Anda di halaman 1dari 22

Case Report Session

STATUS Pasien

Identitas Pasien Nama Usia : Ny. D : 31 tahun

Suku/ bangsa : Melayu Agama Pendidikan Alamat MRS : Islam : SMA : RT.2 Simp. III Sipin : 15 Februari 2012, Jam 13.00 WIB

Keluhan Utama Os datang dengan keluhan akan melahirkan secara perabdominal disertai dengan rencana pengangkatan kista.

Riwayat Penyakit Sekarang Os datang melalui poliklinik RSUD Raden Mattaher dengan hamil aterm disertai kista ovarium. Os sebelumnya sudah melakukan USG di tempat praktek dokter pada usia kehamilan 17-18 minggu, kista ditemukan secara kebetulan pada saat USG dengan ukuran 7,5 cm. Sebelum di USG, os mengaku tidak merasakan keanehan sebelumnya. Os tidak merasa ada benjolan pada perutnya, tidak ada rasa nyeri, dan siklus menstruasi os teratur, hanya saja os merasakan frekuensi berkemihnya bertambah sering. Kemudian os disarankan untuk terus memeriksakan kandungannya secara rutin untuk mengetahui perkembangan janin sekaligus memantau pembesaran kista tersebut. Pemeriksaan terakhir dilakukan os pada tanggal 06 februari 2012 dengan hasil janin baik dan diameter kista 9,5 cm. kemudian os disarankan untuk melahirkan secara perabdominal sekaligus pengangkatan kista tersebut.

Riwayat Penyakit Dahulu Hipertensi (-), DM (-), Asma (-), PJK (-), Riwayat kista ovarium sebelumnya (-)

Case Report Session

Riwayat Obstetrikus G2P0A1 A1 : Tahun 2011, usia kehamilan 12 minggu HPHT : 17-5-2011 TP UK : 24-2-2012 : 38-39 minggu

Siklus haid 28 hari, lama haid 7 hari

Riwayat Perkawinan Os menikah satu kali, lama perkawinan 2 tahun

Riwayat Kontrasepsi Imunisasi TT lengkap

: (-)

Pemeriksaan Fisik TD Nadi RR BB sesudah hamil BB sebelum hamil TB Suhu Mata Leher Paru Jantung Abdomen Ekstremitas : 110/80 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit : 64 kg : 54 kg : 154 cm : 370C : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-) : dbn : vesikuler, wheezing (-), rhonki (-) : bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-) : membesar, tampak linea nigra. : akral hangat, oedema pretibial (-/-) Refleks Patella (+/+)

Case Report Session

Status Obstetri/Ginekologi Palpasi Leopold I: T.FUT pertengahan processus xyphoideus-umbilikus, teraba bagian lunak (bokong). Leopold II: Teraba bagian besar (punggung) di perut kiri, dan bagian kecil (ekstremitas) di perut kanan. Teraba massa kistik mobile dengan ukuran 10 cm Leopold III: Teraba bagian keras, bulat (kepala). Leopold IV: Teraba Konvergen

Tinggi Fundus Uteri (TFU) : 34 cm, Taksir Berat janin (TBJ) : 3410 gr. Denyut Jantung Janin(DJJ) : 145x/menit

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Darah Rutin 13 Februari 2012 WBC : 8,2 x 103/mm3, RBC : 3,73 x 106/mm3, Hb : 12,9 gr/dl

HCT : 35,4 L% PLT : 177 x 103/mm3

USG 06 februari 2012 : Hamil aterm + kistoma ovarium

Diagnosis G2P0A1 hamil 38-39 minggu belum inpartu + kistoma ovarium JTH intrauterine preskep

Penatalaksanaan Rencana Operasi tanggal 16 Februari 2012 Persiapan operasi


3

Case Report Session

Observasi keadaan umum dan tanda- tanda vital Prognosis Quo ad Fungsionam : Bonam Quo ad Vitam : Bonam

