Anda di halaman 1dari 19

BAB VI Tuj uan : Setelah memp elajari materi pelajaran pada bab VI, diharap kan ma hasis wa dapat

: 1. Menjelaskan arti dari kelu rusan, kesikua n, kepara lelan dan kedataran. 2. Menyebutkan beb erapa alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kel urusan, kesikua n, keparal elan dan kedat aran. 3. Melakuk an pengukur an kelurusan, kesikua n, keparalelan dan kedat aran deng an alat dan cara yang tepat dan benar. 4. Menganalisis hasil-h asil penguk uran kelurusan, kesikuan, keparalelan dan kedatar an.

BAB VI PENGUKURAN KELURUSAN, KESIKUAN, KEPARALELLAN DAN KEDATARAN Pada pembah asan sebelumnyatelah dibicarakan mengen ai penguk uran dimensi panjang (jarak) dan dimensi sudut dari suatu bend a. Salah satu karakteristik geometris dari suatu kompo nen adal ah menyangkut bentuk. Beberapa istilah yang ada kaitan nya dengan bentuk dari suatu kompo nen antara lain adalah kel urusan, kesi kuan, keparal ellan, kedataran dan kebu latan. Pengukur an atau pemeriksaan kelurusan, kesikuan, keparal ellan, kedat aran dan kebulatan bany ak dijumpai dalam praktek-praktek pengujian geometris mesin produ ksi. Akan tetapi, dalam bab ini pembaha sannya tidak han ya dibatasi pada pe ngujian geome tris mesin saja mela inkan dibahas juga pada pemerik saan kel urusan, kesi kuan, keparal ellan, keda taran dari suatu produk yang dihasilkan dari mesinmesin produksi. Beberapa alat ukur yang bisa digu nakan untuk memeriksa kel urusan, kesi kuan, keparal ellan, keda taran antara lain adalah mistar baja, penyiku, jam ukur (dial indicator), penyipat datar (spirit level/water pass), dan auto kolimat or. A. Pemeriksa an Keluru san (Straigh tnes s) Suatu permu kaan benda dikatakan lurus bila bidang permuka an tersebut b erbentuk garis lurus seand ainya digambarkan dalam ben tuk garis. Artinya demikia n, suatu benda yang diperiksa kelurusan permukaannya dalam panjang terten tu, ternyata dalam pemeriksaan nya tidak ditemukan ada nya penyimpangan bentuk ke arah horizontal atau vertik al yang berarti, maka dikata kan p ermu kaan benda tersebut adalah lurus. Dan kalau digambarkan secara grafis maka akan dipero leh ben tuk garis lurus. Kelurusan dari permukaan suatu komponen sangat penting perannya dalam permesi nan. Meja-meja mesin bubut, mesin skrap, mesin frais dan mesin gerinda, bekerja nya meme rlukan tingkat kelurusan yang sang at teliti. Ketrampilan untuk me mbuat permukaan benda kerja betul-betul lurus juga sangat diperluk an, termasuk di dalamn ya cara memeriksa kelurusan itu sendiri. Dalam pemeriksaan kelurusan ini akan dibicarakan beb erapa contoh pemeriksaan kelu rusan benda kerja dan pemerik saan kelurusan meja mesin produksi. Beberapa peralatan ukur

yang bisa digun akan antara lain adal ah mistar baja (steel rule), jam ukur dan autokolima tor. 1. Pemeriksa an Keluru san den gan Mist ar Baja Pemerik saan kel urusan dengan menggun akan mistar baja pada dasarnya tidak untuk mencari berapa besarnya ketidakl urusan suatu permukaan benda, mela inkan hanya untuk melihat apakah permukaan benda tersebut mempun yai penyimpangan pada dimensi kelurusannya atau tidak. Oleh karena itu, dalam pemeriksaannya tidak diperhatikan skala ukurnya. Sebagai contoh, misalnya akan memeriksa kelurusan benda kerja yang berbentuk balok seperti tampak pada Gambar 6.1. dibawah ini.

