Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Karsinoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung. Mereka secara umum dibagi kedalam dua kelompok yaitu tulang dan jaringan lunak. Sarkoma jaringan lunak merupakan tumor yang jarang tumbuh dan berkembang dalam jaringan yang diturunkan dari embrionik mesoderm. Sarcoma ini mungkin terjadi dimana-mana tetapi terbesar atau paling sering terjadi pada daerah paha. Sarcoma tulang tidak begitu umum dan hanya sekitar 0,2% dari semua jenis tumor malignansi di Amerika Serikat. Kira-kira ada sekitar 2-100 kasus terdiagnosa setiap tahunnya. Insiden tersebut lebih tinggi terjadi pada orang kulit putih dan diantaranya adalah pria. Sarcoma jaringan lunak merujuk pada satu kelompok lebih dari 50 jenis kanker yang mana berjumlah hanya sekitar 1% dari semua malignansi pada pria dan sekitar 0,6% pada wanita. Ada sekitar 5000 kasus baru terdiagnosis stiap tahunnya di Amerika Serikat dan kira-kira 3000 orang meninggal dari sarcoma ini setiap tahunnya. Tumor ini lebih besar terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa, yang berjumlah sekitar 6% dari semua jenis malignasi sebelum usia 25 tahun. Pasien dengan diameter tumor kurang dari 5 cm mempunyai prognosis yang lebih baik saat didiagnosis pada sarcoma ekstremitas. Pasien tanpa keterlibatan dari nodus limfa dan tumor diploid juga mempunyai prognosis lebih baik. Karena kedua kelompok ini begitu berbeda, maka masing-masing akan didiskusikan secara terpisah. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang di maksud dengan karsinoma tulang ? 2. Apa sajakah klasifikasi dari karsinoma tulang ? 3. Apa sajakah etiologi dari karsinoma tulang ? 4. Bagaimana patofisiologi karsinoma tulang ? 5. Bagaimana manifestasi klinis dari karsinoma tulang ? 6. Bagaimana asuhan keperawatan karsinoma tulang ?

1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui definisi karsinoma tulang. 2. Untuk mengetahui klasifikasi karsinoma tulang. 3. Untuk mengetahui etiologi karsinoma tulang. 4. Untuk memahami patofisiologi karsinoma tulang. 5. Untuk mengetahui manifestasi klinis karsinoma tulang. 6. Untuk memahami asuhan keperawatan karsinoma tulang

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Tumor Tulang

Tumor Tulang merupakan kelainan pada sistem muskuloskeletal yang bersifat neoplastik. (Muttaqin Arif, 2008). Ada beberapa tipe neoplasma yang dapat timbul pada jaringan tulang. Neoplasma ini dapat berasal dari jaringan tulang itu sendiri atau dapat juga merupakan penyebaran dari tumor primer di tempat tempat lain. (Sylvia A. Price and Lorraine M. Wilson, 2006: 1374). Neoplasma sistem muskulokseletal bisa berbentuk bermacam macam, seperti tumor osteogenik, konrogenik, fibrogenik, otot (rabdomiogenik), dan sel sumsum (retikulum) bisa juga tumor saraf, vaskuler dan sel lemak. (Brunner and Suddarth, 2002; 2346). Kesimpulan menurut kelompok kami, jadi tumor tulang adalah kelainan pada sistem muskuloskeletal yang bersifat neoplastik yang dapat timbul pada jaringan tulang. 2.2 Klasifikasi Tumor Tulang Menurut klasifikasi WHO ditetapkan berdasarkan kriteria histologis, jenis diferensiasi sel-sel tumor, asal usul sel, serta pemeriksaan histologis yang menetapkan jenis tumor bersifat jinak atau ganas. Sel-sel muskuloskeletal berasal dari mesoderm, tetapi kemudian berdiferensiasi menjadi beberapa sel osteoklast, kondarioblast, fibroblast, dan mieloblast. Oleh karena itu, sebaiknya klasiifkasi tumor tulang berdasarkan asal sel, yaitu bersifat osteogenik, kondariogenik, atau mielogenik. Meskipun demikian, terdapat kelompok yang tidak termasuk dalam kelompok tumor, yaitu kelainan reaktif (rective bone) atau hamartoma yang sebenarnya berpotensi menjadi ganas. Klasifikasi tumor tulang berdasarkan histologist (WHO, 1972)
3

Asal sel Osteogenik Osteoblastoma Kondariogenik Fibroma Kondariomiksoid Gland cell tumor Mielogenik

Tumor jinak Osteoma Osteoma osteoid Kondarioma Osteokondarioma Kondarioblastoma

Tumor ganas Osteosarkoma Osteosarkoma parosteal Kondariosarkoma Juksta kondariosarkoma Kortikal Mesenkim kondariosarkoma Osteoklastoma Sarkoma Ewing Retikulo sarkoma Limfosarkoma Mielosarkoma