Tanggal 16 Februari 2012 S: cemas dengan keadaannya O: KU = baik TD = 120/80 mmHg S/N = 36 C/80 x/menit RR = 22 x/menit A: G2P0A1 hamil 38-39 minggu belum inpartu + kistoma ovarium JTH intrauterine preskep P: Rencana operasi hari ini jam 08.00 WIB

LAPORAN OPERASI Diagnosa pre operatif : G2P0A1 hamil 38-39 minggu belum inpartu + kistoma ovarium, JTH intrauterine preskep Diagnosa post operatif : P1A1 post SC + SOS Tahapan Operasi: 1. Os telentang dalam narkose spinal dan antiseptik 2. Insisi dinding abdomen lapis demi lapis 3. SBR dibuka dilebarkan secara tumpul 4. Kepala bayi diluksir 5. Bayi dilahirkan perabdominal jenis kelamin laki-laki BB 3300 gram A/S= 8/9 6. Plasenta dilahirkan perabdominal 7. SBR dijahit 8. Eksplorasi, ovarium kiri membesar dengan ukuran kista 10x8x8 SOS 9. Dinding abdomen ditutup lapis demi lapis
4

Case Report Session

10. Instruksi post operasi : Boleh minum bertahap Tidur pakai bantal IVFD = Dex 5% : RL 20 gtt/menit Inj. Ampicillin 3x1 gr Inj. Kanamicyn 1x1 gr Inj. Alinamin F 2x1 amp Kaltropen supp 3x1

Operasi selesai jam 10.45 WIB Jam 10.55 WIB, Os dipindahkan ke bangsal kebidanan

Follow Up 16 Februari 2012 (pukul 11.00 WIB)

S : masih dalam pengaruh anastesi, lemah O : KU : Sedang, TD = 120/70 mmHg, nadi = 80 x/menit, RR = 20x/menit, T = 36,50C A : P1A1 post SC+SOS hari I P : Th/ : IVFD = Dex 5% : RL 20 gtt/menit Inj. Ampicillin 3x1 gr Inj. Kanamicyn 1x1 gr Inj. Alinamin F 2x1 amp Kaltropen supp 3x1

17 Februari 2012 S: nyeri luka operasi O: KU : sedang, TD : 110/70 mmHg, N : 80 x/i, RR : 20x/i, S: 360C A: P1A1 post SC+SOS hari II P: lanjutkan terapi, obs KU, TTV, asuhan sayang ibu

Case Report Session

18 Februari 2012 S: nyeri luka operasi O: KU : sedang, TD : 120/80 mmHg, N : 82 x/i, RR : 20x/i, S: 360C A: P1A1 post SC+SOS hari III P: Terapi ganti Oral, obs KU, TTV, asuhan sayang ibu Therapi oral: Ciprofloxacin tab 500 mg 3x1 Metronidazol tab 250 mg 3x1 Paracetamol tab 500 mg 3x1 B complex tab 2x1

19 Februari 2012 S: nyeri luka operasi O: KU : sedang, TD : 120/80 mmHg, N : 82 x/i, RR : 20x/i, S: 360C A: P1A1 post SC+SOS hari IV P: Os boleh pulang Therapi oral: Ciprofloxacin tab 500 mg 3x1 Metronidazol tab 250 mg 3x1 Paracetamol tab 500 mg 3x1 B complex tab 2x1

Case Report Session

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di mana saja dan jenisnya bermacam-macam. Kista yang berada di dalam atau permukaan ovarium (indung telur) disebut kista ovarium atau tumor ovarium. Sebagian besar kista terbentuk karena perubahan kadar hormon yang terjadi selama siklus haid, produksi dan pelepasan sel telur dari ovarium. Kebanyakan kista ovarium ini tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya. Jika kista ini bertambah besar, maka akan dapat menyebabkan tekanan, perasaan penuh dan rasa tidak nyaman.1,2,3

Kista ovarium sering ditemukan pada wanita di masa reproduksinya. Seorang wanita dapat memiliki satu atau lebih kista, dimana dapat memiliki ukuran yang bervariasi, dari yang sebesar kacang hingga sebesar anggur.2,3 2.2 Epidemiologi Pada sebagian besar kanker ovarium berbentuk tumor kistik (kista ovarium) dan sebagian kecil berbentuk tumor padat. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan karena penyakit ini awalnya bersifat asimptomatik dan baru
7

