Anda di halaman 1dari 6

Etiologi Maloklusi 1.

Faktor Prenatal Faktor prenatal dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni kondisi ibu dan kondisi embrio. 1.1 Kondisi ibu. a. Kesalahan diet Nutrisi yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap pembentukan fetus. Apabila diet ibu kekurangan mineral maka akan terjadi kegagalan pembentukan jaringan embrio yang akhirnya mempengaruhi pembentukan tulang rahang. Selain itu, diet ibu yang salah juga mungkin menjadi faktor yang dapat menyebabkan sistem saraf dari embrio terganggu dimana kontrol atas tindakan motorik akan tidak harmonis. b. Penyakit saat kehamilan Adanya penyakit pada ibu saat kehamilan dapat memperburuk fungsi metabolisme. Adanya penyakit juga dapat menyebabkan toksin dalam aliran darah ibu sehingga mengganggu faktor pertumbuhan embrio. c. Trauma Trauma yang terjadi pada ibu terutama di bulan awal kehamilan dapat memberikan efek berbahaya bagi pembentukan jaringan embrio muda dan menyebabkan kecacatan di kemudian hari pada area yang terkena trauma.

1.2 Kondisi embrio a. Kesalahan posisi di dalam uterus Posisi yang salah dalam uterus dapat menyebabkan adanya tekanan yang terlokalisir dan perubahan jaringan pada embrio. b. Injury saat periode perkembangan c. Hare-lip dan cleft palate Kemungkinan penyebabnya adalah trauma, herediter dan obat-obatan, namun penyebab yang pasti belum jelas. Faktor-faktor penyebab ini berpengaruh pada saat fusi prosesus nasalis dengan prosesus maksilaris yaitu pada usia kandungan 8-12 minggu.

Selain kedua golongan diatas, faktor prenatal lain adalah herediter. Maloklusi yang berupa disproporsi rahang dan gigi lebih sering ditemukan pada populasi modern. Hal ini

diduga karena adanya kawin campur sehingga meningkatkan prevalensi maloklusi. Suatu penelitian menyimpulkan bahwa 40% variasi dental dan fasial dipengaruhi oleh faktor herediter sedangkan penelitian lain menunjukkan bahwa karakter skelet kraniofasial sangat dipengaruhi faktor herediter, sedangkan pengaruh herediter terhadap gigi rendah. Bentuk manifestasi dari faktor herediter terdiri dari: a. Disproporsi ukuran gigi dan ukuran rahang yang menghasilkan maloklusi berupa gigi berdesakan atau maloklusi berupa diastema multipel meskipun yang terakhir jarang dijumpai b. Disproporsi ukuran, posisi dan bentuk rahang atas dan rahang bawah yang menghasilkan relasi rahang yang tidak harmonis Suatu maloklusi yang lebih banyak dipengaruhi faktor herediter adalah kasus yang mempunyai prognosis kurang baik bila dirawat ortodonti, namun sayangnya sukar untuk dapat menentukan seberapa pengaruh faktor herediter pada maloklusi tersebut. Etiologi Maloklusi Kelas I Angle Pola jaringan lunak pada maloklusi kelas I umumnya menguntungkan kecuali pada maloklusi yang disertai proklinasi bimaksiler, yaitu insisiv atas dan bawah proklinasi, yang merupakan ciri khas ras tertentu. Sebagian besar maloklusi kelas I disebabkan karena diskrepansi ukuran gigi dan lengkung geligi. Etiologi Maloklusi kelas II Divisi 1 Angle Pada maloklusi kelas II divisi 1 sering didapatkan letak mandibula yang lebih posterior daripada maloklusi kelas I atau maksila lebih anterior sedangkan mandibula normla. Kadangkadang didapatkan ramus mandibula yang lebih sempit dan panjang total mandibual juga berkurang. Selain faktor genetik maloklusi kelas II divisi 1 juga disebabkan faktor lingkungan. Jaringan lunak, misalnya bibir yang tidak kompeten dapat mempengaruhi posisi insisiv atas karena hilangnya keseimbangan yang dihasilkan oleh bibir dan lidah sehingga insisiv atas protrusi. Kebiasaan mengisap jari dapat menghasilkan maloklusi kelas II divisi 1 meskipun relasi rahang atas dan bawah kelas I sehingga ada yang menyebut maloklusi ini sebagai maloklusi kelas II divisi 1 tipe dental.

Pada maloklusi kelas II divisi 1 insisiv atas dalam keadaan proklinasi sehingga jarak gigit menjadi besar. Adanya diskrepansi skeletal dalam jurusan sagital juga dapat menyebabkan jarak gigit yang besar. Dengan adanya jarak gigit yang besar biasanya tidak terdapat stop bagi insisiv bawah sehingga terjadi supra erupsi insisiv bawah dengan akibat terjadi gigitan dalam dan kurva spee menjadi positif. Posisi bibir ikut berperan pada maloklusi kelas II divisi 1. Pada bibir yang tidak kompeten pasien berusaha mendapatkan anterior oral seal dengan cara muskulus sirkum oral berkontraksi dengan mengajukan mandibula sehingga bibir atas dan bawah dapat berkontak pada saat istirahat, lidah berkontak dengan bibir bawah atau kombinasi keadaan-keadaan ini. Bila mandibula diajukan kelainan relasi skeletal nampak tidak terlalu parah, tetapi bila bibir bawah terletak di palatal insisiv atas dapat berakibat retroklinasi insisiv bawah dan proklinasi insisiv atas sehingga jarak gigit menjadi lebih besar. Etiologi Maloklusi kelas II Divisi 2 Angle Hubungan antara molar pertama bawah dan molar pertama atas disToklusi dan gigi anterior seolah-olah normal tetapi terjadi deep bite dan profil pasien seolah-olah normal. Etiologi Maloklusi Kelas III Angle Disini tonjol mesiobukal cusp molar pertama atas berada lebih ke distal atau melewati tonjol distal molar pertama bawah, atau lebih kedistal sedikit saja dari garis bukal molar pertama bawah. Sedangkan kedudukan kaninus biasanya terletak diantara premolar pertama dan kedua bawah. Klas III ini disebut juga tipe skeletal. Menurut dewey, klas III Angle ini dibagi dalam tiga tipe, yaitu: a. Klas III tipe 1 : hubungan molar pertama atas dan bawah mesioklusi sedang hubungan anterior insisal dengan insisal (edge to edge). b. Klas III tipe 2 : hubungan molar pertama atas dan bawah mesioklusi,sedang gigi anterior hubungannya normal. c. Klas III tipe 3 : hubungan gigi anterior seluruhnya bersilang (cross bite) sehingga dagu penderita menonjol kedepan. (Hambali, Tono,1985)