Vaskular Hemangio-endotelioma Hemangio-perisitoma Jaringan lunak

Hemangioma Limfangioma Tumor glomus Fibroma Desmoplastik Lipoma Neurinoma Neurofibroma Kista soliter Kista aneurisma Kista juksta-artikular Defek metafisis Granuloma eosinofil Displasia fibrosa Miositis osifikans Tumor brown

Anglosarkoma

Fibrosarkoma Liposarkoma Mesenkomoma ganas Sarkoma tak berdiferensiasi Kordoma Adamantinoma

Tumor lain Tumor tanpa klasifikasi

A. Tumor Tulang Benigna Tumor tulang benigna biasanya tumbuh lambat dan berbatas tegas, gejalanya sedikit, dan tidak menyebabkan kematian. Neoplasma primer benigna sistem muskuloskeletal meliputi osteoma osteoid, osteokondarioma, enkondarioma, kista tulang (misalnya, kista tulang aneurisma), mioma, dan fibroma. Tumor benigna tulang dan jaringan lunak lebih sering terjadi daripada tumor maligna. Beberapa tumor benigna, seperti tumor sel raksasa, berpotensi mengalami transformasi maligna. Berikut macam-macam tumor benigna :
4

1. Osteoma (lvory Exostosis)

Sering terjadi pada usia 20-40 tahun. Bentuk kecil, tetapi dapat menjadi besar tanpa menimbulkan gejala gejala yang spesifik. Lokasi pada tulang-tulang tengkorak seperti maksila, mandibula, palatum, sinus paranasalis, dan dapat pula ditemukan pada tulang panjang seperti tibia, femur, dan falang. Pemeriksaan radiologi. Pada foto rontgen, osteoma berbentuk bulat dengan batas tegas tanpa adanya destruksi tulang. Pada pandangan tangensial, osteoma terlihat seperti kubah. Patologi. Dapat ditemukan lesi pada tulang kompak (compact osteoma) dengan sistem Haversian atau pada tulang trabekula dengan sumsumnya disebut spongiostoma. Penatalaksanaan, bila osteoma kecil dan tidak menimbulkan keluhan, tidak terdapat tindakan khusus. Pada osteoma yang besar, menimbulkan gangguan kosmetik, atau terdapat penekanan ke jaringan sekitarnya yang menimbulkan keluhan, sebaiknya dilakukan eksisi.

B
Gambar A. Osteoma terutama ditemukan pada tulang tengkorak. Gambar B. Osteoma tidak jarang ke dalam sinus paranasalis (dikutip dari Rasjad, C.1998.Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Ujung Pandang: Bintang Lamumpatue)

2. Osteoma osteoid Biasanya tejadi pada usia 10 15 tahun, lebih sering terjadi pada pria. Gejala yang paling menonjol adalah nyeri pada daerah tertentu dan hilang dengan pemberian salisilat. Sering terjadi pada femur, tibia,
5

dan tulang belakang. Pemeriksaan dilakukan dengan radiologi. Penatalaksanaan yang efektif adalah mengeluarkan seluruh jaringan nidus disertai eksisi sebagian tulang. 3. Osteoblastoma Jinak (Osteoma Osteoid Raksasa) Tumor ini ditemukan terutama pada usia dewasa muda. Biasanya terjadi pada tulang belakang dan tulang tulang pipih lainnya, seperti ilium, iga, tulang jari, dan tulang kaki. Pada pemeriksaan radiologi terdapat bintik bintik dari tempat lain (bone graft).
4. Osteokondroma

kalsifikasi.

Penatalaksanaan

yang

dilakukan adalah eksisi tumor, kemudian rongga yang terjadi diisi dengan tulang

Tumor ini sering ditemukan pada usia remaja. Sifat tumor soliter, Dasar lebar-kecil seperti tangkai, berbatas tegas, dan tampak lebih kecil saat PF dibandingkan saat foto rontgen. Gejala yang timbul adalah nyeri akibat penekanan jaringan sekitar. Biasanya terjadi pada lokasi metafisis tulang panjang (femur distal, tibia proximal, humerus proximal) juga pada tulang skapula dan ilieum. Pada pemeriksaan radiologi ditemukan adanya penonjolan tulang yang berbatas tegas sebagai eksostosis yang muncul dari metafisis, tetapi terlihat lebih kecil dibandingkan dengan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik karena sebagian tumor ini diliputi oleh tulang rawan. Penatalaksanaannya diperlukan tindakan operasi bila terdapat penjepitan pembuluh darah atau saraf.