Case Report Session

menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga 60% 70% pasien datang pada stadium lanjut, sehingga penyakit ini disebut juga sebagai silent killer.3 Pemeriksaan USG transvaginal ditemukan kista ovarium pada hampir semua wanita premenopouse dan terjadi peningkatan 14,8% pada wanita post menopouse. Kebanyakan dari kista tersebut bersifat jinak. Kista ovarium fungsional terjadi pada semua umur, tetapi kebanyakan pada wanita masa reproduksi dan kista ovarium jarang setelah masa menopouse.4 2.3 Klasifikasi a. Kista fungsional Kista yang terbentuk dari jaringan yang berubah pada saat fungsi normal haid. Kista normal ini akan mengecil dan menghilang dengan sendirinya dalam kurun 2-3 siklus haid. Terdapat 2 macam kista fungsional: kista folikular dan kista korpus luteum.3,4

Kista folikular : Folikel sebagai penyimpan sel telur akan mengeluarkan sel telur pada saat ovulasi bilamana ada rangsangan LH (Luteinizing Hormone). Pengeluaran hormon ini diatur oleh kelenjar hipofisis di otak. Apabila semuanya berjalan lancar, sel telur akan dilepaskan dan mulai perjalannya ke saluran telur (tuba fallopii) untuk dibuahi. Kista folikuler terbentuk jika lonjakan LH tidak terjadi dan reaksi rantai ovulasi tidak dimulai, sehingga folikel tidak pecah atau melepaskan sel telur, dan bahkan folikel tumbuh terus hingga menjadi sebuah kista. Kista folikuler biasanya tidak berbahaya, jarang menimbulkan nyeri dan sering hilang dengan sendirinya antara 2-3 siklus haid.3

Kista korpus luteum : Apabila lonjakan LH terjadi dan sel telur dilepaskan, rantai peristiwa lain dimulai. Folikel kemudian bereaksi terhadap LH dengan menghasilkan hormon estrogen dan progesteron dalam jumlah besar sebagai persiapan
8

Case Report Session

untuk pembuahan. Perubahan dalam folikel ini disebut korpus luteum. Tetapi, kadangkala setelah sel telur dilepaskan, lubang keluarnya tertutup dan jaringan-jaringan mengumpul di dalamnya, menyebabkan korpus luteum membesar dan menjadi kista. Meski kista ini biasanya hilang dengan sendiri dalam beberapa minggu, tetapi kista ini dapat tumbuh hingga 4 inchi (10 cm) diameternya dan berpotensi untuk berdarah dengan sendirinya atau mendesak ovarium yang menyebabkan nyeri panggul atau perut. Jika kista ini berisi darah, kista dapat pecah dan menyebabkan perdarahan internal dan nyeri tajam yang tiba-tiba.3,4 b. Kista Abnormal 3 Maksud kata abnormal disini adalah tidak normal, tidak umum, atau tidak biasanya (ada, timbul, muncul, atau terjadi). Semua tipe atau bentuk kista selain kista fungsional adalah kista abnormal, misalnya:

Kista dermoid Kista ovarium yang berisi ragam jenis jaringan misal rambut, kuku, kulit, gigi dan lainnya. Kista ini dapat terjadi sejak masih kecil, bahkan mungkin sudah dibawa dalam kandungan ibunya. Kista ini biasanya kering dan tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat menjadi besar dan menimbulkan nyeri.4

Kista endometriosis Kista yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip dengan selaput dinding rahim yang tumbuh di luar rahim) menempel di ovarium dan berkembang menjadi kista. Kista ini sering disebut juga sebagai kista coklat endometriosis karena berisi darah coklat-kemerahan. Kista ini berhubungan dengan penyakit endometriosis yang menimbulkan nyeri haid dan nyeri senggama.4