Gambar 6.1 Memeriksa kelu rusan permukaan dengan mistar baja. Dengan meletakkan mistar baja sedemiki an rupa di atas permukaan bidang ukur maka dapat dilihat apakah muka ukur balok ters ebut ma suk dalam kategori lurus atau tidak. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan pada arah memanjang, melebar dan arah diag onal. Kesimp ulan yang diambil adalah: bila terlihat adanya celah antara muka ukur dan mistar baja maka dikatakan bahwa permukaan bidang ukur kelurusannya tidak baik. Pemerik saan kelurusan yang sederhana ini banyak dilakukan pada pekerjaan mengikir rata permukaa n. 2. Pemeriksa an Keluru san den gan Jam Ukur (Dial Indicator) Dengan m enggunakan jam ukur maka bisa diketahui besarnya penyimpan gan dari kel urusan suatu permuka an benda ukur. Karena setiap perubahan jarak yang dialami oleh sensor jam ukur akan ditunjukkan oleh jarum penunjuk jam ukur tersebut. Pemeriksaan kel urusan dengan jam ukur ini bisa digunakan untuk melihat kelurusan dalam arah horizontal (penyi mpangan ke kiri atau ke kana n) dan kel urusan dalam arah vertikal (penyim pangan ke atas atau ke baw ah). Agar pemeriks aan memberikan hasil yang teliti maka pelaksanaannya harus dilakukan di atas meja rata (surface table). Antara benda ukur dengan land asan jam ukur harus diberi pelat lurus (strai ght edg e) atau yang sejenis agar gerakan dari jam ukur tetap stabil sehingga tidak me rubah posisi penekanan sensor terhadap muka ukur. Pada waktu

mele takkan sensor pada muka ukur sebaiknya jarum penu njuk menunjukkan skala pada posisi nol. Seandain ya muka ukurnya relatif panjang maka sebaiknya panjang muka ukur tersebut dibagi dalam beb erapa bagi an yang besarnya jarak tiap-tiap bagian tergantung pada pertimb angan si penguk ur sendiri. Antara bagi an satu dengan yang lain diberi tanda titik atau garis pendek/s trip. Pada masi ng-masi ng titik inilah nanti nya dapat digamb arkan besarnya penyimpangan dari kelurusan muka ukur. Deng an demikian dap at diketahui bagian-bagian mana dari muka ukur yang tidak lurus. Sebagai contoh dapat dilihat Gambar 6.2a. dan 6.2b. berikut ini.

Gambar 6.2a Memeriksa kelurusan untuk arah penyimpa ngan hori-

sonta l.

Gambar 6.2b Memeriksa kelurusan untuk arah vertikal.

Dalam mengg ambarkan besarnya penyimpa ngan ke lurusan dalam bentuk grafik biasa dibut uhkan tanda minus (-) untuk penyim pangan neg atif dan tanda plus (+) untuk penyi mpangan positif. Untuk menentuk an mana penyim pangan yang bertanda minus dan penyimpan gan yang bertanda plus tergantu ng pada si peng ukurnya sendiri. Biasanya yang banyak dilakukan oleh orang adalah bahwa kalau penyimpan gan ke arah atas atau ke kanan maka penyi mpangan diberi tanda plus (+) dan sebaliknya bila terjadi penyimpangan ke arah bawah atau ke kiri maka penyimpan gann ya diberi tanda minus (-). Penyimpangan dengan tan da positif atau negat if bukan berarti bertanda positif (+) lebih baik dari pada yang bertanda negat if (-). Baik penyimpan gan itu bertanda positif atau negat if, pengambil an keputus an didasarkan pada harga-ha rga batas yang diijinkan. Apabila hasil pemerik saan ternyata me lampaui harga-harga batas yang diijinkan maka dikatakan bahwa tingkat kelurusan dari muka ukur benda ukur adalah tidak baik atau rendah, tanpa memperhatikan apakah penyimpanga nnya

ke arah yang bertanda plus (positif) atau ke arah yang bertanda minus (negatif). Secara grafis dapat dilihat sebuah contoh hasil pemeriksaan kel urusan yang sudah dinyata kan dalam bentuk garis, Gambar 6.3.

Gambar 6.3. Grafik hasil pemeriksaan kel urusan permukaan benda ukur dengan menggunak an jam ukur. Dari Gambar 6.3, panjang muka ukur diambil misalnya 150 milimeter yang dibagi me njadi 15 bagi an yang sama dengan panj ang masin g-masing bagian 10 milimeter. Dengan demikian ada 15 titik pemerik saan yang pada tiap-tiap itulah dicantumk an harga penguk urannya. Dari harga-ha rga ini lalu dapat dibuat semacam grafik seperti tampak pada Gambar 6.3. tersebut. Dengan cara di atas nampaknya hanya cocok untuk pemeriks aan sisi muka ukur yang relatif sempit tanpa arahn ya mema njang (bagian sisi tebal benda ukur). Seanda inya muka ukur cukup lebar pada arahn ya mema njang nya maka pemeriksaan kelurusan dap at dilakukan beberapa kali pada posisi yang berbed a-beda menurut pertimban gan yang lebih mengunt ungkan dalam proses pengukur an. Jadi, pemeriksaannya tidak hanya pada satu garis, mel ainkan bisa lebih dari satu garis. Pemerik saan kel urusan dengan jam ukur tidak saja bisa dilakukan terhadap benda berbe ntuk balok, tetapi juga bisa digunakan untuk memeriksa kelurusan poros. Gambar 6.4. menu njukkan salah satu contoh pemeriksaan kel urusan poros. Analisis hasil pemeriksa annya bisa dilakukan seperti yang sudah dibicarakan di atas (Gambar 6.3).

