Anda di halaman 1dari 76

SKRIPSI

PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP


HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PERSAMAAN GARIS LURUS
KELAS VIII MTS. MUALLIMAT NW KELAYU
TAHUN PEMBELAJARAN 2010/2011



MUH. ROSYADI
NPM : 06211096
















Skripsi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan
dalam mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Matematika


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) HAMZANWADI SELONG
2011
ii

LEMBAR PERSETUJUAN


PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP
HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PERSAMAAN GARIS LURUS
KELAS VIII MTS. MUALLIMAT NW KELAYU
TAHUN PEMBELAJARAN 2010/2011


MUH. ROSYADI
NPM : 06211096

Skripsi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan
dalam mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Matematika

Menyetujui :


Pembimbing I Pembimbing II




ABDULLAH, M.Si LL. SAPRIHADI, M.Pd
NIS : 330 30 11 135 NIS : 330 30 11 115


Mengetahui
Ketua Program Studi Pendidikan Matematika



MUH. HALQI, M.Pd
NIS : 330 30 11 225

iii

LEMBAR PENGESAHAN


PENGARUH PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP
HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PERSAMAAN GARIS LURUS
KELAS VIII MTS. MUALLIMAT NW KELAYU
TAHUN PEMBELAJARAN 2010/2011


MUH. ROSYADI
NPM : 06211096

Dipertahankan di depan Dewan Penguji Skripsi
STKIP HAMZANWADI Selong
Pada Tanggal : 23 Februari 2011

DEWAN PENGUJI


(MUH. HALQI, M.Pd)
(Ketua Penguji)


ABDULLAH, M.Si
(Anggota)


LL. SAPRIHADI, M. Pd
(Anggota) ..

Pancor, 23 Februari 2011
Ketua
STKIP HAMZANWADI Selong



Drs. H. MUH. SURUJI
NIS : 330 30 21 012
iv

Pernyataan Keaslian

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : MUH. ROSYADI
NPM : 06211096
Program Studi : Pendidikan Matematika
Jurusan : MIPA
Perguruan Tinggi : STKIP Hamzanwadi Selong

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini merupakan hasil karya saya sendiri
dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan
tinggi dan sepanjang pengetahuaan saya dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali pada bagian-
bagian yang dirujuk sumbernya dalam daptar pustaka.

Selong, Maret 2011
Yang membuat pernyataan



MUH. ROSYADI
NPM. 06211096






v





MOTTO :

Katakanlah : Sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-
kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis
kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak
itu. (QS : Al-Kahfi,109)
Rendah hatilah! Engkau Seperti Bintang, dia berada tinggi di langit.
Tetapi di permukaan air dia tampak rendah.(Imam Syafii)
Teguh Pendirian adalah Pangkal Keberhasilan
Rebutlah saat ini.Apapun yang bisa anda lakukan atau anda impikan
Mulailah!!!





vi





PERSEMBAHAN:

Skripsi ini aku persembahkan untuk:
Kedua Orang Tua ku yang selalu ada dalam setiap langkah
hidupku.
Adik dan kakak-kakak ku tercinta dan semua keluarga (terima
kasih atas doa dan bantuannya)
Insan terkasih yang selalu hadir dan menemaniku dalam suka dan
duka, kau adalah lentera dalam hidupku.







vii

KATA PENGANTAR


Bismillahi Wabihamdihi
Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Puji syukur kehadirat Alloh SWT atas nikmat, taufik, hidayah dan inayah-
Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Skripsi yang berjudul Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe STAD Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Persamaan Garis Lurus Kelas
VIII MTs. Muallimat NW Kelayu Tahun Pembelajaran 2010/2011. Skripsi ini
disusun dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapat gelar sarjana
pendidikan pada program studi pendidikan matematika. Tersusunnya skripsi ini tidak
terlepas dari bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada
kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
yang terhormat :
1. Bapak Drs. H. Muh. Suruji selaku Ketua STKIP Hamzanwadi Selong beserta
seluruh staf akademik
2. Bapak Muh. Halqi, M.Pd selaku KAPRODI MATEMATIKA beserta seluruh
staf pengajar
3. Bapak Abdullah, M.Si selaku pembimbing I dan Bapak Lalu Saprihadi, M.Pd
selaku pembimbing II, yang telah banyak memberikan saran, arahan, dan
bimbingan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan
4. Kepala sekolah beserta guru dan staf di MTs. Muallimat NW Kelayu yang telah
memberikan kesempatan dan dukungan dalam melakukan penelitian
viii

5. Keluarga terutama kedua orang tuaku atas doa, jerih payah, dan kasih
sayangnya, sehingga aku menjadi seperti sekarang ini, dan terima kasih pula atas
semua perhatian dan pengorbanan yang tak terbatas mengenai cinta,
perlindungan, pengajaran untuk memaknai hidup, serta yang tak terhingga untuk
senyum, motivasi, dan harapannya.
6. Semua teman dan sahabat yang telah memotivasi peneliti baik secara moril dan
material dalam usaha penyelesaian skripsi ini
Akhir kata peneliti berharap mudah-mudahan skripsi ini dapat memberikan
manfaat kepada kita semua dan semoga Alloh SWT memberikan balasan yang sesuai
dengan bantuan yang telah diberikan. Amin.
Pancor, Maret 2011

Penulis
ix

ABSTRAK

Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Terhadap Hasil Belajar Siswa
pada Materi Persamaan Garis Lurus Kelas VIII MTs. Muallimat NW Kelayu
Tahun Pembelajaran 2010/2011


MUH. ROSYADI
NPM : 06211096


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran
Matematika Materi Persamaan Garis Lurus Kelas VIII MTs. Muallimat NW Kelayu
Tahun Pembelajaran 2010/2011 sehingga nantinya diharapkan dapat digunakan
sebagai bahan acuan ketika mengajar di sekolah oleh guru dan sebagai pedoman bagi
peneliti lain untuk penelitian serupa yang lebih mendalam.
Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriftif (deskriftife
reseach) dan menggunakan metode eksperimen karena objek penelitan dan gejala
yang diteliti ditimbulkan dengan sengaja. Penelitian ini merupakan penelitian
populasi karena populasi penelitian ini sekaligus juga sebagai sampel penelitian yaitu
semua siswa kelas VIII MTs. Muallimat NW Kelayu yang berjumlah 37 orang.
Dari data yang sudah terkumpul diperoleh skor terendah dari hasil tes materi
persamaan garis lurus adalah 35 dan skor tertinggi adalah 95, sedangkan skor
terendah dari hasil angket mengenai persepsi siswa terhadap penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD yang telah diberikan kepada siswa adalah 59 dan
skor tertingginya adalah 96. Sehingga dari perhitungan diperoleh nilai rata-rata
(Mean) dari hasil tes adalah 69,73 dan standar deviasinya (SD) adalah 19,03,
sedangkan rata-rata (Mean) dari hasil angket adalah 77,11 dan standar deviasinya
adalah 11,97. Dengan memperhatikan nilai rata-rata (mean) ideal dan Standar deviasi
ideal maka dapat diketahui bahwa nilai hasil tes dan angket termasuk kategori tinggi.
Sesuai dengan hasil analisis dan pengujian dari data yang terkumpul menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
terhadap hasil belajar siswa pada materi persamaan garis lurus kelas VIII MTs.
Muallimat NW Kelayu Tahun Pembelajaran 2010/2011.





x

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii
PERNYATAAN KEASLIAN ........................................................................ iv
MOTTO .......................................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... vi
KATA PENGANTAR .................................................................................... vii
ABSTRAK ...................................................................................................... ix
DAFTAR ISI ................................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xi
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah .............................................................................. 3
C. Pembatasan Masalah ............................................................................. 4
D. Rumusan Masalah ................................................................................. 4
E. Tujuan Penelitian ................................................................................... 5
F. Manfaat Penelitian ................................................................................. 5
xi

BAB II KAJIAN TEORI ............................................................................... 7
A. Analitis Teoritis ..................................................................................... 7
1. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar ............................................... 7
2. Pembelajaran Kooperatif .................................................................. 11
3. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD .............................................. 16
4. Persamaan Garis Lurus ..................................................................... 21
B. Penelitian Yang Relevan ....................................................................... 31
C. Kerangka Berfikir .................................................................................. 33
D. Hipotesis Tindakan ................................................................................ 34
BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 35
A. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................... 34
B. Jenis Penelitian ...................................................................................... 34
C. Populasi Penelitia dan Sampel Penelitian ............................................. 34
D. Desain Penelitian ................................................................................... 40
E. Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 40
F. Teknik Analisa Data .............................................................................. 40
G. Uji Hipotesis .......................................................................................... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 50
A. Hasil Penelitian ..................................................................................... 50
B. Pembahasan Hasil Penelitian ................................................................. 54
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 57
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 59
LAMPIRAN
xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 01 : Surat Izin Penelitian
Lampiran 02 : Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian
Lampiran 03 : Format Kisi-Kisi Instrumen
Lampiran 04 : Instrumen Soal
Lampiran 05 : Kunci Jawaban
Lampiran 06 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Lampiran 07 : Daftar Hasil Tes Materi Persamaan Garis Lurus
Lampiran 08 : Daftar Hasil Angket Persepsi Siwa
Lampiran 09 : Uji Validitas Instrumen Tes
Lampiran 10 : Uji Validitas Instrumen Angket
Lampiran 11 : Uji Reliabilitas Instrumen Tes
Lampiran 12 : Uji Reliabilitas Angket
Lampiran 13 : Uji Tingkat Kesukaran Instrumen
Lampiran 14 : Uji Daya Pembeda Instrumen
Lampiran 15 : Daftar Nilai Tes dan Angket Siswa
Lampiran 16 : Uji Normalitas Data Hasil Tes
Lampiran 17 : Uji Normalitas Data Hasil Angket
Lampiran 18 : Uji Linieritas Data
Lampiran 19 : Uji Hipotesis Regresi


xiii

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 01 : Data Nilai Rata-rata Mata Pelajaran Matematika Kelas VIII MTs.
Muallimat NW Kelayu Tahun Pembelajaran 2009/2010..

2
Tabel 02 : Perbedaan Kelompok Belajara Kooperatif dengan Kelompok
Belajar Tradisional.

13
Tabel 03 : Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif.. 15
Tabel 04 : Keadaan Populasi Siswa di MTs. Muallimat NW Kelayu Tahun
Pembelajaran 2010/2011.

