Anda di halaman 1dari 11

a.

Evidance Based (Efek anti konsulvant pada kehamilan: MgSO 4, phenitoin, diazepam) Nama Obat Mekanisme FDA Pregnancy Category MgSO4 Memblokir transmisi neuromuskular dan mengurangi jumlah asetilkolin yang dibebaskan pada ujung plat impuls saraf motorik. A Sebagai antikonsulvan Dosis awal total 10-14 Evidance Based Regimen Dosis

untuk pencegahan gram, untuk dan pengendalian kejang pada toxemia parah kehamilan. Selain itu juga efektif mencegah dan mengontrol kejang-ejang eklampsia tanpa menyebabkan depresi dan merusak sisten saraf pusat pada ibu dan janin. pemberian intravena 4-5 gram dalam 250 mL injeksi Dekstrosa 5% atau injeksi NaCl 0,9%, dosis pemberian intra muscular hingga 10 gram (5 gram atau 10 mL larutan 50% intra gluteus kanan dan kiri). (Anonim, 2007)

Phenitoin

Tempat kerja Phenitoin terutama pada korteks

Penggunaan Fenitoin pada

Dosis oral 3-4 mg/kg per

motoris dimana aktivitas kejang dihambat penyebarannya. Kemungkinan dengan mempercepat pengeluaran natrium dari neuron-neuron.

pengobatan yang dihentikan secara tiba-tiba pada penderita epilepsi dapat mengakibatkan status epileptikus. Untuk pasien yang hipersensitif terhadap fenitoin, harus dipertimbangkan alternatif obat lain yang strukturnya mirip seperti karboksamida (misalnya, carbamazepine), barbiturat, suksinimida, dan oxazolidinediones (misalnya, trimethadione) pada pasien yang sama.

hari atau 150300 mg per hari dan dapat ditingkatkan dengan pengawasan hingga 600 mg per hari bila diperlukan. Dosis injeksi intra vena disarankan 10-15 mg/kg atau dengan intermittent infusion pada laju tidak lebih dari 50 mg/menit.

(Sweetman, 2008) Diazepam Peningkatan aktivitas gamma aminobutyric acid (GABA) yaitu suatu D Diazepam telah banyak digunakan pada Pemberian intravena dengan

inhibisi neurotransmitter utama dalam otak.

ibu hamil, penggunaan diazepam pada trimester ketiga dan selama persalinan berkaitan dengan sindrom bayi

loading dose 10 mg selama 2 menit, kemudian diulangi jika pasien kembali kejang

floppy. Data yang dengan diperoleh dari penelitian kohort menunjukkan tidak ada hubungan yang jelas antara penggunaan diazepam pada ibu hamil dengan pemberian infus intra vena 40 mg dalam 500 mL normal salin selama 24 jam. Pemberian secara oral 2 -

resiko malformasi 60 mg/hari. pada bayi. Namun resiko bibir sumbing yang kecil dan meningkat secara signifikan ditunjukkan dari data studi kasus kontrol. Sehingga disarankan untuk wanita yang merencanakan Formulasi rectal gel juga tersedia dengan rentang dosis 200-500 mikrogram/kg tergantung umur pasien, pemberian dapat diulang 4 hingga 12

kehamilan untuk menghentikan pengobatan dengan diazepam.

jam bila diperlukan.

(Sweetman, 2008)

b. Evidance Based (Efek dalam kehamilan untuk obat-obat anti hipertensi)

Golongan Obat

Contoh Obat

Mekanisme Kerja

FDA Pregnancy Category

Evidance Based

Regimen Dosis (mg/hari)

1. ACE Inhibitor

Captopril

Angiotensin Converting Enzyme (ACE) membantu produksi angiotensin II (berperan penting dalam regulasi tekanan darah arteri). ACE inhibitor mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II dan mencegah degradasi bradikinin dan menstimulasi sintesis senyawa

Dosis awal dapat dikurangi 50% pada pasien yang mengalami diuresis, dapat menyebabkan hiperkalemia pada pasien dengan penyakit ginjal kronis atau pada pasien yang juga mengonsumsi diuretik hemat kalium, antagonis aldosteron, ARB, atau direct rennin inhibitor, dapat menyebabkan gagal ginjal akut pada

25-150

vasodilator lainnya termasuk prostaglandin E2 dan prostasiklin.

pasien dengan bilateral renal artery stenosis. Jangan digunakan pada ibu hamil atau pasien dengan riwayat angiodema.

2. Calcium Chanel Blocker (CCB)

Subclass: Dihydropyridine (Nifedipine)

CCB menyebabkan relaksasi jantung dan otot polos dengan menghambat saluran kalsium yang sensitive terhadap tegangan (voltage sensitive), sehingga mengurangi masuknya kalsium ekstraseluler ke dalam sel. Relaksasi otot vascular menyebabkan vasodilatasi dan berhubungan dengan reduksi tekanan darah.

Short acting diyhdropyridine harus dihindari terutama nifedipine immediate release dan nicardipine, dihydropyridine adalah vasodilator perifer yang lebih kuat daripada non dihydropyridine dan dapat menyebabkan takikardia, pusing, sakit kepala, edema perifer, dan memberikan aksi tambahan pada sindrom Raynaud.