Gambar 6.4. Pemeriksaan kelurusan poros dengan men ggun akan jam 3. Pemeriksa an Keluru san den gan Aut okolimator Pemerik saan kel urusan dengan auto kolimat or kebany akan digunakan untuk memeriksa kelurusan meja-me ja mesin produksi, baik dalam arah memanjang (horizontal) maupun dalam arah tegak lurus (vertikal). Salah satu contoh misalnya pemeriks aan kel urusan meja mesin bubut (kelurusan lathe-bed guide ways) yaitu tempat bergerak/berjalannya pembawa pahat potong (carriag e). Gerakan pahat potong dari mesin bubut sepanj ang mejanya h arus betul-betul lurus (seolah-olah berada dalam satu garis lurus). Karena, sedikit saja ada penyimpan gan dari garis lurus akan mengakibatk an perub ahan ben tuk dan ukuran dari benda kerja yang diproduksi melalui mesin bubut. Oleh kar ena itu, tingkat kelurusan meja mesin bubut (lathe-bed guide way s) perlu diperiksa untuk menentuk an apakah tingkat kel urusan nya masih dalam batas-ba tas h arga yang diijinkan menur ut stan dar yang berlaku sehingga mesin bubut masih boleh digu nakan untuk mempr oduksi suatu komponen. Sebagai ilustrasi dari cara pemeriksaan kelurusan meja mes in bubut dapat dilihat Gambar 6.5. Sebelum dilakukan pemeriksaan maka sebaikn ya dipa sang sebuah pelat lurus atau yang sejenis (straight edg e) di atas meja mesin bubut dengan posisi sedemikian rupa denagn maksud untuk mend apatk an tempat cermin pant ul (reflektor) selalu berada pada posisi garis lurus. Karena seperti diketahui, pengukur an dengan autokolimator harus dibantuk dengan sebuah cermin pantul (reflektor) yang harus dipindah-pindahkan posisin ya pada sepanjang muka ukur.

Gambar 6.5. Pemeriksaan kelurusan meja mesin bubut (lathe-bed guide ways) dengan menggun akan autolimator. Apabila arah pemindahan ini tidak pada satu garis lurus maka hasil penguk urannya sudah tentu bany ak peny impangan, khususnya penyimpan gan dari kel urusan. Landasan dari cermin pantul biasanya mempunyai panj ang tertentu yang besarnya panjang ini digunakan sebagai dasar untuk perhitungan hasil peng ukuran. Biasanya landasan tersebut mempun yai panjang 103.5 mm. Hal ini berarti jarak selang pemindahan cermin pantul juga 103.5 mm.

1 menit dari arc sudut =

2 radian, sehing ga untuk panjang 360x60 2 103.5 mm = 360x60

landasan 103.5 mm maka 1 me nitnya kira-kira =

0.03 mm. Deng an kata lain adalah setiap perub ahan kemir ingan 1 menit dari cermin pantul berarti terja di penyimpan gan dari kel urusan (naik turunnya permukaan meja mesin bubut) sebesar 0.03 mm. Jadi, setiap harga yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk mikrome ter dari autokolimator harus dikalikan dengan 0.03 mm untuk menentu kan besarnya har ga penyimpanga n. Seperti halnya pada pemeriksaan dengan jam ukur, setiap titik ujung dari landa san cermin pant ul yang terletak di atas meja harus diberi tanda agar pemindahan cermin pantul terseb ut ditunjukkan oleh A B, B C, C D, D E, dan seteru snya sampai pan jang muka ukur selesai diperik sa. Deng an mencatat setiap harga yang ditunjukkan oleh mikromet er pada setiap kali perpindahan cermin pantul maka dapat dibuat tabu lasi data hasil pengukuran seperti tampak pada Tabel 20. Tabel 20. Tabulasi hasil pemeriksaan kelurusan dengan autokolimator. 1
Posi si

2
Pembacaan Mnt. dt

3
Selisih dari pembacaan pertama

7
Penyimpan gan terhadap garis lurus

Penyimpang Koreksi nol Penyimpang an dalam kedua an kumulatif 0.001 mm ujung

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

20 20 22 25 27 28 27 25 23 9 22 24 26

0 dt 0 + 2 + 5 + 7 + 8 + 7 + 5 + 3 - 1 + 2 + 4 + 6

0 0 + 1.0 + 2.5 + 3.5 + 4.0 + 3.5 + 2.5 + 1.5 - 0.5 + 1.0 + 2.0 + 3.0

+ + + + + + + + + + +

0 0 1.0 3.5 7.0 11.0 14.5 17.0 18.5 18.0 19.0 21.0 24.0

0 - 2.0 - 4.0 - 6.0 - 8.0 - 10.0 - 12.0 - 14.0 - 16.0 - 18.0 - 20.0 - 22.0 - 24.0

+ + + +

0 2.0 3.0 2.5 1.0 1.0 2.0 3.0 2.5 +0 - 1.0 - 1.0 0

Pada kolom 1, menunjukkan posisi pemeriks aan yaitu sebanyak 12 kali perpindahan cermin datar, Ini berarti panjang muka adalah 12 x 103.5 mm= 1232 mm, atau kira-kira 1 meter. Kolom 2 menunjuk kan hasil pembacaan mikromet er autokolim ator dalam menit dan detik. Kolom 3 me nunjukkan perbedaan harga tiap pemeriksaan dengan harga pemerik saan pert ama. Kolom 4 menu njukkan perbedaan naik turunnya didapat dari perkalian harga kolom 3 deng an 0.0005 mm. Angka 0.0005 1 mm diperoleh dari: 1 menit= 0.03 mm, berarti 1 detik= x 0.03 mm= 60 0.0005 mm. Kolom 5 menunjuk kan harga naik turunnya muka ukur sec ara kumulatif. Jumlah total harga naik turum sec ara kumulatif adalah 24 mm. Berarti, untuk 12 kali pemeriksaan maka proporsi tiap 24 pemerik saan mempun yai perbedaan (increm ent) kenaik an sebes ar = 12 2 mm. Kolom 7 menunjuk kan harga penyimpangan terhadap garis lurus yang besarnya dida pat dari hasil pengurang an antara harga-harga pada kolom 5 dengan harga-harga pada kolom 6. Selanjutnya dengan melihat harga-ha rga pada kolom 5, 6, dan 7 maka dapat dibuat suatu grafik penyimpangan terhadap kelur usan secara kumulatif. Pada grafik penyimpangan secara kumulatif terlihat sebuah garis lurus yang ditarik dari kedua ujung peme riksa an. Garis lurus ini menunjukkan garis bidang ukur dari meja mesin bubut yang diperiksa kel urusannya. Lihat gam bar 6.6.

Gambar 6.6, Grafik penyim pangan kumulatif dan penyimpan gan sesungguhn ya dari pemerik saan kelurusan meja mesin bubut dengan me nggunak an autokolima tor.

B. Pemeriksa an Kes ikuan Kesikuan mer upakan salah satu bagi an dimensi bentuk dari suatu komponen yang sangat penting artinya terutama sek ali bagi kompo nenkom ponen suatu mesin produksi. Misalnya kete gak luru san antara meja mesin dengan spindle utama untuk mes in-me sin frais tegak (vertical milling mac hine) dan mesin-mesin tusuk (slotting mac hine) serta mesin bor (drilling mac hine). Ketegak lu rusan (kesik uan) yang lain misalnya kesikuan antara meja mesin dengan sisi tegak dari batang tempat lewatnya meja mesin (column guides) untuk mesin frais, mesin skr ap, mesin bor dan mesin gerinda permu kaan. Tingkat kesik uan dari mesin ini sang at mempengaruhi tingkat kesikuan dari benda-benda yang diproduksi melalui mesin-mesin t ersebut di atas. Oleh karena itu, pemerik saan terhadap kesikuan perlu diket ahui baik oleh teknisi laboratorium pengukuran maupun operator bengkel mesin. Pemerik saan terhadap kesi kuan bisa dilakukan dengan bermac ammac am cara. Cara yang paling adalah dengan penyiku. Cara yang lebih teliti lagi adalah dengan menggunak an blok ukur, jam ukur dan autokolimator. 1. Pemeriksa an Kesikuan deng an Penyiku Pemerik saan kesikuan dengan meng gunakan penyiku tidak untuk me ngeta hui b esarnya ketidaksikuan suatu kompo nen, melainkan hanya untuk menge tahui apakah kesi kuan dari suatu kom ponen sudah betulbetul siku menurut alat ukur kesikuan yang digunakan, dalam hal ini adalah penyiku (square). Ada dua macm penyiku yang bisa digunakan yaitu penyiku biasa (square) dan penyiku kombinasi (combination square). Gambar kedua alat ukur siku tersebut dapat dilihat pada Gam bar 6.7.

