Anda di halaman 1dari 10

UJI AKTIVITAS ANTI-INFLAMASI HESPERIDIN DAN HESPERITIN TERHADAP RADANG TELAPAK KAKI TIKUS PUTIH YANG DIINDUKSI KARAGENIN

PADA PEMAKAIAN ORAL DAN INTRAPERITONIAL THE ASSAY OF ANT-INFLAMMATION OF HESPERIDIN DAN HESPERITIN TOWARD INFLAMME CONDITION ON RATS FOOT SOLE WAS INDUCED WITH CARRAGENIN BY ORAL AND INTRAPERITONIAL INJECTION Dewi Ekowatia, Rina Herowatib, Jawi Prastiyanic a,B,C Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi Jl. Let. Jen. Sutoyo, Mojosongo, Surakarta 57127
ABSTRAK Hesperidin memiliki kemampuan antioksidan, anti-inflamasi, antialergi, hipolipidemik, vasoprotektif dan karsinogenik pada pengujian invitro. Kemampuan anti-inflamasi hesperidin diduga disebabkan aglikon-nya hesperitin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas anti-inflamasi hesperidin dan hesperitin pada pemakaian oral dan intra peritonial. Hesperitin diperoleh dengan menghidrolisis hesperidin menggunakan asam sulfat. Kedua bahan tersebut diujikan pada masing-masing kelompok hewan uji. Kelompok kontrol negatif yang hanya diberi pembawa dari bahan uji (suspensi CMC 0,5%) dan kontrol positif diberi natrium diklofenak sebagai senyawa antiinflamasi. Bahan uji diberikan secara oral dan intraperitonial. Hesperidin dan hesperitin diberikan dengan dosis 200 mg/kg BB tikus secara oral dan 20 mg/kg BB tikus secara intraperitonial. Pengujian aktivitas anti-inflamasi dilakukan dengan menginduksi buatan dengan menyuntikkan karagenin 0,1 ml secara intraplantar pada telapak kaki tikus. Adanya efek anti-inflamasi diketahui dengan adanya pengukuran volume radang telapak kaki tikus selang 1 jam selama 5 jam pada tiap-tiap kelompok. Uji statistik dengan anova 1 jalan pada taraf kepercayaan 95% menunjukkan beda nyata antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Hesperidin dan hesperitin mempunyai efek yang sama pada pemakaian oral dan intraperitonial. Dosis oral 10 kali dosis intra peritonial. Kata kunci : Antiinflamasi, Hesperidin, Hesperitin ABSTRACT Hesperidin has antioxidant ability, anti-inflammation, antialergy, hypolipidemic, vasoprotectif, carsinogenic by in vitro examination. The anti-inflammation activity of hesperidin is supposed by aglycon of hesperitin. The purpose of this research to find out the anti-inflammation activity of hesperidin and hesperitin on peroral and intra peritonial. Hesperitin acquired by hydrolize hesperidin by sulphate acid. Both material tested to each group of animal test. The negative control group just gave the carrier of material test (CMC 0,5% suspention) and positive control was sodium diclofenac as anti-inflammation compose. Material test was given by peroral and intra peritonial. Hesperidin and hesperitin was given peroral with 200 mg/kg BW dosage on rat and 20mg/kg BW dosage intraperitonially. Anti-inflammation activity assay was conducted by artificial induction 0,1 ml carragenin injection intraplantarely on rat foot-sole. The anti-inflammation effect was measured from inflamme volume on rats foot-sole with 1 hour frequency along 5 hours to each group. The statistic test use one way anova with truth rank was 95 % shows real different among group test with control group . Hesperidin and hesperitin has same effect peroral and intra peritonial. Keywords: Anti-inflammation, Hesperidin, Hesperitin