30-90

3. Central Adrenergic Inhibitor

Clonidine

Menstimulasi reseptor 2 adrenergik di otak

Pemberhentian penggunaan secara mendadak mungkin

0,1-0,8

yang mengurangi aliran simpatetik dari pusat vasomotor dan meningkatkan tonus vagal. Stimulasi reseptor 2 presinaptik secara perifer menyebabkan penurunan tonus simpatetik. Oleh karena itu dapat terjadi penurunan denyut jantung, curah jantung, resistensi perifer total, aktivitas rennin plasma, dan refleks baroreseptor. 4. - Blocker Subclass: Cardioselective (Atenolol) Mekanisme hipotensi Blocker tidak diketahui tetapi dapat melibatkan menurunnya curah jantung melalui kronotropik negative dan efek inotropik jantung D

menyebabkan hipertensi rebound, paling efektif jika digunakan dengan diuretik untuk mengurangi retensi cairan, clonidine patch dapat diganti seminggu sekali, tidak dianjurkan pada geriatri.

Pemberhentian penggunaan secara mendadak dapat menyebabkan hipertensi rebound, menghambat reseptor 1 pada dosis rendah hingga sedang, dosis yang lebih tinggi juga

25-100

dan inhibisi pelepasan rennin dari ginjal.

akan menblokir reseptor 2, dapat memperburuk kondisi pasien asma ketika selektivitas hilang, memiliki aksi tambahan pada pasien dengan takiaritmia atau hipertensi preoperatif.

5. Alpha-Beta Blocker

Labetalol

Kombinasi kerja dan -blocker lebih kepada kronotropik negatif dari pada efek inotropik negatif.

Pemberhentian penggunaan secara mendadak dapat menyebabkan hipertensi rebound, tambahan -blocade dapat menghasilkan hipotensi orthostatic.

200-800

6. Diuretik

Subclass: Loops Diuretika (Furosemide) meningkatkan pengeluaran garam dan air oleh ginjal hingga volume dan tekanan darah menurun. Di samping itu diperkirakan berpengaruh langsung terhadap dinding pembuluh

Dosis di pagi dan sore hari untuk menghindari diuresis nocturnal, dosis yang lebih tinggi mungkin diperlukan untuk pasien dengan laju filtrasi glomerulus sangat rendah atau disfungsi ventrikel kiri.

20-80

yakni penurunan kadar Na membuat dinding lebih kebal terhadap noradrenalin, hingga daya tahannya berkurang. Efek hipotensifnya relatif ringan dan tidak meningkat dengan memperbesar dosis. 7. Peripheral Adrenergic Antagonist Reserpine Reserpin mengosongkan norepinefrin dan saraf akhir simpatik dan memblok transport norepinefrin ked alma granul penyimpanan. Pada saat saraf terstimulasi, sejumlah norepinefrin (kurang dari jumlah biasanya) dilepaskan ke dalam sinaps. Pengurangan tonus simpatetik menurunkan C Memiliki manfaat yang sangat berguna dan telah banyak digunakan dalam uji klinis, harus digunakan dengan diuretik untuk mengurangi retensi cairan. 0,05-0,25

resistensi perifer dan tekanan darah. 8. Direct Arterial Vasodilator Minoxidil Menyebabkan relaksasi langsung otot polos arteriol. Aktivitas refleks baroreseptor dapat meningkatkan aliran simpatetik dari pusat vasomotor, meningkatnya denyut jantung, curah jantung, dan pelepasan rennin. Oleh karena itu efek hipotensif dari vasodilator langsung berkurang pada penderita yang juga mendapatkan pengobatan inhibitor simpatetik dan diuretik. 9. Angiotensin Receptor Blocker Candesartan Memblok reseptor angitensin II dengan efek vasodilatasi. Efek maksimalnya terlihat setelah beberapa minggu. D Dosis awal dapat dikurangi 50% pada pasien yang mengalami diuresis, dapat menyebabkan hiperkalemia pada pasien dengan 8-32 C Harus digunakan dengan diuretik dan -blocker untuk mengurangi retensi cairan dan refleks takikardia. 10-40

Studi di AS dan UK menunjukkan efektivitas yang sama dengan atenolol terhadap hipertensi terutama pada pasien diabetes.

penyakit ginjal kronis atau pada pasien yang juga mengonsumsi diuretik hemat kalium, antagonis aldosteron, ARB, atau direct rennin inhibitor, dapat menyebabkan gagal ginjal akut pada pasien dengan bilateral renal artery stenosis, kemungkinan tidak menyebabkan batuk kering seperti golongan ACE inhibitor. Jangan digunakan pada ibu hamil.

10. 1-Blocker

Doxazosin

Menginhibisi katekolamin pada sel otot polos vascular perifer yang memberikan efek vasodilatasi. Kelompok ini tidak mengubah aktivitas reseptor 2 sehingga tidak

Dosis pertama harus diberikan menjelang tidur, pasien dinasehati untuk bangun dari posisi duduk atau berbaring secara perlahan untuk meminimalkan resiko hipotensi

1-8

menimbulkan efek takikardia.

orthostatic, memiliki aksi tambahan pada pria dengan hiperplapsia prostatik jinak.

11. Direct Renin Aliskiren Inhibitor

Memblokir enzim rennin dan memicu sebuah proses yang membantu mengatur tekanan darah. Akibatnya pembuluh darah mengalami relaksasi dan melebar, sehingga memudahkan darah mengalir melalui pembuluh dan menurunkan tekanan darah.

Dapat menyebabkan hiperkalemia pada pasien dengan penyakit ginjal kronis dan diabetes atau pada pasien yang juga mengonsumsi diuretik hemat kalium, antagonis aldosteron, ACE inhibitor, ARB, dapat menyebabkan gagal ginjal akut pada pasien dengan bilateral renal artery stenosis. Jangan diberikan pada ibu hamil.

150-300

(DiPiro, 2008) Anonim. 2007. The United States Pharmacopoeia 30 The National Formulary 25. United States Pharmacopoeia Convention Inc. Dipiro, J.T., et.al. 2008. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Seventh Edition. McGraw Hill.