Penyiku biasa Gambar 6.7. Penyiku

Penyiku kombinasi

Pemerik saan kesikuan dengan penyiku ini kebanyakan dilakukan pada pemeriksaan benda ukur yang berbentuk balok atau persegi

panjang yang dihasilkan dari proses pengerja an mesin produksi maup un hasil kerja bangku. Sebelum me lakukan pemeriksaan sebaiknya muka ukur harus dibersihk an dulu agar tidak terja di kekeliruan dalam penguk urannya. Kesimpulan yang bisa diambil dari pemeriksaan kesikuan dengan penyiku ini adalah: bila terdapat celah antara muka ukur dengan muka penyiku maka dikatak an benda ukur tidak mem punyai kesikuan yang baik. Seb aliknya, tidak terlihat adanya celah berarti benda ukur memiliki kesikuan yang baik. Sebagai contoh dapat dilihat Gambar 6.8 dan Gambar 6.9. Gambar 6.8 menu njukkan cara mel etakkan penyiku yang baik pada permukaan benda ukur. Gambar 6.9a dan 6.9b menun jukkan contoh dari kesi kuan benda ukur yang tidak baik dan kesi kuan benda ukur yang tepat (baik). Jadi, berapa derajat besarnya ketidaksiku an dari benda ukur tersebut tidak diket ahui. Akan tetapi, dengan cara seperti diatas dapat diketa hui kesikuan dari benda ukur yang tepat dan mana kesikuan yang tidak tepat, seperti yang ditunjukkan oleh gambar 6.9a dan gambar 6.9b. Sedang kan untuk pemeriksaan kesikuan dengan penyiku kombin asi caranya sama saja dengan penyiku biasa.

Gambar 6.8 Cara meletakkan penyiku pada muka ukur dalam memeriksa kesikuan.

Gambar 6.9a. Benda ukur tidak siku Gambar 6.9b. Benda ukur memiliki kesikuan yang baik.

2. Pemeriksa an Kesikuan deng an Blok Ukur Blok ukur mer upakan alat ukur stan dar yang presisi yang mempunyai kesiku an dan keparalellan yang sangat baik. Dengan bantuan blok ukur ini kita dapat m engec ek kesikuan dari benda ukur. Secara sederhana, cara pemeriksaan kesiku an benda ukur dengan me nggunak an blok ukur dap at dilihat pada Gambar 6.10. Dari Gambar 6.10 tersebut dap at dijel askan sebagai berikut. Benda ukur diletakkan di atas meja rata (sur face table) karena pelaksanaan penguk urannya harus di atas meja rata. Ambil pelat paralel (parallel strip) dan pelat sudut (angle plate), kemudian pelat paralel kita pasangkan pada pelat sudut dengan menggunak an pengu nci (klem) sehingga posisi dari pelat parallel berhadapan dengan muka ukur benda ukur. Antara pelat parallel ukurannya sehing ga terdapat titik kontak antara blok ukur dengan muka ukur benda ukur.

Gambar 6.10. Pemerik saan kesikuan den gan menggunakan blok ukur. Posisi benda ukur diputar 180 sehingga blok ukur A berada pada posisi sebelah atas dan blok ukur B1 pada bagian bawah dari benda ukur. Sebagai dasar perhitungan kemir ingan atau ketidak sikuan nya adalah besarnya ukuran blok ukur B dan B1 untuk jarak ukur yang tetap yaitu L. Jadi, besarnya kemir ingan dari benda ukur tersebut adalah 1 : B B1 / L 2 3. Pemeriksa an Kesikuan deng an Jam Ukur Pemerik saan kesikuan dengan jam ukur me nitik berat kan pada perubahan skala ukur yang ditunjukkan oleh jarum penunjuknya. Gambar 6.11 menunjuk kan salah satu cara memeriksa kesikuan benda ukur dengan jam ukur. Posisi benda ukur dan jam ukur diletakkan sedemikian rupa sehingga mem udahkan untuk melakukan peng ukuran. Antara landasan jam ukur dengan muka ukur diberi rol atau bola baja untuk me ndapat kan jarak ukur yang tetap pada waktu benda ukur diputar 180.

Sebelum benda ukur diputar, sebaiknya posisi jarum penunjuk jam ukur berada pada posisi nol guna me muda hkan pembacaan selanj utnya. Setelah benda ukur diputar 180 maka dap at dilihat perubahan harga yang ditunjukkan oleh jarum. Misalnya pembac aan skala ukur jam ukur sebelum benda ukur diputar adal ah X1 yang sama dengan nol. Setel ah diputar skala ukur menun jukkan harga X2. Untuk panjang pemeriksaan 1 yang tetap yaitu L, maka kemir ingan benda ukur adalah : X1 X2 / L 2

Gambar 6.11. Pemerik saan kesikuan den gan jam ukur. 4. Pemeriksa an Kesikuan deng an Si linder Siku dan Jam Ukur Pemerik saan kesikuan di sini hanyalah membandingkan kesi kuan dari benda ukur dengan silinder siku sebag ai mast er siku dan diba ntu dengan jam ukur. Secara seder hana pemeriksaan kesikuan dengan perbandi ngan silinder siku dapat dilihat pada Gambar 6.12. berikut ini.