Case Report Session

Kistadenoma Kista yang berkembang dari sel-sel pada lapisan luar permukaan ovarium, biasanya bersifat jinak. Kistadenoma dapat tumbuh menjadi besar dan mengganggu organ perut lainnya dan menimbulkan nyeri.3,4

Polikistik ovarium Ovarium berisi banyak kista yang terbentuk dari bangunan kista folikel yang menyebabkan ovarium menebal. Ini berhubungan dengan penyakit sindrom polikistik ovarium yang disebabkan oleh gangguan hormonal, terutama hormon androgen yang berlebihan. Kista ini membuat ovarium membesar dan menciptakan lapisan luar tebal yang dapat menghalangi terjadinya ovulasi, sehingga sering menimbulkan masalah infertilitas.4 Gambar Ovarium dengan Sindrom PCOS (Polycystic Ovarian Syndrom)

Kista Hemorrhagic: Yaitu timbulnya perdarahan dalam kista fungsional. Gejalanya biasanya kram perut.4
10

Case Report Session

Kista Teka Lutein Kista teka lutein biasanya bilateral, kecil dan lebih jarang dibanding kista folikel atau kista korpus luteum. Kista teka lutein diiisi oleh cairan berwama kekuning-kuningan. Berhubungan dengan penyakit trofoblastik kehamilan (misalnya mola hidatidosa, koriokarsinoma), kehamilan Banda atau kehamilan dengan penyulit diabetes melitus atau sensitisasi Rh, penyakit ovarium polikistik (sindrom Stein- Leventhal) dan pemberian rat perangsang ovulasi (misalnya klomifen atau terapi hCG). Gejala-gejala yang timbul biasanya minimal (misalnya rasa penuh atau menekan pada pelvis), meskipun ukuran ovarium seluruhnya dapat sebesar 1020 cm. Komplikasi jarang terjadi dan meliputi ruptur (dengan perdarahan intraperitoneal) serta torsi ovarium. Jika ditemukan kista teka lutein, penyakit trofoblastik kehamilan harus disingkirkan. Kista sendiri tidak memerlukan terapi.4,5 Penyakit ovarium polikistik ditemukan pada wanita berumur 15-30 tahun dengan pembesaran ovarium polikistik bilateral, oligoinenore dan infertilitas. Obesitas umum terjadi dan 50% mengalami hirsutisme. Ovarium mempunyai permukaan korteks tebal berwarna keputihan dengan kista folikel kecil herisi cairan di bawah permukaan (ovarium tiram).4 Diagnosis didasarkan atas ananmesis dan pemeriksaan fisik. FSH normal dan LH meningkat secara teratur (tanpa loncatan kadar LH). Kadar 17-ketosteroid urin dapat sedikit meningkat. Diagnosis dipastikan dengan laparaskopi.4 2.4 Etiologi Sampai sekarang ini penyebab dari Kista Ovarium belum sepenuhnya dimengerti, tetapi beberapa teori menyebutkan adanya gangguan dalam pembentukan estrogen dan dalam mekanisme umpan balik ovarium-hipotalamus.5,6
11

ultrasonografi dan

Case Report Session

Kista ovarium terbentuk oleh bermacam sebab. Penyebab inilah yang nantinya akan menentukan tipe dari kista. Diantara beberapa tipe kista ovarium, tipe folikuler merupakan tipe kista yang paling banyak ditemukan. Kista jenis ini terbentuk oleh karena pertumbuhan folikel ovarium yang tidak terkontrol.6 Folikel adalah suatu rongga cairan yang normal terdapat dalam ovarium. Pada keadaan normal, folikel yang berisi sel telur ini akan terbuka saat siklus menstruasi untuk melepaskan sel telur. Namun pada beberapa kasus, folikel ini tidak terbuka sehingga menimbulkan bendungan carian yang nantinya akan menjadi kista.6 Cairan yang mengisi kista sebagian besar berupa darah yang keluar akibat dari perlukaan yang terjadi pada pembuluh darah kecil ovarium. Pada beberapa kasus, kista dapat pula diisi oleh jaringan abnormal tubuh seperti rambut dan gigi. Kista jenis ini disebut dengan Kista Dermoid.6 Faktor yang menyebabkan gejala kista meliputi:6 1. Gaya hidup tidak sehat.diantaranya:

Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat Zat tambahan pada makanan Kurang olahraga Merokok dan konsumsi alkohol Terpapar dengan polusi dan agen infeksius Sering stress

2. Faktor genetic : Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen, polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

12

Case Report Session

2.5 Patogenesis Fungsi ovarium yang normal tergantung kepada sejumlah hormone dan kegagalan pembentukan salah satu hormone tersebut bisa mempengaruhi fungsi ovarium. Ovarium tidak akan berfungsi secara normal jika tubuh wanita tidak menghasilkan hormone hipofisa dalam jumlah yang tepat.6,7 Fungsi ovarium yang abnormal kadang menyebabkan penimbunan folikel yang terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium. Folikel tersebut gagal mengalami pematangan dan gagal melepaskan sel telur, terbentuk secara tidak sempurna di dalam ovarium karena itu terbentuk kista di dalam ovarium.6,7 Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 2 cm dengan kista ditengah-tengah.6,7 Bila tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan.6,7 Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa kista folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG.7 Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Kista folikel dan luteal, kelainan yang tidak berbahaya ini berasal dari folikel graaf yang tidak pecah atau folikel yang sudah pecah dan segera menutup kembali.7 Kista demikian seringnya adalah multipel dan timbul langsung di bawah lapisan serosa yang menutupi ovarium, biasanya kecil, dengan diameter 1- 1,5 cm
13

Case Report Session

dan berisi cairan serosa yang bening, tetapi ada kalanya penimbunan cairan cukup banyak, sampai mencapai diameter 4-5 cm, sehingga teraba massa dan menimbulkan sakit pada daerah pelvis.7 Pada neoplasia tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan

choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan diabetes, HCg menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan pemberian HCG.7 Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous.7 Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal.6,7 2.6 Gejala Klinis Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit nyeri yang tidak berbahaya. Ada pula kista yang berkembang menjadi besar dan menimpulkan nyeri yang tajam. Untuk memastikan penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker ovarium.4,6,7

14

Case Report Session

Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh wanita untuk mengetahui gejala mana yang serius. Gejala-gejala berikut mungkin muncul bila wanita mempunyai kista ovarium:6,7

Perut terasa penuh, berat, kembung Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil) Haid tidak teratur Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke punggung bawah dan paha.

Nyeri sanggama Mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada saat hamil.

Gejala-gejala berikut memberikan petunjuk diperlukan penanganan kesehatan segera:


Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba Nyeri bersamaan dengan demam Rasa ingin muntah.

2.7 Diagnosis Pemastian diagnosis untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan pemeriksaan:6,7,8 1. Ultrasonografi (USG) Tindakan ini tidak menyakitkan, alat peraba (transducer) digunakan untuk mengirim dan menerima gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) yang menembus bagian panggul, dan menampilkan gambaran rahim dan ovarium di layar monitor. Gambaran ini dapat dicetak dan dianalisis oleh dokter untuk memastikan keberadaan kista, membantu mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat (kadang-kadang oval) dan terlihat sangat echolucent dengan dinding dinding yang tipis/tegas/licin, dan di tepi belakang kista nampak bayangan echo yang lebih putih dari dinding depannya.
15

Case Report Session

Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau multilokuler (bersepta-septa). Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halus-halus (internal echoes) di dalam kista yang berasal dari elemen-elemen darah di dalam kista.
Foto Polos Pelvis

2. Laparoskopi Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui pembedahan kecil di bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium, menghisap cairan dari kista atau mengambil bahan percontoh untuk biopsi. 3. MRI Gambaran MRI lebih jelas memperlihatkan jaringan halus dibandingkan dengan CT-scan, serta ketelitian dalam mengidentifikasi lemak dan produk darah. CT-Scan dapat pemberian petunjuk tentang organ asal dari massa yang ada. MRI tidak terlalu dibutuhkan dalam beberapa/banyak kasus. USG dan MRI jauh lebih baik dalam mengidentifikasi kista ovarium dan massa/tumor pelvis dibandingkan dengan CT-Scan.