36
Tabel 05 : Ukuran Sampel Penelitian di MTs. Muallimat NW Kelayu
Tahun Pembelajaran 2010/2011.

36
Tabel 06 : Kisi-kisi Instrumen Tes... 40
Tabel 07 : Kisi-kisi Instrumen Angket..... 40
Tabel 08 : Hasil Uji Validitas Instrumen Tes Dan Angket Persepsi Siswa... 42
Tabel 09 : Hasil Uji Derajat Kesukaran Tes Materi Persamaan Garis Lurus 44
Tabel 10 : Ringkasan Hasil Perhitungan Daya Pembeda Instrumen. 46
Tabel 11 : Daftar Analisis Varians (ANAVA) Regresi Linier Sederhana... 49
Tabel 12 : Ringkasan Hasil Uji Coba Instrumen... 53
Tabel 13 : Hasil Perhitungan Statistik Normalitas Data Tes dan Angket 54

1

BAB I
PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk meningkatkan mutu
pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. Pemerintah dalam hal ini
Menteri Pendidikan Nasional juga mencanangkan Gerakan Peningkatan
Mutu Pendidikan pada tanggal 2 Mei 2002. Namun demikian berbagai
indikator belum menunjukkan peningkatan yang berarti ( Mulyasa, 2004:5 )
Seiring dengan hal tersebut studi intensif yang dilakukan oleh Direktorat
Dikmenum pada tahun 1997 terhadap pola pembelajaran dan pemahaman
siswa SMP pada beberapa mata pelajaran termasuk matematika menunjukkan
hasil yang kurang memuaskan. Cara pembelajaran cenderung abstrak dan
menggunakan metode ceramah sehingga konsep-konsep akademik menjadi
sulit dipahami oleh siswa. Sebagai akibatnya motivasi siswa sulit
ditumbuhkan dan pola belajar mereka cenderung menghafal dan mekanistik
Kekurangan pada proses belajar mengajar juga terjadi di MTs.
Muallimat NW Kelayu. Informasi yang didapatkan dari hasil wawancara
dengan guru matematika kelas VIII MTs. Muallimat NW Kelayu, guru dalam
mengajar matematika cenderung menggunakan metode ceramah, diikuti
dengan contoh dan latihan soal. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002:83)
2

penggunaan satu metode lebih cenderung menghasilkan kegiatan belajar
mengajar yang membosankan bagi anak didik, jalannya pembelajaran pun
tampak kaku, anak didik kurang bersemangat belajar, kejenuhan dan
kemalasan menyelimuti kegiatan anak didik.
Di samping itu, hasil observasi nilai rata-rata ulang harian mata pelajaran
matematika pada siswa kelas VIII MTs. Muallimat NW Kelayu Tahun
Pembelajaran 2009/2010 dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 01.
Data Nilai Rata-rata Mata Pelajaran Matematika Kelas VIII MTs.
Muallimat NW Kelayu Tahun Pembelajaran 2009/2010
No Kelas Nilai Rata-rata
1.
2.
VIII A
VIII B
6,5
6,8

Dari tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa nilai ulangan harian siswa
pada mata pelajaran matematika MTs. Muallimat NW Kelayu Tahun
Pembelajaran 2009/2010 tergolong masih rendah. Data ini didapatkan
berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika kelas VIII di sekolah
tersebut.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi persolaan
tersebut adalah dengan cara menerapkan strategi belajar yang lebih
mengaktifkan siswa dalam pembelajaran matematika sehingga mampu
meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika.
Strategi yang diperlukan adalah penggunaan metode pembelajaran yang lebih
memberdayakan siswa dan tidak mengharuskan siswa hanya mendengarkan,
mencatat dan menghafal materi yang diberikan, tetapi strategi yang
3

mendorong siswa untuk berfikir, bekerja dan beraktifitas lebih selama proses
pembelajaran, dan membawa mereka ke suasana yang menyenangkan. Salah
satu model yang akan dicobakan untuk mengubah kondisi seperti itu adalah
model pembelajaran kooperatif.
Sehubungan dengan hal tersebut, pada penelitian ini peneliti ingin
mencoba menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, dengan
harapan agar hasil belajar dan aktifitas siswa khususnya pada materi
Persamaan Garis Lurus dapat meningkat.
Pemilihan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini sesuai dengan
keadaan siswa yang masih kurang aktif dalam pembelajaran matematika dan
kesesuaian dengan isi dari materi yang akan dibahas yaitu persamaan garis
lurus.
B. Identifikasi Masalah
Dengan memperhatikan uraian di atas maka dapat diidentifikasi
beberapa permasalahan yang menjadi akar dari permasalahan pokok yang
diangkat dalam penelitian ini dan dapat dirincikan sebagai berikut :
1. Belum diterapkannya model pembelajaran kooperatif pada proses
pembelajaran
2. Siswa masih sulit menguasai materi pelajaran matematika
3. Kurangnya kerja sama dan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran
4. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa masih kurang memuaskan
5. Kejenuhan dalam proses pembelajaran matematika masih dialami siswa

4

C. Pembatasan Masalah
Agar permasalahan dalam penelitian ini lebih fokus dan terarah, maka
perlu adanya pembatasan permasalahan. Adapun permasalahan yang
dimaksud dibatasi oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Pembatasan Objek Penelitian
Yang menjadi objek penelitian ini adalah pengaruh penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa.
2. Pembatasan Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTs.
Muallimat NW Kelayu Tahun Pembelajaran 2010/2011.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana tingkat persepsi siswa terhadap penggunaan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD?
2. Bagaimana kualitas hasil belajar matematika siswa kelas VIII MTs.
Muallimat NW Kelayu yang menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD?
3. Bagaimana pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD terhadap hasil belajar siswa pada materi persamaan garis lurus
kelas VIII MTs. Muallimat NW Kelayu Tahun Pembelajaran
2010/2011?

5

E. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa pada
materi persamaan garis lurus siswa kelas VIII MTs. Muallimat NW
Kelayu setelah penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD.
2. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD terhadap prestasi belajar siswa.
F. Manfaat Penelitian
Beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini dapat dijelaskan
seperti uraian berikut ini :
1. Manfaat teoritis
a. Sebagai bahan yang dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan
metode pembelajaran
b. Sebagai bahan informasi pengetahuan keilmuan tentang pembelajaran
kooperatif tipe STAD.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
i. Dapat dijadikan sebagai bahan masukan tentang alternatif model
pembelajaran dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.
ii. Bagi guru bidang studi matematika dapat dijadikan bahan acuan
untuk mengembangkan metode pembelajarannya untuk
meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran matematika.


6

b. Bagi Siswa
i. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat
membuat siswa lebih aktif dalam belajar khususnya dalam
pembelajaran matematika.
ii. Dapat merangsang kemampuan berfikir siswa dalam memecahkan
masalah untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
c. Bagi Pengelola Sekolah
i. Sebagai informasi bahwa salah satu upaya peningkatan hasil
belajar siswa dapat dilakukan melalui penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD.
ii. Tercapainya ketuntasan dan hasil belajar yang baik merupakan
kebanggaan tersendiri yang terus diharapkan.
d. Bagi Peneliti Lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi terhadap
peneliti lain guna untuk mengembangkan penelitian dengan jangkauan
yang lebih luas serta menggunakan fakta-fakta lain yang belum
ditemukan melalui penelitian ini.





7

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A. Pengertian Belajar dan Hasil Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu aktifitas mental/psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dalam pengetahuan, keterampilan nilai dan sikap
(Nasution, 1997:36) sedangkan menurut W.J.R Poerwadarminta
(2003:121) yang dimaksud dengan belajar adalah berusaha/berlatih supaya
mendapatkan suatu kepandaian.
Secara psikologis pengertian belajar adalah merupakan suatu proses
perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan
lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Slameto, 1987:2)
adapun menurut James O. Whitaker (Syaiful Bahri Djamarah,1999)
merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau
diubah melalui praktek latihan.
Dengan memperhatikan beberapa teori tentang pengertian belajar
maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan
yaitu perubahan tingkah laku menuju ke arah yang lebih baik setelah
mengalami latihan dan pengalaman dari interaksi dengan lingkungan.
2. Pengertian Hasil Belajar
Hasil adalah kemampuan yang diperoleh anak dari suatu interaksi
dalam proses pembelajaran. Menurut Nasrun dalam (Tim Dosen, 1980:25)
8

mengemukakan bahwa : Hasil belajar merupakan hasil akhir pengambilan
keputusan mengenai tinggi rendahnya nilai yang diperoleh siswa selama
mengikuti proses pembelajaran.
Menurut Oemar Hamalik (2002:155) hasil belajar tampak sebagai
terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati dan
diukur dalam perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Selanjutnya Davis (Abdullah, 2007:4) menyatakan Dalam setiap
proses belajar akan selalu terdapat hasil nyata yang dapat diukur. Hasil
nyata yang dapat diukur dinyatakan sebagai prestasi belajar seseorang.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil yang diperoleh
siswa setelah ia menerima suatu pengetahuan yang berupa angka (nilai)
dimana aktifitas siswa mempunyai peranan yang sangat penting dalam
proses pembelajaran tersebut.
3. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Belajar merupakan proses yang menimbulkan terjadinya suatu
perubahan atau pembaharuan tingkah laku seseorang, oleh karena itu
behasil atau tidaknya belajar seseorang tergantung dapat dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Menurut Nasution ( 1997:5), faktor-faktor yang
mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah faktor dari luar individu
(eksternal) dan faktor dari dalam (internal).


9

1. Faktor Eksternal
a. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok.
i. Lingkungan Alami
Lingkungan alami seperti, keadaan suhu, kelembaban udara
berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar
ii. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial, baik yang berwujud manusia dan
representasinya langsung berpengaruh terhadap proses dan
hasil belajar.
b. Faktor Instrumen
Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang pengadaan dan
penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil yang diharapkan.
2. Faktor Internal
Kondisi individu juga sangat mempengaruhi proses dan hasil
belajar, kondisi individu ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok
yaitu :
1. Kondisi Fisiologis
Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh terhadap
kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar
jasmaninya akan berbeda hasil belajarnya dari orang yang dalam
keadan kelelahan.

