Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Keratitis merupakan kelainan akibat infiltrasi sel radang yang

mengakibatkan keruhnya kornea.1 Keratitis dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kurangnya air mata, keracunan obat, reaksi alergi, infeksi jamur, virus maupun bakteri. 2 Keratitis perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan kerusakan permanen pada mata. Berdasarkan data epidemiologi USA, sekitar 50.000 kasus keratitis terdiagnosa setiap tahunnya, serta keratitis menjadi penyebab kebutaan tersering akibat infeksi.3

1.2 Tujuan Tujuan penulisan kasus ini adalah untuk lebih memahami cara melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik maupun penunjang, penegakkan diagnosa kerja beserta diagnosa banding, penatalaksanaan serta prognosis yang tepat mengenai keratitis herpes simpleks.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi kornea Kornea (bahasa latin, cornum = seperti tanduk) merupakan selaput bening, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapisan jaringan yang menutup bola mata sebelah depan. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lekuk melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skleralis.1,4 Kornea memiliki diameter horizontal 11-12 mm dan berkurang menjadi 911 mm secara vertikal oleh adanya limbus. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 mm di tepi. Kornea memiliki tiga fungsi utama yaitu:4,5 Sebagai media refraksi cahaya terutama antara udara dengan lapisan air mata prekornea. Transmisi cahaya dengan minimal distorsi, penghamburan dan absorbsi. Sebagai struktur penyokong dan proteksi bola mata tanpa mengganggu penampilan optikal.

Gambar 1. anatomi mata (kiri) dan penampang kornea (kanan) 6,7

Kornea memiliki lima lapisan, berikut adalah susunan lapisan dari anterior ke posterior : 4 Epitel

Tebal 50 um, terdiri atas lima lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal, dan sel gepeng. Sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng. Sel basal berkaitan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa sehingga berfungsi sebagai barier. Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ektoderm permukaan

Membran bowman

Terlihat di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari lapisan depan stroma. Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi Stroma

Terdiri atas lamela yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang; waktu yang diperlukan untuk membentuk kembali serat kolagen dapat mencapai 15 bulan. Keratosis merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblas yang terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. Membran desment

Membran aselular; merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya. Bersifat sangat elastis dan

berkembang terus seumur hidup, tebal 40 um. Endotel

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, tebal 20-40 um. Endotel melekat pada membran desment melalui hemidesmosom dan zonula akluden. Kornea dipersyarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran bowman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel di persyarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir syaraf. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi syaraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Kornea bersifat avaskular, mendapat nutrisi secara difusa dari humor aquos dan dari tepi kapiler. Bagian sentral kornea menerima oksigen

secara tidak langsung dari udara, melalui oksigen yang larut dalam lapisan air mata, sedangkan bagian perifer, menerima oksigen secara difusa dari pembuluh darah siliaris anterior. 4 Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak memiliki daya regenerasi.4 Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea. Transparansi kornea disebabkan oleh strukturnya yang seragam, avaskularitas dan detrugensi.4 2.2 Fisiologi kornea Lapisan epitel merupakan sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme ke dalam kornea. Cedera pada epitel mengakibatkan stroma dan membran bowman mudah terkena infeksi, seperti bakteri, amuba dan jamur. Kortikosteroid lokal maupun sistemik akan mengubah reaksi imun hospes dengan berbagai cara dan memungkinkan terjadi infeksi oportunistik.2 Kornea memiliki banyak serabut nyeri sehingga lesi kornea dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit diperhebat oleh gesekan palpebra (terutama palpebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Lesi kornea pada umumnya dapat mengaburkan penglihatan terutama pada lesi di tengah kornea.2 Fotofobia kornea terjadi akibat kontraksi dari iris yang meradang. Dilatasi pembuluh darah iris merupakan fenomena refleks yang disebabkan oleh iritasi pada ujung saraf kornea. Meskipun mata berair dan fotofobia umumnya menyertai penyakit kornea namun kotoran mata hanya terjadi pada ulkus bakteri purulenta.2

2.3 Keratitis 2.3.1 Definisi Keratitis adalah suatu kondisi dimana kornea bagian depan mata mengalami inflamasi. Kondisi ini sering ditandai dengan rasa nyeri,kemudian berkembang menjadi photofobia atau rasa silau bila terkena cahaya dan dapat terjadi gangguan penglihatan. Keratitis dapat terjadi pada setiap kelompok usia dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin.

