Anda di halaman 1dari 39

I.

Pendahuluan
I.1

Latar Belakang
Getaran atau osilasi adalah gerak benda yang dilakukan
secara bolak-balik di sekitar suatu titik tertentu dan terjadi pada
lintasan yang sama. Gerak bolak-balik suatu partikel yang
melewati titik kesetimbangannya merupakan suatu gerakan
harmonis sederhana. Terkadang gesekkan atau redaman osilator ini
diabaikan namun sebenarnya benda kembali ke titik setimbangnya
dikarenakan adanya redaman.
Dalam praktikum yang berjudul Rotator Harmonis akan
dibahas tentang gejala redaman. Dimana ketika pendulum yang
digunakan melakukan rotasi akan mengalami redaman sehingga
mengganggu gerak osilasinya

I.2

Identifikasi Masalah
Dalam praktikum kali ini akan menentukan frekuensi
resonansi dari osilator, bagaimana menentukan gaya luar paksaan,
dan cara mengukur redaman suatu getaran paksaan tertentu.

I.3

Tujuan Percobaan
a. Menentukan frekuensi resonansi dari suatu osilator.
b. Menentukan gaya luar paksaan
c. Menguku redaman suatu getaran paksaan teredam.

II.

Teori Dasar
Getaran atau osilasi adalah gerak benda yang dilakukan secara
bolak-balik di sekitar suatu titik tertentu dan terjadi pada lintasan yang
sama. Titik tertentu tersebut dinamakan pusat osilasi. Pusat osilasi
merupakan suatu posisi ketika benda yang bergetar mengalami
kesetimbangan. Oleh karena itu, pusat osilasi sering disebut juga posisi
kesetimbangan.
Satu osilasi atau satu getaran adalah satu gerak pulang pergi.
Waktu yang diperlukan untuk melakukan satu getaran disebut periode
getaran (T ). Banyaknya getaran yang terjadi dalam satu satuan waktu
disebut frekuensi getaran ( f ). Secara matematis, hubungan kedua
besaran tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :

T=

1
f

Jika satuan T dalam detik (s), maka satuan f adalah hertz


(Hz).Posisi benda yang melakukan getaran selalu berubah secara
periodik,yakni berulang pada selang waktu tertentu.

Simpangan ( x )

adalah jarak yang diukur dari pusat osilasi terhadap posisi benda pada
suatu saat. Simpangan yang terbesar disebut amplitudo ( A ). Jadi,
amplitudo adalah jarak terjauh posisi benda dari pusat osilasinya.
Pada gambar 1.1 ditunjukkan sebuah benda yang digantung pada
pegas vertikal dan pada benda tersebut dipasang sebuah pena yang diatur
sedemikian rupa sehingga dapat menulis di atas kertas yang dapat
digerakkan tegak lurus terhadap arah getaran. Kemudian benda tersebut
disimpangkan sejauh A dari posisi setimbangnya. Apabila benda
dilepaskan dan pada saat yang bersamaan kertas digerakkan ke kiri dengan
laju tetap, maka pena tersebut akan menggambarkan kurva sinusoidal.
Kurva sinusoidal ini merupakan simpangan x sebagai fungsi waktu t,

yang tidak lain adalah fungsi gerak dari benda yang bergetar tersebut.
Fungsi sinusoidal dengan frekuensi tetap dikenal juga sebagai fungsi
harmonis. Oleh karena itu, gerak suatu benda yang persamaannya berupa
fungsi sinusoidal dengan frekuensi tetap seperti ini sering disebut getaran
harmonis.

A
t

Gambar 1.1

Kurva sinusoidal yang menggambarkan

fungsi gerak dari sebuah benda yang melakukan getaran harmonik


sederhana pada suatu pegas vertikal.

Getaran harmonis yang amplitudonya tetap merupakan jenis


getaran yang paling sederhana. Oleh karena itu, jenis getaran seperti ini
sering disebut Getaran Harmonis Sederhana. Apabila amplitudo suatu
getaran harmonis semakin mengecil (berkurang), maka getaran harmonis
tersebut dinamakan getaran harmonis teredam.
1. Gerak Bebas Tanpa hambatan
Jika suatu partikel bergetar sekitar satu posisi setimbang,
sedangkan gaya pada partikel sebanding dengan jarak partikel dari posisi
setimbang, maka partikel tersebut dikatakan melakukan gerak harmonik

sederhana. Sebenarnya gaya tersebut bermaksud mengembalikan partikel


ke posisi setimbang dan disebut gaya balik.
Contoh dari peristiwa diatas adalah gerak suatu partikel bermassa
yang diikat pada suatu pegas. Yang kemudian dituliskan dalam bentuk
Hukum Hooke yaitu :

F= - kx

..(1)

k = konstanta pegas
x = deformasi
Berdasarkan Hukum Newton II diperoleh hubungan :
F = - kx = m

d 2x
dt 2

atau

d 2x
+ kx = 0
dt 2

(2)