5. Kondroblastoma Jinak

Tumor ini sering terjadi pada usia 10-25 tahun. Pertumbuhan tumor ini sangat lambat. Timbul gejala yaitu nyeri pada daerah sendi, batas tumor tidak jelas, irreguler, terdapat bintik-bintik kalsium. Tumor dapat berubah menjadi malignan. Lokasi tumor epifisis ke arah metafisis menuju graft. Lokasi pada metafisis tulang panjang terutama pada femur distal, tibia proksimal, dan humerus proksimal.
6. Fibroma Kondariomiksoid

tibia

proximal,

femur

distal,

humerus proximal. Penatalaksanaan yang dilakukan adalah kuretase dan Bone

Tumor ini terutama ditemukan pada anak anak dan dewasa muda. Lokasi tumor terutama pada tulang panjang atau tulang tulang kecil pada tarsal dan metatarsal. Tumor berbatas tegas. Penatalaksanaannya dengan kuretase dan eksisi lokal.
7. Enkondarioma/Kondarioma Sentral/Kondarioma

Tumor berkembang selama masa pertumbuhan pada anak-anak atau remaja. Tumor terdapat pada tangan, kaki, iga dan tulang-tulang panjang. Pada pemeriksaan radiografi terdapat titik-titik perkapuran dengan batas tegas, membesar dan menipis. Penatalsanaan yang dilakukan yaitu pembedahan dengan kuretase dan bone graft.
7

Kiri : lokasi fibroma kondromiksoid sering ditemukan pada daerah metafisis tulang pajang, terutama tulang tibia. Kanan : gambaran radiologis fibroma kondromiksoid pada tibia. Terlihat adanya erosi kortikal pada daerah lesi yang di kelilingi oleh daerah radiolusen.

Kiri : lokasi enkondroma terutama pada tulang tangan, kadang-kadang pada tulang panjang seperti femur/tibia, dan sangat jarang pada tulang sternum, iga, dan vertebra. Kanan : gambaran radiologis enkondroma pada falang dan metakarpal jari IV dan V. Daerah lesi terlihat radiolusen dan batasnya dikelilingi oleh tulang yang sklerotik.

B. Tumor Tulang Maligna Tumor muskuloskeletal maligna primer relatif jarang dan tumbuh dari sel jaringan ikat dan penyokong (sarkoma) atau dari elemen sumsum tulang (mieloma). 1. Sarcoma Osteogenik Berasal dari osteoblastik sel-sel mesenkim primitif. Tumor ini menyebar secara cepat pada periosteum dan jaringan ikat diluarnya. Tumor ini terutama ditemukan pada usia 10-20 tahun lebih sering pada pria. Keluhan yang dirasakan yaitu nyeri yang bersifat konstan dan bertambah hebat pada malam hari, bengkak, keterbatasan gerak badan, penurunan berat badan, anemia, serta anoreksia. Tumor berlokasi pada metafisis tulang panjang (femur distal dan tibia proximal, radius distal dan humerus proximal). Gambaran radiologi yang dapat ditemukan bergantung pada kelainan yang terjadi: a. Pada tipe osteolitik, proses destruktif yang lebih menonjol. b. Pada tipe osteoblastik, pembentukan tulang yang lebih menonjol. c. Pada tipe campuran, terdapat proses osteolitik dan osteoblastik yang seimbang. Penatalaksanaan yang terbaik pada Sarcoma Osteogenik adalah amputasi tulang ata disartikulasi. Penatalaksanaan tambahan yaitu dengan kemoterapi atau radioterapi. Berikut gambaran klinis sarkoma osteogenik pada femur distal dan humerus proksimal :

Sarkoma osteogenik sering pada tulang panjang, femur distal, dan tibia proksimal. 2. Osteosarkoma Parosteal/Sarkoma Osteogenik Juksta Kortikal Disebut juga sebagai sarcoma osteogenik juksta tetapi dengan sifat dan gejala klinis yang berbeda dengan sarocoma osteogenik. Gambaran klinis osteosarcoma parosteal biasanya ditemukan pada usia 10 15 tahun. Lokasi osteosarcoma parosteal terutama ditemukan pada metafisis femur bagian distal dan bagian belakang femur dan dapat juga pada tulang humerus dan tibia. Pada pemeriksaan radiologi terlihat bayangan padat yang mengarah keluar korteks dan mendesak jaringan lunak sekitarnya serta dapat menonjol di kulit. Penatalaksanaan yang dilakukan berupa eksisi luas atau amputasi.
3. Kondrosarkoma

Kondrosarcoma dapat

tumbuh sebagai tumor tulang perifer atau sentral.