Gambar 2. Keratitis 8 2.3.2 Etiologi Penyebab keratitis bermacam-macam, seperti infeksi bakteri, virus maupun jamur (virus herpes simpleks merupakan penyebab tersering), kekeringan kornea, pajanan cahaya yang terlalu terang, benda asing, reaksi alergi terhadap kosmetik, debu, polusi atau bahan iritan lainnya, kekurangan vitamin A dan penggunaan lensa kontak yang kurang baik.2

2.3.3 Gejala dan Tanda Keratitis a. Gejala keratitis 1,2,4 Mata terasa sakit Gangguan penglihatan Trias keratitis (lakrimasi, fotofobia dan blefarospasme)

b. Tanda keratitis 1,2,4 Infiltrat (berisi infiltrat sel radang, kejernihan kornea berkurang, terjadi supurasi dan ulkus) Neovaskularisasi (superfisial bentuk bercabang-cabang, profunda berbentuk lurus seperti sisir) Injeksi perikornea Kongesti jaringan yang lebih dalam (iridosiklitis yang dapat disertai hipopion) 2.3.4 Stadium Perjalanan Keratitis Stadium infiltrasi

Infiltrasi epitel stroma, sel epitel rusak, edema, nekrosis lokal. Hanya stadium 1 yang terjadi pada keratitis, sedangkan stadium 2 dan 3 terjadi pada keratitis lanjut seperti pada ulkus kornea. Gejala objektif pada stadium ini selalu ada dengan batas kabur, disertai tanda radang, warna keabu-abuan dan injeksi perikorneal.9 Stadium regresi

Ulkus disertai infiltrasi di sekitarnya, vaskularisasi meningkat dengan tes flouresensi positif.9 Stadium sikatrik

Pada stadium ini terjadi epitelisasi, ulkus menutup, terdapat jaringan sikatrik dengan warna kornea kabur. Tanpa disertai tanda keratitis, batas jelas, tanpa tanda radang, warna keputihan dan tanpa injeksi perikorneal.9

2.3.5 Klasifikasi Keratitis 2.3.5.1 Klasifikasi keratitis berdasarkan lokasi 9 a. Keratitis superfisialis 1. Keratitis pungtata superfisialis Berupa bintik-bintik putih pada permukaan kornea yang dapat disebabkan oleh berbagai infeksi virus (virus herpes simpleks, herpes zoster dan vaksinia). Keratitis pungtata biasanya bilateral dan berjalan kronik tanpa terlihat gejalagejala konjungtiva ataupun tanda akut yang biasanya terjadi pada dewasa muda. Terdapat infiltrat halus bertitik-titik pada permukaan kornea, dan pada pemeriksaan flouresensi terlihat cacat halus kornea superfisial berwarna hijau.

Gambar 3. Keratitis pungtata superfisialis 2. Keratitis pungtata sub epitel Keratitis yang berkumpul di daerah bowman. Pada keratitis ini biasanya bilateral dan berjalan kronik tanpa terlihat kelainan konjungtiva ataupun tanda akut. 3. Keratitis profunda Bentuk klinik dari keratitis profunda yaitu keratitis interstitialis atau keratitis sifilis kongenital dan keratitis sklerotikans.

b. Keratitis interstitial 9 Keratitis ini merupakan keratitis non supuratif profunda disertai neovaskularisasi (disebut keratitis parenkimatosa). Keratitis terjadi pada lapisan kornea yang lebih dalam, akibat reaksi alergi atau infeksi Spirochaeta ke dalam stroma kornea. Gejala yang ada yaitu fotofobia, lakrimasi dan penurunan visus. Keluhan akan bertahan seumur hidup dengan seluruh kornea keruh sehingga iris sukar dilihat. Terdapat injeksi siliar dengan sebukan pembuluh darah ke dalam sehingga memberikan gambaran merah kusam atau salmon patch. c. Keratitis marginal 9 Tipe keratitis dengan tepi kornea yang sejajar dengan limus. Terdapat hasil reaksi eksotoksin Staphilococcus kompleks antigen-antibodi. 2.3.5.2 Klasifikasi keratitis berdasarkan penyebab 9 a. Keratitis bakterial Spesies bakteri yang dapat menyebabkan keratitis yaitu Staphilococcus, Streptococus, Pseudomonas dan Enterobactericeae. b. Keratitis jamur Spesies jamur yang dapat menyebabkan keratitis yaitu Fusarium, Curvularia dan Cephalocheparium. Keluhan muncul setelah 3 sampai 5 hari paska ruda paksa oleh ranting pohon. Pada mata akan terlihat infiltrat dengan hifa dan satelit bila terletak pada stroma, disertai cincin endotel dan hipopion. c. Keratitis virus - Keratitis Herpes simpleks, dibagi dalam 2 bentuk yaitu: Keratitis dendritik, merupakan keratitis superfisialis yang membentuk infiltrat pada permukaan kornea berbentuk cabang, manifestasi ringan dengan sensibilitas kornea yang hipoestesi. dan dinding protein dengan penyimpangan