16

Case Report Session

2.8 Diagnosis Banding Diagnosis pasti tidak dapat dilihat dari gejala-gejala saja karena banyak penyakit dengan gejala yang sama pada kista ovarium, adalah :7 1. Endometriosis Pada pemeriksaan endovaginal sonogram tampak karakteristik yang difus, echo yang rendah sehingga memberikan kesan yang padat. 2. Kehamilan Ektopik Pada pemeriksaan endovaginal sonogram memperlihatkan ring sign pada tuba, dengan dinding yang tebal disertai cairan yang bebas disekitarnya. Tidak ada pembuahan intrauterine. 3. Kanker Ovarium Pada pemeriksaan transvaginal ultrasound di dapatkan dinding tebal dan ireguler. 4. Inflamasi Pelvic (PID ) Pada pemeriksaan endovaginal sonogram, memperlihatkan secara relative pembesaran ovarium kiri (pada pasien dengan keluhan nyeri).

2.9 Penatalaksanaan Pengobatan yang dilakukan bergantung pada umur, jenis dan ukuran kista dan gejala-gejala yang diderita. Umumnya kista ovarium pada wanita usia subur akan menghilang dengan sendirinya dalam 1 sampai 3 bulan. Meskipun ada diantaranya yang pecah namun tidak akan menimbulkan gejala yang berarti. Kista jenis ini termasuk jinak dan tidak memerlukan penanganan medis.5,6,7,8 Kista biasanya ditemukan secara tidak sengaja saat dokter melakukan pemeriksaan USG. Kebanyakan pasien dengan kista ovarium simple berdasarkan hasil pemeriksaan USG tidak dibutuhkan pengobatan. Meskipun demikian, pengawasan tetap harus dilakukan terhadap perkembangan kists ampai dengan
17

Case Report Session

beberapa siklus menstruasi. Bila memang ternyata tidak terlalu bermakna maka kista dapat diabaikan karena akan mengecil sendiri. Beberapa pilihan pengobatan yang mungkin disarankan:5,6,7,8 1. Pendekatan wait and see Jika wanita usia reproduksi yang masih ingin hamil, berovulasi teratur, tanpa gejala, dan hasil USG menunjukkan kista berisi cairan, dokter tidak memberikan pengobatan apapun dan menyarankan untuk pemeriksaan USG ulangan secara periodik (selang 2-3 siklus haid) untuk melihat apakah ukuran kista membesar. Pendekatan ini juga menjadi pilihan bagi wanita pascamenopause jika kista berisi cairan dan diameternya kurang dari 5 cm. 2. Pil kontrasepsi Jika terdapat kista fungsional, pil kontrasepsi yang digunakan untuk mengecilkan ukuran kista. Pemakaian pil kontrasepsi juga mengurangi peluang pertumbuhan kista. 3. Pembedahan Jika kista besar (diameter > 5 cm), padat, tumbuh atau tetap selama 2-3 siklus haid, atau kista yang berbentuk iregular, menyebabkan nyeri atau gejala-gejala berat, maka kista dapat dihilangkan dengan pembedahan. Jika kista tersebut bukan kanker, dapat dilakukan tindakan miomektomi untuk menghilangkan kista dengan ovarium masih pada tempatnya. Jika kista tersebut merupakan kanker, dokter akan menyarankan tindakan histerektomi untuk pengangkatan ovarium. 2.10 Komplikasi Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas terjadinya kanker ovarium pada wanita diatas 40 tahun. Mekanisme terjadinya kanker masih belum jelas namun dianjurkan pada wanita yang berusia diatas 40 tahun untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kanker ovarium.6,7,8
18

