Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Geofisika adalah ilmu yang mempelajari tentang pembentukan keadaan permukaan bumi dan atmosfer, seperti perubahan angin, iklim, dan beberapa sifat fisik lain yang mempengaruhi permukaan bumi. Bidang kajian ilmu geofisika meliputi meteorologi (udara), geofisika bumi padat, dan oseanografi (laut). Beberapa contoh kajian dari geofisika bumi padat misalnya seismologi yang mempelajari gempa bumi, ilmu tentang gunung api (Gunung Berapi) atau volcanology, geodinamika yang mempelajari dinamika pergerakan lempeng-lempeng di bumi, dan eksplorasi seismik yang digunakan dalam pencarian hidrokarbon. Penelitian geofisika untuk mengetahui kondisi di bawah

permukaan bumi melibatkan pengukuran di atas permukaan bumi dari parameter-parameter fisika yang dimiliki oleh batuan di dalam bumi. Dari pengukuran ini dapat ditafsirkan bagaimana sifat-sifat dan kondisi di bawah permukaan bumi baik itu secara vertikal maupun horisontal. Dalam skala yang berbeda, metode geofisika dapat diterapkan secara global yaitu untuk menentukan struktur bumi, secara lokal yaitu untuk eksplorasi mineral dan pertambangan termasuk minyak bumi dan dalam skala kecil yaitu untuk aplikasi geoteknik (penentuan pondasi bangunan, dll). Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori yaitu metode pasif dan aktif. Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi. Metode aktif dilakukan dengan membuat medan gangguan kemudian mengukur respons yang dilakukan oleh bumi. Medan alami yang dimaksud disini misalnya radiasi gelombang gempa bumi, medan gravitasi bumi, medan magnetik bumi, medan listrik dan elektromagnetik bumi serta radiasi radioaktivitas bumi. Medan buatan

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 1

dapat berupa ledakan dinamit, pemberian arus listrik ke dalam tanah, pengiriman sinyal radar dan lain sebagainya. Secara praktis, metode yang umum digunakan di dalam geofisika tampak seperti tabel di bawah ini: Metode Parameter yang diukur Sifat-sifat fisika yang terlibat Seismik Waktu tiba gelombang Densitas dan modulus atau bias, elastisitas yang

seismik pantul amplitudo

dan menentukan kecepatan rambat seismik gelombang

frekuensigelombang seismik

Gravitasi

Variasi

harga

percepatan Densitas

gravitasi bumi pada posisi yang berbeda Magnetik Variasi harga intensitas Suseptibilitas atau

medan magnetik pada posisi remanen magnetik yang berbeda Resistivitas Polarisasi terinduksi Harga resistansi dari bumi Tegangan polarisasi Konduktivitas listrik

atau Kapasitansi listrik

resistivitas batuan sebagai fungsi dari frekuensi

Potensial diri

Potensial listrik terhadap

Konduktivitas listrik radiasi Konduktivitas Induktansi listrik perambatan Konstanta dielektrik atau

Elektromagnetik Respon

elektromagnetik Radar Waktu tiba

gelombang radar Metode geomagnetik adalah metoda pendugaan bawah permukaan dengan memanfaatkan sifat fisis bumi. Metoda geomagnetik merupakan salah satu metoda geofisika yang dapat digunakan dalam eksplorasi bahan tambang, terutama logam. Kepekaan magnetik (susceptibility) yang

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 2

dimiliki batuan merupakan karakteristik batuan yang menggambarkan jumlah dari materi batuan yang dapat dirubah menjadi magnet. Dari berbagai macam metode seperti yang disebut di atas, metode Geomagnetik merupakan salah satu metode yang masih banyak digunakan hingga saat ini. Oleh karena itu, perlu adanya pembahasan khusus mengenai metode geomagnetik ini. B. PERUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana gambaran umum metode geomagnetik ? 2. Apa saja sifat-sifat kemagnetan material ? 3. Bagaimana sifat kemagnetan batuan ? 4. Bagaimana sifat kemagnetan bumi ? 5. Bagaimana metode geomagnetik dalam survei geofisika ? 6. Bagaimana metode pengukuran data geomagnetik ? 7. Bagaimana pengolahan data geomagnetik ? 8. Bagaimana interpretasi data geomagnetik ? C. TUJUAN PENULISAN 1. Mengetahui tentang metode magnetik. 2. Mengetahui macam-macam sifat kemagnetan material 3. Mengetahui macam-macam sifat magnetik batuan 4. Mengetahui tentang sifat kemagnetan bumi 5. Mengetahui tentang metode pengukuran data geomagnetik 6. Mengetahui tentang pengaksesan data IGRF 7. Mengetahui tentang pengolahan data geomagnetik 8. Mengetahui tentang interpretasi data geomagnetik 9. Memenuhi tugas untuk mata kuliah Geofisika D. MANFAAT PENULISAN 1. Manfaat teoritis Secara umum, makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada pembelajaran Fisika 2. Manfaat praktis a. Membantu mahasiswa dalam mempelajari Geofisika. Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik Page 3

