pasak Jarak pusat poros Tenaga yang akan diteruskan Kecepatan putaran poros

Bentuk Silent Chain : Glass Conveyor Chain, biasa digunakan untuk memindahkan dan menangani bendabenda yang terbuat dari kaca. Biasanya ditemukan pada industri kaca. Non glass conveyor , biasanya digunakan untuk memindahkan dan menangani benda-benda industri lain. Silent Chain digunakan sebagai power transmission pada motor-motor besar untuk mengurangi tingkat kebisingan suara yang dihasilkan.
22

Cara Perawatan Silent Chain : Pengawasan : Pengawasan dan pengaturan secara periodik sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan umur dan mengurangi biaya perawatan. Pensejajaran : Kelurusan sproket harus selalu dipelihara untuk performa putaran dan umur yang lebih optimum. Sproket juga harus diperhatikan apakah sudah terpasang/ terkunci dengan aman, jika posisi sproket bergeser selama pemasangan, maka kita harus kembali ke prosedur pensejajaran untuk penyesuaian lagi. Pengencangan dan Pemanjangan : Setelah beroperasi untuk waktu tertentu, pitch pada sproket akan mengalami peregangan/ pertambahan panjang yang akan berakibat dengan bertambah besarnya lingkaran pitch pada rantai. Solusi untuk permasalahan ini adalah dengan mengencangkan rantainya jika peregangan tidak terlalu besar untuk pereganga yang berlebihan dapat mengakibatkan rusaknya sproket atau pun slip antara sproket dan rantai. Untuk itu, rantainya harus diganti untuk menghindari kerusakan yang lebih fatal. Perumusan / kalkulasi silent chain :

Gambar 19. Contoh dari Silent Chain

3. Tali
Drive tali yang banyak digunakan di mana sejumlah besar daya untuk ditransmisikan, dari satu katrol ke yang lain, lebih dari jarak yang cukup jauh. Dapat dicatat bahwa penggunaan sabuk datar terbatas untuk transmisi daya moderat dari satu ke yang lain katrol ketika dua
23

katrol tidak lebih dari 8 meter jauhnya. Jika jumlah besar kekuasaan harus ditransmisikan, oleh sabuk datar, maka akan menghasilkan sabuk berlebihan cross-section. Drive tali menggunakan dua jenis tali berikut: 1. Fibre Rope 2. Wire Rope

Fibre rope beroperasi dengan sukses ketika katrol berada sekitar 60 meter jauhnya, sementara wire rope yang digunakan ketika katrol adalah hingga 150 meter jauhnya.

3.1 Fibre Ropes Biasanya terbuat dari bahan berserat seperti rami, manila dan kapas. Karena serat manila dan rami kasar, maka tali yang dibuat dari serat ini tidak sangat fleksibel dan memiliki sifat mekanik rendah. Tali rami memiliki kekuatan lebih dibandingkan dengan tali manila. Ketika rami dan tali manila yang membungkuk memberkas, ada beberapa geser dari serat, menyebabkan tali memakai dan radang internal. Untuk meminimalkan kerusakan ini, tali serat dioleskan dengan tar, lemak atau grafit. pelumasan juga menmbuktikan kelembaban tali. Tali rami hanya cocok untuk mengangkat tangan mesin dioperasikan dan sebagai tali dasi untuk mengangkat katrol, kait dll. Tali katun sangat lembut dan halus. Pelumasan tali kapas tidak diperlukan. Tetapi jika hal itu dilakukan, itu mengurangi memakai eksternal antara tali dan alur dari berkas gandum tersebut. Ini perlu dicatat bahwa tali manila lebih tahan lama dan lebih kuat daripada tali kapas. Tali kapas lebih mahal dari tali manila. Tali serat memiliki keuntungan sebagai berikut: 1. halus dan stabil 2. sedikit dipengaruhi oleh kondisi pintu keluar. 3. Batang mungkin tidak sejajar ketat. 4. memberikan efisiensi mekanik tinggi.

24

Gambar 20. Fibre Rope

3.2 Wire Rope Ketika sejumlah besar daya yang akan ditransmisikan pada jarak yang jauh dari satu katrol yang lain (misalnya saat katrol yang jauhnya sampai 150 meter terpisah), tali kawat digunakan. Tali kawat banyak digunakan dalam lift, tambang kerekan, derek, konveyor, pengangkutan perangkat dan jembatan suspensi. Tali kawat berjalan di puli beralur namun tali terserbut diam di bawah alur dan tidak terjepit di antara sisi alur. Tali kawat terbuat dari kawat ditarik dingin untuk mengalami peningkatan dalam kekuatan dan ketahanan. Dapat dicatat bahwa kekuatan tali kawat meningkat sebagai ukurannya menurun. Variasi bahan yang digunakan untuk tali kawat dalam rangka meningkatkan kekuatan adalah tempa besi, baja tuang, baja tuang ekstra kuat, bajak baja dan baja paduan. Untuk tujuan tertentu, tali kawat mungkin juga terbuat dari tembaga, perunggu, paduan aluminium dan baja tahan karat. Tali kawat memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan tali serat (fibre rope) : 1. Lebih ringan 4. Lebih tahan lama 2. Dapat menahan beban getaran 5. Memiliki efisiensi yang tinggi 3. Lebih dapat diandalkan 6. Biaya rendah

Tabel 6. Tingkatan dan kekuatan tarik dari kabel

Gambar 21. Wire Rope

Klasifikasi dari Wire Rope : 1. Cross or regular lay ropes , dalam jenis tali ini, arah puntir kawat di untai berlawanan dengan arah memutar dari berdiri. Tipe tali yang seperti inilah yang paling terkenal. 2. Parallel or lang lay ropes, dalam jenis tali ini, arah puntir kabel dalam alur sama dengan alur pada tali tersebut. Tali ini mempunyai permukaan bantalan yang lebih baik tetapi lebih
25

sulit untuk menyambung dan meyimpul lebih mudah ketika dipakai. Tali ini lebih fleksibel dan menahan pemakaian lebih efektif. Sejak tali tersebut memiliki kecenderungan untuk memutar, karenanya digunakan dalam lift dan kerekan dengan cara membimbing dan juga sebagai tali pengangkutan. 3. Composite or reverse laid ropes, dalam jenis tali ini, kabel pada dua untaian yang berdekatan berputar pada arah yang berlawanan. Catatan: Arah letak tali dapat tangan kanan atau tangan kiri, tergantung apakah bentuk alur tangan kanan atau kiri helixes tangan, tetapi tangan kanan berbaring tali yang paling sering digunakan.

Gambar 22. Klasifikasi dari Wire Rope berdasarkan simpul dari tiap tali Tabel 7. Standar penunjukkan dan aplikasinya

Tabel 8. Tali kawat baja untuk tujuan pengangkutan tambang

Tabel 9. Suspensi tali kawat baja untuk pengangkat, elevator, dan kerekan

26

Tabel 10. Tali kawat baja yang digunakan dalam sumur minyak dan

pengeboran sumur minyak

Tabel 11. Tali kawat baja untuk keperluan teknik seperti derek, penggali, dll

Tabel 12. Diameter kawat dan luas tali kawat

27

Tabel 13. Faktor keamanan untuk tali kawat

Tabel 14. Diameter cakra katrol (D) untuk tali kawat

28

Gambar 23. Jenis pengencang tali kawat Tabel 15. Efisiensi pengencang tali

DAFTAR PUSTAKA
http://awan05.blogspot.com/2009/12/bantalan-bearing.html http://irdam86.wordpress.com/2009/10/19/bantalan02/ http://educationmachine.blogspot.com/2010/01/sabuk-dan-tali.html http://elemenmesin.blogspot.com/2008/03/bantalan-bearing.html http://www.zonateknik.co.cc/2010/01/bantalan-luncur.html http://okasatria.blogspot.com/2007/10/elemen-mesin-bantalan-bearings.html http://wijangprabowo.wordpress.com/2009/01/09/silent-chain/ http://wijangprabowo.wordpress.com/2009/01/09/roller-chain/ http://ilmumesin.blog.ugm.ac.id/2009/10/13/tentang-bantalan-atau-bearing/ http://gustafparlindungan.blogspot.com/2009/12/struktur-unit-bearing.html http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/13/59176/Tujuh-Elemen-Pentingdalam-Mesin

29