10

2. Kondisi Psikologis
Beberapa faktor psikologis utama yang sangat mempengaruhi
proses dan hasil belajar antara lain :
a. Minat
Faktor minat mempengaruhi proses dan hasil belajar, jika
seseorang belajar dengan penuh minat, maka dapat diharapkan
hasilnya akan lebih baik. Karena itu persoalan yang biasa
timbul adalah bagaimana mengusahakan agar hal yang
disajikan sebagai pengalaman belajar itu menarik minat siswa.
b. Kecerdasan
Kecerdasan merupakan salah satu faktor yang sudah jelas
dapat berpengaruh. Kecerdasan memiliki peranan yang besar
dalam menentukan berhasil tidaknya seseorang mempelajari
sesuatu khusunya dalam mengikuti program pendidikan. Orang
yang lebih cerdas pada umumnya lebih mampu mengikuti
proses pembelajaran dari pada orang yang kurang cerdas.
c. Bakat
Di samping kecerdasan atau intelegensi, bakat juga
merupakan salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap
hasil belajar seseorang. Belajar pada bidang yang sesuai dengan
bakat yang ada akan dapat memperbesar kemungkinan
berhasilnya pembelajaran.

11

d. Motivasi
Yang disebut dengan motivasi adalah kondisi psikologis
yang mendorong sesorang untuk belajar. Jika motivasi
meningkat hasil belajar juga akan cenderung meningkat seiring
dengan pertambahan tingkat motivasi belajar siswa.
e. Kemampuan-kemampuan Kognitif
Selain faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas, faktor
kognitif juga merupakan salah satu faktor penting dalam
kegiatan pembelajaran. Kemampuan kognitif itu terutama yang
berkaitan dengan persepsi, ingatan, dan berfikir. Kemampuan
kognitif seseorang besar pengaruhnya terhadap hasil belajar.
Slavin dan Nurhadi (2005:10)
B. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif adalah suatu sistem yang didasarkan pada
alasan bahwa manusia sebagai makhluk individu yang berbeda satu sama lain
sehingga sebagai konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial,
makhluk yang berinteraksi dengan sesamanya (Nurhadi, 2003 : 60 )
Struktur tujuan pembelajaran kooperatif yaitu tujuan kelompok akan
tercapai apabila semua anggota kelompok mencapai tujuan secara bersama-
sama. Menurut Ibrahim dkk (2000 : 7) tujuan penting pembelajaran kooperatif
adalah untuk meningkatkan kemampuan individu dalam bidang akademik,
penerimaan terhadap adanya keragaman individu dan mengembangkan
keterampilan sosial.
12

Abdurrahman dan Bintoro (2000) yang dikutip Nurhadi (2003:60)
mengemukakan pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di
dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai
elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
1. Saling ketergantungan positif
2. Interaksi tatap muka
3. Akuntabilitas individual
4. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Penerapan pembelajaran kooperatif dapat memperbaiki kesalahan
pengajaran pada metode pembelajaran tradisional seperti metode ceramah yang
masih memusatkan proses pembelajaran pada guru sedangkan siswa mejadi
pasif. Perbaikan pembelajaran kooperatif terhadap metode ceramah dapat
dilihat dari perbedaan kedua metode tersebut.
Dalam pembelajaran tradisional dikenal juga adanya belajar kelompok.
Meskipun demikian ada sejumlah perbedaan antara kelompok belajar
kooperatif dengan kelompok belajar tradisional. Abdurrahman dan Bintoro
yang dikutip Nurhadi dan Agus (2003:61) mengemukakan perbedaan
kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional sebagai
berikut :




13

Tabel 02.
Perbedaan Kelompok Belajar Kooperatif dengan Kelompok Belajar Tradisional
Kelompok Belajar Kooperatif Kelompok Belajar Tradisional
Adanya saling ketergantungan
positif, saling membantu, dan
saling memberikan motivasi
sehingga adanya interaksi
promotif.
Adanya akuntabiitas individual
dan kelompok diberi umpan balik
tentang hasil belajar para
anggotanya sehingga dapat saling
mengetahui siapa yang
memerlukan bantuan dan siapa
yang dapat memberikan bantuan.
Anggota kelompok ditentukan
oleh guru yang heterogen, baik
dalam kemapuan akademik, jenis
kelamin, ras, etnik dan
sebagainya.
Pemimpin kelompok dipilih
demokratis atau bergilir untuk
memberikan pengalaman
memimpin bagi para anggota
kelompok.
Penekanan pada penyelesaian
tugas dan hubungan interpersonal.
Guru sering membiarkan adanya
siswa yang mendominasi
kelompok atau menggantungkan
diri dalam kelompok.
Akuntabilitas individual sering
diborong oleh salah seorang
anggota kelompok, dan anggota
kelompok lainnya hanya enak-
enak saja di atas keberhasilan
temannya yang dianggap
pemborong.
Anggota kelompok ditentukan
sendiri oleh siswa sehingga
anggota kelompok menjadi
homogen.
Pemimpin kelompok sering
ditentukan oleh guru atau
kelompok dibiarkan untuk
memilih pemimpinnya dengan
cara masing-masing.
Pemantauan melalui observasi
sering tidak dilakukan oleh guru
pada saat belajar kelompok
berlangsung dan jarang
membantu siswa apabila
mendapatkan masalah.
Penekanan sering hanya pada
penyelesaiaan tugas.
14

Jonhson (Kahfi, 2004:2) mengemukakan keuntungan bagi para siswa
dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut :
1. Pembelajaran kooperatif menaikkan hasil lebih tinggi daripada
individualistis maupun kompetitif pengetahuan tentang fakta dasar dan
prinsip, penalaran, dan bagi-bagi (sharing) strategi pemecahan masalah
meningkat dalam kerja kelompok.
2. Siswa memperoleh keyakinan dalam kemampuan individu mereka.
Bekerja bersama-sama bisa mengurangi kecemasan matematika
(mathematic anxiety) dan mengembangkan harga diri dengan
penghormatan yang dalam terhadap matematika.
Menurut (Ibrahim dkk, 2000:6) pembelajaran kooperatif memiliki ciri-
ciri sebagai berikut :
1. Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan
materi pembelajaran
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang
dan rendah.
3. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis
kelamin yang berbeda-beda.
4. Pengharagaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan
oleh Ibrahim dkk (2000:10) dirangkum pada tabel berikut:


15

Tabel 03.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Langkah Tingkah Laku Guru
Langkah - 1
Menyampaikan tujuan dan motivasi
siswa


Langkah 2
Menyajikan informasi


Langkah 3
Menggorganisasikan siswa ke dalam
kelompok belajar



Langkah 4
Membimbing kelompok belajar


Langkah 5
Evaluasi



Langkah 6
Memberikan penghargaan
Guru menyampaikan semua tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada
pembelajaran tersebut dan memotivasi
siswa belajar.

Guru menyajikan informasi kepada
siswa dengan demonstrasi atau lewat
bahan bacaan.

Guru menjelaskan kepada siswa
bagaimana caranya membentuk
kelompok belajar dan membantu
setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efisien.

Guru membimbing kelompok-
kelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas mereka.

Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajari
atau masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.

Guru mencari cara yang baik untuk
menghargai baik upaya maupun hasil
belajar individu dan kelompok.

Selain unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit,
pembelajaran kooperatif sangat berguna untuk membantu siswa menumbuhkan
keterampilan kerjasama (keterampilan memimpin, berkomunnikasi,
mempercayai orang lain dan mengelola konflik), kemampuan berfikir kritis,
kemampuan membantu teman dan sifat toleransi.
Pelaksanaan pembelajaran kooperatif membutuhkan beberapa
perencanaan tugas yang unik dan keputusan yang dibutuhksan oleh guru untuk
16

mempersiapkan diri dalam mengajar suatu pembelajaran dengan pembelajaran
kooperatif di antaranya sebagai berikut :
a. Memilih pendekatan
b. Pemilihan materi yang sesuai
c. Pembentukan kelompok siswa
d. Pengembangan materi dan tujuan
e. Mengenalkan siswa pada tugas dan peran
f. Merencanakan waktu dan tempat
Walaupun prinsip dasar pembelajaran kooperatif tidak berubah, terdapat
variasi dari model tersebut. Ibrahim dkk (2000:20) membedakan pendekatan
pembelajaran kooperatif dalam empat tipe yaitu : Student Teams Achivement
Division (STAD), Jigsaw, Group Investigation, dan Struktural Approach.
C. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement
Division) dikembangkan oleh Slavin Robert dan teman-temannya di
Universitas John Hopkin. Metode ini dipandang sebagai yang paling
sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif.
Model ini mengacu kepada belajar kelompok. Anggota tim menggunakan
lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan
materi pembelajarannya, kemudian saling membantu satu sama lain untuk
memahami bahan pembelajaran dan memecahkan suatu masalah melalui
diskusi.
17