Gambar 6.12 Pemeriksaan kesi kuan dengan silinder siku dan jam ukur. Semua peralatan ukur dan benda ukur diletakkan di atas meja rata. Jam ukur diletakkan sedemiki an rupa terhadap silinder siku dengan perantara sebuah rol atau bola baja. Posisi jarum penunjuk sebaikn ya pada posisi nol. Kemudian silinder siku dipindahkan dan digantikan dengan benda ukur. Dilihat perubahan yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk jam ukur, misalnya menun jukkan harga X. Berarti selisih

pembaca an jam ukur pada waktu sensor menyentuh silinder siku dengan sensor menyen tuh muka ukur benda ukur adalah : (X 0) = X mm. Untuk X . panjang pemeriksaan sejauh L, maka kemir ingan benda ukur adalah L 5. Pemeriksa an Kesikuan deng an Aut okolimator Pemerik saan kesikuan di sini adal ah berdasarkan prinsip optis. Secara sederhan a, cara pemeriksaan kesikuan dengan autokolima tor ini dap at dilihat pada Gambar 6.13. Pada gambar ini hanya ditunjukkan contoh pemeriksaan alat ukur siku (penyiku).

Gambar 6.13.Pemeriksaan kesi kuan dengan autokolimat or terhadap penyiku (square). Pelak sanaan pemeriksaan dilakukan di atas meja rata. Pada posisi pertama dicatat pembacaan yang ditunjukkan oleh mikrom eter autokolimator. Pada posisi penyiku yang kedu a, yaitu penyiku berada di sebelah kanan, bata ng yang dilengkapi dengan cermin pantul (reflektor) didekatkan/di kontakkan terhadap sisi dari penyiku. Pada posisi kedua ini dicatat lagi pembac aan yang ditunjukkan oleh mikromet er autokolimat or. Misalnya pembacaan pada posisi pert ama adalah X1 dan pembac aan pada posisi kedua adal ah X2, maka penyimpa ngan kesikuan penyiku 1 tersebut : x X1 X2 . 2

6. Pemeriksa an Kesikuan Meja Mes in Produ ksi terh adap Su mbu Utama (Spindl e) dengan menggun akan Jam Ukur Sebagai contoh adalah pemeriksaan kesiku an posisi sumbu putar dengan meja pada mesin bor. Jam ukur yang digunakan harus diten tukan dulu jarak radius yang bisa dij angk aunya sesuai dengan panjang bidang ukur. Dengan peralatan bantu, jam ukur dipasangkan pada sumbu putar (spindle) sedemiki an rupa sehingga posisin ya mem udahkan untuk melak ukan pengukuran, seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 6.14.

Gambar 6.14. Memeriksa kesikuan poros putar (spindle) terhadap me ja dari mesin bor. Posisi pertama, jarum penu njuk jam ukur sebaiknya menunjuk kan posisi nol. Jam ukur kemudi an diputar dengan perlahan-lahan sampai 360. Akan tetapi, setiap menem puh perputaran sebes ar 90 sebaikn ya dicatat perubahan ukuran yang terjadi. Dengan demikian ada empat posisi yang dapat diket ahui kemir ingan (ketidak sikuan) nya antara kedua bidang ukur tersebut. Dengan cara ini maka dapat di tentukan apakah mesin bor masih bisa digu nakan untuk mem buat lubang yang tegak lurus bidang datar atau tidak. Masih banyak posisi kesikuan dari elemenelemen mesin produksi yang bisa diperiksa dengan cara seperti di atas. 7. Pemeriksa an Kesikuan Meja deng an Sisi Tegak dari Mesin (Colu mn) dengan Mengguna kan Autokol imator Salah satu contoh yang dikemukakan di sini adalah pemeriksaan kesikuan meja deng an sisi tegak (column) dai mesin frais. Peral atan yang diperlukan adalah auto kolimat or dengan cermin pant ul (reflektor) dan cermin segi empat (optical square) yang dilengka pi dengan prisma di

dalamnya. Deng an prisma inilah, sinar dat ang akan dipantulkan kembali dengan membentuk sudut 90. Secara sederhana, pemeriksaan kesi kuan meja dengan sisi tegak (column) yang menggu nakan autokolim ator dan cermin segi empat ditunjukkan oleh Gambar 6.15.

