Anda di halaman 1dari 17

BAB III HIPOSPADIA

A. Definisi
1. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glans penis). (Arif Mansjoer, 2000 : 374).
2.

Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan penutupan uretra

penis pada kehamilan minggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan orifisium uretra tertinggal disuatu tempat dibagian ventral penis antara skrotum dan glans penis. (A.H Markum, 1991 : 257). 3. 4. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat lain di bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288). pada bagian belakang batang penis atau bahkan pada perineum ( daerah antara kemaluan dan anus ). (Davis Hull, 1994 )
5.

Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering

ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya, hanya pengelolaannya harus dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli supaya mendapatkan hasil yang memuaskan.

B. Etiologi
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau bisa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama. 2. Genetika

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

31

Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi. 3. Lingkungan

Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

C. Klasifikasi
Hipospadia dibagi menjadi beberapa tipe menurut letak orifisium uretra eksternum yaitu : 1) 2) 3) Tipe sederhana adalah tipe grandular, disini meatus terletak pada pangkal Tipe penil, meatus terletak antara glands penis dan skortum. Tipe penoskrotal dan tipe perineal, kelainan cukup besar, umumnya

glands penis. Pada kelainan ini secara klinis umumnya bersifat asimtomatik.

pertumbuhan penis akan terganggu.

1.

Tipe hipospadia yang lubang uretranya didepan atau di anterior

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

32

a) Hipospadia Glandular b) Hipospadia Subcoronal


2.

Tipe hipospadia yang lubang uretranya berada di tengah a) Hipospadia Mediopenean b) Hipospadia Peneescrotal

3.

Tipe hipospadia yang lubang uretranya berada di belakang atau posterior a) Hipospadia Perineal

Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus : 1. Tipe sederhana/ Tipe anterior Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi. 2. Tipe penil/ Tipe Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan pene-escrotal. Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan bedah selanjutnya. 3. Tipe Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal. Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun. Klasifikasi hipospadia yang digunakan sesuai dengan letak meatus uretra yaitu tipe glandular, distal penile, penile, penoskrotal, skrotal dan perineal. Semakin ke proksinal letak meatus, semakin berat kelainan yang diderita dan semakin rendah frekuensinya. Pada kasus ini 90% terletak di distal di mana meatus terletak di ujung batang penis atau di glands penis. Sisanya yang 10% terletak lebih proksimal yaitu ditengah batang penis, skrotum atau perineum. Berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan koreksi korde, Brown membagi hipospadia dalam 3 bagian : 1) Hipospadia anterior : tipe glanular, subkoronal, dan penis distal. 2) Hipospadia Medius : midshaft, dan penis proksimal

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

33

3) Hipospadia Posterior : penoskrotal, scrotal, dan perineal

D. Patofisiologi
Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang penis, hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan kurvatura (lengkungan) ventral dari penis.

E. Manifestasi Klinis
1. BAK. 2. 3. jongkok. 4. 5. 6. 7.
8.

Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar, mengalir melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan mengangkat penis keatas. Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang menyerupai meatus uretra eksternus. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar. Kulit penis bagian bawah sangat tipis. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum). Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah penis Penis melengkung ke bawah

9.
10.

11. 12. 13. 14. 15.

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

34

16. 17. 18.

Penis tampak seperti berkerudung karena kelainan pada kulit depan penis Jika berkemih, anak harus duduk. Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh adanya chordee yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke glands penis. Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimeter dari uretra, korpus spongiosum dan tunika dartos. Walaupun adanya chordee adalah salah satu ciri khas untuk mencurigai suatu hipospadia, perlu diingat bahwa tidak semua hipospadia memiliki chordee.

F. Penatalaksanaan Medis
1. Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal. 2. nanti. 3. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari 1) Operasi Hipospadia satu tahap ( ONE STAGE URETHROPLASTY ) Adalah tekhnik operasi sederhana yang sering digunakan, terutama untuk hipospadia tipe distal. Tipe distal ini meatusnya letak anterior atau yang middle. Meskipun sering hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe hipospadia proksimal yang disertai dengan kelainan yang jauh lebih berat, maka one stage urethroplasty nyaris dapat dilakukan. Tipe hipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan kelainan-kelainan yang berat seperti korda yang berat, globuler glans yan bengkok kearah ventral (bawah) dengan dorsal; skin hood dan propenil bifid scrotum. Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air seninya lebih kearah proksimal (jauh dari tempat semestinya) biasanya diikuti dengan penis yang bengkok dan kelainan lain di scrotum atau sisa kulit yang sulit di tarik pada saat dilakukan operasi pembuatan uretra (saluran kencing). Kelainan yang seperti ini biasanya harus dilakukan 2 tahap. beberapa tahap yaitu : Operasi harus dilakukan sejak dini, dan sebelum operasi dilakukan bayi atau anak tidak boleh disirkumsisi karena kulit depan penis digunakan untuk pembedahan

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

35

2) Operasi Hipospadia 2 tahap Tahap pertama operasi pelepasan chordee dan tunelling dilakukan untuk meluruskan penis supaya posisi meatus (lubang tempat keluar kencing) nantinya letaknya lebih proksimal (lebih mendekati letak yang normal), memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian ventral/bawah penis. Tahap selanjutnya (tahap kedua) dilakukan uretroplasty (pembuatan saluran kencing buatan/uretra) sesudah 6 bulan. Dokter akan menentukan tekhnik operasi yang terbaik. Satu tahap maupun dua tahap dapat dilakukan sesuai dengan kelainan yang dialami oleh pasien. Penatalaksanaan Pembedahan Dikenal banyak tehnik operasi hipospadia, yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu : 1. Operasi pelepasan chordee dan tunneling Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi chordee dari muara uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan korpus kavernosum. 2. Operasi uretroplasty Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral yang di insisi secara longitudinal pararel di kedua sisi. Tujuan pembedahan : 1) 2) Membuat normal fungsi perkemihan dan fungsi sosial, serta Perbaikan untuk kosmetik pada penis.

Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling Sidiq-Chaula, Teknik Horton dan Devine. 1 Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap: a) Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang berepitel pada glans penis. Dilakukan pada usia 1 -2 tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus masih

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

36

pada tempat yang abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan preputium bagian dorsal dan kulit penis.\ b) Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut sudah lunak. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah. Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit preputium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang. 2 Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya lebih ke ujung penis). Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah. Mengingat pentingnya preputium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia, maka sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan berbarengan dengan operasi hipospadi. Prinsip Terapi Dan Managemen Perawatan. a) Koreksi bedah. b) Persiapan prabedah c) Penatalaksanaan pasca bedah. Anak harus dalam tirah baring. Baik luka penis dan tempat luka donor harus dijaga tetap bersih dan kering. Perawatan kateter. Pemeriksaan urin untuk memeriksa kandungan bakteri. Masukan cairan yang adekuat untuk mempertahankan aliran ginjal dan mengencerkan toksin. Pengangkatan jahitan kulit setelah 5-7 hari

G. Komplikasi
1. 2. 3. dewasa. Komplikasi paska operasi yang terjadi : Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu ) Psikis ( malu ) karena perubahan posisi BAK. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

37

1.

Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi, juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi.

2. 3. 4.

Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosis. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai parameter untuyk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %.

5.

Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang.

6.

Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.

H. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan


1. Data Fokus Data Subjektif Ortu klien Saat buang air kecil tidak keluar dari lubang ujung gland penis melainkan keluar dari bawah permukaan penis. Klien mengatakan kurang mengerti tentang perawatan di rumah pada pasien. Ortu klien mengatakan setelah mnedengar klien harus dioperasi ortu mengatakan cemas. Data Objektif BB : 12 Kg Suhu : 37 Nadi : 112 x/menit Meatusnya uretra berada di pangkal penis abnormalitas lebih ke proksimal dari tempat yang normal pada ujung gland penis. Terdapat chordeae dari meatus yang letaknya abnormal ke gland penis Rencana 2 hari akan dilakukan operasi oleh ahli bedah urologi Klien nampak cemas Klien nampak tidak mengerti

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

38

perawatan dirumah

2. Analisa Data Data Data Subjek : Ortu klien Saat buang air kecil tidak keluar dari lubang ujung gland penis melainkan keluar dari bawah permukaan penis. Data Objek : BB : 12 Kg Suhu : 37 Nadi : 112 x/menit Meatusnya uretra berada di pangkal penis abnormalitas lebih ke proksimal dari tempat yang normal pada ujung gland penis. Terdapat chordeae dari meatus yang letaknya abnormal ke gland penis Klien mengatakan kurang mengerti tentang perawatan di rumah pada pasien. Data Objek Klien nampak tidak mengerti perawatan dirumah Klien nampak cemas Ortu klien mengatakan
S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

Masalah Gangguan eliminasi

Etiologi Obstruksi mekanik

Kurang pengetahuan

Perawatan keluarga

cemas

Akan dilakukan operasi


39

setelah mnedengar klien harus dioperasi ortu mengatakan cemas. 3. Pemeriksaan Fisik a. Fisik
1) 2)

Pemeriksaan genetalia Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau Kaji fungsi perkemihan Adanya lekukan pada ujung penis Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi Terbukanya uretra pada ventral Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan,

pembesaran pada ginjal


3) 4) 5) 6) 7)

dysuria, drinage.
b. Mental 1) 2) 3) 4)

Sikap pasien sewaktu diperiksa Sikap pasien dengan adanya rencana pembedahan Tingkat kecemasan Tingkat pengetahuan keluarga dan pasien

4. Diagnosa Keperawatan
a. Pre Operasi

1)

Kecemasan/ansietas

berhubungan

dengan

kurang

pengetahuan

mengenai kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan


b. Post Operasi

1) 2) 3) 5. Intervensi

Gangguan rasa Nyaman :Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter

jaringan jalan napas

a. Pra Operasi

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

40

1)

Kecemasan/ansietas

b/d

kurangnya

pengetahuan

mengenai

kondisi,prognosis, dan kebutuhan pengobatan Tujuan Kecemasan/ansietas hilang/berkurang satelah dilakukan asuhan keperawatan dalam1X20 menit, dengan criteria hasi, klien akan :

Mengutarakan proses penyakit/proses preoperasi dan harapan pasca melakukan prosedur yang diperlukan untuk menjelaskan alasan dari memulai perubahan gaya hidup yang dperlukan dan ikut serta dalam

operasi suatu tindakan regimen perawatan Intervensi a) Kaji tingkat pemahaman pasien b) Gunakan sumber-sumber pengajaran, sesuai keadaan c) Melaksanakan program pengajaran pra operasi individual
d) Informasikan pasien/orang terdekat mengenai rencana perjalanan,

komunikasi dokter/orang terdekat Rasional a) Berikan fasilitas perencanaan program pengajaran b) Media khusus akan dapat memenuhi kebutuhan pasian untuk belajar c) Meningkatkan pemahaman atau kontrol pasien dan memungkinkan partisipasi dalam perawatan pasca operasi d) Informasi logistik mengenai jadwal dan kamar operasi, mencegah keraguan dan kebingungan akan kesehatan pasian, dan prosedur yang akan dilakukan
b. Post Operasi 1)

Gangguan rasa Nyaman :Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas

jaringan Tujuan : nyeri berkurang K/H :

Menyatakan nyeri terkontrol Menunjukkan nyeir hilang, mampu tidur/istirahat dengan tepat

Intervensi : a. Kaji nyeri, catat lokasi, karekteristik, intensitas (skala 0-10)

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

41

b. Dorong pasien untuk menyatakan masalah c. Berikan tindakan kenyaman misal : ubah posisi d. Dorong penggunaan teknik relaksasi e. Kolaborasi, berikan obat sesuai indikasi mil : narkotik, anlagen Rasional : a. Membantu mengevaluasi : derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgesik atau dapat menyatakan terjadinya komplikasi b. Menurunkan ansietas / takut dapat meningkatkan relaksasi / kenyamanan c. Mencegah ketidaknyamanan, meningkatkan relaksasi dan dapat meningkat kemampuan koping. d. Membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan memfokuskan kembali perhatian sehingga menurunkan nyeri dan ketidaknyamanan e. Menurunkan nyeri, meningkatkan kenyamanan
2)

Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi

jalan napas Tujuan : jalan napas efektif, tidak ada sumbatan. Kriteria hasil: Tidak ada bunyi napas tambahan. Nafas efektif, pasien tidak gelisah

Intervensi: a. Auskultasi bunyi napas, b. Kaji, pantau frekuensi pernapasan.


c.

Dengarkan suara napas,

d. Berikan posisi yang nyaman, seperti mengekstensikan kepala e. Lakukan pengisapan lendir bila perlu. Rasionalisasi a. untuk mengetahui adanya bunyi napas tambahan seperti, mengi b. untuk mengetahui tingkat pengembangan paru c. untuk mengetahui adanya snoring
d. untuk membebaskan jalan napas

e. Untuk melegakan pernafasan.


3)

Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

42

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam diharapkan tidak terjadi infeksi Intervensi a. Ajarkan pasien & kelurga cara mencucitangan yang benar b. Ajarkan pada pasien & keluarga tanda gejala infeksi & kapan harus melaporkan kepada petugas c. Batasi pengunjung d. Bersihkan lingkungan dengan benar setelah digunakan pasien e. Monitor peningkatan granulossi, sel darah putih f. Kaji faktor yang dapat meningkatkan infeksi Rasionalisasi a. Untuk menghindari kuman
b. Untuk memberi peringatan ketika terjadi infeksi

c. Untuk membuat pasien merasa nyaman d. Untuk menetralisir kuman yg ada disekitar lingkungan e. Untuk mengetahui adanya infeksi f. Untuk meminimalkan resiko infeksi
4)

Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan bedah diversi, trauma

jaringan Tujuan : Eliminasi urine normal / menjadi seperti sebelum sakitK/H : Menunjukkan aliran urine terus menerus dengan haluaran urine adekuat untuk situasi individu. Intervensi : a. Catat keluaran urine, selidiki penurunan / penghentian aliran urien tiba-tiba b. Observasi dan catat warna urin c. Tunjukkan teknik katerisasi sendiri d. Dorong peningkatan cairan dan pertahankan pemasukan akura
e. Awasi tanda vital

Rasional a. Penurunan aliran urine tiba-tiba dapat mengindikasikan abstuksi / disfungsi


b. Urine dapat agak kemerahmudaan, yang seharusnya jernih sampai 2-

3 hari

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

43

c. Kateterisasi periodik mengosongkan wadah d. Mempertahankan hidrasi dan aliran urine baik e. Indikator keseimbangan cairan menunjukkan tingkat hidrasi dan keefektifan terapi penggantian cairan. 6. Implementasi a. Pre Operasi
1)

Kecemasan/ansietas

berhubungan

dengan

kurang

pengetahuan

mengenai kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan


a) Kaji tingkat pemahaman pasien b) Gunakan sumber-sumber pengajaran, sesuai keadaan c) Melaksanakan program pengajaran pra operasi individual d) nformasikan pasien/orang terdekat mengenai rencana perjalanan,

komunikasi dokter/orang terdekat b. Post Operasi 1) Gangguan rasa Nyaman :Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas
a) Kaji nyeri, catat lokasi, karekteristik, intensitas (skala 0-10) b) Dorong pasien untuk menyatakan masalah c) Berikan tindakan kenyaman misal : ubah posisi d) Dorong penggunaan teknik relaksasi e) Kolaborasi, berikan obat sesuai indikasi mil : narkotik, anlagen 2)

jaringan

Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi


a) Auskultasi bunyi napas, b) Kaji, pantau frekuensi pernapasan. c) Dengarkan suara napas, d) Berikan posisi yang nyaman, seperti mengekstensikan kepala e) Lakukan pengisapan lendir bila perlu.

jalan napas

3)

Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter


a) Ajarkan pasien & kelurga cara mencucitangan yang benar b) Ajarkan pada pasien & keluarga tanda gejala infeksi & kapan harus

melaporkan kepada petugas


c) Batasi pengunjung

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

44

d) Bersihkan lingkungan dengan benar setelah digunakan pasien e) Monitor peningkatan granulossi, sel darah putih f) Kaji faktor yang dapat meningkatkan infeksi.

4)

Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan bedah diversi, trauma


a) Mencatat keluaran urine, selidiki penurunan / penghentian aliran

jaringan urien tiba-tiba


b) Mengobservasi dan catat warna urine c) Menunjukkan teknik katerisasi sendiri d) Mendorong peningkatan cairan dan pertahankan pemasukan akurat e) Mengawasi tanda vital

7. Evaluasi a.
1)

Pra Operasi Kecemasan/ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan
a) Tingkat kecemasan di batas normal b) Mengetahui penyebab cemas c) Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas d) Informasi untuk mengurangi kecemasan e) Strategi koping untuk situasi penuh stress f) Hubungan social g) Tidur adekuat h) Respon cemas

b.
1)

Post Operasi Gangguan rasa Nyaman :Nyeri berhubungan dengan diskontinuitas


a) Melaporkan nyeri (frekuensi & lama) b) Perubahan vital sign dalam batas normal (TD 120/80 mmHg; RR 22

jaringan

x/mt; N 75x/mt; S 36,8C)


c) Memposisikan tubuh untuk melindungi nyeri d) Melaporkan kondisi fisik yang nyeman e) Menunjukan

ekspresi

puas

terhadap

manajemen

nyeri

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

45

f) Mengungkap faktor pencetus nyeri g) Menggunakan tetapi non farmakologi h) Dapat menggunakan berbagai sumber untuk mengontrol nyeri i) 2)

Melaporkan nyeri terkontrol Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi

jalan napas
a) Tidak ada bunyi napas tambahan. b) Nafas efektif, c) pasien tidak gelisah d) pasien tidak mengeluh sesak napas e) RR : 20x/menit 3)

Resiko tingggi infeksi berhubungan dengan invasi kateter


a) Mengidentifikasi faktor yang dapat menimbulkan resiko b) Menjelaskan kembali tanda & gejala yang mengidentifikasi faktor

resiko
c) Menggunakan sumber & pelayanan kesehatan untuk mendapat

sumber informasi
d) Membenarkan faktor resiko e) Memonitor faktor resiko dari lingkungan f) Memonitor perilaku yang dapat meningkatkan faktor resiko g) Memonitor & mengungkapkan status kesehatan h) Tidak menunjukan infeksi berulang i)

Suhu

tubuh

dalam

batas

normal
j) 4)

Sel darah putih tidak meningkat Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan bedah diversi, trauma

jaringan
a) Mengatakan keinginan untuk BAK b) Menentukan pola BAK c) Mengatakan dapat BAK dengan teratur d) Waktu yang adekuat antara keinginan BAK dan mengeluarkan BAK

ke toilet
e) Bebas dari kebocoran urin sebelum BAK f) Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

46

g) Mengosongkan kandung kemih secara komplet

S1 Keperawatan, 2010. UPNVJ.

47