Masing-masing kelompok dibentuk dari anggota yang heterogen terdiri
dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki
kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Salah satu tujuan mengapa anggota
kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang heterogen
untuk saling mengetahui siswa yang memerlukan bantuan dan siswa yang
dapat memberikan bantuan.
Menurut Slavin (Hasanah, 2004:16) pelaksanaan pembelajaran
koooperatif model STAD dilaksanakan dalam beberapa tahapan yang
merupakan lima komponen yaitu :
1. Penyajian Kelas
Sebelum guru menyajikan pembelajaran, dibuat lembar kegiatan yang
akan dipelajari oleh siswa dan kelompok. Guru menyajikan materi
pembelajaran secara klasikal di depan kelas kepada siswa yang telah
dibentuk menjadi kelompok-kelompok heterogen dan dibagikan lembar
kegiatan yang telah dipersiapkan. Siswa disuruh bekerja secara kelompok
untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di lembar kegiatan.
2. Kegiatan Kelompok
Siswa berdiskusi dalam kelompok dan diharapkan saling membantu
untuk memahami bahan pembelajaran dan menyelesaikan permasalahan
yang diberikan. Guru perlu mengingatkan siswa dalam kegiatan kelompok
untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Siswa mempunyai tanggung jawab untuk memastikan teman
kelompoknya menguasai materi pembelajaran.
18

b. Tidak seorang pun siswa selesai belajar sebelum anggota kelompoknya
menguasai materi pembelajaran.
c. Meminta bantuan kepada teman satu kelompok sebelum meminta
bantuan kepada guru.
d. Dalam satu kelompok harus berbicara sopan.
3. Kuis (Quizzes)
Kuis adalah tes yang dikerjakan secara mandiri dengan tujuan untuk
mengetahui keberhasilan siswa setelah belajar dalam kelompok. Hasil tes
digunakan sebagai hasil perkembangan individu dan disumbangkan
sebagai nilai perkembangan dan keberhasilan kelompok.
4. Skor Kemajuan (perkembangan) Individu
Skor kemajuan individu adalah perbandingan antara hasil belajar tes
awal dan tes akhir siswa. Skor awal yang dimaksud adalah skor
matematika paling akhir yang dimiliki siswa dalam belajar materi
sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud dengan skor akhir adalah skor tes
matematika yang diberikan setelah dilaksanakan pembelajaran kooperatif
model STAD. Skor perkembangan individu ini juga merupakan skor untuk
menentukan perkembangan kelompok.
5. Pengakuan Kelompok
Pengakuan kelompok adalah pemberian predikat kepada masing-
masing kelompok. Predikat ini diperoleh dengan melihat skor kemajuan
kelompok. Skor kemajuan kelompok diperoleh dengan mengumpulkan
skor kemajuan masing-masing anggota kelompok kemudian dibagi dengan
19

jumlah anngota dalam kelompok sehingga diperoleh skor rata-rata
kelompok. Dari hasil yang diperoleh tersebut, guru memberikan hadiah
berupa predikat pengakuan kelompok. Dalam memberikan pengakuan
kelompok terdapat tiga tingkatan predikat :
a. Kelompok Super (super team)
Predikat yang diberikan kepadakelompok yang memiliki skor rata-rata
tertinggi.
b. Kelompok Hebat (great team)
Diberikan kepada kelompok yang memperoleh skor rata-rata sedang.
c. Kelompok Baik (good team)
Diberikan kepada kelompok yang memperoleh skor rata-rata rendah.
Penghargaan yang diterima akan mempengaruhi siswa secara positif
yang meningkatkan keyakinan diri siswa (Slamet, 1995:159).
Dalam pelaksanaaan pembelajaran disekolah tidaklah selalu berjalan
dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Hal-hal
yang dapat menghambat proses pembelajaran terutama dalam penerapan
model pembelajaran Cooperatif di antaranya sebagai berikut :
1. Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran
Cooperatif
2. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru
terhadap proses pembelajaran relatif kecil sehinnga yang hanya
segelintir orang yang menguasai arena kelas, yang lain hanya sebagai
penonton.
20

3. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran
Cooperatif
4. Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran.
5. Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi
yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Agar pelaksanaan pembelajaran kooperatif dapat berjalan dengan baik,
maka upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penerapan model
pembelajaran kooperatif di kelas dan menyesuaikan dengan materi
yang akan diajarkan.
2. Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas
merupakan kelas heterogen.
3. Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang pembelajaran
kooperatif.
4. Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.
5. Mensosialisasi kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan
informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.
D. Persamaan Garis Lurus
I. Persamaan Garis
a. Pengertian Persamaan Garis Lurus
Persamaan garis lurus adalah persamaan yang dapat dinyatakan
dalam bentuk ax + by + c = 0 atau y = mx + c, dengan a, b, dan c
sebagai konstanta, a dan b 0.
21

b. Menggambar Garis Lurus Pada Bidang Cartesius
Bentuk umum dari persamaan garis lurus adalah ax + by + c = 0
atau y = mx + c. Beberapa contoh persmaan garis yang termasuk
persamaan garis lurus di antaranya : y = x + 3. untuk menggambar
sebuah garis pada bidang Cartesius, dapat dilakukan dengan sekurang-
kurangnya dua buah titik yang memenuhi persamaan tersebut,
kemudian menarik garis lurus yang melalui kedua titik itu.
Langkah-langkah mengambar garis dengan persamaan y = mx + c atau
ax + by + c = 0 adalah sebagai berikut :
1. Tentukan minimal dua titik yang koordinatnya memenuhi
persamaan tersebut.
2. Tariklah garis lurus dengan menghubungkan kedua titik tersebut
Contoh :
Jika x dan y variabel pada himpunan bilangan real R maka gambarlah
gambarlah garis dengan persamaan y - 3x = 0
Langkah pertama adalah dengan menentukan dua buah titik yang
memenuhi persamaan garis tersebut. Misalnya dengan tabel berikut:
x 1 2
y 3 6
Dari tabel tersebut, diperoleh titik (1,3) dan (2,6). Kedua titik tersebut
kemudian digambar pada bidang Cartesius, selanjutnya kedua titik
tersebut dihubungkan sehingga membentuk sebuah garis lurus yang
memenuhi persamaan tersebut

22

(2,0)
(1,0)
(0,3)
(1,3)
(2,6)
(0,6)
(5,0)
(0,6)
Sketsa dari persamaan garis tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

6
5
4
3
2
1
0 1 2 3 4 5 6

c. Menyatakan Garis yang Digambar pada Bidang Cartesius ke Bentuk
y= mx+c
Untuk menyatakan persamaan garis dari gambar yang diketahu maka
terlebih dahulu harus dicari hubungan antara absis dan ordinat dari
titik-titik yang dilalui oleh garis tersebut.
Contoh:
Tentukan persamaan garis pada gambar berikut:

6 (5,6)



0 5
23

Langkah-langkahnya adalah:
1. Tentukan dua titik yang melalui garis tersebut
2. Tentukan hubungan antara ordinat dan absis pada gambar tersebut pada
dua titik yang yang diketahui.
3. Jadi dapat ditentukan persamaan garis tersebut yaitu:
Melalui titik (0,0) dan (5,6) diperoleh hubungan m = y
2
-y
1
/ x
2
-x
1
m = 6/5
jadi persamaan garis tersebut adalah y = 6/5 x atau 6/5 x + y = 0
II. Gradien
Gradien garis adalah koefisien arah suat garis lurus atau dapat disebut
dengan tingkat kemiringan garis lurus, gradien biasanya dilambangkan
dengan huruf m.
Beberapa hal yang perlu diketahui dari gradien garis adalah :
1. Gradien garis yang sejajr sumbu x adalah nol ( m = 0 )
2. Gradien garis yang sejajar sumbu y adalah tidak didefinisikan
3. Garis-garis yang sejajar memiliki gradien yang sama atau m
1
= m
2

4. Hasil kali gradien garis yang saling tegak lurus adalah -1 atau
m
1
. m
2
= -1
III. Persamaan Garis II
1. Menggambar Garis jika Gradien dan Satu Titik yang Dilalui Garis itu
Diketahui
Sebelumnya perlu diketahui bahwa persamaan garis yang melalui titik
(a,b) adalah y-b = m(x-a).
24

Contoh : tentukan persamaan garis yang melalui titik (2,5) bergradien 3,
kemudian gambarlah garis itu pada bidang Cartesius.
Jawab :
persamaan garis tersebut adalah
y b = m(x a ).melalui (2,5) dan m = 3
y 5 = 3(x 2 )
y 5 = 3x 6
y = 3x 6 +5
y = 3x -1
Titik Potong terhadapa sumbu X yaitu jika y = 0, maka diperoleh
y = 3x -1
0 = 3x -1
0 + 1 = 3x -1 + 1 (kedua ruas ditambah dengan 1)
1 = 3x + 0 (invers penjumlahan)
3x = 1 ( sifat komutatif penjumlahan)
x =
3
1

Titik Potong terhadapa sumbu Y yaitu jika x = 0, maka diperoleh
y = 3x -1
y = 3.0 - 1
y = 0 + 1 (invers perkalian)
y = 1 (identitas penjumlahan)

25

(2,0)
(0,5)
(
3
1
,0)
(0,-1)

gambar : 5 (2,5)
4
3
2
1
0 1 2 3 4
-1

2. Menentukan Gradien Garis dengan Persamaan Berbentuk
ax + by + c = 0
Untuk menentukan gradien garis dengan persamaan ax + by + c = 0,
maka terlebih dahulu persamaan tersebut diubah dalam bentuk yang
lainnya yaitu y = mx + c, sehingga gradien garis tersebut dapat
ditentukan yaitu m
Contoh :
Tentukan gradien garis dengan persamaan 3x 5y + 20 = 0.
Jawab :
3x 5y + 20 = 0
3x + 20 = 5y (kedua ruas ditambah dengan 5y)
5y = 3x + 20 (sifat komutatif penjumlahan)
y = 4
5
3
+ x (kedua ruas dibagi 5)
26

dari persamaan garis tersebut dapat diketahui bahwa gradiennya adalah
5
3
.
3. Menentukan Gradien Suatu Garis yang Melalui Dua Titik
Gradien garis yang melalui titik m
AB
=
1 2
1 2
x x
y y


Contoh :
Tentukan gradien garis yang melalui titik (2,2) dan (6,7).
Jawab :
m =
2 6
2 7


m =
4
5

4. Menentukan Persamaan Garis yang Melalui Sebuah Titik dan Sejajar
Garis Lain
Persamaan garis yang melalui titik (a,b) dan sejajar dengan garis yang
persamaannya y = mx + c adalah y b = m(x a)
Contoh :
Tentukan persamaan garis yang melalui titik (4,5) dan sejajar garis
y = 3x + 5, kemudian gambarlah dalam bidang Cartesius!
Jawab :
Gradien garis y = 3x + 5 adalah m = 3, sehingga dapat ditentukan
persamaan garis baru yang melaluli titik (4,5) dan sejajar dengan garis
tersebut yaitu :
27

(
3
7 ,0)
(
3
5
,0)
(4,0)
y b = m(x a)
y 5 = 3(x 4)
y 5 = 3x 12 y = 3x 7
gambar dari kedua garis tersebut dalam bidang Cartesius adalah:
y = 3x + 5
6
5 (0,5) (4,5)
4
3
2
1 y = 3x 7
-2 -1 0 1 2 3 4 5 6
5. Menentukan Persamaan Garis yang Melalui Sebuah Titik dan Tegak
Lurus Garis Lain.
Persamaan garis yang melalui titik (a,b) dan tegak lurus garis dengan
persamaan y = mx + c adalah y b = ) (
1
a x
m