Keratitis diskomorfik, membentuk kekeruhan infiltrasi bulat dan lonjong di dalam jaringan kornea. Termasuk keratitis profunda superfisial. Keratitis Herpes Zoster, gambaran pada ganglion Gaseri V, bila cabang oftalmik yang terkena akan terlihat gejala herpes zoster pada mata tanpa melampaui garis meridian kepala.

Gambar 4. Keratitis dendritik

Klasifikasi keratitis berdasarkan bentuk 9 Keratitis dismorfik Keratitis Dimmer/numularis Keratitis Filamentosa

Klasifikasi keratitis berdasarkan cara infeksi 9 Eksogen, akibat trauma Jaringan sekitar, akibat trauma atau komplikasi konjungtivitis Endogen, akibat alergi atau imunologi

Klasifikasi Keratitis yang lain Keratitis alergika keratokonjungtivitis flikten Keratokonjungtivitis epidemi Keratitis fasikularis

Keratokonjungtivitis vernal Keratitis langoftalmus Keratitis neuroparalitik

2.4. Keratitis Herpes Simpleks 2.4.1 Definisi Keratitis yang disebabkan oleh virus herpes simpleks. Virus ini menempati manusia sebagai host, dan merupakan parasit intraselular obligat yang dapat ditemukan pada mukosa, rongga hidung, rongga mulut, vagina dan mata.7 Penularan herpes simpleks dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut dan alat kelamin yang mengandung virus.7

Gambar 5. Keratitis herpes simpleks 2.4.2. Epidemiologi Insiden keratitis herpetik di Negara berkembang berkisar antara 5,9-20,7 per 100.000 orang tiap tahun dengan prevalensi 149 per 100.000. Di Amerika serikat terdapat sekitar 20.000 kasus keratitis herpes simpleks baru setiap tahunnya dan sekitar 28.000 kasus reaktivasi setiap tahun. Keratitis herpes simpleks merupakan salah satu penyebab terjadinya kebutaan di Amerika Serikat.7 Penyakit ocular akibat herpes simpleks banyak terjadi pada usia dewasa dan akan terjadi beberapa tahun setelah terjadinya infeksi primer. Keratitis herpetik pada anak-anak melibatkan epitel kornea, menyebabkan tingginya angka rekurensi dan dapat terjadi ambliopia. 7

2.4.3. Patogenesa Virus herpes simpleks merupakan virus DNA yang sering menginfeksi manusia. Infeksi dapat terjadi melalui kontak langsung pada kulit ataupun membrane mucus. Virus herpes simpleks tipe 1 menyebabkan terjadinya infeksi okuler dan orofacial sedangkan tipe 2 ditransmisikan secara sexual sehingga menyebabkan terjadinya penyakit genital.7 Infeksi primer virus herpes simpleks biasanya terjadi pada masa kanakkanak. Gejala infeksi virus herpes simpleks yang muncul pada orofaring hanya berkisar 1-6% saja sedangkan gejala pada mata sangat jarang terjadi. Setelah infeksi primer, virus-virus akan menyebar dari sel epitel yang terinfeksi menuju nerve ending terdekat hingga akhirnya mencapai ganglion trigeminal. Pada gaglion ini, Genom virus akan memasuki nucleus neuron dan mengalami fase laten. Infeksi okuler VHS yang terjadi secara berulang-ulang disebabkan oleh reaktivasi dari virus pada cabang terminal divisi oftalmikus dari saraf trigeminal. Keratitis yang muncul secara berulang-ulang dapat menyebabkan terjadinya gangguan penglihatan yang progresif.7 2.4.4. Bentuk infeksi Keratitis herpes simpleks dibagi dalam 2 bentuk yaitu epithelial dan stromal, pada yang epithelial terjadi akibat pembelahan virus di dalam epitel yang mengakibatkan kerusakan pada sel epitel dan membentuk tukak kornea yang superficial. Pada stromal terjadi suatu reaksi imunologik tubuh terhadap virus yang menyerang yaitu reaksi antigen antibodi yang menarik sel radang kedalam stroma. Sel radang ini mengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak virus, tetapi juga akan merusak jaringan stroma di sekitarnya. 2.4.5. Gejala dan tanda Kelainan mata akibat infeksi herpes simpleks dapat bersifat primer dan rekuren. Infeksi primer ditandai oleh adanya demam, malaise, limpadenofati preaurikuler, konjungtivitis folikutans, blefaritis, dan 2/3 kasus terjadi keratitis epithelial. Kira-kira 94-99 % kasus bersifat unilateral, walaupun pada 40% atau