b. Membantu

mahasiswa

dalam

mempelajari

metode

geofisika,

khususnya metode geomagnetik c. Dapat dimanfaatkan oleh guru Fisika dan Geografi sebagai referensi pembelajarannya mengenai metode geomagnetik.

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 4

BAB II PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Metode Geomagnetik Metoda geomagnetik adalah suatu metoda pengolahan data potensial untuk mendapatkan gambaran bawah permukaan bumi atau benda dengan karakteristik magnetik tertentu. Metode ini didasarkan pada pengukuran intensitas medan magnet yang dimiliki batuan. Sifat magnet ini ada karena pengaruh dari medan magnet bumi pada waktu pembentukan batuan tersebut. Dalam metode geomagnetik ini, bumi diyakini sebagai batang magnet raksasa di mana medan magnet utama bumi dihasilkan. Kerak bumi menghasilkan medan magnet jauh lebih kecil daripada medan utama magnet yang dihasilkan bumi secara keseluruhan. Medan magnet yang teramati pada bagian bumi tertentu, biasanya disebut anomali magnetik yang dipengaruhi suseptibilitas batuan tersebut dan remanen magnetiknya. Berdasarkan pada anomali magnetik batuan ini, pendugaan sebaran batuan yang dipetakan baik secara lateral maupun vertikal. Eksplorasi menggunakan metode magnetik, pada dasarnya terdiri atas tiga tahap, yaitu akuisisi data lapangan, processing, interpretasi. Setiap tahap terdiri dari beberapa perlakuan atau kegiatan. Pada tahap akuisisi, dilakukan penentuan titik pengamatan dan pengukuran dengan satu atau dua alat. Untuk koreksi data pengukuran dilakukan pada tahap processing. Koreksi pada metode magnetik terdiri atas koreksi harian (diurnal), koreksi topografi (terrain) dan koreksi lainnya. Sedangkan untuk interpretasi dari hasil pengolahan data dengan menggunakan software diperoleh peta anomali magnetik. Metode ini didasarkan pada perbedaan tingkat magnetisasi suatu batuan yang diinduksi oleh medan magnet bumi. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya perbedaan sifat kemagnetan suatu material. Kemampuan untuk termagnetisasi tergantung dari suseptibilitas magnetik masingmasing batuan. Harga suseptibilitas ini sangat penting di dalam pencarian Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik Page 5

benda anomali karena sifat yang khas untuk setiap jenis mineral atau mineral logam. Harganya akan semakin besar bila jumlah kandungan mineral magnetik pada batuan semakin banyak. Pengukuran magnetik dilakukan pada lintasan ukur yang tersedia dengan interval antar titik ukur 10 m dan jarak lintasan 40 m. Batuan dengan kandungan mineral-mineral tertentu dapat dikenali dengan baik dalam eksplorasi geomagnet yang dimunculkan sebagai anomali yang diperoleh merupakan hasil distorsi pada medan magnetik yang diakibatkan oleh material magnetik kerak bumi atau mungkin juga bagian atas mantel. Metode magnetik memiliki kesamaan latar belakang fisika dengan metode gravitasi, kedua metode sama-sama berdasarkan kepada teori potensial, sehingga keduanya sering disebut sebagai metode potensial. Namun demikian, ditinjau ari segi besaran fisika yang terlibat, keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar. Dalam magnetik harus

mempertimbangkan variasi arah dan besaran vektor magnetisasi, sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau variasi besar vektor percepatan gravitasi. Data pengamatan magnetik lebih menunjukkan sifat residual kompleks. Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu lebih besar. Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui darat, laut dan udara. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi pendahuluan minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada pencarian prospek benda-benda arkeologi. B. Sifat Kemagnetan Material Pada mulanya penemuan obyek-obyek geologi, termasuk mineralmineral ekonomis, di bawah permukaan ditemukan secara kebetulan. Ilmu kebumian terutama ilmu fisika belum berperan, sebab obyek-obyek geologi tersebut belum dipahami dengan baik, sehingga sifat-sifat fisika, serta prinsip-prinsip fisika untuk mendeteksinya belum diketahui. Setelah itu para ilmuwan kemudian menciptakan metode-metode untuk melakukan survei yang salah satunya adalah survei geomagnet. Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik Page 6