Contoh :
Tentukan persamaan garis yang melalui titik (3,5) dan tegak lurus garis
y = 4x + 5. Kemudian gambarlah kedua garis tersebut pada bidang
Cartesius.
Jawab :
28

(3,0)
(0,5)
(
4
5
,0)
Gradien garis y = 4x + 5 adalah m
1
= 4, maka gradien garis yang tegak
lurus terhadap garis y = 4x + 5 adalah
m
1
.m
2
= -1
4.m
2
= -1

4
1
2 = m
Jadi persamaan garis yang melalui titik (3,5) dan tegak lurus garis
dengan persamaan y = 4x + 5 adalah
y 5 = ) 3 (
4
1
x
y 5 = -
4
3
4
1
+ x
y =
4
23
4
1
+ x
4y + x 23 = 0
Gambar kedua garis tersebut dalam bidang Cartesius adalah :
7 y = 4x + 5
6
5 (3,5)
4 4y + x 23 = 0
3
2
1
0 1 2 3 4 5
29

IV. Menentukan Titik Potong Dua Buah Garis
Jika y
1
= a
1
x + b
1
dan y
2
= a
2
x + b
2
adalah persamaan dua garis yang tidak
sejajar maka titik potongnya dapat dicari dengan menyelesaikan
persamaan a
1
x + b
1
= a
2
x + b
2
, kemudian mensubtitusikan x ke salah satu
persamaan garis itu.
Contoh :
Tentukan titik potong garis y = 3x + 5 dan y = x 7
Titik potong kedua garis tersebut dapat ditentukan dengan menyelesaikan
persamaan berikut:
3x + 5 = x 7
3x x = (-7)- 5
2x = -12
x = -12/2
x = -6
dengan mensubtitusikan nilai x = -6 ke salah satu persamaan garis
tersebut, misalnya y = x 7 maka akan diperoleh nilai y yaitu :
y = x 7
y = (-6) 7
y = -13.
Jadi titik potong dari kedua persamaan garis tersebut adalah (-6,-13).
V. Penerapan Konsep Persamaan Garis Lurus dalam Kehidupan
Konsep persamaan garis lurus dapat digunakan untuk menyelesaikan
maslah-masalah perhitungan yang sering kita jumpai dalam kehidupan
30

sehari-hari. Konsep yang akan diterapkan adalah konsep titik potong dari
dua garis.
Contoh :
Rosy membeli 3 celan dan 2 baju dengan harga Rp. 280.000,00.
Adi membeli 1 celana dan 3 baju dengan harga Rp. 210.000,00. Celana
dan baju yang dibeli oleh Rosy dan Adi jenisnya sama, berapa jumlah
harga 2 celana dan 2 baju?
Jawab :
Misalkan harga sebuah celana adalah x dan harga sebuah baju adalah y.
dengan demikian kita dapat membentuk persamaan baru dalam bentuk x
dan y sebagai berikut:
3x + 2y = 280.000
x + 3y = 210.000
nilai x dan y dapat dicari dengan cara menentukan titik potong garis
3x + 2y = 280.000 dan x + 3y = 210.000.
x + 3y = 210.000
3y = 210.000 x
y = 70.000 - x
3
1
(1)
3x + 2y = 280.000
2y = 280.000 3x
y = 140.000 - x
2
3
..(2)
31

dari persamaan (1) dan (2) akan dicari titik potongnya dengan cara berikut:
70.000 - x x
2
3
00 . 140
3
1
=
000 . 70 000 . 140
6
7
= x
000 . 70
6
7
= x
x = 60.000
jadi harga sebuah celana (x) adalah Rp. 60.000,00
Dengan memasukkan nilai x = 60.000 ke persamaan (1) atau (2) maka
akan diperoleh :
y = 70.000 - x
3
1

y = 70.000 - ) 000 . 60 (
3
1

y = 70.000 20.000
y = 50.000
harga sebuah baju (y) adalah Rp. 50.000,00
jadi harga 2 celana dan baju dapat dihitung sebagai berikut :
2 x Rp. 60.000,00 + 2 x Rp. 50.000,00 = Rp. 220.000,00
B. Penelitian Yang Relevan
Berdasarkan pengalaman peneliti selama ini masih banyak di jumpai
nilai atau prestasi belajar matematika siswa kurang memuaskan artinya
nilainya relatif rendah.
32

Adapun penelitian yang relevan yang mendukung penelitian ini adalah
penelitian yang dilakukan oleh Bambang Subagyo (2008) untuk mengetahui
bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif melalui metode
penemuan pada pokok bahasan teorema pythagoras pada siswa kelas VIII
SMP Negeri 3 Sikur tahun pelajaran 2007/2008. Penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa proses pembelajaran melalui metode penemuan dapat
meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa, ini dilihat dari peningkatan
rata-rata skor nilai hasil evaluasi siswa pada masing-maing siklus yaitu: siklus
I rata-rata adalah 6,23 dan siklus II rata-rata adalah 7,21.
Penelitian relevan lainnya juga pernah dilakukan oleh L. Asroruddin
(2006) untuk mengetahui bagaimana penerapan model pembelajaran
kooperatif complex instructions pada pokok bahasan trigonometri di SMA
Negeri 1 Selong kelas X-5 tahun pembelajaran 2005/2006. Penelitian tersebut
menyimpulkan bahwa metode complex instructions dapat meningkatkan
aktivitas dan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan
rata-rata skor hasil evaluasi dan rata-rata skor aktivitas siswa. Pada siklus II
rata-rata skor evaluasi 59,95 dan rata-rata aktivitas siswa 10,56 kemudian
mengalami peningkatan pada siklus III yaitu rata-rata hasil evaluasi 77,17
dan rata-rata skor aktivitas siswa 14,2.
Penelitian lainnya yang relevan adalah yang dilakukan oleh Hayatun
Nufus untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan penerapan model
pembelajaran Kooperatif tipe STAD pada materi sistem persamaan linier dua
variabel siswa kelas VIII A MTs Muallimat NW Kelayu tahun pembelajaran
33

2008/2009. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif
tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Hal ini
dapat dilihat dari peningkatan rata-rata skor hasil evaluasi dan rata-rata skor
aktivitas siswa. Pada siklus II rata-rata skor evaluasi 65,55 dan rata-rata
aktivitas siswa 9,75 kemudian mengalami peningkatan pada siklus III yaitu
rata-rata hasil evaluasi 77,57 dan rata-rata skor aktivitas siswa 12,25.
C. Kerangka Pikir
Dalam proses belajar mengajar matematika tentu tidak terlepas dari
suatu metode pembelajaran, oleh karena itu sudah menjadi tuntutan supaya
guru harus dapat memilih metode yang tepat agar tidak asal mengajar. Metode
mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar.
Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik akan ditentukan oleh
kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam pembelajaran
matematika khususnya pada materi persamaan garis lurus, perlu adanya
ketepanan pengggunaan metode pembelajaran yang dipilih oleh guru agar
siswa berperan aktif melalui interaksi antar sesama siswa dalam memahami
materi dan menemukan pemecahan masalah. Hal ini dapat dimungkinkan
melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dengan menggunakan lembar
kerja siswa diberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam mengolah
informasi sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan
strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif dan bekerja sama untuk
memahami materi pembelajaran. Dimana struktur tujuan kooperatif
34

menciptakan situasi yaitu kelompok dapat mencapai tujuannya hanya apabila
semua anggota kelompok itu berhasil mencapai tujuannya. Oleh karena itu
anggota kelompok harus saling membantu dan mendorong untuk mencapai
tujuan masing-masing dalam hal ini penguasaan terhadap materi
pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini dapat lebih mengaktifkan siswa
dalam proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam memahami materi
pembelajaran khususnya pada materi persamaan garis lurus dimana siswa
dituntut lebih banyak peran aktif dan kerja sama dalam menyelesaikan materi
tersebut.
Jika kondisi ini terjadi, maka dapat diduga bahwa dengan menerapakan
pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai pengaruh terhadap hasil
belajar siswa pada materi persamaan garis lurus.
D. Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah suatu anggapan sementara yang masih dibuktikan lagi
kebenarannya melalui penelitian, atau suatu dugaan sementara yang mungkin
benar dan mungkin juga salah. Hipotesis dari penelitian ini adalah Terdapat
pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil
belajar siswa pada materi persamaan garis lurus kelas VIII MTs. Muallimat
NW Kelayu tahun pembelajaran 2010/2011.
35

BAB III
METODE PENELITIAN



A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTs. Muallimat NW Kelayu dengan
melibatkan siswa kelas VIII yang berjumlah 37 orang pada semester I Tahun
Pembelajaran 2010/2011.
B. Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen. Desain penelitian yang digunakan yaitu dengan menggunakan
Pre-experimental design, dimana tidak terdapat kelas kontrol (Sugiyono,
2008:110). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan satu kelas yaitu kelas
VIII yang terdiri dari 37 siswa yang diberikan perlakuan (pembelajaran
kooperatif) kemudian dilihat hasilnya.
C. Populasi Penelitian dan Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian
Apabila seorang peneliti ingin meneliti semua elemen yang ada dalam
wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi
(Suharsimi Arikunto, 2006:50)
Berdasarkan pendapat di atas maka yang akan menjadi populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTs. Muallimat NW Kelayu
yang mengikuti kegiatan pembelajaran pada tahun pembelajaran 2010/2011.
Kelas VIII terdiri dari satu kelas dengan siswa berjumlah 37 orang.
36

Tabel 04
Keadaan Populasi siswa di MTs. Muallimat NW Kelayu
Tahun Pembelajaran 2010/2011
Kelas Banyak Siswa
VIII

37
Jumlah 37

2. Sampel Penelitian
Dalam penelitian pendidikan subyek yang dikenai penelitian biasanya
dikenai tahap sampel. Sampel merupakan bagian dari polpulasi. Sehubungan
dengan ini salah satu pendapat menyatakan bahwa: Jika kita hanya akan
meneliti sebagian dari populasi maka dissebut penelitian sampel. Sampel
adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti (Suharsimi
Arikunto, 2006:92)
Salah satu dari sampel yang baik adalah bahwa sampel itu harus
mencerminkan seluruh populasi. Untuk memenuhi syarat ini, harus
diperhatikan prosedur atau teknik pengambilan sampel.
Karena penelitian ini merupakan penelitian populasi maka pada
penelitian ini sampel yang akan digunakan adalah kelas VIII yang tersedia
yaitu sebanyak 37 orang siswa.
Tabel 05.
Ukuran Sampel Penelitian di MTs. Muallimat NW Kelayu
Kelas Sampel
VIII