Tumor ini paling sering menyerang pria berusia >35 tahun. Keluhan yang sering dirasakan adalah masa tanpa nyeri yang berlangsung lama, lama kelamaan akan mengalami pembesaran dapat disusul dengan pertumbuhan cepat dan agresif. Lokasi tumor adalah pelvis, femur, costa, gelang bahu dan tulang kraniofasial. Penatalaksanaan yang dilakukan berupa eksisi luas atau amputasi, penatalaksanaan tambahan radioterapi atau kemoterapi dan reseksi radikal. Lokasi pada panggul, bahu, dan lutut

4. Juksta Kondrosarkoma Kortikal

Merupakan suatu tumor ganas yang ditandai dengan adanya pembentukan tulang rawan yang berasal dari bagian luar permukaan tulang. Lokasi tumor terutama pada femur distal, tibia proksimal, serta humerus proksimal. Perkembangan tumor ini sangat cepat.
5. Osteoklastoma/Giant Cell Tumor

Tumor ini adalah jenis tumor benigna tetapi kecenderungan menjadi ganas dan agresif. Terutama ditemukan pada usia 20-40 tahun. Keluhan utama yang ditemukan berupa nyeri serta pembengkakan terutama pada lutut, efusi sendi, dan gangguan gerakan pada sendi. Tempat-tempat yang biasa diserang oleh tumor ini adalah ujung-ujung tulang panjang, (terutama lutut, ujung bawah radius), epifisis tulang panjang (tibia proximal, femur distal, humerus proximal, radisu distal), pelvis dan sakrum. Pada fotorontgen terlihat daerah radiolusen, lesi kisti yang eksentrik pada ujung-ujung tulang yang dibatasi oleh tulang subkondran. Penatalaksanaan yang diberikan bergantung pada grading operasi tumor. Tumor yang berbatas tegas pertumbuhannya lambat dapat diobati dengan kuretase dan bone graft. Tumor yang lebih agresif perlu dilakukan eksisi yang diikuti dengan bone graft. Tumor sel raksasa adalah jenis tumor yang mempunyai sifat ganas dan cenderung bermetastasis sehingga diperlukan reseksi radikal atau amputasi.Gambaran klinis 6. Sarcoma Ewing Tumor ini paling sering terlihat pada anak usia belasan. Tumor ini memiliki lokasi: korpus tulang panjang, penampilan kasar, tumbuh ke retikulum
10

sumsum

tulang,

membentuk

gambaran kulit bawang. Ditandai dengan adanya keluhan: nyeri, terdapat benjolan, nyeri tekan, demam ringan dan leukositosis. Penatalsanaan yang dapat dilakukan adalah radioterapi merupakan pilihan pertama dan tindakan amputasi dapat dipertimbangkan. Pemberian sitostatika dapat dilakukan, tetapi hasilnya biasanya mengecewakan. Pada tulang panjang, seperti femur, tibia, humerus, dan fibula atau pada tulang pipih

A. Gambaran skematis, B. Gambaran pada proksimal radius

7. Retikulo Sarkoma Tulang Retikulo sarkoma dapat terjadi pada semua usia tetapi yang sering terjadi pada usia di atas 20 tahun (30 40 tahun). Gejala yang paling menonjol adalah nyeri sekitar fraktur. Lokasi retikulo sarkoma terutama pada tulang panjang. pada foto rongent terlihat ada bintik bintik destruksi tulang, biasanya pada daerah sumsum tulang. Dengan pemerikasaan radioisotop ditemukan adanya lesi multipel.

8.

Mieloma Multiple Mieloma multipel merupakan tumor ganas tulang yang sering ditemukan yaitu 17 % dari tumor
11

ganas organ tubuh serta menempati peringkat ke 3 tumor ganas tulang. Ditemukan terutama pada pria usia 40-70 tahun. Mieloma multipel terjadi akibat proliferasi sel-sel plasma. Tumor ini berasal dari sumsum tulang dan menyebar ke tulang lain (vertebra, panggul, costa, sternum, tengkorak). Gejala yang paling sering timbul adalah nyeri tulang, lokasi nyeri sering kali pada tulang iga, tulang belakang, dan sakit pinggang. Gejala umum seperti nyeri radikular, kelemahan extrimitas, anemia, kakeksia, anorexia, muntah, perubahan tingkat kesadaran dapat ditemukan dan fraktur patologis. Penatalaksanaan yang dilakukan adalah radioterapi dan kemoterapi. Bila terdapat fraktur patologis dilakukan fiksasi internal & pengisisan rongga dengan semen metilmetakrilat.

C. Tumor Vaskuler

1. dari sistem soliter atau ditemukan tanpa disertai dengan gejala klinis.

