Anda di halaman 1dari 2

Patogenesis Infeksi Malaria Falsfarum Setelah melalui jaringan hati P. Falciparum melepaskan 18-24 merozoit ke dalam sirkulasi.

Merozoit yang dilepaskan akan masuk ke sel RES di limfa dan mengalami fagositosis serta filtrasi. Merozoit yang lolos dari filtrasi dan fagositosis di limfa akan menginvasi eritrosit. Selanjutnya parasit berkembang biak secara aseksual dalam eritrosit. Bentuk aseksual parasit dalam eritrosit inilah yang bertanggung jawab dalam patogenesa terjadinya malaria pada manusia. Patogenesa malaria yag banyak diteliti adalah patogenesa malaria yang disebabkan P. Falciparum. Patogenesis malaria falciparum dipengaruhi oleh faktor parasit dan faktor pejamu. Yang termasuk dalam faktor parasit adalah intensitas transmisi, densitas parasit dan virulensi parasit. Sedangkan, yang masuk dalam faktor pejamu adalah tingkat endemisitas daerah tempat tinggal, genetik, usia, status nutrisi dan status imunologi. Parasit dalam eritrosit secara garis besar mengalami 2 stadium, yaitu stadium cincin pada 24 jam pertama dan stadium matur pada 24 jam kedua. Permukaan eritrosit stadium cincin akan menampilkan antigen RESA (Ring-erithrocyte surgace antigen) yang menghilang stelah parasit masuk stadium matur. Permukaan membran eritrosit stadium matur akan mengalami penonjolan dan pembentukan knob dengan Histidin Rich protein 1 (HRP 1) sebagai komponen utamanya. Selanjutnya, bila eritrosit tersebut mengalami merogoni, akan dilepaskan toksin malaria berupa GP1 yaitu glikosilfosfatidilinositol yang merangsang pelepasan TNF alfa dan interleukin 1 (IL 1) dari makrofag. Berikut adalah bagan proses patogenesis terjadinya infeksi malaria falciparum

Gejala klinis yang sering muncul Manifestasi klinik malaria tergantung pada imunitas penderita, tingginya transmisi infeksi malaria. Berat/ringannya infeksi dipengaruhi oleh jenis plasmodium(P.falciparum lebih sering menimbulkan komplikasi), daerah asal infeksi( pola resistensi terhadap obat), umur (usia lanjut dan bayi sering

lebih berat), ada dugaan konsititusi genetik, keadaan kesehatan dan nutrisi, kemoprofilaktis dan pengobatan sebelumnya. Secara umum manifestasi malaria memiliki gambaran berupa demam periodik, anemia dan splenomegali. Keluhan prodromal yang dapat terjadi sebelum timbul demam berupa kelesuan, malaise, sakit kepala, sakit belakang, merasa dingin dipunggung, nyeri sendi dan tulang, demam ringan, anoreksia, perut tidak enak, diare ringan dan kadang-kadang dingin. Pada malaria infeksi berat dapat menimbulkan masalah metabolik seperti hipoglikemi, gangguan pernapasan, malaria serebral, gagal ginjal, anemia berat, DIC, gangguan pencernaan dan liver seperti jaundice, ruptur limfa, diare, dan syok hipotensi. Daftar Pustaka 1. Staff FKUI. Parasitologi kedokteran.Ed.4. FKUI : jakarta, 2009. Halaman 102 2. Sudoyo Aru W, Setiyohadi Bambang, Alwi Idrus, K. Marcellus Simadibrata, Setiati Siti. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid III edisi V. Jakarta : Interna Publishing ; 2010. Halama 2814.