Dalam survei geomagnet sendiri diperlukan pengertian dasar-dasar fisika tentang kemagnetan, antara lain: Gaya Magnetik Jika dua buah benda atau kutub magnetik terpisah pada jarak r dan muatannya masing-masing m1 dan m2 dihasilkan adalah :
1 m1m2 F r r2

maka gaya magnetik yang

dengan : medium

= permeabilitas magnetik yan menunjukkan sifat suatu

F = gaya magnetik pada m2 r = vektor satuan ber-arah dari m1 ke m2

Kuat Medan Magnetik Kuat medan magnetik pada suatu titik dengan jarak r dari muatannya

dapat dinyatakan sebagai :


m H 12 r r

Intensitas Magnetik Suatu benda magnetik yang ditempatkan pada suatu medan magnet

dengan kuat medan H, maka akan terjadi polarisasi magnetik pada benda tersebut yang besarnya diberikan oleh : M k H M biasa disebut juga sebagai Intensitas Magnetik dan k adalah kerentanan magnetik yang merefleksikan sifat kemagnetan suatu benda atau batuan. Susceptibilitas / Kerentanan Magnetik Susceptibilitas magnetik adalah suatu ukuran termagnetisasi dari suatu material karena pengaruh medan magnet eksternal. Hubungan k dalam satuan SI dan emu dinyatakan sebagai :

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 7

k = 4 k di mana k' adalah susceptibilitas magnetik dalam satuan emu dan k adalah susceptibilitas magnetik dalam satuan SI. Kepekaan volume k, nilai tanpa satuan dimensi, yang digambarkan sebagai perbandingan dari material termagnetisasi J (per unit volume) terhadap medan magnet eksternal H: J=kH Massa susceptibilitas memiliki satuan m3kg-1, merupakan

perbandingan dari material termagnetisasi J (per satuan massa) terhadap medan magnet eksternal H: J=H Harga susceptibilitas ini sangat penting didalam pencarian benda anomali karena sifatnya yang sangat khas untuk setiap jenis mineral atau mineral logam. Induksi Magnetik Adanya medan magnetik regional yang berasal dari bumi dapat menyebabkan terjadinya induksi magnetik pada batuan yang mempunyai susceptibilitas baik. Total medan magnetik yang dihasilkan pada batuan ini dinyatakan sebagai induksi magnetik. Medan magnetik yang terukur oleh magnetometer adalah medan magnet induksi termasuk efek magnetisasi yang diberikan oleh persamaan :
B 0 H M 0 1 k H

Di mana adalah permeabilitas magnetik ruang hampa dan = (1+k) adalah permeabilitas magnetik relatif, sehingga persamaan di atas dapat dituliskan juga dalam :
B 0 H

Persamaan ini menunjukkan bahwa jika medan magnetik remanen dan luar bumi diabaikan, medan magnet total yang terukur oleh magnetometer di permukaan bumi adalah penjumlahan dari medan bumi Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik Page 8

utama H dan variasinya (M). M adalah anomali magnet dalam eksplorasi magnetik. Momen Magnet (M) Besaran vektor yang memanjang dari kutub negatif ke kutub positif. C. Sifat Magnetik Batuan Setiap jenis batuan mempunyai sifat dan karakteristik tertentu dalam medan magnet. Adanya perbedaan serta sifat yang khusus dari tiap jenis batuan serta mineral memudahkan kita didalam pencarian bahan-bahan tersebut. Untuk lebih mempermudah penafsiran umumnya dilakukan

