Anda di halaman 1dari 26

Laporan

GEOMORFOLOGI INDONESIA
(Bukti Terangkatnya Daratan Gorontalo)

Oleh Nama NIM Kelas Angkatan : Yasrin Karim : 451 409 057 : Geografi B : 2009

PROGRAM STUDI S1 PEND. GEOGRAFI JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2011

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb. Puji syukur senantiasa penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Bukti Terangkatnya Daratan Gorontalo. Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini, banyak menemui kendala, namun berkat kerjasama, kemauan keras dan kesabaran serta bantuan dari berbagai pihak terutama Dosen Pembimbing matakuliah Geomorfologi Indonesia, kendala tersebut dapat teratasi. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing yang memberikan tugas yang sangat bermanfaat dengan adanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga masih banyak kekurangan dan kesalahan. Olehnya itu kritik dan saran yang sifatnya membangun penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah berikutnya. Wallaikumsalam. Wr. wb,

Gorontalo,

Januari 2011

Penyusun

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ......................................................................................... i DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1 1.2 Permasalahan ........................................................................................ 1 1.3 Tujuan.................................................................................................... .2 1.4 Manfaat................................................................................................. .2

BAB II KAJIAN TEORI .................................................................................. 3 2.1 Teori Pembentukan Bumi .................................................................... .3 2.2 Sejarah Perkembangan Muka Bumi. ................................................... 5 2.3 Proses Terbentuknya Daratan. ........................................................... 10 2.4 Kondisi Hidrogeologi Daerah Gorontalo, ........................................... 11 2.5 Struktur Geologi Dan Kegiatan Tektonik. ......................................... 15 2.6 Geologi Daerah Cekungan Limboto. .................................................. 15

BAB III METODE PENGUKURAN. ............................................................. 17

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................... 18 4.1. Hasil. .................................................................................................... 18 4.2. Pembahasan. ........................................................................................ 20

BAB VPENUTUP. .......................................................................................... 21 5.1. Kesimpulan. ....................................................................................... 21 5.2. Saran. .................................................................................................. 21

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 22 LAMPIRAN. .................................................................................................... 23

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai bentang alam (landscape), meliputi sifat dan karakteristik dari bentuk morfologi, klasifikasi dan pembedaanya serta proses yang bertanggung jawab terhadap pembentukan morfologi tersebut. Secara garis besar proses pembentukan morfologi secara alamiah di bagi atas: Proses yang berlangsung dari dalam bumi Proses degradasi Proses agradasi Proses biologi Proses-proses lainnya yang memicu sehingga terjadinya perubahan betuk bentang alam seperti: perubahan iklim global,pembuatan bendungan dan teknik sipil lainnya, penggundulan hutan, dan reklamasi pantai. Khusus untuk wilayah pantai dan pesisir, dimana pembahasan ini ditekankan, ada beberapa istilah yang perlu dikemukakan untuk mendapatkan persamaan persepsi yaitu PANTAI (SHORE) dan PESISIR (COAST)

1.2 PERMASAHAN 1. Bagaimana teori pembentukan bumi ? 2. Bagaimana proses terbentuknya daratan? 3. Bagaimana proses terangkatnya daratan daerah Gorontalo yang dulunya adalah lautan? 4. Bagaimana kondisi hidrogeologi daerah gorontalo? 5. Bagaimana sejarah perkembangan permukaan bumi? 6. Bagaimana struktur geologi dan kegiatan tektonik Gorontalo?

1.3 TUJUAN Melatih mahasiswa dalam menggunakan alat yang digunakan, meneliti berbagai fosil sebagai bukti daran daerah Gorontalo dulunya adalah lautan.

1.4 MANFAAT Agar mahasiswa memiliki pengetahuan tentang teori pembentukan dan proses terangkatnya daratan serata mampu mendeskripsikan proses pembentukan dan terangkatnya daratan.

BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Teori Pembentukan Bumi Penyelidikan pertama pada abad ke-19 berdasarkan fosil dan batuan (secara geologi), bumi terbentuk pada 4,6 milyar tahun yang lalu (4,600 jta tahun yang lalu). Seluruh tata surya kita terbentuk dalam waktu yang sama. Bumi sebagai tempat tinggal makhluk hidup dalam proses terjadinya di kaji lewat ilmu kosmografi. Berikut beberapa hipotesa/ hipotesis terjadinya bumi yaitu sebagai berikut : a. Hipotesis Nebula : Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Immanuel Kant(1724-1804) pada tahun 1775. Kemudian hipotesis ini

disempurnakan oleh Pierre Marquis de Laplace pada tahun 1796. Oleh karena itu, hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis nebula KantLaplace. Pada tahap awal tata surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula. Unsur gas sebagian besar berupa hidrogen. Karena gaya gravitasi yang dimilikinya, kabut itu menyusut dan berputar dengan arah tertentu. Akibatnya, suhu kabut memanas dan akhirnya menjadi bintang raksasa yang disebut matahari. Matahari raksasa terus menyusut dan perputarannya semakin cepat. Selanjutnya cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam. Dengan cara yang sama, planet luar juga terbentuk. b. Hipotesis Planetisimal : Hipotesis planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.

c. Hipotesis Pasang Surut Bintang : Hipotesis pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya matahari. d. Hipotesis Kondensasi : Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa. e. Hipotesis Bintang Kembar : Hipotesis bintang kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001) pada tahun 1956. Hipotesis mengemukakan bahwa dahulunya tata surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan yang salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu akan terperangkap oleh gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai mengelilinginya.

Tapi diantara semua itu, yang paling terkenal itu adalah Teori Big Bang.

Berdasarkan Theory Big Bang, proses terbentuknya bumi berawal dari puluhan milyar tahun yang lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya. Putaran yang dilakukannya tersebut memungkinkan bagian-bagian kecil dan ringan terlempar ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan nama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu, bagian ringan yang terlempar ke luar tadi

mengalami kondensasi sehingga membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian, gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi. Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami proses secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini. Ada tiga tahap dalam proses pembentukan bumi, yaitu: 1. Awalnya, bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau perbedaan unsur.

2. Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan terjadinya diferensiasi. Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan. 3. Bumi terbagi menjadi lima lapisan, yaitu inti dalam, inti luar, mantel dalam, mantel luar, dan kerak bumi . Perubahan di bumi disebabkan oleh perubahan iklim dan cuaca.

2.2. Sejarah Perkembangan Muka Bumi Beberapa teori tentang perkembangan muka bumi adalah sebagai berikut : 1. Teori Apung Benua (Continental Drift) Alfred Lothar Wegener seorang ahli klimatologi dan geofisika menerbitkan buku yang berjudul The Origin of Continent and Oceans, (Cut Meurah, h.56) dalam buku tesebut ia mengajukan sebuah ide tentang teori apung benua sebagai dasar Teori Tektonik Lempe ng. Menurut Teori Apung Benua bahwa benua terdiri atas batuan sial (silikon aluminium) yang di atas dan sima (silikon magnasium) yang berada di bawahnya karena berat jenisnya lebih besar. Pada zaman Karbon ( 345 juta tahun yang lalu), hanya ada satu benua yaitu Benua Pangea. Benua ini pecah menjadi dua yaitu gondwana dan lauratia. Seiring berjalannya waktu wilayah ini terus bergerak menuju kahtulistiwa dan ke bagian barat sehingga terbentuk benua-benua yang ada sekarang.

Bukti-bukti teori ini, diantaranya adalah adanya kesesuaian antara daratan Amerika Selatan dan Afrika, baik dari segi paleoklimatik, fosil, maupun struktur batuan yang menunjukkan bahwa kedua benua tersebut pernah menjadi satu. Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan. Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil. Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi. 2. Teori Kontraksi oleh Descartes Ia mengemukakan teori kontraksi yang kemudian diteruskan oleh Suess. Menurut Rene Descartes (1696-1650), bumi kita makin menyusut dan mengkerut karena pendinginan. Karena itu, terjadilah gunung-gunung dan lembah-lembah. Teori ini mendapat dukungan para ahli geologi. 3. Teori Kontraksi oleh Edward Suess Edward Suess (1831-1914) melanjutkan teori Descartes. Akan tetapi, Suess menyatakan bahwa persamaan geologi yang terdapat di Amerika Selatan, India, Australia, dan Antartika disebabkan oleh