Case Report Session

Faktor resiko lain yang dicurigai adalah penggunaan kontrasepsi oral terutama yang berfungsi menekan terjadinya ovulasi. Maka dari itu bila seorang wanita usia subur menggunakan metode konstrasepsi ini dan kemudian mengalami keluhan pada siklus menstruasi, lebih baik segera melakukan pemeriksaan lengkap atas kemungkinan terjadinya kanker ovarium.6,7,8 2.11 Prognosis Kelangsungan Hidup Prognosis untuk jinak baik. Namun untuk kista yang dapat berkembang untuk menjadi kanker ovarium angka kelangsungan hidup 5 tahun (5 Years survival rate) penderita kanker ovarium stadium lanjut hanya kira-kira 20-30%, sedangkan sebagian besar penderita 60-70% ditemukan dalm keadaan stadium lanjut.6,7,8 Walaupun penanganan dan pengobatan kanker ovarium telah dilakukan dengan prosedur yang benar namun hasil pengobatannya sampai sekarang ini belum sangat menggembirakan termasuk pengobatan yang dilakukan di pusat kanker terkemuka di dunia sekalipun.7,8 Kelangsungan Organ Umumnya kista ovarium pada wanita usia subur akan menghilang dengan sendirinya dalam 1 sampai 3 bulan. Meskipun ada diantaranya yang pecah namun tidak akan menimbulkan gejala yang berarti.Kista jenis ini termasuk jinak dan tidak memerlukan penanganan medis.7,8 Kista biasanya ditemukan secara tidak sengaja saat dokter melakukan pemeriksaan USG. Meskipun demikian, pengawasan tetap harus dilakukan terhadap perkembangan kista sampai dengan beberapa siklus menstruasi. Bila memang ternyata tidak terlalu bermakna maka kista dapat diabaikan karena akan mengecil sendiri.7,8

19

Case Report Session

KEHAMILAN DENGAN KISTA Permasalahan akan timbul bila kista akan tumbuh besar seiring dengan pertumbuhan janin selama kehamilan. Hormon-hormon pada masa kehamilan itulah yang dapat menjadi pemicu bertambah besarnya kista. Kista dapat menyebabkan letak janin di dalam rahim menjadi abnormal. Semestinya memasuki trimester akhir, posisi janin sudah menuju jalan lahir. Namun karena terdesak oleh kista maka letaknya jadi melintang atau miring. Akibatnya, tentu saja dapat memengaruhi proses persalinan. Meski begitu, jangan buru-buru beranggapan kista harus segera diangkat. Pengangkatan kista bergantung dari besarnya kista dan usia kehamilan. Bila saat ukurannya mencapai 3-4 cm keberadaan kista sudah diketahui sejak dini maka dapat dilakukan pengangkatan kista saat kehamilan sudah memasuki usia 14 minggu. Kista yang membesar dapat mengganggu perkembangan rahim karena mendesak rongga perut. Ibu bisa mengalami sesak napas akibat kurangnya suplai oksigen secara optimal ke paru-paru. Rahim yang mendapat tekanan juga secara tak langsung dapat berdampal pada janin. Ini dikarenakan pembuluh-pembuluh darah yang menyuplai oksigen maupun bahan-bahan makanan untuk bayi menjadi terhambat sehingga pertumbuhan janin berisiko terhambat. Kista saat kehamilan juga bisa memengaruhi proses persalinan. Pada kista yang berukuran kecil sekitar 2-3 cm, persalinan bisa dilakukan secara normal. Sementara pada kista berukuran besar yang bisa berisiko menyebabkan terjadinya kemacetan saat persalinan, umumnya proses kelahiran akan melalui operasi sesar.