37
Jumlah 37


37

D. Desain Penelitian
Desain atau rancangan penelitian ini menggunakan model One-Shot Case
Study yang digambarkan sebagai berikut :


Keterangan :
X : Pembelajaran Kooperatif tipe STAD
Y : Hasil Belajar Siswa
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengambilan data yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah melalui pemberian tes hasil belajar baik pada kelas siswa. Tes
berbentuk soal pilihan ganda dengan 4 alternatif pilihan dengan jumlah soal
20 soal.
1. Identifikasi Variabel.
Variabel dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi
objek pengamatan penelitian (Sumadi Suryabrata, 1980:79). Untuk
mendapatkan gambaran yang jelas mengenai penelitian ini perlu diadakan
identifikasi.
Adapun dua jenis variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan
variabel terikat. Berdasarkan dengan hal ini dapat dijelaskan bahwa: variabel
yang mempengaruhi (Penyebab) disebut variabel bebas atau indevendent
variable (X), sedangkan variabel yang akibat tergantung atau variabel tidak
X Y
38

bebas disebut variabel terikat atau dependent variabel (Y)
(Suharsimi Arikunto, 1985:82)
a. Variabel bebas ( independent variabel)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono,
2006:3). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran
kooperatif tipe STAD yang diberikan pada kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol.
b. Variabel terikat ( Dependent Variabel)
Variabel terikat adalah merupakan variabel yang dipengaruhi atau
yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2006:3).
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa.
2. Definisi Operasional Variabel
Ridwan, (1994:43) menjelaskan bahwa: suatu definisi operasional
merupakan spesifikasi penelitian dalam mengukur suatu varibel atau
manipulasinya. Suatu definisi operasional merupakan semacam buku
pegangan yang berisi petunjuk bagi peneliti. Dengan demikian definisi
operasional berbunyi kerjakan ini dan itu dengan cara begini dan begitu.
yang perlu dijelaskan dalam operasional variabel ini adalah :
a. Hasil Belajar matematika Siswa
Hasil belajar matematika siswa yang dimaksud dalam penelitian
ini adalah nilai yang dipeoleh dari hasil pengukuran tes pretasi belajar
matematika siswa mengembangkan aspek-aspek kognitif, afektif dan
39

psikomotor dari materi materi persamaan garis lurus . Data yang
diperoleh dari kelompok eksperimen maupun dari kelompok
pembanding dengan bersekala interval.
b. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah berupa kegiatan belajar mengajar dalam
menyampaikan materi materi persamaan garis lurus, dengan
memberikan masalah atau pertanyaan kepada siswa kemudian dicari
pemecahan masalahnya melalui pembelajaran Kooperatif tipe STAD.
3. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian dapat diartikan sebagai alat yang digunakan
oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaan menjadi lebih
mudah dan hasilnya lebih baik.
a. Jenis Instrumen
Jenis instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data pada
penelitian ini adalah berupa angket/kuesioner dan tes tulis pilihan
ganda.
Angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti
laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya.
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang
digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegens,
kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
40

Jenis tes yang digunakan adalah tes objektif dalam bentuk pilihan
ganda. Soal objektif memiliki empat pilihan jawaban, dari keempat
jawaban tersebut hanya ada satu jawaban yang benar.
b. Kisi-kisi Instrumen
Kisi-kisi merupakan rancangan penyusunan instrumen yang dijadikan
acuan dalam menyusun istrumen yang baik.
i. Kisi-kisi instrumen tes

Tabel 06
Kisi-kisi Instrumen Tes
No SK/KD Indikator
Jumlah
soal
1. 1.Memahami bentuk
aljabar, relasi,fungsi,
dan persamaan garis
lurus
1.1. 1.6 Menentu kan
gradien,
persamaan garis
lurus
1. Mengenal pengertian garis
lurus dan menentukan
gradiennya dalam
berbagai bentuk
2. Menentukan persamaan
garis lurus yang melalui
dua titik, melalui satu titik
dengan gradien tertentu
3. Menggambar garfik garis
lurus
4. Memecahkan
permasalahan sehari-hari
yang berkaitan dengan
persamaan garis lurus
6

6

4
4
ii. Kisi-kisi instrumen Angket

Tabel 07
Kisi-kisi Instrumen Angket
No Aspek Indikator
Jumlah
Soal
1. Persepsi Siswa 1. Perasaan dengan metode yang
diterapkan
2. Keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran
3. Kemudahan memahami materi
5
5
5
41

( )( )
( ) ( ) ( ) ( )
2
2
2
2


=
y y N x x N
y x xy N
r
xy
Untuk mendapatkan soal yang baik sebelum tes dilaksanakan
dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, derajat
kesukaran, dan daya pembeda dari tes tersebut.
1. Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkattingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 2006:
168). Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk
mendapatkan data itu valid. Dengan menggunakan instrumen yang valid
dalam pengambilan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi
valid pula. Untuk mengetahui validitas instrumen berbentuk tes, peneliti
menggunakan rumus angka kasar sebagai berikut:


(Suharsimi Arikunto, 2006: 170)
Keterangan:
x = skor item
y = skor total
N = cacah subyek
r
xy
= angka validitas item
Kriteria harga r
xy
adalah item tes dikatakan valid jika r
xy-obs >
r
xy-tabel
pada
taraf signifikasi 5%.

42

(

=
t
t
V
pq V
k
k
r
1
11
Sesuai dengan hasil perhitungan yang telah dilakukan maka dapat
disajikan hasil dari uji validitas instrumen seperti tampak pada tabel
beriktu ini :
Tabel 08
Hasil Uji Validitas Instrumen Tes dan Angket Persepsi Siswa
NO Konstruk
Banyak Soal No. Soal
Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid
1 Hasil Belajar 20 - 1 s/d 20 -
2 Persepsi Siswa 15 - 1 s/d 15 -
2. Uji Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa instrumen yang
disusun dapat dipercaya sebagai alat pengumpul data, instrumen memiliki
keajegan dalam menilai apa yang dinilainya. Artinya kapanpun digunakan,
akan memberikan hasil yang relatif sama. Untuk mengukur reliabilitas
instrumen peneliti menggunakan rumus K-R 20 (KuderRicardson) yaitu
sebagai berikut:
(Suharsimi Arikunto, 2006: 188)
Keterangan:
11
r = reliabilitas
k = banyaknya item
t
V = varians total
p = proporsi subyek yang menjawab betul
q = proporsi subyek yang menjawab salah
pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q
43

Reliabilitas instrument berbentuk angket dapat dicari dengan
rumus alfa karena instrumen yang digunakan skornya bukan 1 atau 0
(Suharsimi Arikunto, 2003 : 109).
Rumusnya :
( )
|
|

\
|

|
|

\
|

=

2
2
1
11
1
1
t
n
n
R


Keterangan :
R
11
= Reabilitas Instrumen
n = Banyaknya soal

2
1
= Jumlah Varians butir
2
t
= Varians total
Kriteria reliabilitas adalah:
0<
11
r <0,19 : sangat rendah
0,20<
11
r <0,38 : rendah

0,39<
11
r <0,58 : cukup
0,59<
11
r <0,78 : tinggi
0,79<
11
r <1,00 : sangat tinggi
Berdasarkan hasil analisis dapat dilihat bahwa nilai r
hitung
sebesar 0,72
lebih besar dari nilai r
tabel
sebesar 0,32 sehingga instrumen tes dapat
dikatakan reliabel. Selain itu nilai R
11
untuk instrumen berbentuk angket
44

diperoleh nilai sebesar 0,91 lebih besar dari r
tabel
sebesar 0,32 sehingga
instrumen angket tentang persepsi siswa juga dinyatakan reliabel
3. Derajat Kesukaran (DK)
Soal yang baik adalah soal yang mempunyai derajat kesukaran memadai
dalam arti tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Untuk mengukur
derajat kesukaran soal digunakan rumus sebagai berikut:
DK =
s
J
B

Keterangan:
DK = Derajat kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab dengan betul
J
s
= Jumlah seluruh peserta
Menurut ketentuan indeks kesukaran dari hasil tes diperoleh:
Soal sukar jika 0,00

DK < 0,30
Soal sedang jika 0,30

DK < 0,70
Soal mudah jika 0,70 DK 1,00
Ringkasan hasil perhitungan terhadap uji derajat kesukaran tes disajikan
dalam tabel berikut :
Tabel 09
Hasil Uji Derajat Kesukaran Tes Materi Persamaan Garis Lurus
No Konstruk
Kriteria
Jumlah Soal
Sukar Sedang Mudah
1 Hasil Belajar - 11 9 20

45

4. Daya Pembeda
Daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu
membedakan siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai
berdasarkan kriteria tertentu. Untuk mengetahui daya pembeda dari
masing-masing item soal digunakan rumus:
DP =
B
B
A
A
J
B
J
B

Keterangan:
DP = Daya pembeda
J
A
= Banyaknya peserta kelompok atas (27%)
J
B
= Banyaknya peserta kelompok bawah (27%)
B
A
= Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan
benar
B
B
= Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal
dengan benar
Adapun klasifikasi untuk daya beda adalah sebagai berikut:
0,00 < DP< 0,20 : Kurang
0,20 < DP < 0,40 : Cukup
0,40 < DP < 0,70 : Baik
0,70 < DP < 1,00 : Baik Sekali
DP = negatif, semuanya tidak baik
46

Sesuai dengan hasil analisis maka dapat ditunjukkan ringkasan hasil
perhitungan daya beda masing-masing soal seperti terlihat pada tabel
berikut :
Tabel 10
Ringkasan Hasil Perhitungan Daya Pembeda Instrumen
No Konstruk
Kriteria
Jumlah Soal
Baik Sekali Baik Cukup Kurang
1 Hasil Belajar 2 14 4 - 20

F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan teknik statistik, baik statistik deskriptif maupun statistik
informal yang menggunakan statistik parametrik. Analisis data akan
dilakukan melalui tiga tahapan yaitu uji normalitas, uji linieritas dan uji
hipotesis.
1. Uji Prasyarat Analisis
a. Uji Normalitas
Uji normalitas data ditujukan untuk mengetahui apakah data yang akan
diolah tersebut sudah berdistribusi normal atau tidak Uji normalitas
dilakukan dengan menggunakan metode uji chi-kuadrat, dengan
hipotesis sebagai berikut:
1) Hipotesis
H
o
= Sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal
H
I
= Sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
47

Untuk pengujian hipotesis digunakan rumus:
( )

=
k
i
fe
fe fo
1
2
2

Keterangan :
2
= chi-kuadrat
fe = frekuensi yang diharapkan
fo = frekuensi hasil pengamatan
k = jumlah kelas
2) Taraf signifikasi
= Taraf signifikasi 5%
3) Keputusan uji

2

hitung

tabel
maka H
o
diterima dan H
I
ditolak
2

hitung <
2

tabel
maka H
o
ditolak dan H
I
diterima
b. Uji linieritas
Menurut Sugiyono (2007:265) linieritas adalah keadaan dimana
hubungn antara variabel dependen dengan variabel independent bersifat
linier dalam range varibel independen tertentu. Uji linieritas dilakukan
dengan rumus pada analisis varians regresi linier sederhana. Uji linieritas
bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh membentuk garis
yang linier atau tidak.

