Anda di halaman 1dari 24

BAB I

Tujuan 1. Mengetahui alat pengukur temperatur, salinitas, kecerahan mencakup pengertian, cara kerja dari alat, alat penggunaan, dan data yang dihasilkan. 2. Mengetahui alat pengukur gelombang mencakup pengertian, cara kerja dari alat, alat penggunaan, dan data yang dihasilkan. 3. Mengetahui alat pengukur pasang-surut mencakup pengertian, cara kerja dari alat, alat penggunaan, dan data yang dihasilkan. 4. Mengetahui alat pengukur arus mencakup pegertian, cara kerja dari alat, alat penggunaan, dan data yang dihasilkan.

BAB II
Tinjauan Pustaka 2.1 Alat Pengukur Temperatur, Salinitas, Kecerahan 1. CTD (Conductivity-Temperature-Depth) CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman, dan densitas. Secara umum, sistem CTD terdiri dari unit masukan data, sistem pengolahan, dan unit luaran.

Gambar 2.1 CTD Unit masukan data terdiri dari sensor CTD, rosette, botol sampel, kabel koneksi dll. Sensor berfungsi untuk mengukur parameter karakteristik fisik air laut yang terdiri dari sensor tekanan, temperatur, dan konduktivitas. Botol sampel berfungsi sebagai wadah sampel air sedangkan rosset berfungsi untuk mengatur penutupan botol. Kabel koneksi berfungsi sebagai penompang, dan juga berfungsi sebagai pengantar sinyal. Telekomando akan memberikan sinyal kepada rosset untuk menutup botol secara berurutan, setelah mengambil sampel air laut. Unit pengolah terdiri dari sebuah unit pengontrol CTDS (CTD Sensor) dan komputer yang dilengkapi perangkat lunak. Unit pengontrol berfungsi sebagai pengolah sinyal CTD, penampil hasil pengukuran serta pengubah sinyal analog ke digital. CTD mengontrol setiap kegiatan akusisi dan pengambilan sampel serta kalibrasi. Setiap penekanan tombol fungsi sesuai pada menu, maka printer akan mencetak posisi, kedalaman, salinitas, konduktifitas dan temperatur sehingga kronologis kegiatan pengoprasian CTD dapat terekam. Sensor adalah sebuah piranti yang mengubah fenomena fisika menjadi sinyal elektrik. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas).

Gambar 2.2 CTD a. Sensor Tekanan. Sensor tekanan merupakan sensor yang memanfaatkan hubungan langsung antara tekanan dan kedalaman. Sensor ini terdirai dari tahanan yang berbentuk seperti jembatan wheatsrone kemudian dinamakan strain gauge. Strain gauge merupakan alat resistansi yang berubah ketika mendapat tekanan, Tahanan ini akanmemegang peranan ketika mendapat gaya dalam bentuk fisika seperti tekanan, beban (berat), arus dll. (Herunadi, 1998). b. Sensor Temperatur. Sensor temperatur adalah sensor yang berpengaruh terhadap suatu hambatan, dalam bentuk termistor. Termistor (tahanan termal) merupakan alat semikonduktor yang berperan sebagai tahanan dengan besar koefisien tehanan temperatur yang tinggi dan biasanya bernilai negative. Alatini terbuat dari campuran Oksida-Oksida logam yang diendapkan seperti mangan, nikel, kobalt dll. c. Sensor Konduktifitas. Sensor konduktofitas merupakan sensor yang mendeteksi adanya nilai daya hantar listrik di suatu perairan. Sensor ini merupakan sensor yang terdiri dari tabung berongga danempet buah terminal elektroda platina-rhodium di belakang sisinya. Sebagai sensor yang melewati nilai konduktifitas maka rata-rata hasil proses dalam pengukuran akan melewati nilai rendah (low pass fliter). Sensor ini akan mulai mengukur ketika alat telah bergerak masuk kedalam air sampai pada posisi yang diinginkan. Sebenarnya sensor ini mengukur nilai konduktifitas untuk mengetahui nilai salinitas atau kadar garam di sebuah perairan sacara tidak langsung. Pada Prinsipnya teknik pengukuran pada CTD ini adalah untuk mengarahkan sinyal dan mendapatkan sinyal dari sensor yang menditeksi suatu besaran, kemudian mendapatkan data dari metode multiplexer dan pengkodean (decode), kemudian memecah

data dengan metode enkoder untuk di transfer ke serial data stream dengan dikirimkan ke kontrolunit via cabel. CTD diturunkan ke kolom perairan dengan menggunakan winch disertai

seperangkat kabel elektrik secara perlahan hingga ke lapisan dekat dasar kemudian ditarik kembali ke permukaan. CTD memiliki tiga sensor utama, yakni sensor tekanan, sensor temperatur, dan sensor untuk mengetahui daya hantar listrik air laut (konduktivitas). Pengukuran tekanan pada CTD menggunakan strain gauge pressure monitor atau quartz crystal. Tekanan akan dicatat dalam desibar kemudian tekanan dikonversi menjadi kedalaman dalam meter. Sensor temperatur yang terdapat pada CTD menggunakan thermistor, termometer platinum atau kombinasi keduanya. Sel induktif yang terdapat dalam CTD digunakan sebagai sensor salinitas. Pengukuran data tercatat dalam bentuk data digital. Data tersebut tersimpan dalam CTD dan ditransfer ke komputer setelah CTD diangkat dari perairan atau transfer data dapat dilakukan secara kontinu selama perangkat perantara (interface) dari CTD ke komputer tersambung.

Gambar 2.3 CTD 2. Horiba Horiba merupakan alat untuk mengukur kualitas suatu perairan. Salah satu horiba yang digunakan pada saat praktikum adalah Horiba's U-50. Instrumen ini berfungsi untuk mengetahui kualitas air pada suatu tempat dimana memungkinkan perhitungan di atas 11 parameter kualitas air. Instrumen ini di design untuk keduanya baik pekerjaan berat ataupun memudahkan dalam cara pengoperasian , sehingga ini sangatlah cocok untuk lapangan pekerjaan. Sampling di sungai, lingkungan dinding bawah, danau, run off, dan lain-lain sangatlah mudah dengan mengunakan serial Horiba U-52 . Horiba adalah suatu alat untuk aplikasi yang menuntut panjangnya kabel, dalam pengukuran pada berbagai poin-poin, atau menghubungkan pemeriksaan dengan alat untuk memilih komponen penting dari table atau data berikut. Multi-Probe Sensor mampu memeriksa kedalaman, daya konduksi, temperatur, dan kekeruhan (www.chemistry.org)

Gambar 2.4 Horiba

Unit W-23Xd , pengukuran bersama sampai kepada 13 parameter dari pH, oksigen yang dihancurkan, dan daya konduksi ke seawater bobot jenis dan berbagai ion akan dapat diperoleh jauh lebih cepat dan dibanding dengan instrumen konvensional adalah paling mudah. Dengan kemampuan pengukuran yang kuat, U-20Xd dirangkaikan secara ringkas untuk direkomendasikan untuk semua air, oleh para peneliti profesional dan peneliti berkualitas. Sensor built-in memori berfungsi memungkinkan pengukuran berlanjut sepanjang satu bulan dalam pemeriksaan menyelam di dalam contoh itu. Personil tidak perlu untuk menjadi menyajikan sepanjang proses pengukuran data yang ditangkap oleh komputer pribadi di dalam lokasi yang terbatas. Pengukuran pada kerendahan dengan tekanan tinggi dan ketahanan atasan nya , sensor yang dikembangkan baru saja memudahkan asurements sejauh 100 meter di bawah permukaan air. Begitu, sebagai penambahannya terhadap sungai, danau dan tempat-tempat yang lain, sehingga pengukuran high-precision sekarang dapat siap diperoleh dan mutu air dapat dimonitor pada tanggul, dan bahkan di dalam laut yang terbuka. Berbagai parameter fisika-kimia sangat dibutuhkan untuk mengetahui kualitas air. Horiba memiliki fungsi yang cukup lengkap. Melalui horiba kita bisa mendapatkan berbagai parameter-parameter fisika-kimia, diantaranya adalah: DO, PH, temperatur, konduktivitas, kedalaman, salinitas serta turbidity. Jadi horiba merupakan gabungan dari berbagai alat pengukur parameter yang dijadikan satu kesatuan dan penggunaan yang sederhana.

3. Refraktometer Refraktometer sebenarnya alat ukur mengukur indek bias suatu zat. Definisi indek bias cahaya suatu zat adalah kecepatan cahaya didalam hampa dibagi dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Kebanyakan obyek yang dapat kita lihat, tampak karena obyek itu memantulkan cahaya kemata kita. Pada pantulan yang paling umum terjadi, cahaya memantul kesemua arah, disebut pantulan baur. Untuk keperluan ini cukup kita melukiskan satu sinar saaja, mustahil ada atau hanya merupakan abstrasi geometrical saja (Sear,1994). Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan terlarut. Misalnya gula, garam, protein, dsb. Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah memanfaatkan refraksi cahaya. Refraktometer ditemukan oleh Dr. Ernest Abbe seorang ilmuan dari German pada permulaan abad 20 (Khopkar, S.M. 2007).

Gambar 2.5 Refraktometer Refraktometer adalah alat ukur untuk menentukan indeks cairan atau padat, bahan transparan dengan refrektometry. Prinsip pengukuran: oleh cahaya, penggembalaan kejadian, total refleksi. Ini adalah pembiasan (refraksi) atau refleksi total cahaya yang digunakan. Sebagai prisma umum menggunakan 3 prinsip, satu dengan indeks bias disebut prisma. Cahaya merambat dalam transisi antara pengukuran prisma dan media sampel (cairan) dengan kecepatan yang berbeda indeks bias diketahui dari media sampel diukur dengan refleksi cahaya (Wikipedia, 2010). Refraktometer analog tradisional sering digunakan sebagai sumber cahaya sinar matahari atau lampu pijar untuk berpisah dengan filter warna detektor adalah skala yang dapat dibaca dengan sistem optik, optik dengan mata. Contoh refraktometer adalah Obbe refraktometer, Pulfrich refraktometer, Woltan Stans refraktometer (1802), Jellay

refraktometer (Khopkar, S.M. 2007).

2.2 Alat Pengukur Gelombang 1. Wave Pole (Palem Gelombang) Wave Pole adalah papan kayu dengan panjang 4 meter, lebar 15 cm dan tebal 3 cm yang berskala tiap 20 cm. Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati puncak dan lembah, perhitungan periode gelombang dilakukan dengan menghitung waktu gerakan gelombang melewati titik tertentu.

Gambar 2.6 Wave Pole Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati batas puncak gelombang dan batas lembah gelombang yang melewati wave pole yang kami letakkan di sekitar 30 meter dari garis pantai untuk kemudian dicatat. Perhitungan periode gelombang dilakukan dengan cara ; pertama, menentukan titik tetap dari letak wave pole dengan jarak 2 meter, 3 meter, 4 meter, dan 5 meter yang berfungsi sebagai acuan jarak untuk menentukan periode/waktu gelombang. Periode gelombang di hitung pada saat gelombang melewati wave pole sampai gelombang tersebut melewati batas titik tetap yang tadi telahditentukan (perhitungan periode gelombang ini dilakukan sebanyak 5 kali ulangan). 2. Wave Staff Staf OSSI-010-002E Wave adalah tingkat air sensor yang menggabungkan, kasar disegel, paket tahan air, mikroprosesor daya rendah dan suhu yang stabil, penginderaan sirkuit. Staf Gelombang beroperasi dari 5.5V ke 40Vdc dan memiliki analog, data serial RS232 & 2 Alarm output. String Data output serial mengandung tingkat air & suhu dalam format ASCII atau biner. Para Output Alarm yang 350mA Tiriskan tipe Open dengan 60V klem beban induktif. Staf Gelombang dapat diprogram untuk menjalankan gratis atau sampel pada permintaan. Staf Gelombang mudah diprogram melalui port serial PC menggunakan Gelombang Staf kami Software Interface atau program Hyper Terminal.

Gambar 2.7 Wave staff

Gambar 2.8 Wave Staff

2.3 Alat Pengukur Pasang-Surut 1. Tide Staff Tide Staff merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana, berupa papan dengan tebal 1 2 inci dan lebar 4 5 inci. Sedangkan panjangnya harus lebih dari tunggang pasut. Dimana pemasangan tide gauge ini haruslah pada kondisi muka air terendah (lowest water) skala nolnya masih terendam air, dan saat pasang tertinggi skala terbesar haruslah masih terlihat dari muka air tertinggi ( highest water). Dengan demikian maka tinggi rendahnya muka air laut dapat kita ketahui. Dan dari data yang dicatat dari skala tide gauge tersebut, kita dapat mengetahui pola pasang surut pada suatu daerah pada waktu tertentu. Dalam pemasangannya rambu tersebut disekrup atau ditempelkan pada posisi vertical pada tiang atau penyangga yang cocok. Lokasi rambu harus berada pada lokasi yang aman dan mudah terlihat dengan jelas, tidak bergerak-gerak akibat gelombang atau arus laut. Tempat tersebut tidak pernah kering pada saat kedudukan air yang paling surut. Oleh karena itu panjang rambu pasut yang dipakai sangat tergantung sekali pada kondisi pasut air laut di tempat tersebut. Bila seluruh rambu pasut dapat terendam air, maka air laut tidak dapat dipastikan kedudukannya.Pada prinsipnya bentuk rambu pasut hampir sama dengan rambu dipakai pada pengukuran sifat datar (leveling). Perbedaannya hanya dalam mutu rambu yang dipakai. Mengingat bagian bawah rambu pasut harus dipasang terendam air laut, maka rambu dituntut pula harus terbuat dari bahan yang tahan air laut.Rambu pasut hampir selalu digunakan pada pelabuhan-pelabuhan laut. Akan tetapi dalam hal ini biasanya titik nol skala rambu diletakkan sama dengan muka surutan setempat, sehingga setiap saat tinggi permukaan air laut terhadap muka surutan tersebut atau kedalaman laut dapat diketahui berdasarkan pembacaan pada rambu. Dengan demikian hal ini sangat membantu bagi keamanan kapal yang akan berlabuh atau meninggalkan pelabuhan.

Gambar 2.9 Tide Staff

2. Floating Tide Gauge Prinsip kerja alat pengukuran pasut ini berdasarkan pada gerak naik turunnya permukaan laut yang dapat diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat. Alat ini harus dipasang pada tempat yang tidak begitu besar dipengaruhi oleh gerakan air laut sehingga pelampung dapat bergerak secara vertical dengan bebes. Pengamatan pasut dengan alat ini banyak dilakukan, namun yang lebih banyak dipakai adalah dengan rambu pasut.

Gambar 2.10 Floating Tide Gauge

Gambar 2.11 Skematik Floating Tide Gauge

Gambar 2.12 Desain Alat Floating Tide Gauge Di pantai dimana terdapat ombak pecah, atau dimanapun ada gangguan permukaan air yang minimal, kisaran pasang surut dapat diukur dengan rangkaian papan yang sudah terbagi-bagi dalam kelas-kelas tertentu. Air yang mengarah ke pantai akan terukur pada interval-interval yang tertera pada papan. Papan yang paling dekat dengan pantai harus mencapai atas air pada saat terjadi high water, dan yang jauh dari pantai harus mencapai mean low water level agar pada saat surut terendah dapat terbaca skalanya. Perlu berhati-hati dalam pembacaan pada papan yang sudah lapuk. Papan pengukur pasang surut juga dapat dipasang pada bendungan-

bendungan dekat pantai, di penggalangan kapal dan struktur-struktur lain yang airnya tenang. Jika menginginkan pengukuran yang akurat maka pengukuran dilkukan di tempat yang pengaruh gelombangnya sedikit. Dekat pantai di atas mean high water biasanya dibuat penampungan yang dasarnya kira-kira 3 sampai 6 kaki ke bawah dari level lowest low water. Penampungan dihubungkan ke laut dengan pipa yang sempit yang menurun sampai ke dasar. Ujung dari pipa dibuat semacam alat penyiram air yang dimaksudkan untuk pengairan dan buoy akan menahannya pada daar laut. Jika pengaruh gelombang tidak terasa pada kedalaman ini maka level air pada penampungan hanya menggambarkan pergerakan pasang surut. Pada saat lautan terlihat tenang di permukaan, maka pada penampungan air alirannya lancar dan level air akan terukur oleh papan berskala. Mengukut pasang surut akan sulit dan akan menghabiskan waktu, untuk mengatasi masalah ini digunakanlah marigraph. Marigraph adalah alat pengukur pasang surut otomatis yang akan mencatat sendiri kisaran pasang surut. Alat ini akan memberikan catatan yang konstan dari level air. Berikut ini adalah gambar marigraph: Pelampung, yaitu F akan naik turun dengan terisinya air di penampungan yaitu R. Kawat tembaga dihubungkan ke pelampung yang melewati drum yaitu G, dikerenakan pada drum akan terjadi perubahan level air. Pergerakan pada drum ditransmisikan ke stylus (pena jarum untuk mencatat) yang akan mencatat perubahan yang terus-menerus pada scarik kertas. 3. Pressure Tide Gauge Prinsip kerjanya sama dengan floating tide gauge, hanya saja gerak naik turunya permukaan air laut, dapat diketahui dengan perubahan tekanan, yang terjadi di dasar laut. Alat ini diletakkan di dasar laut dan dihubungkan dengan alat pencatat (recording unit), yang kemudian data diolah dengan mengkonversikan tekanan yang tercatat ke dalam nilai kedalaman, sehingga akan kita dapatkan model pasang surut pada daerah tersebut. Alat ini dipasang sedemikian rupa,sehingga selalu berada di bawah permukaan air laut tersurut (LLW). Namun demikian alat ini jarang sekali digunakan untuk pengamatan pasut.

Gambar 2.13 Pressure Tide Gauge

2.4 Alat Pengukur Arus 1. ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler) ADCP Kependekan dari Acoustic Doppler Current Profiler, alat yang digunakan untuk mengukur arus laut. Alat ini mengirimkan sinyal akustik frekuensi tinggi yang disebarkan kembali oleh plankton, sedimen terlarut, dan gelembung udara, yang diasumsikan bergerak dengan kecepatan rerata air. Perubahan Doppler (Doppler shift atau Doppler effect) dari gema yang disebarkan kembali ini memungkinkan kita untuk menentukan kecepatan air. Proses lebih lanjut dari sinyal yang diterima memungkinkan kita untuk menentukan profil dari kecepatan dan arah arus.

Gambar 2.14 ADCP Prinsip kerja ADCP berdasarkan perkiraan kecepatan baik secara horizontal maupun vertikal menggunakan efek Doppler untuk menghitung kecepatan radial relatif, antara instrumen (alat) dan hamburan di laut. Tiga beam akustik yang berbeda arah adalah syarat minimal untuk menghitung tiga komponen kecepatan. Beam ke empat menambah pemborosan energi dan perhitungan yang error. ADCP mentransmisikan ping, dari tiap elemen transducer secara kasar sekali tiap detik. Echo yang tiba kembali ke instrumen tersebut melebihi dari periode tambahan, dengan echo dari perairan dangkal tiba lebih dulu daripada echo yang berasal dari kisaran yang lebih lebar. Profil dasar laut dihasilkan dari kisaran yang didapat. Pada akhirnya, kecepatan relatif, dan parameter lainnya dikumpulkan diatas kapal menggunakan Data Acquisition System (DAS) yang juga secara optional merekam informasi navigasi, yang diproduksi oleh GPS. Perhitungan navigasi, menggunakan kalibrasi yang dilakukan sekali secara lengkap. Arus absolut yang melampaui kedalaman atau kedalaman referensi didapatkan dari rata-rata kecepatan relatif kapal. Arus absolut pada setiap kedalaman dapat dibedakan dari data terakhir dari kapal navigasi dan perhitungan relatif ADCP

Prinsip Perhitungan Gelombang Oleh ADCP

Gambar 2.15 Prinsip kerja ADCP Prinsip dasar perhitungan dari perhitungan arus/gelombang yaitu kecepatan orbit gelombang yang berada dibawah permukaan dapat diukur dari keakuratan ADCP. ADCP mempunyai dasar yang menjulang, dan mempunyai sensor tekanan untuk mengukur pasang surut dan rata-rata kedalaman laut. Time series dari kecepatan, terakumulasi dan dari time series ini, kecepatan spektral dapat dihitung. Untuk mendapatkan ketinggian diatas permukaan, kecepatan spektrum dierjemahkan oleh pergeseran permukaan menggunakan kinematika linear gelombang. Kegunaan ADCP pada berbagai aplikasi : 1. 2. 3. 4. Perlindungan pesisir dan teknik pantai. Perancangan pelabuhan dan operasional Monitoring Lingkungan Keamanan Perkapalan

ADCP dapat menghitung secara lengkap, arah frekuensi gelombang spektrum, dan dapat dioperasikan di daerah dangkal dan perairan dalam. Salah satu keuntungan ADCP adalah, tidak seperti directional wave buoy, ADCP dapat dioperasikan dengan resiko yang kecil atau kerusakan. Sebagai tambahan untuk frekuensi gelombang spektal, ADCP juga dapat digunakan untuk menghitung profil kecepatan dan juga level air. Keuntungan ADCP: 1. 2. 3. 4. Definisi yang tinggi dari arah arus/gelombang pecah. Logistik yang sederhana dengan bagian bawah yang menjulang. Kerusakan yang kecil, dan resiko yang kecil. Kualitas perhitungan permukaan yang tinggi yang berasal dari dasar laut.

ADP/ADCP keistimewaannya meliputi: 1. Dapat bekerja di kapal dengan penentuan posisi yang lengkap termasuk bottom-tracking dan permukaan laut untuk transek dengan menggunakan GPS. 2. ADCP memberikan sistem real-time untuk pesisir pantai, dan monitoring pelabuhan. 3. ADCP mudah digunakan untuk mengukur arus. 4. Mempunyai system otomatik yang dilengkapi dengan baterai dan perekam untuk buoy lepas pantai atau bottom-mounting.

2. Current meter Seluruh current-meter mekanik mengukur kecepatan dengan melakukan

pengubahan gerakan linear menjadi menjadi angular. Sebuah current-meter yang ideal harus memiliki respon yang cepat dan konsisten dengan setiap perubahan yang terjadi pada kecepatan air, dan harus secara akurat dan terpercaya sesuai dengan komponen velositas. Juga harus tahan lama, mudah dilakukan pemeliharaan, dan simpel digunakan dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Indikator kinerja tergantung pada inertia dari rotor, gerakan air, dan gesekan dalam bearing. Secara umum current meter yang biasa dipergunakan memiliki dua tipe : dengan verctical axis meter dan axis meter horizontal. Dalam kedua perbedaan tersebut rotasi dan rotor dari propeller dipergunakan untuk menentukan kecepatan arus laut sesuai dengan pengaturan pada current-meter. Sebelum current-meter ditempatkan, hubungan antara rotasi dan kecepatan dengan mempergunakan towing tank.

Gambar 2.16 Current meter Pengukuran kecepatan arus air disebut dengan Water current meter yang secara prinsip terbagi dalam tiga sistem, yaitu : 1. Sistem Pencacah Putaran, yaitu current meter yang mengkonversi kecepatan sudut dari propeller atau baling-baling kedalam kecepatan linear. Biasanya jenis ini mempunyai kisaran pengukuran antara 0,03 sampai 10 m/s. 2. Sistem Elektromagnetik, pada sistem ini air dianggap sebagai konduktor yang mengalir melalui medan mamgnentik. Perubahan pada tegangan diterjemahkan kedalam kecepatan. 3. Sistem Akustik, pada sistem ini digunakan prinsip Dopler pada transduser, juga biasanya berperan sekaligus sebagai receiver, yang memancarkan pulsa-pulsa pendek pada frekuensi tertentu. Pulsa-pulas direfleksikan ataupun disebarkan oleh partikelpartikel dalam air dan terjadi pergeseran frekuensi dari yang diterima kembali oleh receiver, dimana hal tersebut dapat diukur sebagai kecepatan arus air.

Current meter dapat pula dibagi kedalam dua kategori berdasarkan metode pengukurannya. Kedua jenis current meter tersebut menurut adalah :

1. Current meter dengan pengukuran non-otomatik, yaitu current meter dengan cara
pengukuran atau perekaman data kecepatan arus yang harus dilakukan langsung oleh seseorang untuk membacanya, biasanya alat ini ditempatkan pada suatu struktur tertentu.

2. Current meter dengan pengukuran otomatik, yaitu current meter yang merekam data
kecepatan arus tanpa selalu harus langsung diperiksa oleh pengguna, Biasanya tipe ini memiliki sarana penyimpanan data yang cukup untuk jangka waktu pengukuran tertentu. Prinsip kerja jenis curent meter ini adalah propeler berputar dikarenakan partikel air yang melewatinya. Jumlah putaran propeler per waktu pengukuran dapat memberikan kecepatan arus yang sedang diukur apabila dikalikan dengan rumus kalibrasi propeler tersebut. Jenis alat ini yang menggunakan sumbu propeler sejajar dengan arah arus disebut Ott propeler curent meter dan yang sumbunya tegak lurus terhadap arah arus disebut Price cup current meter. Peralatan dengan sumbu vertikal ini tidak peka terhadap arah aliran. Kelebihannya adalah propeler curent meter ini menghasilkan pekerjaan yang akurat dan cepat apabila dilakukan perawatan yang baik dan pelaksanaan yang cermat. Juga kalibrasi propeler harus dilakukan dengan baik. Kekurangannya adalah dapat dipengaruhi oleh kapal (pitching dan rolling), sehingga kecepatan arus yang diukur bukan hanya kecepatan arus aliran sungai saja. Diperlukan test kalibrasi untuk mengatasi hal ini. Cara pemakaiannya adalah Ott current-meter dapat digunakan baik dengan digantung pada kabel/tali maupun pada tiang. Cara yang pertama dapat dilaksanakan pada pengukuran di sungai maupun di muara sungai, sedangkan cara kedua dapat dipakai pada pengukuran di kanal yang kecil atau digantung di jembatan.

BAB III Materi dan Metode 3.1 Alat 1. CTD (Conductivity-Temperature-Depth)

Gambar 3.1 CTD 2. Horiba

Gambar 3.2 Horiba 3. Refraktometer

Gambar 3.3 Refraktometer

4. Wave Pole

Gambar 3.4 Wave Pole 5. Wave Staff

Gambar 3.5 Wave Staff 6. Tide Staff

Gambar 3.6 Tide Staff

7. Floating Tide Gauge

Gambar 3.7 Floating Tide Gauge 8. Pressure Tide Gauge

Gambar 3.8 Floating Tide Gauge 9. ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler)

Gambar 3.9 ADCP 10. Current meter

Gambar 3.10 Current meter

3.2 Cara Kerja 1. Pengukuran Salinitas, Temperatur, Kecerahan a. Menggunakan CTD 1. Mulai dengan program akusisi data dan dilengkapi profil untuk mengidentifikasi
data. Siapkan peralatan yang akan digunakan dan letakkan botol sesuai dengan prosedur pemasangan.

2. Setelah kerangka (Rosette) diletakan pada posisinya dan CTD (Probe atau
rangkaian sensor yang sudah di Set) diletakan di dalamnya, maka instrumen ini akan ke sisi (pinggir) kapal, lalu dihubungkan kabel-kabek interkoneksinya maka instrumen tersebut siap diturunkan.

3. Setelah CTD siap untuk diturunkan maka kontrol unit di set untuk kondidi ON.
Ketika kontrol unit sedang dipersiapkan maka instrumen (Rosette dan Probe) dapat diturunkan pelan-pelan mendekati permukaan air.

4. CTD mulai diturunkan kedalam air secara pelan-pelan, dan pada saat inilah
rangkaian Probe dan kontrol unit saling berhubungan untuk merekam data dalam benntuk sinyal analog pada tipe recorder. Pada saat ini juga prosedur akusisi dimulai dan kerangka Rosette pada CTD diturunkan dengan kecepatan tertentu sampai pada kedalaman yang diinginkan.

5. Pada saat CTD probe diturunkan maka pengiriman data ke kontrol unit juga di
mulai. Perhatikan data yang di dapat dan keaadaan kecepatan penurunannya.

6. Setelah mendapatkan data yang diinginkan maka stop penerimaan data dari Probe.
Berhentikan juga perekaman data pada recorder. Kemudian dapat ditarik ke permukaan air, dengan catatan tidak ada lagi data yang di kirim oleh CTD dan dipastikan OFF.

7. Setelah unit data akusisi di-Offkan dan instrument diletakan di atas kapal maka
tekan End of Profile data dan diberhentikan akusisi program. Data yang di dapat bisa langsung disambungkan ke personal Computer atau direkam oleh Tipe Recorder.

8. Proses pengambilan data selesai.


b. Menggunakan Horiba 1. Cek terlebih dulu apakah horiba tersebut berfungsi sebagaimana mestinya sebelum digunakan, dan hindari dari sinar matahari karena alat ini sangat sensitif terhadap cahaya. 2. Tentukan terlebih dahulu kedalaman yang akan kita ukur. 3. Membuka penutup dari sensor untuk memulai pemerikasaan. 4. Turunkan alat horiba tersebut perlahan-lahan atau pelan-pelan ke dasar perairan. Yang perlu diperhatikan bahwa yang dipegang bukanlah kabel yang tersambung pada horiba tetapi tali yang diikatkan pada kabel. Hal ini untuk menjaga apabila kabel pada horiba putus.

5. Sesudah sampai kedalaman yang telah ditentukan lihat horiba tersebut berapa angka yang muncul. Dan data yang muncul bisanya berurutan dimana dari PH, DO, CONDUCTIVITY, SALINITY, TDS, SEAWATER SPECIFIC, GRAFITY,

TEMPERATURE , TURBIDITY, DEPTH, ORP 6. Catat data yang keluar dari horiba tersebut. 7. Setelah itu kita angkat horiba pelan-pelan keatas kapal dengan memegang tali itu lagi. 8. Setelah selesai pengukuran dalam tiap stasiun horiba tersebut harus disiram dengan alkohol supaya netral lagi. 9. Tutup sensor dari horiba, dan setelah ditutup hindarkan dari sinar cahaya matahari. c. Menggunakan refraktometer 1. Tetesi refraktometer dengan aquadest. 2. Bersihkan dengan kertas tisyu sisa aquadest yang tertinggal. 3. Teteskan air sampel yang ingin diketahui salinitasnya. 4. Lihat ditempat yang bercahaya. 5. Akan tampak sebuah bidang berwarna biru dan putih. 6. Garis batas antara kedua bidang itulah yang menunjukan salinitasnya. 7. Bilas kaca prisma dengan aquades, usap dengan tisyu dan simpan refraktometer di tempat kering. 2. Pengukuran gelombang a. Menggunakan Wave Pole 1. Menentukan titik tetap dari letak wave pole dengan jarak 2 meter, 3 meter, 4 meter, dan 5 meter yang berfungsi sebagai acuan jarak untuk menentukan periode/waktu gelombang. 2. Periode gelombang di hitung pada saat gelombang melewati wave pole sampai gelombang tersebut melewati batas titik tetap yang tadi telah ditentukan. 3. Perhitungan periode gelombang ini dilakukan sebanyak 5 kali ulangan. b. Menggunkan Wave Staff 1. Menentukan titik tetap dari letak wave staff dengan jarak 2 meter, 3 meter, 4 meter, dan 5 meter yang berfungsi sebagai acuan jarak untuk menentukan periode/waktu gelombang. 2. Periode gelombang di hitung pada saat gelombang melewati wave pole sampai gelombang tersebut melewati batas titik tetap yang tadi telah ditentukan. 3. Perhitungan periode gelombang ini dilakukan sebanyak 5 kali ulangan. 3. Pengukuran pasang-surut a. Menggunakan Tide Staff 1. Memasang tide staff di daerah pasang surut yang masih terendam air pada saat surut rendah. 2. Mencatat tinggi permukaan pada tide staff sebagai tinggi mula-mula. 3. Mencatat tinggi permukaan air setelah 1-2 jam tinggi permukaan lagi. 4. Menghitung kecepatan pasang surut sebagai selisih dari pegukuran.

b. Menggunakan Floating Tide Gauge 1. Memasang Floating Tide Gauge pada tempat yang tidak begitu besar dipengaruhi oleh pergerakkan air laut sehingga pelampung dapat bergerak vertikal dengan bebas. 2. Mengikat pelampung dan penahan beban dan menghubungkannya dengan katrol yang terdapat pada encoder, sehingga gerakan pelampung dapat memutar katrol. 3. Mengukur tinggi muka air oleh alat dengan mendeteksi pergerakkan naik turun dari air dapat diketahui melalui pelampung yang sudah dihubungkan dengan alat pencatat. 4. Mengkonversikan perputaran yang terjadi pada katrol menjadi sinyal digital dan ditransfer ke unit data logger melalui kabel tranducer. 5. Memproses unit sinyal listrik tersebut didalam data logger menjadi nilai yang terukur. c. Menggunakan Pressure Tide Gauge 1. Memasang Pressure Tide Gauge pada tempat yang selalu dibawah permukaan air laut pada saat surut terendah. 2. Menghubungkan Pressure Tide Gauge dengan alat pencatat. 3. Mencatat data perubahan naik turunnya air laut yang direkam melalui perubahan tekanan pada dasar laut yang dihubungkan dengan alat pencatat. 4. Pengukuran Arus a. Menggunakan ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler) 1. Mengatur waktu mulainya pengukuran, waktu selesai, arah mata angin, koordinat bola bumi yang digunakan, dan intensitas pengukuran (misal: pengukuran setiap 5 menit, dll) 2. Meletakkan ADCP pada dasar laut dan mengusahakan posisinya tidak miring karena akan mempengaruhi perubahan arah sinyal dopplernya.. 3. Memberi pemberat pada ADCP atau mengikatnya pada karang agar posisinya tidak terbalik. 4. Memasang ADCP selama waktu yang ditentukan. 5. ADCP akan merekam semua parameter yang telah disetting terlebih dahulu. 6. Mengambil ADCP dan membawanya ke atas kapal setelah selesai pengamatan. 7. Mengambil data yang ada di dalam ADCP dan memindahkannya ke komputer. 8. Melakukan pengolahan data. b. Menggunakan Current meter 1. Menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk pengukuran. 2. Membentangkan kabel pada lokasi yang memenuhi persyaratan dan posisi tegak lurus dengan arah arus air dan tidak melilit. 3. Menentukan titik pengukuran dengan jarak tertentu. 4. Memberikan tanda pada masing-masing titik. 5. Menulis semua informasi/keterangan yang ada pada pengukuran.

6. Mencatat jumlah putaran baling-baling selama interval yang ditentukan (40-70 detik), apabila arus air lambat waktu yang digunakan lebih lama (misal 70 detik), apabila arus air cepat yang digunakan lebih pendek (misal 40 detik). 7. Menghitung kecepatan arus dari jumlah putaran yang didapat dengan

menggunakan rumus baling-baling tergantung dari alat bantu yang digunakan (tongkat penduga dan berat bandul).

BAB IV
Kesimpulan 1. CTD (Conductivity Temperature Depth) adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik air seperti suhu, salinitas, tekanan, kedalaman, dan densitas. 2. Horiba merupakan alat untuk mengukur kualitas suatu perairan. Melalui horiba kita bisa mendapatkan berbagai parameter-parameter fisika-kimia, diantaranya adalah: DO, PH, temperatur, konduktivitas, kedalaman, salinitas serta turbidity. 3. Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan terlarut. Misalnya gula, garam, protein, dsb. 4. Wave Pole adalah papan kayu dengan panjang 4 meter, lebar 15 cm dan tebal 3 cm yang berskala tiap 20 cm. Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati puncak dan lembah, perhitungan periode gelombang dilakukan dengan menghitung waktu gerakan gelombang melewati titik tertentu. 5. Staf OSSI-010-002E Wave adalah tingkat air sensor yang menggabungkan, kasar disegel, paket tahan air, mikroprosesor daya rendah dan suhu yang stabil, penginderaan sirkuit. 6. Tide Staff merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana, berupa papan dengan tebal 1 2 inci dan lebar 4 5 inci. Sedangkan panjangnya harus lebih dari tunggang pasut. 7. Prinsip kerja Floating Tide Gauge ini berdasarkan pada gerak naik turunnya permukaan laut yang dapat diketahui melalui pelampung yang dihubungkan dengan alat pencatat. 8. Prinsip kerjanya sama dengan floating tide gauge, hanya saja gerak naik turunya permukaan air laut, dapat diketahui dengan perubahan tekanan, yang terjadi di dasar laut. . Alat ini dipasang sedemikian rupa,sehingga selalu berada di bawah permukaan air laut tersurut 9. ADCP Kependekan dari Acoustic Doppler Current Profiler, alat yang digunakan untuk mengukur arus laut. Alat ini mengirimkan sinyal akustik frekuensi tinggi yang disebarkan kembali oleh plankton, sedimen terlarut, dan gelembung udara, yang diasumsikan bergerak dengan kecepatan rerata air. 10. Current meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur arus laut. Prinsip kerja jenis curent meter ini adalah propeler berputar dikarenakan partikel air yang melewatinya. Jumlah putaran propeler per waktu pengukuran dapat memberikan kecepatan arus yang sedang diukur apabila dikalikan dengan rumus kalibrasi propeler tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
http://winniehertikawati.blogspot.com/2010/05/ctd-conductivity-temperature-depth.html http://www.act-us.inf http://www.sardi.sa.gov.au/aquatic/oce http://www.oceanobservatories.org/2011/photo-tour-endurance-array-testupdate/&docid=5MEkAJYP4Hu3tM&imgurl WWW.CHEMISTRY.ORG alvina.blog.uns.ac.id http://indonetwork.co.id/interlinkmulia/472293/horiba-u-50.htm&docid=QPTXKGHnlmdhXM&imgurl www.ridhorachman.blogspot.com www.putrakalimas.blogspot.com http://www.metker.hu/egyeb/mref-3-refraktometer/&docid=7SHy-438h-cUwM&imgurl www.ilmukelautan.com http://id.scribd.com/doc/67892929/TP-Pra-Praktikum http://dhamadharma.wordpress.com/2010/10/07/laporan-praktikum-oseanografi-fisika/ http://www.act-us.info/sensordetail.php?ID=8995&cat=&type= http://homepages.cae.wisc.edu/~chinwu/CEE618_Exploration_of_Great_Lakes/wave-staff.html Defant, Albert. 1958. Ebb and Flow. The University of Michigan Press Hutabarat, Sahala.dkk. 1985. Pengantar.Oseanografi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia(UIPress) Penuntun praktikum oseanografi umum, 2005. IPB Jurnal Saint dan Teknologi BPPT. www.bppt.go.id Richards. P.R. 1998 Manual of Standard Operating Procedures for Hydrometric Surveys in British Columbia Resources Inventory Committee. BC-Canada www.seba.de/product/water current meter.html www.eng.fiu http://seandy-laut-biru.blogspot.com/2010/01/acoustic-doppler-current-profiler-adcp.html http://oseanografi.wordpress.com/glossary/ http://perhubungan2.wordpress.com/tag/current-meter/ Khopkar, S.M.2007.Konsep Kimia Analitik.Jakarta: UI-PRESS Zemansky,Sears.1994.Fisika untuk Universitas 3 Optika. Jakarta: Bna Cipta