klasifikasi batuan atau mineral berdasarkan sifat magnetik yang ditunjukan oleh kerentanan magnetiknya sebagai berikut: 1. Diamagnetik Dalam batuan diamagnetik atom-atom pembentuk batuan mempunyai kulit elektron berpasangan dan mempunyai spin yang berlawanan dalam tiap pasangan. Jika mendapat medan magnet dari luar orbit, elektron tersebut akan berpresesi yang menghasilkan medan magnet lemah yang melawan medan magnet luar. Batuan jenis ini mempunyai susceptibilitas (k) negatif dan kecil dan tidak tergantung dari medan magnet luar. Contoh : bismuth, grafit, gipsum, marmer, kuarsa, garam. 2. Paramagnetik Di dalam batuan paramagnetik terdapat kulit elektron terluar yang belum jenuh yakni terdapat elektron yang spinnya tidak berpasangan dan mengarah pada spin yang sama. Jika terdapat medan magnetik luar, spin tersebut berpresesi menghasilkan medan magnet yang mengarah searah dengan medan tersebut sehingga memperkuatnya. Akan tetapi, momen magnetik yang terbentuk terorientasi acak oleh agitasi termal. Oleh karena itu, bahan tersebut dapat dikatakan mempunyai sifat susceptibilitas (k) positif dan sedikit lebih besar dari satu. Susceptibilitas (k) bergantung pada temperatur. Contoh : piroksen, olivin, garnet, biotit, amfibolit dll. Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik Page 9

3. Ferromagnetik Terdapat banyak kulit elektron yang hanya diisi oleh suatu electron sehingga mudah terinduksi oleh medan luar. Keadaan ini diperkuat lagi oleh adanya kelompok-kelompok bahan berspin searah yang membentuk dipol-dipol magnet (domain) mempunyai arah sama, apalagi jika di dalam medan magnet luar. Batuan ini mempunyai sifat susceptibilitas (k) positif dan jauh lebih besar dari satu. Susceptibilitas (k) bergantung dari temperatur. Contoh : besi, nikel, kobalt. D. Magnet Bumi Penyebab utama kemagnetan bumi sekitar 99% adalah gejala yang terjadi di dalam bumi sesuai dengan teori magnetohidrodinamis. Teori ini menyebutkan bahwa kemagnetan bumi disebabkan oleh arus listrik yang terbentuk karena adanya proses rotasi bumi dan arus konveksi, sehingga menginduksi material-material bersifat magnetik di dekatnya dan mempengaruhi perubahan variasi medan magnet. Sifat kemagnetan bumi ini terpolarisasi menjadi dua kutub yakni kutub utara dan kutub selatan, sehingga seolah-olah di dalam bumi ini terdapat magnet batang yang sangat besar dengan dua kutub yang letaknya terpisah jauh. Para pakar telah sepakat bahwa bumi merupakan medan magnet yang luar biasa besarnya, sebagaimana jarum kompas selalu menunjuk ke arah utara dan selatan kutub magnet bumi.

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 10

Kedua kutub magnet bumi dikenal sebagai Geomagnetic Poles yang merupakan kutub teoritis dimana sumbu magnet membuat sudut 11,5 dengan sumbu rotasi bumi yaitu pada : a. Utara / kutub negatif magnet terletak di Pulau Canadian Artik dengan posisi lintang : 75.50 LS dan Bujur : 100.40 BB. b. Selatan / kutub positif magnet terletak di Pantai Selatan Antartika dari Tasmania dengan posisi lintang : 66.50 LS dan Bujur : 1400 BT Mineral atau batuan yang terdapat di permukaan bumi ada yang mempunyai kekuatan (gaya) untuk tarik-menarik atau tolak-menolak sesama benda. Secara umum, dapat dikatakan bahwa benda itu bersifat magnet. Beberapa batuan yang bersifat magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), ilmenit (FeTiO3), dan sebagainya. Dengan mempelajari bekas-bekas arah yang ditunjukkan oleh mineral-mineral yang bersifat magnetis itu dalam batuan secara palaeomagnetis, telah diketahui bahwa gaya medan magnet bumi telah mengalami perubahan / pergeseran arah selama sejarah pembentukannya. Medan magnet bumi terkarakterisasi oleh parameter fisis atau disebut juga elemen medan magnet bumi (gambar 1), yang dapat diukur yaitu meliputi arah dan intensitas kemagnetannya. Parameter fisis tersebut meliputi :

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 11

Deklinasi (D), yaitu sudut antara utara magnetik dengan komponen horizontal yang dihitung dari utara menuju timur Inklinasi(I), yaitu sudut antara medan magnetik total dengan bidang horizontal yang dihitung dari bidang horizontal menuju bidang vertikal ke bawah.