Rumus-rumus yang digunakan dalam uji liniearitas adalah:
48

JK(T) = Y
2

JK(A) =
( )
n
y
2


JK(b/a)=
( )( )


n
y x
xy b
=
( )( ) [ ]
( ) [ ]
2
2
2

x x n n
y x xy n

JK(S)= ( ) ( )
|

\
|

a
b
JK a JK T JK
JK(TC)=
( )

xi i
n
y
y
2
2

JK(G)= JK(S)-J(TC)

Keterangan:
JK(T) = jumlah kuadrat total
JK(a) = jumlah kuadrat koefisien a
JK(b/a) = jumlah kuadrat regresi (b/a)
JK(S) = jumlah kuadrat sisa
JK(TC) = jumlah kuadrat tuna cocok
JK(G) = jumlah kuadrat galat



49

Tabel 11
Daptar Analisis Varians (Anava) Regresi Linier Sederhana
Sumber varians dk jk KT F
Total n Y
2
Y
2

Koefisien (a)
Regresi (b/a)
Sisa
1
1
n-2
JK(a)
JK(b/a)
JK(S)

JK(a)
=
2
reg
s JK(b/a)
( )
2
2

=
n
S JK
s
sis


2
2
sis
reg
s
s

Tuna cocok


Galat
k-2


n-k
( ) TC JK


( ) G JK
( )
2
2

=
k
TC JK
s
TC


( )
k n
G JK
s
G

=
2


2
2
G
tc
s
S

Untuk menguji linieritas data dilakukan dengan rumus berikut :
F =
2
2
sis
reg
s
s
, dengan kriteria keputusan adalah, jika F
hitung
< F
tabel
untuk tarap
signifikan 5% maka regresi linier.
G. Uji hipotesis
Setelah melakukan uji liniearitas, maka dapat dilakukan pengujian
hipotesis. Uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis yaitu
regresi linier sederhana. Regresi sederhana didasarkan pada hubungan
fungsional ataupun kausal satu variabel independen dengan satu varibel
dependen persamaan umum regresi linier sederhana adalah :
bX a Y + =
Keterangan :
Y = Subyek dalam variabel dependen yang diperediksikan
a = Harga Y ketika harga X=0 (harga konstan)
b

= Angka arah atau koefisien regresi
50

2
2
sis
reg
s
s
X

= Subyek pada variabel independen yang mempunyai nilai
tertentu.
(Sugiyono, 2007:261).
Untuk mencari nilai a dan b dapat digunakan rumus sebagai berikut:
a =
( )( ) ( )( )
( )

2
2
2
Xi Xi n
Yi Xi Xi Xi Yi

b =
( )( )
( )

2
2
Xi Xi n
Yi Xi Yi Xi n

Selanjutnya akan diuji keberartian koefisien regresi a dan b dengan rumus
sebagai berikut :
F =
Dengan kriteria jika F
hitung
(regresi) > F
tabel
pada taraf signifikan
5%, maka harga F
hitung
(regresi) signifikan, sehingga koefisien regresi
dikatakan berarti.
Untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel
terikat dapat dicari dengan rumus korelasi sebagai berikut:
r =
( )( )
( ) ( ) ( ) ( )


2
2
2
2
Yi Yi n Xi Xi n
Yi Xi Yi Xi n

Setelah diperoleh harga r
xy
kemudian dikonsultasikan dengan harga r

dengan interval kepercayaan 5%, jika r
xy
r
tabel
berarti terdapat hubungan
antara variabel bebas dan variabel terikat. Artinya terdapat pengaruh yang
signifikan dari metode pembelajaran yang diterapkan terhadap hasil belajar
siswa.
51

Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa
materi persamaan garis lurus kelas VIII MTs. Muallimat NW
Kelayu Tahun Pembelajaran 2010/2011.
Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan dari penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa
materi persamaan garis lurus kelas VIII MTs. Muallimat NW
Kelayu Tahun Pembelajaran 2010/2011.



















52

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN
1. Deskripsi Data
Data penelitian ini diambil dari hasil tes pada materi persamaan garis
lurus dan hasil angket tentang persepsi siswa terhadap penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dari data yang sudah terkumpul
diperoleh skor terendah dari hasil tes adalah adalah 35 dan skor tertinggi
adalah 95. Sedangkan skor terendah dari data berbentuk angket adalah 59
dan skor tertinggi adalah 96, sehingga dari perhitungan yang dilakukan
terhadap data tersebut didapat nilai rata-rata (Mean) dari hasil tes adalah
69, 73 dan standar deviasinya (SD) adalah 19,03. Sedangkan dari hasil
angket diperoleh nilai rata-ratanya adalah 77, 11 dan standar deviasinya
(SD) adalah 11, 97.
Berdasarkan data tersebut dicari mean ideal (Mi) dan standar deviasi
ideal (Sdi) untuk dapat menentukan kategori dari data tersebut. Rata-rata
ideal (Mi) dan standar deviasi ideal (Sdi) dari hasil tes dan angket dapat
dicari dengan menggunakan rumus seperti berikut ini :
Rata-rata idealnya (Mi) =
2
1
(100 + 0) = 50
Standar deviasi ideal (Sdi) =
6
1
(100 - 0) = 16,66

53

Dengan demikian dapat dibuat kategori untuk hasil tes .
Mi +1.Sdi s/d Mi + 3Sdi Kategori tinggi
50 + 1.16,66 s/d 50 + 50
66,66 s/d 100
Mi - 1.Sdi s/d < Mi + 1Sdi Kategori sedang
50 - 1.16,66 s/d < 50 + 1.16,66
33,34 s/d < 66,66
Mi - 3Sdi s/d < Mi - 1Sdi Kategori Rendah
50 3.16,66 s/d < 50 1.8,33
0,00 s/d < 33,34
Dengan memperhatikan rata-rata dari hasil tes terhadap siswa yaitu
69,73 dan hasil angket dengan rata-rata 77,11 menunjukkan bahwa
keduanya termasuk kategori tinggi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 12
Ringkasan Hasil Uji Coba Instrumen
Jenis Data
Statistik
Kategori
N mak N min
Mean (x) SD
Tes 95 35 69,73 19,03 Tinggi
Angket 96 59 77, 11 11, 97 Tinggi

2. Uji Persyaratan Analisis Data
a. Uji Normalitas Data
Pembuktian normalitas data dilakukan untuk menguji apakah
skor dalam variabel-variabel yang diteliti harus berdistribusi normal atau
tidak. Untuk menganalisa datanya digunakan rumus Chi kuadrat (
2
).
Hasil perhitungan (
2
) yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan
54

nilai
2
tabel dengaan interval kepercayaan 5% dan derajat kebebasan
(k-1), dimana k adalah banyaknya kelas interval dan kririteria yang
digunakan adalah sebagai berikut: jika
2
hitung <
2
tabel artinya data
dinyatakan normal, sebaliknya jika
2
hitung
2
tabel dengan taraf
signifikansi 5% maka hipotesis normalitas ditolak artinya data tidak
berdistribusi normal, lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 13
Hasil perhitungan statistik normalitas data hasil tes dan angket
Jenis Data
Statistik
Keputusan
2
hitung
2
tabel
Tes 8, 31 11, 1 Normal
Angket 10,19 11, 1 Normal

Berdasarkan tabel di atas menunjukkkan bahwa harga

2
hitung
<
2
tabel
sehingga data hasil pengukuran baik berbentuk tes atau
angket dapat dinyatakan berdistribusi normal.