PENDAHULUAN Inflamasi atau radang merupakan penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat yang ditandai kemerahan, bengkak, nyeri dan disertai panas. Obat antiinflamasi yang ada di pasaran relatif mahal dan mempunyai efek samping terhadap

gastrointestinal, oleh karena itu perlu adanya terobosan baru atau penemuan baru untuk mencari alternatif obat anti-inflamasi yang murah dan mudah didapat (Anonim, 2003). Obat-obatan yang berasal dari bahan baku alam (natural medicine) kian hari kian mendapatkan tempat yang baik sebagai salah satu alternatif perawatan kesehatan. Obat tradisional selain murah dan mudah didapat memiliki efek samping yang jauh lebih rendah tingkat bahayanya dibandingkan dengan obatobatan kimia. Hal ini disebabkan efek dari obat bersifat alamiah, tidak sekeras dari obatobatan kimia (Muhlisan, 1995). Kulit buah jeruk mempunyai kandungan nutrisi dan vitamin yang cukup tinggi, namun umumnya orang justru membuang kulit jeruk itu setelah memakan dan menghisap air dari buahnya. Jeruk memberi banyak kegunaan bagi manusia, sebagai contoh aromanya mulai digunakan dalam aroma terapi yang berguna untuk menenangkan syaraf, mengurangi tekanan darah tinggi, mencegah kebutaan pada lanjut usia, bahkan direkomendasikan sebagai antikanker (www.bpk penabur.or.id). Hesperidin adalah flavonoid utama dalam lemon dan jeruk. Bagian kulit dan membran dari buah jeruk mengandung konsentrasi hesperidin yang paling tinggi. Hesperidin adalah flavonoid pada kulit buah jeruk (Citrus sinensis) yang dapat membantu memperbaiki kondisi pembuluh darah dan mengembalikan kelenturan membran pembuluh kapiler. Hesperidin bersama vitamin C dapat mengatasi gangguan aliran darah, melakukan perbaikan pada kram kaki, mengatasi perdarahan hidung, dan kecenderungan kulit menjadi memar. Sumber hesperidin adalah jeruk keprok, sedangkan jenis sitrus lain hesperidin ditemukan dalam bentuk senyawa hesperidin metil kalkon (Vitahealth, 2004). Hesperidin dalam kombinasi dengan salah satu glikosida flavon yang disebut diosmin, di Eropa digunakan untuk perawatan gangguan pembuluh darah dan hemoroid. Hesperidin, rutin dan flavonoid-flavonoid lainnya diduga bisa menurunkan permeabilitas kapiler dan memiliki kemampuan anti-inflamasi (Emin, 1994). Hesperitin bisa didapatkan dengan menghidrolisis hesperidin. Hesperitin lebih

sukar larut dalam air dibanding hesperidin dan cenderung mudah larut dalam pelarut eter dan kloroform. Hidrolisis hesperidin menjadi hesperitin menggunakan pereaksi asam sulfat 2N untuk memutus gulanya. Obat-obat anti-inflamasi adalah golongan obat yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi peradangan. Aktivitas ini dapat dicapai melalui berbagai cara yaitu menghambat pembentukan mediator pembentukan prostaglandin, menghambat migrasi sel-sel leukosit ke daerah radang, menghambat pelepasan prostaglandin dari selsel tempat pembentukkannya. Berdasarkan mekanisme kerjanya obat-obat anti-inflamasi terbagi dalam golongan steroid yang terutama bekerja dengan cara menghambat prostaglandin dari sel-sel sumbernya dan golongan non steroid yang bekerja melalui mekanisme lain seperti inhibisi siklooksigenase yang berperan dalam biosintesis prostaglandin (Anonim, 1993). Penelitian terhadap hesperidin dari kulit buah jeruk sebagai alternatif pengobatan untuk obat anti-inflamasi sangat menarik dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebenaran mengenai manfaatnya sebagai antiinflamasi, dan membandingkan aktivitas antiinflamasi hesperidin dan aglikon-nya hesperitin pada pemakaian peroral dan intraperitonial. Pengujian aktivitas anti-inflamasi dilakukan terhadap radang kaki tikus yang diinduksi karagenin. METODE PENELITIAN Bahan Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah hesperidin (Sigma) dan hesperitin yang diperoleh dari hidrolisis hesperidin. Bahan untuk hidrolisis yaitu etilen glikol sebagai pelarut. Asam sulfat 2N sebagai pereaksi. Etanol p.a digunakan untuk rekristalisasi. Amonia sebagai pereaksi penyemprot pada KLT. Lempeng silika gel GF 254 sebagai fase diam pada KLT. Fase gerak untuk KLT adalah n-butanol, asam asetat, aquadestilata. Metanol digunakan sebagai blanko dalam spektroskopi UV. Pelet KBr digunakan untuk membantu mengidentifikasi gugus fungsi dari suatu senyawa pada spektrofotometer IR. Hewan uji yang digunakan adalah tikus putih kelamin jantan,

galur wistar, umur 2-3 bulan, berat badan 150200 g. Bahan uji farmakologi yaitu -karagenin, larutan fisiologis (NaCl 0,9%), natrium diklofenak, aquadestilata, CMC. Peralatan Alat yang digunakan dalam uji farmakologi seperti plestimometer, spuit injeksi dengan jarum oral dan intraplantar, timbangan tikus, alat-alat gelas. Alat-alat lain yang digunakan adalah bejana kromatografi (chamber), pipa kapiler, kuvet, rangkaian alat penampak bercak, spektrofotometer UV Beckman DU-600, spektrofotometer IR (FT/IR4200 tipe A). Prosedur 1. Hidrolisis hesperidin Lima gram hesperidin dan 100 ml etilen glikol ditambah dengan 5 ml asam sulfat 2N kemudian dipanaskan diatas penangas air selama 40 menit. Larutan kuning jernih diambil kemudian ditambah dengan 250 ml aquadestilata. Endapan hesperitin disaring dan dicuci dengan aquadestilata, direkristalisasi dengan etanol. 2. Identifikasi dan karakteristik hesperidin dan hesperitin a. Penentuan jarak lebur. Kristal dimasukkan ke dalam pipa kapiler kemudian diukur titik leburnya dengan alat Electrothermal Melting Point Apparatus. Jarak lebur adalah suhu antara kristal mulai melebur hingga melebur seluruhnya. b. Identifikasi dengan KLT. Kromatografi lapis tipis dilakukan dengan menggunakan fase gerak n-butanol : asam asetat : air (4:1:5, bagian atas). Fase diam yang digunakan adalah silika gel GF 254. Identifikasi noda digunakan sinar UV 254 ,UV366 dan uap amonia. c. Identifikasi dengan spektrofotometer ultraviolet. Penentuan spektrum ultraviolet dilakukan dalam pelarut metanol pada panjang gelombang 200-400nm. Larutan dibuat dengan

melarutkan sejumlah kecil zat (kurang lebih 0,1 mg dalam 1 ml metanol) d. Identifikasi dengan spektrofotometer inframerah. Zat uji sebanyak 5mg dan KBr yang telah dikeringkan sebanyak 100mg dikempa menjadi pelet tipis yang transparan kemudian dimasukkan dalam wadah sampel pada alat sektrofotometer inframerah. Dibuat kurva serapan pada bilangan gelombang 4000-400 cm-1. 3. Pembuatan larutan uji a. Pembuatan karagenin 1%. Larutan karagenin 1% dibuat dengan melarutkan 100 mg karagenin dalam NaCl 0,9% fisiologis sampai 10 ml. b. Pembuatan suspensi CMC 0,5%. Larutan suspensi CMC konsentrasi 0,5% dibuat dengan melarutkan 500 mg CMC dalam air sampai volume 100 ml. Suspensi ini digunakan untuk mensuspensi diklofenak, hesperidin dan hesperitin. c. Pembuatan suspensi natrium diklofenak. Larutan natrium diklofenak konsentrasi 0,5% dibuat dengan cara 500 mg natrium diklofenak dilarutkan dengan larutan CMC hingga volume 100 ml. d. Pembuatan larutan garam fisiologis. Larutan garam fisiologis konsentrasi 0,9% dibuat dengan cara 0,9 gram NaCl dilarutkan dengan aquadest hingga volume 100 ml. 4. Penentuan dosis Volume maksimal larutan uji yang dapat diberikan pada tikus dengan berat badan 150200 gram peroral 5ml sedangkan intraperitonial 1ml. a. Penentuan dosis larutan karagenin. Dosis karagenin ditetapkan berdasarkan percobaan pendahuluan yaitu dengan kadar 1% dalam NaCl 0,9% fisiologis, volume 0,1 ml yang disuntikkan secara intraplantar pada telapak kaki tikus jantan. b. Penentuan dosis natrium diklofenak.

Faktor konversi dosis manusia berat badan 70 kg ke tikus berat badan 200 g yaitu 0,018, dosis maksimum manusia 50 mg (75150 mg/hari). Maka dosis natrium diklofenak manusia (70 kg) dikonversikan ke tikus (200 g) adalah 0,018 x 50 mg = 0,9mg/200 g BB tikus. c. Penentuan dosis hesperidin dan hesperitin. Dosis peroral untuk hesperidin dan hesperitin adalah 200mg/kg BB tikus. Secara intraperitonial dosis hesperidin dan hesperitin adalah 20mg/kg BB tikus. Volume penyuntikan tergantung berat badan tikus. d. Volume pemberian larutan CMC. Larutan CMC 0,5% diberikan pada tikus tergantung berat badannya, misalnya tikus dengan berat badan 160 gram, maka volume yang diberikan

6. Kelompok VI Tikus putih jantan diberikan hesperidin 20mg/kg BB tikus secara intraperitonial1 jam sebelum pemberian karagenin 1% secara intraplantar. Tikus putih jantan yang diberi suspensi Na diklofenak 0,9mg/200g BB tikus sebagai kontrol (+) sedangkan tikus putih yang diberi suspensi CMC 5ml/ 200g BB tikus sebagai kontrol (-) diberikan 1 jam sebelum pemberian karagenin 1% secara intraplantar. 6. Analisis Data Data kuantitatif prosentase penghambatan volume radang diantara kelompok perlakuan dianalisa dengan uji Anava satu jalan, kemudian untuk mengetahui adanya perbedaan kelompok satu dengan lainnya dilakukan uji LSD atau SNK dengan kepercayaan 95%. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Organoleptis Tabel 1. Organoleptis serbuk Hesperidin Hesperitin Bentuk serbuk hablur Warna Bau kuning muda tidak berbau serbuk hablur kuning agak tua tidak berbau

160 x 5ml = 4 ml. 200

5. Perlakuan Pada Hewan Uji Tiga puluh ekor tikus jantan dibagi secara acak menjadi 6 kelompok sama banyak, semua hewan uji dipelihara dalam kondisi sama. Sebelum digunakan tikus percobaan terlebih dahulu dipuasakan 18-24 jam dan air minum tetap diberikan. Perlakuan yang diberikan pada masing-masing kelompok adalah sebagai berikut; 1. Kelompok I Tikus putih jantan diberikan CMC 0,5 %, 5ml/200g BB tikus peroral 1 jam sebelum pemberian karagenin 1% secara intraplantar. 2. Kelompok II Tikus putih jantan diberikan Na diklofenak 0,9mg/200g BB tikus peroral 1jam sebelum karagenin 1% secara intraplantar. 3. Kelompok III Tikus putih jantan diberikan hesperitin 200mg/kg BB tikus peroral 1jam sebelum pemberian karagenin 1% secara intraplantar. 4. Kelompok IV Tikus putih jantan diberikan hesperitin 20mg/kg BB tikus secara intraperitonial 1 jam sebelum pemberian karagenin 1% secara intraplantar. 5. Kelompok V Tikus putih jantan diberikan hesperidin 200mg/kg BB tikus peroral 1 jam sebelum pemberian karagenin 1% secara intraplantar.

2. Penentuan jarak lebur Penentuan jarak lebur dengan alat electro thermal melting point aparatus didapatkan hasil. seperti pada tabel 2. Tabel 2. Hasil penentuan jarak lebur Sampel Jarak lebur Hesperidin 258-260 oC Hesperitin 226-228 oC 3. Kromatografi lapis tipis Serbuk hesperidin dan hesperitin dilarutkan menggunakan metanol dan dilakukan pemeriksaan KLT dengan fase diam silika, fase gerak BAA (4:1:5) didapatkan noda yang berwarna biru pada UV 254 nm dan kuning pada UV366 nm. Hasil pemeriksaan KLT dapat

dilihat pada tabel 3. Gambar kromatogram dapat dilihat pada gambar 1.

penghambatan radangnya berdasarkan rumus sebagai berikut: % Penghambatan =

ab x 100% a

Keterangan dari a dan b berturut-turut adalah rata-rata volume radang telapak kaki tikus kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Nilai prosentase penghambatan radang ini menunjukkan kemampuan bahan uji menekan radang (aktivitas anti-inflamasi) dimana peradangan pada kelompok kontrol adalah 100%. Prosentase penghambatan volume 6 7 terlihat semakin besar radang pada tabel prosentase penghambatan radangnya maka 5 Gambar 1. Kromatogram hesperidin dan semakin besar pula aktivitas antiinflamasinya. hesperitin dengan fase gerak BAA (4:1:5), Pada hasil penelitian secara fase diam silika pada UV366 nm intraperitonial baik hesperidin maupun hesperitin absorbsinya sangat cepat sehingga 1. Identifikasi dengan spektrofotometer aktivitasnya meningkat pada jam ke-1 dan keultraviolet 2. Tetapi pada 0saat jam ke-3 aktivitas Harga spektrum UV dari hesperidin dan keduanya menurun. Hal ini dikarenakan saat Htn Hdn menembus hesperitin dapat dilihat pada Tabel 4. membran pembuluh darah yang ada di rongga perut tersebut banyak terdapat 2. Identifikasi dengan spektrofotometer jaringan lemak sehingga senyawa aktifnya inframerah terjebak dalam lemak tersebut, mengakibatkan Gugus fungsi yang muncul pada aktivitasnya turun. Setelah hesperidin dan spektrum IR dapat dilihat pada tabel 5. hesperitin dapat terlepas dari jebakan lemak aktivitasnya kembali meningkat. 6. Hasil uji anti-inflamasi Pada pemberian oral dan intraperitonial Pengujian daya inflamasi hesperidin dan menunjukkan aktivitas anti-inflamasi yang hesperitin pada pemakaian oral dan sama, dikarenakan dosis yang diberikan sudah intraperitonial dilakukan untuk mengetahui berbeda yaitu dosis per oral 10x lebih besar apakah hesperidin dan hesperitin berkhasiat dari dosis intra peritonial. Sehingga diharapkan sebagai anti-inflamasi, yang dimaksud dengan antara rute pemberian oral dan intraperitonial anti-inflamasi adalah kemampuan bahan uji mempunyai aktivitas yang sama pula. untuk mengurangi pembengkakan telapak kaki Dari analia variasi dan diteruskan dengan tikus putih jantan akibat injeksi karagenin 1%. uji LSD dengan taraf kepercayaan 95%, pada Kelompok kontrol negatif yang digunakan uji jam pertama tidak dilakukan uji lanjutan sebagai model induksi radang menunjukkan LSD karena pada anova harga P > 0,05 volume radang seperti pada gambar 2. (syarat uji lanjutan LSD P < 0,05). Jam kedua Kelompok kontrol (-) mempunyai volume dan seterusnya ada beda bermakna (P > 0,05) radang yang terbesar dari jam ke-1 sampai pada hesperitin dan hesperidin baik secara jam ke-5 yaitu (0,030,01); (0,050,0071); oral maupun intra peritonial dengan kontrol (0,0340,0114); (0,030,01); (0,030,0071). negatif dan tidak ada beda bermakna antara Hal ini disebabkan karena pada kelompok ini hesperitin dan hesperidin baik oral maupaun hanya diberikan penyebab inflamasi tanpa intra peritonial dengan kontrol positif. Tidak obat atau sediaan uji, sehingga tidak ada yang adanya beda pada uji statistik ini disebabkan melawan terjadinya inflamasi (Tabel 6). rentang standar deviasinya terlalu besar antara Data hasil pengukuran volume radang perlakuan sehingga adanya perbedaan tidak telapak kaki tikus dapat dihitung prosentase dapat terbaca.

KESIMPULAN Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah pertama; hesperidin telah berhasil dihidrolisis menjadi aglikon-nya hesperitin, kedua; hesperidin dan hesperitin mempunyai aktivitas sebagai antiinflamasi, ketiga; hesperidin dan hesperitin memberikan efek antiinflamasi yang sama pada dosis yang sama. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta. Anonim, 1993, Penapisan Farmakologi, Pengujian Fitokimia dan Pengujian

Klinik,Yayasan Pengembangan dan Pemanfaatan Obat Alami. Emin, J. A,. Olievera, A .B,. Lapa, A.J., 1994,Pharmacological Evaluation of The Antiinflammatory Activity of a Citrus Bioflavonoid, Hesperidin, and The Isoflavonoid Duartin and Claussequinone in Rat and Mice, J Pharm Pharmacol. Http://www.bpkpenabur.or.id/jelajah,diak ses 15 Desember 2006. Muhlisan, F, 1995, Tanaman Obat Keluarga (TOGA), Penebar Swadaya, Jakarta. Vitahealth, 2004, Seluk Beluk Food Suplement, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tabel 3. Data kromatogram hersperidin dan hesperitin Sampel Warna noda sampel pada UV366 nm Hesperidin kuning Warna noda sampel pada UV254 nm Biru Warna noda sampel + uap amonia Kuning terang Hesperitin kuning Biru Kuning terang 0,86 0,74 Nilai Rf

Tabel 4. Harga spektrum serapan UV Sampel Hesperidin Hesperitin Puncak 1 328 nm 322 nm Puncak 2 282 nm 287 nm

Tabel 5. Gugus fungsi yang menimbulkan serapan IR Gugus fungsi yang mucul pada spektrum IR O-H fenolik 3424,96; 3478,95 (tajam) C-OCH3 Keton/C=O Alkana : -CH3 -CH C=C aromatis 1365,35; 1442,49 2923,56 1515,78; 1608,34 2923,56 1511,92;1589,06 1375-1450 2850-3000 1475 dan 1600 1199,51; 1276,65 1646,91 3297,68;3567,66 (landai) 1006,66 1635,34 1000-1300 1640-1810 3200-3650 Hesperidin Hesperitin Pustaka (Harmita, 2004)

C-O-C asimetrik Trisubstitusi(1,2,4)

1130,08 817,67

1160,94 817,67

1086-1160 800-855

Tabel 6. Data hasil pengukuran volume radang Kelompok 1 I 0,03 0,01 Volume udem + SD (n = 5) jam ke-5 2 0,05 0,0071 0,028 0,0044 0,03 0,01 0,03 0,0071 0,028 0,0084 0,022 0,0084 0,03 0,01 0,02 0,0071 0,028 0,0109 0,028 0,0109 Keterangan: Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V Kelompok VI : Kontrol (-) : Kontrol (+) : Hesperitin oral 200mg/kg BB tikus : Hesperitin i.p. 20mg/kg BB tikus : Hesperidin oral 200mg/kg BB tikus : Hesperidin i.p. 20mg/kg BB tikus 0,02 0,0071 3 0,034 0,0114 0,008 0,0045 0,014 0,0055 0,012 0,0045 0,014 0,0055 0,014 0,0055 4 0,03 0,01 5 0,03 0,0071 0,008 0,0045 0,014 0,0055 0,012 0,0045 0,014 0,0055 0,014 0,0055

II

0,018 ,0,0045 0,018 0,0045 0,018 0,0084 0,016 0 0089

III

IV

VI

0,02 0,0071

Tabel 7. Data hasil pengukuran prosentase penghambatan radang Kelompok Prosentase penghambatan volume udem + SD (n = 5) jam ke-5 1 I II 0 13,33 18,26 III 0 33,32 26,67 27,89 V - 6,67 36,51 VI 6,67 36,51 2 0 40 14,14 44 16,73 IV 60 14,14 44 21,91 60 14,14 3 0 50,002 19,56 50,002 19,56 35,72 29,88 42,28 31,94 28,57 25,25 Keterangan: Kelompok I Kelompok II Kelompok III Kelompok IV Kelompok V KelompokVI : Kontrol (-) : Kontrol (+) : Hesperitin oral 200mg/kg BB tikus : Hesperitin i.p. 20mg/kg BB tikus : Hesperidin oral 200mg/kg BB tikus : Hesperidin i.p. 20mg/kg BB tikus 4 0 53,33 18,26 53,33 18,86 60,002 14,21 53,33 18,86 53,33 18,86 5 0 53,33 29,82 53,33 18,86 60,002 14,91 53,33 18,86 53,33 18,86

kontrol (-) 0.09 0.08 0.07 0.06 0.05 0.04 0.03 0.02 0.01 0 0 1 2 3 4 5 Waktu (jam) kontrol (-)

Volume radang

Gambar 2. Model aktivitas induksi radang

Prosentase (%)

70 60 50 40 30 20 10 0 -10 -20 1 2 3
Waktu (jam)

Kontrol (+) Hesperitin Oral Hesperitin IP Hesperidin Oral Hesperidin IP 4 5

Gambar 3. Grafik prosentase penghambatan radang