Anda di halaman 1dari 7

Teori Likuifaksi Munirwan (2005: 1) mengemukakan bahwa likuifaksi adalah gejala keruntuhan structural tanah akibat menerima beban

cyclic (berulang) dimana beban ini menimbulkan perubahan-perubahan di dalam deposit tanah pasir, berupa peningkatan tekanan air pori sehingga kuat geser tanah menjadi berkurang atau bahkan hilang sama sekali (loose of strength) sehingga tanah pasir akan mencair dan berperilaku seperti fluida. Pada prinsipnya likuifaksi dan penurunan itu beda, likuifaksi adalah hilangnya kekuatan tanah akibat meningkatnya air pori yang diakibatkan oleh getaran gempa bumi. Sedangkan penurunan itu sendiri diakibatkan oleh pergeseran, penggelinciran, dan terkadang juga kehancuran partikel-partikel tanah pada titik tertentu. Jenis-jenis Pembebanan yang Menyebabkan Likuifaksi Menurut Soelarno et al.,1984 sebagaimana dikutip oleh Zulfikar (2008: 3), likuifaksi adalah suatu gejala perubahan sifat tanah yaitu, dari sifat solid ke sifat liquid. Perubahan sifat ini dapat disebabkan oleh berbagai jenis pembebanan sebagai berikut: a) Disebabkan oleh pembebanan monotonic yang biasanya terjadi pada tanah lempung yang mengalami tekanan dari gaya rembesan air atau arus pasang sehingga menimbulkan gejala quick clay, sebagai akibatnya tanah lempung kehilangan kekuatan gesernya yang dikenal dengan nama static liquefaction. Kondisi ini walaupun mungkin tetapi jarang terjadi. b) Disebabkan oleh pembebanan cyclic yang biasanya terjadi pada tanah pasir jenuh air yang mengalami getaran gempa sehingga pasir kehilangan daya dukungnya yang dikenal dengan cyclic liquefaction. Kondisi ini lazim terjadi di lapangan. c) Disebabkan oleh pembebanan yang bersifat shock wave yang biasa terjadi pada tanah pasir kering berbutir halus yang mengalami getaran gempa yang bersifat shock wave atau getaran dari bom sehingga menimbulkan gejala fluidization yang berupa longsoran tanah yang dikenal dengan nama impact liquefaction. Kondisi ini juga jarang ditemukan, karena pada umumnya terjadi bila kondisi pasir jenuh.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Potensial Likuifaksi Soelarno, 1986 sebagaimana dikutip oleh Zulfikar (2008: 4) menyebutkan bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi potensial likuifaksi: a) Sifat butir tanah, pasir yang uniform (seragam) lebih mudah likuifaksi dibandingkan well graded sand (pasir yang bergradasi baik), untuk uniformity yang sama, butir pasir yang lebih halus akan lebih mudah likuifaksi. Pasir yang mudah likuifaksi adalah pasir yang mempunyai harga D10 antara 0,01-0,25 mm, D50 antara 0,075-2,0 mm, D20 antara 0,04-0,50 mm atau 0,004-1,20 mm dengan uniformity coefficient (Cu) antara 2-10. b) Kepadatan relatif (Dr), makin kecil harga Dr makin mudah terjadi likuifaksi. c) Pengaruh kondisi stress mula-mula di lapangan, makin besar harganya makin sulit tanah itu mencair (likuifaksi). Mekanisme Terjadinya Likuifaksi Studi megenai mekanisme terjadinya likuifaksi memberikan suatu metode guna menganalisis masalah peningkatan dan dissipasi (keluarnya air pori ke permukaan tanah) dari dalam lapisan horizontal suatu deposit (lapisan) pasir selama dan sesudah berlangsungnya getaran gempa bumi, dan untuk menggambarkan besarnya perubahan tekanan air pori yang dapat terjadi di dalam profil tanah sebagai fungsi dari waktu. Menurut Seed et al.,1975 sebagaimana dikutip oleh Zulfikar (2008: 4), untuk menganalisis kemungkinan terjadi likuifaksi diasumsikan bahwa selama berlangsungnya getaran gempa belum terjadi dissipasi yang berarti, dengan perkataan lain belum terjadi redistribusi tekanan air pori pada masa tanah. Akibat beban cyclic, tanah mengalami tekanan sebelum air sempat keluar meninggalkan pori. Hal ini menyebabkan tekanan air pori meningkat, sebaliknya tegangan efektif berkurang dan dengan demikian kekuatan geser juga berkurang. Pada suatu lapisan tanah pasir jenuh air, pengaruh dari getaran-getaran gempa bumi atau dibebani secara cyclic, akan mengalami perubahan sifat yaitu dari sifat solid ke sifat liquid yang dapat mengakibatkan peningkatan tekanan air pori dan pengaruh tegangan efektif, sehingga memungkinkan terjadi suatu gejala yang disebut likuifaksi, yang merupakan gejala keruntuhan struktur. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan

rumus tegangan efektif dan rumus kekuatan geser tanah dari Terzaghi yang dapat dilihat dibawah ini, untuk tanah pasir jenuh air yang ditinjau pada suatu kedalaman dari permukaan tanah. Rumus tegangan efektif (Bowles, 1984: 53):

dimana, eff = tegangan yang sebenarnya bekerja pada butir tanah (kg/cm2); tot = tegangan akibat beban-beban yang bekerja (kg/cm2); dan u = tekanan air pori (kg/cm2). Rumus kekuatan geser (Bowles, 1984: 409):

dimana, S = kekuatan geser tanah (kg/cm2); c = kohesi (kg/cm2); dan = sudut geser dalam sehubungan dengan tegangan efektif (0). Terlihat dengan jelas dari kedua rumus di atas bahwa peningkatan tekanan air pori akan berarti mengurangi tegangan efektif dan sekaligus mengurangi kekuatan geser dari tanah yang bersangkutan. Dapat juga terjadi bahwa u = tot sehingga berdasarkan rumus (2-1) maka eff = 0, ini berarti lapisan tanah tersebut hampir dapat dikatakan tidak mempunyai kekuatan geser sama sekali dan berperilaku seperti fluida. Evaluasi Potensial Likuifaksi Untuk mengevaluasi potensial likuifaksi, akan diuraikan di sini metode yang diusulkan oleh seed dan Idriss (1971), Whitman (1971), dan Valera dan Donovan (1977). Metode Seed dan Idriss (1971)

Seed dan Idriss (1971) mengemukakan suatu grafik yang menyatakan hubungan antara nilai tahanan penetrasi standar dengan kedalaman tanah yang ditinjau seperi yang diperlihatkan pada Gambar 2.1. Pada gambar tersebut, terdapat garis-garis batas, di mana sebelah kanan garis batas menunjukkan likuifaksi terjadi dan sebelah kiri garis menunjukkan likuifaksi tidak terjadi. Di sini terlihat notasi amax yang merupakan percepatan gempa maksimum dan g yang menunjukkan percepatan gravitasi bumi.

Metode Whitman (1971) Dasar dari metode yang diusulkan oleh Whitman untuk menganalisis kemungkinan terjadinya likuifaksi, adalah hasil penyelidikan di lapangan pada lapisan tanah yang telah pernah mengalami beban gempa bumi. Hasil penyelidikannya menunjukan bahwa terjadi tidaknya likuifaksi pada suatu lapisan tanah yang mengalami beban gempa sangat dipengaruhi oleh nilai cycle ratio (/vo =

perbandingan antara nilai tegangan geser gempa rata-rata akibat gempa dengan nilai tegangan efektif) serta nilai kepadatan relatif (Dr) dari lapisan tanah yang bersangkutan. Whitman, 1971 sebagaimana dikutip oleh Amirulmukminin (2008: 9) mengemukakan bahwa suatu nilai kritis yang merupakan hubungan antara nilai cycle ratio dengan nilai kepadatan relatif (Dr) berupa garis lengkung yang dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Menurut Seed & Idriss, sebagaimana dikutip oleh Amirulmukminin (2008 : 7), untuk menganalisis kemungkinan terjadi likuifaksi mula-mula dihitung nilai normalisasi tegangan geser siklis ekivalen gempa (eq) dengan nilai tegangan efektif (vo). Nilai tegangan geser siklis ekivalen gempa (eq) dapat diambil sebesar 65 % dari nilai tegangan geser gempa maksimum (max) dan mengusulkan suatu bentuk persamaan untuk menghitung nilai tegangan geser gempa maksimum sebagai berikut:

di mana, eq g max vo amax rd = tegangan geser ekivalen dari gempa; = percepatan gravitasi bumi; = tegangan geser maksimum dari gempa; = tegangan total akibat beban yang bekerja pada lapisan deposit; = percepatan gempa maximum di permukaan tanah; dan = faktor reduksi tegangan sebagai fungsi dari kedalaman yang dapat

dilihat pada Gambar 2.3. Metode Valera & Donovan (1977) Metode Valera & Donovan, 1977 sebagaimana dikutip oleh Zulfikar (2008: 7), memberikan suatu hubungan antara getaran gempa bumi yang menyebabkan likuifaksi dengan nilai tahanan penetrasi standar dari pasir yang dihasilkan dari penyelidikan gempa di negeri cina. Untuk memisahkan keadaan tanah pasir yang mengalami likuifaksi dengan yang tidak, ditentukan suatu nilai kritis tahanan penetrasi standar (Ncrit). Besarnya nilai Ncrit ditentukan dengan persamaan berikut:

Di mana, Ncrit = nilai kritis dari tahanan penetrasi standar (blows/ft); -N Ds dw = suatu nilai tahanan yang tergantung dari intensitas gempa seperti dapat dilihat = kedalaman lapisan pasir yang ditinjau (m); dan = kedalaman muka air tanah, dihitung dari permukaan (m). pada Tabel 2.1 (blows/ft);

Kriteria dalam menentukan kemungkinan terjadi tidaknya likuifaksi pada metode ini, adalah dengan membandingkan nilai tahanan standart penetrasi (N SPT) dengan nilai kritisnya (Ncrit). (a) Bila N < Ncrit berarti lapisan pasir yang ditinjau cenderung mengalami likuifaksi; dan (b) Bila N > Ncrit berarti lapisan pasir yang ditinjau cenderung tidak mengalami likuifaksi.