lebih terjadi bilateral khususnya pada pasien-pasien atopic.infeksi primer dapat terjadi pada setiap umur, tetapi biasanya antara umur 6 bulan-5 tahun atau 16-25 tahun. Keratitis herpes simpleks didominir oleh kelompok laki-laki pada umur 40 tahun ke atas. Gejala-gejala subyektif keratitis epithelial meliputi fotofobia, injeksi perikornea, penglihatan kabur. Berat ringannya gejala-gejala iritasi tidak sebanding dengan luasnya lesi epitel, berhubungan dengan hipestesi atau insensibilitas kornea. Dalam hal ini harus diwaspadai terhadap keratitis lain yang juga disertai hipestesi kornea, misalnya pada: herpes zoster oftalmikus, keratitis akibat paparan dan mata kering, penggunaan lensa kontak, keratopati bulosa, dan keratitis kronik. Gejala spesifik pada keratitis herpes simpleks ringan adalah tidak adanya fotofobia. Infeksi herpes simpleks laten terjadi setelah 2-3 minggu pasca infeksi primer. Beberapa kondisi yang berperan terjadinya infeksi kambuhan antara lain: demam, infeksi saluran nafas bagian atas, stress emosional, dan kondisi imunosupresif. Keratitis herpes simpleks kambuhan atau lazim disebut keratits herpes simpleks dibedakan atas bentuk superficial, profunda, dan bersamaan dengan uveitis atau kerato uveitis. Keratitis superficial dapat berupa pungtata, dendritik, dan geografik. Keratitis dendritika merupakan proses kelanjutan dari keratitis pungtata yang diakibatkan oleh perbanyakan virus dan menyebar sambil menimbulkan kematian sel serta membentuk defek dengan gambaran bercabang. Keratitis dendritika dapat berkembang menjadi kereatitis geografika, hal ini terjadi akibat bentukan ulkus bercabang yang melebar dan bentuknya menjadi ovoid. Dengan demikian gambaran ulkus menjadi seperti peta geografi dengan kaki cabang mengelilingi ulkus. Keratitis herpes simpleks bentuk dendritharus dibedakan dengan keratitis herpes zoster, pada herpes zoster bukan suatu ulserasi tetapi suatu hipertropi epitel yang dikelilingi mucus plaques; selain itu bentuk dendriform lebih kecil.

2.4.6. Diagnosis Keratitis Herpes Simpleks Gambaran spesifik dendrit tidak memerlukan konfirmasi pemeriksaan yang lain. Apalagi gambaran lesi tidak spesifik maka diagnosis ditegakkan atas dasar gambaran klinik infeksi kornea yang relatif tenang, dengan tanda-tanda peradangan yang tidak berat serta riwayat penggunaan obat-obatan yang menurunkan resistensi kornea seperti: anastesi local, kortikosteroid dan obatobatan imunosupresif. Apabila fasilitas memungkinkan dilakukan kultur virus dari jaringan epitel, dan lesi stroma. 2.4.5 Diagnosa Banding Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang seperti kultur biopsi kornea untuk menemukan bentuk penyebab.1 Diagnosa banding keratitis herpes simpleks dapat meliputi keratitis herpes zoster, keratitis vaksinia, dan keratitis stafilokokus. 2.5. Penatalaksanaan 9 Primer Salep mata/tetes mata kloramfenikol (0,5%-1%) 6 X 1 atau tetrasiklin 3 x 1 Jangan gunakan antibotik steroid Rujuk bila visus menurun setelah 3 hari terapi, tampak lesi putih di mata Sekunder Acycloir 5x1 (jika ulkus dendrtitik, geografik dan stroma) Jika pada pemeriksaan gram terdapat gram (+) atau (-) diberi tetes mata golongan aminoglikosida Jika kerokan kornea didapatkan hifa (KOH+) diberi tetes mata Natamisin 5% 3x1 Siklopegik bila ada peningkatan TIO Pemeriksaan gula darah puasa 2 jam pos pandrial.

