Anda di halaman 1dari 11

MATERI 2 EKSTRAKSI BENIH

I. PENDAHULUAN
Dalam seed processing terdapat beberapa tahapan yang perlu dilakukan agar
diperoleh benih yang bersih. Murni, dan memiliki kualitas yang baik. Beberapa tahapan
dalam seed processing tersebut antara lain ekstraksi. Dimana diperlukan untuk tujuan
memisahkan benih dari bagian lain yang tidak dibutuhkan. Terdapat 2 macam tipe buah yang
ada di alam, mulai dari buah yang basah (banyak mengandung air) dan buah yang kering
(sedikit kandungan air). Dengan perbedaan tersebut terdapat proses ekstraksi yang berbeda
pula.
Dengan adanya perbedaan tersebut maka dalam praktikum akan dibahas lebih lanjut
bagaimana melakukan ekstraksi benih berdasarkan perbedaan kandungan air pada buah,
sehingga praktikan dapat lebih memahami tujuan praktikum ini.
A. Ekstraksi
Proses ekstraksi benih merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memisahkan benih
dari buah atau bagian lain yang tidak dibutuhkan. Dikenal dua macam ekstraksi benih
yaitu:
1. Ekstraksi kering yaitu ekstraksi yang dilakukan pada biji yang memiliki daging buah
yang basah. Contoh: mentimun, melon, dll
2. Ekstraksi basah, ekstraksi yang dilakukan pada biji yang memiliki daging buah yang
kering (kadar air rendah), contoh: cabai
Faktor-faktor yang mempengaruhi ekstraksi:
1. Aliran udara
2. Kondisi benih yang akan dikeringkan
3. temperatur
B. Pengeringan
Pengeringan benih bertujuan untuk menurunkan kadar air benih samapai pada tingkat
yang sesuai agar memiliki daya simpan yang lebih lama. tingkat kadar air untuk tiap
jenis berbeda-beda. Setiap penurunan 1% kadar air benih dapat meningkatkan masa
simpan benih 2 kali lipat tanpa berpengaruh nyata terhadap daya kecambah.

1. Tujuan pengeringan benih:


a. Menghindarkan benih dari serangan penyakit selama penyimpanan.
b. Menghindarkan benih dari kerusakan mekanis (terutama saat kadar air masih
tinggi).
c. Mencegah terjadinya penggumpalan selama penyimpanan.
2. Metode pengeringan benih:
a. Secara alami: dijemur matahari, dikeringanginkan
b. Secara buatan: oven pengering
C. Benih dikelompokkan dalam benih ortodoks dan benih rekalsitran
1. Benih ortodoks adalah benih yang relatif toleran terhadap pengeringan benih. Dapat
disimpan lama pada kadar air rendah (4 - 8%) dengan temperatur rendah (4 - 18 C)
dan RH 40 - 50 %. Contoh: jarak, jambu, asam
2. Benih rekalsitran adalah benih yang peka terhadap pengeringan. Tidak dapat disimpan
lama (1 - 4 minggu) pada kadar air 20 - 50% dan kondisi temperatur dan kelembaban
yang sedang (18 - 20 C; RH 50 - 60%). Contoh: kelapa, kemiri, kapuk

II.TUJUAN PRAKTIKUM
1. Untuk memahami dan mengerti fungsi ekstraksi benih
2. Mengetahui macam ekstraksi benih berdasarkan bentuk buah
3. Dapat melakukan macam-macam proses ekstraksi benih

III. BAHAN DAN METODE

A. Alat
1. Pisau
2. Cawan petri
3. Timbangan analitik
4. Saringan
5. Kantong plastic
6. Kertas
7. Gelas ukur
B. Bahan
1. Buah basah
2. Buah Kering
3. Air aquades
4. HCL (5%) atau KNO3

C. Metode:
1. Ekstraksi kering
Buah (2x ulangan)
Kupas, ambil benih
Cuci
Tiriskan
Timbang berat basah

Kering anginkan 7 hari

Timbang berat kering

Hasil

2. Ekstraksi Basah
a. Kimia
Buah (2x ulangan)

b. Fermentasi
Buah (2x ulangan)

Kupas, ambil biji

kupas, ambil biji

Cuci

cuci

Tiriskan

tiriskan

Timbang berat basah

timbang berat basah


Air 100 ml

Rendam HCL 5%/ KNO3

masukkan kantong plastik

Cuci
Keringkan 3 hari

fermentasi 7 hari
cuci

Timbang berat kering

kering anginkan 3 hari

Hasil

timbang berat kering

Hasil

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL
1. Rumus perhitungan kadar air:

BB

2. Tabel hasil pengamatan:


Ulangan
1

pengamatan
bobot basah
bobot kering

bobot basah
bobot kering

B. DOKUMENTASI

ekstraksi basah
kimia
fermentasi

ekstraksi kering

KA (%)

C. PEMBAHASAN

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.


.
.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.

.
.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.
.

.
.

V. PENUTUP

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

DAFTAR PUSTAKA

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

.
.

.
.
.

...