bersatunya daratan-daratan itu pada awal mulanya yang merupakan satu benua dan disebut Benua Gondwana. Benua yang besar itu sekarang tinggal sisa-sisanya saja, karena bagian lain sudah tenggelam di bawah permukaan laut. 4. Teori Lauransia-Godwana Teori ini dikemukakan oleh Edward zuess (1884) dan Frank S. Taylor (1910). Teori ini menyatakan bahwa pada mulanya Laurentia (Laurasia) dan Gondwana. Kedua benua tersebut kemudian bergerak secara perlahan kea rah ekuantor sehingga terpecahspecah membentuk benua-benua seperti sekarang. Amerika Selatan, Afrika, dan Australia dahulu menyatu dengan benua Gondwanaland, sedangkan benua-benua lain menyatu dalam Laurasia. Fenomena yang memperkuat teori ini antara lain bahwa persamaan geologi yang terdapat di Amerika Selatan, India, Australia dan Antartika di sebabkan oleh bersatunya daratan-daratan itu. Pada awalnya daratandaratan tersebut merupakan satu bebua, yaitu benua Gondwana. Benua itu sekarang tinggal sisa-sisanya saja karena daratan yang lain sudah tenggelam di bawah permukaan laut. 5. Teori Lempeng Tektonik Beberapa tahun setelah A.L. Wegener mengajukan teorinya, pada tahun 1968 dikemukakan sebuah teori yang lebih memuaskan yaitu teori tektonik lempeng. Teori ini menyatakan bahwa bagian luar Bumi yaitu bagian Lithosfer, terdapat sekitar 20 segmen yang padat yang disebut lempeng. Dari semua itu lempeng terbesar adalah Lempeng Pasifik yang menempati sebagian besar Samudera Pasifik. Ada 7 (tujuh) lempeng-lempeng di permukaan Bumi yang dikategorikan lempeng besar/utama yaitu : Lempeng Afrika, Lempeng Amerika Utara, Lempeng Amerika Selatan, Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Antartika. Disamping tu terdapat lempeng yang kecil seperti Lempeng Filipina, Lempeng Arabia, Lempeng Nazca dan Lempeng Scotia.

Salah satu prinsip utama Teori Tektonik Lempeng bahwa setiap lempeng bergerak-gerak sebagai satu unit terhadap unit lain (Cut Meurah, h. 58). Ada tiga tipe batas-batas lempeng yang masing-masing dibedakan dari jenis pergerakannya, yaitu : 1. Zone Divergen yaitu lempeng-lempeng bergerak saling menjauh yang menyebabkan naiknya material dari mantel Bumi dan membentuk lantai samudera yang luas. Pada zone ini terbentuk kerak Bumi baru sehingga disebut zona konstruktif. Hal ini ditandai dengan adanya punggung tengah samudera. Sepanjang punggung ini terdapat lembah besar dan curam yang dinamakan retak tengah samudera. Gempa bumi yang terjadi pada sesar transform dan bersifat dangkal sesuai dengan ketebalan lempeng tempat itu. 2. Konvergen yaitu lempeng-lempeng bergerak saling mendekati yang menyebabkan salah satu dari lempeng tersebut masuk ke dalam mantel Bumi dan berada di bawah lempeng lainnya. Pada zone ini terjadi penghancur lempeng. Apabila terjadi tabrakan antara dua lempeng atau lebih, salah satu lempengnya menunjam (masuk) di bawah lempeng lainnya, dan lempeng yang lebih berat masuk di bawah lempeng yang lebih ringan. Daerah pertemuan ini merupakan pusat gempa. 6. Teori konveksi Teori konveksi mengemukakan bahwa terjadi lirankonveksi kearah vertical di dalam lapisan astenosfer yang agak kental.Aliran tersebut berpengaruh sampai ke kerak bumi yang ada di atasnya.Aliran konveksi yang merambat ke permukaan bumi menyebabkan batuan kerak bumi menjadi lunak. Gerak aliran dan dalam bumi mengakibatkan permukaan bumi tidak rata. Fenomena yang mendukung teori ini adalah adanya lava yang mengalir di puncak mid aceanic ridge. Lava ini mengalir terus dan kemudian tersebar ke kedua sisi dan membeku, kemudian membentuk kerak bumi baru. Pengukit teori ini adalah Harry H. Hess.