Pasien keratitis disarankan menggunakan penutup mata untuk melindungi mata dari cahaya serta benda yang dapat mengotori mata. 2

2.6. Komplikasi 2 - Ulkus kornea - Perforasi kornea 2.6. Prognosa Prognosa keratitis bergantung pada luasnya jaringan parut yang terjadi pada kornea dan penanganan awal dapat mencegah kerusakan mata permanen.2

LAPORAN KASUS

Anamnesis Anamnesis didapatkan secara autoanamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 15 Maret 2013 di Poli Mata RSUD. AWS. Identitas Pasien Nama Umur Agama Pekerjaan Alamat : Tn. T : 52 Tahun : Islam : TNI : Loa Kulu

Keluhan Utama

: Rasa mengganjal pada mata kanan

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengalami keluhan ini sejak satu minggu yang lalu. Selain itu terjadi penurunan tajam penglihatan pada mata kanan. Satu minggu yang lalu mata kanan pasien terkena lumpur saat sedang bekerja bakti, kemudian pasien mencuci matanya dengan air, dan mata pasien kemudian memerah serta gatal dan ada rasa nyeri dan disertai rasa mengganjal dimata kanan, kemudian di beri tetes mata insto, keluhan mata merah berkurang, namun pasien tetap merasa ada yang mengganjal pada mata kanan dan perlahan penglihatan mata kanan mulai menurun.

Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya. Riwayat penyakit Diabetes Melitus, Hipertensi, dan Jantung disangkal oleh pasien. Riwayat Penyakit keluarga : Keluarga dengan keluhan serupa tidak diketahui Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Kesadaran Status Generalisata Kepala dan leher Thoraks Abdomen Ekstremitas Status Oftalmologi Pemeriksaan Visus Posisi Bola Mata Pergerakan Bola Mata Silia Palpebra Superior Palpebra Inferior Okuli dekstra 6/12 Ortoforia Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Okuli sinistra 6/6 Ortoforia Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Sakit Ringan : Kompos Mentis

Konjungtiva Bulbi Kornea

Tidak ada kelainan Berbintik-bintik Permukaan cembung

Tidak ada kelaianan Jernih

COA Pupil

Kedalaman cukup

Kedalaman cukup

Bulat, reguler, 3 mm, Bulat, reguler, 3 mm, refleks cahaya (+) refleks cahaya (+) Warna cokelat Jernih Normal

Iris Lensa TIO (palpasi)

Warna cokelat Jernih Normal

Gambar 5. Uji flouresensi mata pasien

Gambar 6. Penampakan mata pasien dibawah sinar biru

Diagnosis Kerja Keratitis herpes simpleks OD Penatalaksanaan Hervis salep mata 2dd1 (acyclovir) Polygram eye drop 6 gtt I Na Diklofenak 50 mg 2 dd1 KIE : memakai pelindung (kacamata) agar terhindar dari paparan debu dan sinar ultraviolet. Menjaga kebersihan dan kelembaban mata, serta menjaga

keseimbangan nutrisi. Kontrol 5 hari kemudian atau setelah obat habis untuk melihat perkembangan dan respon pengobatan. Prognosis At vitam At functionam : Bonam : Dubia ad Bonam

BAB IV PEMBAHASAN

Kasus seorang laki-laki usia 52 tahun, dari anamnesis didapatkan adanya keluhan perasaan mengganjal pada mata kanan sejak satu minggu yang lalu, keluhan disertai dengan penglihatan yang menjadi kabur. Dari gejala yang timbul tersebut mengarah pada diagnosis sementara yaitu keratitis. Penurunan visus yang terjadi pada keratitis disebabkan adanya proses infiltrasi pada permukaan kornea sehingga menghalangi fungsi kornea sebagai media refraksi. Lesi kornea pada umumnya dapat mengaburkan penglihatan terutama pada lesi di tengah kornea. Biasanya keratitis disertai dengan keluhan rasa gatal atau identik dengan nyeri disebabkan oleh karena kornea memiliki banyak serabut nyeri sehingga lesi kornea dapat menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit diperhebat oleh gesekan palpebra (terutama palpebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Fotofobia pada keratitis terjadi akibat kontraksi dari iris yang meradang. Dilatasi pembuluh darah iris merupakan fenomena refleks yang disebabkan oleh iritasi pada ujung saraf kornea. Pada pemeriksaan fisik didapatkan visus okuli dekstra 6/12 dan visus okuli sinistra 6/6 dan tidak terdapat kemajuan visus dengan menggunakan tes pinhole (bukan kelainan refraksi), terdapat penurunan visus karena sebelumnya pasien tidak memakai kaca mata dan tidak mengeluhkan pandangan kabur. Pada kornea terdapat berbintik bintik dengan penurunan sensibilitas serta pada pemeriksaan slit lamp didapatkan infiltrat kecil yang menyebar di seluruh kornea okuli dextra. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan, diagnosa kerja sementara yaitu keratitis herpes simpleks okuli dextra Pada kasus ini dilakukan pemeriksaan dengan pemulasan fluoresensi untuk menentukan lapisan kornea yang terkena dan menegakkan diagnosa.