Hemangioma Merupakan tumor jinak yang berasal vaskular. Kelainan ini dapat bersifat multipel pada tulang, terutama pada tulang belakang dan tengkorak

Gambaran klinis pada kulit dan jaringan subkutan

2. Limfangioma Merupakan tumor jinak yang berlokasi pada tulang dan terbentuk dari saluran limfe ditemukan terutama dalam bentuk kistik yang berdilatasi.
Gambaran semiskematis

3. Tumor Glomus Merupakan tumor jinak dengan sel sel bulat yang uniform disertai dengan struktur vaskular. Tumor ini kemungkinan berasal dari glomus neuro mioarterial dengan diameter tumor yang sangat kecil (0,5 1 mm ). Lokasi yang sering terjadi yaitu pada falang terminal dibawah kuku, biasanya menimbulkan nyeri hebat serta nyeri tekan pada daerah falang terminal. Pada pemeriksaan radiologi, mungkin
12

ditemukan adanya erosi pada tulang falang terminal akibat tekanan pada tulang. Penatalaksanaan berupa pengeluaran tumor dengan terlebih dahulu kuku dan kelainan ini biasanya tidak bersifat rekurens. 4. Hemangioendotelioma Merupakan tumor yang bersifat agresif, tetapi tidak bermetastase. Kelainan ditandai dengan adanya sel-sel padat yang disertai dengan struktur vaskuler endotelial. Penatalaksanaan yang diberikan eksisi tumor. 5. Hemangioperisitoma Merupakan tumor yang agresif dan dapat menjadi ganas. Gambaran histologinya berupa gambaran vaskular yang dilapisi oleh satu sel endotelia yang dikelilingi oleh zona poliferasi sel. 6. Angiosarkoma Tumor ini sangat ganas dan bermetastase sangat cepat ke paru paru. Angiosarkoma tulang dapat bersifat multipel dan dapat terjadi pada tulang dan jaringan lunak.

D. Tumor Asal Jaringan Ikat

1. Fibroma desmoplastik Merupakan tumor jinak yang dapat mengenai anak anak dan dewasa terutama terjadi pada tulang panjang dan tulang pipih. Gejala yang ditemukan berupa pembengkakan dan nyeri.

2. Lipoma Merupakan suatu tumor jinak yang terdiri dari jaringan lemak matur dan biasanya terjadi

13

pada orang dewasa. Gambaran radiologis yang dapat ditemukan pada lipoma berupa masa pada jaringan lunak.

3. Fibrosarkoma Berasal dari jaringan lunak endosteal dan menghasilkan kolagen. Klien umumnya datang dengan gejala pembengkakan atau fraktur patologis. Fibrosarkoma terutama terjadi pada metafisis femur dan tibia, tetapi dapat meluas sampai epifisis.
Pada femur dan tibia dan meluas pada epifisis

4. Mesenkomoma ganas Merupakan salah satu tumor ganas yang berasal dari jaringan ikat dengan tingkat diferensiasi serta gambaran struktur yang multipel, yang secara normal tidak ditemukan pada tulang. 5. Liposarkoma Merupakan tumor ganas yang sangat jarang ditemukan. Kelainan ditandai dengan adanya diferensiasi lipoblastik ketika ditemukan lipoblas yang atipik dengan tigkat dferensiasi yang berbeda. 6. Neurofibroma Merupakan tumor jinak yang dapat ditemukan pada tulang yang berkembang dari jaringan saraf. Pada femur proksimal dengan bercak bercak cafe au lait pada Kulit 7. Kordoma Merupakan tumor ganas yang berasal dari sisa notokord, sering ditemukan pada usia dewasa muda. Berkembang secara progresif pada daerah sakrum dan koksigis.
14

Kordoma dapat juga ditemukan pada tulang belakang dan terasa nyeri pada pinggang bawah. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah reseksi lokal. 2.3 Etiologi Faktor penyebab terjadinya tumor tulang (Muttaqin Arif, 2005: 388): 1. Genetik Beberapa kelainan genetik dikaitkatan dengan terjadinya keganasan tulang, misalnya sarkoma jaringan lunak atau soft tissue sarcoma (STS). Dari data penelitian, diduga mutasi genetik pada sel induk mesenkim dapat menimbulkan sarkoma. Ada beberapa gen yang sudah diketahui mempunyai peranan dalam kejadian sarkoma, antara lain gen RB-1 dan p53. Mutasi p53 mempunyai peranan yang jelas dalam terjadinya STS. Gen lain yang juga diketahui mempunyai peranan adalah gen MDM-2 (Murine Double Minute 2). Gen ini dapat menghasilkan suatu protein yang dapat mengikat pada gen p53 yang telah mutasi dan menginaktivasi gen tersebut.
2. Radiasi. Keganasan jaringan lunak dapat terjadi pada daerah tubuh yang terpapar