Pada percobaan ini penerapan gerak harmonik sederhana dengan


menggunakan piringan kuningan sebagai partikel yang bergerak harmonis
yang disebut rotor/rotator. Piringan ini akan tetap bergerak harmonis
karena pusatnya dihubungkan dengan per spiral dan ujung per yang
lainnya dihubungkan ke motor yang berputar dengan amplitudo yang dapat
diubah-ubah. Dan diperoleh persamaan gerak dengan analogi persaman (2)
:
I

2
+ D =0
t 2

(3)

dengan : = simpangan sudut


I = momen kelembaman rotator
D = konstanta spiral
Persamaan (2) dapat di ubah berdasarkan analogi :

2
t 2

= D

(untuk rotator)

d 2x
= - kx (untuk pegas)
dt 2
Dari kalkulus diferensial kita tahu bahwa fungsi sin atau cos memenuhi
sifat berikut ini,misal :

d(cos t )
= sin t
dt

dan

d 2 (cos t )
dt 2

= cos t

Untuk solusinya bentuk fungsi diatas dikalikan dengan konstanta A, maka


kita peroleh persamaan yang lebih umum :
x = A cos ( t + )
Bila persamaan diatas di diferensialkan dua kali terhadap waktu diperoleh :

dx
= - A sin ( t + )
dt

d 2x
= - 2 A cos (t + )
2
dt

(4)

..(5)

Dari persamaan diatas didapat persamaan berikut :


- 2 A cos ( t + ) = - k/m A cos ( t + )
sehingga diperoleh :
2

= k/m

Sejalan dengan persamaan T =

T = 2

1
I
= ;
f

2
m
= 2
, periode osilasi adalah :

k
1
I
= 4
2


= 4 2 f 2 , karena = 2f, maka :
I

= 2 , maka didapat : =
I

Dalam hal ini K bersesuaian dengan D (suatu konstanta lain), maka :

D
I

(4)

pada persamaan 4 menyatakan frekuensi diri dari rotator


2. Gerak harmonis teredam
Ketika suatu partikel bergerak atau berosilasi,partikel akan terus
bergerak tanpa berhenti apabila tidak diberikan gaya gesekkan namun
kenyataannya ketika partikel bergerak lama-lama besar amplitudo yang
dimiliki partikel ini berkurang sehingga partikel berhenti. Sehingga hal ini
lah yang disebut sebagai gerak harmonis teredam. Pada percobaan ini
gaya terendam disebabkan oleh kedua buah magnet pada pendulum yang
diberi arus. Arus tersebut dinamakan arus Eddy, yang menyebabkan
timbulnya redaman.
Gaya resultan pada benda adalah :
m a = - x V
Dengan mengingat bahwa V =

2x
x
+
+x =0
2
t
t

Persamaan ini dapat ditulis:

dx
d2x
dan a = 2 , maka :
dt
dt

2x
x
2
+ 2
+ o Ix = 0
2

t
t
Karena x menyatakan perpindahan gerak dari suatu benda,

sedangkan untuk gerak suatu rotator x adalah simpangan sudut dan


dinyatakan dengan . Untuk lambang konstanta =

, dimana adalah
2.I

faktor redam. Dan m diganti dengan I yang menyatakan momen


kelembaman dari rotator. Selain itu =

D
, sehingga persamaan gerak
I

rotator yang diredam adalah:


I

+
+ D = 0 atau
2
t
t

+ 2
+ 2 = 0
2
t
t

(5)

Ada tiga macam gerak yang teredam :


Kurang teredam, jika 2 > 2
Redaman kritis, jika 2 = 2
Terlampau teredam, jika 2 <
Dari ketiga hal diatas, yang akan menghasilkan gerak ayunan adalah
yang kurang redam. Selisih antara frekuensi diri dengan parameter
redaman dinamakan sebagai frekuensi ayunan redaman :
t2 = 2 - 2
Jika redaman yang ditimbulkan kecil maka :
t =

Nyatalah terlihat bahwa frekuensi gerak yang teredam akan lebih kecil
dari pada frekuensi gerak tanpa redam.
Tenaga ayunan redam tidak tetap terhadap waktu. Laju kahilangan
tenaga berbanding lurus dengan kuadrat kecepatan. Tenaga ini secara
kontinyu diberikan kepada peredam dan hilang menjadi energi yang lain.
3. Getaran dengan Gaya Luar Periodis
Karena persamaan gerak dari suatu osilator paksa dapat diturunkan
dari hukum II Newton. Disamping :
F= -k.x
Dengan :
k = konstanta pegas
x = deformasi (perpindahan jarak)
sehingga didapat :
F=-k.x=m

atau

d 2x
dt 2

d 2x
+ kx = 0
dt 2

Karena piringan atau rotator dihubungkan ke per spiral dan per


spiral dihubungkan ke motor maka gaya yang ditimbulkan motor disebut
dengan gaya luar periodis.
Gaya eksternal ini diberikan sebagai :
F sin (t)
Sehingga bila dihubungkan dengan persamaan diatas, didapatkan
persamaan berikut :
I