Intensitas Horizontal (H), yaitu besar dari medan magnetik total pada bidang horizontal. Medan magnetik total (F), yaitu besar dari vektor medan magnetik total.

Gambar 1. tiga elemen medan magnet bumi Medan magnet utama bumi tidak konstan, tetapi mengalami perubahan terhadap waktu, sesuai keadaan di dalam bumi. Hal tersebut ditunjukkan dalam studi peleomagnetik bahwa banyak batuan di kerak bumi dengan posisi sebelah menyebelah yang memiliki arah kutub kemagnetan yang berkebalikan. Perubahan kemagnetan bumi akibat aktivitas bumi sendiri ini sangat lamban dan biasa disebut variasi sekuler. Besarnya variasi ini untuk setiap tempat tidak sama, tetapi dalam skala regional masih sama. Beberapa ahli menduga perubahan ini diakibatkan aktivitas arus konveksi yang berada di dalam inti bumi yang menimbulkan kelistrikan Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik Page 12

sehingga medan magnet yang ditimbulkan mempengaruhi medan magnet di sekitarnya. W.M. Elsasser (1939) menyimpulkan material inti bumi yang dominan adalah besi yang merupakan konduktor yang baik. Gerakan inti bumi cair inilah yang memungkinkan arus listrik kemudian menimbulkan medan magnet bumi utama. Karena medan magnet utama bumi berubah terhadap waktu, maka untuk menyeragamkan nilai-nilai medan utama magnet bumi, dibuat standar nilai yang disebut International Geomagnetics Reference Field (IGRF) yang diperbaharui setiap 5 tahun sekali. Nilai-nilai IGRF tersebut diperoleh dari hasil pengukuran rata-rata pada daerah luasan sekitar 1 juta km2 yang dilakukan dalam waktu satu tahun. Medan magnet bumi terdiri dari 3 bagian : 1. Medan magnet utama (main field) Medan magnet utama dapat didefinisikan sebagai medan rata-rata hasil pengukuran dalam jangka waktu yang cukup lama mencakup daerah dengan luas lebih dari 106 km2. 2. Medan magnet luar (external field) Pengaruh medan luar berasal dari pengaruh luar bumi yang

merupakan hasil ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar ultraviolet dari matahari. Karena sumber medan luar ini berhubungan dengan arus listrik yang mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfer, maka perubahan medan ini terhadap waktu jauh lebih cepat. Beberapa sumber medan luar antara lain : a) perubahan konduktivitas listrik lapisan atmosfer dengan siklus 11 tahun. b) variasi harian dengan periode 24 jam yang berhubungan dengan pasang surut matahari dan mempunyai jangkauan 30 nT. c) variasi harian dengan periode 25 jam yang berhubungan dengan pasang surut bulan dan mempunyai jangkauan 2 nT.

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 13

d) badai magnetik yang bersifat acak dan mempunyai jangkauan sampai dengan 1000 nT. 3. Medan magnet anomali Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal (crustal field). Medan magnet anomali merupakan bagian dari medan magnet bumi yang ditimbulkan karena ketidakteraturan distribusi material magnetik di kerak bumi bagian luar. Materi penyusun kerak bumi tidak homogen yang terlihat dari adanya anomali sampai kedalaman beberapa puluh kilometer. Anomali medan magnet bumi ini biasanya bersifat lokal sehingga tidak terlihat pada peta-peta isomagnetik secara regional. Untuk kegiatan ekplorasi menggunakan metode magnet bumi akan selalu berkaitan dengan anomali medan magnet, karena nilai anomali yang terdeteksi di lapangan akan diinterpretasi untuk mengidentifikasi penyebab anomali ini. Medan magnet anomali ini dihasilkan oleh batuan yang mengandung mineral bermagnet seperti magnetite ( Fe7 S 8 ), titanomagnetite ( Fe2Ti O4 ) dan lain-lain yang berada di kerak bumi. Berdasarkan sifat medan magnet bumi dan sifat kemagnetan bahan pembentuk batuan, maka bentuk medan magnetik anomali yang ditimbulkan oleh benda penyebabnya bergantung pada : a) inklinasi medan magnet bumi di sekitar benda penyebab b) geometri dari benda penyebab c) kecenderungan arah dipol-dipol magnet di dalam benda penyebab d) orientasi arah dipol-dipol magnet benda penyebab terhadap arah medan bumi E. Metode Geomagnetik dalam Survei Geofisika Batuan di dalam bumi mengandung mineral-mineral yang sebagian juga memiliki sifat kemagnetan. Mineral tersebut terinduksi medan

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 14

magnet bumi dan menimbulkan medan magnet sekunder. Hal inilah yang menjadi dasar metode geomagnet. Dalam survei dengan metode magnetik yang menjadi target dari pengukuran adalah variasi medan magnetik yang terukur di permukaan (anomali magnetik). Secara garis besar anomali medan magnetik disebabkan oleh medan magnetik remanen dan medan magnetik induksi. Medan magnet remanen mempunyai peranan yang besar terhadap magnetisasi batuan yaitu pada besar dan arah medan magnetiknya serta berkaitan dengan peristiwa kemagnetan sebelumnya sehingga sangat rumit untuk diamati. Anomali yang diperoleh dari survei merupakan hasil gabungan medan magnetik remanen dan induksi, bila arah medan magnet remanen sama dengan arah medan magnet induksi maka anomalinya bertambah besar. Demikian pula sebaliknya. Dalam survei magnetik, efek medan remanen akan diabaikan apabila anomali medan magnetik kurang dari 25 % medan magnet utama bumi, sehingga dalam pengukuran medan magnet berlaku :
HT H M H L H A dengan : H T : medan magnet total bumi H M : medan magnet utama bumi H L : medan magnet luar H A : medan magnet anomali

F. Metode Pengukuran Data Geomagnetik Dalam melakukan pengukuran geomagnetik, peralatan paling utama yang digunakan adalah magnetometer. Peralatan ini digunakan untuk mengukur kuat medan magnetik di lokasi survei. Salah satu jenisnya adalah Proton Precission Magnetometer (PPM) yang digunakan untuk mengukur nilai kuat medan magnetik total. Peralatan lain yang bersifat pendukung di

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 15

dalam survei magnetik adalah Global Positioning System (GPS). Peralatan ini digunaka untuk mengukur posisi titik pengukuran yang meliputi bujur, lintang, ketinggian, dan waktu. GPS ini dalam penentuan posisi suatu titik lokasi menggunakan bantuan satelit. Penggunaan sinyal satelit karena sinyal satelit menjangkau daerah yang sangat luas dan tidak terganggu oleh gunung, bukit, lembah dan jurang. Beberapa peralatan penunjang lain yang sering digunakan di dalam survei magnetik, antara lain (Sehan, 2001) : a. Kompas geologi, untuk mengetahui arah utara dan selatan dari medan magnet bumi. b. Peta topografi, untuk menentukan rute perjalanan dan letak titik pengukuran pada saat survei magnetik di lokasi c. Sarana transportasi d. Buku kerja, untuk mencatat data-data selama pengambilan data e. PC atau laptop dengan software seperti Surfer, Matlab, Mag2DC, dan lain-lain. Pengukuran data medan magnetik di lapangan dilakukan

menggunakan peralatan PPM, yang merupakan portable magnetometer. Data yang dicatat selama proses pengukuran adalah hari, tanggal, waktu, kuat medan magnetik, kondisi cuaca dan lingkungan. Tabel 2. Contoh form untuk mencatat data hasil pengukuran No Stasiun Pengukuran 1 2 Waktu Tgl. Posisi Geografis Kuat Keadaan Lokasi

Jam Bujur Lintang Tinggi Medan

Dalam melakukan akuisisi data magnetik yang pertama dilakukan adalah menentukan base station dan membuat station-station pengukuran (usahakan membentuk grid-grid). Ukuran gridnya disesuaikan dengan luasnya lokasi pengukuran, kemudian dilakukan pengukuran medan magnet Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik Page 16

di station-station pengukuran di setiap lintasan, pada saat yang bersamaan pula dilakukan pengukuran variasi harian di base station. Pengaksesan Data IGRF IGRF singkatan dati The International Geomagnetic Reference Field. Merupakan medan acuan geomagnetik intenasional. Pada dasarnya nilai IGRF merupakan nilai kuat medan magnetik utama bumi (H0). Nilai IGRF termasuk nilai yang ikut terukur pada saat kita melakukan pengukuran medan magnetik di permukaan bumi, yang merupakan komponen paling besar dalam survei geomagnetik, sehingga perlu dilakukan koreksi untuk