radiasi seperti pada klien karsinoma mamma dan limfoma maligna yang mendapat radioterapi. Halperin dkk. Memperkirakan resiko terjadinya sarkoma pada klien penyakit Hodgkin yang diradiasi adalah 0,9%. Terjadinya keganasan jaringan lunak dan bone sarcoma akibat pemaparan radiasi sudah diketahui sejak 1992. Walaupun jarang ditemukan, prognosisnya buruk dan umumnya high grade. Tumor yang sering ditemukan akibat radiasi adalah malignant fibrous histiocytoma (MFH) dan angiosarkoma atau limfangiosarkoma. Jarak waktu antara radiasi dan terjadinya sarkoma diperkirakan sekitar 11 tahun.
3. Bahan kimia. Bahan kimia seperti Dioxin dan Phenoxyherbicide diduga dapat

menimbulkan sarkoma, tetapi belum dapat dibuktikan. Pemaparan terhadap torium dioksida (Thorotrast), suatu bahan kontras, dapat menimbulkan angiosarkoma pada hepar. Selain itu, abses juga diduga dapat menimbulkan mesotelioma, sedangkan polovinil klorida dapat menyebaban angiosakoma hepatik. 4. Trauma. Sekitar 30% kasus keganasan pada jaringan lunak mempunyai riwayat trauma. Walaupun sarkoma timbul pada jaringan sikatriks lama, luka bakar, dan riwayat trauma, semua ini tidak dapat dibuktikan.
15

5. Limfedema kronis. Limfedema kronis akibat operasi atau radiasi dapat menimbulkan limfangiosakoma dan kasus limfangiosarkoma pada ekstremitas superior ditemukan pada klien karsinoma mamma yang mendapat radioterapi pasca-masektomi.
6. Infeksi. Keganasan pada jaringan lunak dan tulang dapat juga disebabkan oleh infeksi

parasit, yaitu filariasis. Pada klien limfedema kronis akibat obstruksi, filariasis dapat menimbulkan limfangiosarko 2.4 Patofisiologi

2.5 Manifestasi Klinik Secara umum gambaran yang terjadi pada klien dengan tumor tulang (benigna ataupun maligna):
1. Nyeri dan atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin

parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit).
2. Fraktur patologik.

3. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas
16

(Gale, 1999).
4. Teraba masa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas masa serta adanya pelebaran

vena.
5. Gejala-gejala penyakit metastatic meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan

menurun, dan malaise. (Smeltzer, 2001). 2.6 Grading 1. Grade Tumor Tulang Ganas (system grading AJCC) 2. System grading menurut UICC 3. System Grading sera Histologis dan Biologis a. Grade Tumor Ganas Tulang (system grading AJCC) (G) Gx G1 G2 G3 G4 Grading Histopatologis Grade tumor tidak dapat diketahui Grade Grade dapat dibedakan tingkat dengan sedang baik (well differentiated) perbedaan (moderately differentiated) Grade perbedaan sangat sulit (poorly differentiated) Grade tidak dapat dibedakan (undifferentiated)

b. Grade Tumor Ganas Grade Tingkat 1 Grading Histologis Grading Biologis Anaplasia sangat minimal dan Pertumbuhan dan metastase sangat sulit dibedakan dengan tumor lambat jaringan dibandingkan Tingkat 2 normal. Harus dengan

pemeriksaan kliniko-radiologis. Anaplasia dengan tingkat sedang. Pertumbuhan tumor cepat


17

Di sini dapat diketahui tingkat anaplasia sebagai suatu tumor ganas hanya dengan pemeriksaan sitologi. Tingkat 3 Anaplasia yang hebat, terlihat Pertumbuhan banyak perubahan sel dengan sel cepat besar pula serta mitosis yang banyak. 2.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Pemeriksaan Radiologi a. Meliputi foto sinar-X ataupun Bone Survey. b. Pemindaian radionuklida, diperuntukkan pada lesi yang kecil seperti osteoma. c. CT-scan. d. MRI. Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui:

tumor

sangat

Keakuratan lokasi. Sifat tumor. Jenis tulang yang terkena.

2. Pemeriksaan Laboratorium Cek darah: LED, Hb, Fosfatase Alkali Serum, Elektroforesis Protein Serum, Cek urine: Pemeriksaan Protein Bence-Jones. Fosfatase Asam Serum. 3. Biopsi Berfungsi dalam menentukan Grade tumor a. Biopsi Tertutup Menggunakan jarum halus FNA (Fine Needle Aspiration). Pemeriksaan ini pada tumor ganas tulang primer. Keuntungan: Indikasi:
18

Tidak memerlukan perawatan klien. Menghindari risiko komplikasi, seperti perdarahan dan infeksi. Mencegah penyebaran tumor. Hasil awal dapat diketahui dalam 15-20 menit setelah biopsy.