7. Teori Pergeseran Dasar Laut Teori ini dikemukakan oleh Robert Diesz. Ia mengembangkan teori konveksinya Hess. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan ditemukan bukti-bukti baru tentang terjadinya pergeseran dasar laut dan arah punggung laut kedua sisinya. Fenomena yang mendukung teori ini adalah semakin jauh dan punggung dasar laut, unsure sedimen semakin tua. Contoh: Mid Atlantic Ridge, East Pacific ridge, Atlantic Indian Ridge, dan Pacific Atlantic Ridge. 8. Pergerakan Bumi Bumi bergerak mengitari matahari dalam waktu 365 hari, 6 jam, 9 menit, dan 10 detik, serta menempuh jarak sejauh 958 juta km. waktu yang diperlukan oleh bumi untuk sekali mengitari matahari ini disebut satu tahun bumi. 9. Rotasi Bumi Rotasi bumi adalah perputaran bumi pada sumbunya. Untuk menyelesaikan satu putaran penuh, bumi memerlukan waktu 24 jam. Jadi tiap jam sebuah titik di bumi bergeser sejauh 15 derajat. Arah rotasi dari Barat ke Timur atau berotasi dengan arah negatif. Akibat rotasi bumi antara lain : Peredaran semu harian dari benda-benda langit. Peristiwa siang dan malam serta perbedaan waktu. Pembelokan arah arus laut. Perbedaan percepatan gravitasi di permukaan bumi.

10. Revolusi Bumi Bumi beredar mengitari matahari pada suatu bidang orbit yang disebut ekiliptika. Orbitnya hamper seperti lingkaran 360 derajat dengan periode 365 hari, 6 jam, 9 menit, dan 10 detik. Arah revolusi bumi adalah negatif atau arah timur, artinya arah peredarannya berlawanan dengan arah perputaran jarum jam.

Akibat revolusi bumi antara lain : Gerak semu matahari tahunan. Perubahan lamanya waktu siang dan malam. Pergantian musim Perubahan paralaks bintang. Gerak semu bintang tetap di bola langit.

11. Pergerakan Pelapisan Bumi Struktur lapisan bumi dibagi menjadi tiga lapisan utama, yaitu kerak (crush), selimut (mantle), dan inti (core).

2.3. Proses Terbentuknya Daratan Proses terbentuknya daratan tidak lepas dari proses terbentuknya planet bumi yang merupakan salah satu benda langit yang terbentuk dari awan/gas/asap langit kemudian bumi itu berupa bintang yang sangat kecil karena proses tekanan antar material pembentuk yang mempunyai tekanan (gravitasi) kearah memusat (Inti bumi) sehingga menimbulkan pijaran panas memancar dilangit. Kemudian saat melewati beberapa proses benda langit yang akhirnya diketahui bernama bumi (yang saat itu masih berupa bola pijar) mulai mendingin (karena suhu ruang langit sangat dingin, karena jaraknya jauh dari sumber panas (matahari), maka bumi yang termasuk jauh dari matahari dan menerima kualitas panas Matahari lebih rendah daripada planet yg lebih dekat, sehingga lebih dulu mendingin dan membeku menjadi es, bagian luar (kulit) bumi membentuk dasar tanah, air & atmosfer (terjadi karena siklus alam). Selanjutnya mengalami (siklus) gejolak dari inti bumi yang mengarah keluar ke permukaan bumi (gunung berapi) atau membentuk aktivitas vulkanik & tektonik dari gunung berapi pada dasar tanah yang baru terbentuk itu. Aktivitas inti bumi menimbulkan banyak terbentuk gunung berapi yang memancarkan meterial dari inti bumi membentuk tanah daratan, sehingga dasar tanah dan tanah daratan yang terbentuk selama proses aktivitas planet