Gambar 6.15. Pemerik saan kesikuan meja deng an sisi tegak (column) mesin frais. Dengan bantuan penyangga (supp ort), posisi autokolima tor diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan untuk melihat bayangan pada cermin pantul. Cermin pantul (reflektor) diletak kan pada posisi A, lalu dicatat pembac aan m ikrometer dari autokolima tor. Lalu cermin pant ul dile takkan pada posisi B dan dicatat harga yang ditunjukkan oleh mikromet er autokolimat or. Deng an demikian ada dua hasil pembacaan yaitu pada posisi A dan pada posisi B. Deng an melihat perbedaan dari kedua hasil pembacaan itu maka dapat diketahui kemir ingan atau ketidaksikuan meja mesin frais dengan sisi tegaknya (column). C. Pemeriksa an Kepara lellan Secara umum sebe tulnya ada dua elemen keparalellan yang perlu diperhatikan dalam penguk uran (metrologi industri) yaitu kepara lellan antara bidang dan keparal ellan antara gerakan. Akan tetapi, cara pemerik saan keparal ellan untuk kedua elemen keparalellan tersebut diatas pada dasarnya adalah sama. Salah satu peralatan ukur yang sesuai untuk memeriksa keparal ellan ini adal ah jam ukur (dial indicator) atau pupitas. Sebagai contoh pemeriksaan keparal ellan bisa dilihat gambar-g ambar pada gambar 6.16 berikut. Prinsip pembac aan skala ukur jam ukur adal ah sama dengan yang telah dibicar akan sebelu mnya, baik mengen ai jam ukur itu sendiri maupun pada pemba hasan mengn ai pemerik saan kel urusan dan kesikuan. Gambar 6.16a dan 6.16b menunjukkan pemeriksaan keparalellan antara bidang. Gambar 6.16c dan 6.16d menunjuk kan pemerik saan keparalellan antara bidang dan poros. Gambar 6.16e menunjuk kan pemeriksaan keparal ellan antara dua poros.

Gambar a

Gambar b

Gambar c

Gambar d

Gambar e Gambar 6.16. Pemerik saan keparal ellan dengan jam ukur. Contoh-contoh pada gambar 6.16. adalah untuk pemeriksaan keparal ellan dari elemen-elemen yang sifatnya tetap (sta tis). Untuk pemerik saan kepare lallan elemen-ele men yang berg erak dapat dilakukan dengan cara yang sama. Yang perlu diperhatikan adalah landasan penyangga jam ukur harus betul-betul rata, halus dan bersih guna menghindari terjadiya kekeliruan dalam penguk uran. D. Pemeriksa an Ked ataran Pemerik saan k edataran bisa dilakukan dengan menggunak an peralatan penyi pat datar (spirit level/waterpass) dan autokolimat or. Untuk pemerik saan kedat aran dengan autokolima tor bisa dengan cara yang sama seperti pada pemeriks aan kelurusan yang telah dibicarakan pada

bagian A no. 3. Pada bagi an ini hanya akan dibicarakan mengenai pemerik saan kedataran dengan menggun akan penyipat datar. Untuk itu, perlu dibi carakan terlebih dulu mengenai peny ipat datar. 1. Penyipat Dat ar (Spi rit Leve l/Wat erpas s) Secara umum, penyi pat datar pada dasarnya hanya terdiri dari landasan yang mempuny ai permukaan yang halus dan rata dengan panjang tertentu dan pada land asan itu dipa sang sebuah tabung kaca yang mel engk ung. Pada tab ung kaca yang melengku ng ini terdapat cairan (biasanya spiritus) dan gelembung udara. Perpindahan gelembu ng udara inilah yang dijadikan dasar prinsip peng ukuran kedat aran dengan penyipat datar. Karena, gelembung udara ini akan berpindah tempat bila posisin ya menyimpang dari keda taran. Oleh kar ena itu, bagian yang paling penting dari penyi pat datar adalah pipa kaca yang mel engkung yang berisi cairan dan gelembung udara tersebut. Besar kecilnya radius dari pipa kaca sangat me mpengar uhi kepekaan dari penyi pat datar. Makin besar radiusnya maka makin peka penyipat datar tersebut. Pipa kaca yang lengkung ini dpasan gkan pada landasan dengan posisi sedemikian rupa dan dileng kapi dengan baut pengunci. Baut ini fungsinya untuk menyetel posisi nol (posisi datar) dari gelembung udara. Secara sederhana, gambar dari penyi pat datar dapat dilihat pada gambar 6.17. Permukaan dari landa san biasanya berbentuk V dan ada pula yang datar. Pada sisi melintang dari landasan biasanya dilengkapi dengan pipa kaca yang kecil juga mel engkung dan berisi gelembung udara. Fungsi dari pipa kaca kecil (penyi pat datar kecil) adalah untuk menyetel posisi penyip at datar besar apabila terjadi kemir ingan. Adanya kemir ingan dari landasan pada muka ukur akan meng akibatk an kekeliruan dalam pengukuran.