Tumor sumsum tulang (myeloma multiple). Untuk konfirmasi metastasis suatu tumor. Untuk mendiagnosis kista tulang yang sederhana. Membedakan infeksi dan penyakit granuloma eosinofilik. Konfirmasi penemuan histologist sarcoma.

b. Biopsi Terbuka Melalui metoda operasi. Keuntungan:

Dapat mengambil jaringan yang lebih besar untuk pemeriksaan Mengurangi kesalahan pengambilan jaringan. Mengurangi kecenderungan perbedaan diagnostic tumor jinak dan ganas (seperti antara enkondarioma-kondariosarkoma;

histologist dan pemeriksaan ultramikroskopik.

tumor Teknik : Cara:

osteoblastoma-osteosarkoma). Diambil secara longitudinal untuk menghindari terputusnya saraf dan Sekecil mungkin, tetapi jaringan yang diambil tepat.

pembuluh darah.

Biopsy insisional: pengambilan sebagian jaringan tumor. Biopsy eksisional: pengambilan seluruh jaringan tumor ataupun

dengan mengamputasinya sekaligus.

19

4. Mikroskop Elektron 5. Diagnosis Banding a. Osteomielitis. b. Miositis oksifikans, arthritis gout.


c. Hematoma sub-periosteal atau pada jaringan lunak yang akan menimbulkan

benjolan yang disertai nyeri. d. Fraktur stress. 2.8 Penatalaksanaan Medis 1. Operasi. Cara dan Kombinasi Penggunaan: Eksisi Bedah

Intralesional atau Intraskapular. Eksisi MarginalPengangkatan Kapsul. Eksisi LuasKombinasi Kemoterapi dan Radioterapi Pre-Post Operasi. Operasi Radikal AmputasiGrafting.

Restoratif dengan bone graft fiksasi internal


20

2. Radioterapi.
3. Kemoterapi. Contoh jenis Obat (Metotreksat, Adariiamisin, Siklofosfamid, Vinkristin

Sisplatinum)

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA TUMOR TULANG 3.1 PENGKAJIAN UMUM 1. Anamnesa
21

Identitas klien. Keluhan utama. Riwayat Penyakit Sekarang. Riwayat Penyakit Dahulu. Kaji riwayat: o Farktur terbuka. o Infeksi kelenjar limfe. o Konsumsi rokok.
o

Paparan radiasi dan bahan kimia Rentang waktu 11 tahun.

o Riwayat penyakit serupa. Riwayat Penyakit Keluarga B1 (Breathing) Kaji Kesimetrisan rongga dada normal , tidak ada sesak napas, tidak menggunakan otot bantu pernapasan, bentuk tulang belakang, keseimbangan taktil fremitus, bunyi mengi/ronchi. B2 (Blood) Kaji Keringat dingin, CRT < dari 1 detik (anemia), pusing. B3 (Brain) Kaji Keluhan pusing dan gelisah. Kepala dan wajah: kaji sianosis. Mata: ikterik, konjungtiva anemis. Leher: kaji JVP biasanya dalam batas normal. B4 (Bladder) Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada sistem perkemihan B5 (Bowel) Kaji frekuensi, konsistensi, warna, bau feses. Eliminasi urine : frekuensi, kepekatan, warna, bau dan jumlah urine. Klien biasanya mengalami mual nyeri lambung dan tidak nafsu makan. B6 (Bone) Kaji Nyeri
22

2. Pemeriksaan Fisik

Keterbatasan Gerak Pembesaran Jaringan Kelemahan Fisik Tanda-tanda Peradangan 3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri yang berhubungan dengan ekspansi tumor yang cepat dan penekanan ke jaringan sekitarnya, perdarahan, atau degenerasi. 2. Risiko tinggi trauma yang berhubungan dengan keterbatasan dan kelemahan ketahanan fisik, penurunan kemampuan pergerakan. 3. Ketidakefektifan koping individu b/d rasa takut tentang ketidaktahuan, persepsi tentang proses penyakit dan system pendukung tidak adekuat 4. Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik serta psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau terapi.

23

NO 1.

PERENCANAAN DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI Nyeri yang berhubungan dengan nyeri tidak ada 1. Lakukan pengkajian nyeri secara atau terkontrol komprehensif ekspansi tumor yang cepat dan 2. Kaji adanya nyeri fantom, penekanan ke jaringan adanya perasaan terbakar, kram atau kaku dimana anggota tubuh sekitarnya, perdarahan, atau tersebut berada degenerasi. 3. Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri

RASIONAL 1. Memberikan informasi untuk membuat perencanaan 2. Meningkatkan identifikasi nyeri fantom dan memberikan informasi untuk membuat perencanaan 3. Meningkatkan rasa nyaman dan meningkatkan mobilisasi

2.