2
+ R
+ D = F sin (t)
2
t
t

Untuk keadaan stasioner, penyelesaian persamaan diatas menjadi :


= A sin (t + )
Dimana :

{(o

A=

Fo / I
2

) + 4 2 2
2

= arc tan

}1/ 2

2
(o 2 2 )

Keadaan resonansi dapat terjadi apabila t = . Sehingga amplitudo


menjadi maksimum. Bila hal diatas tidak terjadi redaman, maka persaman
geraknya :
I

2
+ D = F sin ( t)
t 2

Dan solusi persamaannya :


= A sin (t)
Dengan : A =

[(t

Fo / I
2

] ) 1/ 2

III. Prosedur
III.1 Alat dan Bahan
1. Pendulum Torsi
Sebagai pendulum torsi yang digunakan suatu piringan kuningan
dengan as yang dihubungkan ke per spiral.
2. Motor
Ujung dari per spiral dihubungkan dengan motor yang bergerak
harmonis dengan amplitudo yang tetap dan frekwensinya dapat diubahubah bila motor dalam keadaan berjalan.
3. Magnet Permanen
Dua buah magnet permanen yang diletakkan sedemikian rupa
sehingga apabila magnet itu diberi arus akan menimbulkan redaman pada
pendulum torsi.
4. Multirmeter
Digunakan untuk mengukur tegangan dan arus.

III.2 Prosedur Percobaan


A. Frekuensi Alamiah
1. Mengatur pendulum sehingga amplitudo pendulum pada skala 15
secara manual.
2. Menggerakkan pendulum, mencatat waktu untuk (10) getaran.
3. Melakukan prosedur (2), minimal 3 (tiga) kali.

4. Mengulangi prosedur 1-3 untuk amplitudo 14 s/d 5.


B. Mengukur Tegangan Dan Frekuensi
1. Menetapkan skala fein pada motor, pada skala 27.
2. Memasukkan tegangan untuk motor (input bagian atas) dengan
tegangan 24 Volt (output power supply sebelah kanan).
3. Menentukan selektor grob pada motor skala 6.
4. Mengukur dan Mencatat tegangan motor (output bawah) pada
skala tersebut.
5. Mencatat amplitudo maksimum pada skala tersebut, minimal 3
kali.
6. Mengulangi Prosedur no. 2 s.d. 5 untuk skala berikutnya, s.d. skala
26.
C. Frekuensi Redaman
1. Memasukkan arus pada kumparan power supply (output sebelah
kiri).
2. Mengatur selektor power supply sehingga arus yang masuk pada
kumparan sebesar 0,1 A.
3. Secara manual manentukan amplitudo pada skala 15 sebagai

amplitudo awal A0.


4. Menggerakkan

pendulum,

mencatat

amplitudo

A1

setelah

pendulum mencapai satu perioda.


5. Mencatat amplitudo pada saat 2 perioda, 3 perioda dan seterusnya
hingga amplitudo yang masih dapat diamati.
6. Mengulangi prosedur 3 s/d 5 untuk variasi arus 0,2 s/d 1 A.
D. Frekuensi Paksaan dan Redaman
1. Memasukkan arus pada kumparan dari power supply (output
bagian kiri).
2. Memasukkan tegangan pada motor dari power supply (output
sebelah kanan).

3. Pada arus kumparan 0,2 A, melakukan prosedur seperti pada


frekuensi paksaan
4. Mengulangi prosedur 3 untuk arus 0,4, 0,6, 0,8, dan 1,0 A.

IV. Data dan perhitungan

Data Percobaan
1. Frekuensi Alamiah
Amplitudo
15
14
13
12
11
10
9
8
7
6
5

Waktu 10 getaran (s)


t1
t2
t3
17
17.3
17.4
17.44
17.27
17.24
17.27
17.59
17.81
17.36
17.61
17.08
17.51
17.62
17.37
17.32
17.66
17.47
17.52
17.5
17.37
17.27
17.36
17.25
17.28
17.3
17.39
17.46
17.38
17.26
17.65
17.22
17.37

2. Frekuensi Paksaan
Skala
Grob
6
7
8
9
10

Amplitudo (cm)
A1
A2
A3
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.7
0.7
0.7
0.7
0.7
0.7
0.7
0.7
0.7

Voutput (volt)
V1
V2
1.97
1.94
2.28
2.3
2.6
2.62
2.89
1.91
3.24
3.29

V3
1.95
2.26
2.59
2.93
3.3

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

0.7
0.7
0.8
0.8
0.9
1
1.9
6.4
4
1
0.6
0.2
0.2
0.2
0.15
0.12

0.7
0.7
0.8
0.8
0.9
1
1.9
5.8
3.6
1.2
0.8
0.4
0.2
0.18
0.17
0.1

0.7
0.7
0.8
0.8
0.9
1
1.9
6.4
2.4
0.8
0.5
0.2
0.2
0.2
0.15
0.1

3.65
4.02
4.47
5.16
6.32
6.8
7.65
8.58
9.77
10.81
11.82
13.11
14.77
16.62
16.64
17.65

3.64
4.1
4.53
5.08
6.26
6.83
7.74
8.53
9.88
10.74
11.79
13.14
14.76
16.7
16.65
17.6

3.6
4.11
4.5
5.1
6.3
6.89
7.82
8.63
9.93
10.63
11.73
13.12
14.77
16.67
16.66
17.61

3. Frekuensi Redaman

0.1

0.2

0.3

A1

A2

13.8

13.4

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32

12.9
12
11
10
9.2
8.3
7.6
6.8
6.2
5.6
5.2
4.7
4.3
4
3.5
3.3
3.1
2.8
2.5
2.2
2
1.9
1.7
1.6
1.2
1.1
1
1
0.8
0.7
0.6

11.9
10.4
9.3
8.2
7.2
6.3
5.6
4.8
4.2
3.7
3.3
2.9
2.8
2.3
1.9
1.7
1.5
1.2
1.1
0.9
0.8
0.7
0.5

A3
12.
2
10.
2
8.7
7
5.8
4.8
3.9
3.3
2.7
2.2
2.8
1.5
1.2
1
0.8
0.7
0.6

Perioda
(T)

Arus (ampere)
0.4 0.5 0.6 0.7
Amplitudo (cm)
A4 A5 A6 A7

0.8

0.9

A8

A9

A10

11

10

8.6

7.4

4.8

3.8

8.4
6.4
5
3.8
2.8
2.2
1.7
1.3
1
0.9
0.7

7
4.7
3.2
2.2
1.6
1.2
0.9
0.7

5.2
3
1.9
1.4
0.7

3.9
1.9
1.1
0.9

2.9
1.2
0.9

1.9
0.9

1.2

4.Frekuensi Paksaan dan Redaman


Skala
Grob
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

0.2
V
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
22.
2
19.
7
19.
6

A
0.4
0.4
0.5
0.5
0.5
0.6
0.6
0.8
0.8
0.8
0.9
1.7
5.8
2.8
0.8
0.4
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3

Arus (ampere)
0.4
0.6
0.8
V
A
V
A
V
A
24 0.5
24 0.4
24 0.4
24 0.5
24 0.5
24 0.4
24 0.5
24 0.5
24 0.5
24 0.5
24 0.5
24 0.5
24 0.5
24 0.5
24 0.5
24 0.6
24 0.6
24 0.5
24 0.6
24 0.6
24 0.5
24 0.6
24 0.6
24 0.6
24 0.7
24 0.7
24 0.7
24 0.7
24 0.7
24 0.7
24 0.8
24 0.7
24 0.7
24
1
24
1
24 0.9
24 1.8
24 1.4
24
1
24 3.4
24
2
24 1.4
24
2
24 0.7
24
1
24
1
24 0.5
24 0.6
24 0.6
24 0.3
24 0.4
24 0.4
24 0.2
24 0.4
23.
8 0.3
24 0.2
24 0.3
21.
21.
22.
6 0.3
6 0.2
4 0.3
20.
20.
21.
3 0.3
5 0.2
5 0.3

Ketelitian amplitudo (A)

0.05 cm

Ketelitian tegangan (V)

0.05 Volt

Ketelitian arus (I)

0.05 ampere

Massa pendulum 0,244 0,005 kg

1
V
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24
24

A
0.4
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.5
0.6
0.7
0.7
0.7
0.8
1
0.9
0.8
0.5
0.4
0.3

24
22.
4
21.
6

0.2
0.2
0.1

Jari-jari pendulum 9.10 -2 0.05 m


Pembahasan Data
A. Frekuensi Alamiah
1. Menghitung Momen Inersia pendulum
Persamaan : I = m.r2
I = (9.10 -2 )2 x 0,244 = 0.220 kg.m2
Jadi,momen inersia pendulum 0.220

0.000120 kg.m2

2. Frekuensi Alamiah Terbaik

Amplitudo

Waktu 10 getaran (s)


t1
t2
t3

waktu rata rata

15

17

17,3

17,4

17,23333333

14

17,44

17,27

17,24

17,31666667

13
12
11

17,27
17,36
17,51

17,59
17,61
17,62

17,81
17,08
17,37

17,55666667
17,35
17,5

10

17,32

17,66

17,47

17,48333333

17,52

17,5

17,37

17,46333333

17,27

17,36

17,25

17,29333333

17,28

17,3

17,39

17,32333333

17,46

17,38

17,26

17,36666667

17,65

17,22

17,37

17,41333333

T=t/10
1,7233
3
1,7316
7
1,7556
7
1,735
1,75
1,7483
3
1,7463
3
1,7293
3
1,7323
3
1,7366
7
1,7413
3

Jadi, frekuensi alami pendulum = 0.57503 + 0.000287 Hz

f=1/T
0,58027
0,57748
0,56958
0,57637
0,57143
0,57197
0,57263
0,57826
0,57726
0,57582
0,57427

3. Konstanta Pegas
D = I.
=2

alami\

= 2 x 3.14 x 0.57503 = 3.6112 Hz

Jadi, D = I.

D = 0.2 x (3.6112 )2 = 2.608 dyne/m

B. Frekuensi Paksaaan
1. Grafik amplitudo terhadap frekwensi

2. Grafik frekwensi terhadap tegangan output

3. Gaya Luar
Persamaan gaya luar :
F0 = A.I.
A rata2
0.5
0.5
0.7
0.7
0.7
0.7
0.7
0.8

2 1/2

V rata2

f alami

w0

0.0833
3
0.0714
3

1.9533
3

0.52333333
3
0.44857142
9

0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750

3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111

0.0875
0.0777
8
0.07
0.0636
4
0.0583
3
0.0615

2.28
2.6033
3
2.5766
7
3.2766
7
3.63
4.0766
7
4.5

0.5495
0.48844444
4
0.4396
0.39963636
4
0.36633333
3
0.38646153

F0 (gaya
luar)

0.2 0.35730665
0.2

0.358322

0.2 0.49967903
0.2 0.50092039
0.2 0.50180643
0.2

0.502461

0.2 0.50295829
0.2 0.57447195

0.8

4
0.0571
4

0.9

0.06

6.2
3.33333333
3

0.0625
0.1117
6
0.3444
4
0.1754
4

1
0.63333333
3
0.26666666
7

0.05
0.0301
6
0.0121
2

0.2
0.19333333
3
0.15666666
7
0.10666666
7

0.0087
0.0080
6
0.0062
7

1.9

3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3

9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9
3.6111
9

2
= arctan 2
2
( o ) , namun karena

= 0,

0.0041

5.1133
3
6.2933
3
6.84
7.7366
7
8.58
9.86
10.726
7
11.78
13.123
3
14.766
7
16.663
3
16.65
17.62

8
0.35885714
3
0.3768
0.3925
0.70188235
3
2.16311111
1
1.10175438
6
0.314
0.18939682
5
0.07612121
2
0.05460869
6
0.05058888
9
0.03935466
7
0.02576410
3

4. Sudut Fasa
Persamaan rumus sudut fasa :

Maka,

= arctan[ 0]

0.2 0.57493019
0.2 0.64646577
0.2 0.71795892
0.2 1.34608224
0.2 3.58564434
0.2 2.29267616
0.2 0.71950221
0.2 0.45678765
0.2 0.19255392
0.2 0.14443102
0.2 0.13961892
0.2 0.11314385
0.2 0.07703673

=0
5. analisis grafik pada no 1 dan no 2
Pada grafik no 1 amplitudo terhadap frekuensi motor dapat
dijelaskan bahwa amplitudo dan frekuensi tidak saling berhubungan
dikarenakan terdapat data ketika amplitudo mencapai nilai
maksimum namun kemudian nilai amplitudo ini kecil. Ini
disebabkan oleh arus yang di berikan kepada kumparan sehingga
ketika arus semakin besar maka kekuatan magnet semakin
bertambah ini yang menyebabkan nilai amplitudo selanjutnya
menurun.
Pada grafik no 2 frekuensi terhadap tegangan output dapat
dijelaskan bahwa semakin besar nilai frekuensinya senderung
semakin besar pula nilai tegangan output yang didapatkan.

C. Frekuensi Redaman
1. Grafik Waktu terhadap Amplitudo
Arus 0,1 A

Arus 0,2 A

Arus 0,3 A

Arus 0,4 A

Arus 0,5 A

Arus 0,6 A

Arus 0,7 A

Arus 0,8 A

Arus 0,9 A

Arus 1 A

2. Parameter redam dan faktor redaman R


Pada arus 0.1 A diketahui persamaan grafik :
y = -0,394x + 10,75
Y = MtX + Nt, dengan Mt = -
sehingga diperoleh = 0,394

Untuk arus 0.1 A sampai 1.0 A memiliki parameter redaman


sebesar:
R = 2I
B
0.394
0.505
0.657
0.853
1.068
1.485
1.58
1.7
1.95
2.6

I
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1

R
0.0788
0.202
0.3942
0.6824
1.068
1.782
2.212
2.72
3.51
5.2

3. Grafik parameter redam terhadap arus

4. Analisa

Redaman pada percobaan ini adalah kumparan magnet.


Sehingga ketika

arus yang diberikan kepada kumparan maka

semakin besar maka semakin besar pula nilai redaman yang


diberikan kepada pendulum. Hal ini terlihat dari jumlah perioda
yang mana semakin besar arus yang diberikan maka semakin kecil
juga jumlah periodanya.

D. Frekuensi Redaman dan Paksaan


1. Grafik frekuensi terhadap amplitudo
Arus 0,2 A

Arus 0,4 A

Arus 0,6 A

Arus 0,8 A

Arus 1 A

2. Grafik amplitudo maksimum

3. Hitung Gaya Luar dan Beda Fase

Arus 0,2 A
I

0.2 0.4

f
0.0666
7
0.0714
3

0.2 0.5
0.2 0.5

0.0625
0.0555

0.2 0.4

f alami
0.5750
3
0.5750
3
0.5750
3
0.5750

W^2
0.0044
4
0.0051
0.0039
1
0.0030

W0^2
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306

B^2
0.3262
2
0.3255
6
0.3267
5
0.3275

F
0.0461
0.0461
1
0.0576
1
0.0575

B
0.5711
5
0.5705
8
0.5716
2
0.5723

Teta
0.22934
0.24533
0.21529
0.19175

6
0.2 0.5
0.2 0.6
0.2 0.6
0.2 0.8
0.2 0.8
0.2 0.8
0.2 0.9
0.2 1.7
0.2 5.8
0.2 2.8
0.2 0.8
0.2 0.4
0.2 0.3
0.2 0.3
0.2 0.3
0.2 0.3
0.2 0.3

0.05
0.0454
5
0.0416
7
0.0461
5
0.05
0.0466
7
0.0437
5
0.0470
6
0.0555
6
0.0473
7
0.04
0.0238
1
0.0181
8
0.0130
4
0.0083
3
0.008
0.0038
5

3
9
0.5750
3 0.0025
0.5750 0.0020
3
7
0.5750 0.0017
3
4
0.5750 0.0021
3
3
0.5750
3 0.0025
0.5750 0.0021
3
8
0.5750 0.0019
3
1
0.5750 0.0022
3
1
0.5750 0.0030
3
9
0.5750 0.0022
3
4
0.5750
3 0.0016
0.5750 0.0005
3
7
0.5750 0.0003
3
3
0.5750 0.0001
3
7
0.5750
3 6.9E-05
0.5750
3 6.4E-05
0.5750
3 1.5E-05

6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6

7
0.3281
6
0.3285
9
0.3289
2
0.3285
3
0.3281
6
0.3284
8
0.3287
5
0.3284
4
0.3275
7
0.3284
2
0.3290
6
0.3300
9
0.3303
3
0.3304
9
0.3305
9

9
0.0575
7
0.0690
7
0.0690
6

0.3306
0.3306
4

0.0345

0.0921
0.0921
1
0.0921
0.1036
0.1957
2
0.668
0.3223
6
0.0920
8
0.0460
2
0.0345
1
0.0345
0.0345

0.0345

4
0.5728
5
0.5732
3
0.5735
2
0.5731
7
0.5728
5
0.5731
3
0.5733
6
0.5731
0.5723
4
0.5730
8
0.5736
4
0.5745
4
0.5747
4
0.5748
8
0.5749
7
0.5749
7
0.5750
2

0.17282
0.15728
0.14429
0.15968
0.17282
0.16143
0.15144
0.16277
0.19175
0.16383
0.13857
0.08269
0.06319
0.04535
0.02898
0.02782
0.01338

Arus 0,4 A

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.6

0.2

0.6

0.2

0.6

0.2

0.7

0.2

0.7

0.2

0.8

0.2

0.2

1.8

0.2

3.4

0.2

0.2

0.2

0.6

0.2

0.4

0.2

0.3

0.2

0.3

0.2

0.3

f
0.0666
7
0.0714
3
0.0625
0.0555
6
0.05
0.0454
5
0.0416
7
0.0461
5
0.05
0.0466
7
0.0437
5
0.0470
6
0.0555
6
0.0473
7
0.04
0.0238
1
0.0181
8
0.0130
4
0.0083
3
0.008
0.0038
5

f alami
W^2
0.5750 0.0044
3
4
0.5750
3 0.0051
0.5750 0.0039
3
1
0.5750 0.0030
3
9
0.5750
3 0.0025
0.5750 0.0020
3
7
0.5750 0.0017
3
4
0.5750 0.0021
3
3
0.5750
3 0.0025
0.5750 0.0021
3
8
0.5750 0.0019
3
1
0.5750 0.0022
3
1
0.5750 0.0030
3
9
0.5750 0.0022
3
4
0.5750
3 0.0016
0.5750 0.0005
3
7
0.5750 0.0003
3
3
0.5750 0.0001
3
7
0.5750
3 6.9E-05
0.5750
3 6.4E-05
0.5750
3 1.5E-05

W0^2
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6

B^2
0.3262
2
0.3255
6
0.3267
5
0.3275
7
0.3281
6
0.3285
9
0.3289
2
0.3285
3
0.3281
6
0.3284
8
0.3287
5
0.3284
4
0.3275
7
0.3284
2
0.3290
6
0.3300
9
0.3303
3
0.3304
9
0.3305
9

F
0.0576
2
0.0576
4
0.0576
1
0.0575
9
0.0575
7
0.0690
7
0.0690
6
0.0690
7

0.3306
0.3306
4

0.0345

0.0806
0.0805
9
0.0920
9
0.1151
3
0.2073
1
0.3914
4
0.2301
9
0.1150
4
0.0690
1
0.0460
1
0.0345

0.0345

B
0.5711
5
0.5705
8
0.5716
2
0.5723
4
0.5728
5
0.5732
3
0.5735
2
0.5731
7
0.5728
5
0.5731
3
0.5733
6
0.5731
0.5723
4
0.5730
8
0.5736
4
0.5745
4
0.5747
4
0.5748
8
0.5749
7
0.5749
7
0.5750
2

Teta
0.22934
0.24533
0.21529
0.19175
0.17282
0.15728
0.14429
0.15968
0.17282
0.16143
0.15144
0.16277
0.19175
0.16383
0.13857
0.08269
0.06319
0.04535
0.02898
0.02782
0.01338

Arus 0,6 A
I

0.2

0.4

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.6

0.2

0.6

0.2

0.6

0.2

0.7

0.2

0.7

0.2

0.7

0.2

0.2

1.4

0.2

0.2

0.7

0.2

0.5

0.2

0.3

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

0.2

f
0.0666
7
0.0714
3
0.0625
0.0555
6
0.05
0.0454
5
0.0416
7
0.0461
5
0.05
0.0466
7
0.0437
5
0.0470
6
0.0555
6
0.0473
7
0.04
0.0238
1
0.0181
8
0.0130
4
0.0083
3
0.008
0.0038
5

f alami
W^2
0.5750 0.0044
3
4
0.5750
3 0.0051
0.5750 0.0039
3
1
0.5750 0.0030
3
9
0.5750
3 0.0025
0.5750 0.0020
3
7
0.5750 0.0017
3
4
0.5750 0.0021
3
3
0.5750
3 0.0025
0.5750 0.0021
3
8
0.5750 0.0019
3
1
0.5750 0.0022
3
1
0.5750 0.0030
3
9
0.5750 0.0022
3
4
0.5750
3 0.0016
0.5750 0.0005
3
7
0.5750 0.0003
3
3
0.5750 0.0001
3
7
0.5750
3 6.9E-05
0.5750
3 6.4E-05
0.5750
3 1.5E-05

W0^2
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6

B^2
0.3262
2
0.3255
6
0.3267
5
0.3275
7
0.3281
6
0.3285
9
0.3289
2
0.3285
3
0.3281
6
0.3284
8
0.3287
5
0.3284
4
0.3275
7
0.3284
2
0.3290
6
0.3300
9
0.3303
3
0.3304
9
0.3305
9
0.3306
0.3306
4

F
0.0461
0.0576
4
0.0576
1
0.0575
9
0.0575
7
0.0690
7
0.0690
6
0.0690
7
0.0806
0.0805
9
0.0805
8
0.1151
3
0.1612
4
0.2302
6
0.0805
7
0.0575
2
0.0345
1
0.023
0.023
0.023
0.023

B
0.5711
5
0.5705
8
0.5716
2
0.5723
4
0.5728
5
0.5732
3
0.5735
2
0.5731
7
0.5728
5
0.5731
3
0.5733
6
0.5731
0.5723
4
0.5730
8
0.5736
4
0.5745
4
0.5747
4
0.5748
8
0.5749
7
0.5749
7
0.5750
2

Teta
0.22934
0.24533
0.21529
0.19175
0.17282
0.15728
0.14429
0.15968
0.17282
0.16143
0.15144
0.16277
0.19175
0.16383
0.13857
0.08269
0.06319
0.04535
0.02898
0.02782
0.01338

Arus 0,8 A
I

0.2

0.4

0.2

0.4

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.6

0.2

0.7

0.2

0.7

0.2

0.7

0.2

0.9

0.2

0.2

1.4

0.2

0.2

0.6

0.2

0.4

0.2

0.4

0.2

0.3

0.2

0.3

0.2

0.3

f
0.0666
7
0.0714
3
0.0625
0.0555
6
0.05
0.0454
5
0.0416
7
0.0461
5
0.05
0.0466
7
0.0437
5
0.0470
6
0.0555
6
0.0473
7
0.04
0.0238
1
0.0181
8
0.0130
4
0.0083
3
0.008
0.0038
5

f alami
W^2
0.5750 0.0044
3
4
0.5750
3 0.0051
0.5750 0.0039
3
1
0.5750 0.0030
3
9
0.5750
3 0.0025
0.5750 0.0020
3
7
0.5750 0.0017
3
4
0.5750 0.0021
3
3
0.5750
3 0.0025
0.5750 0.0021
3
8
0.5750 0.0019
3
1
0.5750 0.0022
3
1
0.5750 0.0030
3
9
0.5750 0.0022
3
4
0.5750
3 0.0016
0.5750 0.0005
3
7
0.5750 0.0003
3
3
0.5750 0.0001
3
7
0.5750
3 6.9E-05
0.5750
3 6.4E-05
0.5750
3 1.5E-05

W0^2
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6

B^2
0.3262
2
0.3255
6
0.3267
5
0.3275
7
0.3281
6
0.3285
9
0.3289
2
0.3285
3
0.3281
6
0.3284
8
0.3287
5
0.3284
4
0.3275
7
0.3284
2
0.3290
6
0.3300
9
0.3303
3
0.3304
9
0.3305
9
0.3306
0.3306
4