Gambar 6.17. Penyipat datar Dari Gambar 6.17. dapat dijel askan sebag ai berikut. Bila salah satu ujung dari land asan naik atau turun maka gelembung udara akan berpindah posisi. Deng an menghi tung banyaknya skala perpindahan gelembung udara yang kemudian diban dingkan dengan tingkat kec erma tan alat ukurnya maka dapat diketahui besarnya ketidakdataran

dari muka ukur. Jadi, bila ujung B naik sebesar h yaitu menjadi B, maka gelembung udara pada pipa kaca akan bergeser (pindah) sejauh d, yaitu dari C ke D. Sudut yang dibentuk oleh perubah an posisi ujung land asan B dan posisi gelembung udara adalah sama yaitu . Bila R adalah jarijari pipa kaca dan L adalah panjang landasan penyi pat datar maka dap at dihitung hubungan antara h dan d sebagai berikut : d h (radian), dan (radian) L R Jadi,

d
, R

h. R L

Seandain ya, R = 200 m, panjang alas 400 mm, diinginkan suatu kec erma tan sebesar 0.01 mm, maka:

200x1000 x0.01 400

5mm

Untuk tingkat kecermatan ini biasanya pada penyip at datar hanya dicantumkan angka tinggi angkat pada setiap jarak ukur satu meter. Angka ini mer upakan ang ka dari setiap satu skala (divisi) pada pipa kaca. Jadi, kalau pada penyipat datar tercantum ang ka 0.01 mm/m ini berarti pada jarak ukur 1 meter tinggi angk at maksimum dari penyi pat datar adalah 0.01 milimeter. Tingkat-tingkat kecermatan atau kepekaan dari penyipat datar antara lain adalah 1 derajat, 1 menit, 2, 5, 10, 20, 30 detik; dan 0.3 mm/m, 0.1 mm/m, 0.02 mm/m, 0.01 mm/m, 0.04 mm/m. Sedangkan panjang land asannya antara lain : 160 mm, 200 mm, 300 mm, 400 mm, dan 500 mm. 2. Con toh Pemeriksa an Kedataran dengan Peny ipat Dat ar Salah satu contoh yang akan dibicarakan di sini adalah pemerik saan kedataran dari posisi meja mesin produks i, misalnya meja mesin bubut. Lihat gam bar 6.18 berikut ini.

Gambar 6.18. Pemerik saan kedat aran meja mesin bubut den gan penyipat datar.

Pemerik saan nya dilakukan pada arah memanjang dan pada melintang. Untuk arah mem anjang bisa diberi batas-batas dengan tanda garis atau titik yang jaraknya sesuai dengan panjang alas dari penyipat datar. Untuk arah melin tang diperlukan alat bantu lain yaitu sejenis pelat paralel yang cukup tebal. Gun anya adal ah sebag ai land asan tempat mele takkan penyipat datar untuk me muda hkan pemerik saan pada masin g-masing ujung dari meja mesin untuk arah melintang. Setiap posisi pemerik saan harus dicatat perub ahan yang dialami oleh gelembung udara dari pipa kaca. Dengan melihat data hasil pemeriksaan maka dapat diketahui bagian-bagian mana dari meja yang belum datar (level). Dan dengan m enyetel baut pengatur yang ada pada keempat ujung dasar mesin maka bagi an yang belum datar tersebut bisa disetel posisinya. Tingkat kedataran yang paling baik untuk posisi meja mesin adalah 0.02 mm/m. E. 1. 2. Pertany aan-per tanya an Jel askan secara ringkas arti dari kelurusan. Ada berapa cara yang bisa dilakukan untuk mengukur kelurusan benda ukur. 3. Buatlah sebuah contoh pemerik saan kelurusan poros dengan me nggunak an jam ukur (dial indicator ). 4. Sebutkan beberapa cara pemeriksaan kesikuan dari benda ukur. 5. Buatlah sebuah contoh pemeriksaan kesi kuan benda ukur dengan me nggunak an blok ukur (gauge block). 6. Jel askan s ecara singkat dengan gambar cara pemer iksaan kesiku an meja dengan sisi tegak (column) dari suatu mesin perkakas, alat yang digun akan autokolima tor. 7. Buatlah sebuah contoh pemeriksaan keparal ellan antara bidang dan poros. 8. Apakah prinsip yang digu nakan oleh alat ukur penyipat datar (spirit level)? 9. Analisislah hubungan antara perub ahan kedat aran dengan bergeraknya gelembung udara pada pipa kaca dari penyipat datar, dengan gambar. 10. Bila pada penyi pat datar tercantum ketentuan 0.02 mm/m, apakah artinya ang ka terseb ut? 11. Buatlah sebuah contoh pemeriks aan kelurusan dengan menggunak an autokolim ator lengkap dengan gambar dan analisis perhitungannya. 12. Buatlah sebuah contoh pemeriksaan kedat aran dengan menggunak an penyip at datar lengkap dengan gambar dan analisisny a.