Anda di halaman 1dari 22

TUGAS ARTIKEL PELAPORAN DAN AKUNTANSI KEUANGAN

KERANGKA KONSEPTUAL DAN PELAPORAN KEUANGAN, KONSEKUENSI EKONOMIS LAPORAN KEUANGAN DAN MANAJEMEN LABA

MUH. SAPRIL SARDI J. FERY SYAMSUL ARIFIN

MAHASISWA PPAk FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2012

PENDAHULUAN Tujuan pelaporan keuangan diarahkan untuk memberikan informasi yang berguna untuk mengambil keputusan-keputusan bisnis. Peran standar akuntansi (seperti SAK) menjadi sangat penting supaya manajemen suatu badan usaha dapat menghasilkan informasi yang berkualitas. Dalam menyusun standar, dewan standar melibatkan berbagai pertimbangan seperti pertimbangan kondisi politik dan kondisi ekonomi suatu negara di samping pertimbangan teori-teori yang relevan termasuk hasil-hasil kajian ilmiah (Wolk at al., 2001). Financial Accounting Standard Board (FASB, 1978) juga mengakui bahwa tujuan pelaporan keuangan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, hukum, politik, lingkungan sosial, karakteristik dan keterbatasan jenis informasi yang bisa disediakan oleh laporan keuangan. Terdapat fenomena manajemen laba (earnings management) dalam pelaporan keuangan suatu badan usaha. Fenomena ini muncul karena standar-standar yang ditetapkan regulator secara tidak langsung masih memberikan kesempatan kepada manajemen untuk melakukan pilihan standar agar perlakuan akuntansi yaitu pengakuan dan pengukuran sesuai dengan yang mereka inginkan. Salah satu prinsip akuntansi yang sangat bermanfaat dalam menghasilkan informasi yang berkualitas yaitu prinsip akrual justru mengandung kelemahan, yaitu memberikan peluang kepada manajemen untuk melakukan manajemen laba. Healy dan Wahlen (1999) dalam Astika menyatakan bahwa manajemen laba terjadi ketika eksekutif suatu badan usaha menggunakan kebijakan dalam menyusun laporan keuangan dan membentuk transaksi untuk mengubah laporan keuangan. Tujuannya adalah memanipulasi besaran laba yang dilaporkan kepada para pemegang saham dan mempengaruhi hasil perjanjian yang bergantung pada angka- angka akuntansi yang dilaporkan. Fischer dan Rosenzweig (1995) memandang earnings management sebagai serangkaian langkah yang dilakukan manajer untuk meningkatkan atau menurunkan jumlah laba yang dilaporkan dalam tahun berjalan yang merupakan tanggung jawabnya tanpa menyebabkan penurunan atau peningkatan keuntungan yang dicapai suatu badan usaha dalam jangka panjang. Pandangan ini tidak saja terbatas pada perilaku manajer tetapi lebih luas yaitu mencakup seluruh tindakan yang dilakukan manajemen dalam mengelola earnings, yang meliputi pemilihan kebijakan akuntansi serta keputusan operasi perusahaan. Sugiri (2005) menyatakan bahwa salah satu motivasi manajemen laba adalah mengelabui kinerja ekonomi yang sebenarnya, dan itu dapat terjadi karena terdapat ketidaksimetrian informasi antara manajemen dan para pemegang saham suatu badan usaha. Motivasi manajemen laba lainnya adalah mempengaruhi penghasilan (telah diatur dalam kontrak) yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan dengan asumsi bahwa manajemen memiliki kepentingan pribadi dan kompensasinya didasarkan pada laba akuntansi. Adanya hubungan antara manajemen laba dengan pemilihan metode akuntansi, maka manajemen laba dapat diartikan sebagai perilaku manajer untuk bermain dengan komponen akrual diskresioner dalam menentukan besarnya laba perusahaan.

KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN LAPORAN KEUANGAN Laporan keuangan merupakan informasi keuangan yang disusun dan disajikan sekurangkurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai. Laporan keuangan juga digunakan sebagai sumber utama informasi keuangan dank arena itu laporan keuangan tersebut seharusnya disusun dan disajikan dengan mempertimbangkan kebutuhan para pemakai. Laporan keuangan merupakan salah satu proses dari pelaporan keuangan, dimana laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Perusahan pelapor adalah perusahaan yang laporan keuangannya digunakan oleh pemakai yang mengandalkan laporan keuangan tersebut sebagai sumber utama informasi keuangan perusahaan. Pemakai dan Kebutuhan Informasi Laporan keuangan digunakan oleh pemakai yang berbedabeda, meliputi investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha, pelaggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat. Beberapa kebutuhannya, meliputi : a. Investor. Informasi keuangan digunakan untuk membantu mereka menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Perusahaan juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen b. Karyawan. Informasi keuangan digunakan untuk melihat stabilitas dan profitabilitas perusahaan, serta untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja. c. Pemberi Pinjaman. Tertarik pada informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar saat jatuh tempo. d. Pemasok dan kreditor lainnya. Tertarik pada informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayar saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama meraka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan. e. Pelanggan. Berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan, terutama apabila mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau tergantung pada perusahaan.

f. Pemerintah.

Berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas perusahaan dan untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya. g. Masyarakat. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya. TUJUAN LAPORAN KEUANGAN Tujuan dari laporan keuangan yakni menyediakan informasi yang berhubungan dengan posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang dapat bermanfaat begi pengguna laporan tersebut sebagai pengambilan keputusan di masa yang akan datang. Laporan keuangan juga memperlihatkan bagaimana pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang telah dipercayakan kepada mereka sehingga mereka dapat membuat keputusan ekonomi. ASUMSI DASAR Acrual Basic (Dasar Aktual) Dengan acrual basic ini, pengaruh transaksi diakui pada saat kejadian (bukan pada saat kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi dan dilaporkan pada laporan akuntansi periode bersangkutan. Going Concern (Kelangsungan hidup) Laporan keuangan disusun atas dasar asumsi bahwa perusahaan tersebut dapat melanjutkan usahanya di masa yang akan datang. Oleh sebab itu perusahaan diasumsikan tidak bermaksud mengurangi secara material skala uasahanya. Jika perusahaan tersebut akan mengurangi skala usahanya, maka laporan keuangan mungkin harus disusun dengan dasar yang berbeda dan dasar yang digunakan harus diuangkapkan. KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN Karakteristik kualitatif laporan keuangan menjadi ciri dari laporan keuangan agar dapat dimengerti oleh pemakai laporan keuangan. Karakteristik Kuantitatif laporan keuangan terdiri dari Understanding, Relevance, Reliability, dan Comparability. Understanding (Dapat Dipahami) Hal penting yang harus diperhatikan dalam menyusun laporan keuangan adalah kemudahannya dipahami oleh pengguna laporan tersebut. Di mana pengguna laporan keuangan tersebut diasumsikan menpunyai pengetahuan yang memadai mengenai aktivitas, ekonomi, bisnis, dan akuntansi.

Relevance Laporan keuangan yang disajikan bermanfaat ketika informasi tersebut mempunyai relevansi dalam penngambilan keputusan dari pengguna laporan keuangan tersebut. Informasi keuangan yang lalu biasanya sering digunakan dalam memprediksi posisi keuangan di masa depan.

Reliability (Keandalan) Suatu informasi keuangan yang dianggap reliable atau dikatakan andal ketika laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation). Comparability (Dapat Dibandingkan) Informasi tentang sebuah laporan keuangan akan lebih bermanfaat ketika dapat diperbandingkan dengan informasi yang serupa menyangkut perusahaan lain. Sehingga pengguna dapat membandingkan laporan keuangannya dengan laporan keuangan perusahaan lain secara konsisten. UNSUR LAPORAN KEUANGAN Posisi Keuangan Aktiva, merupakan manfaat ekonomi yang diharapkan oleh perusahaan sebagai hasil dari transaksi kejadian-kejadian masa lalu. Kewajiban, merupakan utang perusahaan yang ditimbulkan dari peristiwa atau transaksi masa lalu. Aktiva Bersih, merupakan nilai residu atas aktiva perusahaan setelah dikurang dengan kewajiban. Kinerja (Laba Rugi) Penghasilan, merupakan penambahan atau pemasukan aktiva atau penurunan kewajiban yang menyebabkan kenaikan ekuitas yang berasal dari operasi utama perusahaan dan bukan berasal dari pemilik. Beban, merupakan penurunan aktiva atau penambahan kewajiban yang menyebabkan penurunan ekuitas yang berasal dari operasi utama perusahaan dan bukan dari pembagian kepada penanaman modal. PENGUKURAN UNSUR LAPORAN KEUANGAN a. Histirical Cost (Biaya Historis) Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas atau setara dengan kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan.dan kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban. b. Current Cost (Biaya Kini) Aktiva dinilai dalam jumlah kas atau setara dengan kas yang seharusnya dibayar bila aktiva yang sama atau setara aktiva diperoleh sekarang. Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban sekarang. c. Realisable / Settlement Value (Nilai Realisasi / Penyelesaian) Aktiva dinyatakan dalam jumlah kas atau setara dengan kas yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aktiva dalam pelepasan normal dan kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian; yaitu, jumlah kas atau setara dengan kas yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal. d. Present value (Nilai Sekarang)

Aktiva dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normaldan kewajiban dinyatakan sebesar arus kas keluar bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal. KONSEKUENSI EKONOMIS LAPORAN KEUANGAN International Financial Reporting Standard (IFRS) bertujuan memberikan kumpulan standar penyusunan laporan keuangan perusahaan di seluruh dunia. Sehingga perusahaan mampu menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas, dapat diperbandingkan dan transparan yang digunakan oleh investor di pasar modal dunia maupun pihak-pihak yang berkepentingan lainnya (stakeholder) untuk mengambil keputusan. Dari uraian tersebut maka akan diketahui keuntungan dan kerugian dari penerapan IFRS. Saat ini banyak negara-negara di Eropa, Asia, Afrika, Oseania dan Amerika yang menerapkan IFRS. Negara-negara yang berpengaruh seperti Jepang dan Amerika Serikat belum menerapkan IFRS walaupun IFRS mulai mendapat perhatian di sana. Pengembangan IFRS menjadi prioritas oleh International Organization of Securities Commissions (IOSCO). IOSCO merupakan stakeholder dalam pengembangan IFRS dengan memberikan kontribusi aktif dalam proses penyusunan standar dan penilaian kualitas dari IFRS, karena dapat memperkuat integritas pasar modal international dengan cara mempromosikan standar akuntansi yang berkualitas tinggi. Menurut Hinsa (2009) tiga masalah utama dalam penyusunan laporan keuangan yang menyebabkan terjadinya perubahan mendasar dalam standar akuntansi keuangan dari tradisional ke fair value accounting adalah masalah relevance, reliability, dan volatility. 1. Relevance Banyak orang percaya bahwa standard akuntansi historical cost telah banyak kehilangan relevansinya karena kegagalannya mengukur realitas ekonomi. Seringkali model historical cost hanya mengukur transaksi sudah selesai dan gagal mengakui adanya perubahan nilai riil lain yang dapat terjadi. 2. Reliability Masalah yang selalu ada yang tidak dapat dihindari adalah bahwa model akuntansi berdasarkan historical cost tidak mengakui adanya perubahan nilai bersifat ekonomis dan cenderung membiarkan perusahaan memilih sendiri apakah dan kapan mengakui adanya perubahan tersebut. Ini mendorong adanya bias dalam pemilihan apa yang dilaporkan, dan memperburuk kompromi kenetralan dan dipercayainya informasi keuangan. 3. Volatility Laporan keuangan lembaga keuangan yang kurang efektif dalam mengelola risiko akan tercermin pada volatility yang selalu ada dalam setiap usahanya. Para investor dan kreditur akan memiliki informasi yang lebih berguna dan relevan dalam membedakan risiko antar perusahaan, ketika mengambil keputusan investasi dan keputusan pemberian kredit.

Penelitian yang dilakukan Armstrong, Barth, Jagonlizer dan Riedl (2007) menguji reaksi di pasar modal di Eropa setelah penerapan IFRS mulai tahun 2005 di negara-negara Uni Eropa. Adopsi IFRS di Uni Eropa merupakan perubahan fundamental terhadap laporan keuangan dan menimbulkan kontroversi dan perdebatan yang sampai ke petinggi pemerintahan. Hal-hal yang menjadi kontroversi dan perdebatan adalah yang berkenaan dengan manfaat versus biaya dari pengadopsian IFRS dan implikasi apabila konvergensi IFRS dimodifikasi di standar akuntansi lokal. Armstrong et. all. (2009) lebih tepatnya ingin meneliti reaksi pasar modal Eropa terhadap modifikasi konvergensi IFRS di negara Eropa. Penelitian mereka bermula dari hipotesis investor bereaksi secara positif terhadap penerapan IFRS apabila investor mempunyai ekspektasi aplikasi IFRS akan menghasilkan kualitas informasi laporan keuangan, yang menurunkan asimetri informasi antara perusahaan dan investor dan risiko informasi dan biaya modal. Investor juga percaya penerapan IFRS memiliki banyak manfaat seperti menurunkan biaya untuk membandingkan laporan keuangan satu perusahaan dengan yang lain yang akan mendorong pasar modal Eropa yang lebih kompetitif secara global. Di sisi lain, dimungkinkan investor di Eropa bereaksi negatif terhadap adopsi IFRS apabila perusahaan, yang menerapkan IFRS, menghasilkan laporan keuangan yang memiliki kualitas yang lebih rendah. Sebagai contoh IFRS tidak secara cukup mencerminkan perbedaan-perbedaan regional yang menyebabkan perbedaan dalam standar akuntansi lokal. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh kesimpulan bahwa pasar akan bereaksi positif untuk perusahaan-perusahaan yang mempunyai kualitas informasi yang tinggi setelah penerapan IFRS, sesuai dengan harapan investor akan manfaat dari penerapan IFRS untuk mengurangi asimetri dalam informasi. Penelitian yang dilakukan oleh Daske, Hail, Leuz dan Verdi (2008) menguji konsekuensi ekonomi dari penerapan IFRS dalam hal pengaruhnya terhadap likuiditas pasar dan biaya modal. Mereka menemukan likuiditas pasar meningkat sejalan dengan penerapan IFRS. Biaya modal perusahaan menurun sejalan dengan penerapan IFRS di negara yang menerapkan transparansi dan penegakan hukum. IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board (IASB). Dengan adanya konvergensi IFRS, PSAK akan bersifat principle-based dan memerlukan professional judgment, peningkatan kompetensi harus selalu diikuti dengan peningkatan integritas. IAI dalam program kerjanya telah menetapkan peta arah (roadmap) program konvergensi IFRS terhadap PSAK yang dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama tahap adopsi (2008 2011) yang meliputi Adopsi seluruh IFRS ke PSAK, persiapan infrastruktur yang diperlukan, evaluasi dan kelola dampak adopsi terhadap PSAK yang berlaku. Kedua tahap persiapan akhir (2011) yaitu penyelesaian infrastruktur yang diperlukan. Ketiga yaitu tahap implementasi (2012) yaitu penerapan pertama kali PSAK yang sudah mengadopsi seluruh IFRS dan evaluasi dampak penerapan PSAK secara komprehensif. Program konvergensi IFRS tentu akan menimbulkan berbagai dampak terhadap bisnis antara lain:

1. Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global 2. Relevansi laporan keuangan akan meningkat karena lebih banyak menggunakan nilai wajar. 3. Disisi lain, kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila harga-harga fluktuatif 4. Smoothing income menjadi semakin sulit dengan penggunakan balance sheet approach dan fair value 5. Principle-based standards mungkin menyebabkan keterbandingan laporan keuangan sedikit menurun yakni bila penggunaan professional judgment ditumpangi dengan kepentingan untuk mengatur laba (earning management) 6. Penggunaan off balance sheet semakin terbatas

Penerapan suatu standar tidak terlepas dari kepentingan dan kebutuhan, baik dari lingkungan bisnis maupun oleh pemerintah yang mewakili kepentingan Negara. Pengaruh dari berbagai lembaga baik lembaga Negara dan pemerintah seperti Departemen Keuangan,Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Bank Indonesia, Badan Pemerikasa Keuangan dan lain sebagainya sampai dengan para Akuntan dari berbagai kompartemen juga turut mempengaruhi. Dewan Standar Akuntansi Keuangan Internasional atau International Accounting Standard Board (IASB) juga berpengaruh dalam perubahan standar akuntansi keuangan di Indonesia. Indonesia melalui Ikatan Akuntan Indonesia telah menjadi anggota IAS. Dengan keanggotaan tersebut akuntansi Indonesia telah mendapat pengakuan di tingkat dunia sebagai standar yang dipahami oleh anggota IAS. Pelaporan keuangan memiliki beberapa konsekuensi ekonomis (economic consequences of financial reporting) yakni: 1. Informasi keuangan dapat mempengaruhi distribusi kekayaan diantara investor. Investor yang memperoleh informasi lebih banyak (mempekerjakan analis sekuritas) mungkin mampu meningkatkan kekayaan mereka daripada investor yang kurang informasi. 2. Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkatan risiko yang diterima perusahaan. Fokus pada jangka pendek, memiliki risiko lebih kecil, tetapi mungkin mengandung efekefek jangka panjang yang merugikan (long-term detrimental effects). 3. Informasi keuangan dapat mempengaruhi tingkat formasi modal dalam ekonomi dan menghasilkan realokasi kekayaan antara konsumsi dan investasi dalam ekonomi. 4. Informasi keuangan dapat mempengaruhi bagaimana investasi dialokasikan dalam perusahaan. Sedangkan untuk perusahaan kecil, menengah dan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP) masih menggunakan SAK ETAP dikarenakan 1. Tidak tercatat di pasar modal 2. Tidak sedang dalam proses untuk pengajuan pernyataan pendaftaran di pasar modal 3. Bukan lembaga keuangan

Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil, menengah, mampu untuk 1. Menyusun laporan keuangannya sendiri 2. Dapat diaudit dan mendapatkan opini audit, sehingga dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana (misalnya dari Bank) untuk pengembangan usaha. MANAJEMEN LABA Teori Akuntansi Positif Teori akuntansi positif (TAP) secara jelas dikemukakan oleh Watts dan Zimmerman (1986) dalam https://docs.google.com. Teori ini berupaya untuk menjelaskan mengapa kebijakan akuntansi menjadi suatu masalah bagi perusahaan dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan, dan untuk memprediksi kebijakan akuntansi yang hendak dipilih oleh perusahaan dalam kondisi tertentu. Teori ini didasarkan pada pandangan bahwa perusahaan merupakan suatu nexus of contracts. Artinya, perusahaan merupakan suatu muara bagi berbagai kontrak yang datang padanya. Misalnya, kontrak dengan karyawan (termasuk manajer), pemasok, dan dengan pemberi modal. Sebagai suatu kumpulan dari berbagai kontrak, secara rasional perusahaan ingin meminimalkan contracting cost yang berkaitan dengan kontrak-kontrak yang masuk padanya, seperti kos negosiasi, pemantauan kinerja kontrak, kemungkinan kebangkrutan atau kegagalan, dan lain-lain. Beberapa dari kontrak tersebut melibatkan variabel-variabel akuntansi, dan teori akuntansi positif berargumentasi bahwa perusahaan akan memanfaatkan kebijakan akuntansi guna meminimumkan contracting cost. Kondisi ini diperkuat dengan pemberian fleksibilitas oleh badan penetap standar kepada manajemen guna memilih dari seperangkat kebijakan akuntansi yang diperkenankan. Teori akuntansi positif menggunakan teori keagenan untuk menjelaskan dan memprediksi pilihan kebijakan akuntansi oleh manajer. Teori akuntansi positif yang diformulasikan oleh Watts dan Zimmerman (1986) dalam https://docs.google.com telah memprediksi tiga hipotesis yang mendorong perusahaan untuk melakukan manajemen laba, yaitu: a) The bonus plan hypothesis Manajer perusahaan yang memiliki program bonus yang terkait dengan angka-angka akuntansi cenderung untuk memilih prosedur akuntansi yang menggeser reported earnings dari future period ke current period (menaikkan laba yang dilaporkan sekarang), ceteris paribus. b) The debt covenant hypothesis Perusahaan yang semakin mendekati pelanggaran debt covenant (perjanjian kontrak hutang) cenderung untuk memilih prosedur akuntansi yang menggeser reported earnings dari future periods ke current period (menaikkan laba yang dilaporkan sekarang), ceteris paribus. c) The political cost hypothesis Semakin besar political cost yang dihadapi suatu perusahaan, maka manajer cenderung untuk memilih prosedur akuntansi yang menangguhkan reported earnings dari current ke future period (menurunkan laba yang dilaporkan sekarang), ceteris paribus. Motivasi Manajemen Laba

Dalam https://docs.google.com Scott (2006: 344) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunis manajer untuk memaksimalkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang, dan political costs (oportunistic Earnings Management). Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (Efficient Earnings Management), dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu. Definisi manajemen laba yang hampir sama juga diungkapkan oleh Schipper (1989) yang menyatakan bahwa manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan privat (sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut). Aktivitas laba dapat terjadi karena tiga faktor yaitu dengan cara: pemanfaatan transaksi akrual, perubahan metoda akuntansi, dan penerapan suatu kebijakan. Scott (2006: 346-355) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya manajemen laba adalah sebagai berikut: 1. Motivasi Program Bonus Healy (1985) menunjukkan secara empiris bahwa sebelum melakukan manajemen laba, manajer mempunyai informasi dari dalam perusahaan atas laba bersih perusahaan. Penelitian ini juga menunjukkan kecenderungan manajemen yang secara oportunistik mengelola laba bersih untuk memaksimalkan bonus mereka berdasarkan program kompensasi perusahaan. Healy (1985) berusaha untuk membuktikan dan memprediksi metoda akuntansi yang akan dipilih manajer. Penelitian ini merupakan perluasan dari bonus plan hypothesis. Jika pada suatu tahun tertentu laba bersih perusahaan rendah (di bawah bogey) maka tindakan manajer adalah menurunkan pendapatan, sehingga laba perusahaan akan menjadi lebih rendah (taking a bath) yang bermaksud untuk mencapai bonus pada tahun berikutnya. Sedangkan jika pada satu tahun tertentu laba bersih perusahaan tinggi (diatas cap) maka tindakan yang dilakukan manajer adalah menurunkan pendapatan, sehingga laba perusahaan akan menjadi lebih rendah. Tindakan ini dilakukan karena manajer tidak akan mendapatkan bonus yang lebih tinggi dari target yang telah ditentukan. Intinya manajer akan melakukan manajemen laba pada saat laba bersih berada diantara bogey dan cap. Penelitian yang telah dilakukan oleh Cheng dan Warfield (2005) menguji hubungan antara manajemen laba dengan insentif ekuitas. Hasilnya adalah insentif ekuitas berkorelasi positif dengan manajemen laba. Artinya, semakin tinggi insentif ekuitas yang diberikan kepada manajer, semakin tinggi kejadian manajemen laba yang dilakukan oleh manajer. Ini terkait hubungan antara kompensasi yang berdasarkan saham dan elemen insentif ekuitas lain dengan insentif manajer untuk meningkatkan harga saham jangka pendek. Hasil penelitian Beneish dan Vargus (2002) menunjukkan bahwa periode di mana akrual sangat tinggi berhubungan dengan penjualan saham oleh insiders. Di waktu yang sama laba dan return saham yang

2.

3.

4.

5.

6.

rendah mengikuti periode di mana terdapat akrual tinggi yang disertai penjualan oleh insiders. Bergstresser dan Philippon (2006) menguji hubungan antara manajemen laba dan CEO insentif dengan menggunakan pendekatan discretionary accruals model Jones. Motivasi Politik (Political Motivations) Perusahaan besar yang aktivitasnya berhubungan dengan publik atau perusahaan yang bergerak dalam industri strategis seperti minyak dan gas akan sangat mudah untuk diawasi. Perusahaan seperti ini cenderung untuk mengelola labanya. Pada perioda kemakmuran perusahaan menggunakan prosedur dan praktik-praktik akuntansi yang meminimalkan laba bersih perusahaan. Sebaliknya, publik akan mendorong pemerintah untuk meningkatkan peraturan untuk menurunkan profitabilitas mereka. Contoh hasil penelitian yang lain pada industri perbankan, yaitu tingkat manajemen laba dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah regulasi perbankan tentang tingkat kesehatan, regulasi perbankan tentang kehati-hatian serta adanya asimetri informasi yang merupakan peluang untuk dapat melakukannya (Rahmawati 2006 dalam https://docs.google.com). Motivasi Perpajakan (Taxation Motivations) Motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata. Namun demikian, kewenangan pajak cenderung untuk memaksakan aturan akuntansi pajak sendiri untuk menghitung pendapatan kena pajak. Seharusnya secara umum perpajakan tidak mempunyai peran besar dalam keputusan manajemen laba. Motivasi Perubahan Chief Executif Officer (Changes of CEO Mativations) Manajemen laba juga terjadi disekitar waktu pergantian CEO. Hipotesis program bonus memprediksi bahwa ketika waktu mendekati pengunduran diri CEO maka tindakan yang dilakukan adalah memaksimalkan laba untuk meningkatkan bonus mereka. Sedangkan CEO yang kinerjanya buruk akan melakukan manajemen laba untuk memaksimalkan laba mereka dengan tujuan mencegah atau menunda pemberhentian mereka. Motivasi melakukan manajemen laba juga dapat dilakukan oleh CEO baru, terutama jika cost dibebankan pada tahun transisi, melalui penghapusan operasi yang tidak diinginkan atau divisi yang tidak menguntungkan. Initial Public Offering (IPO) Perusahaan go public belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan manajer perusahaan tersebut melakukan manajemen laba dalam prospektus mereka. Nampaknya informasi akuntansi keuangan yang dimasukkan dalam prospektus bermanfaat sebagai sumber informasi. Terdapat kemungkinan bahwa manajer perusahaan go public akan mengelola prospektusnya dengan harapan dapat menaikkan harga saham. Motivasi Perjanjian Utang (Debt Covenants Motivations) Manajemen laba dengan tujuan untuk memenuhi perjanjian utang timbul dari kontrak utang jangka panjang. Perjanjian utang bertujuan melindungi peminjam terhadap tindakan manajer. Pelanggaran terhadap covenant mengakibatkan cost yang tinggi terhadap perusahaan, oleh karena itu manajer berusaha untuk menghindari terjadinya pelanggaran terhadap covenant.

Corporate Sosial Responsibility (CSR) Motivasi manajemen laba di atas mengindikasikan secara eksplisit praktik manajemen laba yang disengaja oleh manajer, yang pada akhirnya membawa konsekuensi negatif terhadap shareholders, karyawan, komunitas dimana perusahaan beroperasi, masyarakat, karier dan reputasi manajer yang bersangkutan (Zahra, Priem dan Rasheed, 2005). Salah satu konsekuensi paling fatal akibat tindakan manajemen yang memanipulasi laba adalah perusahaan akan kehilangan dukungan dari para stakeholders-nya. Stakeholder akan memberikan respon negatif berupa tekanan dari investor, sanksi dari regulator, ditinggalkan rekan kerja, boikot dari para aktivis, dan pemberitaan negatif media massa (Prior et al., 2008). Tindakan tersebut wujud ketidakpuasan stakeholders terhadap kinerja perusahaan yang dimanipulasi, dan pada akhirnya berimbas merusak reputasi perusahaan di pasar modal (Fombrun, Gardberg, dan Barnett, 2000). Oleh karena itu, manajer menggunakan suatu strategi pertahanan diri (entrenchment strategy) untuk mengantisipasi ketidakpuasan stakeholder-nya ketika ia melaporkan kinerja perusahaan yang kurang memuaskan. Strategi pertahanan diri manajer tersebut sebagai upaya untuk tetap mempertahankan reputasi perusahaan dan melindungi karier manajer secara pribadi. Salah satu cara yang digunakan manajer sebagai strategi pertahan diri adalah mengeluarkan kebijakan perusahan tentang penerapan Corporate Social Responsibility (CSR). CSR berkaitan dengan persoalan etika dan moral mengenai pembuat keputusan kebijakan dan perilaku, seperti menempatkan persoalan komplek terhadap penjagaan pelestarian lingkungan, manajemen sumber daya manusia, kesehatan dan keamanan kerja, hubungan dengan komunitas lokal, dan menjalin hubungan harmonis dengan pemasok dan pelanggan (Castelo dan Lima, 2006). Pengungkapan informasi mengenai perilaku dan hasil berkenaan dengan tanggung jawab sosial sangat membantu membangun sebuah citra (image) positif diantara para stakeholders (Orlitzky, Schmidt dan Rynes, 2003). Citra positif ini dapat membantu perusahaan untuk mendirikan ikatan komunitas dan membangun reputasi perusahaan di pasar modal karena dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menegosiasikan kontrak yang menarik dengan suplier dan pemerintah, menetapkan premium prices terhadap barang dan jasa, dan mengurangi biaya modal (Fombrun et al., 2000). Castelo dan Lima (2006) menjelaskan bahwa melalui praktik CSR, perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak perlakuan yang lebih menguntungkan berkenaan dengan regulasi, serta mendapatkan dukungan dari kelompok aktivis sosial, legitimasi dari komunitas industri, dan pemberitaan positif dari media, yang pada akhirnya reputasi perusahaan tetap terjaga dengan baik. Pengungkapan sosial perusahaan didefinisikan sebagai penyediaan informasi keuangan dan non-keuangan yang berhubungan dengan interaksi organisasi dengan lingkungan fisik dan sosial, sebagaimana dinyatakan dalam laporan tahunan atau laporan sosial terpisah (Hackston dan Milne 1996). Pengungkapan sosial perusahaan meliputi rincian dari lingkungan fisik, energi, sumber daya manusia, produk dan hal-hal yang terkait dengan kemasyarakatan. The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) mendefinisikan corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan sebagai

komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerjasama dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat, baik dari segi bisnis maupun untuk pembangunan. Konsep CSR melibatkan tanggung jawab kemitraan antara pemerintah, lembaga masyarakat, serta komunitas lokal yang bersifat statis. Kemitraan ini sebagai bentuk tanggung jawab bersama secara sosial antara stakeholders. Sementara Belkaoui (2006) dalam https://docs.google.com menjelaskan bahwa disiplin akuntansi merespon perkembangan pertanggungjawaban sosial perusahaan dengan melahirkan wacana baru tentang social responsibility accounting (SRA), total impact accounting (TIA), dan sosio economic accounting (SEA). Gray et al., (1995) dalam https://docs.google.com mengemukakan beberapa teori yang melatarbelakangi perusahaan untuk melakukan pengungkapan sosial yaitu: 1. Decision Usefulness Studies Teori ini memasukkan para pengguna laporan akuntansi yang lain selain para investor ke dalam kriteria dasar pengguna laporan akuntansi sehingga suatu pelaporan akuntansi dapat berguna untuk pengambilan keputusan ekonomi oleh semua unsur pengguna laporan tersebut. 2. Economic Theory Studies Studi ini berdasarkan pada economic agency theory. Teori tersebut membedakan antara pemilik perusahaan dengan pengelola perusahaan dan menyiratkan bahwa pengelola perusahaan harus memberikan laporan pertanggungjawaban atas segala sumber daya yang dimiliki dan dikelolanya kepada pemilik perusahaan 3. Sosial and Political Studies Sektor ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan politik, sosial, dan kerangka institusional tempat ekonomi berada. Studi sosial dan politik mencakup dua teori utama, yaitu stakeholder theory dan legitimacy theory. Teori-teori lain yang mendukung praktik CSR yaitu teori kontrak sosial. Teori tersebut menjelaskan bahwa perusahaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari suatu komunitas. Gray dkk. (2001) menyatakan pengungkapan sosial dan lingkungan dapat secara khusus terdiri dari informasi yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan, aspirasi, dan image publik yang berkaitan dengan lingkungan, penggunaan karyawan, isu konsumen, energi, kesamaan peluang, perdagangan yang adil, tata kelola perusahaan dan sejenisnya. Pengungkapan sosial dan lingkungan juga dapat terjadi melalui berbagai media seperti laporan tahunan, iklan, kelompok terarah, dewan karyawan, buklet, pendidikan sekolah, dan sebagainya. Peluang manajemen laba: asimetri Informasi Asimetri informasi merupakan suatu keadaan dimana manajer memiliki akses informasi atas prospek perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar perusahaan. Teori keagenan mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer (agen) dengan pemilik (prinsipal). Jensen dan Meckling (1976) menambahkan bahwa jika kedua kelompok (agen dan prinsipal) tersebut adalah orang-orang yang berupaya memaksimalkan utilitasnya, maka terdapat alasan yang kuat untuk meyakini bahwa agen tidak akan selalu bertindak yang

terbaik untuk kepentingan prinsipal. Prinsipal dapat membatasinya dengan menetapkan insentif yang tepat bagi agen dan melakukan monitor yang didesain untuk membatasi aktivitas agen yang menyimpang. Batasan manajemen laba: kualitas auditor Berdasarkan teori agensi yang mengasumsikan bahwa manusia itu selalu self interest maka kehadiran pihak ketiga yang independen sebagai mediator pada hubungan anatara prinsipal dan agen sangat diperlukan, dalam hal ini adalah auditor independen. Investor akan lebih cenderung merespon pada data akuntansi yang dihasilkan dari kualitas audit yang tinggi ( Li Dang et al., 2004 dalam https://docs.google.com). Kualitas audit menurut De Angelo (1988) didefinisi sebagai probabilitas error dan irregularities yang dapat dideteksi dan dilaporkan. Probabilitas pendeteksian dipengaruhi oleh isu yang merujuk pada audit yang dilakukan oleh auditor untuk menghasilkan pendapatnya. Isu-isu yang berhubungan dengan isu audit adalah kompetensi auditor, persyaratan yang berkaitan dengan pelaksanaan audit dan persyaratan pelaporan. DeAngelo (1988) berargumentasi bahwa ukuran auditor berhubungan positif dengan kualitas auditor. Economies of scale KAP (kantor akuntan publik) yang besar akan memberikan insentif yang kuat untuk mematuhi aturan SEC sebagai cara pengembangan dan pemasaran keahlian KAP tersebut. Kantor akuntan publik diklasifikasi menjadi dua yaitu kantor akuntan publik yang berafiliasi dengan KAP Big Five, dan kantor akuntan publik lainnya. Auditor beroperasi dalam lingkungan yang berubah, ketika biaya keagenan tinggi, manajemen mungkin berkeinginan pada kualitas audit yang lebih tinggi untuk menambah kredibilitas laporan, hal ini bertujuan untuk mengurangi biaya pemonitoran. Proksi pengukuran kualitas audit dalam penelitian-penelitian terdahulu ada tiga, yaitu ukuran KAP, reputasi KAP, dan auditor spesialisasi industri, tetapi proksi yang sesuai dengan kondisi pasar modal di Indonesia adalah spesialisasi industri. Bentuk strategi manajemen laba Dalam https://docs.google.com, strategi untuk membuat manajemen laba antara lain: a. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi Cara manajemen untuk mempengaruhi laba melalui judgement terhadap estimasi akuntansi antara lain: estimasi tingkat piutang tidak tertagih (Rahmawati 2006, 2007), estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, dan estimasi biaya garansi. b. Mengubah metode akuntansi Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh: merubah metode depresiasi aktiva tetap, dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus. Strategi manajemen laba dengan pemilihan metoda akuntansi dan pengaturan waktu transaksi mempengaruhi manajemen laba dengan proksi akrual kelolaan (Rahmawati dkk., 2009). Semakin besar manajemen laba dengan menggunakan strategi pemilihan metoda dan pengaturan waktu transaksi semakin besar pula manajemen laba (yang diproksikan dengan akrual kelolaan). c. Menggeser periode biaya atau pendapatan

Beberapa orang menyebut rekayasa jenis ini sebagai manipulasi keputusan operasional (Fischer dan Rosenzweig, 1995; Bruns dan Merchant, 1990). Contoh rekayasa periode biaya atau pendapatan antara lain: mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian sampai periode akuntansi berikutnya (Daley dan Vigeland, 1993), mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai periode akuntansi berikutnya, kerja sama dengan vendor untuk mempercepat atau menunda pengiriman tagihan sampai periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda pengiriman produk ke pelanggan, menjual investasi sekuritas untuk memanipulasi tingkat laba, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai (Bartov, 1993; Black, Dellers, dan Manly, 1998). Perusahaan yang mencatat persediaan menggunakan asumsi LIFO, juga dapat merekayasa peningkatan laba melalui pengaturan saldo persediaan (Frankel dan Trezervant, 1994). Dalam https://docs.google.com ada tiga bentuk manajemen laba menurut Ayres (1994) yaitu: 1. Manajemen akrual Manajemen akrual biasanya dikaitkan dengan segala aktivitas yang dapat mempengaruhi aliran kas dan juga keuntungan yang secara pribadi merupakan wewenang dari para manajer. Contoh manajemen akrual antara lain adalah dengan mempercepat atau menunda pengakuan akan pendapatan (revenue), menganggap sebagai ongkos (beban biaya) atau menganggap sebagai suatu tambahan investasi atas suatu biaya, dan perkiraan perkiraan akuntansi lainnya, seperti: beban piutang ragu ragu, dan perubahan perubahan metode akuntansi. 2. Penerapan kebijaksanaan akuntansi yang wajib Terkait dengan penerapan suatu kebijaksanaan akuntansi yang wajib dilakukan oleh perusahaan, manajemen perusahaan memiliki dua pilihan, yaitu: apakah menerapkan lebih awal dari waktu yang ditetapkan atau menundanya sampai saat berlakunya kebijaksanaan tersebut. Biasanya, untuk suatu kebijaksanaan akuntansi baru yang wajib, badan akuntansi yang ada memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk dapat menerapkannya lebih awal dari waktu berlakunya. Para manajer tentu saja akan memilih untuk menerapkan suatu kebijaksanaan akuntansi yang baru bila dengan penerapan tersebut akan dapat mempengaruhi baik aliran kas maupun keuntungan perusahaan. 3. Perubahan metoda akuntansi secara suka rela Dalam kaitannya dengan faktor yang ketiga, yaitu perubahan metode akuntansi secara suka rela, biasanya berkaitan dengan upaya manajer untuk mengganti atau merubah suatu metode akuntasi tertentu diantara sekian banyak metode yang dapat dipilih yang tersedia dan diakui oleh badan akuntansi yang ada. Classification Shifting (pergeseran klasifikasi) Classification shifting merupakan alat manajemen laba yang lain diluar manajemen akrual dan manipulai aktivitas ekonomi riil. Classification shifting adalah kesalahan klasifikasi items di dalam laporan laba rugi. Classification shifting dapat juga diartikan menggeser atau merubah biaya inti/core expenses (harga pokok penjualan, dan biaya

penjualan, serta biaya umum dan administrasi) ke special items. Pergerakan vertikal dari biaya tidak akan mengubah bottom line earnings, tetapi core earnings akan overstatement. Para manajer dalam memaksimumkan pelaporan kinerja akan menurunkan biaya atau akan menaikkan pendapatan dalam laporan laba rugi untuk menyajikan suatu gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan ekonomi. Classification shifting berbeda dengan manajemen akrual dan manipulasi aktivitas ekonomi riil dalam beberapa hal. Pertama classification shifting tidak mengubah laba akuntansi, dan yang kedua adalah classification shifting memudahkan analisis dengan mengelompokkan item-item yang mempunyai karakteristik serupa. Selain terdapat perbedaan antara manajemen akrual dan manipulasi aktivitas ekonomi riil dengan classification shifting, terdapat pula persamaan di antara ketiga metode manajemen laba tersebut, yaitu: samasama mempunyai harapan yang tinggi terhadap kinerja masa depan. Manipulasi Aktivitas Riil Manajemen laba melalui aktivitas riil dapat dideteksi melalui arus kas operasi, biaya diskresioner, dan biaya produksi. Penelitian mengenai manajemen laba melalui aktivitas riil hanya mengkonsentrasikan pada aktivitas investasi seperti pengurangan pengeluaran riset dan pengembangan (Roychowdury, 2006). KASUS ENRON Dalam terbitannya bulan April 2001, majalah Fortune menyebut Enron, yang menjadi perusahaan terbesar ke tujuh di Amerika Serikat, sebagai perusahaan paling inovatif di Amerika. Enam bulan kemudian, pada tanggal 2 Desember 2001, Enron membukukan kebangkrutannya, suatu hasil yang telah disebut sebagai kecurangan akuntansi terbesar dalam abad ke 20. Duabelas ribu karyawan tidak hanya kehilangan pekerjaan tetapi juga seluruh tunjangan hidup dan pensiunnya, yang telah diinvestasikan ke saham Enron. Pemilik saham Enron lainnya-termasuk ribuan warga Amerika biasa yang memiliki dana pensiun yang juga diinvestasikan di saham Enron-kehilangan sekitar 70 milyar dollar AS ketika nilai saham mereka jatuh sampai menjadi nol. Dalam Enron sendiri, Sherron Watkins, Wakil Presiden Enron, melihat kisah horor dimana perusahaan yang ia telah berusaha untuk menyelamatkannya dengan memperingatkan rekannya mengenai apa yang sedang terjadi, meskipun demikian kejatuhan tetap terjadi. Kenneth Lay, seorang pengamat ekonomi dan mantan wakil menteri pada Departemen Interior Amerika Serikat, membangun Enron di tahun 1985 dengan melakukan penggabungan dua perusahaan gas alam yang memiliki sistem pipanisasi terpadu, ketika bergabung bersama, membentuk untuk pertama kalinya sistem nasional yang dapat mendistribusikan gas alam ke pabrik-pabrik seluruh negeri. Lay mengembangkan perusahaannya dengan mendapatkan pinjaman untuk membeli perusahaan lain, dan di tahun 1987 hutang yang dimiliki Enron sudah sebesar 75% dari nilai pasar sahamnya, yang berakibat menciptakan masalah yang berlarut-larut dalam perusahaan. Di tahun 1989, Lay mengangkat seorang profesional muda bergelar MBA lulusan Harvard bernama Jeffrey Skilling untuk menjadi pimpinan di Departemen Keuangan Enron. Pemerintah AS saat itu telah tidak mengatur bisnis energi dengan mencabut banyak regulasi yang membuat harga energi tetap. Dengan mencabut peraturan itu, harga gas mulai berfluktuasi secara lebar, membuat pasar gas alam menjadi sangat berisiko baik bagi pembeli

maupun penjual. Produsen gas skala kecil, terutama, mengalami kesulitan mendapatkan dana untuk eksplorasi dan pengeboran karena pasar yang berisiko membuat penyandang dana lari. Skilling datang dengan gagasan yang inovatif dengan menjadikan Enron sebagai makelar antara pembeli dan penjual yang akan mengurangi risiko yang timbul akibat deregulasi dijalankan. Enron akan menandatangani kontrak dengan penjual untuk membeli gas mereka sebanyak jumlah yang telah ditentukan di masa yang akan datang pada harga yang pasti yang telah ditentukan juga dan kemudian menandatangani kontrak dengan pembeli untuk menjual gas selama waktu tersebut pada harga yang sama, ditambah keuntungan untuk Enron. Karena kontrak jangka panjang ini membuat harga tetap untuk beberapa tahun, mereka menghilangkan risiko baik untuk pembeli dan penjual, sehingga kedua kelompok mulai bertransaksi dengan Enron dan Enron segera menjadi perusahaan terdepan dalam bisnis perdagangan energi yang menguntungkan. Skilling membentuk sebuah tim dagang yang berisi kebanyakan dari lulusan MBA yang bisa ia pekerjakan dengan keras sehingga setiap tahunnya ia memecat karyawan di 10% performa terbawah dan memberikan penghargaan pada karyawan dengan performa terbaik. Skilling sekarang memutuskan untuk membuat Enron memasuki pasar komoditas lain dengan gagasan perdagangan yang sama, dan alhasil karyawan Enron yang bersemangat kemudian membeli dan menjual dengan kontrak jangka panjang untuk listrik, batu bara, bubur kertas, aluminium, baja, kimia, kayu, air, broadband, dan plastik-bersamaan dengan total 1,800 jenis barang yang berbeda. Kontrak dalam komoditas ini juga mengurangi risiko dengan menetapkan harga komoditas yang berlaku di manapun untuk 1 sampai 12 tahun mendatang. Tahun 1990, Skilling merekrut Andrew Fastow, seorang ahli keuangan, untuk membantu menjalankan bisnis perdagangan ini, dan keduanya telah datang dengan gagasan yang pandai dalam melaporkan nilai dari kontrak jangka panjang yang mereka beli atau jual. Mereka membujuk Komisi Bursa Saham dan Surat Berharga (SEC) AS untuk membolehkan mereka memakai metode menilai pada harga pasar (mark to market) untuk diberlakukan pada kontrak mereka. Dalam metode mark to market, nilai dari suatu aset dinilai (dilaporkan) dalam laporan keuangan perusahaan sebagai nilai pasar saat ini dari aset tersebut, yaitu, sejumlah nilai yang akan didapat bila aset secara teoritis akan dijual pada pasar terbuka. Untuk menghitung nilai pasar dari suatu kontrak, karyawan Enron akan meramal harga akan datang dari komoditas yang diperjualbelikan (seperti gas, listrik, batu bara, dan lain-lain) sepanjang kontrak berlaku. Memakai peramalan ini, mereka kemudian akan menambahkan arus kas masa datang secara teoritis kontrak tersebut, menerapkan tingkat diskonto, dan menghitung nilai saat ini bersih (net present value=NPV) dari kontrak tersebut. NPV ini yang kemudian dilaporkan sebagai nilai sebenarnya dari kontrak. Jika NPV lebih tinggi dari yang Enron bayarkan, lalu selisihnya dapat dilaporkan sebagai sebuah laba pada laporan keuangan Enron. Karyawan Enron ditekan untuk meramalkan arus kas masa datang yang tinggi dan tingkat diskonto yang rendah pada kontrak mereka, membuat Enron melaporkan nilai aset (kontrak) dan laba yang tinggi pada investor. Tahun 1996, Skilling diangkat menjadi Presiden Direktur Enron, dan Fastow menjadi Direktur Keuangan. Awalnya, Enron menghadapi suatu masalah. Untuk memasuki beberapa pasar yang ia perdagangkan, ia harus meminjam sejumlah uang yang sangat besar untuk membeli infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengangkut, menyimpan, dan mengirimkan komoditas

yang diperdagangkan. Tetapi bila Enron mengambil hutang yang besar, menambah hutang yang sudah tinggi sebelumnya, pembeli dan penjual akan enggan untuk menandatangani perjanjian dengan perusahaan karena tingkat hutang yang tinggi akan meningkatkan kemungkinan perusahaan akan bangkrut. Tingkat hutang yang tinggi juga akan menurunkan peringkat investasi dan mungkin juga akan membuat bank menarik pinjamannya kembali. Untuk mengatasi masalah ini, Enron harus menemukan cara untuk tetap mendapatkan pinjaman hutang tanpa harus melaporkan hutangnya dalam laporan keuangannya. Andrew Fastow menemukan suatu cara yang pintar untuk menyelesaikan masalah seputar hutang tersebut dan sekaligus membersihkan banyak kontrak yang dinilai terlalu tinggi pada pembukuan Enron di saat yang sama tetap menghasilkan pendapatan tambahan. Membayar mahal (beberapa juta dolar AS) untuk konsultasi yang diberikan oleh divisi konsultasi keuangan Arthur Andersen (AA), Fastow, bersama konsultan AA, menyiapkan sebuah perseroan terbatas yang disebut entitas tujuan khusus (Special Purpose Entities). Aturan akuntansi membolehkan suatu perusahaan mengeluarkan pencatatan entitas tujuan khusus dari laporan keuangannya bila ada pihak independen yang memiliki kendali atas entitas tujuan khusus tersebut, dan bila pihak independen ini memiliki paling tidak 3 persen dari seluruh saham entitas tujuan khusus. Untuk memenuhi syarat tersebut, Fastow menunjuk dirinya sendiri dan karyawan Enron lainnya untuk menjadi para pimpinan di entitas ini. Individu-individu ini kemudian menginvestasikan dengan cukup uang mereka sendiri di entitas ini untuk memenuhi peraturan 3 persen, dan Fastow mentransfer cukup saham Enron ke dalam entitas untuk membuat 97% lainnya. Entitas ini kemudian meminjam sangat banyak uang, memakai saham Enron mereka sebagai jaminan. Uang yang dipinjam kemudian dibayarkan kepada Enron untuk membeli kontrak yang dinilai terlalu tinggi pada pembukuan Enron dan investasi gagal lainnya, dan Enron dapat mencatat uang itu sebagai pendapatan, bukan hutang. Entitas ini juga setuju untuk mengambil alih hutang berjalan Enron yang sangat besar dan sebaliknya, Enron mentransfer lebih banyak sahamnya ke entitas yang dibentuk itu. Fastow memberi entitas tersebut nama yang tak lazim seperti Chewco, Jedi, Talon, Condor, dan Raptor, dan ia dan orang-orang Enron lainnya menggaji diri mereka sendiri jutaan dolar AS sebagai gaji dan pendapatan dari kepemilikan saham 3% mereka di entitas. Hasil akhirnya adalah entitas khusus tersebut dibiarkan memiliki hutang, dijamin oleh saham Enron, dan juga memegang kontrak yang dinilai terlalu tinggi dan investasi gagal lainnya sebagai aset. Karena hutang dan aset yang dibeli dari Enron oleh entitas tujuan khusus tidak harus dilaporkan pada laporan keuangan Enron, pemegang saham percaya bahwa hutang yang dimiliki Enron tidak meningkat, bahwa perusahaan mendapatkan laba yang tinggi dari penjualan kontrak dan aset lain kepada entitas ini, dan bahkan pendapatan meningkat setiap tahunnya. Sebagai auditor perusahaan dan akuntan luar, divisi audit Arthur Andersen memberikan penilaian bahwa laporan keuangan perusahaan telah menyajikan akuntansi yang akurat. Sherron Watkins, seorang yang jujur, bicara terbuka, dan apa adanya yang mulai bekerja di Enron sejak 1993 dan saat itu sebagai wakil presiden di bawah Fastow, mulai curiga pada praktek akuntansi yang diperkenalkan Fastow. Sepanjang harga saham Enron cukup tinggi, nilainya akan mencukupi untuk menutup saldo hutang yang dipegang oleh entitas khusus dan hutang tersebut tetap di luar pembukuan Enron. Tetapi dia mengetahui

bahwa jika harga saham jatuh , ini akan memicu aturan yang akan memaksa perusahaan untuk membubarkan entitas khusus dan membawa hutang dan aset yang dinilai terlalu tinggi kembali pada laporan keuangan Enron. Sayangnya, di semester ke dua tahun 2001, saham Enron mulai jatuh dari tingkat 80 dolar AS per saham, sebagian hasil dari artikel di majalah Fortune edisi 5 Maret 2001 yang membantah bahwa laporan keuangan Enron hampir tidak dapat ditembus dan bahwa harga saham Enron terlampau tinggi. Karena harga sahamnya jatuh, akuntan Enron berjuang untuk menghimpun hutang dan aset pada entitas khusus sehingga dapat menghindari pencatatan hal tersebut di laporan keuangan perusahaan. Sherron Watkins ngeri melihat baik risiko yang meningkat akibat jatuhnya harga saham maupun usaha Fastow untuk menyembunyikannya. Di bulan Juli 2001, karena para investor mulai lebih curiga dan harga saham perusahaan jatuh sampai 47 dolar AS per saham, Skilling tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatan Presiden Direktur dengan alasan pribadi. Sekarang semakin yakin bahwa perusahaan mengarah ke dalam bencana, Sherron Watkins pada tanggal 22 Agustus secara pribadi menemui Ken Lay departemen legal dan memegang sebuah surat enam halaman yang menggambarkan pelanggaran akuntansi berhubungan dengan entitas tujuan khusus dan memperingatkan mereka pada apa yang ia sebut sebagai kecurangan akuntansi terburuk yang pernah saya lihat. Saya gugup luar biasa, ia tulis, bahwa kita akan meledak dalam sebuah gelombang skandal akuntansi. Lay dan pengacaranya, bagaimanapun, memutuskan tidak ada yang salah meskipun entitas tujuan khusus mungkin harus dibongkar akhirnya jika saham Enron berlanjut jatuh. Di depan umum, Lay mengumumkan kepada para karyawan dan investor bahwa pertumbuhan perusahaan di masa datang telah menjadi lebih tidak pasti dan mendesak mereka dan investor lain untuk melanjutkan investasi di saham Enron. Namun, Lay dan pimpinan lainnya secara diam-diam mulai menjual banyak saham mereka di Enron. Watkins menghubungi juga seorang temannya di Arthur Andersen yang membicarakan perhatiannya pada pimpinan auditor yang mengaudit Enron. Namun, tak ada hasilnya. Saat Watkins dari dalam terus melanjutkan mencoba membuat perusahaan bertindak, harga saham Enron terus jatuh. Tanggal 16 Oktober 2001, Enron mengumumkan bahwa pihaknya telah memutuskan untuk mengambil alih hutang dan aset pada entitas, memaksanya untuk menanggung 544 juta dolar AS dengan labanya saat ini dan mengurangi nilai ekuitas sebesar 1,2 milyar dolar AS, tepat seperti yang Sherron Watkins telah peringatkan terjadi. Satu minggu kemudian, tanggal 22 Oktober, SEC mengumumkan nahwa mereka sedang menyelidiki entitas tujuan khusus yang dimiliki Enron. Sehari kemudian Fastow dipecat. Tanggal 8 November 2001, perusahaan mengumumkan bahwa mereka dipaksa untuk menyajikan kembali seluruh laporan keuangannya dari tahun 1997 karena dipaksa untuk menggabungkan entitas tujuan khususnya ke dalam laporan keuangan perusahaan. Penyajian kembali dibuat untuk mengurangi ekuitas pemegang saham sebesar 1,2 milyar dolar AS dan untuk menambah hutang perusahaan sebesar 2,6 milyar dolar AS. Bulan November 2001, harga saham jatuh sampai 1 dolar AS per saham, dan perusahaan jatuh ke dalam kebangkrutan. Tanggal 22 Februari 2002, Sherron Watkins menghadap anggota kongres dan di hadapan umum mengutarakan apapun yang ia tahu tentang praktek akuntansi perusahaan. Disebut sebagai peniup peluit yang berani oleh surat kabar, dia mencatat bahwa Andrew

Fastow telah mencoba memecatnya dan merampas komputernya ketika ia tahu bahwa dia mencoba memperingatkan atasannya tentang masalah yang akan terjadi. Sementara itu, karyawan Arthur Andersen, dalam usahanya menutupi peran mereka dalam membentuk entitas khusus dan kemudian menyatakan opini atas laporan keuangan perusahaan, ditangkap sedang menghancurkan dokumen-dokumen tentang keterlibatan Andersen dengan Enron. Bulan Juni 2001, kantor akuntan tersebut dinyatakan bersalah telah menghalangi proses pengadilan karena menghancurkan dokumen dan dipaksa untuk menghentikan operasinya sebagai kantor akuntan, secara efektif menghancurkan karir ribuan karyawannya.

KESIMPULAN Kembali lagi pada tujuan laporan keuangan yang mana diarahkan untuk memberikan informasi yang berguna untuk mengambil keputusan-keputusan bisnis. Peran standar akuntansi (seperti SAK) menjadi sangat penting supaya manajemen suatu badan usaha dapat menghasilkan informasi yang berkualitas. Informasi laba membantu pemilik/pihak lain dalam mengestimasikan kekuatan laba untuk menaksir resiko dalam investasi dan kredit. Pentingnya informasi laba tersebut harus disadari oleh pihak manajemen sebagai pihak penyusun laporan keuangan serta sebagai pihak yang diukur kinerjanya. Informasi laba sebagaimana dinyatakan dalam Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) Nomor 2 merupakan unsur utama dalam laporan keuangan dan sangat penting bagi pihakpihak yang menggunakannya karena memiliki nilai prediktif. Namun berbagai kecurangan terhadap informasi Laba sebagaimana yang dijelaskan dalam kasus Enron dan akhirnya menyeret para akuntan khususnya anggota Big. Five Arthur Andersen. Maka dari itu akan dikembalikan lagi sebagaimana akuntansi pertama kali didirikan yakni pemberi informasi keuangan sebagaimana prinsip yang berlaku dan Kode Etik Akuntan yang berlaku pula.

DAFTAR PUSTAKA Armstrong, Christopher, Mary E. Barth, Alan D. Jagolinzer, Edward J. Riedl, Market Reaction to the Adoption of IFRS in Europe, 2009, SSRN. Astika, I.D.B. https://docs.google.com Manajemen Laba dan Motif yang Melandasinya. Fakultas Ekonomi Udayana. Daske, Holger, Luzi Hail, Christian Leuz, Rodrigo Verdi, Mandatory IFRS Reporting Around the World: Early Evidence on the Economic Consequences, 2008, Journal Accounting Reserach. Desmal, Irvan. Konvergensi IFRS: Suatu Kajian Literatur, 7 Desember 2011 https://docs.google.com. Manajemen Laba dan Corporate Social Responsibility (CSR). Diakses pada tanggal 7 april 2012. http://mazda4education.wordpress.com. Kasus Enron. Diakses pada tanggal 7 april 2012.

Mirza, Abbas Ali, Magnus Orrell, Graham J Holt. IFRS Practical Implementation Guide and Workbook, 2008. Wiley. Siahaan, Hinsa,Implikasi dan Permasalahan dalam Mengimplementasikan Konsep Nilai Wajar Dalam Kondisi Ekonomi Saat Ini, Makalah Seminar Nasional Institut Akuntan Publik Indonesia,29 Januari 2009 Wicaksono, Bimo Satrio. Dampak IFRS terhadap Sistem Akuntansi dan Pelaporan. 4 Mei 2011

Anda mungkin juga menyukai