Kelainan Bentuk Gigi kelainan bentuk gigi konus dan tuberkel juga dapat mempengaruhi perkembangan oklusi. Gigi berbentuk konus biasanya berukuran kecil dan tidak dapat berkontak dengan gigi antagonisnya, sehingga dapat menyebabkan maloklusi. Selain itu gigi berbentuk konus juga sering tumbuh sebagai supernumerary teeth yang tumbuh pada labial antara insisivus sentral RA. Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan gigi insisivus sentral yang bisa berakibat retrusi pada gigi insisivus sentral RA sehingga mengakibatkan maloklusi. Kekurangan Jumlah Gigi Tidak adanya salah satu atau beberapa benih gigi ( hipodontia ) dapatmenyebabkan maloklusi. Keparahan maloklusi efek dari hipodontia ini tergantung pada jumlah gigi yang tidak terbentuk. Misalnya tidak terbentuknya gigi caninus, maka rahangatas dan rahang bawah tidak mendapatkan kunci oklusi yang tepat. Hal inilah yang dapatmenyebabkan maloklusi. Kelebihan Jumlah Gigi Tumbuhnya gigi yang berlebihan atau sering disebut supernumerary gigi juga mempengaruhi perkembangan oklusi. Jika pada seseorang memiliki rahang yang tidak terlalu besar dan seseorang tersebut memiliki kelainan supernumerary gigi maka akanterjadi berjejalnya gigi geligi yang dapat menyebabkan maloklusi.

2. Faktor Postnatal 2.1 Pertumbuhan dan perkembangan Yang dimaksud adalah pembentukan organ-organ sesudah bayi dilahirkan dan erat hubungannya dengan nutrisi dan fungsi organ-organ sekitar mulut dan rahang. Contoh pertumbuhan dan perkembangan yang kurang baik misalnya karena kelainan nutrisi kekurangan vitamin D sehingga terjadi hambatan pada metabolisme kalsium dalam tubuh yang mengakibatkan pertumbuhan rahang dan gigi terhambat. 2.2 Gangguan keseimbangan kelenjar endokrin Yang termasuk dalam kelompok ini yaitu kelenjar endokrin yang terutama berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Kelenjar endokrin ini

menghasilkan hormon yang berhubungan erat dengan pertumbuhan, baik seluruh tubuh maupun pada daerah mulut dan gigi. Kelenjar yang termasuk yaitu: a. Kelenjar hipofise Bila hyperpituitary terjadi sesudah dewasa di mana pertumbuhan sudah hampir selesai, akan timbul akromegali dengan pertumbuhan hanya terjadi pada ujung tubuh. Misalnya pada mandibula, hanya dagu saja yang menonjol, atau jari saja yang mengalami kelainan, tulang alveolar berkembang dan gigi diastema. Sedangkan pada kasus hypopituitary, pertumbuhan tubuh akan dihambat, anak tetap kecil, pendek dan disebut dwarfism atau cretinism. Kelainan gigi yang terlihat pada hypopituitary adalah erupsi gigi yang terlambat, pembentukan gigi yang tidak normal, misalnya terjadi pembentukan mahkota yang buruk, pembentukan akar yang buruk, gigi yang berjejal, palatum yang sempit, lengkung palatum yang tinggi/dalam. b. Kelenjar thyroid Kelenjar ini menghasilkanhormon tiroksin yang dapat mempengaruhi

pertumbuhan dan perkembangan tubuh, benih gigi, osifikasi tulang-tulang. Kelainan yang dapat menimbulkan maloklusi adalah hypothyroidism, dengan akibat: Pertumbuhan seluruh tubuh berkurang sehingga terjadi dwarfism. Hambatan metabolisme kalsium pada tulang sehingga pemasakan tulang terhambat. Persistensi gigi sulung dan erupsi gigi tetap terhambat sehingga susunan geligi berjejal. c. Kelenjar parathyroid Kelenjar ini menghasilkan hormon yang berpengaruh terhadap keseimbangan kadar kalsium dan fosfor dalam tubuh. Bila kelainan fungsi kelenjar ini terjadi pada minggu-minggu pertumbuhan, maka pembentukan gigi mengalami gangguan. Kalsifikasi dari email dan akar gigi terhambat, sehingga gigi lebih rapuh dan mudah terpengaruh oleh trauma.resorbsi akar gigi sulung mengalami hambatan. Erupsi gigi-gigi terlambat, sehingga susunan geligi tetap seringkali tidak normal. Bila terjadi hyperparathyroid maka kadar kalsium dalam pembuluh darah akan naik, dan diperoleh dari tulang bukan dari gigi. Tulang yang

mengalaim kekurangan ion kalsium mudah mengalami gangguan, dan bila ada trauma yang sedikit saja akan terjadi kegoyangan gigi.