Risiko

tinggi

trauma dan

berhubungan keterbatasan ketahanan fisik,

yang tidak trauma dengan

adanya

1. Sangga tulang yang sakit 1. Tumor tulang akan melemahkan

kelemahan penurunan

dan tangani dengan selama pemberian keperawatan

lembut asuhan

kemampuan pergerakan.

2. Gunakan sanggahan eksternal (mis. Splint) untuk perlindungan tambahan 3. Ikuti pembatasan penahanan berat badan yang dianjurkan

4. Ajarkan bagaimana cara untuk menggunakan alat ambulatory dengan aman dan bagaimana untuk menguatkan ekstremitas yang tidak sakit
23

tulang sampai ke titik dimana aktivitas normal atau perubahan posisi dapat mengakibatkan fraktur 2. Penyangga luar (mis. bidai) dapat dipakai untuk perlindungan tambahan 3. Adanya pembatasan akan membantu klien dalam penahanan berat badan yang tidak mampu ditahan oleh tulang yang sakit 4. Penggunaan alat ambulatory dengan aman mampu menguatkan ekstremitas yang sehat

3.

Ketidakefektifan koping individu b/d rasa takut tentang ketidaktahuan, persepsi tentang proses penyakit dan system pendukung tidak adekuat

Ansietas, kekhawatiran, dan kelemahan menurun pada tingkat yang dapat diatasi: mendemonstrasika n kemandirian yang meningkat dalam aktivitas dan proses pengambilan keputusan

1. Gunakan pendekatan yang tenang dan berikan satu suasana lingkungan yang dapat diterima 2. Evaluasi kemampuan pasien dalam pembuatan keputusan 3. Kaji sikap harapan yang realistis 4. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai 5. Nilai kebutuhan atau keinginan pasien terhadap dukungan social 6. Kenalkan pasien pada seseorang atau kelompok yang telah memiliki pengalaman penyakit yang sama 7. Berikan sumber-sumber spiritual jika diperlukan

1. Membantu pasien dalam membangun kepercayaan kepada tenaga kesehatan 2. Membantu pengkajian terhadap kemandirian dalam pengambilan keputusan 3. Meningkatkan kedamaian diri 4. Meningkatkan kemampuan untuk menguasai masalah 5. Memenuhi kebutuhan pasien
6. Memberikan informasi dan

dukungan dari orang lain dengan pengalaman yang sama 7. Untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien 1. Kemandirian versus ketergantungan merupakan isu pada pasien yang menderita keganasan. Gaya hidup akan berubah secara dramatis, paling tidak sementara akal dan yang peran untuk

4.

Gangguan citra diri berhubungan Mengalami

1. Dukung keluarga dalam mengupayakan melewati dengan perubahan dan perbaikan citra diri. penyesuaian yang harus ketergantungan fisik serta dilakukan; kenali perubahan dalam citra diri akibat psikologis yang disebabkan oleh pembedahan dan kemungkinan penyakit atau terapi. amputasi 2. Berikan kepastian yang realistis 2. Peyakinan yang masuk tentang masa depan dan mengenai masa depan perjalanan kembali aktivitas yang penyesuaian aktivitas berhubungan dengan peran; beri berhubungan dengan dorongan untuk perawatan harus dilakukan
24

mandiri dan sosialisasi 3. Libatkan pasien dan keluarga sepanjang pengobatan untuk meningkatkan rasa tetap memiliki control dalam kehidupan seseorang

memandirikan pasien 3. Keterlibatan pasien dan keluarganya sepanjang terapi dapat mendorong kepercayaan diri, pengembalian konsep diri, dan perasaan dapat mengontrol hidupnya sendiri

25

3.3 EVALUASI
1. Nyeri berkurang atau hilang dan terjadi perbaikan tingkat kenyamanan. 2. Dapat dihindarinya resiko trauma agar tidak terjadi fraktur patologis.

3. Ansietas, kekhawatiran, dan kelemahan menurun


4. Mengalami perbaikan citra diri.

26

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Kesimpulan menurut kelompok kami, jadi tumor tulang adalah kelainan pada sistem muskuloskeletal yang bersifat neoplastik yang dapat timbul pada jaringan tulang. Banyak sekali jenis tumor yang terdapat dalam tulang yang di sebabkan oleh banyak faktor, salah satunya yaitu faktor keturunan. 4.2 Saran 1. Sebaiknya perawat mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien tumor tulang dengan kompeten. 2. Sebaiknya perawat mampu menjelaskan pencegahan tumor tulang pada pasien.

26