menghilangkannya. Koreksi nilai IGRF terhadap data medan magnetik hasil pengukuran dilakukan karena nilai yang menjadi terget survei magnetik adalan anomali medan magnetik (Hr0). Nilai IGRF yang diperoleh dikoreksikan terhadap data kuat medan magnetik total dari hasil pengukuran di setiap stasiun atau titik lokasi pengukuran. Meskipun nilai IGRF tidak menjadi target survei, namun nilai ini bersama-sama dengan nilai sudut inklinasi dan sudut deklinasi sangat diperlukan pada saat memasukkan pemodelan dan interpretasi. G. Pengolahan Data Geomagnetik Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka dilakukan koreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran pada setiap titik lokasi atau stasiun pengukuran, yang mencakup koreksi harian, IGRF dan topografi. 1. Koreksi Harian Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai medan magnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari dalam satu hari. Waktu yang dimaksudkan harus mengacu atau sesuai dengan waktu pengukuran data medan magnetik di setiap titik lokasi (stasiun pengukuran) yang akan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian negatif, maka koreksi harian dilakukan dengan cara menambahkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data medan Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik Page 17

magnetik yang akan dikoreksi. Sebaliknya apabila variasi harian bernilai positif, maka koreksinya dilakukan dengan cara

mengurangkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi, datap dituliskan dalam persamaan H = Htotal Hharian 2. Koreksi IGRF Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi dari tiga komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik luar dan medan anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali IGRF. Jika nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian, maka kontribusi medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi IGRF. Koreksi IGRFdapat dilakukan dengan cara mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan magnetik total yang telah terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran pada posisi geografis yang sesuai. Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi harian) dapat dituliskan sebagai berikut : H = Htotal Hharian H0 di mana H0 = IGRF 3. Koreksi Topografi Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam survei megnetik sangat kuat. Koreksi topografi dalam survei geomagnetik tidak mempunyai aturan yang jelas. Salah satu metode untuk menentukan nilai koreksinya adalah dengan membangun suatu model topografi menggunakan pemodelan beberapa prisma segiempat (Suryanto, 1988). Ketika melakukan pemodelan, nilai suseptibilitas magnetik (k) batuan topografi harus diketahui, sehingga model topografi yang dibuat, menghasilkan nilai anomali medan magnetik (Htop) sesuai dengan fakta. Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah dilakukan koreski harian dan IGRF) dapat dituliska sebagai Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik Page 18

H = Htotal Hharian H0 - Htop Setelah semua koreksi dikenakan pada data-data medan magnetik yang terukur di lapangan, maka diperoleh data anomali medan magnetik total di topogafi. Untuk mengetahui pola anomali yang diperoleh, yang akan digunakan sebagai dasar dalam pendugaan model struktur geologi bawah permukaan yang mungkin, maka data anomali harus disajikan dalam bentuk peta kontur. Peta kontur terdiri dari garis-garis kontur yang menghubungkan titik-titik yang memiliki nilai anomali sama, yang diukur dari suatu bidang pembanding tertentu. Reduksi ke Bidang Datar Untuk mempermudah proses pengolahan dan interpretasi data magnetik, maka data anomali medan magnetik total yang masih tersebar di topografi harus direduksi atau dibawa ke bidang datar. Proses transformasi ini mutlak dilakukan, karena proses pengolahan data berikutnya mensyaratkan input anomali medan magnetik yang terdistribusi pada biang datar. Beberapa teknik untuk mentransformasi data anomali medan magnetik ke bidang datar, antara lain : teknik sumber ekuivalen (equivalent source), lapisan ekivalen (equivalent layer) dan pendekatan deret Taylor (Taylor series approximaion), dimana setiap teknik mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pengangkatan ke Atas Pengangkatan ke atas atau upward continuation merupakan proses transformasi data medan potensial dari suatu bidang datar ke bidang datar lainnya yang lebih tinggi. Pada pengolahan data geomagnetik, proses ini dapat berfungsi sebagai filter tapis rendah, yaitu unutk menghilangkan suatu mereduksi efek magnetik lokal yang berasal dari berbagai sumber benda magnetik yang tersebar di permukaan topografi yang tidak terkait dengan survei. Proses pengangkatan tidak boleh terlalu tinggi, karena ini dapat mereduksi anomali magnetik lokal yang bersumber dari benda magnetik atau struktur geologi yang menjadi target survei magnetik ini. Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik Page 19

Koreksi Efek Regional Dalam banyak kasus, data anomali medan magnetik yang menjadi

target survei selalu bersuperposisi atau bercampur dengan anomali magnetik lain yang berasal dari sumber yang sangat dalam dan luas di bawah permukaan bumi. Anomali magnetik ini disebut sebagai anomali magnetik regional (Breiner, 1973). Untuk menginterpretasi anomali medan magnetik yang menjadi target survei, maka dilakukan koreksi efek regional, yang bertujuan untuk menghilangkan efek anomali magnetik regioanl dari data anomali medan magnetik hasil pengukuran. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk memperoleh anomali regional adalah pengangakatan ke atas hingga pada ketinggian-ketinggian tertentu, dimana peta kontur anomali yang dihasilkan sudah cenderung tetap dan tidak mengalami perubahan pola lagi ketika dilakukan pengangkatan yang lebih tinggi. H. Interpretasi Data Geomagnetk Secara umum interpretasi data geomagnetik terbagi menjadi dua, yaitu interpretasi kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola kontur anomali medan magnetik yang bersumber dari distribusi bendabenda termagnetisasi atau struktur geologi bawah permukaan bumi. Selanjutnya pola anomali medan magnetik yang dihasilkan ditafsirkan berdasarkan informasi geologi setempat dalam bentuk distribusi benda magnetik atau struktur geologi, yang dijadikan dasar pendugaan terhadap keadaan geologi yang sebenarnya. Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk atau model dan kedalaman benda anomali atau strukutr geologi melalui pemodelan matematis. Untuk melakukan interpretasi kuantitatif, ada beberapa cara dimana antara satu dengan lainnya mungkin berbeda, tergantung dari bentuk anomali yang diperoleh, sasaran yang dicapai dan ketelitian hasil pengukuran. Beberapa pemodelan yang biasa digunakan yaitu pemodelan dua setengah dimensi dan pemodelan tiga dimensi.

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 20

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN 1. Metode geomagnetik adalah salah satu metode geofisika yang digunakan untuk menyelidiki kondisi permukaan bumi dengan memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang diidentifikasikan oleh kerentanan magnet batuan. Metode ini didasarkan pada pengukuran variasi intensitas magnetik di permukaan bumi yang disebabkan adanya variasi distribusi (anomali) benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi. 2. Metode geomagnetik ini dapat digunakan untuk eksplorasi pendahuluan minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada pencarian prospek benda-benda arkeologi. 3. Eksplorasi dengan menggunakan geomagnetik pada umumnya dilakukan dengan tiga tahap, yaitu akuisisi data lapangan, processing, interpretasi. Pada tahap processing dilakukan koreksi pada metode magnetik yang terdiri atas koreksi harian (diurnal), koreksi IGRF, koreksi topografi (terrain). 4. Interpretasi data geomagnetik dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu interpretasi kualitatif dan interpretasi kuantitatif.

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 21

DAFTAR PUSTAKA
L. Don Lee and Sheidon Judson. 1965. Physical Geology. New Jersey : PrenticeHall,inc.,Englewood cliftts Munir, Moch. 2003. Geologi Lingkungan. Malang : Bayumedia Publishing Tjasyono, Bayong. 2008. Ilmu Kebumian dan Antariksa. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
http://artha-bh.com/index.php/pekerjaan/aplikasi/10-aplikasi-metode-magnet http://blog.unsri.ac.id/sodikin/pertambangan/metode-geolistrik-dan magnetik/mrdetail/42547/ http://bu-gis.blogspot.com/2010/12/metoda-geomagnet.html http://debriadiharset.wordpress.com/2010/03/10/geomagnet/ http://geofisikamanado.blogspot.com/2009/05/cara-pengukuran-metodemagnetik.html http://geoful.wordpress.com/metode-geofisika/ http://geomagneticmethod.blogspot.com/ http://nurmansyah-putra.blogspot.com/2009/01/metode-geofisika.html http://poetrafic.wordpress.com/2010/10/06/metode-geomagnet/ http://smart-pustaka.blogspot.com/2011/10/geofisika.html http://wawangeologi.blogspot.com/2011/03/teori-dasargeomagnet.html?zx=533f7a5b65ac50b1

Linda/Geofisika/Metode Geomagnetik

Page 22