Terapi yang diberikan yaitu Hervis salep mata 2 dd 1 (acyclovir), Polygram eye drop 6 gtt I dan Eflagen 50 mg 2 dd1(diclofenac K). Hervis merupakan obat anti virus yang sering digunakan pada kasus-kasus keratitis yang disebabkan oleh virus terutama herpes simpleks dan herpes zoster. Polygram merupakan tetes mata yang berisi antibiotik yang sensitif terhadap bakteri gram negatif. Pemberian antibiotik gram negatif pada kasus ini dapat berfungsi sebagai profilaksis maupun kausatif. Eflagen merupakan obat anti radang golongan NSID (diaklofenac K) dengan efek analgetik. Karena keratitis merupakan suatu peradangan pada kornea, maka eflagen dapat digunakan sebagai anti radang pada kasus ini sekaligus untuk mengurangi keluhan nyeri. Kepada pasien diberikan pula edukasi berupa upaya menghindari paparan debu dan sinar UV dengan memakai pelindung (kacamata), menjaga kebersihan dan kelembaban mata, serta menjaga keseimbangan nutrisi. Kontrol 5 hari kemudian atau setelah obat habis untuk melihat perkembangan dan respon pengobatan. Terapi yang diberikan tidak dapat mengembalikan fungsi penglihatan kembali normal dan jernih seperti sedia kala akibat dari jaringan parut yang terbentuk. Terapi hanya bertujuan menghambat perkembangan penyakit menjadi lebih luas dan parah. Prognosis keratitis bergantung pada luasnya jaringan parut kornea yang terbentuk dimana penanganan dini mencegah kerusakan mata permanen.

BAB V KESIMPULAN

Pasien jenis kelamin laki-laki dengan nama Tn.T usia 52 tahun datang dengan keluhan rasa mengganjal disertai nyeri dan penglihatan yang menurun pada mata kanan. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, pasien didiagnosa Keratitis Herpes Simpleks Okuli Dextra. Penatalaksanaan untuk keratitis herpes simpleks adalah dengan pemberian antiviral spesifik untuk herpes simpleks, antibiotik untuk mencegah terjadinya komplikasi, pemberian NSID dan analgetik usebagai terapi simptomatik. Secara umum, alur penegakkan diagnosis dan penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat menurut literatur yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Ilyas. S. 2002. Penuntun Ilmu Penyakit Mata Edisi-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

2.

Vaughan. D et all. 2002. Oftalmologi Umum Edisi-14. Jakarta: Widya Medika

3.

Anonym. 2010. Keratitis. Faculty of Harvard Medical School, National Eye Institute. Diakses tanggal 15 Maret 2013

4. 5.

Ilyas. S. 2005. Ilmu Penyakit Mata Edisi-2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Wilson. SA. 2008. Management of Corneal Abrasion. www.aafp.com, diakses tanggal 15 Maret 2013

6.

Anatomy of Eye. 2010. www.medscape.com, diakses tanggal 15 Maret 2013

7.

Opthalmology of Evaluation. 2010. www.medscape.com, diakses tanggal 18 Maret 2013

8. 9.

Keratitis. 2012. www.medscape.com, diakses tanggal 15 Maret 2013 Mansjoer. A. 2001. Kapita Selekta Edisi-3 jilid-1. Jakarta: Media Aesculapius FKUI

Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Umum Universitas Mulawarman

Tutorial Klinik

KERATITIS HERPES SIMPLEKS OD

Disusun Oleh : Budi Tri Susilo Lisa Mayanti

Pembimbing : dr. Syamsul Hidayat, Sp.M

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik Pada Bagian Ilmu Kedokteran Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Umum Universitas Mulawarman Samarinda 2013