bumi (siklus tanah bumi) akan menimbulkan lempeng benua. Relief tanah lempeng benua terbentuk karena siklus alam, tanah mempunyai jenis, berat, masa jenis & kandungan material yang berbeda dan menekan ke inti bumi (gravitasi bumi) menimbulkan tekanan besar menghasilkan panas inti bumi. Bentuk relief daratan lempeng benua sebagian besar terbentuk karena proses siklus hidrologi global dalam jumlah besar (pada masa itu terjadi banjir gadang berupa air bah yang menutupi permukaan planet bumi karena es mencair dalam jumlah besar) sehingga 2/3 lebih permukaan bumi hampir ditutupi oleh air yang seperti pada samudera altantik utara ke selatan telah mengikis memotong tanah antara benua Amerika, Eropa & Afrika dalam jumlah sangat besar yang bentuknya seperti bentuk pola aliran sungai raksasa. Pada akhirnya relief lempengan daratan benua terbentuk, karena bergeser membentuk pecahan benua. Daratan seperti yang kita kenal bentuknya seperti sekarang ini kemungkinan untuk berubah lagi (secara extrim) sangat kecil karena bobot lempengan tanah daratan benua sangat berat & tekanannya ke inti bumi sangat kuat, dan pergeserannya sangat kecil.

2.4. Kondisi Hidrogeologi Daerah Gorontalo a. Geomorfologi Wilayah Gorontalo yang ditempati oleh Cekungan Air Tanah Limboto berada pada bagian lengan utara Sulawesi, dimana sebagian besar daerah ini ditempati oleh satuan batuan Gunung Api Tersier. Di wilayah bagian tengah daerah ini dijumpai dataran rendah berbentuk memanjang yang terbentang dari arah barat-barat laut ke timur-tenggara yang diduga semula merupakan danau dengan pusatnya berada di Danau Limboto. Wilayah Cekungan Limboto dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) satuan morfologi, yaitu : satuan morfologi satuan pegunungan berlereng terjal, satuan morfologi perbukitan bergelombang dan satuan morfologi dataran rendah. ,

Satuan morfologi pegunungan berlereng terjal, terutama menempati wilayah bagian tengah dan utara wilayah Gorontalo, yang menjadi pembatas sebelah timur dan sebelah utara dafi Cekungan Air Tanag Limboto yaitu di dengan beberapa puncaknya berada di Pegunungan Tilongkabila, antara lain : G. Gambut (1954 m), G. Tihengo (1310 m), G. Pombolu (520 m) dan G. Alumolingo (377 m), satuan morfologi ini terutama dibentuk oleh satuan batuan Gunungapi tersier dan batuan Plutonik. Satuan morfologi perbukitan bergelombang, terutama dijumpai di daerah bagian selatan dan bagian barat dan menjadi batas cekungan di sebelah selatan dan sebelah utara. Satuan morfologi ini umumnya menunjukkan bentuk puncak membulat dengan lereng relatif landai dan berjulang kurang dari 200 meter yang terutama ditempati oleh satuan batuan Gunungapi dan batuan sedimen berumur Tersier hingga Kuarter. Satuan morfologi dataran, merupakan daerah dataran rendah yang berada di bagian tengah wilayah Cekungan Limboto yaitu di sekitar Danau Limboto. Pada umumnya daerah ini ditempati oleh satuan aluvium dan endapan danau. Aliran sungai di wilayah ini umumnya mempunyai pola 'sub dendritic dan 'sub parallel" b. STRATIGRAFI Berdasarkan peta geologi lembar Tilamuta (S. Bachri, dkk, 1993) dan lembar Kotamobagu (T.Apandi, dkk, 1997) dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung, stratigrafi wilayah Cekungan Limboto disusun oleh formasi / satuan batuan sebagai berikut : Endapan Permukaan Alwium (Qal), terdiri dari : pasir, lempung, lanau, lumpur, kerikil dan kerakal yang bersifat lepas. Satuan batuan ini menempati daerah dataran rendah, terutama di daerah dataran, lembah sungai dan daerah rawa-rawa. Pelamparan dari satuan batuan ini terbatas pada daerah aliran sungai (DAS) seperti yang terdapat di sebelah barat Danau Limboto. Endapan Danau (Qpl), terdiri dari : batu lempung, batu pasir, dan kerikil. Satuan batuan ini umumnya didominasi oleh batu lempung yang

berwarna abu - abu kecoklatan, setempat mengandung sisa tumbuhan dan lignit, di beberapa tempat terdapat batu pasir berbutir halus hingga kasar, serta kerikil. Pada batupasir secara setempat terdapat struktur sedimen silang siur berskala kecil. Umumnya satuan batuan ini masih belum mampat dan diperkirakan berumur Pliosen hingga Holosen. Sebaran satuan batuan ini menempati lembah di sekitar Danau Limboto. Ketebalan satuan batuan ini mencapai 94 meter dan dialasi oleh batuan Diorit (Trail, 1974). Satuan Batuan Sedimen dan Gunungapi Formasi 'Anombo (Teot), terdiri dari : lava basal, lava andesit, breksi gunung api, dengan selingan batu pasir wake, batu pasir hijau, batu lanau, batu gamping merah, batu gamping kelabu, dan sedikit batuan termalihkan. Umur dari satuan batuan ini diperkirakan Eosen hingga Miosen Awal. Satuan batuan dari formasi ini terdapat di daerah sekitar G. Tahupo (828 m) di sebelah selatan. Formasi Dolokapa (fmd), terdiri dari : batu pasir wake, batu lanau, batu lumpur, konglomerat, tuf, tuf lapili, aglomerat, breksi gunungapi dan lava bersusunan andesit sampai basal. Umur dari formasi ini diperkirakan Miosen Tengah hingga Awal. Miosen Akhir dengan lingkungan lingkungan pengendapan inner sublitoral dengan tebal diperkirakan lebih dari 2.000 meter. Sebaran dari satuan batuan di daerah ini menempati bagian tengah dan utara wilayah Gorontalo, yaitu di sebelah utara dari Cekungan Limboto (daerah Paleleh hingga sekitar daerah daerah Kuandang). Batuan Gunungapi Bilungala (Tmbv), terdiri dari : breksi gunungapi, tuf dan lava. satuan batuan ini diperkirakan berumur Miosen Tengah hingga awal Miosen Akhir dengan tebal lebih dari 1.000 meter. Sebaran dari satuan batuan ini terdapat di bagian timur wilayah Gorontalo, di daerah Tolotio menerus ke timur. Satuan Breksi Wobudu (Tpwv), terdiri dari : breksi gunungapi, aglomerat, tuf, tuf lapili, lava andesit dan lava basal. Satuan batuan ini

diperkirakan berumur Pliosen Awal dengan ketebalan diperkirakan 1.000 hingga 1.500 meter. satuan batuan ini tersingkap di bagian utara wilayah Cekungan Limboto, mulai dari Pegunungan Paleleh hingga sebelah barat Teluk Kuandang. Batuan Gunungapi Pinogu (TQpv), terdiri dari: perselingan aglomerat, tuf dan lava. satuan batuan ini diperkirakan berumur Pliosen Akhir hingga Pliosen Awal dengan ketebalan mencapai 250 meter, sedangkan sebarannya terdapat di sebelah selatan wilayah Cekungan Limboto dan daerah Teluk Kuandang serta di beberapa tempat yang membentuk bukit - bukit terpisah. Batu Gamping Klastik (TQI), terdiri dari: kalkarenit, kalsirudif dan batu gamping koral. Satuan batuan ini diperkirakan berumur Pliosen Akhir hingga Pliosen Awal dengan ketebalan antara 100 hingga 200 meter, sedangkan sebaran nya terdapat di sebelah barat Danau Limboto. Batu Gamping Terumbu (QI), terdiri dari: batu gamping koral. Umur dari satuan batuan ini diperkirakan Pliosen Akhir hingga Holosen dengan ketebalan mencapai 100 meter, sedangkan sebarannya terdapat di daerah dekat danau Limboto dan pantai selatan bagian timur. Satuan Batuan Terobosan Diorit Bone (Tmb), terdiri dari : diorit, diorit kuarsa, granodiorit dan adamelit. Satuan batuan ini diduga berumur Miosen Tengah hingga awal Miosen Akhir (Trail, 1974), dan terdapat di daerah sebelah timur sesar Gorontalo, juga di sebelah barat sesar disebelah utara dari Cekungan Limboto (daerah dekat Kuandang dan Paleleh). Diorit Boliohuto (Tmbo), terdiri dari : diorit dan granodiorit Satuan batuan ini diperkirakan berumur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir, dan mempunyai sebaran di daerah G. Boiiohuto. Satuan Batuan Retas, terdiri dari : Andesit (Ta) dan Basal (fb). Satuan batuan ini menerobos satuan batuan dari Formasi Tinombo, Dolokapa, dan breksi Wobudu, sehingga umumya dianggap Miosen hingga Pliosen.

2.5. Struktur Geologi Dan Kegiatan Tektonik Wilayah Gorontalo yang ditempati oleh Cekungan Air Tanah Limboto berada pada bagian lengan utara Sulawesi, dimana sebagian besar daerah ini ditempati oleh satuan batuan Gunung Api Tersier. Di wilayah bagian tengah daerah ini dijumpai dataran rendah berbentuk memanjang yang terbentang dari arah barat-barat laut ke timur-tenggara yang diduga semula merupakan danau dengan pusatnya berada di Danau Limboto.

2.6. Geologi Daerah Cekungan Limboto Susunan batuan di daerah Cekungan Limboto disusun oleh beberapa satuan batuan yang berumur muda hingga tua , terdiri dari: 1. Endapan Danau (Qpl), terdiri dari: batu lempung, batu pasir, dan kerikil. Satuan batuan ini umumnya didominasi oleh oleh batu lempung yang berwama abu-abu kecoklatan, setempat mengandung sisa tumbuhan dan lignit, di beberapa tempat terdapat batu pasir berbutir halus hingga kasar, serta kerikil. Pada batu pasir secara setempat terdapat struktur sedimen silang siur bersekala kecil. Umumnya satuan batuan ini masih belum mampat dan diperkirakan berumur Pliosen hingga Holosen. Sebaran satuan batuan ini menempati daerah dataran yang terhampar di sekitar Danau Limboto. Ketebalan satuan batuan ini mencapai 94 meter dan dialasi oleh batuan diorit (Trail, 1974). 2. Batu Gamping Terumbu (QI), terdiri dari: batu gamping korat. Umur dari satuan batuan ini diperkirakan Pliosen Akhir hingga Holosen dengan ketebalan mencapai 100 meter, sedangkan sebarannya terdapat di daerah dekat danau Limboto dan pantai selatan. 3. Batu Gamping Klastik (TQI), terdiri dari : kalkarenit, kalsirudit dan batu gamping koral: Satuan batuan ini diperkirakan berumur Pliosen Akhir hingga Pliosen Awal dengan ketebalan antara 100 hingga 200 meter, sedangkan sebarannya terdapat di bagian utara cekungan yaitu sebelah barat Danau Limboto.

4. Batuan Gunungapi Pinogu (TQpv), terdiri dari : perselingan aglomerat, tuf dan lava. satuan batuan in! diperkirakan berumur Pliosen Akhir hingga Pliosen Awal dengan ketebalan mencapai 250 meter, sedangkan sebarannya terdapat di sebelah selatan dan sebelah barat Cekungan Limboto dan di beberapa tempat membentuk bukit bukit terpisah. 5. Formasi Tinombo (Teot), terdiri dari : lava basal, lava andesit, breksi gunung api, dengan selingan batu pasir wake, batu pasir hijau, batu lanau, batu gamping merah, batu gamping kelabu, dan sedikit batuan termalihkan. Umur dari satuan batuan ini diperkirakan Eosen hingga Miosen Awal. Satuan batuan dari formasi ini terdapat di daerah sebelah selatan Tolotio (bagian timur). 6. Batuan Gunungapi Bilungala (Tmbv), terdiri dari : breksi gunungapi, tuf dan lava. satuan batuan ini diperkirakan berumur Miosen Tengah hingga awal Miosen Akhir dengan tebal lebih dari 1.000 meter. Sebaran dari satuan batuan ini terdapat di bagian timur Gorontalo, yaitu di daerah Tolotio menerus ke arah timur.

BAB III METODE PENGUKURAN Dalam melakukan Observasi Geomorfologi Indonesia, dibutuhkan alat berupa Gps untuk melihat titik koordinat dan titik ketinggian dari daerah/lokasi observasi, kamera digunakan untuk mengambil gambar bukti-bukti daerah gorontalo dahulunya adalah lautan. Lain dari itu alat tulis menulis dan buku. Sebelum mengambil gambar, ditentukan terlebih dahulu titik koordinat tempat dan titik ketinggiannya dari permukaan laut. Dalam pengambilan gambar, tidak sembarang gambar yang harus diambil sebagai bukti daerah gorontalo dulunya adalah lautan, gambar yang di ambil berupa fosil dari ekosistem/biota seperti fosil dari terumbu karang.

BAB IV HASIL PENGUKURAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Observasi

Bukti Fisik Terangkatnya Daratan Gorontalo Lokasi pertama Titik koordinat : Leyato Selatan : N 000 29 29,26 E 1230 04 26,3

Titik ketinggian : 11 m Waktu observasi : Jumat, 07 Januari 2011

Lokasi kedua Titik koordinat

: Kantor Gubernur (Botu) : N 000 31 29,2 E 1230 04 44,6

Titik ketinggian : 71 m Waktu observasi : Jumat, 07 Januari 2011

2.5 PEMBAHASAN Deskripsi Gambar Kepulaun Indonesia terbentuk karena proses pengangkatan sebagai akibat dari penunjaman (subduksi). Lempeng (kerak) yang saling berinteraksi adalah kerak samudera pasifik dan hindia yang bergerak sekitar 2-5 cm pertahun terhadap kerak benua eurasia. Jadi Indonesia merupakan tempat pertemuan 3 lempeng besar sehingga Indonesia merupakan salah satu daerah yang memiliki aktifitas kegempaan yang tertinggi di dunia. Pengangkatan daratan ini tidak lepas dari teori pergerakan atau proses tektonik lempeng. Khususnya pada daerah Gorontalo, pengangkatan akibat proses tektonik dapat dilihat di sepanjang pantai Leato atau di balik kantor gubernur Gorontalo di botu hingga ke bilungala yg berhadapan dengan pantai. Disana banyak dijumpai fosil terumbu karang berada pada ketinggian kurang lebih 11 - 150 meter diatas permukaan laut. Biasa disebut dengan teras (paras muka laut) yg umurnya jutaan tahun akibat pengangkatan atau istilahnya disebut sea level rise. Ini menanandakan bahwa pantai selatan gorontalo termasuk aktif terangkat makanya sering ada gempa. Berbagai jenis fosil biota yang terlihat di daerah yang berketinggian 11150 m Dpl, ada juga berbagai hasil sedimentasi berupa batuan yang sudah mengalami proses kimia, dll. Dari fosil-fosil tersebut, bisa dipercaya bahwa dulunya itu daerah gorontalo adalah lautan dan terangkat menjadi daratan akibat dari penunjaman (subduksi).

BAB V PENUTUP 5.1 KESIMPULAN Berdasarkan hasil Observasi Geomorfologi Indonesia maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Dahulunya gorontalo adalah lautan yang luas yang dikemudian hari menjadi daratan karena adanya penunjaman (subduksi) 2. Berbagai fosil biota yang dijadikan bukti fisik terangkatnya daratan gorontalo. 3. Selain dari fosil biota, ada juga hasil-hasil sedimentasi seperti yang ada dilaut.

5.2 SARAN Kelangsungan hidup suatu makhluk hidup sangat dipengaruhi oleh fenomena-fenomena alam, patutnya kita khususnya mahasiswa geografi fenomena-fenomena dari alam,

mengetahui dan memahami berbagai macam

penyebab terjadinya fenomena tersebut beserta sejarahnya.

DAFTAR PUSTAKA http://id.wikipedia.org/wiki/teori pergeseran benua http://id.wikipedia.org/wiki/bumi http://ivanzz.dagdigdug.com/2010/01/19/in.ishare.ivnetwork/teori-pembentukanbumi/ Redaksi Ensikplesia. 1990.Ensiklopedia Indonesia Sei Geografi. Jakarta : PT. Ichtiar Bara Van Hoeve Simandjutak. TO. 2004. Tektonik. Bandung : Pusat Penelitian dn Pengembangan Geologi

LAMPIRAN
.