20

Case Report Session

ANALISA KASUS Penegakan diagnosis kistoma ovarii pada kasus ini ditemukan secara kebetulan pada saat USG usia kehamilan 17-18 minggu dengan ukuran 7,5 cm. Sebelum di USG, os mengaku tidak merasakan keanehan sebelumnya. Os tidak merasa ada benjolan pada perutnya, tidak ada rasa nyeri, dan siklus menstruasi os teratur, hanya saja os merasakan frekuensi berkemihnya bertambah sering. Pemilihan terapi pembedahan pada pasien ini berdasarkan hasil USG yang menunjukan ukuran kista sudah lebih dari 5 cm. Selain itu pembedahan dilakukan untuk menentukan jenis kista itu sendiri dengan pemeriksaan patologi anatomi. Apakah kista tersebut jinak ataupun ganas. Pada pasien ini, terapi pembedahan sebenarnya sudah dapat dilakukan pada pemeriksaan awal, karena sudah didapatkan ukuran kista sebesar 7,5 cm dan umur kehamilan sudah melebihi 16 minggu. Tetapi dokter tersebut masih mengambil tindakan pendekatan wait and see dan menyarankan kepada pasien untuk terus memeriksakan kandungannya secara rutin untuk mengetahui perkembangan janin sekaligus memantau pembesaran kista tersebut. Dan hasilnya, janin tetap berkembang dengan baik hingga kehamilan aterm. Saat dilakukan sectio caesarea, dilahirkan Bayi perabdominal dengan jenis kelamin laki-laki, BB 3300 gram, dan A/S= 8/9. Setelah SBR ditutup, dilakukan eksplorasi, dan ditemukan ovarium kiri membesar dengan ukuran kista 10x8x8 dan dilakukan SOS. Salpingo-ooforektomi sinistra dilakukan karena kemungkinan keganasan yang dapat timbul. 30% sampai 35% dari kistadenoma serosum mengalami perubahan keganasan. Keganasan dapat diprediksi jika dilihat dari umur pasien. Selain itu, bila pada suatu kasus terdapat implantasi pada peritoneum disertai dengan asites, maka prognosis penyakit itu kurang baik, meskipun diagnosis histopatologis pertumbuhan itu mungkin jinak (histopatologically benign). Klinis kasus tersebut menurut pengalaman harus dianggap sebagai neoplasma ovarium yang ganas (clinically malignant).
21

Case Report Session

DAFTAR PUSTAKA

1. De cherney, A, H Nathan L current Obstetri and gynaecology diagnosis and therapy, Mc-Graw-Hill,2003 P 693 699.Diakses di:

http://www.biomolekulermiomauteri.pdf.com 2. Buttram VC, Reiter. ARAC. Uterine. Leiomyoma: Etiology Symptomatolgy and management Fertol sterile 1981:

http://www.biomolekulermiomauteri.pdf.com 3. R.James, S. Ronald, Y. Beth. Neoplasm of the Ovarian and Fallopian Tube.Dalam : Danforths Obstretics and Gynecology, ed 9. California : Lippincott Williams & Wilkins Publishers.

http://www.scribd.com/doc/58305372/Referat-Obgin-Tumor-Jinak-Ovarium 4. Prawirohardjo Sarwono. Tumor Jinak Pada Alat Genital. Ilmu Kandungan. Edisi ke-2, cetakan kelima. Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo.Jakarta;2007 hal 366-328. 5. Manuaba IBG, Tumor Jinak Ovarium :Kelaian Alat Kandungan, EGC,

Jakarta, 2005, hal. 219-29. 6. A.John,W. Howard. Surgery for benign gynecologic conditions. Dalam : TeLinde's Operative Gynecology, 10th Edition. California :

LippincottWilliams &Wilkins Publishers (diakses 25 Sept 2011) Diunduh dari :http://www.scribd.com/doc/58305372/Referat-Obgin-Tumor-Jinak-Ovarium 7. Baziad A. Pengobatan medikamentosa mioma uteri dengan analog GnRHa. Dalam. Endokrinologi ginekologi edisi kedua. Jakarta: Media Aesculapsius. FKUI 2003 : 152 156. (diakses 29 Sept 2011) Diunduh dari: http://Obstetrigynaecology/FKUI.2003.co.id 8. Budi R. Hadibroto, Mioma Uteri. Departemen obstetric dan Ginekologi Fakultas Kedokteran USU. RSUP H. Adam Malik. Medan RSUD Pringadi Medan. (di akses 2 Okt 2011) Diunduh dari: http://www.obgin/FKUSU.co.id

22