F
0.0461
0.0461
1
0.0576
1
0.0575
9
0.0575
7
0.0575
6
0.0575
5
0.0690
7
0.0806
0.0805
9
0.0805
8
0.1036
1
0.1151
7
0.1611
8
0.1150
9
0.0690
2
0.0460
1
0.0460
1
0.0345
0.0345
0.0345

B
0.5711
5
0.5705
8
0.5716
2
0.5723
4
0.5728
5
0.5732
3
0.5735
2
0.5731
7
0.5728
5
0.5731
3
0.5733
6
0.5731
0.5723
4
0.5730
8
0.5736
4
0.5745
4
0.5747
4
0.5748
8
0.5749
7
0.5749
7
0.5750
2

Teta
0.22934
0.24533
0.21529
0.19175
0.17282
0.15728
0.14429
0.15968
0.17282
0.16143
0.15144
0.16277
0.19175
0.16383
0.13857
0.08269
0.06319
0.04535
0.02898
0.02782
0.01338

Arus 1 A
I

f
0.0666
7
0.0714
3

0.2

0.4

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.5

0.2

0.6

0.2

0.7

0.2

0.7

0.2

0.7

0.2

0.8

0.2

0.2

0.9

0.2

0.8

0.2

0.5

0.2

0.4

0.2

0.3

0.2

0.2

0.04
0.0238
1
0.0181
8
0.0130
4
0.0083
3

0.2

0.2

0.008

0.0625
0.0555
6
0.05
0.0454
5
0.0416
7
0.0461
5
0.05
0.0466
7
0.0437
5
0.0470
6
0.0555
6
0.0473
7

f alami
W^2
0.5750 0.0044
3
4
0.5750
3 0.0051
0.5750 0.0039
3
1
0.5750 0.0030
3
9
0.5750
3 0.0025
0.5750 0.0020
3
7
0.5750 0.0017
3
4
0.5750 0.0021
3
3
0.5750
3 0.0025
0.5750 0.0021
3
8
0.5750 0.0019
3
1
0.5750 0.0022
3
1
0.5750 0.0030
3
9
0.5750 0.0022
3
4
0.5750
3 0.0016
0.5750 0.0005
3
7
0.5750 0.0003
3
3
0.5750 0.0001
3
7
0.5750
3 6.9E-05
0.5750
3 6.4E-05

W0^2
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6
0.3306
6

B^2
0.3262
2
0.3255
6
0.3267
5
0.3275
7
0.3281
6
0.3285
9
0.3289
2
0.3285
3
0.3281
6
0.3284
8
0.3287
5
0.3284
4
0.3275
7
0.3284
2
0.3290
6
0.3300
9
0.3303
3
0.3304
9
0.3305
9
0.3306

F
0.0461
0.0576
4
0.0576
1
0.0575
9
0.0575
7
0.0575
6
0.0575
5
0.0690
7
0.0806
0.0805
9
0.0805
8
0.0921
0.1151
7
0.1036
2
0.0920
8
0.0575
2
0.0460
1
0.0345
0.023
0.023

B
0.5711
5
0.5705
8
0.5716
2
0.5723
4
0.5728
5
0.5732
3
0.5735
2
0.5731
7
0.5728
5
0.5731
3
0.5733
6
0.5731
0.5723
4
0.5730
8
0.5736
4
0.5745
4
0.5747
4
0.5748
8
0.5749
7
0.5749
7

Teta
0.22934
0.24533
0.21529
0.19175
0.17282
0.15728
0.14429
0.15968
0.17282
0.16143
0.15144
0.16277
0.19175
0.16383
0.13857
0.08269
0.06319
0.04535
0.02898
0.02782

0.2

0.1

0.0038
5

0.5750
3 1.5E-05

0.3306
6

0.3306
4

0.0115

0.5750
2 0.01338

4. Analisis Grafik no 1 dan 2


Pada grafik 1 menunjukkan bahwa tidak adanya keterkaitan antara
frekuensi terhadap amplitudo.
Pada grafik 2 menunjukka bahwa nilai amplitudo maksimum
berada ketika nilai arus sebesar 0,6 A ini menjelaskan bahwa ketika
arus semakin besar maka amplitudo semakin kecil.

V. Kesimpulan

Tujuan percobaan Rotator Harmonis adalah untuk memahami


materi tentang getaran harmonik.Percobaan Rotator Harmonik ini
mengunakan asas-asas gelombang dengan faktor redam maupun tidak,
Hukum Newton, dan juga Resonansi yaitu ikut bergetarnya suatu benda
akibat getaran benda lain. Sehingga kita dapat menemukan persamaanpersamaan yang dibutuhkan dalam pengolahan data untuk praktikum
kali ini.
Dan dalam data kita dapat menyimpulkan bahwa ketika arus yang
diberikan semakin besar maka redaman akan bernilai semakin besar
pula sehingga amplitudo yang di peroleh semakin kecil.

DAFTAR PUSTAKA
Halliday & Resnick. 1991. FISIKA DASAR Jilid 2, Erlangga: Jakarta.
http//:www.scribd.com/doc/26833512/Rotator-Harmonis