b. Uji Linieritas data
Uji Linieritas data dapat dilakukan untuk mengetahui apakah data
tersebut bersifat linier atau tidak supaya dapat dilakukan uji selanjutnya
yaitu uji regresi untuk pengujian hipotesis.
Untuk menganalisa datanya digunakan rumus pada analisis
varians (ANAVA) regresi linier sederhana yaitu F =
2
2
G
tc
s
S
dengan kriteria
jika nilai F
hitung
< F
tabel
maka data tersebut dikatakan linier. Dari hasil
perhitungan yang dilakukan diperoleh nilai F
hitung
= 1,32 hasil ini
55

kemudian dikonsultasikan dengan nilai Ft
abel
pada taraf signifikansi 5%
dengan dk pembilang k-2 = 25 dan dk penyebut n-k = 10 sehingga
diperoleh harga F
tabel
= 2,75, karena F
hitung
< F
tabel
(1,32< 2,75)

maka data
tersebut dikatakan linier.
c. Pengujian Hipotesis
Karena persyaratan analisis telah selesai diuji maka selanjutnya
dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan rumus regresi. Dari hasil
analisis diperoleh koefisien untuk persamaan regresi yaitu a = 22,02 dan
b = 0,61. Selanjutnya akan dilakukan pengujian terhadap keberartian
koefisien a dan b menggunakan ANAVA Regresi Linier Sederhana dengan
persamaan F =
2
2
sis
reg
s
s
dengan kriteria jika F
hitung
> F
tabel
pada taraf
signifikan 5% dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut n-2 = 35 maka
koefisien regresi tersebut dikatakan berarti. Dari hasil perhitungan
diperoleh nilai F
hitung
= 6,91 kemudian nilai tersebut dikonsultasikan
dengan nilai F
tabel
= 4,12. Dengan demikian dapat dilihat bahwa 6,91 >
4,12 (F
hitung
>F
tabel
) sehingga koefisien regresi tersebut dinyatakan berarti.
Dengan demikian dapat dibuat persamaan regresinya sebagai berikut :
= 22, 39 + 0,61X. Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan bahwa
menunjukkan nilai hasil belajar yang diperoleh dengan penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD, angka 22,39 adalah fungsi dari
koefisien regresi menunjukkan nilai konstanta yang merupakan nilai daya
prediksi atau ramalan terhadap nilai hasil belajar (), angka 0,61
56

menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa sebesar 61% sebagai akibat
dari penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sedangkan X
menunjukkan persepsi siswa terhadap penerapan model pembelajaran
tersebut. Dengan demikian persamaan tersebut dapat ditafsirkan bahwa
peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dilihat dari persepsi siswa adalah sebesar 61%
dengan daya prediksi sebesar 22,09.
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara
kedua variabel dilakukan analisis dengan menggunakan rumus korelasi (r)
product moment. Dari hasil analisis tersebut diperoleh harga r
hitung
= 0,41
yang selanjutnya hasil analisis ini dikonsultasikan dengan nilai r
tabel
pada
taraf signifikansi 5% diperoleh harga r
tabel
= 0, 32. Karena r
hitung
> r
tabel

pada taraf signifikansi 5% maka sesuai dengan persyaratan pengujian
hipotesis yang dibahas pada bab sebelumnya maka Ho ditolak dan Ha
diterima artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap prestasi belajar siswa pada
materi persamaan garis lurus siswa kelas VIII MTs. Muallimat NW
Kelayu Tahun Pembelajaran 2010/2011.
B. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Strategi pembelajaran yang baik adalah ketika tercipta suasana
pembelajaran yang kondusif bagi tercapainya tujuan pendidikan. Selain itu,
strategi pembelajaran juga harus memperhitungkan semua kondisi siswa, baik
itu keadaan internal maupun eksternal siswa. Model pembelajaran kooperatif
57

tipe STAD mengambil model dari masyarakat, terutama mengenai mekanisme
sosial yang ada pada masyarakat yang biasa dilakukan melalui kesepakatan
bersama.
Selama proses penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
pada siswa kelas VIII MTs. Muallimat NW Kelayu, peneliti dapat melihat
secara langsung kondisi ruangan kelas yang cukup kondusif, tenang, dan
nyaman. Sebagian besar siswa kelihatan aktif mengikuti proses pembelajaran,
walaupun masih ada sebagian kecil dari siswa yang kurang memberikan
respon positif ketika proses pembelajaran berlangsung, masih nampak ada
siswa yang kurang memperhatikan kelompok lain ketika sedang
menyampaikan hasil diskusinya. Hal ini nampak ketika diskusi sedang
berjalan, sebagian besar siswa begitu aktif dalam bediskusi, saling bertanya
dan bekerja sama dalam kelompok dan antar anggota cukup kelihatan. Di sisi
lain ada sebagian kecil siswa yang kadang membuat suasan kelas menjadi
ribut dan menyebabkan siswa lain terganggu. Walaupun demikian masih dapat
dikatakan bahwa proses pembelajaran berjalan lancar.
Dari hasil penelitian ternyata setelah penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD menunjukkan bahwa kualitas hasil belajar matematika
siswa pada materi persmaan garis lurus termasuk kategori tinggi. Hal ini
terlihat dari analisis hasil tes yang menunjukkan kategori yang tinggi. Sejalan
dengan itu dari hasil angket yang telah diberikan menunjukkan bahwa tingkat
persepsi siswa terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
termasuk kategori tinggi. Dengan demikian dapat dikatakan terdapat
58

pengaruh yang signifikan antara penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD terhadap hasil belajar siswa pada materi persamaan garis lurus
kelas VIII MTs. Muallimat NW Kelayu tahun pembelajaran 2010/2011.
Setelah penerapan pembelajaran kooperatif peserta didik menjadi lebih aktif
dan lebih termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran. Dari hasil angket
yang diberikan kepada masing-masing responden menunjukkan bahwa
sebagian besar siswa merasa lebih senang dan nyaman ketika mengikuti
proses pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Siswa lebih
aktif dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga diskusi menjadi lebih
hidup. Dari hasil tes yang diberikan kepada siswa menunjukkan nilai yang
memuaskan, sebagian besar siswa memperoleh nilai di atas standar kriteria
ketuntasan yang telah ditetapkan.
Sesuai dengan hipotesis alternatif yang diajukan dan didukung oleh hasil
analisis data, dimana nilai r
hitung
> r
tabel
yaitu 0,41 > 0,32 sehingga hipotesis
yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang siginifikan dari penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa materi
persamaan garis lurus kelas VIII MTs. Muallimat NW Kelayu Tahun
Pembelajaran 2010/2011 dapat dibuktikan dan dapat diterima. Hal ini juga
sesuai dengan teori yang diajukan pada bab sebelumnya (Ibrahim,dkk, 2000:7)
yang mengatakan tujuan penting pembelajaran kooperatif adalah untuk
meningkatkan kemampuan individu dalam bidang akademik, penerimaan
terhadap adanya keragaman individu dan mengembangkan keterampilan
sosial
59

Walaupun demikian, berhasil tidaknya suatu kegiatan pembelajaran
yang dalam hal ini kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model
kooperatif tipe STAD, itu tidak terlepas dari beberapa faktor yang
mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu kegiatan pembelajaran. Faktor-
faktor tersebut antara lain adalah siswa, guru, ketersediaan alat bantu/peraga,
dan kondisi lingkungan sekolah. Faktor-faktor tersebut saling mendukung dan
mempengaruhi terhadap tingkat keberhasilan suatu metode ataupun model
pembelajaran. Berhasil tidaknya model pembelajaran dapat dilihat dari hasil
belajar yang diperoleh siswa. Semakin tinggi hasil yang diperoleh siswa maka
tingkat keberhasilan suatu model pembelajaran tersebut semakin tinggi pula.

























60

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN




A. SIMPULAN
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang dikemukakan di atas, maka
peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD di Madrasah Tsanawiyah Muallimat NW Kelayu ini
menyebabkan siswa lebih aktif dan lebih nyaman dalam mengikuti proses
pembelajaran matematika, hal ini dapat dilihat dari hasil angket yang telah
diberikan kepada siswa. Hasil belajar siswa juga tergolong baik dan
memuaskan yang dilihat berdasarkan hasil uji tes untuk materi yang telah
diberikan dimana sebagian besar siswa memperoleh nilai lebih tinggi dari
kriteria ketuntasan yang telah ditetapkan.
Dengan memperhatikan hasil angket dan uji coba tes dari materi yang
telah diberikan maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki pengaruh terhadap hasil belajar
siswa pada materi persamaan garis lurus kelas VIII MTs. Muallimat NW
Kelayu tahun pembelajaran 2010/2011. Hal ini sejalan dengan analisis
statistik menggunakan analisis regresi dan rumus korelasi product moment
dimana hipotesis yang mengatakan terdapat pengaruh yang signifikan dari
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar
siswa pada materi persamaan garis lurus kelas VIII MTs. Muallimat NW
Kelayu Tahun Pembelajaran 2010/2011 dapat diterima.
61

Adanya pengaruh ini ditunjukkan dengan angka yang diperoleh dalam
penelitian ini r
hitung
sebesar 0,41 lebih besar dari r
tabel
= 0,32 pada taraf
signifikansi 5%. Oleh karena harga r
hitung
lebih besar dari r
tabel
, artinya Ha
diterima dan H
o
ditolak.
B. SARAN
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diajukan beberapa saran sebagai
berikut:
1. Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model
pembelajaran yang baik untuk digunakan dalam mata pelajaran
matematika. Dalam penelitian ini terbukti bahwa penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe dapat lebih mengaktifkan
siswa dalam proses pembelajaran sehingga hasil belajar juga
menjadi lebih baik. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada
para tenaga pendidik khususnya guru untuk menerapkan
pembelajaran kooperatif tipe STAD ini dalam kegiatan
pembelajaran di sekolah khususnya pada mata pelajaran
matematika. Selain itu peneliti menyarankan kepada pengelola
sekolah untuk dapat mendorong guru dan komponen sekolah
lainnya untuk lebih memberikan perhatian terhadap peneraan
model pembelajan kooperatif tipe STAD sebagai alternatif
pembelajaran. Bagi lembaga STKIP juga disarankan untuk
kiranya dapat memberikan perhatian agar penelitian berikutnya
62

dari mahasiswa juga daat lebih dikembangkan, dan koleksi buku
refrensi tentang pembelajaran kooperatif diperbanyak.
2. Situasi kelas belajar yang kondusif merupakan salah satu faktor
keberhasilan kegaiatan belajar mengajar yang baik, oleh karena
itu kemampuan mengelola kelas yang baik sangat diperlukan. Hal
ini harus diperhatikan oleh para peneliti lainnya yang sedang dan
akan melakukan penelitian.












63

DAFTAR PUSTAKA


Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
Syaiful Bahri Djamarah. 1991. Hasil Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya:
Usaha Nasional.
Syaiful Bahri Djamarah. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Isjoni, (2009). Cooperatif Learning, Cet II. Penerbit Alfa Beta. Bandung:
Mansur. Drs. 2008. Penilaian Hasil Belajar. Bandung: CV Wacana Prima
Mulyasa. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi, Kosep, Karakteristik dan
Implementasi. Bandung: Rosda Karya Ofset
Nur Wayan Kencana, 1995. Evaluasi Hasil Belajar Mengajar. Bandung: CV
Alfabeta
Ponco Sujatmiko. 2003. Matematika Kreatif Konsep dan Terapannya untuk Kelas
VIII SMP dan MTs Semester I. Solo: Tiga Serangkai
Harun Rasyid. 2008. Penilaian Hasil Belajar. Bandung: CV Wacana Prima
Wina Sanjaya, Dr. 2008. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis
Kompetensi.Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sugiyono. 2007. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta